1 Januari 2007 Boeing 737 Adam Air Flight KI574 Kecelakaan, Seluruh Maskapai Indonesia Dilarang Terbang ke Uni Eropa!

Pada hari Sabtu kemarin, 15 tahun yang lalu, bertepatan dengan 1 Januari 2007, pesawat Boeing 737-400 Adam Air dengan nomor registrasi PK-KKW mengalami kecelakaan di perairan Majene, Sulawesi Selatan. Buntut dari kecelakaan tersebut, seluruh maskapai Indonesia akhirnya dilarang terbang ke Eropa dan Amerika Serikat (AS) karena dinilai tidak aman.

Baca juga: Pengamat India: Kenapa Kecelakaan Pesawat Marak Terjadi di Indonesia?

Dilansir dari berbagai sumber, pesawat dengan nomor penerbangan KI574 itu memiliki rute Jakarta-Surabaya-Manado. Berangkat dari Bandara Juanda Surabaya pada 1 Januari 2007 pukul 12.55, pesawat Adam Air tersebut lepas landas dengan mulus. Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara Sam Ratulangi pukul 16.14 Wita.

Namun, pada 14.53 Wita, pesawat dilaporkan hilang kontak dengan ATC Bandara Hasanuddin Makassar. Pada kontak terakhir, posisi pesawat berada pada jarak 85 mil laut barat laut Kota Makassar pada ketinggian 35 ribu kaki.

Pencarian pun dilakukan. Namun, setelah beberapa bulan, hasilnya nihil. Lama tak terdengar, pada 27 Agustus, kotak hitam ditemukan di perairan Majene, Sulawesi Barat. Selain perekam data penerbangan (flight data recorder ata FDR), juga ditemukan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder atau CVR) di kedalaman 2.000 meter.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), seperti diwartakan DW, menyebut bahwa kecelakaan pesawat Adam Air ini terjadi dari kombinasi beberapa faktor. Kedua pilot memiliki andil dalam kegagalan memonitor instrumen penerbangan secara intens, terutama pada dua menit terakhir penerbangan.

Fokus konsentrasi pada tidak berfungsinya inertial reference system (IRS) telah mengalihkan konsentrasi kedua pilot dari Flight Instrument dan membuka peluang terjadinya increasing devent tidak teramati.

Kedua pilot juga tidak mendeteksi dan menahan decent sesegera mungkin dalam mencegah kehilangan kendali. Dari laporan pilot dan perawatan tersebut juga ditemukan, sudah terjadi lebih dari 150 kerusakan IRS di rentang Oktober sampai Desember 2006, sebelum pesawat tersebut kecelakaan pada 1 Januari 2007.

Saat itu, pesawat berada di ketinggian 35 ribu kaki. Menurut analisa KNKT dari rekaman flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR), telah masalah dalam sistem navigasi pesawat. Hal ini membuat pilot dan kopilot memfokuskan perhatian pada masalah IRS.

Mereka kurang lebih mengurusi IRS selama 13 menit akhir penerbangan. Hal ini membuat mereka kurang waspada terhadap indikator penerbangan lain. Pada ketinggian 35 ribu kaki, sebenarnya posisi autopilot masih on.

Hingga akhirnya, posisi IRS kiri dan kanan berbeda. Kru memindahkan IRS kanan dari posisi NAV (navigation) menuju posisi ATT (attitute). Sayangnya perubahan itu membuat auto pilot off dan pesawat mendadak miring kanan.

Jatuhnya pesawat Adam Air KI574 di tahun baru 2007 ini menewaskan seluruh orang di dalamnya yang berjumlah 102 orang (96 penumpang dan 6 awak). Ini merupakan angka kematian tertinggi dari setiap kecelakaan penerbangan yang melibatkan pesawat Boeing 737-400. Bangkai pesawat ditemukan tanggal 7 Mei 2011 di perairan Siompu, Buton, Sulawesi Tenggara. Sedangkan jenazah seluruh penumpang tidak ditemukan.

Kecelakaan tersebut ternyata berbuntut panjang. Laporan AFP pada Kamis (28/6/2007), 51 maskapai Indonesia termasuk Garuda dilarang terbang ke Uni Eropa, disusul regulator Indonesia turun ke FAA Class 2. Disebutkan, maskapai Indonesia dinilai tak aman menyusul empat kecelakan beruntun, bukan hanya dikarenakan kecelakaan pesawat Adam Air.

Baca juga: Hari Ini, 17 Tahun Lalu, Kecelakaan Pesawat MD-82 Lion Air di Solo Tewaskan 26 Orang

Tak dirinci memang empat kecelakaan yang dimaksud. Namun, data menunjukkan, di tahun 2007 hanya tiga kecelakaan pesawat; Adam Air flight KI574, Adam Air flight 172, dan Garuda Indonesia flight GA200.

Namun, sejak tahun 2009, satu per satu maskapai Indonesia mulai diizinkan masuk Uni Eropa dan itu dimulai dari Garuda Indonesia. Puncaknya, pada tahun 2018, seluruh maskapai Indonesia sudah diizinkan terbang ke Uni Eropa.

Mengenang Insiden Garuda Indonesia GA981, Berhasil Mendarat Mulus Meski Landing Gear ‘Pincang’

Berbicara penerbangan dari Jeddah, Arab Saudi, ke Bandara Soekarno-Hatta, sebagian dari kita mungkin pernah mendengar beberapa kecelakaan, seperti kecelakaan pesawat sewaan Garuda Indonesia di Sri Lanka dan menewaskan 183 dari 262 penumpang dan awak kabin pada 15 November 1978 atau mungkin kecelakaan lainnya pada 4 Desember 1974 di Sri Lanka yang juga menimpa jamaah haji.

Baca juga: Hari Ini, 42 Tahun Lalu, Ratusan Jamaah Haji Tewas Terpanggang di Pesawat PIA Flight PK740

Akan tetapi, mungkin tak banyak yang ingat bahwa penerbangan di dua rute tersebut juga pernah nyaris menelan korban jiwa. Salah satunya adalah pesawat Boeing 747-400 PK-GSH Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA981. Beruntung, pilot berhasil melakukan pendaratan mulus meski landing gear sebelah kiri di bagian sayap tidak keluar.

Dikutip dari Majalah Angkasa No. 12 September 2006 Tahun XVI, insiden yang menimpa Queen of the Skies Garuda Indonesia GA981 dimulai tak lama setelah pesawat lepas landas dari Bandara King Abdul Aziz. Ketika itu, ada es yang menyelimuti nacelle sekitar mesin kiri.

Kondisi ini jarang terjadi di Jeddah. Umumnya cuaca Jeddah sangat cerah.Pembentukan es di sayap dapat membahayakan, antara lain menambah beban sayap yang sudah berbobot 43 ton. Es juga dapat menyebabkan kematian mesin seperti PK-GWA di Bengawan Solo.

Es di sayap juga dapat mempengarugi aerodinamik dan menghambat lift. Untuk mengurangi es, dilakukan de-icing dengan aliran udara panas dari pipa di bawah kulit sayap. Sembari de-icing PK-GSH terus meluncur ke FL350.

Pada ketinggian FL350, panel hidrolik menyala menandakan kebocoran pada pompa nomor empat. Instrumen menunjukkan 0,34 kemudian menjadi 0,33. Saat itu belum tahu mengapa pipa bocor. Dari sinilah insiden bermula.

Untuk diketahui, Pesawat 747-400 mempunyai empat pompa hidrolik, satu tidak bekerja normal, itu masih normal. Jadi pesawat tetap meluncur ke Jakarta. Dari titik kebocoran hidrolik, masih ada 10 jam lagi terbang ke Jakarta.

Umumnya bila salah satu redudancy tidak bekerja, cadangan lain otomatis ambil alih. Setelah peringatan sistem hidrolik berlalu, penerbangan kembali normal. Hingga kedapatan menjelang landing, main landing gear kiri tidak dapat keluar.

Dalam buku manual 747-4U3, kondisi demikian masih normal. Disebutkan bahwa pompa hidrolik akan hasilkan tekanan 3000psi untuk disalurkan ke dalam 9 sistem penggerak. Termasuk alat kemudi, autopilot, roda pendarat, serta air braking system.

Satu pompa mati masih normal, dua pompa mati masih normal. Kondisi ini dimungkinkan karena ada cross gate. Hanya saja awak kokpit harus bekerja ekstra keras untuk mengalirkan hidrolik tersebut secara manual.

Sayangnya, saat approach landing, left landing gear tidak keluar. Meski bisa saja melakukan cross gate, tetapi faktanya landing gear sebelah kiri tidak keluar dan itu terllihat jelas dari darat.

Dengan kondisi seperti itu, tentu saja setelah berkomunikasi dengan ATC, pesawat diizinkan mendarat. Pesawat, yang saat itu dipimpin Capt Harry, kemudian melakukan hard landing dan meluncur di runway. Selama meluncur di runway, pesawat berhasil mempertahankan aerodinamikanya dan tidak miring ke kiri.

Selama meluncur di runway, rem roda pesawat tidak digunakan karena berpotensi menimbulkan percikan api. Pesawat akhirnya berhenti 300 meter dari ujung runway dengan roda depan hanya tiga meter dari center line alias serupa dengan pendaratan normal.

Baca juga: Ternyata, Flap Boeing 747 Garuda Indonesia Pernah Lepas di Udara

Secara teori, pendaratan tanpa landing gear kiri atau kanan memang dimungkinkan terjadi secara normal. Selain terjadi pada Garuda Indonesia, maskapai lain juga pernah mengalami hal serupa, salah satunya Virgin Atlantic.

Saat ini, penerbangan GA981 masih dipertahankan untuk penerbangan internasional dari Jeddah ke CGK PP, Jeddah – Bandara Sultan Iskandar Muda, dan Bandara Sultan Iskandar Muda – CGK. Namun, lain halnya dengan pesawat Boeing 747-400 PK-GSH, menurut Planespotter, pesawat tersebut sudah pensiun dan ‘dimutilasi’ di Cengkareng.

PO Sinar Jaya Buka Rute Bogor – Malang dengan Armada Suites Class

Belum lama ini perusahaan otobus yang identik dengan kelir warna pelangi membuka layanan baru mereka di jalur Malang – Surabaya – Jakarta – Bogor. Spesialnya, jalur ini langsung diisi dengan armada suites class garapan Karoseri Laksana, Ungaran, Jawa Tengah.

Baca juga: PO Sinar Jaya, Tawarkan Kenyamanan dengan Harga Bersahabat 

Jika sebelumnya suites class Jakarta – Surabaya yang launching sekitaran akhir 2019 menggunakan armada bersasis Hino RN, maka untuk jalur baru ini menggunakan sasis Mercedes Benz OH-1626.

Berbeda dengan suites class sinar jaya lainnya, untuk suites class rute ini berisikan 22 sleeper seat. Pada armada suites class sebelumnya berisikan 21 sleeper seat. Hal ini dikarenakan pada armada suites class yang baru tidak ada tempat penyimpanan barang di bagian kanan belakang kabin armada.

Untuk tiket sendiri dibanderol dengan harga Rp470.000 dan penumpang akan mendapatkan fasilitas sleeper seat, free snack, free air mineral, dan free servis makan.

Selain itu terdapat dispenser di bagian belakang kabin bus dan dilengkapi dengan kopi juga teh. Dengan adanya fasilitas ini penumpang bisa menikmati kopi sepanjang perjalanan dengan menggunakan bus ini.

Armada suites class ini sudah dilengkapi dengan suspensi udara bawaan, sehingga ketika melalui jalan yang tidak rata atau cenderung rusak, hal ini tidak akan mengganggu kenyamanan penumpang. Hal ini juga menjadi nilai tambah dari Sinar Jaya rute Bogor – Malang ini.

Bus berangkat dari terminal Arjosari, Malang, Jawa Timur pukul 3 sore. Untuk rumah makan sendiri dari barat ke timur ada di Cikamurang yakni RM Taman Selera, sedangkan dari timur ke barat servis makan dilakukan di rest area KM 519 wilayah Sragen.

Untuk jalur Bogor-Malang sendiri dikenal termasuk salah satu jalur yang gemuk penumpang atau ramai penumpang. Untuk karakter penumpang jalur ini, biasanya menyukai bus nyaman dengan fasilitas lengkap dan juga bus yang cepat sampai tujuan.

Baca juga: Bus ‘Dream Coach’ Adiputro, Hadirkan Sensasi Rebahan Sambil Pijat Sepanjang Jalan

Hadirnya Sinar Jaya di jalur Bogor-Malang PP tentu menambah pilihan bagi para penumpang di rute ini. Sebelumnya ada Rosalia Indah, Medali Mas, Gunung Harta, Lorena, Handoyo, Damri, Kramat Djati, Pahala Kencana, dan Haryanto. (Senna Aditiya – Penggemar Bus)

Ketika Bos Virgin Atlantic Sir Rirchard Branson ‘Ngamuk’ dan Gaungkan Kampanye “No Way BA/AA”

Bos Virgin Atlantic, Sir Rirchard Branson menentang keras rencana aliansi antara maskapai British Airways (BA) dengan maskapai American Airlines (AA). Ia bahkan mengadakan konferensi pers dan mengundang wartawan dunia pada Oktober 2008 silam, untuk menyaksikan peluncuran campaign “No Way BA/AA” yang menyinggung langsung aliansi antar kedua maskapai tersebut.

Baca juga: Serba-Serbi Soal Virgin Atlantic, Merek Dagang Milik Sir Richard Branson yang Mendunia!

Konglomerat asal Inggris tersebut memang sangat kesal dengan rencana aliansi BA/AA ketika itu. Aliansi tersebut dianggap merugikan maskapai lain yang mengambil rute yang sama dengan keduanya.

“Bakal banyak jalur-jalur penerbangan yang akan terpengaruh jika DoT (Departemen Transportasi Amerika Serikat) mengesahkan aliansi kedua maskapai,” ujarnya seperti dikutip Daily Mail.

Rencana aliansi kedua maskapai ini memang bisa berdampak pada turunnya harga tiket untuk semua rute BA dan AA, termasuk rute-rute trans-atlantik yang notabene menjadi rute andalan Virgin Atlantic milik Sir Richard. Maklum, aliansi ini diprediksi bisa mengurangi ongkos perjalanan serta biaya transit pesawat kedua maskapai.

Tak hanya itu, aliansi juga bisa meminimalisasi kerugian industri penerbangan. Bukan rahasia lagi, BA dan AA masuk ke dalam maskapai yang terpukul akibat krisis keuangan global pada tahun 2008.

Gagasan aliansi kedua maskapai ini sebenarnya sudah mencuat sejak satu dekade lalu. BA dan AA juga sudah lama dekat dan dikenal sebagai dua pendiri aliansi Oneworld pada tahun 1998.

Namun, aliansi yang lebih intens selalu terjadi kebuntuan. Bahkan, rencana aliansi terakhir tahun 2002 silam terpaksa batal lantaran otoritas penerbangan Amerika Serikat menerapkan aturan yang sangat ketat ke BA.

Berbeda dengan tahun 2002, DoT lebih cair menyambut rencana aliansi BA/AA tahun 2008. Otoritas penerbangan AS itu bakal memberikan pengecualian atau kekebalan dari undang-undang persaingan antimonopoli atas aliansi BA/AA dan beberapa mitra yang digandengnya, seperti Iberia, Finnair dan Royal Jordanian Airlines.

DoT berpandangan bahwa aliansi tersebut beserta mitranya di Oneworld, bisa menciptakan persaingan yang sehat dengan aliansi lainnya yang lebih tua, yaitu Star Alliance dan SkyTeam.

Di AS, sebagaimana di negara lain, undang-undang antimonopoli mencegah bisnis mengoordinasikan harga dan jadwal.

Tetapi, undang-undang tersebut dikecualikan dalam kasus-kasus tertentu, terutama yang menyangkut banyak manfaat bagi penumpang atau konsumen.

Dukungan DoT terhadap aliansi BA/AA berbalik 180 derajat dengan pandangan Departemen Kehakiman AS. Mereka menyerukan agar polemik atas rencana aliansi itu diselesaikan dengan tegas dan berorientasi pada kepentingan publik mengingat aliansi secara terang-terangan dapat merugikan persaingan dan konsumen.

Baca juga: Richard Branson – Sosok Pengidap Disleksia di Balik Nama Besar Virgin Ltd 

Sir Richard mengingatkan, jika aliansi BA/AA resmi terjalin secara legal, maka jutaan penumpang pesawat, dalam hal ini di rute-rute transatlantik yang menjadi sumber ketakutan Richard, akan dirugikan sampai tahun-tahun yang akan datang.

Sejak tahun 2010 sampai saat ini, aliansi BA/AA masih terus berjalan dan terus memperkuat kerjasama tersebut guna mengahadapi aliansi lain.

Khusus Terima Kedatangan Pekerja Migran Indonesia, Bandara Juanda Mulai Terima Penerbangan Internasional

Bandara Juanda Surabaya kini dibuka untuk penerbangan internasional khusus bagi warga negara Indonesia (WNI) pelaku perjalanan internasional. Hal tersebut seiring dengan terbitnya Surat Keputusan Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pintu Masuk (Entry Point), Tempat Karantina, dan Kewajiban RT-PCR Bagi Warga Negara Indonesia Pelaku Perjalanan Luar Negeri pada 1 Januari lalu.

Baca juga: Bicara On Time Performace, Bandara Juanda Surabaya Mampu Kalahkan Bandara Changi

Pembukaan penerbangan internasional Bandara Juanda akan difokuskan untuk melayani kedatangan pekerja migran Indonesia (PMI). Bandara Juanda dibuka untuk kedatangan penerbangan internasional pada 1 Januari 2022 lalu. Kedatangan penerbangan internasional nantinya akan dilayani di Terminal 2 (T2) Bandara Juanda sehingga area penerbangan dan penumpang internasional terpisah dari penumoang domestik.

Adapun alur kedatangan internasional di Bandara Juanda Surabaya yaitu:
1. Preflight: sebelum terbang ke Surabaya, pelaku perjalanan internasional harus sudah menyiapkan bukti vaksin dosis lengkap, memiliki hasil RT-PCR 3×24 jam, mengisi health alert card (HAC), memiliki dokumen pemesanan hotel karantina untuk non-PMI, mengisi e-PCR, memastikan dokumen keimigrasian, mengisi dokumen kepabeanan.

2. Holding Bay 1: Setelah keluar pesawat, pelaku perjalanan internasional akan menuju terminal kedatangan, khususnya di holding bay 1 di ruang tunggu Gate 9, di mana petugas imigrasi melakukan pemeriksaan paspor dan negara asal. Pelaku perjalanan internasional kemudian mengisi formulir dan dokumen screening.

3. Holding Bay 2: Setelah selesai di holding bay 1, pelaku perjalanan internasional menuju holding bay 2 di mana petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kementerian Kesehatan akan melakukan pemeriksaan dokumen kesehatan. Pada titik ini akan dibagi 2 jalur yaitu untuk PMI dan non-PMI.

4. Tes RT-PCR: Setelah pemeriksaan dokumen kesehatan oleh petugas KKP, penumpang internasional akan dilakukan tes RT-PCR dengan proses pengambilan sampel sekitar 2 menit. Sementara hasil RT-PCR ditargetkan dapat keluar maksimal 1-2 jam. Terdapat 10 bilik RT-PCR yang disediakan untuk melayani pelaku perjalanan internasional.

5. Pemeriksaan Imigrasi: Setelah dites RT-PCR, pelaku perjalanan internasional akan diperiksa dokumen keimigrasian secara keseluruhan oleh petugas imigrasi di mana terdapat 10 konter pemeriksaan imigrasi.

6. Pengambilan Bagasi: Setelah proses keimigrasian, pelaku perjalanan internasional mengambil bagasi.

7. Bea Cukai: Selanjutnya adalah proses pemeriksaan dokumen kepabeanan, atau pengurusan IMEI.

8. Holding Bay 3: Selanjutnya pelaku perjalanan internasional menuju holding bay 3 untuk menunggu hasil RT-PCR.

9. Pendataan oleh Satgas Covid-19: Setelah hasil RT-PCR keluar, pelaku perjalanan internasional akan dilakukan pendataan oleh Satgas Covid-19 di mana akan diperiksa dokumen dan hasil RT-PCR.

10. Area Penjemputan: Selanjutnya, pelaku perjalanan internasional menuju area penjemputan untuk menuju tempat karantina dan melakukan karantina selama 10×24 jam sesuai ketentuan SE Satgas Nomor 25/ 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi Covid-19.

Pada tahap awal, kapasitas kedatangan penumpang internasional atau PMI di Bandara Juanda hanya 300 penumpang per hari. Bandara Juanda juga menyediakan konter dan ruangan khusus isolasi bagi penumpang internasional dengan hasil tes positif Covid-19 sehingga dapat diarahkan langsung menggunakan kendaraan khusus menuju rumah sakit yang ditentukan.

Baca juga: Saab Pasok Teknologi Pengawas Landasan dan Lalu Lintas Udara di Bandara Juanda

Selain itu, pengelola Bandara Juanda juga berkoordinasi dengan KKP Kementerian Kesehatan untuk dapat menyediakan fasilitas S Gene Target Failure (SGTF) sehingga pada pemeriksaan kesehatan di bandara dapat mengidentifikasi varian Covid-19 Omicron. Bandara Juanda juga akan melakukan pengaturan jam operasi bandara dan slot penerbangan untuk mencegah terjadinya penumpukkan penumpang.

Intip Kondisi Terkini Pembangunan Jalur Ganda Stasiun Bogor Paledang

Berkunjung ke Stasiun Bogor tak lengkap rasanya jika kita melihat pembangunan jalur di Stasiun Bogor Paledang. Dengan jarak yang sangat dekat dengan Stasiun Besar Bogor ini bisa ditempuh cukup dengan berjalan kaki. Namun kondisi di luar Stasiun Bogor yang sangat ramai, membuat perjalanan menuju ke Bogor Paledang terbilang padat. Karena banyaknya angkot yang ngetem sembarangan dan juga padat akan pejalan kaki dari dan ke Stasiun Bogor.

Baca juga: Akses Keluar Stasiun Bogor Kini Ada Dua Pintu

Bogor Paledang Menjadi Tempat Perhentian Terakhir KA
Sudah berubah total Stasiun Bogor Paledang yang semula hanya memiliki satu jalur yang cukup sempit, namun kali ini mempunya 3 jalur yang sangat luas. Rel di stasiun ini pun telah diubah menjadi tipe yang lebih besar dengan bantalan beton yang sangat kuat dilewati lokomotif besar yakni seri CC 206 bahkan CC 300. Apalagi dengan digantikannya rel, bantalan dan taburan batu balas yang maksimal otomatis kecepatan yang ditempuh pun lebih besar.

Sudah lebih dari 2 tahun jalur antara Bogor – Sukabumi ini tidak digunakan semenjak pembangunan jalur ganda. Kereta api Pangrango (Eksekutif – Ekonomi) yang biasanya melintas, kini tertunda perjalanannya. Selama jalur tersebut masih single track proses langsir di lakukan di Stasiun Bogor dan masuk jalur 5. Namun kini setelah dibangunnya jalur ganda dan memiliki 3 jalur, perhentian terakhir dan gerakan langsiran dilakukan di Stasiun Bogor Paledang.

Tak hanya itu rencananya di tahun 2022 ini akan dilakukan uji coba jalur baru antara Bogor Paledang, Batu Tulis hingga Stasiun Maseng menggunakan lokomotif setelah pemecokan selesai oleh rangkaian kereta mekanik (MTT).

Baca juga: Kedatangan Kereta Istimewa ke Bogor, Railfans: Cegat Bareng, Kuy!

Progres Stasiun Bogor Paledang pun tahap selanjutnya adalah pembenahan yakni pemasangan peron, parkir dan area vital lainnya untuk penumpang yang naik dan turun di stasiun ini. Berharap penyelesaian jalur Bogor – Sukabumi lebih cepat, dan masyarakat bisa kembali merasakan indahnya pemandangan dengan Kereta Api Pangrango. (PRAS – Cinta Kereta Api)






















Dibalik Rencana ‘Gantikan’ Bandara Halim, Jangan Lupa Bandara Pondok Cabe Juga Home Base Satuan Militer dan Polisi Udara

Meski sampai berita ini diturunkan Bandara Halim Perdanakusuma masih beroperasi secara normal, namun sebelumnya santer adanya rencana penutupan sementara Bandara Halim untuk pelayanan penerbangan komersial pada tahun 2022. Selain untuk perbaikan prasarana dan landasan, Bandara Halim dikabarkan tengah dipersiapkan untuk mendukung hajatan G20. Terkait dengan rencana penutupan Bandara Halim, maka beredar kabar bahwa Bandara Pondok Cabe di Pamulang, Tangerang Selatan akan digunakan untuk mendukung penerbangan komersial.

Baca juga: Bandara Pondok Cabe, Ternyata Pernah Jadi Basis Pertahanan Penting Sekutu di Era Perang Dunia II

Walau statusnya masih tentatif, Bupati Blora Arif Rohman pernah mengungkapkan bahwa maskapai Citilink memberikan opsi rute penerbangan, yaitu dari Bandara Ngloram menuju bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan “Waktu rapat pertama dengan pihak Citilink penerbangan Ngloram menuju Halim dialihkan ke Pondok Cabe. Tapi kabar terakhir ini berubah. Sifatnya masih tentatif,” kata Arif, seperti dikutip dari Detik.com (2/1/2022).

Bagi pengguna jasa yang berdomisili di sekitaran Jakarta mungkin tak terlalalu masalah bila harus mengakses Bandara Pondok Cabe, lantaran lokasinya relatif dekat ibu kota dan mudah diakses oleh berbagai moda transportasi. Namun, perlu menjadi catatan, bahwa Bandara Pondok Cabe yang kini dioperasikan Pelita Air Service (anak perusahaan PT Pertamina), juga menjadi home base bagi unit penerbangan militer dan kepolisian, dimana peran satuan-satuan tersebut, salah satunya adalah melindungi obyek vital ibu kota. Karena itu, aspek keamanan akan menjadi perhatian serius bila Bandara Pondok Cabe jadi difungsikan untuk mendukung penerbangan komersial berjadwal.

NC-212 200 Puspenerbad di Bandara Pondok Cabe. (Foto: Kompas.com)

Bandara Pondok Cabe saat ini menjadi markas alias home base bagi Kepolisian Udara Republik Indonesia. Tidak itu saja, di Bandara Pondok Cabe juga menjadi markas bagi Skadron 21/Sena (Serba Guna) Puspenerbad (Pusat Penerbangan Angkatan Darat) TNI AD. Skadron 21 berisikan kekuatan helikopter serang Bell-412 series, NBO-105 dan pesawat angkut ringan NC-212 200 Aviocar. Masih ada satuan militer yang mengambil home base di Pondok Cabe, yaitu Puspenerbal (Pusat Penerbangan Angkatan Laut) TNI AL. Meski tak menempatkan skadron khusus di Pondok Cabe, namun Puspenerbal rutin mengoperasikan pesawat dan helikopter dari bandara ini untuk dukungan operasi dan latihan.

Baca juga: Damri JA Connection Buka Rute Pondok Cabe – Bandara Soekarno-Hatta 

Dikelola oleh institusi sipil, tapi menjadi rumah bagi satuan udara militer dan kepolisian, menjadikan pengamanan instalasi militer perlu perhatian tersendiri. Dari sejarahnya, Bandara Pondok Cabe dibangun pasukan sekutu pada tahun 1942, yaitu untuk menahan invasi Jepang ke Pulau Jawa. Dari spesifikasi, Bandara Pondok Cabe punya panjang runway 2.500 meter dan lebar 45 meter. (Haryo Adjie)

Indian Railways Siap Luncurkan Kereta Berkecepatan Tinggi dari Varanasi, Kota Suci Bagi Umat Hindu

Indian Railways saat ini sedang dalam ayunan penuh untuk meluncurkan kereta peluru di rute barunya yakni Varanasi ke Howrah. Kereta peluru di jalur ini akan melewati banyak kota di Bihar dan Jharkhand.

Baca juga: Impian Negeri Bollywood Punya Jalur Kereta Api Berkecepatan Tinggi Segera Terwujud

Varansi selama ini dikenal sebagai sebagai kota paling suci bagi umat Hindu India. Sementara Howrah adalah kota kedua terbesar di Negara Bagian Benggala Barat. Sebagaimana diwartakan KabarPenumpang.com dari laman msn.com (30/12/2021), ada lima kota di Bihar yang akan dihubungkan kereta berkecepatan tinggi ini. Bahkan otoritas perkeretaapian India mengatakan berharap pengumuman resmi akan segera dilangsungkan.

Jalur yang melintasi Bihar ini meningkat setelah otoritas perkeretaapian India mengumumkan proyek kereta peluru dari Mumbai ke Ahmedabad. Nantinya koridor kereta kecepatan tinggi Varanasi ke Howrah yang diusulkan akan diletakkan melalui rute dari Varanasi menuju ke Patna kemudian ke Bardhaman dan berakhir di Howrah.

Ada pun pihak otoritas perkeretaapian India mengharapkan koridor ini akan melewati kota Buxar, Arrah, Parna, Bihar Sharif dan nawada di Bihar. Untuk diketahui, survei dilakukan sebelum pengerjaan koridor kereta berkecepatan tinggi Varanasi – Howrah sepanjang 760 km dilakukan pada bulan Oktober kemarin.

Survei juga dilakukan di bagian Dhanbad di Jharkhand. National High Speed ​​Rail Corporation Limited sedang merencanakan rute untuk proyek mendatang ini. Kecepatan kereta peluru akan menjadi 350 km per jam, yang akan membantu menyelesaikan perjalanan jarak jauh ini dalam beberapa jam.

Setelah peluncuran kereta peluru Ahmedabad-Mumbai pada tahun 2017, orang-orang Bihar menuntut kereta berkecepatan tinggi serupa di negara bagian mereka. Kini tampaknya permintaan kereta peluru untuk Bihar akan segera terpenuhi.

Baca juga: Transformasi Sektor Perkeretaapian, India Bakal Hadirkan Hyperloop! Gegara Cina?

Indian Railways juga berencana untuk memulai layanan kereta api berkecepatan tinggi ini di berbagai kota, di anataranya mengumumkan kereta peluru dari New Delhi ke Patna dalam waktu dekat.

Perang Klakson Malam Tahun Baru. Railfans: Ini yang Ditunggu–tunggu

Siapa yang tak senang dan dan tak mau ketinggalan kemeriahan tahun baru yang semarak di penjuru dunia. Tak hanya masyarakatnya yang bersuka cita, tapi bagi penggemar kereta api di hari yang istimewa ini pun merupakan momen sangat ditunggu – tunggu. Bagimana tidak, momen tahun baru yang meriah dengan kembang api dan terompet kini Railfans mendapat momen yang berbeda, yaitu Perang Klakson Lokomotif dan KRL.

Baca juga: Halau Rusa di Jalur Kereta, Peneliti Jepang Pasang Klakson Suara Anjing Melolong di Lokomotif

Pergantian Tahun diwarnai Parade Klakson
Momen pergantian tahun 2021 ke tahun 2022 membuat Railfans berbondong – bondong mengabadikan sesuatu yang tak biasa. Berkunjung ke depo lokomotif dan KRL pun menjadi sasaran utama mereka untuk mengabadikan momen tersebut. Saat dilokasi persiapan pun sudah mereka lakukan dengan kamera masing – masing. Adapula yang melakukan Live Streaming di jejaring sosial media Youtube dan Instagram.

Suling lokomotif seri CC 206. (Foto: Sendy Prasetya)

Menuju pergantian tahun beberapa menit lagi, Railfans sudah berkumpul di satu tempat bersama warga yang juga ingin menyaksikan momen tersebut. Tak peduli waktu yang sudah larut malam, rasa penasaran Railfans akan momen tersebut terus mencuat seraya waktu hampir mendekati pukul 00.00 WIB.

Menuju 10 detik mendekati tengah malam, petasan sudah menggelegar heboh. Tepat pukul 00.00 WIB suara pun mulai terdengar. Klakson yang dikeluarkan dari suara lokomotif mulai berirama mengiringi pergantian tahun yang mulai datang. Suara bising di area Depo Lokomotif Cipinang membuat Railfans dan warga tak hentinya merekam dan memotret momen suka cita ini. Teriakan dari warga pun tak mau kalah dengan suara bisingnya klakson lokomotif.

Suasana Depo KRL Depok saat tahun baru 2022. (Foto: Sendy Prasetya)

Disaat bersamaan tak hanya lokomotif yang turut menyambut tahun baru dengan suara klaksonnya, beralih ke Depo KRL Depok pun juga turut menyambut tahun baru 2022 dengan irama klakson KRL yang menggelegar seluruh depo. Warga yang turut mengabadikan momen tersebut pun ramai dengan teriakan suka cita sembari mengabadikan dengan foto dan video.

Baca juga: Cegah Gajah Tertabrak Kereta, India Hadirkan Sensor Pengaktif Lampu di Sepanjang Rel

Seperti sudah tradisi atraksi membunyikan klakson lokomotif dan krl ternyata memang sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Dan tiap tahun momen ini memang yang ditunggu – tunggu para penggemar kereta api. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Rayakan Hari Jadi yang ke-40 Tahun, Bandara Abu Dhabi Ternyata ‘Sodaraan’ dengan Bandara Soetta

Bandara Internasional Abu Dhabi (AUH) merayakan hari jadinya yang ke-40 pada 2 Januari 2021 (beroperasi secara resmi pada 2 Januari 1982) lalu. Usut punya usut, ternyata bandara terbesar kedua di Uni Emirat Arab (UEA) tersebut memiliki keterkaitan dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bagaimana bisa?

Baca juga: Bandara Abu Dhabi Bangun Mega Terminal

Dilansir The National News, konstruksi Bandara Abu Dhabi pertama kali dimulai pada tahun 1979 dan dioperasikan tiga tahun berselang. Bandara ini didaulat menggantikan Bandara Al Bateen yang dianggap sudah usang untuk menghadapi lonjakan penumpang di masa mendatang. Meski begitu, Bandara Al Bateen masih beroperasi sampai saat ini sebagai bandara eksekutif.

Benar saja, selang satu dekade, terjadi lonjakan penumpang besar-besaran. Sepanjang akhir 1990-an dan awal 2000-an, Bandara Abu Dhabi terus diperluas. Tak hanya itu, maskapai nasional UEA, dalam hal ini emirat Abu Dhabi, pun didirikan pada tahun 2003 juga dalam rangka memenuhi peningkatan jumlah penumpang.

Sejak saat itu, Bandara Abu Dhabi terus dibanjiri wisatawan dan tumbuh dengan cepat, merangsang dibangunnya Terminal 2 pada bulan September tahun 2005, runway kedua pada tahun 2008, dan Terminal 3 pada bulan Januari 2009, dan terus berkembang sampai menjadi bandara terbesar kedua di UEA, di bawah Bandara Internasional Dubai (DXB).

“Abu Dhabi International memiliki sejarah yang membanggakan dalam menyediakan infrastruktur kelas dunia dan layanan kelas atas, sekaligus berfungsi sebagai katalis untuk pertumbuhan selama 40 dari pencapaian 50 tahun bangsa yang kami banggakan,” kata Shareef Al Hashmi, CEO Bandara Abu Dhabi.

“Ketika kepercayaan konsumen pulih dan lalu lintas berangsur pulih, kami akan terus mengeksplorasi teknologi baru, produk, dan cara berbisnis yang akan mendorong peningkatan keberlanjutan dan menciptakan pengalaman bandara terdepan di industri. Sama bangganya dengan pencapaian kami di masa lalu, kami juga sama bersemangatnya dengan masa depan cerah kami,” tambahnya.

Saat ini, Bandara Abu Dhabi tengah membangun Midfield Terminal dan jika sudah beroperasi ini akan membuka jalan bagi masa depan penerbangan yang lebih cerah di negara tersebut.

“Bandara Internasional Abu Dhabi telah menghubungkan dunia dengan Abu Dhabi selama 40 tahun dan memicu kemunculan emirat sebagai tujuan utama pariwisata dan perdagangan,” ujar Sheikh Mohammed bin Hamad bin Tahnoon, chairman Bandara Abu Dhabi.

“Almarhum (Founding Father) Sheikh Zayed yang memiliki visi ke depan untuk membangun bandara, dan berkat visinya Bandara Abu Dhabi telah membangun warisan yang ditempa oleh kolaborasi, inovasi, dan layanan,” lanjutnya.

Baca juga: Ruwet, Ternyata Ini Alasan Uni Emirat Arab Punya Banyak Bandara Internasional

“Ini adalah warisan yang akan terus tumbuh selama 40 tahun ke depan, karena mendukung pembangunan sosial dan ekonomi yang sedang berlangsung di Abu Dhabi dan UEA,” tutupnya.

Di balik kemegahan Bandara Abu Dhabi, tak banyak yang menyadari bahwa bandara tersebut memiliki nilai histori yang sama dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sebab, keduanya dibangun oleh arsitek yang sama, yaitu Paul Andreu. Arsitek asal Perancis tersebut juga merupakan arsitek Bandara Charles de Gaulle Paris.