Inilah Berbagai Macam Masker, Diantaranya Bisa Menghalau Virus Corona

Perayaan Imlek atau tahun baru Cina bukan hanya meliputi kebahagiaan tetapi juga duka yang dalam bagi warga Cina. Pasalnya tak lama perayaan Imlek berlangsung, masyarakat di kota Wuhan, Cina terjangkit virus corona. Baca juga: Antisipasi Coronavirus, Cathay Pacific Izinkan Pramugari Kenakan Masker Apalagi penyebaran virus corona sudah dari manusia ke manusia, baik melalui udara atau kontak langsung dengan yang terinfeksi. Untuk itu penggunaan masker sangat dianjurkan agar meminimalisir penyebaran virus corona pada manusia. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, masker ada beberapa macam, berikut ulasannya. 1. Masker N95, N99 dan N100 Masker ini memiliki huruf dan angka sebagai penanda. Beda huruf dan angka maka beda pula fungsinya. Huruf yang berada di depan menunjukkan ketahanan masker terhadap minyak dan angka dibelakangnya menunjukkan efektivitas masker ketika menyaring udara. Masker N95 berbentuk setengah bulat, berwarna putih dan tidak mudah rusak. Masker tipe ini termasuk salah satu anti polusi paling efektif untuk melindungi diri. Masker N95 dilengkapi dengan lapisan penyaring untuk menghalau partikel berbahaya di udara. Ukurannya pun pas menutup area hidung dan mulut sehingga terpapar polulsi semakin sedikit atau rendah. Tipe N95 sendiri mampu menyaring partikel PM2,5 sampai dengan 95 persen. Maka masker ini sering dipakai untuk mengurangi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan atau saat berinteraksi dengan orang sakit. Apalagi semakin besar angka yang ada dibelakang huruf, maka semakin efektiflah masker tersebut menyaring zat polutan di udara. Masker N99 berarti mampu menyaring polutan lebih banyak, yakni 99 persen. Bahkan, masker N100 dapat menahan partikel PM2.5 jauh lebih banyak lagi hingga lebih dari 99,97 persen. Nah, kalau dilihat dari tipenya, masker ini cocok digunakan untuk menghindari virus corona yang saat ini tengah menyebar luas. 2. Masker bedah Masker ini sudah jelas tidak bisa digunakan untuk menahan virus corona. Biasanya masker bedah digunakan sehari-hari untuk menghalau sedikit debu ketika berkendara. Masker bedah terbuat dari bahan filter yang mampu menyaring partikel mikroorganisme berukuran kecil. Namun kalau Anda sering memakai masker ini sebetulnya kurang tepat. Sebab, masker bedah memiliki daya lindung yang rendah sehingga tidak dapat menghalau kimia, gas, dan uap. Debu yang bertebaran di udara juga bisa tetap terhirup jika masker tidak pas menutup area sekitar hidung dan mulut. Harga masker ini pun murah dan mudah untuk didapatkan. Baca juga: Bombyx Mask, Masker ini Bisa untuk Penyembuhan TBC dan Relaksasi Sel Saraf 3. Masker kain Masker kain mampu melindungi hidung dari polusi, selain bisa dicuci ulang dan pakai berkali-kali, banyak yang mengatakan menggunakannya cukup nyaman. Sayangnya, masker kain hanya berfungsi untuk mencegah debu berukuran besar. Zat polutan berukuran kecil masih bisa menembus masker dan masuk ke dalam saluran pernapasan. Terlebih jika tidak dicuci dengan benar, masker yang penuh bakteri bisa membuat tubuh gampang sakit. Jadi, sebenarnya penggunaan masker cukup baik untuk sehari-hari sebelum tertular penyakit atau menularkan penyakit yang sedang diderita tubuh Anda.

KA Bandara Soetta Tawarkan Layanan City Check-In dan Baggage Handling Gratis!

PT Railink resmi memulai layanan City Check-In dan Baggage Handing gratis pada hari Jum’at, (31/1). Selama dalam kurun waktu tiga bulan, layanan tersebut dapat dinikmati para pelanggan KA Bandara dengan sangat mudah, loh. Baca juga: Mulai 19 Juni 2018, KA Bandara Soetta Berangkat dari Stasiun Bekasi Calon pengguna hanya perlu menunjukkan tiket kereta bandara yang sudah dibeli, tiket penerbangan, dan ID Card masing-masing, pada jam layanan mulai pukul 7 pagi hingga 9 malam. Setelah pengecekan selesai, koper pelanggan akan ditimbang terlebih dahulu. Bila berat koper di atas 20 kg, City Check-In dan Baggage Handing tetap akan dilakukan. Hanya saja seluruh beban biaya kelebihan muatan pada koper tersebut tetap harus diselesaikan di konter maskapai sesampainya di bandara. Perlu dicatat, PR Railink hanya akan memberikan service pada layanan tersebut 30 menit sebelum keberangkatan kereta. Selain itu, perlu dicatat pula, City Check-In juga hanya berlaku untuk maskapai yang sudah bekerjasama dengan perusahaan patungan dari PT Kereta Api Indonesia dan PT Angkasa Pura II tersebut, dalam hal ini maskapai Garuda dan Citilink Indonesia. Tak hanya itu, manajemen KA Bandara juga hanya melayani City Check-In 3 jam sebelum keberangkatan pesawat. Setelah proses pengecekan, baik itu City Check-In dan Baggage Handing, selesai dilakukan, kemudian sekitar 20 porter, yang dikerahkan untuk layanan ini, siap untuk melayani pelanggan dengan menghandle langsung koper yang sudah ditimbang tadi. Jadi, pelanggan cukup santai menunggu, baik di lounge yang sudah disediakan maupun di tempat-tempat lainnya. Kemudian, lima menit sebelum keberangkatan kereta, petugas akan menjemput pelanggan dan mengarahkannya ke kereta yang sudah disiapkan, tanpa perlu khawatir apalagi repot-repot membawa koper. Sesampainya di stasiun Basoetta (Bandara Soekarno-Hatta), pelanggan KA Bandara Railink yang sudah melakukan City Check-In dan Baggage Handling disediakan transportasi shuttle bus menuju terminal keberangkatan Citilink dan Garuda Indonesia. Dalam proses tersebut, petugas porter yang didukung oleh PT Gapura Angkasa ini akan terus melayani pelanggan hingga over baggage drop di check-in counter. Tak cukup sampai di situ, sekalipun koper sudah ditangani oleh pihak maskapai, petugas porter tetap akan melayani pelanggan hingga ke boarding gate. Cukup menarik, bukan? Terlebih, layanan tersebut gratis. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Railink Mukti Jauhari mengatakan layanan gratis selama tiga bulan dengan total investasi senilai Rp 3 miliar tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk menarik minat masyarakat agar beralih ke KA Bandara. Layanan tersebut kemudian juga akan diikuti dengan berbagai promo menarik lainnya. Salah satunya seperti promo harga tiket pada awal Februari mendatang. Di samping itu, Mukti juga menegaskan, KA Bandara saat ini juga semakin menarik dengan waktu tempuh yang kian terpangkas. Bila sebelumnya KA Bandara Manggarai-Basoetta memakan waktu tempuh selama 57 menit, kini hanya membutuhkan waktu 50 menit. Kemudian, dari BNI City-Basoetta, bila sebelumnya 46 menit, kini hanya menjadi 41 menit. Atas capaian itu, ia pun mengingatkan bahwa tak ada moda transportasi lainnya yang dapat menempuh waktu secepat itu menuju bandara, ia pun mengingat kembali cerita dari salah satu rekannya yang mengaku menempuh waktu hampir 2 jam Basoetta-BNI City. Meskipun demikian, dengan waktu tempuh yang lebih cepat hingga layanan yang sangat memudahkan pelanggan, salah satunya dengan layanan City Check-In dan Baggage Handing, tidak serta merta membuat okupansi KA Bandara sesuai ekspektasi, yakni dikisaran 50 persen. Baca juga: Belum Genap Satu Bulan Beroperasi, KA Bandara Soekarno-Hatta Angkut 75 Ribu Penumpang “Saat ini (okupansi) masih berkisar 32 persen dari total kursi yang kami sediakan,” jelas Mukti. Mukti menargetkan okupansi KA Bandara Soekarno-Hatta pada 2020 bisa mencapai 40 persen dari total kapasitas penumpang. Tentunya dengan berbagai inovasi dan peningkatan layanan, termasuk di dalamnya usaha untuk memangkas waktu tempuh hingga diangka 30 menit.

57 Persen Orang India Lebih Suka Naik Taksi Online Dibanding Taksi Konvensional

Sebanyak 57 persen orang India lebih suka naik kendaraan ride-hailing dan 74 persen lainnya lebih suka naik taksi konvensional dengan argometer. Hasil ini didapatkan setelah sebuah studi konsumen otomotif global Deloitte 2020 dengan mensurvei 35 ribu konsumen dari 20 negara. Baca juga: Ternyata! Biaya Taksi di Jakarta Tidak Semahal di Negeri Tetangga Bisa dikatakan hasil yang didapat tersebut jumlahnya lebih tinggi dari pada orang-orang di Cina, Amerika Serikat, Jerman dan Jepang. Bahkan hasil ini juga dipengaruhi dengan kehadiran taksi berbasis aplikasi yang mulai berkembang di India seperti Uber dan Ola. KabarPenumpang.com melansir laman indiatimes.com (23/1/2020), dalam penelitian yang lebih lanjut terhadap studi tersebut, menunjukkan sekitar 64 persen konsumen di India lahir setelah tahun 1980-an. Mereka mempertanyakan perlunya memiliki kendaraan. Tak hanya itu, hasil ini juga mengungkap frekuensi orang India menggunakan taksi online meningkat menjadi 32 persen pada awal tahun 2020 dan lebih tinggi dari tahun 2019 lalu yang hanya 26 persen. Namun jumlah ini pun jauh lebih sedikit dibandingkan tahun 2017 yang mencatat hasil 47 persen konsumen menggunakan taksi online. Dari jumlah 32 persen tersebut frekuensi orang India menggunakan taksi online ternyata sebanyak satu kali dalam seminggu. Pengguna taksi online tersebut lebih banyak generasi millenial. Menurut generasi millenial ini, kenyamanan memesan taksi melalui ponsel pintar memudahkan mereka. Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman mengatakan, bahwa peningkatan penggunaan taksi online adalah salah satu alasan di balik penurunan penjualan mobil di negara tersebut. Tak hanya itu, seiring berkembangnya teknologi pada transportasi, hasil survei juga mendapatan bahwa 80 persen konsumen India berpikir peningkatan konektivitas pada kendaraan akan bermanfaat. Sedangkan 58 persen lainnya percaya kendaraan otonom tidak aman. Ini karena orang India ragu terkait keselamatan kendaraan otonom dan kemampuan mobil melintas di jalanan. Persentase konsumen, yang setuju bahwa kendaraan otonom tidak akan aman untuk digunakan, diperkirakan akan meningkat sebesar 10 persen tahun ini. Baca juga: Lewat Aplikasi, Uber Wajibkan Pengemudi Untuk Istirahat Setelah 12 Jam Beroperasi “Sementara tahun lalu melukai pemain otomotif dalam jangka pendek, meningkatnya penjualan mobil yang terhubung internet dan meningkatnya minat terhadap BEV (baterai listrik) menunjukkan bahwa Kecerdasan teknologi milenium India yang cerdas untuk mendapatkan nilai uang akan membuat para pemain otomotif tetap waspada. Survei konsumen kami menunjukkan bahwa konsumen India terbuka terhadap gagasan investasi untuk teknologi kendaraan canggih dan tren ini telah meningkat selama bertahun-tahun; salah satu bidang utama bagi OEM untuk fokus,” kata Rajeev Singh, Mitra dan pemimpin otomotif Doloitte India.

Awak Kabin Tidak Direkomendasi Gunakan Masker Terkait Virus Corona, Ini Penjelasannya!

Hampir seluruh maskapai yang mempunyai penerbangan ke China ramai-ramai mengizinkan awak kabinnya untuk menggunakan masker. Hal itu dinilai dapat melindungi awak kabin dari kemungkinan terinfeksi virus corona yang belakangan menyebar luas ke seluruh dunia. Baca juga: Antisipasi Coronavirus, Cathay Pacific Izinkan Pramugari Kenakan Masker Tak hanya maskapai, berbagai pengawasan ketat pun juga diberlakukan di seluruh bandara di dunia. Bandara yang notabene menjadi gerbang masuknya wisawatan dari negara lain, dinilai vital dalam andil untuk mencegah atau bahkan membantu virus corona tersebar luas ke sebuah negara akibat ‘kecolongan’ saat mengecek kesehatan penumpang di bandara. Akibatnya, permintaan masker, khususnya masker bedah pun meningkat hampir 50 persen, bahkan di beberapa daerah di China permintaannya meningkat hingga ratusan persen. Namun, terkait penggunaan masker, pernyataan mengejutkan kemudian datang dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS. Seperti dikutip dari usatoday.com, Jum’at, (31/1), belum lama ini, instansi yang berkantor pusat di Atlanta, Amerika Serikat itu menyatakan tidak pernah mencegah orang sehat untuk mengenakan masker bedah. Namun, mereka lebih merekomendasikan penggunaan masker bedah bagi pasien yang diduga mengidap virus corona dan tim medis yang bersentuhan langsung dengan mereka. Selanjutnya, badan pemerintahan yang berada di bawah Kementerian Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat itu berasalan, bahwa sebagian besar virus corona disebarkan melalui partikel udara (bersin atau batuk), tersentuh atau menyentuh permukaan yang terinfeksi, mencuci tangan adalah cara yang efektif untuk mengurangi potensi infeksi. Bukan memakai masker bedah. Meski demikian, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS tersebut tetap memberikan arahan dan standar teknis dalam menghadapi berbagai penanganan kepada penumpang yang diduga mengidap virus corona. Selain itu, mereka juga membuat ‘pagar betis’ di lima bandara di AS untuk mencegahnya masuk ke dalam negeri Paman Sam. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), mengakui memang banyak menemukan beberapa kasus di AS yang diduga mengidap virus corona. Oleh karenanya, mereka melakukan langkah-langkah pencegahan dengan mendirikan pusat pemeriksaan di lima bandara utama AS (Los Angeles International, San Francisco International, Chicago O’Hare, New York JFK, dan Atlanta) untuk memeriksa penumpang yang datang dari wilayah yang terkena dampak di China. CDC juga telah menerbitkan daftar tindakan pencegahan untuk para pelancong. Setelah pintu masuk (bandara) virus ditutup (dengan berbagai pusat pemantauan canggih), CDC kemudian memagari garda terdepan lainnya yang mungkin bisa membawa virus corona jenis baru tersebut masuk. Mereka adalah awak kabin dan pilot. CDC sendiri sudah mengeluarkan panduan teknis lengkap untuk mereka, khususnya dalam penanganan selama bertugas. Jika seorang penumpang mengalami gejala-gejala virus, yang secara resmi dikenal sebagai 2019-nCoV, ia disarankan untuk mengunjungi dokter atau ruang gawat darurat mereka dan kemudian segera mencari perhatian medis. Bila terinfeksi, orang tersebut harus diisolasi, memakai masker wajah dan sering mencuci tangan untuk mengurangi kemungkinan penyebaran virus. Dalam pedomannya untuk awak kabin, CDC juga merekomendasikan personel maskapai untuk sering mencuci tangan dan menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol. Selain itu, jika seorang penumpang menunjukkan gejala (demam melebihi 38 0C), batuk terus-menerus atau kesulitan bernapas saat dalam penerbangan, CDC mengatakan pramugari harus menawarkan orang tersebut masker bedah, menjaga orang sakit setidaknya dua metere jauhnya dari penumpang lain dan menunjuk satu staf untuk merawat mereka. Baca juga: Cegah Coronavirus, Angkasa Pura I Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Penumpang Asal Cina Staf yang ditunjuk harus mengenakan masker bedah, pelindung mata, dan pakaian tambahan lainnya. Semua cairan tubuh harus diperlakukan seolah-olah menular, dan setelah itu, semua barang sekali pakai yang bersentuhan dengan penumpang harus dimasukkan ke dalam kantong biohazard untuk pembuangan yang benar. Kemudian, semua permukaan yang terkontaminasi harus dibersihkan dan disterilkan sesuai dengan protokol penerbangan. Setelah tiba, staf CDC akan mengevaluasi penumpang untuk menentukan apakah ia harus diangkut ke rumah sakit untuk tes dan perawatan lebih lanjut. “CDC akan memperbarui maskapai tentang hasil pengujian dan kebutuhan untuk menindaklanjuti anggota awak atau penumpang yang terpapar,” dalam petunjuk teknis yang diedarkannya.

Gara-gara Dianggap Berpakaian Tak Pantas, Seorang Wanita Tertahan Ketika Akan Masuk Kabin

Seorang penumpang wanita tertahan di pintu masuk ketika dirinya akan masuk ke kabin pesawat. Penahanan itu dilakukan oleh seorang petugas pria maskapai United Airlines yang mengklaim bahwa pakaian yang dikenakan penumpang dianggap tidak pantas. Baca juga: Pakaian Apa yang Selazimnya Dikenakan Penumpang Pesawat? Andrea Worldwide saat itu naik pesawat United Airlines dari Denver, Colorado menuju ke Newark, New Jersey pada 13 Januari 2020 kemarin. Saat itu dia menggunakan atasan hitam dengan garis leher berpotongan rendah yang menunjukkan sedikit bralette dibawahnya. Andrea juga mengenakan kardigan dan syal yang dengan mudah bisa menutupi dadanya. Dia mengaku padahal pakaian yang digunakannya pun cukup sopan dengan syal besar, kardigan selutut, legging dan sepatu kets. Tetapi ketika dirinya akan naik kepesawat, seorang petugas menyuruhnya menyingkir. Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (28/1/2020), dia awalanya berpikir tidak boleh naik karena tiket yang dimiliki robek tetapi ternyata hal tersebut karena pakaian yang dikenakan. “Saya tidak mendapat alasan pada awalnya dan akhirnya diberitahukan setelah 20 menit oleh petugas perempuan terkait dirinya tidak boleh masuk ke kabin karena pakaian terlalu terbuka. Saya berpikir apakah petugas tersebut melindungi penumpang lain dari saya atau dia ingin saya tinggal lebih lama untuk menatap saya demi kesenangannya sendiri… Siapa yang tahu!” tulisnya. Akhirnya Andrea diizinkan masuk ke pesawat dan karena insiden tersebut dirinya ditawari voucher $100 namun dia menolaknya. Bahkan maskapai juga melipat gandakan voucher menjadi $200 untuk diberikan. “Aku benar-benar terhina, malu, bingung. Saya merasa seperti semua mata tertuju pada saya. Dua ratus dolar bahkan tidak sebanding dengan penghinaan yang aku hadapi. Jika perempuan lain harus menghadapi ini, aku lebih suka mengeluarkan berita dan mungkin lebih memilih maskapai lain,” tulisnya lagi. Atas insiden ini, maskapai United mengatakan tujuan mereka adalah agar pelanggan merasa diterima dan memiliki perjalanan yang nyaman. “Kami menjangkau pelanggan kami untuk lebih memahami apa yang terjadi,” tulis pernyataan maskapai. Sebelum Andrea mengaku tidak ingin memposting hal tersebut tetapi mengingat kurangnya perhatian terhadap masalah ini oleh United Airlines maka tidak ada pilihan lain. Andrea sendiri sebenarnya memiliki status angggota khusus dengan beberapa miles karena sering menggunakan penerbangan United Airlines. Baca juga: Foto Penumpang Pakai Sarung Tangan Streril Untuk Tutupi Kaki Viral di Instagram “Saya seorang wanita profesional, yang mempekerjakan ratusan wanita profesional muda lainnya, itulah sebabnya saya memutuskan untuk mengambil sikap dan berbicara tentang perilaku staf United Airlines yang tidak dapat diterima,” tulis Andrea di akun Facebooknya.

Virus Demam Babi Afrika Mewabah di Indonesia, Peternak Dilarang Beri Makan Babi dari Sisa Makanan Penerbangan

Serangan virus demam babi Afrika baru-baru ini membuat lebih dari 34 ribu babi di Sumatera Utara mati dan pihak berwenang tak mau ambil risiko dengan 760 ribu babi yang tinggal di Bali. Serangan demam ini dikarenakan pemberian makanan sisa dari maskapai yang diberikan oleh para peternak. Baca juga: Santap Sisa Makanan Penumpang, Awak Kabin Ini Terancam Sanksi Berat Menurut pihak berwenang, sisa makanan bisa saja terinfeksi virus yang tidak berbahaya bagi manusia tetapi bisa membunuh seluruh kawanan babi. Kepala badan kesehatan hewan dan ternak Bali, Wayan Mardiana mengatakan, penyakit ini telah menyebar karena babi diberi makan dari sisa makanan penerbangan. “Saat ini kami telah melarang praktik semacam itu. Kami bekerja dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan semua maskapai yang memiliki makanan sisa dan mengandung babi harus dihancurkan,” kata Wayan. “Bea cukai akan memeriksa dan memusnahkan semua makanan yang mengandung babi dan dibawa oleh penumpang seperti dari Cina,” tambahnya. Dia mengatakan, sebanyak 25 peternak babi di Bali dengan jumlah total 100 ribu ekor yang diberi makan sisa penerbangan dianggap berisiko tinggi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (6/1/2020), karena demam babi Afrika ini, peternakan babi di Cina, Thailand dan beberapa negara lainnya hancur. Hal ini karena virus demam babi Afrika penyebarannya terbatas yakni pada babi domestik dan liar. Bahkan Departemen Pertanian Australia mengatakan sudah membunuh 80 persen hewan yang terinfeksi. “Sejauh ini tidak berpengaruh pada pariwisata di Bali, karena tidak berdampak pada manusia,” kata Kepala Departemen Pariwisata Bali, Putu Astawa. Setelah itu kemudian sebuah pertanyaan menjadi muncul, kenapa babi-babi itu makan makanan sisa penerbangan? Jawabannya yakni karena maskapai tak bisa memberikan makanan yang sisa kepada penumpang di penerbangan lain. Apalagi makanan tersebut juga dicek secara ketat sebelum disiapkan dan disajikan. Makanan tersebut juga akan dibuang ketika tidak lagi disajikan. Baca juga: 65 Persen Makanan untuk Emirates Dibuat di Dubai Maka dengan alasan ini, beberapa maskapai dan bandara membentuk kemitraan dengan peternak lokal untuk menyediakan makanan limbah bagi mereka untuk diberikan kepada babi. Adanya sisa makanan tersebut dikarenakan maskapai ingin memastikan mereka memiliki semua opsi menu yang tersedia untuk setiap penumpang.

Capaian Melebihi Ekspektasi 2019, MRT Jakarta Akan Mulai Fase 2

Fase 1 Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta sudah mengular dan target penumpang yang awalnya 65 ribu hingga akhir tahun 2019, justru melebihi ekspektasi awal yang ditutup dengan angka 95 ribu penumpang per hari. Bahkan ditotal hingga akhir tahun 2019, sebanyak 24,6 juta penumpang naik kertea MRT Jakarta semenjak beroperasinya Maret 2019. Baca juga: Sinergi dengan MRT Jakarta, Basarnas Jakarta Fokus Pada Tanggap Darurat Gempa dan Banjir Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, dengan jumlah tersebut menyatakan, MRT Jakarta sudah menjadi proyek lifestyle masyarakat ibu kota. Dia mengatakan, setelah ini, MRT Jakarta akan memulai dengan fase 2 pembangunan dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju ke Kota. “Kita akan mulai pembangunan fisik paket CP201 dari Bundaran HI ke Harmoni. Kontraktor pemenang sudah di tetapkan dan JICA sudah tanda tangan kontrak,” Kata William, di Dukuh Atas, Kamis (30/1/2020). Dia menambahkan, jarak fase 2 dari Bundaran HI ke Kota sekitar 6,3 km dan akan ada tujuh stasiun underground (bawah tanah) yang dibangun. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim menambahkan, paket CP201 dari Bundaran HI ke Harmoni akan mulai dilaksanakan setelah pembangunan skybridge CSW yang akan menghubungkan Stasiun MRT Asean dan Halte TransJakarta koridor 13 selesai di Maret 2020 mendatang. “Selesai pembangunan CSW di Maret, kita langsung mulai CP201 ini,” kata Silvia. Dia menyebutkan untuk depo di Ancol Barat yang terhubung dari Kota akan mulai setelah Feasibility Study (FS). Nantinya hasil FS inilah yang akan menentukan letak stasiun baik itu di elevated atau underground hingga estimasi biaya yang diperlukan untuk pembangunan. “Kita juga berharap FS ini selesai di Maret barengan dengan CSW jadi kita bisa mulai perkiraan dari Kota ke Ancol Barat akan seperti apa pengerjaannya,” jelas Silvia kepada KabarPenumpang.com. Dia menyebutkan, untuk perpanjangan dari Kota hingga Ancol Barat diperkirakan akan ada tiga atau empat stasiun bila dihitung satu kilometer. Silvia menambahkan, stasiun-stasiun yang akan diperpanjang hingga Ancol Barat tersebut akan melintas di trase Mangga Dua, Gunung Sahari dan Ancol. “Nantinya yang jelas FS akan menentukan segalanya dan kita baru bicara soal pendanaannya,” tambahnya. Terkait masalah luasan depo baru untuk MRT Jakarta yang akan dibuat di Ancol Barat, Silvia mengatakan, pihaknya punya ekspektasi lahan baru tersebut lebih luas dari yang ada di Lebak Bulus. Silvia menambahakan, bila jalur timur-barat MRT Jakarta mulai beroperasi maka kereta akan bertambah banyak dan depo harus lebih besar. Baca juga: Gambar dan Tulisan Tak Sama, “Mockup Signage” di Stasiun MRT Jakarta Jadi Viral “Kalau fase 3 sudah berjalan dari timur ke barat, otomatis perjalanan bertambah dan kereta juga bertambah makanya kita butuh depo lebih besar. Kisarannya depo baru ini dekat pantai dan untuk dealnya kita masih tunggu mekanisme dengan Pemda,” tambah Silvia.

Evakuasi WNI di Wuhan Bakal Gunakan Pesawat Widebody Airbus A330

Mengikuti dinamika meluasnya wabah virus Corona, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan evakuasi segera Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Sebelum adanya perintah Presiden, pihak TNI AU telah menyiapkan dua pesawat Boeing 737-400 dan satu pesawat angkut C-130 Hercules untuk diterbangkan ke Wuhan. Kabarnya dalam waktu dekat, diperkirakan pada Sabtu ini, rombongan pesawat penjemput akan diberangkatkan. Namun, rupanya bakal ada perubahan dari jenis pesawat yang digunakan. Baca juga: Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona Dari informasi yang ada, jumlah total WNI asal Indonesia yang akan di evakuasi dari Provinsi Hubei berjumlah 240 orang. Dan dilihat dari spesifikasi pesawat yang akan digunakan TNI AU, yaitu masing-masing Boeing 737-400 punya kapasitas 100 penumpang, sementara C-130 Hercules difungsikan sebagai pesawat pendukung logistik. Mengutip dari Angkasa.news.com, Kadispen TNI AU Marsma TNI Fajar Adrianto mengatakan, bahwa penerbangan ke Wuhan akan menempuh jarak 2.500 nautical mile (4.530 km). Rute yang ditempuh dari Bandar Halim Perdanakusuma – Natuna – Xianmen di Selata Beijing – Wuhan. “Jarak Xianmen ke Wuhan sekitar 400 nautical mile (740 km),” ujar Fajar. Dan dari hasil rapat antara Kementerian Luar Negeri dengan Kedutaan Besar RI di Beijing (29/1/2020), maka ada perubahan dari pesawat yang digunakan, disebutkan yang akan melakukan misi evakuasi menggunakan pesawat berbadan lebar (widebody) jenis Airbus A330 milik Lion Air. Dari informasi yang ada, penggunaan A330 dipandang lebih efisien dalam hal waktu dan kecepatan, pasalnya dengan A330, 240 penumpang dapat diangkut sekaligus dengan satu pesawat saja. Dengan kemampuan terbang jarak jauh, maka penerbangan dari Indonesia ke Wuhan dapat dilangsungkan secara direct flight. Sementara itu, komponen pesawat terbang dari TNI AU akan digunakan sebagai cadangan. Direncakan debarkasi akan dilakukan di Bandara Halim Perdanakusuma, untuk selanjutnya awak pesawat dan penumpang akan dikarantina di Asrama Haji Pondek Gede lebih kurang 14 sampai 28 hari. Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan Bila yang digunakan adalah jenis Airbus A330-300 misalnya, pesawat twin engine yang biasa melayani penerbangan Umrah ini punya kapasitas 440 kursi. Kemampuan jelajah A330-300 pun mumpuni untuk misi ini, yaitu dapat terbang sejauh 5.650 nautical mile (10.500 km).

Norwegian Air Kenakan Biaya Pada Tas Jinjing Per 23 Januari 2020

Norwegian Air mulai 23 Januari 2020 kemarin menetapkan biaya pada tas tangan. Namun untuk penumpang yang sudah membeli tiket sebelum tanggal 23 Januari dengan keberangkatan beberapa waktu kedepan tidak akan dikenakan biaya yang ada pada peraturan baru tersebut. Baca juga: Beda Maskapai Beda Pula Aturan Bawa Bagasi Jinjing Dalam Kabin Sebelum adanya aturan ini, para penumpang Norwegian Air boleh membawa satu tas jinjing secara gratis. Tak hanya itu, penumpang juga bisa membawa satu barang yang diletakkan di bawah kursi depan serta membawa barang bebas bea yang di beli di bandara. KabarPenumpang.com melansir laman get.com (23/1/2020), saat ini, aturan baru tersebut akan dikenakan kepada penumpang yang membeli kursi kelas terendah di mana penumpang hanya bisa membawa satu tas jinjing dibawah sepuluh kilogram dan bisa masuk di bawah kursi. Jika barang tersebut tak bisa masuk ke bawah kursi atau melebihi sepuluh kilogram, maka penumpang akan dikenakan biaya tambahan. Berikut ini kebijakan baru yang dibuat oleh Norwegian Air untuk tas jinjing penumpang. Kelas LowFare hanya memperbolehkan penumpang membawa satu tas untuk diletakkan di bawah kursi dengan ukuran 30 x 20 x 38 cm dan tidak ada tas yang masuk dalam kabin atass kepala. Kelas LowFare+, penumpang bisa membawa satu tas untuk diletakkan di bawah kursi, satu tas masuk dalam kabin atas kepala dengan ukuran 55 x 40 x 23 cm dan jika digabungkan beratnya harus sepuluh kilogram atau kurang. Kelas Flex, Premium dan Premium Flex memiliki aturan yang sama dengan LowFare+, tetapi memiliki batas bawaan 15 kg. Bila penumpang kelas LowFare ingin membawa tas tambahan maka akan dikenakan biasa $6,5 hingga $11,7. Pihak Norwegian Air mengatakan, mereka menerapkan perubahan ini untuk mempercepat proses naik, sehingga penerbangan bisa berangkat tepat waktu. Baca juga: Enam Hal Sebelum Pilih Koper atau Tas Jinjing untuk Berlibur Tak hanya kebijakan pengenaan biaya, maskapai Norwegian Air juga memberikan kabar baik yakni, penumpang dengan kelas LowFare+ bisa membawa barang terdaftar hingga 23 kg yang tadinya hanya 20 kg. Sedangkan kelas Flex, Premium, PremiumFlex dapat membawa duat tas terdaftar dengan masing-masing berat maksimum 23 kg.

Boeing Catatkan Kerugian Terbesar Sepanjang Sejarah Berdiri

Setelah melalui tahun yang buruk, ditandai dengan jatuhnya Boeing 737 MAX milik maskapai Lion Air dan Ethiopian Airlines, Boeing akhirnya merilis laporan tahunan. Dalam laporan tersebut, Boeing mengaku mencatatkan kerugian bersih terbesar sepanjang sejarah berdirinya perusahaan sebesar US$636 juta (Rp8,864 triliun). Baca juga: Boeing Akui Fitur Folding Wingtip 777X Bisa Jadi Penyebab Kecelakaan Dikutip dari seattletimes.com, Kamis, (30/1), kinerja keuangan Boeing sebetulnya sempat membaik pada kuartal ketiga 2019. Kala itu, perusahaan berhasil memperoleh laba US$ 895 juta (sekitar Rp12,53 triliun). Padahal, periode tersebut Boeing tengah mengalami pukulan telak akibat serangkaian kecelakaan pada Boeing 737 MAX. Meski demikian, keuntungan yang berhasil diperoleh Boeing pada kuartal tiga ini turun jika dibandingkan dengan pendapatannya tahun lalu sebesar US$1,9 miliar (sekitar Rp26,6 triliun). Boeing mengamankan keuntungannya berkat bisnisnya di sektor pertahanan dan luar angkasa, meskipun sektor pesawat komersial (Commercial Airplanes division) miliknya terus membukukan kerugian lain. Kinerja keuangan Boeing baru benar-benar teruji ketika pada kuartal kedua dan kuartal keempat, dimana perusahaan tersebut mengalami defisit besar. Pada kuartal kedua, Boeing mencatat kerugian US$3,7 miliar (sekitar Rp51,8 triliun). Kemudian pada kuartal keempat, kerugian sebesar US$1,01 miliar (Rp13,7 triliun). Hal itu belum termasuk revenue yang juga menurun dibanding tahun sebelumnya pada kuartal pertama hingga keempat. Pada kuartal pertama hingga keempat tahun lalu, Boeing membukukan total pendapatan mencapai US$3,7 miliar (Rp244,5 triliun), turun hampir 37 persen dibanding tahun sebelumnya US$28,3 miliar (Rp386,9 triliun). Selain itu, kinerja keuangan terburuk Boeing sepanjang sejarah berdirinya perusahaan juga dikarenakan oleh turunnya harga saham perusahaan asal negeri Paman Sam tersebut. Polanya nyaris sama dengan pendapatan Boeing pada kuartal dua dan empat di 2019. Pada tahun tersebut, saham Boeing anjlok menjadi hanya US$1,79 per lembar, jauh dibandingkan dengan harga saham di tahun sebelumnya saat membukukan keuntungan sebesar US$3,4 miliar (Rp 46,4 triliun), yakni sebesar $5.93 per lembar. Selain karena merosotnya pengiriman hingga 53 persen, belum ditambah jumlah pesanan di tahun 2020 yang juga mengalami penurunan, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja keuangan, kerugian Boeing juga disumbang oleh banyaknya pembatalan pesanan serta pembayaran ganti rugi kepada para pelanggan, termasuk kepada ahli waris dari para korban terdampak. Tak hanya itu, keputusan Boeing untuk memangkas tingkat produksi 787 Dreamliner, dari 14 unit lebih per bulan menjadi hanya kurang dari 12 unit per bulan, juga turut menyumbang laju perlambatan keuangan Boeing. Menurut sebagian pengamat, keputusan teresbut bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat permintaan jangka pendek yang lamban untuk jet berbadan lebar dan sisa pesanan yang hanya tinggal beberapa pesawat saja. Menanggapi beban yang ada dihadapannya, ditambah fakta bahwa perusahaan yang dipimpinnya kini telah mengalami kerugian terbesar sepanjang sejarah berdiri, CEO Boeing, Dave Calhoun pun akhirnya buka suara. Berbanding terballik dengan keadaan keuangan yang tengah terpuruk, ia justru menyikapi berbagai keterpurukan Boeing dengan optimis. “Kami menyadari memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kami berfokus untuk mengembalikan 737 MAX ke layanan dengan aman dan memulihkan kepercayaan lama yang diwakili oleh merek Boeing dengan publik penerbangan,” katanya. Baca juga: Boeing Kembali Temukan Masalah Baru pada Software, 737 MAX Gagal Terbang (Lagi) “Untungnya, kekuatan keseluruhan portofolio bisnis Boeing kami menyediakan likuiditas keuangan untuk mengikuti proses pemulihan yang menyeluruh dan disiplin,” lanjut, CEO yang baru menjabat awal bulan ini, menggantikan CEO lama, Dennis Muilenburg. Sebagai informasi, sebelum tahun 2019, Boeing juga pernah mencatat kerugian besar pada tahun 1995 dan 1997. Kala itu, Boeing mencatat kerugian total sebesar US$214 miliar (sekitar Rp 46,4 triliun).