Stres Akibat Covid-19? Cobain Aplikasi Meditasi Khusus Corona Ini Deh

Wabah virus Cina benar-benar merepotkan. Social atau physical distancing, lockdown kota dan negara, hingga karantina mandiri telah benar-benar merenggut kebahagiaan masyarakat dunia. Belum lagi berbagai protokol kesehatan ketat, wajib pakai masker, selalu sedia hand sanitizer, rapid test, dan pemberlakuan jam malam yang semakin membuat masyarakat rindu saat-saat dalam situasi normal.

Baca juga: Aplikasi “Ambulans Jadi Taksi” Agar Terhindar dari Kemacetan Segera Diluncurkan, Setuju Kah?

Tak cukup sampai di situ, masyarakat juga kerap dibuat jadi lebih khawatir dengan maraknya pemberitaan terkait banyaknya korban jiwa, setiap hari, di seluruh dunia. Hal itu kemudian diperparah dengan pemberitaan terkait gonjang-ganjing ekonomi dimana telah terjadi PHK massal di banyak negara di seluruh dunia, serta ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Masyarakat benar-benar dibuat stres karenanya.

Dengan berbagai kondisi tersebut, masyarakat pun coba mencari alternatif untuk memulihkan kondisi kejiwaan mereka. Salah satunya lewat aplikasi meditasi. Dikutip dari news.crunchbase.com, aplikasi meditasi yang berbasis di Los Angeles, Headspace, misalnya, menawarkan layanan dan panduan gratis untuk membantu orang-orang dan kelompok-kelompok tertentu mengatasi stres dengan berbagai kategori, mulai dari Headspace untuk profesional kesehatan, Headspace untuk para pekerja, dan Headspace untuk pendidik.

Headspace for professionals, fokusnya yakni memberi para pekerja berbagai informasi layanan kesehatan sesuai dengan protokol kesehatan masyarakat di AS serta akses gratis ke Headspace Plus sepanjang tahun. Untuk kontinuitas, pengguna juga bisa berlangganan dengan mendaftarkan alamat email dan nomor indentitas. Adapun kategori lainnya, yakni Headspace untuk pekerja dan Headspace untuk pendidik menawarkan akses gratis ke koleksi meditasi untuk para guru dan anggota lain seprofesi.

Singkatnya, aplikasi Headspace dapat membantu pengguna melakukan meditasi sederhana. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat berlatih keterampilan kewaspadaan dan meditasi dengan menggunakan aplikasi ini hanya beberapa menit per hari. Terdapat dua layanan yang ditawarkan oleh Headspace, meditasi yang diarahkan dan meditasi yang tidak diarahkan. Selain itu, pengguna juga akan mendapatkan akses ke ratusan konten meditasi dalam segala hal mulai dari mengelola stres, meredakan kecemasan hingga membantu meningkatkan kualitas tidur dan fokus Anda dengan berbagai cara, lewat musik, pengetahuan sederhana, dan lain sebagainya.

Di Indonesia sendiri, aplikasi tersebut sudah banyak digemari masyarakat. Umumnya, mereka sangat merasakan manfaat dari layanan pada aplikasi tersebut. Hanya saja, pengguna di Indonesia masih mengeluhkan tidak adanya pilihan dalam bahasa Indonesia sehingga sedikit menyulitkan.

Selain Headspace, ada lagi dua aplikasi lainnya yang tak kalah menarik untuk dicoba, yakni Calm dan Simple Habit. Calm merupakan aplikasi yang dapat menenangkan penggunanya. Seri meditasi yang ditawarkan oleh aplikasi ini dapat diselesaikan dalam waktu 10-20 menit.

Aplikasi ini dapat membantu untuk mengembangkan seseorang dengan latihan yang dilakukan sehari-hari dan mereka yang bergabung dengan aplikasi Calm akan merasakan ketenangan serta kedamaian saat meresa stres dan depresi. Sebagian besar meditasi dari aplikasi ini bisa didapatkan secara gratis. Akan tetapi, terdapat pula beberapa sesi yang dikunci dan harus berlangganan terlebih dahulu untuk dapat mengaksesnya.

Senada dengan Calm, Simple Habit juga membantu pengguna untuk merasakan ketenangan dan kedamaian. Bahkan, pihak pengembang juga telah membuat tema khusus tentang corona, dimana pengguna dapat melatih diri untuk menghadapi virus Cina tersebut dengan meningkatkan perawatan diri, perhatian terhadap anak-anak di rumah, pola komunikasi dengan keluarga, dan meredakan kekhawatiran.

Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona

“Kami menyadari bahwa banyak orang sekarang diharuskan untuk tinggal di rumah, yang mengakibatkan hilangnya pendapatan dan ketidakpastian keuangan,” tulis CEO Simple Habit Yunha Kim dalam sebuah blog.

“Sebagai tanggapan terhadap perubahan besar ini, mulai hari ini (23 Maret) hingga akhir April 2020, kami akan menawarkan keanggotaan premium Simple Habit gratis kepada semua orang yang terkena dampak finansial saat masa-masa sulit ini dan tidak lagi mampu membayar. Jika Anda berjuang atau membutuhkan, kami akan membantu mengurus Anda,” tambahnya.

Hong Kong ‘Lockdown’ Warganya dengan Gelang Canggih

Otoritas Hong Kong tengah berupaya melakukan berbagai tindakan untuk mencegah meluasnya wabah virus Cina, salah satunya melalui teknologi gelang elektronik canggih. Nantinya, gelang tersebut akan diberikan kepada turis maupun masyarakat yang baru pulang bepergian dari luar negeri untuk memantau mereka selama fase karantina mandiri. Guna mendukung kesuksesan kebijakan tersebut, pemerintah Hong Kong mengklaim pihaknya telah memiliki lebih dari 60.000 gelang siap guna.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Dikutip dari laman CNBC Internasional, pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengatakan keputusan tersebut diambil akibat dari temuan maraknya kasus ‘impor’ corona. Data menunjukkan, setidaknya dari 57 kasus baru (Covid-19) dalam beberapa pekan terakhir, 50 di antaranya adalah berasal dari wisatawan asing.

Declan Chan, seorang stylist yang juga salah satu penduduk Hong Kong, baru saja kembali dari Zurich, Swiss, beberapa waktu lalu. Begitu sampai di bandara, ia pun terkejut ketika diberitahu bahwa ada langkah-langkah baru dari pemerintah dalam pencegahan meluasnya Covid-19 yang harus dipatuhi oleh siapapun ketika masuk ke Hong Kong, tak terkecuali dirinya.

“Saya kira hanya sebatas mengisi formulir saja. Saya tidak menduga akan ada gelang seperti ini,” katanya kepada wartawan melalui sambungan telepon dari rumahnya di Hong Kong, saat tengah menjalani karantina mandiri.

Saat itu, lanjut Chan, ketika dirinya sampai di bandara, ia disodorkan formulir kesehatan, lengkap dengan opsi agar ia berbagi lokasi ke pemerintah melalui berbagai platform, mulai dari WeChat dan WhatsApp atau sebatas menggunakan gelang elektronik. Namun, opsi tersebut rupanya semu. Nyatanya, ia dan wisawatan atau warga lokal lainnya yang baru tiba di bandara Hong Kong wajib menggunakan gelang elektronik. Alhasil, ia pun menyaksikan dengan jelas saat beberapa wisawatan menolak menggunakan gelang tersebut dan memilih kembali memesan tiket untuk hengkang dari Hong Kong.

Akan tetapi, gelang tersebut tidak serta merta langsung berfungsi bergitu saja. Teknisnya, mula-mula seluruh pengguna, termasuk Chan, harus terlebih dahulu berjalan di sudut-sudut rumahnya untuk memastikan teknologinya dapat dengan tepat melacak koordinat selama masa karantina. Namun, sebelum itu, pengguna terlebih dahulu harus terlebih dahulu mendownload aplikasi tertentu agar gelang tersebut dapat terhubung ke smartphone.

Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Berdasarkan koordinat tersebut, pemerintah akan membuat pemodelan ruang lingkup pengguna. Jadi, bila selangkah saja pengguna keluar dari rumah, maka pemerintah akan segera mengetahuinya. Oleh karena itu, selama karantina, Chan tak punya pilihan lain untuk memenuhi isi perutnya kecuali menggunakan aplikasi berbasins daring untuk memesan makanan dan bahan makanan.

“Seseorang yang melanggar atau secara sengaja memberikan informasi palsu kepada Departemen Kesehatan akan dikenakan hukuman denda $5.000 HKD ($644) dan penjara selama 6 bulan,” menurut selebaran yang diberikan kepada penumpang yang baru tiba di Hong Kong.

1001 Inovasi di Ajang Crystal Cabin Award Berikan Kenyaman dan Keamanan Penumpang

Para peneliti di berbagai penjuru dunia, setiap detik saling berlomba untuk menemukan berbagai solusi di dalam kehidupan. Caranya, tentu saja dengan berinovasi. Tak terkecuali di dalam bidang penerbangan. 1001 satu inovasi telah dan masih akan terus dilakukan sampai benar-benar tak ada masalah atau kesulitan apapun bagi manusia, dalam hal ini penumpang.

Baca juga: Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan

Di dunia penerbangan, khususnya terkait interior di dalam pesawat, Crystal Cabin Award (CAA) mungkin bisa dibilang salah satu ajang yang paling nyentrik dengan memamerkan inovasi-inovasi mutakhir dari tahun ke tahun. Seperti dikutip dari runwaygirlnetwork.com, pada gelaran CAA 2016 silam, misalnya, ada banyak inovasi brilian yang dihadirkan pada ajang tersebut, salah satunya inovasi self-cleaning lavatory oleh Boeing. Inovasi tersebut menjadi sebuah jawaban dari banyaknya penelitian yang menyebut bahwa toilet menjadi salah satu sumber kuman dan bakteri terbesar di dalam kabin.

Setahun berselang, giliran UV-light Germ Falcon yang tampil nyentrik di CAA. Setidaknya hal itu terlihat dari keberhasilan inovasi tersebut mencapai fase final. Robot ini diklaim mampu membunuh segala virus, termasuk virus corona, dan kuman serta bakteri lainnya tak kasat mata di pesawat.

Kursi penumpang anti mikroba karya Boeing. Foto: Boeing

GermFalcon kurang lebih terlihat seperti troli makan yang biasa digunakan dalam penerbangan komersial. Bedanya, GermFalcon dilengkapi dengan semacam sayap yang melebar ke sisi kanan dan kiri pesawat. Alat tersebut kemudian memancarkan sinar UV (UltraViolet)-C yang bisa mensterilkan ruang sekitar.

Sinar UVC sendiri umumnya digunakan untuk mendesinfeksi udara, air, dan permukaan di fasilitas kesehatan. Sejauh ini, teknologi tersebut telah terbukti aman dan sangat efektif dalam menghilangkan kuman yang menyebabkan penyakit menular. GermFalcon adalah sistem UVC pertama yang dirancang khusus untuk mendisinfeksi permukaan interior pesawat antar penerbangan dengan cepat.

Terkait membunuh bakteri di dalam kabin, khususnya kursi penumpang, GermFalcon bukanlah satu-satunya. Belum lama ini Boeing berhasil mengembangkan kursi penumpang anti bakteri. Kursi tersebut dibuat dengan bahan polimer khusus. Bahkan, inovasi tersebut juga bisa bekerja di bahan lainnya, seperti kaca, logam, dan plastik. Cara kerjanya, saat bakteri menempel di lapisan tersebut, otomatis, sistem perlindungan akan menghancurkan bakteri dan mencegahnya datang kembali dengan membersihkan dirinya sendiri.

The Grey Water Reuse Unit karya Diehl Aviation. Foto: Diehl Aviation

Kompetitor sejati Boeing, Airbus, juga tak mau ketinggalan. Pabrikan pesawat asal Eropa ini menyodorkan inovasi yang dinamakan The Airbus Dry Floor system pada gelaran CCA tahun ini. Inovasi tersebut dinilai menjadi solusi dari problem klasik di toilet, yakni becek dan kotor setiap kali selesai digunakan oleh penumpang.

Dengan adanya The Airbus Dry Floor system, nantinya, setiap kali air yang keluar dari kran air di wastafel, aircraft vacuum system dan vacuum nozzle Airbus akan langsung menyedot air sehingga meminimalisir terbuangnya air ke lantai. Sistem tersebut dinamakan automated vacuum cleaning yang kemudian juga dilengkapi dengan sistem passive transpiration untuk menghisap uang air sehingga kelembaban di dalam toilet tetap terjaga. Namun, kalaupun tetap ada percikan air di lantai, awak kabin dapat dengan mudah menyekanya dengan bantuan kain pel yang mudah digunakan.

Baca juga: Diklaim Bisa Bikin Pramugari Jadi Lebih Nyaman, Inilah Konsep Zero G-Attendant Seat

Akan tetapi, inovasi teknologi dari Airbus rasanya kurang lengkap. Sebab, air yang sudah terbuang tak bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya, semisal menyiram toilet atau flush. Celah itu kemudian coba diambil oleh Diehl Aviation. Perusahaan asal Jerman tersebut berhasil menjawab tantangan terbuangnya air di toilet dengan inovasi Grey Water Re-Use Unit. Nantinya, air bekas pakai dari wastafel bisa kembali digunakan untuk menyiram toilet. Dengan begitu, beban pesawat terhadap air bersih bisa dipangkas. Ujungnya, bisa membuat efisensi bahan bakar di setiap perjalanan pesawat.

Tak berhenti sampai di situ, perusahaan yang berbasis di Nuremberg, Jerman tersebut juga berhasil mengembangkan konsep Touchless Lavatory. Alhasil, kemungkinan menempelnya kuman dan bakteri di setiap kali penumpang menggunakan toilet bisa diminimalisir dengan mengurangi frekuensi sentuhan.

Hiburan di Tengah Pandemi, Pemadam Kebakaran di Rio de Janeiro Bikin Konser dari Atas Tangga Penyelamat

Bila ditanyakan secara acak apakah pandemi Covid-19 membuat kejenuhan pada masyarakat? Pastinya banyak yang akan menjawab ya. Hal ini karena banyak kota dan negara di seluruh dunia yang menutup diri untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 tersebut.

Baca juga: Pandemi Masih Berlangsung, Makapai di Amerika Serikat Beroperasi Meski Penumpang Menurun

Meski begitu, ternyata di Rio de Janeiro, Brasil justru mengadakan konser khusus di tengah pandemi ini. KabarPenumpang.com melansir laman newlagoon.com (2/4/2020), konser ini dihadirkan untuk ratusan penghuni sebuah lingkungan di Rio de Janeiro yang dibatasi pergerakannya untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

https://youtu.be/sz5uXt5Pghw

Uniknya mungkin konser biasa dilakukan oleh grup band atau penyanyi, tapi di Rio de Janeiro para petugas pemadam kebakaranlah yang melakukan konser. Beragam repertoar musik Brasil dimainkan oleh pemadam kebakaran di ketinggian 50 meter.

Dalam sebuah video, terekam pada puncak salah satu eskalator yang digunakan untuk memadamkan api, letnan dua Elielson Silva dos Santos memainkan karya-karya komposer Brazilian terkenal seperti Samba do aviao Tom Jobim dan Aquerela, Arry Barroso dengan menggunakan terompet. Kehadiran konser unik ini membuat orang-orang mengelilingi alun-alun Largo do Machado yang terletak di lingkungan Laranjeiras melalui jendela mereka.

Orang-orang ini menikmati musik yang dibawakan oleh petugas pemadam kebakaran ke jendela mereka dan salah satu lagu yang dibawa adalah lagu kebangsaan. Para pemadam kebakaran ini ternyata terinspirasi oleh inisiatif Jerman selama kurungan oleh virus corona, brigade Api Rio de Janeiro memutuskan untuk membuat presentasi di titik-titik tertentu kota, seperti pantai Copacabana, lagoa Rodrigo de Freitas yang ikonik, lingkungan mewah Leblon dan Barra de Tijuca dan alun-alun Largo do Machado.

Mereka juga melakukan konser di Rocinha, favela terbesar di ibukota dan komunitas lain seperti Cross São Sebastião dan Vidigal. Idenya adalah orang-orang yang tidak bisa keluar ke jalan-jalan untuk menikmati pertunjukan musik, setinggi 50 meter, dari jendela-jendela bangunan di dekatnya.

“Tindakan ini bertujuan untuk menenangkan jiwa dan memompa semangat di masa-masa sulit dan, pada saat yang sama, ingat bahwa petugas pemadam kebakaran selalu dekat dengan warga. Selalu bersedia melayani masyarakat,” kata saran pers.

Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah

Aksi para petugas pemadam kebakaran ini telah meluas ke kota-kota lain di negara bagian, seperti Nova Friburgo, di mana petugas pemadam kebakaran lain, kali ini seorang pemain saksofon, memberikan konser kepada penduduk kota itu. Menurut laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan, setidaknya 240 orang meninggal oleh pandemi virus corona di Brasil, di mana sudah ada lebih dari 6836 yang terinfeksi.

Jumlah Penumpang Turun Drastis, PT Angkasa Pura I Kurangi Jam Operasional di 15 Bandara

Terus merosotnya trafik penumpang tentu harus disikapi secara bijaksana oleh pengelola bandara. Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah penyesuaian jam operasional yang dilakukan untuk menutupi tingkat kerugian. Seperti PT Angkasa Pura I yang telah mengumumkan penyesuaian operasional di 15 bandara. Peyesuaian dilakukan melalui optimalisasi penggunaan area, fasilitas, dan pengaturan shift dinas petugas bandara agar kebijakan physical distancing dan protokol kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid-19.

Baca juga: Laporan Q1 2020 – 15 Bandara PT Angkasa Pura I Alami Penurunan Trafik Penumpang 8,11 Persen

“Penyesuaian kegiatan operasional 15 bandara ini yang dimulai sejak 1 April, terutama bertujuan agar protokol kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid-19 di bandara dapat diterapkan secara optimal. Hal ini sesuai dengan arahan Pemerintah terkait kebijakan physical distancing yang kemudian diturunkan dalam bentuk Surat Edaran Direktur Keamanan Penerbangan Nomor SE.10 Tahun 2020 tanggal 23 Maret 2020 perihal Pencegahan Penyebaran Covid-19 dalam Penerbangan,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi dalam pesan tertulis (9/4/2020).

Penyesuaian operasional ini didasarkan atas penurunan trafik penumpang yang cukup tajam, sekitar 25 persen pada Maret 2020 dibanding Maret 2019. Adapun upaya efisiensi yang dilakukan yaitu pengurangan waktu operasional sebagian besar bandara dan pengurangan penggunaan utilitas.

Adapun penyesuaian operasional bandara disesuaikan berdasarkan kapasitas dan kondisi trafik aktual di masing-masing bandara. Misalnya di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, yang waktu operasinya dikurangi menjadi 12 jam (pukul 06.00 – 18.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00). Untuk layanan check in di terminal keberangkatan dikonsentrasikan di area C dan D. Sedangkan area A dan B dinonaktifkan untuk sementara waktu. Untuk ruang tunggu terminal keberangkatan juga hanya dioperasikan sebagian, yaitu Gate 5 hingga Gate 11. Adapun terminal kedatangan di area timur akan ditutup sehingga kedatangan maskapai rute domestik seperti Garuda Indonesia dan Citilink dipindahkan ke area kedatangan barat menggunakan conveyor belt 5 sampai 8.

Begitu juga dengan Bandara Lombok Praya yang waktu operasinya dikurangi menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 24 jam. Selain itu, beberapa penyesuaian operasional Bandara Lombok adalah penutupan sementara terminal internasional karena tidak ada lagi penerbangan internasional, penataan ulang flow operasi pelayanan penumpang dan pengaturan parkir pesawat, serta pengurangan waktu shift dinas petugas bandara.

Adapun perubahan durasi dan jam operasional 15 bandara Angkasa Pura I yaitu:
1. Bandara Juanda Surabaya menjadi 17 jam (pukul 05.00 – 22.00) dari sebelumnya 24 jam.
2. Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali tetap beroperasi 24 jam.
3. Bandara Sultan Hasanuddin Makassar tetap beroperasi 24 jam.
4. Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan menjadi 12 jam (pukul 06.00 – 18.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00)
5. Bandara Adisutjipto Yogyakarta tetap beroperasi 13 jam (pukul 05.00 – 18.00).
6. Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) menjadi 17,5 jam (pukul 05.00 – 22.30) dari sebelumnya beroperasi 24 jam.
7. Bandara Adi Soemarmo Solo menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 18 jam (06.00 – 00.00).
8. Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 18 jam (06.00 – 00.00).
9. Bandara Lombok Praya menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 24 jam.
10. Bandara El Tari Kupang tetap beroperasi 16,5 jam (pukul 06.00 – 22.30).
11. Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin menjadi 12 jam (pukul 06.00 – 18.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00).
12. Bandara Sam Ratulangi Manado menjadi 14 jam (pukul 06.00 – 20.00) dari sebelumnya 24 jam.
13. Bandara Pattimura Ambon menjadi 14 jam (pukul 06.00 – 20.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00).
14. Bandara Frans Kaisiepo Biak menjadi 9 jam (pukul 06.00 – 15.00) dari sebelumnya 14 jam (pukul 06.00 – 20.00).
15. Bandara Sentani Jayapura menjadi 9 jam (pukul 06.00 – 15.00) khusus angkutan logistik dan tidak melayani angkutan penumpang, dari sebelumnya beroperasi 14 jam (pukul 06.00 – 20.00).

Dengan Penerbangan Terbatas, Bandara Wuhan Tianhe Kembali Buka Setelah 76 Hari Ditutup

Pada Januari 2020 kemarin, Cina menutup semua moda transportasi ke dan dari kota Wuhan yang menjadi pusat penyebaran Covid-19. Setelah dua bulan berlalu, akhirnya pada 8 April 2020 kemarin, Cina mencabut semua pembatasan yang di berlakukan pada Wuhan setelah 76 hari terkurung.

Baca juga: Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona

Hal ini kemudian membuat Bandara Internasional Wuhan Tianhe di Hubei, Cina akhirnya kembali buka dan mulai mengoperasikan penerbangan. Namun sebelum dioperasikan kembali, bandara tersebut didesinfeksi oleh 161 profesional pada pekan lalu.

KabarPenumpang.com melansir laman airport-technology.com (8/4/2020), bandara yang terletak 26 km dari utara kota Wuhan tersebut, kini mengoperasikan penerbangan langsung ke New York, London, San Francisco, Paris, Roma dan Moskow. Penerbangan komersial pertama dari Bandara Wuhan Tianhe ini adalah dari maskapai Xiamen Air MF8095 sekitar pukul 07.45 pagi waktu setempat.

Meski sudah dibuka kembali untuk umum, bandara akan menerima pengurangan jumlah penerbangan dalam waktu dekat. Setelah bandara di buka, orang-orang banyak yang bergegas ke bandara untuk mengambil penerbangan pulang ke rumah mereka. Seperti diketahui, banyak orang yang datang ke Wuhan selama liburan Tahun Baru Imlek dan terjebak di sana ketika kota tersebut di kunci. Tak hanya melalu bandara, orang-orang juga memilih untuk bepergian dengan kereta api dan mobil.

Meski begitu, yang boleh meninggalkan Wuhan adalah mereka yang memiliki kode hijau yang diberikan oleh aplikasi dan diawasi oleh Alibaba Group dan Tencent. Aplikasi ini menggunakan riwayat perjalanan individu, informasi kesehatan dan kontak terdekat.

Manajer check in China Southern Airlines, He Yuqing mengatakan, bahwa mereka mengoperasikan 28 penerbangan yang berangkat dari Wuhan pada 8 April. Beberapa penerbangan charter juga dioperasikan untuk para medis kembali ke rumah mereka masing-masing.

Baca juga: Gegara Virus Corona, Puluhan Ribu Hewan Peliharaan Terancam Mati Kelaparan di Wuhan

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) melaporkan bahwa, pada 7 April, 62 kasus baru Covid-19 dikonfirmasi di Cina daratan, yang 59 di antaranya diimpor. NHC menambahkan bahwa ada dua kematian, satu di antaranya berasal dari Provinsi Hubei. Total kasus infeksi impor di negara ini saat ini mencapai 1042.

Boeing Akui Kembali Temukan Masalah Baru Pada Software 737 MAX

Meskipun pengerjaannya terus dikebut di tengah pandemi corona, 737 MAX yang sudah setahun lebih di-grounded dilaporkan kembali bermasalah. Dalam sebuah pernyataan, raksasa dirgantara dunia tersebut mengakui bahwa pihaknya menemukan sebuah masalah pada sistem software MAX. Meski demikian, masalah tersebut tidak akan mengurungkan niat untuk memulai kembali layanan MAX pada pertengahan tahun ini.

Baca juga: Masalah Lagi! Boeing Temukan Serpihan di Tangki Bahan Bakar 737 MAX

“Sebagai hasil dari tinjauan perangkat lunak kami yang ketat, Boeing membuat modifikasi tambahan pada software flight control computer 737 MAX setelah baru-baru ini kembali mengidentifikasi dua masalah. Modifikasi tidak terkait dengan Manuvering Characteristics Augmentation System (MCAS),” kata juru bicara Boeing, seperti dikutip dari barrons.com.

Lebih lanjut, Boeing menguraikan bahwa satu masalah terkait pada “kesalahan hipotesa” dalam mikroprosesor flight control computer yang berpotensi menyebabkan stabilizer tidak berfungsi dengan baik. Horizontal stabilizer di bagian ekor pesawat sejatinya dapat bergerak ke atas dan ke bawah sebagai peredam gerak aktif atau stabilisator. Bila fungsi tersebut hilang karena loss control, hal itu bisa saja berakibat fatal.

Adapun masalah kedua yang ditemukan Boeing baru-baru ini lebih mengarah pada fitur autopilot. Fitur ini ditemukan kerap aktif dengan sendirinya saat pilot sedang melakukan final approach. Tentu saja aktifnya fitur secara tiba-tiba dapat menggangu konsentrasi pilot dalam menguasai pesawat secara keseluruhan. Oleh karenanya, Boeing berjanji akan segera melakukan perbaikan pada sistem tersebut agar kejadian serupa tak terulang kembali.

Boeing sendiri saat ini dilaporkan masih terus menggenjot proses perbaikan, mulai dari menguji perubahan perangkat lunak terbaru dan menyempurnakannya hingga melakukan pengujian dalam simulator penerbangan yang dikenal sebagai e-cab di tengah pandemi corona, semata untuk menyesuaikan seluruh persyaratan dari regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat (FAA).

Perusahaan tak gentar sekalipun sejauh ini dilaporkan sudah terdapat 88 kasus corona yang menimpa pekerjanya. Meskipun demikian, progres 737 MAX hanya dilakukan oleh tim kecil. Adapun sisanya, Boeing telah menghentikan proses produksi untuk sementara waktu.

Dengan begitu, Boeing tetap menargetkan bahwa 737 MAX dapat kembali terbang pertengahan tahun ini. Kabar baiknya, langkah tersebut juga didukung oleh FAA. Pasalnya, tidak selamanya tinjauan teknis diperlukan. Mereka bisa saja mengecek lewat dokumen, video conference, atau lewat telepon. FAA juga memuji Boeing bahwa mereka terus membuat kemajuan untuk 737 MAX dengan hampir memenuhi standar sertifikasi dan semua itu dilakukan di tengah pembatasan di AS.

“Tim kami mengelola melalui wabah Covid-19 seperti banyak orang lain dengan bekerja secara virtual di mana kita bisa, sambil mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan lingkungan yang aman bagi kita semua,” kata Boeing dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari bloomberg.com.

Baca juga: Demi Kembali Terbang, Perbaikan Boeing 737 MAX Terus Dikebut di Tengah Corona

“Kami terus membuat kemajuan dalam upaya sertifikasi kami dan bekerjasama dengan regulator untuk memenuhi persyaratan mereka. Perkiraan kami masih merupakan pertengahan tahun untuk mengembalikan armada 737 MAX ke layanan,” tambahnya.

Produsen pesawat terbesar di dunia itu baru saja melewat ‘perayaan’ setahun grounded Boeing 737 MAX pada 14 Maret lalu. Dalam kurun waktu setahun tersebut, produsen pesawat asal Negeri Paman Sam tersebut mengaku telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun (Rp14.352). Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang. Maka, tak heran bila Boeing terus ngotot untuk segera kembali menerbangkan 737 MAX.

Berlin Mulai Operasikan Bus Artikulasi Listrik Pertama

Otoritas transportasi Berlin BVG atau Berliner Verkehrsbetriebe sudah menambahkan bus artikulasi (bus gandeng) listrik pertama ke armadanya sebagai bagian dari proyek penelitian. Di mana BVG baru-baru ini menambahkan listrik Solaris Urbino 18 yang merupakan bus listrik artikulasi pertama ke armadanya.

Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung

Bus listrik tersebut berada di rute 200 yang akan menjadi bagian proyek penelitian dan pengembangan E-MetroBus. KabarPenumpang.com melansir dari laman electrive.com (5/4/2020), nantinya ada 16 kendaraan lagi yang akan menyusul dalam beberapa minggu mendatang.

Setelah uji coba singkat E-Schlenkis yang disebut oleh operator transportasi Berlin akan mengambil alih semua perjalanan pada rute 200 di musim panas. Rolf Erfurt yang bertanggung jawab untuk operasi BVG menggambarkan bus listrik yang diartikulasi sebagai terobosan untuk mobilitas listrik di Berlin.

Ini tidak berbeda dengan London, sebab armada bus Berlin mengandalkan armada-armada besar. Untuk mengisi daya bus Solaris, BVG memilih untuk pengisian cepat dengan pantograf di halte maupun terminal. Akan ada dua pengisi daya pantograf yakni yang pertama dari Siemens dan sudah di pasang di Kebun Binatang Bahnhof serta stasiun pusat bekas Berlin Barat.

Mitra lainnya di E-MetroBus adalah TU Berlin dan Reiner Lemoine Institute, mereka akan menguji kendaraan dan infrastruktur. Menurut BVG, volume proyek berjumlah total €16,74 juta dan yang akan menanggng sebagian besar biaya adalah operator transit hingga jumlah yang dikeluarkan oleh bus diesel yang sebanding.

Selain itu dana tambahan juga datang dari Kementerian Federal Transportasi dan Infrastruktur Digital dengan total €4,3 juta. Menurut makalah Tagesspiegel, pendanaan berfokus pada dua stasiun pengisian pantograf. Sedangkan sisa pendanaan untuk bus listrik akan ditanggung negara bagian Berlin.

Untuk diketahui, saat ini BVG telah memesan 90 bus elekrtik dari Solaris dan dimulai dari model Urbino 12 Electric yang sudah masuk layanan saat ini. BVG mengkonfirmasi laporan sebelumnya dan awalan pengiriman pada bulan Maret.

Pengiriman batch pertama dari 30 listrik akan selesai di Berlin bulan ini. Sedangkan 60 lainnya akan mengikuti dari awal Agustus hingga akhir tahun. Selain itu 15 bus Mercedes dan Solaris sudah dikirim tahun lalu dan satu kendaraan dari kampus riset Mobility2Grid.

Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya

Sehingga total armada BVG adalah 121 all electric single deckers. Bus elektrik baru ini nantinya akan melayani seluuh rute yakni 142, 259, 300, 347, 147, 155, 250, 294 dan N50. BVG juga menambah 83 titik pengisian ke 30 stasiun pengisian yang ada.

Pandemi Masih Berlangsung, Makapai di Amerika Serikat Beroperasi Meski Penumpang Menurun

Di tengah pendemi corona, maskapai penerbangan di Amerika Serikat masih terbang dan setiap penerbangannya hanya mengangkut penumpang 5-15 persen, bahkan beberapa kasus hanya mengangkut satu penumpang. Maskapai milik Amerika Serikat juga telah mengurangi rencana penerbangan internasional mereka sebanyak 80-90 persen untuk bulan April dan Mei dan sedikit demi sedikit mengurangi penerbangan domestik.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

United Airlines sendiri masih terbang sekitar sepertiga dari kapasitas domestiknya. KabarPenumpang.com melansir laman businessinsider.sg (3/4/2020), saat paket stimulus federal yang dikenal sebagai CARES Act diimplementasikan, kecil kemungkinannya bahwa penerbangan akan dipotong lebih jauh, bahkan ketika jumlah penumpang berkurang.

Itu karena kedua ketentuan paket bailout untuk maskapai, hibah penggajian untuk menjaga kestabilan gaji karyawan, dan pinjaman untuk membantu mengimbangi arus kas negatif serta berisi ketentuan yang mengharuskan maskapai untuk melanjutkan layanan saat menerima bantuan. Secara khusus, Undang-Undang mewajibkan maskapai penerbangan yang menerima pinjaman atau hibah untuk “mempertahankan layanan transportasi udara terjadwal sebagaimana yang dianggap perlu oleh Sekretaris Transportasi untuk memastikan layanan ke titik mana pun yang dilayani oleh operator tersebut sebelum 1 Maret 2020.

Ketika mempertimbangkan apakah akan menggunakan wewenang yang diberikan oleh ini, Sekretaris Transportasi harus mempertimbangkan kebutuhan transportasi udara dari komunitas kecil dan terpencil serta kebutuhan untuk mempertahankan perawatan kesehatan yang berfungsi dengan baik dan rantai pasokan farmasi, termasuk untuk peralatan medis dan pasokan.

Menurut Robert Mann, seorang konsultan dan mantan eksekutif maskapai, perjalanan bisnis dan liburan hampir macet, tetapi masih ada kebutuhan untuk konektivitas udara untuk melanjutkan. Dia mengatakan, layanan penerbangan terjadwal adalah jalur logistik nasional yang strategis untuk kesehatan masyarakat dan personel serta material terkait.

“Tanpa itu, badan pemerintah federal dan negara bagian akan perlu mencarter sebanyak ribuan penerbangan setiap hari, dengan biaya yang jauh lebih besar daripada hibah CARES Act,” kata dia.

Penerbangan terus membawa tenaga kesehatan pemerintah dan publik, serta dokter dan staf pendukung membawa sumber daya ke daerah yang paling terpukul serta juga pengiriman kargo. Henry Harteveldt, seorang konsultan dan analis industri menyebutkan, layanan penerbangan reguler menggerakkan orang dan barang dan itu membuatnya penting selama krisi ini.

Ketentuan penting dalam UU tersebut adalah kebijaksanaan yang diberikan kepada Sekretaris Transportasi, Elaine Chao. Meskipun memerlukan layanan ke kota untuk dilanjutkan, dibiarkan terbuka untuk interpretasi berdasarkan kebutuhan yang dirasakan.

“DOT (Department of Transportation) telah mengamanatkan layanan yang berkelanjutan, tetapi memungkinkan setiap operator pemasaran untuk mengkonsolidasikan layanannya menjadi sesedikit satu penerbangan harian ke setiap titik di jaringannya pada akhir Februari 2020,” kata Mann.

Harteveldt mengatakan, dalam kasus sebuah kota dengan lebih dari satu bandara seperti Chicago, New York, Washington DC atau daerah lainnya seperti di Pantai Barat, Dot telah mengklarifikasi bahwa mereka akan memungkinkan maskapai penerbangan yang melayani beberapa bandara untuk melakukan konsolidasi dan menjadikannya satu.

“Ini tentang mempertahankan layanan ke kota, bukan bandara tertentu. Maskapai dapat menjalankan satu penerbangan per minggu dan masih memenuhi persyaratan,” kata Harteveldt.

Hartveldt mengatakan, kota-kota menengah dan besar tidak perlu khawatir kehilangan layanan, ketentuan ini dirancang untuk memastikan bahwa layanan dipertahankan untuk tujuan yang lebih kecil yang dapat terputus selama pandemi sehingga terpisah dari program Essential Air Service yang ada, di mana pemerintah mensubsidi penerbangan ke tujuan pedesaan dan terpencil.

“Perhatian utama di balik persyaratan ini adalah untuk memastikan maskapai tidak menurunkan layanan ke kota-kota terkecil di jaringan rute mereka. Itu sering kota-kota pertama yang akan dipotong ketika permintaan turun, dan yang terakhir ditambahkan ketika hal-hal naik lagi,” kata dia.

Sementara maskapai yang bersaing telah mempertimbangkan apakah mungkin untuk mengkonsolidasikan penerbangan di antara mereka, mengurangi penerbangan dan memangkas biaya lebih banyak, Departemen Transportasi Amerika Serikat mengesampingkan gagasan itu. DOT melarang itu dengan alasan anti-trust, seperti yang mereka lakukan pasca 11 September.

“Mereka menggantikan kemampuan masing-masing operator individu untuk mengkonsolidasikan layanannya sendiri,” tambah Mann.

Baca juga: Gegara Virus Corona dan Tak Dapat Utang Baru, Maskapai Terbesar Inggris “FlyBe” Bangkrut

Tidak jelas dengan segera maskapai mana yang akan mengajukan permohonan bantuan berdasarkan UU CARES. Meskipun American Airlines dan Southwest Airlines mengatakan mereka akan melakukannya, maskapai lain enggan karena ketentuan yang memungkinkan AS untuk mengambil saham ekuitas di maskapai yang menerima bantuan.

Batas waktu untuk menerima pertimbangan prioritas untuk hibah penggajian adalah Jumat pukul 17.00 waktu setempat. ET, sementara maskapai masih memiliki opsi untuk mendaftar hingga 27 April, sebab prosedur untuk mengajukan hibah belum dirilis.

Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah

Pademi virus corona yang memiliki nama resmi SARS-Cov-2 ini menyebabkan penyakit pernapasan dan bisa menyebar melalui tetesan udara. Ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, tetesan yang membawa partikel virus bisa mendarat di hidung atau mulut orang lain yang kemudian terhirup. Tetapi ternyata seseorang bisa terinfeksi virus ini juga  jika mereka menyentuh permukaan atau benda yang memiliki partikel virus yang kemudian menyentuh mulut, hidung atau mulut.

Baca juga: Setelah 17 Hari Dikosongkan, Virus Corona Masih Ditemukan di Kapal Pesiar Diamond Princess

Kemudian banyak pertanyaan yang muncul, berapa lama masa hidup virus ini di permukaan maupun benda? Dirangkum KabarPenumpang.com dari businessinsider.sg (6/4/2020), masa hidup virus tersebut tergantung dari banyak faktor termasuk suhu, kelembaban dan jenis permukaan di sekitarnya. Sebuah studi yang diterbitkan 2 April dalam jurnal The Lancet menemukan bahwa virus ini bertahan paling lama hingga tujuh hari pada stainless steel, plastik dan masker bedah.

Para peneliti di balik studi baru ini menguji rentang hidup virus di ruang bersuhu 71 derajat Fahrenheit atau 21,6 derajat Celcius dengan kelembaban relatif 65 persen. Setelah tiga jam virus telah hilang dari percetakan dan kertas tisu. Sedangkan untuk meninggalkan kain dan kayu virus ini membutuhkan waktu selama tiga hari dan empat hari sudah tak lagi terdeteksi pada uang kertas ataupun kaca. Virus ini mampu bertahan paling lama tujuh hari pada stainless steel dan plastik.

Ada pun hal yang paling mengejutkan ternyata virus corona ini mampu bertahan paling lama di lapisan luar masker bedah di mana pada hari ke tujuh penyelidikan nyatanya virus masih menepel. Karena virus corona baru ini, para peneliti melakukan perbandingan rentang hidup dengan virus corona SARS. Para peneliti kemudian menemukan kedua jenis virus ini hidup paling lama di stainless stell dan polipropylene. Keduanya juga bertahan hingga tiga hari di plastik tetapi virus corona baru (SARS-Cov-2) bertahan tiga hari di atas baja.

Namun, di atas kertas karton, virus corona baru bertahan 24 jam, atau tiga kali delapan jam dibandingkan SARS. Virus corona SARS, pada suhu 68 derajat Fahrenheit (20 derajat Celsius), bertahan selama dua hari pada baja, empat hari pada kayu dan kaca, dan lima hari pada logam, plastik, dan keramik.

SARS bertahan selama dua hingga delapan jam pada aluminium dan kurang dari delapan jam pada lateks. Menurut Rachel Graham, seorang ahli epidemiologi di University of North Carolina, permukaan yang halus dan tidak keropos seperti gagang pintu dan permukaan meja lebih baik dalam membawa virus. Sedangkan permukaan berpori seperti uang, rambut, dan kain tidak memungkinkan virus bertahan selama ruang kecil atau lubang di dalamnya dapat menjebak virus dan mencegah transfernya.

Graham merekomendasikan untuk mendisinfeksi ponsel terutama ketika dibawa ke kamar mandi. Studi Journal of Hospital Infection juga menemukan bahwa lonjakan suhu membuat perbedaan dalam rentang hidup virus corona. Lompatan 18 derajat Fahrenheit, dari 68 derajat ke 86 derajat, mengurangi berapa lama SARS bertahan pada permukaan baja setidaknya setengah.

Studi Lancet menemukan hubungan serupa antara rentang hidup virus dan suhu di sekitarnya. Pada empat derajat Celcius, atau 39 derajat Fahrenheit, virus bertahan hingga dua minggu dalam tabung reaksi, tetapi saat suhu berubah hingga 37 derajat Celcius, atau 99 derajat Fahrenheit, rentang hidup itu turun menjadi satu hari. Itu karena beberapa virus corona, termasuk yang baru ini, memiliki amplop virus yakni lapisan lemak yang melindungi partikel virus ketika bepergian dari orang ke orang di udara.

“Selubung itu bisa mengering dan membunuh virus, jadi kelembaban yang lebih tinggi, suhu sedang, angin rendah, dan permukaan padat semuanya baik untuk kelangsungan hidup virus corona,” kata Graham.

Para penulis studi Journal of Hospital Infection mencatat bahwa virus corona manusia dapat secara efisien tidak aktif pada permukaan dalam satu menit jika mereka dibersihkan dengan larutan yang mengandung 62-71 persen alkohol etanol, hidrogen peroksida 0,5 persen atau 0,1 persen natrium hipoklorit .

“Kami mengharapkan efek yang sama terhadap SARS-CoV-2,” tambah mereka.

Graham mengatakan disinfektan permukaan ini bahkan dapat bekerja dalam 15 detik. Namun, untuk mendapatkan tingkat pembunuhan yang diiklankan pada kemasan, itu biasanya melibatkan menunggu beberapa menit antara lima menit dan enam menit. Graham mengatakan hal penting ketika mendesinfeksi permukaan adalah mendapatkan dosis potensial infeksi virus di bawah level yang akan menyebabkan penyakit.

“Sebagian besar produk komersial berlabel ‘desinfektan’ berbicara tentang tingkat pembunuhan 99,9 persen,” katanya.

Tapi pembersih tangan berbahan dasar alkohol tidak ideal untuk mendisinfeksi permukaan keras karena kandungan alkoholnya tidak cukup tinggi. Pembersih tangan dimaksudkan untuk menurunkan berapa banyak infeksi yang ada di tangan Anda tanpa menghilangkan semua minyak dan kelembabannya. Disinfektan permukaan seperti Lysol, pemutih lebih baik untuk permukaan.

Baca juga: Deretan Teknologi ini Berhasil Digunakan Cina untuk Melawan Virus Corona

Graham menekankan pentingnya mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah Anda, itu adalah cara terbaik untuk meminimalkan kesempatan Anda mendapat virus corona dari permukaan. Dia juga menyarankan mencuci rambut Anda jika bersin, meskipun virus tidak bertahan lama. Tentu saja, coronavirus tidak dapat menginfeksi Anda melalui tangan, jadi jika Anda tidak pernah menyentuh mata, hidung, mulut, Anda dapat menghindari infeksi. Tapi itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

“Sebagian besar manusia menyentuh wajah mereka beberapa kali ratusan kali per hari, jadi yang terbaik adalah menyadari betapa bersihnya tangan Anda,” kata Graham.