Jika ada negara di dunia yang sedang ditimpa kemalangan maha dahsyat, maka untuk saat ini semua mata tertuju kepada Republik Rakyat Cina (RRC). Disamping jumlah korban yang terus berjatuhan akibat virus corona, dampak ekonomi dan wisata juga bakal menerjang, lantaran hampir sebagian besar maskapai komersial global menghentikan penerbangan dari dan ke Cina.
Namun, dikenal sebagai bangsa tangguh dalam inovasi teknologi, tak membuat Cina patah arang menghadapi wawah virus corona. Karena adanya virus corona kemudian perusahaan pemetaan data QuantUrban dan WeChat berkolaborasi menciptakan aplikasi mobile yang bisa mengambil informasi resmi di lingkungan tempat kasus terinfeksi virus yang penyebaran lewat media udara.
Baca juga: Viral! Akibat Virus Corona, Sebuah Drone ‘Tegur’ Nenek dan Kakek Tua
Kemudian nantinya akan dipetakan secara geografis sehingga pengguna bisa mengukur seberapa dekat dengan lokasi terinfeksi virus. KabarPenumpang.com melansir laman itnews.co.au (4/2/2020), dengan adanya platform ini, diharapkan masyarakat Cina yang tinggal di daerah terjangkit bisa melacak dan mempersiapkan diri dengan potensi bahaya yang dihadapi.
Program milik WeChat yang disebut Yikuang atau Situasi Epidemi bisa mencakup kota-kota selatan Shenzhen dan Guangzhou. Sedangkan peta berbasis peramban QuantUrban juga mencakup sembilan kota lain di provinsi tersebut.
“Shenzhen mungkin memiliki wabah besar dalam beberapa hari ke depan, dan data pemerintah keluar perlahan. Melihat peta mengacu pada kenyamanan psikologis. Anda tidak dapat menjamin tidak akan ada kasus baru, tetapi Anda dapat menghindari area yang sudah terkena,” kata April seorang manajer yang berbasis di Shenzhen.
Pernyataan April tersebut karena kasus yang di konfirmasi di Shenzhen telah naik dengan cepat, yakni 245 kasus pada hari Senin (3/2/2020) kemarin. Ini membuat kota teknologi tersebut yang paling parah terkena dampak dari kota-kota utama di Cina, seperti Beijing.
Apalagi kota teknologi tersebut memiliki populasi terbesar pekerja migran dari provinsi-provinsi tengah yang sangat terpengaruh.
“Kami ingin membubuhi keterangan informasi di peta sehingga publik dapat melihat dengan lebih baik bagaimana situs epidemi didistribusikan secara lebih intuitif, dan juga mengingatkan semua orang untuk membuat perlindungan yang memadai,” kata Yuan Xiaohui, co-founder dan CEO QuantUrban.
Dia menambahkan ada relawan yang membantu tim agar peta selalu diperbaharui karena pemerintah mengeluarkan data setiap hari. Yikuang juga mengandalkan sukarelawan untuk melakukan up to date dan awalnya menunjukkan lingkungan dengan kasus yang dikonfirmasi dengan logo tengkorak dan tulang bersilang. Sejak itu berubah menjadi tanda seru yang kurang mengkhawatirkan setelah pengguna di platform media sosial Weibo mengeluh mereka akan menyebabkan kepanikan.
“Jika saya tahu ada orang sakit di sekitarnya, saya bisa mengambil langkah untuk ekstra hati-hati. Aku tinggal di antara Shenzhen dan Guangzhou, dan peta-peta ini sangat bagus di sana,” kata seorang mahasiswa bernama Steven.
Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce
Yuan mengatakan, QuantUrban juga mencakup sembilan kota lain di provinsi Guangdong. Media milik pemerintah CCTV dan People’s Daily juga telah memberikan dukungan untuk program terpisah yang membantu pengguna melacak apakah bus, kereta api atau pesawat terbang yang mereka lalui juga digunakan oleh pasien terinfeksi yang telah dikonfirmasi.
Frogs merupakan prototipe drone taksi terbang besutan anak bangsa yang lahir dari pengembangan desain drone quadcopter. Hasil riset selama dua tahun dan menghabiskan dana sebesar Rp1 miliar tersebut merupakan satu dari antara beberapa produk teknologi 4.0.
Baca juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang
Bahkan prototipe drone taksi ini akan dibawa dari Yogyakarta ke pameran teknologi di Jerman. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Jefry Pratama, Venture and Investment Partners di UGM Medialab Indonesia menjelaskan, purwarupa drone penumpang tersebut sudah selesai seluruhnya.
Kabin untuk penumpang, motor, baling-baling dan baterai sebagai sumber tenaga sudah lengkap. Dia mengatakan hanya akan ada sedikit revisi pada interior, yakni posisi kursi dan pegangan untuk penumpang sebelum dipamerkan di Hannover Messe pada 20-24 April 2020 mendatang.
Jefry mengatakan, Frogs memiliki struktur yang dibangun menggunakan bahan karbon fiber kuat dan ringan dengan desain kokoh yang memiliki nilai margin of safety tinggi. Tak hanya fitur dalam sistem pun dipersiapkan dengan beberapa simulasi kegagalan seperti ketika satu motor mati maka yang lain akan menggantikannya.
Menurut Jefry, hal ini agar wahana masih bisa beroperasi dengan baik saat mengudara. Dia mengatakan, proses uji coba drone taksi tersebut diklaim sudah dilakukan terhadap setiap komponen hingga semuanya memenuhi syarat.
Adapun contohnya adalah melakukan pengujian terhadap rangkaian motor dan propeller atau baling-baling untuk mendapatkan gaya dorong yang diharapkan. Kemudian dibuat sebuah kerangka besi dengan dimensi yang sama seperti frame asli.
Lalu dilakukan uji terbang sampai stabil dan semua motor tersinkronisasi dengan baik. Jefry menambahkan, kemudian sistem yang telah stabil tersebut akan ditransmisikan ke frame karbon yang asli.
“Untuk tahap pengujian awal dilakukan penerbangan lower frame, tanpa body atas (kabin), sampai semua aspek terpenuhi maka akan dilakukan uji terbang dengan semua komponen lengkap,” katanya.
Frogs didesain lebih untuk memenuhi kebutuhan transportasi di wilayah kepulauan di Indonesia. Membidik pangsa pasar jasa taksi udara, drone ini juga bisa dimanfaatkan untuk memuat kargo, kebutuhan militer, serta kepentingan darurat maupun pertolongan pertama di daerah bencana yang sulit diakses.
“Untuk komersialisasinya tentu kami berharap secepatnya wahana ini bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Kami juga masih tergantung dengan regulasi, khusus untuk mengatur operasi teknologi ini karena sampai saat ini peraturan tentang pesawat listrik berpenumpang setahu kami belum ada di Indonesia,” kata Jefry.
Baca juga: Bukan Sekedar Isapan Jempol, Dubai Mulai Uji Coba Taksi Drone
Diketahui, Frogs, pionir drone berawak di Indonesia, memimpin barisan produk teknologi yang akan mewakili Indonesia di pameran tersebut tahun ini. Drone taksi ini mampu mengangkut dua penumpang dan terbang sejauh 100 km hanya dengan satu kali pengisian daya listrik. Drone ini lahir di sebuah bengkel di Yogyakarta yang kemudian dikembangkan dalam ekosistem UMG Idealab.
Otoritas Cina sedang melakukan pengintaian virus corona ke tingkat baru yang lebih ketat. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa yang lebih banyak. Berbagai upaya pun dilakukan sebagai bagian dari langkah-langkah pencegahan, tak terkecuali dengan melibatkan teknologi terkini. Belum lama ini, jagat media sosial Twitter diramaikan dengan video sebuah nenek dan kakek tua yang tertangkap kamera tengah beraktivitas di luar rumah tanpa mengenakan masker.
Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat
Seperti diberitakan KabarPenumpang.com dari nypost.com, Selasa, (4/2), kamera yang berasal dari drone milik otoritas Cina tersebut memang tengah berpatroli rutin, bahkan dengan intensitas yang berlebih saat virus corona merebak. Di tengah perjalanan, drone kemudian menemukan nenek tua di sebuah perkampungan di Mongolia Dalam, Cina.
Tanpa basa basi, drone yang tersambung dengan pihak berwenang Cina, langsung mengingatkan nenek tua tersebut, melalui sistem pengeras suara pada drone tersebut, agar tidak beraktivitas di luar rumah tanpa mengenakan masker. Seketika, nenek tua, yang tampak lebih seperti orang ketakutan, kemudian berbalik arah dan berjalan agak cepat untuk menghindari seruan drone tadi.
“Ya, bibi, ini adalah drone yang berbicara kepadamu. Anda tidak boleh berjalan tanpa mengenakan masker. Ya, sebaiknya kamu pulang ke rumah dan jangan lupa cuci tangan,” ujar sebuah suara yang berasal dari drone tersebut.
“Kamu tahu, kita sudah menyuruh orang untuk tinggal di rumah, tetapi kamu masih berkeliaran di luar. Sekarang sebuah drone memperhatikanmu,” lanjutnya.
Walking around without a protective face mask? Well, you can't avoid these sharp-tongued drones! Many village and cities in China are using drones equipped with speakers to patrol during the #coronavirus outbreak. pic.twitter.com/ILbLmlkL9R
Dalam video yang berdurasi 1.44 menit tersebut, seperti dilihat KabarPenumpang.com dari laman Twitter Global Times, selain memperlihatkan teguran kepada nenek tua, di tempat terpisah yang masih di wilayah Mongolia Dalam, drone juga tampak menegur seorang kakek tua yang tengah asik beraktivitas di tengah salju.
Menariknya, bukan menuruti seruan drone tersebut, kakek tua ini malah terus asik beraktivitas. Tak lama, justru kakek tua tersebut malah tersenyum dan membuat seseorang yang berada di balik drone tersebut geram. “Jangan tertawa, sekarang cepat kembalilah ke rumah,” tegasnya.
Bila di sebuah perkampungan yang tampaknya jauh dari pusat kota, serta berjarak 1609 kilometer dari Wuhan saja otoritas Cina tak ‘kecolongan’ dalam mengawasi warganya, apalagi di tengah kota. Dalam tayangan video yang diunggah kantor berita harian Cina yang berhaluan kiri tersebut juga memperlihatkan beberapa momen dimana drone juga ‘memarahi’ warga yang tidak mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya
Sebagaimana yang telah ramai diberitakan, hingga kini, 259 orang telah dinyatakan meninggal dan 11.791 diduga telah terjangkit virus corona jenis baru tersebut. Virus yang pertama kali muncul di Wuhan ini setidaknya telah menyebar ke 12 negara, yang pada akhirnya mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengumumkan darurat kesehatan global. Di samping itu, para peneliti dari Universitas Hong Kong memperkirakan lebih dari 75.000 orang di Wuhan, kota yang berpenduduk 11 juta jiwa, dapat terinfeksi.
Otoritas Cina sendiri sudah sejak lama telah menggunakan drone canggih untuk mengawasi warga sejak 2016, terutama di daerah Cina Barat di mana ribuan Muslim Uighur dipenjara. Drone juga digunakan untuk menegakkan hukum lalu lintas dan berbagai membantu tugas-tugas kepolisian lainnya.
Wabah virus corona telah menyebabkan maskapai penerbangan di seluruh dunia menangguhkan layanan mereka ke Cina selama beberapa bulan ke depan. Di tengah pembatalan ini, bila maskapai tidak memaksimalkan penerbangan ke tujuan-tujuan favorit lainnya, hampir dapat dipastikan akan ada beberapa armada milik maskapai terdampak yang ‘menepi’.
Baca juga: Duh! Ternyata Boeing Pernah ‘Palsukan’ Dokumen Pembelian Varian 787 Dreamliner Air Canada
‘Menepinya’ armada milik maskapai-maskapai di seluruh dunia tentu saja menjadi petaka bagi industri penerbangan. Namun, tidak demikian untuk Boeing dan Rolls-Royce. Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Selasa, (4/2), Boeing 787 dengan mesin Rolls-Royce Trent 1000 memang diberitakan memiliki masalah pada mesin, terutama bagian bilah kipasnya.
Sebelum adanya virus corona, permasalahan teknis tersebut memang telah memaksa beberapa maskapai putar otak untuk menyeimbangkan antara kebutuhan reparasi pesawat 787 (Roll-Royce Trent 1000) dengan kebutuhan operasional pesawat. Pasalnya, bukan perkara mudah untuk ‘memarkirkan’ pesawat dalam waktu yang hampir bersamaan serta dalam jumlah yang banyak. Bila itu terjadi, tentu maskapai sangat kesulitan memaksimalkan operasionalnya.
Tampak mesin pesawat Virgin Atlantic tengah direparasi. Foto: Tom Boon – Simple Flying
Rolls-Royce sendiri, melalui salah satu petingginya, Chris Cholerton, sudah menyatakan permohonan maaf atas berbagai gangguan yang dialami para maskapai. Mereka berjanji akan segera melalukan tindakan efektif untuk meminimalisir kerugian yang dialami pelanggannya.
Akan tetapi, sepertinya permohonan maaf itu akan sangat sejalan dengan ‘berkah’ yang ditimbulkan akibat virus corona. Pasalnya, tanpa harus menggangu operasional maskapai, mereka tetap bisa mereparasi atau mengganti mesin Roll-Royce Trent 1000 dengan yang baru. Saat ini, terdapat beberapa maskapai yang mengoperasikan 787 dan telah mengkonfirmasi penundaan penerbangannya dari dan ke Cina.
Baca juga: Airbus A220, Pesawat Narrow-Body yang Mampu Jabani Tugas Boeing 787 Dreamliner
Di antaranya ada Air New Zealand’s yang menangguhkan layanan penerbangan Auckland ke Shanghai dengan menggunakan Dreamliner. Ada juga British Airways yang biasa menerbangkan 787-9 ke Beijing dan Shanghai. Kemudian LOT Polish Airlines menggunakan Dreamliner untuk penerbangan ke Beijing dari Tallinn (ibukota Estonia) dan Warsawa (ibukota Polandia) hingga Virgin Atlantic Airways yang mengoperasikan penerbangan hariannya ke Shanghai dengan 787-9.
Dari banyak maskapai di atas, beberapa dari mereka memang sudah memutuskan untuk mereparasi armada 787-nya serta menindaklanjuti petunjuk Otoritas keamanan penerbangan Uni Eropa atau European Union Aviation Safety Agency (EASA) baru-baru ini. Yang lainnya, masih akan terus berusaha untuk memaksimalkan rute gemuk lainnya atau memarkirkan armadanya di homebase mereka.
Sebuah pesawat Japan Airlines (JAL) yang tengah parkir di apron terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dilaporkan robek di bagian kanan belakang. Pesawat JAL JA606B tersebut robek akibat tertabrak mobil katering milik Aerofood ACS (Garuda Indonesia Group).
Baca juga: Tak Mau Duduk Dekat Penumpang Bawa Anak, Japan Airlines Hadirkan Peta dengan Ikon
Senior Manager of Branch Communication and Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Febri Toga Simatupang, sendiri sudah membenarkan kejadian tersebut. Selain itu, dilihat KabarPenumpang.com dari situs flightradar24, Senin, (3/2), pesawat nahas Boeing 767-346(ER) tersebut dijadwalkan berangkat pada 6.45 pagi dan tiba di Tokyo Narita International Airport pada 4.05 sore waktu setempat.
Meskipun tak ada korban jiwa, akibat kejadian tersebut, penerbangan JL720 dengan pesawat itu akhirnya dibatalkan. Penerbangan tersebut kemudian digantikan oleh dengan menggunakan pesawat lainnya, dengan kode penerbangan JA620J, pada jam dan waktu tiba yang nyaris sama.
Sejumlah pihak terkait pun, mulai dari ACS selaku pemilik Aerofood ACS, otoritas bandara, dan beberapa pihak terkait lainnya masih mencari tahu penyebab kejadian.
Kerusakaan yang ditimbulkan akibat ditabrak mobil katering milik Aerofood ACS. Foto: Istimewa
Hingga berita ini diturunkan, redaksi KabarPenumpang.com sudah mencoba mengkonfirmasi terkait kerusakan, lamanya proses perbaikan, bagian-bagian yang diperbaiki, hingga taksiran uang yang harus dikeluarkan dalam insiden yang sudah beberapa kali terjadi itu. Namun, redaksi belum mendapat jawaban dari pihak GMF.
Di tempat terpisah, pengamat penerbangan, Agus Pambagio, menilai insiden tersebut patut menjadi cambuk keras bagi otoritas bandara, khususnya Angkasa Pura 2 (AP 2) selaku pengelola bandara. Dalam catatannya, insiden serupa bukanlah pertama kalinya.
Dalam pengamatannya pula, petugas ACS serta petugas lainnya yang mengendarai mobil di apron memang kerap ugal-ugalan. Hal itu sebetulnya tak terkait SOP, hanya saja ketegasan dari AP 2 dalam membuat aturan yang jelas dan menindak para pengemudi yang ugal-ugalan tersebut.
Senada dengan Agus, netizen pun juga menilai insiden tertabraknya pesawat milik maskapai Jepang tersebut sangatlah tidak logis. Pada akhirnya, selain menyayangkan peristiwa nahas itu, netizen pun turut bersedih terhadap oknum pelaku yang terlibat.
“Gaji 100 tahun pun ngga akan sanggup bayar kerusakan pesawat itu apes apes…,” kata pemilik akun Uni Soviet.
“Waduuhh, itu si sopir kalo musti ngganti pake potong gaji, musti kerja berapa abaaaaddd ??,” tulis akun @paparocknroll74
Baca juga: Tak Lagi Diperagakan Awak Kabin, Instruksi Keselamatan Japan Airlines Hadir Dalam Bentuk Video Lucu
Sebagaimana yang ramai dibicarakan sebelumnya, jagat media sosial Twitter dihebohkan oleh sebuah pesawat JAL yang robek di bagian lambung sebelah kanan belakang pesawat. Akibat kejadian itu, pesawat harus menjalani reparasi di GMF Aeroasia (Garuda Maintenance Facility Aeroasia).
Sampai pada pukul 6.26 sore ini, video yang diunggah @aviatren ini telah ditonton sebanyak 115 ribu pengunjung, serta mendapat ratusan likes dan comment. Saking hebohnya, kantor berita Jepang, Sepctee News, melalui laman Twitternya, @spectee_news pun turut mengomentari kejadian tersebut.
Mulai 5 Februari 2020 mendatang pukul 00.00 WIB, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan memutuskan melakukan penundaan penerbangan dari dan ke seluruh wilayah Cina Daratan (tidak termasuk Hong Kong dan Makau), hingga batas waktu yang akan ditentukan kemudian.
Baca juga: Awak Kabin Tidak Direkomendasi Gunakan Masker Terkait Virus Corona, Ini Penjelasannya!
“Penundaan sementara ini ditujukan untuk melindungi masyarakat dari risiko tertular mengingat salah satu yang menjadi potensi masuknya penyebaran virus adalah akses transportasi udara yang erat kaitannya dengan keluar masuknya penumpang internasional,” ujar Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, di Jakarta (2/2), sebagaimana rilis yang diterima KabarPenumpang.com.
Dengan keputusan ini, lanjutnya, seluruh maskapai Indonesia diminta untuk menunda seluruh rencana penerbangan dari dan ke seluruh Cina hingga waktu yang belum ditentukan, bergantung pada situasi dan kondisi penyebaran virus corona di negara tersebut. Tak hanya penerbangan dari Indonesia ke Cina, maskapai asing yang melakukan penerbangan dari Cina menuju Indonesia, termasuk penerbangan transit dari Cina, diminta untuk menunda sementara penerbangan menuju Indonesia.
Pemerintah meminta maskapai nasional maupun asing untuk mempersiapkan diri dengan tetap mengutamakan kepentingan konsumen dan menyampaikan rencana penundaan sedini mungkin sesuai prosedur yang berlaku agar kerugian penumpang dapat diminimalisir.
Menanggapi penutupan rute dari dan ke Cina tersebut, pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio mengatakan, keputusan tersebut dipastikan akan membuat maskapai merugi. Meskipun laporan keuangan maskapai pada periode tahun lalu belum keluar, namun, ia memastikan bahwa maskapai pasti akan merugi. “Pasti rugi besarlah,” katanya kepada KabarPenumpang.com, Senin, (3/2).
Namun, pengamat yang juga eks Wakil Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ini memberikan pengecualian. Kerugian besar yang menunggu di depan mata mungkin dapat dihindari bila maskapai melakukan hal lainnnya.
“Tergantung maskapainya juga. Kalau dari rute-rute lainnya bisa menutup, ya bisa aja (tidak rugi). Tapi kalau tidak, ya pasti rugi besar lah,” tambahnya.
Sebagaimana yang umum diketahui, di Indonesia sendiri, saat ini tercatat lima maskapai nasional yang mengoperasikan penerbangan ke Cina, yakni Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, Lion Air, dan Sriwijaya Air.
Garuda Indo sendiri, memiliki penerbangan dari dan menuju Cina ke lima kota, meliputi Beijing, Shanghai, Guangzhou, Zhengzhou dan Xi’an. Setiap pekannya, maskapai pelat merah itu melayani sebanyak 30 penerbangan.
Sementara itu, Lion Air, tercatat memiliki 15 rute ke Cina, meliputi Xi’an, Beijing, Shanghai, Guangzhou, Zhengzhou, hingga Wuhan. Berbeda dengan Garuda Indonesia, Lion Air memiliki frekuensi yang lebih banyak, sekitar 45 penerbangan dari 15 rute tersebut setiap pekannya.
Baca juga: Coronavirus Menyebar! Air China Cek Langsung Kesehatan Penumpang di Dalam Kabin
Bila diambil rata-rata 30 penerbangan dalam sepekan, plus rata-rata okupansi 80 persen serta dikalikan lima maskapai, maka total potensi kerugian maskapai-maskapai tersebut mencapai Rp120 miliar per pekan. Bila penundaan rute dari dan ke Cina berlangsung selama sebulan, maka total potensi kerugian yang dihasilkan kellima maskapai tersebut mencapai Rp2,4 triliun.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi KabarPenumpang.com sebetulnya sudah mencoba untuk menghubungi pihak-pihak terkait, di antaranya Lion Grup, Garuda Indonesia, dan Sriwijaya Air terkait potensi kerugian yang akan dialaminya. Namun, ketiganya belum memberikan jawaban.
Sebanyak 238 warga negara Indonesia yang dibawa dari Bandara Internasional Tianhe Wuhan menggunakan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan 8618, berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Hang Nadim, Batam, Minggu (2/2) waktu setempat.
Baca juga: Evakuasi WNI di Wuhan Bakal Gunakan Pesawat Widebody Airbus A330
Misi kemanusiaan yang juga melibatkan sejumlah instansti terkait, di antaranya ialah Kementerian Perhubungan, TNI-Polri, Kantor Kesehatan Pelabuhan Batam, Pemerintah Kabupaten Natuna, Kementerian Luar Negeri, Otoritas Bandara Hang Nadim Batam, hingga Kementerian Kesehatan, tersebut juga didukung oleh teknologi HEPA (pada pesawat Airbus A330-300), yang diklaim mampu membersihkan udara di dalam kabin.
Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman airpurifiers.com, Senin, (3/2), teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 2,5 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. Udara kotor di sini bisa diartikan semacam bakteri, bau tak sedap, hingga virus. Tak terkecuali virus corona yang tengah menjadi sorotan dunia, khususnya dalam misi penyelamatan WNI dari Wuhan kemarin.
Penggunaan teknologi HEPA dalam misi kemanusiaan tersebut memang sangat tepat, mengingat, partikel yang bila diibaratkan hanya 3 persen dari diameter rambut manusia tersebut (virus corona yang serta virus dan bakteri lainnya yang tak kasat mata) tak mudah dicegah dengan hanya menggunakan masker. Terlebih, masker yang digunakan ialah masker harian yang biasa dikenakan banyak orang. Adapun masker N95 sekalipun (umumnya berwarna putih dengan penyaring di depannya) persentase pencegahannya juga tak terlalu besar, bisa sewaktu-waktu menembus sistem saringan pada masker tersebut dan terhirup oleh manusia.
Bila hal itu terjadi, partikel udara yang dinilai paling mematikan secara perlahan tanpa disadari tersebut lama-kelamaan akan menumpuk di paru-paru dan organ lain hingga bisa menyebabkan munculnya penyakit pernapasan, asma, hingga penyakit jantung. PM 2,5 juga ampuh untuk membuat penyakit-penyakit tersebut makin parah hingga bisa memicu kematian dini. Tak heran, bila PM 2, yang di dalamnya termasuk virus corona, membuat banyak pengidapnya, sebagaimana video viral di media sosial Twitter, jatuh bergelimpangan bak daun-daun pohon yang berguguran.
HEPA sendiri mulai dikembangkan oleh ilmuan pada 1950. Kala itu, Komisi Energi Atom AS membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan partikel radioaktif kecil, sehingga dikembangkanlah filter HEPA ini. Sejak itu, filtrasi HEPA telah digunakan dalam pembersih udara untuk membersihkan dalam ruangan di berbagai tempat, seperti ruang medis dan salon kecantikan. Teknologi HEPA juga merupakan bagian dari perawatan yang digunakan oleh dokter untuk membantu meringankan gejala alergi dan asma.
Cara kerja dari teknologi HEPA sendiri, dalam hal ini pada sistem HEPA Cabin Air Filter, ialah sebagian udara yang berasal dari dalam dibuang ke luar kabin. Sementara itu, sisanya dipompa melalui filter udara HEPA dan diklaim 99 persen bakteriologis di dalamnya menghilang.
Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan
Perputaran sirkulasi udara dalam pesawat yang dilengkapi HEPA Cabin Air Filter juga tergolong cepat. Berkisar diangka 15 hingga 30 kali per jam atau satu hingga dua kali per menit untuk mengubah partikel udara kecil yang berbahaya menjadi aman untuk tubuh.
Pada umumnya, sistem kerja teknologi HEPA menggunakan tiga lapis sistem. Mula-mula udara diserap oleh sistem filter pertama. Saat proses penyaringan tersebut, virus, bakteri dan lainnya masih belum terserap. Kemudian, pada saringan yang kedua, virus, bakteri, dan partikel udara tak sehat lainnya sudah bisa terserap, namun bau tak sedap dan sejenisnya belum. Barulah pada sistem penyaringan ketiga, semua bau dapat terserap, sehingga menghasilkan udara yang sehat dan tak berbau.
Pesawat Batik Air A330-300CEO dengan registrasi PK-LDY pada 2 Februari 2020 kemarin menjalani proses sterilisasi. Proses ini dilakukan maskapai dengan pembersihan yakni penyemprotan dan penggantian saringan udara kabin serta perawatan berkala selama beberapa hari di Bandara Internasional Hang Nadim Batam.
Baca juga: Evakuasi WNI di Wuhan Bakal Gunakan Pesawat Widebody Airbus A330
Pensterilan ini dilakukan setelah pesawat A330-300CEO dengan kode penerbangan ID-8618 tersebut mengangkut 238 penumpang WNI dari Wuhan, Cina ke Batam. Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group mengatakan, pensterilan pesawat ini pihak batik Air bekerja sama dengan kantor kesehatan pelabuhan (KKP) Batam, TNI Angkatan Udara, pusat perawatan pesawat Batam Aero Technic (BAT).
Setelah penumpang selesai di evakuasi, pihak KKP mulai melakukan pensterilan dengan penyemprotan cairan multiguna atau semprotan desinfektan (disinfectant spray) pembunuh kuman, bakteri, virus dan lainnya. Penyemprotan tersebut dilakukan pada kabin, kokpit dan kompartemen kargo di bagian bawah pesawat.
Danang menjelaskan, pengerjaan tersebut dilakukan selama 120 menit atau dua jam. Kemudian tim BAT melakukan penggantian HEPA (High Efficiency Particulate Air) filter yang merupakan alat penyaring untuk sirkulasi udara dalam pesawat.
“Kami lakukan ini karena prosedur tersebut sesuai dengan anjuran dari Airbus. Sebab, sistem HEPA sangat efektif untuk menyaring virus dalam sirkulasi udara kabin pesawat,” kata Danang yang dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (3/2/2020).
Dia menambahkan, setelah semua HEPA filter dilepas, kemudian dibungkus menggunakan pembungkus khusus dan diserahkan kepada pihak berwenang untuk pemusnahan dengan di bakar. Atas sterilisasi dan nomor registrasi pesawat yang tersebar ini, pihak Lion Air Group mengatakan tidak khawatir penumpang akan menghindari menggunakan pesawat tersebut.
“Kami tidak takut karena hal ini sudah diinfokan Lion dan Batik. Sebab kami sudah operasikan sesuai peraturan dan prinsip-prinsip kesehatan dan kami lakukan untuk tindakan prefentif,” kata Danang.
Bahkan menurutnya, karena sudah dilakukan sterilisasi dengan pembersihan dan penyemprotan cairan disinfectant dan penggantian HEPA Filter penumpang tak lagi perlu khawatir.
“Kami ke sana juga karena misi penyelamatan, karena itu dengan semua sterilisasi yang sudah dilakukan, penumpang tak lagi perlu takut ketika naik pesawat tersebut,” tambahnya.
Baca juga: Inilah Berbagai Macam Masker, Diantaranya Bisa Menghalau Virus Corona
Diketahui, pesawat Batik Air A330-300CEO berangkat dari Bandara internasional Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Tianhe Wuhan pada 1 Februari 2020 pukul 13.00 WIB dengan mengangkut 18 kru dan 30 tim medis. Pesawat tiba di Bandara Internasional Tianhe Wuhan pukul 19.00 waktu setempat. Kemudian pesawat kembali dari Bandara Internasional Tianhe Wuhan pukul 04.30 waktu setempat dan tiba di Bandara Hang Nadim Batam pukul 08.30 WIB dengan mengangkut 238 WNI.
Menjadi yang pertama di Eropa, Spanyol akan mulai meluncurkan bus listrik otonom di jalanan kota. Bus ini merupakan milik Irizar yang akan diberikan kepada dewan kota Malaga dan digunakan dalam beberapa bulan oleh Avanza di Malaga.
Baca juga: Harapan untuk Transportasi Jakarta, Ada Bus Listrik dengan Teknologi Pantograf
Bus listrik otonom tersebut memiliki body yang besar dengan panjang 12 meter dan memiliki kapasitas 60 orang. KabarPenumpang.com melansir laman insideevs.com (30/1/2020), layanan reguler bus tersebut akan meluncur dari pelabuhan menuju pusat kota di Malaga.
Uniknya, bus milik Irizar ini bisa dikemudikan dengan dua mode yakni manual dan otomatis (autopilot). Untuk mode otomatis Irizar akan memantau dari pusat kendali.
“Bus otonom pertama ini adalah buah dari Proyek AutoMost yang didanai oleh CDTI (Pusat Pengembangan Teknologi Industri) Kementerian Ekonomi Spanyol yang bertujuan untuk mengembangkan teknologi untuk otomatisasi kendaraan dalam aplikasi transportasi perkotaan dan industri, untuk membuat peningkatan yang signifikan dalam efisiensi, keselamatan dan keberlanjutan. Avanza berpartisipasi sebagai operator dengan 11 mitra, termasuk Irizar Group melalui Irizar e-mobilitas dan Datik,” kata Hector Olabegogeaskoetxea, Direktur Utama Irizar e-mobilitas.
Dia mengatakan, proyek ini juga memiliki partisipasi dari politeknik Universitas Madrid, Insia, CEIT-IK4 dan Universitas Vigo. Hector menjelaskan, Malaga akan menjadi kota pertama yang menggunakan bus otonom yang akan meluncur di sepanjang jalan dari pelabuhan ke pusat kota.
Bus listrik otonom tersebut akan mentransfer penumpang kapal pesiar yang tiba untuk melanjutkan perjalanan mereka ke ibukota Malaga. Dengan mode otomatis, bus akan menggunakan penentuan posisi dan sistem panduan berpresisi tinggi dan akan terhubung ke pusat kontrol dari instruksi spesifik dapat dikirim ke setiap unit dan bus dapat dipantau dan rencana perjalanan mereka diakses secara real time.
“Setelah tiga tahun bekerja, uji coba diluncurkan di Malaga. Seperti dikomentari, inovasi utama AutoMost adalah menempatkan kendaraan ukuran standar ke dalam sirkulasi dalam situasi lalu lintas nyata di kota dan bukan di ruang yang dipesan atau di area terbatas,” kata Hector.
Baca juga: Kurangi Emisi, Pemerintah Sydney Bakal Ganti 8000 Bus Diesel Menjadi Bus Listrik
“Kami percaya bahwa bus ini siap untuk memulai uji coba dalam kondisi operasi nyata di jalan raya umum, dalam situasi lalu lintas nyata di kota Malaga. Ini adalah tes pertama jenis ini dengan bus sebesar ini di Spanyol. Tes ini tidak diragukan lagi akan memberikan data dan pengalaman dalam operasi praktis sehari-hari, yang akan berkontribusi pada kemajuan dalam tantangan besar ini untuk masa depan Grup Irizar,” tambahnya.
Jepang memang terkenal dengan budayanya yang ramah dan elegan. Hal itu disebut “Omotenashi” dan diterjemahkan secara sederhana sebagai keramahan – atau menawarkan perhatian tanpa pamrih kepada pelanggan. Banyak hal yang dapat diuji dari budaya tersebut. Salah satunya mungkin terlihat dari supir taksi di sana, salah satunya Norihito Anima.
Baca juga: Undang-undang Emisi di India, Singkirkan Taksi Ikonik “Premier Padmini”
Wisatawan di Jepang memang kerap menyebut namanya, khususnya bagi wisatawan yang merasakan layanan dari dirinya. Betapa tidak, sebagai seorang supir taksi, ia menjalankan tugasnya bak seorang bos besar, menggunakan jasi dan dasi, bahkan terkadang dilengkapi dengan sarung tangan putih. Lebih mirip James Bond si agen intelijen 007 Inggris ketimbang sebagai supir taksi.
Di samping pribadi yang memang gemar dengan kebersihan dan kerapihan, dari sisi regulasi operator taksi, pengemudi memang tidak diperbolehkan memiliki tato atau memakai kacamata hitam, dan pria harus dicukur bersih.
Operator bahkan melengkapi pengemudi dengan berbagai standar teknis pelayanan, seperti bagaimana dan kapan harus berbicara dengan penumpang, sanitasi taksi, dan membuka pintu bagi pelanggan.
Menjelang Olimpiade Musim Panas 2020 mendatang di Tokyo, Jepang, layanan taksi memang menjadi perhatian. Hal itu diakibatkan oleh pengalaman pada Olimpiade Beijing sebelumnya, dimana pengemudi yang kurang terlatih, mobil butut, dan pakaian sembrono. Atas insiden itu, pemerintah pun menerbitkan aturan bagi pengemudi untuk berhenti meludah, membersihkan taksi, dan memperingatkan tentang makan di tempat kerja. Namun, hal tersebut rasanya tak akan terjadi saat olimpiade yang akan di helat pada akhir Juli mendatang tersebut.
“Orang Jepang memiliki kebanggaan dalam layanan ini. Dalam konsep barat, seorang individu independen. Tapi kami orang Jepang itu homogen. Kami menganggap satu sama lain sebagai bagian dari masyarakat, komunitas. Jadi kehormatan yang kita dapatkan sebagai kelompok adalah bagian dari kehormatan yang didapat setiap anggota,” kata Norihito, seperti dikutip dari The Associated Press, Jum’at, (31/1).
Namun, Jepang tentu saja tidaklah sempurna. Di transportasi publik yang ramai pelayanan yang baik bahkan sulit ditemui di Jepang. Belum lagi masalah orang Jepang yang kerap terburu-buru mengejar pekerjaan hingga menabrak orang lain saat berjalan kaki tanpa minta maaf.
Meski demikian, Jepang memiliki tingkat kejahatan yang rendah, yang merupakan kabar baik bagi wisatawan, tak terkecuali bagi pengemudi taksi. Tapi Tokyo di malam hari menyajikan budaya minum-minuman keras yang dapat – secara harfiah – berakhir kacau, seperti yang dialami Norihito.
“Orang-orang mabuk dan kadang-kadang mereka muntah di dalam mobil, dan kita harus membersihkan mobil,” ujar Norihito. ia mengatakan secara rutin menawarkan tas yang dirancang khusus untuk pelanggan limbung. Jika itu tidak berhasil, dan itulah yang disebutnya sebagai “kerusakan kecil,” ia dapat membersihkannya dan terus mengemudi. Jika terlalu buruk, otomatis ia tak akan melanjutkan kerjaannya. Sisanya digunakan untuk membersihkan sisa-sisa ‘kekacauan’.
Norihito mengatakan “kekacauan” terjadi beberapa kali dalam setahun dan berdasarkan kebijakan perusahaan, pengemudi diberitahu untuk tidak menagih ongkos dari para pelanggan ini. Luar biasa, bukan?
Dia melanjutkan, bukan perkara mudah untuk menghindari peminum berat. Dengan sedikit pengecualian, hukum memang mengharuskan pengemudi untuk menjemput pelanggan yang meminta memesan layanan mereka. Selain itu, tidak mungkin untuk mengabaikan pelanggan jika reservasi telah dipesan sebelumnya. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kembalilah dan bersihkan, dan hanya itu,” tambahnya.
Norihito sendiri memiliki gelar MBA dan berbicara bahasa Inggris dengan lancar. Untuk pengemudi yang tidak, perusahaan memiliki tablet untuk membantu dengan bahasa dan hotline untuk keadaan darurat terjemahan.
Walaupun sebagai hanya sebagai supir, Norihito dapat memperoleh sekitar 50.000-60.000 yen – sekitar $ 450-550 – dalam shift 18 jam. Driver tetap separuh dan perusahaan mendapat separuh lainnya.
Norihito mengaku bahwa ketika dia mulai mengemudi tiga tahun lalu – dia melepaskan “pekerjaan kantor yang membosankan” sebagai analis data – dia hampir tidak tahu jalan di sekitar Tokyo, wilayah dengan populasi sekitar 35 juta.
Baca juga: Taksi Hybrid Plug-In Diluncurkan Geely di Tokyo
“Aku tidak bisa memberi tahu Shibuya dari Shinjuku,” katanya, meski telah melewati ujian yang jauh lebih tidak ketat daripada, katakanlah, ujian “Pengetahuan” London yang terkenal untuk pengemudi taksi.
“Tidak ada pekerjaan mudah di Jepang, tetapi relatif saya merasa nyaman melakukan pekerjaan ini,” katanya. “Saya suka karena saya bisa melakukannya sendiri. Tentu, ada masalah tetapi saya tidak perlu terlibat dalam politik kantor,” tutupnya.