Qatar Airways Kini Punya “Sama 2.0”, Pramugari Hologram Berbasis AI yang Siap Layani Kebutuhan Penumpang

Tidak kalah dengan yang dilakukan Korean Air, Qatar Airways belum lama ini telah meluncurkan pramugari AI (Artificial Intelligent/Kecerdasan Buatan) pertama di dunia yang menyerupai manusia. Sang pramugari ‘pintar’ tersebut bernama Sama 2.0. Nantinya Sama 2.0 akan menyambut para penumpang dengan senyuman hangat.

Baca juga: Video Keselamatan di Penerbangan Korean Air Kini Dibintangi Pramugari Virtual 

Persisnya Sama 2.0 ditampilkan berupa hologram virtual yang tidak hanya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan penumpang secara real-time, tetapi juga dapat diakses melalui platform digital imersif mereka QVerse. “Ini adalah titik penting dalam mempelopori keberhasilan sinergi antara teknologi dan hubungan manusia – tidak hanya untuk Qatar Airways tetapi juga untuk industri secara keseluruhan,” kata wakil presiden pemasaran perusahaan, Babar Rahman melansir New York Post.

Nama Sama 2.0 diambil dari kata bahasa Arab yang berarti “langit”. Dengan kemampuan untuk menjawab pertanyaan mulai dari FAQ hingga informasi tujuan, Sama 2.0 dirancang untuk membantu penumpang selama perjalanan.

Kabarnya, pramugari AI ini akan dipamerkan di Arabian Travel Market Dubai, yang berlangsung dari 6 – 9 Mei 2024. Pengunjung akan memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan AI holografik ini di paviliun Qatar Airways di Hall No.2.

Qatar Airways menyebut Sama 2.0 sebagai ‘manusia digital pertama dalam penerbangan’. Meskipun Sama 2.0 tidak dapat mengambilkan air atau selimut, Sama 2.0 akan memberikan informasi yang diperlukan oleh penumpang, seperti membantu memesan penerbangan dan menyelesaikan transaksi.

Dengan Sama 2.0, Qatar Airways tidak hanya meningkatkan efisiensi layanan mereka tetapi juga menetapkan standar baru dalam inovasi penerbangan.

MIT Kembangkan Air Guardian – Teknologi ‘Kopilot’ Berbasis Kecerdasan Buatan

Tak Sampai Setahun, LRT Jabodebek Telah Layani 10 Juta Penumpang

Sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 28 Agustus 2023 lalu, LRT Jabodebek telah melayani 10.169.356 pengguna (per 7 Mei 2024). Hal ini berarti, rata-rata pengguna harian LRT Jabodebek sebanyak 45.287 pengguna pada saat weekday, dan sebanyak 29.592 pengguna pada saat weekend.

Baca juga: PT KAI Tambah Jumlah Perjalanan LRT Jabodebek, Jadi 336 Perjalanan Setiap Hari

Menurut data, jumlah pengguna tertinggi pada tahun 2024 terjadi pada bulan April, dimana LRT Jabodebek melayani sebanyak 1.402.933 pengguna. Sementara, rekor jumlah pengguna terbanyak dalam 1 hari terjadi pada tanggal 6 Mei 2024 dengan 69.705 pengguna.

Stasiun Dukuh Atas, Stasiun Harjamuki, Stasiun Kuningan, dan Stasiun Cikoko adalah stasiun yang paling banyak melayani pengguna pada bulan April, dengan total 1.301.445 pengguna.

Manager Public Relations LRT Jabodebek mengucapkan terima kasih atas kepercayaan serta kesetiaan masyarakat yang telah memilih LRT Jabodebek sebagai moda transportasi sehari-hari.

“KAI juga menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada masyarakat, pemerintah, serta semua pihak yang terkait atas dukungan kepada LRT Jabodebek sebagai hasil karya anak bangsa,” ujar Mahendro.

Mahendro mengungkapkan KAI secara konsisten terus meningkatkan layanan LRT Jabodebek seperti penambahan perjalanan sehingga waktu tunggu antar kereta (headway) menjadi lebih singkat, hanya 5,5 menit pada jam sibuk di lintas Cawang – Dukuh Atas, dan 11 menit di lintas Jati Mulya – Cawang serta Harjamukti – Cawang.

Baca juga: Pertama Kali Beroperasi Saat Lebaran, LRT Jabodebek Layani 250 Ribuan Penumpang: Naik 73 Persen

Selain itu pemeliharaan fasilitas serta keamanan di kereta dan di stasiun juga terus dilakukan demi menjaga kenyamanan pengguna.

“Kami berharap dengan adanya peningkatan di segala aspek pelayanan, dapat memberikan pelayanan terbaik untuk pengguna dan meningkatkan minat masyarakat menggunakan LRT Jabodebek,” tutup Mahendro.

‘Jual Beli’ Rute Basah, Inilah Kolusi ala Awak Kabin Maskapai

Penyalahgunaan tugas bisa terjadi dimana saja dan untuk profesi apa pun. Seperti di dunia awak kabin, ada yang disebut sebagai ‘jual beli’ rute penugasan, dimana awak kabin yang lebih senior umumnya punya kesempatan untuk ‘menjual’ rute tugas mereka. Aksi ilegal ini tentu terkait motif ekonomi, dimana yang dijual adalah rute ‘basah.’

Baca juga: Punya Keterampilan Multibahasa, Awak Kabin Berpeluang Sukses Lebih Besar

Pada umumnya maskapai memberikan pembayaran dan insentif kepada awak kabin disesuaikan dengan jarak perjalanan yang mereka tempuh dalam suatu penerbangan.

KabarPenumpang.com mengutip dari laman economist.com (5/4/2019), bahwa awak kabin di Amerika Serikat diketahui menjual penugasan rute mereka ke para junior. Bahkan satu tahun lalu, American Airlines mulai melakukan penyelidikan staf yang menggunakan seniortas mereka untuk mendapat rute yang diinginkan.

Tak hanya itu, penjualan rute tersebut berkisar harga rata-rata US$200 pada para awak kabin junior. Selain American Airlines, United Airlines juga menemukan bukti adanya awak kabin yang melakukan hal tersebut.

Hal ini membuat United Airlines memberikan peringatan serta mengancam akan memecat awak kabin dan staf lainnya yang berpartisipasi. Untuk diketahui, sistem penugasan awak kabin setiap maskapai berbeda.

Awak kabin mengajukan tugas sesuai urutan senioritas. Awak kabin yang bekerja selama beberapa dekade biasanya bisa memilih pertama. Dan awak kabin senior memilih rute yang cukup panjang karena ‘bayaran’ yang lebih besar. Bahkan mereka bisa mendapat fasilitas terbaik dengan hotel nyaman di tempat tujuan. Penerbangan jarak jauh cenderung lebih diinginkan, karena banyak pramugari dibayar berdasarkan durasi penerbangan.

Contohnya, seorang petugas Gulliver baru-baru ini bertemu dalam perjalanan ke Bahama dengan putus asa berusaha untuk menghindari penerbangan 18 menit dari Florida ke pulau terdekat kepulauan itu karena bayarannya sangat rendah. Hasilnya adalah bahwa beberapa awak kabin yang diberikan rute yang tidak diinginkan dapat memutuskan untuk menjualnya kepada awak kabin junior, dan ini adalah tindakan yang dilarang oleh kebijakan perusahaan di banyak maskapai penerbangan.

Ekonom dan eksekutif maskapai berpendapat bahwa sistem ini tidak efisien. Awak kabin senior diberikan sesuatu gratis yang jelas berharga, yang memperburuk ketidaksetaraan gaji yang ada antara karyawan senior dan junior. Beberapa maskapai penerbangan Eropa, termasuk Ryanair, menugaskan penerbangan ke karyawan tanpa memperhatikan senioritas sama sekali.

Solusi Ryanair tidak populer di antara semua awak kabin, yang kepuasan kerjanya sebagian terletak pada kontrol atas rute yang mereka terbang. Tetapi industri penerbangan sudah memiliki solusi yang akan memastikan efisiensi maksimum dan menghormati pilihan staf yakni harga dinamis.

Harga yang dibayar penumpang untuk penerbangan didasarkan pada permintaan untuk rute itu, jika permintaan lebih tinggi dari penawaran, harga tiket naik. Alih-alih membayar tarif per jam yang sama untuk setiap rute, maskapai penerbangan dapat memotong pembayaran untuk rute yang paling dicari dan meningkatkannya untuk yang paling tidak diinginkan.

Baca juga: Inilah 14 Tugas Awak Kabin Pesawat Yang Jarang Diketahui

Jika sistem dirancang dengan benar, staf harus kehilangan insentif untuk menyalahgunakan senioritas mereka. Itu akan menjadi kabar baik tidak hanya bagi awak kabin, tetapi juga bagi penumpang yang mendapat manfaat dari awak kabin yang bahagia.

Garbarata Runtuh di Bandara San Francisco, Pintu Airbus A321neo Hawaiian Airlines Alami Kerusakan

Sebuah jet bridge atau garbarata runtuh pada haris Kamis lalu Bandaa Internasional San Francisco (SFO), tepat sebelum proses penurunan pesawat akan dimulai untuk penerbangan Hawaiian Airlines yang baru saja tiba dari Maui.

Baca juga: Bandara Schipol Jadi Satu-satunya di Dunia yang Masih Operasikan Garbarata Ganda

Insiden tersebut terjadi di Gerbang A1 di SFO sekitar pukul 7 malam pada tanggal 2 Mei 2024, dan pertama kali dilaporkan di akun Facebook A Fly Guy’s Cabin Crew Lounge yang memiliki sekitar 1 juta pengikut yang sebagian besar adalah profesional industri penerbangan. Pesawat yang tiba adalah penerbangan HA42 dari Bandara Kahului Maui, dan garabarata tampaknya mengalami kegagalan struktural karena diperpanjang menuju pintu kiri depan pesawat.

Laporan awal menyatakan bahwa keruntuhan terjadi “setelah penumpang turun dari pesawat”, namun juru bicara SFO Doug Yakel mengatakan kepada Chronicle bahwa keruntuhan terjadi sebelum proses penurunan pesawat dimulai. Dalam insiden ini tidak ada yang terluka.

Runtuhnya garbarata menyebabkan kerusakan pada pintu kabin kiri depan pesawat, namun seluruh penumpang dan awak jet Airbus A321neo dapat turun dari pesawat dengan selamat, kemungkinan melalui pintu lain.

The Chronicle melaporkan bahwa pesawat berusia enam tahun itu masih dilarang terbang di SFO sambil menunggu perbaikan, dan penerbangan pulang dari SFO ke Bandara Kahului dibatalkan.

Insiden ini menyusul serangkaian kecelakaan yang sebagian besar menimpa jet Boeing milik United Airlines dalam beberapa bulan terakhir, beberapa di antaranya hendak atau berangkat dari SFO.

Duel Garbarata dan Tangga Manual: Siapa Yang Akan Menang?

Perluas Rute Penerbangan Jarak Jauh, IndiGo India Pesan 30 Unit Airbus A350

IndiGo, maskapai penerbangan terbesar India, telah melakukan pemesanan pasti untuk 30 unit Airbus A350-900. Pesanan ini dipersiapkan guna memperluas jaringan internasional IndiGo ke tujuan jarak jauh.

Baca juga: 7 Agustus 2023, IndiGo Airlines Buka Penerbangan Langsung Mumbai-Jakarta 

India, pasar penerbangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, berada di ambang ledakan perjalanan internasional seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan rumah tangga. A350 memiliki posisi yang tepat untuk melayani aspirasi negara tersebut untuk perjalanan jarak jauh. Pemilihan pesawat A350 merupakan penegasan kembali atas kepercayaan IndiGo terhadap Airbus dan satu lagi pengakuan bahwa pesawat ini adalah pemimpin yang tak terbantahkan dalam perjalanan udara jarak jauh.

“Momen bersejarah hari ini menandai babak baru bagi IndiGo dan akan semakin membentuk masa depan maskapai penerbangan dan penerbangan India pada saat yang bersamaan. Bagi IndiGo, setelah berhasil merintis langit India dengan perjalanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, armada 30 pesawat Airbus A350-900 akan memungkinkan IndiGo untuk memulai fase berikutnya untuk menjadi salah satu pemain penerbangan global terkemuka. Di IndiGo, kami bangga menjadi maskapai penerbangan pilihan di India dan menawarkan konektivitas kepada pelanggan kami, di dalam dan dengan India. Hal ini menegaskan kembali keyakinan dan komitmen IndiGo terhadap pertumbuhan India, dan kemitraan strategis kami dengan Airbus,” kata Pieter Elbers, CEO, IndiGo.

Terikat dalam hubungan simbiosis pertumbuhan dengan India selama lebih dari setengah abad, produk dan layanan Airbus telah menjadi katalis pertumbuhan sektor penerbangan sipil di negara tersebut. Meskipun Keluarga Airbus A320 mendukung demokratisasi perjalanan udara di India, A350 telah menjadi pesawat referensi untuk membuka potensi pasar internasional bagi maskapai penerbangan India.

IndiGo adalah salah satu perusahaan penerbangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dan merupakan salah satu pelanggan Keluarga A320 terbesar.

A350 adalah pesawat berbadan lebar paling modern dan efisien di dunia dalam kategori 300-410 tempat duduk. Desain A350 yang bersih mencakup teknologi tercanggih dan aerodinamis yang memberikan standar efisiensi dan kenyamanan yang tak tertandingi. Mesin generasi baru dan penggunaan material ringan memberikan keunggulan 25 persen dalam pembakaran bahan bakar, biaya pengoperasian, dan emisi karbon dioksida (CO2), dibandingkan dengan pesawat pesaing generasi sebelumnya.

Buntut Insiden Japan Airlines Flight 516, Desain Airbus A350 Mendapat Pujian

PT KAI Tambah Jumlah Perjalanan LRT Jabodebek, Jadi 336 Perjalanan Setiap Hari

PT KAI melakukan penambahan sebanyak 28 perjalanan LRT Jabodebek pada hari kerja (weekday) mulai bulan Mei 2024. Penambahan ini membuat jumlah perjalanan LRT Jabodebek pada weekday mencapai 336 perjalanan setiap harinya.

Baca juga: Cegah Roda Tak Cepat Aus, Kereta LRT Jabodebek “Lelet” di 5 Petak Ini

Hal tersebut dilakukan sebagai respons terhadap kebutuhan yang terus berkembang dari para pengguna. Setelah melayani lebih dari 3,8 juta pengguna pada triwulan I 2024, KAI memprediksi jumlah pengguna LRT Jabodebek akan terus bertumbuh setiap bulan

Penambahan perjalanan LRT Jabodebek ini juga merupakan langkah strategis KAI untuk memberikan kenyamanan dan fleksibilitas yang lebih kepada para pengguna. Dengan bertambahnya jumlah perjalanan LRT Jabodebek, membuat waktu tunggu antar kereta (headway) menjadi lebih singkat. Dengan pola operasi 336 perjalanan, headway LRT Jabodebek berkurang menjadi 5,5 menit pada jam sibuk (peak hour) di lintas Cawang – Dukuh Atas, dan 11 menit di lintas Jati Mulya – Cawang serta Harjamukti – Cawang.

Manager Public Relations LRT Jabodebek, Mahendro Trang Bawono, menekankan bahwa hal ini merupakan peningkatan kualitas layanan LRT Jabodebek yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pengguna akan transportasi yang dapat diandalkan serta juga mengajak masyarakat untuk beralih ke transportasi massal sebagai upaya untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara guna mendukung program pemerintah.

“Setelah melakukan evaluasi menyeluruh, kami melihat bahwa tren pengguna harian LRT Jabodebek setiap bulan terus meningkat. Hal ini tidak hanya mencerminkan kepercayaan yang semakin tinggi dari masyarakat terhadap layanan kami, tetapi juga menjadi alasan utama di balik keputusan untuk menambah jumlah perjalanan dan meningkatkan pola operasi kami,” ungkap Mahendro.

Selain itu, dengan penambahan jumlah perjalanan membuat LRT Jabodebek jadwal keberangkatan terakhir dari Stasiun Dukuh Atas menjadi lebih malam. Mulai bulan Mei, jadwal keberangkatan LRT Jabodebek paling akhir dari Stasiun Dukuh Atas menjadi pukul 22.16 WIB untuk tujuan Jati Mulya, dan pukul 22.21 WIB untuk tujuan Harjamukti.

Catat, Begini Cara Temukan Barang Tertinggal-Hilang di Stasiun-Kereta LRT Jabodebek

Menlu Finlandia: “Skala Gangguan GPS Meningkat di Kawasan Baltik, Rusia Bertanggung jawab”

Menteri Luar Negeri Finlandia Elina Valtonen melaporkan bahwa Finlandia telah memperhatikan peningkatan aktivitas Rusia baru-baru ini dalam mengganggu sinyal GPS di Teluk Finlandia dan sekitar perbatasan timur. Pilot di Finlandia juga melaporkan ratusan kasus kegagalan GPS yang mempengaruhi lalu lintas udara selama setahun terakhir.

Baca juga: Sinyal Navigasi GPS di Finlandia Kacau, Salah Rusia?

“Saya tidak akan memberikan tanggal pastinya, namun jelas bahwa skala gangguan GPS telah meluas selama perang agresif Rusia dan telah mengubah bentuknya dalam banyak hal,” kata menteri luar negeri Finlandia, seperti dikutip Ukrainska Prava (5/5/2024).

Valtonen mencatat bahwa gangguan GPS dapat mempengaruhi penerbangan sipil, namun tidak ada alasan untuk khawatir. Menlu Finlandia itu menekankan bahwa lalu lintas udara di Finlandia aman dan kerusakan GPS tidak menyebabkan insiden apa pun di udara.

Valtonen menyebut bahwa pesawat memiliki alat navigasi alternatif jika peralatan GPS untuk sementara tidak tersedia. Valtonen menambahkan bahwa gangguan ini mungkin terkait dengan upaya Rusia untuk melindungi infrastruktur penting di tengah perang yang dilancarkan melawan Ukraina.

Menteri lebih lanjut mencatat bahwa Finlandia, bersama dengan sekutu NATO dan Uni Eropa, sedang berupaya “menemukan cara berbeda untuk melanjutkan kehidupan normal dan, di sisi lain, untuk mengatasi situasi ini”.

Badan transportasi dan komunikasi Finlandia, Traficom, sebelumnya menyatakan bahwa gangguan sinyal GPS di Laut Baltik “kemungkinan besar” merupakan efek samping dari upaya Rusia melawan drone.

Waspada Spoofing GPS di Sekitar Teheran, Jalur Favorit Penerbangan Internasional di Timur Tengah

Hotel “Zero Energy” Akan Dibuka di Terminal 2 Bandara Changi Singapura

Hotel Indigo Changi Airport berlantai tujuh akan dibangun di atas stasiun bus di ujung selatan terminal, dan dapat dengan mudah diakses melalui jalur penghubung, The Straits Times mengutip operator bandara Changi Airport Group dalam sebuah pernyataan. Ini akan menjadi hotel ketiga di Changi setelah YoteLair di lantai empat Bandara Jewel Changi dan Bandara Crowne Plaza Changi di Terminal 3.

Baca juga: Food District Changi – Inilah Food Court Bandara Terbesar di Dunia

Hotel Indigo akan memiliki 255 kamar, klub siang di puncak gedung, bar, dan kolam renang tanpa batas dengan pemandangan landasan pacu, jalan raya bandara, dan cakrawala, menurut Channel News Asia.

Proyek ini akan menggunakan panel surya, sistem pendingin hibrida, koridor berventilasi alami, dan teknologi pengumpulan air hujan untuk menjadikannya ramah lingkungan. Hotel Ini juga akan memiliki tanaman hijau yang membentang di ketujuh lantai.

Adapun hotel ini bakal menjadi hotel ketiga di Bandara Changi setelah YoteLair di lantai empat Bandara Jewel Changi dan Crowne Plaza Changi di Terminal 3.

Sekitar 16,5 juta penumpang melewati bandara ini dalam tiga bulan pertama tahun ini. Jumlah ini melampaui tingkat pra-pandemi setiap triwulan untuk pertama kalinya.

Jumlah pengunjung asing ke Singapura juga tercatat meningkat 115 persen menjadi 13,6 juta pada tahun lalu.

Pada tahun ini, Bandara Internasional Hamad Doha menggeser Changi sebagai peraih gelar bandara terbaik dunia di penghargaan tahunan Skytrax.

Lengserkan Changi, Bandara Hamad Jadi Nomor Satu Versi Skytrax

Bak Kantor Terbang, Inilah Stratus Seat, Konsep Kursi Kelas Bisnis Pesawat Masa Depan

Di masa depan, mobilitas manusia diperkirakan bakal lebih padat. Alhasil, setiap detik waktu berjalan terasa begitu berharga hingga tak boleh terbuang sia-sia, termasuk ketika di pesawat. Sayangnya, tak semua kursi di pesawat, dalam hal ini kursi kelas bisnis, menyediakan atmosfer atau paling tidak suasana untuk tetap produktif saat dalam penerbangan. Hal itulah yang pada akhirnya melahirkan Stratus seat, sebuah konsep desain kursi yang digandang bakal menjadi solusi permasalahan di atas.

Baca juga: Inilah En Suit, Kursi First Class Masa Depan yang Terinspirasi dari Hotel Mewah! Dilengkapi Toilet Pribadi

Dilansir Simple Flying, penumpang kelas bisnis pada umumnya tidak hanya berharap makanan dan minuman serta layanan lebih selama di pesawat, melainkan juga berharap nyaman ketika duduk maupun tidur.

Selain itu, tak sedikit dari mereka juga memilih kelas bisnis karena mobilitas mereka yang tinggi, sehingga membutuhkan tempat khusus untuk bekerja selama di perjalanan.

Selama ini, seiring berjalannya waktu, setiap maskapai di seluruh dunia terus-menerus berinovasi akan senantiasa menyediakan seluruh kebutuhan penumpang. Kelas bisnis A350 Virgin Atlantic, misalnya, sudah mulai menyediakan meja baki besar dan banyak stop kontak, untuk memudahkan penumpang meletakkan dan mengisi ulang daya laptop dan ponsel mereka.

Tetapi, bagi Safran Seats itu belum cukup, tak ayal bila mereka pun tergerak untuk berinovasi hingga berhasil menghadirkan konsep kursi kelas binsis terbaru, Stratus seat.

Beragam posisi yang bisa dinikmati penumpang di kursi kelas bisnis Stratus seat. Foto: TU Delft



Konsep kursi kelas bisnis hasil kolaborasi Safran Seats dengan universitas kenamaan dunia asal Belanda, TU Delft, ini dinilai sebagai solusi bukan hanya karena kursinya bisa dipakai duduk dan tidur saja, melainkan juga bisa untuk meja berdiri, serta lima posisi lainnya.

Desain kursi kelas bisnis yang pernah mendapat penghargaan bergengsi di ajang Crystal Cabin Awards tahun 2019 ini juga dinilai aman dan nyaman, baik saat pesawat taxiing, lepas landas, maupun mendarat; hal yang dinilai belum bisa didapat penumpang kelas bisnis saat ini.

Bagian paling menarik dari desain kursi kelas bisnis Stratus seat by Safran Seats ini adalah sejenis meja dan kursi multifungsi. Keduanya bisa disesuaikan dengan suasana hati penumpang sambil tetap mengerjakan bisnis di pesawat. Seperti dalam keadaan duduk, berbaring, setengah berbaring, maupun berdiri.

Duduk dan berbaring mungkin sudah jadi salah satu posisi nyaman kebanyakan orang saat bekerja. Tetapi, setengah berbaring dan berdiri adalah hal baru.

Posisi setengah berbaring atau sering juga disebut posisi ‘gravitasi nol’ memungkinkan pengguna untuk memiringkan workstation dan kursi secara ergonomis untuk mendapatkan posisi kerja yang senyaman mungkin. Sementara kursi bersandar, ia tetap dalam posisi duduk, memberikan kelegaan penumpang dari kelelahan otot dan meningkatkan aliran darah yang baik.

Baca juga: Lufthansa Luncurkan “Sleeper Row” Penumpang Bisa Tidur Selonjoran di Kelas Ekonomi 

Sedangkan posisi berdiri, selama ini memang sudah masyhur dikenal karena dinilai bisa menjaga fokus saat bekerja. Namun, posisi bekerja sambil berdiri hampir tidak pernah tersedia di kelas bisnis maskapai lain saat ini. Semua ini tercipta berkat masukan ke tim dari TU Delft di Bandara Schiphol Amsterdam.

“Setelah mewawancarai orang-orang yang bepergian untuk bekerja, kami menemukan bahwa meskipun ada banyak waktu dalam penerbangan jarak jauh, konteksnya tidak selalu sesuai untuk bekerja. Kami mencoba memberikan ketenangan pikiran kepada pelancong bisnis karena mengetahui bahwa mereka akan dapat menyelesaikan pekerjaan dan tiba di tempat tujuan dengan persiapan yang baik,” kata Clément Heinen, desainer industri APEX.

Gegara Kursi di Kelas Bisnis Tak Bisa Direbahkan, Singapore Airlines Bayar Ganti Rugi Rp42,6 Juta

Bagi maskapai sekaliber Singapore Airlines, urusan kenyamanan penumpang menjadi prioritas utama, terutama pada penumpang di kelas bisni. Dan ketika kenyamana tersebut tak bisa dihadirkan sebagaimana dijanjikan, maka ada serangkaian kompensasi yang disiapkan. Seperti belum lama ini diwartakan, Singapore Airlines membayar ganti rugi kepada pasangan suami istri asal India, Ravi dan Anjali Gupta sebesar 3.580 dollar Singapura atau sekitar Rp 42,6 juta.

Baca juga: Singapore Airlines Sumbangkan Kursi Kelas Bisnis dan Suite A380 Pertama ke National Museum?

Seperti dikutip The Independent, ganti rugi dari Singapore Airlines tersebut diberikan karena kursi yang ditempati pasangan suami istri itu tidak dapat direbahkan secara otomatis. Pasangan tersebut memesan penerbangan dari Hyderabad, Telangana, India menuju Australia melalui Singapura pada 23 Mei 2023.

Dalam perjalanannya, mereka mengeluh kursi kelas bisnis yang seharusnya dapat direbahkan secara otomatis justru harus dilakukan secara manual. Akibat kerusakan tersebut, Ravi dan Anjali mengaku tak bisa beristirahat selama 4 jam 50 menit perjalanan. Mereka terpaksa menerima perjalanan kurang nyaman dengan tiket seharga 1.090 dollar Singapura atau Rp 17,648 juta.

Mulanya, Singapore Airlines menawarkan reward berupa 10.000 KrisFlyer Miles per orang. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh Ravi dan Anjali. Sebagai informasi, KrisFlyer Miles merupakan program khusus reward dari Singapore Airlines. Ravi dan istrinya melayangkan tuntutan kepada Singapore Airlines atas ketidaknyamanan dan mengeklaim diperlakukan seperti penumpang kelas ekonomi.

Komisi Penyelesaian Sengketa Konsumen Distrik kota Hyderabad, Telangana, India memenangkan gugatan Gupta dan istrinya. Lembaga tersebut juga memerintahkan maskapai Singapore Airlines untuk membayar ganti rugi ditambah dengan bunga 12 persen. Selain membayar ganti rugi, maskapai asal Singapura tersebut juga diharuskan membayar 100.000 rupee India atau Rp 19,397 juta untuk “penderitaan fisik dan mental”. Maskapai tersebut juga wajib membayar ganti rugi sebesar 10.000 rupee India atau Rp 2 juta untuk biaya pengaduan.

Atas keputusan tersebut,Singapore Airlines menyatakan menerima keputusan Komisi Penyelesaian Sengketa Konsumen Distrik kota Hyderabad. Mereka juga meminta maaf kepada Ravi dan Anjali Gupta atas ketidaknyamanan yang disebabkan oleh masalah teknis. Maskapai tersebut mengatakan, meskipun sandaran otomatisnya terganggu, sandaran tersebut sebenarnya masih bisa digunakan secara manual. Juru bicara Singapore Airline mengungkapkan, pihaknya tidak dapat memindahkan pasangan tersebut ke bangku lain karena penerbangan sedang penuh.

Penumpang Kelas Bisnis Japan Airlines Terhina Setelah Disuguhi Sebuah Pisang dan Sumpit