Pernah Kecelakaan di Indonesia Juga, Berikut Spesifikasi Helikopter Kobe Bryant Sikorsky S-76B
Senin (27/1/2020) pagi waktu Indonesia, dunia dikejutkan dengan tersiarnya kabar duka dari legenda basket asal Negeri Paman Sam, Kobe Bryant. Pebasket 41 tahun tersebut tewas akibat kecelakaan helikopter Sikorsky S-76B di Calabasas, California. Tak hanya pebasket yang telah memenangi lima gelar juara NBA tersebut saja, insiden nahas itu juga merenggut nyawa anaknya, Gianna Maria Onore, serta tujuh orang lainnya.
Baca juga: Lockheed Martin VH-92A, Helikopter Kepresidenan AS Terbaru, Siap Mengudara di 2020
Seperti dikutip dari laman usatoday.com, Senin, (27/1), hingga kini, Lockheed Martin selaku produsen helikopter itu, menyebut pihaknya, bekerjasama dengan otoritas setempat (NTSB) tengah masih melakukan proses penyelidikan untuk menguak penyebab utama kecelakaan tersebut. Namun, terlepas dari insiden nahas ini, helikopter Sikorsky S-76B sebetulnya punya spesifikasi lumayan, sekalipun tergolong ‘tua’.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, proses pengembangan helikopter Sikorsky S76 dimulai pada pertengahan tahun 70-an. Setelah serangkaian uji coba, helikopter dengan turbin ganda tersebut akhirnya pertama kali diluncurkan pada 1977 setelah sukses melakukan uji terbang perdana. Dua tahun kemudian, Federal Aviation Administration (FAA) pun resmi memberikan sertifikasi yang menandakan helikopter tersebut sudah layak secara komersial.
Dari segi varian, S-76B yang dijual perdana pada tahun 1979 ini memiliki total 14 tipe. 10 tipe untuk keperluan sipil dan sisanya militer. Adapun helikopter yang digunakan Kobe Bryant adalah tipe S-76B atau Sikorsky S-76B.
Dengan didukung oleh dua mesin PT6B-36 buatan Pratt & Whitney Canada, helikopter ini mampu mengudara dengan kecematan maksimum 287 kilometer per jam, dengan ketinggian maksimum hingga 4572 meter. Selain itu, helikopter yang dirintis oleh Igor Sikorsky ini juga memiliki daya jelajah sejauh 533 kilometer.
Menurut catatan FAA, helikopter dengan nomor registrasi N72EX yang merenggut nyawa Kobe Briyant, dimiliki oleh perusahaan transportasi udara Island Express Holding Corp. Sejauh ini, belum jelas apakah pesawat tersebut disewa atau sudah dibeli oleh Kobe.
Meskipun tergolong pesawat tua atau belum dilengkapi dengan teknologi mutakhir, data di situs Aviation Safety Network menampilkan ada 112 kecelakaan helikopter Sikorsky S-76B dalam kurun 1978 hingga 2020 (42 tahun), termasuk tiga kecelakaan yang terjadi di Indonesia pada 1994 dan 2000 (Pelita Air Service) dan 2015 (Hevlift Aviation).
Baca juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara
Dengan demikian, rata-rata ada 2,6 kecelakaan helikopter Sikorsky S-76B di dunia dalam setiap tahunnya. Angka ini menurut sebagian kalangan tergolong rendah untuk sebuah helikopter dengan spesifikasi twin engine.
Sikorsky S-76 mengusung desain turbin ganda (twin-turbin), maka jika satu turbin yang menggerakkan baling-baling (rotor) mati, masih ada pendukungnya. Untuk diketahui, rata-rata kecelakaan fatal yang dialami helikopter twin-turbin sepanjang 2010-2017 (satu dekade) menurut Flight Global adalah satu dari 560 helikopter. Tak heran, jika hingga kini, Sikorsky S-76 telah terjual sebanyak 875 unit di seluruh dunia, termasuk 103 unit Sikorsky S-76B seperti yang digunakan oleh Kobe Bryant.
KA Kaligung – Dulu Gunakan Rangkaian KRD, Kini Gunakan Kelas Ekonomi New Image
Kereta Api Kaligung yang mulai beroperasi pada 1999 lalu, pada awal pengoperasiannya menggunakan armada KRD MCW dengan pembagian kelas ekonomi dan bisnis. KA Kaligung sendiri bisa dikatakan kereta api lokal komersial yang dioperasikan PT kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 4 Semarang.
Baca juga: Mulai 1 Desember, KA Kalijaga Berhenti Beroperasi Setelah Penetapan Gapeka 2019
Diawal beroperasi, KA Kaligung memiliki relasi Tegal – Semarang Poncol dan Semarang Poncol – Brebes (PP). Namun setelah grafik perjalanan kereta (Gapeka) 2019 mulai diberlakukan, relasi KA Kaligung diperpanjang dari Stasiun Cirebon Prujakan ke Stasiun Semarang Poncol.
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, nama KA Kaligung diambil dari nama sebuah sungai di Tegal yakni Kali Gung. KA yang satu ini ternyata membeli rangkaian keretanya tidak dengan bantuan Kementerian Pergubungan.
Kemudian pada 1 Desember 2010, KA Kaligung Mas muncul sebagai kereta unggulan dari KRD Kaligung bisnis dan ekonomi. Rangkaiannya saat itu menggunakan bekas KA Cirebon Ekspres dari Tegal ke Jakarta.
Saat itu Kaligung Mas berangkat dari Stasiun Tegal dan berhenti di Stasiun Pemalang, Pekalongan, Semarang Poncol dan berakhir di Semarang Tawang. Dulu rangkaian KA Kaligung ekonomi menggunakan C-KRDE dan kemudian diganti dengan ekonomi AC.
Kemudian kereta C-KRDE bekas KA KAligung dikirim ke Dipo Lokomotif Solo Balapan untuk bantuan rangkaian KA Prambanan Ekspres I dan II. Kemudian pada 1 Februari 2012, Daop 4 Semarang menambah perjalanan KA Kaligung sekaligus layanan ini melebur KA Kaligung Mas dan KA Kaligung menjadi satu.
Pada 12 Januari 2016 KA Kaligung memiliki rangkaian khusus bertemakan Borobudur yang memiliki ciri khas tersendiri yakni interior bernuansa kayu dan setiap kereta memiliki TV serta kereta makan yang bertemakan Borbudur. Mulai 7 Februari 2017, KA Kaligung Borobudur digantikan dengan rangkaian ekonomi plus new image 2016 dan tarifnya pun flat alias sama seperti sebelumnya.
Setelah Gapeka 2019, KA Kaligung yang menggunakan kereta dengan kelas Ekonomi New Image memiliki fasilitas setara kelas eksekutif. Tarif tiket KA Kaligung mulai dari Rp40 ribu hingga Rp70 ribu. Sedangkan khusus relasi Cirebon – Tegal sebesar Rp20 ribu dengan ketentuan pembelian tiket dua jam sebelum keberangkatan dan jika kursi tersedia.
Baca juga: KA Argo Parahyangan Excellence Beri Snack Gratis dan Bagasi Sepeda
Berikut jadwal KA Kaligung relasi Semarang – Cirebon yakni berangkat dari Semarang Pocol pukul 05.00 WIB, Waleri pukul 05.26 WIB, Pekalongan 06.25 WIB dan Pemalang pukul 06.45. Sedangkan relasi Cirebon – Semarang Poncol yakni, Cirebon Prujakan pukul 09.10 WIB, Babakan 09.31 WIB, Losari 09.43 WIB, Tanjung 09.52 WIB dan Brebes 10.10 WIB.
Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya
Otoritas Cina telah memperingatkan kepada seluruh dunia agar tidak melakukan perjalanan ke Wuhan (kecuali urusan penting). Selain itu, beberapa maskapai penerbangan juga mengeluarkan keringanan yang memungkinkan pelancong untuk mengubah rencana mereka (ke Wuhan atau Cina pada umumnya) tanpa dikenakan potongan biaya.
Baca juga: Antisipasi Coronavirus, Cathay Pacific Izinkan Pramugari Kenakan Masker
Belakangan, kekhawatiran memang semakin meningkat terkait penyebaran virus corona yang telah menewaskan sedikitnya 17 orang di Cina. Tak hanya itu, hingga kini, setidaknya 600 kasus juga telah dikonfirmasi, dengan 15 atau lebih pekerja medis terinfeksi melalui kontak antar manusia.
Wabah ini diduga pertama kali dimulai lewat pasar hewan hidup di Wuhan. Sebagian besar kasus berada di pusat kota itu sendiri, yang saat ini telah secara efektif diisolasi. Penerbangan, kereta api, dan angkutan umum semuanya telah dihentikan. Tak ada yang boleh keluar masuk kecuali urusan sangat penting.
Sebaran virus corona belakangan ini juga telah dilaporkan di Shanghai, Beijing, dan Hong Kong, dengan kasus-kasus lainnya juga dikonfirmasi di Jepang, Thailand, dan Korea Selatan. Selain itu sebuah kasus telah dikonfirmasi di Seattle, Washington, oleh mereka yang baru pulang dari Cina.
MRC Centre Imperial College untuk Global Infectious Disease Analysis percaya jumlah kasus aktual jauh lebih tinggi. Pada 18 Januari 2020, mereka memperkirakan di Wuhan saja sudah ada sekitar 4.000 kasus.
Dengan jutaan orang yang bepergian untuk merayakan Tahun Baru China pada 25 Januari dan Festival Musim Semi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan akan lebih banyak kasus akan terjadi. Dikutip dari laman independent.co.uk, Jum’at (24/1), berikut tips dan ulasannya.
Tentang Virus Corona
Virus corona yang menjangkit di seluruh dunia saat ini adalah virus corona jenis baru. Coronavirus, (disingkat CoV) disebut demikian karena, di bawah mikroskop, ia tampaknya memiliki pinggiran melingkar.
Biasanya coronavirus atau virus corona menyebabkan pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, demam, dan apa yang oleh Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC) disebut sebagai “perasaan tidak sehat”. Ia (CDC) menambahkan, “Kebanyakan orang terinfeksi virus ini di beberapa titik dalam kehidupan mereka. Penyakit-penyakit ini biasanya hanya berlangsung dalam waktu singkat.”
Meskipun demikian, coronavirus diduga dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan bawah, mirip seperti pneumonia, terutama bagi mereka yang sangat muda (anak-anak) atau tua dan mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah.
Bagaimana cara penularannya?
Public Health England (PHE) pernah mengatakan, “Karena WN-CoV baru-baru ini diidentifikasi, saat ini terdapat informasi terbatas tentang rute transmisi yang tepat.
“Coronavirus terutama ditularkan oleh saluran pernapasan besar dan kontak langsung atau tidak langsung dengan objek yang terinfeksi.”
Walaupun belum banyak penelitian membuktikan cara penularannya, disarankan agar tetap waspada. Selain itu, tak ada salahnya bila satu sama lain berasumsi bahwa partikel-partikel udara yang dikeluarkan oleh orang yang sakit dapat menyebabkan orang lain tertular.
Seberapa cepat seseorang dapat dikatakan terinfeksi?
MRC Centre mengatakan bahwa penetapan antara infeksi dan deteksi adalah 10 hari – terdiri dari masa inkubasi lima hingga enam hari, dan diperkirakan penundaan empat atau lima hari dari timbulnya gejala hingga deteksi dan perawatan di rumah sakit suatu kasus.
Wakil Menteri Departemen Kesehatan Nasional Cina, Li Bin, mengatakan, “Meskipun cara penyebaran virus belum sepenuhnya dipahami, ada kemungkinan mutasi virus dan risiko penyebaran epidemi lebih lanjut.”
Apakah ini terkait dengan Sars?
Sampai tingkat tertentu. “Sindrom pernafasan akut yang parah” adalah virus corona yang menyebar, terutama di Asia Timur, pada akhir 2002 dan 2003. Hampir 800 orang meninggal selama wabah, tetapi tidak ada kasus yang dilaporkan sejak 2004.
Virus lain yang hampir sejenis, Mers atau sindrom pernapasan Timur Tengah telah mempengaruhi orang-orang di Timur Tengah, khususnya Semenanjung Arab, sejak 2012.
Apa yang dilakukan untuk mencegah penyebaran?
Organisasi Kesehatan Dunia saat ini mengatakan, “Berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, WHO tidak merekomendasikan larangan perjalanan atau perdagangan.”
Namun, beberapa negara, termasuk Inggris, sudah mulai memperketat masuknya penumpang yang tiba dengan penerbangan dari Wuhan. Hal ini dikarenakan orang yang tertular virus tidak akan menunjukkan gejala apa pun selama lima hari pertama. Selain kedatangan dari langsung dari Wuhan, mereka tidak terlalu memperketat pengecekan terhadap penumpang.
Kedatangan pertama saat virus corona mulai merebak di Bandara Heathrow, London, adalah China Southern 673 pada hari Rabu 22 Januari. Petugas kesehatan pun memeriksa penumpang yang mengalami gejala coronavirus dan memberikan informasi kepada penumpang lainnya tentang gejala, dan apa yang harus dilakukan jika mereka sakit.
Jika semua penerbangan dari Wuhan dihentikan, hal itu akan lebih mempermudah kinerja otoritas bandara, mengingat saat ini, Pemerintah China sudah mulai mengisolasi Wuhan.
Di beberapa bandara lain, seperti di AS, wisatawan dari Cina yang masuk lewat tiga bandara di AS – Los Angeles, New York JFK, dan San Francisco – menjalani pemeriksaan suhunya dan mengisi “kuesioner gejala” yang menanyakan apakah mereka menderita demam, batuk, atau kesulitan bernapas.
Australia juga demikian. Mereka mengatakan akan memperketat kedatangan dari Wuhan. Bandara Dubai di UEA, tempat banyak penumpang transit, mengatakan akan melakukan pemeriksaan termal pada semua penumpang yang datang dari Cina, bukan hanya dari Wuhan itu sendiri.
Di mana bandara utama di mana wisatawan yang terinfeksi mungkin berada?
Menurut analisis jadwal penerbangan oleh John Grant dari OAG, Bangkok adalah tujuan internasional paling populer dari Wuhan, diikuti oleh Hong Kong (digolongkan sebagai kedatangan internasional meskipun merupakan bagian dari Cina), Tokyo, Seoul, dan Taipei. Adapun di dalam negeri, Guangzhou adalah bandara terkemuka untuk pelancong dari Wuhan.
Apa yang mesti diperhatikan?
Kebersihan adalah hal dasar yang harus diperhatikan oleh setiap wisatawan.Harus sering mencuci tangan dengan sabun, menghindari kontak dekat dengan siapa pun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan seperti batuk dan bersin, dan menghindari hidangan daging dan telur yang belum dimasak dengan matang.
Selain itu, jangan lupa untuk mengenakan masker yang teruji secara medis dapat memberikan perlindungan bagi pemakainya (bukan sembarang masker) dan bisa melindungi pengguna jika berhadapan langsung dengan orang yang terinfeksi.
Bagi siapa pun yang merasa bahwa mereka mungkin telah tertular virus tersebut, Dr Nick Phin, wakil direktur Layanan Infeksi Nasional PHE, mengatakan, “Orang tersebut harus mencari pertolongan medis jika mereka mengalami gejala aneh pada pernapasan dalam 14 hari setelah mengunjungi Wuhan, baik di Cina atau saat mereka kembali ke negara asal.”
Ingin melakukan perjalanan ke Asia. Apa saja pilihannya?
Perjalanan ke Wuhan tidak mungkin dilakukan sampai wabah dianggap terkendali, dan setiap pelancong yang tetap pergi ke sana, menentang saran dari Departemen Luar Negeri, tidak akan ditanggung oleh kebijakan asuransi perjalanan standar.
Maskapai yang melayani Wuhan sendiri menawarkan pengembalian dana, dengan sebagian besar dari mereka tidak mengenakan potongan biaya apapun. Adapun perjalanan ke tempat lain di Cina dan wilayah sekitarnya, tidak ada hak umum untuk pengembalian dana dari para maskapai yang bersangkutan.
Seorang juru bicara British Airways mengatakan, “Kami memantau situasi dengan cermat, dan penerbangan kami terus beroperasi seperti biasa. Seperti maskapai lain, kami berhubungan erat dengan pemerintah dan organisasi kesehatan dan mengikuti saran mereka.”
Baca juga: Coronavirus Menyebar! Air China Cek Langsung Kesehatan Penumpang di Dalam Kabin
Beberapa perusahaan menawarkan fleksibilitas. IHG, jaringan hotel global yang meliputi Holiday Inn, InterContinental, dan Kimpton, memungkinkan pembatalan bebas penalti untuk pemesanan hotel dan sejenisnya di daratan Cina, Hong Kong, Makau, dan Taiwan, hingga 3 Februari 2020 mendatang.
Mereka mengatakan kebijakan itu “sebagai tanggapan terhadap wabah coronavirus baru-baru ini dan untuk memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan karyawan kami”.
Tak Mau Naik di Gerbong Khusus Wanita, Ternyata Ini Alasan Para Wanita Jepang
Perusahaan kereta Jepang yakni East Japan Railway Co. (JR East) dan Tokyo Metro Co. menyediakan gerbong khusus wanita antara pukul 07.00 pagi dan 09.30 pagi. Sedangkan layanan West Japan Railway Co (JR West) layanan metro di Osaka dan Nagoya mengoperasikan gerbong wanita.
Baca juga: Gerbong Khusus Perempuan Tak Hanya Ada di Indonesia
Namun pada pertengahan Januari 2020, beberapa stasiun TV utama di Jepang menyiarkan khusus terkait wanita Jepang yang tidak ingin naik gerbong khusus wanita. Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (22/1/2020), TV Asahi dan TBS menyiarkan keluhan perselisihan dalam gerbong dan beberapa wanita mengatakan, ada bau tajam dari parfum dan makeup.
Tak hanya itu, beberapa mengaku, banyak yang berperilaku buruk karena tak lagi digerbong campuran. Namun, acara TV ini memicu kritik dari warganet yang mengatakan, perselisihan juga terjadi dalam gerbong biasa. Bahkan sesama penumpang wanita dalam gerbong khusus tersebut sering berkelahi atau saling memukul.
Tak hanya itu, banyak gerakan yang mencoba menghapus gerbong khusus wanita karena beberapa pihak menganggap hal tersebut sebagai diskriminasi terhadap lagi-laki. Tapi sebuah tagar yang digunakan di media sosial mengatakan bahwa gerbong khusus wanita diperlukan agar tidak ada lagi korban pelecehan seksual.
Dalam sebuah tayangan TV Asahi pada 13 Januari mengangkat tema “Mengapa ada peningkatan pada wanita yang tidak ingin naik gerbong khusus wanita?” Pertanyaan tersebut juga disebar melalui media sosial. Ternyata jawaban beragam ketika sebuah video wawancara dengan penumpang wanita ditayangkan dan menjawab, “Wanita memaksa dan ketika tidak ada pria mereka tidak peduli apakah orang bisa melihat mereka.”
Seorang presenter wanita dalam acara tersebut, Chiharu Saito mengatakan, “Saya mengerti. Sepertinya saya mengangguk setuju sepanjang waktu. Itu membuat stres saya meningkat, jadi saya tidak benar-benar naik.”
Presenter lainnya, Shimpei Nogami mengungkapkan data investigasi yang dilakukan program TV tersebut dan kenyataan mengejutkan, bahwa 35 dari 50 orang mengatakan, mereka tidak naik dalam gerbong khusus wanita. Bahkan alasan lainnya pun didapat yakni ketika naik ke gerbong khusus wanita rambut penumpang lain bisa mengganggu dan mereka banyak menggunakan sepatu berhak.
Bahkan dalam gerbong khusus tersebut ada persaingan antar penumpang wanita yakni seperti memiliki produk bermerek, produk keluaran baru yang menjadikan seperti adanya sebuah kontes teratas di dalamnya. Hal ini kemudian membuat pembawa acara tersebut mengaku tidak pernah tahu ada yang seperti itu terjadi dalam gerbong khusus tersebut.
“Sekarang kita memahami sesuatu yang tidak pernah dipertimbangkan oleh sudut pandang pria,” ujar Nogami.
Masako Makino, seorang peneliti penelitian doktoral di Ryukoku University Criminology Research Center mengatakan, bahwa program ini sepenuhnya mengabaikan peristiwa yang menyebabkan gerbong khusus wanita dibuat untuk mencegah meraba-raba dan kenyataan bahwa masih ada korban serangan seksual di kereta api. Itu membuat wanita saling menyerang, upaya untuk memberikan arti penting bagi keberadaan pria, dan memungkinkan pria di luar menikmati menonton konflik.
Baca juga: Sepanjang Tahun Ini, 1400 Penumpang Pria Telah Diamankan Karena Masuki Gerbong Wanita
Dia menambahkan, “Ada juga media yang menggunakan subjek mobil khusus perempuan sebagai bahan untuk menangani dengan perspektif voyeuristic, mengatakan hal-hal seperti ‘Hanya perempuan jelek yang menaikinya. Dilihat dari fakta bahwa perempuan menyuarakan kritik terhadap program-program ini di bidang sosial media, saya merasa bahwa semakin banyak orang berbicara menentang kekerasan seksual dan diskriminasi perempuan dan bahwa kita sedang dalam proses menjadi masyarakat di mana orang dapat lebih mudah mengangkat suara mereka.”
Sandaran Belakang Kursi Roda Hilang, Penumpang Emirates Tak bisa Nikmati Liburan
Gemma Quinn, 35 tahun, wanita asal Inggris ini mengalami kelumpuhan dari leher ke bawah karena kecelakaan masa kanak-kanak harus menggunakan kursi roda khusus. Dia memesan perjalanan 19 hari di Asia dengan dua pengasuhnya.
Baca juga: Lantaran Tak Diberikan Kursi Roda, Penumpang Disabilitas Alami Patah Tulang Saat Ke Toilet
Dalam perjalanan tersebut Gemma mengeluarkan biaya lebih dari £15 ribu atau sekitar S$26.600. Namun sayangnya dengan uang yang sudah dikeluarkan sebanyak itu, Gemma tidak bisa menikmati liburannya selama satu hari penuh.
Hal ini dikarenakan ketika dalam perjalanan dari Manchester ke Singapura dan transit di Dubai, sandaran belakang kursi roda khususnya hilang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (30/12/2019), ini kemudian membuatnya terkurung selama seharian di kamar hotel karena tidak bisa bergerak.
Gemma mengatakan, perjalanannya pada 23 Desember 2019 dari Manchester saat transit di Dubai, dirinya harus dibawa dengan tandu ke penerbangan Singapura. Pihak Emirates yang dihubungi karena masalah ini mengatakan, bagian belakang kursi roda Gemma tertinggal di Dubai dan akan dikirim ke Singapura pada 25 Desember 2019 tepat di hari Natal.
Jill Quinn, kakak dari Gemma mengaku bahwa Emirates mengirim bagian belakang kursi roda milik adiknya pukul 11 malam pada hari Natal. Insiden ini membuat Jill menceritakan pada laman Facebook miliknya pada 24 Desember 2019 ketika mereka tiba di Singapura.
“Selama penerbangan lanjutan antara Manchester dan Dubai, staf Emirates Airlines kehilangan sandaran kursi roda Gemma. Solusi mereka adalah bantal yang diikat dengan dua sabuk gesper. Solusi mereka mengakibatkan dia terjatuh dari kursinya, untungnya pengasuhnya menangkapnya sebelum masalah serius terjadi,” cerita Jill di laman Facebook.
Jill mengaku, kehilangan sandaran belakang kursi roda Gemma tak sebanding dengan kehilangan barang bawaan. Pasalnya kursi roda itu adalah suatu keharusan dan membuat adiknya tak bisa meninggalkan kamar hotel bila salah satu bagiannya hilang.
Karena insiden ini, pihak Emirates mengaku sangat menyesal atas ketidaknyamanan Gemma karena kelalaian pihaknya.
Baca juga: Gandeng Panasonic, ANA Hadirkan Kursi Roda Otonom di Bandara Narita
“Tim kami di Dubai dan Singapura telah melakukan segala upaya untuk membantu Quinn dan keluarganya melanjutkan liburan yang direncanakan, dan kami sangat menyesal atas ketidaknyamanan yang mereka alami,” kata Emirates.
Hal ini dikarenakan ketika dalam perjalanan dari Manchester ke Singapura dan transit di Dubai, sandaran belakang kursi roda khususnya hilang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (30/12/2019), ini kemudian membuatnya terkurung selama seharian di kamar hotel karena tidak bisa bergerak.
Gemma mengatakan, perjalanannya pada 23 Desember 2019 dari Manchester saat transit di Dubai, dirinya harus dibawa dengan tandu ke penerbangan Singapura. Pihak Emirates yang dihubungi karena masalah ini mengatakan, bagian belakang kursi roda Gemma tertinggal di Dubai dan akan dikirim ke Singapura pada 25 Desember 2019 tepat di hari Natal.
Jill Quinn, kakak dari Gemma mengaku bahwa Emirates mengirim bagian belakang kursi roda milik adiknya pukul 11 malam pada hari Natal. Insiden ini membuat Jill menceritakan pada laman Facebook miliknya pada 24 Desember 2019 ketika mereka tiba di Singapura.
“Selama penerbangan lanjutan antara Manchester dan Dubai, staf Emirates Airlines kehilangan sandaran kursi roda Gemma. Solusi mereka adalah bantal yang diikat dengan dua sabuk gesper. Solusi mereka mengakibatkan dia terjatuh dari kursinya, untungnya pengasuhnya menangkapnya sebelum masalah serius terjadi,” cerita Jill di laman Facebook.
Jill mengaku, kehilangan sandaran belakang kursi roda Gemma tak sebanding dengan kehilangan barang bawaan. Pasalnya kursi roda itu adalah suatu keharusan dan membuat adiknya tak bisa meninggalkan kamar hotel bila salah satu bagiannya hilang.
Karena insiden ini, pihak Emirates mengaku sangat menyesal atas ketidaknyamanan Gemma karena kelalaian pihaknya.
Baca juga: Gandeng Panasonic, ANA Hadirkan Kursi Roda Otonom di Bandara Narita
“Tim kami di Dubai dan Singapura telah melakukan segala upaya untuk membantu Quinn dan keluarganya melanjutkan liburan yang direncanakan, dan kami sangat menyesal atas ketidaknyamanan yang mereka alami,” kata Emirates. Airbus Bantu AS Buat Perahu ‘Terbang’ untuk Menangkan Perlombaan Prestisius
Raksasa teknologi di dunia, pada umumnya tidak hanya bergelut pada satu lini bisnis utamanya saja. Sebagai contoh, samsung, misalnya, selain merambah bisnis ponsel, merek-merek dagangnya juga merambah ke lini lainnya, seperti televisi, AC, dan lain sebagainya. Tak terkecuali dengan Airbus.
Baca juga: Gaet Gentex, Airbus Siap Tingkatkan Pengalaman Penumpang via Dimmable Windows
Seperti dilansir finance.yahoo.com, Kamis (23/1), belum lama ini Airbus dikabarkan membantu negeri Paman Sam dalam merancang kapal layar tangguh dan cepat, dengan sentuhan teknologi canggih yang mereka miliki. Kapal yang dirancang Airbus tersebut nantinya akan digunakan dalam kejuaraan Piala Amerika atau America’s Cup ke-36 di Waitemata Harbour, Selandia Baru.
Amerika memang tidak main-main untuk menatap kejuaraan yang akan dihelat pada 6-21 Maret 2021 tersebut. Pasalnya, Amerika (yang telah merajai kompetisi olahraga tertua di dunia itu) selama 132 tahun, telah dipecundangi pada kejuaraan sebelumnya oleh salah satu pesaingnya dari Selandia Baru, yakni dari tim Emirates Team New Zealand (ETNZ). Maka dari itu, tak heran bila Amerika, melalui tim New York Yacht Club (NYYC), menggandeng produsen pesawat asal Perancis itu.
Keputusan NYYC untuk menggandeng Airbus juga tak lepas dari buruknya performa kapal mereka sebelumnya, Defiant. Kapal yang menjadi biang keladi dipecundanginya Amerika dalam kejuaraan America’s Cup tahun 2017 lalu itu, gagal melaju mulus di atas air saat menyentuh kecepatan 50 mph atau hampir 90 kilometer per jam. Itu jugalah salah satu alasan mereka menggandeng insinyur penerbangan Airbus, semata-mata untuk mengaplikasikan teknologi penerbangan agar perahu NYYC nantinya dapat ‘terbang’ mulus di atas air. Saat ini, kapal AM38 rancangan insinyurAirbus tersebut masih terus diujicoba.
Baca juga: Ambil Langkah ‘Terbalik’ dengan Boeing, Airbus Akuisisi MTM Robotics
Sebagai informasi, Selandia Baru, sebagai pemenang America’s Cup ke-35 di perairan Great Sound, Bermuda, Pesisir Carolina, Amerika Serikat, mereka berhak untuk memilih tempat selanjutnya. Di samping itu, mereka juga berhak untuk bertanggungjawab penuh terhadap gelaran America’s Cup ke-36. Termasuk menentukan spesifikasi perahu yang akan diperlombakan nanti.
Selandia Baru, sebagai juara bertahan, akan ditantang oleh tiga tim lainnya, yakni NYYC (Amerika), tim Luna Rossa Prada Pirelli (Italia), dan tim INEOS (Inggris). Sebelum mereka bertarung habis-habisan pada gelaran America’s Cup ke-36, mereka terlebih dahulu akan melalui seri kejuaraan lainnya sebagai pemanasan, yakni di Italia, Eropa, dan Selandia Baru.
Dirut dan Komut Akan Buat Garuda Indonesia Jadi Bisnis yang Menyenangkan
Direktur Utama (Dirut) dan Komisaris Utama (Komut) PT Garuda Indonesia (Persero), Irfan Setiaputra dan Triawan Munaf, menyatakan komitmennya untuk membereskan sederet pekerjaan rumah yang terdapat di tubuh maskapai pelat merah itu. Menurutnya, sebagai flag carrier kebanggaan masyarakat, sudah seharusnya Garuda Indonesia melakukan lebih dari sekedar mencari untung.
Baca juga: Irfan Setiaputra Kini Jabat Posisi Direktur Utama Garuda Indonesia
“Kita harus membuat bisnis ini menjadi bisnis kebahagiaan. Bisnis yang bisa membuat happy. Semuanya terbuka, optimis untuk negeri ini. Jangan liat perusahannya aja tapi juga impact dari flag carrier terhadap ekonomi nasional, kepada kebahagiaan nasional. Kepada persaudaraan kita,” kata Triawan Munaf kepada wartawan, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (24/1).
Mantan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), itu juga menegaskan, sekalipun mereka (Dirut dan Komut) mempunyai tugas untuk membuat bisnis Garuda jadi bisnis yang menyenangkan, berdampak langsung terhadap ekonomi nasional, kebahagiaan nasional, bahkan persaudaraan, fokus utamanya tetaplah profit.
“Kita harus optimis, supaya jangan untung ruginya saja, harus untung tapi, untuk membayar kewajiban-kewajiban kita tentunya harus untung, tapi jangan mengutamakan itu tapi mengorbankan yang lain,” lanjut, ayah dari artis Sherina Munaf ini.
Sejalan dengan Triawan Munaf, Irfan Setiaputra, juga mengungkapkan bahwa secara formasi, timnya sudah tepat dan siap untuk membenahi segala apa yang perlu dibenahi dan melanjutkan segala yang sudah bagus. Pengalamannya di BUMN dan begitupun dengan para direksi yang lain juga membuat tugas-tugas berat yang diamanahkan padanya menjadi lebih mudah. Terlebih, ia juga telah mengenal lama direksi-direksi yang akan membantunya. Hal itu diakuinya akan semakin mudah untuk membangun komunikasi.
“Saya mantan orang BUMN juga dan direksi yang lain juga sama, Jadi kita bisa percepat kerjasama itu dengan lebih mudah. Kalau sudah kenal kan enak,” ujar pria jebolan ITB tersebut.
Baca juga: Pisah dari Garuda Indonesia, Sriwijaya Air Buka Rute Lama yang Tak Beroperasi
Di samping itu, ia juga coba menepis keraguan masyarakat, mengenai latar belakang profesinya yang bukan dari kalangan penerbangan. Menurutnya, pengalaman di BUMN dan juga pengalaman di bidang perbankan adalah modal utamanya dalam usaha untuk membereskan berbagai permasalahan Garuda, sekalipun ia sama sekali bukanlah orang yang lahir dari dunia kedirgantaraan.
“Saya pernah di BUMN dan saya juga pernah di perbankan dulu. Jadi, ini cukup menjadi modal buat saya,” pungkasnya.
Gara-gara Hotspot WiFi ‘Nyala’ di Kabin, Dua Penumpang Diturunkan dari Pesawat!
Dua penumpang terpaksa diturunkan oleh pihak keamanan bandara, penyebabnya terbilang unik, yaitu penumpang tersebut diduga memiliki detonator bom jarak jauh. Padahal yang dimaksud berbeda, yaitu kedua penumpang menyalakan modem hostspot WiFi ketika di dalam kabin pesawat. Hal tersebut membuat pesawat GoJet pada 16 Januari 2020 tertunda keberangkatannya selama tiga jam.
Baca juga: Lontarkan Lelucon Soal Bom, Penumpang British Airways Dikeluarkan dari Pesawat
Insiden ini terjadi pada malam 16 Januari lalu di Bandara Metropolitan Detroit, Amerika Serikat dalam pesawat GoJet dengan penerbangan Delta Connection menuju Montreal. Seorang penumpang, Aaron Greenberg mengatakan, insiden menakutkan tersebut terjadi setelah awak kabin berulang kali meminta penumpang untuk mematikan hotspot WiFi pribadi mereka.
Namun, penumpang itu tidak menggubrisnya dan awak kabin akhirnya mengumumkan mereka akan memanggil polisi jika hotspot tersebut tidak dimatikan. KabarPenumpang.com melansir dailymail.co.uk (21/1/2020), Greenberg mem-videokan insiden itu dan membagikannya dalam Instagram story miliknya.
“Kami memiliki situasi di belakang pesawat. Polisi akan naik ke kabin untuk menilai situasi. Saya meminta semua orang duduk di kursi masing-masing dengan sabuk pengaman terpasang,” kata awak kabin dalam video tersebut.
Dalam pengumuman yang disiarkan, awak kabin mengatakan akan menutup pintu pesawat dan penumpang agar tetap duduk dan menyimpan barang bawaan mereka. Saat itu juga dikatakan, mereka menyusun rencana untuk penumpang yang diduga mengaktifkan hotspot tersebut.
“Berita baiknya adalah semuanya baik-baik saja, semua orang aman, pesawat kami aman. FBI ada di sini bersama kita,” tambah awak kabin itu.
Greenberg menambahkan, untuk pengamanan penumpang yang tidak mau mematikan hotspot-nya ada sepuluh kendaraan darurat dengan lampu menyala dan mengelilingi pesawat.
“Saya, pada awalnya, mengira ada seseorang yang benar-benar berbahaya di dalam pesawat, karena pilot mengatakan mereka berurusan dengan seseorang di belakang,” ujar Greenberg.
Greenberg menyebut ada dua penumpang yang diturunkan dari pesawat, yakni seorang pria dan wanita. Seorang juru bicara Otoritas Bandara Wayne mengatakan, bahwa penegak hukum telah tiba di bandara dengan hati-hati dan membawa dua penumpang, seorang wanita berusia 42 tahun dan seorang pria berusia 31 tahun keluar dari pesawat.
Baca juga: Saat Bom Ditemukan, Inilah Lokasi Pengamanan Sebelum Pesawat Didaratkan
Kedua orang itu dari Quebec dan ditahan untuk diinterogasi sebelum dibebaskan sambil menunggu penyelidikan tambahan. Penerbangan ditunda selama lebih dari tiga jam dan berangkat ke Montreal pada pukul 01.40 pagi waktu setempat. Pejabat tidak mengkonfirmasi nama koneksi hotspot WiFi yang digunakan.
Foto Penumpang Pakai Sarung Tangan Streril Untuk Tutupi Kaki Viral di Instagram
Sepertinya kelakuan penumpang pesawat makin hari makin aneh saja. Mabuk dan membuat awak kabin serta penumpang lain gusar menjadi yang paling sering terjadi. Bahkan melakukan gerakan yoga, naikkan kaki ke kursi depan, menjemur pakaian dalam hingga meni pedi (gunting kuku) di pesawat bukan hal aneh lagi.
Baca juga: Jangan Sembarang Buka Sepatu di Dalam Kabin Pesawat, Inilah Sebabnya!
Tapi seorang wanita mulai berulah dan menjadikannya lucu ketika foto kakinya viral ketika menggunakan sarung tangan. Penumpang yang menggunakan celana legging bunga-bunga berwarna hijau dan merah muda itu akan ke toilet dengan kaki berselimutkan sarung tangan steril.
Dilansir KabarPenumpang.com dari express.co.uk (29/12/2019), foto kaki wanita dengan terbungkus sarung tangan steril tersebut viral di Instagram @PassengerShaming. Banyak warganet yang bingung dengan kelakuan wanita tersebut. Bahkan komentar-komentarnya pun beragam dan foto tersebut membuat gelak tawa para warganet.
Tak hanya itu, banyak warganet yang bertanya apakah awak kabin tidak melihat dan melarangnya? Sebab, diketahui kabin kapal bukanlah tempat yang bersih apalagi toilet. Di mana banyak bakteri dan kuman yang menempel serta bisa membuat sakit penumpang.
Para warganet di Instagram juga mengatakan apakah wanita tersebut menggunakan sarung tangan steril untuk menjaga kakinya tetap aman dan steril ketika ke toilet pesawat? Postingan yang diunggah pada Maret 2019 lalu di Instagram @PassengerShaming tersebut diberi caption “Ahh, sarung tangan membuat berhenti!! Oh, maksud saya kaki saya, apapun – Saya tidak tahu apa yang terjadi dan sekarang mempertanyakan kehidupan.”
Diketahui, toilet pesawat menjadi salah satu tempat banyaknya bakteri sehingga ketika menggunakannya lebih baik pakai sepatu atau alas kaki. Tak hanya itu, melepas alas kaki dalam pesawat juga sebaiknya tidak dilakukan selain mencegah bau yang tersebar, ternyata menggunakan alas kaki juga untuk keselamatan penumpang ketika terjadi keadaan darurat.
Baca juga: Gunakan Sepatu Hak Tinggi, Wanita Paruh Baya Lakukan Gerakan Yoga di Kursi Pesawat
Jadi, baiknya gunakan alas kaki ketika di pesawat dan ke toilet, sebab selain menjaga keselamatan, menghindarkan penumpang juga terkena penularan kuman yang ada alam pesawat.
Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan
Seorang warga negara Singapura, dilaporkan berhasil selamat dari ancaman isolasi yang hendak dilakukan oleh otoritas Cina di kota Wuhan. Kala itu, ia (yang sedang mengerjakan beberapa bisnis) awalnya sempat tidak tahu-menahu perihal isolasi yang akan dilakukan, hingga akhirnya ia mendapat informasi mengenai hal tersebut saat membuka ponselnya.
Baca juga: Cegah Coronavirus, Angkasa Pura I Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Penumpang Asal Cina
Kisah menariknya untuk keluar dari Wuhan pun kemudian dibeberkan oleh media setempat. Dikutip dari laman straitstimes.com, Jumat (24/1), pria bernama lengkap Eric Kng, awalnya hanya melakukan perjalanan untuk mengunjungi beberapa rekan dari Wuhan ke Shenzen. Tanpa ada niatan untuk pergi ke Shenzen agar tak terjebak di Wuhan hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.
Saat dalam perjalanan ke stasiun kereta api untuk mengejar kereta pukul 3.30 pagi dari Wuhan, kemarin, Eric yang juga founder dan CEO sebuah perusahaan di Singapura dan Wuhan, mendapat pesan mengejutkan di ponselnya. Dalam pesan tersebut, dikabarkan bahwa kota itu akan di karantina, dan semua angkutan umum akan berhenti beroperasi pada pukul 10 pagi.
Beruntung, ia pun berhasil keluar dari Wuhan sebelum akses keluar masuk kota tersebut ditutup total. Dalam dokumentasi pribadinya, tampak, kereta ke Shenzhen, nyaris kosong melompong dan akan menjadi salah satu dari beberapa moda transportasi yang bisa keluar dari ancaman kota endemik coronavirus tersebut.
“Situasi awalnya relatif tenang. Lebih banyak orang memakai masker, tetapi masih melakukan kegiatan sehari-hari,” kata pria berusia 34 tahun tersebut, saat kembali mengulang ceritanya kepada wartawan.
Tetapi, lanjutnya, setelah penularan virus corona dari manusia ke manusia dikonfirmasi awal pekan ini, ia memutuskan untuk memborong bahan makanan yang sudah mulai melonjak hampir separuhnya. Termometer dan masker juga terjual habis di tiga apotek yang ia kunjungi.
Seperti mendapatkan bisikan magis, Eric Kng kemudian menyiapkan beberapa pakaian dan membeli tiket kereta ke Shenzhen untuk pagi berikutnya. Dia awalnya berencana untuk mengunjungi teman-teman di kota-kota Cina lainnya selama liburan, tetapi pada akhirnya gagal.
“Aku melihat berita dalam perjalananku ke stasiun kereta sekitar jam 2 pagi, dan bahkan sopir taksi bertanya apakah aku yakin bisa keluar dari Wuhan,” jelasnya.
Sebelum benar-benar keluar dari Wuhan, ia terlebih dahulu harus melewati tes kesehatan. Pada akhirnya ia dinyatakan lolos dan berhasil melenggang bebas dari Wuhan. Namun, walaupun bisa keluar dengan tepat waktu, ia tidak tahu kapan ia bisa kembali dan melanjutkan aktivitasnya seperti sedia kala.
“Tidak ada tiket yang tersedia untuk satu minggu ke depan. Kuharap segalanya segera berakhir. Yang kumiliki hanyalah ransel, dan aku masih punya urusan untuk dijalankan.”
Melihat beberapa fakta yang terjadi, ia pun coba berkomentar. Menurutnya, karantina akan lebih efektif jika diberlakukan sebelumnya. Sebab, banyak orang telah meninggalkan Wuhan menjelang Tahun Baru Imlek, baik baik ke kota asal di Cina maupun berlibur ke luar negeri.
Baca juga: Coronavirus Menyebar! Air China Cek Langsung Kesehatan Penumpang di Dalam Kabin
Pemerintah Cina sendiri, beberapa waktu lalu, telah mengumumkan, sebelum Malam Tahun Baru Imlek, semua penerbangan keluar dan kereta api dari Wuhan akan ditangguhkan dalam upaya mencegah penyebaran virus yang telah mencapai setidaknya lima negara lain, termasuk Singapura.
Bus umum, layanan kereta bawah tanah, dan kapal feri di kota juga terhenti. Sementara mobil masih dapat meninggalkan kota, pihak berwenang telah memutuskan bahwa penduduk tidak boleh pergi tanpa alasan khusus.
