Maskapai di India Wajib Hadirkan Tabel Gizi di Baki Makanan

Maskapai dengan layanan penuh akan selalu menyajikan makanan dalam penerbangan mereka. Tapi pernahkah terpikirkan oleh Anda untuk mengetahui kadar gizi pada makanan yang disajikan tersebut? Baca juga: Aerofood Dipercaya Pasok Manakan Sehat di Para Games Invitational Tournament 2018 KabarPenumpang.com melansir dari laman timesofindia.indiatimes.com (1/10/2018), bahwa sebentar lagi makanan yang ada dalam penerbangan pada maskapai di India akan memiliki informasi lengkap tentang aspek nutrisi yang terkait kalori, daftar isi dan waktu kadaluarsa pada kemasan. Opsi sehat ini sendiri bisa menjadi keharusan bagi maskapai penerbangan. Di India kualitas makanan dalam penerbangan belakangan diketahui memburuk dan sebagian maskapai penerbangan telah memeriksa keseluruhannya, baik katering, termasuk pengiriman makanan hingga penyimpanannya dalam penerbangan. Bahkan cara penyajiannya pun ikut diperiksa untuk keamanan dan kualitas makanan tetap terjaga. CEO FSSAI Pawan Kumar Agarwal kemudian melakukan pertemuan dengan maskapai penerbangan terkait kualitas dan keamanan makanan dalam penerbangan. “Masyarakat, di beberapa forum, telah menyatakan keprihatinan tentang makanan maskapai penerbangan, kualitas dan keamanannya. Sebelumnya kami memanggil pertemuan dengan maskapai penerbangan, operator bandara, katering dalam pesawat secara terpisah yang akan mengatakan ini adalah wilayah lain. Jadi kami bertemu dengan semua orang untuk mencakup semua aspek keamanan, kebersihan makanan dalam penerbangan dan akan keluar dengan standar operasi prosedur (SOP) untuk setiap langkah yang terlibat untuk memastikan apa yang disajikan kepada penumpang benar-benar aman untuk dikonsumsi. Prosesnya telah dimulai dan industri penerbangan sangat menyambut baik inisiatif ini,” ujar Agarwal. Dia mengatakan, dapur penerbangan tempat makanan dimasak dan dikemas dijalankan oleh jaringan perhotelan terkemuka di India dan meminta mereka unuk memberikan rincian lengkap saat disajikan. Hal ini dimaksudkan agar penumpang melihat dan memastikan apakah makanan yang akan mereka konsumsi aman. Untuk maskapai berbiaya rendah makanan ringan yang dikemas atau sandwich harus jelas label kadaluarsanya. FSSAI juga menambahkan, maskapai berbiaya rendah juga memberikan label pada makanan tanpa kemasan mereka seperti pasta atau hidangan utama yang dijual kepada penumpang. Sebab FSSAI telah menemukan banyak celah dalam pengaturan katering di pesawat, dimana berdasarkan pedoman keamanan makanan dunia untuk penerbangan dan peraturan mereka sendiri. Ini akan mencakup masalah-masalah seperti bagaimana makanan akan dikemas dan sampai kapan harus disajikan. “Maskapai harus fokus pada penyediaan opsi yang lebih sehat di menu. Sementara beberapa sudah melakukannya, kami memberitahukan label menu untuk makanan yang disajikan di restoran dengan rantai dan menu tetap. Maskapai penerbangan dan kereta api biasanya memperbaiki menu dan akan masuk dalam kategori ini,” jelas Agarwal. Baca juga: Porsi Makanan di Pesawat Tak Cukup? Jangan Khawatir, Bisa Nambah Asal Sopan “Tentang kualitas makanan dikendalikan oleh kami. Tetapi ada beberapa faktor di luar kendali kami seperti waktu yang dibutuhkan truk katering untuk memasuki bandara setelah pemeriksaan. Sebuah pandangan holistik harus diambil dari masalah ini, karena beberapa proses memisahkan nampan makan yang dikemas oleh kami dan ditempatkan di meja baki depan penumpang,” kata seorang pejabat katering di penerbangan.

Bawa Replika Bom, Pria Israel Diamankan di Bandara Newark

Membawa bahan peledak dalam tas jinjing merupakan salah satu hal yang dilarang oleh keamanan bandara. Namun, September 2018 kemarin seseorang telah membuat panik Bandara Newark karena membawa bom palsu dalam tas jinjingnya. Kemudian pria yang diketahui berkebangsaan Israel itu ditahan dan didakwa karena dianggap membuat panik atas barang di dalam tas jinjingnya tersebut. Baca juga: Bawa Pistol Kaliber 25, Seorang Kakek Diamankan di Bandara Richmond KabarPenumpang.com melansir dari laman timesofisrael.com (5/9/2018), Alon Feldman, awalnya diketahui akan naik pesawat dari Bandara Internasional Newark Liberty. Saat dirinya melalui pemeriksaan keamanan, di dalam tas jinjingnya ditemukan sebuah barang yang terlihat seperti bom rakitan meskipun sebenarnya tidak berbahaya atau bisa dikatakan hanya replika sebuah bom. Namun, karena awalnya bom tersebut dikiri sungguhan, dia kemudian diamankan pihak kepolisian Port Authority. Pria 50 tahun tersebut setelah diamankan mengatakan kepada pihak kepolisian dirinya terbang dari Tel Aviv menuju ke Panama City di Florida untuk mengikuti konfernsi pelatihan keamanan. Karena hal ini, enam jalur pemeriksaan keamanan mau tak mau harus ditutup. Semua penumpang yang ada di jalur keamanan bersama pria Israel tersebut harus dipindahkan ke jalur lainnya dan petugas keamanan dipanggil untuk memastikan itu bukan bom sungguhan. Kemudian setelah diperiksa kembali, benda tersebut dianggap aman. “Benda itu dibuat agar terlihat persis seperti alat peledak. Ancaman teror itu nyata dan kami tidak mengambil risiko ketika harus melindungi kehidupan para pelancong,” ujar Direktur Keamanan Federal New Jersey TSA Tom Carter. Carter menambahkan, orang yang membawa perangkat tersebut ke pemeriksaan, harusnya tahu dia memiliki bom replika. Namun sayangnya, dia justru memasukkan tas jinjingnya melalui pemeriksaan kemanan dan terlihat jelas di X-ray bahwa terlihat adanya bom. Baca juga: Diamankan Karena Berteriak ‘Bom,’ Pria Ini Ternyata Mabuk “Tindakan bodohnya membuat ratusan penumpang tidak nyaman pada hari ini,” tambah Carter. Selain tuduhan pidana yang berasal dari penangkapan oleh polisi Port Authority. TSA juga menjatuhkan denda sipil dengan hukuman hingga US$13 ribu atau setara dengan Rp197 juta dan dimungkinkan bagi orang-orang yang membawa senjata ke bandara.

Kantor Pusat SkyWay Technlogies di Rusia Dibekukan, Kalimantan Batal Punya Kereta Langit

Masih ingat dengan Kereta Langit Indonesia (Skyway Indonesia) yang digadang-gadang akan menjadi salah satu bagian dari moda futuristik di Ibu Pertiwi? Ya, baru-baru ini PT SkyWay Technologies Indonesia yang menunggangi proyek tersebut disebutkan baru saja membekukan diri. Kejadian ini sontak membuat banyak pihak bertanya-tanya soal latar belakang pembekuan perusahaan tersebut. Baca Juga: Boeing 747 Dilelang Online, Inikah Akhir Cerita dari The Queen of The Skies? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kereta ini sendiri awalnya disebut-sebut mampu untuk melintasi setiap medan. Ketika asa sudah mulai terbentuk, sangat disayangkan ketika putusan dari kantor pusat PT SkyWay Technologies Indonesia yang berada di Rusia telah memutuskan untuk membekukan semua proyeknya yang tersebar di pelosok dunia – termasuk proyek yang sebelumnya dijalankan di Dubai, Uni Emirat Arab. Adapun rencananya, kereta langit ini akan dibangun di Pelabuhan Jorong, Kalimantan Selatan dengan menggandeng perusahaan BUMN. “Saat ini kami rasa sudah saatnya mengumumkan apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga informasi ini tidak disalahgunakan oleh beberapa pihak yang mengatasnamakan SkyWay untuk kepentingan pribadi,” ungkap Direktur PT SkyWay Technologies Indonesia, Madinatul Fadhilah, dikutip dari laman sindonews.com (30/9/2018). Madinatul menambahkan, sebenarnya pembekuan ini terjadi pada Mei 2018 kemarin, namun saja tidak diumumkan ke publik. “Pembekuan tersebut sudah menjadi keputusan kantor pusat di Eropa (Rusia), lantaran beberapa faktor. Seperti proyek pengerjaan perdana di Dubai yang hingga kini tidak juga terealisasi,” tandasnya. Baca Juga: Jumlah Penumpang Menurun, Operator Kereta Jepang Jajakan Cemilan Unik nan Nyeleneh! Pengumuman ini akhirnya ditempuh oleh PT SkyWay Technologies Indonesia guna menghindari beragam kemungkinan, salah satunya adalah penyalahgunaan informasi. “Pengumuman ini juga dilakukan agar tidak lagi timbul pertanyaan di masyarakat terkait dengan beberapa pihak yang megatasnamakan SkyWay Indonesia dengan berbagai nama, web, dan media, menyatakan sebagai perwakilan resmi dari SkyWay pusat yang menjual investasi berupa saham pra IPO dan iming-iming bahwa proyek-proyek SkyWay berjalan dan diminati dimana-mana,” ungkap Ketua Advokasi Otoritas Jada Keuangan, Mulfi Asmawijaya. Sebelumnya, memang sudah tersiar kabar bahwa ada sejumlah oknum Multi Level Marketing (MLM) yang menjual produk investasi dan mengatasnamakan PT SkyWay Technologies Indonesia.

Terduga Pelaku Vandalisme MRT Jakarta Warga Negara Asing, Polisi Minta Bantuan Interpol

Vandalisme yang belum lama ini terjadi di depo Lebak Bulus pada kereta baru Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sepertinya sedikit memperlihatkan titik temu pelakunya. Pasalnya, Pihak Polres Metro Jakarta Selatan tengah meminta bantuan Interpol untuk menelusuri jejak terduga pelaku vandalisme tersebut. Baca juga: Duh, Kereta MRT Jakarta Jadi Sasaran Aksi Vandalisme! Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Indra Jafar mengatakan, terduga pelaku merupakan warga negara asing (WNA) yang tidak diketahui alamatnya tetapi inisial sudah didapatkan pihak kepolisian. Sayangnya, inisial dan asal negara terduga pelaku, pihak kepolisian belum ingin mengungkapnya. “Kami mau panggil, mau periksa juga tidak tahu alamatnya dimana,” ujar Indra yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman kompas.com (3/10/2018). Meski mengetahui inisial terduga pelaku, pihak Polres Metro Jakarta Selatan belum mau menetapkannya sebagai tersangka kasus vandalisme itu. Saat ini Indra beserta anggotanya diketahui sudah mengantongi bukti-bukti kuat soal terduga pelaku vandalisme tersebut. “Dia memiliki kemampuan untuk menggambar seperti itu dan sensasi dia ingin nyoret pertama kali di MRT Jakarta. Dari beberapa alat bukti ada kesesuain lah,” jelas Indra. Sebelumnya diberitakan, vandalisme pada kereta MRT Jakarta ini terjadi pada Jumat (21/9/2018) di Depo Lebak Bulus sekitar pagi hari. Selain itu pada 24 September 2018, Polsek Metro Cilandak sudah mengeluarkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan. Dengan saksi dan alat bukti yang ada, polisi masih terus mencari informasi keberadaan pelaku dan polisi telah mengidentifikasi satu terduga pelaku vandalisme. Baca juga: MRT Jakarta Dilirik Tangerang Selatan Untuk Buka Jalur Terduga pelaku diidentifikasi oleh polisi lantaran sempat membagikan stiker di lokasi. Tak hanya itu, terduga pelaku kemungkinan sosok yang populer di kalangan bomber atau pembuat grafiti jalanan. Bahkan bukan hanya membagikan stiker, terduga pelaku juga sempat berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitar depo MRT Lebak Bulus. Dalam masalah ini, PT MRT Jakarta meminta kontraktor melakukan peningkatan keamanan baik di depo maupun di seluruh fasilitas MRT Jakarta. PT MRT Jakarta mendukung penuh proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh polisi terkait vandalisme ini dan berharap secepatnya kasus tersebut terungkap dan pelaku di tangkap.

5 Fakta Unik Tentang Qatar Airways yang Mungkin Baru Anda Tahu!

Flag Carrier Qatar Airways muncul sebagai maskapai yang paling banyak memiliki tujuan penerbangan di Benua Biru. Tidak tanggung-tanggung, terdapat kurang lebih 55 kota di Eropa yang dihinggapi oleh armada-armada Qatar. Di Inggris saja, Qatar menyasar enam destinasi sekaligus – London Heathrow, London Gatwick, Cardiff, Birmingham, Manchester, dan Edinburgh. Diantara keenam kota ini, London Gatwick merupakan bandara paling baru yang didaftarkan Qatar sebagai salah satu destinasi penerbangannya. Baca Juga: Tak Lagi Gunakan Airbus A380, Qatar Airways Ganti Armada Tujuan Atlanta Itu baru Inggris, semisal Anda hendak bertolak menuju Perancis, Anda bisa mendarat di Paris atau di Nice. Berbeda dengan Italia yang memiliki empat kota destinasi – Roma, Milan, Pisa, dan Venesia. Pun dengan negara-negara lain yang ada di Eropa sana. Selain meraih predikat sebagai maskapai yang mendominasi penerbangan menuju Eropa, ada beberapa fakta unik dari maskapai terbaik di dunia versi World Airlines Award 2015 ini. Berikut KabarPenumpang.com himpun empat fakta unik lainnya dari Qatar Airways, dikutip dari laman gotravelyourway.com. Maskapai Pertama yang Mengoperasikan Airbus A350 Pada 15 Januari 2015 silam, Qatar menjadi operator pertama yang mengoperasikan Airbus A350-900. Kala itu, pesawat baru berlivery Qatar ini melakoni perjalanan dari Doha menuju Frankfurt. Tidak hanya itu, Qatar juga tercatat sebagai maskapai yang paling banyak memesan A350-900 dengan jumlah 80 armada, disusul oleh Singapore Airlines dengan 67 armada, dan Etihad dengan 62 armada. Maskapai Pertama yang Mengoperasikan Airbus A380 Mungkin kebanyakan operator penerbangan di luar sana akan memilih untuk mengoperasikan salah satu dari tiga armada paling canggih saat ini – Airbus A350, A380, dan Dreamliner. Namun tidak bagi Qatar yang lebih memilih untuk mengoperasikan ketiganya secara bersamaan. Hebatnya lagi, Qatar merupakan maskapai pertama yang memasang liverynya di tiga armada tersebut. Mengoperasikan Penerbangan Terjauh! Ya, Qatar merupakan raksasa di dunia aviasi yang tercatat menjalankan rute penerbangan terjauh saat ini, yaitu dari Doha menuju Auckland. Jarak yang terpaut 14.536km antara dua kota ini ditempuh dengan waktu 18 jam 30 menit. Dalam mengoperasikan rute ini, Qatar mempercayakan armada Boeing 777-200LR (Longer Range). Baca Juga: Antara Qatar Airways, Irlandia, dan Jamaah Umroh Indonesia Mensponsori Klub Terbaik di Dunia Tidak bisa dipungkiri jika FC Barcelona merupakan salah satu klub terbaik di dunia saat ini, dan Qatarlah yang menjadi sponsor utama dari klub yang bermarkas di Camp Nou, Spanyol ini. Berbeda dengan rival FC Barcelona, Real Madrid yang disponsori pula oleh pesaing utama dari Qatar, Emirates.

Sambut IMF-World Bank 2018, Angkasa Pura I Hadirkan Fasilitas Baru di Bandara Ngurah Rai

Indonesia kembali menjadi tempat perhelatan acara besar dunia, kali ini IMF-World Bank 2018 yang akan diselenggarakan di Bali mulai tanggal 8 hingga 14 Oktober 2018. Dengan adanya perhelatan ini, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai akan kedatangan 17 ribu delegasi dari 189 negara sahabat. PT Angkasa Pura I (AP I) selaku operator bandara telah menyiapkan infrastruktur bandara dengan perluasan apron dan pembangunan gedung VVIP serta parkiran. Baca juga: Angkasa Pura I Bangun Base Ops dan Safe House di Lanud I Gusti Ngurah Rai Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengatakan, pihaknya tidak hanya membangun dan mengembangkan infrastruktur di sisi udara melainkan menambah beberapa fasilitas baru di dalam terminal Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali tersebut. “Hal ini selain untuk menjamin kelancaran arus kedatangan dan kepulangan delegasi event akbar pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018, juga sebagai upaya memberikan pelayanan prima dan menciptakan passenger experience di bandara. Beberapa fasilitas tersebut antara lain x-ray smartlane, mesin autogate keimigrasian, orientation zone, dan airport operation control center (AOCC),” ujar Faik yang dikutip KabarPenumpang.com melalui siaran pers, Rabu (3/10/2018). X-ray smartlane yang berada pada area screening check point akan mempercepat proses pemeriksaan barang calon penumpang. Sedangkan autogate keimigrasian, disediakan mesin autogate sebagai fasilitas mandiri untuk menscanning paspor calon penumpang. Saat ini tersedia enam unit mesin autogate di terminal kedatangan internasional dan sepuluh unit di terminal keberangkatan internasional. “Adanya 16 unit mesin autogate keimigrasian ini akan mempercepat proses pemeriksaan imigrasi. Total waktu yang dibutuhkan penumpang saat menggunakan mesin autogate ini hanya 30 detik, sebuah waktu yang relatif singkat untuk melewati melalui proses imigrasi. Ini tentunya akan meningkatkan kenyamanan penumpang,” katanya. Fasilitas baru lainnya adalah orientation zone dimana memiliki desain yang elegan dan inovatif, area ini dirancang sebagai area yang atraktif yang dapat berfungsi sebagai penghilang stres bagi penumpang. Orientation zone sendiri diperuntukkan bagi penumpang yang baru saja melewati proses pemeriksaan yang cukup intens pada area check in dan pemeriksaan imigrasi. “Karena orientation zone ini dibangun untuk mengakomodir penumpang yang akan menuju pintu keberangkatan, di area ini dilengkapi juga dengan berbagai berbagai informasi berkaitan dengan jadwal penerbangan maupun arah menuju pintu keberangkatan. Seperti FIDS (Flight Information Display System), world clock, dan airport directory, serta walking distance yang bermanfaat untuk memperkirakan waktu dan jarak yang dibutuhkan calon penumpang mencapai pintu keberangkatan, area komersial, fasilitas di bandara, dan lokasi lainnya yang ada dalam terminal keberangkatan internasional,” jelas Faik. Fasilitas baru lainnya lagi adalah airport operation control center (AOCC) dan ini bukan merupakan fasilitas yang terkait langsung dengan calon penumpang, melainkan fasilitas bagi stakeholder bandara. AOCC merupakan pusat kendali untuk mengawasi aktivitas operasional di sisi udara dan sisi darat serta seluruh aktivitas kedatangan dan keberangkatan di bandara. Baca juga: Mulai 7 September 2018, Lion Air Tambah Frekuensi Penerbangan Denpasar-Lombok “AOCC melibatkan seluruh pemangku kepentingan di bandara dengan mengintegrasikan sistem yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan agar dapat beroperasi secara efektif dan efisien. Integrasi dan kolaborasi menjadi kunci utama dalam implementasi AOCC ini sehingga pewujudan pelayanan yang mengutamakan keselamatan dan keamanan dapat lebih efektif dan efisien,” ujar Faik. Fasilitas-fasilitas baru di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali tersebut sudah dioperasikan sejak akhir September 2018 lalu. “Diharapkan dengan adanya fasilitas-fasilitas baru tersebut dapat memperlancar dan menambah kenyamanan proses kedatangan dan kepulangan para delegasi pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018,” ujar Faik.

Rasisme di Vancouver Ternyata Sudah Ada Sejak Lama

Masalah rasis kerap kali menjadi soal dan membuat resah bukan hanya di Indonesia, tetapi di negara bahkan benua lain pun terjadi. Rasisme yang terjadi baru-baru ini adalah pada 23 September 2018 kemarin, dimana seorang wanita berambut pirang melontarkan kata-kata kasar rasis di bus West Vancouver. Baca juga: Terdesak Isu Rasisme, Wanita Ini ‘Terpaksa’ Tarik Tombol Darurat di Kereta Bawah Tanah Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straight.com (26/9/2018), sebuah argumen panas harus mencuat diantara penumpang dalam bus West Vancouver sektar pukul 08.00 malam waktu setempat. Diketahui, bus dengan nomor 250 tersebut berangkat dari Horseshoe Bay menuju ke Vancouver. Dimana seorang wanita berabut pirang yang dikuncir kuda duduk di kursi dan meletakkan barang-barang di kursi kosong sebelahnya. Kemudian saat ini ada seorang penumpang lain yang bertanya apakah perempuan tersebut bisa memindahkan barangnya agar dia bisa duduk. Namun, bukannya memindahkan barang miliknya, wanita itu malah berargumen yang akhirnya mengucapkan kata-kata penghinaan terkait rasis. Wanita itu juga kemudian mengancam akan membunuh penumpang lain saat sadar sedang difilmkan. Dia bergerak ke arah orang lain sembari mengancam dan mengumpat serta menghina penumpang lain itu. Hal ini kemudian membuat penumpang lain meminta pengemudi untuk menghentikan bus tersebut. Pada tanggal 25 September, dilaporkan bahwa wanita itu menyatakan dalam wawancara sebuah televisi berita bahwa dirinya memiliki tas tersebut. Baca juga: Pembunuh Rasis Beraksi Lagi di Kereta Komuter Portland Dengan tenang dia mengatakan, teman pria wanita lain yang meminta duduk itu mengatakan sesuatu dalam bahasa lain. Dia mengklaim pria tersebut memiliki gangguan stress pasca trauma dan merasa terancam. Tak hanya itu, ternyata pada bulan Juni lalu, seorang wanita yang terlibat dalam kata-kata kasar rasis kepada penumpang lain juga tertangkap video di bus East Vancouver. Agustus lalu, juga ditemukan grafiti rasis di sebuah poster bus stop atau halte bus di Vancouver untuk film Crazy Rich Asian sebelum dirilis. Ternyata kejadian tersebut juga terjadi pada 2017 lalu, saat grafiti diskriminatif ditemukan pada Metro Vancouver. Pada tahun 2016 dan 2017, polisi menyelidiki serangkaian pamflet supremasi rasis dan anti Asia yang didistribusikan di berbagai wilayah di Daratan Bawah, termasuk Richmond, Chilliwack dan Abbotsford.

Konstruksi LRT Ottawa Dilanda Banjir, Serikat Pekerja Khawatir Akan Keselamatan Pekerjanya

Siapa bilang banjir cuma ada di Jakarta saja, baru-baru ini dikabarkan bahwa salah satu bakal terowongan LRT di Ottawa, Kanada terendam air pasca diguyur hujan yang cukup deras. Alih-alih saling menyalahkan seperti tradisi di Indonesia, Presiden The Ottawa and District Labour Council, Sean McKenney langsung mengkonfirmasi bahwa kejadian tersebut benar adanya dan ia mengaku khawatir akan keselamatan para pekerja di sana. Baca Juga: India Ciptakan Lokomotif yang Bisa Tembus Banjir “Airnya keruh sehingga Anda tidak bisa melihat apa yang Anda pijak. Jadi area yang terendam banjir tersebut cukup berbahaya untuk dilalui, dan kami khawatir akan keselamatan para pekerja,” tutur Sean McKenney, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cbc.ca (2/10/2018). Adapun banjir tersebut menggenangi bakal terowongan LRT di LeBreton Flats, yang bersebelahan dengan Sungai Ottawa. Sebelum mendapatkan bukti banjir di terowongan dalam bentuk foto, Sean McKenney mengutarakan bahwa para pekerja terowongan sebelumnya telah memproklamirkan kekhawatiran mereka akan pekerjaan bawah tanah tersebut. “Sistem pembuangan rumah tangga yang buruk, bahaya tersandung, kualitas udara yang buruk, hingga potensi keruntuhan struktural,” paparnya. Menurut Direktur Implementasi Jaringan Kereta Ottawa, Steven Cripps, foto banjir di bakal terowongan LRT Ottawa tersebut diambil pada 25 Juli 2018 silam. “Anda semua harus ingat bahwa ini baru sebatas konstruksi, dan ini hanyalah kondisi yang termporer atau sementara,” ujar Steven. Kendati pernyataan Steven tersebut terkesan acuh tak acuh dengan keselamatan para pekerja konstruksi, namun ia menyebutkan bahwa Rideau Transit Group (RTG) selaku pihak kontraktor jaringan LRT di sana telah melakukan tindakan yang tepat untuk melindungi para pekerja konstruksi. Untuk sementara, pompa masih belum bisa me-manage air dalam jumlah yang banyak, sehingga terjadilah banjir di dalam terowongan LRT tersebut. Namun ketika proyek ini sudah rampung, lanjut Steven, pompa dan sistem drainase permanen mampu untuk menangani air dalam jumlah yang berkali lipat. Hadirnya pompa dan drainase ini salah satunya diakibatkan oleh posisi terowongan yang dekat dengan sungai. Baca Juga: Kenapa Kereta Tidak Bisa Menembus Rel Yang Tergenang Banjir? Ini Dia Jawabannya! “Kebocoran lainnya tidak menutup kemungkinan akan terjadi karena terlalu banyak sistem LRT yang ada di bawah permukaan air. Kendati terowongan tersebut memiliki lapisan kedap air, namun air akan selalu menemukan jalan untuknya tetap mengalir,” tambah Steven. Pada kesempatan terpisah, pihak RTG mengatakan telah menyuntikkan senyawa yang akan menjamin tidak adanya kebocoran lebih lanjut.  

Unggul di Sejumlah Aspek, Ternyata Autonomous Rapid Transit Dinilai Lebih Efektif Ketimbang LRT

Bicara soal transportasi berbasis massal yang selama ini sudah hadir di berbagai penjuru dunia nampaknya tidak akan ada habisnya, ya. Beda negara, maka akan berbeda pula masalah yang dihadapinya. Ambil contoh Indonesia – khususnya Jakarta yang punya beragam moda transportasi semacam ini. Mulai dari Commuter Line Jabodetabek, jaringan Bus Rapid Transit (BRT) TransJakarta, Light Rapid Transit (LRT), hingga yang sebentar lagi akan beroperasi, Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Baca Juga: PT KAI Tawarkan Autonomous Rapid Transit Untuk Atasi Kemacetan di Bandung Hadirnya sejumlah moda berbasis massal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengatasi masalah kemacetan di Ibukota yang juga berdampak pada masalah polusi. Namun pada kenyataannya, kemacetan tetap saja tidak dapat terelakkan – terutama ketika peak hours. Ketika perkembangan teknologi sudah coba dikombinasikan dengan sektor transportasi, nyatanya belum mampu untuk mengentaskan ‘masalah klasik’ yang ada di setiap kota-kota besar di seluruh dunia ini. Nah, berkenaan dengan masalah ini, Cina punya satu alternatif moda yang dinilai kompeten untuk menggantikan peran BRT yang dinilai kurang bisa bersaing dengan kendaraan pribadi dan LRT yang punya sejumlah kelemahan. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman theconversation.com (26/9/2018), adalah Autonomous Rapid Transit (ART) atau yang kerap disebut Trackless Trams ini merupakan moda yang dilandaskan pada teknologi yang dikembangkan di Eropa dan Cina mengkombinasikannya dengan inovasi dari jaringan kereta berkecepatan tinggi. Secara umum, ART menggunakan listrik yang tersimpan di dalam sebuah baterai sebagai tenaga penggerak utamanya. Jika berkaca pada ART Cina, moda ini hanya membutuhkan waktu 30 detik untuk mengisi ulang dayanya di setiap stasiun/halte, atau sekitar 10 menit di stasiun pemberhentian terakhir. ART Tiongkok dapat melaju hingga kecepatan 70km/jam dan fitur otonom yang terdapat di moda ini dipandu secara optikal dengan bantuan teknologi GPS dan LIDAR. Berbeda dengan jaringan kereta ringan lainnya, ART Cina tidak perlu berjalan di rel karena pada dasarnya moda ini menggunakan roda karet sama seperti mobil pada umumnya. Bicara soal kapasitas angkut, standar jaringan ART Cina mampu memboyong 300 orang sekaligus dalam sekali perjalanan dengan menggunakan tiga gerbong (1 gerbong = 100 orang). Memang, perkembangan LRT di berbagai negara di dunia memiliki ‘catatan manis’ yang dapat mengimbangi pertumbuhan kendaraan pribadi di suatu negara dan menarik minat dari pengembang. Tapi seperti yang sudah disebutkan di atas, moda ini masih memiliki kekurangan yang jika ditelaah lebih dalam lagi, kekurangan tersebut dapat menghambat perkembangan dari moda itu sendiri.
Sumber: TheConversation
Sebagaimana yang dapat Anda lihat pada tabel di atas, terdapat perbandingan dari tiga moda yang sama-sama memiliki keunggulan di bidangnya masing-masing. Namun secara keseluruhan, jaringan ART Cina bisa dibilang hampir tidak ada kekurangan – mulai dari biaya pengadaan, kualitas berkendara, potensi pengembangan lahan, hingga waktu implementasi. Waktu implementasi yang cukup lama akan berdampak pada kemacetan di lokasi pembangunan – ambil contoh saja Jakarta yang dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami penngkatan kemacetan di sejumlah titik karena adanya pembangunan infrastruktur transportasi baru. Baca Juga: Gunakan Rel Virtual, Autonomous Rail Rapid Transit Siap Mengular di Zhuzhou Selain itu, dari soal pembiayaan pun ART mampu mengungguli dua moda pesaingnya. Ambil contoh pengadaan LRT di Sydney yang per-kilometernya pengadaan jaringan tersebut dihargai US$120 juta atau yang setara dengan Rp1,8 triliun. Berbeda jauh dengan jaringan ART Cina yang dihargai US$8 juta atau sekira Rp120 miliar per-kilometernya. Sangat jauh bukan perbedaannya? Kendati ART unggul di banyak aspek, namun semuanya kembali kepada masing-masing pribadi. Jika para pengguna kendaraan pribadi hanya bisa mengeluhkan soal kemacetan yang semakin meradang tanpa ada aksi nyata (contohnya beralih menggunakan moda transportasi berbasis massal), maka hingga kapan pun kemacetan akan selalu terpampang di setiap jalanan.

Galau Tentukan Tarif Tiket, PT MRT Jakarta Tunggu Persetujuan Pemprov DKI

Tak terasa tahun 2019 akan menyongsong sebentar lagi, dan Ibukota Jakarta akan memiliki moda transportasi baru yakni Mass Rapid Transit (MRT). Namun, meski akan mulai mengular pada Maret 2019 mendatang, hingga saat ini PT MRT Jakarta belum menemukan titik terang untuk masalah tarifnya. Baca juga: MRT Jakarta Dilirik Tangerang Selatan Untuk Buka Jalur Meski demikian, Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pihaknya mengusulkan tarif Rp8500 per 10 km. Namun, hal kepastiannya PT MRT Jakarta masih menunggu persetujuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. “Pemprov yang akan menentukan. Kalau dari kami sudah mengusulkan MRT Jakarta Rp8500 untuk 10 km atau rata-rata Rp8500 by distance, kalau lebih pendek lebih murah. Kalau lebih panjang ya lebih mahal,” ujar William yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman sumber tribunnews.com (2/10/2018). William mengatakan, sampai sejauh ini Pemprov DKI Jakarta tengah melakukan pematangan harga tiket dengan pembicaraan yang intens. Namun William mengaku tidak mengetahui pembicaraan tersebut secara lebih teknis. Saat ini, William mengatakan, belum memastikan dengan jelas berapa subsidi yang akan diberikan Pemprov DKI untuk tiket MRT tersebut. Ada kemungkinanan tarif yang berlaku Rp8500 hingga Rp10 ribu. “Untuk harga diatas itu yakni Rp15 ribu kita tidak menyarankan karena itu terlalu tinggi,” ujarnya. William menambahkan, dengan tarif Rp8500 merupakan kerelaan masyarakat dalam membayar. Tetapi semakin murah harga tiket, maka subsidi yang diberikan oleh Pemprov DKI Jakarta akan semakin besar jumlahnya. Sehingga William mengusulkan dalam jangka panjang setelah MRT Jakarta beroperasi, masyrakat diharapkan untuk siap membayar. Baca juga: PT MRT Jakarta Minta Retail Punya Ciri Khas Saat Membuka Toko di Stasiun ” Kita harap masyarakan siap membayar. Karena layanan yang diberikan bagus,” kata William. Saat ini diketahui, PT MRT Jakarta sudah melakukan serangkaian tes baik pada sistem komuniakasi, persinyalan hingga kereta yang melaju di rel dari Lebak Bulus menuju Bundaharan HI serta sebaliknya. Tak hanya itu, saat ini juga, Taman Dukuh Atas sudah selesai dan mulai digunakan oleh pejalan kaki yang menuju Stasiun Sudirman atau Stasiun BNI City serta perkantoran yang ada disekitarnya.