Ini Dia! Lima Kelemahan Covid-19

Sebagai pengguna moda transportasi, di tengah merebaknya virus corona (Covid-19), harus bisa menjaga diri ketika bepergian. Apalagi virus yang satu ini tidak pandang bulu penularannya baik kepada anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Tak hanya itu, vaksin dan obat untuk virus ini belum ditemukan yang tepat.

Baca juga: Transjakarta: Calon Penumpang Tak Gunakan Masker Tidak Boleh Masuk Halte dan Naik Bus

Namun, meski begitu, ternyata Covid-19 ini punya beberapa kelemahan dan sebagai pengguna moda transportasi Anda bisa mengatasinya. Nah dengan mengetahui kelemahan virus baru ini, maka penumpang bisa mencegah penularan sehingga risiko terinfeksi pun lebih terminimalisir. Lalu apa sebenarnya kelemahan virus corona ini? KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, beriku ini kelemahan virus corona.

1. Mudah hilang dengan pelarut lemak
Banyak yang bertanya pastinya pelarut lemak itu apa? ternyata pelarut lemak adalah sabun yang biasa digunakan sehari-hari. Virus corona bisa hancur dan mati jika terkena sabun. Itu sebabnya para pengguna moda transportasi atau masyarakat lainnya dianjurkan untuk mencuci tangan dengan air dan sabun yang mengalir untuk mencegah terinfeksi Covid-19.

Lalu, mengapa sabun efektif untuk membunuh virus corona? Jawabannya ada pada susunan virus itu sendiri. Virus corona pada intinya tersusun atas tiga bagian, yaitu DNA atau RNA yang menjadi inti dari virus, protein yang merupakan bahan baku virus untuk memperbanyak diri, dan lapisan lemak sebagai pelindung luarnya. Ketiga bagian tersebut sebenarnya tidak terikat dengan kuat satu sama lain. Sehingga, saat lapisan lemak tersebut hancur karena sabun, maka virus tersebut pun akan hancur dan mati.

Jadi, imbauan untuk mencuci tangan adalah langkah yang valid dan sangat efektif untuk mencegah penularan Covid-19. Jika Anda rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, maka kemungkinan virus berpindah dari tangan dan masuk ke dalam tubuh akan berkurang drastis.

2. Bisa dikalahkan oleh antibodi
Infeksi Covid-19 bisa terjadi dalam beberapa tingkat keparahan, mulai dari yang ringan hingga parah. Pada pasien Covid-19 yang memiliki gejala ringan, infeksi ini bisa sembuh dengan sendirinya selama daya tahan tubuhnya baik. Sebuah penelitian yang dilakukan di Australia mengamini bahwa salah satu kelemahan virus corona adalah dalam menghadapi antibodi yang sehat. Penelitian ini melihat secara teratur kadar antibodi yang dihasilkan oleh seorang pasien Covid-19 berusia 47 tahun dengan gejala ringan hingga sedang.

Pasien tersebut tidak memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi atau diabetes. Kondisi tubuhnya secara keseluruhan sehat dan hanya terdapat satu infeksi yang sedang terjadi, yaitu Covid-19. Pada hari ke 7-9 sejak gejala Covid-19 pertama kali muncul pada pasien tersebut, sejumlah antibodi mulai terbentuk di tubuh. Ini tandanya, tubuh tengah mengeluarkan berbagai senjatanya untuk berusaha melawan virus corona. Beberapa hari setelah antibodi terbentuk, tubuh pasien tersebut mulai membaik.

Memang masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut dalam skala yang lebih besar lagi untuk melihat pola “peperangan” antara virus corona dan antibodi. Namun, penelitian di atas bisa dijadikan sebagai pengingat pentingnya menjaga daya tahan tubuh dengan menjalani gaya hidup yang sehat.

3. Bisa dibunuh dengan disinfektan
Virus corona ada banyak jenisnya, yakni virus corona yang menyebabkan SARS, MERS, dan saat ini jenis yang baru ditemukan, mengakibatkan Covid-19. Masing-masingnya memang memiliki perbedaan dan masih butuh lebih banyak penelitian. Namun sejauh ini, diketahui bahwa secara umum karakter keluarga coronavirus cukup mirip, yaitu dianggap lemah jika harus berhadapan dengan bahan disinfektan.

Berdasarkan hasil penelitian, virus corona penyebab SARS dan MERS bisa bertahan di permukaan benda seperti metal, kaca, atau plastik hingga beberapa hari. Meski sejauh ini belum ada penelitian mengenai ketahanan virus penyebab Covid-19 di permukaan, tapi diduga hasilnya tidak jauh berbeda dari sepupu sesama virus corona lainnya.

Kabar baiknya, virus tersebut dianggap bisa nonaktif dengan bahan disinfektan seperti alkohol dengan kadar 60-70 persen, hidrogen peroksida 0,5 persen, atau sodium hipoklorit 0,1 dalam waktu 1 menit. Jadi rajin-rajinlah membersihkan permukaan benda yang sering disentuh seperti telepon genggam, gagang pintu, dan meja kerja menggunkaan bahan disinfektan.

Baca juga: Kata Ahli Medis: Cuci Tangan dengan Sabun Lebih Baik Dibanding Terus-terusan Pakai Masker

4. Tidak bisa bertahan lama dipermukaan
Virus corona memang bisa bertahan beberapa hari di permukaan. Namun, seiring berjalannya waktu, virus ini tidak lagi cukup kuat untuk bisa menimbulkan infeksi.

Sehingga baik WHO maupun Kementerian Kesehatan RI tidak melarang pengiriman paket antar negara karena risiko penularan melalui media pengiriman paket tersebut sangatlah rendah.

5. Melemah di suhu panas
Sejauh ini belum ada penelitian yang menyebut bahwa virus penyebab Covid-19 lemah terhadap panas. Namun, coronavirus penyebab penyakit SARS, terbukti bisa melemah pada suhu panas. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), virus penyebab SARS bisa terbunuh pada suhu 56°C. Baca juga: Mungkinkah Wabah Covid-19 Reda di Cuaca Hangat?

Jaunt’s ROSA Gyrodyne – Rancangan Taksi Udara eVTOL Paling Aman di Dunia

Era taksi terbang semakin menggeliat. Tak terhitung jumlah pabrikan yang coba mengeluarkan produk taksi terbang atau biasa juga disebut taksi udara. Desain dan konsep yang ditanamkan pun juga cukup beragam. Volocopter, misalnya, percaya pada konsep pesawat kecil dengan puluhan baling-baling kecil. Lain halnya dengan Hyundai S-A1, yang lebih memilih menggunakan sistem baling-baling multi-fungsi dengan sayap konvensional. Begitu juga dengan Jaunt Air Mobility LCC yang lebih memilih desain taksi udara gyrodyne.

Baca juga: Sukses Terbang Perdana, Taksi Udara Uber Mahakarya Boeing Mengudara di Tahun 2023

Seperti dikutip dari newatlas.com, Jaunt Air Mobility LCC atau Jaunt telah merilis desain taksi terbang miliknya dengan teknologi Reduced Rotor Operating Speed (ROSA) yang merupakan sebuah gyrodyne. Gyrodyne sendiri adalah jenis pesawat VTOL (Vertical Takeoff and Landing) dengan sistem mirip helikopter yang digerakkan oleh mesin untuk lepas landas dan mendarat dengan dilengkapai satu atau lebih baling-baling atau propeller konvensional untuk memberikan daya dorong ke depan.

Begitu juga dengan Jaunt, baling-baling utama pada bagian atas berfungsi seperti helikopter untuk terbang serta mendarat secara vertikal. Setelah taksi terbang mengudara, empat baling-baling listrik pada sayap kemudian memberikan daya dorong ke depan layaknya pesawat pada umumnya. Ketika baling-baling listrik tersebut bekerja, baling-baling atau rotor utama kemudian perlahan mengurangi daya sehingga daya dorong lebih maksimal

Desain tersebut diakui Jaunt merupakan sebuah pengembangan dari desain CarterCopter yang dikembangkan pada 2004 silam. Sejauh ini, Jaunt mengklaim taksi terbang keluarannya sudah melakukan lebih dari 100 jam uji terbang serta 1.000 kali uji lepas landas dan mendarat.

Dari sisi keamanan, taksi terbang ROSA dengan konsep gyrodyne tersebut setidaknya memiliki beberapa keunggulan. Ketika baling-baling listrik kehilangan daya karena satu dan lain hal, maka taksi terbang Jaunt masih dapat mendarat dengan aman dengan menggunakan rotor utama layaknya pendaratan pada helikopter. Kelebihan lainnya, ketika taksi terbang ROSA melakukan penerbangan mendatar, rotor utama tidak lagi menanggung beban karena seluruh beban sepenuhnya sudah diambil alih oleh baling-baling listrik pada sayap. Hasilnya tingkat kebisingan pun dapat ditekan (whisper quiet). Bahkan, diklaim 50-66 persen lebih halus dibanding helikopter ataupun pesawat fixed-wing pada umumnya.

Selain itu, masih dari segi keamanan, dengan tidak adanya bahan bakar cair yang mudah terbakar, serta dimensi sayap yang jauh lebih rendah dari pada pesawat pada umumnya, membuat wahana taksi udara Jaunt diklaim jauh lebih aman, baik di darat maupun di udara. Bahkan, ketika di darat, taksi udara Jaunt juga diklaim cocok untuk digunakan hingga tataran kompleks perumahan. Di samping itu, dengan teknologi 100 persen listrik, tentu saja taksi udara Jaunt juga lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Dari Selandia Baru, Boeing Siap Wujudkan Taksi Udara Listrik Otonom Pertama di Dunia

Belum lagi berbagai teknologi lainnya seperti radar cuaca, system with advanced flight control, hingga sistem kontrol Fly-By-Wire, yang biasa dijumpai di pesawat, membuat taksi terbang Jaunt dinilai menjadi taksi udara dengan sistem VTOL paling aman di dunia. Yang paling mengagumkan adalah teknologi LevelFly yang membantu kenyaman di dalam kabin dengan menyeimbangkan posisi pesawat. Singkatnya, ketika penumpang di dalam kabin duduk tak beraturan atau melakukan terlalu banyak gerakan sehingga menyebabkan taksi terbang menjadi tidak seimbang, tiang rotor utama dapat digerakan untuk menyesuaikan pesawat agar tetap stabil. Cukup nyaman, bukan?

Menurut Jaunt, taksi udara keluaran mereka diklaim mampu terbang dengan kecepatan maksimal mencapai 344 km per jam dan ketinggian maksimal mencapai 18.000 kaki. Selain itu, taksi udara Jaunt dilaporkan mampu mengangkut empat penumpang ditambah satu pilot. Dilihat dari situs resmi perusahaan, Jaunt menargetkan taksi udara ROSA tersebut dapat melakukan penerbangan perdana pada 2022 mendatang, kemudian memulai uji sertifikasi pada tahun berikutnya, menpatakan sertifikasi dari FAA pada 2025 dan mulai beroperasi secara komersil dengan tambahan kemampuan taksi swaterbang atau otomatis 2030 mendatang.

Laporan Q1 2020: 15 Bandara PT Angkasa Pura I Alami Penurunan Trafik Penumpang 8,11 Persen

Imbas wabah corona alias covid-19 telah berpengaruh negatif pada industri penerbangan, selain hampir semua maskapai dibuat tumbang, pun demimian dengan pihak pengelola jasa bandara. Seperti PT Angkasa Pura I yang menyebutkan mengalami penurunan trafik penumpang pada triwulan I (Januari-Maret) 2020 sebesar 8,11 persen dibanding periode yang sama pada 2019. Penuruna tersebut dihitung pada 15 bandara yang dikelola oleh BUMN tersebut.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Dikutip dari siaran pers PT Angkasa Pura I yang diterima KabarPenumpang.com (6/4/2020), disebutkan pada triwulan I 2020, trafik penumpang di 15 bandara Angkasa Pura I dicatat mencapai 17,78 juta penumpang, turun sebesar 8,11 persen dibanding periode yang sama pada 2019 yang mencapai 19,3 juta penumpang. Begitu juga trafik pesawat yang mengalami penurunan 4,86 persen menjadi 175.143 pergerakan pesawat pada triwulan I 2020 dari 184.085 pergerakan pada triwulan I 2019. Hal serupa juga terjadi pada trafik kargo yang turun 16,98 persen menjadi 121.127.758 kg pada triwulan I 2020 dari 145.894.028 kg pada triwulan I 2019.

Pada periode ini, penurunan trafik penumpang internasional mencapai 20,12 persen yaitu menjadi 3,2 juta penumpang pada triwulan I 2020 dari 4,02 juta penumpang pada triwulan I 2019. Sedangkan penurunan penumpang domestik sebesar 5,32 persen menjadi 13,49 juta penumpang pada triwulan I 2020 dari 14,25 juta penumpang pada triwulan I 2019. Sementara trafik penumpang transit mengalami penurunan 0,33 persen menjadi 1.081.931 penumpang pada triwulan I 2020 dari 1.085.563 penumpang pada triwulan I 2019.

“Seperti kita ketahui, penurunan trafik penumpang pada Maret 2020 seiring dengan teridentifikasinya kasus Covid19 pertama terhadap WNI yang kemudian ditindaklanjuti dengan kebijakan physical distancing dan imbauan Pemerintah untuk tidak melakukan perjalanan agar dapat memutus mata rantai penyebaran Covid19. Namun di tengah masa pandemi ini, Angkasa Pura I tetap memberikan pelayanan optimal kepada para pengguna jasa bandara yang memang harus melakukan perjalanan udara dengan menerapkan protokol kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid19, baik berupa penyemprotan disinfektan di area bandara, pemasangan panduan jarak minimal 1 meter, kebijakan penggunaan APD bagi petugas bandara, dan lainnya,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi.

Trafik penumpang di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, yang merupakan bandara dengan trafik tertinggi di antara bandara Angkasa Pura I lainnya, pada triwulan I 2020 yaitu sebanyak 4,66 juta penumpang, turun 13,57 persen dibanding periode yang sama pada 2019 yang dapat mencapai 5,39 juta penumpang. Sedangkan penurunan tertinggi terjadi di Bandara Adi Soemarmo Solo yang mencapai 19,45 persen menjadi 335.928 penumpang pada triwulan I 2020 dari 417.023 penumpang pada triwulan I 2019.

Sementara pertumbuhan penumpang tertinggi terjadi di Bandara Lombok Praya yaitu sebesar 13,02 persen menjadi 680.619 penumpang pada triwulan I 2020 dari 602.190 penumpang pada triwulan I 2019. Pertumbuhan juga terjadi di Bandara El Tari Kupang yaitu sebesar 4,37 persen menjadi 417.964 penumpang pada triwulan I 2020 dari 400.446 penumpang pada triwulan I 2019.

Baca juga: Gandeng Gudang Garam, PT Angkasa Pura I Bangun Bandara “Dhoho” di Kediri

“Di tengah masa pandemi ini, Angkasa Pura I tetap mengoperasikan bandara-bandaranya dan tetap melanjutkan pembangunan proyek pengembangan beberapa bandara dengan memperhatikan protokol kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid19. Pengoperasian bandara di masa pandemi ini berguna untuk melayani angkutan logistik dan pos yang dibutuhkan oleh masyarakat, berfungsi sebagai bandara alternatif bagi penerbangan yang mengalami kendala teknis maupun operasional, dan melayani penerbangan untuk penanganan kesehatan juga mengangkut infection sample Covid19,” tambah Faik Fahmi.

Singapore Airlines Akan Dapatkan Pesawat ke-1000 Boeing 787 Dreamliner

Setelah menunggu sembilan tahun, Boeing akhirnya menatap keberhasilan untuk mengirimkan pesawat 787 Dreamliner ke-1000 unit. Sebelum benar-benar dikirim, pesawat diujicoba terlebih dahulu. Penerbangan perdana sendiri sudah dilakukan pada Jumat, 3 April lalu di fasilitas produksi Boeing di North Charleston, South Carolina, Amerika Serikat (AS). Singapore Airlines menjadi maskapai yang beruntung untuk menerima pesawat spesial tersebut.

Baca juga: ‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

Menurut laporan Aeronews, Boeing 787-10 dengan kode registrasi 9V-SCP tersebut tampak begitu eye catching dengan livery khusus bertuliskan “1000th 787 DREAMLINER” di bagian depan kiri pesawat atau tak jauh dari posisi jendela kokpit dan pintu utama pesawat.

Dengan tambahan satu pesawat, Singapore Airlines kini tercatat sudah memiliki 16 armada Boeing 787-10 Dreamliner. Namun, hal itu belum lah cukup. Flag carrier Singapura tersebut berharap masih akan mendapat tambahan sekitar 49 Dreamliners dalam beberapa tahun ke depan. Pasalnya, SIA memang berharap banyak pada 787 Dreamliner. Hal itu setidaknya tercermin dari statement CEO Singapore Airlines, Mr Goh Choon Phong, saat menerima 787-10 pertama pada Maret 2018 silam.

“787-10 benar-benar mahakarya teknik yang luar biasa dan benar-benar sebuah karya seni. Ini akan menjadi elemen penting dalam strategi pertumbuhan kami secara keseluruhan, memungkinkan kami untuk memperluas jaringan kami dan memperkuat operasi kami,” katanya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Singapore Airlines memang begitu kepincut dengan 787 Dreamliner. Meskipun bukan maskapai pertama yang memesan pesawat jet komersil pertama di dunia yang mengaplikasikan material karbon komposit di struktur rangka utama pada badan pesawat tersebut, nyatanya, SIA memang begitu mengandalkan Dreamliner, khususnya pada penerbangan point-to-point.

Selain itu, Dreamliner juga dinilai lebih efisien dengan bahan komposit termasuk serat karbon untuk membuat pesawat lebih ringan serta fitur mesin baru dari Rolls Royce dan General Electric yang akan memberikan jangkauan yang lebih luas sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar. Menariknya, dengan kemampuan jangkauan yang lebih jauh, pesawat hanya bermodalkan dua mesin serta mengangkut lebih banyak penumpang dibanding pesawat medium lainnya kala itu. Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah daya tarik bagi SIA, dan juga banyak maskapai lainnya, yang ingin melakukan ekspansi besar-besaran di masa mendatang.

Meskipun berhasil digandrungi banyak maskapai di seluruh dunia, Boeing 787 Dreamliner bukan tanpa masalah. Hingga awal Maret lalu, maskapai-maskapai yang mengoperasikan pesawat tersebut bahkan harus memutar otak akibat permasalahan pada mesin Rolls-Royce-nya.

Di antaranya ada Air New Zealand’s yang menangguhkan layanan penerbangan Auckland ke Shanghai dengan menggunakan Dreamliner. Ada juga British Airways yang biasa menerbangkan 787-9 ke Beijing dan Shanghai. Kemudian LOT Polish Airlines menggunakan Dreamliner untuk penerbangan ke Beijing dari Tallinn (ibukota Estonia) dan Warsawa (ibukota Polandia) hingga Virgin Atlantic Airways yang mengoperasikan penerbangan hariannya ke Shanghai dengan 787-9.

Jauh sebelum masalah pada mesin muncul, Boeing 787 Dreamliner juga pernah memiliki riwayat permasalahan pada sistem oksigen. Sistem ini bekerja untuk tetap memasok oksigen bagi penumpang dan awak, saat tekanan udara dalam kabin turun (dekompresi). Masker udara akan turun dari langit-langit pesawat untuk memasok oksigen dari tabung gas. Tanpa sistem ini, siapa pun yang ada di pesawat akan lumpuh.

Baca juga: Setelah Pamor Meroket di 2009, Mungkinkah 2020 Jadi Tahun Terakhir Boeing 787 Dreamliner?

Pada ketinggian 35.000 kaki (sekitar 10.600 meter), kurang dari semenit penumpang akan pingsan. Pada ketinggian 40.000 kaki, mereka akan pingsan kurang dari 20 detik. Ini bisa disusul dengan kerusakan otak, bahkan kematian. Dekompresi sebetulnya jarang terjadi, tetapi bukan tidak pernah.

Bulan April 2018, jendela pesawat Southwest Airlines meledak, sesudah terhantam serpihan mesin yang rusak. Seorang penumpang yang duduk di samping jendela cedera parah dan kemudian meninggal dunia. Adapun penumpang lain bisa meraih oksigen darurat dan selamat. Masalah tersebut, walaupun tidak masif, namun cukup membuktikan bahwa permasalahan Dreamliner yang dilaporkan oleh John Barnett, eks manajer pengendalian kualitas di pabrik Boeing, benar adanya.

Penggunaan Bilik Sterilisasi, Bila Tak Gunakan Desinfektan Secara Benar Justru Sangat Berbahaya

Beberapa pusat perbelanjaan dan pra sarana transportasi seperti bandara, halte, terminal hingga stasiun kereta api memasang bilik desinfektan. Pemasangan bilik ini digunakan untuk menyemprot penumpang ataupun pelanggan agar terhidar dari virus corona atau covid-19. Namun apakah ini aman dan bisa mencegah penularan Covid-19?

Baca juga: Dokter Spesialis Infeksi: Risiko Terinfeksi Corona di Transportasi Umum Sangat Kecil

Berdasarkan informasi di lapangan ternyata cairan desinfektan yang digunakan pada bilik desinfeksi ini berbagai macam seperti diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dan sejenisnya, etanol 7096, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), hidrogen peroksida (H2O2) dan sebagainya.

Desinfektan digunakan untuk mendisinfeksi ruangan dan permukaan, seperti lantai, perabot, peralatan kerja, pegangan tangga atau eskalator, moda transportasi, dan lain-lain. Menurut World Health Organization (WHO) menyemprotkan desinfektan ke tubuh dapat membahayakan membran mukosa seperti mata dan mulut. Hal ini akan berpotensi menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan merusak pakaian. Tak hanya itu, terpapar desinfektan langsung ke tubuh secara terus menerus dapat menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan.

Solusi teraman dalam pecegahan Covid-19 adalah tetap dengan mencuci tangan dengan sabun dan membasuhnya di air mengalir secara rutin atau menggunakan hand sanitizer ketika tidak bisa mencuci tangan seperti dalam perjalanan. Selain itu melakukan pembersihan dengan desinfektan secara rutin pada permukaan benda-benda yang sering disentuh seperti perabot, peralatan kerja, pegangan pintu dan tangga, pegangan di alat transportasi dan lainnya.

Jikapun harus keluar rumah, gunakan masker, hindari kerumunan dan jaga jarak. Bila di rumah buka jendela untuk sirkulasi yang baik. Guru besar Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi mengungkapkan, baru-baru ini, WHO telah memberi peringatan terkait bahaya pemakaian alkohol dan klorin (chlorine) pada tubuh dan penggunaannya harus dengan tepat serta benar.

“Dalam hal ini, pengetahuan mengenai kimia sangat diperlukan, mengingat banyak masyarakat awam yang membuat disinfektan maupun antiseptik sendiri,” ujar Fredy yang dikutip KabarPenumpang.com dari goriau.com (4/4/2020).

Dia menyebutkan bahwa pemakaian alkohol dan klorin jika dilakukan oleh orang yang tidak punya kompetensi dan kapabilitas yang cukup dalam meramu serta menggunakan secara benar maka akan sangat berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain serta bagi lingkungan sekitar. Fredy menjelaskan, antiseptik dan desinfektan berdasarkan istilah dari WHO bahwa antiseptik merupakan salah satu desinfektan yang menghancurkan atau menghambat mikroorganisme patogen dalam keadaan nonspora atau vegetatif. Bahan yang biasa digunakan untuk antiseptik yakni klorin dan etanol serta bisa dibeli di pasaran.

Dia menjelaskan bahwa WHO sendiri tidak merekomendasikan cairan seperti etanol, klorin dan H2O2 pada bilik sterilisasi. Sebab bahan-bahan ini bersifat karsinogenik yang bisa mengakibatkan mutasi bakteri. Pendapat ini mempertimbangkan dampak negatif pada satu hingga dua tahun ke depan. Fredy menerangkan, bilik sterilisasi memiliki dua bagian, yaitu bilik itu sendiri dan bahan disinfektan yang digunakan.

“Tujuan dari bilik ini adalah membunuh mikroorganisme yang menempel di badan atau di pakaian seseorang secara seketika,” kata dia.

Padahal, disinfektan hanya akan memengaruhi yang ada dalam ruangan bilik meski residunya pun dapat keluar dalam jumlah besar. Namun, hal yang menjadi pokok masalah bahaya dari bilik ini adalah bahan kimia yang digunakan. Di mana semua bahan kimia yang umum tersedia sebagai disinfektan berdasarkan Centers of Disease Control and Prevention (CDCP) dan WHO, hampir semua senyawa tersebut memiliki efek yang cukup signifikan. Apalagi, bila digunakan kepada manusia secara langsung.

“Ada dua senyawa yang aman digunakan, yaitu ozon dan chlorine dioxide, namun tetap dengan ukuran yang telah ditentukan dan cara pemakaian yang benar,” kata Fredy.

Bilik sterilisasi menggunakan ozon dan chlorine dooxide memiliki potensi untuk digunakan mengatasi kasus Covid-19 dengan aman. Namun, syarat bilik sterilisasi harus dibuat dan dikontrol kualitasnya oleh tenaga ahli yang kompeten.

“Kontrol kualitas dari bilik yang dimaksud adalah terkait dosis dan cara penggunaan yang benar. Bahan-bahan disinfektan lain selain ozon dan chlorine dioxide tidak direkomendasi karena dapat mengakibatkan efek samping yang fatal dalam jangka waktu dekat maupun panjang,” kata Fredy.

Fredy mengatakan, dengan kondisi pandemi seperti saat ini, tentu saja semua cara perlu untuk dikerahkan dalam mengatasinya.

Baca juga: Pendapatan Turun, Pengemudi Taksi Singapura Tetap Bekerja dan Semprotkan Desinfektan serta Gunakan Masker

“Saya harap hal ini dapat mengingatkan masyarakat bahwa boleh mengatasi masalah, tetapi jangan sampai menimbulkan masalah baru agar masyarakat tetap sehat selamat,” ujar Fredy.

Diketahui, Kementerian Kesehatan RI resmi mengeluarkan Surat Edaran bernomor HK: 0202/III/375/2020 tentang Penggunaan Bilik Disinfeksi Dalam Rangka Pencegahan Penularan Covid-19. Surat edaran tersebut memberi penilaian tentang bilik disinfeksi yang sekarang banyak digunakan di masyarakat untuk mendisinfeksi permukaan tubuh yang tidak tertutup, pakaian dan barang-barang yang digunakan atau dibawa oleh manusia.

Di Tengah Ancaman 2,2 Juta Korban Akibat Corona, Boeing Perpanjang Penutupan Pabrik di Washington

Boeing memutuskan untuk memperpanjang penutupan pabrik di Washington, Amerika Serikat (AS) akibat virus corona yang masih juga belum mampu dibendung pemerintahan Donald Trump. Penutupan pabrik tersebut meliputi fasilitas Boeing di Puget Sound dan Moses Lake serta tentu saja pabrik perakitan pesawat komersial andalan Boeing di Everett dan Renton.

Baca juga: Demi Kembali Terbang, Perbaikan Boeing 737 MAX Terus Dikebut di Tengah Corona

“Tindakan ini diambil mengingat fokus perusahaan yang terus berlanjut pada kesehatan dan keselamatan karyawan, situasi terkini terkait penyebaran COVID-19 di negara bagian Washington, stok rantai pasokan, dan rekomendasi tambahan dari otoritas kesehatan pemerintah,” kata para pejabat Boeing, dalam sebuah salinan statement yang tengah dipersiapkan, sebagaimana dikutip dari laman komonews.com.

Berbeda dengan keputusan sebelumnya pada 25 Maret lalu, dimana saat itu Boeing mengumumkan akan menutup pabrik di Washington selama 14 hari ke depan atau hingga Rabu, (8/4) mendatang, kali ini Boeing menegaskan bahwa penutupan pabrik tersebut dilakukan tanpa batas waktu. Semuanya akan bergantung pada bagaimana kondisi pandemi Covid-19 di sana.

Pasalnya ancaman virus Cina tersebut di AS diklaim akan mencapai titik puncak pada bulan ini. Presiden Donald Trump sendiri sudah mengingatkan akan ancaman besar virus corona selama 30 hari ke depan. Hal itu didasari data dan pemodelan tersebut yang adanya menunjukkan lompatan besar dalam kematian menjadi 100.000 hingga 200.000 orang dari virus corona dalam dua minggu mendatang. Dari data pemodelan itu, jika tak ada langkah mitigasi apapun, Trump mengatakan 2,2 juta orang bisa mati karenanya.

Beruntung, sekalipun karyawan sementara waktu bekerja dari rumah, Boeing menegaskan bahwa mereka tetap mendapatkan gaji penuh. Termasuk para karyawan pabrik yang benar-benar tak bisa berbuat banyak untuk perusahaan ketika diputuskan bekerja dari rumah. Berbeda dengan karyawan Boeing lainnya di beberapa divisi yang memang tetap bekerja seperti biasa, meskipun dari rumah, dengan segudang tugas.

Namun, bagi karyawan lainnya yang sedang terlibat dalam proyek penting Boeing, semisal 737 MAX, mereka tetap bekerja seperti biasa dengan sejumlah kontrol ketat di bawah aturan protokol kesehatan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC). Hal itu dilakukan agar tak ada lagi karyawan yang menjadi korban keganasan virus corona.

Setidaknya satu karyawan Boeing di pabrik Everett dilaporkan telah meninggal karena Covid-19. Boeing mengatakan, pada Jumat lalu, sudah ada sekitar 133 kasus positif corona di semua pabrik Boeing. Angka tersebut sedikit mengalami lonjakan dari sebelumnya berjumlah 118 kasus. Celakanya, dari jumlah tersebut, 95 di antaranya terjadi di pabrik Boeing di Washington.

“Kesehatan dan keselamatan karyawan kami, keluarga mereka, dan masyarakat adalah prioritas bersama. Kami memanfaatkan momen ini untuk terus mendengarkan tim kami yang luar biasa dan mengikuti arahan pemerintah, penyebaran virus corona di masyarakat, dan keandalan pemasok kami untuk memastikan kami siap untuk kembali dengan aman dan tertib seperti sediakala,” kata Presiden dan CEO Boeing Commercial Airplanes, Stan Deal.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Wabah virus corona memang telah meluluhlantahkan industri penerbangan, tak terkecuali Boeing. Produsen pesawat terbesar di dunia tersebut pada Kamis lalu dilaporkan telah memulai tawaran rencana PHK sukarela untuk karyawan, meskipun ditawari gaji dan tunjangan yang cukup besar. CEO Boeing, Dave Calhoun sendiri mengungkapkan bahwa PHK tersebut adalah sebuah keniscayaan akibat permintaan yang menurun.

“Ketika wabah corona muncul, pangsa pasar komersial serta jenis produk dan layanan yang diinginkan dan dibutuhkan pelanggan kami kemungkinan akan berbeda. Kita perlu menyeimbangkan penawaran dan permintaan sesuai dengan kebutuhan industri melalui proses pemulihan untuk tahun-tahun mendatang,” katanya.

Transjakarta: Calon Penumpang Tak Gunakan Masker Tidak Boleh Masuk Halte dan Naik Bus

Mulai hari Minggu (12/4/2020) mendatang, semua penumpang yang akan menggunakan bus TransJakarta wajib menggunakan masker. Hal ini adalah kebijakan yang diberlakukan oleh PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) yang menindaklanjuti seruan Gubernur DKI Jakarta No.9/2020 tentang penggunaan masker di area publik.

Baca juga: Kata Ahli Medis: Cuci Tangan dengan Sabun Lebih Baik Dibanding Terus-terusan Pakai Masker

Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Minggu (5/4/2020), Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT TransJakarta Nadia Diposanjojoyo mengatakan, jenis masker yang disarankan untuk digunakan penumpang adalah masker kain dua lapis dan dicuci setiap hari agar terjaga kebersihannya. Dia menyebutkan, bagi pelanggan yang tidak menggunakan masker tidak diperbolehkan memasuki halte ataupun menggunakan bus.

“Selama enam hari kedepan, kami (TransJakarta) mengimbau bagi seluruh pelanggan untuk mempersiapkan masker pribadi,” ujar Nadia.

Dia mengatakan, adanya kebijakan baru ini, tidak meninggalkan kebijakan yang sudah ada sebelumnya yang sudah diberlakukan oleh Transjakarta sehubungan dengan darurat Covid-19. Nadia menyebutkan, seperti memastikan sanitasi di halte maupun bus, menjaga jarak antar pelanggan satu dengan lainnya, mendeteksi suhu tubuh, mendahulukan petugas medis dan menyediakan hand sanitizer serta wastafel portable di beberapa halte serta memberlakukan pembatasan jumlah pelanggan di dalam bus maupun di halte untuk memastikan jarak aman antar pelanggan terpenuhi.

“Kami manajemen Transjakarta tetap mengajak kepada pelanggan kami untuk sebaiknya tetap #dirumahsaja dan selalu menjaga kesehatan dengan memberikan asupan yang cukup agar daya tahan tubuh tetap baik dalam kondisi saat ini. Disamping itu kami pun berharap agar pelanggan selalu membiasakan cuci tangan dengan sering agar penyebaran virus Covid-19 tetap dapat diminimalisir. Begitu juga kepada masyarakat agar selalu mengikuti anjuran Pemerintah untuk tidak keluar rumah jika tidak ada hal yang darurat,” kata nadia.

Tak hanya TransJakarta, untuk mencegah penularan Covid-19, MRT Jakarta juga memberlakukan hal yang sama yakni melakukan sosialisasi mulai hari ini 6 April 2020 hingga 11 April mendatang agar penumpang menggunakan masker sehingga 12 April 2020 bisa efektif berjalan. Selain itu LRT Jakarta juga menerpakan hal yang sama untuk seluruh penumpangnya.

Untuk diketahui, masker dua lapis yang dapat dibeli atau dibuat sendiri, serta dapat dicuci setiap hari untuk menjaga kebersihannya, dan tidak membeli atau menggunakan masker medis karena diprioritaskan untuk para tenaga medis. Himbauan penggunaan masker kain untuk lebih ramah lingkungan, sehingga bisa dipakai berulang kali karena bisa dicuci dan tidak mengganggu suplai kebutuhan para tenaga medis.

Baca juga: Gegara Batuk Tak Gunakan Masker, Penumpang Lain Tekan Tombol Darurat di Kereta

“Kami (MRT Jakarta) juga terus mengajak seluruh penumpang untuk bersama-sama cegah penyebaran virus corona COVID-19 dengan menjaga kesehatan dan kebersihan diri, tetap mengutamakan berkegiatan di rumah, berpergian hanya untuk kebutuhan medesak serta menerapkan jarak fisik (physical distancing) dalam kegiatan sehari-hari,” tambah Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Muhamad Kamaluddin.

Dornier Seawing Seastar Sukses Terbang Perdana

Dunia penerbangan tak akan lagi asing dengan jenis pesawat Dornier. Pesawat yang menggunakan baling-baling tersebut ada dua jenis yang terkenal hingga saat ini yakni Dornier 228 dan 328 turbopop. Baru-baru ini tepatnya pada 28 Maret 2020 prototipe pesawat amfibi terbaru Dornier Seawing Seastar berhasil lakukan penerbangan perdanannya.

Baca juga: N-219 Nurtanio, Digadang Sebagai Jawara Penerbangan Perintis di Papua

Pesawat bermesin ganda turbopop ini diterbangkan selama 31 menit yang pelaksanaan penerbangannya dilakukan di fasilitas Oberpfaffenhofen, Jerman. KabarPenumpang.com melansir dari laman flyingmag.com (31/3/2020), pada penerbangan perdananya, Wolfram Cornelius menjadi kepala pilot untuk uji coba Dornier Seawings tersebut.

“Penerbangan pertama selesai dengan sukses dan mengkonfirmasi kualitas penanganan yang bagus dari Seastar. Semua sistem berfungsi dengan baik, sistem avionik canggih mencerminkan state-of-the-art dalam desain kokpit dan merupakan dasar yang baik untuk pengemabangan masa depan,” kata Wolfram.

Pesawat ini ditenagai oleh dua mesin Pratt & Whitney Canada PT6A-135A yang ditempatkan disayapnya. Seastar adalah produk dari Dornier Seawings yang merupakan perusahaan patungan antara Dornier dan dua perusahaan Cina milik negara yang berbasis di Wuxi, Provinsi Jiangsu, Cina.

Usaha patungan ini berupaya meningkatkan perjalanan jarak pendek dan menengah dengan biaya lebih rendah dan mengurangi waktu penerbangan, namun dengan kapasitas, efisiensi, dan keamanan yang lebih tinggi. Seastar generasi terbaru dengan nomor seri SN1003 ini diproyeksikan memiliki berat lepas landas maksimum 5100 kg (11.220 pound), kecepatan jelajah maksimum 180 ktas, dan kisaran sekitar 900 nm.

Pesawat yang berkapasitas 12 penumpang ini akan ditawarkan untuk angkutan penumpang reguler, VIP, angkutan kargo hingga misi khusus. Diketahui prototipe pesawat ini merupakan pengembangan dari Seastar hasil rancangan dan pengembangan Claudius Dornier Jr di tahun 1980-an.

Dornier Seastar yang pertama, terbang perdana 17 Agustus 1984 silam. Sayangnya saat itu program Seastar ini dihentikan karena pabrik Dornier asal Jerman tersebut mengalami kesulitan finansial.

Baca juga: Jerman Datangkan Saksi Bisu Pembajakan Lufthansa 1977, Indonesia Juga Punya Sejarah Yang Mirip

Kemudian tahun 2013 lalu dua perusahaan Cina mengambil aleh aset perusahaan tersebut untuk menghidupkannya kembali. Museum Dornier di Friedrichshafen menawarkan pandangan mendalam pada sejarah perusahaan selama 100 tahun.

Zeppelin, Riwayat Balon Udara dengan Bahan Bakar Hidrogen

Zeppelin bukanlah nama sebuah band rock asal Inggris yang tidak pernah mengeluarkan singel lagu, tetapi sebuah balon udara yang berbentuk cerutu raksasa dan dapat terbang terarah karena mempunyai mesin serta kemudi. Balon udara ini dinamai sesuai dengan perancangnya yakni Ferdinand Adolf Heinrich August Graf von Zeppelin yang merupakan seorang aeronautika dari Jerman yang berhasil menerbangkan untuk pertama kali tanggal 2 Juli 1900.

Baca juga: Banyak Perombakan, Wahana Udara Terbesar Airlander 10 Siap Komersial di 2024

Saat melakukan uji coba pertamanya, Graf Zeppelin mengalami kegagalan dan Kaisar Wilhelm II mencibirnya sebagai manusia paling bodoh di selatan Jerman. Bahkan awalnya Zeppelin disambut dingin oleh masyarakat, namun keberadaannya justru membuka jalan bagi penerbangan Trans Atlantik dan membidangi industri penerbangan sipil seperti yang dikenal saat ini.

KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, meski dicibir akhirnya zeppelin dioperasikan oleh Deutsche Luftschiffahrts-AG (DELAG) dan penerbangan komersial pertama dengan melayani penerbangan terjadwal sebelum Perang Dunia I. Hal ini yang kemudian pada tahun 1908 Kaisar Wilhelm II akhirnya menyebut Graf Zeppelin sebagai tokoh Jerman paling besar abad ini.

Bahkan Wilhelm II juga ikut mendorong produksi massal kapal udara apalagi saat itu Jerman mulai terseret dalam Perang Dunia I dan membutuhkan alat perang untuk untuk menjatukan bom dari udara. Sayangnya kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I tersebut menghentikan bisnis kapal terbang untuk sementara waktu.

Meski begitu setelah Perang Dunia I industri penerbangan sipil akhirnya mulai marak di Eropa dan Zeppelin dipasarkan untuk penerbangan singkat di dalam negeri. Tahun 1924 Hugo Ecker mencatatkan diri sebagai manusia pertama yang berhasil melintasi Samudera Atlantik dengan Zeppelin.

Kapal udara yang mengandalkan hidrogen itu terbang lebih rendah dibandingkan pesawat sipil modern. Pencipta Zeppelin, Graf Zeppelin mencatatkan ketinggian maksimal 1700 meter di udara saat dia mengelilingi bumi dengan kapal ciptaannya tersebut. LZ 127 tercatat sebagai Zeppelin paling sukses dalam sejarah karena dari 1928 hingga 1937, kapal tersebut melakukan 590 penerbangan sebelum dipensiunkan di museum.

Selain LZ 127 ada juga LZ 129 Hindenburg mengoperasikan penerbangan Trans Atlantik dari Jerman ke Amerika Utara dan Brasil. Zeppelin Hidenburg tersebut dibuat dengan kerangka aluminium yang dibalut dengan tenun serupa dengan kapal layar. Karena rancang bangunan yang stabil, kemudian Zeppelin digemari sebagai moda transportasi udara bagi warga sipil.

Zeppelin dengan penerbangan Trans Atlantik hanya bisa dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas karena layanan yang ditawarkan selaras dengan penumpang yang naik di dalamnya. Bahkan, Zeppelin menyediakan kabin tidur untuk penerbangan jarak jauh dengan dua tempat tidur tingkat yang dilengkapi westafel untuk mencuci muka.

Biasanya kabin ini tersedia dalam penerbangan dari Frankfurt, Jerman ke Recife di Brazil yang memiliki waktu tempuh 68 jam. Sayangnya kehancuran tragis LZ 129 Hindenburg terjadi pada 6 Mei 1937 di mana saat itu sebelum Perang Dunia II terbakar di New Jersey, Amerika Serikat dan sempat meledak di udara.

Baca juga: Balon Udara, Teror Si Bulat Warna-Warni Untuk Dunia Aviasi

Dari ledakan tersebut hanya kerangka saja yang jatuh kedarat dan sebanyak 35 penumpang serta awak tewas serta 61 lainnya selamat. Peristiwa naas tersebut menandai akhir penerbangan sipil Zeppelin. Yang terakhir dari Zeppelin adalah LZ 130 Graf Zeppelin II, ini hanya digunakan untuk militer dan dibongkar tahun 1940.

Belajar dari Pandemi, Seharusnya Pekerja Tak Perlu Mempertaruhkan ‘Nyawa’

Ketika sebuah virus menjadi pandemi di dunia, banyak negara yang menutup diri untuk meminimalisir penularan dan penyebarannya. Tak hanya itu karena pandemi ini akhirnya banyak orang yang tetap harus berangkat ke tempat kerja meski risiko tertular virus lebih besar dibandikan bekerja dari rumah.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Apalagi bagi mereka yang menggunakan angkutan umum seperti bus atau kereta menuju ke tempat kerja. Para pekerja ini mungkin tidak menginginkan hal tersebut karena mereka tahu cara penularan virus tersebut.

Namun mereka membutuhkan uang untuk menghidupi diri pribadi dan keluarga. Mungkin untuk kalangan menengah atas, memilih untuk melakukan aktivitas di rumah atau bepergian ke tempat yang jauh adalah hal yang bisa dilakukan dan tidak takut tertular.

Tapi bagi para pekerja bisa saja merepotkan karena harus mencari pengasuh anak-anak. Selain itu harus naik bus atau kereta yang ramai dan khawatir ketika seseorang batuk saat di tempat kerja hingga tidak ada pembersih tangan yang cukup.

KabarPenumpang.com melansir theguardian.com (1/4/2020), bila para pekerja yang menaiki angkutan umum penuh sesak dan tertular virus pandemi sepertinya akan kalah menarik daripada urusan politik di Washington atau para selebriti yang terinfeksi. Dunia tahu bahwa virus bukanlah kesalahan para pekerja, tetapi kenyataan bahwa ada manusia yang terinfeksi yang menaiki angkutan umum.

Diketahui,  gudang, perusahaan angkutan truk dan toko-toko besar masih buka serta melakukan aktivitas mereka. Hal ini yang kemudian membuat para pekerja masih harus bekerja dan tidak ada perlindungan bagi mereka.

Namun tidak diketahui bagaiman para pekerja gudang, pengemudi truk barang ataupun pramusaji di toko akan berelasi jika diantara merek ada yang sakit. Bahkan tidak diketahui nasib Masyarakat di Capitol Hill, Malibu dan Hamptons kedepannya.

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Sebab tidak bisa diprediksi biaya yang harus dikeluarkan orang-orang dan kuangan yang tidak diasuransikan, karena kerusakan yang terjadi saat ini. Terlepas dari semua ini,  ada harapan di mana manusia belajar dari kesalahan saat pandemi yang sedang berlangsung sekarang.