Ini Penjelasan KAI Kembali Kirim 12 Lokomotif dari Pulau Sumatra ke Jawa

Perjalanan kereta api kini semakin ramai dengan berbagai destinasi tujuan yang sudah diberlakuksn. Apalagi menjelang musim libur Lebaran 2026, berbagai perjalanan kereta api tambahan pun telah dipersiapkan. Ya, seperti yang dikabarkan di media sosial bahwa PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tengah siap siaga untuk selalu melakukan pengecekan baik rangkaian kereta maupun lokomotif.

Tak hanya itu persiapan yang justru paling utama adalah pada lokomotif penarik rangkaian kereta khususnya penumpang jelang arus mudik nanti. Sejumlah lokomotif yang berada di jalur Pulau Jawa dipersiapkan untuk mengantisipasi jika terjadi adanya lonjakan penumpang dan mengharuskan untuk menjalankan tambahan. Selain itu lokomotif yang tersedia juga diantisipasi sebagai posko atau posisi standby jika ada masalahnya yang terjadi, salah satunya adalah gangguan pada mesin.

KAI juga tengah mengirim armada lokomotif penarik dengan seri CC 206 dari jalur Sumatra. Tentunya dalam rangka memperkuat kesiapan operasional Angkutan Lebaran 2026. Sebanyak 12 unit lokomotif dikirim dari Pulau Sumatra ke Pulau Jawa. Pengiriman ini menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap kelancaran mobilitas masyarakat.

Pengiriman dilakukan melalui layanan KALOG Pro pada segmen Project Logistics yang secara khusus memiliki kapabilitas dalam penanganan pengiriman kebutuhan logistik heavy cargo. Sebanyak 12 unit lokomotif tipe CC 206 dengan total bobot mencapai 1.056 ton. Setiap unit memiliki berat sekitar 88 ton dikirim secara bertahap dengan perencanaan teknis yang komprehensif serta koordinasi lintas fungsi yang terintegrasi.

Dirangkum dari laman Detik, Direktur Komersial KAI Logistik, Fahdel Akbar, menyampaikan bahwa pengiriman ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendukung dan menjadi ekosistem dalam penyelenggaraan angkutan lebaran yang andal. Dengan bobot dan nilai aset yang signifikan, setiap tahapan dirancang secara presisi untuk menjamin keamanan dan ketepatan waktu.

Diketahui bahwa distribusi lokomotif dimulai sejak 18 Februari 2026, dengan rute pengiriman dari Depo Gerbong Rejosari Divisi Regional (Divre) 4 Tanjungkarang menuju Stasiun JICT wilayah Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta. Proses pengiriman ditargetkan selesai sesuai rencana operasional, dengan peluang percepatan melalui pola kerja yang optimal dan efisien.

Fleksibilitas ini memungkinkan pemilihan moda transportasi yang paling efektif, mulai dari pengangkutan menggunakan kereta api hingga trucking, termasuk penggunaan trailer untuk gerbong datar serta truk multi axle untuk pengiriman lokomotif. Skema tersebut memastikan kelancaran distribusi sekaligus menjaga standar keselamatan selama proses berlangsung.

Sebelumnya KAI telah berkontribusi dalam pengiriman sarana perkeretaapian sejumlah 7 lokomotif pada periode Angkutan Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Diketahui, seluruh proses pengiriman tentunya dilindungi asuransi sebagai langkah mitigasi risiko atas barang bernilai tinggi, serta diawasi melalui mekanisme joint inspection saat keberangkatan dan penerimaan guna memastikan kondisi lokomotif tetap sesuai standar.

INKA CC300, Mampu Lintasi Banjir, Inilah Lokomotif Diesel Karya Anak Bangsa

Tiga Negara Asia Tenggara Masuk Daftar Hotspot Penipuan Taksi Terburuk Dunia

Bagi banyak wisatawan, menggunakan taksi di negara asing sering kali menjadi pilihan transportasi yang paling praktis. Namun, sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh platform asuransi perjalanan Inggris, Quotezone.co.uk, memberikan peringatan serius bagi para pelancong yang berencana mengunjungi Asia Tenggara. Berdasarkan ulasan dari ribuan wisatawan, tiga negara di kawasan ini masuk dalam daftar sepuluh besar tujuan wisata dunia dengan insiden penipuan taksi (taxi scam) tertinggi di dunia.

Thailand menempati posisi teratas sebagai negara dengan jumlah keluhan penipuan taksi terbanyak di Asia Tenggara, dan menduduki peringkat kedua secara global tepat di bawah Turki. Isu utama yang sering dikeluhkan oleh turis di Negeri Gajah Putih ini adalah praktik pengemudi taksi yang menolak menggunakan argometer atau sengaja mengambil rute yang lebih jauh demi menaikkan tarif. Selain Thailand, dua negara tetangganya yakni Vietnam dan Filipina juga masuk dalam daftar hitam ini, masing-masing menempati posisi ke-6 dan ke-10 di tingkat dunia.

Di Vietnam, para wisatawan sering kali melaporkan modus penipuan yang melibatkan manipulasi tarif pada layar meteran atau pengalihan rute secara sepihak ke hotel atau toko tertentu di mana pengemudi mendapatkan komisi. Sementara itu, di Filipina, masalah klasik berupa pengenaan harga tetap (fixed price) yang jauh di atas tarif normal masih menjadi momok bagi para turis, terutama di titik-titik transportasi utama seperti bandara dan terminal bus.

Laporan ini disusun dengan menganalisis frekuensi kata kunci “penipuan taksi” atau “tarif mahal” dalam ulasan wisatawan di lima destinasi wisata populer di setiap negara. Meskipun data ini mencerminkan tingginya keluhan, para ahli perjalanan menekankan bahwa angka tersebut juga dipicu oleh tingginya volume kunjungan turis ke negara-negara tersebut. Semakin populer sebuah destinasi, semakin besar pula peluang munculnya oknum pengemudi yang mencoba mengambil keuntungan tidak sah dari ketidaktahuan pendatang.

Untuk meminimalisir risiko menjadi korban, para pelancong disarankan untuk lebih cerdas dalam memilih moda transportasi. Penggunaan aplikasi ride-hailing atau transportasi daring sering kali menjadi solusi paling aman karena tarif sudah ditentukan sejak awal dan rute perjalanan terpantau secara digital. Jika harus menggunakan taksi konvensional, pastikan untuk selalu meminta pengemudi menyalakan argometer sebelum kendaraan bergerak atau melakukan riset singkat mengenai estimasi tarif normal dari titik keberangkatan ke tujuan.

Kesadaran akan risiko ini bukan berarti harus menyurutkan niat untuk menjelajahi keindahan Asia Tenggara. Dengan tetap waspada dan memanfaatkan teknologi transportasi yang ada, wisatawan tetap dapat menikmati pesona eksotis Thailand, Vietnam, dan Filipina tanpa harus terjebak dalam perangkap biaya yang membengkak akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab.

Pertama Kali Mau Naik Taksi di Luar Negeri? Sebelumnya Baca Tips Ini

Kereta Api Supas Probolinggo Resmi Beroperasi 1 Maret 2026, Cek Cara Beli Tiket Online

Perjalanan kereta api lokal di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya akhirnya membuahkan hasil. Digadang-gadang kereta lokal tersebut permintaan dari masyarakat khususnya Surabaya maupun Probolinggo nantinya sudah bisa menggunakan layanan tersebut. Ya, kabar baik ini akan dijalankan sesuai dengan persetujuan khususnya dari pemerintah Kota Probolinggo akan menjalankan rangkaian kereta api lokal dengan rute Surabaya – Probolinggo pulang pergi.

Diketahui kereta api lokal yang dikelola oleh PT KAI Commuter ini memiliki rute Surabaya Kota – Pasuruan pulang pergi yang berhenti tiap-tiap stasiun, seperti: Surabaya Gubeng, Wonikromo, Waru, Gedangan, Sidoarjo, Tanggulangin, Porong, Bangil dan Pasuruan. Harga tiket yang diberikan pun relatif murah yakni Rp6.000 sekali jalan. Peminat Supas pun cukup variatif. Jika saat hari biasa pagi dan sore cukup ramai oleh penumpang, namun saat hari libur kereta ini digunakan olej masyarakat yang ingin menghabiskan waktu di Kota Surabaya.

Informasi mengenai jadwal Commuter Line Supas diperpanjang hingga Stasiun Probolinggo pun beredar di media sosial Instagram maupun Tiktok PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Ya, baru-baru ini jadwal perpanjangan rute tersebut sudah ketok palu dan resmi dijalankan sebagai rangkaian Commuter Line Supas. Adapun jadwal perjalanan Commuter Line Supas adalah sebagai berikut:
• KA 453B berangkat Surabaya Kota: 01.50 WIB – tiba Probolinggo: 03.45 WIB
• KA 454B berangkat Probolinggo: 04.10 – tiba Surabaya Kota: 06.42 WIB
• KA 459B berangkat Surabaya Kota: 18.10 WIB – tiba Probolinggo: 20.57 WIB
• KA 460B berangkat Probolinggo: 21.22 – tiba Surabaya Kota: 23.36 WIB

Sebagai catatan bahwa perjalanan perdana akan dijalankan sebagai rangkaian uji coba mulai tanggal 1 Maret 2026. Tentunya perjalanan awal ini bisa masyarakat gunakan dengan cara memesan tiket melalui aplikasi online Access by KAI atau melalui laman resmi kai.id. jadwal ini memungkinkan bisa menjadi alternatif masyarakat yang melakukan aktivitas baik di Kota Surabaya maupun Kota Probolinggo. Karena jarak yang ditempuh kereta ini sangat praktis dan tak memakan banyak waktu.

Sebelumnya Wali Kota Probolinggo Aminuddin menyebut, kehadiran Commuter Line Supaspro menjadi jawaban atas kebutuhan transportasi massal yang terjangkau dan terintegrasi. Selain itu, adanya moda ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah.

Ia berharap, masyarakat dapat memanfaatkan layanan tersebut. Menurutnya, tarif yang murah dan waktu tempuh yang pasti akan menjadikan Commuter Line Supaspro, sebagai alternatif transportasi utama. Sementara itu Direktur Utama KAI Commuter, Mochamad Purnomosidi, menjelaskan, akan berkomitmen mendukung layanan transportasi publik berbasis kebutuhan masyarakat.

Tarif perjalanan direncanakan maksimal Rp8.000 sekali jalan, menyesuaikan ketentuan tarif kereta dengan jarak tempuh di atas 85 kilometer. ‎Meski demikian, tarif tersebut masih menunggu persetujuan resmi dari Kementerian Perhubungan. Tentunya pembelian tiket nantinya tetap dilakukan secara online.

Mengenal Kereta Api Lokal yang Super Murah dan Wajib Kalian Tahu

Hari Ini 61 Tahun Lalu, Douglas DC-9 Terbang Perdana, Jadi Cikal Bakal Lahirnya Boeing 717

Pada hari ini, 57 tahun lalu, bertepatan dengan 25 Februari 1965, pesawat Douglas DC-9 sukses terbang perdana. Pesawat ini dengan cepat menjadi primadona bagi maskapai dan penumpang, menjadikannya sebagai salah satu pesawat tersukses di kelas yang segenerasi dengannya.

Baca juga: Inikah Lokasi Pesawat Bersejarah DC-9 “Woyla” PK-GNJ Garuda Indonesia Berada Saat Ini?

Dilansir dari berbagai sumber, pengembangan pesawat Douglas DC-9 telah direncanakan perusahaan sejak dekade 50-an. Ketika itu, Douglas ingin membuat pesawat dengan kapasitas dan jangkauan yang lebih dari pendahulunya DC-8.

Berbagai opsi pun muncul, termasuk membuat pesawat dengan empat mesin. Namun, saat rencana ini disampaikan ke maskapai, responnya kurang memuaskan dan otomatis opsi tersebut gugur. Perusahaan pun sempat buntu terkait pengembangan pesawat baru.

Pada tahun 1962, studi pengembangan pesawat baru kembali dilanjutkan. Setelah beberapa waktu, desain pesawat dengan kapasitas 63 penumpang pun lahir. Desain ini kemudian diubah menjadi desain pesawat DC-9 versi awal. Douglas juga memberikan persetujuan memproduksi DC-9 pada tanggal 8 April 1963.

Desain DC-9 versi awal ini seluruhnya serba mutakhir dan sangat berbeda dengan DC-8. DC-9 didesain menggunakan dua mesin turbofan Pratt & Whitney JT8D yang dipasang di belakang, sayap yang relatif kecil, efisien, dan T-tail. Pesawat ini mampu menampung 80 – 135 penumpang tergantung versi dan konfigurasi tempat duduk.

DC-9 dirancang beroperasi di rute-rute pendek dan menengah dengan runway yang lebih pendek dan infrastruktur yang lebih sedikit daripada bandara utama di sebuah negara. Karenanya, tak heran bila pesawat dilengkapi dengan airstairs untuk memudahkan penumpang turun di bandara yang tak memiliki garbarata.

Desain engine yang dipasang di ekor diklaim memiliki banyak kelebihan, di antaranya membuat flap pesawat lebih panjang, engine blast di trailing edge, dan tidak terhalang oleh pod di leading edge. Desain yang lebih simple juga meningkatkan aliran udara pada kecepatan rendah, memungkinkan kecepatan lepas landas dan approach yang lebih rendah, sehingga memberikan berbagai keuntungan.

Kentungan lain dengan desain mesin di bagian belakang pesawat adalah berkurangnya kemungkinan foreign object damage atau kerusakan akibat benda asing yang terhisap dari runway dan apron. Namun demikian, posisi mesin di bagian belakang badan pesawat memungkinkannya menghisap es yang terbentuk di sayap.

 

DC-9 pertama akhirnya sukses terbang perdana pada 25 Februari 1965. DC-9 kedua terbang beberapa minggu kemudian. Total, ada lima DC-9 yang sukses terbang perdana sampai bulan Juli, sebagai bagian dari uji coba. Kelima pesawat tersebut dilaporkan terbang cukup mulus dan tidak ada perbaikan berarti, yang membuatnya bisa dengan segera melalui uji sertifikasi.

Terbukti, pada 23 November 1965 atau beberapa bulan setelah uji coba pesawat kelima DC-9 dilakukan, sertifikasi berhasil didapat dan beberapa pekan kemudian atau tepatnya pada 8 Desember, DC-9 resmi memasuki tahun layanan untuk pertama kalinya bersama Delta Airlines.

Sejak saat itu, DC-9 menjadi primadona baik di kalangan maskapai maupun penumpang. Sampai tahun 1982 ketika produksi berakhir, setidaknya ada 976 yang berhasil dibangun Douglas atau McDonnell Douglas (setelah merger).

Baca juga: Hari Ini, 23 Tahun Lalu, Pesawat turunan dari Douglas DC-9, MD-95 Muncul Sebagai Boeing 717

Bila cakupannya diperluas, ada sekitar 2441 unit keluarga DC-9 yang berhasil dibangun; terdiri dari 976 DC-9, 1191 MD-80, 116 MD-90, dan 155 Boeing 717 setelah McDonnell Douglas resmi merger dengan Boeing pada 2 Juli 1997.

Setelah puluhan tahun, pesawat DC-9 masih terus diandalkan beberapa maskapai di dunia, salah satunya Aeronaves TSM. Maskapai kargo asal Meksiko itu diketahui memiliki delapan pesawat DC-9 aktif produksi tahun 1967.

Mengulik Fakta! Inilah Sejarah Istilah Kata ‘Semoet’ di Stasiun Surabaya Kota

Bagi masyarakat Kota Surabaya tentu sangat identik dengan kereta api untuk melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Jawa Timur. Tak hanya kereta api lokal, berbagai kereta api rute jarak jauh pun banyak di gandrungi masyarakat tersebut dengan keberangkatan dari beberapa stasiun besar di Surabaya, salah satunya adalah Stasiun Surabaya Kota.

Keadaan Surabaya yang makin sibuk merupakan salah satu pusat perekonomian dan pemerintahan yang mendorong adanya pembangunan infrastur kereta api di kota tersebut. Nah, Stasiun Surabaya Kota merupakan stasiun pertama di Surabaya. Pembangunannya pun dimulai pada tahun 1870 dan resmi dibuka pada 16 Mei 1878.

Bangunan Stasiun Surabaya Kota kemudian diperluas dengan dua bangunan sudut dari tahun 1880 dan selesai dibangun pada tahun 1889. Awalnya, stasiun ini dirancang untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari Malang ke pelabuhan Tanjung Perak.

Seiring meningkatnya penggunaan kereta api pada akhir abad ke-19, bangunan lama stasiun tidak lagi memadai. Pada 1899, stasiun lama dirobohkan dan digantikan dengan bangunan baru berarsitektur Neo-Klasik. Lokasinya bergeser sekitar 200 meter ke arah barat dari tempat sebelumnya. Perubahan ini bertujuan untuk memperluas fasilitas demi mengakomodasi peningkatan jumlah penumpang dan barang.

Nama stasiun yang sebelumnya dikenal sebagai Soerabaia kemudian resmi berubah menjadi Surabaya Kota pada pertengahan 1900. Namun, suatu keunikan bahwa Stasiun Surabaya Kota juga dinamaksn sebagai Stasiun ‘Semut’. Sebagai titik sentral transportasi, Stasiun Semut menjadi saksi perjalanan panjang perkeretaapian di Pulau Jawa dan evolusinya dari zaman kolonial hingga modern.

Ternyata penyebutan nama Stasiun Semut, jika ditelusuri sejarahnya terpapar dalam dua buku literasi kuno. Yaitu Spoorwegstations op Jawa karya Michiel Van B De Jong dan Gedenboek Van Staatspoer en Tramwegen van Nederlands Indie 1875-1925 tulisan S.A Reitsma. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa pada zaman kolonial pernah ada perkemahan militer Belanda yang bermukim di dekat stasiun dengan nama ‘Semoet.’

Sehingga, kemudian nama stasiun di tepi Kalimas ini dikenal dengan nama Stasiun Semut. Namun demikian, pemerintah Gemeente Soerabaja (Pemkot Surabaya) secara resmi mengakui stasiun ini dengan nama Stasiun Soerabaja Kota. Tak hanya di era kolonial, keberadaan Stasiun Semut selama periode kemerdekaan Indonesia memegang peran vital dalam menyatukan kota Surabaya dengan daerah-daerah di sekitarnya.

Namun pada 13 Juli 2012, Stasiun Semut mulai dipugar untuk dikembalikan ke bentuk aslinya setelah kesepakatan yang didapatkan dari beberapa pihak terkait, seperti Pemerintah Kota Surabaya, Balai Pelestarian Purbakala (BP3) Jatim dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat ini, Stasiun Semut telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM 23/PW007/MkP/2007 tentang Penetapan Stasiun Kereta Api Semut Surabaya sebagai Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Tidak hanya sebagai pusat transportasi, Stasiun Semut juga mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar. Kemudian, perkembangannya pun bukan hanya tempat naik dan turun penumpang, Tetapi juga menjadi saksi bisu perubahan sosial, ekonomi dan politik di Surabaya.

Gubeng, Angkut Hasil Bumi Hingga Serdadu Belanda, Inilah Stasiun Kebanggaan Arek Suroboyo!

Kenapa Kereta Api Pakai Nama ‘Argo’? Ternyata Ini Sejarah dan Artinya

Sebagai pengguna setia kereta api, tentu sudah tahu tentang nama-nama kereta api mulai dari kelas ekonomi hingga eksekutif. Tak hanya penamaan pada kereta api, tetapi pelayanan di setiap kelas pun berbeda-beda. Bahkan untuk kereta api kelas eksekutif sekalipun. Pada penamaan kelas eksekutif, pasti sudah mendengar dengan nama kelas ‘argo’.

Ya, kata ‘argo’ ini merupakan nama-nama kereta yang diberikan oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Beberapa kereta api yang menggunakan kata ‘argo’ ini biasanya diberi nomor unggulan, sebagai contoh Kereta Api Argo Bromo Anggrek, Argo Lawu, Argo Muria, Argo Merbabu, dan sebagainya. Rata-rata pelayanan kereta kelas eksekutif argo ini memiliki pelayanan yang sangat memuaskan.

Tapi, tahukah kalian bahwa kata Argo tersebut ternyata berasal dari bahasa Jawa Kuno? Nah, dalam bahasa Jawa Kuno, kata Argo memiliki arti gunung. Sehingga tak heran sebagian besar nama KA dengan kata Argo akan diikuti oleh nama gunung yang ada di Indonesia.

Seperti yang disebutkan tadi, misalnya Argo Bromo Anggrek, Argo Semeru, Argo Wilis, Argo Muria, Argo Lawu dan Argo Merbabu. Namun jika diperhatikan lebih seksama, memang tidak semua nama kereta yang diawali kata Argo akan diikuti dengan nama gunung.

Selain itu, kereta-kereta yang memiliki awalan kata Argo umumnya memiliki waktu tempuh yang lebih cepat, atau stasiun pemberhentiannya lebih sedikit ketimbang KA lainnya di rute atau relasi yang sama. Selain itu, kereta-kereta Argo dulunya disematkan pada kereta dengan layanan eksekutif yang juga menjadi kelas layanan tertinggi KAI.

Kereta-kereta unggulan yang menggunakan kata argo ini juga memiliki tarif kelas atas dibanding dengan kereta api kelas lain dibawahnya. Begitu pula layanan pada ruang restorasi yang dibuat elegan layaknya restoran mewah yang memiliki suasana sangat nyaman. Hingga kini kereta api dengan layanan kelas argo ini cukup diminati masyarakat. Selain pelayanan yang nyaman, ketepatan waktu juga harus dimiliki layanan kelas ini.

Kini kereta kelas eksekutif argo ini telah melintas sejak lama setelah peluncuran perdana Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan Argo Gede pada tahun 90-an dilakukan. Bahkan masyarakat tak segan menjadi kereta ini menjadi favorit perjalanan ke berbagai macam destinasi di jalur kereta api khususnya Pulau Jawa.

KA Serayu: Acuan Para Pelancong via Selatan dari Warga di Ibu Kota

Liburan Anti-Ribet di Jepang: Rahasia Gerbong Kereta Lega Lewat Layanan Wisata Tanpa Beban

Jepang tengah menghadapi tantangan besar seiring dengan lonjakan drastis jumlah wisatawan mancanegara yang membanjiri kota-kota besarnya. Salah satu titik paling krusial dari kepadatan ini terlihat di dalam gerbong kereta api, di mana koper-koper raksasa milik turis sering kali memenuhi ruang kaki dan lorong, mengganggu kenyamanan penumpang lokal. Menanggapi fenomena ini, perusahaan-perusahaan kereta api raksasa Jepang mulai beralih ke strategi baru yang radikal untuk mengosongkan gerbong mereka: mempromosikan pariwisata tanpa bagasi (luggage-free tourism).

Inti dari gerakan ini adalah mendorong wisatawan untuk tidak membawa koper besar mereka ke dalam kereta. Sebagai gantinya, operator kereta api bekerja sama dengan penyedia jasa logistik untuk menawarkan layanan pengiriman bagasi dari bandara langsung ke hotel, atau antar-hotel di kota yang berbeda.

Dengan cara ini, wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan tangan kosong, sementara koper mereka secara ajaib sudah menunggu di lobi tujuan. Langkah ini dipandang sebagai solusi win-win; gerbong kereta menjadi lebih lega bagi komuter lokal, sementara turis dapat berjalan-jalan lebih santai segera setelah mendarat di Jepang.

Penerapan layanan ini tidak hanya sekadar soal kenyamanan, tetapi juga bagian dari optimalisasi infrastruktur. Beberapa operator bahkan mulai mengintegrasikan sistem pemesanan pengiriman bagasi langsung ke dalam aplikasi tiket kereta mereka. Hal ini dilakukan untuk mengubah kebiasaan para pelancong yang selama ini mengandalkan rak bagasi terbatas di dalam kereta Shinkansen atau kereta bandara yang sering kali sudah penuh sesak. Dengan memindahkan beban koper dari rel ke jalur logistik darat, perusahaan kereta api dapat menjaga ketepatan waktu dan efisiensi operasional gerbong mereka tetap pada level maksimal.

Tren pariwisata tanpa beban ini juga mencerminkan adaptasi industri pariwisata Jepang terhadap isu overtourism yang kian sensitif di kalangan masyarakat lokal. Dengan mengurangi hambatan fisik berupa tumpukan bagasi di ruang publik, gesekan antara warga setempat dan wisatawan mancanegara diharapkan dapat berkurang secara signifikan. Inovasi ini sekaligus menegaskan posisi Jepang sebagai pemimpin dalam layanan hospitalitas yang detail, di mana kenyamanan perjalanan dimulai bukan dari kursi kereta, melainkan sejak beban berat di tangan wisatawan diringankan.

Ke depannya, model pariwisata tanpa bagasi ini diprediksi akan menjadi standar baru di seluruh prefektur Jepang. Seiring dengan peningkatan fasilitas digital dan jangkauan logistik yang semakin luas, membawa koper besar ke dalam kereta api mungkin akan segera dianggap sebagai cara bepergian yang kuno. Melalui kolaborasi antara teknologi transportasi dan layanan kurir yang efisien, Jepang sedang merancang masa depan pariwisata yang lebih ringan, lebih cepat, dan jauh lebih ramah bagi semua orang.

Kehilangan Barang Saat di Jepang? Jangan Panik, Cari ‘Koban’ Terdekat dan Bertanyalah Pada Polisi

Ini Harapan Penumpang saat Berada di Stasiun Depok yang Selalu Menjadi Keluhan

Akses yang strategis dan mudah dijangkau adalah harapan masyarakat yang ingin menggunakan transportasi umum di wilayah Jabodetabek khususnya kereta api. Ya, alasan masyarakat karena terjangkau dengan menggunakan kereta api bisa mengunjungi ke berbagai lokasi yang strategis. Seperti halnya pada jalur kereta api komuter di Jalur Bogor atau biasa disebut ‘red line’ ini. Ada sebuah stasiun yang bisa diakses dengan transportasi darat lainnya, apalagi berada di kawasan terminal yaitu Stasiun Depok Baru.

Stasiun ini berada di kawasan Jalan Margonda Raya dan terletak di ketinggian +93m yang masuk pada Daerah Operasi I Jakarta. Stasiun yang sudah diresmikan pada era 1980-an ini merupakan salah satu titik transit penting untuk warga Depok. Apalagi, fasilitas yang tersedia termasuk lengkap, seperti adanya peron yang luas, mushola, toilet, ruang menyusui, ATM, charging station, serta underpass penghubung antar-peron.

Namun dari beberapa fasilitas yang tersedia, masyarakat menyoroti tentang kurang pedulinya fasilitas terhadap kaum disabilitas maupun penumpang lainnya. Keluhan penumpang tersebut yakni ada pada underpass stasiun yang hanya bisa diakses lewat tangga. Tangga yang disediakan memang cukup membantu untuk menyeberangi antar peron melalui jalan bawah, namun bagi penumpang itu masih menyulitkan mereka apalagi bagi penyandang disabilitas dan lansia.

Bahkan masyarakat yang biasa menggunakan kereta Commuter dari Stasiun Depok Baru, terpaksa harus pindah ke Stasiun Pondok Cina agar bisa merasa nyaman menggunakan fasilitas yang disediakan dengan mudah. Meski jaraknya cukup memakan waktu dari Stasiun Depok Baru menuju stasiun sebelahnya, tapi bagi masyarakat sudah tidak afa pilihan lain daripada harus naik dan turun tangga yang cukup curam untuk menyeberangi peron.

Gambaran suasana Stasiun Depok Baru dari arah pintu masuk terdapat tangga untuk umum dan jalan lain untuk disabilitas. Di area stasiun terdapat guiding block untuk tunanetra. Namun untuk menuju seberang peron, hanya ada akses underpass melalui tangga tanpa guiding block.

Meski di setiap peron diberi fasilitas kursi roda, penyandang disabilitas tidak bisa langsung menyeberangi peron. Sebab, underpass bertangga tersebut hanya akses satu-satunya untuk berpindah peron.

Harapan dari masyarakat yang biasa menggunakan Stasiun Depok Baru ini pun tentu ada. Masyarakat berharap adanya fasilitas lift untuk mempermudah akses, terutama bagi kelompok rentan. Menurut dia, keberadaan lift dapat membantu penumpang yang memiliki keterbatasan fisik saat berpindah peron. Meskipun fasilitas kursi roda sudah tersedia di peron, namun masih belum dapat dimanfaatkan maksimal karena tidak didukung akses yang memadai untuk berpindah peron.

Selain lift, warga juga mengusulkan adanya jalur penyeberangan di atas rel sebagai alternatif. Usulan ini dinilai dapat menjadi solusi untuk mempermudah mobilitas penumpang. Fasilitas tambahan diperlukan agar akses penumpang lebih merata dan dapat digunakan oleh semua kalangan.

Meski Ramai dan Strategis, Ternyata Stasiun Depok Baru Belum Ramah Disabilitas

KAI Segera Hadirkan ‘Kereta Ekonomi Kerakyatan’, Siap Beroperasi saat Lebaran 2026

Balai Yasa Manggarai kini membuat gebrakan terbaru soal rangkaian kereta untuk angkutan penumpang. Ya, tersebar informasi di media sosial PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI), mengenai terobosan baru untuk kereta kelas ekonomi dengan interior wajah baru bagi masyarakat yang setia pengguna kelas ekonomi. Rangkaian tersebut digadang-gadang akan dioperasikan pada Lebaran 2026 nanti.

Di berbagai laman sosial media KAI memperlihatkan bahwa kereta ini merupakan kelas ekonomi yang diberi nama Kereta Ekonomi Kerakyatan. Rangkaian yang disebutkan pada laman tersebut mengungkapkan bahwa untuk mendukung kelancaran Angkutan Lebaran 2026 nanti. Menggunakan kereta dari hasil modifikasi rangkaian kereta sebelumnya, Balai Yasa Manggarai telah berinovasi untuk melakukan pengerjaan terobosan baru yang lebih baik.

Ya, rangkaian Kereta Ekonomi Kerakyatan ini terlihat dari bagian luar merupakan kelas ekonomi biasa pada umumnya. Namun jika dilihat bagian dalam ada perubahan yang bisa dibilang cukup istimewa. Meskipun denah kursi tetap seperti kelas ekonomi tarif subsidi yaitu konfigurasi kursi 2+3, tapi jumlah atau kapasitas penumpang berkurang.

Denah kursi Kereta Ekonomi Kerakyatan. (Foto: Dok. KAI)

Diketahui kapasitas penumpang pada kelas ekonomi dengan kursi 2+3 sebelumnya berjumlah 106 penumpang, kini berkurang menjadi 93 penumpang. Ini karena jarak antar kursi dan penumpang saat duduk terlihat lebih luas. Kursi yang dibuat lebih ergonomis serta fitur reversible, membuat kereta ini dirancang lebih nyaman untuk perjalanan kereta api.

Meskipun kelas ekonomi, namun penumpang nantinya bisa merasakan pengalaman perjalanan dengan Kereta Ekonomi Kerakyatan jauh lebih nyaman dan lebih baik. Diketahui pula kereta ini merupakan hasil modifikasi dari kereta ekonomi AC package generasi sebelumnya yang dikerjakan oleh Balai Yasa Manggarai.

Selain itu kenyamanan juga ditambah dengan kursi yang bisa disesuaikan dengan arah perjalanan kereta api alias tak ada perjalanan kereta dengan duduk posisi mundur. Untuk harga memang dari informasi belum ada keterangan resmi KAI mengenai berapa tarif yang akan diberikan.

Namun disebutkan bahwa tarif yang akan diberlakukan adalah diatas tarif Public Service Obligation (PSO) atau subsidi dan di bawah tarif reguler. Tentunya tarif akan diberlakukan terjangkau agar masyarakat semua kalangan bisa merasakan inovasi baru ini.

Dengan nantinya diluncirkan Kerets Ekonomi Kerakyatan ini, tentu KAI turut mendukung kelancaran Angkutan Lebaran 2026 dengan menambah opsi layanan bagi pemudik. KAI menyebut program ini sekaligus mengoptimalkan aset yang telah ada dan memperkuat komitmen dalam menghadirkan layanan yang inklusif, aman dan nyaman. Dan tentunya langkah ini juga tidak lepas dari harapan masyarakat agar kereta api tetap menjadi pilihan utama saat mudik.

Alasan Pembangunan Jaringan Kereta Masa Lalu: Ekonomi, Militer dan Pemerintahan

Mulai Hari Ini Akses Pintu Keluar Masuk Stasiun Pondok Cina Ditutup

Bagi masyarakat yang sering naik Kereta Rel Listrik (KRL) di jalur Bogor atau ‘red line’, pasti sudah tak asing dengan namanya Stasiun Pondok Cina. Ya, stasiun yang biasa digunakan naik dan turun KRL para mahasiswa Universitas Indonesia ini tiap harinya selalu ramai. Bahkan di bagian luar stasiun terdapat kuliner atau jajanan dengan harga terjangkau.

Stasiun Pondok Cina sangat populer di semua kalangan masyarakat. Bahkan stasiun kecil ini memiliki akses ke berbagai area termasuk menuju ke Jalan Raya Margonda, Depok. Stasiun Pondok Cina memiliki 3 akses pintu keluar, yaitu menuju pusat pelanjaan, menuju kampus Universitas Gunadarma dan Universitas Indonesia. Stasiun ini juga berdekatan dengan pintu perlintasan yang hanya digunakan oleh kendaraan roda dua saja.

Namun dari berbagai area pintu keluar dan masuk di Stasiun Pondok Cina, menurut informasi dari berbagai sumber mengatakan bahwa pintu keluar dan masuk di Stasiun Pondok Cina akan ditutup. Ya, PT KAI Commuter akan merubah alur masuk pengguna KRL Commuter Line lintas Bogor – Jakarta Kota di Stasiun Pondok Cina mulai Sabtu , 21 Februari 2026.

Bagi calon penumpang KRL Commuter Line yang akan masuk ke dalam Stasiun Pondok Cina dari pintu timur, akan dialihkan melalui bangunan baru lantai 2 Stasiun Pondok Cina, tepatnya di akses apartemen Semesta Mahata Depok. Sedangkan untuk alur masuk pintu barat Stasiun Pondok Cina tidak berubah dan masih bisa diakses oleh calon penumpang.

Sebelumnya, KAI Commuter telah melakukan uji coba dan membuka alur keluar masuk penumpang KRL Commuter Line melalui tower hunian yang dibangun Perumnas, yakni Semesta Mahata. Uji coba alur keluar masuk penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Pondok Cina ini dimulai 3 April 2023 lalu.

Meski alur keluar masuk penumpang KRL dari tower Semesta Mahata sudah dibuka sejak 2023 lalu, tetapi pintu timur masih dibuka. Dan mulai hari ini, pintu timur Stasiun Pondok Cina akan ditutup. Penumpang yang akan naik dan turun di Stasiun Pondok Cina tetap mematuhi arahan dari petugas yang berjaga.

Sebelumnya, pada Agustus 2019 lalu sempat dilakukan juga akses pintu masuk dari stasiun Pondok Cina menuju kampus Universitas Indonesia ditutup sementara. Pasalnya akses tersebut sedang ada perbaikan jalan, masyrakat diimbau agar menghindari semebtara akses tersebut.

Meski Ramai dan Strategis, Ternyata Stasiun Depok Baru Belum Ramah Disabilitas