Ada Kecelakaan KA Turangga vs KA CommuterLine Baraya, KAI Daop 7 Berikan Refund 100 Persen ke Penumpang

KAI Daop 7 Madiun memberikan kompensasi pengembalian bea tiket sebesar 100 persen. Pengembalian bea ini diberikan kepada pelanggan kereta api yang hendak membatalkan perjalanan tiket nya yang terdampak akibat jalur kereta api di Stasiun Haurpugur – Cicalengka tidak dapat dilewati.

Baca juga: Terlibat Tabrakan, KA Turangga Bawa 287 Penumpang dan CL Bandung Raya 191 Penumpang

Seperti diketahui, dalam kondisi normal, pembatalan tiket atau refund tiket akan dikenakan pengembalian bea sebesar 25 persen dari harga tiket dan di luar biaya pemesanan. Dengan begitu, penumpang hanya mendapat 75 persen dari harga tiket.

Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, mengatakan, pengembalian biaya tiket bisa dilakukan di loket stasiun. Pembatalan tiket tersebut bisa dilakukan paling lambat H+7 setelah tanggal keberangkatan kereta api.

“Pengembalian bea dapat dilakukan secara tunai di loket stasiun keberangkatan atau stasiun antara ataupun dengan melalui transfer ke rekening pelanggan paling lambat 1×24 jam sejak proses pembatalan,” ujarnya.

Hingga pukul 12.00 WIB, perjalanan KA di Daop 7 Madiun aman, lancar dan terkendali. Meskipun demikian akan terdapat 3 KA perjalanan dari dan ke Daop 7 Madiun dengan tujuan Bandung yang akan dialihkan perjalanannya melalui jalur Kroya – Purwokerto – Cirebon – Cikampek – Bandung dan sebaliknya.

Baca juga: Inilah Kavach, Teknologi Asli India Cegah Dua Kereta Tabrakan

Berikut adalah KA yang memutar
* KA Pasundan relasi Surabaya Gubeng – Kiaracondong pp
* KA Argo Wilis relasi Surabaya Gubeng – Bandung pp
* KA Tambahan relasi Surabaya Gubeng – Kiaracondong pp

“KAI mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelanggan KA, dikarenakan adanya gangguan perjalanan dan pelayanan KA. Seluruh petugas sedang berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan evakuasi dan normalisasi jalur di lokasi kejadian.” tutup Kuswardojo.

Hari Ini, 13 Tahun Lalu, Pesawat Turksih Airlines Flight 1754 Nyaris Dibajak Penumpang Etnis Kurdi

Pada hari ini, 13 tahun lalu, bertepatan dengan 5 Januari 2011, terjadi percobaan pembajakan pesawat Boeing 737–800 Turkish Airlines flight 1754. Pelaku pembajakan yang berasal dari etnis Kurdi coba masuk ke kokpit dan mengaku membawa bom serta meminta pesawat kembali ke Oslo, Norwegia, alih-alih mendarat di Istanbul. Beruntung, aksinya digagalkan penumpang asal Turki dan Norwegia.

Baca juga: WNI Serang Awak Kabin, Pesawat Turkish Airlines Istanbul-Jakarta Dialihkan ke Medan: Terancam Denda Rp100 Juta

Laporan CNN-Turk, pembajak yang berasal dari etnis Kurdi di wilayah Anatolia (Antalya), selatan Istanbul, bernama Yasar Cuma, awalnya tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Sejak pesawat berangkat dari Oslo, ia berlaku seperti kebanyakan penumpang, duduk dan mengikuti arahan pramugari/pramugara.

Satu jam jelang pendaratan atau sekira pukul 19.30 GMT, pria berusia 40 tahun itu mulai bangkit dari tempat duduk dan menuju kokpit sebelum memaksa masuk.

Tentu saja pilot tak menghiraukan hal tersebut dan melaporkannya ke ATC serta disambut dengan mempersiapkan pasukan keamanan di Istanbul. Terlebih, Cuma mengaku membawa bom. Ia berteriak di depan pintu kokpit dengan bahasa Turki agar pesawat kembali ke Oslo.

Mendengar ancaman bom dan percobaan pembajakan pesawat oleh Cuma, membuat 59 penumpang lainnya gelisah. Beberapa di antaranya coba bernegosiasi dan menenangkannya. Secepat kilat, beberapa penumpang pun melumpuhkan Cuma dan mengamankannya. Setelah diperiksa, tak ditemukan bom.\

Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya

Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Istanbul, Turki. Setelah seluruh penumpang turun, 20-30 polisi dilaporkan masuk ke kabin dan menangkap Cuma.

Setelah diinterogasi, polisi mengungkapkan bahwa Cuma memiliki masalah psikologis hingga berujung pada percobaan pembajakan. Ini juga didukung dengan tidak ditemukannya bom, senjata tajam, dan senjata api dalam menjalankan aksinya.

Meski begitu, menurut salah satu penumpang bernama Salim Tahar mengatakan kepada TV2 Nyhetskanalen Norwegia, penumpang tersebut tampak seperti teroris dengan memakai penutup wajah, topi, dan pakaian gelap.

“Kami berada 50 menit dari pendaratan ketika saya mendengar banyak suara di bagian belakang pesawat. Saya berbalik dan ada seseorang yang wajahnya tertutup, mengenakan topi dan memiliki pakaian gelap. Pada dasarnya, dia terlihat seperti seorang teroris,” jelasnya.

Baca juga: Pembajakan Pesawat Terlama di Dunia, 39 Hari Kelam Bagi Penumpang El Al Flight 426

“Beberapa penumpang membuat tanda salib, yang lain berdoa. Orang-orang sangat gugup,” tambahnya.

“Di bandara saat penumpang bergegas turun dari pesawat antara 20 dan 30 polisi masuk dan menangkap Cuma,” tutupnya.

Terlibat Tabrakan, KA Turangga Bawa 287 Penumpang dan CL Bandung Raya 191 Penumpang

Terjadi tabrakan kereta antara KA Turangga relasi Bandung–Surabaya Gubeng dan CommuterLine Bandung Raya di Kecamatan Cikuya, Cicalengka, Bandung, pada lintas Cicalengka-Haurpugur KM 181+700 tanggal 5 Januari 2024 pukul 06.03 WIB.

Baca juga: Adu Banteng di Cicalengka, KA Turangga dengan KA Commuter Line Bandung Raya

Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 2 Bandung, Ayep Hanapi, mengungkapkan, saat kejadian KA Turangga memuat cukup banyak penumpang, jauh lebih banyak dibanding jumlah penumpang CL Bandung Raya.

Hal itu sangat wajar mengingat usai arus perayaan Natal dan Tahun Baru 2024, masyarakat banyak yang melakukan perjalanan Arus Balik menuju Jakarta dan sekitarnya; termasuk Bandung.

“Jumlah penumpang 887 (KA Turangga), untuk KRD 121 penumpang. Semuanya dibawa ke stasiun terdekat,” jelasnya dalam wawancara di Breaking News Metro TV.

Akan tetapi, belakangan informasi tersebut dimutakhirkan dimana ada 287 penumpang di KA Turangga dan 191 penumpang di KA CommuterLine Bandung Raya.

Lebih lanjut, Ayep menyebut pihaknya juga telah melakukan pola operasi memutar untuk kereta tujuan Bandung, seperti KA Argo Wilis relasi Bandung – Surabaya Gubeng, KA Lodaya relasi Bandung – Solo Balapan, dan KA Baturraden Ekspress relasi Bandung – Purwokerto.

Berdasarkan informasi dari Basarnas, Ayep meneruskan, terdapat dua petugas dari KA Turangga yang dalam kondisi terjepit dan menunggu evakuasi petugas. Namun, tidak disebutkan apakah petugas tersebut dalam kondisi selamat atau telah meninggal dunia.

Baca juga: Tragedi Bintaro I – Jadi Kecelakaan Kereta Terburuk dan Paling Tragis di Indonesia

Sampai saat ini, tabrakan KA Turangga dengan CL Bandung Raya telah menyebabkan sedikitnya empat orang meninggal dunia. Dua di antaranya adalah masinis dan asisten masinis CL Bandung Raya dan satu lainnya adalah pramugara KA Turangga. Sedangkan satu lainnya belum didiketahui pasti.

Selain itu, ada 17 korban luka yang dibawa ke RSUD Cicalengka, dimana enam di antaranya sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan korban tewas yang diterima di RSUD sudah ada dua korban.

Adu Banteng di Cicalengka, KA Turangga dengan KA Commuter Line Bandung Raya

Tabrakan maut antara dua kereta terjadi pagi ini (5/1/2024) sekitar pukul 06.03 WIB, yakni melibatkan KA Turangga (KA Plb 65A) dengan KA Commuterline Bandung Raya (KA 350) di KM 181+700 Petak Cicalengka – Haurpugur, dekat Sinyal Masuk pihak Haurpugur. Dari evakuasi korban, informasi terkini menyebutkan ada tiga korban tewas.

Baca juga: Israel Aplikasikan Teknologi Kecerdasan Buatan Cegah Kereta Tabrakan

Dalam rekaman video dan foto yang beredar, posisi lokomotif dan gerbong yang sampai terangkat, mengindikasikan tabrakan berlangsung dalam kecepatan tinggi.

Kereta Api (KA) Turangga merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif yang melayani relasi Bandung–Surabaya Gubeng di lintas selatan Jawa. Kereta api yang menempuh jarak sejauh 696 km dalam waktu sekitar 10 jam 14 menit ini memiliki waktu keberangkatan dari stasiun awal pada malam hari dan tiba di stasiun akhir pada keesokan paginya serta kereta ini berlawanan dengan kereta api Argo Wilis.

Setiap Nama Kereta Ternyata ada Filosofinya

Sementara Commuter Line Bandung Raya adalah layanan kereta api yang dioperasikan oleh KAI Commuter yang melayani rute Cicalengka—Purwakarta Kiaracondong-Cicalengka dan Padalarang—Cicalengka atau sebaliknya.

Pasca Insiden di Haneda, FAA Izinkan Penggunaan Headset Virtual Reality (VR) untuk Pilot

Pasca insiden tabrakan maut antara Airbus A350 Japan Airlines dan Bombardier DHC-8 milik Japan Coast Guard di Bandara Internasional Haneda, Federal Aviation Administration (FAA) – Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat, telah menyetujui penggunaan headset virtual reality (VR) untuk pilot maskapai penerbangan, alasannya headset VR dipercaya dapat membantu keselamatan dan masa depan penerbangan.

Baca juga: Dari Transkrip Petugas ATC Bandara Haneda, Ada Indikasi Kelalaian Pilot DHC-8 Japan Coast Guard

Kacamata pilot untuk Virtual Reality (VR) adalah headset khusus yang membenamkan pilot dalam lingkungan virtual yang realistis. Mereka terdiri dari layar nyaman yang dipasang di kepala dengan lensa dan sensor berkualitas tinggi. Pilot memakainya untuk merasakan visualisasi kondisi real-time yang lebih baik. Kacamata ini sebagian besar merupakan alat untuk pelatihan pilot, dan sekarang akan digunakan di kokpit penerbangan ke Hawaii dan tempat lain.

Pasar global augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) tumbuh secara eksponensial. Di bidang penerbangan, yang baru-baru ini merupakan pasar bernilai satu miliar dolar per tahun, diperkirakan akan tumbuh lebih dari dua puluh kali lipat pada akhir dekade ini, hal ini menunjukkan penerapan perjalanan udara yang terus berkembang.

AR, melapisi informasi digital ke dalam pandangan dunia nyata pengguna, memberikan persepsi yang lebih kaya terhadap lingkungan. Dalam penerbangan, AR mungkin sangat berharga dalam memberikan informasi real-time yang lebih baik kepada pilot tentang lingkungan sekitar pesawat mereka, termasuk cuaca, medan, dan pesawat lainnya. Hal ini dapat meningkatkan navigasi dan keselamatan secara signifikan.

Dikutip dari beatofhawaii.com (2/1/2024), persetujuan FAA ini menyusul pengumuman tahun lalu bahwa perusahaan tersebut, AerSale, telah memberikan Universal Avionics kontrak baru senilai $33 juta untuk memasok sistem Enhanced Flight Vision System (EFVS) yang dapat dipakai untuk pesawat Boeing 737NG. Pesawat Boeing 737 NG termasuk yang masih diterbangkan oleh Alaska Airlines dan United pada penerbangan Hawaii.

Lufthansa Luncurkan Virtual Reality Cockpit untuk Pelatihan Pilot Airbus A320

AerSale mengerjakan program Boeing 737 Setelah sebelumnya berupaya mengembangkan “SkyLens wearable Head-Up Display (HUD) pada Airbus A320. Berdasarkan kontrak, Universal akan memasok kamera SkyLens Head Wearable Display (HWD) dan EVS-5000 ke AerSale untuk mendistribusikan sistem tersebut ke maskapai penerbangan sebagai “AerAware.”

Ketika Pesawat Turbolet L-410 Maskapai Venezuela Dibiarkan Hilang Selama 5 Tahun

Sekitar 16 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 4 Januari 2008, penerbangan Transaven domestik terjadwal reguler dari Caracas ke salah satu pulau di bawah yuridiksi Venezuela di Karibia, jatuh, hilang, dan tidak diserius dicari selama lima tahun lamanaya. Setelah lima tahun, pesawat itu akhirnya dicari dan ditemukan menggunakan peralatan yang lebih canggih.

Baca juga: Vickers VC10, Raja Udara yang Disadur Uni Soviet (Lagi) di Era Perang Dingin

Dikutip dari Simple Flying, maskapai Transven diketahui melayani penerbangan berjadwal reguler antara ibu kota Venezuela, Caracas, ke salah satu pulau kepulauan Los Roques, Venezuela.

Pada hari itu, 4 Januari 2008, pesawat turboprop bermesin ganda Let L-410UVP-E3 buatan Cekoslowakia berusia 21 tahun dengan registrasi YV2081, berangkat dari Bandara Internasional Caracas-Simón Bolívar (CCS) pukul 09:13 waktu setempat untuk terbang sejauh 95 mil menuju Bandara Los Roques di pulau El Gran Roque.

Entah apa yang terjadi, saat pesawat sedang descend ke ketinggian 3.000 kaki dan melakukan landing approach, sekitar 29 kilometer, pilot melapor ke ATC bahwa kedua mesin kehilangan tenaga.

Tak lama, pilot mengungkap rencananya untuk melakukan pendaratan darurat di laut sedeket mungkin dengan El Gran Roque. ATC mendukung hal itu. Sayangnya, itu tak pernah terjadi. Pesawat hilang kontak dan hilang dari radar. Pesawat diduga jatuh di laut.

Setelah pesawat dilaporkan hilang kontak, misi penyelamatan segera dilakukan otoritas untuk menemukan korban selamat, termasuk melalui pesawat Let-410 Transaven lainnya yang terbang di rute yang sama.

Selain beberapa minyak yang mengambang di permukaan air, tidak ada jejak pesawat yang ditemukan. Pencarian pun dihentikan. Tidak ditemukan tanda-tanda atau jejak hilang atau jatuhnya pesawat sampai delapan hari kemudian saat ketika sebuah kapal nelayan menemukan mayat, tujuh mil dari pulau El Gran Roque.

Setelah diotopsi, tim dokter memastikan bahwa jenazah tersebut adalah kopilot Osmel Alfredo Avila Otamendi berusia 37 tahun.

Tiga bulan kemudian, sebuah kapal Angkatan Laut Venezuela mengidentifikasi apa yang diyakini sebagai rongsokan pesawat menggunakan sonar. Pesawat itu diduga berada di kedalaman 980 kaki. Upaya konfirmasi visual pun dilakukan dengan cara menyelam. Ketika puing-puing ditemukan dan diangkat, ternyata itu adalah pesawat lain, bukan Let-410 yang hilang. Sudah begitu, tidak ada tanda-tanda pesawat Let-410 berada. Akhirnya, pencarian pun dihentikan, lagi.

Lima tahun kemudian, pemerintah mendatangkan kapal survei Amerika sepanjang 134 kaki yang disebut “Sea Scout” untuk melanjutkan pencarian. Ternyata itu membuahkan hasil. Pesawat Let L-410 ditemukan berada di kedalaman 3.200 kaki, enam mil di lepas pantai El Gran Roque. Pesawat pun berhasil diangkat. Tidak diungkap penyebab kecelakaan. Yang pasti itu bukan karena cuaca atau bahan bakar yang terkontaminasi.

Baca juga: Pilot Maskapai Taiwan Asal Venezuela Meninggal Setelah Karantina

Sekilas tentang Let-410 Turbolet, pesawat ini diproduksi di pabrik Let dekat desa Kunovice di Republik Ceko. Ini adalah pesawat STOL jarak pendek yang sering digunakan maskapai penerbangan perintis. Sejak diproduksi tahun 1971, lebih dari 1.200 telah dibuat. Sampai saat ini, produksinya masih berlanjut dan terus diminati maskapai di berbagai negara, salah satunya Indonesia.

Pada pertengahan tahun lalu, tiga perusahaan tercatat membeli L410 NG. Mereka adalah Sulut Air sebanyak 10 unit, Wise Air 3 unit, dan Star Wisata Air 5 unit, dan ketiganya adalah maskapai yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Meski tangguh, pesawat ini dianggap merampas peluang pasar pesawat buatan produsen PT DI, N-219, yang notabene tak kalah tangguh.

Dari Transkrip Petugas ATC Bandara Haneda, Ada Indikasi Kelalaian Pilot DHC-8 Japan Coast Guard

Investigasi tabrakan maut antara Airbus A350 JAL516 dan Bombardier DHC-8 milik Japan Coast Guard pada 2 Januari lalu, masih terus berjalan. Namun dari rekaman percakapan (transkrip) petugas pengatur lalu lintas udara (ATC) di Bandara Internasional Haneda menyiratkan bahwa telah terjadi pelanggaran prosedur, yang dalam hal ini bukan berasal dari petugas ATC.

Baca juga: Bombardier DHC-8-300 (Dash 8-300) Japan Coast Guard – Profil Pesawat Intai Multirole yang Nahas Ditabrak A350 JAL516 

Dikutip reuters.com (3/1/2023), disebut bila DHC-8 tampaknya tidak diizinkan untuk lepas landas sebelum tabrakan di landasan pacu (runway). Berdasarkan transkrip ATC, A350 JAL yang bertabrakan dengan DHC-8 Japan Coast Guard di bandara Haneda telah diberi izin untuk mendarat, namun pesawat yang lebih kecil (DHC-8) belum diizinkan untuk lepas landas,

Seluruh 379 orang yang berada di dalam pesawat Airbus A350 Japan Airlines (JAL) (9201.T) berhasil dievakuasi setelah pesawat tersebut terbakar menyusul kecelakaan pada hari Selasa dengan pesawat turboprop De Havilland Dash-8 Coast Guard tak lama setelah mendarat di bandara Haneda.

Namun lima orang tewas di antara enam awak Japan Coast Guard yang dijadwalkan berangkat dalam penerbangan untuk merespons gempa besar di pantai barat Jepang. Sementara kapten pilot berhasil lolos dari maut meski terluka parah.

Pihak berwenang baru saja memulai penyelidikan dan masih ada ketidakpastian mengenai keadaan di sekitar kecelakaan tersebut, termasuk bagaimana kedua pesawat tersebut berakhir di landasan yang sama. Para ahli menekankan bahwa biasanya kegagalan beberapa pagar pengaman menjadi penyebab terjadinya kecelakaan pesawat.

Dari transkrip instruksi pengendalian lalu lintas udara yang dikeluarkan oleh pihak berwenang tampaknya menunjukkan A350 apan Airlines telah diberi izin untuk mendarat sementara pesawat Japan Coast Guard telah diperintahkan untuk meluncur ke tempat penampungan di dekat landasan pacu.

Seorang pejabat dari biro penerbangan sipil Jepang mengatakan kepada wartawan bahwa tidak ada indikasi dalam transkrip tersebut bahwa pesawat DHC-8 telah diberikan izin untuk lepas landas.

Kapten pesawat DHC-8 mengatakan dia memasuki landasan pacu setelah mendapat izin, kata seorang pejabat Japan Coast Guard, sambil mengakui bahwa tidak ada indikasi dalam transkrip bahwa dia telah diizinkan untuk melakukannya.

“Kementerian Perhubungan menyampaikan materi yang obyektif dan akan sepenuhnya bekerja sama dengan … penyelidikan untuk memastikan kita bekerja sama mengambil semua tindakan keselamatan yang mungkin dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa,” kata Menteri Transportasi Tetsuo Saito kepada wartawan.

Badan Transportasi Keselamatan Jepang (JTSB) sedang menyelidiki kecelakaan tersebut, dengan partisipasi lembaga-lembaga di Perancis, tempat jet Airbus dirancang, dan Inggris, tempat dua mesin Rolls-Royce diproduksi. Di Kanada, tempat Japan Coast Guard Dash-8 awalnya dibangun oleh Bombardier, badan keselamatan TSB mengatakan pihaknya juga akan ambil bagian.

Sementara itu, Kepolisian Tokyo sedang menyelidiki apakah kemungkinan kelalaian profesional menyebabkan kematian dan cedera, kata beberapa media, termasuk Kyodo dan surat kabar bisnis Nikkei. Polisi telah membentuk unit investigasi di bandara dan berencana untuk mewawancarai mereka yang terlibat, kata seorang juru bicara, namun menolak mengatakan apakah mereka sedang memeriksa adanya dugaan kelalaian.

Hari Ini, 44 Tahun Lalu, Tabrakan Dua Boeing 747 Jadi Kecelakaan Pesawat Terburuk Sepanjang Masa

Investigasi kecelakaan udara yang dilakukan secara paralel di masa lalu telah menimbulkan kekhawatiran mengenai ketegangan antara investigasi keselamatan sipil, yang mengandalkan diskusi terbuka mengenai kesalahan untuk membantu meningkatkan keselamatan, dan penyelidikan yang dipimpin polisi, yang dirancang untuk menyalahkan pihak-pihak yang bersalah.

“Ada kemungkinan besar terjadi kesalahan manusia,” kata analis penerbangan Hiroyuki Kobayashi, yang merupakan mantan pilot JAL. “Kecelakaan pesawat sangat jarang terjadi karena satu masalah, jadi menurut saya kali ini juga ada dua atau tiga masalah yang menyebabkan kecelakaan itu.”

Sempat Error, Aplikasi KAI Access Sudah Bisa Diakses, KAI: Mohon Maaf, Kendala Jaringan

Layanan pemesanan tiket online KAI Group, termasuk Access by KAI, mengalami gangguan Kamis pagi, 4 Januari 2024 ini. Imbasnya, sejumlah pengguna mengaku terlambat bekerja atau bahkan tidak berangkat bekerja karena buruknya penanganan dari petugas.

Baca juga: Mulai 1 Juli 2019, Sistem Aplikasi KAI Access Diambil Alih PT KAI

Selain KAI Access error, PT Railink selaku operator KA Bandara, yang juga bagian dari KAI Group, juga mengumumkan seluruh pembelian tiket online tidak dapat diakses pagi ini.

Menanggapi hal itu, VP Public Relations KAI, Joni Martinus, mengungkapkan penyebab terganggunya layanan pemesanan tiket online lantaran kendala jaringan internet publik yang bermitra dengan KAI, walaupun belakangan diralat hanya sampai sebatas kendala jaringan.

“PT Kereta Api Indonesia (Persero) memohon maaf atas gangguan pelayanan penjualan yang sempat dialami pelanggan, saat melakukan pemesanan tiket online melalui aplikasi Access by KAI, channel atau mitra eksternal, loket box, dan website kai.id pada Kamis pagi, 4 Januari 2024 ini,” jelasnya kepada KabarPenumpang.com.

“Hal tersebut disebabkan karena kendala jaringan, sehingga berimbas pada pemesanan tiket online. Selanjutnya Tim IT KAI melakukan berbagai langkah perbaikan diantaranya meningkatkan quality of service dengan penambahan kapasitas, redundacy jaringan dan peningkatan aspek security,” tambahnya.

Baca juga: Tak Ada Info Jumlah Kursi di KAI Access, Warganet Berkicau di Twitter. Ini Tanggapan PT KAI

Saat ini, lanjut Joni, penjualan tiket online sudah berangsur normal dan pemesanan tiket secara online sudah bisa kembali dilakukan.

Kami masih melakukan evaluasi agar gangguan tersebut tidak terulang kembali. Kami harap masyarakat tetap menggunakan jasa transportasi massal kereta api yang aman, nyaman, dan tepat waktu.

Sinyal Navigasi GPS di Finlandia Kacau, Salah Rusia?

Gangguan pada sinyal navigasi GPS (Global Positioning System) telah diamati di beberapa bagian negara anggota terbaru NATO, seperti yang terjadi di Finlandia yang pada pertengahan 2023 lalu resmi bergabung dalam Aliansi Pertahanan Atlantik Utara, setelah terdedak dan menanggalkan statusnya sebagai negara netral akibat terancam oleh Rusia.

Baca juga: Waspada Spoofing GPS di Sekitar Teheran, Jalur Favorit Penerbangan Internasional di Timur Tengah

Dikutip newsweek.com (2/1/2023), gangguan pada sinyal GPS dialami langsung oleh pilot dan pengendara kendaraan di darat, dan mengikuti gangguan GPS sebelumnya memicu spekulasi keterlibatan Rusia, meskipun tidak ada bukti bahwa Moskow berada di balik insiden terbaru tersebut.

Badan Transportasi dan Komunikasi Finlandia (Traficom) mengatakan bahwa gangguan GPS terdeteksi di Finlandia timur dan tenggara pada hari Minggu lalu. Gangguan ini terlihat di situs GPSjam, dan administrator John Wiseman menggambarkannya di akun X (d/h Twitter), sebagai: “Belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal [jumlah] pesawat yang terkena dampak dan luas wilayah yang terkena dampak. Baltik sungguh menarik akhir-akhir ini.”

Dalam pesan lanjutannya, Wiseman mengatakan: “Suhu sudah mulai mereda dalam 24 jam terakhir, namun masih ada beberapa gangguan signifikan yang terjadi, yang biasanya tidak terlihat di wilayah Finlandia ini.”

Kepala penerbangan Traficom Jari Pöntinen mengatakan gangguan GPS tidak mempengaruhi keselamatan penerbangan, karena pesawat dilengkapi dengan sistem navigasi lain. Pöntinen tidak mau berkomentar apakah Rusia terlibat meskipun ia mengatakan gangguan seperti itu biasanya terjadi di dekat wilayah konflik.

“Ada gangguan di Laut Baltik dekat Kaliningrad, di Wilayah Laut Hitam dan di Timur Tengah, seperti dekat Israel,” kata Pöntinen.

Segera setelah dimulainya invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, pejabat keselamatan udara Perancis Benoît Roturier, kepala navigasi satelit di Direction Générale de l’Aviation Civile mengatakan bahwa Moskow berada di balik insiden gangguan GPS yang mempengaruhi pesawat di Finlandia.

Otoritas Penerbangan Sipil Perancis Tuduh Rusia Ganggu Sistem Navigasi Berbasis Satelit

Dia mengatakan kepada Bloomberg pada bulan April 2022 bahwa tujuan mereka (Rusia) bukan untuk menghambat penerbangan sipil tetapi kemungkinan merupakan efek samping dari langkah untuk melindungi pasukan atau aset militer dari rudal yang dipandu GPS.

Ketegangan meningkat antara Helsinki dan Moskow sejak Finlandia bergabung dengan NATO pada April 2023. Helsinki menuduh Rusia memicu krisis migran dengan mengirim pengungsi ke perbatasannya—klaim yang dibantah Kremlin.

Bombardier DHC-8-300 (Dash 8-300) Japan Coast Guard – Profil Pesawat Intai Multirole yang Nahas Ditabrak A350 JAL516

Selain Airbus A350-900 Japan Airlines JAL516, turut menjadi korban dalam tabrakan maut di Bandara Internasional Haneda Tokyo adalah pesawat intai maritim multirole Bombardier DHC8-300 (JA722A) milik Japan Coast Guard (Penjaga Pantai Jepang) yang akan terbang membawa bantuan bagi korban gempa bumi. Bila awak dan penumpang A350 selamat, maka lima awak DHC-300 Japan Coast Guard (JCG) tewas ditempat saat kejadian pada 2 Januari 2024.

Baca juga: A350 Japan Airlines Tabrak DHC-8 yang Hendak Bantu Korban Gempa dan Tewaskan 5 Orang, Airbus Bilang Begini

Terlepas dari sebab musabab yang masih dalam investigasi, menarik untuk disimak adalah profil DHC-300 yang populer sebagai pesawat penumpang komuter turboprop asal Kanada yang lumayan laris di pasar ekspor.

Pengembangan Bombardier DHC-8-300 dimulai oleh perusahaan Kanada, de Havilland Canada (DHC), sebelum akhirnya dimiliki oleh Bombardier Aerospace. Proyek pesawat ini dimulai dengan pengembangan pesawat DHC-8, yang merupakan pesawat bermesin ganda dan bermesin turboprop dengan desain sayap tinggi (high wing).

Pesawat ini dirancang untuk melayani rute penerbangan pendek hingga menengah dengan kapasitas penumpang yang cukup besar.

De Havilland Canada pertama kali meluncurkan varian pendek DHC-8-100, yang kemudian diikuti oleh DHC-8-200 yang memiliki kapasitas penumpang lebih besar. Keduanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar penerbangan regional dengan jarak pendek hingga menengah.

Dalam upaya untuk memperluas jangkauan dan kapasitas pesawat, de Havilland Canada meluncurkan varian DHC-8-300.

 

DHC-8-300 adalah varian yang lebih panjang dari keluarga DHC-8, memberikan kapasitas penumpang lebih besar daripada varian pendek sebelumnya. Pesawat ini dapat mengakomodasi lebih banyak penumpang, menjadikannya pilihan yang lebih efisien untuk operator regional.

Pada tahun 1992, Bombardier Aerospace mengakuisisi de Havilland Canada dari Boeing. Sebagai hasilnya, pesawat DHC-8-300 menjadi bagian dari keluarga produk Bombardier. Setelah akuisisi, pesawat DHC-8-300 dan varian lainnya dalam keluarga Dash 8 secara resmi diubah namanya menjadi “Bombardier Dash 8.” Sejak saat itu, pesawat ini dikenal sebagai Bombardier Dash 8-300.

Seiring berjalannya waktu, Bombardier terus melakukan penyempurnaan pada varian Dash 8-300, termasuk pembaruan avionik, perbaikan efisiensi bahan bakar, dan perubahan desain lainnya. Ini bertujuan untuk meningkatkan performa dan kenyamanan pesawat.

Bombardier menghentikan produksi varian Dash 8-300 pada tahun 2005, ketika fokus pabrik beralih ke varian yang lebih baru seperti Dash 8-Q400. Meskipun demikian, banyak pesawat Dash 8-300 yang tetap beroperasi di berbagai maskapai di seluruh dunia.

Satu sampai Enam, Inilah Daftar Pesawat Twin Turboprop Tercepat Saat ini

Bombardier DHC-8-300 (Dash 8-300) menjadi populer di pasar penerbangan regional dan terus digunakan oleh sejumlah maskapai penerbangan regional untuk melayani rute pendek dan menengah. Meskipun produksi varian ini telah dihentikan, warisan dan kontribusinya terhadap industri penerbangan regional tetap signifikan, bahkan pernah menjadi penantang yang cukup kuat bagi keluarga pesawat komuter asal Perancis-Italia ATR 72 series.

Spesifikasi umum Bombardier DHC-8-300 (Dash 8-300):
Panjang Keseluruhan: 28,42 meter
Rentang Sayap: 25,91 meter
Tinggi Keseluruhan: 7,49 meter
Kapasitas Penumpang: 56 – 58 penumpang dalam konfigurasi kursi satu kelas.
Mesin: 2x turboprop Pratt & Whitney Canada PW123E.
Kecepatan Maksimum: 556 km/jam
Jarak Tempuh Maksimum: Sekitar 1.995 kilometer
Ketinggian Terbang Maksimum: Sekitar 7.620 meter
Berat Kosong: 12.608 kg
Berat Maksimum Lebih Landas: 21.863 kg