Japan Airlines Izinkan Pramugari Gunakan Celana Panjang dan Sepatu Tanpa Hak

Sebuah maskapai penerbangan di Negeri Sakura, baru-baru ini membebaskan pramugari mereka untuk mengenakan celana panjang selain rok dan memperbolehkan menggunakan sepatu tanpa hak ketika bertugas. Hal ini dilakukan untuk mengikuti kampanye nasional.

Baca juga: Tak Perlu Make Up, Kini Pramugari Virgin Atlantic Bisa Tampil Natural

Maskapai yang melakukan perubahan tersebut adalah Japan Airlines yang mengumumkannya pada Kamis (26/3/2020) kemarin. Juru bicara Japan Airline mengkonfirmasi, mereka akan mulai memberlakukan hal tersebut sejak 1 April 2020.

“Ini akan menjadi pertama kalinya untuk memperkenalkan celana panjang dan memberi opsi tambahan pemilihan alas kaki yang digunakan pramugari,” kata juru bicara Japan Airlines yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (29/3/2020).

Juru bicara tersebut mengatakan, akan ada enam ribu wanita yang bekerja di maskapai mereka bisa memilih alas kaki yang sesuai dengan kebutuhan untuk pertama kalinya. Dia menyebutkan, keputusan tersebut mengikuti gerakan di media sosial nasional #KuToo yang menyerukan tempat kerja untuk mengabaikan aturan berpakaian yang memaksa perempuan mengenakan sepatu hak tinggi.

Dimulai oleh aktor dan aktivis Yumi Ishikawa, di mana melalui gerakan feminis dia memainkan kata-kata Jepang untuk sepatu (kutsu) dan rasa sakit (kutsuu).

“Ini langkah besar mengingat Japan Airlines adalah perusahaan besar. Ini bukan hanya maskapai penerbangan tetapi pada hotel, department store, bank, dan banyak perusahaan lain dengan persyaratan ini. Saya harap mereka mengikuti contoh ini,” kata Ishikawa.

Diketahui, alasan ini juga mengikuti pengumuman Virgin Atlantic yang pada beberapa waktu lalu menyebutkan awak kabin wanita tidak lagi diharuskan memakai makeup atau riasan untuk bekerja. Awak kabin maskapai yang dikenal dengan seragam merah mereka juga diberikan celana panjang sebagai standar.

Menurut maskapai Virgin, langkah ini menjadi sebuah perubahan signifikan bagi industri penerbangan. Wakil presiden eksekutif pelanggan Virgin Atlantic, Mark Anderson, mengatakan pada saat itu bahwa maskapai itu “selalu menonjol dari kerumunan dan melakukan berbagai hal secara berbeda”.

Baca juga: Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin

“Kami ingin seragam kami benar-benar mencerminkan siapa kami sebagai individu sambil mempertahankan gaya Virgin Atlantic yang terkenal itu,” tambahnya.

Pria 57 Tahun Meninggal di Kereta Thailand Positif Covid-19

Seorang penumpang berusia 57 tahun yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 meninggal di kereta api Ekspress Selatan. Kabar tersebut dilaporkan oleh pejabat kereta api Thailand atau State Railway of Thailand (SRT) pada Rabu (1/4/2020).

Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Penumpang tersebut dikatakan Wakil Gubernur SRT Voravuth Mala, membeli tiket untuk gerbong ber-AC kelas dua. Dia naik di gerbong kereta No.4 di Stasiun Bang Sue dalam perjalanan ke Sungai Kolok. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman chiangraitimes.com (2/4/2020), penumpang pria itu menderita batuk dan muntah selama perjalanan.

Namun kondisinya membaik pada saat kereta tiba di Stasiun Hua Hin. Ketika petugas di stasiun kota Hua Hin memeriksa suhu tubuh pria yang disebut bernama Anant Sahor itu tidak demam yakni 36 derajat Celcius. Saat itu pejabat menyarankan penumpang itu untuk beristirahat di Stasiun Hua Hin.

Sayangnya pria paruh baya tersebut bersikeras untuk melanjutkan perjalanannya. Kemudian pukul 22.15 waktu setempat staf kereta menemukan penumpang tersebut ambruk di depan toilet. Karena hal tersebut, staf kereta menghubungi stasiun terdekat dan ketika tiba di Stasiun Thap Sakae, tim penyelamat lokal menaiki kereta untuk membawa ke rumah sakit terdekat.

Tak lama tiba di Rumah Sakit Thap Sakae, pria tersebut dinyatakan meninggal.
Menurut departemen kesehatan pria tersebut juga menderita diabetes. Karena hal ini, SRT telah mengirim daftar 15 penumpang lain yang naik kereta sama dengan pria tersebut.

Diketahui saat ini departemen kesehatan telah mengkarantina 11 penumpang dan dua staf kereta di Stasiun Bang Sue. Selain itu seorang petugas keamanan dan tujuh staf kereta lainnya yang bekerja di tol khusus juga ikut di karantina.

Dr Suriya Khuharat, kepala departemen kesehatan umum Prachuap Khiri Khan mengatakan bahwa penumpang tersebut baru kembali dari Pakistan melalui Bandara Suvarnabhumi. Saat di bandara pria tersebut juga diperiksa suhu tubuhnya namun tidak ditemukan demam ataupun yang lainnya.

Baca juga: Nok Air, Terkenal dengan Logo Paruh Burung, Inilah LCC Khas Thailand

Gubernur Prachuap Khiri Khan Pallop Singhasenee mengatakan, Anant merupakan kasus infeksi Covid-19 ke-13 di provinsi tersebut. Selain itu dia merupakan orang pertama yang meninggal karena Covid-19.

Mesin Mendadak Mati, Boeing 737 Aeroflot Mendarat Darurat Setelah Bertahan Satu Jam di Udara

Pada 29 Maret lalu, pesawat dari maskapai terbesar di Federasi Rusia, Aeroflot, dilaporkan mengalami kegagalan mesin saat pesawat tengah di udara. Pesawat dengan nomor penerbangan SU1741 tersebut pun akhirnya terpaksa mendarat darurat di Bandara Internasional Sheremetyevo, Moskow. Beruntung, insiden tersebut tak sampai memakan korban jiwa ataupun luka.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Dilansir Aviation Herald, Boeing 737-800 dengan nomer registrasi VP-BRF yang membawa 154 penumpang dan tujuh awak, sejatinya tengah menuju ke ibukota Rusia, Moskow, via Laut Hitam setelah berangkat dari Bandara International Sochi, sebelah Barat Daya Rusia. Sekitar 1.45 menit setelah lepas landas, sensor mesin CFM56-7B kiri mengindikasikan adanya kerusakan dan mesin pesawat akhirnya mati.

Mengetahui pesawatnya bermasalah, kru kokpit pun memutuskan untuk perlahan menurunkan ketinggian, dari semula 34.000 menjadi 24.000 kaki. Kemudian turun lagi menjadi 20.000 dan 18.000, sebelum akhirnya mendarat darurat di Bandara Sheremetyevo, satu jam setelah deteksi kerusakan awal pada mesin atau 30 menit sebelum pesawat tiba di lokasi tujuan.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi Rusia menyatakan bahwa pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa adanya insiden apapun pada pukul 23:47 waktu setempat. Padahal bila berbicara tahun produksinya, pesawat tersebut bisa dikatakan tergolong muda. Menurut sebuah laporan, pesawat Boeing 737-800 dengan nomor registrasi VP-BRF masih berusia sekitar tujuh tahun pemakaian dan memiliki kapasitas kursi maksimal untuk 158 penumpang.

Kejadian mati mesin pada pesawat Boeing 737-800 bukanlah hal pertama. Sebelumnya, pada Agustus tahun lalu, pesawat serupa milik maskapai Smartwings juga mengalami mati mesin di tengah penerbangan. Meskipun demikian, insiden yang terjadi ketika pesawat berada di atas Laut Aegea tersebut, pesawat B737 masih mampu melanjutkan perjalanannya ke Praha atau menempuh dua jam perjalanan dengan hanya satu mesin saja.

Kala itu, saat pesawat tengah berada di atas Laut Aegea dan 100 mil laut timur laut Athena, Yunani, mesin sayap kiri mendadak mati. Kru menanggapi kejadian ini dengan mengurangi ketinggiannya dari ketinggian jelajah 36.000 kaki ke 24.000 kaki. Penerbangan dilanjutkan di ketinggian tersebut hingga mendarat tanpa insiden lebih lanjut – dua jam dan 20 menit kemudian.

Baca juga: Jelang Setahun Grounded, Boeing Habiskan Total Rp268 Triliun Gegara 737 MAX

Berbeda dengan pesawat Aeroflot yang notabene masih berusia tujuh tahun saat mendadak mati mesin ketika di udara, Boeing 737-800 milik Smartwings dengan nomor registrasi OK-TVO saat itu sudah berusia 17,5 tahun. Menariknya, pesawat tersebut juga sudah berkali-kali pindah tangan. Sejak pertama kali dikirim ke maskapai GOL pada tahun 2002, pesawat itu juga telah dipakai oleh maskapai biaya murah Kanada, Sunwing Airlines, dan maskapai berbiaya murah India, SpiceJet.

Sebagai informasi, sebuah pesawat bermesin ganda memang didesain mampu terbang dengan baik, menggunakan satu mesin. Hanya saja, berbagai situasi dan kondisi tetap berlaku, seperti misalnya muatan, bahan bakar pesawat, serta cuaca yang dihadapi pesawat saat mendadak mati mesin. Bila segalanya mendukung, tentu, pesawat masih mampu bertahan lebih lama di udara, bahkan tak jarang pilot memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan sampai ke bandara tujuan, layaknya Boeing 737-800 milik Smartwings.

Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Produsen pesawat terbesar di dunia Boeing dan Airbus dikabarkan tengah membahas rencana merger untuk menyelamatkan bisnis kedua perusahaan tersebut. Tak hanya itu, kedua perusahaan asal Amerika dan Eropa tersebut juga dikabarkan akan memperkuat lini bisnis keduanya ketika pandemi virus corona benar-benar telah lenyap dari muka bumi.

Baca juga: Penerbangan di Cina Mulai Bergairah, Industri Penerbangan Global Perlahan Bangkit

Dikutip dari aeronauticsonline.com, dasar keduanya untuk membahas merger tak lain dan tak bukan adalah wabah Covid-19 yang diakui telah meluluhlantahkan industri penerbangan global dan membuat seluruh perusahaan (yang bergelut di bidang penerbangan, baik suplai chain, maskapai, hingga travel agent) semuanya telah menderita kerugian, termasuk di dalamnya Airbus dan Boeing.

Airbus, misalnya, pada Februari kemarin dilaporkan sama sekali tidak menerima satupun pesanan pesawat. Adapun kompetitornya, masih lebih baik, di bulan Februari, pabrikan tersebut berhasil mengirimkan 42 pesawat hingga menyisakan 5.351 backlog pesawat (belum dikirim). Jika kondisi tersebut terus berlanjut, dampak yang lebih besar tentu akan sangat terasa. Celakanya, menurut kepala pemasaran Boeing, Tonya DelMaestro, kondisi seperti ini masih akan terus berlanjut sampai batas waktu yang belum dapat diprediksi.

Meskipun keduanya mengaku telah melakukan sejumlah langkah pencegahan (efisiensi), hal tersebut hanyalah bagian dari strategi jangka pendek dan masih belum cukup untuk membuat perusahaan benar-benar aman dalam menatap masa depan bisnis. Oleh karenanya, setelah melalui serangkaian proses, anggota dewan komisaris dari kedua belah pihak pun akhirnya mengadakan pertemuan online. Setidaknya ada lima poin penting yang dibahas pada pertemuan online tersebut.

Pertama, Boeing dan Airbus akan memproduksi jumlah pesawat dalam jumlah tetap di setiap bulannya. Adapun jumlah tetapnya berapa, hal tersebut belum diumumkan secara resmi. Kedua, produsen pesawat tersebut akan menyewakan jasa parkir pesawat untuk maskapai yang paling membutuhkan, dengan harga yang lebih kompetitif dibanding parkir di bandara setempat (Amerika dan Eropa).

Ketiga, Boeing dan Airbus akan menyiapkan jalur perawatan pesawat masing-masing dengan menawarkan harga yang lebih murah. Hal ini nantinya akan sangat membantu maskapai yang notabene tengah dalam kondisi terpuruk, selain juga membantu mencegah penumpukan yang terjadi di fasilitas perawatan milik maskapai.

Baca juga: Boeing ‘Wakafkan’ Pesawat Kargo Terbesar Miliknya untuk Perang Melawan Corona

Keempat, Boeing dan Airbus akan mengucurkan sejumlah dana untuk investasi proyek strategis mereka dan akan mengembalikan uang tersebut secara utuh. Adapun yang kelima, keduanya sepakat untuk memberikan akses ke jalur produksi masing-masing. Dengan begitu, pesawat Airbus dapat berada di fasilitas milik Boeing, begitupun sebaliknya. Hal ini dimaksudkan untuk konversi dari penumpang ke barang, yakni Boeing Converted Freighter (BCF) dan Airbus passenger to freighter (P2F).

Kelima poin tersebut dijanjikan sesegera mungkin akan dilakukan guna menghindari kerugian yang semakin membesar. Namun, tetap saja, pada akhirnya, hanya waktu yang bisa menjawab kapan kedua perusahaan tersebut dapat benar-benar menjalankan poin-poin tersebut serta poin-poin lainnya yang mungkin tak diungkap ke publik.

12 Stasiun Dunia Sepi Penumpang Imbas Covid-19

New York City setiap paginya jutaan orang bergegas ke peron kereta bawah tanah untuk naik kereta api mereka ketika berangkat kerja. Di Stasiun Flinders Street, Melbourne, Australia juga biasanya terlihat dipenuhi oleh para pelancong yang mengunjungi Down Under.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Bahkan setiap harinya, miliaran orang menggunakan kereta api untuk pergi bekerja, melakukan perjalanan dan menjelajahi tujuan baru. Namun, saat Covid-19 menyebar luas dan menginfeksi banyak orang di dunia, kegiatan di stasiun kereta pun sebagain besarnya terhenti.

Tak hanya itu, stasiun kereta ini yang biasanya ramai kini sepi bak kota stasiun berhantu karena tidak ada penumpang yang menunggu kereta. KabarPenumpang.com merangkum laman insider.com (30/3/2020), ada beberapa gambar stasiun kereta api yang tadinya ramai kini menjadi sepi bahkan tidak terlihat penumpang sama sekali. Berikut ini beberapa stasiun itu sebelum dan sesudah Covid-19.

1. Staisun Shanghai Hongqiao yang melayani kereta peluru berkecepatan tinggi ke sebagaian besar kota-kota populer Cina ini biasanya dipenuhi oleh penumpang yang akan bepergian ke berbagai kota di Cina. Namun saat ini hanya terlihat beberapa pelancong yang tersisa menunggu kereta di stasiun.

Stasiun Hongqiao, Sanghai (insider.com)

2. Stasiun Sao Bento di Porto, Portugal menjadi salah satu tempat yang menarik pelancong dan pecinta sejarah karena ada 20 ribu ubin yang menggambarkan sejarah negara itu. Namun kini menjadi kosong karena Portugal telah menyatakan keadaan darurat.

3. Sekitar 750 ribu orang berjalan melalui Grand Central Terminal di New York City setiap harinya. Namun kini stasiun itu terlihat sangat sepi karena virus corona yang mulai merebak.

4. Menurut Network Rail, London Waterloo adalah stasiun tersibuk di Inggris. Namun saat ini Perdana Menteri Boris Johnson mengeluarkan perintah lockdown di seluruh Inggris sehingga hanya pekerja pemelihara yang berada di stasiun.

Stasiun London Waterloo (insider.com)

5. Di Kairo, Mesir, Stasiun Ramses adalah hotspot teramai di pusat kota. Sayangnya Perdana Menteri Mostafa Madbouly mengeluarkan jam malam dan penerbangan yang ditangguhkan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di seluruh Mesir.

Stasiun Ramses (insider.com)

6. Retiro adalah stasiun utama di ibu kota Argentina, Buenos Aires dan setiap hari, ribuan penumpang dan pelancong mengunjungi stasiun. Kemudian setelah Covid-19 menyebar di negara itu, Presiden Fernandez memerintahkan penutupan total Argentina pada 19 Maret yang membuat stasiun itu kosong.

Stasiun Retiro (insider.com)

7. Stasiun Flinders Street adalah stasiun terbesar di belahan bumi selatan, dengan lebih dari 110 ribu pelancong melewati setiap hari. Sayangnya stasiun tertua di negara itu sekarang hampir kosong karena Australia membatasi perjalanan.

Stasiun Flinders Street (insider.com)

8. Meskipun Bangkok Mass Transit System lebih mahal daripada sistem transportasi lain di ibukota Thailand tapi itu digunakan oleh ribuan orang setiap hari. Kini Stasiun kereta Bangkok sepi untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Stasiun Bangkok (insider.com)

9. Stuttgart Hauptbahnhof adalah stasiun utama di Stuttgart, Jerman. Ribuan penumpang menggunakan stasiun setiap hari. Bahkan selama jam sibuk, stasiun sebagian besar tetap kosong karena Covid-19.

10. Centrale di Brussel biasanya penuh dengan turis karena lokasinya di pusat kota. Tetapi karena Covid-19, para pelancong tak lagi memadati Brussels Centrale

11. Tahun 2018 lalu, Sistem Metro di Washington DC menyelesaikan lebih dari 174 juta perjalanan. Namun karena Covid-19, saat ini banyak orang di DC yang bekerja dari rumah dan membuat metro di kota tersebut sepi penumpang.

Baca juga: Tekan Penyebaran Virus Corona, Social Distancing di Transportasi Umum Harusnya Pikirkan Soal Jarak Antrian

12. Stasiun Liverpool Street di London, Inggris, memiliki sekitar 123 juta penumpang setiap tahun. Namun stasiun mengalami penurunan pengunjung yang drastis pada 24 Maret, hari pertama penguncian paksa di Inggris.

Penerbangan di Cina Mulai Bergairah, Industri Penerbangan Global Perlahan Bangkit

Industri penerbangan di Cina mulai kembali bergairah setelah terus-menerus dalam keadaan tertekan akibat turunnya frekuensi perjalanan sejak Januari hingga pertengahan Maret lalu. Okupansi dan frekuensi penerbangan juga mulai meningkat, ditandai dengan semakin banyaknya bandara yang dibuka, tak terkecuali di Provinsi Hubei yang notabene salah satu kotanya menjadi titik awal penyebaran virus corona.

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

Seperti dikutip dari laman Simple Flying, CH-Aviation melaporkan bahwa semua bandara di Provinsi Hubei, kecuali Wuhan yang baru akan dibuka pada 8 April mendatang, telah dibuka kembali untuk penerbangan domestik. Sekalipun jaringan internasional Cina belum bisa dimaksimalkan sepenuhnya, namun, dengan luas daratan mencapai 9,597 juta km² atau menyandang sebagai negara terbesar ke-3 di dunia, serta dengan populasi penduduk hampir menyentuh 1,4 miliar jiwa, membuat jaringan domestik penerbangan Cina tak bisa dianggap remeh.

Masih dalam laporan CH-Aviation, penerbangan pertama yang berangkat dari provinsi yang menjadi sentra bisnis manufaktur tersebut adalah layanan Fuzhou Airlines dengan nomor penerbangan FU6779 rute Yichang-Fuzhou. Belum jelas penerbangan tersebut memuat berapa penumpang, hanya saja saat itu Fuzhou Airlines mengoperasikan Boeing 737-800 pada penerbangan tanggal 29 Maret tersebut.

Beberapa bandara lain yang juga sudah dibuka di provinsi tersebut yakni bandara di Kota Enshi, dengan penerbangan perdananya dilakoni oleh Capital Airlines rute Enshi-Hangzhou serta Bandara Shiyan oleh Loong Air dengan rute yang sama dengan Capital Airlines dan Juneyao Airlines yang mengoperasikan penerbangan pertama dari Xiangyang ke Shanghai Pudong pada hari yang sama.

Menurut OAG, kapasitas maskapai di seluruh dunia, secara keseluruhan, turun lebih dari seperempat. Laporan terbaru untuk minggu ini menunjukkan penurunan di seluruh dunia sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, beberapa negara lainnya, seperti Italia dan Hong Kong, penurunannya cukup drastis, mencapai lebih dari 80 persen.

Bandingkan dengan tren di China yang notabene terus mengalami peningkatan dalam tempo empat pekan beruntun. OAG mencatat, titik terendah industri penerbangan Cina terjadi pada hari Minggu, 17 Februari, ketika perjalanan udara terkoreksi turun 70,8 persen.

Baca juga: Pengamat: Sulit Untuk Ikuti Cina Turunkan Harga Tiket Pesawat Hingga Rp60 Ribu

Namun, sejak saat itu perlahan mulai merangkak naik dengan penurunan menjadi hanya sekitar 40 persen untuk dua pekan pertama di bulan Maret. Bahkan untuk dua minggu terakhir angkanya lebih sedikit lagi. Minggu ketiga, mulai 16 Maret, penurunan penerbangan di Cina turun menjadi 38,7 persen. Minggu terakhir yang dianalisis oleh OAG menunjukkan lalu lintas turun menjadi hanya tinggal 37,5 persen. Masih tergolong lambat memang, tetapi pasti.

Bergairahnya kembali penerbangan di Cina tentu saja menjadi kabar gembira bukan hanya untuk maskapai-maskapai di Cina, melainkan ekosistem bisnis penerbangan global, seperti pemasok suku cadang, mesin, hingga produsen pesawat global seperti Airbus dan Boeing yang mau tak mau juga turut mendapat berkah dari kebangkitan tersebut.

Boeing ‘Wakafkan’ Pesawat Kargo Terbesar Miliknya untuk Perang Melawan Corona

Presiden Trump mengumumkan bahwa Boeing akan menyumbangkan tiga dari empat pesawat 747-400LCF Dreamlifter-nya dalam konferensi pers hari Jumat sore di Gedung Putih. Di depan awak media, ia pun dengan bangga menunjukkan foto burung besi terbesar milik Boeing tersebut. Pesawat berkapasitas 1.840 meter kubik atau 113 ton itu nantinya akan membantu upaya distribusi untuk memasok alat kesehatan seperti masker wajah, ventilator, dan kebutuhan lain bagi garda terdepan (pekerja medis) untuk melawan COVID-19.

Baca juga: Tim Formula 1 Mercedes-AMG Ciptakan Ventilator Canggih dan Lebih Mudah Digunakan

Seperti dilaporkan businessinsider.com, meskipun sempat mengaku kesulitan menjalankan roda bisnis pesawat sebagaimana mestinya, akibat rontoknya industri penerbangan global, Boeing akhirnya bisa bernapas lega setelah disebut telah menerima dana talangan sebesar $17 mliliar dolar atau sekitar Rp238 triliun (16.280) dari pemerintah federal.

Tentu saja dana talangan tersebut memang dimaksudkan untuk menjaga persaingan bisnis global Boeing agar tetap bisa bersaing saat berhadapan dengan raksasa produsen pesawat Eropa, Airbus. Meski demikian, tetap saja, ada konsekuensi yang harus dijalankan Boeing, salah satunya dalam misi pengiriman logistik untuk memerangi corona di Negeri Paman Sam.

Pasalnya, saat ini, AS yang semula damai dan aman sentosa dari ancaman virus corona dalam tempo beberapa waktu belakangan kemudian berubah menjadi sangat mencekam. Hingga kemarin, Amerika telah mencatat lebih dari 164 ribu kasus dimana 3 ribu orang lebih di antaranya meninggal. Bahkan, saking banyaknya yang meninggal, dalam sebuah video viral, truk es sampai harus dikerahkan untuk menyimpan sementara mayat korban corona di AS karena rumah sakit tidak lagi menampung lonjakan pasien yang terus bertambah pesat.

Oleh karenanya, pemerintah AS pun terus melakukan berbagai langkah taktis untuk memutus laju peningkatan kasus positif dan kematian corona. Salah satunya dengan cara mempercepat suplai logistik alat pelindung diri (APD) untuk para petugas medis di sejumlah negara bagian, khususnya New York yang jadi episentrum penyebaran corona di AS. Dengan load muatan yang cukup besar serta jarak tempuh yang bisa dipangkas, bila dibandingkan dengan menggunakan jalur darat, tentu kehadiran Boeing 747-400LCF Dreamlifter cukup krusial saat ini.

Sebelum adanya pandemi virus corona, Boeing 747-400LCF atau Large Cargo Freighter Dreamlifter dioperasikan untuk kebutuhan suplai logistik pesawat-pesawat Boeing, seperti sayap dan badan pesawat 787 Dreamliner, dan lainnya.

Baca juga: Kesulitan Cari Utang Baru, Boeing Sebut Butuh Suntikan Modal Segera

Seperti halnya Airbus BelugaXL, bagian kargo B747-400LCF juga tak bertekanan (unpressurized). Perbedaan utama di antara kedua raksasa terbang ini adalah bukaan pintu kargonya. Bila BelugaXL menerapkan bukaan pintu di depan kepala yang membuka ke atas, maka B747-400LCF mengadopsi pintu model swing-tail atau bukaan mengayun kesamping yang berada di pinggang belakang. Model tersebut tak lepas dari sumbangsih perusahaan asal Spanyol, Gamesa Aeronáutica, dalam perancangan pintu kargo yang berada di pinggang belakang pesawat.

Meskipun terlihat mewah, semua armada Boeing 747-400LCF Dreamlifter dibuat dari pesawat bekas pakai. Rinciannya, satu eks maskapai Air China, dua bekas pesawat China Airlines, dan satu lainnya berasal dari maskapai Malaysia Airlines. Tiga pesawat selesai dibangun dan beroperasi sejak Juni 2008. Sementara pesawat keempat mulai beroperasi pada Februari 2010.

Tangkal Corona, PT KAI Kerahkan Rail Clinic dan Kereta Inspeksi di Jalur Utara-Selatan Jawa

Awal bulan Maret, tepatnya pada tanggal 5 hingga 9 Maret 2020, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengoperasikan Rail Clinic dan Kereta Inspeksi. Keduanya beroperasi di lintas utara dan selatan Jawa sebagai upaya mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19.

Baca juga: Rail Clinic Bantu Korban Tsunami Banten

“Dijalankannya Rail Clinic dan Kereta Inspeksi mengelilingi Pulau Jawa adalah sebagai upaya KAI agar tidak terjadi penyebaran virus corona di area Stasiun dan Kereta Api,” ujar Direktur Utama KAI Edi Sukmoro yang dikutip dari website kai.id.

Dia menjelaskan dua kereta tersebut berhenti di beberapa stasiun untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat berupa pemeriksaan kesehatan, pembagian masker, pembagian pamflet, penyuluhan kesehatan tentang Covid-19, cuci tangan, pemakaian masker serta etika batuk dan bersin. VP Humas PT KAI Yuskal Setiawan mengatakan, Rail Clinic beroperasi dengan keberangkatan dari Semarang, Tegal, Cirebon, Cikampek dan berlanjut ke Depok serta Bogor.

“Sedangkan keberangkatan dari Bandung menuju ke Purwokerto, Yogyakarta dan berlanjut ke Surabaya,” kata Yuskal yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (1/4/2020).

Selain Rail Clinic, Kereta Inspeksi yang dijalankan melayani Stasiun bandung, Tasikmalaya, Banjar, Kroya, Yogyakarta, Solo, Madiun, Mojokerto, Surabaya Gubeng, Bojonegoro, Purwokerto dan Pasar Senen. Yuskal menyebutkan, untuk daerah Sumatera Rail Clinic dan Kereta Inspeksi tidak dioperasikan tetapi hanya sosialisasi di stasiun-stasiun.

Edi menambahkan, saat ini KAI menyediakan pos kesehatan di 89 stasiun di Jawa dan Sumatera bagi penumpang yang ingin memeriksa kesehatan. Dia mengimbau kepada penumpang yang dalam kondisi tidak fit agar tidak memaksakan naik kereta api. Selain itu Edi juga berpesan kepada penumpang untuk melapor kepada petugas stasiun atau kondektur jika merasa tidak sehat, sehingga dapat ditindaklanjuti oleh petugas.

“Demi efektivitas pencegahannya, KAI juga mengajak kepada pengguna KA untuk menjaga kesehatan diri dan memakai masker jika sedang sakit,” ujar Edi.

Sebelumnya, KAI telah melakukan sosialisasi pencegahan penyebaran virus corona di berbagai stasiun dan internal KAI pada Januari 2020, yakni saat awal beredarnya kabar virus corona. Sosialisasi tersebut berupa pemasangan spanduk, pembagian brosur, dan kampanye hidup sehat oleh petugas kepada penumpang.

“Upaya-upaya preventif penyebaran virus corona terus kami lakukan baik di atas kereta maupun stasiun. Kami juga mengajak pengguna KA untuk sama-sama proaktif mencegah penyebaran virus corona,” ujar Edi.

Baca juga: Suhu Tubuh Tinggi Saat Dicek Masuk Stasiun? PT KAI Siap Kembalikan Tiket Anda

Dia menambahkan, dalam hal kebersihan sarana kereta, KAI melakukan pencucian interior dan eksterior kereta secara rutin setiap sebelum perjalanan dengan menggunakan bahan kimia untuk sterilisasi. KAI juga menyiagakan petugas kebersihan baik di stasiun maupun selama perjalanan. Bantal yang disediakan di kereta pun selalu dalam kondisi baru tercuci bersih setiap pergantian penumpang.

“Hand sanitizer juga mulai kami sediakan di stasiun, kereta makan, pos kesehatan, kantor, dan titik-titik lainnya,” tambah Edi.

Lawan Covid-19, Ford dan GE Healthcare Produksi Ventilator Tanpa Perlu Aliran Listrik

Pabrikan otomotif di Amerika Serikat (AS) ikut berlomba memproduksi ventilator untuk membantu pemerintah melawan pandemi virus corona yang tengah menyebar cepat di AS. Layaknya manufaktur di berbagai Eropa dan Asia, salah satu manufaktur otomotif ternama di dunia asal AS, Ford, dikabarkan telah menjalin kemitraan dengan GE Healthcare untuk memproduksi ventilator canggih yang penggunaannya bergantung pada tekanan udara tanpa memerlukan listrik.

Baca juga: Tim Formula 1 Mercedes-AMG Ciptakan Ventilator Canggih dan Lebih Mudah Digunakan

Dikutip dari usatoday.com, keduanya mengumumkan pada hari Senin lalu terkait rencana untuk memproduksi 50.000 ventilator dalam 100 hari ke depan. Sadar produksi akan lebih cepat dikebut dengan bersama-sama, nantinya Ford dan GE Healthcare juga akan mendapat dukungan dari 500 karyawan United Auto Workers (UAW) di Michigan untuk membantu percepatan proses produksi. Meski demikian, Ford akan tetap mengirim orang untuk bekerja di Florida sebagai bagian dari kolaborasi, guna memberikan dukungan teknik dan logistik.

Menariknya, selain digadang-gadang akan meproduksi ventilator canggih tanpa memerlukan aliran listrik, proyek tersebut digadang-gadang juga bernuansa gotong royong atau sukarelawan. Beberapa sumber melaporkan bahwa para pekerja UAW dibayar secara sukarelawan, sekalipun penuh dengan tekanan dan dituntut untuk mencapai target 50 ribu ventilator dalam 100 hari, dan akan bekerja pada tiga shift.

“Laki-laki dan perempuan pekerja keras yang bersemangat dalam menjawab panggilan untuk menjadi sukarelawan untuk memenuhi kebutuhan (ventilator) mendesak,” kata salah satu politisi partai Demokrat yang juga perwakilan pemerintah AS, Debbie Dingell.

Selain memproduksi 50 ribu ventilator dalam 100 hari, Ford dan mitra kerjanya juga merencanakan agar dapat membuat 30.000 ventilator setiap bulannya untuk perawatan pasien yang terpapar virus corona. Desain ventilator yang akan dibuat Ford ini telah mengalami penyederhanaan dan tentu saja telah mendapat lisensi dari Airon Corp yang berbasis di Florida dan Food and Drug Administration.

Meskipun tergolong berat, namun, secara teknis, 50 ribu ventilator dalam 100 hari masih masuk dalam hitungan para stakeholder. Skemanya, Ford memproyeksikan terlebih dahulu memproduksi 1.500 ventilator pada akhir April, kemudian meningkat menjadi 12.000 pada akhir Mei, dan genap 50.000 pada hari ke-100 sejak dimulainya proyek tersebut atau 4 Juli mendatang.

Baca juga: Keren, Penjualan Pesawat Sepi, Airbus Produksi Ventilator Lawan Corona

Lonjakan produksi yang cukup tinggi dari akhir April, Mei, hingga Juni dikarenakan pembuatan ventilator yang akan dilakukan di pabrik Ford di Ypsilanti, Michigan tersebut diakibatkan oleh masa pencarian framework terbaik dalam memproduksi ventilator, mengingat mereka bukanlah perusahaan yang terbiasa menjalankan bisnis produksi alat kesehatan. Jadi, perlu waktu untuk menyesuaikan diri, baik secara bisnis maupun secara pola kerja.

Meskipun proyek melawan virus corona tersebut tetap tidak lepas dari bayang-bayang virus corona itu sendiri, khususnya bagi para pekerja yang rentan terpapar Covid-19, pihak Ford mengaku bahwa mereka akan menerapkan protokol kesehatan sesuai arahan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC serta WHO, seperti physical distancing dan berbagai pemeriksaan ketat sebelum maupun sesudah bekerja, untuk mencegah proyek tersebut menjadi cluster baru penyebaran corona.

Tim Formula 1 Mercedes-AMG Ciptakan Ventilator Canggih dan Lebih Mudah Digunakan

Balap jet darat atau Formula 1 (F1) memang telah dihentikan akibat pandemi virus corona yang saat ini titik episenternya tengah berpindah, dari semula di Cina menjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Terbukti dengan tingginya kasus positif dan jumlah kematian akibat Covid-19 di kedua wilayah tersebut. Meski demikian, hal itu bukan berarti membuat tim balap F1 gabut.

Baca juga: Keren, Penjualan Pesawat Sepi, Airbus Produksi Ventilator Lawan Corona

Seperti dikutip dari caranddriver.com, tim F1 Mercedes-AMG dilaporkan tengah berjuang untuk membantu penyebaran Covid-19 di Eropa, khususnya di Inggris, dengan membuat ventilator canggih atau continuous positive airway pressure (CPAP). Ventilator tersebut diklaim lebih mudah digunakan dibanding ventilator lainnya yang sudah beredar di berbagai rumah sakit.

Melalui tim dari divisi High Performance Powertrains, Mercedes-AMG tidaklah sendirian menggarap proyek tersebut dan telah bermitra dengan para insinyur dari University College London serta paramedis dari University College London Hospital (UCLH) untuk mengembangkan perangkat CPAP dalam waktu kurang dari seminggu untuk membantu pasien corona.

Pasalnya, saat ini Inggris tengah menghadapi ‘musim’ kematian akibat virus corona dimana sekitar 25.150 orang kini dinyatakan positif dan 1.789 telah meninggal per tanggal 31 Maret kemarin. Bahkan, angkanya diperkirakan akan terus bertambah mengingat Inggris belum memasuki puncak kematian corona. Angka kasus kematian per hari akibat corona pun juga saling susul dengan Perancis. Inggris sempat menjadi negara dengan kasus kematian akibat virus corona tertinggi 381 pada hari Selasa lalu, sebelum akhirnya kembali disalip oleh Perancis dengan 499 kematian per hari.

Oleh karenanya, pemerintah Inggris bergerak cepat dengan mendorong banyak manufaktur yang berbasis di Inggris untuk berlomba membuat ventilator, tak terkecuali Mercedes-AMG. Selain itu, 6 tim lainnya yang berbasis di Inggris kabarnya juga siap membantu pemerintah dalam menangani kasus virus corona.

Baca juga: Awak Kabin ‘Ancam’ Semprot Lysol ke Bokong Penumpang yang Batuk

Tim-tim tersebut bertugas mengembangkan alat medis serupa dan juga mendistribusikan peralatan-peralatan medis lainnya, termasuk ventilator. Setelah lolos uji dari badan pengawas setempat, Mercedes-AMG sudah berhasil membuat 40 sampel CPAP di University London College Hospital dan juga 3 buah di London Hospital. Jika sampel sukses, Mercedes-AMG sudah siap ngebut di pabrik membuat seribu alat setiap harinya selama satu pekan.

Bergabungnya Mercedes-AMG dan berbagai mitranya ke dalam perlombaan untuk memproduksi ventilator tentu menjadi kabar baik dalam upaya perang melawan virus corona di Inggris. Sebelumnya Negeri Ratu Elizabeth tersebut telah menggandeng Airbus beserta beberapa mitranya, Dyson, Mclaren, Nissan, Rolls Royce, dan Inspiration Healthcare, juga untuk membantu pemerintah memerangi virus corona dengan membuat 30 ribu ventilator.