Mengapa Perusahaan Leasing ‘Diburu’ Maskapai dan Mengapa Maskapai Menyewa Pesawat? Ini Jawabannya

Pada umumnya, masyarakat mengira bahwa pesawat yang dicat dengan livery maskapai tertentu sudah pasti pesawat tersebut adalah milik sendiri. Padahal, hal itu belum tentu, mengingat, maskapai lebih lazim memilih untuk menyewa pesawat ketimbang membeli secara tunai ke produsen pesawat seperti Airbus dan Boeing.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Garuda Indonesia, misalnya, pada tahun 2018 silam, dari total 202 unit pesawat, 180 unit pesawat di antaranya adalah rental ke perusahaan-perusahaan leasing (pembiayaan) pesawat. Adapun sisanya, sebanyak 22 unit pesawat, itulah milik maskapai pelat merah tersebut.

Berbagai pertanyaan pun muncul khususnya seputar alasan maskapai lebih memilih menyewa pesawat ketimbang membeli. Jawaban atas pertanyaan tersebut sudah pasti karena beban finansial. Dengan membeli pesawat secara tunai, tentu perusahaan harus mencari cara agar likuiditas keuangan tetap stabil sekalipun mengeluarkan uang tunai dalam jumlah besar.

Dikutip dari laman Simple Flying, ambil contoh pada proyeksi Qatar Airways. Maskapai terbaik dunia 2019 versi Skytrax tersebut dikabarkan ingin memperluas operasinya di masa mendatang dengan membutuhkan setidaknya 10 armada Boeing 787 baru untuk memuluskan langkahnya.

Jika maskapai memiliki cukup uang tunai atau dapat memperoleh pinjaman bank, tentu mereka dapat membeli pesawat langsung dari Boeing. Merujuk pada daftar harga, Boeing 787-8 baru dibanderol sekitar US$240 juta atau Rp3,7 triliun (kurs Rp 15,808). Dengan asumsi bahwa Qatar Airways akan mendapatkan diskon 35 persen dari Boeing, maka maskapai tersebut setidaknya harus merogoh kocek sebesar US$1,56 miliar atau Rp24, 8 triliun (kurs Rp 15,808) untuk membeli 10 unit Boeing 787 baru.

Opsi lain yang dimiliki Qatar Airways untuk memperoleh 10 armada baru adalah menyewa pesawat Boeing 787 dreamliner ke beberapa perusahaan leasing ternama di dunia, seperti Avolon atau GECAS, yang tarif rata-rata sewanya sekitar US$1 juta atau Rp15,8 miliar (kurs Rp 15,808) per bulan. Dengan asumsi bahwa Qatar Airways juga akan menerima diskon sebesar 35 persen dari GECAS atau Avolon, dalam setahun, mereka hanya perlu membayar US$78 juta atau Rp1,2 triliun (kurs Rp 15,808) juta per tahun. Cukup hemat, bukan?

Selanjutnya, bila Qatar Airways mengambil kontrak leasing selama sekitar 20 tahun, nilai totalnya akan menjadi sekitar US$2,34 miliar. Dengan begitu, seluruh pihak di dalam lingkaran tersebut, baik Boeing beserta mitranya selaku produsen, GECAS atau Avolon selaku lessor, dan Qatar Airways selaku penyewa, akan sama-sama mendapatkan untung berdasarkan porsinya masing-masing. Khusus untuk Qatar Airways, keuntungan lainnya mereka dapat mengelola uang tunai yang ada untuk kebutuhan lainnya dan mempertahankan likuiditas dalam bisnis mereka.

Dalam kesepakatan peminjaman pesawat pada lessor, biasanya ada tiga model bisnis yang dilakukan, mulai dari sewa basah atau wet lease, sewa kering atau dry lease, dan sewa lembab atau damp lease. Sewa kering pada umumnya adalah model bisnis yang paling banyak digemari maskapai, yang mana maskapai penerbangan komersial mengambil pesawat dari perusahaan leasing untuk jangka waktu tertentu dan maskapai menyediakan krunya sendiri. Jadi, hanya menyewa pesawatnya saja.

Sewa basah, biasa juga dikenal sebagai ACMI atau Aircraft, Crew, Maintenance, Insurance, lebih didasari ketika maskapai mendesak membutuhkan pesawat tambahan untuk mengisi kekurangan armada akibat satu dan lain hal. Misalnya akibat masalah mesin Rolls-Royce pada Boeing 787 beberapa waktu belakangan.

Dengan adanya masalah tersebut, otomatis, maskapai harus meng-grounded armada 787 mereka atas alasan keselamatan. Celakanya, di saat yang bersamaan, maskapai harus tetap mempertahankan jaringan domestik atau global mereka untuk keberlangsungan bisnis perusahaan. Di saat seperti inilah, biasanya sewa basah pesawat sangat digemari maskapai. Biasanya model bisnis seperti ini hanya untuk jangka pendek dengan nilai kontrak jauh lebih sedikit dibanding sewa kering.

Adapun sewa lembab adalah model bisnis dimana lessor menyediakan pesawat, awak pesawat, dan perawatan, sedangkan maskapai hanya menyediakan awak kabin. Umumnya model bisnis seperti ini banyak terjadi di Inggris.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Model bisnis lainnya yang banyak terjadi di luar ketiga itu adalah kesepakatan jual-dan-penyewaan kembali. Model bisnis seperti itu umum dilakukan semata demi mendapatkan uang tunai dan meningkatkan modal. Qatar Airways tercatat pernah membuat perjanjian jual-dan-balik menyewa untuk tujuh unit A350 baru dengan GECAS pada tahun 2017. Selain itu, Cathay Pacific dan BOC Aviation juga pernah membuat kesepakatan jual dan penyewaan kembali yang mencakup enam unit Boeing 777-300ER.

Akan tetapi, opsi membeli ataupun menyewa pesawat sebetulnya sama-sama memiliki andil besar dalam menyokong kesuksesan bisnis maskapai. Bergantung pada bagaimana pengelolaan bisnis itu sendiri. Wizz Air, misalnya, tidak akan mencapai pertumbuhan 253 persen dalam delapan tahun terakhir tanpa menyewa 100 persen armadanya. Baru-baru ini, pertumbuhan dinamis LOT Polish Airlines, Indigo, GOL atau Vueling juga tak terlepas dari keputusan menyewa pesawat. Maskapai tersebut saat ini tercatat memiliki lebih dari 70 persen pesawat sewaan.

China Southern Jadi Maskapai Satu-satunya di Dunia yang Masih Terbangkan Airbus A380

Salah satu dari maskapai terbesar di Cina (bersama Air China dan China Eastern), China Southern dikabarkan menjadi maskapai satu-satunya di dunia yang masih mengoperasikan pesawat komersial terbesar sejagat, Airbus A380. Kepastian itu didapat setelah maskapai yang bermarkas di Guangzhou tersebut melakukan penerbangan ke Sydney, Australia pada Sabtu lalu.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Dikutip dari laman Simple Flying, armada A380 milik China Southern berangkat Sabtu malam dari Guangzhou dan tiba di Sydney pada Minggu pagi waktu setempat. Belum jelas berapa load faktor pada pesawat dengan nomor penerbangan CZ325 tersebut. Namun demikian, sebuah sumber menduga bahwa load factor mungkin tak terlalu rendah, juga tak terlalu tinggi, berkisar 50 persen.

Pasalnya, dengan beban biaya operasional tinggi, setidaknya mencapai sebesar Rp464 juta per jam, menerbangankan A380 dengan load factor rendah dan jarak tempuh yang cukup jauh, sekitar 10 jam hanya akan menambah beban keuangan perusahaan di tengah lesunya penerbangan di seluruh dunia.

Meskipun hanya menerbangkan A380 sekali dalam seminggu, keberhasilan China Southern untuk tetap terus mengoperasikan pesawat tersebut tentu cukup mengejutkan banyak pihak. Selama ini, jawara A380 masyhur dipegang oleh maskapai besar dunia dengan reputasi tinggi, seperti ANA, British Airways, Qatar Airways, Lufthansa, Qantas, dan Etihad Airways.

Pada masa pandemi corona, tercatat maskapai-maskapai tersebut memang telah menghentikan operasional armada A380 mereka sejak Maret lalu. Khusus untuk Qantas, maskapai asal Australia tersebut dikabarkan sampai memutuskan untuk ‘mempensiunkan dini’ atau menggrounded delapan dari 12 armada Airbus A380-nya selama enam bulan ke depan.

Senada dengan Qantas, British Airways juga sepertinya juga akan menggrounded armada A380-nya dalam jangka waktu yang cukup lama atau mungkin menggrounded secara permanen. Kabar tersebut mulai menjadi perbincangan hangat setelah British Airways menerbangkan seluruh armada A380-nya ke Bandara Chateauroux, Perancis, sebelah selatan Kota Paris.

Lufthansa kondisinya lebih miris lagi. Maskapai terbesar di Eropa tersebut, setelah pada tahun 2019 menyalip IAG yang terdiri dari British Aiways, Iberia, Aer Lingus, Level, Vueling dan Anisec serta Air France-KLM, dikabarkan harus merelakan kepergian enam dari 14 armada Airbus A380. Pesawat-pesawat tersebut sudah diputuskan untuk pensiun secara permanen dan akan dijual kembali ke Airbus pada tahun 2022. Sisanya, sampai saat ini masih belum ada kejelasan kapan akan kembali mengudara, mengingat kondisi wabah virus Cina yang masih mengancam sebagian besar dunia.

Meski demikian, dengan kembali bergairahnya industri penerbangan di Cina, maskapai penerbangan di dunia diharapkan dapat memanfaatkan ceruk pasar jaringan penerbangan global yang melibatkan Negeri Tirai Bambu tersebut.

Menurut OAG, kapasitas maskapai di seluruh dunia, secara keseluruhan, turun lebih dari seperempat. Laporan terbaru untuk minggu ini menunjukkan penurunan di seluruh dunia sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, beberapa negara lainnya, seperti Italia dan Hong Kong, penurunannya cukup drastis, mencapai lebih dari 80 persen.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Harga Airbus A380 Bekas Turun Drastis

Bandingkan dengan tren di Cina yang notabene terus mengalami peningkatan dalam tempo empat pekan beruntun. OAG mencatat, titik terendah industri penerbangan Cina terjadi pada hari Minggu, 17 Februari, ketika perjalanan udara terkoreksi turun 70,8 persen.

Namun, sejak saat itu perlahan mulai merangkak naik dengan penurunan menjadi hanya sekitar 40 persen untuk dua pekan pertama di bulan Maret. Bahkan untuk dua minggu terakhir angkanya lebih sedikit lagi. Minggu ketiga, mulai 16 Maret, penurunan penerbangan di Cina turun menjadi 38,7 persen. Minggu terakhir yang dianalisis oleh OAG menunjukkan lalu lintas turun menjadi hanya tinggal 37,5 persen. Masih tergolong lambat memang, tetapi pasti.

Enam Jenis Robot Beroperasi di Stasiun Gateway Takanawa

Stasiun Gateway Takanawa yang resmi dibuka pada Sabtu (14/3/2020) lalu, akan menggunakan robot dan kecerdasan buatan untuk mengurangi tenaga kerja dan membantu para penumpang. Stasiun kereta api terbaru di jalur Yamanote di pusat Tokyo ini menggunakan enam jenis robot dengan masing-masing tugasnya.

Baca juga: Takanawa Gateway Menjadi Stasiun Modern dengan Robot Pemandu Penumpang

Robot-robot ini bisa memandu penumpang, membersihkan stasiun hingga melakukan tugas keamanan. Bahkan akan ada layar digital di stasiun ini yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan dan beroperasi dalam berbagai bahasa sehingga bisa membantu penumpang menavigasi koneksi kereta dan mendapat petunjuk jalan ke restoran terdekat.

KabarPenumpang.com melansir laman asia.nikkei.com (10/3/2020), robot pembersih akan menyapu lantai stasiun secara mandiri semalaman. Robot ini akan bekerja membersihkan sekitar dua ribu meter persegi, sedangkan petugas kebersihan yang ada akan fokus pada tugas-tugas seperti membersihkan kamar mandi.

Sedangkan robot yang dilengkapi kamera akan berpatroli di stasiun dan mengidentifikasi individu yang mencurigakan serta memperingatkan petugas keamanan. Tak hanya itu robot ini juga bisa memperingatkan siapa pun di sekitarnya dengan menggunakan alarm dan lampu berkedip.

Para penjaga keamanan biasanya berpatroli berpasangan dan robot ini bisa menggantikan satu orang. Selain itu, juga ada robot bantuan mobilitas dengan berbentuk seperti kursi roda. Tak hanya itu, stasiun juga akan memasang teknologi di toko-toko yakni Touch-to-Go.

Di mana semuanya serba otomatis dan membiarkan penumpang membeli produk mereka dan membayar tanpa melalui kasir. Nantinya akan ada 50 kamera yang dipasang di dalam toko dan mengidentifikasi pelanggan serta produk.

Untuk membayarnya pun pelanggan dapat menggunakan kartu pintar transit mereka seperti Suica. East Japan Railway yang menjadi operator di jalur Yamanote berharap menjadikan Stasiun Gateway Takanawa sebagai model untuk stasiun generasi selanjutnya.

“Dengan mengumpulkan teknologi terbaru di dunia, kami akan membuat stasiun dan kota dengan tingkat kenyamanan yang tinggi serta berbagi dengan dunia,” kata pejabat JR East Mie Miwa.

Baca juga: Restoran di Stasiun Higashikoganei Punya Robot yang Bisa Buat Mie Soba

Untuk diketahui, JR East menginvestasikan sekitar 19 miliar yen ($180 juta) dalam mempersiapkan Takanawa Gateway, yang terletak di antara stasiun Shinagawa dan Tamachi dan mewakili pemberhentian baru pertama jalur Yamanote dalam 49 tahun. Perusahaan berencana untuk berinvestasi sekitar 500 miliar yen pada tahun 2030, termasuk untuk pengembangan perusahaan komersial di dekatnya seperti hotel dan kantor.

Dirlantas Polda Metro Jaya: Patuhi Instruksi Luhut, Ojol Boleh Angkut Penumpang Saat PSBB Jakarta

Setelah pembatasan sosial berskala besar atau PSBB berlaku di ibukota Jakarta, ojek online (ojol) terkena imbasnya. Sebab mereka tak lagi bisa mengangkut penumpang tetapi hanya bisa mengangkut barang ataupun pesanan makanan.

Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi

Namun ternyata Menteri Perhubungan Ad interim Luhut Binsar pandajaitan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No.18/2020 Tentang Pengendalian Transportasi dalam rangka Pencegahan Penyebaran Virus Corona. Dalam kebijakan tersebut salah satunya adalah mengatur mengenai operasional ojek online, di mana sepeda motor dapat mengakut penumpang dengan syarat harus memenuhi ketentuan dan memenuhi protokol kesehatan.

Juru bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati menyebutkan agar pengemudi wajib menggunakan masker, dan sarung tangan, serta tidak berkendara jika suhu tubuh di atas normal atau sakit. Dia juga meminta para aplikator mengawasi mitra mereka di lapangan.

“Kita juga meminta aplikator untuk memberlakukan protokol ini kepada drrivernya dan pengawasannya dilakukan baik di hulu dan hilir. Apakah driver mengikuti ketentuan yang berlaku atau tidak,” katanya.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, dengan adanya Permenhub ini, Polda Metro Jaya menegaskan mereka akan mematuhi instruksi Luhut Pandjaitan yaqng mana sepeda motor atau ojol diperbolehkan mengangkut penumpang selama PSBB di Jakarta.

“Saya akan mengikuti apa yang dikeluarkan oleh juru bicara Kementerian Perhubungan bahwa ojek online diperbolehkan untuk mengangkut penumpang,” kata Direktur Polisi Lalu Lintas Jakarta, Komisari Besar (Kombes) Sambodo Purnomo Yogo yang dikutip dari tempo.co (13/4/2020).

Dia pun tak menyangkal adanya dualisme peraturan terkait operasi ojol selama PSBB yang ketat dengan tujuan membatasi penyebaran virus corona (Covid-19). Dalam pasal 11 Permenhub menyebutkan bahwa ojol hanya diperkenankan mengangkut barang saat PSBB. Adanya hal ini kemudian, Sambodo mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) kota dan pemangku kepentingan terkait mengenai penyesuaian aturan.

Baca juga: Imbas Covid-19, Pengemudi Ojol Sepi Penumpang, Layanan Pesan Antar Banjir Order

“Kami akan membicarakan hal ini dengan Dinas Perhubungan untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan dinas terkait, terutama untuk implementasi peraturan di Jakarta,” kata Sambodo.

Diduga Mabuk, Polisi Tembaki Pesawat Air France A330

Aksi teror di dunia penerbangan kembali terjadi. Kali ini menimpa sebuah pesawat Air France A330 di Bandara Pointe-Noire, Republik Kongo, Afrika. Meskipun tidak ada korban jiwa, namun, peristiwa tersebut sempat menunda proses evakuasi warga negara Perancis di Republik Kongo dan Republik Afrika Tengah selama kurang lebih 24 jam. Belum jelas evakuasi tersebut terkait hal apa, namun, sebuah sumber menyebut bahwa evakuasi terkait virus Cina yang mulai merebak di kedua negara tersebut.

Baca juga: Bodi Pesawat JAL Robek Gegara Tertabrak Truk Katering Garuda, “Netizen: Gaji 100 Tahun Pun Ga Akan Sanggup Bayar”

“Penerbangan (dari Bandara Pointe-Noire) yang semula dijadwalkan pada pukul 10:00 ditunda selama 24 jam untuk memungkinkan pesawat pengganti dan awak diangkut dari Paris CDG. Pelanggan telah diperingatkan dan dirawat oleh tim lokal kami. Keselamatan pelanggan dan kru kami adalah prioritas utama kami,” seperti dikutip dari Twitter resmi maskapai @Afnewsroom.

Seperti dilaporkan airlive.net, setelah berhasil lepas landas pada 11 April dari Paris Roissy-Charles de Gaulle, Perancis, Airbus A330 dengan nomor penerbangan AF373V dilaporkan mendarat mulus di Bandara Pointe-Noire, Rebuplik Kongo, Afrika. Tak lama setelah itu, pada pukul 8 malam waktu setempat, seorang oknum polisi yang bertugas di bandara kemudian melakukan dua tembakan ke arah pesawat. Satu peluru berhasil menembus pinggang pesawat, tepatnya di bagian bawah sebelah kanan, tak jauh dari sayap pesawat.

Adapun satu tembakan lainnya meleset ke landasan dan pantulannya hanya berhasil membuat lambung A330-200 dengan kode resgistrasi F-GZCK tersebut sedikit tergores. Meski dilaporkan hanya melepaskan dua tembakan, nyatanya, dalam video yang dilihat KabarPenumpang.com, setidaknya terdapat empat proyektil peluru, dimana tiga proyektil peluru berada tepat di bawah lambung pesawat, tak jauh dari titik goresan, sedangakan satu proyektil lainnya terletak agak jauh, tepatnya di bagian pinggang pesawat sebelah kiri, tak jauh dari sayap sebelah kiri. Berdekatan dengan satu proyektil tersebut, juga ditemukan satu magazine. Bila dilihat dari proyektil dan magazine, oknum polisi tersebut diduga menggunakan senapan serbu AK-47.

Setelah kejadian tersebut, pihak berwenang setempat dengan sigap langsung menangkap pelaku. Kala itu pelaku diduga mabuk dan menembakkan senjatanya ke arah pesawat. Namun, proses penyelidikan masih terus berlangsung.

Merespon kejadian tersebut, tak lama berselang Air France mengirimkan pesawat pengganti Boeing 777-200. Menurut Aeronews, selain memuat awak kabin, pesawat tersebut juga mengangkut tim teknisi untuk membantu proses perbaikan Airbus A330 yang rusak.

Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal

Setelah 777-200 tiba di Point-Noire, pesawat setidaknya akan menjemput 100 warga negara Perancis untuk kemudian melajutkan penerbangan ke Bangui, Republik Afrika Tengah, untuk menjemput 120 warga negara Perancis lainnya, sebelum akhirnya terbang kembali ke Perancis dengan total 220 penumpang.

Airbus A330-200 milik Air France sendiri secara kapasitas, mampu menampung 224 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas, 36 di kelas bisnis, 21 di kelas ekonomi premium, dan 167 di kelas ekonomi. Dengan total 220 penumpang yang diselamatkan dari Pointe-Noire dan Bangui, tentu A330-200 menjadi pesawat ideal dalam misi penyelamatan warga negara Perancis tersebut. Namun, dengan adanya pergantian menjadi 777-200 yang notabene memiliki 280 kursi, mungkin beberapa penumpang akan memiliki ruang ekstra karena bangku kosong di samping kiri atau kanan mereka.

Lima Evolusi Wahana ‘Penderek’ Pesawat, Dari Mulai Tangan Kosong Sampai Teknologi Canggih

Dunia kedirgantaraan terus mengalami evolusi dari waktu kewaktu. Di artikel sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com telah mengupas tuntas teknologi body scanner sejak awak kemunculan hingga kemudian menginspirasi ilmuan untuk mengembangkannya menjadi thermal scanner yang kini marak digunakan di seluruh bandara di dunia untuk mencegah corona.

Baca juga: Bandara Internasional Moskow Gunakan Tank untuk Menderek Pesawat

Begitu juga dengan Ground Support Equipment (GSE) yang terus berevolusi dari waktu ke waktu. Salah satunya seperti aircraft tugs alias wahana untuk menderek pesawat.Mulai dari menggunakan Towbars, towbarless tractors, sampai electric aircraft tugs untuk pushback pesawat. Namun, sebelum itu semua ada, tepatnya saat teknologi belum secanggih saat ini, tangan kosong rupanya sempat menjadi andalan untuk membantu proses pushback pesawat, loh. Agar lebih jelas, berikut luma evolusi GSE sebagaimana dikutip dari laman mototok.com.

1. Bahu dan Tangan Kosong
Sebelum semua kendaraan aircraft tugs ada, dahulu bahu dan tangan kosong menjadi perantara ampuh untuk pushback pesawat, loh. Namun, jangan salah sangka dulu. Tentu saja pesawat yang di-pushback dengan menggunakan tangan kosong adalah pesawat tipe sport aircraft atau pesawat kecil lainnya. Adapun pesawat jet saat itu seperti de Havilland Comet ataupun McDonnell Douglas tentu menggunakan aircraft tugs versi jadul.

2. The Common Towbar
Sebelum kemunculan towbarless tractors atau yang jauh lebih mutakhir daripada itu, aircraft tugs with towbar tentu begitu diandalkan. Selama beberapa dekade sejak kemunculan industri penerbangan, dimana orang-orang dari seluruh dunia tertarik untuk mengunjungi satu negara ke negara lainnya dan dari satu benua ke benua lainnya, aircraft tugs with towbar terus setia mengawal geliat industri penerbangan global.

3. Towbar Tractors And Tug
Meskipun sudah mengalami perkembangan, namun, penggunaan traktor towbar untuk pushback pesawat masih kurang maksimal. Hal itu dikarenakan proses pushback masih tetap mengandalkan pilot untuk menggerakan kemana arah pesawat. Jadi, bila tidak terjadi komunikasi dengan baik, bukan tak mungkin insiden kecil akan terjadi.

4. Towbarless Tug
Setelah lama didominasi oleh inovasi towbar usang, seiring berjalannya waktu, solusi pun kemudian kembali muncul dengan hadirnya towbarless tug pada tahun 1980-an di Perancis. Dengan inovasi towbarless tug, seluruh proses pushback pesawat dimungkinkan untuk mendapat kontrol penuh tunggal oleh traktor, tak seperti sebelumnya dimana pilot masih harus mengendari pesawat ke arah tertentu. Sebab, roda pesawat bertengger di atas traktor. Tak lama setelah kemunculan inovasi tersebut, seluruh bandara-bandara di dunia pun akhirnya mulai menggunakan towbarless tug.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, penggunaan bahan bakar fosil pada traktor towbarless tug dinilai menjadi sebuah pemborosan dan tak baik untuk kesehatan karena mencemari lingkungan, khususnya di lingkungan kerja ground handler. Oleh karenanya, inovasi teknologi penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan di GSE pun terus didorong oleh sejumlah kalangan hingga akhirnya munculah Electric Towbarless Remote-Controlled Aaircraft Tugs

Baca juga: WheelTug, Dukung Pergerakan Pesawat Lebih Cepat di Area Terminal

5. Electric Towbarless Remote-Controlled Aircraft Tugs – Mototok
Sebuah studi tahun 2008 oleh Institute for Automotive Engineering (IKA) di RWTH University of Aachen, Jerman menyimpulan bahwa sudah saatnya untuk mengganti penggunaan traktor diesel towbarless tug menjadi electric towbarless aircraft tug. Alasannya, tentu saja untuk membuat bumi lebih hijau. Bahkan, pengembangan tidak hanya dilihat dari sisi ekologis, melainkan dari sisi ekonomi, dimana, electric towbarless aircraft tug dibuat tanpa jurumudi atau bisa dikendalikan dari jarak jauh (remote controlled).

Electric towbarless remote controlled aircraft tug karya Mototok ini pun digadang-gadang menjadi pioneer terciptanya ekosistem yang lebih hijau di lingkungan kerja GSE. Saat ini, beberapa unit di GSE pun juga sudah mulai menggunakan tenaga listrik sebagai sumber penggerak dan otonom. Salah satunya seperti shuttle bus listrik otonom di Bandara Haneda yang rencananya akan mulai beroperasi penuh pada akhir 2020 mendatang.

Masih Belum Berminat? Sepeda Listrik Xiaomi Ini Bisa Dilipat Seukuran Ransel!

Berbicara mengenai sepeda lipat, mungkin salah satu yang terlintas di pikiran masyarakat Indonesia adalah Brompton. Terlebih, setelah insiden yang melibatkan eks Direktur Utama Garuda Indonesia ramai diperbincangkan, dimana kala itu pesawat baru Airbus A330-900 kedapatan membawa beberapa muatan ilegal, salah satunya Brompton. Praktis, sepeda lipat elektrik asal Inggris tersebut namanya semakin melambung di masyarakat, khususnya pecinta sepeda.

Baca juga: Sepeda dengan Layar Lipat, Solusi Transportasi di Pedesaan

Akan tetapi, dengan harga selangit atau sekitar Rp 50an juta, bagi millenials atau kalangan lainnya dengan budget terbatas tentu harus berpikir ribuan kali untuk memilikinya. Namun, jangan khawatir, sepeda lipat listrik yang satu ini mungkin bisa menjadi oase. Tentu saja dengan harga yang lebih murah serta fitur yang tak kalah dengan Brompton.

Seperti dikutip dari newatlas.com, belum lama ini produsen teknologi asal Cina, Xiaomi merilis sepeda lipat listrik terbarunya, HiMo H1. Dengan harga cuma Rp 8 jutaan atau $500, sepeda listrik lipat Xiaomi memiliki berbagai fitur unggulan, seperti bisa dilipat hingga seukuran ransel, headlight yang terintegrasi dengan LED smart display, hingga satu pack baterai lithium berkapasitas 36V yang diklaim mampu menyuplai tenaga tambahan dengan sekali charger untuk menempuh jarak hingga 30km.

Selain itu, sepeda lipat listrik yang rangkanya tampak membentuk huruf H tersebut juga mempunyai diameter ban yang mini dibanding sepeda listrik merk lainya seperti Xiaomi Qi Cycle. Dengan ukuran yang lebih kecil akan membuat sepeda lebih smooth dan mampu membawa pengguna merasakan tiap adrenalin lebih detail. Tampilannya pun terlihat lebih sporty.

Wujud HiMo H1 saat dilipat. Foto: HiMo

Sepeda listrik ini juga memiliki frame berkualitas yang terbuat dari bahan aluminium alloy. Bahan ini terkenal tak mudah berkarat, di samping juga membuat bodi sepeda begitu ringan namun tetap kokoh dengan beban maksimal 80kg dan memberikan stabilitas tinggi ketika pengguna mengendarainya. Dalam keadaan gelap, HiMo H1 menawarkan lampu depan layaknya sepeda motor yang penggunaannya juga dapat dipantau pengguna lewat layar odometer yang juga menampilkan sejumlah informasi jarak tempuh dan kecepatan kendaraan serta juga kapasitas baterai.

Baca juga: Sepeda Kini Tanpa Dilipat Bisa Masuk Ke Gerbong Kereta

Dalam keadaan normal atau unfold HiMo H1 memiliki dimensi sebesar 955 x 840 x 485 mm, masih tergolong mungil dibanding sepeda listrik lipat lainnya. Namun, ketika dilipat (folding), sepeda listrik lipat dengan bobot 13.8 kg tersebut memiliki dimensi hanya sekitar 455 X 230 mm atau seukuran ransel. Menarik, bukan? Tak cukup sampai di situ, HiMo H1 juga cukup nyaman dikendarai dengan kecepatan 18 km per jam serta motor rated output power yang hanya sebesar 180W.

Dengan berbagai kemudahan tersebut, khususnya fitur folding yang mampu dilipat hingga seukuran ransel, pengguna dijamin dapat sangat terbantu untuk menyusuri sudut-sudut perkotaan yang tak terjangkau moda transporatasi umum, menyusuri gang-gang sempit menawan di luar negeri, seperti Inggris, Italia, dan Perancis dengan segudang panorama indah dari arsitektur klasik abad pertengahan yang eksotik, atau bahkan menembus kemacetan yang kerap terjadi di kota-kota besar di dunia.

Berjibaku Dua Bulan Lebih, Para Medis Kembali Pulang Setelah Lockdown Wuhan Dicabut

Ketika akhirnya Bandara Internasional Wuhan Tianhe dibuka setelah 76 hari ditutup untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19, banyak orang yang berbondong-bondong untuk kembali ke rumah mereka masing-masing di kota lainnya. Apalagi saat Covid-19 menyerang Wuhan, saat itu banyak orang yang berdatangan ke kota di Cina tengah untuk liburan Tahun Baru Imlek pada bulan Januari dan terjebak dalam masa tinggal yang panjang.

Baca juga: Gegara Virus Corona, Puluhan Ribu Hewan Peliharaan Terancam Mati Kelaparan di Wuhan

Untungnya setelah 11 minggu tertutup dari dunia luar, penguncian tersebut akhirnya dicabut pada Rabu (8/4/2020) kemarin dan orang-orang keluar kota dengan kereta api, mobil hingga pesawat. Seorang penduduk provinsi Qinghai yang bernama Zhang bersama orang tua dan anaknya kini berada di bandara setelah terjebak di Wuhan sejak liburan yang dimulai pada 15 Januari 2020 lalu.

“Suamiku telah sendirian di rumah selama hampir tiga bulan. Aku tidak sabar untuk kembali,” kata Zhang.

masyarakat yang keluar kota Wuhan (bloomberg.com)

Seorang penduduk Shanghai bernama Wang mengatakan, dirinya bersama sang istri sudah berada 80 hari di Wuhan dan tengah mengejar penerbangan pertama mereka untuk pulang ke rumah.

“Aku lebih bersemangat untuk pulang,” katanya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari bloomberg.com (8/4/2020), pencabutan kuncian di Wuhan ini menjadi ujian penting bagi Cina yang mendorong narasi kemenangan atas pandemi di tengah tuduhan memanipulasi data virus dan penyakit yang sangat menular tidak sepenuhnya dihilangkan. Namun, kemunculan Wuhan dari wabah yang membanjiri sistem rumah sakitnya dan menewaskan lebih dari 2500 orang memberikan cetak biru dan rasa harapan untuk kota lainnya yang saat ini terkunci serta bergulat dengan tingkat infeksi yang masih memuncak.

Dibukanya kembali Wuhan oleh Cina bukan hanya membuat tenang masyarakat provinsi lain yang terkunci, tetapi bagi para medis yakni dokter dan perawat dari provinsi Jilin timur laut yang membantu menyembuhkan pasien yang terinfeksi dari Wuhan. Para medis dari berbagai wilayah di Cina ini di datangkan ketika puncak epidemi dan rumah sakit Wuhan kewalahan dengan banyaknya pasien terinfeksi Covid-19, sementara banyak dokter dan perawat terinfeksi.

Para medis dari Jilin tersebut berbalut pakaian olahraga merah masuk ke bandara dan diberi karangan bunga oleh staf bandara. Para medis mungkin terlihat semangat, namun orang-orang lainnya tidak dalam semangat yang baik, sebab mereka diizinkan meninggalkan Wuhan jika memiliki kode hijau yang diproses melalui aplikasi yang di jalankan oleh raksasa internet Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd. berdasarkan pada riwayat perjalanan pengguna, informasi kesehatan dasar dan kontak dekat.

Kode hijau adalah hal yang berharga, karena memberikan kebebasan bergerak dalam realitas pasca-virus China, dan dapat dengan mudah hilang. Hanya dengan mengunjungi pusat perbelanjaan tempat kasus virus dikonfirmasikan nanti dapat mengubah kode seseorang menjadi kuning, yang berarti dua minggu isolasi lagi di rumah.

Ketika penjaga keamanan bandara berunding dengan mereka yang kode hijaunya tidak muncul dengan lancar, orang-orang di barisan mendorong ke depan, karena tidak ingin ketinggalan penerbangan mereka. Mereka yang berhasil melewati pintu masuk bandara melontarkan senyum lega.

He Yuqing, manajer check in untuk China Southern Airlines, mengatakan bahwa maskapai ini mengoperasikan 28 penerbangan dari Wuhan pada hari Rabu dengan beberapa penerbangan charter yang membawa pekerja medis kembali ke rumah.

“Beberapa penerbangan 90 persen penuh,” katanya.

Di pos pemeriksaan perbatasan lain di sekitar kota, orang-orang pergi secepat mungkin. Sekitar 55 ribu orang memiliki tiket kereta api untuk hari Rabu sementara mobil berbaris di gerbang tol setelah 75 pos pemeriksaan jalan dilepas. Terlepas dari arus keluar hari pertama, banyak orang di Wuhan tetap terkunci atau takut untuk pergi.

Baca juga:

Bahkan kompleks perumahan masih dapat memaksa penduduk untuk tinggal di rumah jika ditemukan kasus yang dicurigai atau ditemukan dengan alasan mereka, dan kekhawatiran akan timbulnya infeksi akan menghentikan orang kembali ke restoran dan mal. Ekonomi lokal, yang pernah menjadi pusat manufaktur mobil dan teknologi yang sedang naik daun, tidak mungkin kembali ke kesehatan penuh untuk beberapa waktu.

Di Masa Pandemi Ternyata Banyak Orang yang Merasa Lebih Baik dan Bahagia

Di masa pandemi yang terjadi di seluruh dunia saat ini, membuat banyak orang sudah merasa tingkat kejenuhan mereka di atas rata-rata. Hal ini bisa membuat orang yang biasanya berinteraksi dengan orang lain bisa kehilangan akal sehat dan melakukan hal diluar nalar.

Baca juga: Lima Tips Cegah Corona di Mobil, Nomor 5 Paling Sulit

Namun, meski begitu sebenarnya bisa dicegah dan diri pribadi mampu untuk melakukan hal tersebut agar kembali berpikir normal seperti sebelumnya meski di tengah pandemi. KabarPenumpang.com merangkum blogs.psychcentral.com (5/4/2020), nyatanya banyak orang juga yang merasa lebih baik saat ini dan sebagain besar mereka yang peduli, jikapun ada cenderung terlalu fokus pada kebutuhan orang lain. Nah, ada tujuh alasan beberapa orang merasa lebih baik dan bahagia selama pandemi berlangsung.

1. Orang dengan Fomo Kronis (Takut kehilangan)
Inilah orang-orang yang menjalani hidup mereka dengan perasaan seolah-olah mereka berada di luar hal-hal. Mereka melihat sekeliling dan melihat orang lain tertawa dan menikmati hidup. Bagi orang-orang ini, selalu tampak bahwa orang lain hidup lebih menyenangkan dan bahagia. Hingga akhirnya, sekarang, dengan hampir seluruh populasi terperangkap di rumah, lebih mudah untuk bersantai dalam pengetahuan bahwa mereka tidak kehilangan apa pun.

2. Mereka yang Selalu Merasa Sendirian di Dunia
Jika, sebagai seorang anak, Anda tidak menerima dukungan emosional yang cukup dari orang tua. Anda cenderung menjalani kehidupan dewasa dengan perasaan sendirian di dunia. Mungkin Anda sudah merasa sendirian begitu lama sehingga tidak nyaman. Sehingga, dalam krisis global ini, Anda benar-benar sendirian dan mungkin bisa mentolerir sendirian jauh lebih baik daripada yang lain. Mungkin, akhirnya, kehidupan nyata di luar mencerminkan apa yang selalu Anda rasakan di dalam dan itu, pada tingkat tertentu, memvalidasi.

3. Orang-Orang yang Tantangannya Masa Kecil Khususnya Disiapkan Mereka
Jika masa kecil Anda tidak dapat diprediksi seperti dipenuhi dengan ketidakpastian, atau mengharuskan untuk membuat keputusan yang tidak persiapkan atau bertindak di luar usia, maka mungkin masa kecil Anda mempersiapkan untuk saat ini. Ketika tumbuh dengan cara ini, Anda mengembangkan beberapa keterampilan khusus karena kebutuhan. Anda belajar bagaimana hiper-fokus dalam situasi yang ambigu dan bagaimana bertindak tegas dan percaya diri. Karena memiliki dasar yang kuat untuk keterampilan yang tepat yang dibutuhkan untuk pandemi, Anda mungkin merasa lebih fokus dan percaya diri sekarang daripada yang sudah dimiliki selama bertahun-tahun.

4. Orang-orang yang Merasakan Mati Rasa Kecuali Sesuatu yang Ekstrim sedang Terjadi
Jika Anda tidak akan menggambarkan diri sebagai orang yang emosional, atau mendapati diri tidak merasakan apa-apa, maka ketika tahu akan merasakan sesuatu, Anda mungkin mendapati diri memiliki emosi nyata karena COVID- 19 pandemi terbuka. Banyak orang membutuhkan novel atau situasi ekstrem untuk merasakan sesuatu. Beberapa terlibat dalam aktivitas yang berbahaya, tidak terduga, atau mencari sensasi untuk merasakan. Saat ini, bahaya, ketidakpastian, dan kesenangan telah datang kepada mereka. Akhirnya, mereka memiliki perasaan, dan perasaan apa pun, bahkan yang negatif, lebih baik daripada mati rasa.

5. Introvert Ekstrim
Bila Anda adalah orang yang lebih suka dirumah dan bergaul dengan orang lain tidak lebih nyaman, saat ini merupakan waktu istirahat yang tepat. Sehingga alih-alih harus menyesuaikan diri dengan orang lain dan mereka pun sebaliknya, inilah Anda. Bisa dikatakan, pada akhirnya saat ini adalah perasaan yang menyenangkan.

6. Mereka yang Sudah Berjuang dengan Tantangan Hidup yang Signifikan Sebelum Pandemi
Beberapa orang sudah menghadapi beberapa krisis atau tantangan besar dalam kehidupan sebelum epidemi ini melanda. Bagi mereka, situasi ini mungkin terasa agak melegakan. Tiba-tiba, dengan dunia ditutup, tidak mungkin untuk berjuang atau menyelesaikannya. Akibatnya, situasi ini mungkin menawarkan Anda sedikit istirahat dan juga melihat semua orang berjuang, yang mungkin terasa menghibur dengan cara tertentu. Bukannya Anda ingin orang lain mengalami masalah, hanya terasa menenangkan bahwa Anda tidak lagi sendirian. Semua orang juga mengalami masalah.

Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

7. Mereka yang Cemas Bertahun-tahun Mengantisipasi Bencana
Kecemasan dapat membuat orang-orang memiliki ketakutan besar akan pengabaian oleh pengalaman yang tak terduga dan menyakitkan. Jadi, beberapa orang terus-menerus mengantisipasi kesalahan apa yang mungkin terjadi sebagai cara untuk mencegah diri mereka sendiri dari kejutan yang tiba-tiba dan negatif. Sekarang, inilah kita. Peristiwa yang telah lama dinanti-nantikan itu telah terjadi. Orang-orang ini merasa lega bahwa apa yang telah mereka waspadai selama hidup mereka akhirnya ada di sini. Alih-alih merasa kaget, mereka merasa lega.

Jadi, apakah Anda termasuk satu dari tujuh alasan lebih bahagia saat pandemi terjadi?

Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit

Peperang mungkin dipandang sebagai petaka dengan banyaknya korban yang berjatuhan, baik dari sipil maupun militer, serta kerusakan yang ditimbulkan. Namun, bila melihat dari sisi lain, mungkin peperangan tak selamanya menjadi petaka. Ambil contoh pada Perang Dunia I. Di balik sengitnya peperangan, rupanya telah mendorong ilmuan mengembangkan teknologi tertentu untuk mendukung kekuatan perang, salah satunya telepon nirkabel di kokpit.

Baca juga: Boeing 377 Stratocruiser, Pesawat dengan Kabin Bertekanan Pertama di Dunia

Seperti dikutip dari laman spectrum.ieee.org, saat itu, ilmuan lain sebetulnya sudah memantik adanya telepon nirkabel dengan penemuan berupa telegraf, telepon, dan pesawat terbang. Tantangannya adalah, bagaimana ketiga temuan tersebut disatukan menjadi komunikasi singkat lewat media telepon nirkabel, baik dari darat-ke-udara maupun dari udara-ke-darat dengan perantara antara mesin-ke-mesin.

Pasalnya, teknologi telepon nirkabel di kokpit saat Perang Dunia I menjadi penting mengingat fungsinya yang vital. Dengan teknologi tersebut, pilot-pilot pesawat pengintai dapat langsung memberikan informasi mengenai apapun yang mereka lihat begitu mereka berada beberapa meter di belakang garis musuh. Singkatnya, negara peserta perang manapun yang lebih dahulu berhasil mengembangkan teknologi tersebut, kemungkinan besar mereka adalah pemenangnya.

Pada tahun 1911, Letnan Satu Benjamin D. Foulois, pilot pesawat tunggal Angkatan Darat AS, terbang di sepanjang perbatasan Meksiko dan melaporkan ke stasiun-stasiun Signal Corps di darat dengan kode Morse. Tiga tahun kemudian, di bawah naungan British Royal Flying Corps (RFC), pilot Letnan Donald Lewis dan Baron James mencoba radiotelegraphy udara-ke-udara dengan terbang 16 kilometer secara terpisah dan berkomunikasi dengan kode Morse selama penerbangan.

Tidak butuh waktu lama bagi sistem nirkabel RFC untuk melihat tindakan nyata pertamanya. Inggris memasuki Perang Dunia I pada tanggal 4 Agustus 1914. Pada tanggal 6 September ketika terbang selama Pertempuran Marne yang pertama di Perancis, Lewis melihat jarak 50 km di garis musuh. Ia dengan segera mengirim pesan nirkabel untuk melaporkan apa yang dilihat dan pasukan Inggris-Perancis langsung momentum dari informasi itu.

Pesawat telepon udara hasil pengembangan dari insinyur Marconi yang bertugas di British Royal Flying Corps. Foto: Science Museum/SSPL/Getty Images

Ini adalah pertama kalinya pesan nirkabel yang dikirim dari pesawat Inggris diterima dan ditindaklanjuti. Komandan tentara Inggris pun mendorong penggunaan teknologi nirkabel yang lebih luas dan menuntut lebih banyak peralatan serta pelatihan untuk kedua pilot dan dukungan darat.

Sejak saat itu, RFC, yang terbentuk pada tahun 1912 di bawah Kapten Herbert Musgrave, tumbuh dengan cepat. Awalnya, Musgrave ditugaskan menyelidiki daftar penyelidikan aktivitas terkait perang, seperti balon udara, layang-layang, fotografi, meteorologi, bom, senapan, dan komunikasi. Ia pun memutuskan untuk fokus pada yang terakhir, komunikasi. Pada awal perang, RFC mengambil alih Stasiun Marconi Eksperimental di Brooklands Aerodrome di Surrey, barat daya London.

Pada Oktober 1914, Inggris telah mengembangkan peta dengan referensi grid, yang berarti bahwa hanya dengan beberapa huruf dan angka, seperti “A5 B3,” seseorang dapat menunjukkan arah dan jarak. Bahkan dengan penyederhanaan itu, bagaimanapun, menggunakan radiotelegraphy masih rumit.

Kemudian, pada musim semi 1915, Charles Edmond Prince dari Perancis dikirim ke Brooklands untuk memimpin pengembangan sistem suara dua arah untuk pesawat. Pria keturunan aristokrat Perancis tersebut sebelumnya telah bekerja sebagai insinyur untuk Perusahaan Marconi sejak tahun 1907 bersama beberapa rekannya yang banyak di antaranya juga berasal dari Marconi. Dengan cepat, ia pun segera menjalankan sistem udara ke darat.

Sistem Prince sama sekali tidak seperti ponsel modern, atau bahkan tidak seperti telepon pada saat itu. Meskipun pilot dapat berbicara dengan stasiun darat, operator darat hanya dapat menjawab dalam kode Morse. Butuh satu tahun lagi untuk mengembangkan telepon nirkabel dari darat-ke-udara dan mesin-ke-mesin.

Baca juga: Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007

Selama musim panas 1915, kelompok ilmuan Prince berhasil menguji komunikasi suara udara-ke-darat pertama menggunakan pemancar radio telepon pesawat. Tak lama kemudian, Kapten J.M. Furnival, salah satu asisten Prince, mendirikan Sekolah Pelatihan Nirkabel di Brooklands. Setiap minggu 36 pilot pesawat tempur melewati untuk mempelajari cara menggunakan peralatan nirkabel dan seni artikulasi yang tepat di udara. Sekolah juga melatih petugas cara merawat peralatan.

Pada akhir perang, Prince dan timnya telah mencapai transmisi suara nirkabel dari udara-ke-darat, darat-ke-udara, dan mesin-ke-mesin. Royal Air Force pun kala itu telah melengkapi 600 pesawat dengan radio suara gelombang kontinu dan menyiapkan 1.000 stasiun darat dengan 18.000 operator nirkabel. Ini sepertinya contoh yang jelas tentang bagaimana teknologi militer mendorong inovasi selama masa perang.