Satu Tahun Pasca Invasi, Layanan Penerbangan Domestik Rusia Masih ‘Sehat’, Ini Resepnya

Invasi Rusia ke Ukraina telah berjalan lebih dari satu tahun, sebagai dampaknya langsung dirasakan oleh industri dan layanan dirgantara di Negeri Beruang Merah. Beragam Pembatasan dan sanksi ekonomi telah membuat babak belur industri penerbangan di Rusia. Meski mengalami kemerosotan, namun, sampai ini layanan penerbangan sipil di Rusia masih tergolong sehat, di mana sebagian besar maskapai masih mampu melayani penerbangan di negara dengan luas daratan terbesar ini.

Baca juga: Masih Disanksi, Maskapai Rusia Mulai Mengkanibal Pesawat Barat

Hal tersebut bisa terjadi lantaran maskapai Rusia mampu mendapatkan suku cadang yang cukup untuk mempertahankan layanan domestik yang kuat di negara mereka yang luas. Ketersediaan suku cadang pun menjadi tema bahasan menarik, lantaran dengan sanksi rapat dari AS da Eropa Barat, maskapai Rusia masih mampu mendapatkan pasokan suku cadang. Dari manakah asal suku cadang yang dimaksud?

Dikutip dari Forbes.com, sejak dimulainya perang Rusia dengan Ukraina, GA Telesis, distributor suku cadang pesawat yang berbasis di Florida, telah menerima banyak permintaan yang mencurigakan. Mereka berasal dari perusahaan bayangan yang dibentuk selama setahun terakhir di Uni Emirat Arab dan bekas republik Soviet seperti Kazakhstan dan Tajikistan.

Sadar akan sanksi terhadap Rusia, GA Telesis meminta bukti bahwa suku cadang tersebut untuk maskapai dan pesawat tertentu. Ketika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan itu, mereka (para pemesan) menghilang.

Ketika AS dan Eropa pertama kali memberlakukan sanksi ekonomi setelah invasi Rusia ke Ukraina, pakar penerbangan memperkirakan bahwa maskapai penerbangan Rusia akan direduksi menjadi suku cadang kanibal untuk mempertahankan jumlah pesawat yang semakin sedikit di udara.

Maskapai S7. Foto: Unsplash/Simple Flying

Meskipun ada tanda-tanda tekanan besar, bagaimanapun, maskapai Rusia telah terbukti sangat tangguh dalam pengadaan suku cadang yang cukup untuk menjaga pesawat melintasi negara yang luas, yang bergantung pada perjalanan udara untuk menghubungkan masyarakat terpencil.

Jumlah tujuan internasional yang dilayani maskapai penerbangan Rusia telah menurun tajam karena larangan penerbangan, tetapi perjalanan udara di dalam negeri tetap sehat. Pada bulan Februari, jumlah kilometer kursi yang tersedia yang diterbangkan di dalam Rusia — ukuran utama kapasitas domestik — turun hanya 13% dari bulan yang sama tahun lalu, menurut penyedia data OAG.

Pada saat yang sama, jumlah penumpang domestik meningkat sekitar 50.000 menjadi 6,5 juta, menurut surat kabar Kommersant. Pada bulan April, maskapai penerbangan Rusia telah menjadwalkan 2% lebih banyak kilometer kursi.

Hingga Rabu, ada 793 pesawat penumpang dan kargo besar yang beroperasi di Rusia, turun 101 dari pertengahan Februari tahun lalu, menurut firma analitik penerbangan Cirium. Sebagian besar penurunan tampaknya disebabkan oleh kepemilikan kembali sekitar 59 dari 483 pesawat yang disewakan kepada operator Rusia oleh pemilik asing, kata Cirium.

Untuk mendapatkan suku cadang pesawat, Rusia diduga mengikuti pedoman yang ditulis oleh Iran, negara yang telah lama dikenai sanksi, yakni bekerja melalui perantara yang mengarahkan komponen melalui berbagai perantara untuk mengaburkan tujuan akhir mereka.

Rusia juga gencar memproduksi suku cadang di dalam negeri, terutama untuk operasional pesawat-pesawat dari merek produksi dalam negeri, seperti Sukhoi dan Tupolev.

Rusia diyakini menemukan mitra yang bersedia di bekas republik Soviet dan negara-negara seperti Turki, India, dan Cina. Tapi itu mahal. Dengan pemotongan setiap perantara, harga bisa berkisar antara dua hingga lima kali lipat dari tarif normal, menurut sumber industri, dengan waktu tunggu yang lebih lama.

Yang pasti, pesawat Rusia tidak menginspirasi kepercayaan diri dalam hal keselamatan. Bagian-bagian yang dapat diperoleh maskapai penerbangan di pasar gelap dan dengan kanibalisasi sangat sedikit dan butuh waktu lebih lama untuk mendapatkannya, kata Andrey Patrakov, pendiri RunAvia, sebuah perusahaan yang berbasis di Moskow yang membuat perangkat lunak pemeliharaan dan manajemen logistik.

Baca juga: Senjata Makan Tuan, Sanksi Barat ke Rusia Bikin Lessor dan Insurer Barat ‘Ribut’ di Pengadilan

Kisah-kisah horor telah membuktikan, pada akhir Februari 2023, sebuah Boeing 737 yang dioperasikan oleh Rossiya Airlines melakukan pendaratan darurat setelah kabin mengalami penurunan tekanan.

Beberapa minggu sebelumnya, sebuah Azur Air Boeing 767 membatalkan lepas landasnya dari Phuket, Thailand, setelah api keluar dari mesin. Tidak ada yang dilaporkan terluka dalam kedua insiden tersebut

Inilah Sebab Mengapa Pintu Penumpang Umumnya Ada di Sisi Kiri Kokpit!

Ketika garbarata tidak tersedia, Anda terpaksa berjalan dari apron menuju pintu pesawat. Nah, jika diperhatikan, pintu penumpang selalu dibuka dari sebelah kiri. Padahal seperti yang diketahui bersama, terdapat dua pintu pesawat (kiri dan kanan) yang sebenarnya dapat digunakan sebagai akses masuk penumpang. Tapi, pernahkah terlintas di pikiran Anda, “Kenapa penumpang selalu naik menggunakan pintu sebelah kiri ruang kokpit, ada apa dengan pintu sebelah kanan?”

Baca Juga: Apa Arti Nomor di Ujung Landas Pacu, Cari Tahu di Sini!

Kunci jawaban pertanyaan tersebut sangatlah sederhana, efisiensi dan keselamatan. Seperti yang KabarPenumpang.com himpun dari sejumlah laman sumber, secara umum penjabaran di atas mengenai letak pintu pesawat sudah benar adanya, namun fungsi dan penamaannya berbeda. Pintu sebelah kiri lebih dikenal dengan  nama Passengers Door, sedangkan yang kanan dikenal dengan nama Service Door.

Sesuai dengan namanya, pintu sebelah kiri dikhususkan untuk penumpang, dan sebelah kanan difokuskan untuk loading segala kebutuhan selama penerbangan, seperti layanan katering, hingga generator set (genset). Tidak berhenti sampai di situ, jika barang bawaan Anda tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam kabin, maka akan dialihkan menuju kargo atau bagasi. Nah, tidak seperti mobil yang memiliki bagasi pada bagian belakang, pesawat memiliki bagasi pada bagian atau biasa disebut lambung pesawat.

Sumber: istimewa

Dapat dibayangkan seberapa kacaunya kondisi di apron manakala penumpang yang tergesa-gesa untuk masuk ke dalam pesawat harus bentrok dengan petugas yang hendak memasukkan kargo atau layanan katering. Selain untuk menghindari kemungkinan kekacauan tersebut, pemisahan passengers door dengan service door juga bertujuan untuk menghindari adanya kecelakaan selama tahap loading.

Pintu pesawat yang tinggi memaksa pihak ground crew untuk menggunakan alat berat seperti mesin lift untuk memasukkan layanan katering dan genset ke dalam pesawat. Begitu pun dengan loading kargo, mereka akan menggunakan alat sejenis untuk memudahkan proses pemindahan barang dari konter check in menuju lambung pesawat. Walaupun kecil kemungkinan untuk terjadi kecelakaan, tapi alangkah lebih bijaksananya jika segala kemungkinan yang mengarah ke sana ditutup rapat-rapat.

Pendapat lain diutarakan oleh Vice President bagian operasional maskapai Virgin Atlantic, Dave Kistruck. “Kapten duduk di sisi kiri karena ia memiliki tanggungjawab untuk memarkirkan pesawat dan harus melakukan taxi (proses jalan di darat dari apron menuju runway) dekat garbarata,” ungkapnya, dikutip dari laman detik.com.

Baca Juga: Bosan Antri Lama di Bandara, Begini Cara Cepat Ambil Barang di Klaim Bagasi

Demi menunjang kenyamanan saat si burung besi bermanuver, maka kapten pilot akan duduk di sisi dimana penumpang naik dan turun, yaitu di sisi sebelah kiri ruang kokpit. Pernyataan Dave pun turut diamini oleh Civil Aviation Authority (CAA). Lebih lanjut, pihak CAA pun mengaitkannya dengan proses pengisian bahan bakar pesawat.

“Akses masuk pesawat selalu dibuat di sisi kiri. Maksudnya karena ada pergerakan kendaraan di sisi ini. Pengisian bahan bakar maskapai pesawat komersial walau tidak semua dilakukan di sisi kanan,” ungkapnya, dikutip dari laman dailymail.co.uk.

“Pre-Flight Check”, Inilah Lima Inspeksi Wajib yang Dilakukan Sebelum Pesawat Lepas Landas

Minggu, 26 Maret 2023, pesawat turboprop ATR 72 500 dari maskapai Wings Air dengan nomer penerbangan IW-1865 rute Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin, Bima (BMU) tujuan Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok (LOP), mengalami kendala keterlambatan keberangkatan yang disebabkan oleh indikasi pada salah satu indikator pesawat yang membutuhkan pengecekan segera.

Baca juga: Berapa Lama Pre-Flight Check Dilakukan di Penerbangan Komersial dan Apa Saja yang Diperiksa?

Kondisi tersebut sesuai standar operasional prosedur, pilot memutuskan kembali ke landas parkir (return to apron/ RTA) guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pihak Wings Air menyebut, bahwa penundaan penerbangan terpaksa dilakukan demi menjamin keamanan serta keselamatan penumpang dan awak pesawat.

Respon dari insiden tersebut, Wings Air mengupayakan penerbangan ulang setelah mendapatkan konfirmasi dari pihak teknis bahwa pesawat telah siap untuk dioperasikan kembali. Proses pengecekan pesawat membutuhkan waktu yang signifikan (tidak bisa cepat dan instan).

Penerbangan IW-1865 akhirnya mengudara dari Bima pukul 10:15 WITA dari jadwal keberangkatan seharusnya pukul 07.30 WITA.

Yang menarik untuk diperhatikan dalam insiden ini, Wings Air dalam siaran pers mengatakan sudah melaksanakan prosedur pengecekan sebelum keberangkatan (pre-flight check) pada pesawat ATR 72, sebagai serangkaian pemeriksaan dan uji coba yang dilakukan oleh pilot, awak kabin dan teknisi sebelum pesawat siap untuk diterbangkan. Tahapan dimaksud dilaksanakan setiap kali pesawat akan diterbangkan dan merupakan bagian yang tidak dapat diabaikan dalam operasional penerbangan. Hasilnya, pesawat dalam kategori aman dan laik (layak) dioperasikan.

Berlaku pada setiap pesawat, fase pre-flight check pada pesawat ATR 72 Wings Air telah dijalankan, yakni mencakup:

1. Exterior Inspection
Teknisi dan awak pesawat memeriksa kondisi eksterior pesawat seperti kondisi badan pesawat, sayap, mesin, kaca kokpit, ketinggian ban, kebersihan pesawat dan kondisi di sekitar pesawat.

2. Interior Inspection
Kru pesawat memeriksa kondisi interior pesawat seperti dokumen, kebersihan kabin, kursi penumpang dan sistem pengatur suhu.

3. Cockpit Inspection
Pilot mengikuti prosedur pemeriksaan terhadap kondisi sistem elektronik, komunikasi, navigasi dan kontrol pesawat seperti altimeter, instrumen penerbangan dan sistem bahan bakar.

4. Engine Start and Run-Up
Pilot melakukan tes awal mesin dan sistem bahan bakar sebelum memulai menyalakan mesin pesawat.

Baca juga: Pre-Flight Checks, Tugas Pertama Awak Kabin dan Paling Penting, Bagaimana Bisa?

5. Taxi Check
Setelah mesin berhasil dihidupkan, pilot menjalankan pengujian sistem rem, kemudi dan mesin pada kecepatan rendah ketika pesawat bersiap melakukan taksi (pergerakan dari landas parkir menuju landas hubung).

Mulai Hari ini, Garuda Indonesia Buka Penerbangan Langsung Surabaya – Singapura

Garuda Indonesia membuka penerbangan langsung internasional pertama pada hub Surabaya, yakni rute Singapura-Surabaya pp yang resmi mulai dilayani pada hari ini, Minggu (26/3). Rute penerbangan Singapura – Surabaya tersebut akan dilayani 5 (lima) kali setiap minggunya yaitu dengan menggunakan armada B737-800NG yang memiliki kapasitas sebanyak 12 penumpang kelas bisnis dan 150 penumpang kelas ekonomi.

Baca juga: Di Bandara Changi Singapura, Penumpang Bisa Naik Perosotan Tertinggi di Dunia untuk ke Boarding Gate

Penerbangan Singapura – Surabaya dilayani dengan GA 855 dan diberangkatkan dari Bandara Internasional Changi pada pukul 19.20 LT dan tiba di Surabaya pada pukul 20.50 WIB. Sementara penerbangan Surabaya – Singapura dilayani dengan GA 855 dan diberangkatkan dari Bandara Internasional Juanda Surabaya pada pukul 07.30 WIB dan akan tiba di bandara internasional Changi pada pukul 10.50 LT.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan bahwa sebagai national flag carrier Garuda Indonesia senantiasa berkomitmen untuk mendukung penuh misi pemulihan ekonomi nasional khususnya sektor pariwisata melalui penyediaan aksesibilitas udara khususnya dalam menghubungkan wisatawan asing ke berbagai destinasi unggulan dari Surabaya sebagai salah satu hub pariwisata dan bisnis yang strategis.

Irfan melanjutkan bahwa dilayaninya kembali rute penerbangan ini juga diharapkan akan dapat turut memberikan kontribusi terhadap kebutuhan pengiriman kargo khususnya berbagai produk unggulan unggulan dari Jawa Timur.

Baca juga: Bandara Changi Luncurkan Program Ramah Disabilitas ‘Tersembunyi’

Dengan dilayani rute penerbangan ini, nantinya Garuda Indonesia melayani sedikitnya 37 penerbangan dari Singapura setiap minggunya untuk menuju 3 kota besar di Indonesia yaitu Jakarta yang dilayani 27 kali setiap minggunya, Surabaya yang dilayani 5 kali setiap minggunya serta Denpasar yang dilayani 5 kali setiap minggunya.

Airbus Final Assembly Line di Tianjin Cina Kirimkan A321neo Pertamanya

Airbus telah mengirimkan pesawat A321neo pertama yang dirakit di Final Assembly Line Asia (FAL Tianjin) ke Juneyao Air China di Tianjin, Cina. Pesawat ini ditenagai oleh mesin Pratt & Whitney GTF dan memiliki 207 kursi, terdiri dari 8 di kelas Bisnis dan 199 di kelas Ekonomi. Penerbangan pengirimannya akan menggunakan campuran Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan sepuluh persen untuk mendukung strategi penerbangan hijau di Cina.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Airbus Tangguhkan Produksi Pesawat di Pabrik Tianjin, Cina

Airbus memiliki empat fasilitas perakitan akhir Keluarga A320 di seluruh dunia: Hamburg, Jerman; Toulouse, Prancis; Tianjin, Cina; dan Mobile, Amerika Serikat. Dengan konversi fasilitas Tianjin tahun lalu, dan dengan fasilitas terbaru yang akan menyelesaikan transformasinya di Toulouse, sistem industri global akan sepenuhnya mendukung A321, menciptakan fleksibilitas dan kelincahan untuk memenuhi tujuan ramp up Airbus dan kesuksesan pasar yang meningkat. dari model A321.

Diresmikan pada tahun 2008, FAL di Tianjin adalah jalur perakitan pesawat komersial Airbus pertama di luar Eropa. Pada tahun yang sama, bagian pesawat pertama tiba di lokasi. Sejak pengiriman A320 pertamanya pada tahun 2009, FAL Airbus di Tianjin telah mengirimkan lebih dari 600 pesawat selama 14 tahun beroperasi.

A321neo adalah pesawat dengan badan terpanjang dari Keluarga A320 lorong tunggal terlaris Airbus, dengan tempat duduk nyaman sebanyak 244 penumpang, pesawat ini dapat menjangkau 8.700 km.

Baca juga: Dikenal Sebagai “Ibu Kota” Airbus, Inilah Toulouse di Barat Daya Perancis

Menampilkan kabin lorong tunggal terluas di langit, Keluarga A320neo menawarkan setidaknya 20 persen pengurangan konsumsi bahan bakar dan CO2 serta pengurangan kebisingan 50 persen dibandingkan dengan pesawat generasi sebelumnya, berkat penggabungan teknologi terbaru termasuk generasi baru mesin dan Sharklet. Pada akhir Januari 2023, Keluarga A320neo telah menerima lebih dari 8.600 pesanan pasti dari lebih dari 130 pelanggan di seluruh dunia.

Bawa Muatan Mesin Pendingin dari Houston, Pesawat Kargo An-124 Ruslan Mendarat di Kertajati

Setelah Antonov An-225 Mriya dalam kondisi rusak berat akibat terdampak perang di Ukraina, maka predikat pesawat kargo terbesar di dunia kini jatuh pada Antonov An-124 Ruslan. Dan pada ada kabar bahwa An-124 kini telah mendarat dan membongkar muatannya di Bandara Internasional Kertajati, Majalengka Jawa Barat, Rabu (22/3).

Baca juga: Antonov An-124 Terasa ‘Istimewa’ di Yogyakarta, Tapi Sudah ‘Biasa’ di Makassar

Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, pesawat kargo udara terbesar mendarat di Kertajati. Pesawat super jumbo kargo udara itu mengangkut muatan mesin pendingin dari Amerika Serikat (AS). Pesawat ini terbang (take off) dari Houston pada Selasa (21/3). Sebelum mendarat di Bandara Kertajati, pesawat Antonov 124-100 ini sempat singgah di Bandara Nagoya, Jepang untuk mengisi bahan bahan.

Menurut unggahan akun Instagram resmi Bandara Kertajati (@infobijb) pada Kamis (23/3), pesawat kargo raksasa itu mendarat di Bandara Kertajati tepat pukul 14.41 WIB. Usai membongkar muatan dan mengisi bahan bahan, Antonov 124-100 dengan nomor registrasi UR-82007 itu take off pukul 18.12 WIB.

Pengelola Bandara Kertajati menyatakan bahwa mendaratnya Antonov 124-100 ini membuktikan bahwa bandara terbesar kedua di Indonesia ini siap didarati oleh pesawat kargo terbesar dunia.

“Tentunya, dengan mendaratnya pesawat kargo terbesar di dunia di Bandara Kertajati mampu untuk menampung pesawat berbadan lebar, dan akan menjadi magnet ekonomi daerah,” tulis pengelola Bandara Kertajati dalam akun Instagram resminya

Beberapa waktu sebelumnya, Bandara Kertajati juga dikabarkan telah disinggahi oleh pesawat Antonov 124-100. Namun pesawat tersebut hanya transit sejenak guna mengisi bahan bakar dalam perjalanannya dari Melbourne Australia ke Nagoya, Jepang.

Meski pada dasarnya adalah pesawat angkut sipil, An-124 punya sebutan dengan kode NATO sebagai Condor. Pesawat yang terbang perdana pada 24 Desember 1982 ini punya panjang 69,10 m dan berat kosong mencapai 175 ton. Payload An-124 mampu mengangkut berbagai bawaan yang cukuo besar dengan total mencapai 150 ton. Kapasitas payload yang dibawa An-124 lebih besar 25 persen daripada yang dapat dibawa C-5A Galaxy.

Pesawat ini mengandalkan 4 buah mesin Turbofan model Ivchenko-Progress ZMKB D-18T sebagai daya dorongnya. Ibarat kapal ferry Ro-Ro, An 124 dilengkapi dengan dua buah “Cargo Door” yang terdapat pada ekor dan hidung. dengan menggunakan sistem hidrolik, pintu muatan bisa membuka dengan lebar untuk akses keluar masuk barang.

Sejak terbang perdana pada 1982, sampai 2004 sudah 55 unit An-124 yang telah diproduksi. Meski beberapa kali sempat tersiar kabar di Rusia mengenai kemungkinan pemroduksian kembali Ruslan, rencana itu sepertinya sulit terealisasi karena Biro Desain Antonov terletak di Ukraina, yang notabene kini menjadi lawan berat Rusia yang didukung NATO.

Antonov An-124 dikembangkan oleh Soviet Design Bureau OKB Antonov yang sekarang bernama Antonov ASTC, sebuah pabrikan pesawat terbang asal Ukraina yang dikenal sebagai pencetak pesawat terbang raksasa.

Baca juga: Rusia Kembangkan “Elephant”, Pesawat Angkut Berat Pengganti Antonov An-124

An-124 didesain sebagai pesawat militer Angkut strategis, mulai dari helikopter, pesawat ringan, tank, dan berbagai bawaan militer lainya mampu dibawa pesawat ini. Dengan kapasitas bahan bakar penuh (348.740 liter) dan minium payload, diatas kertas An-124 dapat terbang sejauh 14.000 km (ferry flight) pada kecepatan jelajah 865 km per jam.

Insiden Penumpang ‘Mandi Keringat’ di Airbus A320-200 Super Air Jet, Inilah Beberapa Penyebab AC Mati di Pesawat

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan dikabarkan akan melakukan lakukan inpeksi lebih lanjut terhadap pesawat Airbus A320-200 PK-SAW dari maskapai Super Air Jet rute Denpasar (DPS) menuju Jakarta (CGK) dengan kode penerbangan IU-737 yang mengalami gangguan teknis berupa pendingin udara mati selama 2 jam saat terbang pada Selasa (21/3/2023) lalu.

Baca juga: Dikomplain Penumpang, Super Air Jet Buka-bukaan 4 Sumber Kebisingan ‘Normal’ di Pesawat

“Saya mendapatkan informasi bahwa pesawat tersebut mengalami gangguan pada sistem pengatur tekanan udara di cabin sehingga membuat suhu udara di kabin pesawat tinggi dan membuat penumpang menjadi tidak nyaman karena kepanasan,” ungkap Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub M. Kristi Endah Murni dalam keterangannya, Jumat (24/3/2023), dikutip dari cnbcindonesia.com.

Ia mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan agar memberikan teguran kepada maskapai Super Air Jet atas terjadinya permasalahan tersebut. Di sisi lain, Ditjen Hubud melakukan inspeksi lebih lanjut untuk memastikan bahwa pesawat tersebut aman untuk digunakan kembali.

Super Air Jet diminta untuk melakukan investigasi internal atas terjadinya permasalahan tidak berfungsinya sistem pendingin kabin pesawat dan melakukan tindakan perbaikan yang diperlukan agar permasalahan ini tidak terulang kembali, selain itu Super Air Jet diminta melakukan pembinaan kepada personil penerbangan jika ditemukenali melaksanakan tugas diluar Standar Operational Prosedur (SOP) yang berlaku.

Dia juga mengimbau agar seluruh maskapai terus meningkatkan pelayanan serta mengutamakan keselamatan dan keamanan penerbangan. Apalagi sebentar lagi akan menghadapi periode angkutan udara lebaran (angleb) dimana mobilitas masyarakat sangat tinggi.

“Pada periode persiapan angkutan udara lebaran (angleb) tahun ini, kami akan melakukan ramp inspection/inspeksi terhadap pesawat yang akan beroperasi melayani mudik lebaran. Saya mengingatkan kembali para operator di bidang penerbangan untuk mematuhi prinsip 3S+1C dalam penerbangan yaitu Safety, Security, Services dan Compliance (kepatuhan pada aturan yang berlaku),” tutupnya.

Atas kejadian tersebut CEO Super Air Jet, Ari Azhari meminta maaf. Ari mengatakan terdapat indikasi sistem pengatur tekanan udara di kabin tidak berfungsi sebagaimana mestinya saat berada di ketinggian 30 ribu kaki (9.144 meter). “Gangguan ini menyebabkan suhu udara di kabin menjadi lebih tinggi dari semestinya,” kata Ari dalam keterangan resmi, Rabu (22/3/2023).

Di dunia penerbangan terdapat beberapa penyebab matinya pengatur udara – AC (air conditioning) pada kabin, di antaranya adalah:

1. Kegagalan pada sistem listrik
AC pesawat dioperasikan menggunakan sistem listrik yang kompleks, dan jika terjadi masalah pada sistem tersebut, maka AC bisa mati.

2. Masalah pada sistem pendingin
AC pada pesawat menggunakan sistem pendingin yang terdiri dari kompresor, kondensor, evaporator, dan freon. Jika salah satu komponen tersebut bermasalah, maka AC bisa mati.

3. Kebocoran pada sistem pendingin
Jika terjadi kebocoran pada sistem pendingin, maka kinerja AC akan menurun dan akhirnya bisa mati.

4. Kontaminasi pada sistem pendingin
Jika sistem pendingin terkontaminasi oleh kotoran atau benda asing lainnya, maka kinerja AC bisa menurun dan akhirnya bisa mati.

5. Overload pada sistem
Jika terlalu banyak beban yang ditempatkan pada sistem AC, maka kinerjanya bisa menurun dan akhirnya bisa mati.

Baca juga: Dilarang Merokok di Pesawat tapi Disediakan Asbak, Kenapa Demikian?

Untuk menghindari masalah ini, pesawat dilengkapi dengan sistem pemantauan dan perawatan yang ketat. Jika terjadi masalah terkait hal tersebut, maka maskapai wajib memperbaiki atau mengganti pesawat sebelum penerbangan berikutnya.

Kenali Dua Jenis “Grounded” di Dunia Dirgantara

Di sektor dirgantara global, grounded menjadi pertanda bahwa sebuah pesawat mengalami kendala yang serius dan diperkirakan dapat mengancam keselamatan para penumpangnya. Selain itu, ada juga dua jenis grounded, ada yang permanent grounded dan ada yang temporary grounded.

Baca Juga: Ini Dia, Para Pekerja Ground Support System di Bandara

Jika dilihat dari namanya saja, tentu Anda sudah bisa mengklasifikasikan pesawat-pesawat mana saja yang berstatus permanent grounded. Ya, pesawat-pesawat yang Anda temukan di museum atau dijadikan monumen, seperti pesawat Dakota DC-3 Seulawah dengan nomor sayap RI-001 yang ada di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Sementara untuk temporary grounded, terdapat banyak variabel yang menentukannya. Salah satunya adalah kerusakan pada mesin yang akan berdampak pada keselamatan penumpang. Maka dari itu, alih-alih gambling dengan keselamatan penumpang, maka pihak maskapai akan lebih memilih untuk ‘mengistirahatkan’ pesawatnya terlebih dahulu.

Selain itu, pesawat juga bisa grounded ketika suku cadang atau partisi lain yang dibutuhkan untuk reparasi belum tiba. Tidak melulu soal kerusakan, pesawat juga bisa dinyatakan grounded manakala tengah menjalani perawatan rutin.

Baca Juga: Pasca Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8, Lion Air dan Garuda Indonesia Nyatakan Jadwal Penerbangan Tidak Terganggu

Ketika sebuah pesawat grounded, maka semua penerbangan yang dijadwalkan dengan pesawat tersebut akan dibatalkan atau diganti dengan pesawat yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk memastikan keselamatan penumpang dan kru penerbangan.

Berkat Lubang Kecil Ini, Jendela Pesawat Dipastikan Bebas Kabut

Sebagai sebuah struktur yang terbilang kompleks, wajar adanya bila banyak bagian dari pesawat yang tak diketahu penumpang umum. Meski begitu, bisa dipastikan setiap bagian pesawat telah dirancang dengan fungsinya masing-masing. Salah satu yang boleh dibilang luput dari perhatian penumpang adalah adanya lubang berukuran kecil pada jendela pesawat.

Mungkin karena ukurannya yang kelewat kecil, tak banyak dari kita yang memperhatikan adanya lubang tersebut. Tapi tahukah karena adanya lubang tersebut, maka jendela pada pesawat tidak pernah berembun. Ya inilah yang disebut sebagai breather hole, dengan lubang kecil ini jumlah tekanan udara yang melewati antara panel dalam dan luar jendela dapat disesuaikan. Singkatnya, breather hole berperan untuk memastikan bahwa panel luar memiliki tekanan lebih besar. Dan lubang kecil inilah yang membuat mengapa jendela pesawat tidak pernah berkabut, lantaran kelembaban yang diatur di antara panel.

Lain dari breather hole, masih ada beberapa item di kabin yang jarang diketahui fungsinya. KabarPenumpang.com merangkum dari laman escape.com.au (11/10/2017), pesawat terbang sebenarnya dirancang khusus secara cermat untuk memastikan keamanan dan kenyamanan para penumpang. Namun, banyak penumpang yang masih tidak memanfaatkan fitur tersembunyi yang juga terlihat mata atau justru di sekitaran kursi tempat Anda duduk.

Baca juga: Ada Tanda Segitiga Misterius di Kabin Pesawat, Apakah Artinya?

1. Pegangan kompartemen
Setiap penumpang melihat para awak kabin yang berjalan dengan tangan sembari memegang kompartemen atas. Sebenarnya, ini adalah untuk memberitahukan pada Anda bahwa bagian kompartemen ada yang bisa dipegang bila berjalan di lorong kabin. Hal ini seperti ada di kereta api yang memiliki pegangan hanya saja penumpang bisa langsung melihatnya tidak seperti di kabin pesawat.

Ada lagi hal rahasia lainnya seperti sandaran tangan yang bisa diangkat dan disejajarkan dengan kursi Anda. Biasanya bisa ditekan dengan tombol yang ada disekitaran sandaran kursi dan engselnya akan terangkat, dengan seperti ini bisa membuat Anda mendapat ruang sedikit lebih banyak saat ukuran kursi menyusut. Awalnya ini dirancang untuk memudahkan penumpang menyelamatkan diri lebih cepat jika dalam keadaan darurat yang juga digunakan untuk para penyandang disabilitas masuk dan keluar dari tempat duduk mereka.

2. Kait kuning dekat pintu darurat
Ada pula kait berwarna kuning yang berada di pesawat, ini digunakan untuk mengikat tali ke pintu pesawat dan slide tiup sehingga penumpang dapat menahannya saat akan pergi keluar melalui sayap pada keadaan darurat.

Baca juga: Meski Terlihat Bersih, Kursi dan Meja Lipat di Kabin Pesawat Dipenuhi Bakteri

3. Air panas gunakan air keran
Yang terakhir adalah air panas yang digunakan untuk menyeduh teh atau kopi Anda, yakni menggunakan air keran dimana ada hasil penelitian Amerika Serikat setiap delapan pesawat gagal memenuhi standar keamanan air dan 15 persen sistem air di pesawat saat diuji mengandung bakteri yang berbahaya.

Empat Inovasi Ini Singkirkan Ketakutan Anda Saat Mengudara

Perkembangan jaman tidak hanya berdampak pada kehidupan per individu, tapi juga memegang andil terhadap meningkatnya sistem keselamatan yang ada di sarana transportasi, salah satunya adalah pesawat. Hingga kini, bukanlah menjadi suatu rahasia ketika masih saja ada orang yang takut untuk bepergian menggunakan si burung besi ini. Alasannya pun beragam, dari mulai takut ketinggian hingga resiko kecelakaan. Namun, semua ketakutan tersebut seakan terjawab dengan empat inovasi yang memastikan keselamatan para penerbang, dihimpun KabarPenumpang.com dari cntraveler.com (6/7/2017).

Baca Juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Bantalan Kursi Anti Api

Sumber: istimewa

Pada awal 1980an, Federal Aviation Administration (FAA) menugaskan NASA untuk menentukan jenis bahan bantalan kursi mana yang paling tahan api jika terjadi kebakaran di kabin. Dewasa ini, hampir seluruh maskapai penerbangan diwajibkan untuk melapisi setiap kursi yang ada di pesawat menggunakan kain yang sudah lulus uji pembakaran sebelumnya. Sebuah perusahaan busa, Aerofoam bahkan menambahkan Kevlar atau bahan yang digunakan untuk membuat rompi anti peluru ke dalam busa yang ia produksi khusus untuk bangku maskapai.

Sensor Gunung

Sumber: teknol.ru

Controlled Flight Into Terrain (CFIT) adalah kategori kecelakaan di mana pesawat tanpa sengaja bertabrakan dengan pegunungan lanskap, lautan, tanah. Seiring dengan banyaknya kecelakaan yang diakibatkan oleh faktor ini, pada tahun 2000, FAA lalu mewajibkan seluruh maskapi untuk melengkapi setiap armadanya dengan Terrain Awareness Warning Systems (TAWS). TAWS adalah perangkat tingkat lanjut anyar untuk memantau ketinggian, kecepatan, dan sudut pesawat untuk keadaan darurat tertentu, seperti penutupan medan yang berbahaya atau tingkat penurunan yang ekstrem, dan akan memperingatkan pilot melalui pesan audio atau visual.

Baca Juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

Pilot Fatigue Monitoring

Ilustrasi Pilot yang Mengantuk. Sumber: therogueaviator

Mengingat faktor kecelakaan yang sebagian besar diakibatkan oleh human error ditambah dengan survei  yang dilakukan oleh British Airline Pilots’ Association pada tahun 2013 silam yang menunjukkan bahwa sebanyak 56 persen pilot mengaku tertidur saat tengah mengudara. Maka dari itu, diciptakanlah sebuah perangkat lunak yang dapat memantau tingkat kelelahan pilot yang tengah mengudara, dan akan mengirimkan sinyal kepada pilot jika mereka mulai terlelap.

Kincir Angin yang Menghasilkan Tenaga Listrik

Sumber: Youtube.com

Adalah Ram Air Turbine (RAT), sebuah perangkat yang berfungsi sebagai kincir angin, menggunakan airstream (aliran udara) untuk memutar baling-baling. Turbin akan menghasilkan cukup daya untuk sistem inti yang diperlukan untuk mengendalikan pesawat dan kemudian mendarat.