Bandara Domodedovo Moskow dan S7 Airlines telah bekerja sama guna mengimplementasikan teknologi Scan & Fly self -bag drop dari Société Internationale de Télécommunications Aéronautiques (SITA). Pihak SITA sendiri mengatakan bahwa teknologi self-bag drop ini telah diuji coba pada counter check-in maskapai S7 di Bandara Domodedovo sejak awal September kemarin. Hasilnya pun bisa dibilang sangat memuaskan, dimana sekira 1.000 penumpang mengapresiasi teknologi baru tersebut.
Baca Juga: Emirates Airlines Siap Hadirkan Teknologi Biometric Path di Bandara Internasional Dubai
Berdasarkan lansiran KabarPenumpang.com dari laman planetbiometrics.com (16/10/2018), rencananya pada akhir tahun 2018 ini, sebanyak 24 counter check-in yang ada di Bandara Domodedovo akan dilengkapi dengan teknologi serupa, sehingga maskapai lain juga dapat menjajal teknologi Scan & Fly self -bag drop.
Teknologi akan mempercepat dan menyederhanakan proses check-in penumpang. Dilengkapi dengan sistem pemindai dokumen dan barcode reader, total hanya dibutuhkan tiga langkah sederhana bagi para penumpang yang hendak melakukan check-in. Pertama barcode boarding pass akan dipindai, lalu tag untuk tas dicetak, dan yang terakhir tag ditempelkan di tas dan siap untuk ‘disetorkan’ ke bagian kargo.
Direktur Bandara Domodedovo, Igor Borisov mengatakan bahwa ini merupakan transformasi penting untuk meningkatkan pengalaman penumpang di Bandara Domodedovo. “Kami akan secara aktif menerapkan teknologi pintar sehingga penumpang mendapatkan pengalaman luar biasa di bandara,” ujar Igor.
“Kami senang dapat menerapkan teknologi Scan & Fly self bag drop ini bersama dengan mitra kami, S7 Airlines dan SITA. Nilai-nilai berharga yang kami dapatkan adalah teknologi, dan inovasi yang akan mendorong kualitas pelayanan Bandara Domodedovo terhadap para calon penumpang,” tandasnya.
Sejalan dengan Igor, Direktur Passenger Experience di S7 Airlines, Svetlana Kulyukina mengatakan bahwa pihak maskapai akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pelayanan maksimal kepada setiap penumpang layanannya.
Baca Juga: Bandara Heathrow Siap Adopsi Teknologi Biometrik Pada Musim Panas 2019
“S7 Airlines akan secara aktif menerapkan teknologi modern untuk kepuasan para pelanggan kami – membuat perjalanan mereka senyaman mungkin. Hadirnya teknologi ini akan mempersingkat waktu penumpang di bandara sebelum mereka mengudara,” kata Svetlana.
“Tidak seperti layanan pendahulu, kini penumpang hanya membutuhkan waktu kira-kira satu menit di counter check-in dan selepas itu mereka bisa langsung menuju zona pemeriksaan.” tutupnya singkat.
Osaka, salah satu kota di Jepang yang merupakan tujuan pelancong dunia, baru-baru ini menghadirkan robot pintarnya di Stasiun Osaka, Jepang. Robot Artificai Intelligence atau AI ini dipasang oleh West Japan Railway Co. (JR West) untuk memudahkan pelancong dalam perjalanan mereka.
Baca juga: Minimalisir Tenaga Manusia, Jepang Mulai Kembangkan Puluhan Robot di Stasiun
Kehadiran robot ini sendiri di Stasiun Osaka, Jepang pada awal bulan Oktober 2018. Robot ini mampu membantu pelancong untuk menemukan jalan yang mereka tuju seperti menuju objek wisata Umeda Sky Building atau Menara Tsutenkaku.
KabarPenumpang.com melansir dari laman asahi.com (22/10/2018), robot AI tersebut mampu berkomunikasi dalam bahasa Jepang dan Inggris. Dimana tulisan itu hadir di layar robot AI tersebut, sehingga pelancong lokal dan asing dapat bermanuver melalui sistem stasiun kereta api.
Robot AI tersebut juga bisa memandu pelancong yang mencari toilet dan fasilitas lainnya yang ada di stasiun Osaka. Tak hanya robot AI, JR West sendiri menguji sistem display type yang menampilkan AI di Stasiun Osaka dari 16 hingga 18 Oktober 2018 kemarin.
Kehadiran display tersebut juga membantu pelancong berbicara atau menggunakan layar sentuh di Stasiun Osaka. Jika Anda tidak mendapatkan kesempatan untuk merasakan robot AI pada awal bulan, JR West juga akan menguji panduan robot AI lainnya di Stasiun Kyoto mulai 30 Oktober-1 November 2018 dan 13-15 November 2018.
Baca juga: Bantu Penumpang Bawa Barang Hingga ke Gerbang, KLM Hadirkan Robot Care-E
Setelah mempelajari hasilnya, JR West dapat menempatkan perangkat di stasiun kereta di Jepang. JR West bukanlah perusahaan pariwisata pertama yang menguji kecerdasan AI. Baik KLM dan Kiwi.com telah menguji perangkat lunak intelijen AI dalam operasi layanan pelanggan mereka.
Robot AI ini sendiri sebelumnya sudah ada di beberapa bandara dunia seperti Schipol di Belanda, Incheon di Korea Selatan dan beberapa bandara lainnya. Tak hanya itu selain robot AI, beberapa stasiun lain juga menghadirkan robot-robot serupa yang mampu membantu pelancong bahkan penyandang disabilitas pun bisa memahami perjalanan mereka dengan robot-robot tersebut.
Di sejumlah negara besar seperti Jerman, Perancis, Italia, dan Spanyol sudah terpasang jaringan rel kereta cepat yang digunakan oleh para komuter atau pelancong setiap harinya. Dengan frekuensi layanan setiap harinya yang bisa dibilang cukup padat, dan ribuan penumpang yang dilayaninya, tidak jarang moda penghubung antar kota/negara ini dijadikan sasaran empuk tindak terorisme. Tentu saja tidak melulu harus dengan bom, namun jika ditinjau lebih jauh lagi, dampak dari teror yang dilakukan oleh oknum ini akan menjadi masif seiring korban luka atau jiwa yang jatuh.
Baca Juga: Transportasi di Rusia Rawan Serangan Teroris
Pada tanggal 7 Oktober 2018 kemarin, jaringan rel kereta peluru Jerman, Intercity Express Trains (ICE) mengklaim bahwa layanan tersebut mendapatkan teror dari oknum tidak dikenal. Seorang masinis ICE 529 mengaku mendengar kegaduhan dari salah satu armada kereta peluru nasional Negeri Bavaria tersebut. Setelah dilakukan pengecekkan, ternyata kereta yang kala itu tengah ‘bersandar’ di Stasiun Pusat Munich mengalami pecah kaca depan.
Di waktu yang hampir bersamaan, teror dalam bentuk lain terjadi di salah satu jalur jaringan kereta cepat Jerman ini. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman commdiginews.com (30/10/2018), pihak berwenang mendapati ada rel yang direnggangkan dengan menggunakan batang kayu di antara jalur Nuremberg dan Munich. Belum lagi coretan vandalisme dan ‘teror’ dalam bentuk tulisan Arab yang disebar oleh oknum-oknum tersebut semakin menambah kengerian di keseluruhan jaringan kereta api Jerman.
Jika sebuah jaringan kereta api disabotase oleh sekelompok ekstremis untuk membunuh sejumlah besar penumpang dan menghancurkan kereta api, jalur, dan infrastruktur di sekitarnya, dampak langsungnya akan sangat besar. Kerugian menyeluruh dan ‘timpangnya’ jaringan transportasi di negara yang menjadi sasaran teror ini merupakan dampak yang paling awal muncul ketika kelompok ekstremis tersebut berhasil melancarkan aksinya.
Dibarengi dengan perkembangan teknologi yang masif, teror-teror semacam ini pada akhirnya bisa ditanggulangi dan tidak sampai memakan korban. Memang, pihak berwenang di Jerman dan sejumlah otoritas terkait belum dapat menyimpulkan apakah serangkaian teror tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain atau tidak – namun kuat dugaan, teror ini saling terkait.
Baca Juga: Teror di Stasiun Adelaide, Dua Pria Dorong Mobil ke Lintasan Kereta
Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh guna menghindari kejadian semacam ini terulang kembali adalah peningkatan keamanan, yang juga harus melibatkan peran teknologi guna memaksimalkan hasil akhir. Pun dengan sinergi antar lembaga yang harus semakin diperkuat sehingga dapat mengusut tuntas tindak teror dan setidaknya memberikan jaminan sementara bahwa tindak teror serupa tidak akan terulang kembali di masa yang akan datang.
Banyaknya botol-botol plastik bekas air minum di stasiun India, membuat pemerintah dan pihak stasiun menghadirkan sesuatu yang bisa mengurangi sampah botol plastik tersebut. Belum lama ini, stasiun kereta di India resmi meluncurkan box penghancur botol plastik ini.
Baca juga: Tanaman Vertikal di Botol Plastik Bekas, Percantik Stasiun Ludhiana
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thehansindia.com (6/11/2018), kehadiran box unit penghancur botol ini diresmikan oleh Direktur Stasiun K Satyanarayan pada Senin lalu. Kehadiran bus ini karena banyaknya penumpang yang menggunakan botol air plastik sekali minum.
Kehadiran mesin penghancur tersebut ada di beberapa stasiun kereta api. Nantinya mesin-mesin ini akan menghancurkan botol-botol bekas menjadi potongan-potongan kecil dan otoritas kereta api berencana menjualnya ke beberapa perusahaan untuk mendaur ulangnya.
Mesin penghancur botol plastik ini pertama hadir di salah satu stasiun bagian timur India yakni Stasiun K Satyanarayan tepatnya platform nomor 1 di stasiun dan direktur stasiun mengatakan akan memasang 12 mesin lagi platform-platform stasiun lain. Kehadiran mesin ini menjadi penting karena India telah bergerak menuju ramah lingkungan.
Sehingga diputuskan untuk mengambil semua langkah yang mungkin oleh kereta api untuk membantu otoritas sipil dalam hal ini. Manajer Stasiun M Subodh Mithra dan pejabat lainnya hadir pada kesempatan itu.
Baca juga: Motor Bebek Berubah Jadi Lori di Stasiun Banjar
Sebelumnya, Stasiun Ludhiana menggunakan botol bekas untuk membuat tanaman vertikan yang mampu mempercantik stasiun tersebut. Kehadiran tanaman vertikal tersebut merupakan hasil buah pikiran bersama dari departemen Pajak Pendapatan Ludhiana dan divisi Ferozepur Perkeretaapian India.
Tahap awal, proyek ini akan menghadirkan lebih dari dua ribu limbah botol plastik yang diisi berbagai varietas tanaman. Kemudian botol bekas berisi tanaman ini akan di tempatkan pada dinding paltform nomor 1 stasiun itu.
Sistem penyiramannya pun dengan irigasi tetes yang canggih dimana mengeluarkan jumlah air sesuai dengan yang dibutuhkan botol tersebut melalui pengaturan waktu. Menurut otoritas kereta api India, pemasangan taman vertikal ini mengurangi jumlah masyarakat yang meludahkan masala dan gutkha di dinding platform.
Meski belum diketahui bagaimana operasionalnya, label Electronic Road Pricing (ERP) sudah dikenal bagi warga Jakarta kerap melintasi Jalan Sudirman dan Jalan HR Rasuna Said. Walau gerbang ERP telah berdiri, yang jadi pertanyaan adalah, kapan ERP ini akan mulai diterapkan Dishub Pemprov DKI Jakarta?
Baca juga: Asal Usul ERP Singapura: Ketika Pembangunan Jalan Tak Setara Pertumbuhan KendaraanKabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ERP akan dioperasikan berbarengan dengan transportasi masall Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Hal ini berarti ERP juga akan berlangsung pengoperasiannya pada Maret 2019 mendatang.
“Penerapan ERP kan sebagai strategi untuk dukung penggunaan angkutan umum massal, utamanya saat MRT Jakarta sudah beroperasi. Masih proses tender,” kata Plt Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko yang dikutip dari okezone.com (2/11/2018).
Sigit mengatakan, pihaknya juga ikut melibatkan pihak terkait termasuk operator angkutan umum dalam menentukan kebijakan transportasi. Dia mengaku dalam mengatur transportasi tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah.
“Harus ada peluang-peluang swasta untuk in charge di dalam situ, tidak melulu hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah. Jadi kita bagaimana mendesain satu program, suatu sistem yang bisa bermanfaat buat semua tapi juga bisa menggerakkan keseluruhan,” jelasnya.
Awalnya ERP diperkirakan akan mulai beroperasi pada April 2019 atau satu bulan setelah MRT Jakarta mengular di ibukota. Hal ini dikarenakan menunggu proses tender yang diperkirakan selesai pada 25 Oktober 2018 kemarin. Sehingga proyek pelaksanaan pembangunan ERP bisa diselesaikan.
Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga melakukan pembuatan Peraturan Daerah untuk tentang ERP. Sigit mengatakan, naskah akademik telah disiapkan dan akan dibahas di Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD DKI pada Juli 2018.
Sigit mengatakan, sebenarnya telah ada Perda No.5/2015 yang membahas mengenai ERP. Hanya saja, dalam Perda disebutkan bahwa ERP akan diterapkan di sepanjang koridor MRT Jakarta sejauh 19,2 km. Padahal, MRT Jakarta mengusulkan agar ERP diterapkan berbasis area.
Baca juga: Bakal Isi Area Belanja di Stasiun MRT Jakarta, Inilah 15 Peritel yang Telah Terpilih
“Ini kami bahas nanti di perdanya seperti apa. Target kami Desember 2018 sudah ditetapkan,” kata Sigit.
Pada waktu menjabat, menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan, pihaknya akan mengakselerasi pembahasan Perda ERP. Hal tersebut akan dilakukan dalam empat bulan mendatang ketika pembahasan di DPRD berlangsung.
“Perdanya kami dorong buat tahun ini supaya disahkan. Kami akselerasi mulai Agustus,” kata Sandiaga.
Lounge biasanya disediakan oleh pihak maskapai atau dikelola masing-masing bandara. Fasilitas yang diberikan pun lengkap baik makanan, minuman hingga tempat beristirahat sembari menunggu keberangkatan pesawat. Bahkan, keberangkatan internasional, penumpang pengguna lounge juga mendapat antrean khusus tak seperti penumpang lainnya.
Baca juga:Hadirkan “Super Lounge,” Disinilah Lokasi Starbucks Terbesar!
Dirangkum KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (15/10/2018), ternyata lounge bandara memiliki banyak macam, salah satunya ruang VIP atau eksklusif. Di Heathrow memiliki Heathrow VIP untuk penumpang kelas atas. Frankfurt memiliki Terminal kelas satu Lufthansa untuk penumpang kelas satu mereka.
Baru-baru ini, Los Angeles menghadirkan The Private Suite mereka dengan konsep pengalaman bandara mewah bagi penumpang yang bersedia membayar premi. Private Suite ini sesuai dengan namanya, dimana penumpang akan menerima ruang pribadi sambil menunggu penerbangan.
Meskipun ditujukan untuk pelancong kaya dan terkenal, private Suite sendiri terbuka bagi penumpang yang mau membayar untuk mendapatkan kenyamanan tersebut. Private Suite berada di sisi selatan bandara Los Angeles.
Setibanya di fasilitas, penumpang akan diantar ke sebuah kamar pribadi yang damai dan tenang. Bahkan setiap penumpang yang menggunakan ruang tersebut tidak akan bertemu satu dan lainnya. Satu kamar eksklusif ini dirancang muat hingga empat orang.
Fasilitas yang diberikan yakni, perawatan manikur, pijat atau potong rambut gratis untuk pengguna. Para tamu memiliki akses ke bar, mendapatakan makanan ringan, minuman panas atau dingin. Bahkan mereka bisa memesan makanan gratis tersebut ke kamar.
Akses toiletnya pun sangat canggih, tapi sayangnya tidak bisa untuk mandi. Sehingga bila penumpang ingin mandi harus memesan tempat kepada staf. Para staf ini pun mudah ditemukan, karena setiap suite memiliki delapan orang yang ditugaskan membantu penumpang dan masing-masing memiliki peran yang berbeda.
Tak hanya mendapatkan fasilitas dalam suite saja, penumpang juga akan diantar ke pemeriksaan keamanan pribadi dan tidak perlu mengantre. Penumpang juga di kawal menuju landasan bahkan, BMW series 7 pun digunakan untuk kenyamanan penumpang sehingga perpindahan menuju landasan lebih cepat karena penerbangan komersial berangkat dari terminal pusat.
Proses untuk kedatangan serupa tetapi terbalik, alih-alih melalui keamanan, penumpang diarahkan melalui ruang pabean pribadi. Di sini paspor diperiksa untuk kedatangan internasional. Penumpang kemudian dibawa ke suite untuk menunggu sementara tas mereka dikumpulkan dan dibawa ke terminal.
Baca juga: Lounge Bandara Ini Super Eksotis, Dilengkapi Kolam Renang Yang Menghadap Ke Apron
Private Suite dirancang hanya untuk orang kaya dan terkenal. Dengan demikian, penumpang harus mengeluarkan sedikit uang untuk akses ke fasilitas swasta. Penumpang bukan anggota harus membayar $3500 untuk penerbangan domestik dan $4000 untuk penerbangan internasional.
Keanggotaan tersedia seharga $4500 setahun. Seiring dengan sejumlah manfaat tambahan, ini juga memotong biaya menggunakan fasilitas hanya $2700 dan $3000 masing-masing. Sementara perusahaan saat ini ingin memperluas, ada rencana untuk membuka fasilitas tambahan di JFK dan Miami dalam tahun depan. Apakah Anda berniat menggunakan The Private Suite?
Tentu Anda semua sudah akrab dengan jenis moda darat berukuran besar yang kerap kali digunakan untuk mengangkut muatan ‘raksasa’. Ya, Mitsubishi Fuso memang terkenal sebagai truk pengangkut barang-barang besar di Indonesia, namun ternyata merk dagang yang satu ini juga memiliki pasar lain yang tidak kalah cemerlang, yaitu Light Bus. Diketahui, Mitsubishi Fuso baru saja mengubah desain tampilan depannya yang akan menjadi ciri khas dai moda ini.
Baca Juga: Kenali Shuttle Bus Jakarta – Bandung, Beda Perusahan Beda pula Fasilitasnya
Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman busnews.com.au (2/11/2018), Mitsubishi Fuso Rosa, moda dengan wajah baru ini akan diluncurkan untuk dijual di seluruh outlet di Jepang dalam waktu dekat ini. Menurut salah satu juru bicara dari pihak perusahaan, tampilan baru ini merupakan perubahan visual front-end pertama pada model ini sejak tahun 1997 silam. “Desain sabuk hitam (black belt) akan diterapkan di seluruh jajaran produk Mitsubishi Fuso – termasuk Mitsubishi Fuso Rosa,”
Selain menggunakan desain baru, pada bagian lampu depan dan lampu kabut Mitsubishi Fuso Rosa sendiri nantinya akan dlengkapi dengan lampu LED – hanya untuk model tertentu saja. Lebih lanjut, Mitsubishi Fuso Truck and Bus Corporation (MFTBC), yang berada di bawah naungan Daimler Trucks Asia (DTA) mengatakan ‘bahasa’ baru mengintegrasikan elemen desain “Fuso black belt” yang meningkatkan logo Fuso dan menandakan identitas merek baru dari kendaraan Mitsubishi Fuso di masa mendatang.
Guna memastikan wilayah persebarannya, juru bicara perusahaan tersebut mengutarakan bahwa Australia akan menjadi ‘ladang’ mereka untuk menguji coba kelayakan dari produk Mitsubishi Fuso Rosa ini di Negeri Kangguru. “Mitsubishi Fuso Rosa akan menjalankan program percontohan di Australia, guna memastikan apakah moda ini cocok untuk kondisi di sana atau tidak,” paparnya.
Baca Juga: Baraya Travel, Dipilih Karena Tak Buat Dompet Merintih
Tidak hanya desainnya saja yang mengalami transformasi, pihak Mitsubishi Fuso juga ‘mengoprek’ sedikit bagian dalam dari moda ini – seperti penggunaan 3.0-litre four-cylinder engine, dan DCT dual clutch automated transmission yang diklamin oleh perusahaan, “mudah untuk digunakan.”
Bagi para penumpang pesawat, mengalami delay sekira satu jam merupakan hal yang biasa dan dapat ditolerir. Namun apa jadinya jika pesawat yang Anda tumpangi mengalami delay selama tiga hari? Duh, tentu ini menjadi masalah tersendiri ya. Masih mending jika pihak maskapai memberikan kompensasi berupa voucher makan, minum, dan akomodasi menginap di hotel, kalau tidak? Percaya atau tidak, kejadian di atas pernah menimpa penumpang maskapai kenamaan Inggris, British Airways beberapa waktu yang lalu.
Baca Juga: Pasca Bangkrut, Primera Air Campakkan Penumpangnya Begitu Saja!
Sebanyak lebih dari 200 penumpang ditelantarkan begitu saja di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York pada Kamis (1/11/2018) kemarin. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, British Airways Flight 2036 dijadwalkan berangkat dari Orlando pada Kamis malam dan diperkirakan tiba di Bandara Internasional Gatwick di Inggris pada Jumat (2/11/2018) pagi.
Penerbangan itu sendiri memakan waktu kurang lebih delapan jam – namun karena dilatarbelakangi oleh masalah teknis pada mesin pesawat, memaksa sang pilot untuk melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional John F. Kennedy, tidak berselang lama setelah pesawat tersebut lepas landas.
“Saya cukup takut kala itu, dimana pilot mengumumkan harus melakukan pendaratan darurat,” ujar salah seorang penumpang, dikutip dari laman foxnews.com (5/11/2018).
Namun ketakutan yang dialami oleh sebagian penumpang pesawat tersebut barulah permulaan dari ‘ujian’ yang sesungguhnya. Setibanya mereka di Bandara Internasional John F. Kennedy, pihak British Airways terkesan lepas tangan dan menelantarkan para penumpangnya begitu saja. Tidak adanya kejelasan informasi dari pihak maskapai membuat para penumpang terpaksa beristirahat di lantai bandara. Tidak hanya orang tua, pun dengan anak kecil.
Bahkan dikutip dari New York Post, salah satu dari penumpang maskapai tersebut merupakan seorang anak kecil penderita kanker. Sontak kejadian ini mendapat sorotan dari berbagai media – bahkan tidak sedikit dari para saksi yang melihat langsung kejadian ini dan para penumpang mengunggah foto yang berhasil mereka abadikan ke sosial media Twitter.
“#BA2036 merupakan layanan yang buruk. Kami tidak percaya pihak maskapai membiarkan kami dan anak-anak tidur di lantai bandara selama lebih dari lima setengah jam,” ujar salah seorang penumpang bernama Rosie Slater Walts di sosial media Twitter.
Tidak hanya Rosie, sejumlah penumpang lain pun turut menyuarakan kekecewaan mereka terhadap British Airways melalui berbagai platform sosial media. Jangankan untuk kompensasi bermalam di hotel, untuk voucher makan dan minum pun tidak diturunkan oleh pihak British Airways.
Baca Juga: Duh, Gara-Gara Satu Penumpang, Frontier Airlines Flight 87 Dibatalkan!
Menanggapi hal tersebut, seperti biasa, pihak maskapai full service ini mengklarifikasi dan meminta maaf kepada para penumpang. “Kami menghargai bahwa ini merupakan pengalaman yang melelahkan dan membuat frustrasi bagi pelanggan kami, dan kami telah meminta maaf atas keterlambatan panjang penerbangan mereka,” ujar pihak British Airways dalam sebuah pernyataan.
Setelah terbengkalai selama dua hari, akhirnya British Airways Flight 2036 tiba di Bandara Internasional Gatwick pada Minggu – tiga hari setelah pesawat tersebut bertolak dari Orlando.
Rencana ambisius Cina untuk membangun Jalur Sutera kereta Cina menuju jantung Asia menuai kontroversi. Tergabung ke dalam rencana raksasa “Gugus Sabuk dan Jalan” (Belt and Road) yang dicanangkan Presiden Cina dan pemimpin partai, Xi Jinping yang gencar mempromosikan prakarsa “Gugur Sabuk dan Jalan” senilai triliunan dolar AS, nampaknya otoritas terkait harus kembali memutar otak karena pembangunan jalur kereta yang ditujukan untuk mengirim logistik ini dinilai masih belum menggeser kedigdayaan dari jalur laut.
Baca Juga: Bangkitnya Jalur Sutra Modern Dari Cina ke Daratan Eropa
Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.comdari berbagai laman sumber, banyak pihak yang berasumsi bahwa untuk mengirimkan logistik dari Pasifik menuju Atlantik dengan menggunakan Kereta Api Trans-Siberia yang sudah eksis sejak tahun 1916 merupakan cara yang paling efisien. Namun hal tersebut terbantahkan karena data statistik menunjukkan bahwa pengiriman via jalur laut terbukti lebih efisien, fleksibel, dan memiliki daya angkut yang lebih banyak ketimbang si ular besi.
Sebagai contoh perbandingan, pada tahun 2017 kemarin, lalu lintas kontainer Trans-Siberian Railway mengalami peningkatan ke angka 278.000 TEU (Twenty-foot-Equivalent Units) dari 43.900 TEU pada tahun 2014. Namun angka tersebut masih setengah dari jumlah unit yang berhasil diangkut oleh moda laut yang pada tahun yang sama berhasil mengangkut 480.000 TEU. Sementara itu, total volume maritim pada rute timur-barat mencapai 15,9 juta TEU tahun lalu, setara dengan hampir 60 Jalur Kereta Trans-Siberia.
Itu baru dari segi kapabilitas antar moda untuk mengangkut logistik, belum lagi ditinjau dari pemakaian bahan bakar yang juga dimenangkan oleh moda laut. Sejumlah kelemahan di sektor moda darat tersebutlah yang kemudian menjadi bahan evaluasi berbagai otoritas – dimana mereka sepakat bahwa pengiriman via jalur laut terbilang masih jauh lebih aman ketimbang Pemerintah Cina membangun Jalur Sutera kereta api menuju belahan bumi bagian timur.
Statemen tersebut semakin menguat manakala kocek yang harus dikeluarkan untuk pembangunan jalur kereta ini tidaklah murah. Memang, dari sejumlah titik, terdapat keuntungan di balik kerja sama yang terjalin antara Pemerintah Cina dan Eropa ini.
Baca Juga: Ini Dia! 8 Jalan Raya Terpanjang di Dunia
“Jalur Sutra bukan hanya jalan untuk pengembangan ekonomi, perdagangan dan industri, tetapi juga jalan untuk pendidikan dan budaya,” kata Li Jianmin, Menteri Penasihat misi Cina ke Uni Eropa.
“Saya berharap layanan kereta masa depan antara Antwerp (Belgia) dan Shanghai akan memainkan peran untuk menjembatani Belgia dan Cina, dan semua negara di sepanjang Jalur Sutra,” tandas Li.
Perkembangan moda listrik di jaman yang sudah serba maju ini semakin menjadi. Identik dengan Tesla sebagai salah satu moda listrik paling mahsyur saat ini, sudah banyak perusahaan yang lalu turut mengembangkan moda serupa dengan model yang berbeda – seperti halnya Aero Hover-1. Alih-alih Anda memboyong Tesla dengan harga yang tinggi, harga yang ditawarkan Aero Hover-1 untuk kedua moda listriknya ini bisa dibilang jauh lebih terjangkau.
Baca Juga: Rapide 3 Electric Vehicle, “Bemo” Canggih Untuk Jasa Antar Paket
Perusahaan yang berbasis di New Jersey ini mengklasifikasikan moda yang dibuat Neighborhood Electric Vehicle atau mungkin maksud dari kelas ini adalah kendaraan listrik yang ramah lingkungan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (1/11/2018), moda pertama yang dikembangkan oleh Aero Hover-1 adalah moda roda tiga diperuntukkan bagi satu penumpang. Dengan menggunakan motor 1.500 Watt, moda ini bisa menembus kecepatan hingga 48 km per jam.
Membutuhkan waktu sekitar delapan jam untuk mengisi ulang daya dari moda ini. Dalam kondisi penuh, jarak maksimum yang dapat ditempuh adalah sekira 70 km. Layaknya sebuah mobil konvensional, moda roda tiga ini juga dilengkapi dengan sistem pencahayaan yang memadai, Air Conditioner (AC), tail camera, hingga alarm anti pencurian. Anda juga bisa membawa beberapa kantung belanjaan dan disimpan pada bagian bagasi yang terletak di bagian belakang bangku pengemudi.
Dalam sebuah video promosi yang ditautkan Aero Hover-1 pada laman youtube.com, keuntungan lain dari moda roda tiga ini adalah ukurannya yang mini, sehingga memudahkannya untuk parkir dan menembus kemacetan.
Hover-1 Dragonfly. Sumber: newatlas.com
Sedangkan satu moda lainnya adalah Hover-1 Dragonfly, moda berbentuk sepeda motor listrik. Sama seperti moda roda tiga diatas, Hover-1 Dragonfly juga dilengkapi dengan motor 1.500 Watt. Masalah kecepatan, sepeda motor listrik ini mengungguli si moda roda tiga – kecepatan maksimum yang dapat dikebut adalah 55 km per jam. Namun karena kecepatan maksimum yang dapat ditempuh moda ini cukup tinggi, maka jarak tempuhnya pun jadi berkurang – hanya sekitar 56 km saja dengan waktu isi ulang enam jam.
Baca Juga: The Solo, Electric Vehicle Roda Tiga yang Ramah Lingkungan nan Nyentrik
Diketahui, kedua moda ini merupakan subjek kampanye dari Indiegogo yang dibanderol dengan harga pra produksi massal US$5.000 (Rp76 juta) untuk moda roda tiga, dan US$2.500 (Rp38 juta) untuk Hover-1 Dragonfly. Selain canggih, penggunaan moda berbasis tenaga listrik ini akan membuat Anda secara langsung mengurangi polusi udara. Tertarik?