Kereta api Pangrango tujuan Bogor-Sukabumi mengalami kenaikan tarif dan kemudian banyak dikeluhkan oleh masyarakat. PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengatakan, adanya kenaikan tarif ini sendiri masih sesuai aturan yang berlaku.
Baca juga: Stasiun Sukabumi, Tak Jadi Dipindah dan Tetap Berada di Pusat Kota
Dari kenaikan tarif ini sendiri, Pelaksana Tugas Direktur Komersial dan Teknologi Informasi PT KAI Apriyono Wedi Chresnanto mengatakan, pihaknya memiliki skema atas dan batas bawah dalam penentuan tiket.
“Itu bukan naik, kami menyesuaikan,” ujar Apriyono yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman tempo.co, Selasa (2/10/2018).
Kenaikan tarif ini sendiri resmi diberlakukan sejak 4 September 2018 kemarin dari yang Rp25 ribu menjadi Rp35 ribu untuk kelas ekonomi dan Rp50 ribu menjadi Rp80 ribu untuk kelas eksekutif. Tiket kereta api Pangrango ini pada akhir pekan akan dikenakan Rp30 ribu untuk kelas ekonomi dan Rp60 ribu untuk kelas eksekutif.
Pengumuman terkait kenaikan tarif tiket kereta api Pangrango ini juga tertempel di loket pembelian tiket. Sayangnya kenaikan tarif tersebut justru membuat banyak pihak memprotesnya.
Ketua DPRD Kota Sukabumi, Yunus Hadi telah meminta penjelasan dari PT KAI Daop I Jakarta terkait kenaikan tarif tersebut. Dari penjelasan itu, diketahui PT KAI mengalami kerugian Rp2,5 sampai 3,5 juta untuk satu kali keberangkatan kereta api Pangrango.
Apriyono sendiri membenarkan keterangan yang disampaikan Yunus bahwa KAI merugi di jalur tersebut sehingga perlu adanya penyesuaian tarif. Dia juga mengetahui ada protes dari DPRD Sukabumi hingga mahasiswa, atas kebijakan ini.
“Ya setelah kami jelaskan ke DPRD, pada ngerti,” tuturnya.
Meski demikian, dia menjamin kenaikan harga tiket tidak akan pernah lebih tinggi dari batas atas ataupun lebih murah dari batas bawah. Jangkauan batas atas dan bawah itu ditentukan melalui keputusan bersama direksi.
Baca juga: HUT PT KAI Ke-73, Daop 5 Luncurkan Dua Kereta dengan Rangkaian Baru
“Gak mungkin lah lewat dari itu, bisa kena kami sama auditor,” ujar Apriyono.
Sebenarnya, saat ini untuk kereta api Pangrango sendiri baik kelas eksekutif maupun ekonominya telah memberlakukan harga tiket komersil atau sama sekali tanpa subsidi. Namun kondisi ini sendiri berbeda dengan jalur lanjutannya yakni dari Sukabumi yang menuju ke Cianjur. Dimana jalur Sukabumi-Cianjur sendiri saat ini masih menggunakan tarif perintis atau sepenuhnya ddisubsidi pemerintah.
Rasa lapar yang amat sangat dan waktu penerbangan yang masih cukup lama akhirnya memaksa Anda untuk memesan makanan ketika mengudara. Terlepas dari rasanya yang enak atau tidak, namun opsi ini harus ditempuh ketimbang hal buruk yang mungkin menimpa Anda ketika menahan lapar lebih lama lagi. Tapi tahukah Anda bahwa pilot memiliki menunya sendiri yang berbeda dengan penumpang? Duh, kok bisa begitu, ya?
Baca Juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang
Ya, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman traveller.com.au, seorang pilot yang ingin tetap anonim menyebutkan bahwa setidaknya pihak katering pesawat menyediakan tiga makanan yang berbeda – berbeda dengan penumpang, dan pilot yang lainnya (kopilot). Kendati dimasak oleh ‘dapur’ yang sama dengan apa yang bisa dipesan penumpang selama mengudara, namun hadirnya opsi lain bagi para pilot ini ditujukan untuk menghindari adanya kasus keracunan.
Jika ditelaah lebih dalam lagi, ternyata pernyataan di atas sangat masuk akal. Dapatkah Anda bayangkan jika pilot dan kopilot menyantap makanan yang sama dan ternyata kedua makanan tersebut beracun. Wah, bisa gawat kondisinya!
“Jika keduanya (pilot dan kopilot) ingin menyantap makanan yang sama, maka awak kabin akan menanyakan terlebih dahulu kepada kapten penerbangan apakah request tersebut diterima atau tidak,” ujar juru bicara dari Virgin Atlantic.
Di sisi lain, jika menu yang disantap oleh pilot dan kopilot berbeda, dan secara kebetulan salah satu dari hidangan yang mereka santap beracun, maka salah satu diantara mereka berdua bisa mengambil kemudi semisal keadaan berubah menjadi darurat.
Baca Juga: Mobile Game Ini “Ajarkan” Penumpang Hadapi Situasi Darurat Selama Mengudara
Ya, perkara jatuh sakit secara bersamaan ketika tengah mengemudikan sebuah pesawat memang menjadi momok yang sangat ditakuti oleh pihak operator dan juga penumpang. Tidak hanya merugikan perusahaan ketika suatu waktu, kedua orang paling penting di sebuah penerbangan ini jatuh sakit secara bersamaan dan berdampak pada sebuah kecelakaan, namun yang terpenting adalah aspek keselamatan penerbangan yang selalu dikedepankan oleh setiap pelakon bisnis perjalanan udara.
Kerap kali penumpang sebuah maskapai harus menelan ludah ketika melihat barang bawaan mereka dari kargo harus rusak atau hilang. Namun meski sering kali pemberitaan terkait ini terekspose, ternyata masih saja dilakukan oleh para petugas nakal.
Baca juga:Video Kasus Bagasi di Kualanamu Beredar, Lion Air Siap Tempuh Jalur Hukum
Salah satunya yakni yang terjadi di Bandara internasional Hong Kong dan menjadi viral beberapa hari ini. Pasalnya, dua orang pria terlihat melemparkan barang penumpang dari konveyor satu-satu ke dalam kereta pengangkut barang.
Keduanya terekam dalam video berdurasi 37 detik yang diunggah ke Facebook pada 27 September 2018 kemarin. KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (29/9/2018), dalam video tersebut koper, tas, serta barang-barang berstiker mudah pecah pun dilempar dan terkena barang lain yang sudah ada di dalam kereta pengangkut barang-barang itu.
“Ini adalah cara bagaimana koper tercinta kami diperlakukan!!” tulis Marcela Fernanda Solis Walker yang menulis caption tersebut pada video yang diunggahnya itu.
https://youtu.be/nL96yMlC9g4
Dia mengatakan, video itu saat barang-barang diturunkan dari penerbangan Cathay Pacific Airway yang berangkat dari Xianmen dan tiba di Hong Kong, Kamis (27/9/2018) kemarin. Petugas yang membongkar tas tersebut mengenakan seragam Hong Kong Airport Sevice (HAS), dimana ini adalah penyedia layanan yang sepenuhnya dimiliki oleh Cathay Pacific.
Walker mengatakan, dirinya terkejut terkait dengan dampak dari video yang diunggahnya ke Facebook. Padahal maksud dirinya mengunggah video itu ke media sosial adalah agar orang lain tahu bahwa tas mereka diperlakukan seperti itu.
“Saya tidak punya niat untuk membuat masalah bagi pekerja. Aku hanya ingin orang lain menyadari situasi itu,” ujarnya.
Baca juga: Tiga Jam Menanti, Bagasi Penumpang Ryanair Baru Keluar dari Baggage Carousel
Dia mengatakan hal tersebut pada HAS tetapi belum mendapat balasan. Kemudian juru bicara HAS mengatakan, pihaknya menyadari video tersebut dan telah mengambil masalah dengan pemasuk outsourcing yang terlibat.
“Kami dengan tulus meminta maaf kepada penumpang maskapai penerbangan pelanggan kami dalam insiden khusus ini,” kata juru bicara tersebut.
Sepeda elektrik atau e-bike baru-baru ini dihadirkan pada kereta bawah tanah sebagai proyek percontohan untuk SmartCityBike di Slovakia. Kehadiran sepeda elektrik tersebut pada rute perjalanan dari Bratislava menuju ke Senec.
Baca juga: Hadirkan Layanan Sepeda Listrik di Negeri Paman Sam, Uber Akuisisi JUMPKabarPenumpang.com melansir dari laman spectator.sme.sk (24/9/2018), SmartCityBike yang ada di Slovakia sendirii merupakan gabungan proyek dari perusahaan kereta penumpang Železničná spoločnosť Slovensko (ZSSK) dan perusahaan ICT Antik Telecom.
“Penting untuk terus-menerus membawa inovasi ke transportasi umum. Proyek berbagi sepeda adalah salah satunya,” ujar pejabat ZSSK Karol Martinček.
Layanan sepeda elektrik ini sudah mulai di uji sejak 24 September hingga 12 Oktober 2018 mendatang atau akan berlangsung selama 19 hari. Dalam satu kereta di jalur tersebut akan menghadirkan enam sepeda elektrik dengan sebenarnya ada sebanyak 12 yang termasuk dalam proyek SmarCityBike.
(The Slovak Spectator – Sme)
Penumpang yang tertarik dengan sepeda elektrik ini bisa menyewanya melalui aplikasi Antik Telecom’s Antik CityBike, tersedia di situs web ZSSK. Sepeda listrik ini bisa disewa selama 24 jam dan tarif yang dikenakan adalah €10 atau setara dengan Rp172 ribu.
Penyewaan sepeda ini memungkinkan penumpang untuk menyewa sepeda di kereta dan bisa menggunakannya untuk pergi bekerja dari stasiun kereta api dan setelah pulang kerja kembali ke stasiun. Kemudian dari stasiun kembali ke rumah serta keesokan harinya pengguna bisa menggunakannya lagi untuk sampai ke stasiun kereta dan mengembalikannya ke kereta. Nantinya setelah selesai uji coba, pihak ZSSK akan melakukan evaluasi.
Baca juga: Jurus Selamat Bersepeda di Kota-Kota Besar, Waspada Walau Tidak Ngebut!
“Kami pasti membutuhkan, bekerja sama dengan mitra kami, untuk mencari semua bug. Kami akan melihat kejutan apa yang tersedia bagi kami, tetapi saya percaya bahwa tidak akan ada banyak masalah dan kami akan dapat menyelesaikannya untuk mendapatkan ini dimulai sesegera mungkin,” ujar bagian departemen komunikasi pemasaran ZSSK Marek Lukotka.
Ini adalah proyek berbagi sepeda kedua yang akan diluncurkan di Bratislava dalam beberapa waktu terakhir. Pada awal September, dewan kota Bratislava meluncurkan sistem berbagi sepeda BAJK Slovnaft, bekerja sama dengan kilang Slovnaft.
Kilas balik ke 26 September 1997, sebuah pesawat Garuda Indonesia jatuh di Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara beberapa saat sebelum pesawat nahas tersebut mendarat di Bandara Polonia, Medan.
Baca Juga: Ada DC-9 Berlivery Klasik di Hanggar Garuda Maintenance Facility, Buat Apa Ya?
Salah satu catatan kelam maskapai plat merah ini menewaskan semua orang yang ada di dalam penerbangan GA152 ini – 222 penumpang, dan 12 awak kabin. Kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan pihak ATC Bandara Polonia dalam mengarahkan pesawat GA152 sampai-sampai dikategorikan sebagai yang paling parah dalam sejarah penerbangan di Republik ini.
Sekedar mengingatkan, adapun armada Garuda Indonesia yang digunakan ketika peristiwa nahas ini terjadi adalah Airbus A300B4 – yang merupakan penyempurnaan dari keluarga A300 sebelumnya. Nah, ternyata ada banyak cerita terselip dari armada yang pertama kali mengudara pada 28 Oktober 1972 ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber ini, Airbus A300 ini merupakan pesawat wide body pertama yang menggunakan mesin ganda di dunia.
Selain menyandang gelar di atas, Airbus A300 juga merupakan pelopor dari sistem two-men cockpit crew (pilot dan co-pilot) yang diterapkan hingga detik ini. Sebelumnya, ruang kokpit diisi oleh tiga orang, yaitu pilot, co-pilot, dan flight engineer. Airbus A300 sendiri memiliki lima varian dan beberapa diantaranya pernah digunakan oleh Garuda Indonesia sebagai armada andalannya – salah satunya adalah Airbus A300B4.
Bergabungnya Airbus A300B4 ke tubuh Garuda Indonesia ini sendiri terjadi manakala Flag Carrier Indonesia ini tengah berada di bawah pimpinan Wiweko Soepono. Tepatnya pada tahun 1982, Garuda Indonesia merupakan maskapai pertama yang menggunakan armada Airbus A300B4-600 FFCC (Forward Facing Crew Cockpit). Dan lebih kerennya lagi, penggunaan sistem FFCC ini merupakan salah satu ide yang dilontarkan langsung oleh Wiweko kepada pihak Airbus, lho!
Dua tahun berselang, Garuda Indonesia sudah ‘mengoleksi’ beragam jenis pesawat yang digunakan sebagai ujung tombaknya dalam menjalankan bisnis di dunia aviasi – Boeing 747-200, McDonnell Douglas DC-9, McDonnell Douglas DC-10, Airbus A300B4, dan Fokker F-28. Sebagai informasi tambahan, ke-22 unit Airbus A300B4 yang kala itu digunakan oleh Garuda Indonesia masih menggunakan livery strip orange kemerah-merahan khas Garuda Indonesia tempo doeloe.
Baca juga: Wiweko Soepono – Bapak ‘Two-Men Cockpit’ yang Sarat Pengalaman di Dunia Dirgantara
Setelah mengabdi selama kurang lebih 20 tahun lamanya, akhirnya Garuda Indonesia mulai mengganti armada Airbus A300B4 dengan armada lain yang lebih fresh guna menunjang pengoperasiannya – dan Airbus A300B4 menjadi salah satu armada yang paling lama digunakan oleh Garuda Indonesia dibanding mantan-mantan armada lainnya seperti Fokker, Lockheed, Convair, dan De Havilland Heron.
Setelah Bandara Internasional Changi di Singapura menjadi hub terbesar yang memiliki koneksi penerbangan terbanyak, kini Bandara Soekarno-Hatta berada di urutan kedua di Asia Pasifik. Selain itu, Bandara Soetta juga terkoneksi ke-10 di dunia mengalahkan bandara besar seperti Incheon di Korea Selatan, KLIA Malaysia dan Hong Kong berdasarkan laporan Megahubs Internasional Index 2018.
Baca juga: Bandara Soekarno-Hatta Hadirkan “Hotel Kapsul” di Terminal 3 Domestik
Penobatan menjadi bandara tersibuk dan hub terbesar kedua tersebut oleh OAG yang merupakan perusahaan intelijen perjalanan udara dan berbasis di Inggris. KabarPenumpang.com melansir dari keterangan tertulis yang dikeluarkan PT Angkasa Pura II (AP II) melalui laman webnya, ternyata indeks konektivitas Bandara Soetta mencapai 249 dan terpaut hanya empat poin dari Bandara Changi dengan nilai indeks 253.
Proses penentuan nilai indeks tersebut dilakukan OAG dengan menghitung total kemungkinan konektivitas bandara untuk penerbangan datang dan keluar dalam masa waktu enam jam. Adapaun kriteria penentuan konektivitas itu sendiri diantaranya adalah penerbangan internasional menuju maupun dari bandara tersebut (single international connections) dan penerbangan internasional yang termassuk domestik ke internasional, internasional ke domestik ataupun internasional ke internasional.
“Bandara Internasional Soekarno-Hatta merupakan bandara tersibuk di Indonesia dengan jumlah pergerakan tahun 2017 mencapai lebih dari 63 juta penumpang per tahun. Untuk mengakomodir pertumbuhan jumlah penumpang yang terus merangkak naik, Bandara Internasional Soekarno-Hatta terus bersolek baik di sisi darat maupun sisi udara, untuk memaksimalkan potensinya,” ujar Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin.
Saat ini pihak AP II tengah melakukan pembangunan infrastruktur untuk melakukan peningkatan kapasitas penumpang seperti pembangunan east cross taxiway, runway 3, revitalisasi Terminal 1 dan 2 serta pembangunan Terminal 4. Sebab, Awaluddin sendiri mengstimasi penumpang yang melalui Bandara Soetta sendiri tahun 2018 ini diprediksi mencapai 68 juta.
Baca juga: Jewel Changi, Bakal Jadi Destinasi Wisata Gaya Baru via Bandara Changi
“Dengan pembangunan infrastruktur, Bandara Internasional Soekarno-Hatta akan mendukung pertumbuhan pariwisata dan ekonomi negara,” tambahnya.
Diketahui, tahun 2017 lalu, arus penumpang di Bandara Soetta sendiri mencapai 63 juta penumpang dan menjadi bandara ke-17 tersibuk di dunia.
Setelah sempat dihebohkan dengan kasus vandalisme yang menimpa salah satu armadanya beberapa waktu yang lalu, kini PT MRT Jakarta hadir dengan pernyataan yang akan semakin mempermudah mobilitas para pengguna jasanya kelak. Diketahui, perusahaan yang dinakhodai oleh William Sabandar cs. ini telah memastikan tiga gedung yang nantinya akan terkoneksi dengan jaringan metro pertama di Indonesia ini.
Baca Juga: Koneksikan Gedung dan Stasiun, Akankah Interkoneksi MRT Jakarta ‘Secanggih’ di Singapura?
Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Direktur Operasional MRT Jakarta Agung Wicaksono membocorkan tiga gedung yang telah dipastikan terkoneksi dengan layanan tersebut. “Blok M Plaza, Gedung UOB, dan Gedung Indonesia One,” ujar Agung dikutip dari laman sindonews.com (30/9/2018). “Saat ini proses koneksi ketiga gedung dengan stasiun MRT masih berlangsung, sedang dalam proses pembangunan,” tandasnya.
Agung menambahkan, nantinya Stasiun MRT Blok M yang merupakan bagian dari elevated section akan terkoneksi langsung dengan Blok M Plaza, Stasiun MRT Dukuh Atas (underground section) akan terkoneksi dengan Gedung UOB, dan Stasiun MRT Bundaran HI (Underground section) akan terkoneksi dengan Gedung Indonesia One.
Jauh sebelumnya, pihak Blok M Plaza memang telah mengajukan permohonan kepada MRT Jakarta untuk mengkoneksikan layanan MRT secara langsung dengan pusat perbelanjaan tersebut. Sedangkan Gedung UOB dan Gedung Indonesia One pengkoneksian itu memang kewajiban MRT sebagai bagian dari pembangunan jalur utama MRT.
Selain tiga gedung tersebut, PT MRT Jakarta juga mengharapkan setidaknya 50 gedung terkoneksi dengan stasiun MRT. Demi melancarkan rencana tersebut, baik pihak MRT Jakarta maupun pihak pengelola gedung sudah menangatangani Memorandum of Understanding (MoU) guna mempercepat proses.
“Interkoneksi sudah banyak yang MoU. Mereka masih wait and see tapi kami push. Mereka mungkin akan lihat semua stasiun dulu. Sudah ada knock down pannel. Nanti kalau ada yang mau interkoneksi tinggal dibuka,” ucap Agung.
Baca Juga: Tidak Hanya dari Tiket, Inilah ‘Ladang-Ladang’ PT MRT Jakarta Raup Keuntungan
Memang, kesepakatan untuk mengkoneksikan gedung dengan Stasiun MRT tidaklah semudah yang kita kira. Diperlukan pertimbangan yang sangat matang di beberapa sektor, seperti pembangunan infrastruktur di awal, perawatan, hingga jaminan keamanan. “Memang kesiapan ini dari dua belah pihak. Arrangement-nya antara pemilik gedung dan MRT, baik soal keamanan, kebersihan dan perawatan,” ucap Agung.
Jika melihat dari segi keuntungan, tentu saja kehadiran interkoneksi seperti di Blok M Plaza, Gedung UOB, dan Gedung Indonesia One akan memudahkan para penumpang – terutama bagi mereka yang kebetulan bekerja di sana. Selain itu, pengurangan volume kendaraan merupakanasa lain yang coba diwujudkan oleh PT MRT Jakarta.
Baru-baru ini, salah satu perusahaan telekomunikasi multinasional asal Finlandia, Nokia menjalin kerja sama dengan teknisi dan penyedia layanan R & D (ER & D) Altran guna mengembangkan solusi pemeliharaan rolling stock yang efisien untuk operator kereta api. Dalam hal ini, keandalan kedua belah pihak akan sangat ditonjolkan – Nokia dengan Internet of Things (IoT), dan Altran dengan kemampuan analisis dan integrasi sistem untuk operasi kereta apinya.
Baca Juga: Jangan Salah Kaprah, Ternyata ini yang Dimaksud Janitor di Kereta Api
Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (21/9/2018), kerja sama tersebut terjalin untuk menawarkan dukungan pemeliharaan prediktif untuk rolling stock dari sejumlah produsen kereta api. Tidak berhenti sampai di situ, kerja sama ini juga akan meminimalisir biaya pemeliharaan untuk para operator.
Selanjutnya, solusi baru ini akan menampilkan sensor pintar untuk memantau dan mengumpulkan data tentang kondisi dan kinerja rolling stock, serta koneksi jaringan nirkabel dan IoT untuk menggabungkan dan mengirim data. Setelah dikembangkan, platform IoT adaptif ini akan mampu untuk mengelola beberapa sensor dan perangkat lain sekaligus.
Solusi ini juga akan berperan sebagai mesin analisis lanjutan untuk menginterpretasikan data dan memberikan beberapa opsi tindakan pemeliharaan yang bersifat preventif. Penggunaan sistem ini diprediksi mampu untuk meningkatkan keandalan kereta hingga 30 persen, meminimalisir penundadaan dan pembatalan keberangkatan armada sebanyak 20 persen, dan menurunkan estimasi waktu pemeliharaan hingga 10 persen.
“Kerusakan tak terduga pada rolling stock memiliki dampak besar pada kinerja operasional operator kereta api secara keseluruhan,” tutur Pimpinan Nokia Global Transportation Segment, Jochen Apel. “Cara ‘tradisional’ untuk mengatasi terjadinya masalah seperti ini adalah dengan melakukan pemeliharaan untuk mencegah kerusakan ringan atau berat terjadi,” tandasnya.
Baca Juga: Depo KRL Terbesar di Asia Tenggara, Ternyata Ada di Depok
Dengan pendekatan revolusioner yang dilakukan oleh Nokia dan Altran, lanjut Jochen, para operator kereta akan mendapatkan beragam keuntungan – mulai dari segi efisiensi waktu hingga biaya yang dikeluarkan. “Akan sangat efisien dan menekan pengeluaran biaya untuk pemeliharaan secara signifikan,” ujar Jochen.
Direktur Altran Rail and Transport Global Industry, Mike Greenan mengatakan kerja sama yang dijalin oleh pihaknya dengan Nokia akan meningkatkan kinerja operasional kereta api. “Perawatan prediktif merupakan peluang baru di bisnis perkeretaapian modern,”
Kesehatan penumpang dalam sebuah penerbangan terkadang kerap kali tak terlalu menjadi soal bagi pihak maskapai. Namun, Panasonic Avionics Corporation (Panasonic) baru-baru ini meluncurkan Wellness yang dihadirkan dan telah dikembangkan untuk platform NEXT.
Baca juga: Atasi Jetlag, LumosTech Hadirkan Masker Tidur Pintar
Kehadiran Wellness sendiri untuk memberikan kenyamanan, kesehatan dan kesejahteraan penumpang dalam penerbangan. KabarPenumpang.com melansir dari laman aircraftinteriorsinternational.com (27/9/2018), Wellness ini dikembangkan bersama tim R&D dari Panasonic Corporation di Jepang.
Wellness sendiri bisa mengurangi kebisingan, pencahayaan kursi premium dan teknologi Nanoe Panasonic. Dengan kehadiran ini, Panasonic mengatakan, bisa membuat pelanggan penerbangan aman dengan setiap fitur yang ada dan semuanya tersedia pada penerbangan jarak jauh dan pendek.
“Mitra maskapai kami secara aktif meneliti cara-cara baru untuk meningkatkan kesejahteraan penumpang, terutama pada penerbangan jarak jauh. Sebagai mitra yang bertanggung jawab untuk maskapai penerbangan terkemuka di dunia, misi kami adalah memanfaatkan kemajuan terbaru dalam teknologi untuk meningkatkan pengalaman penumpang di semua pesawat yang dilengkapi Panasonic. Nanoe, pembatalan kebisingan aktif, dan pencahayaan kursi premium merupakan solusi pertama yang kami yakini akan meningkatkan pengalaman terbang secara dramatis,” ujar CTO dari Panasonic Avionics Corporation David Barlett.
Pembatalan kebisingan aktif memungkinkan maskapai untuk mengurangi kebisingan sekitar di setiap kursi hingga 15dB tanpa menggunakan headphone. Teknologi ini dapat disesuaikan untuk setiap konfigurasi kursi dan akan dikalibrasi secara otomatis ke inflight kursi penumpang, mengurangi kelelahan.
Dengan rentang frekuensi 80-400Hz dan kontrol di kursi, speaker dan mikrofon, solusi terintegrasi dengan sistem IFE masing-masing kursi. Pencahayaan kursi premium menyesuaikan pengalaman pencahayaan penumpang ke berbagai fase penerbangan, untuk mendapatkan manfaat kesehatan dan kebugaran.
Algoritme khusus untuk tidur dan bangun memastikan penumpang memiliki waktu istirahat terbaik dan bangun segar dan sesuai dengan kecepatan tubuh mereka. Pencahayaan yang dijadwalkan selama layanan makanan dioptimalkan untuk meningkatkan saturasi warna makanan, sementara lampu baca dirancang untuk mengurangi ketegangan mata bagi penumpang.
Untuk maskapai ini, berbagai pencahayaan aksen menyoroti tema dan branding di kabin, dengan diferensiasi tersedia untuk bagian kelas pertama dan bisnis. Sistem Nanoe dapat membersihkan udara di kabin dan di sekitar area tempat duduk penumpang, bila diperlukan dengan menerapkan tegangan rendah ke kelembaban, yang melebur menjadi partikel berukuran nano elektrostatik berukuran nano dengan laju partikel 480mnnm per detik.
Baca juga: Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000
Hasilnya adalah penghapusan virus, bakteri, jamur dan bau dari kabin. Panasonic juga mengembangkan aplikasi kesehatan bekerja sama dengan para ahli termasuk Detalytics, penyedia layanan AI (Artificial intelligence) terkait kesehatan, yang telah menciptakan aplikasi penasihat kesehatan terintegrasi yang terintegrasi ke dalam PAC seatback dan layar ponsel penumpang; dan Mimi Hearing Technologies, spesialis algoritma peningkatan audio tingkat lanjut, yang telah menciptakan kemampuan audio pribadi yang terintegrasi.
“Fitur-fitur ini hanyalah awal dari berbagai teknologi, layanan, dan konten yang akan diluncurkan Panasonic dalam waktu dekat. Fitur baru akan diambil dari berbagai mitra dari industri kesehatan, kesehatan dan biometrik, selain investasi dan penawaran signifikan Panasonic dalam solusi kesehatan konsumen,” ujar Barlett.
Akibat gempa yang melanda Palu pada Jumat Sore, 28 September lalu, infrastruktur di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie mengalami kerusakan serius. Selain ada retakan sepanjang 500 meter di landas pacu, bagian atas menara (tower) ATC – Air Traffic Control pada hari yang nahas itu ikut ambruk, sontak peran dan fungsi ATC untuk memandu penerbangan dari dan ke Bandara Palu tak bisa dilakukan sebagaimana mestinya.
Baca juga: Wow! Bekas Menara ATC ini Disulap Jadi Penthouse
Namun, mengingat peran bandara yang vital untuk jalur evakuasi dan penyaluran logistik dan bantuan lainnya, maka kendali penerbangan harus sesegera mungkin dihidupkan kembali, mengingat bandara akan menjadi homebase bagi penyaluran bantuan dari luar kota Palu.
Dengan rusaknya fasilitas yang ada di ATC, sejatinya sudah ada mekanisme untuk menggelar ATC mobile. Penggunaan ATC mobile sendiri sebenarnya bukan cerita baru di Indonesia, pada musibah gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004, ATC mobile pernah digelar di Bandara Sultan Iskandar Muda. Tapi perlu dicatat, ATC mobile darurat tersebut bukan milik Indonesia, melainkan pinjaman dari Angkatan Udara Singapura.
Nah, belajar dari pengalaman di Aceh, kini ATC mobile sudah tersedia di Indonesia, di pihak militer, ATC mobile jenis MATC1800 telah dioperasikan oleh Komando Operasi Udara (Koopsau) I dan II TNI AU. Sementara di pihak sipil, Direktorat Udara Kementerian Perhubungan Udara (Kemenhub), sejak tahun 2012 diketahui telah menyiagakan ATC mobile jenis MX400. MATC1800 TNI AU adalah buatan BSS Defence and Security Solutuions, Belanda. Sedangkan MX400 Kemenhub adalah buatan Rohde & Schwarz, Jerman.
ATC mobile MX400 milik Kemenhub.
Dikutip dari rohde-schwarz.com, ATC tower ini memang dirancang untuk dapat digelar cepat di area bencana, mendukung penanganan darurat pasca musibah. Seperti halnya ATC konvensional, MX400 juga sarat perangkat dukungan komunikasi dan navigasi penerbangan, sebut saja ada radio VHF, UHF, V/UHF, HF transceiver, timing system GPS, dan sistem perekaman hingga 100 ribu jam menggunakan piringan cakram atau digital tape. MX400 juga dilengkapi perangkat meteorologi AWOS yang menampilkan data arah angin, kecepatan, tekanan, suhu, kelembaban, dan titik embun.
Baca juga: Mau Tahu 10 Menara ATC Tertinggi di Dunia, Ini Dia!
ATC moble ini dapat pulan diintegrasikan dengan radar ADS-B, Tactical VHF (30/88 Mhz), Satcom, dan emergency landing lighting beacon system. Yang terakhir disebut sangat berperan dalam membantu pendaratan pesawat dalam kondisi cuaca buruk dan minim visual.
Selain digerakan dengan truk trailer, kontainer ATC mobile ini dapat pula diangkut ke dalam ruang kargo pesawat sekelas C-130 Hercules. Dengan begitu, mobilitas ATC mobile ini dapat menjangkau kebutuhan darurat di pelosok Nusantara.