‘Impor’ Maskapai Asing untuk Turunkan Harga Tiket, Ini Kemungkinan Terburuknya!
Di penghujung bulan Suci Ramadhan 2019, sejumlah pemudik yang hendak pulang kampung sempat dibuat senewen lantaran harga tiket pesawat yang mengalami lonjakan cukup tinggi. Karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah harga minyak bumi yang sedang tinggi-tingginya, akhirnya para pemudik lebih memilih untuk tetap tinggal di Ibu kota atau bahkan menempuh jalur darat dan berbagai alternatif lainnya.
Menanggapi harga tiket pesawat yang sedang berada di puncak ini, Presiden Joko Widodo sempat mengutarakan wacana untuk ‘mengimpor’ maskapai asing untuk membuka rute domestik di dalam negeri. Hal ini ditujukan untuk mereduksi mahalnya harga tiket pesawat tersebut.
Baca Juga: Layakkah Full-Service Carrier Layani Penumpang dengan Standar LCC?
Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa pihaknya akan mempelajari lebih lanjut mengenai ide dari RI 01 ini.
“Ya ide Pak Presiden bagus sekali, kita akan mempelajari. Insya Allah itu bisa dilaksanakan,” ujar Menteri Budi, dikutip dari laman kompas.com (1/6/2019).
Kendati sependapat dengan ide Presiden Joko Widodo, namun Menteri Budi mengatakan maskapai asing yang ingin masuk dalam pasar dalam negeri harus memiliki kantor yang beroperasi di Indonesia. Selain itu, 51 persen saham dari perusahaan yang di bangun di Indonesia harus dimiliki oleh negara.
“Tentunya (perizinan operator penerbangan asing di dalam negeri) memperhatikan akses cabotage bahwa perusahaan asing itu harus memiliki perusahaan di sini di mana dimiliki oleh Indonesia 51 persen. Terus mengikuti syarat syarat yg lain,” lanjutnya.
Adapun syarat lain yang dimaksud Menteri Budi adalah perihal asas cabotage (rute domestik harus dilayani maskapai nasional) yang berlaku untuk layanan transportasi udara.
Alih-alih akan menghadirkan cibiran dari sejumlah kelompok terkait idenya ini, Presiden Joko Widodo pada dasarnya ingin memperkaya kompetisi pemain maskapai yang selama ini dikuasai oleh dua grup raksasa di sektor aviasi lokal, Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group.
Dengan hadirnya kompetitor asing, maka lambat laun persoalan tingginya tarif akan dapat dientaskan. Ya, seperti yang sudah diketahui sejak lama, polemik tentang tingginya harga tiket pesawat ini memang sudah kadung menjalar sejak dulu kala.
Senada dengan Menteri Budi, Ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Rosan Roeslani pun menyambut baik rencana tersebut.
“Negara manapun bisa, kita tidak memandang maskapai negara mana yang masuk, yang penting semuanya membawa asas manfaat ke kita,” ujar Rosan dikutip dari laman sumber terpisah.
Nampaknya tujuan dari Presiden Joko Widodo ini mampu ditangkap dengan baik oleh Rosan, “Ada kompetisi yang sehat, bukan untuk ditakuti. Jadi bisa lebih baik dan efisien,” jelas dia.
Namun pendapat berbeda disampaikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa dengan masuknya maskapai asing ke Indonesia tidak akan banyak berpengaruh terhadap harga tiket, karena pada dasarnya biaya operasional yang mesti dikeluarkan oleh pihak maskapai relatif sama.
“Jadi saya kira maskapai asing pun tentu sama saja cost-nya. Cost airlines itu pesawat, avtur, pemeliharaan, ongkos personel, semua hampir sama semuanya. Mau maskapai dari mana sama,” pungkasnya.
Baca Juga: Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet!
Jika ditelisik lebih mendalam lagi, hadirnya maskapai asing ke dalam ranah aviasi domestik tidak menutup kemungkinan untuk ‘membunuh’ sejumlah maskapai lokal yang tidak mampu bersaing. Hal ini diutarakan oleh Direktur Utama Sriwijaya Air Joseph Adrian Saul yang menilai hadirnya maskapai asing mampu mengubah iklim pasar saat ini.
“Yang saya khawatirkan (dari masuknya maskapai asing untuk melayani rute penerbangan domestik) adalah bisa merusak pasar penerbangan domestik yang kemudian setelah itu ditinggalkan,” terang Joseph.
Wings Air Buka Penerbangan Tanjung Karang-Krui dan Tanjung Pinang-Letung Anambas
LRT Jakarta Uji Coba Publik 11 Juni 2019
Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia
Namun, stasiun ini sudah non aktif atau tidak beroperasi sama sekali. Karena stasiun ini hanya tersisa puing-puing dan beberpa bagiannya sudah terkubur oleh tanah.
Stasiun Semarang Tawang
Stasiun yang memiliki kode SMT ini diresmikan sejak 19 Juli 1868. Ini adalah stasiun induk di Tanjung Mas, Semarang Utara, Kota Semarang. Awalnya Stasiun ini hanya beroperasi hingga Stasiun Tanggung dan diperpanjang hingga ke Solo dan Lempuyangan pada 1973. Di stasiun ini, hanya kereta eksekutif dan bisnis yang beroperasi. Untuk kereta ekonomi hanya akan melintas saja di stasiun ini tanpa berhenti dan masih aktif hingga kini.
Stasiun Lempuyangan
Stasiun kedua teramai di Yogyakarta ini masih terus beroperasi hingga kini sejak didirikan 2 Maret 1872 silam. Stasiun Lempuyangan saat ini melayani semua rute kereta ekonomi.
Stasiun Ambarawa
Stasiun Ambarawa saat ini hanya melayani kereta wisata saja, stasiun ini sudah tidak aktif melayani perjalanan kereta ekonomi, bisnis maupun eksekutif. Kereta wisata yang beroperasi yakni Ambarawa-Bedono pp, Ambarawa-Tuntang pp dan lori Ambarawa-Tuntang pp. Tak hanya itu, stasiun Ambarawa saat ini juga dijadikan museum, bila anda berkunjung ke stasiun ini akan menemukan lokomotif tua yang terpajang di dalamnya. Stasiun yang dibangun sejak 21 Mei 1973 dan dulunya bernama Stasiun Willem I, karena yang memerintahkan untuk membangun adalah Raja Willem I untuk mengangkut pasukan tentaranya ke Semarang.
Stasiun Kedungjati
Stasiun yang memiliki arsitektur sama dengan Stasiun Ambarawa ini diresmikan 21 Mei 1873. Dulunya, stasiun ini beroperasi juga meniju stasiun Ambarawa dan mulai berhenti melayani rute stasiun Ambarawa sejak 1976 tepat tidak beroperasinya Stasiun Ambarawa. Setealh 66 tahun kemudian yakni tahun 1907, bangunan Stasiun Kedungjati yang awalnya dari kayu di ubah ke bangunan bata dengan peron berkonstruksi baja dan atap dari seng.
Stasiun Solo Balapan
Stasiun ini dirancang oleh arsitek bernama Herman Thomas Karsten yang memiliki aliran Indish. Pada pembangunannya di tahun 1863, pada peletakan batu pertama dimeriahkan dengan upara dan dihadiri oleh Mangkunegara IV serta Gubernur Jenderal Hindia Belanda Baron van de Beele. Pembangunan stasiun Solo Balapan ini selesai dan diresmikan tahun 1873 hingga kini masih beroperasi.
Stasiun Purwosari
Stasiun yang dibangun sejak 1875 ini merupakan stasiun tertua di Surakarta. Pembangunan stasiun ini juga ditangani oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij. Stasiun ini melayani kereta ekonomi local maupun komuter.
Stasiun Surabaya Kota
Stasiunini popular dengan nama stasiun semut, diresmikan sejak 16 mei 1878. Awalnya tujuan pembangunan stasiun ini untuk mengangkut hasil perkebunan di pedalama daerah Jawa Timur khususnya Malang menuju Pelabuhan Tanjung Perak. Namun, lama kelamaan sejak 11 November 1911, stasiun ini mengalamai perubahan dan diperluas hingga seperti sekarang.
Stasiun Malang Kotalama
Stasiu keretra api kelas 1 ini merupakan stasiun kereta api paling selatan di kota Malang sekaligus yang tertua. Dibangun sejak 1879, nama stasiun ini awalnya hanya Stasiun Malang dan ditambah Kotalama agar dibedakan dengan Stasiun Malang dan juga karena usia bangunannya.
Stasiun Ijo
Stasiun yang dibangun sejak 1880 ini bukan hanya sebagai perlintas kereta melainkan sebagai pengontrol terowongan jalur rel. Hal ini dibangun untuk menembus perbukitan kapur Gunung Malang. Stasiun ini juga jarang disinggahi oleh kereta api kecuali mengalami persilangan atau persusulan dengan kereta api lainnya.

Salah satu kartu yang banyak digunakan adalah e-toll atau e-money yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri. Selain hanya bisa mengisi saldo hingga Rp1 juta saja, pengisiannya pun banyak yang berpikir hanya melalui minimarket, mesin ATM, gate Tol isi ulang ataupun smartphone yang sudah di dukung NFC atau pembaca kartu uang elektronik.
Tetapi hal ini ternyata bisa di lakukan oleh pemilik kartu e-money yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri dengan mengunduh aplikasi Mandiri Online di smartphone Android atau iOS. Caranya pun mudah, hanya tinggal memasukkan nomor kartu e-money ke pilihan di aplikasi pengisian e-money, masukkan nominal yang akan diisikan ke kartunya.
Bila ponsel pintar pemudik dilengkapi dengan NFC, maka untuk mengecek saldo, kartu tersebut hanya di tempelkan pada bagian belakang ponsel. Tetapi jika ponsel tidak dilengkapi NFC, pengguna bisa menempelkan kartu di ATM Bank Mandiri atau mini market.
Baca juga: