Terkait Aspek Keamanan, Bus Tingkat Lebih Cocok di Jalanan Dalam Kota

Kembali hadir di dunia transportasi pada 2014 silam yang disediakan oleh PT Transportasi Jakarta (TransJakarta), bus tingkat kini melayani perjalanan wisata keliling Jakarta. Bus-bus ini dihadirkan secara gratis bagi masyarakat Jakarta ataupun para pelacong. Baca juga: Bus Tingkat Bertenaga Hidrogen Meriahkan Asian Games 2018 Bus tingkat tersebut dibagi beberapa titik lokasi pemberangkatan dengan tujuannya masing-masing baik itu ke tempat ikonik maupun wisata sejarah Jakarta seperti Kota Tua, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Monas, Bundaran HI, Sudirman dan beberapa tempat lainnya. Biasanya bus tingkat ini ramai di hari Sabtu dan Minggu atau libur nasional, meski hari biasa juga tetap beroperasi. Namun, ternyata bus tingkat bisa dikatakan ‘bus mahal,’ lantaran punya karena kapasitas angkut yang besar dan harus ditopang sasis dengan durabilitas tinggi. Brand and Marketing Communication Manager Karoseri Laksana, Candra Dewi mengatakan, untuk memenuhi standar dimensi bus tingkat, pihaknya menggunakan sasis dan mesin dari pabrikan Eropa  seperti Mercedes-Benz, Volvo dan Scania. Dalam Peraturan Pemerintah No.55/2012, standa minimal jumlah berat bruto (JBB) adalah 21-24 ton dan memiliki panjang 9-13,5 meter dengan tinggi masksimal 4,2 meter serta lebar 2,5 meter. Saat acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 beberapa waktu lalu, Laksana menghadirkan salah satu bus tingkatnya yang menggunakan sasis dan mesin dari Scania K410 EB . Dimana kerangka tersebut memiliki JBB 25 ton yang dilengkapi delapan suspensi udara. Selain itu sistem kemudinya menerapkan power steering hidrolik untuk memudahkan bus bermanuver. Untuk menjamin keamanan bus dengan bodi jangkung dan bongsor, Scania menyertakan electronic stability programme (ESP), anti-lock braking system (ABS), traction control dan hill hold function. Sumber tenaga bus tersebut menggunakan mesin diesel 13 ribu cc dengan turbocharged. Tenaga dorong senilai 410 dk/1.950 rpm dengan torsi puncak 2.000 Nm/1.000-1.350 rpm mengalir dari mesin tersebut. Tersedia fitur cruise control dan speed limiter buat membantu supir mengoperasikan bus. Baca juga: Hotel Bergaya Klasik Modern dalam Wujud Bus Tingkat Vintage “Untuk bus tingkat itu (desain kabin) custom (sesuai permintaan operator). Sasis harus pakai yang premium yang sesuai untuk double decker. Investasinya cukup besar ya di bus tingkat ini. Satu unit bus tingkat sekitar 3 miliar (rupiah), sudah termasuk kelengkapan (perangkat hiburan dan kenyamanan,” jelas Candra yang dikutip KabarPenumpang.com dari tirto.id. Mahalnya biaya pembuatan juga dikarenakan bus tingkat memiliki risiko kecelakaan yang lebih besar dibandingkan bus biasa. Sebab dengan bodi yang jangkung dengan titik berat berada diatas membuat bus rentan limbung dan bahkan terguling saat berbelok. Sehingga bus tingkat sebenarnya lebih cocok di jalanan dalam kota dengan ruas jalan besar, tidak banyak tanjakan dan turunan curam. Sementara disisi lain, penggunaan bus tingkat kini tengah menjadi tren diantara PO (Perusahaan Otobus) untuk melayani rute AKAP (Antar Kota Antar Provinsi).

Volvo Vera, Truk Otonom Bertenaga Listrik Yang Punya Desain Unik

Siapa bilang moda otonom hanya bisa digunakan untuk angkutan orang saja? Tidak juga lho! Baru-baru ini, raksasa otomotif asal Gothenburg Swedia, Volvo diketahui baru saja merilis truk otonom berbasis tenaga listrik yang ditujukan untuk sejumlah operasi pengangkutan alat-alat berat di pelabuhan. Alih-alih memiliki bentuk layaknya kebanyakan truk konvensional, moda yang diberi nama Volvo Vera ini punya desain yang unik, yaitu tanpa atap. Baca Juga: Volvo Rilis Dua Model Bus Terbaru Untuk Wisata dan Perjalanan Jarak Jauh Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (13/9/2018), tidak hanya di pelabuhan, hadirnya truk otonom bertenaga listrik ini juga dirancang untuk ‘meringankan’ beban-beban berat di sekitar pabrik, pusat logistik, dan tempat-tampat lain dimana barang masih dipindahkan secara manual. Jika dilihat dari model luarnya, Volvo Vera mirip dengan T-log Einride, dimana Anda tidak akan menemukan kabin penumpang sama sekali – namun tetap mempertahankan fungsi kaitan barang pada bagian belakangnya. Dengan mengadopsi tipe driveline dan baterai dari truk listrik pertama Volvo yang diperkenalkan awal tahun 2018 kemarin, Volvo Vera dirancang untuk melakukan perjalanan jarak pendek berulang (bolak-balik) dengan muatan yang besar dan berat. Seolah mencuri start dari para kompetitornya, pihak Volvo menyadari betul pernanan dari sebuah inovasi. “Kita dapat melihat lonjakan jumlah e-commerce belakangan ini, yang juga disertai dengan konsumsi global secara keseluruhan yang semakin menanjak – dan itu tidak menunjukkan tanda-tanda melambat,” kata Mikael Karlsson, Vice President Autonomous Solutions di Volvo. “Industri ini (angkutan kargo) perlu menemukan cara baru untuk memenuhi peningkatan permintaan transportasi dengan cara yang lebih efisien dan berkelanjutan. Oleh karena itu, solusi baru perlu dikembangkan untuk melengkapi apa yang tersedia saat ini,” tandas Mikael. Baca Juga: Volvo Indonesia Segera Hadirkan Bus AKAP Belum banyak informasi yang dibocorkan oleh Volvo tentang masa depan dari truk otonom bertenaga listrik ini, namun jika mengacu pada truk listrik pertama Volvo, kemungkinan Volvo Vera akan dilengkapi dengan motor listrik 185 kW, paket baterai lithium-ion berdaya 100 dan 300 kWh, dengan jangkauan hingga 300 km (186 mil). Dikutip dari laman sumber lain, Volvo Vera mampu mengangkut beban seberat 32 ton, “dan dirancang ramah lingkungan, rendah emisi, dan memilik tingkat kebisingan yang rendah,” tambah Mikael. “Dalam waktu dekat, kami akan merilis Volvo Vera.” Tutupnya.

Seorang Ibu Melahirkan Bayi Kelima di Kursi Penumpang Mobil

Melahirkan di kursi penumpang kerap kali terjadi baik dalam transportasi umum hingga kendaraan ride-sharing dan membuat banyak pihak bahagia. Peristiwa ini kembali terjadi, namun bukan di moda transportasi umum melainkan di kursi penumpang bagian depan mobilnya sendiri dan tanpa bantuan siapapun. Baca juga: Wanita Muda Melahirkan di Peron Saat Akan Masuk ke Lift KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (7/9/2018), kejadian luar biasa ini dialami seorang ibu yang akan melahirkan anak kelimanya. Ibu itu sedang melakukan perjalanan dengan empat orang anaknya bersama suaminya yang mengemudikan mobil tersebut. Dalam video tersebut ibu itu berteriak saat akan melahirkan dengan posisi menghadap ke jendela belakang dengan lututnya bersimpuh. Suaminya yang mengendarai mobil tersebut memvideokannya saat mereka berada di dalam perjalanan. “Istriku mengatakan tunggu dan dia berteriak tidak tahu apa yang terjadi,” ujar sang suami saat merekam video dirinya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara tangis bayi dan wanita tersebut memeluk bayi yang baru lahir tersebut. Pria itu kemudian membalikkan kameranya ke arah belakang dan mendapatkan empat anak mereka yang tenang saat ada anggota baru yang lahir. Rekaman tersebut terjadi di Dallas, Texas dan di unggah ke media sosial. Video tersebut di unggah pada akun Instagram @thewinneyseven dengan caption ‘Ada sesuatu yang luar biasa, dimana melahirkan bayi saya sendiri tanpa ada dokter ataupun perawat yang membantu. Tidak ada lampu atau orang sibuk. Tidak ada yang mengganggu momen bahagia dan istimewa dengan kelahiran tersebut.’ “Rasa sakit itu ada saat melahirkan, tetapi sukacita dan kedamaian yang terjadi di menit-menit yang kami habiskan sendirian dengan gadis manis kami lebih bermanfaat dari apapun yang bisa saya minta,” ujar ibu lima anak tersebut pada caption unggahannya. Baca juga: Bayi Perempuan Lahir di Grab, Orang Tua Diganjar Kupon S$8000 Dia juga mengatakan, menyaksikan secara langsung tubuhnya mengambil alih dan bayi itu lahir di tangannya. Bahkan dirinya tidak mengeluarkan air mata karena bahagianya. “Saya punya suami dan anak-anak di sekitar saya, dan selama 5 menit, kami merangkul semua yang terjadi tanpa gangguan apa pun. Itu gila. Tapi itu luar biasa,” ujarnya lagi di caption.

Kapal Ferry Stena Line Adopsi Kecerdasan Buatan Guna Efisiensi Bahan Bakar

Raksasa Ferry, Stena Line telah meluncurkan apa yang diklaimnya sebagai kapal penumpang pertama di dunia yang menggunakan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligent (AI), dimana penggunaannya ditujukan untuk menentukan rute mana yang dianggap paling hemat bahan bakar. Pemasangan platform AI ini sendiri tidak lepas dari kemitraan yang mereka jalin dengan perusahaan teknologi asal Jepang, Hitachi. Baca Juga: “The Ampere,” Kapal Ferry Bertenaga Listrik Pertama di Dunia! Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman edie.net (11/9/2018), penggunaan platform AI ini akan mensimulasikan beberapa skenario rute sebelum pada akhirnya menyarankan rute yang dinilai paling efisien. Dalam hal ini, efisien yang dimaksud adalah hemat penggunaan bahan bakar. Selain itu, ada beberapa faktor juga yang dipertimbangkan oleh platform AI ini, seperti arus, kondisi cuaca, kedalaman air, dan juga kecepatan kapal ferry itu sendiri. Scandinavica – kapal ferry yang dipasang platform AI ini sendiri rencananya akan mulai mengarung pada akhir tahun 2018 ini, dimana Scandinavica akan menghubungkan Gothenburg dan Kiel. Pihak Stena Line selaku operator mengaku, jika uji coba pelayaran ini berhasil maka tidak menutup kemungkinan mereka akan mengaplikasikan platform serupa pada rute penyebrangan lainnya. “Platform AI belajar dengan sangat cepat,” ujar pakar senior Stena Scandinavica, Jan Sjöström pasca melakukan pemasangan platform ini di kapal ferry, sekiranya pada empat minggu kemarin. “Platform AI membantu perencanaan perjalanan, menangani kapal di tempat yang aman, dan pada saat yang bersamaan, platform akan menunjukkan keahliannya, yaitu menghemat penggunaan bahan bakar,” tambah Jan Sjöström. Kendati pihak operator sudah cukup puas dengan platform AI, namun tetap saja masih dibutuhkan penyempurnaan di depannya. Penggunaan platform ini, terang Jan Sjöström, merupakan bagian dari target Stena Line yang ingin mengurangi konsumsi bahan bakarnya senilai 2,5 persen setiap tahunnya. Baca Juga: KMP Athaya, Arungi Selat Sunda dengan Sensasi Hotel Berbintang Ke depan, Stena Line akan menggunakan platform serupa untuk mempraktikkan pengendalian kapal. Bukan untuk menggantikan peran dari nakhoda atau perwira tinggi lainnya, melainkan untuk mendukung sistem pengambilan keputusan terbaik – yang pada akhirnya akan mengarah pada efisiensi bahan bakar, dimana manusia masih belum bisa mengambil keputusan semacam ini.  

Luggage Wrapping di Bandara, Seberapa Besarkah Perannya Untuk Melindungi Koper Anda?

Dewasa ini, sudah banyak bandara yang menyediakan layanan wrapping yang dikhususkan untuk barang bawaan Anda yang akan dimasukkan ke dalam bagasi. Ya, layanan ini biasanya ditempatkan tidak jauh dari check in counter yang dimaksudkan untuk memudahkan Anda untuk menggunakannya. Namun pernahkah terlintas di benak Anda, “Seberapa penting sih layanan wrapping ini?” Akankah balutan plastik tipis pada koper Anda ini akan melindungi isinya? Baca Juga: Kurangi “Lost Luggage,” Amerika Serikat Berlakukan Pelacakan Barang dari Bagasi Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman traveller.com.au, adapun tujuan utama dari hadirnya layanan wrapping semacam ini adalah untuk memastikan keamanan barang bawaan Anda yang hendak masuk ke dalam bagasi. Aman di sini bukan berarti tahan terhadap bantingan, atau terbakar – namun lebih kepada jaminan agar koper Anda tidak dibongkar oleh oknum bandara yang belakangan ini kerap menjadi perbincangan di media sosial. Setidaknya, dengan merogoh kocek sebesar US$10 (Rp148.000) hingga US$15 (Rp222.500), Anda bisa menjamin koper Anda aman dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab yang kerap menjadi momok menakutkan bagi Anda untuk menaruh koper tersebut di bagasi. Selain untuk menjamin keamanan barang bawaan Anda dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab, fungsi lain dari layanan wrapping ini adalah untuk menjaga koper Anda dari penangangan bagasi yang kasar, kehujanan saat loading, atau ketumpahan cairan selama proses loading. Ini bukanlah perkara baru di dunia aviasi, mengingat banyaknya kasus yang menjurus pada kerusakan koper akibat sejumlah proses di atas. Jika Anda melihat ada orang di bandara yang menggunakan layanan wrapping ini, tidak ada salahnya bagi Anda untuk mencoba layanan serupa. Toh sejumlah uang yang Anda keluarkan itu bisa dibilang tidak sebanding dengan isi yang ada di dalam koper, bukan? Terlebih semisal Anda membawa barang berharga di koper, sangat disarankan untuk menggunakan layanan wrapping ini. Baca Juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya Namun pada akhirnya, penggunaan layanan wrapping ini bukanlah jaminan utama keamanan isi dari koper Anda. Satu hal yang dapat Anda lakukan untuk menjamin keamanan dari isi koper Anda adalah jangan pernah menyimpan barang-barang berharga di dalamnya, seperti laptop, kamera, parfum, atau bahkan perhiasan. Alangkah baiknya jika Anda sedikit ribet dengan membawa semua barang berharga ke dalam kabin dan tetap berada di bawah pengawasan Anda. Dengan begitu, keamanannya lebih terjamin ketimbang harus membungkus koper Anda dengan layanan wrapping tersebut.  

‘Ganti Persneling’, Uber Coba Peruntungan Jajal Bisnis Taksi di Jepang

Demi untuk ‘menjajah’ kembali negara yang telah melarang pengoperasiannya, Uber Technologies meluncurkan fitur cab-hailing di Jepang pada Kamis (6/9/2018) kemarin. Dalam hal ini, perusahaan yang berbasis di Negeri Paman Sam ini berkolaborasi dengan Fuji Taxi Group yang berbasis di Nagoya. Sebelum memutuskan untuk bekerja sama, Uber telah terlebih dahulu menguji coba layanan ini di Pulau Awaji, Prefektur Hyogo, di mana opsi transportasi lokal di sana masih terbatas. Baca Juga: Sering Gunakan Layanan Ride-Sharing? Baca Tips Ini Agar Tetap Aman! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (7/9/2018), Uber sendiri terkenal dengan platform ride-sharingnya, dimana mereka mempekerjakan para pemilik mobil sebagai pengemudi yang akan mengantar jemput penumpang – namun layanan tersebut ditolak di Jepang karena berdampak pada kemacetan yang semakin memerah. “Uber berusaha untuk mendorong inovasi pada industri taksi dengan menggunakan teknologi,” ujar General Manager Uber Jepang, Tom White. Ini merupakan langkah lanjutan yang ditempuh Uber pasca jatuhnya kedigdayaan perusahaan tersebut pada tahun 2017 silam. Oper persneling ke pasar taksi, tidak tanggung-tanggung, Uber langsung mengarah Jepang yang diketahui sebagai salah satu negara yang memiliki pasar taksi terbesar di dunia. Selain itu, pertumbuhan sektor pariwisata di Jepang akan berdampak pada meningkatnya jumlah wisatawan – baik asing maupun mancanegara di Negeri Sakura. Maka besar harapan Uber untuk memperlebar sayap bisnisnya di kota-kota besar di Jepang, seperti Tokyo. “Semakin besar kemungkinan wisatawan datang dan menggunakan taksi yang kami sediakan,” tandas Tom. Kerja sama yang dilakukan antara pihak Uber dengan Fuji Taxi Group ini ditandai dengan hadirnya 350 dari 550 taksi di aplikasi Uber itu sendiri. “Untuk merengkuh kata sepakat dengan pihak Fuji Taxi bukanlah perkara yang mudah, namun kami menawarkan biaya penggunaan sistem yang lebih tinggi daripada perusahaan taksi yang lain,” terang Tom. Baca Juga: Ride Sharing Masa Depan Bakal Seperti Layanan dalam Penerbangan Namun Uber bukanlah satu-satunya perusahaan yang menawarkan layanan ini. Sebelumnya, ada JapanTaxi yang juga menawarkan layanan ride-hailing berbasis mobile application. Dengan sokongan dana yang digelontorkan oleh Toyota Motor dan operator seluler NTT Docomo, JapanTaxi berhasil merebut perhatian publik dengan 5,5 juta penguduh aplikasi. Belum lagi Sony yang bermitra dengan lima perusahaan taksi Jepang – termasuk Kokusai Motorcars, untuk menawarkan sistem antar jemput menggunakan taksi yang menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligent/AI), yang dijadwalkan untuk memulai operasi pada tahun fiskal 2018.  

Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing

Dalam beberapa tahun ke belakang, skema transportasi di dunia sudah berubah manakala layanan ride-sharing dan ride-hailing mulai mencuat ke permukaan. Di Indonesia sendiri, tak pelak alternatif transportasi semacam ini semakin digandrungi oleh masyarakat ketika mereka menawarkan kemudahan dan efisiensi waktu kepada para penggunanya. Cukup menekan layar ponsel beberapa kali, maka jemputan berupa mobil atau motor akan datang menghampiri Anda. Baca Juga: Seberapa Perlu Layanan Ride-Sharing Merata di Berbagai Daerah? Kendati sama-sama akan mengantarkan Anda menuju titik yang sebelumnya sudah ditentukan, tapi tahukah Anda perbedaan yang mendasar dari kedua layanan tersebut? Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, layanan seperti GoJek dan Grab yang namanya tengah naik daun di Indonesia ini masuk ke dalam golongan ride-hailing, dimana para pengguna akan mengawali perjalanan dengan memesan kendaraan – lengkap dengan pengemudinya untuk mengantarkan Anda ke tujuan. Cara yang digunakannya pun beragam, mulai dari menghentikannya di pinggir jalan atau memesan via telepon atau aplikasi. Sementara itu, layanan ride-sharing lebih ditujukan kepada seorang yang berbagi tumpangan dengan penumpang lain. Disebutkan di laman thezebra.com, para puritan layanan ride-sharing ini mengatakan bahwa para pengemudi tidak dimotivasi oleh keuntungan, melainkan lebih kepada misi sosial, perlindungan terhadap lingkungan (karena numpang kepada pengguna kendaraan lain, si penumpang tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi yang pada akhirnya akan menambah polusi), dan juga penghematan biaya. Baca Juga: Ride-Sharing, Upaya Uber Untuk Lebih Mengerti “Perasaan” Pengguna Mengutip dari laman sumber lain, salah satu perusahaan yang mengoperasikan layanan ride-sharing adalah BlancRide. Pengoperasian dari layanan ini sendiri cukup unik, dimana semakin banyak penumpang di dalamnya, maka akan semakin murah pula tarif yang dikenakan per penumpang. Ambil contoh, jika Anda pergi sendiri dari titik A menuju titik B dengan menggunakan BlancRide, akan dikenakan tarif Rp100.000. Harga yang sama akan berlaku jika ada penumpang lain yang menuju tujuan yang sama – jadi Anda bisa patungan dengan penumpang tersebut. Lebih hemat bukan? Selain lebih hemat, jumlah kendaraan juga ditaksir akan berkurang dan itu berpengaruh terhadap tingkat pencemaran udara yang bisa direduksi – dan tentu saja, jadi tidak macet! Mulai sekarang, jangan terbaik lagi ya antara layanan ride-sharing dan ride-hailing!  

Ada Nomor Identitas di Tiket dan Boarding Pass Kereta? Ini Penjelasan dari PT KAI

Nomor identitas baik KTP atau SIM biasanya harus dicantumkan saat pembelian tiket kereta api dan akan tertera pada boarding pass baik cetak maupun elektronik. Hal ini kemudian membuat seorang penumpang bertanya melalui Twitter PT KAI @KAI121. Baca juga: Punya Boarding Pass Kereta Api? Jangan Buang dan Tukarkan Tiket Gratis dari PT KAI “Hallo @KAI121 kenapa di tiket boarding pass harus ada id number? Padahal saat masuk juga harus scan barcode. Soalnya untuk orang awam tiket yang sudah digunakan langsung dibuang tanpa disobek terlebih dahulu, padahal id number bisa disalagunakan orang lain jika terbuang.” Kemudian dengan adanya pertanyaan tersebut, @KAI121 menjawab, “Selamat siang. Nomor identitas pemesanan merupakan data wajib bagi setiap penumpang. Hal tersebut guna menghindari adanya tindak percaloan atau penumpang ilegal. Sehingga nomor identitas harus tertera pada tiket, untuk pencocokan data identitas yang dimiliki penumpang Trims.” Alasan tersebut sebenarnya masuk akal tetapi sayangnya dengan pencantuman nomor identitas tersebut bisa mengganggu privasi penumpang. Padahal tiket pesawat dan transportasi lainnya tidak mencantumkan nomor identitas baik tiket maupun boarding pass. Kemudian Kepala Humas PT KAI Agus Komarudin yang dikonfirmasi mengatakan, nomor identitas yang tertera sebenarnya digunakan untuk verifikasi dengan identitas asli penumpang saat boarding. “Untuk menjaga agar tidak terjadi praktik percaloan dan untuk kepentingan asuransi,” kata Agus kepada KabarPenumpang.com, Kamis (13/9/20180. Dia menjelaskan, saat ini sebenarnya PT KAI sendiri sudah berupaya menghadirkan sistem yang bisa mengurangi penggunaan tiket atau boarding pass dalam bentuk fisik (cetak). Agus mengatakan, ini juga dilakukan untuk menghindari tiket atau boarding pass yang dibuang sembarangaan oleh penumpang. Saat ini PT KAI sudah menerapkan e-boarding bagi penumpang yang melakukan pemesanan tiket melalui KAI Access. Dua jam sebelum pemberangkatan KA, penumpang akan mendapatkan pemberitahuan dan dapat mengklik cetak e-boarding pass, sehingga tidak ada lagi fisik lembaran cetakan tiket. Baca juga: Jumlah Perlintasan Sebidang Liar di Indonesia, Tembus Angka 4.000! “Penumpang tinggal tunjukkan barcode yang ada di handphone atau gadgetnya saat boarding. Jadi harus check in online terlebih dahulu,” ujar Agus. E-boarding ini dapat dilakukan untuk semua jenis kereta api jarak jauh. Agus menghimbau masyarakat yang menggunakan jasa layanan kereta api untuk tidak membuang tiket perjalanannya. Meski demikian, Agus menyatakan bahwa pertanyaan dan usulan mengenai nomor identitas itu diterima sebagai masukan yang berharga. PT KAI akan melakukan evaluasi agar tidak ada kebijakan yang merugikan penumpang.

Belanja Kebutuhan Rumah di Stasiun Kini Cukup Scan Kode QR

Commuter line atau kereta listrik (KRL) saat ini menjadi moda transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat. Bahkan berdasarkan data dari PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) di laman resminya, hingga Juni 2018 rata-rata pengguna KRL setiap harinya mencapai satu juta orang. Baca juga: Tak Hanya Hadirkan KMT Khusus, Inilah Rute KRL dan TransJakarta Untuk Pengunjung Asian Games 2018 Hal ini kemudian membuat e-commers JD.ID menghadirkan layanan baru bagi penggunanya berupa toko ritel JDVirtual yang bisa ditemui di stasiun-stasiun KRL. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ada sembilan stasiun yang menghadirkan JDVirtual tersebut yakni Jakarta Kota, Sudirman, Sudimara, Juanda, Gondangdia, Cikini, Tebet, Pasar Minggu dan Depok Baru. Penumpang yang tengah menunggu kereta di stasiun-stasiun tersebut bisa membeli produk yang dijual oleh JDVirtual dan men-scan kode QR (QR code) sehingga barang yang dibeli akan masuk ke troli di aplikasi. Kemudian pembayarnya pun seperti biasa yakni non tunai seperti belanja dari aplikasi JD.ID. “Intinya untuk pembelian barang di stasiun, penumpang menscan barcode yang tertera di banner kita. Nanti itu masuk sendiri ke troli aplikasi,” ujar Head of Corporate Comm and Public Affair Teddy Arifianto yang dihubungi KabarPenumpang.com, Kamis (13//9/2018). Dari informasi yang didapatkan, barang-barang yang dijual melalui JDVirtual sendiri yakni kebutuhan rumah tangga, makanan, minuman dan beberpa lainnya seperti yang ditemui di toko ritel. Nantinya setelah dilakukan pembayaran, barang akan diproses dan diantar ke alamat yang diinginkan layaknya belanja online biasa. President Director JD.ID Zhang Li mengatakan, JD.ID senantiasa berinovasi untuk memberikan terobosan yang memudahkan para pelanggan kami dalam mengakses dan memenuhi kebutuhan keseharian mereka meski dalam perjalanan. “Secara teknologi, kami bangga dapat mempelopori cara dan pilihan berbelanja yang berbeda sesuai dengan dinamika masyarakat urban,” kata Zhang. Dia menyebut, pelanggan adalah inspirasi perusahaan dalam menjalankan bisnis di Indonesia. Menurut dia dengan JD.ID Virtual, konsep berbelanja yang tak mengenal batas/borderless sesuai dengan semangat dan nilai-nilai perusahaan. “Kami harap ini dapat memberikan solusi nyata bagi industri ritel modern sekaligus menjalankan amanah kami untuk memajukan Indonesia (Advancing Indonesia),” tambah dia. Baca juga: Benarkah Hadirnya E-Money Dorong Anda Jadi Pribadi Konsumtif? Target JD.ID dengan JDVirtual ini adalah memberikan pengalaman baru dalam berbelanja bagi para pelanggan setianya. Tidak menutup kemungkinan layanan JDVirtual akan ditambah di beberapa titik strategis layanan transportasi masyarakat seperti di terminal bus dan bandara. “Pelanggan adalah inspirasi kami dalam menjalankan bisnis di Indonesia. Kami percaya dengan JD.ID Virtual konsep berbelanja yang tak mengenal batas dapat memberikan solusi nyata bagi industri ritel modern sekaligus menjalankan amanah kami untuk memajukan Indonesia,” kata Zang

Pertegas Positioning, Garuda Indonesia Alihkan Pesawat ATR ke Citilink

Garuda Indonesia berencana untuk melakukan pengalihan operasional pesawat ringan turbo propeller ATR 72-600 kepada Citilink Indonesia yang merupakan anak usahanya. Adanya pengalihan operasional tersebut dinilai bagus apalagi bila saling berkaitan untuk meningkatkan produktivitas grup maskapai. Baca juga: Pertengahan 2019 Penumpang Kelas Bisnis Garuda Indonesia Bisa Lanjutkan Perjalanan via Helikopter Langkah Garuda Indonesia tersebut kemudian mendapat komentar dari pengamat penerbangan Alvin Lie, yang menilai perlunya perbedaan secara jelas antara pasar penerbangan Garuda Indonesia sebagai maskapai layanan penuh dengan Citilink yang merupakan maskapai berbiaya hemat atau LCC. Sebab dengan adanya perbedaan pasar yang dibidik kedua maskapai itu bisa menjadi lebih jelas. “Pengalihan operasional tidak bole setengah hati. Garuda perlu menegaskan jati diri yang ingin dibangun pada benak pengguna jasanya,” ujar Alvin yang dikutip dari laman bisnisindonesia.com oleh KabarPenumpang.com, Minggu (9/9//2018). Menurut Alvin, tidak hanya operasional saja, melainkan armada ATR tersebut sepenuhnya digunakan penuh dengan identitas Citilink. Sedangkan untuk harga dan standar pelayanannya sendiri akan mengikuti dari Citilink. Dengan hal ini, Alvin kemudian mencontohkan bahwa United Airlines juga memiliki  menggunakan pesawat kecil dengan nama United Express. Pesawat kecil ini hanya memiliki rute pendek dimana United Airlines tidak terbang. Tak hanya itu, standar pelayanan dan harga yang diberikan United Express tidak sama dengan United Airlines. Saat ini diketahui rute domestik Garuda Indonesia dan Citilink tidak jelas perbedaannya. Bahkan Alvin menyebutkan baik Garuda maupun Citilink cenderung saling berebut rute penerbangan. Dia menambahkan, dengan adanya pengalihan operasional armada tersebut, diharapkan kedepannya bisa diikuti dengan penataan kembali rute keduanya. Baca juga: Meski Penerbangan Langsung Jakarta-London Tutup, Garuda Indonesia Masih Layani via Codeshare “Rute mana yang dilayani Garuda dan Citilink harus ditentukan secara tegas. Agar bisa bersaing melawan maskapai lain,” ujar Alvin. Diketahui, baru-baru ini Garuda dan Citilink telah melakukan codeshare atau berbagi kode pada penerbangan tertentu. Ini dilakukan guna memperkuat posisi Garuda Indonesia Group di industri penerbangan nasional. Selain itu juga untuk mendongkrak pertumbuhan penumpang dan memperluas network baik Citilink maupun Garuda Indonesia.