Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara

Model operasional dan interaksi di bandara saat ini ternyata dapat menimbulkan risiko penularan virus. Hal tersebut kemudian membuat Vision-Box menerbitkan buku putih tentang potensi teknologi identitas digital tanpa kontak dengan biometrik canggih.

Baca juga: Bandara Heathrow Siap Adopsi Teknologi Biometrik Pada Musim Panas 2019

Tak hanya itu, teknologi ini juga bisa memudahkan dan mempercepat penumpang di pos pemeriksaan keamanan maupun imigrasi untuk mencegah interaksi fisik dengan perangkat, personel atau permukaan yang berpotensi terinfeksi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman biometricupdate.com (1/4/2020),  teknologi ini bisa dikatakan tanpa batas sehingga dapat membantu mencegah penularan patogen di bandara.

Teknologi ini berargumen tentang tujuh hal seperti menghilangkan kebutuhan untuk bertukar dokumen perjalanan, mempercepat izin, mengurangi tingkat kerumunan dan jajaran produk serta menyediakan solusi yang mudah didesinfeisi. Bahkan Vision-Box, memberikan penawaran biometrik yang dapat meminimalkan risiko hotspot hub perjalanan serta risiko penularan di luar hub perjalanan atau area perbatasan.

Solusi Seamless Flow meningkatkan biometrik wajah dan aplikasi ID seluler digital yang telah mendapatkan momentum dan mungkin menjadi hal baru yang normal karena teknologi tanpa sentuh. Sehingga bisa digunakan untuk menghilangkan antrean serta hal lainnya.

“Meskipun setiap bandara telah merencanakan insiden yang akan mengakibatkan banyak korban, bencana alam, dan peristiwa buatan manusia, sangat sedikit yang menerapkan sistem untuk mengurangi risiko tertular penyakit menular,” tulis Vision-Box.

Bandara dapat mengukur dan mengelola risiko yang ada di sepanjang perjalanan penumpang dengan menerapkan Seamless Flow dan sistem Izin Manajemen Identitas. Vision-Box mencatat bahwa lebih dari 100 juta pelancong menggunakan teknologinya setiap tahun dengan pelanggan utama yang sudah berinvestasi dalam skala besar termasuk Schiphol Amsterdam, Emirates, Bandara Gatwick, Bandara Bangalore, Bandara Los Angeles dan Aruba.

Baca juga: Identifikasi Biometrik di Bandara Canberra Mencapai Akurasi 94 Persen

Diketahui, perusahaan baru-baru ini mengumumkan telah memenangkan kontrak untuk menyediakan teknologi bagi pengalaman penumpang yang mulus tanpa henti di Gatwick

Terjebak Lockdown di India, Ibu dan Anak Asal Inggris Bisa Pulang Berkat Bantuan Kedubes Jerman

Bagaimana jadinya ketika tengah menikmati liburan, tetapi pandemi virus corona membuat negara yang tengah disinggahi harus lockdown atau menutup semuanya? Mungkin jawabannya adalah tidak akan nyaman. Ya, hal ini dirasakan oleh seorang ibu 50 tahun dan anaknya yang berusia enam tahun ketika berada di Jaisalmer, India.

Baca juga: Lockdown Serempak Bikin Travelers Hampir Mustahil Bepergian Lintas Benua

KabarPenumpang.com merangkum metro.co.uk (2/4/2020), Dawn Hardwick dan anaknya Rosie yang tengah bepergian di Jaisalmer dekat dengan perbatasan Pakistan dan India mengumumkan jam malam karena pandemi Covid-19 meluas. Negara itu juga melarang 1,3 miliar penduduknya keluar selama 21 hari yang kemudian semua penerbangan internasional dan domestik ditangguhkan serta layanan pada sistem kereta api dibatalkan.

Karena hal ini, ibu dan anak tersebut terperangkap di India bersama ribuan turis lainnya. Bahkan dia kesal dengan Kedutaan Inggris di India yang menutup pintu mereka dan tidak membantu warga negara Inggris yang terjebak di India. Dawn kemudian menceritakan suasana jam malam yang diberlakukan kemudian membuat Jaisalmer berubah dalam sekejap.

“Saya telah bolak balik ke India selama bertahun-tahun dan selalu merasa sangat disambut. Tetapi saya untuk pertama kalinya, saya benar-benar tidak melakukannya. ‘Saya membuat orang-orang berteriak di wajah saya, memanggil kami“ orang asing coronavirus ”. Seorang pria meludahi kami. “Itu menakutkan dan menakutkan tetapi saya harus mengatasinya demi Rosie. Saya menertawakannya dan mengatakan kepadanya bahwa mereka hanya konyol,” cerita Dawn kala itu.

Dawn dan Rosie kemudian memulai serangkaian perjalanan dengan menemukan pengemudi dan mobil taksinya yang bersedia membawa mereka sejauh ratusan mil untuk kembali ke Delhi. Perjalanan pertama membawa mereka keluar dari Jaisalmer ke Jodhpur yang memakan waktu selama lima jam perjalanan darat.

Ketika dirinya dan putri kecilnya tiba di hotel, mereka disemprot dengan desinfektan dari ujung kepala hingga kaki. Keesokan paginya mereka menaiki taksi dengan waktu tempuh lima jam ke Pushkar di mana dia berharap untuk bisa kembali ke Delhi dengan penerbangan. Sayanganya ketika tiba di Puskhar, semua penerbangan domestik dilarang karena lockdown.

“Rosie tertidur dan aku berdiri di balkon dan menangis sambil minum teh. Aku hanya merasa tidak aman. Segalanya berubah dari buruk menjadi lebih buruk. “Dengan putus asa aku menelepon kantor polisi setempat dan berhasil mendapatkan izin yang memungkinkan kami melakukan perjalanan melalui jalan darat,” katanyan.

Perjalanan dari Pushkar ke Delhi membawa Dawn dan Rosie sembilan jam naik taksi lagi. Dia mengatakan kenyataannya adalah di jalanan hanya ada kendaraan militer, jip polisi, truk makanan serta jalanan yang dipenuhi dnegan sapi dan monyet.

“Saya kehilangan hitungan jumlah blok jalan dan setiap kali kami menabraknya, saya diharapkan akan kembali. Polisi memukuli orang-orang yang tidak mematuhi jam malam dengan tongkat panjang. Saya harus menjaga Rosie berjongkok di belakang sehingga dia tidak menyaksikannya,” jelas Dawn.

Begitu keduanya tiba di New Delhi, mereka ke Kedutaan Besar Inggris namun ternyata mereka telah menutup pintu dan bandara dipenuhi oleh orang asing yang berharap kembali ke rumah. Sementara orang-orang dari negara Eropa lainnya dipesan untuk penyelamatan dan Dawn mengakui, tidak ada apapun untuk orang Inggris.

“Seorang teman di Inggris dengan koneksi yang baik di India mengetahui adanya penerbangan Lufthansa yang diselenggarakan oleh Kedutaan Jerman dan ketika saya memberi tahu mereka bahwa saya bepergian sendirian dengan seorang anak, mereka setuju untuk membiarkan kami masuk. Saya tidak bisa menggambarkan perasaan lega berjalan ke dalam kedamaian dan ketenangan taman kedutaan untuk menunggu transportasi kami ke bandara. Saya bisa menangis,” kata Dawn mengakui hal itu.

Dia menyebutkan, mereka dijaga sangat baik, disambut dengan hangat dan diberi minuman. Mereka ke bandara dengan pengawalan militer dan saat naik ke pesawat Dawn merasa benar-benar lelah. Dawn dan Rosie terbang ke Frankfurt Kamis (26/3/2020) lalu dan tiba di rumah pada Jumat (27/3/2020) malam setelah naik pesawat ke London.

Baca juga: Tak Lakukan Lockdown, Singapura Optimalkan Social Distancing

Pada hari Senin (30/3/2020), Menteri Luar Negeri Dominic Raab mengumumkan rencana £75 juta untuk menerbangkan orang Inggris yang terdampar ke luar negeri kembali ke Inggris setelah kemarahan yang meluas dari mereka yang terjebak di luar negeri. Tapi untuk Dawn dan Rosie, ini terlalu sedikit dan Dwan mengatakan sudah terlambat.

Italia ‘Ekspor’ Pasien Corona ke Jerman Pakai Pesawat Militer Airbus A310

Italia benar-benar telah kewalahan dengan tingginya kasus positif dan kematian akibat corona. Melihat hal tersebut, Jerman pun menawarkan bantuan sekalipun negara tersebut sebetulnya juga menghadapi tingginya kasus corona. Namun, berkat penanganan maksimal serta dukungan teknologi canggih, Jerman berhasil menekan angka kematian. Maka dari itu, tak mengherankan bila Jerman sampai menawarkan bantuan untuk merawat pasien corona dari Italia.

Baca juga: Tanggap Wabah Corona, Airbus Produksi Visor APD dengan Printer 3D

Pada Sabtu pekan lalu, pesawat Airbus A310 milik Angkatan Udara Jerman versi Medevac (Medical Evacuation) dilaporkan mengangkut enam pasien Covid-19 dari Bergamo, Italia ke Bandara Cologne Bonn, Jerman. Menurut cuitan Angkatan Udara Jerman atau biasa dikenal Luftwaffe, setibanya di sana, pasien tersebut langsung dirujuk ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Akan tetapi, pasien ekspor dari Italia ke Jerman tersebut bukanlah rombongan perdana. Sejak pemerintah tersebut mengumumkan telah membuka rumah sakit di negaranya untuk pasien corona dari Italia, Jerman memang telah kedatangan banyak pasien dari dari Negeri Pizza. Menurut laporan The Hill, per 26 maret, Jerman telah menerima sekitar 50 pasien plus tambahan pasien sebanyak enam orang di hari Sabtu lalu sehingga total menjadi 56 pasien. Dengan peningkatan kasus corona yang masih terus terjadi, bukan tidak mungkin angkanya terus meningkat hingga hari ini.

“Setiap bantuan lintas batas sekarang penting. Itulah mengapa Bundeswehr (Pasukan Pertahanan Federal) membantu unit perawatan intensif Angkatan Udara kami untuk mengangkut orang-orang yang sakit parah dari Italia ke Jerman untuk perawatan. Eropa bersatu. ” ujar Menteri Pertahanan Jerman, Annegret Kramp-Karrenbauer, dalam sebuah cuitan, seperti dikutip businessinsider.sg.

Menurut Luftwaffe atau Angkatan Udara Jerman, sebetulnya Medevac mampu mengangkut total 38 pasien lengkap dengan berbagai peralatan pendukung dan tim dokter untuk perawatan sementara selama proses pemindahan. Hebatnya, itu belum termasuk enam ruang ICU untuk pasien yang terluka parah.

Selain itu, sejumlah peralatan yang lazimnya ditemukan di rumah sakit di darat pada umumnya, juga bisa ditemui di pesawat tersebut. Mulai dari ventilator, pompa jarum suntik, hingga defibrillator semua tersedia. Tak heran bila pesawat tersebut mampu melakukan penanganan medis kepada pasien berat virus corona. Belum lagi sistem ultrasonik dan monitor pasien yang semakin melengkapi ‘rumah sakit’ berjalan ala Angkatan Udara Jerman.

Meski demikian, Jerman masih belum puas. Saat ini, Negeri Panzer itu dikabarkan tengah berusaha memodifikasi pesawat serupa yang dalam kondisi normal mampu mengangkut penumpang 214 orang atau bisa juga difungsikan untuk mengisi bahan bakar pesawat dari udara-ke-udara dengan kapasitas 72 ton, semata agar bisa mengangkut lebih banyak pasien dari Italia.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

“Karena kita mendukung teman-teman Italia kita. Kami hanya bisa menghadapi ini (virus corona) bersama-sama,” kata Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas dalam sebuah pernyataan.

Jerman diketahui memiliki tingkat kematian akibat Covid-19 yang relatif rendah meskipun jumlah kasus corona di negara tersebut juga tergolong besar. Setidaknya, Jerman memiliki sekitar 71.690 kasus virus corona per tanggal 31 Maret lalu, dengan 774 orang di antaranya meninggal. Dengan begitu, angka kematian akibat corona di Jerman hanya 1,07 persen. Berbanding jauh dengan Italia yang mencapai angka 11,75 persen di tanggal yang sama.

Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Kamis, 14 Februari 2019, Airbus mengumumkan bahwa mereka akan berhenti memproduksi salah satu pesawat komersial paling ikonik di abad ke-21, Airbus A380. Pengumuman tersebut tentu saja telah mengnyakitkan banyak orang, khususnya para pecinta aviasi, travelers, dan pebisnis lintas negara yang sangat mencintai pesawat superjumbo itu. Pengumuman tersebut juga bertolak belakangan dengan momen valentine’s day yang umumnya hati banyak orang di dunia tengah berbunga-bunga lewat hadiah dari orang terkasih dan Airbus merusak momen itu semua dengan sebuah pengumuman menyedihkan.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Harga Airbus A380 Bekas Turun Drastis

Airbus sendiri sebetulnya tak kuasa mengumumkan penghentian produksi salah satu mahakaryanya. Namun, berhubung permintaan dari berbagai maskapai langganan terus berkurang, ditambah royal customer Airbus, Emirates Airlines yang memiliki ratusan armada A380, tiba-tiba membatalkan pesanan A380 dan menggantinya menjadi 30 Airbus A350-900 serta 40 Airbus A330-900neo, tentu saja Airbus tak punya pilihan lain. Kala itu, Emirates Airlines beralasan bahwa double-decker (A380) tak lagi relevan dengan kondisi penerbangan global di masa mendatang.

Namun, pada 1 April 2020, entah apa yang merasuki para petinggi Airbus, pabrikan yang berbasis di Toulouse itu mengumumkan akan memproduksi sebuah pesawat baru, yakni Airbus A380ultra. Tentu pengumuman tersebut disambut positif oleh para pecinta aviasi, travelers, dan pebisnis lintas negara untuk menjajal pesawat out of the box tersebut. Betapa tidak, saat maskapai global seragam mengatakan pesawat besar dengan empat mesin tak lagi relevan, Airbus justru malah membuat pesawat yang lebih besar. Bukankah itu out of the box? Atau mungkin lebih tepatnya think without box?

Sesuai namanya, Airbus A380Ultra nantinya akan semakin mengukuhkan posisi pendahulunya sebagai raksasa atau raja sejati di langit dengan menawarkan triple-deck atau tiga lantai. Luar biasa, bukan? Bila Boeing punya armada 747-400 sebagai Queen of the Skies, mungkin A380Ultra bisa dikatakan King of the Skies. Ada queen (ratu) , tentu tak lengkap jika tidak ada king (raja).

Seperti dikutip dari aerotime.aero, dengan penambahan menjadi tiga lantai, tentu saja akan ada penambahan kapasitas. Bila sebelumnya hanya mampu mengangkut maksimal 850 penumpang dalam konfigurasi satu kelas, maka Airbus A380Ultra diklaim mampu menampung hingga 1060 penumpang. Kemudian, bila sebelumnya hanya mampu mengangkut maksimal 555 penumpang dalam tiga kelas, maka Airbus A380Ultra mampu mengangkut 880 dalam sekali angkut.

Khusus untuk konfigurasi tiga kelas, di sini letak perbedaan juga akan semakin terlihat. Bila sebelumnya business class dan first class masih berada di deck yang sama, yakni di lantai dua, namun tidak untuk Airbus A380Ultra. Penumpang first class nantinya akan ditempatkan khusus, dengan pemandangan eksotis di lantai tiga. Sementara penumpang kelas bisnis dan kelas ekonomi masing-masing akan menempati lantai dua dan satu.

Tak cukup sampai di situ, Airbus A380 juga punya senjata lain untuk memajakan penumpang, khususnya first class. Pesawat tersebut juga diklaim memiliki konfigurasi yang sangat fleksibel, termasuk pilihan bahwa lantai ketiga dapat dikonversi menjadi berbagai fasilitas seperti bioskop, pusat spa, pusat perbelanjaan, restoran, gym, food court, kantor, arena bola basket, dan banyak lainnya. Bagi perancang pesawat manapun, tentu fasilitas mewah tersebut bukanlah isapan jempol belaka. Semuanya sangat mungkin dilakukan, bergantung pada masing-masing maskapai yang nantinya mengoperasikan pesawat tersebut.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Meskipun tampil lebih besar, namun, sejumlah CEO maskapai global dikabarkan telah membicarakan opsi membeli Airbus A380Ultra kepada manajemen. Di samping itu, sekalipun sama-sama akan menggunakan empat mesin, namun, dengan kapasitas angkut yang jauh lebih banyak, cost Arbus A380ultra dalam sekali jalan pastinya juga lebih besar. Bila pendahulunya saja harus merogoh kocek Rp464 juta per jam, A380Ultra diperkirakan harus menambah sepertiga dari angka tersebut. Namun, nyatanya, hal itu tak membuat maskapai besar gentar untuk memilikinya.

Airbus A380ultra nantinya akan ditenagai oleh empat mesin General Electric GE9X, yang secara khusus sebetulnya dikembangkan untuk Boeing 777X. Sejauh ini, baru royal customer pesawat superjumbo Airbus, Emirates Airlines, yang sudah memberi sinyal akan memesan sekitar 100 unit. Namun, baik Emirates, pecinta aviasi, travelers, pebisnis lintas negara, serta kalangan lainnya yang tak sabar menjajal sensai terbang bersama A380ultra, setidaknya harus menunggu hingga tahun 2023 mendatang.

Demi Kembali Terbang, Perbaikan Boeing 737 MAX Terus Dikebut di Tengah Corona

Boeing baru saja melewat ‘perayaan’ setahun grounded Boeing 737 MAX pada 14 Maret lalu. Dalam kurun waktu setahun tersebut, produsen pesawat asal Negeri Paman Sam tersebut mengaku telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun (Rp14.352). Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang.

Baca juga: Jelang Setahun Grounded, Boeing Habiskan Total Rp268 Triliun Gegara 737 MAX

Sadar tak ingin menghabiskan lebih banyak uang lagi akibat tak kunjung menerbangkan kembali 737 MAX, Boeing pun tancap gas. Bahkan, di tengah pandemi virus corona yang tengah mewabah dengan cepat di Amerika Serikat (AS). Betapa tidak, hingga kemarin, Amerika telah mencatat lebih dari 244 ribu kasus dimana 6 ribu orang lebih di antaranya meninggal dunia. Bahkan, saking banyaknya yang meninggal, dalam sebuah video viral, truk es sampai harus dikerahkan untuk menyimpan sementara mayat korban corona di AS karena rumah sakit tidak lagi menampung lonjakan pasien yang terus bertambah pesat.

Boeing dilaporkan masih terus menggenjot proses perbaikan, mulai dari menguji perubahan perangkat lunak terbaru dan menyempurnakannya hingga melakukan pengujian dalam simulator penerbangan yang dikenal sebagai e-cab di tengah pandemi corona, semata untuk menyesuaikan seluruh persyaratan dari regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat (FAA). Perusahaan tak gentar sekalipun sejauh ini dilaporkan sudah terdapat 88 kasus corona yang menimpa pekerjanya. Meskipun demikian, progres 737 MAX hanya dilakukan oleh tim kecil. Adapun sisanya, Boeing telah menghentikan proses produksi untuk sementara waktu.

Dengan begitu, Boeing tetap menargetkan bahwa 737 MAX dapat kembali terbang pertengahan tahun ini. Kabar baiknya, langkah tersebut juga didukung oleh FAA. Pasalnya, tidak selamanya tinjauan teknis diperlukan. Mereka bisa saja mengecek lewat dokumen, video conference, atau lewat telepon. FAA juga memuji Boeing bahwa mereka terus membuat kemajuan untuk 737 MAX dengan hampir memenuhi standar sertifikasi dan semua itu dilakukan di tengah pembatasan di AS.

“Tim kami mengelola melalui wabah Covid-19 seperti banyak orang lain dengan bekerja secara virtual di mana kita bisa, sambil mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan lingkungan yang aman bagi kita semua,” kata Boeing dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari bloomberg.com.

“Kami terus membuat kemajuan dalam upaya sertifikasi kami dan bekerjasama dengan regulator untuk memenuhi persyaratan mereka. Perkiraan kami masih merupakan pertengahan tahun untuk mengembalikan armada 737 MAX ke layanan,” tambahnya.

Meski demikian, Boeing bukan tanpa halangan. Khususnya terkait logistik. Seorang analis dari Melius Research, Carter Copeland, belum lama ini memperkirakan bahwa dengan rintangan pada proses logistik, kembalinya Max berisiko molor satu hingga tiga bulan ke depan.

“Sekarang sulit, jika bukan tidak mungkin, bagi berbagai staf regulator global untuk masuk ke Amerika, dan daftar tugas FAA sekarang mencakup banyak tantangan besar terkait dengan Covid-19,” tulisnya dalam sebuah catatan.

Lagi pula, jika Boeing ingin benar-benar mewujudkan target kembalinya 737 MAX pada pertengahan tahun, setidaknya mereka harus benar-benar menyelesaikan proses uji terbang MAX langsung oleh regulator pada bulan ini. Faktanya, sampai saat ini, belum ada satupun jadwal pengujian oleh pilot uji regulator.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Selain itu, bila Boeing masih kukuh pada pendiriannya, paling tidak mereka harus memulai kembali proses produksi di berbagai pabrik dua bulan sebelum waktu yang ditentukan. Bila Boeing mengambil target pertengahan tahun atau Juni atau Juli, maka bulan April atau paling lambat Mei, aktivitas produksi sudah harus kembali dimulai. Dengan kondisi pandemi corona di AS yang masih terus meningkat, kemungkinan Boeing akan kesulitan merealisasikan target tersebut.

Bila skenario (penundaan kembalinya 737 MAX) maka hal itu diperkirakan akan semakin menekan kinerja keuangan Boeing. Meskipun sudah mendapatkan suntikan modal besar, nyatanya, Boeing kamis lalu baru saja mengumumkan tawaran rencana PHK sukarela untuk karyawan, meskipun ditawari gaji dan tunjangan yang cukup besar. Artinya, Boeing memang tengah terpukul telak, satu akibat corona dan satu lainnya akibat grounded berkepanjangan 737 MAX.

Airbus A380-800, Istana Terbang yang Siap Manjakan Orang Tajir Melintir Dunia

Produsen raksasa dunia asal Eropa, Airbus, banyak menyediakan varian transportasi orang kaya tajir melintir dunia dengan berbagai kebutuhan, mulai dari pesawat kecil seperti A220-300, agak besar seperti A350-900, dan superbesar; siapa lagi kalau bukan A380 atau Airbus ACJ380-800. Pesawat ini pulalah yang pada tahun 2007 silam sempat menjadi pembicaraan warganet setelah dipesan untuk dijadikan istana terbang oleh Pangeran Alwaleed dari Arab Saudi, sekalipun pada akhirnya pesanan tersebut batal.

Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Pilot Miliki Kamar Pribadi dan Toilet Privat di dalam Kokpit

Dikutip dari laman Simple Flying, siapapun pasti akan dibuat sangat terkesan dengan istana terbang ACJ380-800 tersebut. Betapa tidak, dari sejak dari luar pun, pelanggan sudah bisa menikmati suguhan luar biasa di awal, naik pesawat dengan lift. Menarik, bukan? Desain liftnya pun tidak sembarangan. Dipenuhi dengan dinding kaca serta berbagai pajangan karya seni tingkat tinggi yang menghiasinya, menambah daya magis pelanggan bahkan ketika baru berada di liftnya saja, belum ke bagian lain, terlebih bagian utama.

Masuk ke dek bawah istana terbang, pelanggan akan disuguhi dengan berbagai ruang menakjubkan, mulai dari forward lounge, royal lounge, retire area, hingga conference/dining room. Di masing-masing bagian pun segalanya juga telah diperhitungkan dengan matang, ada bagian-bagian yang dibuat pas, tidak terlalu kecil ataupun besar, dan di bagian lainnya dibuat sangat besar dan luas. Di samping itu, pada masing-masing bagian juga dibuat tema yang berbeda-beda sehingga memberikan kesan mewah dan tidak membosankan.

Forward lounge, misalnya, dibuat dengan gaya tegas dengan sentuhan warna-warna dinamis yang melekat pada sofa, desain langit-langit mewah dengan permainan garis-garis cahaya, serta list dari dinding chrome yang makin memberikan kesan mewah pada bagian depan pesawat. Tak lupa, tentu saja juga dilengkapi dengan TV LED lebar, lemari buku, serta sampanye di meja lounge.

Lanjut ke bagian royal lounge, desain megah dan mewah sudah pasti akan membuat pelanggan beserta rombongan dan mitra bisnisnya akan merasa nyaman di ruangan ini. Selain sofa mewah dan empuk di kedua sisi, ruangan yang menampung 50 tamu tersebut jarak antar sofa juga tergolong berjauhan karena masing-masing sofa nyaris menempel di dinding pesawat, sehingga membuat suasana perbicangan lebih berkesan santai.

Begitu juga dengan retire area, bagi para tamu yang ingin sedikit mencari suasana lain, dan dining room yang juga bisa difungsikan sebagai conference room yang menyuguhkan tampilan mewah dengan berbagai furniture unik dan permainan cahaya indah. Dijamin rasa lelah akan hilang begitu memasuki ruangan ini.

Beranjak ke dek atas atau lantai dua, suasana mungkin agak lebih tenang karena memang dikhususkan untuk sang pemililk. Setidaknya ada lima area yang dihadirkan di lantai atas, mulai dari private lounge, guest area/room guest, private office, health area seperti gym, spa, serta sepeda fitness atau sepeda statis, dan private bedroom, lengkap dengan kamar mandi mewah di dalam area private bedroom. Tak lupa, bagi orang-orang beragama, ada juga ruang berdoa, serta berbagai fasilitas lainnya yang terletak di lantai ini.

“Ini adalah sesuatu yang sangat, sangat istimewa dan belum ada yang seperti itu di pasaran. Segala hal yang diinginkan oleh seorang miliarder ada di sini,” ujar salah satu pendiri Design Q, salah satu vendor desain A380 VIP, Gary Doy.

Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Punya Dua Lift untuk Manjakan Penumpang

“Kami tidak mencoba untuk menempatkan hotel di udara, itu disesuaikan dengan kebutuhan penerbangan, dan memiliki fitur unik yang sesuai dengan itu. Pemandian Turki sangat spektakuler, ruang uap dengan marmer, pencahayaan pas, dan banyak perawatan spa untuk dipilih,” tambahnya.

Menurut Aviation Week, pada tahun 2018 sempat tersiar wacana visioner untuk mengubah salah satu A380 milik Singapore Airlines yang pensiun menjadi sebuah ‘kapal pesiar terbang’, bukan lagi ‘istana terbang’ sebagaimana julukan Airbus A380 VIP yang selama ini melekat. Menurut sumber tersebut, mengubah A380 menjadi pesawat pribadi cenderung lebih murah daripada membeli jet pribadi A350 atau Boeing 777. Dengan begitu, sekalipun nantinya Airbus sudah tidak lagi memproduksi A380, pecinta aviasi mungkin belum putus harapan lewat jalan mengubah pesawat bekas pakai milik maskapai menjadi pesawat VIP.

Tanggap Wabah Corona, Airbus Produksi Visor APD dengan Printer 3D

Produsen pesawat asal Eropa, Airbus, dikabarkan telah mulai menggunakan fasilitas pencetakan 3D di Spanyol untuk memproduksi visor pelindung (APD) untuk berbagai rumah sakit sebagai respons terhadap pandemi virus corona. Juru bicara Airbus mengatakan, saat ini, fasilitas pencetakan tersebut sudah menghasilkan ratusan visor dengan menggunakan lebih dari dua puluh printer 3D. Peralatan tersebut umumnya didistribusikan ke rumah sakit di dekat fasilitas perakitan Airbus di Spanyol.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

“Semalam, kami telah beralih dari membuat konsep ruang angkasa menjadi peralatan medis. Ini benar-benar membuat perbedaan dalam perang melawan pandemi Covid-19 dan saya tidak bisa berbangga diri melihat tim kami yang bekerja siang dan malam di proyek Airbus ini,” ungkap kepala Airbus Protospace, Alvaro Jara, seperti dikutip dari avweb.com.

Selain untuk sementara waktu fokus memproduksi visor APD, Airbus juga mengumumkan bahwa mereka untuk sementara waktu juga menghentikan semua kegiatan produksi apapun yang tidak penting di Spanyol hingga 9 April. Penutupan ini tak lepas dari arahan otoritas Spanyol sebagai bagian dari langkah-langkah pencegahan guna menekan penyebaran virus corona serta jatuhnya korban yang lebih banyak. Pasalnya, bersama Italia, Perancis, dan Inggris, Spanyol menjadi negara episentrum penyebaran virus corona di Eropa dengan jumlah kasus positif dan angka kematian per hari yang cukup tinggi.

Akan tetapi, visor bukanlah satu-satunya kontribusi Airbus dalam membantu Eropa memerangi penyebaran virus corona. Sebelumnya, perusahaan patungan antara Jerman, Perancis, dan Spanyol tersebut juga telah berkomitmen untuk memproduksi ventilator. Ventilator tersebut nantinya akan diserahkan ke berbagai rumah sakit di Inggris. Lewat sebuah konsorsium yang dikomandoinya, bersama perusahaan teknologi ternama di Negeri Ratu Elizabeth tersebut, Dyson, Airbus dilaporkan akan segera memproduksi 30 ribu ventilator.

Dalam proyek tersebut, Airbus ikut terlibat dalam penyediaan desain tiga dimensi dan fasilitas. Sadar produksi akan lebih cepat bila dilakukan bersama-sama, Airbus, melalui Ventilator Challenge UK kemudian menggandeng berbagai perusahaan lainnya, seperti Smiths Medical, dari Luton untuk membuat desain ventilator, serta Penlon, manufaktur medis yang berbasis di Abingdon, Oxfordshire.

Baca juga: Keren, Penjualan Pesawat Sepi, Airbus Produksi Ventilator Lawan Corona

Tak hanya berkontribusi di Inggris dan Spanyol, Airbus juga turut berkontribusi di Perancis serta Jerman dan Italia. Di Perancis, Airbus turut membantu pemerintah memerangi virus corona dengan mengerahkan armadanya. Mulai dari mengangkut pasokan media, seperti masker dan peralatan kesehatan dari Cina hingga mengangkut pasien untuk segera dirawat di berbagai rumah sakit di luar Paris atau kota-kota besar lainnya yang notabene sudah tak mampu lagi menampung.

Serupa dengan yang dilakukan di Perancis, Airbus juga turut membantu memerangi Covid-19 dengan membantu perpindahan pasien dari Italia ke Jerman lewat armada Airbus A-310, mengingat kondisi di kedua negara tersebut cukup berbeda. Jerman, sekalipun terus mengalami penambahan kasus positif, namun penanganan pasien Covid-19 di sana cukup baik sehingga angka kematian sangat kecil. Berbanding terbalik dengan Italia yang terus mengalami lonjakan angka kematian pasien corona akibat penanganan serta teknologi yang tak seciamik Jerman.

Daop 2 Bandung Batasi 50 Persen Okupansi Kereta Lokal dan Jarak Jauh

Pemberlakuan pembatasan kereta api untuk jarak menengah dan jarak jauh menjadi hanya 50 persen okupansi di mulai Kamis (2/4/2020). Pembatasan okupansi tersebut dilakukan PT Kereta Api Indoneisa (KAI) Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung.

Baca juga: KAI Tanggap Darurat Covid-19, Pembatalan Tiket Kereta Bisa Secara Online!

Manajer Humas Daop 2 Bandung, Noxy Citrea mengatakan, adanya pembatasan kapasitas tempat duduk tersebut untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona atau Covid-19.

“Dengan meningkatnya penyebaran virus corona di Indonesia dan berdampak pada berkurangnya okupansi kereta, PT KAI Daop 2 kembali mengambil kebijakan sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19,” kata dia yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Noxy mencontohkan pembatasan kapasitas tempat duduk pada kereta Argo Parahyangan yang melayani relasi Bandung – Jakarta. Dia menyebutkan, kapasitas penumpang KA Argo Parahyangan dalam satu rangkaian normal ada 570 tempat duduk.

Karena adanya pembatasan, maka kapasitas angkutnya hanya dibatasi 285 tempat duduk per rangkaian. Noxy juga menyebutkan, bahwa pada masa pandemi Covid-19 ini, PT KAI memberikan keleluasaan kepada penumpang kereta yang sudah memesan tiket dan ingin membatalkannya.

“Pembatalan tiket atas keinginan calon penumpang, untuk KA yang masih jalan atau beroperasi, calon penumpang bisa membatalkan tiket 100 persen,” kata Noxy.

Untuk memudahkan penumpang yang ingin membatalkan tiket mereka, Noxy menjelaskan ada dua cara yang bisa dilakukan yakni melalui aplikasi KAI Access dengan waktu paling lambat tiga jam sebelum jadwal keberangkatan kereta itu. Kemudian calon penumpang juga bisa membatalkan tiket mereka di stasiun paling lambat 30 menit sebelum jadwal yang tertera pada tiket kereta.

PT KAI juga memberikan pengembalian 100 persen, atau bea penuh tiket kereta untuk kereta yang dibatalkan perjalanannya. Untuk diketahui, keputusan mengurangi okupansi kereta tersebut, menyusul keputusan Daop 2 Bandung untuk mengurangi perjalanan kereta sepanjang April 2020.

“PT KAI Daop I2 kembali melakukan pengurangan perjalanan kereta api. Total ada 37 perjalanan baik itu kereta lokal maupun kereta jarak jauh pada periode 1 April sampai dengan 30 April 2020,” kata Noxy

Noxy mengatakan, pengurangan perjalanan kereta tersebut diputuskan seiring dengan jumlah penumpang yang terus menurun. Dia menyebutkan, secara total baik untuk kereta api lokal dan kereta api jarak jauh mengalami penurunan hingga 50 persen dibandingkan dengan periode yang sama bulan Maret tahun lalu.

Baca juga: Imbas Pembatalan Sejumlah Perjalanan KA Jarak Jauh, 3624 Calon Penumpang Pilih Batalkan Tiket

Noxy mengatakan, masih ada lima kereta yang masih beroperasi di Daop 2 Bandung yakni lima Kereta Argo Parahyangan ke arah Jakarta, satu Kereta Api Harina ke arah Surabaya Pasar Turi, satu kereta Api Ciremai ke arah Semarang Tawang, satu Kereta Api Kahuripan, dan dua Kereta Api Serayu Pagi dan Serayu Malam.

Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Episentrum virus corona telah berubah, dari semula di Cina pindah ke Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu, Cina juga mulai beraktivitas normal, dimana Negari Tirai Bambu tersebut mengekspor barang-barang made in china ke seluruh penjuru dunia. Dalam kaitannya dengan pandemi corona, tentu saja made in china yang dimaksud adalah peralatan serta perlengkapan medis.

Baca juga: Setelah 18 Bulan ‘Tidur’, Pesawat Terbesar di Dunia Antonov An-225 Kembali Mengudara

Dengan kondisi tersebut, lalu lintas udara pun kini lebih beragam, dari semula hanya mengandalkan perpidahan orang dan sedikit barang, karena pada umumnya banyak lini bisnis terhenti akibat lockdown di berbagai negara, berubah menjadi perpindahan barang tanpa satupun orang (penumpang).

Bahkan, bila perlu, semua bangku penumpang dicopot atau sekalipun tidak dicopot, fungsinya dialihkan menjadi kabin kargo. Semua untuk memaksimalkan kapasitas angkut dalam sekali jalan. Dilansir dari forbes.com, berikut tujuh penerbangan tak biasa pesawat untuk memenuhi mobilitas perpindahan barang di tengah pandemi corona.

1. Pesawat Uji Coba

Airbus A330-800 dalam penerbangan Touluse-Tianjin-Toulouse. Foto: AIRBUS

Airbus mengirim pesawat uji A330-800 dari Toulouse ke Tianjin untuk mengambil sekitar dua juta masker wajah dan membawanya kembali ke Perancis. Airbus menyebut, mayoritas masker tersebut akan diserahkan ke pemerintah. Tak hanya itu, dalam penerbangan tersebut, pesawat juga memuat alat pemantau kesehatan dan beberapa peralatan lainnya.

Pesawat dengan kode pabrik MSN1888 ini sebetulnya sudah mengakhiri masa uji coba pada Februari lalu dengan melahap 370 jam terbang uji di 132 penerbangan. Selain itu, pesawat tersebut juga telah mendapatkan sertifikasi dari EASA dan FAA. Penerbangan berbalut misi kemanusiaan tersebut adalah kunjungan perdana keluarga A330neo ke Cina. Hal itu juga disinyalir menjadi pertanda bahwa mungkin saja pabrik Airbus di Tianjin, Cina, kelak akan memproduksinya.

2. Pesawat Angkut Militer

Airbus A400M diterjunkan oleh pemerintah Spanyol guna mengangkut pasokan medis dari Cina dalam perang melawan corona. Foto: AIRBUS

Tak lama setelah A330-800 kembali dari Toulouse, beberapa masker wajah kemudian dimuat ke dalam A400M untuk selanjutnya dikirim ke Getafe, dekat Madrid. Nantinya masker akan diserahkan ke Kementerian Pertahanan Spanyol, yang kemudian akan diserahkan sepenuhnya ke Kementerian Kesehatan Spanyol. A400M adalah pesawat angkut militer yang dirancang khusus oleh Airbus. Pesawat terbesut sebelumnya jarang digunakan dalam misi kemanusiaan seperti ini.

3. Boeing 747-400LCF Dreamlifter

Boeing 747-400LCF Dreamlifter. Foto: Bloomberg

Presiden Trump mengumumkan bahwa Boeing akan menyumbangkan tiga dari empat pesawat 747-400LCF Dreamlifter-nya dalam konferensi pers hari Jumat sore di Gedung Putih. Di depan awak media, ia pun dengan bangga menunjukkan foto burung besi terbesar milik Boeing tersebut. Pesawat berkapasitas 1.840 meter kubik atau 113 ton itu nantinya akan membantu upaya distribusi untuk memasok alat kesehatan seperti masker wajah, ventilator, dan kebutuhan lain bagi garda terdepan (pekerja medis) untuk melawan COVID-19.

Sebelum adanya pandemi virus corona, Boeing 747-400LCF atau Large Cargo Freighter Dreamlifter dioperasikan untuk kebutuhan suplai logistik pesawat-pesawat Boeing, seperti sayap dan badan pesawat 787 Dreamliner, dan lainnya.

4. Pesawat Tanker

A330MRTT sedang bongkar muat di Getafe, Spanyol setelah kembali dari Cina untuk mengambil pasokan medis. Foto: AIRBUS

Tak hanya pesawat uji, Airbus juga menerjunkan pesawat lainnya yang tak biasa, yakni A330 yang sedang menjalani masa peralihan dari semula pesawat sipil menjadi versi militer yang disebut sebagai Multi-Role Tanker Transport (MRTT). Meskipun umumnya dikaitkan sebagai tanker pengisian bahan bakar dari udara-ke-udara, pesawat tersebut juga memiliki kemampuan tambahan sebagai pengangkut kargo (seperti yang digunakan dalam penerbangan ini) dan pesawat evakuasi medis (seperti yang dilakukan Perancis untuk memindahkan pasien ke rumah sakit yang kurang padat di tempat lain di negaranya).

5. Pesawat Tanpa Penumpang

American Airlines gunakan 777-300ER untuk memuat hanya kargo pada penerbangan Dallas ke Frankfurt. Foto: AMERICAN AIRLINES

Sepinya penumpang membuat banyak maskapai kini beralih fokus ke penerbangan kargo. Bahkan, tak jarang, maskapai global justru menerbangankan pesawat tanpa penumpang dan hanya dipenuhi kargo saja. Cathay Pacific, Korean Air, Scoot, dan El Al, Delta Airlines, United Airlines, Virgin Atlantic, adalah deretan maskapai yang sudah terang-terangan hanya memuat kargo pesawat tanpa satupun penumpang.

6. Kabin Penumpang Dipenuhi Kargo

Kabin penumpang Boeing 777-200 milik Austrian Airlines disulap menjadi kargo untuk memaksimalkan kapasitas angkut dalam sekali jalan. Foto: Austrian Airlines

Maskapai mulai memaksimalkan ruang kargo dengan menempatkan beberapa barang di atas kursi penumpang. Sebelum barang diletakkan, kursi-kursi pesawat terlebih dahulu ditutupi dengan plastik sebagai pelindung kursi. Austrian Airlines, misalnya, mengirim dua pesawat 777-200 ke Xiamen, Cina untuk mengambil pasokan medis.

Baca juga: [Video] Peti Jenazah Jenderal Qasem Soleimani Ditempatkan di Kabin Penumpang

Austrian Airlines biasanya tidak terbang ke Xiamen, begitupun juga dengan maskapai lain yang tidak punya penerbangan ke Cina namun terpaksa terbang ke sana untuk menjemput pasokan medis. Aer Lingus, maskapai asal Irlandia, juga telah mengirim A330 dari Dublin ke Beijing, termasuk empat penerbangan dalam sehari. Sama seperti Austrian Airlines, Aer Lingus biasanya juga tidak terbang ke Beijing atau ke wilayah manapun di Asia. Demikian juga armada Airbus A220 dari Latvia yang terbang dari Riga ke Urumqi, Cina hanya untuk mengambil pasokan medis.

7. Kursi Penumpang Dicopot Demi Kargo

Penampakan kabin penumpang setelah kursi pesawat Airbus A321 milik Aegean Airlines dicopot. Foto: AEGEAN AIRLINES

Aegean Airlines, maskapai asal Yunani, terpaksa harus mencopot kursi pesawat A320 dan A321. Mereka mengharapkan setidaknya ada 10 penerbangan bantuan peralatan medis ke Asia. Begitu juga dengan China Eastern yang mencopot sekitar 160 kursi dari A330-200 dan hanya menyisakan 42 kursi ekonomi dan semua kursi di kelas bisnis. Semua bertujuan agar pesawat mampu memuat kargo lebih banyak. Terlebih, Cina saat ini tengah kebanjiran pesanan pasokan medis.

Pria Asia Disemprot Febreze di Kereta Komuter, Polisi New York Cari Pelaku

Sepertinya masalah rasisme terhadap keturunan Asia masih saja dilakukan oleh warga Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari sebuah video yang kembali beredar di jagad maya di mana seorang pria kulit hitam menyemprotkan Febreze (spray penghilang bau) ke seorang pria Asia.

Baca juga: Imbas Corona, Wanita Asia Jadi Bahan Omelan Rasis di Kereta Bawah Tanah New York

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman silive.com (6/3/2020), video itu viral di media sosial dan sudah dilihat lebih dari satu juta orang. Dalam video terlihat seorang pria berkulit hitam tengah marah pada pria muda Asia di MTA (kereta bawah tanah kota New York).

Pria tersebut mengatakan untuk pindah dan kemudian mengambil botol Febreze yang kemudian menyemprotkannya pada pria Asia itu. Bahkan ketika menyemprotkan Febreze, pria berkulit hitam tersebut berulang kali menyuruh pria Asia itu untuk bergerak dan pindah.

Kemudian ketika pria Asia itu berhadapan dengan yang lainnya dan bertanya mengapa dia tidak bisa duduk disebelahnya.

“Kamu harus bergerak. Kamu bodoh sekarang,” ujar pria yang ditanyainya itu.

Insiden ini diketahui terjadi pada 4 Maret 2020 sekitar pukul 09.00 pagi waktu setempat. Kepala Detektif Kepolisian New York, Rodney Harrison mengatakan, ada seorang pria yang berdiri di sebelah pria Asia dan mulai menyemprotkan Febreze di sekitar kaki dan sekelilingnya.

Dia mengatakan, saat itu pihak kepolisian menerima panggilan 911 untuk orang yang mengalami gangguan emosi di kereta N dekat 8th Avenue di Brooklyn. Namun setelah tiba, kereta sudah meninggalkan stasiun dan pihak kepolisian tidak bisa mendapatkan laporan secara resmi.

“Kami menerima postingan di media sosial. Kami sedang menyelidikinya sekarang dan gugus tugas kriminal kebencian kami sedang meninjau insiden itu dan ini adalah penyelidikan yang sedang berlangsung,” ujar Harrison.

Tak hanya itu, dua minggu setelah insiden Febreze ini, seorang wanita bernama Emily Chen tengah menumpang di kereta bawah tanah New York untuk kembali pulang ke rumahnya diteriaki kata-kata kasar oleh seorang penumpang pria. Pria tersebut berkata, “Kamu orang Cina, mengapa kamu membawa corona ke Amerika?”

Untungnya seorang penumpang lainnya datang untuk memberitahu agar berhenti mengganggu. Tapi, penumpang tersebut terus meneriakkan kata-kata kasar kepada Chen karena merekam kejadian itu dan penumpang lain menghalangi dia agar tidak semakin mendekat.

Baca juga: Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara

“Ini bukan saatnya menyalahkan orang lain atau mencari alasan untuk menyakiti orang lain,” kata Chen di posting Facebook.