Dengan Boeing 787 Dreamliner, Uzbekistan Airways Layani Penerbangan Langsung Jakarta-Tashkent

Nama Uzbekistan Airways kurang dikenal oleh kebanyakan pelancong dari Indonesia. Namun, dengan dibukanya penerbangan langsung (direct flight) Jakarta-Tashkent pada 26 April 2023, nama Uzbekistan Airways (UA) mulai menjadi perhatian, terlebih pemerintah Uzbekistan memberikan bebas visa kepada warga negara Indonesia (WNI) dalam kunjungan wisata selama 30 hari.

Baca juga: Buat Iri Negara Sekitar, Uzbekistan Hadirkan Kereta Cepat yang Hubungkan “Masa Lalu dan Masa Depan

Dalam penerbangan dua kali seminggu (Rabu dan Sabtu), Uzbekistan Airways menawarkan penerbangan langsung selama 8 jam dari Jakarta ke Tashkent menggunakan pesawat berbadan lebar Boeing 787-8 Dreamliner.

Uzbekistan Airways adalah maskapai penerbangan nasional dari Uzbekistan. Didirikan pada tahun 1992, maskapai ini memiliki basis utama di Bandara Internasional Tashkent. Maskapai ini mengoperasikan penerbangan penumpang dan kargo ke berbagai tujuan domestik dan internasional.

Uzbekistan Airways mengoperasikan berbagai jenis pesawat, seperti Boeing 757, Boeing 787 Dreamliner, dan Airbus A320. Maskapai asal negara Asia Tengah ini memiliki jaringan rute yang luas, menghubungkan Uzbekistan dengan tujuan-tujuan internasional utama di Eropa, Asia, dan Timur Tengah, serta beberapa tujuan domestik.

Meskipun tidak menjadi anggota aliansi penerbangan global seperti Star Alliance atau SkyTeam, Uzbekistan Airways memiliki sejumlah kemitraan dan kesepakatan codeshare dengan maskapai penerbangan lain untuk meningkatkan jangkauan dan konektivitasnya.

Rute penerbangan terjauh Uzbekistan Airways adalah dari Tashkent, Uzbekistan, ke Bandara John F. Kennedy International di New York City, Amerika Serikat. Jarak langsung antara kedua kota tersebut sekitar 7.300 mil atau sekitar 11.750 kilometer. Penerbangan ini merupakan salah satu penerbangan internasional jarak jauh yang dioperasikan oleh maskapai ini menggunakan pesawat Boeing 787 Dreamliner.

Indonesia Menjadi Negara Pertama Mendapatkan Bebas Visa ke Uzbekistan

Garuda Indonesia Dukung World Water Forum 2024, Siapkan Layanan Khusus Bagi Delegasi 141 Negara

Maskapai plat merah, Garuda Indonesia secara berkelanjutan terus mewujudkan komitmennya dalam mendukung penyelenggaraan event internasional diantaranya dengan menjadi Official Airline bagi penyelenggaraan World Water Forum (WWF) 2024, yang akan berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, pada 18-25 Mei 2024 mendatang.

Baca juga: Sambut Musim Haji 2024, Garuda Indonesia Maksimalkan Operasional Penerbangan dan Jalankan Aircraft Health Program

Dukungan Garuda Indonesia terhadap penyelenggaraan WWF salah satunya dilaksanakan dengan menghadirkan penambahan kapasitas penerbangan, dimana selama periode 16-25 Mei 2024 Garuda Indonesia menyediakan sedikitnya 34.858 kursi penerbangan bagi delegasi 141 negara peserta dan lebih dari 1200 orang Pasukan Pengaman Presiden  melalui berbagai rute penerbangan yang dilayani Garuda Indonesia dari dan menuju Bali. Adapun penambahan produksi tersebut dilaksanakan melalui pengoperasian pesawat berbadan lebar dan pengoperasioan penerbangan tambahan.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan bahwa dukungan terhadap penyelenggaraan WWF 2024 selain menjadi langkah kolaboratif Garuda Indonesia, sebagai national flag carrier, dalam mendukung kesuksesan penyelenggaraan agenda penting nasional terlebih mengingat Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang terpilih menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan World Water Forum setelah forum tiga tahunan tersebut sukses dilaksanakan di sembilan negara, yaitu: Maroko, Belanda, Jepang, Prancis, Turki, Meksiko, Korea Selatan, Brasil, dan Senegal.

Ia menambahkan, kehadiran Garuda Indonesia dalam WWF 2024 menjadi langkah strategis bagi Garuda Indonesia dalam menyelaraskan komitmen Pemerintah untuk mewujudkan komitmen Indonesia terhadap isu keberlangsungan lingkungan, dengan semangat dan komitmen untuk menghadirkan konektivitas udara yang mengedepankan nilai-nilai terbaik bangsa. Dengan layanan penerbangan Garuda Indonesia, peserta WWF 2024 juga akan terkoneksi dengan beragam destinasi eksotis Nusantara, serta berbagai destinasi internasional yang dapat diakses dengan rute-rute penerbangan langsung (pulang pergi) dari Denpasar, seperti Denpasar-Seoul, Denpasar-Melbourne, Denpasar-Narita (Tokyo), Denpasar-Singapura, dan Denpasar-Sydney.

Lebih lanjut, melalui dukungan tersebut, Garuda Indonesia juga akan memberikan sejumlah benefit bagi peserta WWF 2024, mulai dari potongan harga tiket sampai dengan 20 persen untuk penerbangan domestik dan internasional, fleksibiltas perubahan tiket, hingga free excess baggage hingga 5 kilogram, yang berlaku untuk periode penerbangan selama pelaksanaan WWF 2024 hingga 4 Juni 2024.

Sekolah di Cina Habiskan US$2,1 Juta untuk Membeli Airbus A320 Bagi Siswa

Sebuah sekolah di Cina menjadi viral, yakni Hangzhou Vocational and Technical College di Provinsi Zhejiang, setelah menghabiskan 15 juta Yuan (sekitar US$2,1 juta) untuk membeli sebuah Airbus A320 bagi para siswanya, yakni untuk berlatih dan meningkatkan keterampilan mereka.

Baca juga: Airbus Flight Academy Mulai Gunakan Pesawat Latih Elixir yang Lebih Hemat Bahan Bakar

Dengan panjang badan 37,57 meter dan lebar sayap 35,8 meter, itu adalah Airbus A320 yang dipensunkan oleh Air Canada sebelum dibeli oleh sekolah tinggi tersebut. Sekolah nantinya akan mempekerjakan para profesional untuk merakit dan menguji komponen-komponen, serta melakukan upaya dalam desain kursus. Lebih dari 400 siswa diperkirakan akan memperoleh manfaat dari latihan pesawat sejak musim semi 2024.

Airbus A320 adalah pesawat komersial jarak pendek dan menengah yang dikembangkan oleh Airbus. Dari sejarahnya, pada akhir tahun 1970-an, Airbus memutuskan untuk mengembangkan pesawat baru yang akan menawarkan efisiensi operasional dan kenyamanan yang lebih baik bagi penumpang. Proyek ini dimulai pada bulan Mei 1977, dengan nama “SAE” (Single Aisle European) dan kemudian menjadi dikenal sebagai A320.

Pada tanggal 2 Maret 1984, Airbus secara resmi meluncurkan pesawat A320 di Paris Air Show. Peluncuran ini merupakan tonggak penting dalam sejarah Airbus dan industri penerbangan Eropa.

Salah satu fitur terobosan utama dari A320 adalah penggunaan fly-by-wire, di mana kendali pesawat dikendalikan secara elektronis, bukan mekanis. Ini memungkinkan untuk pengendalian yang lebih halus dan presisi, serta memberikan efisiensi yang lebih baik dalam operasi penerbangan.

Penerbangan perdana A320 dilakukan pada tanggal 22 Februari 1987. Pesawat ini dioperasikan oleh dua pilot uji terkemuka dari Airbus, Bernard Ziegler dan Jacques Rosay. Penerbangan perdana tersebut berlangsung dari Bandara Toulouse-Blagnac di Prancis.

Setelah serangkaian uji terbang dan pengembangan, A320 menerima sertifikasi tipe dari otoritas penerbangan pada bulan Februari 1988. Produksi massal kemudian dimulai, dengan Airbus menghasilkan berbagai varian A320 untuk memenuhi kebutuhan pasar yang beragam.

Sejak diluncurkan, A320 telah menjadi salah satu pesawat terlaris dalam sejarah penerbangan komersial. Varian-varian seperti A318, A319, A320, dan A321 telah digunakan oleh maskapai penerbangan di seluruh dunia untuk rute jarak pendek dan menengah.

Fuel Matrix, Solusi Maskapai untuk Hemat Bahan Bakar dengan Variabel Berat Badan Penumpang

Selain pesawat yang dirancang dengan material karbon komposit yang terkenal ringan namun tangguh, ternyata ada cara lain yang dapat meminimalisir pengeluaran bahan bakar dalam melakukan sebuah penerbangan, yaitu dengan cara menimbang setiap penumpang yang hendak mengudara. Mungkin diantara Anda yang bingung, “Bagaimana bisa menimbang berat badan dapat meminimalisir penggunaan bahan bakar?”

Baca Juga: Dallas Fort Worth, Jadi Bandara Pertama dengan Status Netral Emisi

Merujuk pada perusahaan perangkat lunak (software) asal Inggris, Fuel Matrix, mereka menyebutkan bahwa semakin ringan bobot penumpang yang dibawa oleh sebuah pesawat, maka semakin irit juga bahan bakar yang digunakan. Ya, semakin sedikit bahan bakar yang digunakan, maka semakin sedikit juga emisi karbon yang dihasilkan. Tapi, bagaimana pihak bandara dan pihak maskapai menimbang penumpang yang hendak mengudara? Bukankah berat badan merupakan seusatu yang sensitif bagi sebagian orang?

Fuel Matrix mengatakan bahwa softwarenya dapat dengan mudah menentukan berapa liter bahan bakar yang harus dibawa di dalam sebuah penerbangan, selama mereka mengetahui berapa-berapa saja berat badan dari masing-masing penumpang – walaupun tidak perlu akurat 100 persen. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (25/4/2019), perusahaan telah menguji sistem perangkat lunak penghitungan bahan bakarnya dengan maskapai internasional besar, yang dikombinasikan dengan data penerbangan sebelumnya.

“Mereka (maskapai) bisa menghemat banyak bahan bakar dan banyak karbon,” tutur CEO Fuel Matrix, Roy Fuscone.

“Karena maskapai penerbangan mungkin saja dikenai biaya tambahan apabila mereka melebihi batas emisi karbon yang sudah ditentukan. Ya, selayaknya menjalankan sebuah bisnis, pihak maskapai juga pasti akan melakukan penghematan finansial, namun berharap untuk mendapatkan untung yang berlipat,” tandasnya.

Lalu permasalahannya adalah, bagaimana Fuel Matrix bisa menimbang berat penumpang dengan cara yang bijaksana tanpa harus menyinggung perasaannya?

Baca Juga: Travelator, Wahana Transportasi Massal Yang Bebas Emisi

Sebenarnya perusahaan telah mengajukan satu proposal berisi cara untuk bisa mengetahui berat badan penumpang, yaitu dengan cara menambahkan informasi pada pasport penumpang. Apabila tidak ada, maka penumpang itu harus masuk ke proses keamanan.

“Nantinya penumpang akan dipindai – tentu saja tidak hanya dipindai dengan menggunakan alat yang mengelilingi tubuh penumpang, melainkan juga diukur berat badannya,” terang Roy.

“Bagi Anda yang takut data pribadinya akan diretas, sebaiknya Anda tidak perlu khawatir karena ini sifatnya sangat rahasia.” tutupnya.

Mengenal Polsuska, Penegak Peraturan di Kereta Api

Berjalan tegap dengan seragam laksana personel Brimob Polri, aktivitasnya selalu hadir mendapingi kondektur dalam mengecek tiket penumpang kereta api. Merekalah yang disebut sebagai Polsuska (Polisi Khusus Kereta Api), meski dilengkapi atribut baret ala militer dan menyandang peralatan penindak kejahatan, peran Polsuska tetap sebagai petugas keamanan sipil.

Baca juga: “Kapten Arjun,” Robot yang Bantu Polsuska Intensifkan Penyaringan Penumpang Kereta Api

Polsus atau Kepolisian Khusus merupakan instansi atau badan pemerintah yang atau atas kuasa undang-undang diberi wewenang untuk melaksanakan fungsi kepolisian di bidangnya masing-masing. Salah satunya adalah Polsuska atau polisi khusus kereta api. Di bidang lain kita mengenal fungsi polisi khusus, seperti Polisi Kehutanan (Polhut) yang operasinalnya dibawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Dan perlu dicatat, meski mengambil identitas Polisi Khusus, mereka bukan bagian dari struktur Kepolisian RI.

Polsuska memiliki tugas sama seperti polisi lainnya yakni melakukan pengamanan, pencegahan, penangkalan dan penindakan nonyustisiil sesuai dengan bidang teknisnya masing-masing yang di atur dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukumnya di bidang perkeretaapian. Contoh pengamanan dan pendindakan nonyustisiil adalah menindak para penumpang yang merokok di dalam gerbong kereta.

Jawapos.com

Seperti pantauan yang KabarPenumpang.com lakukan, dalam kereta api baik ekonomi, bisnis maupun eksekutif penumpang dilarang merokok baik di tempat duduk, dekat pintu ataupun toilet. Bila ada penumpang yang saat itu ketahuan merokok oleh petugas kereta, maka Polsuska akan menindak secara tegas. Penumpang di beri peringatan dan diturunkan pada stasiun berikutnya serta diberikan pada petugas di stasiun tempat penumpang tersebut diturunkan.

Tak hanya itu, Polsuska sebelum melakukan penindakan terhadap penumpang nakal, memberikan laporan kepada masinis dan kondektur tentang hal tersebut. Mungkin bagi Anda terlihat sepele, namun keputusan Polsuska dalam kereta api sama dengan keputusan polisi pada umumnya.

Sayangnya, Polsuska memiliki fungsi yang terbatas dibandingkan dengan polisi lainnya. Polsusuka harus melaksanakan fungsi secara preemtif, preventif dan represif nonyustisiil dalam menindak. Polsuska juga memiliki tanggung jawab besar, terutama yang berkaitan dengan pengamanan dan ketertiban pengguna jasa kereta api serta objek vital baik Stasiun maupun aset milik PT KAI.

Merujuk ke sejarahnya, Polsuska dibentuk pada lingkungan PJKA tahun 1971 dengan nama awal Polisi Kereta Api (PKA). Biasanya anggota Polsusuka berasal dari anggota Polri yang ditugaskan (BKO) di PJKA. Namun, dalam perkembangannya stastus perusahaan dari PJKA menjadi PERUMKA yang kemudian menjadi PT KAI (Persero) dibawah kementerian BUMN. Hal ini berbuntut pada perubahan tugas Polsusuka yang terbatas.

Dulu tugas Polsuska bisa melakukan penyelidikan, sayangnya setelah dibawah BUMN tugas Polsuska seperti saat ini yang hanya menjaga keamanan, penertiban penumpang di stasiun, penertiban asongan, penertiban ataper, larangan merokok pada penumpang hingga penertiban bangunan liar yang berada di area aset milik PT KAI.

Seragam Polsuska yang menggunakan baret berwarna jingga, dan karena warna sampai saat ini masih menimbulkan polemik, sebab warnanya sama dengan baret milik Korps Paskhas TNI AU. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmayanto mengatakan, hal ini bukanlah suatu yang penting untuk dipermasalahkan, walaupun dirinya tidak menampik adanya kemiripan seragam ini. Namun, tanggapan lain datang dari Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) saat itu, Marsekal TNI Agus Supriatna yang merasa hal ini bisa berdampak negatif.

Menurut Agus, seragam dinas sipil baik Kementerian dan lembaga harus memiliki ciri khas masing-masing, sebab bila sama dengan militer. Kekhawatiran Agus adalah dimana lambang dan atribut mirip TNI tersebut membuat masyarakat salah persepsi. Tapi saat ini pihak TNI AU menunggu kebijakan pemerintah terkait masalah persamaan seragam sipil ini. Sebagai organisasi keamanan non militer, termasuk Polri, penggunaan baret disematkan dengan miring ke kiri, sementara personel militer menggunakan baret dengan miring ke kanan.

‘ePatrolling’ Aplikasi Untuk Mudahkan Kontrol Petugas Polsuska

Kreatif! Pilot ini Sulap Bangkai Airbus A330 Menjadi Sebuah Museum

Apa yang  terlintas di benak Anda jika mendengar pesawat jatuh? Mungkin yang pertama yang terlintas di pikiran Anda adalah seputar kecelakaan tersebut, seperti berapa korban yang jatuh, dimana lokasi pesawat itu jatuh, dan lain sebagainya. Namun sudut pandang berbeda dilancarkan oleh seorang pilot yang akhirnya mengubah bangkai pesawat tersebut menjadi sebuah museum.

Baca Juga: Ada Sosok Boeing 737 Misterius di Bali, Kini Jadi Obyek Foto Favorit Para Pelancong

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, pilot yang disinyalir bernama Bed Upreti tersebut merombak pesawat Airbus A330 milik Turkish Airlines yang mengudara dari Istanbul dan tergelincir saat hendak landing di Kathmandu pada 4 Maret 2015 silam. Walaupun nyawa dari 227 penumpang beserta 11 awak pesawat tersebut selamat, namun jalur internasional di bandara tersebut terpaksa ditutup selama empat hari karena petugas berusaha untuk memindahkan badan pesawat nahas tersebut.

Sayangnya, baik pihak bandara maupun Turkish Airlines tidak ada yang menindaklanjuti insiden tersebut hingga bangkai pesawat terbengkalai begitu saja di salah satu sudut bandara. Berangkat dari situ, Bed Upreti lalu berinisiatif untuk membuka sebuah museum dengan menggunakan bangkai pesawat Airbus A330 milik Turkish Airlines yang sudah tidak terpakai itu, dengan mahar USD$600,000 atau setara dengan Rp8,1 miliar.

Sumber: etimg.com

Bed Upreti mengungkapkan kesulitannya memindahkan Airbus A330. Sebelumnya, ia pernah memindahkan sebuah Fokker 100 dari Nepal ke Dhangadi yang jaraknya sekitar 500km di sebelah barat Nepal. Perlu diketahui, ukuran Fokker 100 mungkin hanyalah setengah dari Airbus A330. “Mengangkut pesawat (Fokker 100) melintasi distrik jauh lebih mudah daripada memindahkan Airbus yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari bandara,” ungkap Bed Upreti.

Sumber: aviationnepal.com

Bed Upreti membutuhkan sekitar enam minggu untuk memotong Airbus A330 tersebut menjadi 10 bagian, sebelum akhirnya pesawat tersebut dipindahkan menuju ‘rumah barunya’, yang berjarak hanya 500 meter dari bandara. Proses pengerjaannya yang lama dikarenakan Bed Upreti bersama timnya hanya bekerja ketika malam hari, dimana bandara tersebut sudah tidak beroperasi. Dan ia mengaku membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk menyatukan kembali 10 bagian pesawat yang sudah dimutilasi tersebut.

Ketika sudah rampung, rencananya kelas bisnis akan menampilkan model pesawat pertama yang mengudara buatan Wright Brothers, dan pada bagian ekornya akan ada sebuah kafe. Tidak hanya itu, Pesawat bercat putih betuliskan Aviation Museum tersebut juga akan menampilkan lebih dari 150 display mini yang akan memetakan sejarah penerbangan serta asal muasal industri penerbangan di Nepal.

Baca Juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah

Dibalik idenya untuk membangun museum, Bed Upreti berharap pembukaan museum tersebut akan mengilhami anak muda untuk lebih tertarik di dunia aviasi dan terinspirasi untuk mengambil bagian di dalamnya, entah menjadi seorang pilot, kru darat, hingga awak kabin. Untuk memaksimalkan daya tampung dari Aviation Museum tersebut, Bed Upreti mengeluarkan semua partikel yang berada di lambung pesawat Airbus A330 dan menata kembali sedemikian rupa.

Korean Air Jual Lima Unit Boeing 747-8 untuk Dikonversi Jadi “Doomsday Plane”

Korean Air telah menandatangani kesepakatan dengan kontraktor pertahanan yang berbasis di Nevada, Sierra Nevada Corp mengenai penjualan lima Boeing 747-8 (800). Sierra Nevada belum lama ini mendapatkan kontrak senilai $13 miliar untuk mengembangkan Survivable Airborne Operations Center (SAOC), atau “Doomsday Plane” untuk kebutuhan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).

Baca juga: Korean Air Tuntaskan Kontrak Pemesanan 33 Unit Airbus A350

Seperti dikutip Reuters, maskapai utama Korea Selatan ini akan menjual lima pesawat berbadan lebar Boeing 747-8 miliknya seharga $674 juta, atau setara dengan $135 juta per badan pesawat. Penjualan tersebut diperkirakan akan selesai pada September 2025 dan akan membuat maskapai ini hanya memiliki empat pesawat penumpang 747-8 seiring dengan upaya modernisasi armadanya.

Dalam pengajuan Sierra Nevada kepada Korean Air, mereka mengatakan langkah tersebut selaras dengan strategi jangka panjangnya untuk mendivestasi pesawat tua demi jet generasi berikutnya. Penjualan ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Korean Air mengkonfirmasi kesepakatan pembelian 33 unit Airbus A350 senilai $13,7 miliar.

Pesawat 747 bermesin empat pada akhirnya akan menggantikan pesawat Boeing E-4B Advanced Airborne Command Post (AACP) yang dioperasikan USAF, yang saat ini menggunakan badan pesawat Boeing 747-200B yang dimodifikasi. Berdasarkan kontraknya dengan USAF, Sierra Nevada diharapkan menyelesaikan pekerjaannya pada tahun 2036, dengan Angkatan Udara AS memberikan kontribusi langsung sebesar $59 juta untuk memulai pengembangan dan pengujian.

Ketika industri penerbangan semakin memilih pesawat jarak jauh bermesin ganda yang lebih efisien, Korean Air akan memangkas separuh armada penumpang Boeing 747-nya dalam 18 bulan ke depan. Maskapai penerbangan Korea ini saat ini mengoperasikan sembilan jet penumpang 747-8I yang dapat menampung hingga 368 penumpang dalam tiga kelas – enam di kelas satu, 48 di kelas bisnis, dan 314 di kelas ekonomi – dan merupakan salah satu dari tiga maskapai penerbangan yang mengoperasikan 747-8 sebagai pesawat penumpang, bersama dengan Air China dan Lufthansa.

Boeing 747-8I tertuanya belum berusia sembilan tahun, sementara Korean Air juga mengoperasikan 11 pesawat kargo Boeing 747 sebagai bagian dari bisnis kargonya yang cukup besar. Masih harus dilihat apakah hal ini dapat meyakinkan maskapai ini untuk mempertahankan armada Airbus A380-nya lebih lama, terutama karena beberapa hari yang lalu salah satu pesawat A380-nya terlihat dibongkar.

Sejarah Panjang Korean Air, Maskapai Nasional yang Awalnya Dimiliki Pemerintah

Singapora Airlines Group Pesan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan dari Neste

Singapore Airlines (SIA) Group menandatangani perjanjian dengan Neste untuk membeli 1.000 ton Neste MY Sustainable Aviation FuelTM murni. Hal ini akan menjadikan SIA dan Scoot, dua maskapai di dalam grup tersebut, sebagai maskapai pertama yang menggunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan atau Sustainable Avitiaton Fuel (SAF), yang diproduksi di kilang Neste di Bandara Changi Singapura.

Baca juga: Airbus Bergabung di “Act For Sky”, dukung SAF Produksi Lokal

Neste akan mencampurkan SAF tersebut dengan bahan bakar pesawat konvensional sesuai dengan spesifikasi keamanan yang ditetapkan, dan akan mengirim campuran bahan bakar pesawat tesebut ke sistem hidran bahan bakar di Bandara Changi dalam dua tahap – tahap pertama pada kuartal kedua tahun 2024 dan tahap kedua pada kuartal keempat tahun ini.

Pencapaian ini juga menandai pasokan langsung pertama SAF dari Neste ke maskapai penerbangan di Bandara Changi, yang akan memperkuat kemampuan rantai pasokan SAF mereka secara menyeluruh di Singapura. Hal ini menyusul selesainya perluasan kilang Neste di Singapura pada bulan Mei 2023. Kilang ini memiliki kapasitas memproduksi satu juta ton SAF setiap tahun, menjadikannya sebagai fasilitas produksi SAF terbesar di dunia.

SAF dari Neste, yang terbuat dari bahan baku 100% limbah terbarukan dan residu, dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 80% siklus hidup bahan bakar. Dicampur dengan bahan bakar pesawat konvensional, SAF ini terintegrasi secara sempurna dengan mesin pesawat dan infrastruktur pengisian bahan bakar yang sudah ada.

Lee Wen Fen, Chief Sustainability Officer, Singapore Airlines, mengatakan, “Perjanjian dengan Neste merupakan tonggak penting dalam perjalanan SIA Group untuk memiliki minimal 5% bahan bakar penerbangan berkelanjutan dalam total pengangkutan bahan bakar kami pada tahun 2030 mendatang. Kolaborasi erat dengan mitra dan pemangku kepentingan, baik di Singapura maupun secara global, berperan penting dalam tujuan dekarbonisasi jangka panjang kami. Industri penerbangan yang lebih berkelanjutan akan memastikan bahwa generasi mendatang akan terus mendapatkan manfaat dari konektivitas global, kemakmuran ekonomi, dan hubungan antar manusia yang didorong oleh perjalanan udara.”

Mulai bulan Mei 2024, SIA akan menawarkan 1.000 Unit SAF Book & Claim Units (BCUs) yang dapat dibeli oleh pelaku perjalanan bisnis, pengirim barang, dan perusahaan ekspedisi. Setiap BCU mewakili satu ton SAF murni terkait dengan manfaat pengurangan karbon dioksida.

Singapore Airlines Gandeng ExxonMobil untuk Pasok Bahan Bakar Berkelanjutan

Dengan membeli BCU SAF, pelaku perjalanan bisnis, pengirim barang, dan perusahaan ekspedisi dapat mengklaim manfaat lingkungan untuk penerbangan yang terkait dengan kegiatan bisnis dan operasional mereka, serta mendukung perkembangan industri SAF yang sedang berkembang. Sistem Roundtable on Sustainable Biomaterials (RSB) Book & Claim, sebuah standar industri terpercaya, akan memastikan ketelusuran dan kredibilitas transaksi-transaksi ini.

Sambut Musim Haji 2024, Garuda Indonesia Maksimalkan Operasional Penerbangan dan Jalankan Aircraft Health Program

Garuda Indonesia secara berkesinambungan terus memaksimalkan kesiapan operasional jelang pelaksanaan penerbangan haji yang akan dimulai pada hari Minggu (12/5) mendatang. Kesiapan tersebut salah satunya dioptimalkan pada sejumlah aspek di antaranya yaitu aspek layanan, operasional, hingga tata kelola safety, untuk memastikan kesiapan layanan penerbangan bagi calon jamaah haji dapat berjalan lancar.

Baca juga: Saudia Berencana Fokus di Layanan Umrah dan Haji, Geser Hub dari Riyadh ke Jeddah

Operasional penerbangan haji tahun ini merupakan salah satu momen penting Garuda Indonesia Group, atas kepercayaan yang kembali diberikan oleh Pemerintah —melalui Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI— kepada Garuda sebagai maskapai penyelenggara pengangkutan udara jemaah haji Indonesia tahun ini, yang merupakan tahun ke-69 sejak Garuda Indonesia mengoperasikan penerbangan haji untuk pertama kalinya pada tahun 1955.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan “Dipercaya untuk mengantarkan calon jemaah Haji asal Indonesia untuk menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci lebih dari enam dekade, tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami sekaligus tanggung jawab bagi kami untuk memastikan kualitas layanan, operasional, dan aspek safety bagi seluruh masyarakat yang akan berangkat ke tanah suci terpenuhi dengan baik.”

Irfan menjelaskan, salah satu langkah persiapan tersebut adalah dengan melaksanakan Aircraft Health Program, yaitu penyehatan pesawat melalui beragam prosedur perawatan secara menyeluruh dan berlapis pada armada yang akan melayani penerbangan haji. Program ini sendiri telah berlangsung secara intensif sejak bulan Maret lalu yang dibarengi dengan persiapan secara umum  sejak awal tahun 2024 lalu. Lebih lanjut, Garuda Indonesia melalui GMF AeroAsia juga telah melaksanakan berbagai persiapan teknis lainnya, seperti Material/Spare Readiness, Station and Manpower Readiness, serta GACA (General Authority of Civil Aviation) Certification yang merupakan proses mandatory untuk mendaftarkan pesawat-pesawat penerbangan haji ke Otoritas Kerajaan Arab Saudi.

Khusus Layani Jamaah Haji Tradisional, Garuda Indonesia Andalkan Awak Kabin (Lokal)

Selain itu, dalam aspek pelayanan penumpang, Garuda Indonesia juga menyiapkan sajian makanan dalam inflight service berupa hot meals sedikitnya sebanyak 2 kali dan snack sebanyak 1 kali. Adapun Garuda Indonesia memberikan improvisasi dengan sajian hidangan khas dari masing-masing daerah embarkasi.

Irfan menambahkan, “Berkaca pada pelaksanaan penerbangan Haji tahun sebelumnya yakni lebih dari 20% dari total seluruh jemaah yang diantar oleh Garuda merupakan kategori lanjut usia (lansia), sehingga pada tahun ini, Garuda Indonesia juga fokus pada pemenuhan kebutuhan pendukung pelayanan lansia dalam perjalanan udara maupun darat untuk dari dan menuju asrama. Upaya tersebut ditunjangan dengan perlengkapan penunjang kenyamanan pada saat melaksanakan penerbangan seperti penyediaan selimut dan emergency equipment, optimalisasi boarding management hingga penyiapan 30 kursi roda di setiap embarkasi. Selain itu, pada musim Haji 2024 ini Garuda Indonesia menambah jumlah petugas darat hingga 10% dari jumlah petugas pada tahun sebelumnya untuk para calon jemaah melaksanakan perjalanan ibadah hajinya.”

Irfan menambahkan, “Lebih lanjut, kesiapan operasional haji kali ini juga ditunjang melalui armada tambahan untuk memastikan layanan operasional khususnya terkait dengan ketepatan waktu penerbangan dapat terjaga secara maksimal.”

Irfan melanjutkan, “Kami memahami bahwa lebih dari 66% calon jemaah haji yang kami layani di tahun ini memiliki latar belakang pendidikan yang beragam serta tidak sedikit dari mereka yang belum pernah menggunakan moda transportasi udara sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri yang mendorong kami, bersama seluruh stakeholders terkait, untuk terus berkoordinasi secara intensif guna memastikan hadirnya layanan yang aman dan nyaman bagi seluruh jemaah dengan berbagai latar belakang.”

Pada musim Haji 1445H/ 2024 ini, Garuda Indonesia akan mengangkut 109,072 calon jemaah yang akan terbagi ke dalam 292 kelompok terbang (kloter) dan diberangkatkan dari 9 (sembilan) embarkasi, yaitu Banda Aceh, Medan, Padang, Jakarta-Pondok Gede, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, dan Lombok. Para calon jemaah haji ini nantinya akan diberangkatkan secara bertahap menuju Tanah Suci mulai 12 Mei hingga 10 Juni 2024, dengan keberangkatan menuju Madinah pada 12 – 23 Mei 2024 dan keberangkatan menuju Jeddah pada 24 Mei – 10 Juni 2024. Selanjutnya, fase pemulangan jemaah akan dimulai pada tanggal 22 Juni sampai dengan 21 Juli 2024.

Adapun pada hari pertama (12/5), fase 1 keberangkatan Haji tahun 2024 direncanakan  akan diberangkatkan dari 7 embarkasi, yaitu Jakarta, Solo, Medan, Banjarmasin, Lombok, Makassar, dan Padang; di mana kloter asal Jakarta akan menandai penerbangan perdana operasional haji Garuda Indonesia di tahun ini.

Untuk mengoptimalkan seluruh rangkaian pelaksanaan penerbangan haji tersebut, Garuda Indonesia mengoperasikan 14 pesawat berbadan lebar termasuk armada B777-300ER dan A330 yang dimiliki oleh Garuda Indonesia.

 

Kisah Dibalik Video Dramatis Ditching Boeing 767-200 Ethiopian Airlines Flight 961

Video yang beredar sangat dramatis, memperlihatkan detik-detik terhempasnya sebuah pesawat berbadan lebar lewat pendaratan darurat di air (ditching) yang berakhir maut. Rekaman video yang ‘melegenda’ tersebut bukanlah adegan dalam film, melainkan peristiwa nyata sebagai buah dari aksi pembajakan yang menimpa Boeing 767-200 Ethiopian Airlines Flight 961 pada tahun 1996.

Baca juga: Mengenal Ditching, Pendaratan Darurat Pesawat di Atas Permukaan Air

Ethiopian Airlines Flight 961 adalah penerbangan komersial dari Addis Ababa, Ethiopia, menuju Nairobi, Kenya, dengan rencana penerbangan lanjutan ke Lagos, Nigeria, dan kemudian ke Johannesburg, Afrika Selatan. Pesawat ini dibajak pada tanggal 23 November 1996 oleh tiga pria Ethiopia yang berencana untuk mendaratkan pesawat di Australia. Namun, karena keterbatasan bahan bakar dan ketidakmampuan pilot untuk memilih destinasi, pesawat tersebut terpaksa mendarat di laut dekat Pulau Comoros.

Dari kronlogi, Ethiopian Airlines Flight 961dibajak hanya 20 menit setelah lepas landas. Para pembajak menyerbu kokpit dan membajak pesawat, menggunakan kapak dan alat pemadam kebakaran yang diambil dari kokpit. Para pembajak diidentifikasi sebagai dua lulusan sekolah menengah yang menganggur dan seorang perawat. Mereka menuntut agar pesawat tersebut diterbangkan ke Australia agar mereka bisa mencari suaka di negara tersebut.

Kapten pesawat berusaha menjelaskan bahwa mereka hanya memiliki cukup bahan bakar untuk jadwal penerbangan, sehingga tidak dapat mencapai seperempat perjalanan ke Australia, namun para pembajak tidak mempercayainya.

Mereka menyatakan dalam bahasa Amharik, Perancis, dan Inggris bahwa jika ada yang mencoba ikut campur, mereka mempunyai bom dan akan menggunakannya untuk meledakkan pesawat.

Pihak berwenang kemudian menetapkan bahwa bom tersebut sebenarnya adalah botol minuman keras yang tertutup. Alih-alih terbang menuju Australia, sang kapten malah terbang di sepanjang garis pantai Afrika.

Para pembajak menyadari bahwa daratan masih terlihat dan memaksa pilot untuk mengarahkan ke timur. Namun, sang kapten diam-diam menuju Kepulauan Komoro.

Kemudian pesawat hampir kehabisan bahan bakar namun para pembajak terus mengabaikan peringatan kapten. Karena kehabisan pilihan, kapten mulai mengitari area tersebut, berharap bisa mendaratkan pesawat di bandara utama Comoros. Namun yang terjadi justru pesawat mendarat di air dengan kecepatan 321 km per jam.

Dari pendaratan di air yang dramatis dan terekam oleh video amatir, dari total 175 penumpang dan awak pesawat, 125 orang tewas dalam insiden tersebut, termasuk pembajak. Banyak korban tewas karena tenggelam atau terluka parah akibat hentakan saat pendaratan darurat.

Apa yang Dilakukan Pilot Ketika Salah Satu Mesin Pesawat Mati?