LRT Palembang Sepi Penumpang, Kepala Divre III: “Itu Wajar”

Kendati ajang Asian Games 2018 telah berakhir, namun beragam fasilitas yang sengaja dibuka untuk mendukung perhelatan tersebut tidak semuanya dicabut – salah satunya adalah Light Rapid Transit (LRT) Palembang. Moda yang ditujukan sebagai angkutan massal ini kehadirannya memang ditunggu-tunggu kala itu, namun fakta yang terjadi belakangan ini bisa dibilang bertolak belakang. Diketahui, hanya ada sekitar 4000 orang yang menggunakan layanan ini setiap harinya. Baca Juga: Uji Coba 20 Juli 2018, Tarif LRT Palembang Rp5 Ribu-Rp10 Ribu Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Kepala Divre III Palembang, Hendy Helmy mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar LRT ini bisa menjadi moda transportasi massal. “Data kita setiap harinya 4000 orang menggunakan LRT untuk kegiatan sehari-hari. Sedangkan ketika akhir pekan jumlah penumpang meningkat sebanyak 6.000 hingga 7.000 orang,” papar Hendy, dikutip dari laman tribunnews.com (21/9/2018). Sekedar mengingatkan, kapasitas angkut maksimal satu rangkaian LRT (tiga gerbong) dalam sekali jalan adalah 534 orang – 130 penumpang duduk, 404 penumpang berdiri. Tentu saja, data yang dipegang oleh Hendy tersebut menunjukkan masih minimnya jumlah penumpang dari kereta rel ringan ini. Maka tidak heran jika beragam sosialisasi terus digenjot PT KAI untuk meningkatkan jumlah penumpang hariannya. “Ya tentu evaluasi dan sosialisasi selalu kita lakukan. Untuk LRT ini secara volume memang penumpang belum terlalu banyak. Masyarakat masih mengira ini masih kereta wisata,” terang Hendy. Namun, Hendy sendiri tidak terlalu heran dengan fenomena seperti ini – ia beranggapan bahwa wajar saja jika masyarakat masih belum paham betul sebenarnya LRT merupakan sarana transportasi berbasis massal, bukan kereta wisata. “Dimana saja setiap negara yang baru memiliki LRT masyarakatnya masih mengira sebagai kereta wisata. Itu proses wajar yang biasa terjadi di belahan bumi manapun,” tandasnya. Salah satu langkah nyata yang akan dilakukan PT KAI untuk menarik minat masyarakat dalam menggunakan LRT adalah mengintegrasikan beragam moda darat dengan arah tujuan yang dituju. “Daerah mana saja yang tidak dapat dituju kereta (LRT) dapat dicapai dengan transportasi darat,” terang Hendy. “Bulan September ini rencananya sekitar 9-10 stasiun nanti kita cek masing-masing stasiun, bagaimana kesiapan secara operasional dan teknisnya. Insya Allah tahun ini ketiga belas stasiun dapat beroperasi. Sedangkan pada September ini ada 3 stasiun Bandara yang akan beroperasi,” Baca Juga: Hanya dengan Lima Stasiun Utama, LRT Palembang Siap Beroperasi Saat Asian Games 2018 Hingga saat ini, LRT Palembang baru memiliki delapan stasiun – Stasiun Bandara, Stasiun Asrama Haji, Stasiun Bumi Sriwijaya, Stasiun Dishub, Stasiun Pasar Cinde, Stasiun Ampera, dan Stasiun Jakabaring dan Stasiun DJKA. Tarif yang dikenakan untuk perjalanan diluar bandara Rp5.000 ; Sedangkan untuk perjalanan menuju bandara dibanderol dengan harga Rp10.000.  

Viral Penumpang Lion Air Tidak Dapat Bangku, Korban: “Emangnya Kopaja Apa?”

Maskapai yang terkenal dengan delay-nya, Lion Air kembali menjadi sorotan publik. Namun kali ini maskapai berlogo singa tidak datang dengan masalah keterlambatan keberangkatan, melainkan masalah pelayanan yang tidak memuaskan. Kejadian ini bermula ketika seorang penumpang yang hendak bertolak dari Palembang menuju Jakarta tidak menemukan nomor bangku yang sesuai dengan apa yang tertera di tiket. Nah lho, kok bisa? Baca Juga: Lion Air Group Jadi 5 Maskapai Teratas Pembawa Penumpang Terbanyak ke Singapura Ya, kejadian yang tengah viral di sosial media Facebook ini terjadi pada Minggu (16/9/2018) pagi. Kala itu, seorang penumpang Lion Air JT-1341 bernama Satwika Ika mendapat nomor bangku 35F sesaat setelah ia melakukan check-in online pada malam harinya. Singkat cerita, ia pun masuk ke dalam kabin dan mulai mencari tempat duduknya. Namun sesampainya di ujung kabin, ia mendapati nomor bangku yang ada di pesawat tersebut hanya sampai nomor 34. Dihimpun KabarPenumpang.com dari akun Facebook pribadi milik Ika, ia yang bingung lalu menanyakan kepada awak kabin yang bertugas apakah benar dirinya berada di penerbangan yang sesuai dengan tiket. Lalu jawaban si awak kabin terkesan alakadarnya saja, “benar.” Mendapati jawaban itu, Ika semakin bingung karena dirinya tidak menemukan bangku yang sesuai dengan tiket yang sudah ia pegang. “Kok nomor kursinya cuma sampai 34 Mbak. Saya dapat nomor 35,” tanya Ika kepada salah satu awak kabin Lion Air. “Standby saja dulu. Nanti dijamin pasti dapat kursi,” tandas si awak kabin sembari ngeloyor meninggalkan Ika.
Sumber: Facebook
Respon si awak kabin tersebut semakin membuat Ika naik pitam. Dengan nada yang agak keras, ia kembali bertanya kepada si awak kabin. “Maksudnya standby gimana nih Mbak,” tanya Ika “Standby saja di belakang dulu,” jawab si awak kabin sambil tetap memunggungi Ika. Tanpa panjang lebar, Ika pun menuruti arahan si awak kabin. Ia mundur ke belakang dekat toilet dan menunggu arahan selanjutnya. Saking penasarannya, Ika kembali bertanya pada awak kabin lain yang kebetulan berada tepat di sampingnya. “Di web check-in itu konfigurasinya untuk pesawat besar. Sedangkan ini kita pakai pesawat kecil,” jawab si awak kabin sembari menyuruh Ika untuk duduk di bangku yang kosong terlebih dahulu. Lagi, Ika pun kembali mengikuti arahan awak kabin untuk duduk di bangku yang kosong. Tak berselang lama, sang empunya bangku datang. Ika terpaksa harus kembali berdiri sembari menunggu kepastian dimana ia harus duduk. Sempat terjadi cekcok kecil antara Ika yang kesal karena tidak dapat tempat duduk dan si awak kabin yang tidak ramah tersebut. “Saya nggak mau duduk kalau belum jelas. Dan saya nggak mau dikasih kursi sisa asal-asalan ya. Saya mau dapat kursi di dekat jendela sesuai saat check in,” ujar Ika. Selang beberapa saat, seorang ground crew datang menghampiri Ika dan menyuruhnya duduk d bangku yang kosong pula. “Bangku kosong itu yang mana maksudnya? Tunjukkin dong ke saya. Jangan saya disuruh nyari-nyari sendiri. Emangnya Kopaja apa?” jawabnya kesal. Baca Juga: Lion Air Hengkang dari INACA, Alasan Yang Belum Terungkap Setelah mendapat arahan dari ground crew, Ika akhirnya mendapat bangku sesuai dengan keinginannya, yaitu di dekat jendela. Menanggapi insiden ini, pihak Lion Air melalui Corporate Communications Strategic, Danang Mandala Prihantoro mengatakan bahwa kejadian ini terjadi lantaran adanya rotasi pesawat. “JT-1341 seharusnya dioperasikan Boeing 737-900ER … Dikarenakan rotasi pesawat yang berpotensi menyebabkan keterlambatan penerbangan, maka Lion Air menggunakan Boeing 737-800NG berkapasitas 189 penumpang yaitu baris kursi sampai nomor 34,” ujar Danang. “Alasan penggantian pesawat dilakukan secara mendadak karena operasional, yang bertujuan untuk menjamin keselamatan penerbangan dan ketepatan waktu terbang. Dalam kondisi saat penggantian pesawat sebagian besar penumpang sudah melakukan check-in.” Tutupnya.  

Ingin Hindari Pengeluaran Lebih Untuk Bagasi? Inilah Tips Ala Pramugari!

Menjamurnya layanan Low Cost Carrier (LCC) atau penerbangan berbiaya rendah belakangan ini nyatanya memang sangat membantu banyak kalangan yang hendak mengudara namun dengan budget yang terbatas. Walaupun tidak senyaman layanan Business Class atau First Class, namun tetap saja harganya yang miring membuat LCC digandrungi banyak pihak. Nah, satu hal yang patut diwaspadai sebelum mengudara menggunakan LCC adalah biaya lebih untuk bagasi. Baca Juga: Selasa Sore! Waktu Paling Tepat untuk Berburu Tiket Pesawat Murah Barang bawaan yang melebihi kapasitas memang kerap kali menimbulkan satu masalah baru sebelum Anda mengudara. Tapi bukan berarti Anda harus membayar biaya lebih untuk memasukkan barang bawaan Anda ke dalam bagasi. Memang, tidak semua maskapai memberikan advantage sebagaimana kebanyakan LCC di Indonesia yang menyediakan fitur bagasi gratis hingga 15 kg. Namun apabila Anda menemukan maskapai yang tidak memberlakukan fitur seperti ini, seorang awak kabin membocorkan ‘cara liciknya’. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk (25/9/2018), adapun cara yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi pengeluaran lebih untuk barang bawaan Anda adalah berbicara langsung ke petugas penjaga gate. Utarakan ke penjaga tersebut bahwa Anda tidak keberatan semisal mereka ingin mengecek isi dari tas kita. “Jika Anda ingin membawa barang-barang Anda ke pesawat dan tidak membayar biaya untuk bagasi, bawalah tas Anda ke gerbang dan katakan saja Anda bahwa bersedia untuk diperiksa tasnya. Pemeriksaan ini biasanya ditujukan untuk meminimalisir ruang yang ada di tas Anda,” ungkap si awak kabin yang identitasnya dirahasiakan tersebut. “Anda tidak akan kena charge untuk pemeriksaan ini – biasanya,” tandasnya. Seperti yang sudah disebutkan di atas, masing-masing maskapai memiliki aturannya sendiri. Tidak semua maskapai di dunia aviasi memberlakukan fitur free baggage, dan Ryanair merupakan salah satu-satunya maskapai asal Inggris yang tidak memperbolehkan penumpang membawa barang bawaan Anda (seperti koper kecil) ke dalam kabin. Otomatis, Anda harus memasukkannya ke dalam bagasi, dimana itu akan menambah pengeluaran Anda. Baca Juga: Tips – Sebelum Masuk ke Kargo Pesawat, Pastikan Koper Anda Cukup Kuat Nah, kalau sudah begitu, Anda bisa menyiasatinya dengan cara membawa barang seperlunya saja dan dimasukkan ke dalam tas ransel kecil – dimana ini masih diperbolehkan untuk masuk ke dalam kabin Ryanair. Alih-alih membawa tas dengan kapasitas maksimal 20 kg dengan harga £25 atau yang setara dengan Rp439.000, para penumpang biasanya menyiasati dengan cara membeli dua tas berkapasitas masing-masing 10kg dengan harga £8 atau yang setara dengan Rp140.000. Dengan mengeluarkan Rp280.000 untuk kapasitas yang sama (20kg), para penumpang bisa menghemat Rp159.000. Lumayan, kan?  

Presiden Pakai Pesawat Komersial, 150 Penumpang di Bandara Lebanon Tertunda 9 Jam

Tak pernah terbayangkan oleh penumpang pesawat harus terdampar di bandara karena pesawat yang harusnya dinaiki malah mengangkut Presiden. Belum lama ini, insiden tersebut terjadi pada 150 penumpang di Bandara Rafic Hariri Beirut, Lebanon. Baca juga: Saat Petugas Melakukan Hal Tak Perlu, Apakah Ini yang Membuat Penerbangan Tertunda? Dilansir KabarPenumpang.com dari laman alaraby.co.uk (24/9/2018), masalah ini berawal dari pesawat milik maskapai Middle East Airlines (MEA) dengan nomor penerbangan ME305 yang sudah dijadwalkan terbang ke Kairo di Mesir. Tiba-tiba pihak maskapai mendapat info bahwa rombongan Presiden Lebanon Michael Aoun meminjam pesawat tersebut untuk delegasinya. Dimana para delegasi tersebut akan menghadiri Sidang Umum PBB ke-73 di New York, Amerika Serikat. Karena hal itu, ratusan penumpang yang sudah berada didalam pesawat dan duduk dengan nyaman menantikan lepas landas harus dievakuasi keluar dan kembali ke gate ruang tunggu. Permasalahan ini akhirnya membuat para penumpang tersebut terdampar dan juga harus merasakan delay atau tertundanya pesawat mereka menuju Kairo selama sekitar sembilan jam. Hal ini pun terjadi juga di Kairo, yang mana 100 orang penumpang harus menunggu untuk perjalanan mereka ke Beirut. Hingga akhirnya penumpang yang tertunda tersebut berangkat dari Beirut pukul 21.28 waktu setempat dan tercatat delay sekitar 8 jam 53 menit seperti dilihat di situs pelacak penerbangan FlightAware. “Permintaan maaf dikeluarkan untuk para penumpang yang terkena dampak penundaan itu,” kata Middle East Airlines via Twitter. Bahkan pihak MEA berujar, situasi tersebut terjadi diluar kontrol mereka. Namun pendapat itu kemudian dibalas oleh pihak Kepresidenan Aoun. Menurut mereka, prosedur dari perjalanan dinas Presiden tak pernah berubah selama sepuluh tahun belakangan. Pihak Kepresidenan pun mengeluarkan pernyataan bahwa Presiden tidak bertanggung jawab atas evakuasi penerbangan. Peristiwa ini sendiri dianggap sebagai kelalaian pihak maskapai. Warganet pun tidak sedikit yang menyorot perlakukan dari Presiden Lebanon dan delegasinya. Baca juga: Penerbangan Tertunda, Seorang Tentara dengan Mengharukan Lihat Video Istri Melahirkan di Ponsel “‘Ayah dari semua orang’ memindahkan semua penumpang dari pesawat dan terbang?,” ujar Paula sambil merujuk Presiden berumur 83 tahun itu. Tak hanya itu, anggota parlemen Lebanon pun mengecam keras kejadian ini. Salah seorang dari mereka melempar sindiran kepada Presiden Aon. “Bapak dari semua orang menurunkan semua orang dan terbang.”  Hikmah dari peristiwa ini adalah sebaiknya pejabat sekelas presiden meman mempunyai pesawat kepresidenan, sehingga tak mengganggu jadwal penerbangan komersial yang telah berjadwal.

Bentang Rel 1.435mm, Ternyata Telah Jadi Standar Sejak Zaman Romawi!

Siapa sih yang belum pernah naik kereta? Nampaknya setiap orang pernah berkendara menggunakan moda berjuluk si ular besi ini ya – entah untuk jarak dekat maupun jarak jauh sekalipun. Terlebih dewasa ini perkeretaapian di Indonesia sudah mengalami peningkatan kualitas yang cukup pesat dibanding awal tahun 2000-an kemarin. Wajar jika moda ini semakin digandrungi oleh banyak kalangan. Baca Juga: Lebar Bentang Rel Menjadi Ciri Khas Jalur KRL Jabodetabek Nah, ngomong-ngomong soal kereta, pernahkah terbesit di benak Anda, “Apakah setiap lebar rel di semua jaringan perkeretaapian dunia memiliki jarak yang sama?”. Jawabannya sederhana, tidak. Beberapa negara memiliki bentang relnya masing-masing, walaupun ada satu ukuran yang sudah diresmikan sebagai ukuran internasional, yaitu 1.435 mm. Mengingat ada beberapa ragam bentang rel di dunia, bisa dibilang ukuran 1.435 mm ini merupakan median dari keseluruhan variasi tersebut. Sebut saja Jepang yang menggunakan ukuran bentang rel 1.067 mm atau yang biasa disebut narrow gauge – karena ukurannya yang lebih sempit ketimbang standar internasional tadi. Atau jaringan perkeretaapian Spanyol dan Portugal yang menggunakan ukuran bentang rel 1.668 mm atau yang biasa disebut board gauge karena ukurannya yang lebih lebar dari standar internasional tersebut. Sekitar 60 persen negara-negara di dunia menerapkan bentang rel 1.435 mm untuk sektor perkeretaapiannya – termasuk Eropa, Amerika Utara, China, Australia, Timur Tengah, dan juga Indonesia. Jika diakumulasi secara keseluruhan, maka instalasi bentang rel 1.435 mm di seluruh dunia panjangnya mencapai kurang lebih 720.000 km! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman sankalpindia.net, ternyata penggunaan lebar rel 1.435 mm ini sudah turun temurun sejak jaman dulu kala. Sebelum ada kereta, orang-orang berkendara menggunakan gerobak yang ditarik oleh kuda – dan inilah yang menjadi cikal bakal dari penggunaan lebar rel 1.435 mm. Mengapa harus 1.435mm? Karena gerbong kereta dibuat dengan menggunakan alat yang sama dengan pembuatan gerobak yang ditarik oleh kuda tadi. Selain kesamaan pada alat pembuatannya, kesamaan lain yang ditemukan adalah jarak yang ditempuh oleh keduanya pun sama. Jika bertanya mengapa panjang jalannya juga sama, mungkin kita harus mundur lebih jauh ke era Kekaisaran Romawi dimana ketika mereka membangun jalan pertama untuk kereta perang mereka yang ditarik oleh kuda, jarak antar roda yang mereka gunakan adalah 1.435 mm. Sungguh presisi! Baca Juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti Jadi, kalau ada diantara Anda yang masih bertanya-tanya mengapa ukuran bentang rel itu 1.435 mm, maka jawabannya adalah sudah turunan dari awal pembuatannya, dan dari situ, para operator kereta di seluruh dunia pun menerapkan ukuran yang sama. Bagi negara-negara yang memiliki bentang rel berbeda dengan standar internasional, mungkin ada beberapa pertimbangan khusus, seperti biaya pembangunan rel, yang mengakibatkan berubahnya angka ukuran tersebut.  

Sambut Oktoberfest, Lufthansa Hadirkan Tong Bir dalam Penerbangan

Oktoberfest di Munich, Jerman dimulai pada akhir pekan ini dan maskapai Lufthansa ikut ambil bagian di dalamnya. Mereka mengumumkan akan menghadirkan tong berisi bir dalam penerbangannya dari Singapura, New York dan Shanghai dengan tujuan ke Munich. Baca juga: Lufthansa Hadirkan Makanan Astronot di Kelas Bisnis KabarPenumpang.com melansir dari laman cntraveler.com (18/9/2018), sebenarnya Lufthansa sudah menyajikan bir yang baru dibuat untuk Oktoberfest sejak tahun 1960-an. Tetapi kali ini ada beberapa hal baru yang dibuat oleh Lufthansa untuk memeriahkan pesta dalam pesawat tersebut, yakni menghadirkan menu makanan seperti truffle, Arctic char dengan saus riesling, bavarian cream dan pistachio pesto. Sayangnya ini semua hanya bisa nikmati oleh penumpang di kelas bisnis. Tak hanya itu kehadiran tong bir ini pun hanya ada pada tiga penerbangan yakni dari Munich ke Newark pada 19 September kemarin, dan dari Munich ke Singapura pada 25 September serta pada 6 Oktober mendatang dalam penerbangan Munich ke Shanghai.
Seragam yang digunakan awak kabin Lufthansa dan staf lounge Bandara Munich (Lufthansa Group)
Bir yang berada dalam tong dan terbang dengan ketinggian 32.808 kaki ini, menggunakan material khusus yang dirancang dengan katup untuk mengatur tekanan karbon dioksida sehingga tidak meledak. Untuk para pelancong pun, Lufthansa sendiri telah menyiapkan makanan tradisional untuk Oktoberfest tersebut. Ada lebih dari 4.000 kg Leberkäse, lebih dari 38.000 pretzel, dan sekitar 750 kg sosis putih yang disajikan di 12 lounge di Terminal 2. Menu Oktoberfest di restoran Lounges Kelas Satu Lufthansa, yang akan didekorasi dengan sesuai, akan dimulai dengan sup Oktoberfest yang diikuti oleh bebek yang disajikan dalam gaya pedesaan. Untuk hidangan penutup, akan ada pangsit aprikot dan prem dengan vanilla espuma. Senator dan Business Lounges akan menawarkan kepada tamu mereka sup gulai Andechser atau jamur dalam krim dengan pangsit. Tentunya kehadiran bir dengan lisensi di keran pun juga ada untuk melengkapi. Baca juga: Bandara Munich Gandeng Lufthansa Hadirkan Robot Humanoid Untuk Bantu Penumpang Selain itu dalam isi kotak pun terdapat makanan tradisional seperti pretzel gummies dalam bentuk gelas bir, minuman vitamin yang membantu pelancong mendapatkan rehidrasi setelah bir dipesawat dan kotak ini dibagikan pada pelancong yang mendarat di Terminal 2 Bandara Munich. Di Oktoberfest ini, para awak kabin dan penjaga di lounge menukar seragam mereka. Dimana Dirndl dipakai oleh pramugari perempuan berwarna biru gelap dengan apron perak abu-abu dan rekan pria mereka akan mengenakan Lederhosen pendek, dengan rompi biru gelap yang terbuat dari bahan yang sama dengan Dirndl. Ini adalah tahun ketiga berjalan , dimana awak kabin berpakaian khas Bavaria saat Oktoberfest.

Terima Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines Siap Terbang ke New Jersey Non-Stop

Belum lama ini, Singapore Airlines telah menerima pesanan pesawat Airbus A350-900ULR guna melayani rute penerbangan komersial non-stop terpanjang di dunia. Sesuai rencana, layanan yang menghubungkan Singapura dan Newark Liberty International Airport akan dibuka pada tanggal 11 Oktober mendatang. Penerbangan jarak jauh non-stop ini diperkirakan akan memakan waktu 19 jam perjalanan. Baca Juga: Pilot Kedapatan Konsumsi Alkohol, Penerbangan Singapore Airlines dari Melbourne Terpaksa Batal Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (24/9/2018), jarak 9.537 mil atau yang setara dengan 15.348 km yang membentang antara Singapura dan New Jersey, Amerika Serikat ini akan ditempuh Singapore Airlines dengan menggunakan Airbus A350-900ULR (Ultra Long Range). Total, Flag Carrier Singapura ini memesan tujuh unit pesawat jenis ini – Dua akan digunakan untuk melayani penerbangan Singapura-New Jersey, sementara lima sisanya akan digunakan untuk menghubungkan Singapura-Los Angeles tertanggal 2 November. Soal keandalan produknya ini, Airbus mengatakan waktu tempuh maksimum dari A350-900ULR adalah 20 jam atau jika dikonversikan ke satuan jarak menjadi 9.700 mil (15.610km). Selain keandalan dari modanya sendiri, satu hal yang tidak boleh dilupakan ketika membahas soal penerbangan jarak jauh non-stop adalah soal kenyamanan kabin. Dapat Anda bayangkan semisal waktu tempuh 19jam tersebut harus Anda lalui dengan kondiisi kabin yang tidak nyaman? Tentu hal ini akan membuat impresi Anda menjadi buruk dan terkesan ogah untuk menggunakan layanan itu lagi.
Langit-langit yang lebih tinggi dibanding armada lainnya, ukuran jendela yang lebih besar, ruang kabin yang lebih senyap, hingga tata pencahayaan yang tidak terlalu terang merupakan sejumlah indikator dibalik pengurangan jet-lag yang dijanjikan pihak Airbus. Dengan kata lain, Airbus tetap memprioritaskan pengalaman dan keamanan penumpang selama mengudara bersama maskapai negeri tetangga tersebut. Baca Juga: Miles KrisFlyer Singapore Airlines Naik Per 7 Desember 2017 Mengutip dari sumber lain, pihak Singapore Airlines sendiri menerima pesawat anyarnya ini pada 23 September kemarin. Menyoal konfigurasi bangku, pihak Airbus menuturkan A350-900ULR ini mampu menampung 170 bangku business class hingga 250 bangku kelas campuran. “Ini merupakan babak baru dalam penerbangan jarak jauh non-stop,” ujar CEO Airbus, Tom Enders.

PT Len Gandeng Thales Kembangkan Sistem Sinyal Kereta Api Indonesia

Jakarta memiliki pertumbuhan penduduk cukup pesat dan kini tengah menghadapi urbanisasi dimana per tahunnya tumbuh sebesar 3,7 persen. Dalam menghadapi pertumbuhan tersebut lalu lintas juga akan semakin padat dan Jakarta mulai berbenah dengan menyiapkan transportasi massal. Baca juga: Lanjutkan Uji Coba Persinyalan, Ini Kali Pertama Kereta MRT Jakarta Masuki Terowongan Merespon kian padatnya lalu lintas di jakarta, baru-baru ini Pemprov Jakarta dianggap berhasil mengendalikan lalu lintas yang biasanya padat menjadi sedikit lenggang saat Asian Games 2018 berlangsung belum lama ini. Dimana memberdayakan pengelolaan ganjil genap yang biasanya hanya di sekitaran Jalan Sudirman-Thamrin, menjadi di beberapa titik jalan utama lainnya. Tak hanya itu, dengan ini pun ternyata emisi karbon di langit ibukota ikut berkurang meski belum terlalu baik. Berbenahnya Jakarta juga terlihat dengan kemajuan layanan kereta listrik (KRL) CommuterLine dan kehadiran Light Rail Transit (LRT) serta proyek Mass Rapid Transit (MRT) yang dalam tahap finalisasi. Nah, ketiga moda transportasi tersebut didukung dengan sistem persinyalan dalam pengoperasiannya. Dan sebagai bentuk dukungan, BUMN PT Len Indonesia belum lama ini telah melakukan kerja sama dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Thales untuk proyek pengembangan sistem sinyal (signalling) yang mutakhir bagi proyek-proyek kereta api di Indonesia. MoU tersebut merupakan perluasan kerja sama yang telah terjalin selama bertahun-tahun antara Thales dan PT Len, khususnya di sektor industri pertahanan. Baca juga: Stasiun Gumilir Punya Sistem Sinyal Computer Based Interlocking Buatan Anak Bangsa Selain pengembangan, pengiriman dan pemasangan sistem sinyal terpadu untuk pengelola MRT dan LRT lokal yang potensial, pendekatan pengembangan bersama ini akan mendukung Thales agar bisa terus meningkatkan keahlian para SDM Indonesia setempat melalui transfer teknologi dan membantu PT Len supaya bisa mewujudkan ambisinya untuk menghadirkan berbagai sistem berteknologi tinggi yang dikembangkan sendiri kepada dunia, serta menjadi pemain regional di sektor transportasi. “Setelah bekerja sama dengan PT Len selama beberapa tahun dan menyadari kebutuhan Indonesia akan jaringan transportasi yang lebih baik, maka kami bertekad menjalin kemitraan dengan Indonesia sejalan dengan upaya mereka membangun infrastruktur transportasi masa depan,” tutur Erik-Jan Raatgerink, Country Director, Thales di Indonesia yang dikutip KabarPenumpang.com dari keterangan tertulisnya, Selasa (25/9/2018).

Via Online! Garuda Indonesia Berikan Harga Promo Kelas Bisnis Untuk Tujuan Seluruh Indonesia

Penyuka jalan-jalan atau bahasa kerennya traveler, biasanya akan mencari dan menggunakan moda transportasi pilihan yang terbaik. Tak hanya itu, karena menikmati liburan, pelancong juga mencari yang nyaman saat menuju ke destinasi pilihan. Baca juga: Inilah Syarat Untuk Menjadi Awak Kabin Garuda Indonesia Seringkali pelancong sendiri dihadapkan dengan promo-promo fantastis dan menggiurkan, terlebih jika harga yang diberikan murah meriah untuk perjalan pergi dan pulang dari kota asal ke tujuan ataupun sebaliknya. Sayangnya, meski harga murah, terkadang perjalanan Anda sebagai pelancong pun tidaklah nyaman selama perjalanan. Ya, untuk merasakan kenikmatan dan kenyamanan, maskapai bintang lima Garuda Indonesia menghadirkan penawaran spesialnya. KabarPenumpang.com mewartakan, bahwa dengan promo tersebut pelancong bisa lebih irit untuk berkunjung ke destinasi yang sedang naik pamor di Indonesia dengan promo fantastis dari Garuda Indonesia. Apa sih promonya? Ternyata Garuda Indonesia memberikan tarif tiket kelas bisnis ke tujuan lokal alias seluruh Indonesia dengan hanya membayar Rp630 ribu. Untuk mendapatkan promo ini, pelanggan saat memesan bisa langsung memasukkan kode promonya yakni FLYBISNIS. Jangan lupa ada hal penting untuk membeli tiket promo kelas bisnis ini, yakni hanya berlaku untuk kuota tiga hingga enam orang saja. Tenang saja, promo ini berlaku bukan untuk sekali terbang ke tujuan tetapi untuk rute pergi dan pulang. Tiket kelas bisnis Garuda Indonesia ini bisa didaptkan baik melalui situs website maupun mobile aplikasi yang bisa di unduh di Playstore maupun di Apple Store. Baca juga: Pertengahan 2019 Penumpang Kelas Bisnis Garuda Indonesia Bisa Lanjutkan Perjalanan via Helikopter Untuk pembelian dengan kartu kredit dengan mitra bank yang ditentukan, pelancong akan mendapatkan nol persen cicilan. Promo fantastis dari Garuda Indonesia berlaku untuk periode pemesanan dan keberangkatan mulai 10 September hingga 17 Desember 2018 mendatang. Tak hanya itu, setelah melakukan fase II Garuda Online Travel Fair (GOTF), sebentar lagi Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) akan segera diselenggarakan. Penyelenggarannya pada 5-7 Oktober 2018 di mendatang di JCC, pada event ini, Garuda Indonesia bermitra dengan bank Mandiri. GATF ini sendiri biasanya memberikan promo yang lebih menarik dan pelancong yang ingin merasakan menggunakan maskapai bintang lima serta mendapat tiket murah.

Pilot Lupa Aktifkan Pengatur Tekanan Kabin, Jet Airways Terpaksa Return to Base

Tekanan udara pada kabin pesawat yang tengah mengudara tiba-tiba menurun bisa mengakibatkan hal fatal bagi penumpang. Sehingga penerbangan mau tak mau harus kembali atau mendarat darurat sebelum terjadi apa-apa pada penumpang maupun pesawat. Baca juga: Muncul Bau Mirip Kaus Kaki Kotor di Kabin, Spirit Airlines Terpaksa Mendarat Darurat Hal ini baru saja terjadi pada Jet Airways yang harus kembali ke Mumbai pada Kamis (20/9/2018) setelah puluhan penumpang mengeluh sakit pada telinga dan mengalami pendarahan dari hidung karena tekanan dalam kabin hilang. KabarPenumpang.com melansir dari laman mrt.com (20/9/2018), atas kejadian ini pihak maskapai Jet Airways dari sebuah pernyataannya mengatakan, bahwa penerbangan 9W697 tersebut mendarat secara normal di Mumbai setelah kehilangan tekanan udara. Pesawat Boeing 737 tersebut mengangkut penumpang 166 dengan lima awak kabinnya. Setelah mendarat, bantuan medis langsung diberikan pada 30 penumpang yang mengalami pendarahan pada hidung. Selain itu delapan penumpang lainnya yang mengalami pendarahan di telinga dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Seorang penumpang bernama Darshak Hathi mengatakan, saat tekanan kabin hilang, masker oksigen turun untuk keadaan darurat tersebut. Dari situs pelacakan penerbangan Flightradar24, pesawat Jet Airways berhenti naik pada 11 ribu kaki atau 3350 meter sebelum akhirnya kembali ke Mumbai. Hathi menambahkan, setelah lepas landas, pendingin udara kabin juga bermasalah. Ternyata diketahui, insiden tersebut terjadi setelah pilot melakukan kesalahan karena tidak menekan tombol yang mengatur tekanan udara di dalam kabin. Baca juga: Jendela Bagian Dalam Pesawat Lepas, Tiga Penumpang Cidera dan Lainnya Panik Sehingga membuat tekanan kabin berkurang serta kantung-kantung oksigen harus keluar dari langit-langit kabin. Lalit Gupta, pejabat senior Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (DGCA), kepada harian The Hindustan Times mengatakan, pilot lupa menyalakan sistem pengatur tekanan kabin. DGCA menambahkan, kedua pilot maskapai itu langsung dinonaktifkan sambil menunggu hasil persidangan. Pesawat itu sendiri sebenarnya berangkat dari Mumbai dengan tujuan Jaipur salah satu kota wisata dan ibukota negara bagian Rajasthan.