Berbasis di Makassar, Xpressair Jadi Raja di Rute Indonesia Timur

Baru-baru ini ada kabar bahwa Xpressair akan memindahkan rute penerbangannya dari Yogyakarta ke Solo. Nah siapa Xpressair, dan maskapai ini asalnya dari mana serta menerbangkan rute apa saja dan kemana? Baca juga: Pasar di Bandara NYIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret Xpressair sendiri merupakan maskapai yang mulai beroperasi secara komersial dengan penerbangan antara Jayapura dan Jakarta pada 23 Juni 2003. Hal ini kemudian membuat Xpressair tumbuh menjadi salah satu maskapai besar di Indonesia tepatnya di Indonesia Timur. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, maskapai yang berbasis di Makassar tersebut memulai penerbangannya dengan pesawat Boeing 737. Xpressair merupakan maskapai terjadwal milik swasta pertama yang menghubungkan Jakarta ke 24 tujuan domestik seperti Makassar, Ternate, Sorong, Manokwari dan Jayapura. Makassar sebagai hub utama berfungsi untuk melayani rute penerbangan yang datang dari pulau Jawa ke kota-kota Indonesia Timur. Sedangkan Sorong menjadi hub kedua di Papua yang menghubungkan tempat-tempat terpencil di sekitar wilayah Papua Barat. Xpressair terdaftar dalam kategori dua oleh Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia untuk kualitas keamanan penerbangan. Pada 2014, maskapai ini sudah menerbangkan penumpang mereka ke regional yakni beberapa kota di Malaysia seperti Kuching dan Melaka. Saat ini, Xpressair tengah dalam proses memperbanyak armada untuk melayani lebih banyak tujuan di sepanjang Papua Barat, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Mereka juga memiliki visi untuk menawarkan rute ke wilayah barat dan terpenuhi ketika mulai menghubungkan penumpang ke Yogyakarta, Surabaya, Pontianak dan beberapa daerah lainnya. Pada awalnya maskapai ini bernama Express Air dan tahun 2012 memulai perjalanan baru menjadi Xpressair untuk mewakili maskapai penerbangan yang lebih modern dan ramah pelanggan. Xpressair sendiri punya slogan “Terbanglah Indonesia” yang memiliki arti, budaya dan tradisi maskapai penerbangan yang sama dengan kemajuan, motivasi baru dan modern. Baca juga: Sebelum “Mengudara”, Kenali Dulu Yuk Kode Penerbangannya! Untuk diketahui, Desember 2014 lalu, Xpressair bersama dengan beberapa maskapai penerbangan Indonesia lainnya masuk dalam daftar maskapai penerbangan yang dilarang di Uni Eropa dengan alasan keamanan. Xpressair juga didukung oleh PT Aero Nusantara Indonesia (ANI). Xpressair hingga 2017 memiliki sepuluh armada dengan 37 tujuan destinasi.

Boeing Akui Fitur Folding Wingtip 777X Bisa Jadi Penyebab Kecelakaan

Setelah lama tertunda, Boeing 777X akhirnya sukses terbang perdana pada Sabtu lalu. Sekalipun sempat tertunda, Boeing mengklaim bahwa pesawat tersebut akan bisa bersaing dengan kompetitornya berkat fitur folding wingtip serta beberapa inovasi lainnya. Padahal, sebelum benar-benar berhasil terbang, varian baru dari seri 777 tersebut mendapat respon negatif dari publik terkait mesin GE9X. Baca juga: Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana Dilansir dari laman simpleflying.com, Selasa (28/1), diantara sederet hal baru pada 777X, fitur ujung sayap yang dapat bergerak melipat (folding wingtip) dinilai sebagai fitur paling menonjol. Dengan fitur tersebut, pesawat dimungkinkan untuk menjadi lebih ramping untuk parkir di apron bandara, dari semula 71,8 meter menjadi hanya di bawah 64,8 meter. Boeing beralasan, bahwa fitur tersebut belajar dari insiden Airbus A380 yang memaksa bandara melakukan modifikasi mahal ketika pesawat dua tingkat dengan bentang sayap sejauh 79,5 meter tersebut memulai debutnya pada 2007 silam. Nantinya, pesawat yang dirancang untuk bersaing dengan Airbus A350 tersebut, akan memiliki dua model. Model pertama yakni 777X-8 akan memuat sekitar 384 penumpang dan memiliki jangkauan 16.093 kilometer, dan 777X-9 akan memuat sekitar 426 penumpang, dengan daya jelajah sekitar 13.491 km, serta kapasitas bahan bakar sebesar 2 juta liter lebih. Walaupun berhasil terbang dan mengelilingi langit Washington dan Seattle selama empat jam, tetap saja, terdapat beberapa keraguan bila sewaktu-waktu folding wingtip tidak berjalan sebagaimana mestinya atau mengalami kerusakan saat diterpa berbagai tekanan, baik saat lepas landas, di udara, maupun ketika mendarat. Boeing sendiri sudah berani memastikan bahwa fitur tersebut aman. 777X pun juga lolos tes Federal Aviation Administration (FAA) atau regulator penerbangan sipil di Amerika. Hanya saja dengan beberapa syarat. Beberapa syarat tersebut mencakup keamanan dan daya tahan bantalan, baik di darat maupun saat di udara di tengah cuaca buruk, serta sistem peringatan ke pilot jika sesuatu yang tak beres terjadi. Selain mengajukan beberapa syarat untuk Boeing terkait wingtip, FAA juga memberikan beberapa mekanisme. Pada intinya, mekanisme tersebut memastikan bahwa folding wingtip berada pada posisi yang benar, baik saat lepas landas maupun saat mendarat. Tak hanya itu, FAA juga mengingatkan, ketika folding wingtip tak berjalan dengan baik, hal tersebut harus terhubung ke instrumen-instrumen di dalam kokpit dalam bentuk beragam, bisa dengan suara, ataupun tombol peringatan yang menyala. Menariknya, ketika hal itu terjadi (folding wingtip mengalami ganguan dan tidak berada posisi yang benar saat di udara) Boeing mengakui bahwa sesuatu hal bisa saja terjadi. Bahkan, mereka cukup sadar untuk mengakui di hadapan FAA, bahwa fitur tersebut masih sangat mungkin menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Sekalipun Boeing belum mengeluarkan dampak pastinya saat sistem folding wingtip eror di udara, sebagian kalangan menilai bahwa hal tersebut mungkin tidak berdampak terlalu fatal. Pasalnya, bila melihat dimensi bentang sayap yang ada, harusnya penerbangan akan baik-baik saja. Folding wingtip dalam keadaan normal berada pada kisaran 71 meter dan jika melipat berada pada posisi berkisar 64 meter. Artinya, lebar bentang sayap tersebut masih lebih besar dibanding B747-100 yang memiliki bentang sayap 59,6 meter. Padahal, baik 777X maupun 747-100, dari segi kapasitas, tak jauh berbeda. Jadi, dari segi keamanan, beberapa kalangan berpendapat tetap akan aman. Kecuali dari segi tingkat efisiensi bahan bakar, erornya folding wingtip mungkin akan membuat penerbangan tidak se-efisien yang diharapkan sebelumnya. Baca juga: ‘Move on’ dari Kasus 737 MAX, Boeing Siap Uji Terbang Perdana Seri 777X Boeing sendiri, hingga kini, belum memberikan detail pasti tentang bagaimana folding wingtip bekerja. Tetapi Boeing berkilah bahwa mereka telah melakukan segalanya untuk membuat folding wingtip aman. “Ujung sayap lipat sederhana dan sangat andal dengan mekanisme penyebaran, penarikan, dan penguncian yang berlebihan. Kami merancang ujung sayap lipat seperti setiap sistem kritis penerbangan lainnya sehingga memenuhi persyaratan keselamatan,” katanya.

Tak Ada Peron di Jalur, Petugas ini Gendong Nenek Turun dari Gerbong Kereta

Seorang nenek digendong saat turun kereta ketika tiba di stasiun dan tidak ada peron karena berhenti di jalur kedua. Leng Hiang saat itu menaiki kereta ekspres dari Stasiun Hat Yai di Songkhla menuju ke Stasiun Ban Ppong di Ratchaburi pada Senin (13/1/2020) kemarin. Baca juga: Gegara Tak Ada Kursi di Gerbong MRT, Kakek Ini Terpaksa Duduk di Lantai Kereta Dia pergi bersama putrinya, Pimchanik Praiwusan untuk menghadiri pemakaman. Keduanya berangkat dari Hat Yai pukul 1845 waktu setempat pada hari Minggu (12/1/2020) dan tiba di Ban Pong pukul 09.43 pagi hari berikutnya. Saat itu kereta mereka terlambat satu jam ketika tiba di Ban Pong. KabarPenumpang.com melansir dari laman bangkokpost.com (16/1/2020), saat akan turun dari kereta tidur, ternyata di jalur tersebut tidak ada peron. Kemudian seorang staf gerbong kereta ekspres itu menggendong nenek 82 tahun tersebut melintasi jalur lain untuk naik ke peron utama. Tak hanya itu, seorang petugas lainnya juga membantu membawakan tasnya ke peron. Karena hal ini, Hiang mengaku benar-benar menghargai bantuan para petugas itu. Dia bahkan berterimakasih kepada State Railway of Thailand (SRT) yang sudah memberikan perlakuan khusus kepadanya. “Saya benar-benar menghargai bantuannya. Saya ingin berterima kasih kepada State Railway of Thailand (SRT) karena telah merawat penumpang dengan baik,” kata Leng pada hari Kamis setelah tiba di stasiun Hat Yai dalam perjalanan kembali. Diketahui, petugas yang menggendong Hiang bernama Yakareeya Manu. Pria 34 tahun yang merupakan penduduk asli distrik Cho Airong di Narathiwat tersebut sudah bekerja sejak 2008 di kereta api sebagai petugas keamanan di Hua Lamphong dan kini mulai bekerja sebagai staf di gerbong tidur kereta ekpres sejak tahun 2012. Baca juga: Beberapa Lansia Justru Tak Ingin Duduk di Kereta Komuter, Ini Alasannya! “Saya senang membantu Anda, nenek. Semoga kesehatan Anda baik,” kata Yakareeya. Nah, bagaimana petugas kereta Indonesia dan negara lain bila ada orang lanjut usia yang kesulitan berjalan? Apakah akan melakukan hal seperti ini atau dibiarkan begitu saja karena ada keluarga disekitar mereka?

Kucing Penumpang Mati di Pesawat, Aeroflot: Petugas Bandara Harus Bertanggung Jawab

Dua ekor kucing mati dan satunya mengalami trauma dalam penerbangan dari New York ke Sofia (Bulgaria) menggunakan pesawat Aeroflot. Satu dari kucing tersebut diketahui mati ketika transit sebentar di Bandara Sheremetyevo, Moskow. Insiden ini terjadi saat Maxim Chumachenko dan ketiga kucingnya naik pesawat Aeroflot SU10 dari New York pada 22 Januari 2020 kemarin. Baca juga: Gara-Gara Kucing Kelebihan Berat Badan, 370 Ribu ‘Miles’ Milik Pria Rusia Dibatalkan Aeroflot Namun ketiga kucing tersebut harus masuk ke ruang kargo pesawat. Kemudian, pesawat yang mereka tumpangi menuju Sofia transit sebentar di Moskow. Ketika dia naik penerbangan kedua untuk menuju ke Sofia, seorang penumpang berkata pada Chumachenko bahwa kucing-kucingnya telah dilempar dari pesawat ketika kargo dibongkar. Namun untuk masalah tersebut, dirinya tak mendapat jawaban yang jelas dari Aeroflot ketika meminta konfirmasi tentang kucing-kucingnya ke meja layanan. Karena masalah itu, Chumachenko diizinkan membawa kedua kucing lainnya ke kabin pesawat untuk penerbangan keduanya menuju Sofia. Sayangnya salah satu kucingnya mati di pesawat dan satu dari yang dibawa ke dalam kabin mati ketika dibawa ke dokter hewan. Diketahui penyebab kematian kedua kucingnya karena pendarahan internal akibat trauma. Untungnya kucing ketiga miliknya selamat meski didiagnnosa menderita radang dingin. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman themoscowtimes.com (27/1/2020), insiden ini kemudian membuat Aeroflot mengkonfirmasi bahwa kematian kucing-kucing tersebut dan meminta maaf secara terbuka pada Chumachenko dan menyatakan bahwa para petugas penanganan bagasi di Bandara Sheremetyevo bertanggung jawab atas hal tersebut. Pihak Aeroflot menambahkan, mereka juga berencana untuk menyerukan revisi kebijakan dan teknologi transportasi hewan peliharaan di semua bandara Rusia. Namun, karena insiden ini Chumachenko mengatakan akan mengajukan tuntutan pidana atas kekejaman pada hewan kepada mereka yang bertanggung jawab. Untuk diketahui, masalah terkait hewan pada Aeroflot bukanlah yang pertama kali. Bulan November lalu, maskapai Rusia itu di kritik para pecinta binatang karena sudah menarik semua miles milik seorang penumpang yang memasukkan seekor kucing dengan berat badan berlebih ke kabin sebagai barang bawaan. Padahal pemilik kucing tersebut melakukan hal itu karena khawatir kucingnya tak selamat di ruang kargo. Bahkan hal ini pun mengundang perhatian dari warganet di Twitter dan bereaksi atas insiden tersebut. “Ingat bahwa Aeroflot menelanjangi seorang pria karena menyeret kucing gemuk bersamanya ke kabin? Hari ini, selama transportasi oleh Aeroflot yang sama, dua kucing mati, yang ketiga beku. Aeroflot adalah perusahaan yang membenci kucing.” tulis @GusevaOlyaa. “Dana Perlindungan Kucing Gemuk dibuka kembali. Apa-apaan ini, Aeroflot? ” kata @PolinaPars. Baca juga: Gegara Seekor Merpati di Kabin, Penerbangan Aeroflot Tertunda di Moskow “Ketika satu-satunya tiket yang tersisa ada di Aeroflot, ayolah doggies, kami akan berangkat.” tulis @Spellann. “Bisakah seseorang tolong jelaskan kepadaku mengapa Aeroflot melarang hewan peliharaan dalam penerbangan? Mereka hanya akan menghabiskan seluruh penerbangan dalam peti di bawah kursi Anda. Dan mengapa aturan yang sama tidak berlaku untuk anak-anak? Di bawah 3 tahun mereka jauh kurang pintar daripada hewan … dan mereka berperilaku jauh lebih buruk.” komentar @Cattiva777.

Liburan Imlek Diperpanjang, Wuhan Masih Akan Jadi ‘Kota Mati’

Cina mengumumkan telah memperpanjang hari libur nasional untuk Tahun Baru Imlek hingga hari Minggu mendatang. Tak lama berselang, negeri Tirai Bambu juga akan mengisolasi lebih banyak kota ketika jumlah korban tewas akibat virus corona meningkat menjadi 81 orang. Mayoritas korban tewas tersebut berasal dari kalangan lanjut usia yang sebelumnya memang memiliki riwayat penyakit, khususnya pernapasan. Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya Kota Wuhan sendiri, dimana wabah mematikan tersebut bermula, hingga kini masih tertutup rapat bagi siapapun yang ingin keluar masuk, dengan semua bandara, stasiun kereta api, dan bus bak mati suri. Tak hanya Wuhan, kota-kota lainnya di seluruh Provinsi Hubei dan beberapa kota-kota lainnya juga sudah diisolasi. Akibat diperpanjangnya hari libur nasional, Wuhan, dan juga kota-kota lainnya otomatis masih akan menjadi layaknya ‘kota mati’. Seperti video yang banyak beredar di media sosial, sejak kota yang menjadi pusat transportasi dan manufaktur di Cina tersebut diisolasi, di sudut-sudut kota, jalanan tampak lengang dan hampir tak ada manusia yang beraktivitas. Seakan-akan, kota tersebut seperti ditinggal warganya, yang mengingatkan kita pada ‘kota mati’ lainnya, salah satunya Chernobyl di Ukraina. Bedanya, jika Chernobyl menjadi ‘kota mati’ akibat radiasi nuklir, Wuhan diakibatkan oleh virus corona. Berbeda dengan Wuhan, di Shanghai, masa libur nasional bahkan diperpanjang hingga tanggal 10 Februari mendatang. Sejalan dengan hal itu, perusahaan-perusahaan di kota berjuluk seribu cahaya itu pun menginstruksikan karyawannya untuk bekerja dari rumah, guna meminimalisir aktivitas di luar rumah. Menurut spesialis risiko perjalanan dari Copenhagen, Denmark, Riskline, seperti dikutip dari buyingbusinesstravel.com, Selasa (28/1), isolasi yang dilakukan tentu saja telah berdampak besar pada aktivitas perjalanan udara, kereta api, dan transportasi umum lainnya. Sementara itu, di saat yang bersamaan, rumah sakit di China justru terus-menerus berada dalam tekanan hebat, khususnya di Provinsi Hubei, di mana antrean panjang terduga suspect virus corona belum juga terurai. https://twitter.com/i/status/1221423180134350848 Dalam video yang juga beredar di media sosial, tekanan hebat para pekerja medis di China, terlebih setelah salah satu dokter yang menangani pasien virus corona tewas, membuat beberapa di antara mereka mengalami stres hebat. Bahkan di beberapa kasus, terdapat pekerja medis yang teriak histeris akibat tak kuasa melihat banyaknya pasien. Baca juga: Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan Namun, jika bepergian ke Cina mutlak diperlukan, Riskline menghimbau agar para pelancong wajib mengikuti arahan dari perwakilan konsuler dan otoritas kesehatan setempat. Selain itu, mereka juga harus meminta perlindungan kepada biro perjalanan dan perwakilan konsuler untuk memastikan keamanan mereka. Termasuk, bila sewaktu-waktu kota-kota yang dikunjungi para pelancong akan diisolasi, mereka harus membawa para pelancong keluar sesegera mungkin. Dalam menekan risiko tertular virus, pelancong juga harus melakukan tindakan preventif, seperti menjaga kesehatan, mencuci tangan setiap beraktivitas, khususnya dari luar rumah, hingga menggunakan masker yang direkomendasikan. Jika terdapat tanda-tanda infeksi, seperti demam, diare, sesak napas dan batuk, pelancong harus sesegera mungkin berkonsulitasi dengan petugas medis.

Banyak Perombakan, Wahana Udara Terbesar Airlander 10 Siap Komersial di 2024

Setelah mengumumkan akan mengkomersialkan wahana udara terbesar pada 2020, Hybrid Air Vehicles (HAV) akhirnya dengan rendah hati memastikan rencana tersebut molor. Hal tersebut didasari oleh banyak hal, seperti perubahan desain, dimensi, hingga teknologi mutakhir terbarukan. Baca juga: Gagal Saat Uji Terbang, Hybrid Air Vehicle Tidak Gentar Komersialkan Airlander 10 Seperti dikutip dari robbreport.com, Senin (27/1), belum lama ini, perusahaan kapal udara asal Inggris tersebut (HAV) kembali muncul ke publik. Kemunculannya tersebut dibarengi dengan berbagai bocoran terbaru soal perkembangan kapal udara terbesarnya. Seperti diketahui sebelumnya, sejak berhasil mengujicoba prototipe Airlander 10 pada 2017 lalu, lengkap dengan beberapa insiden yang mewarnainya, HAV seperti menghilang bak hantu. Tak ada informasi apapun mengenai perkembangan wahana udara yang mirip Kapal Udara Zeppelin di masa lalu tersebut. Kemunculan HAV tentu mengejutkan berbagai pihak. Terlebih, impian HAV untuk mengkomersialkan wahana udara tersebut memang ditentang banyak pihak. Namun, HAV tetap pada pendiriannya. Justru saat ini, mereka sudah mendapatkan pakem terbaru, dengan berbagai transformasi dari prototipe sebelumnya. Airlander 10 yang sedang dikembangkan saat ini nantinya akan berwujud lebih besar, menjadi 97 meter dari sebelumnya hanya 92 meter. Selain itu, bagian depannya akan dibuat lebih bulat, lengkap dengan bagian ekor terbaru. Bentuk mutakhir tersebut juga diklaim akan lebih efisien. Bahkan, diklaim mencapai emisi karbon 75 persen lebih rendah dari pesawat atau kapal udara sejenis. Model pendaratannya pun juga telah berubah dari jenis pendaratan tipe helikopter menjadi model pendaratan pesawat dengan dukungan enam kaki. Tak hanya itu, Airlander 10 yang telah dimutahirkan juga dilengkapi dengan kabin yang lebih luas dan lebih panjang untuk penumpang dan kargo. Dengan model lebih panjang, kabin utama (tidak termasuk dek kapal) menawarkan ruangan sebesar 640 meter persegi, memastikannya mewah dan nyaman untuk penerbangan premium ke kutub utara yang menjadi tujuan Airlander 10. Dengan kapasitas 16 penumpang, model next-gen juga memungkinkan “The Flying Bum” dapat tetap di langit selama tiga hari penuh dan memiliki daya jelajah sekitar 3704 kilometer. Spesifikasi tersebut digadang-gadang membuat penumpang jauh lebih nyaman dibanding pesawat konvensional. Perlu diketahui, wahana udara tersebut dapat terbang lebih lama di udara karena menggunakan aerodinamika dan teknologi yang lebih ringan dari udara untuk menghasilkan daya angkat, yang memungkinkan kendaraan untuk tetap tinggi selama beberapa pekan. Baca juga: Bell Tampilkan Desain Teknologi Taksi Udara Guna merealisasikan semuanya, saat ini, tim juga membuat penyesuaian untuk meningkatkan penanganan di semua mode penerbangan — lepas landas, naik, mengudara, turun, atau mendarat — dan menambahkan sistem penggerak maju dan teknologi pendorong baru. Sebagai tambahan, kini HAV juga sedang mengembangkan sistem propulsi listrik dengan Collins Aerospace dan University of Nottingham, yang memungkinkan kapal udara menyentuh angka 0 karbon persen. Tak sabar bagaimana hasilnya? Berbagai pemutakhiran tersebut diakui memang membutuhkan waktu agak lama. Oleh karenanya, HAV memperkirakan Airlander 10 pertama akan kembali mengudara pada 2024 mendatang.

Beroperasi di 2027, JR Central Batasi Kecepatan SCMaglev ‘Hanya’ 500 Km Per Jam!

Kereta cepat SCMaglev atau Superconducting Magnetic Levitation sudah mulai diuji coba oleh Jepang dan rencananya akan mulai beroperasi penuh pada tahun 2027. JR Central yang akan mengoperasikan kereta Maglev ini berencana akan mulai meluncurkannya di jalur Tokyo- Nagoya, kemudian jalur kedua akan diperpanjang dari Nagoya ke Osaka sepuluh tahun kemudian, yakni di tahun 2037. Baca juga: Di 2027, Jepang Hadirkan Kereta Cepat Maglev Tokyo-Nagoya Dalam tahap uji coba perdana SCMaglev memulai simulasinya di Taman Kereta Api di Nagoya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman hurriyetdailynews.com (25/1/2020), kereta ini memiliki konsep yang mirip dengan pesawat terbang, dimana pertama berjalan kereta akan bergerak dengan roda. Kemudian setelah mencapai kecepatan tertentu, roda kereta akan masuk ke bagian dalam kereta. Tak hanya itu, Maglev hanya memiliki sedikit getaran, dan ketika melaju penumpang bisa saja tak sadar kereta sudah melintas. Apalagi ketika sudah melaju dalam kecepatan tinggi, maka getaran pun akan semakin berkurang. SCMaglev sendiri dalam uji cobanya mampu melaju dengan kecepatan 603 km per jam. Namun nantinya jika mulai beroperasi secara komersial, kecepatan maksimumnya dibatasi 500 km per jam. Alasan pembatasan kecepatan ialah JR Central lebih memprioritaskan keselamatan dibandingkan kecepatan. Pengerjaan penelitian dan pengembangan proyek SCMaglev telah dimulai tahun 2014 lalu. Kereta ini mulai dikembangkan karena Jepang memandangnya sebagai teknologi kereta api di masa depan. Menggunakan propulsi elektromagnetik, kereta ini melaju sekitar sepuluh sentimeter di udara. Di jalur Maglev, gulungan magnet terletak di samping rel. Ini akan mendorong magnet untuk terintegrasi dengan kereta yang tengah melaju di udara. Di Maglev, kecepatan yang meningkat akan memudahkan dalam menghilangkan gaya gesekan. Sistem levitasi magnetik menjaga kereta tetap seimbang dan mencegahnya tergelincir. “Ada batas tertentu yang bisa mereka capai dengan menggunakan roda dan kereta api karena ada hambatan gesekan. Tetapi menurut sistem baru, mereka mengangkat kereta itu sendiri menggunakan kekuatan magnet. Memanfaatkan kekuatan magnet untuk mengangkatnya dan menggunakan kekuatan yang sama untuk menarik kereta ke depan. Dengan cara ini mereka dapat mengurangi daya tahan sehingga mereka dapat membiarkan kereta bergerak dengan sangat cepat,” ujar seorang pejabat Jepang. Baca juga: Gara-gara Jalur 9 Km di Shizuoka, Pembangunan Jalur Maglev Terancam Menggantung Kepala Kantor Kerjasama Internasional, Kebijakan Internasional dan Divisi Proyek Biro Kereta Api Shikama Koji mengatakan, kereta Maglev telah selesai. Saat ini tengah dalam pengadaan untuk pengerjaan konstruksi rel.

Pasar di Bandara NYIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Xpressair pada Maret 2020 rencananya akan mulai memindahkan lokasi penerbangannya dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta ke Bandara Adi Soemarmo, Solo. Namun apa alasannya tidak memindahkan ke New Yogyakarta International Airport (NYIA)? Baca juga: Pembangunan Capai 90 Persen, Maret 2020 Seluruh Penerbangan di Bandara Adisutjipto Pindah ke YIA Ternyata Manager Bandara Adi Soemarmo Abdullah Usman mengatakan bahwa, maskapai ini belum memiliki alat Performance Based Navigation (PNB). Di mana navigasinya harus menggunakan satelit. “Maskapai ini belum memiliki alat PBN (Performance Based Navigation). Jadi navigasinya harus pakai satelit, karena nggak punya terus geser ke sini,” kata Abdullah. Namun tak hanya masalah navigasi Sales and Corporate Manager Xpress Air, Irfan mengatakan masalah market juga menjadi salah satu penyebabnya. “Kami lebih memilih ke Solo atau Semarang karena melihat marketnya. Kalau di Bandara baru Kulon Progo permasalahannya hampir mirip dengan Kertajati yang belum banyak integrasi transportasi lain,” kata Irfan yang dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (27/1/2020). Dia menambahkan Bandara Adi Soemarmo sudah memiliki kereta bandara. Hal ini memudahkan penumpang menuju ke Stasiun Balapan Solo dari bandara atau sebaliknya. Bisa dikatakan, moda transportasi integrasi ini menjadi satu nilai yang dipilih Xpressair berpindah ke Bandara Adi Soemarmo. Ketika ditanya apakah memiliki hub di Kertajati selain Makassar? Irfan mengatakan, hub utama mereka hanya ada di Makassar dan dia mengaku, maskapai Xpressair tidak menerbangkan pesawat mereka dari Kertajati. Sebagai informasi, situs wikipedia.org menginformasikan Xpressair memiliki hub di Kertajati.  “Kami justru tidak punya hub utama di Kertajati. Bahkan Xpressair tidak punya rute terbang sama sekali dari sana,” tambahnya. Baca juga: Gratis Hingga Februari 2020, KA Bandara Adi Soemarmo Mulai Beroperasi Nantinya setelah berpindah ke Adi Soemarmo, rute yang akan dilayani maskapai berbasis di Makassar ini yaitu Palembang, Samarinda, Pontianak dan Lampung. Diketahui, maskapai tersebut selama melayani rute Yogyakarta ke Kalimantan memiliki okupansi (keterisian penumpang) dalam penerbangannya cukup bagus dengan rata-rata mencapai 80 persen dari kapasitas satu pesawat 150 orang.

Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana

Setelah Jumat lalu sempat tertunda akibat cuaca tak bersahabat, pesawat terbaru Boeing akhirnya sukses melakukan uji coba penerbangan perdananya, Sabtu lalu, setelah mengudara selama empat jam dari Boeing Everett Factory dan mendarat di Paine Field, Seatlle. Model teranyar dari keluarga 777 tersebut diklaim Boeing sebagai pesawat komersial pertama dengan ujung sayap lipat. Baca juga: ‘Move on’ dari Kasus 737 MAX, Boeing Siap Uji Terbang Perdana Seri 777X “Ini tonggak utama untuk program pesawat 777X memulai langkah ke tahap berikutnya yakni pengujian pamungkas untuk mendapatkan sertifikasi dan kemudian pengiriman ke pelanggan pada 2021,” kata Boeing dalam tweet-nya setelah uji coba, seperti dikutip dari cnet.com, Senin, (27/1). Seperti Boeing 787 Dreamliner, Boeing 777X terbuat dari bahan komposit dan memiliki jendela yang lebih besar serta desain kabin yang telah disempurnakan. Selain unik dengan ujung sayap lipatnya, pesawat tersebut juga mampu mengangkut lebih banyak orang dan terbang lebih jauh dari model 777 lainnya, yang mengukuhkannya menjadi pesawat bermesin ganda paling efisien di dunia.
Diantara sederet hal baru pada 777X, fitur ujung sayap yang dapat bergerak melipat (folding wingtip) dinilai sebagai fitur paling menonjol. Dengan fitur tersebut, pesawat dimungkinkan untuk menjadi lebih ramping untuk parkir di apron bandara, dari semula 235 kaki menjadi hanya di bawah 213 kaki. Boeing beralasan, bahwa fitur tersebut belajar dari insiden Airbus A380 yang memaksa bandara melakukan modifikasi mahal ketika pesawat dua tingkat dengan bentang sayap sejauh 261 kaki tersebut memulai debutnya pada 2007 silam. Nantinya, pesawat yang dirancang untuk bersaing dengan Airbus A350 tersebut, akan memiliki dua model. Model pertama yakni 777X-8 akan memuat sekitar 384 penumpang dan memiliki jangkauan 16.093 kilometer, dan 777X-9 akan memuat sekitar 426 penumpang, dengan daya jelajah sekitar 13.491 km. Sebelumnya, pesawat ini digadang untuk pertama kali akan melakukan uji terbang perdana pada pertengahan tahun 2019, berbarengan dengan event Paris AirShow 2019 (17-23 Juni 2019). Namun, masalah dalam pengembangan mesin GE9X, yang notabene akan menjadi mesin jet komersial terbesar di dunia, membuat jadwal molor dari yang sudah ditetapkan. Pada akhirnya, masalah tersebut bisa terselesaikan dengan baik menjelang pergantian tahun, yang ditandai dengan pemasangan proses instalasi kelistrikan pada pesawat. Pada bulan September 2019, masalah lainnya juga sempat terjadi. Kala itu, pintu kargo saat pesawat menjalani uji statik Boeing 777X “meledak” selama uji tegangan darat. Badan pesawat mengalami kerusakan tekanan tinggi tepat saat mendekati tes terberat yang harus dilewati untuk mendapatkan sertifikasi mesin jet. Atas insiden tersebut, dua bulan yang lalu, perusahaan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rencana penggunaan robot otomatis dalam proses perakitan pesawa dan menyerahkan proses perakitan kepada manusia seluruhnya, guna menghindari kesalahan-kesalahan sebelumnya. Walaupun masih jauh dari sempurna, Boeing mengatakan sejauh ini sudah ada pesanan dari delapan maskapai, di antaranya British Airways, Cathay Pacific, Emirates, Lufthansa, dan Singapore Airlines. Jika segalanya berjalan dengan lancar, 777X diperkirakan akan siap mengudara secara masif pada tahun 2021. Baca juga: Boeing ‘Buang’ Teknologi Robotika di Jalur Produksi Varian 777 dan 777X Tetapi sebelum hal tersebut benar-benar terwujud, Boeing terlebih dahulu harus melewati berbagai tes untuk mendapatkan sertifikasi dari otoritas penerbangan di seluruh dunia, tak terkecuali di Amerika (FAA). Pasalnya, fitur folding wingtip pada pesawat diakui Boeing masih sangat mungkin menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Bila folding wingtip melipat karena pilot atau awak kabin lupa untuk saling mengingatkan satu sama lain, itu bisa berdampak buruk saat dalam penerbangan. Kerentanan tersebut pun membuat Federal Aviation Administration (FAA) atau regulator penerbangan sipil di Amerika menetapkan 10 syarat untuk membuat sayap berada pada posisi yang seharusnya. 10 syarat atau mekanisme tersebut diharapkan dapat memperkecil peluang sayap tetap berada pada posisi ‘terlipat’ sebelum tinggal landas.

Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

Virus corona, yang diduga menyebar dari sebuah pasar seafood ilegal di Wuhan, Cina, dilaporkan telah menewaskan puluhan orang, menjangkiti ribuan orang, dan telah menyebar hingga ke 13 negara. Tak heran, bila masyarakat dunia menaruh kekhwatiran besar terhadap virus ini jenis baru ini. Khususnya terhadap orang-orang dari Wuhan ataupun orang-orang yang habis bepergian dari Wuhan. Seperti yang dialami beberapa penumpang maskapai Scoot. Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya Baru-baru ini, seorang penumpang yang tak ingin disebutkan namanya, mengaku frustasi terhadap maskapai low cost carrier (LCC) asal Singapura tersebut. Hal itu lantaran pihak maskapai tidak memberitahu dirinya terbang bersama dengan 110 orang Wuhan yang hendak kembali ke negeri asalnya. Tak hanya dirinya, seorang penumpang lain asal Perancis bahkan mengaku menyesal bila harus terbang berjam-jam bersama mereka. Andaikan ia tahu dirinya terbang bersama orang-orang Wuhan, ia pasti akan mengurungkan niatnya. Menurutnya, hal tersebut cukup berisiko mengingat mereka masih dimungkinkan terinfeksi virus Corona. “Saya sebelumnya telah berdiskusi dengan istri saya jika saya bahkan harus pergi ke Ciina untuk menemaninya, tetapi kami melihat jumlah kasus dan Hangzhou tampaknya tidak berisiko, jadi saya memutuskan untuk mengambil penerbangan,” kata pria 52 tahun, yang tidak ingin disebutkan namanya. “Tetapi ini adalah tingkat risiko yang berbeda ketika Anda terjebak di pesawat terbang dengan lebih dari 100 orang yang mungkin telah terinfeksi. Jika saya tahu, saya tidak akan pergi dalam penerbangan,” lanjutnya, sebagaimana dikutip dari laman straitstimes.com, Senin, (24/1). Kekhawatiran pria Perancis tersebut tentu sangat berdasar, mengingat, sebelum seseorang dipastikan terkena virus Corona, mereka terlebih dahulu melalui masa inkubasi. Selama masa inkubasi tersebut, suspect virus corona tampak terlihat baik-baik saja, bahkan bisa lolos dari pengecekan pengukur suhu badan. Sebelumnya, Jumat lalu, maskapai penerbangan yang masih satu grup dengan Singapore Airlines, Scoot, dengan nomor penerbangan TR188 berhasil mendarat mulus di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Cina, pukul 21.41 waktu setempat. Sesampainya di Bandara Hangzhou, seluruh penumpang yang berjumlah 314 orang langsung digiring untuk diisolasi selama 13 jam. Bahkan, satu penumpang pria kemudian diambil untuk tes darah untuk pemeriksaan lebih lanjut. Baca juga: Coronavirus Menyebar! Air China Cek Langsung Kesehatan Penumpang di Dalam Kabin Dari 314 penumpang pada penerbangan tersebut, sekitar 110 adalah penumpang dari Wuhan. Awalnya, mereka memang berencana untuk terbang ke Wuhan. Tetapi, pasca akses keluar masuk Wuhan ditutup otoritas Cina, mereka memililh untuk terbang ke Hangzhou. Hangzhou yang berjarak 740 kilometer memang sejauh ini dilaporkan aman, sekalipun kota tersebut terletak tak jauh dari Shanghai, yang sudah masuk ke dalam daftar wilayah sebaran virus Corona. Itulah sebabnya, mayoritas penumpang pada penerbangan tersebut memilih masuk ke Cina via Hangzhou dibanding tempat-tempat lainnya.