Bandara Internasional Moskow Gunakan Tank untuk Menderek Pesawat

Alih-alih membeli traktor sebagai kendaraan emergency, Bandara Internasional Domodedovo Moskow, Rusia, justru membeli tank jadul. Tank yang semasa perang  dijadikan oleh militer Uni Soviet untuk menderek tank lainnya yang rusak di medan perang tersebut, nantinya akan bertugas membantu menderek pesawat saat terjadi keadaan darurat, seperti badai salju, pesawat keluar landasan, atau insiden sejenis lainnya yang membutuhkan kendaraan lain untuk menderek.

Baca juga: Mewah Bak Limousine, Berlapis Baja Laksana Tank, Inilah Kereta Diktator Korea Utara

Seperti dikutip dari popularmechanics.com, keputusan bandara yang terletak di Distrik Domodedovsky, Oblast Moskow, Rusia, 42 kilometer sebelah tenggara pusat kota Moskow tersebut menjadikan BREM-L sebagai tank recovery vehicle for airport emergencies, bila dilihat dari sisi kemampuan, tentu tak terlalu mengherankan.

BREM-L yang diproduksi pada medio 1970-an dan 80-an ditaksir memiliki kemampuan menderek kendaraan setara 125 ton dengan kecepatan maksimal 70 km per jam di darat dan 10 km per jam di laur. Daya jelajahnya juga terbilang luas, mencapai 600 km. Hal itu berkat bantuan dapur pacu dari mesin diesel V-46 yang menghasilkan 780 tenaga kuda. Tank tempur dengan bobot 41 ton ini juga tergolong tangguh di segala medan, termasuk saat kondisi badai salju ekstrem. Jadi, sangat cocok untuk diberikan mandat sebagai tank recovery di Negeri Beruang Kutub yang notabene akrab dengan salju.

Dengan adanya tank recovery nyentrik berwarna orange kombinasi hitam (sengaja dibuat seperti itu agar dapat terlihat jelas saat kondisi salju ekstrem) di bandara terbesar di Rusia dalam jumlah penumpang dan kargo, bersama tiga bandara utama Moskwa beserta Sheremetyevo dan Vnukovo tersebut, seorang juru bicara perusahaan induk Uralvagonzavod, Rostec, mengatakan bahwa ada kemungkinan bandara-bandara lainnya melakukan hal serupa. Hal itu tentu saja didasari oleh berbagai kemampuan tank BREM-L tersebut.

BREM-L sendiri, sebagaimana dikutip dari indomiliter.com, adalah sosok ranpur lapis baja beroda rantai yang punya peran untuk melakukan evakuasi dan perbaikan langsung pada IFV atau ranpur ringan yang mengalami kerusakan dalam medan pertempuran.

Sebagai ranpur recovery, BREM-L dilengkapi beberapa fasilitas utama untuk menjalankan operasinya. Sebut saja ada crane full swing yang mampu mengangkat beban hingga bobot 11 ton. Crane ini digerakan dengan tenaga mekanis hidrolik. Untuk keperluan perbaikan lainnya, BREM-L juga dilengkapi peralatan las listrik untuk memotong plat baja dan alumunium.

Sementara kemampuan BREM-L untuk melakukan perbaikan pada ranpur, menjadikan tank recovery ini punya kewajiban untuk membawa aneka ‘perkakas dan suku cadang’ untuk keperluan service di lapangan. Nah, tank ini punya kapasitas kargo, yakni 1,7 ton saat melintas di darat, sementara kapasitas kargo hanya 0,3 ton bila BREM-L melaju di air.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Perlu diketahui, ranpur buatan Kurganmashzavod, Rusia, ini memang punya kemampuan amfibi. Dengan mengambil platform sasis dari BMP-3, BREM-L dapat melaju di air hingga kecepatan 9 – 10 km per jam. Kemampuan mengarungi air ini berkat adanya dua water jet propeller, serupa dengan yang ada di BMP-3F. Bahkan, dengan telescopic air intake tube, BREM-L mampu mengarungi laut hingga level gelombang Sea Stage 3.

Meski tak langsung berhadapan dengan lawan di medan peperangan, BREM-L yang diawaki 3 personel plus 2 bangku cadangan, juga dibekali persenjataan ringan untuk self defence. Aslinya dari pihak pabrikan, BREM-L dipersiapkan dengan senjata PKTM kaliber 7,62 mm yang ditempatkan pada mounted hatch. Senjata ini dapat melibas sasaran hingga jarak 2.000 meter, dalam sekali jalan umumnya bisa disaipkan stok amunisi hingga 1.000 peluru. Karena mengambil basis rancang bangun dari BMP-3F, maka elemen mobilitas dan proteksi nya pun tak beda jauh dengan BMP-3F.

Dipaksa Keluar dari Toilet dalam Kondisi Celana Melorot, Penumpang Wanita ini Gugat Aer Lingus

Maskapai Aer Lingus baru-baru ini menyombongkan diri sebagai maskapai paling ramah keluarga kelima di dunia dalam penelitian yang dilakukan oleh Lastminute.com. Namun apa jadinya jika maskapai yang dibilang ramah keluarga ini, ternyata awak kabinnya pernah melakukan hal kasar pada penumpangnya?

Baca juga: Setelah 20 Tahun, Awak Kabin Aer Lingus Akhirnya Punya Seragam Baru

Hal tersebut terjadi pada seorang penumpang wanita yang mengklaim dirinya ditarik paksa keluar dari toilet oleh dua awak kabin Aer Lingus ke lorong dengan celana yang menggantung di sekitar pergelangan kaki dan bokong serta alat kelaminnya terpapar ke semua penumpang sekitar. Rincian kejadian aneh ini terungkap dalam beberapa hari terakhir setelah Mary Oshana mengajukan gugatan di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Utara Illinois mencari kompensasi dari Aer Linggus dalam insiden April 2018 lalu.

KabarPenumpang.com melansir laman paddleyourownkanoo.com (7/4/2020), Oshana diketahui adalah penumpang pada penerbangan Aer Lingus EI122 dari Chicago ke Dublin di Irlandia pada 26 April 2018. Saat itu, pesawat tengah mengantri di landasan untuk parkir dan menurunkan penumpang.

Setelah menunggu selama 30 menit dan tidak bergerak sama sekali, Oshana mengatakan dirinya bangkit dari kursi karena harus menggunakan toilet. Dalam 20 detik dirinya memasuki toilet, Oshana mengklaim awak kabin Aer Lingus mulai menggedor pintu dan memerintahkannya untuk segera kembali ke tempat duduknya.

Namun saat itu, Oshana tengah duduk di toilet dengan celana di pergelangan kaki. Dia mengatakan kepada awak kabin bahwa dirinya akan kembali ke kursi dalam satu menit. Dia mengatakan awak kabin ‘membobol’ lavatory (toilet) pesawat hanya 20 detik kemudian dan tanpa peringatan sebelumnya.

“Dalam proses diseret dari toilet ke kursinya dengan celana di bawah lutut, bokong dan alat kelamin Mary Oshana terlihat oleh penumpang lain di pesawat EIO122.”

Baca juga: Lupa Nyalakan Airplane Mode, Penumpang Aer Lingus Kena Denda Jutaan Rupiah!

Gugatan itu mengklaim dua awak kabin memegangnya “di bawah lengannya, menyeretnya ke kursinya sementara celananya berada di bawah lututnya, dan melemparkannya dengan kekuatan besar ke sandaran tangan dan kursi. Dia mengatakan bahwa merasa sakit dan memar karena dilemparkan ke sandaran tangan, dia juga menghadapi tekanan emosional ketika melihat dan mendengar penumpang pria di belakangnya tertawa dan menunjuk padanya.

Sebagai hasil dari memukul sandaran tangan, Oshana sekarang mengklaim telah menderita “cedera parah dan permanen pada sistem sarafnya.” Sayangnya Aer Lingus belum menanggapi permasalah penumpang malang ini.

 

 

PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi

Ibukota DKI Jakarta resmi menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona atau Covid-19 agar tidak semakin meluas. Pembatasan tersebut diterapkan setelah Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menandatangani surat permohonan Provinsi DKI Jakarta terkait PSBB ini.

Baca juga: Imbas Covid-19, Pengemudi Ojol Sepi Penumpang, Layanan Pesan Antar Banjir Order

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, dalam surat keputuan itu disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta wajib melaksanakan PSBB sesuai ketentuan perundang-undangan dan secara konsisten mendorong dan mensosialisasikan pola hidup bersih dan sehat kepada masyarakat. Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI No.9/2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka percepatan penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Dalam poin peliburan tempat kerja dengan pengecualian salah satunya mengatur tentang operasional ojek online (ojol). Hal ini terdapat dalam pasal 15 yang berbunyi layanan ekpedisi barang, termasuk sarana angkutan roda dua berbasis aplikasi dengan batasan hanya untuk mengangkut barang dan tidak untuk penumpang.

Terkait hal ini, dua aplikasi ride hailing terbesar di Indonesia yakni GoJek dan Grab akan terkena imbasnya. Pasalanya para ojol untuk sementara tak lagi bisa mengangkut penumpang dan hanya bisa mengangkut serta mengirimkan barang. Namun meski begitu, keduanya tengah mencari solusi dan selalu mematuhi regulasi yang ditetapkan pemerintah untuk pencegahan Covid-19 semakin meluas.

Chief Corporate Affairs PT GoJek Indonesia Nila Marita mengatakan, pihaknya selalu berupaya untuk mematuhi regulasi-regulasi yang dikeluarkan pemerintah dalam pencegahan meluasnya Covid-19.

“Saat ini, kami sedang mengkaji dan berdiskusi lebih lanjut bersama dengan pemerintah terkait implementasi peraturan ini,” kata Nila yang dikutip dari kompas.com.

Sejauh ini, menurut Nila, GoJek telah melakukan berbagai upaya untuk membantu mitra perusahaannya agar tetap dapat beroperasi dan menjalakan tugas dengan aman ditengah pandemi Covid-19. Bahkan mitra perusahaan terutama mitra pengemudi diimbau untuk di rumah saja untuk menekan penyebaran Covid-19.

Tak hanya itu, pihaknya juga memastikan keamanan dan kesehatan mitra pengemudi dengan menyediakan masker, handsanitaizer, vitamin serta desinfektan. GoJek juga menyediakan kartu penanda suhu tubuh di merchant GoFood.

“Kartu penanda suhu tubuh ini merupakan pedoman dari GoJek yang dijalankan berbagai mitra merchant GoFood untuk memastikan keamanan makanan yang dikirimkan,” kata Nila.

Nila memaparkan, Gojek juga menyediakan fitur contactless delivery untuk perlindungan mitra driver. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kontak langsung antara mitra driver dan pelanggan, dengan menyediakan opsi teks pesan cepat pada fitur chat. GoJek juga mengimbau mitra merchant GoFood untuk memprioritaskan metode pembayaran digital atau nontunai. Tak hanya GoJek, Grab indonesia juga tengah menindaklanjuti stasus PSBB tersebut.

Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Anreianno mengatakan, sejak awal penyebaran virus Covid-19, Grab telah memantau kondisi dan menyiapkan semua pemangku kepentingan terkait respons mereka terhadap Covid-19 termasuk para mitra pengemudi.

Baca juga: Di Tengah Merebaknya Virus Corona, Kemenhub Naikkan Tarif Ojol di Jabodetabek

“Selain itu kami juga secara aktif mengimbau semua mitra pengemudi dan pengiriman untuk mengutamakan kesehatan mereka dan untuk mengambil tindakan pencegahan secara menyeluruh termasuk mengenakan masker setiap saat. Mendesinfeksi kendaraan dan tas pengiriman mereka secara teratur, sering mencuci dan membersihkan tangan mereka serta menjaga jarak aman melalui prosedur contactless delivery bagi mitra pengiriman GrabFood dan GrabExpress,” kata Tri yang dikutip dari antaranews.com

Timeline Teknologi Body Scanner di Bandara, dari Isu Gender Hingga Cegah Corona

Sejak awal kemunculannya, body scanner (alat pemindai tubuh) kerap kali ditentang oleh beberapa kalangan di beberapa negara. Di Indonesia sendiri, body scanner sempat menjadi polemik ketika Ombudsman Republik Indonesia (ORI) turun tangan menginspeksi penggunaannya. Kala itu, ORI menilai jika penggunaan body scanner di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta (Soetta) bisa menimbulkan diskriminasi.

Kala itu, Komisioner Ombudsman, Adrianus Meliala, mengkritik alat pemeriksaan yang berbentuk tabung tersebut karena petugas bandara secara acak memilih para penumpang yang harus diperiksa di dalam alat tersebut. Oleh karenanya, ia menyarankan agar pihak bandara membuat aturan yang jelas terkait penggunaan alat tersebut. Tujuannya agar tidak ada praktik diskriminasi dalam kegiatan pemeriksaan.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Akan tetapi, terlepas dari polemik yang terjadi, sebetulnya, body scanner sedikit banyaknya menempati posisi strategis di beberapa kondisi, mulai dari ancaman akibat tindak kejahatan hingga wabah virus mematikan, tak terkecuali virus corona. Dikutip dari airport-technology.com, berikut rangkuman timeline body scanner sejak awal kemunculan hingga penggunaan terkini di berbagai bandara.

1. 1960an-1990an: Pemeriksaan Manual, Metal Detectors, dan Body Scanner Pertama

Dipicu oleh ledakan ekonomi pasca berakhirnya Perang Dunia II, perjalanan udara memperoleh daya tarik besar pada 1960-an. Pemeriksaan keamanan seseorang dan barang bawaannya sebagian besar dilakukan secara manual selama periode ini.

Seiring berjalannya waktu, mesin pemindaian x-ray pertama untuk bagasi di tahun 1970-an pun muncul. Namun, penumpang sendiri hanya diperiksa dengan magnetometer elektronik dan kemudian melalui detektor logam.

Menjelang akhir milenium, pada awal 1990-an, Dr Steven Smith berhasil mengembangkan konsep pertama body scanner. Model awal ini terdiri dari sistem skrining keamanan sinar-X backscatter dosis rendah yang juga dikenal sebagai Secure 1000.

2. 2000-2007: Insiden 9/11 Menunjukkan Kurangnya Langkah-langkah Pemeriksaan yang Efektif

Pada periode ini, proses pengawasan setiap penumpang di berbagai bandara, khususnya Amerika dan sekutunya, menjadi lebih ketat. Hasilnya, pemerikasaan full body scanner pun dilakukan. Bandara Amsterdam Schiphol saat itu digadang-gadang memimpin pengecekan full body scanner dengan teknologi selangkah lebih maju dibanding negara lainnya pada tahun 2007.

3. 2010-2013: Konsolidasi dan Masalah Privasi

Pasca insiden 9/11 disusul percobaan pemboman di Bandara Detroit pada tahun 2009, seluruh bandara di dunia pun akhirnya mengeluarkan protokol keselamatan di bandara dengan menerapkan dua model skrining. Pertama menggunakan sinar-X untuk memancarkan radiasi untuk mendeteksi benda logam dan non-logam yang dikenakan oleh seseorang. Adapun yang kedua adalah radiasi elektromagnetik yang mampu menghasilkan gambar 3D seseorang. Teknologi inilah yang kemudian memancing polemik karena mengancam privasi penumpang. Akhirnya teknologi tersebut tak diberlakukan

4. 2013-2019an: Kemajuan Teknologi dan Polemik Gender Atas Body Scanner

Pada periode ini program pengembangan mulai dilakukan. Pada tahun 2017 start-up Evolve Technology berhasil menemukan teknologi yang mampu memindai dengan cepat dan efektif hingga 600 penumpang per jam. Setahun berikutnya, ilmuwan di Cardiff mengumumkan uji coba pemindai ‘super sensitif’ yang menggunakan teknologi luar angkasa untuk mendeteksi panas tubuh manusia. Dari sinilah kemudian teknologi thermal scanner mulai marak dikembangkan; termasuk penggunannya untuk menangkal penyebaran virus corona lewat bandara seperti sekarang ini.

Pada periode ini juga sempat terdapat polemik dari kelompok non-gender. Sebab, body scanner memungkinkan petugas mengetahui jenis kelamin penumpang. Kondisi tersebut seringkali menjadi aneh. Sebab, di dokumen seorang penumpang tertulis berjenis kelamin pria, sedangkan hasil pemindaian body scanner menunjukkan penumpang berjenis kelamin wanita. Hal inilah yang kemudian menjadi polemik. Desakan untuk dilakukannya perubahan pun terus digaungkan.

Baca juga: Ini Dia! Lima Kelemahan Covid-19

5. 2020: Virus Corona dan Kebutuhan untuk Berevolusi

Virus corona menyebar dengan cepat pada 2020. Tercatat, virus yang diduga berasal dari Cina ini telah menyebar ke seluruh benua, kecuali Antartika. Thermal scanner, yang notabene merupakan hasil pengembangan dari body scanner pun amat sangat diandalkan dalam menangkal virus corona di bandara.

Namun, belakangan kemampuan thermal scanner untuk mencegah penularan atau pasien terinfeksi corona bebas bepergian ke negara tujuan mulai diragukan. Banyak hal yang mendasarinya. Oleh karenanya, berbagai peniliti pun coba melakukan pengembangan. Mungkin nanti ketika virus Cina ini lenyap dari muka bumi, mengingat saat ini peneliti mayoritas tengah fokus mengembangkan vaksin virus corona.

Harus Menengok Ibunya yang Sakit Keras, Wanita Ini Satu-Satunya Penumpang di American Eagle

Banyak maskapai yang mendaratkan pesawat mereka di kala pandemi virus corona atau Covid-19 saat ini. Hal ini dilakukan karena menurunya penumpang yang akan bepergian demi mencegah tertular pandemi yang tengah menjangkiti hampir seluruh dunia.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Nah, bagaimana kala pandemi tengah menyerang dan menjadi satu-satunya penumpang dalam sebuah penerbangan? Ya, ini mungkin saja terjadi dan penerbangan tersebut pun tetap akan berangkat. Hal itu baru-baru ini dirasakan oleh seorang penumpang bernama Sheryl Pardo yang naik pesawat milik American Eagle.

Saat itu dia akan berangkat ke Boston untuk mengunjungi ibunya yang sedang sakit keras. KabarPenumpang.com melansir dari laman news4sanantonio.com (3/4/2020), tanpa diduga ternyata dia satu-satunya penumpang dalam penerbangan oleh maskapai American Eagle ketika industri penerbangan mendekati hibernasi.

Sheryl mengaku memesan penerbangan yang berangkat dari bandara Nasional Reagan Washington pada hari Jumat (27/3/2020) yang lalu. Dia memesan penerbangan tersebut ketika tahu ibunya mungkin hanya memiliki beberapa hari untuk hidup.

Begitu berada di dalam kabin pesawat yang kabarnya akan mengakut seratus penumpang, ternyata dia hanya mendapati dirinya sendirian di dalam pesawat. Dalam video yang direkam oleh Sheryl, seorang awak kabin terlihat tengah memperkenalkan dirinya melalui interkom.

“Nama saya Jessica dan saya yang akan menjadi pramugari Anda dan kami memiliki Sheryl sebagai penumpang kami hari ini,” kata pramugari tersebut.

“Menghidupkannya di kelas satu. Semua orang berteriak kepada Sheryl, satu-satunya penumpang di pesawat. Semoga kamu nyaman dan berharap kamu terbang bersama kami kembali.”

Ketika pramugari memperkenalkan dirinya dan menyebut Sheryl sebagai satu-satunya penumpang, Sheryl tertawa sembari terus memvideokannya.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Diketahui, Ibu Sheryl kemudian meninggal dalam keadaan yang tidak terkait dengan wabah virus corona yang tengah merebak tersebut. Lalu lintas udara di Amerika Serikat telah turun 55 persen pada minggu terakhir bulan Maret jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019 ketika virus corona melanjutkan penyebarannya.

Terkatung di Perairan Selama 2 Minggu, Zaandam dan Rotterdam Akhirnya Berlabuh di Port Everglades

Kapal pesiar Zaandam dan Rotterdam yang membawa 1243 penumpang termasuk 247 penumpang Kanada dan satu awak Kanada akhirnya merapat di Port Everglades di Fort Lauderdale, Florida. Dua kapal pesiar ini akhirnya bisa merapat setelah lebih dari dua minggu mencari tempat berlabuh.

Baca juga: Setelah 17 Hari Dikosongkan, Virus Corona Masih Ditemukan di Kapal Pesiar Diamond Princess

Kedua kapal pesiar ini bisa merapat pada Kamis (2/4/2020) sore, di mana sebelumnya pejabat setempat menolak mengizinkan untuk berlabuh karena kapal Zaandam telah dikonfirmasi penumpangnya terinfeksi Covid-19, selain itu empat orang meninggal dan yang lainnya membutuhkan perawatan di rumah sakit. Empat penumpang Zaandam yang meninggal terkena penyakit seperti flu pada pertengahan Maret.

Holland America yang mengoperasikan kapal Zaandam mengatakan, dua orang yang meninggal dinyatakan positif Covid-19 dan dua lainnya tidak dikatakan penyebabnya. Selain itu setelah merapat para penumpang lainnya di tes dan beberapa diantaranya positif Covid-19.

Para penumpang di Zaandam dan Rotterdam Cruise (cbc.ca)

“Saya tidak bisa memberi tahu Anda betapa bahagianya kami. Ini merupakan perjalanan yang sangat panjang dan menjadi pengalaman terburuk dalam hidup kami. Bersyukur, akhirnya sudah berakhir,” kata seorang penumpang Chris Joiner yang bepergian dengan kapal Zaandam bersama sang istri Anna.

Sebelum kedua kapal tersebut berlabuh, pekan lalu, Rotterdam dan krunya bergabung dengan Zaandam dan membawa lebih dari setengah penumpangnya untuk memberikan bantuan.

“Warga Amerika berjajar di kanal sambil melambai dan menyemangati kami ketika memasuki daerah itu. Ini yang jelas adalah momen emosional. Aku lega dan tidak sabar untuk kembali ke tempat tidurku sendiri,” ujar Catherine McLeod penumpang Rotterdam.

KabarPenumpang.com melansir laman cbc.ca (2/4/2020), Holland America dalam sebuah pernyataan mengatakan, bahwa penumpagn akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan menghapus bea cukai serta imigrasi di Port Everglades dan akan turun pada hari Jumat (3/4/2020). Sepuluh penumpang yang membutuhkan perawatan diketahui langsung di bawa ke rumah sakit setempat dan mereka yang dianggap sehat langsung diangkut ke bandara untuk sebagian besar penerbangan charter pulang.

Holland America mengatakan 45 penumpang yang masih menunjukkan gejala akan tetap di atas kapal sampai mereka diizinkan bepergian. Diketahui, Zaandam memulai pelayarannya ke Amerika Selatan pada 7 Maret, tetapi perjalanan itu terputus seminggu kemudian, pada 14 Maret, di tengah pandemi Covid-19 yang terus meningkat.

Operator kapal pesiar tersebut rencananya memungkinkan penumpang dengan cepat turun dan terbang pulang. Namun Holland America sudah berjuang untuk mendapatkan tempat berlabuh di negara-negara sekitar seperti Chili dan Peru. Sayangnya kedua negara itu menutup perbatasan mereka dari orang asing sebagai tanggapan terhadap pandemi.

Hingga akhirnya, stetelah wabah penyakit, penumpang kapal terpaksa menghabiskan 12 hari terakhir terbatas di kabin mereka sebagai tindakan pencegahan keamanan. Mereka menghabiskan lebih dari dua minggu tanpa mengetahui apakah dan kapan mereka akan turun dari kapal dan diizinkan untuk kembali ke rumah.

“Ini telah menjadi mimpi buruk sejak 14 Maret, ketika pelabuhan pertama di Chili ditutup. Kemudian semua pelabuhan di Chili ditutup dan semua Amerika Selatan ditutup,” kata Joiner.

Setelah serangkaian penolakan, Zaandam dan Rotterdam berencana untuk berlabuh di Fort Lauderdale. Tetapi ketika wabah Covid-19 di Florida memburuk, kekhawatiran tumbuh bahwa penumpang yang sakit akan menghabiskan sumber daya yang dibutuhkan untuk warga lokal.

“Kami sudah cukup banyak untuk berurusan dengan orang-orang kami di Florida. Kami tidak ingin kapal masuk,” kata Gubernur Ron DeSantis.

Namun, Presiden AS Donald Trump mengadvokasi untuk para penumpang dan perjalanan pulang mereka yang cepat.

“Kami harus membantu orang-orang – mereka dalam masalah besar di mana pun mereka berasal. Kita harus melakukan sesuatu, mereka sekarat dan gubernur juga tahu itu,” katanya Trump.

Joiner mengatakan dia terkejut tetapi senang ketika Trump mempertimbangkan masalah ini.

Baca juga: Jadi Heboh Setelah Serangan Virus Corona, Inilah Sosok Kapal Pesiar “World Dream”

“Kami tidak pernah berpikir Tuan Trump akan datang untuk menyelamatkan kami. Tapi, kamu tahu, kamu mulai berpikir, ini adalah misi kemanusiaan. Sekarang, ada orang-orang yang sakit, termasuk orang Amerika,” ujar Joiner.

Joiner dan istrinya, Anna, keduanya melewati pemeriksaan kesehatan setelah pengiriman mereka merapat. Tetapi dia mengatakan dia tidak akan merasa lega sampai mereka tertidur di kursi mereka di penerbangan pulang.

“Sampai kita di pesawat itu … saat itulah kita bisa bersantai,” kata dia.

Lima Tips Cegah Corona di Mobil, Nomor 5 Paling Sulit

Virus corona menyebar dengan cepat, tak kenal tempat dan waktu. Selain itu, menurut penelitian, virus Cina (menukil perkataan Presiden AS Donald Trump) ini disebut dapat bertahan di udara selama 3 jam, 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, serta 9 hari di permukaan logam dan kaca.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Celakanya, permukaan-permukaan tersebut sangat sering dijumpai di sekeliling kehidupan sehari-hari, mulai dari mata terbuka di pagi hari sampai kembali tertutup di malam hari. Tak terkecuali di dalam mobil. Oleh karenanya, dibutuhkan trik ampuh untuk mencegah terpaparnya seseorang di dalam mobil. Dilansir dari caradvice.com.au berikut lima tips aman cegah penyebaran dan penularan Covid-19 di mobil.

1. Pakai Sarung Tangan
Berbagai protokol kesehatan di seluruh dunia menyerukan agar masyarakat tidak menyentuh hidung, mulut, atau mata dengan tangan yang digunakan untuk bersentuhan dengan hal-hal yang disentuh oleh orang lain. Oleh karenanya, dengan menggunakan sarung tangan saat di dalam atau di luar mobil, pengguna mungkin dapat mengurangi resiko tertular Covid-19 ketika di dalam mobil.

2. Gunakan Masker
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ahli kesehatan dari seluruh dunia menyarankan akan masker dipakai hanya oleh orang sakit. Namun, kondisi telah berubah. Pandemi virus Cina yang telah membunuh puluhan ribu nyawa dan menjangkiti lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia, telah mendorong penggunaan masker juga pada orang sehat, mengingat percikan dari orang sakit yang terhirup orang sehat dapat menyebabkan penularan. Terlebih ketika percikan (bisa berupa batuk ataupun bersin) terjadi di ruang tertutup dan sistem filterisasi udara tak sebaik di rumah sakit, seperti di dalam mobil.

Oleh karenanya, jangan lupa untuk membawa masker dan menggunakannya ketika tengah berkendara dengan teman, kerabat, atau siapapun di dalam mobil saat Anda atau mereka tengah demam, pilek, dan batuk. Pasalnya kabin mobil merupakan area tertutup dengan sistem sirkulasi AC yang juga hanya berputar di dalam mobil. Jadi ada baiknya untuk menyediakannya di dalam mobil.

3. Sediakan Hand Sanitizer
Bagi pengendara yang malas menggunakan sarung tangan dan kesulitan mengakses air bersih untuk selalu mencuci tangan, hand sanitizer mungkin menjadi alternatif terbaik untuk memaksimalkan pencegahan penularan virus corona. Hand sanitizer, dengan komposisi sesuai protokol kesehatan dunia terbukti ampuh membunuh bakteri yang menempel di tangan. Pasalnya, tangan kerap kali refleks untuk menyentuh bagian-bagian wajah karena satu dan lain hal.

4. Bersihkan Mobil dengan Benar
Mengingat virus corona dapat bertahan selama beberapa waktu di berbagai permukaan, seperti permukaan plastik dan stainless, serta logam dan kaca yang notabene mudah dijumpai di mobil, oleh karenanya, penting untuk selalu membersihkan mobil dengan benar, bukan hanya sekedar membersihkan ala koboi yang identik serba cepat dan asal-asalan.

Baca juga: Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona

Soal cara membersihkan mobil dengan benar untuk mencegah corona, Michael Simon, owner premium Carcierge, punya tips sederhana untuk Anda. Sebelum masuk ke dalam mobil, menyemprotkan cairan disinfektan atau sejenisnya ke gagang mobil dan menyekanya dengan tisu anti bakteri adalah penting. Kemudian, lakukan hal serupa ke setir dan persneling. Namun, sebelum itu, penting untuk memulainya dengan melakukan hal serupa ke kunci mobil. Tentu saja pengguna juga tak boleh melupakan tempat-tempat lainnya di dalam mobil yang sering disentuh.

5. Physical Distancing
Physical distancing tentu menjadi kunci memutus rantai penyebaran virus Cina dimanapun. Tak terkecuali di dalam mobil. Terlebih pada mobil mini. Oleh karenanya, penting untuk tetap menjalankan protokol kesehatan physical distancing sekalipun di dalam mobil dan bersama keluarga sendiri. Sebab, Anda tak pernah tahu kapan seseorang benar-benar terjangkit virus Cina tersebut. Jadi, usahkan untuk duduk menyilang. Kosongkan bangku depan samping kemudi dan belakang kemudi. Praktis, pada mobil sedan 2 seat, mobil hanya mampu menampung maksimal dua orang. Singkatnya, satu seat untuk satu orang.

Etihad Uji Coba Teknologi Canggih di Bandara untuk Cegah Corona

Etihad Airways dilaporkan akan segera mengagendakan uji coba teknologi baru di bandara. Teknologi tersebut diklaim mampu membantu petugas untuk mengidentifikasi wisatawan yang berisiko medis, baik mereka yang bergejala atau tidak hingga wisawatan yang sedang dalam masa inkubasi Covid-19 atau tidak.

Baca juga: Saudia vs Etihad, Siapa Juara di Kelas Ekonomi?

Dikutip dari laman businesstraveller.com, teknologi tersebut dikembangkan oleh perusahaan asal Negeri Kanguru Australia, Elenium Automation. Teknologi tanpa adanya kontak langsung ini bisa mengetahui seseorang bergejala corona atau tidak dengan memonitor suhu tubuh, detak jantung, dan pernapasan setiap orang yang menggunakan seluruh fasilitas dalam rangkaian menuju penerbangan, seperti self check-in, informasi, bag drop, security points hingga immigration gates.

Ketika suhu tubuh, detak jantung, dan pernapasan seluruh penumpang selesai dimonitor, beberapa saat kemudian hasilnya akan keluar berupa potensial untuk melanjutkan perjalanan atau tidak. Bila tidak, penumpang tersebut akan diarahkan untuk melakukan teleconference atau langsung menemui petugas di bandara. Dari situ, petugas akan melakukan tindakan medis lebih lanjut untuk mendapatkan hasil akhir yang lebih valid.

Saat ini, Etihad dikabarkan tengah mencari para sukarelawan untuk mengujicoba teknologi tersebut bersama dengan para penumpang lainnya dalam penerbangan sungguhan. Bila terealisasi, Etihad akan mencatatkan namnya sebagai maskapai pertama yang mengujicoba teknologi tersebut akhir bulan ini.

Pihak Elenium Automation sendiri mengatakan telah mengajukan paten untuk deteksi otomatis gejala penyakit (Covid-19) di seluruh titik touchpoint atau berbagai fasilitas dalam rangkaian proses sebuah penerbangan. Selain itu, perusahaan tersebut juga mengajukan paten atas teknologi self-service tanpa sentuhan di bandara. Bila keduanya dikombinasikan, perusahaan mengklaim teknologi tersebut dapat dijadikan standar untuk memastikan proses pemeriksaan kesehatan di bandara tanpa membahayakan staf ketika melakukan pengecekan manual.

“Sistem akan menyeleksi setiap individu, termasuk beberapa orang ketika melakukan pemesanan secara kolektif,” kata Aaron Hornlimann, CEO sekaligus salah satu founder Elenium Automation.

“Teknologi ini juga dapat dipasang di kiosk bandara, bag drop, diinstall di desktop di berbagai titik vital proses pengecekan penumpang seperti pengecekan immigrasi. Kami percaya, inovasi layanan mandiri tanpa sentuhan dan pemeriksaan kesehatan otomatis akan mendorong penumpang untuk kembali melakukan perjalanan lebih cepat,” tambahnya.

Sementara itu Jorg Oppermann, VP hub and midfield operations Etihad Airways, mengatakan bahwa teknologi ini tidak didesain untuk mendiagnosis kesehatan penumpang. Tetapi, teknologi tersebut lebih pada indikator peringatan dini untuk membantu petugas mengidentifikasi orang-orang yang berpotensi membawa virus corona. Dengan begitu, petugas medis akan lebih mudah melakukan penanganan karena penumpang telah terseleksi secara otomatis. Lebih dari itu, penyebaran corona pun juga dapat ditekan sebelum benar-benar sampai ke negara tujuan.

Baca juga: Persaingan Maskapai Kelas Wahid Satu Negara: Etihad dan Emirates, Mana yang Lebih Baik?

“Sudah lama kasus bahwa pesawat terbang, dengan sistem air-recycling yang sangat canggih dan standar kebersihan bukanlah moda transportasi untuk penyebaran penyakit. Kami menguji teknologi ini karena kami percaya itu tidak hanya akan membantu dalam wabah Covid-19 saat ini, tetapi juga di masa depan, dengan menilai kesesuaian penumpang untuk bepergian dan dengan demikian meminimalkan gangguan,” katanya.

“Di Etihad kami melihat ini adalah langkah lain untuk memastikan bahwa wabah virus di masa depan tidak memiliki dampak yang sama menghancurkan pada industri penerbangan global seperti saat wabah Covid-19 merebak,” pungkasnya.

Sepi Penumpang, Singapura Bekukan Terminal 2 Bandara Changi Selama 18 Bulan

Operasional di Terminal 2 Bandara Changi akhirnya akan ditangguhkan selama 18 bulan, mulai 1 Mei hingga Oktober 2021 mendatang untuk menghemat biaya operasional. Hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Transportasi Khaw Boon Wan dalam sebuah pernyataan di depan parlemen. Adanya penutupan tersebut, praktis operasional Terminal 2 akan dialihkan ke terminal lainnya. Adapun Singapore Airlines dikabarkan akan mengalihkan operasional ke Terminal 3.

Baca juga: Changi Airport, Bandara Terbaik di Dunia yang ‘Didirikan’ Para Tawanan Jepang

Changi Airport Group (CAG) sendiri selaku operator bandara mengatakan pihaknya memutuskan untuk melakukan hal tersebut mengingat turunnya arus keluar masuk penumpang, baik transit atau penumpang dari dan ke Singapura. Di samping itu, penutupan selama 18 bulan tersebut dilakukan atas dasar asumsi yang dikembangkan dengan melihat fakta yang ada. Hasilnya, pihak CAG menilai kemungkinan permintaan perjalanan udara tidak akan kembali seperti sediakala, sebelum adanya Covid-19, dalam waktu dekat.

Prediksi tersebut tentu cukup fantastis dibanding prediksi dari International Air Transport Association (IATA). Pada akhir Februari lalu, IATA telah berasumsi, jika corona sama dengan wabah SARS beberapa tahun lalu, maka, proses recovery sampai akhirnya benar-benar pulih kembali bisa mencapai 9 bulan atau 9 bulan lebih sedikit dibanding prediksi dari CAG.

“Untuk bisa pulih sebelumnya sepertinya tidak mungkin. Sebagian operasional mungkin akan kembali pulih tahun depan, jadi kami harus siap saat semuanya sudah kembali pulih,” kata Menteri Transportasi, Khaw Boon Wan.

Bak sambil menyelam minum air, penutupan tersebut pun dimanfaatkan oleh stakeholder untuk melakukan proses perbaikan di Terminal 2. Dengan ditutupnya Terminal 2 ini, proyek pengerjaan perbaikan bisa dipersingkat hingga satu tahun dari perkiraan semula yakni selesai di tahun 2024.

“Yang penting, ini juga memungkinkan kami untuk mempercepat pekerjaan peningkatan di Terminal 2 yang saat ini berjalan dan mempersingkat waktu proyek hingga satu tahun,” kata Khaw di parlemen.

Dengan ditutupnya Terminal 2 Bandara Changi pula, otomatis CAG dan seluruh tenant bisa menghemat biaya operasional serta mengoptimalkan sumber daya di terminal lainnya agar disesuaikan dengan permintaan yang notabene tengah menurun tajam.

Selain itu, CAG menambahkan bahwa mereka telah secara signifikan mengurangi operasional di Terminal 4, karena jumlah penerbangan yang sangat sedikit. Bahkan, saat ini CAG tengah mempertimbangkan penangguhan operasi sementara di Terminal 4 jika maskapai yang tersisa memilih untuk menangguhkan atau menyesuaikan jadwal penerbangan mereka. Hal itu dimaksudkan agar bandara bisa menata diri. Ketika kondisi benar-benar pulih kembali, mereka bisa kembali memberikan pelayanan terbaik.

“Kami bisa saja menutup satu atau dua terminal, akan tetapu kami harus memikirkan segalanya setelah wabah ini usai,” tambah Khaw, sebagaimana dikutip dari straitstimes.com.

Baca juga: Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan, Singapore Airlines Diambang Kebangkrutan?

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Heng Swee Keat bulan lalu mengatakan bahwa jumlah penumpang yang tiba di bandara telah mengalami penurunan lebih dari 90 persen sejak wabah Covid-19 menyebar luas ke seluruh dunia pada Februari lalu. Maka dari itu, tak heran bila Singapore Airlines Group memangkas kapasitas kursi hingga 96 persen hingga akhir April mendatang.

Akan tetapi, mengingat pentingnya posisi Bandara Changi dan Singapore Airlines (SIA) dalam menyokong pendapatan negara, pemerintah pun bergerak cepat untuk menyelamatkan bisnis serta posisi Changi dan SIA sebagai salah satu pelaku industri penerbangan terbaik di dunia. Oleh karenanya, kedua unit bisnis tersebut terus didorong untuk tetap melakukan sejumlah pengerjaan guna terus bertahan di tengah pandemi corona.

Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari

Untuk para pekerja lain mungkin work from home atau bekerja dari rumah sangat bisa untuk dilakukan. Namun bagaimana dengan seorang pramugari yang biasanya bekerja melayani penumpang di pesawat harus di rumah untuk mengkarantina diri di tengah wabah virus corona (Covid-19) ini?

Baca juga: Pramugari Mulai Terinfeksi Virus Corona, Lantas Pilih Tetap Pakai Masker atau Tidak?

Seorang pramugari WestJet bernama Kristen Gillet menulis dan membuat sebuah video pendek bersama sang suami Wes Barker seorang komedian dan pesulap yang menunjukkan bagaimana pramugari mengatasi karantina di tengah wabah Covid-19 ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari travelweekly.com.au (7/4/2020), dalam video tersebut Kristen melakukan pekerjaan seoalah-olah rumah mereka adalah sebuah kabin pesawat.

Dalam video berdurasi empat menit tersebut, Kristen terlihat mengenakan seragam pramugarinya yang lengkap dengan syal leher, blus putih, rok, sepatu serta menata rambutnya seperti benar-benar tengah bekerja. Saat itu dia berbicara dengan sang suami seolah-olah dia dalam penerbangan.

Kristen menyapa suaminya di sofa dan bertanya apakah dia ingin minuman selamat datang. Kemudian dia melakukan briefing keselamatan seperti menjelaskan titik-titik aman yakni pintu balkon yang seolah-olah menjadi pintu darurat.

Karena video ini didedikasikan untuk pekerjaannya, Kristen terus meminta Wes menyimpan laptopnya beberapa kali sambil memberikan handuk panas. Dalam penerbangan tengah hari itu, Kristen memberikan camilan manis dan asin untuk dimakan Wes selama penerbangan tersebut. Bahkan ada beberapa adegan di mana Kristen menawarkan alkohol miliknya sendiri pada Wes.

Kristin Gillett dan Wes Barker beradegan ketika akan menggunakan toilet pesawat (YouTube)

“Apakah Anda benar-benar mencoba menjual alkohol saya sendiri kepada saya?” tanya Wes.

“Jadi, apakah Anda ingin membeli minuman bebas pajak?” kata Kristen yang berlaku bak pramugari dalam kabin.

Sambil menunjuk sebuah botol, sang suami berteriak, “Aku dapat itu untuk ulang tahunku!”

“Jadi, apakah itu tidak?” tanya Kristen sembari pergi menjualnya lagi.

Selain itu ada adegan dimana Kristen tengah menyantap saladnya di dekat pintu toilet dan menjelaskan cara membuka pintunya. Adapula di mana saat Kristen tengah sembunyi-sembunyi makan cemilan di balik tirai dan mengintip ke lorong penumpang takut-takut ada yang melihat perbuatannya.

Video yang diunggah sejak 26 Maret 2020 kemarin ini sudah ditonton oleh lebih dari 1,5 juta orang dan disukai sebanyak 11 ribu. Bahkan banyak yang mengomentari video tersebut.

“Kau bisa tahu dia sebenarnya pramugari. Ini sangat realistis …. Saya MISS FLYING SUDAH dan baru 8 hari sejak pasangan terakhir saya. Video yang sangat lucu ….” komentar seseorang.

“Istri saya adalah seorang Pramugari, dan dia berdiri di atas bahu saya, mengawasi dan menertawakannya. Suka salad makan di lav scene! ” seorang komentator menulis.

“Sebagai pramugari, saya hanya bisa mengatakan ini terlalu akurat dan lucu. Kami menghabiskan setengah waktu kami di tempat kerja untuk memberi tahu penumpang cara membuka pintu toilet,” tulis seseorang.

Ratusan komentar membanjiri, memuji wanita itu atas perannya sebagai pramugari, memanggil detail-detail lucu dari video.

“Ini jeritan! Saya seorang pramugari dan saya tidak bisa berhenti menontonnya. LOL saya mungkin akan membuat Anda melihat 1k sendiri. Kerja bagus!!” sebuah komentar dibaca.

Baca juga: Antisipasi Coronavirus, Cathay Pacific Izinkan Pramugari Kenakan Masker

“Dia pasti seorang pramugari. Membuat saya tertawa ketika mencoba berbicara dengan penumpang dengan earphone. Saya membagikan ini di email grup pramugari maskapai saya. Merci,” orang lain membagikan.

Yang lain, apakah mereka pramugari atau tidak, juga menghargai video itu sebagai momen kesembronoan selama masa-masa sulit di mana banyak orang menemukan diri mereka di bawah perintah perlindungan di tempat.