Setelah Chenab, India kembali membuat jembatan kereta api tertinggi dan digadang-gadang akan selesai pada 2020 di Manipur. Jalur kereta tersebut nantinya akan melayani Jiribam menuju Imphal di Manipur. Pembangunan ini sendiri diumumkan oleh Chief Engineer proyek Sai Baba Ankala.
Baca juga: Chenab, Jadi Kondang Karena Ada Jembatan Kereta Tertinggi di DuniaKabarPenumpang.com melansir dari laman thehansindia.com (25/9/2018), Ankala mengatakan, bahwa proyek tersebut didapatkan pada tahun 2008 lalu. Dimana proyek ini kemudian dinyatakan sebagai Proyek Nasional dengan biaya Rs13.809 crore atau sekitar Rp2,8 miliar.
Ankala juga menginformasikan bahwa tiga IIT yakni Kanpur, Roorkee dan Guwahati juga ikut terlibat dalam proyek Kereta Api India yang ambisius tersebut dengan mendukung teknis dan pemeriksaan bukti desain untuk membuat jembatan tersebut. Dia menejelaskan bahwa penyelarasan jalur kereta api Jiribam-Imphal sepanjang 111 km akan melewati perbukitan yang curam di wilayah Patkai.
Jalur ini juga akan melintasi sejumlah ngarai dalam dan beberapa sungai yang mengalir di dataran rendah. Karena pembangunan jembatan kereta ambisius ini mau tidak mau juga harus dibangun 52 terowongan dan 149 jembatan serta melintasi sepuluh stasiun untuk mempertahankan gradien yang cocok untuk layanan kereta api dengan operasi efisien.
Ankala menyoroti sebagai bagian dari proyek tersebut, mereka akan membangun jembatan khusus dengan pilar dengan ketinggian 141 meter dan menjadi yang tertinggi di dunia dari sudut pandang ketinggian pilar. “Jembatan ini juga terletak di zona seismik-v dan dalam pandangan ini kami mengambil semua tindakan pencegahan terutama spektrum desain khusus lokasi telah dikembangkan untuk memastikan stabilitas jembatan jangka panjang.”
Dia mengatakan jalur kereta api dan jembatan sedang dibangun meskipun beberapa ancaman dari militan yang beroperasi di daerah tersebut. Pengawasan jembatan melalui CCTV, kamera drone dan pemantauan jarak jauh oleh beberapa sensor juga dipertimbangkan untuk menjamin keamanan, tambahnya.
Baca juga: Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di Indonesia
Ankala menyebutkan bahwa pemerintah India memperlakukan proyek ini secara strategis untuk memperkuat perdagangan dengan negara-negara ASEAN dan membantu operasi militer dan pengembangan pariwisata. Dia menyarankan para siswa bahwa teknik jembatan adalah subjek yang menantang jika benar-benar memahami aspek terkait. Dia juga mengundang mahasiswa teknik sipil untuk mengambil bagian proyek yang sedang berlangsung untuk laporan proyek mereka.
Untuk diketahui, jembatan yang akan ada di Manipur ini bukanlah yang tertinggi di dunia, melainkan jembatan Chenab yang juga berada di India dengan menghubungkan wilayah Jammu dan Kashmir. Jembatan Chenab sendiri memiliki ketinggian 359 meter ini, di klaim lebih tinggi 25 meter dibanding menara Eiffel di Paris, Perancis.
Dalam penerbangan dengan jarak antar kursi yang sempit tidak akan pernah membuat seorang penumpang nyaman. Bahkan hanya sekedar berselojor kaki untuk menghilangkan rasa pegal. Biasanya masalah seperti ini dirasakan para penumpang dengan penerbangan jarak jauh lebih dari empat jam.
Baca juga: Jangan Sembarang Buka Sepatu di Dalam Kabin Pesawat, Inilah Sebabnya!KabarPenumpang.com melansir dari laman express.co.uk (23/9/2018), bahwa awak kabin telah mengungkapkan sesuatu yang memang seharusnya tidak pernah dilakukan seorang penumpang. Sebab, mereka mengetahui rahasia paling menjijikkan didalam kabin seperti sedikitnya air bersih, meletakkan kaki di dekat kursi penumpang depan dan lainnya.
Seorang awak kabin baru-baru ini memberikan beberapa saran praktis bagi penumpang. Saran ini merupakan hal yang baiknya tidak pernah dilakukan penumpang saat berada di dalam kabin. Bahkan dia mengatakan banyak yang mengabaikannya, salah satunya seperti berjalan di kabin tanpa alas kaki.
“Jangan berjalan di kabin tanpa alas kaki. Semua kotoran ada di sana,” ujar pramugari tersebut.
Dia mengatakan, seperti menyaksikan kecelakaan secara teratur baik di kursi maupun di toilet pesawat, dimana ada penumpang mimisan ataupun terluka. Penumpang memperingatkan awak kabin bisa membersihkan sebaik yang mereka bisa lakukan.
Sayangnya saat mendarat awak kabin tidak dapat sepenuhnya untuk melakukan hal tersebut. “Jelas ketika mendarat semua benar-benar dibersihkan, tetapi inflight sumber daya kami terbatas,” jelas awak kabin.
Sebenarnya dengan melepas alas kaki atau sepatu yang mereka kenakan, ini membuat masalah bagi pesawat dan pelancong sendiri dengan penyebaran kuman. Hal ini dikarenakan karpet kabin yang jarang dibersihkan.
Baca juga: Viral! Video Pria Gunting Kuku Kaki di Kabin Pesawat
Sebab, banyak penerbangan yang memiliki waktu turn-around sangat sedikit. Sehingga awak kabin hanya membersihkan yang perlu dibersihkan saja sebelum pesawat tersebut kembali untuk mengudara. Seorang pramugari pun bahkan memperingatkan penumpang untuk tetap mengenakan minimal kaus kaki mereka setiap saat.
“Kami menyuruh orang melepas sepatu mereka dan meletakkan kaki mereka di sekat, dinding antara kelas satu,” ujar Anette Long. Meskipun begitu Anette mengatakan, kaki pada umumnya tidak menjadi bagian kesenangan orang lain.
Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) baru-baru ini meluncurkan gate e-Security di Terminal 1. Hadirnya gate e-Security sendiri untuk memvalidasi dokumen para pelacong yang akan berangkat sebelum menuju ruang tunggu pesawat.
Baca juga: Identifikasi Biometrik di Bandara Canberra Mencapai Akurasi 94 Persen
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (21/9/2018), adanya pemasangan gate keamanan berbasis biometrik ini sendiri merupakan bagian dari inisiatif cerdas terbaru yang diluncurkan oleh Otoritas Bandara Hong Kong atau Airport Authority (AA) untuk meningkatkan pengalaman penumpang secara keseluruhan. Pada fase pertama ini, akan ada empat e-Security Gates di hall Keberangkatan Selatan di Terminal 1.
Sedangkan untuk lainnya akan dibuat secara bertahap, dimana rencananya 44 e-Security Gates akan dipasang pada kuartal pertama tahun 2019 mendatang. Adanya gate biometrik sendiri selain memvalidasi juga untuk mencapai waktu antrian mendekati nol untuk penumpang.
“Inisiatif cerdas baru ini akan mempercepat dan meningkatkan keakuratan proses pemeriksaan dokumen. Ini juga menandai langkah pertama dalam upaya kami untuk merampingkan penumpang naik di HKIA dengan menggunakan biometrik. Dalam waktu dekat, HKIA akan memperluas penggunaan biometrik dan pengenalan wajah untuk prosedur check in dan boarding dengan tujuan menggunakan wajah penumpang untuk verifikasi identitas selama perjalanan keberangkatan mereka di HKIA, memberikan pengalaman yang mulus bagi wisatawan,” ujar Airport Authority Hong Kong Smart Airport general manager Chris Au Young.
Nantinya dengan gate biometrik, penumpang berusia lebih dari 11 tahun dan memiliki dokumen perjalanan elektronik yang valid dapat menggunakan layanan baru tersebut. Sehingga tidak lagi perlu untuk melakukan pendaftarkan sebelumnya.
Baca juga: Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition
Sebelum adanya gate e-Security ini, layanan keamanan bandara masih memeriksa dokumen perjalanan secara manual. Dimanan identitas penumpang sesuai dengan informasi yang ditampilkan pada tiket pesawat yang dimiliki.
Setelah gate pintar ini di pasang, perangkat pembaca dokumen dan kamera yang tertana di e-Security akan menggantikan prosedur manual tersebut. Sehingga layanan ini diatur untuk memungkinkan penumpang dalam memindai dokumen dan boarding pass mereka untuk verifikasi dengan teknologi pengenalan wajah. Proses dengan e-Security sendiri diperkirakan memakan waktu hanya 20 detik.
Pionir layanan ride-hailing di Indonesia, Go-Jek baru-baru ini melebarkan sayap bisnisnya. Bukan di dalam negeri, melainkan perusahaan besotan Nadiem Makarim ini memilih Vietnam sebagai ‘ladang’ baru untuk mengeruk keuntungan. Dengan menggunakan nama Go-Viet, kini masyarakat di Hanoi dan sekitarnya sudah bisa menikmati layanan transportasi roda dua seperti Go-Bike dan layanan antar Go-Send.
Baca Juga: Google Gelontorkan Dana Fantastis Ke Gojek, Rp16 Triliun!
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Hanoi merupakan kota kedua layanan ini mengaspal di Vietnam, setelah layanan serupa penggunaannya masih terbatas di kota Ho Chi Minh saja. Layanan Go-Viet di Ho Chi Minh sendiri mulai beroperasi pada awal Agustus 2018 silam.
“Kami sangat bangga masyarakat Vietnam merespons positif kehadiran kami. Ini ditunjukkan dengan antusiasme yang cukup besar dalam memanfaatkan layanan Go-Viet sejak di kota Ho Chi Minh beberapa pekan lalu,” ungkap CEO dan Co-founder Go-Viet, Duc Nguyen, dalam keterengan resminya, dikutip dari laman Liputan6.com, Kamis (13/9/2018).
Kendati masuk ke dalam anak usaha dari Go-Jek, tapi Go-Viet memakai bendera bernama Go-Viet Trading Technology Co. Menurut Nadiem, tim lokal yang dibentuk Go-Jek memiliki hak untuk mengubah merek.
Nadiem Makarim (kiri) dan Presiden Joko Widodo (kanan) dalam acara peluncuran Go-Viet (13/9/2018). Sumber: Detik
Tidak hanya benderanya saja yang berubah, melainkan warna khas dari Go-Jek (hijau) juga diganti menjadi merah oleh Go-Viet. “Arti dari tim dan kemitraan lokal ini ialah untuk menerjemahkan konsep Go-Jek ke konteks lokal,” ujar Nadiem dikutip dari laman sumber lain. “Go-Jek membimbing mereka tentang apa yang telah kami pelajari untuk menjadi sukses, dan apa yang telah kami pelajari tetapi tidak berhasil di Indonesia,” tandasnya.
Di kubu seberang, pihak Go-Viet mengaku sangat bahagia dan bangga terhadap Go-Jek yang mendukung segala pengoperasian dari Go-Viet. Percampuran keahlian sangatlah ditonjolkan oleh kedua belah pihak. Di satu sisi Go-Jek memiliki platform teknologi kelas Wahid, sedangkan di sisi Go-Viet sendiri memiliki ilmu lebih mendalam soal pangsa pasar dan segala hal lainnya yang berkaitan dengan environment-nya.
“Go-Jek mendukung kami dengan platform teknologi kelas dunia, sementara kami – tim manajemen memanfaatkan pengetahuan yang mendalam mengenai pasar lokal, termasuk yang dibutuhkan konsumen dan mitra pengemudi. Sehingga, teknologi itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan dampak yang paling besar,” jelas CEO dan Co-founder Go-Viet, Duc Nguyen.
“Kami sangat bangga masyarakat Vietnam merespons positif kehadiran kami. Ini ditunjukkan dengan antusiasme yang cukup besar dalam memanfaatkan layanan Go-Viet sejak di kota Ho Chi Minh beberapa pekan lalu,” tandas Duc.
Baca Juga: GoJek Rambah Empat Negara di Asia Tenggara
Terbukti, kurang dari dua bulan pengoperasian mereka di Ho Chi Minh, Go-Viet telah sukses mencuri 35 persen pasar ojol di sana. “Kami sangat senang Go-Viet sudah diunduh 1,5 juta kali hanya 6 minggu setelah soft launching. Saat ini Go-Viet punya pangsa pasar 35% di Ho Chi Minh setelah dua bulan peluncuran,” ujarnya.
Kendati berdiri di bawah satu payung, namun hingga saat ini aplikasi yang digunakan oleh Go-Jek dan Go-Viet masih berdiri terpisah. Nadiem menambahkan, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat, aplikasi yang digunakan oleh kedua layanan ini akan menjadi satu. “Harapan saya bisa begitu ya (lintas aplikasi),” ujar Nadiem.
Aplikasi KAI Access yang diperbaharui atau di update pengguna memberikan tampilan terbaru pada kolom ketersediaan kursi di kereta api. Karena hal ini beberapa warganet sempat kaget dan melayangkan pertanyaan-pertanyaan terkait hal tersebut ke akun Twitter milik PT KAI @KAI121.
Baca juga:Jelang HUT PT KAI Ke-73, Promo Tiket Bertebaran Untuk Anda
Berikut ini keluhan beberapa warganet terkait masalah tulisan tersedia tanpa jumlah kursi seperti biasanya. @cbudhinastiti: Dear @KAI121 … app kai setelah saya update kok, keterangan kursi hanya tertulis “tersedia” sebelumnya kan di jelaskan betul berapa sisa kursi. Skrg jadi susah memantau sisa kursi nih min.. jika “tersedia” artinya sisa kursi lebih dari berapa? Thanks.
@Ichsanzramadhan: Min @KAI121 ko apk kai akses jadi kurang enak yaa jadi ga detail, soalnya jadi gada keterangan jumlah kursi yg masih tersedia, gakaya yg kemaren masih ada ket kursi yg masih tersedia.Screenshoot dari aplikasi KAI Access terkait jumlah ketersediaan kursi (KabarPenmupang.com)
Kemudian, dari beberapa keluhan warganet ini, admin Twitter PT KAI menjawab setiap pertanyaan tersebut. “Selamat pagi. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, pada tampilan aplikasi #KAIAccess versi terbaru, bila jumlah tiket yg tersedia masih cukup banyak, maka tidak ditampilkan jumlah ketersediaan tiketnya. Namun bila jumlah tiket yang tersedia kurang dari 10, maka jumlah ketersediaan tiketnya akan muncul. Trims,” balas admin tersebut.
Setelah pihak Humas PT KAI dikonfirmasi, mereka mengatakan memang tidak memunculkan jumlah kursi karena bila lebih dari 50 akan tertulis tersedia yang artinya kursi masih banyak.
Baca juga: Ada Nomor Identitas di Tiket dan Boarding Pass Kereta? Ini Penjelasan dari PT KAI
“Jadi KAI hanya menampilkan jumlah sisa seat 50 seat ke bawah untuk mengingatkan kepada calon penumpang yang hendak membeli tiket KA. Kalau lebih dari 50 seat yang tersedia itu tidak akan muncul di fitur KAI Access,” ujar Kepala Humas PT KAI Agus Komarudin yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (25/9/2018).
KabarPenumpang.com awalnya mengecek ketersediaan kursi pada aplikasi sebelum di update dan berapapun jumlahnya tertera. Kemudian setelah di update hanya tertera tulisan tersedia, sedangkan tulisan jumlah kursi sisa di bawah 50 tertera dengan angka seperti yang dikatakan pihak PT KAI.
Platrform transportasi kini hadir untuk kota yang lebih cerdas dan menjadi pemimpin global dalam solusi mobilitas perusahaan. Platfrom tersebut adalah ezMetr yang merupakan platform meter digital generasi terbaru yang menghadirkan harga dinamis, kendaraan bersama, pemetaan langsung dan aplikasi penumpang berpasangan all in one.
Baca juga: Empat Aplikasi Maps di Android Ini Bisa Beroperasi Tanpa Koneksi Internet!
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman oaoa.com (14/9/2018), ezMetr memiliki ribuan pengemudi yang membawa lebih dari 12 juta penumpang. EzMetr berkembang secara nasional untuk memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengemudi dan penumpang sambil meningkatkan sistem transportasi kota dengan pelaporan, data dan wawasan yang kuat. EzMetr sendiri hadir pada OS Android dan iOS.
Adapun kunci perubahan dan inovasi dari ezMetr sendiri yakni pendekatan aplikasi seluer untuk menggantikan teknologi taksi yang kuno dan mahal termasuk tingkat pemrosesan kartu kredit yang tinggi dan biaya peralatan mahal yang sering diteruskan kepada konsumen. Hadirnya ezMetr sendiri bisa memudahkan penumpang dalam layanan seperti digital instan, opsi pembayaran cepat termasuk melalui Apple Pay dan Google Pay.
Dengan taksi yang menggunakan mobil berwarna hitam, ezMeter sendiri hadir di Washington DC dan memperluas jangkauannya di kota-kota baru seluruh negeri. Komponen inti dari platform digital adalah ezMetrIQ, yang memberikan kemampuan data dan pelaporan yang kuat untuk membantu regulator dan kota mendapatkan wawasan yang mendalam dan transparansi ke dalam multi modal perubahan dari wilayah mereka untuk membuat keputusan transit yang lebih cerdas.
Perekaman data real-time termasuk peta panas, pelacakan langsung, umpan balik konsumen langsung, dan akses berbasis cloud mudah adalah asli dari platform ezMetr dan ezMetrIQ. Teknologi ezMetr sangat fleksibel, memungkinkan untuk penggunaan tidak hanya untuk taksi, tetapi juga layanan mobil pribadi yang membutuhkan solusi untuk mengelola bisnis mereka secara lebih efisien dan memberikan kemudahan digital kepada pelanggan mereka.
“Di Infinite Peripherals, kami terus mencari untuk menciptakan efisiensi baru untuk industri yang digerakkan oleh warisan seperti transportasi menggunakan teknologi mobile. Dengan menciptakan solusi digital end-to-end untuk taksi, ezMetr meningkatkan pengalaman penumpang, menurunkan biaya untuk driver, dan menyediakan regulator kota dengan akses ke data untuk meningkatkan transit bagi semua orang,” kata Jeff Scott, CEO Infinite Peripherals.
Baca juga: Canangkan Integrasi dengan Jasa Transportasi Online, MRT Jakarta Bangun Aplikasi Sendiri
Karena kota-kota berupaya memerangi kemacetan lalu lintas dan menambahkan lebih banyak layanan transportasi, platform ezMetr menyediakan data penting untuk memetakan solusi yang layak.
“EzMetr adalah platform yang fleksibel, yang dirancang untuk memindahkan sistem transportasi warisan ke era digital,” kata Bryan Bassett, Analis Riset Senior IDC, Mobilitas Perusahaan.
“Lebih dari sekedar mengganti meteran taksi analog, teknologi memungkinkan sejumlah layanan mobilitas, meningkatkan keselamatan pengendara, dan memiliki aplikasi untuk industri lain seperti logistik, ritel, dan banyak lagi.”
Dewasa ini, sudah banyak tanda-tanda kendaraan yang akan menghiasi jalanan di masa yang akan datang – mulai dari kendaraan listrik hingga yang otonom sekalipun. Nah, raksasa otomotif asal Perancis Renault pun mengutarakan pernyataan yang sama, dimana semua kendaraan di masa depan akan bertenaga listrik, saling terkoneksi, dan otonom. Maka rasanya tidak heran jika perusahaan yang didirikan pada 25 Februari 1899 ini sudah mulai menggeliat untuk menghadirkan moda masa depan tersebut.
Baca Juga: Renault EZ-GO, Moda Otonom yang Memiliki Desain Pintu Low Deck Unik
Alih-alih memilih untuk mendesain moda penumpang, Renault lebih memilih untuk mengembangkan kendaraan otonom bertenaga listrik yang berfungsi untuk mengantarkan barang. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (20/9/2018), adalah EZ-Pro, pod listrik rilisan Renault yang akan melayani jasa pengiriman berbagai jenis barang – dimana rencana pengembangan ini dibocorkan Renault pada perhelatan Hannover Motor Show, Jerman beberapa waktu yang lalu.
“Renault EZ-Pro mewakili visi kami tentang pengiriman last-mile yang terintegrasi dengan ekosistem kota-kota cerdas masa depan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan para profesional,” ungkap salah satu juru bicara Renault, Ashwani Gupta.
Satu hal yang melatarbelakangi lahirnya Renault EZ-Pro adalah pertumbuhan toko-toko online yang semakin ‘trengginas’. Dimana mereka berkeyakinan bahwa dengan hadirnya EZ-Pro ini, akan sangat berguna bagi pengiriman barang-barang yang dibeli oleh orang-orang secara online. “Hampir dapat dipastikan, setiap hari ada ratusan hingga ribuan paket yang dikirim oleh para penjual di toko online kepada pelanggannya,” tandas Ashwani.
Menilik ke spesifikasi umum dari EZ-Pro sendiri, sebenarnya kendaraan ini terdiri dari beberapa rangkaian yang dipimpin oleh satu kendaraan induk. Kendati semua rangkaian ini bisa berjalan secara otonom, namun Renault bisa saja menambahkan fitur joystick di kendaraan induk, “Jika diperlukan,” terang Ashwani.
Kapasitas barang yang diangkut oleh rangkaian pengikut juga bisa diatur sesuai kebutuhan. Semisal konsumen butuh ruang yang cukup besar untuk mengangkut, semisal, kulkas atau mesin cuci, maka rangkaian pengikut akan dipersonalisasi terlebih dahulu oleh pihak Renault – pun semisal konsumen hanya membutuhkan ruang-ruang kecil untuk mengirim paket dengan ukuran yang kecil pula.
Baca Juga: Luncurkan Electric Vehicle, Renault Janjikan Tempuh 279 Km Sekali Charge
Para penerima paket juga dapat berinteraksi dengan petugas pengantar melalui fitur khusus yang tersemat di dalam kendaraan yang memiliki desain futuristik ini. “Renault EZ-Pro mengutamakan efisiensi dan penghematan biaya di segala sektor – dan yang terpenting, ramah lingkungan karena menggunakan energi listrik.” Tutup Ashwani.
Melihat aplikasi peta, atau mengganti playlist lagu yang diputar di ponsel Anda kerap kali menjadi alasan yang melatarbelakangi sejumlah kecelakaan lalu lintas – terutama sepeda motor. Kendati peringatan tentang bahaya menggunakan ponsel ketika berkendara telah marak digaungkan oleh sejumlah otoritas, namun tampaknya imbauan tersebut tak diindahkan dan lalu kecelakaan sejenis terus terulang hingga detik ini. Lalu adakah cara lain supaya kejadian tersebut bisa diminimalisir?
Baca Juga: Mylo Electric Scooter, Moda Lipat Futuristik Mahakarya PIM Bicycles
Di jaman yang sudah serba terintegrasi dengan teknologi ini, nampaknya masalah di atas bukanlah perkara besar. Beberapa waktu yang lalu, sebuah helm built-in berteknologi Head Up Display (HUD) marak diperbincangkan banyak pihak. Memang di satu sisi, helm ini seolah menjadi jawaban dari permasalahan di atas – namun apa jadinya jika seorang pengendara sepeda motor enggan mengganti helm mahal kesayangannya dengan helm built-in HUD tersebut? Masalah baru muncul.
Lagi, teknologi dan ide brilian dari segelinir orang memegang peranan penting dalam menyelesaikan rangkaian permasalahan ini. Kini Anda tetap dapat menggunakan helm kesayangan Anda dan menyematkan teknologi HUD di dalamnya.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (21/9/2018), Sight dari HUDWAY muncul sebagai solusi dari permasalahan tersebut. Dengan menggunakan fitur Bluetooth dan baterai sebagai tenaga pembangkitnya, Sight dapat dengan mudah dipersonalisasi di setiap jenis helm yang Anda gunakan.
Dengan menggunakan Sight dari HUDWAY ini, Anda tidak perlu repot-repot lagi membuka ponsel untuk melihat aplikasi peta penunjuk jalan, atau mengganti musik yang tengah Anda setel. Penggunaan lensa transparan sebagai objek penunjuk tampilan peta atau susunan lagu di ponsel Anda akan memungkinkan Anda untuk tetap melihat ke jalan tanpa harus mengalihkan pandangan terhadapnya.
Agar bisa dipasang di semua jenis helm, Sight dari HUDWAY ini juga dilengkapi dengan penjepit universal – sehingga Anda tidak perlu khawatir semisal helm Anda terlalu besar dan tidak bisa memasang Sight. Sangat inovatif, bukan?
Baca Juga: Setelah 2 Tahun Tak Jelas Juntrungannya, Tiny Microlino EV Akhirnya Legal di Jalanan Eropa
Bagi Anda yang ingin menjajal teknologi ini, siapkan kocek senilai US$499 atau yang setara dengan Rp7,4 juta untuk satu paket Sight HUDWAY, lengkap dengan proyektor, penjepit universal, dan lensa tempered glass. Semisal sudah diproduksi secara massal, harga yang ditawarkan akan meningkat ke angka US$849 atau yang setara dengan Rp12,6 juta!
Harga yang tidak seberapa dibandingkan biaya semisal Anda kecelakaan akibat terlalu sering menilik ponsel ketika berkendara!
Sebuah startup asal Israel, Eviation tengah merancang sebuah moda udara berbasis tenaga listrik – dimana rencananya moda ini akan diluncurkan pada tahun 2021 mendatang. Adalah Alice, moda yang nantinya akan menggunakan sistem Fly-By-Wire (FBW) ini hanya mampu mengangkut sembilan penumpang saja per perjalanannya. Dengan menggunakan tiga propeller, Alice mampu menempuh kecepatan maksimum hingga 240 knot atau yang setara dengan 444 km per jam.
Baca Juga: Inggris Berdayakan Drone Untuk Pantau Para Pelanggar dan Inspeksi Jalur Kereta
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, tiga propeller yang ada pada Alice ini memiliki fungsinya masing-masing – satu pada bagian ekor berperan sebagai pusher utama, sedangkan dua lainnya yang ada pada bagian sayap bertugas untuk mengurangi hambatan, menciptakan redudansi, dan meningkatkan efisiensi.
Efisiensi tersebut akan menekan biaya penumpang per-mil setidaknya hingga empat kali lebih rendah ketimbang pesawat jenis lain. Tidak hanya ditujukan sebagai pesawat penumpang, Alice juga dapat ditujukan sebagai pesawat nirawak untuk mengangkut kargo atau untuk mereposisi ulang pesawat untuk penerbangan terjadwal berikutnya.
Pesawat dengan panjang sekitar 12 meter dan bentang sayap 15,2 meter ini sendiri memiliki kapasitas baterai lithium-ion hingga 980 kWh. Sebelum diluncurkan pada tahun 2021 mendatang, Eviation rencananya akan terlebih dahulu mensertifikasi mahakaryanya tersebut di bawah Federal Aviation Regulations (FAR) Part 23 untuk Instrument Flight Rules (IFR).
Sebenarnya, Eviation mengarahkan Alice untuk menyanggupi dua desain sekaligus – pertama adalah untuk taksi udara (diluncurkan tahun 2021), sedangkan satunya lagi untuk Extended-Range (ER) Executive Aircraft yang rencananya akan dirilis pada tahun 2023.
Baca Juga: AirMap, Platform Pengatur Lalu Lintas Drone di Udara
Jika digolongkan sebagai kelas drone, jelas Alice akan mengungguli semua pesaingnya. Bagaimana tidak, Alice digadang-gadang mampu menembus jarak 650 mil atau yang setara dengan 1.046 km! Kecepatan dari Alice pun tidak bisa dianggap remeh, dimana pesawat ini mampu menempuh jarak 444 km dalam waktu satu jam.
Dengan mengandalkan tenaga listrik yang tersimpan di dalam baterai lithium-ion, sudah barang tentu pesawat ini ramah lingkungan tanpa harus mengesampingkan tugas utamanya untuk mengantarkan penumpang via jalur udara.
Dimana-mana, naik di atap kendaraan bukanlah suatu hal yang diperbolehkan – baik itu bus, kereta api, atau bahkan mobil konvensional. Selain tidak disertai dengan instrumen pengamanan yang memadai, peristiwa pengereman mendadak juga dikhawatirkan dapat menciderai para penumpang yang duduk di atap. Nah kali ini, ada seorang pejalan kaki yang tidak sengaja mendapati dua orang pemuda yang duduk di atap bus. Duh!
Baca Juga: Medsos Sumbang Peningkatan Kecelakaan pada Remaja, Otoritas Kereta Api Inggris Kampanyekan Keselamatan
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman ladbible.com (11/9/2018), adalah Millie Morley, seorang penduduk lokal berusia 18 tahun berhasil mengabadikan momen unik yang ia temui dalam bentuk video. Di dalam video berdurasi kurang dari satu menit yang diunggahnya ke media sosial, terlihat dua orang tengah asyik duduk di atas Magic Bus yang kala itu tengah melintasi sebuah daerah di Manchester.
“Seseorang berteriak, ‘Stop, ada dua orang di atap bus!’ kepada si pengemudi. Sontak semua penumpang berusaha untuk melihat apa yang terjadi,” ujar Millie yang berusaha menceritakan kronologi yang ia lihat malam itu. Baginya, ini merupakan pengalaman pertama yang pernah ia alami. “Kendati berbahaya, namun bagi saya itu cukup lucu. Tak bisa dipungkiri, tingkah dua orang ini sukses membuat saya tertawa geli,” pungkasnya.
Sumber: ladbible.com
Disinyalir, mereka berdua merupakan ‘Urban Explorer’, dimana sejumlah orang akan melakukan aksi berbahaya dan mengabadikannya. Nah, walaupun kedua ‘Urban Exlporer’ ini tidak ditindak lebih lanjut lagi, namun sejumlah kalangan melakukan kecaman atas perbuatan yang mereka lakukan – salah satunya adalah operator bus terbesar di sana, Stagecoach Manchester.
“Perilaku semacam ini tidak bertanggung jawab dan sangat berbahaya. Tidak hanya bagi mereka saja, melainkan bagi pengemudi dan pengguna jalan lainnya,” ujar salah satu juru bicara Stagecoach Manchester yang identitasnya ingin disamarkan ini.
“Kami mendesak agar siapapun yang hendak melakukan aksi berbahaya semacam ini lagi untuk kembali memikirkan efek jangka panjangnya semisal terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tandasnya.
Baca Juga: Seni Graffiti di Inggris, Kebanggaan Kaum Bronx yang Sisakan Kesan Kotor dan Tidak Terjaga
Terlepas dari apakah para ‘Urban Explorer’ ini berupaya untuk mencari jati diri atau tidak, namun alangkah baiknya jika sebagai manusia biasa, kita harus bisa menaati peraturan yang berlaku dan menghindari diri dari hal-hal yang membahayakan.
Alih-alih mengunggah dokumentasi membahayakan yang hanya menuai cibiran dari orang lain, alangkah lebih baiknya jika Anda mengunggah suatu prestasi yang jelas-jelas diakui kredibilitasnya oleh orang-orang, bukan?