Mengapa Ada Batasan Ketinggian Terbang untuk Pesawat? Ini Jawabannya

Bagi travelers yang kerap bepergian naik pesawat, mungkin di beberapa momen pernah mendengar awak kabin menginformasikan pada ketinggian berapa pesawat berada. Di saat yang bersamaan, kadang kala muncul pertanyaan, mengapa harus pada ketinggian tersebut dan tidak berada di ketinggian lain?

Baca juga: Pernah Berpikir untuk Membuka Pintu Pesawat Saat di Udara? Mustahil!

Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin memang tidak mudah. Namun, secara kemampuan, masing-masing pesawat tentu saja mempunyai batasan terbang. Bila dipaksakan, mungkin pesawat akan mengalami shutdown engine, restart engine, atau bahkan overheat dan terbakar karena telah mencapai ketinggian maksimum. Airbus A380, misalnya, bisa terbang maksimum atau ‘service ceiling’ di ketinggian 43 ribu kaki. Demikian juga dengan Boeing 787 787-8 dan -9 yang bisa terbang maksimum pada ketinggian tersebut.

Adapun pesawat komersial yang mampu dan diizinkan terbang di ketinggian lebih dari itu, tepatnya di ketinggian 60 ribu kaki lebih, hanya pesawat supersonik Concorde dan Concorde dari Rusia, Tupolev Tu-144. Ada beberapa hal yang membuatnya mampu dan diizinkan terbang di ketinggian tersebut, mulai dari efisiensi hingga teknologi.

Dikutip dari Simple Flying, prinsipnya, semakin tinggi terbang, udara akan lebih ringan, sedikit resistensi angin, lebih banyak daya, lebih sedikit usaha, dan lebih sedikit hambatan. Hal itu berarti, beban kerja mesin akan menjadi berkurang dan output-nya pesawat akan lebih hemat bahan bakar. Kemudian, dengan kecepatan supersonik, kedua pesawat tersebut tak akan mampu mencapai kecepatan yang diharapkan bila berada pada ketinggian di bawah itu, di samping lalu lintas yang lebih padat dan membahayakan pesawat lainnya bila terbang dengan kecepatan penuh.

Selain itu, kedua pesawat tersebut juga didukung sejumlah teknologi yang memungkinkan untuk terbang di ketinggan tersebut, seperti jendela yang lebih kecil (bahkan tak lebih besar dari ukuran tangan orang dewasa) untuk meminimalis dekompresi, bentuk sayap delta, fitur keselamatan berupa sistem mencegah kemungkinan terburuk saat terjadi rapid emergency descent atau penurunan cepat, serta tekanan di dalam kabin yang masih dalam batas normal bagi penumpang. Pasalnya, bila tidak didukung teknologi tersebut, maka, bukan tak mungkin penumpang akan pingsan.

Masih ingat misteri hilangnya Boeing 777-200ER (extended range) milik Malaysia Airlines MH-370? Dikutip dari Indomiliter.com, dalam sebuah teori terkait hilangnya pesawat nahas tersebut, MH-370 diduga sempat menaikkan ketinggian terbang hingga 45.000 kaki (13.716 meter), dan kemudian dalam sekejab, pesawat diturunkan kembali ke ketinggian 23.000 kaki (7.104 km). Sesuai standar pabrik, service ceiling Boeing 777 adalah 43.100 kaki dan dibatasi dengan wing critical dan engine critical. Bila pesawat dipaksakan terbang lebih dari 43.100 kaki, bisa menyebabkan terjadinya high speed stall.

Baca juga: Kenali Clear Air Turbulence yang Menghantam Emirates EK450 di Ketinggian 35.000 Kaki

Bila high speed stall terjadi, maka ancaman G (gravitasi) negatif dapat menyebabkan para penumpang mengalami kondisi red out. Darah mengalir keras ke kepala dan kondisi tubuh akan menjadi sangat buruk karena pesawat stall sekitar 22.000 kaki (7 km). Akibatnya pembuluh darah di kepala bisa pecah, darah bisa keluar dari mata, telinga, hidung, dan mulut. Penumpang dan awak pesawat yang tidak siap akan kolaps, bahkan bisa tewas. Aksi ini diduga kuat sebagai upaya pilot untuk menguasai keadaan pesawat tanpa gangguan.

Namun, terlepas dari teori tersebut, poin utamanya adalah, bila pesawat mencapai ketinggian maksimum atau ketinggian tertentu di luar batas wajar, seluruh penumpang dan awak hanya memiliki beberapa detik kemungkinan untuk hidup. Istilah ini disebut time of useful consciousness (TUC). Pada ketinggian 35 ribu kaki, harapan hidup seluruh penumpang dan awak hanya memiliki kemungkinan hidup selama 15 hingga 30 detik. Pada ketinggian 50.000 kaki akan berkurang menjadi hanya lima detik, lebih dari pada itu, mereka akan pingsan. Bila kondisi tak beranjak kembali normal, bukan tak mungkin mereka akan menemui ajalnya, kecuali menggunakan masker oksigen.

Inilah Penyebab Ketika Pilot Benar-Benar Kelelahan!

Menjadi seorang pilot pesawat terbang bukanlah hal mudah, apalagi saat harus bekerja ekstra dalam penerbangan yang panjang. Meski punya skill tinggi, fisik yang prima dan terlatih dalam menghadapi tantangan di udar, namun seorang pilot adalah manusia biasa yang juga bisa mengalami bahaya akibat faktor kelelahan. Tentu faktor kelelahan pada pilot tak bisa diabaikan begitu saja, keselamatan penerbangan adalah taruhannya.

Baca juga: Terbang Jarak Jauh? Don’t Worry Ikuti Tips Ini

KabarPenumpang.com merangkum dari thebalance.com, kelelahan pada pilot pada dasarnya sudah menjadi isu lama dalam babak awal dunia penerbangan dimulai. Contohnya seperti Charles Lindbergh yang berjuang untuk tetap terjaga dalam penerbangan Transatlantic selama 33,5 jam dari New York menuju Paris pada tahun 1927. Terkadang ada juga pilot yang kelelahan dan tertidur di ruang kokpit, tak hanya itu, pilot pesawat kargo yang melakukan penerbangan malam hari juga mengalami kelelahan karena menantang jam tidur.

Sebenarnya contoh Lidbergh adalah yang paling bagus untuk menjelaskan masalah  dimana kelelahan menjadi risiko yang diterima atas kerja keras pilot tanpa istirahat. Anda penasaran berapa jam waktu kerja pilot dalam satu hari? Ya, seorang pilot mungkin hanya terjaga selama 6 sampai 6,5 jam atau sama dengan rata-rata waktu tidur orang Amerika Serikat.

Apalagi dalam perjalanannya, kelelahan akibat kurang tidur ditambah lagi dengan stress pada saat bekerja menerbangkan pesawat 10 jam dalam perjalanan panjang, makanan yang kurang sehat, layovers panjang di lounge bandara hinggi potensi jet lag meningkatkan risiko operasional bagi pilot.

Sebenarnya ada masalah yang membuat seorang pilot kelelahan seperti gangguan tidur, stress mental atau emosional biasanya masalah keluarga dan lainnya, terlalu berat berolahraga, kesehatan buruk dimana pola makan yang berantakan dan tidak terhidrasi secara baik.

Namun ada masalah khusus yang membuat seorang pilot benar-benar kelelahan, berikut ini masalah besar tersebut.

1. Perjalanan
Beberapa orang pilot memulai kerja mereka 2-3 jam lebih awal dari yang lain. Beberapa harus menempuh perjalanan jarak jauh ke suatu bandara sebelum bekerja karena tempat tinggal yang cukup jauh.

2. Layovers di bandara
Kadang pilot akan singgah selama 12 jam di sebuah bandara, ini sebenarnya agar para pilot bisa beristirahaat sebelum melanjutkan penerbangan berikutnya. Namun kenyataannya lebih sering perjalanan jauh dan harus terbang dari bandara yang berbeda sehingga menambahkan jadwal lebih awal dalam hidupnya.

3. Jet lag
Jet lag bisa menjadi masalah besar saat menghadapi kelelahan pilot. Sebagian besar operator maskapai penerbangan memberi cukup waktu bagi yang membutuhkannya untuk meredakan jet lag yang dialami pilot.

4. Terbang malam
Biasanya pilot kargo yang akan melakukan perjalanan semacam ini akan merasa kelelahan karena ketidakseimbangan ritme alami dalam tubuh. Hal ini juga berlaku pada pilot yang memiliki jadwal terbang bervariasi atau bergeser ke malam.

5. Tugas monoton
Pilot yang menerbangkan dengan rute yang sama ke bandara yag sama setiap hari cenderung kelelahan karena bosan.

Baca juga: (Lagi) Penumpang Mabuk Berhasil Paksa Pilot Untuk Mendarat Darurat

Risiko utama kelelahan pilot adalah kecelakaan pesawat terbang dan potensi korban jiwa, seperti kecelakaan Colgan Air yang terjadi pada awal 2009. Masuk ke sembilan jam dari total penerbangan selama 33 jam dalam misi Transatlantic, Charles Lindbergh menulis di jurnalnya bahwa, “saat itu tak ada yang diinginkan dalam hidup, kecuali hanya tidur.”

Dia melanjutkan untuk mencatat banyak efek kelelahan pada penerbangannya, termasuk tertidur dengan mata terbelalak dan pesawatnya lepas kendali. Kelelahan adalah masalah yang sangat nyata bagi awak pesawat. Sementara FAA dan operator penerbangan dapat membantu mengurangi risiko kelelahan pilot melalui pendidikan, perubahan batas waktu penerbangan dan program manajemen kelelahan lainnya, pada dasarnya tanggung jawab utama manajemen kelelahan ada pada pilot sendiri.

Mengenal ACARS, Sistem Komunikasi yang Hubungkan Antara Pesawat, ATC dan Pusat Kendali Maskapai

Dari hasil investigasi, Boeing 777-200 Malaysia Airlines MH370 yang hilang kontak pada 8 Meret 2014, diketahui bahwa transponder dan ACARS (Aircraft Communications Addressing and Reporting System) pada pesawat itu telah dengan sangaja dimatikan. Hal itu menjadikan posisi pesawat tidak bisa dipantau oleh radar pengawas lalu lintas udara (ATC). Nah, berbicara tentang dunia aviasi, istilah ACARS masih terasa asing bagi kebanyakan orang.

Baca juga: Bikin Geger, Transponder Boeing 747 Emtrasur Sengaja Dimatikan, Motif Kriminal?

ACARS adalah sistem komunikasi yang digunakan dalam penerbangan untuk mengirim dan menerima pesan antara pesawat dan pusat kontrol lalu lintas udara atau operator maskapai. Sistem ini digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk pemantauan pesawat, komunikasi dengan awak pesawat, pelaporan kondisi pesawat, dan mengirim pesan teks.

ACARS menggunakan komunikasi data digital melalui saluran radio VHF (Very High Frequency) atau HF (High Frequency) untuk berkomunikasi dengan sistem darat. Pesan yang dikirim melalui ACARS dapat berisi informasi seperti posisi pesawat, kondisi mesin, pesan keamanan, dan data operasional lainnya. Pesan-pesan ini dapat disampaikan secara otomatis atau oleh awak pesawat.

Saluran radio VHF digunakan untuk komunikasi ACARS dalam jarak yang relatif dekat, seperti ketika pesawat berada dalam jarak pandang dari stasiun darat. HF digunakan ketika pesawat berada di area yang lebih jauh atau di wilayah yang tidak tercakup oleh saluran VHF. HF memiliki jangkauan komunikasi yang lebih luas tetapi seringkali memiliki kualitas suara yang kurang baik dibandingkan dengan VHF.

ACARS merupakan alat penting dalam manajemen operasi maskapai penerbangan dan pemantauan pesawat. Dengan menggunakan sistem ini, operator maskapai dapat mengikuti status pesawat, memantau kondisi pesawat secara real-time, dan berkomunikasi dengan awak pesawat untuk memberikan instruksi atau informasi penting.

Selain saluran radio, ACARS juga dapat menggunakan komunikasi satelit untuk mengatasi jarak yang lebih jauh, terutama ketika pesawat beroperasi di daerah terpencil, lepas pantai, atau selama penerbangan lintas samudra. Komunikasi satelit memungkinkan ACARS untuk terhubung ke stasiun darat melalui jaringan satelit komunikasi yang mencakup seluruh permukaan Bumi.

Baca juga: Terungkap, Kecelakaan Pesawat A320 EgyptAir Gegara Pilot Merokok!

Selain itu, ACARS juga memiliki peran penting dalam penyelidikan kecelakaan pesawat, karena dapat merekam data yang membantu dalam rekonstruksi peristiwa yang terjadi sebelum kecelakaan.

Sistem ACARS telah berkembang seiring waktu, dan sekarang juga dapat mengirim pesan melalui satelit untuk meningkatkan jangkauan dan kualitas komunikasi.

“La Tante DC10 Restaurant” – Jejak Pesawat Trijet Legendaris yang Tinggal Kenangan

Badan pesawat yang disulap jadi restoran kerap menarik perhatian pengunjung, khususnya bagi pecinta dunia dirgantara dan penikmat kuliner. Salah satunya dari Benua Hitam, sebuah restoran unik di Ghana yang bernama “La Tante DC10 Restaurant” atau disebut “The Green Plane” yang mengambil badan utuh dari pesawat trijet legendaris jawara penerbangan jarak jauh, McDonnell Douglas DC-10.

Baca juga: Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

Selama bertahun-tahun, “The Green Plane” menyambut penumpang untuk bersantap di dalam pesawat. Namun, sayangnya hal itu tidak mungkin dilakukan lagi, karena restoran tersebut telah menutup semua operasionalnya.

Semasa beroperasi melayani penerbangan, pesawat tersebut memulai debutnya di Thai Airways. Dibangun pada bulan Desember 1976 dan mulai beroperasi pada bulan Maret 1977 dengan registrasi HS-TGD. Pada bulan Januari 1987, ia didaftarkan ulang sebagai HS-TMC.

Pada bulan Desember tahun 1987, maskapai ini pindah ke Eropa untuk melayani Scandinavian Airlines. Pesawat ini terbang selama kurang dari tiga tahun sebagai OY-KDC untuk SAS sebelum kembali ke Asia untuk melayani Malaysia Airlines sebagai 9M-MAW pada bulan Oktober 1990.

Perubahan kepemilikan terakhir pesawat terjadi pada Oktober 1999, ketika DC-10 tersebut dipindahkan ke Ghana Airways. Maskapai ini menghabiskan empat tahun terbang untuk maskapai Afrika yang terdaftar sebagai 9G-ANB hingga pensiun dari layanan pada tahun 2003 setelah karir yang luas dan bervariasi yang berlangsung selama 26 tahun.

Setelah pesawat ini pensiun, masa depannya tampak jauh dari cerah. Memang, awalnya disimpan di Bandara Internasional Kotoka (ACC) di Accra, Ghana, likuidasi Ghana Airways pada tahun 2005 mengakibatkan ditinggalkannya maskapai tersebut.

Banyak bagian pesawat, termasuk tiga mesin General Electric (GE), kemudian dijual sebagai barang bekas, menjadikan jet tersebut hanya bayangan dari pesawat andalan wide body. Namun, intervensi pada menit-menit terakhir pada tahun 2011, ketika komponen aluminiumnya dikeluarkan untuk peleburan, berhasil menyelamatkan situasi tersebut. Hal ini datang dari istri seorang menteri asal Togo.

Tak lama kemudian dipastikan bahwa pemilik baru pesawat berencana mengubahnya menjadi restoran. Setelah memindahkan sisa-sisa pesawat ke pinggiran Kota Bandara Accra, fasilitas tersebut akhirnya diresmikan, seperti dilansir News Ghana, pada November 2013.

Setelah dua setengah dekade terbang, DC-10 melanjutkan warisannya sebagai pengalaman bersantap yang unik. Meskipun tempat ini gagal bertahan selama lebih dari satu dekade, namun hal ini meninggalkan kenangan abadi bagi pelanggan yang pernah mengunjunginya.

Biasanya, ketika sebuah restoran tutup atau pindah operasional, beberapa pelanggan setia sering mengunjungi gedung tersebut untuk bernostalgia. Namun dalam kasus ini, seluruh struktur telah dipindahkan dari lokasi. Menurut BBC, para tamu biasanya ‘menaiki’ pesawat melalui tangga dari darat, seperti yang biasa mereka lakukan pada tahun-tahun operasionalnya.

Karena diperlukannya ruang ekstra untuk bersantap, pesawat ini dapat menampung 118 tamu, sedikit lebih sedikit dari kapasitas 276 penumpang pada tahun-tahun penerbangannya.

Baca juga: Hari ini 53 Tahun Lalu, McDonnell Douglas DC-10 Terbang Perdana

Menu restoran terdiri dari berbagai macam hidangan Ghana, seperti banku dengan bumbu Tilapia dan nasi Jollof dengan ayam, serta piring kecil dan sandwich untuk pengunjung yang mencari makanan ringan. Barnya juga menyajikan beragam minuman beralkohol dan ringan yang mengesankan.

100 Bandara Bakal Tenggelam Gegara Perubahan Iklim, Mayoritas di Asia

Perubahan iklim berdampak buruk bagi kehidupan umat manusia. Terkhusus di dunia penerbangan, perubahan iklim akibat pemanasan global bakal menenggelamkan sekitar 100 bandara di dunia. Itu bukanlah akhir, selanjutnya, ada ratusan bandara lainnya yang juga akan tenggelam menjadi total 364 bandara andai dunia gagal menekan emisi karbon.

Baca juga: Bandara di Seluruh Dunia Menuju Bebas Emisi CO2! Berikut Empat Tahapannya

Menindaklanjuti pemanasan global yang semakin ekstem, negara-negara di dunia berkumpul di Paris, Perancis pada tahun 2016. Dari sini kemudian muncul perjanjian Paris atau Paris Agreement tentang perubahan iklim. Salah satu fokus utamanya adalah menekan pemanasan global sampai di bawah 2 derajat celcius. Jika tidak, sekitar 100 bandara diyakini bakal tenggelam akibat kenaikan air laut.

Saat sektor dirgantara berkomitmen mencapai emisi nor persen di seluruh duniapada tahun 2050 mendatang, permukaan laut di sepanjang garis pantai Amerika Serikat (AS) akan naik setengah meter. Sedang naik beberapa milimeter saja sudah berbahaya apalagi sampai setengah meter.

Tahun lalu, sebuah studi di Fakultas Teknik Universitas Newcastle menemukan bahwa kenaikan suhu global 2°C, yang ingin dicegah oleh Perjanjian Paris, akan menempatkan 100 bandara di seluruh dunia di bawah permukaan laut. Celakanya, itu bukanlah akhir melainkan akan ada tambahan ratusan bandara lainnya yang akan tenggelam di seluruh dunia menjadi total 364 bandara.

Ancaman banjir di bandara seluruh dunia bukan isapan jempol belaka. Pada September 2021, operasional Bandara Internasional Liberty Newark lumpuh total akibat hujan deras disertai angin kencang Badai Ida membuat banjir cukup tinggi di bandara.

Beberapa tahun sebelumnya, topan Jebi dan gelombang badai setinggi tiga meter memaksa Bandara Kansai berhenti melayani penerbangan. Itu karena bandara, yang dibangun di atas lahan reklamasi, banjir parah dan jembatan yang menghubungkannya dengan daratan putus akibat ditabrak kapal tanker yang terbawa arus.

Badai dan cuaca ekstrem seperti contoh di atas pada akhirnya menjadi salah satu faktor terbesar yang mengganggu kinerja sektor penerbangan dan ekonomi secara keseluruhan.

Di AS, kerugian finansial saat musim badai Atlantik pada tahun 2021 diperkirakan mencapai US$70 miliar. Bahayanya, menurut penelitian dari MIT, badai menjadi lebih sering terjadi di luar musim yang seharusnya lantaran perubahan iklim akibat pemanasan global.

Dalam lansiran Climate Risk Management, sebagian besar bandara-bandara yang terancam tenggelam di masa mendatang akibat perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan muka air laut, datang dari Asia Tenggara dan Asia Timur.

Baca juga: Seberapa Amankah Bandara yang Terletak di Pesisir Laut dari Ancaman Bencana Alam?

Pada tahun 2050, ketinggian air laut diperkirakan berada di atas seluruh wilayah Bangkok, termasuk Bandara Suvarnabhumi. Di Inggris dan AS, masing-masing ada Bandara London City dan Bandara LaGuardia serta Bandara Liberty Newark yang akan tenggelam dan masuk dalam daftar 100 bandara di dunia yang akan tenggelam.

Bandara lain yang juga masuk dalam daftar tersebut adalah Bandara Shanghai Hongqiao, Bandara Internasional Louis Armstrong, Bandara Internasional Key West, dan banyak lagi.

Situasi Israel Memburuk, Airbus A350 British Airways BA165 “Flight To Nowhere” London-Tel Aviv

Penerbangan British Airways BA165 dari Bandara Heathrow London (LHR) ke Bandara Internasional Tel Aviv Ben Gurion (TLV), menjadi sebuah penerbangan yang melelahkan bagi para penumpangnya. Rupanya pesawar Airbus A350 BA165 menjalani apa yang disebut ‘Flight To Nowhere’, setelah terbang empat jam dari Heathrow, dan saat pesawat sudah tiba di ruang udara Israel, tapi nyatanya pesawat diminta terbang kembali ke bandara asal di Inggris.

Baca juga: Jadi Simbol Konflik Israel-Palestina, Inilah Sejarah Panjang Bandara Ben Gurion di Tel Aviv

Dikutip dari Simpleflying, hal tersebut terjadi karena situasi keselamatan di Israel terus memburuk sejak serangan Hamas pada 7 Oktober lalu. Penerbangan British Airways BA165, terbang dari Bandara Heathrow London (LHR) ke Bandara Internasional Tel Aviv Ben Gurion (TLV), dijadwalkan mendarat di Israel pada pukul 15:05 waktu setempat (UTC +3).

Pesawatnya menggunakan jenis Airbus A350-1000, yang terdaftar sebagai G-XWBF. Saat pesawat tersebut mulai mendekati TLV, pesawat tersebut sempat memasuki ruang tunggu di udara, tetapi segera setelah itu, pesawat tersebut berbalik dan kembali ke Heathrow.

Menurut juru bicara British Airways, penerbangan tersebut kembali ke ibu kota Inggris karena masalah keamanan. Perjalanan ke TLV biasanya memakan waktu sekitar empat jam, namun bagi penumpang BA ini, akan menjadi penerbangan yang sangat panjang untuk kembali ke titik awal mereka memulai.

Maskapai ini saat ini menawarkan kepada penumpang opsi untuk mengubah tanggal perjalanan mereka jika mereka akan terbang ke TLV hingga dan termasuk 22 Oktober, secara gratis. Pembaruan dari maskapai penerbangan, pada pukul 14:28 waktu setempat (UTC +1).

Namun, pada pukul 16:02 waktu setempat (UTC +1), maskapai tersebut mengatakan pihaknya menangguhkan penerbangan dari/ke TLV “mengikuti penilaian situasi terkini.” Selain penerbangan BA165, British Airways juga mengoperasikan penerbangan BA167 dari LHR ke TLV. BA165 dan BA167 diterbangkan dengan pesawat berbadan lebar, seperti Airbus A350-1000, Boeing 777, atau Boeing 787. Penerbangan dengan BA167 telah dibatalkan mulai 7 Oktober 2023.

Banyak maskapai penerbangan lain yang membatalkan penerbangan ke TLV karena situasi di Israel menjadi lebih tegang. Daftar tersebut mencakup maskapai penerbangan besar Amerika Serikat, termasuk American Airlines, Delta Air Lines, dan United Airlines.

Baca juga: Bermarkas di Bandara Ben Gurion, Inilah El Al, Maskapai Nasional Israel dengan Awak Kabin Wajib Berdinas Militer

Beberapa diantaranya terus terbang ke ibu kota negara, termasuk maskapai penerbangan utama, El Al. Maskapai penerbangan Israel, bersama Israir dan Arkia, bahkan menambahkan lebih banyak penerbangan untuk memulangkan warga yang dipanggil sebagai pasukan cadangan, serta warga negara Israel yang terjebak di luar negeri.

Honda Umumkan N-Van e, Kendaraan Mikro Bertenaga Listrik yang Meluncur di Musim Semi 2024

Honda telah mengumumkan versi elektrifikasi (listrik) dari N-Van yang lucu namun punya kemampuan untuk menjelajah sampai 210 km. Pegumuman kendaraan ini sebagai bagian dari misi Honda yang hanya akan menjual kendaraan listrik di Jepang pada tahun 2030.

Baca juga: CEO BMW: “Harga Mobil Listrik Tidak Akan Pernah Murah”

N-Van listrik komersial yang ringan dan berjalan senyap sangat cocok untuk pengiriman dalam kota yang bersifat stop-and-go dalam skala kecil, terutama pada dini hari atau setelah jam kerja. Kendaraan ini telah disetel agar sesuai dengan kinerja akselerasi optimal.

Teknologi bantuan pengemudi seperti pengenalan rambu lalu lintas, fungsi penjaga jalur, kontrol jelajah adaptif, dan sensor parkir disertakan sebagai bagian dari rangkaian Honda Sensing, dan dikatakan sebagai yang pertama di kelasnya yang dilengkapi kantung udara samping untuk pengemudi dan penumpang standar. Desainer Honda juga meningkatkan ukuran rotor cakram rem untuk meningkatkan pengendalian saat menuruni bukit.

Eksteriornya menggunakan bahan daur ulang dari bemper kendaraan Honda lama, sementara lantai datar dan rendah dengan baterai tipis dipasang di bawahnya dikombinasikan dengan langit-langit tinggi menjadikan “kompartemen kargo luas dan berkapasitas tinggi” di dalamnya.

Ruang belakang memiliki panjang 1,48 meter dengan bangku belakang dilipat, lebar 1,39 meter dan tinggi 1,36 meter – namun penumpang dan tempat duduk belakang dapat dilipat rata dengan lantai untuk menampung barang yang lebih panjang. Secara keseluruhan, N-Van listrik dapat mengangkut muatan hingga 300 kg

Van mikro listrik ini dilaporkan kompatibel dengan pengisi daya 6 kW untuk pengisian penuh dalam waktu sekitar 5 jam, dan port daya eksternal telah disertakan sehingga dayanya dapat digunakan untuk perkakas dan peralatan listrik, atau digunakan sebagai kendaraan- sumber listrik ke rumah dalam keadaan darurat.

Baca juga: Honda Hadirkan Skutik Roda Tiga “Gyro Canopy”

Prototipe N-Van e telah diuji sejak bulan Juni, dan perusahaan berencana untuk mengujinya di luar Jepang untuk mengonfirmasi spesifikasi kinerja sebelum peluncuran. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, ketersediaan di Jepang sedang direncanakan untuk musim semi lokal tahun 2024, dan akan hadir dalam tiga konfigurasi.

Hari ini 34 Tahun Lalu, Santiago Airlines Flight 513 ‘Mendarat’ Setelah Hilang 35 Tahun

Hari ini, 34 tahun lalu yang bertepatan dengan 12 Oktober 1989, dikenal sebagai momen yang misterius dalam jagad dunia penerbangan. Meski terkesan sebuah cerita fiksi, namun pada tanggal tersebut, pesawat Lockheed Super Constellation Santiago Airlines flight 513 secara tiba-tiba muncul kembali dan berhasil mendarat di Porto Alegre dengan membawa 92 penumpang dan awak yang sudah menjadi tengkorak.

Baca juga: Cek Fakta Dibalik Kemunculan Flight 513 Pasca 35 Tahun Hilang!

Dari catatan sejarah, Santiago Airlines flight 513 pada 4 September 1954, dikabarkan hilang di Samudera Atlatik Utara dalam perjalanan dari Aachen, Jerman menuju Porto Alegre, Brasil. Namun, 35 tahun kemudian, yaitu pada 12 Oktober 1989, Santiago Airlines flight 513 tiba-tiba muncul kembali dan berhasil mendarat di Porto Alegre. Tak butuh waktu lama, insiden tersebut pun membuat heboh dunia.

Pihak berwenang tak sedikit pun berani membuka suara. Hal itu lantaran pemerintah khawatir malah membuat warga jadi takut. Namun, proses penyelidikan tetap dilakukan guna mencari fakta terkait kemunculan pesawat Santiago Airlines flight 513.

Selama proses penyelidikan dimulai, berbagai teka-teki terus bermunculan. Dr Celso Atello, seorang peneliti sekaligus paranormal percaya bahwa pesawat Santiago Airlines flight 513 telah memasuki time warp atau lorong waktu.

Black Hole (lubang hitam) dan Time Warps (lorong waktu) sendiri sudah lama dibicarakan karena kerap membuat pesawat dan kapal laut hilang misterius tanpa jejak dan tak pernah kembali. Alhasil, kemunculan pesawat tersebut dari lorong waktu benar-benar menjadi buah bibir di dunia.

Sementara itu, proses penyelidikan terus dilakukan. Sayangnya, para saksi yang melihat kejadian tak bisa menggambarkan dengan utuh proses kejadian.

Mereka hanya melihat, pesawat Lockheed Super Constellation muncul tiba-tiba dan mendarat di bagian Barat Bandara Porto Alegre dengan landing approach tak biasa, mulai dari kecepatan dan tahapan pendaratan itu sendiri. Terlebih, ketika dicek, penumpang dan awak sudah menjadi tengkorak; termasuk tengkorak Kapten Miguel Victor Cury yang masih memegang kemudi.

Begitu juga dengan para mantan karyawan. Sebagian dari mereka banyak yang sudah tiada, sebagian lagi sudah termakan usia dan hilang ingatan. Lagi pula, maskapai Santiago Airlines dikabarkan sudah lama bangkrut tak lama setelah armada mereka hilang bak ditelan bumi di Samudera Atlantik.

Proses penyelidikan yang tak kunjung menemui titik terang pada akhirnya menimbulkan berbagai teori konspirasi. Publik percaya, bahwa pemerintah telah menyembunyikan bukti-bukti terkait hal ini (fenomena time warp) dengan dalih melindungi masyarakat.

Baca juga: Update Misteri Hilangnya MH370, Ahli Sebut Pesawat Jatuh Gegara Kehabisan Bahan Bakar!

Namun, minimnya data dan fakta telah menunjukkan bahwa kemunculan Santiago Airlines flight 513 setelah 35 tahun hilang tak lebih dari sekedar hoax. Terlebih, kabar terkait hal itu diketahui muncul pertama kali dari Weekly World News. Pun bila memang benar masuk ke time warp atau empat dimensi, waktu di sana tidaklah sama dengan waktu di bumi. Satu hari di ruang empat dimensi bisa jadi bertahun tahun atau bahkan berpuluh tahun waktu dibumi

Mulai 29 Oktober, Bandara Husein Bandung Resmi Digantikan Bandara Kertajati, Ini Rute yang Dilayani

Bandara Husein Sastranegara (BDO) Bandung resmi digantikan Bandara Kertajati (KJT) di Majalengka mulai 29 Oktober 2023 mendatang. Itu berarti, penerbangan dari dan ke Bandung sudah tidak ke BDO lagi melainkan ke KJT yang notabene cukup jauh dari pusat kota Bandung.

Baca juga: Gunakan Boeing 777-300ER, Garuda Indonesia Mulai Layani Penerbangan Umrah dari Bandara Kertajati

Jelang pengalihan operasional tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kemenhub beserta jajaran dan stakeholder serta pihak terkait melakukan peninjauan langsung kesiapan infrastruktur dan ketersediaan antar moda.

Sesuai arahan Presiden Jokowi bahwa mulai Oktober Bandara Kertajati akan beroperasi penuh, sehingga penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara akan digeser ke Bandara Kertajati, utamanya untuk yang pesawat jet.

“Kami berharap, agar proses pengalihan operasional penerbangan yang sudah menjadi mandat dari Bapak Presiden, dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Sehingga nantinya dapat mendukung perekonomian dan pariwisata daerah Jawa Barat,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara M. Kristi Endah Murni.

Kristi menambahkan selaku regulator penerbangan nasional, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) harus memastikan Bandara Kertajati dan operator penerbangan siap melayani konektivitas mulai akhir Oktober nanti.

“Untuk mewujudkan itu semua, diperlukan dukungan dan kolaborasi antara regulator, operator dan stakeholder penerbangan lainnya, dan paling penting peran serta dan dukungan pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah daerah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan (Ciayumajakuning) dan sekitarnya,” tambahnya.

Dalam kunjungan kerjanya, Dirjen Hubud juga mencoba moda transportasi umum Damri dari Kebon Kawung Bandung menuju Bandara Kertajati dengan menempuh perjalanan sekitar 1.30 menit.

Turut hadir dalam rombongan tersebut Pj. Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin, Dirut PT. Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah I Yufrudon Gandoz Situmeang, Direktur Utama Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Muhamad Singgih, Presiden Direktur Lion Air Group Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Jawa Barat.

Selain melakukan kunjungan ke Bandara Kertajati, Dirjen Hubud beserta rombongan juga melakukan rapat koordinasi dengan semua stakeholder terkait.

Kristi meminta agar peran serta pemerintah provinsi/daerah dalam memberikan informasi secara massif kepada masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi udara perlu lebih ditingkatkan lagi.

“Hal lain yang tidak kalah penting agar pemda setempat memberikan dukungan untuk ketersediaan penumpang (demand). Begitupun dengan ketersediaan antar moda seperti damri, shuttle bus, taxi, transportasi berbasis online untuk akses dari/ke Bandara Kertajati pun harus sudah tersedia dan beroperasi. Sehingga Bandara Kertajati sudah siap melayani konektivitas transportasi udara untuk masyarakat Ciayumajakuning dan sekitarnya,” ucap Kristi.

Kristi menambahkan, “Agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas, pemda setempat perlu memanfaatkan sarana dan media komunikasi baik melalui media sosial, online, ataupun spanduk dan umbul-umbul,” ungkapnya.

Sebagai informasi untuk penerbangan berjadwal dari/ke Bandara Husein Sastranegara dengan menggunakan pesawat jet akan berakhir pada 28 Oktober nanti, sehingga Bandara Husein hanya melayani penerbangan berjadwal dalam negeri dengan pesawat jenis propeller untuk rute intra jawa seperti dari/ke Bandara Adi Sutjipto (JOG) oleh Wings Air menggunakan pesawat ATR72-600.

Baca juga: Bawa Muatan Mesin Pendingin dari Houston, Pesawat Kargo An-124 Ruslan Mendarat di Kertajati

Adapun rute penerbangan yang dialihkan ke Bandara Kertajati merupakan rute yang saat ini dilayani oleh Bandara Husein dengan pesawat Jet seperti:
1. Balikpapan (BPN)
2. Banjarmasin (BDJ)
3. Batam (BTH)
4. Denpasar (DPS)
5. Makassar (UPG)
6. Medan (KNO)
7. Palembang (PLM)

Rute-rute penerbangan tersebut dioperasikan oleh maskapai Citilink, Indonesia AirAsia, Super Air Jet, Lion Air, dan Batik Air. Sedangkan rute penerbangan berjadwal luar negeri dengan tujuan Kualalumpur telah beroperasi sejak pertengahan Mei 2023 dengan frekuensi 2x perminggu.

MIT Kembangkan Air Guardian – Teknologi ‘Kopilot’ Berbasis Kecerdasan Buatan

Laboratorium Ilmu Komputer dan Kecerdasan Buatan – Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory (CSAIL) dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dikabarkan sedang mengembangkan teknologi kopilot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang diberi label Air Guardian yang secara aktif bekerja sama dengan pilot, menjadikan komputer tersebut sebagai bagian dari tim, dan bukan sebagai cadangan darurat.

Baca juga: Korean Air Manfaatkan Teknologi Kecerdasan Buatan di Rute Tersibuk di Dunia 

Menerbangkan pesawat modern mungkin menyenangkan, namun terkadang juga bisa sangat sulit. Lepas landas, mendarat, terbang di wilayah udara yang ramai, atau menghadapi kegagalan fungsi yang tiba-tiba dapat membuat pilot menghadapi aliran data yang sangat banyak dari berbagai tampilan, sementara pilot hanya punya waktu sepersekian detik untuk memproses semuanya dan mengambil keputusan.

Salah satu contohnya adalah pada tanggal 15 Januari 2009 ketika US Airways Flight 1549 menabrak sekawanan burung saat lepas landas dari Bandara LaGuardia di New York. Pilot Chesley “Sully” Sullenberger menjadi pahlawan pada hari itu ketika dia membuat keputusan untuk mendaratkan Airbus A320 di Sungai Hudson, yang akhirnya dapat menyelamatkan nyawa 155 penumpang dan awak.

Ironi dari insiden tersebut adalah, menurut pakar AI yang meninjau insiden tersebut dan memilih untuk tidak disebutkan namanya, Sullenberger seharusnya tidak perlu mendaratkan pesawat di sungai, pasalnya Ia masih bisa terbang sampai ke bandara terdekat. Masalahnya adalah dia tidak mempunyai cukup waktu untuk menilai situasi dengan tepat dan harus melakukan tindakan terbaik yang dia bisa.

Sebuah studi mengenai insiden tersebut menemukan bahwa jika pesawat tersebut dilengkapi dengan sistem AI, pendaratan di pesawat tersebut dapat dihindari karena kemampuannya menangani kelebihan data.

Sistem penerbangan AI seperti ini telah menarik banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena potensi keselamatannya serta kemungkinan penggantian awak manusia pada penerbangan kargo rutin. Namun, pendekatan yang biasa dilakukan adalah memperlakukan AI sebagai sesuatu seperti sistem peringatan darurat. Pada dasarnya, tugasnya hanyalah duduk di dalam kotaknya memantau data penerbangan dan kemudian bertindak jika ada sesuatu yang menyimpang dari parameter keselamatan yang ditentukan.

Menurut MIT, Air Guardian mengambil pendekatan berbeda dengan memantau tidak hanya pesawatnya, tapi juga pilotnya, sehingga bertindak lebih seperti kopilot daripada ‘rem darurat’. Hal ini dilakukan dengan melacak pergerakan mata pilot dan membuat “peta arti-penting”, yang merupakan istilah berharga untuk mencatat di mana pilot melihat dan seberapa besar perhatian diberikan pada apa yang sedang dilihat.

Kedengarannya sangat sederhana, namun hal ini bergantung pada beberapa algoritma yang sangat canggih, dan apa yang disebut “liquid neural networks,” yang merupakan jaringan sangat fleksibel yang dapat beradaptasi bahkan setelah jaringan tersebut dilatih. Mereka juga dapat mengatasi beberapa hambatan matematis, memungkinkan AI untuk membangun model tentang apa yang terjadi dari detik ke detik dan belajar bekerja sama dengan pilot.

Baca juga: Dari Kecerdasan Buatan-Tinggalkan Botol dan Gelas Plastik di Pesawat, Ini Sederet Inovasi Maskapai AS

Intinya adalah pilotlah yang menerbangkan pesawat, sehingga keahlian dan pengalaman mereka dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sementara itu, Air Guardian memantau perhatian pilot. Jika mereka tidak memperhatikan sesuatu yang penting atau terlalu memperhatikan hal lain, AI mengambil tindakan untuk menghindari potensi risiko.