Polandia Punya Fasilitas Pencucian Kereta dengan Tenaga Surya

Kereta api yang digunakan untuk mengangkut penumpang setiap hari akan dicuci ketika kembali ke depo agar kotoran sepanjang hari itu tak lagi ada di kereta, sehingga besoknya ketika beroperasi akan kembali bersih. Banyak negara yang sudah mengoperasikan pencucian kereta secara manual atau otomatis alias mesin yang akan mencuci bagian luarnya.

Baca juga: India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya

Seperti Koleje Mazowieckie yang merupakan perusahaan kereta api terbesar kedua di Polandia ini sejak 2015 lalu memiliki mesin pencuci kereta otomatis yang hemat energi dengan sumbernya melalui panas dari sinar matahari. Mereka memiliki tempat pencucian kereta dengan energi sinar matahari ini di Tłuszcz yang berada 40 km timur laut di dari Warsawa.

KabarPenumpang.com melansir laman railtech.com, rencananya di masa depan, perusahaan ini berencana untuk menambah empat fasilitas baru. Dua diantaranya akan berlokasi di Warsawa tepatnya di Stasiun Grochów dan Ochota di mana depertemen pemeliharaan dan operasional Koleje Mazowieckie berada serta dua lainnya di Sochaczew dan Radom di Provinsi Mazovia.

Namun perusahaan kereta terbesar di Polandia ini belum menentukan kapan pastinya pembangunan tempat cuci kereta baru mereka akan di buat. Meski begitu rencana ini nyata dan akan direalisasikan. Untuk diketahui, fasilitas pencucian kereta di Tłuszcz ternyata memiliki dua fitur penting yakni sistem pasokan energi dan air.

“Energi diperoleh, antara lain, dari panel surya yang dipasang di atap bangunan. Selain itu, pencucian memiliki ruang ketel modern. Dari Maret hingga Oktober, air hanya dipanaskan oleh panel surya dan tidak perlu menghidupkan boiler,” kata Koleje Mazowiecki.

Pasokan air untuk tempat pencucian di Tłuszcz sepenuhnya berasal dari pasokan air kota dan sistem poembuangan. Tak hanya itu, mereka juga memperoleh dari sumur sendiri dan air hujan yang ditampung secara khusus dengan filter. Tempat cuci kereta di Tłuszcz di bangun oleh Koleje Mazowieckie dengan dana pribadi mereka yang mengabiskan 18,7 juta zlotys atau lebih dari 4,2 juta euro.

Pencucian kereta di Tłuszcz mampu membersihkan hingga 20 kendaraan per hari. Fasilitas ini tersedia untuk seluruh armada perusahaan yang bervariasi dari 19 meter hingga 100 meter sepanjang tahun. Proses pencucian disediakan dengan bantuan sikat khusus yang dipasang pada alat mencuci.

Mereka beradaptasi dengan dimensi masing-masing jenis rolling stock dan mengubah sudut kemiringan. Selain itu, ada platform khusus yang dapat diperpanjang untuk mencuci atap kereta secara efektif.

Baca juga: Stasiun Kachiguda di India, 100 Persen Lakukan Efisiensi Energi

“Tepat di bawah atap gedung, ada rantai khusus yang dipasang untuk memasok listrik dan air. Dapat digulung lebih dari jarak 100 meter. Ini adalah aplikasi pertama di Polandia,” kata perusahaan itu lagi.

Optimalkan Kebersihan Kereta, KAI Services Datangkan Mesin Cuci Kereta High Pressure dari Italia

Sebagai Central of Services PT KAI (Persero),  KAI Services terus berkomitmen untuk mendukung kinerja PT KAI (Persero) sebagai induk perusahaan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada para penumpang kereta api.

Salah satu langkah strategis yang diambil dari Unit Cleaning KAI Services adalah dengan mendatangkan mesin cuci kereta high pressure terbaru yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pencucian kereta.

Mesin cuci kereta high pressure ini memiliki kemampuan menyemburkan air hingga 15 liter per menit dengan tekanan sebesar 200 bar. Dengan kekuatan ini, proses pencucian kereta menjadi lebih praktis dan efisien, sehingga kebersihan kereta dapat selalu terjaga.

Mesin cuci kereta high pressure ini didatangkan langsung dari Italia sebagai bentuk inovasi dan investasi dalam mendukung operasional yang lebih modern.

Saat ini, mesin cuci kereta high pressure tersebut telah tersedia di dua depo utama, yakni Depo Jakarta Kota dan Depo Surabaya Pasarturi untuk kereta jarak jauh. Kehadiran mesin ini diharapkan dapat mempercepat proses pembersihan kereta api sehingga selalu dalam kondisi bersih dan nyaman saat digunakan oleh para penumpang. Sementara kedepannya, akan ada di Depo Solo Balapan dan Depo Depok untuk kereta KRL.

LRT Jabodebek Terapkan Sistem Cuci Kereta Otomatis dengan Teknologi Canggih dan Ramah Lingkungan

Menurut Vice President Corporate Secretary KAI Services, Rachman Firhan, dengan adanya mesin cuci kereta high pressure ini, kami berharap kebersihan kereta api dapat terjaga secara optimal, sehingga penumpang merasakan kenyamanan yang lebih baik selama perjalanan, hal ini juga sejalan dengan visi KAI Services untuk memberikan pelayanan terbaik untuk penumpang Kereta Api.

“KAI Services senantiasa berupaya mendukung program kerja PT KAI (Persero) dengan menghadirkan berbagai inovasi yang menunjang kualitas layanan transportasi kereta api. Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya mewujudkan standar pelayanan yang lebih tinggi demi kenyamanan dan kepuasan pelanggan.” ujar Firhan.

Polandia Punya Fasilitas Pencucian Kereta dengan Tenaga Surya

22 Januari 1970, Boeing 747 (Pan Am) Lakukan Penerbangan Perdana Komersial dari New York ke London

Bila 9 Februari 1969 menjadi tanggal penerbangan perdana prototipe pesawat Jumbo Jet Boeing 747, maka hampir satu tahun kemudian, persisnya 22 Januari 1970, menjadi momen penerbangan perdana komersial Boeing 747.

Penerbangan perdana komersial Boeing 747 adalah peristiwa bersejarah dalam dunia penerbangan komersial. Pada 22 Januari 1970, pesawat ini pertama kali melayani penerbangan penumpang dengan rute New York (John F. Kennedy International Airport) ke London (Heathrow Airport) yang dioperasikan oleh maskapai Pan American World Airways (Pan Am).

9 Februari 1969, Memperingati 54 Tahun Penerbangan Perdana Boeing 747

Pesawat yang digunakan adalah Boeing 747-100, dengan nama Clipper Victor. Penerbangan awalnya dijadwalkan berangkat pada malam hari, tetapi mengalami penundaan selama enam jam karena masalah teknis pada salah satu mesin. Sebagai pengganti, Pan Am menyiapkan pesawat 747 lain untuk melanjutkan perjalanan.

Penerbangan perdana komersial Boeing 747 dari New York (JFK) ke London (Heathrow) memakan waktu sekitar 6 jam 50 menit.

Rute penerbangan ini mencakup jarak sekitar 5.540 kilometer (3.440 mil). Jarak tersebut merupakan salah satu rute transatlantik utama, dan dengan kecepatan jelajah Boeing 747-100, yang berkisar antara 907 km/jam (565 mph), pesawat mampu menyelesaikan perjalanan ini dengan efisien.

Penerbangan perdana komersial Boeing 747 oleh Pan American World Airways pada 22 Januari 1970 membawa 336 penumpang dan 20 awak kabin, sehingga total orang di dalam pesawat adalah 356 orang. Penumpang terdiri dari campuran tamu VIP, awak media, eksekutif maskapai, dan pelanggan umum yang mendapatkan pengalaman pertama dalam sejarah penerbangan menggunakan pesawat berbadan lebar.

Perancis Pasok Batch Pertama Seribu Ton Rel Kereta Api ke Ukraina

Sejak invasi Rusia pada Februari 2022, maka sebagian besar jalur rel kereta api di Ukraina saat ini dalam kondisi rusak berat. Maklum, jaringan rel kereta termasuk yang menjadi sasaran penghancuran oleh serangan udara Rusia. Namun, belum lama ini ada kabar baik dari Perancis.

Seperti dikutip railtech.com, perusahaan kereta api Ukraina – Ukrainian Railways (UZ), telah menerima gelombang (batch) pertama muatan rel dari produsen rel asal Perancis, Saarstahl Rail SAS. Pengiriman tersebut terdiri dari sekitar seribu ton rel, tetapi sebagai bagian dari perjanjian antarpemerintah yang mendasarinya antara Perancis dan Ukraina, Ukraina akan mendapatkan total 19.000 ton.

Di Ukraina, Penumpang Bahu-membahu Mendorong Kereta yang Mogok

Rel baru buatan Perancis tersebut diharapkan dapat membantu UZ melaksanakan rencana pembangunan infrastruktur yang ambisius untuk tahun 2025.

“Setelah pendudukan Mariupol, kami kehilangan satu-satunya produsen rel Ukraina – pabrik baja Azovstal”, jelas ketua dewan UZ Oleksandr Pertsovsky. “Dan berkat mitra internasional, kami menerima produk langka ini dan terus memulihkan serta mendukung infrastruktur kereta api.”

Rel dari gelombang pertama akan digunakan pada bulan Maret-April tahun ini untuk melakukan perbaikan besar pada jalur di ruas Viytivtsi – Volochysk dan Fastiv-2 – Ustinivka – ini adalah rute kereta api berkecepatan tinggi ke Lviv dan Dnipro. Kementerian Keuangan Ukraina, dan mitra Perancis berharap seluruh pasokan akan dikirim ke Ukraina pada awal musim gugur 2025.

Maryna Denysiuk, Wakil Menteri Komunitas dan Pembangunan Teritorial Ukraina, mengemukakan bahwa rel lebar yang dikirim akan membantu memulihkan infrastruktur yang rusak akibat perang. Ia mengatakan bahwa Ukraina akan dapat memastikan keselamatan lalu lintas, logistik berkelanjutan, dan koneksi penting antarwilayah di masa perang.

Dengan rel yang saat ini dipasok, UZ akan dapat memulihkan rel sepanjang 145 kilometer. Secara khusus, perbaikan besar akan dilakukan di jalur-jalur yang paling penting: Lviv – Uzhhorod, Kyiv – Lviv – perbatasan UE, Kyiv – Odesa, Kyiv – Dnipro, dan Kyiv – Kharkiv.

Sebagai bagian dari perjanjian antara Perancis dan Ukraina, UZ menerima pinjaman sebesar 37,6 juta euro selama 35 tahun dengan bunga 0,0161 persen per tahun. UZ tidak perlu membayar pinjaman ini selama 14 tahun pertama dan dengan demikian akan menggunakan rel tersebut secara praktis tanpa biaya.

Pada saat yang sama, Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan mendanai pembelian 30.000 ton rel lagi, dan UZ menerima 25.000 ton rel dari Jepang.

Infrastruktur Rusak Berat, Ukraina Canangkan Reformasi Jaringan Kereta, Termasuk Impor 130 Lokomotif dari Perancis

‘Selayang Pandang’ Bandara Internasional Beijing (PEK) – Salah Satu yang Tersibuk di Dunia

Kabarpenumpang.com selama satu minggu mendapat kesempatan menyambangi beberapa obyek wisata di Cina, dan petualangan dimulai pada hari Senin, 13 Januari 2025, saat pesawat yang membawa kami (Singapore Airlines SQ800) tiba pagi hari yang dingin di Bandara Internasional Beijing (PEK).

Baca juga: Terlalu Sering Alami Delay, Bandara Beijing Raih Predikat Kelima Terburuk di Asia

Pada tulisan pertama ini, Bandara Internasional Beijing adalah yang pertama untuk kami ulas, terlebih status bandara ini yang masuk kategori sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia.

Terletak sekitar 30 km di timur laut pusat kota Beijing, Bandara Internasional Beijing berfungsi sebagai hub utama bagi maskapai seperti Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines, menawarkan penerbangan ke lebih dari 120 tujuan domestik dan internasional.

Berlokasi di Distrik Chaoyang, Bandara Beijing dibuka pada 2 Maret 1958. Saat dibuka pada tahun 1958, bandara ini hanya beroperasi dengan satu terminal kecil yang melayani penerbangan VIP dan charter. Kemudian pada Januari 1980, terminal baru yang lebih besar dibuka untuk meningkatkan kapasitas pelayanan penumpang.

Menyambut hajatan OIimpiade Beijing 2008, Terminal 3, menjadi salah satu terminal terbesar di dunia dan mulai beroperasi menjelang Olimpiade Beijing 2008, meningkatkan kapasitas bandara ini secara signifikan.

Bandara Beijing memiliki tiga terminal. Terminal 1 melayani penerbangan domestik, Terminal 2 melayani penerbangan domestik dan internasional, dan Terminal 3 melayani penerbangan domestik dan internasional.

Dari spesifikasi, bandara ini memiliki tiga landasan pacu 18L/36R (panjang 3.800 meter), 18R/36L (panjang 3.200 meter) dan 01/19 (panjang 3.800 meter).

Mengutip Beijing.gov.cn, hingga 8 September 2024, PEK telah melayani total 44,85 juta penumpang, dengan 10 juta di antaranya merupakan penumpang internasional dan regional.

Sebagai catatan, Beijing tidak hanya memiliki satu bandara internasional, selain Bandara Internasional Beijing, terdapat Bandar Udara Internasional Daxing Beijing (PKX) yang dibuka pada tahun 2019.

Selain itu, terdapat Bandara Nanyuan Beijing (NAY), yang sebelumnya melayani penerbangan domestik namun kini telah ditutup dan dialihkan operasinya ke Bandara Daxing.

Jelang Operasional Akhir September, Bandara Beijing Daxing Libatkan 9.000 Penumpang Untuk Uji Coba

Kenapa Jendela Pesawat Supersonik Concorde Sangat Kecil? Ini Rahasianya

Penumpang pesawat saat ini sudah pasti bisa melihat dengan jelas pemandangan di luar saat dalam penerbangan. Itu karena jendelanya begitu proporsional. Pengalaman itu mungkin tidak dimiliki oleh penumpang pesawat supersonik Concorde. Sebab, jendela pesawat ini sangat kecil bahkan tak lebih besar dari tangan orang dewasa. Mengapa demikian?

Baca juga: Eksklusif: Foto Kabin Penumpang Concorde Saat Ngebut Secepat Kilat Menuju New York

Sejarah pesawat supersonik Concorde dimulai usai Pemerintah Perancis dan Inggris menandatangani perjanjian untuk bersama-sama merancang dan memproduksi jet supersonik komersial pertama pada 29 November 1962. Sebelumnya, penelitian terkait itu telah dimulai sejak tahun 1958.

Lama dinanti, prototipe pesawat supersonik Concorde buatan Perancis akhirnya sukses terbang perdana pada 2 Maret 1969. Ketika itu, pesawat lepas landas dari Bandara Toulouse dan mengudara selama 42 menit. Adapun prototipe pesawat Concorde 002 buatan Inggris sukses melakukan penerbangan perdananya sebulan kemudian.

Selang beberapa bulan, tepatnya pada 1 Oktober 1969, pesawat supersonik Concorde 001 buatan Perancis sukses memecahkan pengalang suara atau terbang melebihi kecepatan suara. Sebelum itu, pesawat Concorde belum menunjukkan klaim supersoniknya.

Setelah sukses terbang perdana dan terbang melebihi kecepatan suara, penerbangan komersial Concorde pun dimulai.

Pada 21 Januari 1976, pesawat supersonik Concorde Air France mulai melayani rute Paris – Rio de Janeiro dan British Airways melayani penerbangan supersonik rute penerbangan London – Bahrain. Pasang surut tentu terjadi di kedua rute ini.

Concorde semakin terkenal usai memulai penerbangan komersial reguler transatlantik ke New York dari London dan Paris pada 22 November 1977. Dengan kemampuan supersoniknya, rute tersebut berhasil dilahap Concorde hanya dalam tempo 2 jam 52 dan 59 detik dengan rata-rata kecepatan jelajah mencapai Mach 2.04 (2.180 kilometer per jam).

Sebagai perbandingan, pesawat jet lain pada saat itu terbang dari London atau Paris ke New York selama 6 jam lebih.

Kemampuan Concorde terbang supersonik tentu didukung banyak fitur canggih (baik dari segi desain maupun teknik); salah satunya jendela Concorde.

Dari berbagai sumber yang dihimpun, jendela Concorde yang sangat kecil, bahkan lebih kecil dari ukuran tangan orang dewasa, dikarenakan ketinggian jelajah Concorde yang mencapai 60 ribu kaki, menetapkannya sebagai pesawat komersial yang terbang paling tinggi sepanjang sejarah.

Concorde diizinkan terbang di ketinggian tersebut untuk bisa terbang aman pada kecepatan supersonik karena didukung sejumlah teknologi, seperti bentuk sayap delta, fitur keselamatan berupa sistem mencegah kemungkinan terburuk saat terjadi rapid emergency descent atau penurunan cepat, serta tekanan di dalam kabin yang masih dalam batas normal bagi penumpang.

Pasalnya, bila tidak didukung teknologi tersebut, maka, bukan tak mungkin penumpang akan pingsan.

Baca juga: Begini Detik-detik Pengambilan ‘Satu-satunya’ Foto Concorde Saat Melesat Mach 2

Selain itu, Concorde juga bisa dan diizinkan terbang di ketinggian 60 ribu kaki berkat jendelanya yang lebih kecil (bahkan tak lebih besar dari ukuran tangan orang dewasa).

Jendela Concorde yang sangat kecil itu bertujuan untuk meminimalisir dekompresi andai kaca jendela pesawat pecah akibat rapid emergency descent. Selain aman untuk penerbangan itu sendiri, kaca jendela Concorde yang sangat kecil itu juga mencegah penumpang terhisap keluar pesawat selama dekompresi eksplosif terjadi.

Rawan Pelecehan, Pramugari Bus Malam Acap Kali Mendapat Perlakuan Tidak Enak dari Penumpang

Seorang pramugari baik kereta maupun pesawat, biasanya berpenampilan menarik dan rapi. Mereka juga menggunakan seragam dari kereta atau maskapai penerbangan tempatnya bekerja. Nah, ini pun terjadi pada pramugari bus AKAP yang berjalan malam.

Baca juga: Dibekali Pelatihan Khusus, Inilah Rincian Tugas Pramugari Bus AKAP Premium

Pramugari bus bukan hanya menarik, mereka juga harus wangi. Ternyata meski mereka sudah menggunakan seragam dan berperilaku sebeaimana mestinya tetap saja ulah nakal penumpang pun masih terjadi. Sama seperti pramugari pesawat yang kerap kali mendapat perlakuan tidak enak dari penumpang.

Helen Trianis yang adalah pramugari bus premium malam mengaku banyak mendapat pengalaman unik dan terkadang tidak mengenakkan ketika dirinya tengah bertugas di bus malam.

“Kalau penumpang yang menggoda ada saja, bus PO Sudiro yang saya bertugas di dalamnya kan kebanyakan penumpangnya laki-laki, kadang ada saja yang ganjen, goda-goda. Tapi semua kan balik lagi ke diri sendiri, saya sih menanggapinya hanya sebagai keisengan belaka, gak saya seriusin,” ujar Helen

Selain digoda oleh penumpang, tak jarang Helen mendapat perlakuan kasar dari penumpang bus. Meski tidak berbentuk kekerasan fisik, tapi pernah beberapa kali dirinya mendapat makian dari penumpang.

“Pernah saya dimaki-maki penumpang, posisinya penumpang tersebut pasangan, entah suami istri atau sepasang kekasih, saya lagi bantu cari sandal dia (cewek) yang hilang di kabin bus, penumpang tersebut turun di Pluit, tapi sedikit kebablasan karena si penumpang cowok gak dibolehin si cewek ke depan duluan. Padahal kan biarpun si cowok turun duluan, bis bakal tetap berhenti menunggu penumpang cewek turun juga,” akunya.

“Ini kan posisinya dua orang tersebut masih cari sandal sama saya juga bantu, dan driver mengira tidak ada yang turun di Pluit, akhirnya lanjut jalan sampai Jembatan Tiga saya dimaki-maki penumpang cewek tersebut,” tambah Helen.

Baca juga: Ada Pramugari di Bus AKAP, Dari Layani Penumpang Hingga Turunkan Barang di Bagasi

Dia mengaku, saat mendapat perlakuan itu penumpang lain masih membela dirinya. Bahkan Helen mengatakan, dirinya tetap bekerja sesuai SOP bagaimanapun perlakuan penumpang pada dirinya. (Senna Aditya – Pecinta Bus)

Mengenal Riwayat Kereta Komuter Diesel di Indonesia

Setelah lintas Yogyakarta – Solo mengenal sosok Kereta Rel Diesel (KRD) MCW 300 KA Kuda Putih pada tahun 1963, sayangnya butuh waktu agak lama sampai daerah lain bisa menikmati layanan kereta komuter. Setelah generasi KA Kuda Putih yang didatangkan dari Jerman, selanjutnya generasi kereta komuter beralih ke pemasok lain, yakni dari Negeri Sakura.

Baca juga: KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia

Pada tahun 1976, bersamaan dengan pengadaan KRL (Kereta Rel Listrik) untuk kebutuhan lintas Jabodetabek, pemerintah juga mendatangkan KRD MCW 301 dan MCW 302 produksi Nippon Sharyo, Jepang. Hadirnya KRD dianggap begitu penting bagi PT KAI (d/h PJKA), lantaran lintasan yang sudah mendukung sistem elektrik masih sangat terbatas. Dari sejarahnya, KRD MCW301 dan MCW302 merupakan unit-unit kereta rel diesel hidrolik (KRDH), dimana seri MCW301 didatangkan pada tahun 1976 dan seri MCW302 didatangkan pada tahun 1980 hingga 1982.

Sedikit beda dengan desain KRL (Kereta Rel Listrik), KRD MCW 301 memiliki dua pintu pada setiap sisinya, dua pintu akses ke kabin masinis dan 1 pintu di bagian depan untuk mempermudah hilir mudik penumpang jika terjadi penggabungan rangkaian, sedangkan KRD MCW 302 memiliki tiga pintu di setiap sisinya, dua pintu akses ke kabin masinis, 1 pintu di bagian depan untuk penghubung dan toilet. Adanya fasilitas toilet memang menjadi ciri khas dari kereta komuter berbasis diesel ini, pasalnya di komuter KRL tidak dilengkapi toilet.

Pada awalnya, KRD ini menggunakan mesin dan transmisi hidrolik buatan Shinko, namun mulai tahun 1995 hingga 1999 secara bertahap 64 unit KRD MCW302 dikonversi mesinnya ke Cummins yang dilakukan oleh PT INKA Madiun dengan pembiayaan dari Jepang (JICA), dan sedangkan beberapa unit MCW301 yang sudah tidak aktif mesinnya dimodifikasi menjadi kereta ekonomi (K3) yang beroperasi di wilayah Daop I dan Daop II.

Beberapa KRD asal Jepang yang telah di ‘reinkarnasi’sampai saat ini masih tetap eksis. Dengan karoseri dan peremajaan, KRD dari Jepang kini tampil fresh dalam layanan KA Prameks, KA Janggala, KA Delta Express, KA Keduh Sepur, dan KA Madiun Jaya.

Spesifikasi teknis KRD MCW 301 dan MCW 302:
– Jenis mesin: Cummins NT 855 R5
– Jenis transmisi: Voith T 211 r
– Jumlah pintu: 2 (MCW 301), 3 (MCW 302)
– Tahun konversi (MCW 302): 1995-1999
– Daya keluaran mesin: 206 kW=276 HP
– Daya keluaran transmisi: 194 Kw=260 HP
– Kecepatan maksimum: 90 km/h
– Massa total rangkaian: 189,6 ton (4 kereta)

Meski Berpeluang Sebagai ‘Rajanya’ Pesawat Kargo, Ini yang Membuat A380F Sulit Diwujudkan

Guna memenuhi kebutuhan pasar, pihak pabrikan pesawat umumnya merancang varian kargo dari basis pesawat jet komersial, khususnya pada pesawat kategori berbadan lebar (wide body). Namun, ada yang berbeda dari Airbus A380, meski didapuk sebagai pesawat penumpang terbesar di dunia, belum ada varian kargo dari A380 yang mengudara, mengapa demikian?

Rupanya, bersamaan dengan peluncuran A380-800 pada awal tahun 2000-an, telah disiapkan desain A380F yang dirancang untuk mengangkut hingga 150 metrik ton kargo sejauh 10.000 kilometer, yang mana pesawat ini akan bersaing dengan Boeing seri 747F yang sudah mapan.

A380F adalah pesawat kargo yang pernah diumumkan yang melengkapi A380-800 Airbus dan program yang lebih luas dalam komitmen terhadap apa yang dirasanya sebagai era baru perjalanan.

Varian ini, yang dirancang sebagai varian kargo khusus dari A380-800, merupakan bagian dari rencana ambisius Airbus untuk mendominasi pasar penumpang jarak jauh dan segmen pesawat kargo berkapasitas tinggi yang dirasanya telah kekurangan pangsa pasar untuk jangka waktu yang cukup lama.

Saat diluncurkan, A380F menarik minat beberapa pelanggan terkemuka, termasuk FedEx dan UPS, yang bisa dibilang termasuk dua perusahaan kargo terbesar di industri ini.

Namun, A380F tidak pernah terwujud. Pada akhir tahun 2000-an, semua pesanan untuk varian pesawat kargo telah dibatalkan, dan harapan program yang lebih luas pun sirna. Ada alasan utama untuk pembatalan ini, tetapi apakah ini berarti A380F tidak mungkin ada dalam industri saat ini, atau dapatkah itu menjadi pesawat Airbus berikutnya berkat konversi daripada produksi langsung?

Keputusan untuk tidak melanjutkan A380F terutama didorong oleh tantangan yang dihadapi Airbus dalam mengirimkan A380-800 kepada pelanggannya, yang dianggap sebagai bagian terpenting dari program tersebut.

Meskipun telah diluncurkan beberapa waktu lalu, penundaan varian penumpang tetap sulit dilupakan. Kelebihan biaya memaksa Airbus untuk lebih fokus pada peluncuran jenis ini. Ukuran A380 yang sangat besar, meskipun menguntungkan untuk operasi penumpang, menghadirkan kendala logistik untuk penggunaan kargo. Desain dek gandanya mempersulit pemuatan dan pembongkaran kargo.

Dalam kasus ini, prioritas sering kali bergeser. Untuk pesawat seperti A380F, penekanannya lebih besar pada model tersebut, dengan lebih banyak pesanan, investasi dalam jumlah besar, dan pesawat yang sangat diharapkan Airbus untuk membantunya bersaing dengan Boeing.

Dari sisi bisnis, pembatalan A380F juga dipengaruhi oleh kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Permintaan untuk pesawat kargo berukuran sangat besar terbatas, dengan Boeing 747-8F menguasai sebagian besar ceruk pasar ketika perusahaan itu juga memutuskan untuk meluncurkannya. Konsumsi bahan bakar dan biaya perawatan A380 yang tinggi membuatnya kurang nyaman

Meskipun A380F akan menawarkan platform yang menarik bagi operator angkutan barang yang serupa dengan pesawat penumpang, ukuran dan kompleksitas pengoperasian pesawat akan selalu membatasi penggunaannya.

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan oleh operator mana pun, termasuk keterbatasan infrastruktur dan kebutuhan untuk menempatkan pesawat di bandara tanpa melupakan langkah-langkah pemuatan.

Dengan produksi A380 yang telah dihentikan pada tahun 2021, gagasan tentang A380F buatan Airbus secara efektif tidak mungkin lagi. Fasilitas dan rantai pasokan yang diperlukan untuk memproduksi A380 baru telah dibongkar, sehingga menghidupkan kembali program apa pun menjadi tidak mungkin.

Dari Soal Teknis dan Bisnis, Inilah Alasan Airbus Tidak Mungkin Buka Kembali Jalur Produksi A380

Bahkan jika Airbus mempertimbangkan kembali usulan tersebut, itu akan kembali ke gagasan yang telah dibatalkan pada tahun 2000-an. Pengembalian investasi akan dipertanyakan, dan di pasar yang lebih menyukai pesawat kargo yang lebih efisien daripada ukuran yang besar, tempatnya tidak akan ada di sana.

Industri saat ini telah beralih ke pesawat kargo yang lebih hemat bahan bakar, seperti Boeing 777F dan A350F. Pesawat ini menawarkan fleksibilitas kepada operator untuk melayani berbagai pasar sambil membatasi biaya.

Kemampuan untuk membatasi biaya tetap sangat kontras dengan apa yang mungkin akan diberikan A380F kepada banyak operator yang mungkin cenderung membelinya. Oleh karena itu, daya tarik untuk pesawat semacam itu akan tetap rendah.

Ternyata, Nama Becak Diambil dari Bahasa Hokkien dan Punya Banyak Cerita

Siapa yang tak kenal dengan becak? Ini adalah moda transportasi tiga roda yang mengangkut penumpang dan di kayuh. Namun hingga saat ini awal dan sejak kapan dikenal di Indonesia pun tak jelas. Namun, tahukah Anda bahwa kata becak diambil dari Bahasa Hokkien yakni be chia yang berarti kereta kuda.

Baca juga: [Tips] Anti Tarif ‘Tembak’ Naik Becak Keliling Yogyakarta

Karena asal usulnya yang tak jelas, maka beberapa ulasan dari banyak penulis mencatatkan beberapa hal yakni seperti becak didatangkan ke Batavia yang sekarang Jakarta dari Singapura dan Hong Kong pada 1930-an. Bahkan Jawa Shimbun terbitan 20 Januari 1943 menyebut becak diperkenalkan dari Makassar ke Batavia pada akhir 1930-an.

Hal tersebut diperkuat dengan catatan perjalan seorang wartawan Jepang ke berbagai daerah di Indonesia termasuk Makassar. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, dalam sebuah catatan berjudul “Pen to Kamera” terbitan 1937 disebutkan becak ditemukan orang Jepang yang tinggal di Makassar bernama Seiko-san yang memiliki toko sepeda.

Karena penjualan tak kunjung membaik, pemilik kemudian memutar otak agar tumpukan sepeda yang tak terjual bisa dikurangi. Bahkan transportasi roda tiga ini ditemukan di Indonesia dan juga sebagian Asia.

Dari catatan lainnya, becak masuk ke Indonesia pertama kali awal abad ke-20 untuk keperluan pedagang Tionghoa mengangkut barang. Kemudian tahun 1937, becak dikenal dengan nama “roda tiga”. Yang mana kata betjak/betja/beetja baru digunakan pada 1940 ketika becak mulai digunakan sebagai kendaraan umum.

Pada awal kehadirannya, pemerintah Kolonial Belanda senang dengan transportasi baru tersebut. Namun, belakangan mereka melarang keberadaan becak karena jumlahnya terus bertambah lalu membahayakan keselamatan penumpang serta menimbulkan kemacetan. Jumlah becak justru meningkat pesat ketika Jepang datang ke Indonesia pada 1942.

Baca juga: Becak: Dikagumi di Eropa, Tersingkir di Dalam Negeri

Kontrol Jepang yang sangat ketat terhadap penggunaan bensin serta larangan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi menjadikan becak sebagai satu-satunya alternatif terbaik moda transportasi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Kemudian becak dilarang untuk beroperasi di Jakarta karena alasan tidak manusiawi atas dasar Perda 11 Tahun 1988, yang di dalamnya tercantum bahwa kendaraan resmi hanya kereta api, taksi, bis dan angkutan roda tiga bermotor.