Serba-serbi “Follow Me” Car di Bandara, Bukan Sekedar Pemandu Pesawat

Di antara kendaraan yang kerap wara-wiri di area apron dan tarmac, terdapat apa yang sering disebut sebagai “follow me”. Namun, tahukah Anda peran sejati dari kendaraan ini? Mobil “follow me” biasanya digunakan untuk mengarahkan pesawat menuju atau keluar dari landasan pacu dan area apron bandara.

Baca juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu 

Kendaraan ini membantu pilot dengan navigasi di area yang padat dan kompleks, terutama pada bandara yang besar atau sibuk. Selain itu, kendaraan “follow me” membantu mencegah tabrakan antara pesawat, kendaraan ground handling and support, dan peralatan bandara lainnya. Mereka memastikan pesawat mengikuti jalur yang benar dan aman menuju landasan pacu atau gerbang penumpang.

Di bandara-bandara tertentu yang punya peran strategis, kendaraan “follow me” juga berperan dalam pengawasan keamanan di bandara, memastikan bahwa pesawat-pesawat ini tidak masuk ke area yang tidak diizinkan dan mematuhi protokol keamanan.

Di beberapa bandara besar, kendaraan “follow me” juga dapat digunakan untuk membantu pesawat tiba dan meninggalkan area penumpang, terutama ketika pesawat tidak tersambung langsung ke gedung terminal. Mereka dapat membantu penumpang dengan mobilitas terbatas untuk naik dan turun dari pesawat.

Nah, salah satu yang kerap diperlihatkan, kendaraan “follow me” dapat digunakan dalam situasi darurat untuk membantu dengan evakuasi pesawat jika diperlukan. Mereka dapat membantu memandu pesawat ke tempat yang aman dalam situasi darurat.

Kendaraan “follow me” biasanya memiliki spesifikasi khusus, seperti harus memiliki visibilitas yang baik agar petugas di dalamnya dapat melihat pesawat dan kendaraan lain di sekitarnya dengan jelas. Ini mungkin melibatkan jendela besar, kamera pengintai, atau sistem pengamatan lainnya.

Kendaraan ini sering dilengkapi dengan sistem komunikasi yang memungkinkan petugas “follow me” berkomunikasi dengan pilot pesawat. Ini bisa mencakup radio dua arah atau sistem komunikasi lain yang efektif.

Kendaraan “follow me” biasanya memiliki lampu isyarat dan tanda-tanda tangan yang digunakan oleh petugas untuk mengarahkan pesawat. Ini bisa berupa lampu sinyal, lampu merah-putih, atau sistem lain yang jelas bagi pilot.

Yang tak bisa dilupakan, kendaraan “follow me” biasanya dilengkapi dengan mesin yang cukup kuat untuk mengikuti pesawat dengan lancar, termasuk saat bergerak di landasan pacu. Mereka sering memiliki daya gerak yang cukup untuk mencapai kecepatan tertentu yang diperlukan.

Baca juga: Kenapa Pesawat Tiba-tiba Batal Lepas Landas Saat Ngebut di Runway?

Beberapa kendaraan “follow me” memiliki desain khusus yang memungkinkan mereka berfungsi dengan baik di sekitar pesawat dan di area bandara yang padat. Ini bisa mencakup tinggi kendaraan yang sesuai untuk memungkinkan petugas melihat pesawat dengan baik.

Terkadang, kendaraan “follow me” dilengkapi dengan pencahayaan tambahan yang memungkinkan mereka bekerja di malam hari atau dalam kondisi pencahayaan yang buruk.

Transjakarta Operasikan Rute Baru Mikrotrans JAK95, Hubungkan Terminal Lebak Bulus – Terminal Pasar Minggu

Transjakarta mengoperasikan layanan Mikrotrans terbaru JAK95 dengan rute Terminal Lebak Bulus – Terminal Pasar Minggu. Layanan tersebut efektif melayani masyarakat mulai hari ini, Senin (23/10).

Dioperasikannya Mikrotrans JAK 95 rute Terminal Lebak Bulus – Terminal Pasar Minggu  ini merupakan bentuk konsistensi Transjakarta dalam upaya peningkatan layanan.

Baca juga: Transjakarta Operasikan Tiga Rute Baru Mikrotrans, Jangkau Tanjung Priok-Depok

Penambahan rute diharapkan dapat memperluaskan keterjangkauan layanan Transjakarta dalam melayani mobilitas masyarakat yang saat ini telah mencapai 88 persen untuk cakupan layanan Transjakarta.

“Sebagai first miles dan last miles, kami berharap layanan Mikrotrans bisa semakin memudahkan masyarakat untuk menuju ke lokasi masing-masing maupun transit menuju layanan Transjakarta lainya dengan mudah, aman dan nyaman,” ujar Wibowo, Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta.

Untuk layanan Terminal Lebak Bulus – Terminal Pasar Minggu (JAK95), lanjutnya, Transjakarta menyediakan sebanyak 30 unit Mikrotrans. Masyarakat dapat menikmati layanan tersebut setiap hari mulai pukul 05.00 – 22.00 WIB dengan tarif Rp0 atau gratis.

“Pelanggan tetap diwajibkan untuk melakukan tap in dan tap out menggunakan Kartu Uang Elektronik (KUE) pada alat Tap on Bus (TOB) yang ada di dalam armada Mikrotrans,” terangnya.

Sebagai informasi, rute Terminal Lebak Bulus – Terminal Pasar Minggu (JAK95) sekaligus menjadi rute Mikrotrans ke-94 yang dioperasikan oleh Transjakarta. Layanan ini beroperasi setiap hari pukul 05:00 WIB – 22:00 WIB.

Baca juga: Transjakarta Operasikan Dua Rute Pengumpan Mikrotrans Terintegrasi LRT Jabodebek, Lengkapi 11 Halte Terintegrasi LRT Jabodebek

Untuk pukul 05:00 WIB -17:00 WIB memiliki panjang lintasan rute 26,7 km dengan 85 titik pemberhentian. Sedangkan pukul 17:00 WIB – 22:00 WIB, layanan JAK95 akan melalui Pejaten Raya dengan 87 titik pemberhentian sepanjang 27,6 km.

Rute JAK95 terintegrasi dengan layanan Transjakarta lainnya seperti Lebak Bulus – Pasar Baru via Tomang (Koridor 8), Senen – Lebak Bulus (6H), Kampung Rambutan – Lebak Bulus (7A), Ciputat – CSW (S21), Ciputat – Kampung Rambutan (S22), Puribeta – Ragunan (13D), Ragunan – Dukuh Atas 2 (Koridor 6), Ragunan – MH Thamrin via Kuningan (6A), Ragunan – MH Thamrin (6B), Ragunan – Gelora Bung Karno (6V), Blok M – Pasar Minggu (6U), Pasar Minggu – Velbak (6T), Kampung Melayu – Ragunan (5N), dan Ragunan Blok M via Kemang (6N).

Karet Sisa Roda Pesawat Numpuk di Runway, Kapan dan Bagaimana Dibersihkannya?

Di bandara sibuk seperti London Heathrow, setiap hari ada ratusan bahkan ribuan pesawat yang lepas landas dan mendarat. Di sisi lain, ban pesawat, yang sangat penting untuk mendarat dan lepas landas, memiliki umur sangat pendek. Karenanya, setiap kali lepas landas dan mendarat, selalu terdapat residu atau bekas karet yang menempel di runway. Lantas, bagaimana itu dibersihkan dan kapan?

Baca juga: Seperti Pesawat, Runway dan Taxiway Bandara Juga Rutin Diinspeksi

Dilansir Quora, pesawat diketahui menghabiskan waktu selama sekitar 30-60 detik untuk lepas landas. Pada proses ini sudah pasti ban pesawat terlibat langsung. Bila ditotal dengan proses dari apron sampai lepas landas, ini bisa mencapai tiga menit, tergantung seberapa kompleks traffic dan luas bandara.

Selain lepas landas, proses turun landas (take off) juga melibatkan langsung ban pesawat. Kurang lebih prosesnya memakan waktu yang sama dengan proses lepas landas, sekitar 30-60 detik dan tiga menit untuk proses dari apron.

Dalam sehari, pesawat diketahui bisa terbang satu atau dua kali sehari di penerbangan jarak jauh di atas enam jam. Sedangkan di rute-rute di bawah itu atau rute regional, pesawat bisa terbang lima sampai enam kali dalam sehari. Tentu ini angka rata-rata, tergantung maskapai. Bila ditotal, berarti dalam sehari penggunaan ban pesawat hanya sekitar 6-12 menit pada rute internasional dan 15 menit untuk rute domestik.

Angka tersebut tentu jauh dari rata-rata jam penggunaan ban pada kendaraan bermotor. Begitu juga dari kilometer penggunaan ban.

Meski begitu, hal tersebut dinilai wajar lantaran tekanan dan gesekan pada aspal yang diterima ban pesawat. Gesekan atau friksi antara bandara pesawat dengan aspal atau permukaan runway menjadi lebih kuat saat mendarat karena metode pengereman itu sendiri.

Baca juga: Kapan Ban Pesawat Diganti? Ini Jawabannya

Diketahui, salah satu instrumen pengereman pesawat saat mendarat ialah spoiler. Ini berfungsi untuk menekan pesawat ke bawah sehingga meningkatkan friksi ban dan permukaan. Hal ini turut menjadi penyebab karet roda pesawat banyak tertinggal atau meninggalkan jejak di runway. Bila tidak segera dibersihkan, ini sangat berbahaya karena pesawat bisa mengalami selip ban. Itu sebabnya, runway (termasuk taxiway) rutin diinspeksi.

Menurut seorang aircraft engineer, Petey Miller, karet residu roda pesawat yang tertinggal di landasan pacu rutin dibersihkan. Ini merupakan bagian dari inspeksi runway dan taxiway.

Umumnya, inspeksi atau pemeriksaan runway, taxiway, dan area di sekitarnya dilakukan setiap 30 menit sampai 120 menit atau dua jam sekali.

Selain itu, jadwal inspeksi meliputi rentang waktu harian, mingguan, bulanan, enam bulan, sampai tahunan. Inspeksi bulanan, misalnya, itu biasanya termasuk memotong rumput di sekitar runway agar tetap pendek dan mencegah burung yang dapat menyebabkan bird strike datang.

Adapun inspeksi mingguan, di antaranya adalah membersihkan karet sisa roda pesawat di runway. Umumnya, karet yang membuat jejak berwarna hitam panjang dari zona touchdown sampai ujung runway itu, dibersihkan menggunakan kendaraan atau alat khusus yang di bawahnya terdapat bulu sikat.

Baca juga: Mengapa Sebagian Besar Runway di Bandara Terbuat dari Aspal Bukan Beton?

Secara perlahan, kendarataan atau alat khusus itu berputar dan menggosok permukaan landasan pacu sampai sisa karet berwarna hitam yang menutupinya terkelupas dan membuat warna runway kembali seperti semula. Itu terus dilakukan bolak-balik sampai bersih.

Permbersihan runway dilakukan setiap hari Selasa atau Rabu, tergantung bandaranya. Selama itu dilakukan, runway ditutup dan aktivitas penerbangan menggunakan runway lainnya. Bagi bandara yang hanya mempunyai satu runway, biasanya ini dilakukan pada malam hari ini saat tidak ada penerbangan.

Khawatir Kelebihan Beban, Japan Airlines Terpaksa Tambah Flight untuk Terbangkan Rombongan Pesumo

Dengan pesawat narrow body tipe Boeing 737-800, rupanya Japan Airlines (JAL) tidak yakin untuk melayani penerbangan pada hari Kamis (12/9/2023), alih-alih melanjutkan penerbangan, maskapai plat merah Jepang itu terpaksa membatalkan penerbangan. Hal itu terjadi bukan karena ancaman teror atau isu keamanan. Yang terjadi adalah JAL tidak yakin untuk membawa 27 pesumo yang masing-masing punya berat sekitar 120 kg.

Baca juga: Korean Air Akan Timbang Berat Badan Penumpang Sebelum Naik Pesawat, Ada Apa?

Kekhawatiran JAL didasari rata-rata berat penumpang biasanya adalah 70 kg, sementara berat setiap pesumo bisa mencapai dua kali lipat. Meski rombongan pesumo dibagi dalam dua penerbangan, JAL tetap membatalkan penerbangan, dan kemudian JAL menyediakan penerbangan tambahan agar pesawat tidak mengalami masalah pada batas muatan.

Menurut laporan surat kabar Yomiuri Shimbun yang dikutip The Guardian, Senin (16/10/2023), ke-27 pesumo tersebut akan bertanding di festival olahraga. Para pesumo itu dijadwalkan menaiki Boeing 737-800 dari bandara Haneda di Tokyo dan bandara Itami di Osaka, menuju pulau Amami Oshima di ujung selatan Jepang.

Kelompok pegulat sumo itu terdiri dari 27 atlet yang terbagi dalam dua kelompok di dua pesawat berbeda. Mereka dijadwalkan lepas landas pada 12 Oktober 2023. Satu kelompok terbang dari Bandara Haneda, Tokyo, sementara sisanya berangkat dari Bandara Itami, Osaka, yang lebih kecil.

Baca juga: 1 Agustus 1951, Japan Airlines Resmi Berdiri dengan Modal 100 Juta Yen

“Sangat tidak biasa bagi kami mengoperasikan penerbangan khusus karena pembatasan berat pada pesawat ini,” kata juru bicara JAL kepada surat kabar regional Minami-Nippon Shimbun. Penerbangan tambahan juga disediakan untuk membawa pulang para pesumo setelah turnamen berakhir pada Minggu (15/10/2023).

Terdengar Mirip, di Indonesia ada Surya Airways Maka di Nepal ada Saurya Airways

Bila tahun depan akan beroperasi maskapai baru, Surya Airways di Indonesia. Maka dari “Negeri Atap Dunia” juga ada nama maskapai yang namanya mirip, yakni Saurya Airlines. Meski terdengar mirip saat disebut, namun antara Surya dan Saurya tidak saling berkaitan secara kepemilikan dan bisnis, terlebih Saurya Airlines sudah lebih dulu beroperasi pada 17 November 2014.

Baca juga: Tahun 2024, Surya Airways Beroperasi Layani Rute Domestik dengan ATR 72-600

Saurya Airlines Pvt. Ltd adalah maskapai penerbangan yang berbasis di Kathmandu, Nepal. Maskapai ini melayani lima tujuan di tiga provinsi Nepal dari hubnya di Bandara Internasional Tribhuvan.

Dalam operasionalnya, Saurya Airlines mengoperasikan pesawat jet Bombardier CRJ 200. Saurya Airlines juga dikenal sebagai maskapai penerbangan pertama yang memperkenalkan Canadair Regional Jet (CRJ) di Nepal, juga menjadi maskapai kedua di Nepal setelah Cosmic Air yang mengoperasikan pesawat bermesin jet pada rute domestik di Nepal.

Saurya Airlines mendatangkan pesawat pertamanya, CRJ 200 dan memulai operasi pertamanya pada 17 November 2014 dengan melakukan penerbangan gunung dan perjalanan pulang pergi ke Bandara Biratnagar dari Bandara Kathmandu setelah terpaksa menghentikan pesawat barunya selama hampir tiga bulan karena dokumen yang panjang.

Pada awal tahun 2016, Saurya Airlines dibatasi untuk mengoperasikan penerbangan charter sesuai peraturan Otoritas Penerbangan Sipil Nepal setelah perusahaan tersebut gagal memenuhi jumlah minimum pesawat yang diperlukan untuk beroperasi sebagai maskapai penumpang berjadwal.

Namun, perusahaan berhasil memberikan layanan kepada penumpang dengan mengoperasikan penerbangan charter terjadwal. Pada tahun 2016, Saurya Airlines melayani 90.205 penumpang dengan tingkat pertumbuhan sebesar 3,76 persen dari tahun sebelumnya.

Baca juga: Ingin Lihat Rumah Berkontur ala Pegunungan di Nepal, Yuk Mampir ke Dusun Butuh di Lereng Gunung Sumbing

Pada bulan Maret 2017, Saurya Airlines menambahkan pesawat CRJ 200 kedua ke armadanya, dan mendapatkan kembali sertifikat untuk mengoperasikan penerbangan terjadwal kembali. Pesawat “9N-AME” ini dicat dengan “warna Tata Tiago” sesuai perjanjian dengan Sipradi Trading, menjadikan perusahaan pesawat sayap tetap Nepal pertama yang memakai merek dagang internasional pada corak pesawat.

Klarifikasi KCIC Usai 31 Penumpang Ketinggalan Kereta Cepat Whoosh: KA Feeder Dioperasikan Daop 2 KAI

Sebanyak 31 penumpang ketinggalan Kereta Cepat Whoosh lantaran KA Feeder relasi Padalarang-Bandung terlambat datang akibat gangguan mesin. Berdasarkan schedule KA Feeder, seharusnya penumpang tiba di Stasiun KAI Padalarang pada 6.41 WIB untuk kemudian berjalan menuju Skybridge dan berangkat menuju Halim dari Stasiun Whoosh Padalarang pada 6.56 WIB.

Baca juga: Hari ke-2 Operasional Berbayar, Okupansi Kereta Cepat Whoosh Rata-rata 50 Persen

Usai insiden penumpang tertinggal tersebut, PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), yang mengoperasikan Whoosh pun menjadi sasaran kritik dari masyarakat. Seperti diketahui, KA Feeder bukan dioperasikan oleh KCIC melainkan oleh Daop Bandung KAI.

“(KA Feeder dioperasikan) Daop 2,” jelas Eva Chairunisa, Corporate Secretary PT KCIC, saat dikonfirmasi KabarPenumpang.com lewat pesan singkat, (19/10/2023).

Eva menjelaskan, pihaknya mengutamakan ketepatan waktu dalam operasionalnya dengan tingkat ketepatan waktu keberangkatan yang mendekati 100 persen. Sehingga Kereta Cepat Whoosh tidak dapat menunggu penumpang di luar jadwal keberangkatannya. Pengaturan operasional perjalanan kereta cepat sangat mengutamakan keselamatan dan keamanan.

Kendati kesalahan bukan berada di pihaknya, sebagai bentuk kompensasi atas kejadian tersebut, sebanyak 30 penumpang yang mengalami keterlambatan dan tertinggal kereta diperkenan untuk mengikuti perjalanan Kereta Cepat Whoosh selanjutnya pada pukul 09.02 WIB tanpa harus membeli tiket baru. Selama menunggu di hall Stasiun Padalarang KCIC juga memberikan snack serta minuman.

Sementara satu penumpang lainnya yang memilih untuk pembatalan tiket juga telah dilayani melalui loket Stasiun Padalarang dengan pengembalian bea tiket 100 persen.

PT KCIC dalam hal ini memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan penumpang Kereta Cepat Whoosh yang mengalami keterlambatan karena adanya kendala operasional kereta feeder dari Stasiun Bandung.

Untuk mencegah agar hal ini tidak kembali terjadi, KCIC akan terus berkoordinasi bersama KAI untuk pelayanan yang lebih baik. Kedepannya KAI juga akan menyiapkan satu rangkaian cadangan KA Feeder di Stasiun Bandung sebagai bentuk antisipasi.

Sementara itu, Manager Humas Daop 2 Bandung Mahendro Trang Bawono, mengatakan bahwa KA Feeder sejatinya dapat menempuh kecepatan rata-rata 90 km per jam. Sehingga dengan begitu, relasi Padalarang-Bandung atau sebaliknya sejauh 18 km dan melewati sembilan perlintasan sebidang dapat ditempuh dengan rata-rata waktu 19 menit.

Baca juga: Mulai Berbayar, Berikut Jadwal Keberangkatan Kereta Cepat Whoosh dan KA Feeder Kereta Cepat

Total, dari Halim ke Bandung atau sebaliknya menjadi 49 menit (Halim-Padalarang 30 menit).

Hanya saja, dalam insiden penumpang terlambat naik Kereta Cepat Whoosh, terjadi KA Feeder mengalami gangguan pada sistem bahan bakar. “KAI Daop 2 memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh penumpang yang tertinggal KA Whoosh,” tutupnya.

 

 

Tragedi Bintaro I – Jadi Kecelakaan Kereta Terburuk dan Paling Tragis di Indonesia

Masih ingat film Tragedi Bintaro (1989)? Film ini mengisahkan kesedihan anak kecil bernama Juned yang harus kehilangan satu kaki, nenek dan saudara-saudaranya karena menjadi korban tabrakan antar dua kereta di daerah Bintaro pada 19 Oktober 1987. Kecelakaan kereta api Bintaro pada 1987 tersebut dikenal dengan Tragedi Bintaro I dan menjadi yang paling tragis dan terburuk di Indonesia.

Baca juga: Hari ini, 52 Tahun Lalu, Kecelakaan Kereta di Ratu Jaya Depok Tewaskan 116 Penumpang

Di mana dua kereta api terlibat kecelakaan di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, dalam kecelakaan ini, rangkaian kereta api Patas Merak relasi Tahan Abang ke Merak yang berangkat dari Stasiun Kebayoran (KA 220) bertabrakan dengan kereta api lokal Rangkas relasi Rangkasbitung ke Jakarta Kota (KA 225) yang berangkat dari Stasiun Sudimara.

Dalam kecelakaan kereta ini, sebanyak 139 tewas dan 254 orang lainnya luka berat. Setelah kecelakaan tersebut, proses evakuasinya penumpang kereta api menjadi tantangan mengingat kerasnya tabrakan head-to-head. Kemudian tragedi ini akhirnya diselidiki dan menunjukkan adanya kelalaian petugas Stasiun Sudimara yang memberikan sinyal aman bagi kereta api dari arah Rangkasbitung, padahal tidak ada pernyataan aman dari Stasiun Kebayoran.

Hal ini dilakukan karena tidak ada jalur yang kosong di Stasiun Sudimara. Berdasarkan keterangan resmi dari Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), lokasi kecelakaan berada pada km 17+252 lintas Angke–Tanahabang–Rangkasbitung–Merak. Lokasi tersebut berada pada tikungan S yang diapit Jalan Tol Jakarta–Serpong di barat dan Jalan Tol TB Simatupang di timurnya. Lokasi ini juga terletak sekitar 1,5 km di sebelah barat daya TPU Tanah Kusir.

Adapun saat itu KA 225 berjalan dengan kecepatan 30 kilometer per jam. Tak hanya kelalaian, banyaknya korban yang jatuh saat itu juga disebabkan kondisi gerbong kereta yang dipenuhi penumpang. Apalagi tenyata KA 225 dipenuhi penumpang dan di luar kapasitasnya.

Pada setiap gerbong, tersedia 64 kursi rotan dan saat itu dipenuhi oleh para penumpang. Namun, kapasitas yang disediakan tak cukup untuk menampung banyaknya orang yang ingin menempuh perjalanan yang sama. Akhirnya, atap gerbong dan ruang kosong di kiri-kanan lokomotif pun juga dijejali penumpang sebagai tempat tangkringan sementara.

Lokasi kecelakaan yang berada di tikungan juga membuat kedua masinis tidak dapat saling melihat. Ketika menyadari ada kereta lain di jalur yang sama, sudah terlambat bagi masinis untuk menghentikan laju kereta karena jarak antara keduanya sudah terlalu dekat. Selain itu, pihak petugas palang pintu kereta juga tak mengetahui simbol genta yang menyebabkan kedua kereta itu berhadapan di rel yang sama.

Baca juga: Darman Prasetyo – Masinis Muda Heroik di Tragedi Bintaro 2 Yang Terlupakan

Selain korban jiwa, masinis dua kereta tersebut yakni Suradio divonis hukuman lima tahun penjara dan kehilangan pekerjaanya sebagai masinis pada 1994. Nasib yang serupa juga menimpa Adung Syafei, kondektur KA 225. Syafei harus mendekam di penjara selama 2,5 tahun. Sedangkan PPKA Djamhari dan Umrihadi dihukum 10 bulan penjara

Jelang Akhir Tahun, Garuda Indonesia Geber Frekuensi Penerbangan Internasional

Jelang akhir tahun, Garuda Indonesia terus mengoptimalkan langkah perluasan jaringan penerbangan guna memaksimalkan momentum pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Komitmen tersebut yang dijalankan melalui langkah peningkatan frekuensi penerbangan pada rute-rute penerbangan yang menjadi preferensi utama pilihan pengguna jasa.

Baca juga: Tuntas Uji Coba Sustainable Aviation Fuel, Garuda Indonesia Jajaki Gunakan Energi Terbarukan pada Penerbangan Komersial

Langkah peningkatan frekuensi rute penerbangan tersebut dilakukan secara bertahap pada periode November hingga Desember 2023 mendatang.

Pada bulan November 2023 mendatang sejumlah frekuensi rute penerbangan akan ditingkatkan diantaranya adaah Narita – Denpasar pp dari yang sebelumnya 5 kali seminggu menjadi 7 kali seminggu, Guangzhou – Jakarta pp yang sebelumnya dilayani 3 kali seminggu akan menjadi 4 kali seminggu, Shanghai-Jakarta pp yang sebelumnya dilayani 2 kali seminggu akan menjadi 3 kali seminggu, Melbourne – Denpasar pp yang sebelumnya dilayani 3 kali setiap minggunya menjadi 4 kali per minggu, dan Singapura – Denpasar pp yang sebelumnya dilayani 5 kali dalam seminggu menjadi 7 kali seminggu.

Sedangkan di bulan Desember 2023, Garuda Indonesia juga berencana untuk menambah frekuensi pada rute Sydney-Jakarta pp yang sebelumnya dilayani 4 kali dalam seminggu menjadi 5 kali setiap minggu, Seoul – Denpasar pp yang yang sebelumnya dilayani 2 kali setiap minggunya menjadi 4 kali setiap minggu serta Sydney – Denpasar pp yang sebelumnya dilayani sebanyak 4 kali setiap minggu menjadi 5 kali setiap minggunya.

Baca juga: Garuda Indonesia Kedatangan Boeing 737-800NG PK-GUA, Sebelumnya Milik Oman Air

Sejalan dengan momentum kebangkitan sektor pariwisata nasional, Garuda Indonesia terus mencatakan pertumbuhan trafik penumpang khususnya pada sektor penerbangan internasional. Hingga awal kuartal 3-2023 lalu, Garuda Indonesia mencatatkan pertumbuhan penumpang rute internasional hingga mencapai 215 % menjadi 859.061 penumpang,jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Tahun 2024, Surya Airways Beroperasi Layani Rute Domestik dengan ATR 72-600

Tahun 2024 bukan hanya akan diraimaikan dengan jadwal kampanye dan pemilu, di dunia dirgantara, tahun depan juga akan diramaikan dengan kehadiran maskapai baru, yakni Surya Airways, yang akan melayani penerbangan domestik dan luar negeri jarak dekat.

Baca juga: Sejarah ATR, Produsen Pesawat Regional Terbesar Dunia Besutan Perancis-Italia

Dilihat dari situsnya, surya-airways.co.id, terlibat maskapai yang berbasis di Yogyakarta ini akan menyasar penerbangan ke Jakarta, Denpasar, Medan, Gunung Sitoli, Batam dan luar negeri, Penang di Malaysia.

Dikutip dari beberapa media lokal, dalam tahap awal Surya Airways akan meluncurkan layanan denan tiga pesawat, dan secara bertahap akan memperluas armada hingga 10 init pesawat terbaru dari jenis ATR 72-600.

Dikutip dari Bisnis Indonesia – ekonomi.bisnis.com (17/10/2023), disebut bahwa Surya Airways beroperasi di bawah nama PT Surya Mataram Indonesia.Surya Airways telah memperoleh Sertifikat Standar Angkutan Niaga Berjadwal pada 9 Oktober 2023. Surya Airways telah mendapatkan Kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha untuk penerbangan rute domestik dan internasional, termasuk kargo udara. Adapun, status penanaman modal dikatakan berasal dari dalam negeri.

Komisaris Utama Surya Airways Benny Rustanto mengatakan maskapai tersebut bakal melayani rute penerbangan domestik khususnya kota tier kedua. Alasannya, agar bisa meningkatkan konektivitas udara di Indonesia yang merupakan negara kepulauan usai pandemi Covid-19.

Baca juga: Inilah ATR EVO, Pesawat Hybrid 100 Persen Ramah Lingkungan: Tahun 2030 Beroperasi

“Rencana ke depan kami akan operasikan empat unit pesawat wide body seperti Boeing 777-300ER untuk melayani jemaah umrah secara direct flight ke Tanah Suci,” ujar Benny Rustanto, seperti dikutip dari Bisnis Indonesia.

Hari Ini, 96 Tahun Lalu, Pan Am Jadi Maskapai Pertama Layani Penerbangan Internasional

Pada hari ini, bertepatan dengan 19 Oktober 1927, maskapai legendaris Amerika Serikat (AS), Pan American Airways (Pan Am) jadi maskapai pertama di Negeri Paman Sam yang mengoperasikan layanan penerbangan internasional berjadwal, dari Key West, Florida — Havana, Kuba, menggunakan pesawat amfibi.

Baca juga: Hari Ini, 79 Tahun Lalu, Pan Am Jadi Maskapai Pertama Keliling Dunia dengan Pesawat Komersial

Di balik keberhasilan Pan Am terbang mengoperasikan layanan internasional perdana, terdapat banyak sekali batu sandungan; terutama dari pesaing bisnis maskapai.

Dilansir panam.org, sekitar pertengahan tahun 1927, setidaknya ada tiga maskapai penerbangan yang berebut kontrak proyek dari U.S. Post Office untuk mengirimkan pos ke Havana, Kuba, dari Key West, Florida. Ini bukan sekedar kontrak dari Florida-Havana, melainkan lebih dari itu, berpeluang untuk mendapatkan kontrak di proyek lanjutan di luar Amerika Latin.

Intrik politik dan bisnis, manuver keuangan, dan sebagainya pun terjadi. Semuanya dilakukan demi mendapat kontrak layanan pos udara pertama AS ke Kuba.

Juan Trippe, mantan sales obligasi berusia dua puluh tujuh tahun tergabung dalam The Aviation Corporation of America. Pan American Airways, yang didirikan oleh empat perwira militer Amerika, di antaranya hanya Kapten Angkatan Laut AS J.K. Montgomery menjadi maskapai kedua yang berebut dalam proyek tersebut. Adapun maskapai ketiga ialah Florida Airways yang didalangi oleh veteran Perang Dunia I.

Entah bagaimana ceritanya, Kantor Pos AS akhirnya memberikan kontrak layanan pos udara pertama AS ke Kuba kepada Pan American Airways pada 16 Juli 1927.

Menariknya, bila di awal tender Juan Trippe disebut membekingi The Aviation Corporation of America, disebut telah bergabung dengan Pan Am dan memperjuangkan maskapai agar sukses melaksanakan kontrak perjanjian dengan Kantor Pos AS.

Sebab, ketika maskapai memenangkan tender, mereka belum mempunyai izin mendarat di Kuba. Di sinilah peran Trippe dalam melobi pihak Kuba melalui tangan-tangan pejabat AS.

Akan tetapi, pesaing bisnis yang senang dengan keberhasilan Pan Am menggarap proyek ini terus berupaya menjegal.

Seminggu menjelang 19 Oktober 1927, izin mendarat memang sudah didapat Pan Am, tetapi, mereka belum mempunyai bandara dan armada pesawat yang pas untuk melayani penerbangan itu. Namun, keberuntungan menghampiri maskapai.

Baca juga: Kala Kolaborasi Boeing 707 dan American Airlines Ubah Peta Penerbangan AS 62 Tahun Silam

Secara tidak sengaja, melihat pesawat apung atau pesawat amfibi Fairchild FC-2 melintas di depan Trippe. Dari sini, ia kemudian terpikir untuk mencharter pesawat tersebut dan tak jadi menggunakan pesawat Fokker F-VII tri-motor yang sudah dipesan.

Pada tanggal 19 Oktober 1927, pesawat amfibi tersebut akhirnya sukses terbang membawa pos dari Key West, Florida — Havana, Kuba untuk pertama kalinya oleh pilot berkebangsaan Kanada, Cy Caldwell.