Antisipasi Covid-19, Semua Awak Kabin di Taiwan Dilengkapi APD

Maskapai dunia saat ini tengah terpuruk karena banyak rute penerbangan yang di tutup karena Covid-19 yang tengah merebak. Tak hanya itu, pelancong-pelancong pun membatalkan tiket penerbangan mereka demi pencegahan diri sendiri agar tidak terinfeksi.

Baca juga: Virus Corona Merebak, Awak Kabin Cari Perlindungan

Meski terpuruk, tetapi sepertinya Taiwan cukup berhasil dalam memerangi dampak terburuk krisis dan ancaman terhadap industri penerbangan saat ini. Bahkan semua maskapai Taiwan seperti Eva Air, China Airlines dan beberapa lainnya akan dibagikan alat pelindung diri (APD).

APD tersebut dibagikan oleh Pusat Komando Epidemi Sentral Taiwan atau Taiwan Centers for Desease Control (CECC). Peralatan yang dibagikan seperti masker bedah, kacamata, pakaian pelindung dan sarung tangan yang juga merupakan alat yang sama diberikan kepada tenaga medis. Bisa dikatakan kehadiran peralatan ini menjadi peningkatan besar-besaran dari hanya awalnya yang menggunakan masker saja.

KabarPenumpang.com melansir laman simpleflying.com (30/3/2020), kehadiran APD ini sendiri karena Menteri Kesehatan Cheng Shih-Chung merupakan kepala dari CECC di Taiwan. Selain menghadirkan APD, CECC juga tengah mempertimbangkan mandat undang-undang dan peraturan baru untuk memastikan bahwa penumpang tidak membahayakan awak kabin.

Hal ini mungkin termasuk memberi tahu staf jika mereka memiliki kondisi demam, duduk terpisah atau mencegah batuk pada orang lain. Sejauh ini satu-satunya aturan yang berlaku untuk maskapai Taiwan adalah bahwa penumpang dapat membawa botol desinfektan dan APD mereka sendiri, tetapi mereka tidak dapat mengganti kursi di pesawat tanpa izin dari awak pesawat.

Selain dengan APD, pemerintah Taiwan juga mengatakan agar awak pesawat yang baru kembali dari penerbangan jarak jauh atau luar negeri diharapkan untuk mengisolasi diri selama lima hari. Hal ini dilakukan jika ada yang terinfeksi tidak akan menularkannya pada orang lain.

Selain awak pesawat komersial, awak pesawat kargo yang mengantar barajng ke dan dari luar negeri pun harus mengisolasi diri mereka hanya saja waktunya lebih singkat yakni tiga hari. Bisa dikatakan, waktu isolasi diri para awak pesawat ini lebih pendek dari aturan yang diterapkan pada penumpang, yang perlu mengisolasi diri selama 14 hari ketika tiba di Taiwan.

Baca juga: Penumpang Terpapar Virus dalam Penerbangan, Vietjet Tawarkan Asuransi ‘”Sky Covid Care”

Untuk diketahui, Taiwan saat ini tidak mengizinkan pelancong untuk berkunjung dan telah menutup bandaranya untuk transit penumpang. Mereka juga membatasi yang tiba di Taiwan seperti warga negara dan yang memiliki hak untuk tinggal di sana.

Apakah dengan kehadiran APD yang akan digunakan awak pesawat ini membuat mereka terlindungi?

Setelah 18 Bulan ‘Tidur’, Pesawat Terbesar di Dunia Antonov An-225 Kembali Mengudara

Belum lama ini, situs FlightRadar24.com mencatat adanya pergerakan Antonov An-225 setelah 18 bulan atau sejak Oktober 2018 silam pesawat mulai menjalani program pemeliharaan dan peningkatan besar atau moderniasasi. Pihak perusahaan tidak menjelaskan secara detail apa saja komponen yang dimodernisasi pada pesawat dengan kemampuan angkut sebesar 250 ton tersebut.

Baca juga: Oleg Konstantinovich Antonov – Sosok Legendaris di Balik Nama Besar “The Mammoth” An-225

Meski demikian, diketahui, pesawat yang merupakan kombinasi dari desain jadul dan inovasi modern, mencakup sistem kontrol fly-by-wire dan hidraulik triple-redundan, serta memiliki roda pendarat utama yang berjumlah 32 roda tersebut telah menerima sistem avionik yang lebih baik dan setidaknya satu mesin baru dari pemasok Ivchenko-Progress. Hal itu tentu membawa angin segar bagi para pecinta aviasi untuk tetap melihat burung besi terbesar sejagat tersebut tetap terus mengudara dengan beberapa peningkatan tersebut.

Dilansir popularmechanics.com, pada penerbangan Rabu lalu waktu setempat itu, Antonov An-225 tercatat mengudara selama dua jam di atas pedesaan Kiev, Ukraina sebelum akhirnya kembali ke Antonov Aiport (GML). Lapangan terbang ini dimiliki oleh perusahaan dan berfungsi sebagai riset and development atau R&D utama dan pusat uji terbang untuk tugas berat pesawat kargo tersebut.

Sebelum muncul kembali di Kiev, Ukraina, para pecinta aviasi memang kerap menunggu momen mengudaranya Antonov An-225. Sebab, pada umumnya, Antonov tidak mempublikasikan jadwal penerbangannya akibat jarang terbang. Selain harus terbang dengan muatan penuh atau setidaknya 70 persen dari kapasitas, pesawat raksasa itu jarang mengangkasa juga lantaran biaya operasionalnya sangat mahal sehingga membuat peminat sangat sedikit.

Untuk sekali terbang selama satu jam, penggunanya harus merogoh kocek sekitar $30.000 atau hampir Rp492 juta per jam, tak terlalu berbanding jauh dengan pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 yang menghabiskan setidaknya $28 ribu atau Rp464 juta per jam. Bahkan, sepanjang 2016, pesawat berjuluk ‘Mriya’ (‘Mimpi’ dalam bahasa Indonesia), hanya mengudara selama tiga bulan dalam dua misi penerbangan. Sembilan bulan sisanya, ‘Mriya’ tidur dan bermimpi.

Tetapi, meski demikian, secara rutin, pesawat tersebut memang kerap muncul di tempat-tempat yang jauh seperti Afrika Barat, sudut terpencil Amerika Selatan, atau Pedalaman Australia — di samping tujuan yang lebih akrab seperti di Eropa, Timur Tengah, dan Asia; termasuk juga ke AS.

Baca juga: Bicara Dimensi dan Bobot, Lima Pesawat Ini Masih Juara

Pesawat Antonov An-225 awalnya dirancang sebagai pengangkut pesawat ulang-alik Buran milik Uni Soviet. Setelah Uni Soviet bubar, An-225 terpaksa mencari misi lainnya sebagai pesawat kargo, kata Alexander Galunenko, orang pertama yang menerbangkan An-225.

An-225 pertama kali mengudara pada 21 Desember 1988. Pesawat berbobot terbang maksimum (MTOW) 640.000 kg, dengan enam mesin jet, dan memiliki panjang sayap 290 kaki atau setara dengan 88 meter ini diawaki oleh enam orang.
.

Awak Kabin ‘Ancam’ Semprot Lysol ke Bokong Penumpang yang Batuk

Ada banyak cara menghibur penumpang sebelum penerbangan dimulai. Kurang dari dua pekan lalu, seorang pramugari Southwest Airlines menjadi perbicangan di media sosial lantaran aksi uniknya menaruh sebuah benda di lantai sebelum pesawat lepas landas. Alhasil, setelah bagian moncong pesawat berada pada posisi lebih tinggi dibanding ekor pesawat, perlahan sebuah benda plastik berwarna merah tersebut meluncur ke belakang, menuju lokasi pramugari tersebut berada.

Baca juga: Pramugari Hibur Penumpang dengan Cara Unik Di Tengah Penerbangan yang Nyaris Kosong

Di Indonesia sendiri, awak kabin salah satu maskapai juga kerap menghibur melalui berbagai pantun-pantun unik, lucu, dan fresh yang sangat menghibur, baik sebelum maupun saat pesawat hendak turun landas.

Senada dengan kedua cara unik awak kabin untuk menghibur penumpang, belum lama ini, sebuah penerbangan dari Florida ke Connecticut, Amerika Serikat (AS) ramai diperbincangkan di media sosial Instagram lantaran sebuah jokes receh dari awak kabin. Bedanya, pada penerbangan itu, awak kabin memulai jokes tersebut berkenaan langsung dengan pandemi virus corona yang tengah meningkat tajam di Negeri Paman Sam.

Dikutip dari dailymail.co.uk, awak kabin dari maskapai yang tak disebutkan tersebut sebetulnya hanya memperingatkan penumpang bahwa mereka akan disemprot dengan Lysol, deterjen yang disebut-sebut memiliki senyawa ampuh dalam membunuh virus corona, jika mereka batuk atau bersin selama penerbangan.

Dalam video yang dibagikan oleh pengguna Instagram Zion Setal melalui Barstool Sports, rekaman ponsel menangkap momen ketika awak kabin berbicara kepada penumpang tepat sebelum pesawat mulai lepas landas. Sambil memegang sekaleng Lysol Disinfectant Spray, pria itu bercanda memperingatkan orang-orang terhadap penyebaran Covid-19.

“Aku memberitahumu sekarang. Jika aku melihatmu batuk (atau) bersin, aku akan menyemprot pantatmu. Aku tidak main-main,” kata awak kabin yang tidak disebutkan namanya tersebut. Sontak, peringatan dari awak kabin, lengkap dengan brewok yang menambah kesan maskulin tersebut, justru disambut dengan tawa oleh sebagian besar penumpang yang mendengarkan ocehannya itu.

Betapa tidak, sekalipun ia menyebut bahwa dirinya tak main-main dan benar-benar akan menyemprot Lysol Disinfectant Spray ke bokong pelanggan saat tertangkap basah batuk atau bersin, sebagai representatif dari gejala seseorang terpapar corona, tapi ekspresi wajah memang tak pernah bohong. Belum lagi ditambah dengan nada bicara dan gesture tubuhnya yang tampaknya lebih terkesan ingin membuat sebuah jokes halus.

Baca juga: Pramugari EasyJet Bikin Tubuh Penumpang Melepuh Akibat Ketumpahan Mie

Setal sendiri mengatakan bahwa awak kabin menggunakan cara unik membuat sedikit humor untuk menghibur penumpang yang gugup dalam penerbangan tersebut selama wabah corona mengintai. Bahkan, Setal menyebut awak kabin tersebut membuat lelucon nyaris sepanjang waktu dan membuat semua orang merasa lebih nyaman.

Hingga kini, video tersebut telah ditonton lebih dari 3 juta orang dari seluruh dunia. Aksi awak kabin tersebut yang beredar luas di media sosial tentu sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis penumpang. Pasalnya, saat ini, Presiden AS, Donald Trump memang telah memperingatkan warganya bahwa penerbangan manapun, entah domestik apalagi internasional, sangat rentan terpapar virus corona. Hal itu kemudian juga diikuti dengan tingginya kasus Covid-19 di AS yang sudah mencapai 163.429 kasus pada Selasa ini, dimana, menurut Johns Hopkins University, 3.008 orang di antaranya telah dinyatakan meninggal dunia.

Inilah Beragam Fitur Canggih di Airbus A350 “Regierungsflieger” Angela Merkel

Pesawat A340 yang membawa Kanselir Jerman Angela Merkel dilaporkan harus melakukan pendaratan darurat pada tahun 2018. Tentu saja hal tersebut menjadi catatan buruk perjalanan dinas salah seorang pejabat tertinggi Jerman. Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Jerman pun akhirnya memesan tiga buah pesawat A350 yang satu di antaranya dikabarkan tak lama lagi akan segera tiba.

Baca juga: Gantikan Airbus 340, Pemerintah Jerman Bakal Gunakan A350 Sebagai Pesawat Kenegaraan

Dikutip dari thepointsguy.co.uk, Airbus A350-900 pesanan Jerman dikabarkan baru saja menyelesaikan uji terbang keempat dari fasilitas Airbus di Toulouse, Perancis. Diperkirakan, bila tak ada kendala apapun, dalam waktu dekat satu pesawat akan dikirim. Adapun dua pesawat lainnya dijadwalkan pada 2022 mendatang, mengingat kondisi sejumlah pembatasan kerja di berbagai suplai chain Airbus akibat pandemi corona.

Menurut Aerotime Hub, pemerintah Jerman diperkirakan merogoh kocek sebesar $1,3 miliar atau sekitar Rp21 triliun untuk tiga buah pesawat A350-900. Hal itu termasuk beberapa modifikasi untuk menyesuaikan spesifikasi sebagai sebuah pesawat angkut VIP setingkat kepala negara.

Sebagai sebuah negara besar, pesawat dinas setingkat kepala negara Jerman sudah barang tentu harus dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih. Pasalnya, bila tidak dilengkapi dengan teknologi canggih, bukan tak mungkin, pesawat dapat dengan mudah dirudal oleh para teroris kelas kakap. Terlebih, perjalanan dinas Angela Merkel yang mencapai 50-an setiap tahunnya semakin menambah kerentanan pesawat bila tidak dilengkapi dengan sistem keamanan pendukung.

Kantor berita Aerotelegraph melaporkan, setidaknya, pesawat dari keluarga A350 XWB (Extra Wide Body) dengan kemampuan terbang jarak jauh atau Ultra Long Range (ULR) tersebut telah disisipi dua fitur pertahanan, seperti sistem pertahanan rudal atau CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System) yang mampu menahan rudal dari udara-ke-udara dan dari darat-ke-udara serta peralatan radio militer dengan dilengkapi kombinasi pesan rahasia yang terenkripsi untuk berkomunikasi di udara.

Dua sistem pertahanan tersebut dinilai sangat cocok untuk saling melengkapi satu sama lain. Sebab, bila hanya mengandalkan pada salah satu dari dua sistem pertahanan tersebut, perjalanan dinas kepala negara belum sepenuhnya aman. Misalnya, sekalipun pesawat dilengkapi dengan sistem anti rudal dari udara-ke-udara ataupun dari darat-ke-udara, umumnya sistem tersebut hanya mampu menangkal dua atau tiga kali serangan. Selebihnya, pesawat telah kehabisan amunisi untuk melakukan penghalauan.

Oleh karenanya, dengan adanya peralatan radio militer terenkripsi, ketika pesawat mendapat serangan pertama, pilot dapat langsung menghubungi pusat komando angkatan udara Jerman ataupun negara yang bersekutu dengan Jerman agar segera mengirimkan bantuan militer. Dengan begitu, ketika serangan kembali datang, bantuan militer dapat membantu menangkalnya, sebelum sistem pertahan udara pesawat kehabisan amunisi.

Di antara sekian banyak pesawat dinas kepala negara atau setingkat kepala negara di dunia, tercatat hanya beberapa pesawat yang dilengkapi dengan fitur tersebut, seperti pesawat kepresidenan AS, Perancis, Inggris, dan Rusia. Mungkin pesawat kepresidenan negara lainnya memiliki fitur serupa. Hanya saja, mereka memilih untuk merahasiakan fitur-fitur tersebut.

Selain itu, pihak Lufthansa Technik, yang dipercaya untuk mengubah konfigurasi pesawat, juga telah membocorkan bahwa kelak pesawat ini akan dilengkapi dengan ruang kantor untuk melakukan beberapa lobi-lobi politik, area konferensi yang luas, lounge multifungsi, hingga sejumlah tempat duduk super nyaman yang dapat digunakan oleh para delegasi ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan moda ini.

Baca juga: Macron dan Angela Merkel Gelar ‘Rapat’ Bahas Masa Depan Airbus di Kabin A350

Kendati pihak Lufthansa Technik tidak membocorkan secara detail tentang kapasitas angkut dari pesawat ini, namun mereka hanya memberikan gambaran kasar bahwa pesawat ini mampu memboyong 150 tamu sekaligus.

Layaknya pesawat kepresidenan AS yang lebih dikenal dengan Air Force One, pesawat Kanselir Jerman juga demikian. Pesawat tersebut disinyalir akan diberinama sebagai “Regierungsflieger” atau Government Aviator atau Penerbangan Pemerintah dalam bahasa Indonesia.

Mengapa Orang Pilih Timbun Tisu Toilet Ketimbang yang Lain? Ini Dia Jawabannya

Mengapa semua orang tiba-tiba mencari tisu, khususnya tisu toilet? Pertanyaan tersebut mungkin banyak terdengar di sana sini. Tentu saja dengan didasari berbagai fenomena dimana supermarket manapun di banyak negara di dunia, dilaporkan hampir kehilangan stok tisu toilet yang mereka punya. Hal itu karena masyarakat ramai-ramai memborong tisu untuk jangka panjang. Di Australia, seorang wanita bahkan sampai menyetok tisu toilet hingga kebutuhan 12 tahun mendatang. Luar biasa bukan?

Baca juga: Marak Virus Corona, Wanita di Australia ini Timbun Tisu Toilet untuk Stok 12 Tahun!

Peneliti psikologi konsumen, Kit Yarrow, mengatakan bahwa sebetulnya hal tersebut adalah naluriah atau wajar mengingat masyarakat dihadapi dengan pemberitaan massif mengenai berbagai ketidakpastian akibat satu atau beberapa hal, dalam hal ini akibat pandemi virus corona. Terkhusus bagi sebagian besar masyarakat di Eropa, Amerika Serikat dan Australia, pun masih sangat bergantung pada gulungan tisu toilet untuk cebok selepas buang air besar. Dan inilah yang menjadi dasar begitu dicarinya tisu toilet di tengah pendemi corona, yakni ada rasa ketakutan bilamana tisu toilet langka di pasaran.

Di samping itu, secara psikologis, panic buying masyarakat untuk membeli tisu toilet bukanlah hal baru. Di musim dingin, saat badai salju mengintai masyarakat, misalnya, berbagai kebutuhan pokok, seperti roti, telur, dan susu juga kerap diborong habis. Namun, untuk panic buying saat ini, Kit Yarrow beranggapan bahwa masyarakat lebih disebabkan tidak bisa mengontrol keadaan di luar. Oleh karenanya, masyarakat lebih memilih untuk mengontrol apapun yang mereka bisa kontrol, semacam pelarian. Salah satunya memborong tisu toilet.

“Dan karena kita tidak bisa benar-benar mengendalikan jejak penyakit ini, kita beralih ke apa yang bisa kita kontrol, dan itulah sebabnya orang berbelanja. Itu seperti, ‘well, aku merasa seperti sedang melakukan sesuatu, aku merasa seperti aku’ Saya sedang bersiap-siap. Saya merasa seperti mengendalikan hal yang dapat saya kendalikan, yang sedang menumpuk,” katanya.

“Beberapa orang yang melakukan penimbunan, mereka bukan orang jahat dan mereka bukan orang yang egois. Mereka hanya orang-orang yang takut, dan saya pikir jika mereka memikirkan hubungan mereka dengan orang lain dan tanggung jawab mereka kepada masyarakat , mereka mungkin tidak akan melakukannya,” tambahnya, seperti dikutip laman arstechnica.com.

Selain itu, peneliti yang sudah hampir 30 tahun bergelut di bidang psikologi konsumen tersebut juga tidak begitu yakin kalau masyarakat benar-benar mencari tisu toilet sebagai kebutuhan pertama. Namun, saat berada di supermarket, dalam perjalanan ke supermarket, atau saat di rumah dengan melihat di televisi, beberapa orang terlihat sedang memborong tisu, alhasil beberapa masyarakat pun ikut melakukannnya. Terus seperti itu hingga seluruh masyarakat benar-benar tertarik untuk ikut memborong tisu.

Baca juga: Tisu Toilet di Stasiun Tokyo ‘Ingatkan’ Penumpang untuk Tak Gunakan Ponsel Ketika Berjalan

Sebab, di saat ketidakpastian tengah mendera masyarakat, seperti sekarang ini, mereka cenderung melihat apa yang orang lain lakukan. Dalam psikologi, hal itu disebut ilusi optik. Sayangnya hal yang masyarakat lihat kebanyakan terkait dengan toilet. Padahal, bukan tidak mungkin barang-barang lainnya juga ikut diborong habis jika ilusi optik yang tercipta bukan pada tisu toilet melainkan pada barang lainnya.

Oleh karenanya, Kit Yarrow, yang juga menulis buku tentang pola pembelian konsumen terhadap suatu barang tersebut, menyarankan agar masyarakat mencari ‘pelarian’ lain untuk memuaskan kontrol terhadap diri mereka sendiri. Seperti menghubungi orang lain, berjalan-jalan di taman, dan mencari aktivitas lainnya yang memungkinkan terjadinya banyak interaksi, ketimbang mencari kontrol atas diri sendiri dengan berbelanja.

Dokter Spesialis Infeksi: Risiko Terinfeksi Corona di Transportasi Umum Sangat Kecil

Di tengah meningkatnya ke khawatiran tentang penyebaran cepat virus corona di Kanada, pejabat kesehatan masyarakat memperkuat pentingnya kebersihan terutama bagi pengguna angkutan umum yang sering. Bahkan banyak berita menakutkan yang sudah tersebar di mana penumpang angkutan umum yang dites positif virus corona masih bepergian.

Baca juga: Ternyata, Kebiasaan Meludah di Angkutan Umum Sudah Ada Sejak Masa Kolonial Belanda

KabarPenumpang.com merangkum dari globalnews.ca (9/3/2020), Dr. Isaac Bogoch, spesialis penyakit menular dari University of Toronto dan University Health Network mengatakan bahwa transportasi umum itu aman dan ini adalah gambaran besarnya. Namun, ruang publik seperti kereta, bus dan stasiun transit adalah tempat di mana orang berkumpul dalam jumlah besar, yang berpotensi meningkatkan transmisi.

“Kami tahu bagaimana itu ditransmisikan. Kami tahu bahwa itu dapat menempel pada permukaan untuk jangka waktu tertentu, meskipun kami tidak sepenuhnya yakin berapa lama hal itu dapat bertahan di permukaan,” kata Bogoch.

Dia mengatakan, risikonya masih sangat kecil untuk terinfeksi pada transportasi umum. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan virus ini bukan SARS, MERS atau influenza.

“Covid-19 ini menyebar kurang efisien daripada flu dan penularannya tampak tidak didorong oleh orang yang tidak sakit,” kata Tedros.

Dia mengatakan, jumlah saat ini terus berubah dan perkiraan terbaik adalah bahwa setiap orang terinfeksi rata-rata menginfeksi dua dan empat lainnya. Bisa dikatakan ini lebih sedikit dibandingkan dengan influenza dan jauh lebih sedikit dari campak di mana setiap kasus dapat menginfeksi rata-rata 18 orang lainnya.

“Seperti semua virus pernapasan lainnya dan coronavirus, coronavirus ini disebarkan melalui transmisi tetesan. Apa artinya itu adalah bahwa ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, mereka mengeluarkan tetesan air kecil yang mengandung virus ke jarak sekitar enam kaki jauhnya, kata Dr. Alon Vaisman, seorang dokter pengendalian infeksi dan penyakit menular di Toronto Health University Network.

Tetesan dari virus ini cukup berat, sehingga tidak dapat bertahan di udara selama lebih dari beberapa menit hingga jatuh ke benda apapun yang ada dibawahnya. Namun ketika tetesan virus tersebut terkena selaput lendir seperti mata dan mulut, ini adalah penularan tercepat virus.

Sehingga untuk membuat risiko penyebaran pada angkutan umum bahkan lebih kecil daripada yang sudah ada, Bogoch merekomendasikan agar pengguna berlatih kebersihan tangan yang sempurna. Ini berarti jika Anda akan menyentuh permukaan kontak tinggi pastikan untuk menggunakan pembersih tangan alkohol atau mencuci tangan sesudahnya, dan berhati-hati untuk tidak menyentuh wajah Anda sekarang.

Ini juga dapat membantu memperlambat penyebaran virus corona dan kuman lain untuk mempraktekkan apa yang disebut Bogoch sebagai etika batuk.

“Jangan batuk langsung ke tanganmu tapi tahanlah dengan siku,” kata Bogoch.

Saat ini beberapa agen transit Kanada diam-diam mengambil langkah-langkah untuk melindungi pelanggan terhadap virus corona. Mereka mengatakan telah meningkatkan upaya untuk membersihkan kendaraan dan stasiun dan beralih ke pembersih anti-mikroba yang lebih agresif sebagai tindakan pencegahan.

Juru bicara Metrolinx Anne Marie Aikins mengatakan semprotan desinfektan yang tahan lama diuji pada salah satu kereta GO Transitnya baru-baru ini, dan sedang diluncurkan ke seluruh jaringan setelah seorang pasien yang dites positif COVID-19 menggunakan salah satu kendaraannya untuk melakukan perjalanan pulang dari Bandara. Aikins mengatakan produk tersebut lebih banyak menargetkan bakteri dan jamur daripada virus, tetapi perusahaan melihatnya sebagai tindakan pencegahan yang masuk akal.

“Kami pikir itu hanya kewajiban kami untuk melakukan apa pun yang kami bisa untuk melindungi staf kami dan pelanggan kami,” katanya.

Aikins mengatakan, kehadiran penumpang yang terinfeksi bukanlah hal yang tak terduga dan dapat terjadi lagi ketika wabah itu sedang terjadi, tetapi perusahaan tersebut siap. Selain itu dia menyebutkan, bus tempat pasien melakukan perjalanan juga telah diambil dari layanan untuk dekontaminasi menyeluruh.

Semua kendaraan dan terminal lainnya mengalami pembersihan yang lebih teratur, katanya, menambahkan pembersih tangan juga dibuat lebih banyak tersedia untuk penumpang. Langkah serupa diambil di Toronto Transit Commission (TTC), kata juru bicara Stuart Green. Pagar dan titik kontak reguler lainnya di stasiun TTC dibersihkan setiap hari, bukan mingguan.

Stuart mengatakan rencana aksi TTC didasarkan pada saran dari Toronto Public Health, yang bersama dengan agensi yang sebanding di seluruh negeri, telah menggambarkan risiko tertular virus ini sangat rendah.

“Saat ini, mereka memberi tahu kami bahwa apa yang kami lakukan baik-baik saja,” katanya, “jadi kami merasa nyaman bahwa kami melakukan semua yang perlu kami lakukan sekarang.”

Badan-badan transit di Montreal dan Vancouver mengatakan bahwa mereka juga mengambil isyarat dari pejabat kesehatan masyarakat, yang telah lama menyatakan bahwa tindakan individu seperti mencuci tangan secara teratur, menutupi batuk dan bersin dan tinggal di rumah jika sakit, menawarkan perlindungan paling efektif dari virus.

Baca juga: Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan

“Layanan Kesehatan Provinsi mengatakan risiko kepada publik dan staf tetap rendah dan belum mengarahkan kami untuk melakukan perubahan operasional saat ini. Kami bekerja sama dengan Otoritas Layanan Kesehatan Provinsi untuk memantau situasi ini,” kata TransLink Vancouver.

Societe de Transport de Montreal mengatakan mendesak penumpang dan staf untuk mematuhi protokol kebersihan yang direkomendasikan, tetapi tidak memberikan rincian lainnya.

Selain Punya “Lifeline Express,” Indian Railways Sulap Gerbong Kereta Jadi Ruang Isolasi Pasien Covid-19

Indian Railways bukan hanya memiliki Lifeline Express sebagai rumah sakit ‘berjalan’ untuk mengunjungi seluruh pelosok India. Saat ini ditengah merebaknya Covid-19, Indian Railways kemudian mengubah gerbong keretanya menjadi bangsal isolasi.

Baca juga: LIfeline Express India, Kereta “Rumah Sakit” Pertama di Dunia

Menteri Kereta Api Piyush Goyal menyatakan di akun Twitter-nya, “Bersiap untuk memerangi virus corona: Dalam sebuah inisiatif baru, Railways telah mengubah gerbong kereta menjadi ruang isolasi untuk pasien Covid-19. Sekarang, Railways akan menawarkan lingkungan yang bersih dan higienis bagi pasien untuk dapat pulih dengan nyaman.”

Kehadiran ruang isolasi di gerbong kereta ini karena Indian Railways telah menghentikan pengoperasian penumpang hingga 14 April 2020 mendatang. Saat ini bahkan hanya kereta barang yang beroperasi 24 jam untuk memastikan pasokan komoditas penting seperti biji-bijian makanan, susu, buah-buahan, sayuran, gula, minyak nabati dan produk-produk minyak bumi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theweek.in (28/3/2020), kepala humas kereta api utara, Deepak Kumar mengatakan, setelah pembersihan sepuluh gerbong kereta api perminggu akan dikonversi menjadi bangsal isolasi untuk pasien Covid-19 oleh setiap zona kereta api. Seorang pejabat kereta api mengatakan bahwa fasilitas karantina akan digunakan untuk mereka yantg menunjukkan gejala infeksi atau memiliki riwayat perjalanan dari negara yang terinfeksi.

“Untuk membangun prototipe kabin, isolasi untuk pasien, tempat tidur tengah telah dihilangkan dari satu sisi gerbong. Sedangkan tiga tempat tidur di hilangkan dari depan tempat tidur pasien,” ujar pejabat tersebut.

Tak hanya itu, tangga untuk naik ke tempat tidur atas juga sudah dihilangkan. Area lorong dan area lainnya juga dimodifikasi untuk mempersiapkan gerbong isolasi.

“Ada dua toilet di setiap gerbong telah dikonversi menjadi kamar mandi dengan lantai yang sudah disesuaikan dan fasilitas shower tangan sudah diatur,” jelas Kumar.

Dia menambahkan bahwa ada ‘penyumbatan’ pada bagian bawah kompartemen oleh kayu lapis, penyediaan partisi papan regreg dari sisi lorong untuk isolasi kompartemen, dan penyediaan 220 V-elect point di setiap kompartemen untuk instrumen medis bersama dengan tirai udara di setiap kompartemen telah dirancang.

Baca juga: India Punya Lifeline Express, Kereta “Rumah Sakit” Untuk Masyarakat Kurang Mampu

“Ada sepuluh ruang isolasi di setiap gerbong. Gerbong disanitasi dengan baik sebelum dan setelah pelaksanaan pekerjaan. Perusahaan Kereta api siap untuk membuat gerbong seperti ini setelah menerima izin,” lanjut Kumar.

Hadapi Karantina Wilayah, Ini 8 Hal yang Bisa Anda Lakukan Bersama Anak di Rumah

Pandemi virus corona yang menyebar dengan cepat memaksa banyak negara di dunia melakukan pembatasan perjalanan atau karantina wilayah. Masyarakat dihimbau untuk tak banyak beraktivitas di luar rumah, bahkan di beberapa negara masyarakat ‘dipaksa’ untuk tetap di rumah, bukan sekedar himbauan belaka.

Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Akan tetapi, tetap di rumah tanpa diimbangi dengan aktivitas yang bermanfaat atau paling tidak menghibur, mungkin tidak terlalu baik secara psikologis. Profesor Psikologi dan Pakar Parenting di University of Melbourne, Prof Lea Waters AM mengatakan, isolasi diri setidaknya dapat menggangu tiga komponen penting terkait kesehatan mental. Mulai dari rasa otonomi (kebebasan), keterkaitan (rasa saling terhubung dengan orang lain), dan kompetensi (perasaan efektif).

Baik anak-anak maupun orang dewasa, keduanya sama-sama berpeluang untuk mengalami ketergangguan mental (sebagaimana disebutkan di atas) akibat jenuh di rumah. Namun, untuk menangkal rasa jenuh terus-menerus di rumah, Prof Lea Waters mempunyai kiat-kiat khusus untuk menanganinya. Dilansir dari theguardian.com, berikut delapan hal positif yang bisa mengisi waktu luang Anda saat work from home (WFH).

1. Menyusun Kontrak Keluarga
“Saya akan menyarankan pada awalnya keluarga duduk dan menyusun kontrak keluarga,” kata Waters. Maksudnya, ayah atau ibu mungkin bisa mengajak anak untuk berdiskusi ringan, sesuai dengan wawasan anak, apa yang menjadi tantangan terbesar selama di rumah dan apa kelebihan masing-masing untuk saling membantu satu sama lain selama proses karantina atau lockdown. Dengan begitu, selain terciptanya komunikasi, solusi juga muncul setelah diskusi tersebut.

2. Jujur
Penting bagi orangtua untuk mendengarkan dan berempati dengan kondisi anak-anak. Kata para ahli, berbicara jujur tentang situasi terkini dengan menyesuaikan usia anak dan memasukkannya ke dalam konteks adalah penting. Selain itu, bila anak-anak sudah tahu mengenai situasi yang sedang terjadi (pandemi Covid-19), orangtua harus bisa menenangkan dan menyerap rasa takut anak agar mereka kembali mendapatkan kontrol atas diri mereka. Misalnya, terhadap kebersihan pribadi.

3. Ajak Anak untuk Tetap Beraktivitas Seperti Biasa
Mempertahankan rutinitas sangat penting untuk mencegah anak-anak dan orang dewasa menjadi ‘gila’. Bagi anak-anak, pada umumnya, sekolah tetap memberikan berbagai tugas untuk anak-anak mereka. Oleh karenanya, penting bagi para orangtua untuk tetap mendorong anak mengerjakan tugas-tugas sebagaimana biasanya. Namun, jangan memaksa semuanya berjalan normal, sebab, situasi dan tempatnya pun berbeda, harus tetap disesuaikan dengan keadaan.

Misalnya, saat anak-anak telah bosan melakukan rutinitas, barulah ajak mereka untuk melakukan hal lain, seperti membantu membuat kue, mengeja, belajar bahasa asing, kelas dansa, berhitung, atau menonton tayangan yang mendidik, dengan tetap terus didampingi orangtua.

4. Tetap Bergerak
Tetap aktif secara fisik tentu menjadi salah satu hal penting yang harus tetap dilakukan sekalipun terus-menerus berada di dalam rumah. Dr Carly Johnco, seorang psikolog klinis di Universitas Macquarie Sydney, mengatakan, “Frustrasi dan kebosanan dapat muncul ketika anak-anak tidak mendapatkan kesempatan untuk aktif secara fisik.”

Oleh karenanya, penting untuk membuat anak-anak tetap bergerak. Caranya beragam. Bisa dengan ide-ide latihan yang kreatif, seperti menyiapkan rintangan atau games edukatif di halaman belakang, serta beberapa latihan mikro, seperti melompat-lompat, berlari menaiki tangga, atau bermain bola basket dan sepak bola.

5. Selesaikan Semua Pekerjaan
Merasa seolah-olah segala sesuatu telah dicapai selama masa isolasi akan menjadi penting bagi anak-anak dan orangtua. Itu bisa termasuk bekerja dari rumah, tugas sekolah atau memfokuskan kegiatan pada tugas-tugas, perbaikan atau tugas yang sudah lama dihindari atau tertunda. Selain itu, Waters menyarankan agar anak-anak didorong untuk membuat semacam“jurnal corona”, di mana mereka dapat mendokumentasikan seluruh pengalaman mereka. Bila dapat dimaksimalkan, mungkin hal itu akan menjadi salah satu aktivitas paling berwarna untuk mengisi kekosongan.

6. Saling Memberi Ruang
Saling memberi ruang, mungkin adalah perkara sulit bagi keluarga yang terbiasa dengan individualistis. Namun, bukan berarti tak bisa dilakukan. Mula-mula, cobalah untuk mulai memikirkan hal-hal yang bisa dilakukan secara individu dan bisa dilakukan secara bersama-sama atau keluarga. Selain itu, tak ada salahnya untuk menyulap rumah menjadi ruang-ruang khusus, seperti zona bermain, zona dongeng, menonton, dan sebagainya.

7. Tetap Terhubung
Komponen penting lainnya dari menjaga kondisi mental agar tetap baik adalah perasaan terhubung dengan orang lain. Kali ini, teknologi adalah penopang utamanya. Menghubungkan dan meluangkan waktu untuk teman-teman di media sosial atau melalui telepon akan sangat penting bagi orang dewasa. Selain itu, memastikan keberadaan kerabat atau orang terdekat di luar keluarga inti dalam keadaan baik-baik saja mungkin juga menjadi obat penawar untuk membuat hati menjadi lebih plong, utamanya di tengah pandemi corona seperti sekarang ini.

8. Belajar dari Pengalaman
Travis Diener, seorang pemain bola basket profesional, yang tinggal di Cremona, tepatnya di Lombardy, Italia, yang notabene masuk dalam zona merah Covid-19, mengatakan anak-anaknya sangat hebat selama masa isolasi seperti saat ini.

Baca juga: Jenuh Saat “Work From Home,” Atasi Kebosanan dengan Cari Ini!

Selain itu mereka juga telah menerima rutinitas baru. Hal itu tak lepas dari didikan para guru yang mendidik mereka untuk melakukan sesuatu yang positif bahkan dalam kondisi tak normal sekalipun. Oleh karenanya, ia sangat menikmati momen anak untuk bergelut dengan pengalamannya yang dalam tahap tertentu pun telah memberinya perspektif baru juga.

“Saya mendapatkan lebih banyak rasa hormat untuk guru dan kesabaran mereka, karena sulit untuk mengajar anak-anak. Itu baik untuk saya juga. Itu membantu saya untuk menjadi orangtua yang lebih baik,” ujarnya.

Akibat Virus Corona, Peringatan Tragedi MH370 Dilakukan Via Streaming

Virus corona telah mengakibatkan terganggunya sejumlah acara. Tak terkecuali dengan acara peringatan tragedi hilangnya pesawat MH370. Untuk pertama kalinya, sejak pesawat nahas tersebut hilang enam tahun lalu, ratusan keluarga korban akhirnya terpaksa harus membatalkan pertemuan peringatan tahunan di Kuala Lumpur, akibat pembatasan perjalanan di tengah pandemi Covid-19.

Baca juga: Para Ahli Kembali Temukan Titik Lokasi Pencaraian Terbaru Malaysia Airlines MH370!

Sebagai gantinya, para keluarga korban kemudian melakukan peringatan tragedi tersebut via streaming. Sebelum dan sesudah streaming, para keluarga korban, khususnya dari Cina, terlebih dahulu menampilkan berbagai tulisan yang pada intinya mendorong sejumlah pihak untuk tetap terus melanjutkan proses pencarian.

Pasalnya, sejak Juni 2018 silam, proses pencarian telah resmi dihentikan. Pemerintah Malaysia pun juga telah memberikan penekanan, bahwa proses pencarian akan kembali dilanjutkan bila terdapat petunjuk-petunjuk baru yang lebih kuat. Maka dari itu, tak heran, sekalipun para keluarga korban tidak bisa saling bertemu, mereka tetap menyuarakan segala keinginan mereka lewat video tersebut. Salah satu penggagas utama terbentuknya peringatan (hilangnya pesawat MH370) secara online tersebut adalah Jiang Hui.

“8 Maret adalah hari yang penuh dengan ambivalensi. Di satu sisi, ini berfungsi sebagai kesempatan untuk mengekspresikan perasaan kami sambil menarik perhatian, tetapi di sisi lain, kami khawatir itu akan merobek luka semua orang lagi,” kata Jiang, yang ibunya menjadi salah satu penumpang pesawat nahas tersebut, seperti dikutip dari Global Times.

“Kadang-kadang kita berkumpul untuk menghibur satu sama lain, tetapi ketakutan kita yang paling dalam secara bertahap dilupakan,” lanjutnya.

Menariknya, para keluarga korban (di Cina) yang umumnya adalah lansia harus berjuang ekstra keras untuk turut berpartisipasi dalam prosesi tersebut. Sekalipun memang terdengar lebih mudah karena tak perlu repot-repot datang ke Malaysia, nyatanya mereka sempat mengalami kesulitan, khususnya terkait cara menggunakan media sosial serta teknik pembuatan film atau video serta penyuntingannya. Bahkan, saking sulitnya, beberapa dari manula tersebut menyerah dan hanya mengirimkan dukungan lewat rekaman suara saja.

Li Eryou, yang kehilangan putra satu-satunya dalam kecelakaan itu, mengubah dirinya dari semula hanya seorang petani pedesaan yang tidak pernah mengakses jaringan online menjadi pengguna media sosial yang mahir layaknya kaum urban. Bahkan, ia diketahui telah memposting ratusan puisi peringatan (hilangnya pesawat MH370) untuk putranya di Weibo, platform media sosial serupa dengan Twitter di Cina.

Selain aktif di Weibo, ia juga turut berpartisipasi lewat video. Dalam videonya kirimannya, Li meminta pihak berwenang Malaysia untuk merekrut organisasi internasional untuk melanjutkan upaya pencarian atas dasar “no-find, no-fee”.

“Saya menaruh harapan pada pemerintah Malaysia yang baru terpilih yang saya yakini mampu menunjukkan tanggung jawab mereka, untuk memberikan cinta, kasih sayang, kehormatan, dan keberanian kepada semua anggota keluarga yang tidak akan pernah menyerah pada orang yang mereka cintai,” kata Li.

Baca juga: Insinyur Aeronautika Sebut Kapten MH370 Sematkan Kode di Foto Keluarga

Meskipun berjuang untuk bertahan hidup dengan tunjangan subsisten pemerintah bulanan sebesar 300 yuan (Rp700 ribu), Li telah menolak untuk menandatangani perjanjian dengan Malaysia Airlines yang akan memberinya kompensasi hampir 2 juta yuan atau Rp4,6 miliar.

Manula berusia 64 tahun ini bahkan harus bekerja hingga larut malam selama tiga bulan terakhir untuk mendapatkan uang yang cukup agar bisa mendatangi pertemuan peringatan tragedi hilangnya pesawat MH370 di Malaysia. Meskipun pada akhirnya pertemuan tersebut batal dilakukan akibat wabah corona.

“PeduliLindungi,” Andalkan Bluetooth untuk Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19

Di musim wabah corona seperti, salah satu yang paling mencemaskan adalah saat kita berada di transportasi umum. Meski sudah ada social distancing, tetap saja ada rasa kekhawatiran yang tinggi lantaran ada potensi tertular virus tersebut. Buat sebagian orang, masih sulit untuk menghindari transportasi umum. Lantas yang jadi pertanyaan, bagaimana para pengguna transportasi umum dapat lebih aman dan tahu apakah orang disekitaran adalah ODP (Orang Dalam Pantauan) atau PDP (Pasien Dalam Pantauan)?

Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona

Untuk menjawab hal tersebut, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) yang bekerja sama dengan Kemeterian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) belum lama ini meluncurkan aplikasi PeduliLindungi. Ini adalah aplikasi yang dihadirkan sebagai salah satu upaya untuk meredam wabah Covid-19 di Indonesia.

Sebelumnya aplikasi PeduliLindungi masih berbentuk file instalasi APK dan kini sudah tersedia di Google Play Store atau melalui situs pedulilindungi.id. Setelah terunduh, cara kerjanya pun cukup mudah, karena menggunakan partisipasi masyarakat untuk saling membagikan data lokasi saat bepergian agar penelusuran kontak dengan penderita Covid-19 bisa dilakukan.

Dari keterangan di Google Play Store, PeduliLindungi menggunakan Bluetooth pengguna untuk merekam informasi yang dibutuhkan. Sehingga nantinya akan ada pertukaran data ketika ada gadget lain dalam radius Bluetooth yang juga terdaftar di PeduliLindungi.

“Saat dua Bluetooth bertemu maka akan mengindentifikasi orang-orang yang pernah berada dalam jarak dekat dengan orang yang dinyatakan positif Covid-19 atau PDP maupun ODP,” tulis pengembang aplikasi tersebut di Play Store. Namun penggunaan Bluetooth juga menjadi problem tersendiri, karena hambatan konektivitas antar perangkat.

Pada dasarnya, rancangan aplikasi ini membantu seseorang yang tidak dapat mengingat riwayat perjalanan dan dengan siapa saja dia melakukan kontak. Kemudian pengguna akan dihubungi petugas kesehatan jika Anda pernah berada dalam jarak tertentu dengan penderita, PDP atau ODP Covid-19.

KabarPenumpang.com mencoba mengunduh untuk mencoba aplikasi ini. Ketika sudah terunduh, aplikasi akan meminta data seperti nama dan nomor telepon yang akan digunakan. Aplikasi tersebut kemudian akan mengirimkan OTP atau nomor rahasia untuk dikonfirmasi bahwa nomor ponsel tersebut adalah milik Anda.

Baca juga: Deretan Teknologi ini Berhasil Digunakan Cina untuk Melawan Virus Corona

Setelah itu aplikasi akan masuk ke laman utama dan agar aplikasi dapat terus berfungsi, maka Bluetooth tetap akan hidup. Karena Bluetooth tetap hidup, maka pengguna bisa mengakses Low Power Mode atau Batteray Saver untuk mengaktifkan Low Power Mode agar baterai tidak cepat habis.