Tiket Whoosh Diskon 20 Persen, Pesan Cukup Melalui WhatsApp!

Setelah masa libur akhir tahun berakhir, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) kembali memperkenalkan promo menarik bagi penumpang Whoosh. Penumpang perjalanan rombongan dapat menikmati diskon hingga 20% dengan proses pemesanan yang mudah melalui pesan WhatsApp.

Masyarakat cukup menghubungi layanan WhatsApp Whoosh Group Reservation melalui chat di nomor 0813-4000-2920 pada hari kerja, pukul 09.00–17.00 WIB. Pemesan akan diminta untuk mengisi detail rencana perjalanan seperti tanggal, rute, jam, dan jumlah penumpang.

Setelah dicek ketersediaannya, tim KCIC akan melakukan pengaturan tempat duduk rombongan dan secara paralel pemesan diminta menyerahkan data penumpang yang akan berangkat. Untuk kemudahan, pembayaran dapat dilakukan melalui transfer maupun debit ke loket Stasiun Halim.

General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, melalui program ini penumpang rombongan dengan jumlah minimal 20 orang dapat mengajukan diskon diskon hingga 20% untuk perjalanan Whoosh kelas Premium Economy.

“Diskon khusus ini kami berikan untuk memberikan kemudahan dan keuntungan seperti kemudahan pemesanan tiket tanpa perlu antre, pengaturan tempat duduk secara kolektif yang saling berdekatan, pendampingan petugas khusus untuk rombongan dengan jumlah tertentu, dan tentunya tarif khusus yang membuat perjalanan penumpang menjadi lebih hemat,” ujar Eva.

Pada tahun 2024 layanan rombongan KCIC telah melayani lebih dari 2.700 rombongan, dengan total penumpang mencapai 220.000 penumpang. Jenis rombongan yang paling banyak memanfaatkan layanan ini adalah rombongan perusahaan, sekolah, pemerintahan, dan masyarakat umum lainnya. Salah satu rombongan terbesar yang pernah memanfaatkan layanan ini adalah dari sebuah perusahaan keuangan dengan total hingga 3.000 penumpang dalam satu kali pemesanan untuk keperluan gathering perusahaan.

Saat ini, rata-rata 50 rombongan setiap hari menghubungi layanan WhatsApp untuk mendapatkan informasi maupun melakukan pemesanan terkait tiket rombongan. Promo ini menjadi bentuk apresiasi KCIC kepada pelanggan setia yang terus mendukung Kereta Cepat Whoosh sebagai moda transportasi pilihan.

Whoosh Edutrip, Wisata Edukasi Anak Sekolah Tarif Dibandrol Mulai Rp100 Ribu

Gunakan Wooden Cutlery, KAI Services Dukung Gerakan Ramah Lingkungan pada Produk Kuliner Kereta 

KAI Services mendukung gerakan ramah lingkungan dengan penggunaan wooden cutlery dalam produk-produk makanan fresh food Kuliner Kereta. Pekan pertama desember menjadi waktu yang dipilih untuk penggunaan wooden cutlery di seluruh kereta makan yang dikelola KAI Services.

Penggunaan Wooden cutlery atau peralatan makan kayu ini wujud langkah untuk  mendukung gerakan ramah lingkungan  dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup ramah lingkungan.

Selain itu, penggunaan peralatan makan yang terbuat dari kayu ini juga memiliki banyak kelebihan antara lain, kayu tidak menghantarkan panas sehingga lebih steril dan aman untuk digunakan. Wooden Cutlery juga dibuat dengan konsep eco friendly yang bisa melindungi bumi untuk lebih bersih.

Penggunaan peralatan makan kayu ini juga memiliki tekstur yang lembut dan tahan lama sehingga nyaman untuk digunakan. Penggunaan wooden cutlery ini hadir didalam produk-produk fresh food seperti nasi goreng, nasi rames, nasi bulgogi, nasi sei sapi, mie godog dan produk fresh food lainnya.

Revolusioner! Tempat Makan di Pesawat Terbuat dari Bahan Alami dan Bisa Dimakan

Menurut Vice President Corporate Secretary, Rachman Firhan, KAI Services mendukung program Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan berbagai upaya yang dilakukan, mulai dari pengelolaan sampah di stasiun dan kereta api, penggunaan bahan ramah lingkungan, hingga inisiatif edukasi kepada pelanggan. semua ini dilakukan untuk mewujudkan transportasi yang tidak hanya nyaman, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

”Salah satu wujud kami mendukung gerakan ramah lingkungan adalah dengan penggunaan wooden cutlery di produk-produk fresh food Kuliner Kereta by KAI Services. Pemilihan media kayu untuk alat makan  karena selain memiliki tekstur yang lembut sehingga nyaman digunakan, kayu merupakan bahan alami dan terbarukan, sehingga tidak memerlukan bahan berbasis fosil untuk memproduksinya. Selain itu, kami juga saat ini sudah menerapkan Electronic Bill sebagai langkah untuk mengurangi penggunaan kertas dalam melakukan transaksi di Kuliner Kereta.” ujar Firhan.

Bakso Popso, Kuliner ‘Mujarab’ dalam Dinginnya Gerbong Kereta

Inilah Folding Airline Seats, Inovasi Airbus yang Bikin Maskapai Gonta-ganti Konfigurasi

Airbus jadi salah satu perusahaan pendaftar paten atas berbagai temuan unik dan inovatif terbesar di dunia. Dari ratusan paten yang diajukan produsen pesawat asal Eropa ini setiap tahun, salah satu yang paling berdampak dan sangat memudahkan serta menguntungkan maskapai adalah folding airline seats atau bisa dibilang kursi lipat di pesawat.

Baca juga: Intip Paten Airbus untuk Konsep Donat Terbang, Pesawat Andalan di Masa Depan?

Airbus memiliki sejarah panjang dan penuh warna dalam mengajukan paten untuk semua jenis penemuan inovatif, aneh, dan menakjubkan.Selama dekade terakhir, ratusan paten per tahun telah diajukan oleh Airbus, termasuk 622 paten tahun lalu yang diajukan di Amerika Serikat (AS).

Di antara ratusan paten yang diajukan Airbus dan digadang sebagai salah satu konsep kabin di masa depan adalah folding airline seats. Sebagaimana namanya, folding airline seats sangat memudahkan maskapai dalam mengubah konfigurasi, dari konfigurasi kargo menjadi penumpang dan sebaliknya atau gabungan dari keduanya.

Paten adalah folding airline seats atau bisa dibilang kursi lipat di pesawat oleh Airbus diajukan pada tahun 2015 bersamaan dengan paten konsep pesawat double-decker. Perusahaan beranggapan bahwa pesawat model itu akan lebih maskimal secara komersil dengan adanya fitur folding airline seats dan ini sangat mungkin diminati maskapai.

Folding airline seats Airbus. Foto: Simple Flying

Dilansir Simple Flying, dengan adanya fitur folding airline seats, kursi pesawat cukup dilipat dan didorong ke bagian belakang ataupun depan dengan mudah berkat bantuan guide tracks. Dengan begitu, efektivitas dan efisiensi kabin utama untuk memuat kargo jauh lebih tinggi di samping tetap bisa melindungi kemungkinan kursi rusak akibat gesekan (dengan kargo).

Maskapai juga tak perlu pusing mencari tempat untuk menyimpan kursi karena cukup diletakkan di bagian belakang atau depan kabin utama, sekalipun konsekuensinya membuat kapasitas sedikit berkurang.

Antara tempat penyimpanan kursi dengan kabin utama yang ingin dimuati kargo juga terdapat sekat partisi. Dengan begitu, maskapai tetap bisa dengan mudah menyisakan beberapa kursi -jika mereka menginginkannya- atau dalam penerbangan istilah tersebut dikenal sebagai Passenger-to-FlexCombi, seperti gambar di atas.

Salah satu maskapai yang mengadopsi folding airline seats atau kursi lipat pesawat temuan Airbus, Ethiopian Airlines, seperti dikutip dari Simple Flying, mengaku sangat terbantu dengan konsep tersebut.

Baca juga: Airbus Ternyata Juga Punya Paten Folding Wingtip Andalan Boeing 777X

Maskapai tak perlu khawatir bila sewaktu-waktu salah satu dari penerbangan kargo ataupun penumpang sepi dan lainnya tinggi. Mereka dapat mengubah konfigurasi dengan mudah untuk mengantar kargo dan penumpang ke seluruh dunia dengan lebih ekonomis.

Sebagai informasi, sejak diajukan paten oleh Airbus pada 2015 lalu, desain folding airline seats belum banyak dilirik. Sebab, keadaan belum menuntut maskapai mengadopsi desain tersebut. Namun, untuk bisa digunakan secara komersial oleh maskapai, itu membutuhkan sertifikasi panjang, mengonfigurasi ulang seluruh kabin, dan menambahkan pintu kargo.

Mengenal Tower ATC Bandara Sydney, Salah Satu Tower ATC Paling Unik di Dunia

Sebagai salah satu unsur penting dalam dunia penerbangan, keberadaan Air Traffic Control (ATC) di suatu bandara kerap kali menjadi pusat perhatian.

Baca juga: Mau Tahu 10 Menara ATC Tertinggi di Dunia, Ini Dia!

Bagaimana tidak, sebuah menara yang berada di sekitaran infrastruktur bandara ini punya peran vital, yakni mengatur kelancaran arus lalu lintas udara, membantu pilot dalam mengendalikan keadaan darurat, dan memberikan informasi lain yang dibutuhkan pilot. Bisa dibilang, ATC merupakan rekanan pilot selama mengudara dan peran ATC sangat besar dalam tercapainya tujuan penerbangan.

Seiring berkembangnya teknologi, desain menara ATC lambat laun dibuat bukan sekedar mengatur lalu lintas udara saja, melainkan juga menjadi salah satu ikon bandara atau bahkan kota; seperti menara atau tower ATC Bandara Sydney (Kingsford Smith) di kota Mascot, New South Wales, Australia.

Dilansir environment.nsw.gov.au, tercatatnya menara ATC ini sebagai warisan di Lawrence Hargreaves Drive serta terdaftar di Australian Commonwealth Heritage, membuat sang arsitek, Ken Woolley dari biro desain Ancher Mortlock & Woolley, terdorong untuk mengembangkan desain yang unik dan futuristik.

Menara ATC unik di bandara yang menjadi lokasi beberapa eksperimen perintis industri penerbangan profesional, Charles Kingsford-Smith pada tahun 1920 silam tersebut, diketahui konstruksinya dibangun pada Agustus 1993. Setelah tiga tahun atau pada 6 Januari 1996, menara ATC itu pun resmi beroperasi.

Baru dua tahun beroperasi, menara ATC Bandara Sydney sudah dianugerahi penghargaan tinggi dalam Penghargaan Desain Baja Australia untuk Bangunan oleh Institut Konstruksi Baja Australia (New South Wales) pada tahun 1995.

Selain ikonik, tower ini juga dianugerahi Penghargaan Desain Baja Australia untuk Bangunan oleh Institut Konstruksi Baja Australia (New South Wales) pada tahun 1995. Foto: The Australian

Secara kasat mata, tower kontrol kelima bandara ini memang pantas mendapat penghargaan tersebut. Sebab, desainnya sangat unik dan menarik dipandang mata. Menara ATC Bandara Sydney ini diketahui terbuat dari precast prefabricated concrete, baja post tensioned, lembaran aluminium, dan kaca.

Menara setinggi 45 meter tersebut bangunannya terdiri dari setidaknya dua bangunan utama, yaitu kabin atas dengan visibilitas penuh lewat kaca tanpa bingkai bersudut.

Sedangkan kabin kedua atau di bawah ruang utama merupakan kabin yang berisi peralatan elektronik dan ruang kontrol, ruang istirahat petugas, toilet, dan kantor manajemen. Dek ini terdiri dari enam unit seperti gelas yang disusun melingkari bangunan utama. Adapun di lantai dasar adalah bangunan melingkar dengan plant room, stand by generator, uninterrupted power supply, equipment rooms, staff amenities, dan kantor manajemen.

Terkait desain tangga spiral yang mengelilingi tower utama, sebetulnya itu bisa dibilang merupakan ciri khas desain Ken Woolley. Beberapa gedung yang didesainnya diketahui memiliki unsur spiral. Hanya saja letaknya yang berbeda-beda. Di Garvan Institute of Medical Research, misalnya, desain spiral dihadirkan Ken Woolley di bagian dalam gedung dan disebut-sebut sebagai ikon gedung tersebut.

Baca juga: Inilah 5 Bandara Tertua di Dunia Yang Masih Beroperasi

Sekilas tentang Bandara Sydney Kingsford Smith, bandara ini merupakan salah satu bandara tertua di dunia. Ide didirikannya bandara ini dipelopori oleh seorang veteran pilot masa perang bernama Nigel Love pada tahun 1920an, yang kemudian dibeli oleh pemerintah.

Penerbangan regular pertama di bandara ini sendiri dilakukan pada tahun 1924. Seiring berjalannya waktu, Bandara Sydney Kingsford Smith terus berkembang menjadi salah satu bandara tersibuk di Australia dan bahkan sempat menempati urutan ke-31 bandara tersibuk dunia pada tahun 2012.

Hari Ini, 83 Tahun Lalu, Pan Am Jadi Maskapai Pertama Keliling Dunia dengan Pesawat Komersial

Hari ini, 83 Tahun Lalu, bertepatan dengan Selasa, 6 Januari 1942, maskapai Pan American World Airways (Pan Am) mengukuhkan diri sebagai maskapai penerbangan pertama yang berhasil keliling dunia dengan pesawat komersial. Keberhasilan itu merupakan buah dari jerih payah maskapai dalam melebarkan sayap bisnisnya ke seluruh dunia sejak 1931.

Baca juga: Pan Am, Maskapai Pelopor Kelas Ekonomi Modern di Penerbangan Jarak Jauh

Sejak pertama kali didirikan pada 14 Maret 1927, salah satu pendiri maskapai fenomenal asal Amerika Serikat itu, Juan T. Trippe, bertekad mengantar orang-orang di seluruh dunia terbang kemanapun bersama Pan Am. Tentu dengan harga terjangkau. Sebab, saat itu, penerbangan masih tabu karena hanya orang-orang berkocek tebal saja yang mampu membeli tiket.

Gebrakan pertama Trippe bersama Pan Am terjadi setelah berhasil melobi United Aircraft and Transport Corporation (UATC) -dahulu perusahaan induk Boeing, Praat & Whitney, dan United Airlines- untuk mendapatkan pasar penerbangan antara Meksiko-AS.

Seiring berjalannya waktu, Pan Am terus terbang ke berbagai negara, mulai dari Inggris dan Perancis pada tahun 1937, sebagai awal mula dominasi maskapai di Eropa, kemudian terbang ke Hong Kong, Auckland (Selandia Baru), Manila (Filipina), Cina, Afrika Barat, hingga Iran, menggunakan berbagai pesawat dengan seri Clipper 1-28, seperti Consolidated Commodore, Sikorsky S-38, S-40, S-42, hingga Boeing 307 Stratoliner.

Setelah terbang lintas negara dan benua sejak 1931, Pan Am pun akhirnya resmi menjadi maskapai pertama yang keliling dunia dengan metode Sirkumnavigasi Bumi menggunakan pesawat komersial. Disebut menggunakan pesawat komersial, sebab Sirkumnavigasi Bumi pertama sudah terjadi lama sebelum Pan Am berdiri.

Sirkumnavigasi Bumi atau keliling bumi pertama yang diketahui adalah ekspedisi Magellan-Elcano, yang berlayar dari Sevilla, Spanyol pada 1519 dan kembali pada 1522, setelah melintasi samudera-samudera Atlantik, Pasifik, dan Hindia.

Dikutip dari deltamuseum.org, setelah pamornya cepat meningkat, Pan Am sempat berada di masa-masa sulit saat krisis minyak dunia pada 1970an, dan kembali bangkit setelahnya, maskapai paling ikonik dalam sejarah penerbangan AS ini akhirnya harus stop operasi pada 4 Desember 1991. Sebelum stop operasi, aset-aset Pan Am, seperti Boeing 707 dan 720, Boeing 727 (menggantikan Boeing 720), Douglas DC-8, Boeing 747 dan 747SP, Airbus A300 dan A310 serta Lockheed L-1011 TriStar, diperebutkan berbagai pihak.

Selain itu, aset berupa hak pengoperasian rute transatlantik-nya juga dilelang dan berhasil direbut oleh Delta Airlines. Jadi, meskipun Pan Am sudah tak ada lagi dan sepenuhnya bangkrut, namun, peninggalannya masih abadi dan terus dilanjutkan oleh Delta Airlines.

Baca juga: Throwback, Boeing 707 Pan Am 812 Jatuh di Bali, Tim SAR Butuh 3 Hari Menjangkau Lokasi

Selain menjadi maskapai pertama yang berhasil keliling dunia dengan pesawat komersial setelah 11 tahun terbang ke berbagai negara, di tahun yang sama, Pan Am juga mencatatkan diri sebagai maskapai pertama di dunia yang menjajaki penerbangan internasional dengan pesawat kargo semua.

Tak cukup sampai di situ, Pan Am juga mencatatkan sederet rekor serba pertama lainnya, mulai dari maskapai pertama yang mengoperasikan layanan keliling dunia berjadwal, maskapai penerbangan pertama yang mengembangkan sistem reservasi komputer global, bernama PANAMAC, maskapai pertama yang menyampaikan pesan dalam penerbangan melalui satelit, dan masih banyak lainnya. Untuk lebih lengkap, silahkan klik di sini.

Hari Ini, 75 Tahun Lalu, Boeing 377 Stratocruiser Pan Am Terbang Non-Stop Perdana dari Tokyo ke Honolulu

Pada hari ini, 75 tahun yang lalu, bertepatan dengan 3 Januari 1950, pesawat Boeing 377 Stratocruiser maskapai legendaris Pan American World Airways (Pan Am) untuk pertama kalinya terbang non-stop dari Tokyo, Jepang, ke Honolulu, Hawaii. Penerbangan berlangsung selama 11 jam 30 menit dari perkiraan awal 18 jam dengan transit untuk mengisi bahan bakar di Wake Island. Ini sebuah pencapaian luar biasa ketika itu.

Baca juga: Boeing 377 Stratocruiser, Pesawat dengan Kabin Bertekanan Pertama di Dunia

Di awal kemunculannya, Boeing 377 Stratocruiser sangat menyita perhatian dunia sebelum kemunculan pesawat Boeing lainnya, Boeing 707, sekalipun terdapat minus dari empat mesin radial Pratt & Whitney Wasp Major 28 silinder dan baling-baling empat bilahnya.

Pesawat itu tercatat terbang perdana pada 8 Juli 1947. Pesawat ini lebih besar dari dua pesaingnya Douglas DC-6 dan Lockheed Constellation serta tentu saja lebih mahal untuk dibeli dan dioperasikan maskapai.

Tetapi, Boeing 377 Stratocruiser memiliki kapasitas penumpang lebih banyak dan kelas kursi yang lebih beragam berkat konfigurasi double decker.

Dalam sejarahnya, Boeing 377 Stratocruiser versi penumpang hanya diproduksi sebanyak 55 unit dan pembelian terbesar datang dari Pan Am. Pada 29 November 1945, Pan Am sepakat membeli 20 pesawat Stratocruiser dengan nilai investasi mencapai US$24,5 juta (setara US$322 juta atau Rp5 triliun).

Dilansir panam.org, sebelum terbang dari Tokyo ke Honolulu, Pan Am lebih dahulu terbang dari San Francisco ke Honolulu pada tahun 1949. Di masa itu, penerbangan transpasifik tidak mudah dilalui. Ini menjadi tantangan dan di akhir tahun 1949, Pan Am mempelopori penerbangan transatlantik dari New York ke London menggunakan Boeing 377 Stratocruiser.

Di akhir dekade 40 sampai dekade 50an, penerbangan jarak jauh dengan ketinggian maksimal cukup menantang dengan adanya jetstream. Tak seperti sekarang, ilmu tentang angin, cuaca dan turunannya termasuk teknologi di pesawat sangat terbatas. Belum lagi ada fenomena global river atau sungai udara yang mengelilingi bumi yang juga harus dijawab oleh ilmuan.

Di tengah teka-teki tentang sederet fenomena di udara, Pan Am mempelopori penerbangan non-stop perdana dari Tokyo ke Honolulu.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Disebutkan, pesawat terbang di ketinggian 25 ribu kaki dengan waktu perjalanan 11 jam 30 menit dari perkiraan awal selama 18 jam dan transit di Wake Island. Ini terjadi berkat bantuan tailwind jetstream yang selam musim dingin bergerak dari utara ke selatan dan pada akhirnya membuat Boeing 377 Stratocruiser lebih cepat sampai dari perkiraan awal.

Ketika itu, tak ada informasi berapa banyak penumpang yang dibawa pesawat. Namun demikian, pesawat yang dipiloti oleh Capt. Logan D. Scotts itu mampu menampung 100 penumpang, dimana 14 penumpang di dek bawah dan sisanya di dek atas dengan beragam konfigurasi.

Hari Ini, 62 Tahun Lalu, Ilyushin Il-62 Terbang Perdana dan Jadi Pesawat Terbesar di Dunia

Pada hari ini, 62 tahun yang lalu, bertepatan dengan 3 Januari 1963, pesawat Ilyushin Il-62 sukses terbang perdana. Ini menjadi kebanggan tersendiri bagi Uni Soviet yang ketika itu tengah terlibat Perang Dingin dengan Amerika Serikat (AS). Selain itu, kebanggan lainnya juga karena Ilyushin Il-62 menjadi penantang kuat Vickers VC10, yang  ketika itu menjadi satu-satunya pesawat dengan empat mesin yang dipasang di bagian belakang pesawat di bawah T-tail.

Baca juga: Selain Antonov An-225 Mriya, Ilyushin Il-62 Pernah Jadi Pesawat Terbesar di Dunia Buatan Soviet

Dilansir dari berbagai sumber, sejak didapuk menggantikan pesawat Tupolev Tu-114 -yang di masanya menjadi pesawat turboprop terbesar, tercepat, dan jangkauan terjauh di dunia- oleh Mantan Perdana Menteri Uni Soviet, para stakeholder dan pihak terkait bergerak cepat.

Mula-mula, Biro Desain Kuznetsov menyanggupi pengembangan mesin jet terbaru, NK-8 turbofan, yang kelak akan digunakan Ilyushin Il-62. Mesin ini dinilai tangguh dan mampu mengangkut sekitar 165 penumpang dalam konfigurasi kelas ekonomi sejauh 4.500 km atau 100 penumpang sejauh 6.700 km.

Pada akhirnya, opsi pertamalah (165 penumpang) yang diambil, lebih sedikit dibanding pesaingnya dari AS, Boeing 707, sebanyak 183 penumpang. Kendati begitu, dari segi panjang pesawat, tak ada yang bisa menandingi Il-62.

Proses pengembangan Ilyushin Il-62 bisa dibilang tak terlalu lama. Itu dimulai sejak Februari 1960 atau sekitar tiga tahun sampai penerbangan pertama. Di masanya, pengembangan pesawat jet empat mesin sedang gencar-gencarnya usai kemunculan pesawat jet komersial pertama di dunia, De Havilland Comet.

Namun Ilyushin Il-62 berbeda. Pesawat ini mampu terbang sejauh 4.500 km saat terisi penuh dan 6.700 km saat diisi oleh sekitar 100 penumpang, didukung oleh empat mesin jet lokal, Kuznetsov NK-8-4. Ilyushin kemudian mengganti mesin tersebut menjadi Soloviev D-30KU yang lebih senyap dan tentu saja buatan lokal.

Bukan range, empat mesin, mesin yang lebih halus, dan kapasitas penumpang yang menjadi pembeda pesawat jet terbesar di dunia tersebut dibanding pesawat kompetitor, melainkan peletakan mesinnya yang unik.

Mesin Ilyushin Il-62 terletak di bagian belakang badan pesawat layaknya pesawat trijet. Bila pesawat trijet seperti Boeing 727, Yakolev Yak-42, dan berbagai pesawat lainnya, satu di kanan dan kiri belakang badan pesawat dan satu lainnya di horizontal stabilizer, Ilyushin Il-62 meletakkan kedua mesinnya di bagian kanan dan kiri bagian belakang pesawat.

Tak cukup sampai di situ, mesin juga dibungkus oleh nacelle sambung atau nacelle ganda. Ini sebetulnya bukan barang baru mengingat De Havilland Comet sudah mengaplikasikannya lebih dahulu. Namun, pada poin peletakan mesin di bagian belakang badan pesawat sangat jarang kala itu, sebut saja kompetitor seperti Boeing 707 dan Douglas DC-8.

Menariknya, kompetitor asal Inggris, Vickers VC10, justru menerapkan konsep peletakan mesin yang sama dengan Ilyushin Il-62. Sampai di sini, sempat adanya gonjang-ganjing kemungkinan sadur-menyadur satu sama lain.

Meski demikian tak ada temuan apapun terkait spionase dan sejenisnya. Dengan kata lain, masing-masing memiliki konsep tersendiri sekalipun mirip-mirip. Lagipula, Vickers VC10 tidak menggunakan nacelle ganda sebagaimana Il-62.\

Baca juga: Ilyushin Il-18 Coot. Pesawat Pertama Aeroflot yang Melayani Penerbangan Moskow – Jakarta

Sejak terbang perdana, Il-62 baru memasuki tahun layanan empat tahun setengah setelahnya, yaitu pada September 1967. Ketika itu, Aeroflot mengoperasikan pesawat untuk rute Moskow – Montréal. Enam tahun kemudian, varian Il-62M dengan berbagai peningkatan berhasil memasuki layanan komersial.

Saat ini, pesawat jet terbesar di dunia itu, dari 292 yang diproduksi, 10 di antaranya masih aktif beroperasi bersama Rada Airlines, maskapai nasional Korea Utara Air Koryo, Unit Penerbangan ke-223 Angkatan Udara Rusia.

Atasi Kekurangan Tenaga Kerja, Taiwan Luncurkan Visa “Nomaden Digital”

Memulai tahun 2025, pemerintah Taiwan menerbitkan visa enam bulan untuk “nomaden digital” asing guna membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja yang terkait dengan penurunan angka kelahiran.

Seperti dikutip South China Morning Post, Dewan Pembangunan Nasional di Taipei telah mengumumkan skema tersebut di tengah menyusutnya jumlah tenaga kerja secara bertahap yang telah memicu pencarian sumber tenaga kerja baru untuk mempertahankan ekonomi yang berpusat pada teknologi dan bergantung pada ekspor.

Pelancong asal Indonesia Kini Bisa ke Rusia Lebih Mudah dengan e-Visa

Mulai hari ini, Taiwan, yang telah menetapkan tujuan untuk menarik 400.000 pekerja asing pada tahun 2032, akan mengizinkan apa yang disebut pemerintah sebagai “profesional digital asing” untuk tinggal selama setengah tahun dengan visa nomaden. Hingga akhir tahun 2023, tahun terakhir ini tercatat, 69.509 profesional asing dan 754.130 pekerja migran terdaftar tinggal di Taiwan.

“Peluncuran visa ini menjadi sinyal bahwa Taiwan secara resmi terbuka bagi para pekerja nomaden digital,” kata David Chang, sekretaris jenderal Crossroads, lembaga nirlaba yang berbasis di Taipei yang mengadvokasikan nomaden digital untuk strategi perolehan bakat Taiwan.

“Kami memuji pemerintah karena menanggapi tren global dengan mengadopsi nomaden digital ke dalam strategi perolehan bakat Taiwan.”

Pekerja nomaden digital merujuk pada orang-orang yang dapat melakukan pekerjaan mereka di mana saja dari laptop. Mereka kini memenuhi syarat untuk mendapatkan visa di 58 lokasi di seluruh dunia, menurut blog yang ditulis oleh banyak penulis, Nomad Girl.

Taiwan memiliki lingkungan pekerja nomaden digital terbaik di Asia dan telah menerima pengakuan internasional dalam hal kondisi kehidupan, lingkungan, dan makanan.

Profil China Airlines, Maskapai Nasional Taiwan yang ‘Alergi’ Pakai Nama ‘China’

Terminal 1 Bandara Soetta Kini Dikhususkan untuk Maskapai Berbiaya Murah (LCC)

Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten kini ditata ulang. Seluruh maskapai penerbangan low-cost carrier (LCC) atau berbiaya murah di Indonesia dipindah ke Terminal 1.

Beberapa maskapai LCC yang masih beroperasi di Terminal 2 akan dipindah ke Terminal 1 Bandara Soetta, sedangkan maskapai full-service bakal dipindah ke Terminal 3. Dengan perpindahan operasional itu maka maskapai Batik Air akan pindah dari Terminal 1 ke Terminal 3 Bandara Soetta.

“Jadi full service nanti di Terminal 3. Terus kemudian yang 2F tadi khusus untuk terminal umrah, dan nanti low-cost-nya ada di Terminal 1,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Faik Fahmi.

Merujuk situs resmi Bandara Soetta, maskapai LCC yang kini masih beroperasi di Terminal 2 di antaranya Air Asia Indonesia, Air Asia, dan Lion Air.

Faik menerangkan bahwa sekarang Terminal 1 Bandara Soetta tengah direvitalisasi dan progresnya telah mencapai 30 persen. Kendati Terminal 1 nanti bakal khusus maskapai LCC, tapi terminal ini bakal direnovasi agar menjadi lebih cantik. “Sudah 30 persen, saya targetkan di bulan Agustus sudah selesai,” kata Faik.

Bukan hanya Terminal 1 yang akan jadi terminal khusus maskapai LCC, Terminal 2F Bandara Soetta juga akan jadi terminal khusus jemaah umrah. Penataan Terminal 2F bakal dimulai pada akhir Januari 2025.

Jemaah umrah yang berangkat dari Bandara Soetta nanti tidak perlu lagi menunggu pesawat di Terminal 3, melainkan secara bertahap dipindah ke Terminal 2F.

Mulai 15 Agustus, Ada Revitalisasi di Bandara Soekarno-Hatta, Citilink Rute Domestik Pindah Ke Terminal 2

Cina Tampilkan Prototipe CR450, Kereta Cepat Next Generation Tembus 450 Km per Jam

CR450 yang diresmikan di Beijing pada 29 Desember, telah mencapai kecepatan uji hingga 450 kilometer per jam dan kecepatan operasional 400 kilometer per jam, demikian menurut Kementerian Transportasi Cina.

Setelah beroperasi secara komersial, kereta ini bisa menjadi kereta berkecepatan tinggi tercepat di dunia, melampaui model CR400 saat ini, yang memulai debutnya pada tahun 2017 dan beroperasi pada kecepatan 350 kilometer per jam.

Tak Lama Lagi, Penumpang di Cina Dapat Nikmati Konektivitas 5G di Kereta Berkecepatan 1.000 Km per Jam

Prototipe CR450 dikembangkan oleh CRRC Changchun Railway Vehicles dan CRRC Sifang Co., Ltd. – atas keunggulannya dalam kecepatan operasional, efisiensi energi, pengendalian kebisingan, dan kinerja pengereman. Tampilan interior gerbong kelas ekonomi pada kereta peluru CR450AF.

Menurut harian China Daily, CR450 telah menjalani lebih dari 3.000 simulasi dan lebih dari 2.000 uji platform untuk memenuhi tuntutan ketat operasi komersial.

Pengujian jalur dan penyempurnaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kereta ini memenuhi semua standar yang diperlukan untuk operasi komersial, kata China State Railway Group.

Dalam dekade terakhir, Cina telah menjadi pemimpin dunia yang tak terbantahkan dalam pengembangan kereta api, membangun ribuan kilometer rel kereta api baru yang menjangkau hampir setiap sudut negara. Jaringan relnya membentang lebih dari 160.000 kilometer, termasuk lebih dari 46.000 kilometer jalur kereta api berkecepatan tinggi, menurut kementerian transportasi Cina.

Kereta api berkecepatan tinggi telah lama menjadi alternatif yang efektif untuk perjalanan udara untuk perjalanan hingga 700 mil, menghubungkan orang-orang yang bepergian antara kota-kota besar dan daerah pedesaan di negara ini dengan mudah dan nyaman.