Hokkaido Shinkansen, Bisa Tetap Kebut Walau di Bawah Laut

Kurang lengkap rasanya jika Anda mengunjungi Jepang tapi tidak menjajal kereta berkecepatan tinggi di sana, Shinkansen. Ya, ular besi ini mampu menembus kecepatan di atas rata-rata ini – lebih dari 200km/jam memang dianggap sebagai salah satu tanda perkembangan kereta api paling mutakhir di jaman milenial seperti saat ini. Kereta ini sendiri punya banyak varian yang tersebar di hampir seluruh Negeri Sakura, salah satunya yang paling terkenal adalah Hokkaido Shinkansen. Baca Juga: Seikan, Terowongan Kereta Terpanjang dan Terdalam di Dunia Sesuai dengan namanya, kereta ini menghubungkan Prefektur Aomori di Honshu dan Hokkaido yang terbentang jarak sejauh 148,9km. Mulai mengular sejak 26 Maret 2016 silam, layanan Hokkaido Shinkansen dioperatori oleh Hokkaido Railway Company atau yang biasa disingkat JR Hokkaido. Dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, jaringan Hokkaido Shinkansen ini sendiri mulai dibangun pada Mei 2005. Wah, itu berarti pembangunannya hampir memakan waktu 11 tahun, ya! Nah, ada hal unik lain dari layanan ini, yaitu Hokkaido Shinkansen melintasi terowongan kereta terpanjang dan terdalam di dunia, Seikan Tunnel. Seperti yang sudah pernah dibahas sebelumnya, Seikan Tunnel ini menghubungkan pulau Honshu dan Hokkaido – terowongan bawah laut. Diketahui, layanan Hokkaido Shinkansen menggunakan dua jenis kereta, yaitu H5 series dan E5 series. Kedua varian kereta tersebut sama-sama memiliki 10 gerbong, dimana satu rangkaiannya dibanderol dengan harga 18 miliar Yen atau yang setara dengan Rp2,4 triliun! Harga yang sangat tinggi tersebut bisa dibilang setara dengan sejumlah keunggulan yang ditawarkan – mulai dari keamanan, kecepatan, hingga kenyamanan para penumpang yang menggunakan layanan tersebut. Baca Juga: Di Shinkansen, Toleransi Antar Penumpang Kereta Begitu Kuat Ngomong-ngomong soal kecepatan, Hokkaido Shinkansen berlari hingga kecepatan maksimum 260km/jam dan akan menurunkan kecepatannya ke angka 140 km per jam ketika melintasi Seikan Tunnel. Jika berandai-andai, dengan kecepatan tinggi tersebut, Hokkaido Shinkansen hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk menghubungkan Jakarta – Bandung yang selama ini ditempuh dalam waktu 3 jam 15 menit menggunakan kereta yang digunakan oleh PT KAI. Rencananya, jaringan Hokkaido Shinkansen akan diperpanjang menuju Sapporo pada Maret 2031 mendatang.  

Dari Singapura, Pesawat Bertenaga Hidrogen-Listrik Siap Unjuk Gigi Sebelum 2025

Sebentar lagi, dunia aviasi global akan kedatangan jenis baru, dimana sebuah pesawat penumpang bertenaga hidrogen-listrik akan menjadi yang pertama mengudara di dunia. Setelah kurang lebih menghabiskan waktu 12 tahun lamanya, akhirnya perusahaan yang berbasis di Singapura, HES Energy Systems berhasil mengembangkan Element One, pesawat bertenaga hidrogen-listrik tersebut. Rencananya, pesawat ini siap untuk mengudara pada tahun 2025 mendatang. Baca Juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang Ya, dewasa ini sudah banyak sekali perusahaan aviasi yang berlomba-lomba untuk menciptakan moda udara yang bebas emisi. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, selain moda darat, pesawat terbang juga memegang peranan yang cukup signifikan dalam tercemarnya udara. Berkolaborasi dengan sejumlah mitra, akhirnya HES Energy Systems sukses memamerkan bentuk baru dari moblitas udara – minim suara, tanpa karbon, dapat dipersonalisasi, dan terdesentralisasi. Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman financialpost.com (2/10/2018), Element One yang notabene merupakan pesawat otonom dikembangkan sebagai pesawat dengan zero-emission yang menggabungkan teknologi bahan bakar hidrogen ultra ringan milik HES dengan propulsi pesawat listrik yang terdistribusi. Pesawat ini dirancang untuk mengangkut empat penumpang dalam sekali perjalanan. Jarak tempuhnya pun beragam, mulai dari 500km hingga 5.000km, tergantung dari kandungan hidrogen yang digunakan – apakah hidrogen cair atau gas. “Hingga saat ini, Element One masih jauh mengungguli pesawat bertenaga listrik lainnya,” tutur founder HES Energy Systems, Taras Wankewycz. Ia menambahkan bahwa Element One cocok digunakan untuk rute penerbangan baru yang menghubungkan kota-kota kecil dan daerah pedesaan dengan menggunakan jaringan yang ada. “Desain Element One membuka jalan bagi hidrogen terbarukan sebagai bahan bakar jangka panjang untuk penerbangan bertenaga listrik,” tandasnya. Baca Juga: Singapura Hadirkan “Kota Mini” dengan Kendaraan Otonom Setelah merilis rencana penerbangan perdananya pada akhir September lalu, pihak HES Energy Systems kini tengah berdiskusi dengan sejumlah produsen hidrogen skala industri untuk mengeksplorasi sistem pengisian bahan bakar yang efisien. Selain itu, perusahaan yang telah menargetkan untuk dapat menerbangkan prototip pertamanya sebelum tahun 2025 ini juga tengah membangun konsorsium teknis dan komersial yang melibatkan sistem penerbangan dan hidrogen.  

Mudahkan Difabel, Mulai 2019 Inggris Hadirkan Aplikasi Smartphone dengan Fitur ‘Bantuan’

Para penyandang disabilitas akan segera dimudahkan saat menggunakan kereta api di Inggris. Pasalnya industri kereta api Inggris akan meluncurkan aplikasi baru pada ponsel pintar (smartphone) untuk membantu penyandang disabilitas. Aplikasi ini dirancang untuk memudahkan penyandang cacat saat memesan ‘bantuan’ ketika mereka melakukan perjalanan dengan kereta api. Baca juga: Ford ‘Terjemahkan’ Pemandangan Khusus Bagi Penyandang Tuna Netra Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (1/10/2018), Transreport yang bermitra dengan Disability Rights Inggris, Blind Veterans Inggris dan Anxienty Inggris diketahui yang mengembangkan aplikasi ini serta kini tengah diuji coba oleh empat perusahaaan kereta api. Aplikasi ini sendiri kedepannnya diharapkan dapat mengurangi masalah dari sistem yang ada dan memakan waktu yang melibatkan ponsel atau platform berbasis website. Sistem tersebut mengharuskan penumpang untuk memberikan rincian kontak dan menentukan bantuan yang mereka butuhkan setiap kali para penyandang disabilitas itu melakukan perjalanan dengan kereta api. Dari spesifikasi yang ada, nantinya staf stasiun menerima daftar cetak bantuan yang dipesan setiap pagi. Tetapi jika rencana berubah karena masalah keterlambatan atau alasan lain, penyandang disabilitas tersebut tidak dapat memperbaharui daftar dan staf. Bahkan hal tersebut dapat berakhir ditempat dan waktu yang salah. “Kami tahu kami harus melakukan yang lebih baik untuk meningkatkan aksesibilitas kereta. Kami ingin semua orang yang telah meminta bantuan untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan, itulah sebabnya kami berinvestasi dalam teknologi perintis ini yang memiliki kebutuhan pelanggan kami di jantungnya,” ujar Direktur Regional Rail Delivery Group Robert Nisbet. Baca juga: Sukses Curi Hati Penyandang Disabilitas, Swiss Federal Railways Rajai Perkeretaapian di Eropa! West Midlands Railway, London Northwestern Railway, Greater Anglia dan South Western Railway saat ini sedang menguji coba aplikasi untuk penyandang disabilitas. Peluncuran aplikasi diperkirakan akan dilakukan tahun depan dengan pengenalan versi aplikasi pada bulan April. Passenger Assist termasuk fitur yang dapat diakses, termasuk kemampuan untuk mengubah tema warna, font dan ukuran teks. Ini dirancang untuk memungkinkan penumpang untuk memesan, mengubah dan membatalkan bantuan dengan cepat membuat profil pengguna untuk menentukan detail pribadi mereka dan jenis bantuan yang mereka butuhkan serta menyediakan staf dengan informasi langsung.

Motor Bebek Berubah Jadi Lori di Stasiun Banjar

Sepeda motor biasanya digunakan di jalan raya sebagai moda transportasi perseorangan atau boncengan. Bahkan sepeda motor juga digunakan untuk menjadi salah satu sumber pencaharain seperti ojek. Nah, pernah tidak Anda melihat sebuah motor bebek berubah menjadi lori dan berjalan di atas rel kereta api? Baca juga: Lori, Si Kereta Tebu Yang Kini Sudah Beralih Fungsi Lori yang terbuat dari motor bebek tersebut hanya ditemukan di Stasiun Kereta Api Banjar, Jawa Barat. Awalnya ini disangka gerobak, namun ternyata sebuah motor bebek yang sudah dimodifikasi dan berubah menjadi sebuah lori. Dilansir KabarPenumpang.com dari gridoto.com (28/9/201), dimana lori tersebut dibuat menggunakan dari bahan bekas motor bebek. Dari yang didapat bahkan lori ini di buat menggunakan Honda Astrea. Tetapi tipe Honda Astrea apa tidak jelas karena memiliki desain rangka yang hampir sama. PT KAI mengatakan, di Stasiun Kereta Api Banjar, Jawa Barat sendiri memang banyak motor lama disulap menjadi lori. Sebab lori dari sepeda motor tersebut digunakan untuk membantu pekerjaan sekitaran stasiun. Mereka mengatakan bahwa jenis motor yang digunakan adalah motor bebek tua seperti seperti Suzuki Shogun, Honda Supra, Honda Astrea dan masih banyak lagi. Fungsi lori ini sendiri dibuat seperti ini salah satunya untuk membantu staf PT KAI melakukan inspeksi rel hingga membawa batu ballast atau kricak. Motor bebek ini dibentuk sedemikian rupa agar bisa berjalan di rel dan disatukan dengan bodi lori dengan cara dilas dengan track gauge 1067 mm. Memang jika dilihat, lori dari motor bebek bekas tersebut tidak mementingkan estetika atau keindahan tetapi lebih kepada fungsinya. Bahkan kaliper rem cakram yang sudah tidak digunakan menjuntai dan dibiarkan begitu saja. Tempat duduk penggendara lori pun tak ada jok sama sekali. Tanki bensin yang asli tak lagi difungsikan dan diganti dengan jerry can, atau botol plastik bekas untuk diisi bahan bakar yang digantung di sisi lori tersebut. Baca juga: Alishan Forest Railway, Kereta Gunung Tertinggi di Asia Setang yang digunakan pun hanya bagian kanan untuk meng-gas dan tuas tambahan disebelah kiri seperti becak menggantikan tuas rem biasa. Mesinnya juga terlihat masih standar ala Honda C-series yang punya kubikasi 97,1 cc dan berdaya maksimal sekitar 6-7 dk. Mesin C-series generasi Honda Astrea memang terkenal bandel, irit, dan punya daya tahan kuat. Mungkin ini yang jadi pertimbangan pihak Stasiun Banjar untuk menggunakan mesin Honda Astrea. Lori Honda Astrea ini sendiri mampu mencapai kecepatan maksimal lebih dari 120 km per jam dengan membawa beban ratusan kilogram.

Hasil Survei IATA, Penumpang Inginkan Waktu Real Time Pada Status Penerbangan

Delay kerap kali terjadi pada sebuah penerbangan karena ini, penumpang terkadang mau tak mau harus menunggu dan terlambat dalam perjalanan mereka. Hal tersebut kemudian membuat para penumpang menginginkan lebih banyak pembaruan penerbangan yang bersifat real time. Baca juga: Survei: Pelancong Bisnis Lebih Betah Berada di Bandara Ketimbang Stasiun! KabarPenumpang.com melansir dari laman atwonline.com (2/10/2018), bahwa IATA (International Air Transport Association) melakukan survei dan didapat bahwa penumpang ingin hal yang real rime sebanyak 82 persen pada status penerbangan, 49 persen untuk bagasi dan 46 persen di pemeriksaan keamanan dan imigrasi. Survei ini dilakukan IATA dengan mengumpulkan 10.408 responden dari 145 negara. Dari hasilnya, sebanyak 56 persen penumpang yang di survei mengatakan pelacakan waktu bagasi real time sebagai seuatu keharusan. Sehingga maskapai dan bandara memfasilitasi ini dengan menerapkan pelacakan pada titik-titik perjalanan utama termasuk pada saatmemuat dan membongkar bagasi. IATA mengatakan 73 persen responden lebih suka menerima informasi pada bagasi mereka melalui SMS atau aplikasi di smartphone, ini menandai kenaikan 10 persen dari 2017. Mengenai penggunaan data, mayoritas 65 persen wisatawan bersedia membagikan data pribadi mereka untuk mendapatkan keamanan yang dipercepat dan 45 persen ingin mengganti paspor mereka dengan identifikasi biometrik. “Ketika kita bergerak lebih banyak dan lebih ke arah proses digital, penumpang harus yakin bahwa data pribadi mereka aman. IATA bekerja untuk membangun kerangka kepercayaan yang memastikan pembagian data yang aman, kepatuhan hukum dan privasi, ”kata IATA SVP-airport, penumpang, kargo dan keamanan, kata Nick Careen. Adapun opsi lainnya yakni, 84 persen dari penumpang ingin otomatis check in dan 47 persen lebih memilih untuk check in online dengan perangkat mobile mereka. Hanya 16 persen dari penumpang yang disurvei mengatakan mereka menyukai check-in tradisional. Untuk pelancong berusia 65 tahun dan lebih tua, 25 persen memiliki preferensi yang kuat untuk check-in tradisional dan 42 persen untuk proses penurunan tas. Setelah gangguan perjalanan, 40 persen penumpang dari segala usia lebih memilih untuk menyelesaikan situasi melalui telepon dan 37 persen melalui interaksi tatap muka. Baca juga: Survei: 89 Persen Penumpang Turkish Airlines Tak Inginkan Adanya Panggilan Telepon Selama Penerbangan Penumpang mengidentifikasi kontrol keamanan bandara atau perbatasan dan proses boarding sebagai dua frustrasi terbang terbesar. Tiga keluhan utama tentang keamanan adalah intrusifitas penghapusan barang pribadi 57 persen, memindahkan laptop dan perangkat elektronik besar dari tas kabin 48 persen dan kurangnya konsistensi dalam prosedur penyaringan bandara 41 persen. Tiga cara yang paling disukai untuk meningkatkan pengalaman boarding diidentifikasi sebagai menerapkan antrian yang lebih efisien di gerbang naik 64 persen, menambahkan lebih banyak ruang di atas pesawat 42 persen dan tidak mengharuskan penumpang untuk antri di jembatan udara 33 persen.

Stasiun Habibganj, Sebentar Lagi Menjadi Stasiun Kelas Dunia Pertama di India

Sebagai negara dengan jaringan kereta api terbesar, India akan membangun kembali dan menjadikan salah satu stasiunnya menjadi kelas dunia pertama di India. Dimana pada stasiun ini akan dilengkapi dengan fasilitas bertaraf internasional. Baca juga: Stasiun Kereta ‘Rasa Bandara Internasional’ Siap Hadir di India KabarPenumpang.com melansir dari laman businesstoday.in (1/10/2018), stasiun kereta api ini berada di jalur stasiun kereta api Heidelberg Jerman yakni Habibganj Madhya Pradesh. Menjadi stasiun kelas pertama dunia, pada pembangunannya kembali yang dilakukan Indian Railways berjalan dengan lancar. Menteri Kereta Api India Piyush Goyal baru-baru ini melakukan peninjauan terhadap pekerjaan stasiun kereta api Habibganj dan terlihat puas dengan perkembangannya. Indian Railways melakukan pembangunan kembalinya dengan transformasi area concourse ke ruang ritel bawah tanah seperti bandara dimana penumpang bisa menunggu kereta mereka nantinya. Stasiun Habibganj sendiri akan memiliki struktur seperti kubah kaca yang akan berfungsi sebagai pintu masuk stasiun. Tak hanya itu stasiun ini akan menjadi bangunan hijau yang ditambah dengan lampu LED. Pengairannya pun akan menggunakan air limbah yang diolah sehingga bisa digunakan kembali menjadi air bersih. Stasiun ini juga akan dibantu oleh tenaga matahari. Adapun kelengkapan stasiun tersebut yakni kafe dan tempat makan, kemudian ruang tunggu mewah untuk penumpang. Selain itu pula akan ada holding areas untuk penumpang di setiap platformnya, sehingga penumpang tidak memenuhi platform saat ada penumpang yang akan turun dari kereta. Hub transit pun dirancang sedemikian rupa sehingga bila terjadi keadaan darurat, penumpang bisa dievakuasi dari area tersebut dalam waktu singkat yakni sekitar empat menit. Baca juga: Manakah yang Bakal Jadi Solusi Toilet di Stasiun Kereta India: Bio-Toilet Atau Toilet Hibrida? Di bagian luar sisi barat stasiun dikelilingi oleh perusahaan, terminal bus, serta apartemen. Sedangkan sisi timur ada hotel atau penginapan, rumah sakit, spa dan pusat konveksi. Stasiun Habibgajn sendiri merupakan stasiun kereta api pertama di India yang dibangun kembali di bawah model kemitraan public-private partnership (PPP). Stasiun ini dibangun kembali oleh Indian Railways Stations Development Corporation (IRSDC) bersama dengan perusahaan swasta, Grup Bansal. Grup Bansal akan memelihara dan mengoperasikan stasiun itu juga selama delapan tahun. Stasiun telah dibangun kembali dengan biaya Rs100 crore, sementara Rs350 crore dihabiskan untuk pengembangan komersialnya, yang mengarah ke keseluruhan biaya Rs450 crore. Menurut Indian Railways, stasiun ini diharapkan dapat menghasilkan sekitar Rs6.5-7 crore pada awalnya, yang dapat meningkat menjadi Rs10 crore per tahun. Anand Vihar, Brijwasan, Chandigarh, Gandhinagar dan Shivaji Nagar station di Pune adalah stasiun kereta api lain yang diatur untuk dirubah oleh IRSDC.

Akhirnya, Hyperloop Transportation Technology Luncurkan Pod Penumpang Perdana

Tepat lima tahun pasca didirikan, akhirnya startup yang terkenal akan membawa inovasi baru dalam dunia transportasi, Hyperloop Transportation Technology (HTT) memamerkan apa yang selama ini mereka kerjakan. Dalam sebuah acara perayaan ulang tahun perusahaan tersebut yang bertempat di Spanyol, Dirk Ahlborn cs. merilispod penumpang skala penuh perdananya. Tentu saja, peluncuran pod perdananya ini semakin mempertegas langkah HTT untuk sesegera mungkin terjun di industri transportasi dunia. Baca Juga: HTT Siap Operasikan Hyperloop Pada 2020, Akankah Dubai Operasikan Dua Teknologi Maglev? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (4/10/2018), moda yang diberi nama Quintero One ini menggunakan material komposit sebagai bahan baku utamanya. Quintero One memiliki panjang keseluruhan 32 meter dengan panjang kabin sekitar 15 meter dan berat mencapai 5 ton.
Peluncuran Pod Penumpang, Quintero One di Spanyol. Sumber: newatlas.com
“Perakitan pod ini merupakan hasil dari jerih payah kami dalam waktu kurang lebih satu tahun ke belakang. Ini mewakili keahlian kami di segi desain, teknik, dan pengembangan bahan mirip Vibranium yang sangat canggih,” tukas Co-Founder sekaligus CEO dari HTT, Dirk Ahlborn. “Hanya dalam waktu lima tahun kami telah memecahkan dan memperbaiki semua teknologi yang diperlukan untuk Hyperloop dengan sistem levitasi baru kami, pompa vakum, baterai, dan material komposit yang cerdas. Pod ini akan menjadi bagian dari salah satu sistem transportasi paling efisien yang pernah dibuat,” tandasnya.
Sejumlah Petinggi HTT. Sumber: newatlas.com
Setelah dipamerkan di Spanyol, kabarnya Quintero One akan dipindahkan ke pusat penelitian HTT yang terletak di Toulouse, Perancis guna diteliti lebih mendalam lagi. Menurut salah satu sumber dari HTT, jalur pengetesan untuk Quintero One tengah dipersiapkan dan akan diuji coba pada tahun depan. “Pada 2019, kapsul ini akan sepenuhnya dioptimalkan dan kami akan mempercepat setiap proses agar siap untuk beroperasi,” kata Bibop Gresta, Chairman dari HTT. “Kami telah mengambil langkah besar dalam menyelesaikan setiap regulasi dengan pedoman sertifikasi keselamatan. HTT sekarang lebih dekat dari sebelumnya, dan kami siap untuk membawa Hyperloop ke dunia,” tambah Bibop. Baca Juga: Virgin Hyperloop One Bangun Pusat Penelitian di Andalusia Memang, pekerjaan yang harus diselesaikan HTT masihlah sangat banyak – salah satunya adalah soal target kecepatan moda yang masih jauh dari perkiraan awal. Rival dari HTT, Virgin Hyperloop One saja yang sudah menyalip HTT masih kelimpungan dengan masalah kecepatan. Terakhir, Virgin Hyperloop One baru mampu menempuh kecepatan sekitar 390km/jam. Akankah masalah kecepatan menjadi batu sandungan bagi HTT?

Sempat Galau, Inilah Tarif Terjauh yang Diusulkan PT MRT Jakarta

Melanjutkan kegalauan terkait tarif untuk Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang sebentar lagi beroperasi, ternyata PT MRT Jakarta sudah mengajukan tarif Rp13 ribu untuk jarak terjauhnya saat ini yakni dari Lebak Bulus hingga ke Bundaran Hotel Indonesia (HI). Diajukannya tarif terjauh tersebut setelah adanya pengkajian yang dilakukan PT MRT dengan lintasan pertama. Baca juga: Galau Tentukan Tarif Tiket, PT MRT Jakarta Tunggu Persetujuan Pemprov DKI Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta, Agung Wicaksono mengatakan, kajian tersebut dengan tahap pertama lintasan 16 km ini diajukan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebagai regulator. “Tarif sudah lakukan kajiannya dan sudah studi. Dan sudah sampaikan usulannya ke pemerintah,” ujar Agung yang dikutip KabarPenumpang.com dari liputan6.com (4/10/2018). Disebutkan, besaran nominal harga tiket MRT untuk per 10 km pertama adalah Rp8500 dan ditambahkan Rp700 setelah penumpang melewati 10 km pertama itu. Agung memperkirakan total tarif MRT dengan rute fase pertama Lebak Bulus menuju Bundaran HI atau sebaliknya mencapai Rp13 ribu. Besaran ini sendiri sudah termasuk dengan subsidi yang diberikan oleh Pemprov DKI Jakarta. “Dihitung saja, Rp8500, 10 km kalau sampai ujung 16 km rata-rata Rp13 ribu. Dari ujung ke ujung ya, ini tergantung, dari Lebak Bulus turun di mana,” jelas Agung. Baca juga:  Terduga Pelaku Vandalisme MRT Jakarta Warga Negara Asing, Polisi Minta Bantuan Interpol Sebelumnya, terkait tarif MRT Jakarta sendiri seperti ada kegalauan, karena Pemprov DKI Jakarta belum jelas akan memberikan besaran subsidinya. Sehingga PT MRT Jakarta masih mengkaji lebih lanjut untuk tarif tersebut. Sampai saat ini diketahui sudah ada enam trainset di depo Lebak Bulus, Oktober 2018 akan hadir tiga lagi dan pengiriman pada November 2018 dengan empat trainset terakhir. Saat ini MRT sendiri terus melakukan uji coba kereta pertama, sistem persinyalan dan lainnya. Uji coba sendiri akan terus dilakukan hingga satu bulan sebelum MRT Jakarta mengular di Maret 2019 mendatang. Pengerjaannya saat ini sendiri sudah mencapai 96,53 persen dan nantinya moda transportasi massal tersebut mampu mengangkut 130 ribu sampai 170 ribu penumpang per harinya.

Prangko Rail Clinic dan LRT Palembang ‘Meriahkan’ HUT PT KAI Ke-73

Kabar baik bagi Anda yang selama ini gemar filateli, karena PT KAI baru saja meluncurkan prangko seri kereta api. Tidak berjalan sendiri, PT KAI turut menggandeng PT Pos Indonesia, Perum Peruri, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam merilis prangko seri kereta api kedua ini. Diketahui, prangko seri kereta api pertama diterbitkan pada tahun 1968 silam. Adapun salah satu dari prangko yang diluncurkan pada tanggal 29 September kemarin ini bergambarkan LRT Palembang. Baca Juga: Tak Terasa Sudah 150 Tahun Sistem Perkeretaapian Belanda di Indonesia Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman tempo.co (2/10/2018), adapun prangko yang diluncurkan bertepatan dengan puncak perayaan ulang tahun PT KAI ke 73 ini memiliki dua varian – satu bergambar LRT Palembang, dan satunya lagi bergambar Rail Clinic Generasi 4. “Prangko ini memberikan gambaran baru inovasi dari Kereta Api yang ada,” ujar Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, Rail Clinic merupakan layanan PT KAI khusus untuk meningkatkan pelayanan kesehatan warga yang tinggal di sekitaran lintasan jalur kereta. “Masyarakat bisa mendapat pelayanan kesehatan baik pemeriksaan dan perawatan kesehatan secara gratis. Sehingga untuk inovasi ini dibuatkan perangko untuk itu,” tandas Edi. Sementara untuk LRT Palembang sendiri, dipilih PT KAI untuk menjadi model utama dari prangko varian kedua karena dinilai akan mengubah wajah perkeretaapian Indonesia di masa yang akan datang. “LRT Palembang ini adalah LRT pertama yang menggunakan top trail, energinya datang dari bawah, bukan dari kabel di atasnya,” pungkasnya. Menambahkan pernyataan Edi, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno mengatakan era baru perkeretaapian Indonesia ini ditandai dengan hadirnya LRT Palembang. “Saat ini loko diesel akan menjadi LRT, (dengan teknologi) self-propel, dia berjalan sendiri pakai listrik,” terang Fajar. Baca Juga: PT Len Gandeng Thales Kembangkan Sistem Sinyal Kereta Api Indonesia “Sebentar lagi bergerak di Jabotabek. Dan kami harapkan nanti di kota-kota besar yang lain. Makanya saya bilang ini era baru. Kami harapkan ke depannya kereta api menjadi angkutan massal yang betul-betul bisa diandalkan,” tandasnya. Sekedar informasi, dua varian prangko ini akan dicetak perdana sebanyak 100 ribu lembar full sheet. Ayo para filatelis, jangan sampai kehabisan ya!  

Untuk Efisiensi dan Efektivitas Operasional, AirAsia Akhiri Sewa Menyewa Pesawat

PT AirAsia Indonesia baru-baru ini merencanakan untuk mengakhiri termination wet lease agreement atau sewa menyewa pesawat yang dilakukan oleh dua anak perusahaannya. Kedua anak perusahaannya itu adalah PT Indonesia AirAsia dan PT Indonesia AirAsia Extra. Adanya rencana ini berdasarakan dari keterbukaan PT AirAsia Indonesia di Bursa Efek Indonesia (BEI). Baca juga: Dukung Program 20 Juta Wisman, AirAsia Indonesia Lirik Pasar Cina, Jepang dan Korea Selatan KabarPenumpang.com melansir dari laman cnbc.com (3/10/2018), rencana pengakhiran sewa menyewa tersebut awalnya akan dimulai dari mengakhiri sewa tiga pesawat dengan tipe A320-200 dari Indoneisa AirAsia kepada Indonesia AirAsia Extra yang merupakan pihak berafiliasi. Kemudian Indonesia AirAsia sendiri akan melakukan wet lease program atau sewa menyewa pesawat sebanyak lima armada bertipe A320-200 yang dimiliki Indonesia AirAsia Extra. Adapun nilai transaksi sewa menyewa ini antara Rp385 miliar hingga Rp425 miliar per tahunnya. Transaksi ini sendiri dilakukan PT AirAsia Indonesia untuk menyamakan seluruh operasi perbangan Airbus A320 karena memiliki nomor penerbangan atau flight number yang sama yakni QZ. Tak hanya itu, dengan satu flight number, PT AirAsia Indonesia menargetkan terjadinya efisiensi dan efektivitas dari utilitas pesawat udara miliknya. Sehingga aksi ini juga akan menghilangkan limitasi dari sisi operasional dalam rotasi kru penerbangan dan kru kabin. Baca juga: Salah Input Koordinat Runway, Pilot AirAsia Nyaris Celakakan Ratusan Penumpang Dari hal ini nantinya akan ada dampak yang dialami diantaranya adalah kenaikan pendapatan perusahaan, karena bertambahnya kegiatan operasi penerbangan terjadwal. Selain itu pula ditambah dengan kenaikan pegeluaran perusahaan akibat bertambahnya kegiatan operasi penerbangan berjadwal dan operasi penerbangan langsung. Untuk tambahan informasi, pada semester satu tahun 2018, perseroan mencatat beban bahan bakar yang meningkat yakni sebanyak 19,92 persen dari tahun ke tahunnya sehingga menjadi RP746,62 miliar. Kenaikan beban avtur ini juga berakibat dengan kerugian yang masih dialami perusahaan senilai Rp426,03 miliar pada semester pertama tahun 2018 ini.