Dengan Mesin Eco-Friendly, Batik Air Datangkan Airbus A320NEO Pertama

Batik Air mengumumkan rencananya untuk mendatangkan pesawat Airbus A320-200NEO pertama dalam waktu dekat. Saat ini, pesawat berbadan sempit (narrow body) tersebut sudah selesai proses uji terbang di Toulouse, Perancis, pada Rabu kemarin, waktu setempat. Meskipun berbadan sempit, pesawat tersebut dinilai tangguh untuk mengarungi rute pendek hingga menengah berkat sokongan mesin yang eco-friendly. Baca juga: Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia Keputusan maskapai, yang masih satu grup dengan Lion Air tersebut, mendatangkan Airbus A320 NEO tentu didasari banyak pertimbangan. Selain karena pesawat sudah didukung oleh teknologi fly-by-wire yang memungkinkan pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sistem elektronik, Airbus A320NEO juga dinilai mampu memberikan pengalaman terbang baru. “Kami telah mempertimbangkan berbagai faktor, bahwa pesawat tersebut akan memberikan pengalaman baru lebih kepada setiap tamu yang melakukan perjalanan,” kata Chief Executive Officer (CEO) Batik Air, Capt. Achmad Luthfie, kemarin. Selain itu, terpilihnya Airbus 320-200NEO oleh Batik Air juga didasari oleh kebutuhan jangka panjang maskapai. Nantinya, pesawat penumpang jet komersial yang diklaim paling cepat terjual ini akan dipergunakan untuk pengembangan bisnis Batik Air itu sendiri, meliputi pemenuhan berbagai rute yang sudah ada (eksisting), rencana penambahan frekuensi terbang, serta pembukaan rute baru domestik dan internasional. Guna mendukung pengembangan bisnis tersebut, Batik Air juga akan menyulap Airbus A320-200NEO dengan konfigurasi kursi lorong tunggal (single aisle) berkapasitas 12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi tersebut dengan berbagai fitur menarik (inflight entertainment). Seperti berupa audio video visual di setiap kursi, pengaturan suara (audio control), kabin paling senyap di kelasnya, menambah fitur utama kursi lebih ergonomis, dan sandaran kursi pada kaki (foot rest). Tak hanya itu, bagi pengunjung yang kerap membawa banyak barang bawaan (hand luggage), Batik Air juga akan memanjakan anda dengan kompartemen penyimpanan barang bawaan (overhead bin) yang lebih besar. Kompartemen atau penyimpanan yang terletak di atas kursi penumpang ini menyediakan 10% volume ekstra, menampung lebih banyak jumlah tas hingga 60 persen, serta desain baru kompartemen bagasi kabin yang memungkinkan lebih mudah mengatur dan menyimpan banyak barang bawaan di kabin. Saat ini, setelah lulus tes uji terbang, pesawat harus kembali ke pabrik untuk dilakukan berbagai pekerjaan lainnya. Bila tidak ada halangan yang berarti, rencananya, sejumlah armada baru Batik Air tersebut akan datang dalam waktu dekat. Baca juga: Terima A330-300CEO eks Thai Lion, Batik Air Resmi Masuki Pasar Widebody Full Service “Kami bangga akan menyambut kedatangan Airbus 320-200NEO dan memperkenalkan pesawat terbaru,” pungkas CEO sudah sejak 2012 lalu bergabung dengan Batik Air, Capt. Achmad Luthfie. Pesawat A320-200 NEO juga menawarkan kompartemen penyimpanan barang bawaan (overhead bin) yang paling besar di kabinnya. Kompartemen yang terletak di atas kursi penumpang ini menyediakan 10 persen volume ekstra, menampung lebih banyak jumlah tas hingga 60%., serta desain baru kompartemen bagasi kabin yang memungkinkan lebih mudah mengatur dan menyimpan banyak barang bawaan di kabin.

Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan

Dari kabin yang sangat terhubung dan dipersonalisasi di masa depan hingga memutar kursi pesawat yang membuat kelas ekonomi jadi lebih fleksibel, semua hal tersebut nantinya dari dalam pagelaran Crystal Cabin Awards. Acara yang dihelat pada Maret mendatang di Hamburg, Jerman tersebut diyakini akan dipenuhi dengan inovasi pesawat yang tak terduga, namun sebetulnya dibutuhkan penumpang. Baca juga: Manjakan Mata Penumpang, LG Display Luncurkan Teknologi OLED di Kabin Pesawat Tentu saja, soal kebutuhan selama penerbangan di udara, sangat relatif, bergantung pada situasi dan kondisi pribadi. Beberapa mungkin suka dengan hal-hal yang menjadi tren rancangan kabin di masa mendatang, begitupun sebaliknya. Akan tetapi, para perancang di balik ide-ide inovatif ini (pada gelaran Crystal Cabin Awards) berkeyakinan, terlepas dari berbagai situasi dan kondisi para penumpang dalam mensikapi rancangan, mereka dapat mengubah pengalaman interior pesawat menjadi lebih baik. Sebab, memang itulah tujuan dari digelarnya salah satu penghargaan paling bergengsi di industri penerbangan. Saat ini, prosesnya sudah memasuki tahap penyeleksian. Lebih dari 100 desainer terbaik telah memasuki fase nominasi, dengan kategori yang diperebutkan yakni “Hiburan dan Konektivitas dalam Penerbangan” dan “Konsep-konsep Visioner”. Setelah nominasi ditetapkan, nantinya para nominator akan mempresentasikan desainnya tersebut. Pada akhirnya, dua pemenang untuk masing-masing kategori pun akan diumumkan pada acara Aircraft Interiors Expo di Hamburg, Jerman Maret 2020 mendatang. Upaya untuk mengubah pengalaman terbang di kelas ekonomi memang tengah ‘memanas’ belakangan ini. Yang paling menyita perhatian adalah, bagaimana kelas ekonomi bisa menghadirkan layanan tidur di kabin pesawat dengan nyaman dalam penerbangan jarak jauh, seperti London Sydney dan berbagai penerbangan jarak jauh lainnya. Beberapa desain yang sudah masuk dalam nominasi mungkin bisa menjawab tantangan tersebut. Misalnya, perusahaan teknik Heinkel Group. Mereka menawarkan konsep yang disebut “Flex Lounge”, yang memungkinkan konfigurasi fleksibel untuk baris kursi di kabin ekonomi. Pasca take-off, pramugari dapat mengatur ulang baris sehingga penumpang yang bepergian bersama dapat saling berhadapan, memungkinkan pengalaman yang lebih intim dan santai bagi keluarga, teman atau rekan kerja. Lain lagi dengan Adient Aerospace yang menawarkan “Space For All”. Konsep tersebut, memungkinkan tiga kursi di bagian depan pesawat, dengan tambahan kursi lipat yang menempel di dinding, berubah menjadi tempat tidur datar bergaya sofa yang nyaman, khususnya untuk keluarga. Konsep-konsep lainnya pun tak kalah menarik. Bahkan, beberapa konsep kursi pesawat yang dinominasikan memang dirancang untuk pesawat yang masih dalam tahap pengembangan. Pesawat Flying-V, misalnya, adalah pesawat hemat bahan bakar yang saat ini sedang dikembangkan di Delft University of Technology di Belanda, bekerjasama dengan KLM. Dalam kaitannya dengan Crystal Cabin Awards, Delft telah mengajukan desain untuk kursi fleksibel yang dapat dilipat serta berubah menjadi tempat tidur datar dalam desain gaya bunk-bed, agar efisiensi ruang mencapai maksimum. Sementara itu, Ciara Crawford, menawarkan konsep brilian untuk kursi ROW 1. Mereka membayangkan kursi pesawat dan kursi roda dapat bersatu. Hal memungkinkan pengalaman pesawat yang lebih mudah diakses, khususnya bagi para penyandang disabilitas. Jadi, mereka (penyandang disabilitas) hanya perlu masuk ke dalam pesawat dengan kursi rodanya dan ‘duduk’ bersama kursi rodanya di barisan awal. Konsep kabin generasi berikutnya datang dari Airbus yang menawarkan “Airspace Cabin Vision 2030”. Dengan konfigurasi tempat tidur dan tempat duduk yang lebih fleksibel, serta suasana kabin yang penuh dengan digitalisasi atau Airspace Connected Experience, mereka juga masuk dalam daftar nominasi. Konsep tersebut termasuk dengan konsep kursi pesawat dengan preferensi berbaring opsional yang dapat diprogram dengan mudah serta kabin overhead yang menyala hijau atau merah, bergantung pada load factor. Airbus menganggap konsep ini adalah konsep diinginkan penumpang dari pengalaman terbang merekabersama Ingo Wuggetzer, Vice President Cabin Marketing Airbus, pada 201 lalu. Kuncinya, menurut mereka, apapun yang penumpang alami di darat, pasti akan dialami juga selama di udara. Menariknya, dalam ajang Crsytal Cabin Awards tahun ini, para perancang tidak hanya memperhatikan kebutuhan penumpang, melainkan juga kebutuhan awak kabin. Salah satunya datang dari Collins Aerospace telah mengusulkan Zero G Attendant Seat. Konsep tersebut menawarkan kursi dengan kenyamanan tinggi bagi awak kabin. Kursi awalnya berada dalam posisi pada umumnya saat lepas landas dan mendarat, tetapi di luar itu, juga dapat dipindahkan ke posisi yang lebih nyaman dan bersandar untuk pramugari yang tidak bertugas, yang siap untuk bersantai dengan penerbangan jarak jauh. Baca juga: Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800! Selain desain cabin untuk penumpang dan awak kabin, para perancang juga memperhatikan hal-hal lainnya, seperti baki makanan dan air bersih di pesawat. Zero, misalnya, konsep tersebut menawarkan ‘baki’ makanan yang bisa dimakan, bahkan bisa didaur ulang. Hal lainnya, Diehl Aviation, misalnya, mereka mengusulkan konsep Greywater Reuse Unit yang menggunakan air dari cuci tangan di wastafel untuk menyiram toilet. Perusahaan tersebut mengklaim, konsep tersebut dapat menghemat 550 ton CO2 per tahun untuk satu pesawat Boeing 787.

Ada Pilot dan Helikopter Terbaik Dibalik Kecelakaan Kobe Bryant, Lantas Apa Sebabnya?

Pada Minggu pagi sekitar pukul 9:45 pagi waktu setempat, helikopter Sikorsky S-76B dilaporkan hilang di lereng bukit dekat Kota Calabasas, California, sekitar 30 mil barat laut Los Angeles. Jika menilisik dari kapasitas, sebetulnya maksimum hanya delapan orang, dua awak kabin dan enam lainnya penumpang. Faktanya, pesawat nahas tersebut jatuh saat membawa sembilan orang termasuk Bryant dan putrinya, Gianna Maria Onore, yang berusia 13 tahun. Mungkinkah disebabkan oleh kelebihan muatan? Baca juga: Pernah Kecelakaan di Indonesia Juga, Berikut Spesifikasi Helikopter Kobe Bryant Sikorsky S-76B Hingga kini, pejabat Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat sendiri terus berkutat di lokasi untuk menyelidiki misteri di balik insiden tersebut. Sebagaimana kecelakaan pada umumnya, sambil menunggu proses investigasi usai, berbagai analisa dari pakar penerbangan global pun terus berdatangan. Tak terkecuali dari Les Abend, pilot senior Boeing 777 yang juga seorang analis penerbangan, sebagaimana dikutip dari CNN Internasional, Rabu, (29/1). Menurutnya, dilihat dari segi akomodasi, helikopter khusus yang diproduksi pada tahun 1991 tersebut (Sikorsky S-76B) sebetulnya sangat baik dan dikelola oleh perusahaan charter pesawat yang juga baik. Bahkan, Island Express Helicopters, selaku perusahaan yang menyewakan helikopter tersebut menyatakan bahwa pilot Ara Zobayan, kapten pilot yang juga jadi korban, adalah pilot terbaik. Bersama Islan Express Helicopters, Ara telah berkarir lebih dari 10 tahun dan memiliki lebih dari 8.000 jam penerbangan. Dari fakta di atas -pilot terbaik dan helikopter canggih versi komersial dari Black Hawk- analis yang juga kontributor senior majalah Flying ini menilai kecil kemungkinan terjadi kecelakaan. Belum lagi dari sisi dapur pacu. Lewat dua mesin poros turbo Pratt dan Whitney, helikopter memiliki daya cukup besar, untuk menggerakan rotor utama dan rotor ekor. Dengan kata lain, dua mesin jet kecil beroperasi bersamaan untuk memasok daya ke gearbox yang menjadikannya memililki sistem yang sangat andal. Rasanya sulit diterima adanya kecelakaan tersebut. Sikorsky sendiri mulanya berangkat dari John Wayne, Bandara Orange County ke utara menuju Bandara Van Nuys. Laporan dari BMKG AS menunjukkan bahwa cuaca saat helikopter mengudara sedang mendung, dengan awan yang berarak di ketinggian 304 meter serta jarak pandang 6,4 kilometer. Meskipun kondisinya dianggap horor, tetapi legal untuk dilewati Sikorsky S-76B dengan spesifikasinya yang lengkap, sesuai dengan aturan jarak pandang (Visual Flight Rules Clearance) yang ditetapkan oleh Administrasi Penerbangan Federal. Selain itu, dari segi armada, helikopter juga memiliki persyaratan yang lebih rendah (dibanding pesawat lainnya) karena kemampuan manuvernya yang lebih besar.
Kobe Bryant pose bersama Sikorsky S-76B dengan kode penerbangan N72EX yang merenggut nyawanya. Foto: Twitter
Akan tetapi, sebetulnya, sekalipun spesifikasi helikopter cukup aman untuk melintas dalam cuaca seperti itu, terlebih juga sudah mendapat izin terbang dari bandara tempat helikopter berangkat, terbang dalam kondisi cuaca tersebut tergolong tak lazim. Bahkan helikopter milik kepolisian Los Angeles pun tidak berani terbang dalam kondisi tersebut karena pilot dan petugas harus memiliki jarak pandang yang cukup ketika melakukan patroli. Menurut Les Abend, kemungkinan besar hal itu terjadi karena perbedaan regulasi. Kepolisian sangat mungkin memiliki aturan yang lebih ketat dibanding dengan operator helikopter charteran. Bila melihat dari puing-puing, muncul dugaan bahwa ketika penerbangan mendekati Bandara Van Nuys, visibilitas atau jarak pandang cenderung menurun. Menurut data komunikasi terakhir, Sikorsky S-76B sempat tertahan di udara selama 12 menit sambil menunggu menara kontrol memberi arahan agar helikopter kembali masuk ke jalur aman. Setelah mendapat arahan, helikopter pun kembali mengudara pada jalur 101. Komunikasi pilot dengan menara kontrol pun terdengar sangat profesional dan tak terindikasi adanya masalah. Setelah lebih dari empat dekade pengalaman mendengarkan komunikasi di udara, pendapat saya adalah bahwa respons dan nada suara pilot mencerminkan keakrabannya dengan rutinitas. Artinya, tidak ada hal lain yang membuat pilot bingung menghadapinya. Namun, bila mendengar semua percakapan pilot dengan lebih teliti, penerbangan memang diduga mendapat perubahan medan yang cukup signifikan, ditambah jarak pandangan yang cukup berkurang. Jarak pandang atau prediksi terkait ketinggian pesawat dalam penerbangan seringkali tak sesuai dengan yang dilaporkan menara kontrol di daratan akibat ketebalan awan yang meningkat seiring ketinggian yang juga meningkat. Dengan kata lain, pilot lebih sulit melihat dan mengambil keputusan saat dihadapkan dengan kondisi nyata di depan mata, dibanding laporan dari menara kontrol yang notabene berada di daratan. Namun, jika pilot pada dasarnya tetap mengikuti rute semula ke tempat tujuan, Les Abend menilai seharusnya tak akan terjadi masalah besar karena umumnya rute awal dapat menembus atau melewati bukit dan rintangan lainnya, sehingga jalurnya jelas. Tetapi, ia mengakui, pilot manapun, sekalipun menerbangkan helikopter di rute yang sudah dikuasainya, tetap akan dibuat kerepotan dengan kondisi jarak pandang yang terbatas. Ia kemudian menekankan, dalam kondisi tersebut, jika seseorang mengendarai mobil, mereka mungkin bisa berhenti atau bisa melalui kondisi jalan berkabut dengan lebih baik. Berbeda dengan pilot, ketika menyimpang dari jalur awal dengan kondisi jarak pandang terbatas, mereka hampir tidak punya waktu lebih untuk menghindari medan dan berakhir dengan menabak lereng bukit. Data pelacakan dalam 15 detik terakhir penerbangan menunjukkan bahwa helikopter itu berada dalam penurunan cepat, disertai dengan peningkatan kecepatan yang cukup cepat. Peningkatan kecepatan tersebut mirip sepeda saat menuruni bukit. Ada kemungkinan bahwa data menunjukkan pilot sengaja mengurangi daya angkat untuk menjauhi medan pada detik terakhir. Penyelidik akan melihat segala sesuatu termasuk apakah ada gangguan teknis yang mengganggu pilot, atau menyebabkan helikopter menyimpang dari jalur penerbangan yang aman. Terlepas dari itu, bukti lapangan puing-puing yang relatif besar dengan potongan-potongan kecil pesawat yang tersebar di lokasi kecelakaan, hal itu menunjukkan helikopter menabrak tanah dengan kecepatan tinggi. Sekalipun helikopter mengalami kegagalan mesin, pilot melakukan upaya manuver yang cukup baik atau biasa disebut “autorotation,” di mana bilah rotor berputar hanya menggunakan gaya aerodinamis, memungkinkan pesawat terbang untuk mendarat dengan kecepatan vertikal yang dapat bertahan. Jadi, bidang puing merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang sangat salah. Baca juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara Guna mengungkap semuanya, NTSB atau Dewan Keselamatan Transportasi Nasional nantinya akan melakukan penyelidikan menyeluruh dengan terfokus pada hal-hal seperti, catatan pemeliharaan helikopter, data cuaca, kontrol lalu lintas udara, berat beban, dan keseimbangan pesawat, pengalaman pilot, waktu tugas pilot, hingga toksikologi pilot. Seperti semua kecelakaan penerbangan lainnya, kecelakaan ini adalah tragedi yang mengerikan. Proses investigasi mungkin memerlukan waktu hingga satu tahun untuk menemukan kemungkinan penyebabnya, yang mungkin disebabkan banyak faktor.

20 Unit GrabCar Elektrik Mulai Beroperasi di Bandara Soekarno-Hatta

Sebanyak 20 unit mobil Hyundai Ioniq Electric dengan kapasitas baterai 38 kwh, yang mampu menempuh perjalanan 380 kilometer resmi diluncurkan Grab sebagai taksi online. Mobil-mobil ini nantinya akan mulai beroperasi di bandara yang dikelola oleh PT Angkasa Pura (AP) II. Baca juga: Mulai Beroperasi Mei 2019, Inilah Tarif Taksi Listrik Blue Bird Pada tahap awal hanya ada 20 unit, yang baru diluncurkan Grab dan harga yang dipatok untuk sekali naik taksi online listrik ini pun lebih mahal dibanding taksi online yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) yakni sebesar 15 persen. Tarif GrabCar Elektrik ini mulai Rp17.000 hingga Rp22.500 untuk per kilometernya. “Kita ada penyesuaian tarif sedikit dibandingkan dengan GrabCar airport, itu sekitar sepuluh sampai 15 persen,” kata Presiden Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber. Untuk saat ini taksi listrik milik Grab tersebut baru bisa dipesan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta meski memiliki tujuan ke seluruh Jabodetabek. Ridzki menambahkan, pemilihan lokasi Bandara Soetta ini karena memiliki pasar potensial yang baik dan banyak peminat. “Pertimbangan kenapa memilih airport ini, karena PT AP II adalah rekan yang sama-sama suka berinovasi, jadi kami mempertimbangkan hal tersebut,” kata dia. Dia menjelaskan, nantinya para mitra pengemudi GrabCar Elektrik adalah pilihan yang sudah menempuh masa pelatihan terlebih dahulu. Sebab mobil berbahan bakar listrik dan BBM memiliki perbedaan cara mengemudikannya. Kehadiran taksi listrik Grab sendiri dikatakan Ridzki juga untuk mendukung pemerintah menciptakan ekosistem kendaraan ramah lingkungan dan menjadi investasi jangka panjang mengurangi polusi udara yang menjadi persoalan ibukota. “Buka aplikasi Grab pada pukul 12 nanti, sudah bisa ditemukan pilihan Grabcar Elektrik di aplikasi Anda. Silahkan dicoba,” kata Ridzki. Baca juga: Blue Bird Gunakan Mobil Listrik Tesla untuk Armada Taksi Terbaru Ridzki mengatakan, pihaknya menargetkan tahun ini mengadakan 500 unit kendaraan listrik daring yang akan beroperasi di Indonesia. Direktur Utama PT PLN Zulkifli Zaini mengatakan, kehadiran taksi listrik ini mereka siap mendukung dengan menambahkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). “Pasti ada penambahan titik charger, tapi nanti kita hitung dulu sesuai kebutuhan mereka berapa,” jelas Zulkifli.

Virus Corona Sebabkan Jalur Ferry Cina-Jepang ‘Terputus’ Setelah 35 Tahun

Kekhawatiran masyarakat terhadap wabah virus corona terjadi dimana-mana. Di dalam negeri Cina sendiri, tak terhitung banyaknya warga yang menolak kedatangan orang-orang dari Wuhan, kota yang diduga menjadi tempat pertama kali virus corona menyebar. Di berbagai belahan dunia lainnya, kejadian sejenis juga banyak terjadi. Baca juga: Penerbangan ke Shanghai Rusuh, Penumpang China Southern Airlines Tolak Terbang Bersama 16 Orang Wuhan Akibatnya, kekhawatiran berlebih tersebut menjadi momok tersendiri bagi perekonomian Cina, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Selain pukulan dari luar dengan adanya travel advice ke Cina dari banyak negara, pukulan telak juga datang dari dalam negeri dengan semakin banyaknya kota-kota yang warganya terinfeksi. Bahkan, keputusan pemerintah Cina untuk mengisolasi juga turut menyumbang anjloknya perekonomian Negeri Tirai Bambu itu. Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, berhentinya layanan transportasi udara, laut, dan darat, kekhwatiran dunia internasional, dan isolasi yang dilakukan, telah menyebabkan perjalanan hingga hari pertama Imlek kemarin anjlok 28,8 persen. Adapun rinciannya, perjalanan udara turun 41,6 persen, kereta turun 41,5 persen, dan darat turun 25 persen. Dalam bidang perdagangan pun juga terkena imbas yang parah. Banyak pengamat yang berpendapat bahwa perekonomian Cina akan mengalami penurunan hingga di angka 6 persen. Hal itu tentu sangat wajar bila melihat dari berbagai reaksi mitra dagang China. Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan Yang terbaru, seperti dikutip dari maritimebulletin.ne, Rabu, (29/1), Jepang memutuskan untuk menghentikan sementara jalur ferry antara Jepang dan China, yang menghubungkan Kobe, Osaka, dan Shanghai sejak 1985. Jalur tersebut ditangguhkan sampai waktu yang tak ditentukan, mengingat virus corona masih terus menghantui masyarakat dunia, tak terkecuali di dalam jalur perdagangan tersebut. Jepang berdalih, bila jalur perdangan terus aktif, maka akan sangat membahayakan seluruh pelaku bisnis, khususnya para petugas di lapangan. Wabah virus corona sendiri, hingga kini sedikitnya telah menewaskan 130 orang di Cina dan membuat hampir 6.000 orang terinfeksi di seluruh dunia. Krisis akibat wabah yang semakin intensif tersebut juga telah memaksa pihak berwenang mengkarantina setidaknya 56 juta orang yang tinggal di Provinsi Hubei, China tengah, termasuk Wuhan, dan membatalkan perayaan Tahun Baru Imlek di seluruh negeri.

Punya Tarif Paling Murah Diantara Kereta Perintis, KA Cut Meutia Dapat Subsidi Rp18,8 Miliar

Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan melakukan penandatanganan kontrak kereta perintis dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Adanya penandatangan tersebut membuat PT KAI akhirnya resmi mengelola lima kereta perintis yang ada di Indonesia. Baca juga: Lagi di Aceh? Jangan Lupa Naik Kereta Diesel ‘Perintis’ Cut Meutia Kelima kereta ini mendapat subsidi sekitar Rp159 miliar. Salah satu kereta perintis yang mendapat alokasi subsidi yakni kereta api Cut Meutia. KA Cut Meutia sendiri merupakan kereta perintis yang ada di Aceh dan mengular dari Stasiun Krueng Mane menuju ke Bungkaih dan berakhir di Krueng Geukueh. KA ini masuk dalam Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara dan Aceh. KA Cut Meutia ini mendapat alokasi dana subsidi sekitar Rp18,8 miliar. Dikatakan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri bahwa KA yang beroperasi di Aceh ini memiliki tarif paling murah diantara yang lain yakni seribu rupiah sekali jalan. “Namanya perintis ya kita masih murah sekali ada yang seribu rupiah itu di Aceh. Penetapan tarifnya sendiri bergam dengan mempertimbangkan ability to pay (ATP) dan willingness to pay (WTP). Tarif ini kita evaluasi terus setiap tahun,” kata Zulfikri. Diketahui, KA Cut MEutia sendri mulai uji coba pada 1 Desember 2013 lalu dan sempat beroperasi pada Juli 2014. Kemudian pada 3 November 2016, KA perintis Aceh tersebut mulai beroperasi kembali dan rangkaiannya diistirahatkan di Depo Bungkaih setelah digunakan. KA ini namanya diambil dari pahlawan wanita asal Aceh yakni Cut Nyak Meutia. Beroperasi dengan jarak 11,3 km dan mampu mengangkut 132 penumpang dengan menempuh waktu 32 menit dari Stasiun Krueng Mane ke Stasiun Krueng Geukueh. KA ini juga hanya dibolehkan melaju dengan kecepatan maksimal 40 km per jam. Rangkaian KA Cut Meutia dilayani dengan kereta diesel Indonesia (KRDI) buatan PT INKA. Baca juga: Terobsesi Jakarta, Banda Aceh Rencanakan Bangun MRT Menurut Gapeka tahun 2017, KA Cut Meutia berangkat dari Stasiun Krueng Geukueh sebanyak empat kali yakni pukul 08.27 WIB, 10.05 WIB, 15.24 WIb dan 17.05 WIB. Sedangkan yang berangkat daru Kureng Mane hanya tiga kali yakni pukul 09.15 WIB, 16.15 WIB dan 17.55 WIB.

Penerbangan ke Shanghai Rusuh, Penumpang China Southern Airlines Tolak Terbang Bersama 16 Orang Wuhan

Setelah beberapa hari lalu penumpang Scoot frustasi akibat tak diberitahu pihak maskapai bahwa mereka terbang bersama 110 orang Wuhan, belum lama ini hal tersebut kembali terjadi. Bedanya, kali ini, seorang penumpang berhasil memergoki penumpang lain dari Wuhan minum obat anti demam. Ujungnya, mereka pun menolak terbang dan menuntut maskapai mengeluarkan orang-orang Wuhan dari penerbangan. Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan Seperti dikutip dari laman dailymail.co.uk, Rabu, (29/1), drama penolakan tersebut dilaporkan terjadi di Jepang, pada hari Selasa kemarin, ketika sekitar 70 penumpang dan 16 orang Wuhan tengah bersiap untuk melakukan penerbangan CZ380 Nagoya (Bandara Internasional Chubu Centrair) – Shanghai (Shanghai Pudong International Airport). Saat itu, seorang wanita parauh baya asal Shanghai awalnya hanya duduk di ruang tunggu sambil melihat-lihat beberapa orang di seberangnya berbicara satu sama lain dalam dialek Wuhan. Tak lama berselang, salah satu dari mereka tertangkap basah meminum obat anti demam, di tengah rekan-rekannya yang sedang berbincang dalam dialek Wuhan tersebut. Melihat hal itu, perempuan paruh baya tersebut langsung memberi tahu ke rekan-rekannya sesama dari Shanghai atas apa yang ia lihat. Mereka pun kemudian ramai-ramai mengadu ke pihak maskapai tentang keberadaan orang-orang Wuhan di dalam penerbangan tersebut. Khususnya terhadap orang yang diduga demam tadi. Akibat insiden yang terjadi 30 menit sebelum penerbangan tersebut, pihak maskapai pun kalang kabut untuk melerai kedua belah pihak. Jadwal penerbangan pun molor hingga lima jam. Padahal, penerbangan China Southern Airlines Nagoya (NGO) – Shanghai (PVG) sejatinya hanya membutuhkan waktu selama dua jam. Pada akhirnya, orang-orang Wuhan tetap diizinkan berangkat, setelah perwakilan dari Konsulat Jenderal Cina di Nagoya turun tangan. Selain itu, otoritas bandara juga mengutus petugas medis untuk mengukur suhu tubuh setiap penumpang yang salah satunya ditemukan diduga mengalami sedikit demam. Penumpang tersebut pun akhirnya dikeluarkan dari penerbangan. Salah satu dari orang-orang Wuhan yang berada di penerbangan tersebut tak kuasa menahan amarah dan kemudian membagikan kisah mereka di media sosial Twitter versi Cina, Weibo, dengan unggahan berikut. “Kami tidak bisa kembali ke rumah. Tetapi setengah jam sebelum waktu keberangkatan, kelompok orang Shanghai ini mengeluh ke bandara dan menolak untuk melakukan penerbangan yang sama dengan kami. Apakah mereka benar-benar teman sebangsa kita? Kami juga korban. Ketika kami pergi, pemerintah tidak menutup kota. Kami di sini bukan untuk menghindari bencana, kami menikmati liburan seperti biasa. Siapa yang akan memikirkan situasi ini?” Namun, bukan simpati yang didapat justru cibiran. Di antara netizen ada yang mengatakan bahwa penumpang asal Shanghai berada dalam posisi yang benar untuk memprotes maskapai atas keberadaan mereka (orang-orang Wuhan). Yang lainnya malah meminta orang-orang Wuhan tersebut untuk secara sukarela mengasingkan diri (mengkarantina). Baca juga: Cegah Coronavirus, Angkasa Pura I Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Penumpang Asal Cina Wabah virus corona sendiri hingga kini sedikitnya telah menewaskan 130 orang di Cina dan membuat hampir 6.000 orang terinfeksi di seluruh dunia. Krisis akibat wabah yang semakin intensif tersebut juga telah memaksa pihak berwenang mengkarantina setidaknya 56 juta orang yang tinggal di Provinsi Hubei, Cina tengah, termasuk Wuhan, dan membatalkan perayaan Tahun Baru Imlek di seluruh negeri. Menanggapi insiden di Nagoya itu, otoritas Cina sebetulnya sudah mengingatkan seluruh warganya agar tidak membeda-bedakan orang-orang dari Provinsi Hubei, khususnya terkait wabah virus corona.

TrollyBus Dipilih untuk Transportasi Koneksi Bandara Bali Utara dan Selatan

Untuk menemani Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang mulai overload, Bali juga akan membangun bandara baru di bagian utaranya. Namun sebelum pembangunan tersebut terlaksana Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, harus ada angkutan massal yang terkoneksi diantara kedua wilayah tersebut. Baca juga: Setelah 2 Tahun Berlalu, Bagaimana Nasib Pembangunan Bandara Bali Utara? Dia mengatakan, dari selatan ke utara banyak alternatif yang sudah dipikirkan pemerintah yakni jalan tol, bypass, rel kereta api hingga LRT. Tapi, Budi Karya mengatakan, jika menggunakan LRT akan mengeluarkan biaya yang mahal dan untuk kereta api akan sulit menanjak. “LRT itu mahal, kereta sulit menanjak. Kalau jalan tol atau bypass akan merusak tata ruang sekitar. Kita pilih kendaraan semacam trollybus dengan dedicated jalur di mana dia hanya hanya butuh 10-15 meter dan biaya lebih murah,” kata Budi Karya yang ditemui usai konfrensi pers di Kementerian Perhubungan, Selasa (28/1/2020). Budi Karya mengatakan, trollybus tersebut menjadi pilihan karena biaya yang relatif murah. Menurutnya, bus bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan kereta api seperti crossing dari selatan naik ke atas dan kemudian turun lagi ke bawah. “Satu inisiatif dari kita, kita minta dirjen perkeretaapian melakukan ini. Pemilihan trollybus juga belum final tapi dalam finalisasi,” kata Budi Karya. Dia menambahkan, selain murah, pemilihan trollybus juga ramah lingkungan karena tidak mengganggu tata ruang yang ada saat ini di Bali. Budi mengatakan proyek ini akan mulai dilaksanakn tahun 2021 mendatang. “PT KAI cari partner dan tahun 2021 kita sudah mulai tender. Dalam 3-4 bulan ini selesai penentuan lokasi (penlok) untuk Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) tersebut,” jelasnya. Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri menambahkan, karena efisiensi trollybus tersebut, maka tidak perlu bangunan konstruksi. Sebab bisa menggunakan jalanan biasa sebagai tracknya. “Dia tidak bangun konstruksi dan ini sangat hemat bahkan jauh lebih hemat daripada bangun LRT. Nanti kita ada virtual track di jalan untuk trollybus tersebut dan kita kaji. Karena pakai listrik ini lebih hemat energi dan modelnya kita mengacu ke Eropa,” kata Zulfikri kepada KabarPenumpang.com. Baca juga: Tengah Dikaji Pemerintah, Apakah O-Bahn Bakal Mengular di Indonesia? Untuk diketahui, kabar pembangunan BIBU sendiri gaungnya sudah dari 2017 lalu. Bahkan usulan rencanya adalah akan mengakomodasi semua maskapai berbiaya hemat (LCC).

Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona

Bandara Internasional Tianhe Wuhan di Cina, akhirnya resmi ditutup setelah pemerintah memutuskan mengisolasi ibu kota provinsi Hubei tersebut. Hal ini terjadi setelah wabah virus corona yang terus menyebar dan menjangkiti ribuan serta menewaskan puluhan orang. Meski telah ditutup, namun bandara ini masih digunakan sebagai ujung tombak operasi evakuasi dan logistik dalam penanganan wabah corona Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan Terlepas dari wabah virus corona, sebetulnya, Bandara Tianhe Wuhan mempunyai kandungan artistik yang tinggi, loh. Bandara yang melayani hampir 25 juta penumpang pada 2018 ini, dari segi nama, terinspirasi oleh salah satu galaksi yang di dalamnya terdapat planet bumi. Seperti dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, pengambilan nama Wuhan memang berasal dari nama bandara tersebut berada. Adapun, nama Tianhe, secara harfiah, berarti “Sungai Sky”. Namun, bila ditarik mundur ke belakang, dalam bahasa China kuno, Tianhe berarti Bimasakti. Dari berbagai referensi yang ada, memang tak terlalu detail menjelaskan asal usul penamaan nama bandara tersebut. Pada dasarnya, Cina memang memiliki masa kejayaan atas imperium besar di masa lalu. Oleh karenanya, bukan tak mungkin penamaan tersebut didasari oleh Bimasakti, sebagaimana arti Tianhe dalam bahasa Cina kuno. Penamaan yang unik tentu sangat sejalan dengan posisi geopolitik Wuhan di Cina. Sejak beberapa tahun lalu, khususnya saat kebangkitan ekonomi Cina, Wuhan memang menjadi salah satu kota penting di Cina. Tak ayal, status kota tersebut sebagai pusat transportasi dan manufaktur menjadikan perpindahan barang dan manusia menjadi ramai. Hal tersebut setidaknya terlihat dari bandara Wuhan itu sendiri yang didaulat menjadi bandara tersibuk di Cina tengah. Bandara Internasional Tianhe Wuhan sendiri tercatat melayani pertama kali dibuka pada 15 April 1995 untuk menggantikan Bandara Hankou Wangjiadun dan Bandara Nanhu lama sebagai bandara utama Wuhan. Bandara ini terletak di distrik Huangpi, pinggiran kota Wuhan, sekitar 26 km (16 mil) di utara pusat kota Wuhan. Selain karena sokongan bisnis, status Bandara Internasional Tianhe Wuhan sebagai bandara tersibuk di Cina tengah juga disokong oleh posisi geografisnya, yang terletak di pusat jaringan rute penerbangan Cina. Untuk menggantikan Bandara Wangjiadun yang lama, pemerintah China mengizinkan rencana untuk membangun bandara komersial di Kota Tianhe, Distrik Huangpi, Wuhan pada 1 Juli 1985. Pembangunan tahap pertama dimulai pada Desember 1989 dan selesai pada April 1994. Awalnya, bandara tersebut hanya mengoperasikan penerbangan domestik tetapi pada tahun 2000, CAA (otoritas penerbangan China) menetapkannya kembali sebagai bandara internasional. Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya Saat ini, bandara tersibuk ke-14 ini memiliki rute penerbangan internasional yang tergolong banyak (sebagai Bandara internasional yan terletak di luar ibu kota), seperti Kota New York, San Francisco, London, Tokyo, Roma, Istanbul, Dubai, Paris, Sydney, Bangkok, Moskow, Osaka, Seoul, Singapura, hingga Bali. Banyaknya rute internasional sangat masuk akal, mengingat sejak 1 Januari 2019, penumpang dari 53 negara seperti negara Uni Eropa, Jepang, Korea, Rusia, AS, saat bepergian ke negara ketiga, dapat memasuki Cina dari bandara ini tanpa visa hingga 144 jam. Sangat menarik, bukan?

SoftBank Kerja Sama dengan Navya Hadirkan Bus Otonom di Jepang

Bus otonom di Jepang akan mulai beroperasi di jalanan umum pada April 2020 mendatang. Nantinya ketika beroperasi ada sebelas bus yang akan berjalan secara otonom. Armada bus ini disediakan oleh startup Perancis yakni Navya yang bekerja sama dengan SoftBank. Baca juga: Volvo Demonstrasikan Bus Otonom Bertenaga Listrik yang Bisa Keliling Depo! Bus otonom tersebut ketika berjalan akan dioperasikan oleh perangkat lunak pemantauan terintegrasi yang dikembangkan sendiri oleh SB Drive yang merupakan anak perusahaan perangkat lunak SoftBank. Nantinya bus akan berjalan sejauh 2,5 kilometer di Jalanan Sakai yang merupakan sebuah kota sederhana di kawasan Tokyo. Perhentian bus otonom pun sudah ditentukan sebelumnya yakni sekolah dan bank. Menurut CEO SB Drive, bus akan menawarkan kenyamanan praktis dan bisa dianggap sebagai elevator horisontal yang mengangkut penumpang di sepanjang rute yang telah ditentukan. KabarPenumpang.com melansir wccftech.com (27/1/2020), sebenarnya hukum Jepang tidaklah mengizinkan adanya kendaraan otonom yang beroperasi di jalanan umum. Namun sepertinya SoftBank memiliki pengecualian karena memodifikasi penawaran yang diberikan Navya sesuai dengan peraturan Jepang. Dalam peraturan yang dibuat dalam hukum Jepang, ada berbagai perubahan yang dilakukan yakni mencakup kursi yang ditunjuk untuk mengemudikan bus ketika terjadi keadaan darurat. Ini membuat proyek otonom tersebut diklasifikasikan sebagai sistem level 2. Tapi karena kepercayaan diri SoftBank, mereka langsung beralih ke sistem level 4 yang sepenuhnya otonom setelah penghapusan pembatasan peraturan yang berlaku. Sebagai penyegaran, bus saat ini dianggap sebagai aplikasi paling praktis dari teknologi mengemudi otonom di Jepang karena kekurangan pengemudi dan menurunnya jumlah penumpang yang menuju ke daerah-daerah terpencil. Meski demikian, kelayakan finansial jangka panjang proyek ini masih belum jelas walaupun kota Sakai berencana untuk mengalokasikan anggaran 520 juta yen ($4,7 juta) untuk proyek lima tahun. Kemitraan SoftBank dengan Navya menggarisbawahi ambisinya yang berkembang di bidang mengemudi mandiri atau otonom. Raksasa Jepang ini tetap menjadi pendukung utama Uber dengan ekstensi, teknologi mengemudi mandiri miliknya. Menariknya, taruhan ini belum membuahkan hasil. Diketahui harga saham Uber anjlok secara dramatis setelah pencatatan perusahaan dan mengakhiri tahun turun sekitar 34 persen karena investor semakin skeptis mengenai prospek keuntungan berkelanjutan. Baca juga: Sukses Uji Bus Otonom, Singapura Siap Operasionalkan di 3 Distrik Tahun Depan Selain itu, tantangan peraturan dan masalah keselamatan penumpang karena pemeriksaan latar belakang pengemudi yang tidak memadai hanya berfungsi untuk semakin memikat selera investor. Meskipun demikian, selama kuartal ketiga tahun 2019, manajemennya meyakinkan para investor bahwa perusahaan akan dapat mencapai profitabilitas berdasarkan EBITDA pada tahun 2021.