Perluas Jaringan Penerbangan ke Eropa, Timur Tengah dan Afrika, Garuda Indonesia dan Emirates Kerja sama Codeshare

Meski bakal lebih fokus untuk menggarap rute domestik, Garuda Indonesia harus pasang strategi untuk mempertahankan pasar internasional. Seperti kabar terbaru, Garuda Indonesia dan Emirates sepakat untuk bekerjasama dalam memperluas jaringan penerbangan kedua maskapai. Kesepakatan tersebut dilaksanakan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dan Chief Commercial Officer Emirates, Adnan Kazim pada hari Kamis (4/11) lalu di Dubai.

Baca juga: Untung-Rugi Gabung Aliansi SkyTeam yang Juga Diikuti Garuda Indonesia, Apa Saja?

Melalui kerja sama yang berlaku efektif mulai 2 Januari 2022, penumpang Garuda Indonesia akan mendapatkan kemudahan akses ke berbagai destinasi yang dioperasikan oleh Emirates diantaranya Dubai, Bahrain, Moskow, Johannesburg, Kairo, London dan Manchester. Sementara itu, penumpang Emirates yang akan melaksanakan perjalanan ke Indonesia melalui Jakarta dapat menikmati layanan penerbangan lanjutan ke berbagai destinasi prioritas di Indonesia seperti Denpasar, Surabaya, Makassar, Balikpapan , Manado, Medan, Padang , Solo.

Adapun kemudahan layanan penerbangan tersebut dapat dinikmati secara end-to end mulai dai pemesanan tiket, hingga kebijakan bagasi (baggage check-through) yang dapat diambil di destinasi akhir. Lebih lanjut, kedua maskapai juga akan menjajaki peluang kerja sama dalam pengelolaan program frequent flyer yang memungkinkan penumpang untuk mendapatkan dan menukarkan poin yang telah diperoleh ke dalam bentuk tiket penerbangan maupun manfaat ekskusif lainnya.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra menyambut baik kerja sama dengan Emirates tersebut mengingat kerja sama tersebut akan memperkuat jaringan internasional Garuda Indonesia khususnya di wilayah Timur Tengah, Eropa dan Afika.

Adnan Kazim, Chief Commercial Officer, Emirates mengatakan: “Kami senang dapat menjalin kemitraan codeshare dengan Garuda Indonesia untuk memberikan pelanggan kami akses ke lebih banyak tujuan di Indonesia serta konektivitas tanpa batas dan nyaman ke delapan tujuan domestik di Indonesia ke dan dari Dubai dan ke jaringan global kami melalui Jakarta, dan tiga tujuan melalui Denpasar”.

Baca juga: Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo

Sebagai upaya untuk memperkuat jaringan internasional, hingga dengan Oktober 2021, Garuda Indonesia telah memiliki kerja sama codeshare dengan sedikitnya 24 mitra maskapai di seluruh dunia yang menghubungkan para penumpang Garuda Indonesia ke berbagai pilihan destinasi di seluruh dunia.






















Mengapa Area Sekitar Runway Ditanami Rumput? Inilah Jawabannya

Rumput di sekitar runway atau landasan pacu bandara kadang kala berefek negatif bagi pesawat. Itu karena, rumput seringkali jadi penyebab datangnya kawanan burung ke sekitar runway. Tentu saja keberadaan burung bisa menimbulkan bird strike dan sangat membahayakan penerbangan.

Baca juga: Mengenal RESA, ‘Juru Selamat’ Pesawat di Bandara

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Singkatnya, bird strike mayoritas terjadi di sekitar bandara. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter.

Di Amerika Serikat, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Akan tetapi, dampak buruk rumput di sekitar landasan pacu bukan berarti menjadi alasan untuk menghilangkannya (rumput) semata untuk mencegah terjadinya bird strike. Itu (mencegah bird strike) bisa saja dilakukan, dengan melibatkan teknologi lain tanpa menyingkirkan keberadaan rumput di sekitar runway.

Lagi pula, keberadaan rumpur di sekitar runway bukan untuk hiasan semata. Semua ada tujuannya. Dikutip dari Quora, rumput di sekitar runway sangat berguna untuk berbagai hal, bahkan lebih banyak kegunaannya ketimbang efek negatifnya yang disebut-sebut mengundang kawanan burung hinggap di sana sehingga menyebabkan bird strike.

Rumput di sekitar runway disebut oleh salah satu pengguna Quora berfungsi sebagai drainase. Jadi ketika terjadi hujan deras, air di landasan pacu akan mengalir luar runway. Kemudian, rumput dan juga tanah di sekitar runway akan menyerap air dan mencegah terjadinya banjir di landasan pacu.

Selain itu, dalam kondisi darurat, rumput di sekitar runway juga berfungsi untuk menahan laju pesawat yang tergellincir ketika hujan deras. Itu terjadi karena rumput, berkolaborasi dengan lunaknya tanah, membuat roda pendaratan atau landing gear tenggelam dalam tanah. Pada akhirnya, laju pesawat benar-benar tertahan dan membuatnya berhenti sebelum menabrak tanggul atau bahkan lebih buruk dari itu, keluar dari area bandara dan jatuh ke jurang atau ke area lainnya di luar bandara.

Secara hukum atau panduan operasional bandara, penggunaan rumput di sekitar runway juga diatur dengan sangat detail, bersatu dengan keberadaan RESA atau Runway End Safety Area.

Menurut Annex 14 Convention on International Civil Aviation (ICAO), zona aman di ujung landasan harus dimiliki setiap bandara. Sebelumnya, RESA hanya rekomendasi tetapi mulai tahun 2005 silam RESA menjadi sebuah keharusan.

Dilansir skybrary.aero, Runway End Safety Area sendiri adalah permukaan di sekitar landasan pacu yang disiapkan untuk mengurangi risiko kerusakan pada pesawat jika terjadi undershoot, overshoot, atau overrun dari runway.

Baca juga: Tahukan Anda, Aspal Runway 10 Kali Lipat Lebih Kuat Dibanding Aspal Jalan Raya!

Namun, sebelum masuk ke RESA, Runway Strip juga menjadi instrumen tambahan penting di ujung landasan yang juga patut diketahui. Besaran dimensi runway strip berbeda-beda, tergantung dari bandara atau runway itu sendiri.

Runway Strip memang masih berupa beton. Namun, di area RESA, seluruhnya sudah harus berupa tanah yang ditanami rumput dengan luas area yang beragam, tergantung kode runway itu sendiri. Untuk runway Kode 3 dan 4, RESA membentang sepanjang 240 meter dengan lebar sekitar 125 meter.






















Berkaca dari Insiden Boeing 777 Garuda Indonesia, Rekonstruksi Runway Jadi Fokus Revitalisasi Bandara Halim Perdanakusuma

Rencana penutupan Bandara Internasional Halim Perdanaksuma selama 9 bulan disebutkan terkait dengan revitalisasi, dimana bandara peninggalan Belanda ini dipersiapkan sebagai pusat logistik pemimpin negara yang akan menghadiri KTT G20 yang direncakan digelar tahun 2022. Dan bagian dari revitalisasi adalah penguatan pada landas pacu (runway).

Baca juga: Sejarah Concorde Mendarat-Lepas Landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Sonic Boom Bikin Kaca Pecah?

Bakal dihadiri oleh petinggi mancanegara seperti Presiden Amerika Serikat Joe Biden, membuat otoritas bandara harus menghitung cermat kekuatan landas pacu. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Novie Riyanto mengatakan, terjadi penurunan kualitas elemen bandara, terutama pada runway atau landasan pacu. “Kami sedang menyiapkan desain sisi udara seperti rekonstruksi runway dan perbaikan sistem drainase. Hal-hal tengah kami bahas dengan berbagai pihak,” ujar Novie dalam keterangannya di Kompas.com  (5/11/2021).

Meski rangkaian KTT G20 dipusatkan di Bali, pemerintah juga memperhitungkan aspek logistik dan penerbangan. Mengingat, kegiatan pertemuan dunia lainnya selalu berkaitan dengan daerah-daerah lain di luar tempat acara. Bukan hanya Bandara Halim Perdanakusuma, beberapa bandara alternatif juga akan dipersiapkan untuk mendukung hajatan KTT G20.

Kilas balik tentang runway di Bandara Halim, pernah terjadi insiden rusaknya lapisan landasan saat digunakan oleh pesawat widebody Boeing 777 Garuda Indonesia. Peristiwa terkelupasnya landasan di Halim Perdanakusuma terjadi pada 28 Juli 2017 saat memberangkatkan jemaah haji ke Arab Saudi, akibatnya bandara sempat ditutup selama tiga jam untuk proses perbaikan.

Pangkal musababnya terkelupasnya lapisan runway ternyata disebabkan faktor usia. “Mengelupasnya runway di Halim memang tidak disangka-sangka. Meski sudah dilakukan perawatan rutin, tapi usia runway di sana memang lebih tua dari runway di Bandara Soekarno-Hatta yang juga sudah tua saat ini,” ujar Head of Secretary and Legal PT Angkasa Pura II Agus Haryadi, seperti dikutip dari Kompas.com.

Selain usia runway, Agus juga menyinggung tentang ramainya Bandara Halim, terutama dalam beberapa bulan terakhir ketika sejumlah rombongan tamu kenegaraan melalui tempat tersebut. Sebagian besar rombongan kenegaraan menggunakan pesawat berbadan lebar dengan bobot bagasi yang cukup besar, seperti rombongan Raja Arab Saudi. “Bawaan di pesawatnya lebih banyak, seperti mobil berapa unit. Bebannya bisa jadi lebih berat dari pesawat haji, tapi saat itu alhamdulillah enggak ada kendala, begitupun dengan penerbangan haji tahun-tahun lalu di Halim,” kata Agus.

Salah satu bahan baku pembuat runway Halim adalah aspal. Di Bandara Soekarno-Hatta, bahan baku pembuat runway adalah beton. Kedua bahan tersebut telah melewati uji standar yang ditetapkan berdasarkan peraturan yang berlaku. Agus mengungkapkan, ada perbedaan karakteristik antara keduanya yang membedakan ketika runway menopang bobot pesawat. Runway Halim yang terkelupas sekitar tiga kali dua meter dengan kedalaman 25 sentimeter.

Baca juga: Kisah Avro Anson RI-003, Pesawat Multirole Bekas PD II yang Tewaskan Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma

Berkaca dari insiden yang terjadi pada tahun 2017,  Pemerintah sepertinya tak ingin mengambil risiko ketika banyak tamu VVIP mancanegara akan menggunakan fasilitas di Bandara Halim Perdanakusuma.






















Begini Proses ‘Memasak’ Makanan di Pesawat Sampai Dihidangkan ke Penumpang

Pada penerbangan agak jauh di atas dua jam, maskapai biasanya menyediakan makanan ringan hingga berat. Khusus untuk makanan berat, proses penyajiannya tentu tidak mudah. Selain harus berpacu dengan waktu dan bergelut di tempat sempit untuk menyediakan begitu banyak makanan, pramugari juga perlu menghangatkan makanan terlebih dahulu selama kurang lebih 20 menit.

Baca juga: Sajian Makanan di Pesawat Wajib Ekstra Bumbu, Inilah Alasannya!

Sudah menjadi rahasia umum bahwa makanan dihidangkan penumpang pesawat dimasak di darat, bukan di pesawat. Berbagai menu makanan beserta boxnya memang didesain untuk dihangatkan kembali di pesawat.

Setelah selesai dimasak (biasanya tak jauh dari bandara), berbagai menu makanan untuk penumpang pesawat akan didinginkan atau dibekukan terlebih dahulu, dikemas, dan didistribusikan ke lokasi tertentu di bandara, sebelum akhirnya dimuat ke dalam pesawat.

Sampai di sini, prosesnya bisa dibilang agak menantang. Sebab, menu makanan di darat cenderung berubah ketika disajikan di udara. Sudah begitu, ketika selesai dimasak dan kemudian didinginkan, biasanya ada perubahan rasa. Apalagi ketika dihangatkan kembali, rasanya sudah hampir pasti berubah. Karenanya, katering pesawat harus bisa mengukur agar makanan tetap memiliki cita rasa kuat saat dihidangkan penumpang di udara.

Tak cukup sampai di situ, saat makanan dimuat di pesawat juga menantang dikarenakan box harus tetap rapat dan tak boleh terbuka untuk mencegah udara masuk. Jika tidak, kualitas makanan akan menurun dan itulah yang terkadang membuat penumpang mengeluh karena hambar.

Dilansir Simple Flying, usai dimuat ke dalam pesawat, masing-masing box berisi makanan dihangatkan selama sekitar 20 menit. Tentu, ini bergantung pada menu makanan yang disajikan. Untuk makanan penumpang first class, biasanya, usai dihangatkan, makanan dipindahkan ke wadah lain sebelum dihidangkan.

Di beberapa kondisi, maskapai bahkan harus benar-benar memasak di dalam pesawat yang tengah mengudara untuk memberikan pelayanan terbaik bagi penumpang first class. Akan tetapi, koki, atau dalam hal ini pramugari yang dilatih khusus untuk memasak, tak mempunyai banyak pilihan memasak melainkan hanya telur. Ya, hanya bisa memasak telur, tidak lebih.

Meski demikian, memasak telur di atas ketinggian tentu tak semudah memasak telur di darat. Tekanan di dalam kabin serta kelembapan rendah membuat berbagai rasa, seperti asin, manis, dan pedas berkurang signifikan. Itulah mengapa makanan di pesawat rata-rata harus ekstra bumbu. Sebab, bila tidak, makanan, baik yang dimasak di darat ataupun di udara, akan tak terasa apapun alias hambar.

Baca juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari

Terkadang, karena rasanya yang kurang memuaskan, banyak penumpang memutuskan tak memakan makanan di pesawat. Akibatnya, banyak makanan yang terbuang percuma setiap tahunnya.

Menurut penelitian IATA, 1,14 juta ton makanan untuk penumpang pesawat terbuang percuma pada tahun 2017 lalu. Angka di tahun-tahun berikutnya, sebelum virus Corona mewabah ke seluruh dunia, tentu semakin meningkat seiring peningkatan jumlah penumpang.






















Waduh! Makan Bersamaan di Kabin Pesawat Tingkatkan Risiko Penularan Covid-19

Seiring melandainya tren Covid-19, maka perjalanan udara mulai kembali dibuka untuk para pelancong. Namun, prosesi penumpang makan di pesawat masih berisiko tinggi untuk terjadinya penularan Covid-19. Hal ini ditunjukkan dalam studi di pesawat yang tengah mengudara dan penumpang makan yang tentunya melepaskan masker.

Baca juga: Waspada, Face Shiled Tidak Bisa Cegah Penularan Covid-19

Dilansir KabarPenumpang.com dari eater.com (2/11/2021), Wall Street Journal mencatat bahwa sebuah penelitian medis baru-baru ini dilakukan oleh sebuah kelompok di University of Greenwich di London, yang menunjukkan risiko penularan virus 59 persen lebih tinggi selama layanan makan satu jam dalam penerbangan 12 jam. Bahkan persentase ini tetap lebih tinggi jika dibandingkan dengan tetap menggunakan masker selama penerbangan.

Dari paparan studi tersebut, penumpang harus menanggung risiko untuk keuntungan yang sangat terbatas dari makanan dalam penerbangan. Apalagi, penumpang sadar dengan Covid-19 yang masih ada meski sudah mendapat vaksin.

Sehingga bisa dikatakan, melepas masker di kabin meski aliran udara segar dan terfilter secara konstan tetap menghadirkan risiko serius. Untuk itu, di awal pandemi, kebanyakan maskapai menghentikan layanan makanan di udara (in-flight meals). Makanan di udara baru diberikan pada penerbangan jarak jauh.

Hal tersebut membuat para peneliti memberikan saran pada maskapai, salah satunya dengan percepatan waktu pengiriman, sehingga kelompok penumpang bisa makan bergantian dengan yang lainnya tetap menggunakan masker. Sayangnya, maskapai belum terlalu gesit dalam menanggapi pedoman kesehatan masyarakat, terutama jika berpotensi membuat kesal penumpang yang sudah lapar.

Jadi, jangan mengandalkan protokol pengiriman makanan di pesawat yang disajikan waktu dekat. Selain itu para peneliti menyarankan agar setiap penumpang menunggu beberapa menit lagi untuk camilan atau menyesap kopi.

Baca juga: Penularan Covid-19 Lebih Subur Terjadi di Ruangan Ber-AC Tanpa Sirkulasi Udara

Tidaklah ideal jika semua orang di sekitar Anda melepas masker mereka, tetapi tetap memakai masker Anda saat orang lain makan akan tetap memberikan lapisan perlindungan ekstra. Lalu bayangkan betapa lebih enaknya bila Anda makan 20 menit setelah semua orang makan, mengetahui bahwa Andalah satu-satunya yang menikmati udara segar pesawat tanpa masker. Tapi kembali lagi, anda harus lebih kuat menahan lapar.






















Kecoa Bikin Geger British Airways, Ditemukan di Area Penyimpanan Makanan di Kabin

Bagaimana jika seekor kecoa terlihat dalam sebuah penerbangan? Mungkin hal itu bisa saja terjadi dan membuat banyak orang panik karena geli dengan kehadiran serangga yang dianggap kotor tersebut. Ternyata salah satu pesawat milik Biristh Airways ditumpangi oleh penumpang gelap (kecoa).

Baca juga: Menjijikan, Ada Kecoa di Makanan ‘Bersegel’ Pada Penerbangan Full Service Air India

Kecoa tersebut terlihat oleh seorang penumpang di pantry, tepatnya di tempat makanan penumpang disiapkan di dalam kabin British Airways. Video kecoa yang tidak diumumkan tersebut membuat kegemparan di antara petinggi Britisha Airways yang kemudian dibagikan di halaman online awak kabin.

Insiden penemuan kecoa ini membuat pihak maskapai melakukan investigasi setelah meminta maaf pada semua penumpang dalam penerbangan tersebut. KabarPenumpang.com melansir laman the-sun.com (29/10/2021), dalam rekaman yang dibagikan tersebut diberi judul Stowaway from New York.

Bahkan dalam video itu, seorang awak kabin yang jijik dapat terdengar berseru, “Ya Tuhan!” saat dia melihat bug.

Serangga itu terlihat dala video sedang menggeliat di dalam wadah logam di mana makanan dan minuman disimpan ke pesawat. Itu diyakini berada di antara kotak jus jeruk dalam penerbangan New York ke London.

“Ini sangat menjijikkan. Tidak ada yang mau berpikir seekor kecoa ada di makanan dan minuman yang disajikan di ketinggian 30 ribu kaki. Kebaikan tahu jika dia terbang solo,“ ujar salah seorang narasumber maskapai.

“BA memperhatikan dengan serius bagaimana hal itu terjadi. Ini adalah bencana di mana-mana. Kami sedang menyelidiki masalah ini,” ujar British Airways lagi.

Baca juga: Setelah Insiden Kecoa, Kini Belatung Hidup ‘Tersaji’ di Makanan Pakistan International Airlines

Untuk diketahui, kecoa dapat membawa penyakit seperti salmonella, disentri dan gastroenteritis.






















Bus Listrik Terpanjang Akan beroperasi di Denmark

Belum lama ini, Solaris (manufaktur bus) menerima pesanan pertama bus listrik terbaru dan terpanjang. Ini adalah Urbino 24 di MetroStyle, Denmark yang merupakan bus listrik bi-artikulasi” 24 meter. Dioperasikan oleh Tide Bus Danmark, bus ini diharapkan akan beroperasi sebanyak 14 unit kota di Aalborg.

Baca juga: BYD Perluas Jaringan Pelayanan Bus Listrik di Jepang

Pihak Solaris menyebutkan, bus tersebut dirancang khusus untuk rute BRT (Bus Rapid Transit). Pesanan dari Denmark adalah yang pertama untuk kendaraan artikulasi ganda dengan penggerak listrik ini. Solaris juga menyebut pesanan itu “belum pernah terjadi sebelumnya” karena panjang kendaraan dan pilihan desain MetroStyle.

“Kami sangat senang mendengar bahwa Denmark akan menjadi negara pertama yang menerima pengiriman bus listrik Urbino 24 MetroStyle”, kata Petros Spinaris, anggota Dewan Manajemen untuk Penjualan, Pemasaran, dan Layanan Pelanggang yang dikutip KabarPenumpang.com dari electrive.com (30/10/2021).

Dia menambahkan pihaknya “yakin bahwa kolaborasi kami dengan Tide Bus Danmark akan membuka babak baru dalam kegiatan kami dan mendukung transportasi perkotaan yang berkelanjutan.” Listrik Urbino 24 dalam versi MetroStyle ditenagai oleh dua motor listrik dengan output sistem 240 kW.

Paket baterai menampung tidak kurang dari 700 kWh dan akan diisi melalui steker. Solaris tidak memberikan rincian tentang daya pengisian dan waktu pengisian atau kapasitas penumpang. Masing-masing dari 14 bus listrik yang beroperasi di Aalborg akan dilengkapi dengan sistem bantuan pengemudi, termasuk apa yang disebut Solaris sebagai MirrorEye.

Sistem kamera menggantikan kaca spion belakang dan samping dan memastikan “visibilitas optimal”. Ini juga mengurangi lebar keseluruhan bus dan sistem tambahan Mobileye Shield+ semakin menghilangkan bahaya titik buta. Berkat kamera yang dipasang di kedua sisi bus, pengemudi diperingatkan akan pejalan kaki atau pengendara sepeda yang dekat dengan kendaraan.

Untuk meningkatkan manajemen armada, MetroStyle listrik Urbino 24 juga akan menampilkan eSConnect, alat diagnostik untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengoptimalkan perawatan yang dilakukan oleh produsen bus Polandia. Solaris telah memulai debutnya dengan tipe e-bus di BusWorld 2019 di Belgia.

Baca juga: Mampu Angkut 250 Penumpang, BYD Automobile Luncurkan Bus Listrik Terpanjang di Dunia

Dalam pernyataannya, pabrikan menggambarkan ide di balik kendaraan tersebut sebagai “untuk menciptakan platform untuk produksi serial masa depan tidak hanya kendaraan 24 meter dengan penggerak listrik atau hibrida tetapi juga bus listrik.” Pesanan yang dilakukan oleh Tide Bus Danmark adalah yang pertama untuk kendaraan listrik bi-artikulasi ini, begitu juga Solaris.






















Video: Charging Ponsel di Kereta Lewat Hembusan Angin di Luar Jendela

Beruntunglah penumpang kereta di Indonesia bahwa stop kontak listrik telah hadir di setiap rangkaian kereta, mulai dari kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi, PT KAI telah menyiapkan fasilitas pengisian daya (charging) untuk gadget Anda. Namun belum semua negara bisa menyajikan layanan seperti di atas. Contoh di India dan Pakistan, stop kontak masih jadi barang langka.

Baca Juga: India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya

Atas kelangkaan stop kontak di rangkaian kereta kelas ekonomi, justru menjadi tantangan bagi kreator di Pakistan Science Club (PSC). Dengan memanfaatkan jendela kereta yang dapat dibuka tutup, kreator PSC merilis peragkat pengisian daya melalui media angin. Dalam video berdurasi kurang dari dua menit yang diunggah ke laman youtube.com ini, tampak sebuah kipas berukuran sedang terpasang di bagian kaca luar gerbong kereta yang tengah melaju.

Dengan begitu, kipas akan terus berputar karena diterpa oleh angin. Pada bagian depan kipas tersebut, dilekatkan sebuah alat yang tersambung dengan sebuah kabel yang berujung pada voltmeter. Ketika kipas tengah berputar, tampak voltmeter menunjukkan angka yang tidak konsisten. Ini membuktikan bahwa kipas yang berputar karena terkena terpaan angin tersebut berhasil menciptakan daya listrik tidak statis. Adapun angka yang ditunjukkan oleh voltmeter tersebut berkisar antara 3,4 hingga 3,6 volt.

Setelah itu, rekaman menunjukkan sebuah ponsel yang tengah berada dalam kondisi baterai terisi. Dengan beredarnya video ini, maka semakin mempertegas bahwa penggunaan energi terbarukan lebih baik ketimbang menggunakan sumber energi lain yang mungkin akan berdampak pada kelestarian lingkungan.

Baca Juga: 100 Persen Tenaga Kereta di Belanda Kini Andalkan Energi Terbarukan

Pemberdayaan sumber energi terbarukan belakangan ini memang tengah ramai dikembangkan oleh perusahaan yang mengusung tema ramah lingkungan. Sebut saja perkeretaapian India yang merilis kereta Diesel Electric Multiple Unit (DEMU), dimana semua kebutuhan listrik di setiap gerbong, meliputi lampu, kipas angin, dan layar penampil informasi akan dipasok oleh sistem panel surya yang tertanam di atas kubah kereta.

Di Shinkansen, Toleransi Antar Penumpang Kereta Begitu Kuat

Masih ingat tentang aturan PT KAI yang melarang penumpangnya membawa peuyeum (fermentasi tape) ke dalam rangkaian kereta? Ya, di sebagaian jenis moda transportasi seperti kereta api dan pesawat memang memberlakukan larangan membawa makanan yang memiliki aroma tajam atau menyengat. Sebenarnya, peraturan yang didasarkan pada subjektifitas yang diterapkan oleh PT KAI ini juga diadopsi oleh negara lain lho!

Baca Juga: Peuyeum Dilarang Masuk Kabin Kereta?

Sebelum melangkah lebih jauh, peraturan tentang pelarangan membawa makanan beraroma kuat ini tidak bisa disamaratakan dengan larangan merokok di dalam moda atau peraturan lainnya. Karena aturan ini berkaitan langsung dengan indera penciuman seseorang. Ketika di satu sisi orang mengatakan bau durian atau peuyeum tidak menimbulkan masalah, namun beda cerita dengan orang lain yang tidak menyukai makanan tersebut. Mereka bisa saja langsung mual ketika mencium aroma dari makanan yang tidak mereka sukai.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantoday.com, Jepang pun memberlakukan hal yang sama terhadap para penumpangnya yang membawa makanan beraroma kuat. Ada beberapa etiket yang harus diperhatikan oleh penumpang sebelum mereka menyantap makanan mereka di dalam kereta peluru atau yang dikenal dengan nama Shinkansen ini.

Pertama dan paling utama adalah tetap menjaga kebersihan setelah penumpang menyantap makanan mereka. Poin ini merupakan sebuah keharusan yang tidak bisa dinomorduakan. Kedua adalah tetap berlaku santun kepada sesama penumpang, hal ini berkaitan dengan makanan yang mereka bawa ke dalam moda. Seperti yang sudah disinggung di atas, tidak semua orang suka terhadap satu makanan yang memiliki aroma kuat.

Bahkan ada kasus seorang penumpang yang terpaksa ‘menyelundupkan’ ayam goreng dari salah satu restoran cepat saji asal Amerika Serikat ke dalam kereta Shinkansen. Hal tersebut ia lakukan karena ia tidak ingin mengganggu penumpang lain yang tidak suka dengan aroma ayam goreng ini. Semuanya berkaitan dengan toleransi sesama penumpang.

Baca Juga: 10 Peraturan Lalu Lintas Unik Ini Siap Membuat Anda Kernyitkan Dahi

Sama halnya seperti ayam goreng tadi, 551 Horai Pork Bun, sebuah penganan berupa bakpao yang menjadi cemilan favorit dari Osaka yang sama-sama memiliki aroma kuat. Tidak sedikit juga penumpang yang membawa penganan ini ke dalam kereta dan memakannya. Namun kembali lagi, tingginya toleransi antar penumpanglah yang menjadikan peraturan ini seolah tidak ada di sistem perkeretaapian Negeri Sakura.

Otoritas Bandara Kenya Lelang 70-an Pesawat Mangkrak, Primadonanya Boeing 707 Seharga Rp36 Juta

Pemandangan pesawat mangkrak yang tak terurus lazim kita lihat di bandara-bandara besar. Bagi pengelola bandara, ‘timbunan’ bangkai pesawat merupakan persoalan tersendiri, selain menyita lahan, deretan pesawat dengan cat kusam juga menjadi pemandangan yang kurang enak dilihat oleh penumpang pesawat yang melintas, terlebih di bandara yang berstatus internasional.