Lawan Opik, Grab Indonesia Luncurkan “Grab Defense”
Belum lama ini GoJek sudah menghadirkan perangkat kecerdasan buatan untuk menangkal orderan dari akun-akun palsu. Kali ini saingannya, yakni Grab menghadirkan teknologi deteksi dan pencegahan kecurangan terbaru untuk para mitra melalui serangkaian solusi Grab Defence. Kehadiran Grab Defense sendiri bagi para mitra bisa memanfaatkan kemampuan data Grab dalam mengurangi tindak kecurangan untuk memperkuat ekosistem teknolohgi dan arus transaksi.
Baca juga: Hadapi Order Fiktif dan GPS Palsu, GoJek Ambil Tindakan Preventif dengan Kecerdasan Buatan
Dirangkum KabarPenumpang.com dari siaran pers, Rabu (13/3//2019), pihak Grab mengatakan, tindakan kecurangan ini sendiri bisa menghancurkan kepercayaan pengguna, penyedia layanan dan platform. Grab Defence sendiri merupakan bagian dari strategi GrabPlatform dimana membantu mitra mengintegrasikan layanan mereka. Kehadirannya sendiri di Indonesia akan ada pada kuartal kedua dan diluncurkan keseluruh dunia akhir tahun 2019.
“Setiap hari machine learning kami menganalisis jutaan data secara real-time untuk mendeteksi pola kecurangan, baik yang telah ada maupun yang baru. Melalui peluncuran Grab Defence, kami ingin berbagi keahlian yang kami miliki dengan para mitra yang mungkin menghadapi masalah yang sama. Kita harus bahu-membahu mengatasi masalah ini demi tercapainya ekosistem teknologi yang lebih kuat dan terpercaya di Asia Tenggara,” ujar Wui Ngiap Foo, Head of User Trust at Grab.
President of Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata, mengatakan, di Indonesia, pihaknya telah melihat bagaiman sindikat kejahatan mendapatkan keuntungan secara ilegal dengan menggunakan aplikasi GPS palsu atau yang sudah dimodifikasi serta metode lainnya untuk mencuri intensif hasil kerja keras mitra pengemudi dan menciptakan pengalaman buruk dari pengguna platform Grab.
“Kami telah meluncurkan kampanye Grab Lawan Opik (Orderan Piktip) tahun lalu di Indonesia untuk memerangi order fiktif dan mencanangkan Grab FairPlay yang mendorong mitra pengemudi kami untuk melaporkan tindak kecurangan yang terjadi dalam ekosistem Grab. Kami juga bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menangkap puluhan orang yang terbukti melakukan kecurangan di platform kami. Kami bangga dengan apa yang telah dan berbagai upaya yang tengah kami lakukan untuk mengurangi tingkat kecurangan di platform kami. Kami senang dapat menghadirkan layanan Grab Defence bagi para mitra strategis kami demi menciptakan perkembangan ekosistem teknologi yang sehat di Indonesia,” jelas Ridzki.
Layanan Grab Defence terdiri dari tiga fitur utama dan masing-masing fitur dapat berfungsi secara terpisah yakni Event Risk Management Suite, ini merupakan paket komprehensif yang akan memungkinkan pelaku bisnis untuk menilai risiko dari suatu peristiwa atau transaksi. Terdiri dari serangkaian API untuk mengevaluasi risiko yang didukung oleh machine learning yang dapat digunakan kalangan pebisnis untuk memprediksi risiko secara real-time, menetapkan sejumlah tolok ukur kecurangan (Rules Engine) sesuai dengan model bisnis dan kebutuhan, perangkat investigasi dan analisis perilaku untuk menyelidiki perilaku-perilaku mencurigakan sekaligus meningkatkan kebijakan dan aturan.
Entity Intelligence Services, layanan ini menggunakan database Grab serta keahlian dalam mengidentifikasi berbagai jenis entitas pelaku kejahatan (seperti nomor telepon, alamat e-mail, dan lain-lain) untuk memprediksi potensi risiko kepada semua pengguna yang berinteraksi dengan platform tersebut. Sebagai contoh, pelaku bisnis dapat menggunakan layanan ini untuk mendapat informasi nilai risiko dari pengguna baru. Jika angka prediksi risikonya rendah, mereka bisa memilih untuk mengizinkan pengguna masuk ke aplikasi tanpa harus melalui sejumlah langkah tambahan, atau menawarkan promo atau insentif tertentu.
Terakhir adalah Device & Network Intelligence Services, layanan ini bisa mendeteksi pelaku kejahatan dengan menggunakan data dari perangkat pengguna. Manfaat lainnya adalah layanan ini bisa membantu pelaku bisnis menjaga diri mereka dari pembuatan akun palsu akibat perangkat yang berpindah tangan, dan bahkan mendeteksi jika aplikasi mereka telah terdampak serangan siber.
Layanan Grab Defence bekerja berdasarkan grafik informasi risiko dan kecurangan Grab. Miliaran transaksi terjadi setiap tahunnya dalam berbagai vertikal di bawah platform Grab. Transaksi yang terjadi ini memberi gambaran dan pemahaman lebih baik bagi Grab mengenai pelaku kejahatan di Asia Tenggara, dan bagaimana tindak kecurangan bekerja.
Baca juga: Grab Hadirkan Beberapa Fitur Baru di Aplikasi, Termasuk Raih Poin Bila Order Dibatalkan Pengemudi
“Setiap bisnis yang melakukan transaksi online akan diuntungkan dengan adanya Grab Defence. Teknologi unik yang kami bangun, berikut grafik informasi yang kami miliki, dapat menjadi tambahan berharga meskipun telah ada sistem anti-fraud/anti kecurangan sebelumnya. Kita semua memiliki peran penting dalam menurunkan tingkat kecurangan di Asia Tenggara. Kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak akan membantu kita mencapai hal tersebut lebih cepat,” ungkap Wui Ngiap Foo.
Langkahi FAA, Trump Putuskan Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8 di Amerika Serikat
Dalam beberapa jam terakhir FAA (Federal Aviation Administration) masih mempertahankan argumen bahwa tidak diperlukan temporary grounded pada armada Boeing 737 MAX 8 yang beroperasi di Amerika Serikat. Sementara hampir di seantero dunia, regulator penerbangan beberapa telah memberlakukan grounded sampai larangan terbang pada pesawat twin jet narrow body tersebut. Namun keputusan berbeda telah diambil oleh Donald Trump, dimana sang presiden AS telah menetapkan pada 13 Maret 2019 bahwa Boeing 737 MAX telah di temporary grounded.
Baca Juga: Terdampak Kecelakaan Ethiopia Airlines, Siapa Saja yang Melarang Pengoperasian Boeing 737 MAX 8?
Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sebelumnya FAA telah mengumumkan bahwa pihaknya, “tidak menemukan masalah kinerja sistematik.” Namun, pernyataan dari FAA tadi tampaknya terbantahkan oleh laporan dari dua pilot penerbangan Amerika Serikat yang mengalami tilt down (menukik) ketika mengudara dengan menggunakan Boeing 737 MAX 8. Hal ini diduga terjadi karena adanya kesalahan pada sistem otomatis pesawat. Laporan dari kedua pilot itu bersifat sukarela dan tidak secara terbuka mengungkapkan nama-nama pilot tersebut, maskapai penerbangan atau lokasi insiden.
Keputusan Donald Trump ditempuh sesaat setelah Kanada juga memberlakukan kebijakan yang sama. Dengan kebijakan yang ditempuh Presiden Trump ini, maka menjadikan Amerika sebagai negara besar terakhir yang mengumumkan temporary grounded Boeing 737 MAX 8.
“Keselamatan rakyat Amerika dan semua orang adalah perhatian utama kami,” ujar Presiden Trump di Gedung Putih, dikutip dari laman nytimes.com (13/3/2019). Mengingat keputusan ini sudah diambil oleh Presiden Trump, maka FAA mau tidak mau harus mengikuti dan tunduk terhadap mandat Presiden tersebut.
Baca Juga: Imbas Kecelakaan Ethiopia Airlines, Pemerintah Malaysia Pertimbangkan Ulang Pembelian Boeing 737 MAX 8
Perlahan, sejumlah regulator aviasi di berbagai negara mulai menghentikan pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8. Hal ini ditempuh sebagai salah satu langkah preventif pasca kcelakaan Ethiopia Airlines ET302 yang jatuh di Addis Ababa, Minggu (10/3/2019) kemarin. Tercatat, ini merupakan kecelakaan kedua dalam rentang waktu lima bulan terakhir setelah sebelumnya Lion Air JT610 jatuh di Tanjung Karawang di penghujung tahun 2018 silam. Nah, baru-baru ini, Negara Adikuasa juga ikut melarang pengoperasian dari keluarga Boeing 737 MAX ini.
Ini Dia Daftar Maskapai yang Belum Hentikan Penggunaan Boeing 737 MAX 8
Sejumlah maskapai dari berbagai penjuru dunia sudah mulai ‘mengandangkan’ secara temporer armada Boeing 737 MAX 8 yang ada di dalam list armada mereka. Keputusan ini menyusul kecelakaan maut Ethiopia Airlines pada hari Minggu (10/3/2019) yang kebetulan menggunakan armada yang pertama kali diluncurkan dalam seri 737 MAX ini. Dalam kecelakaan yang merenggut ratusan nyawa baik penumpang maupun awak kabin ini, sejumlah regulator menghimbau kepada seluruh maskapai untuk tidak mengoperasikan armada Boeing 737 MAX 8 terlebih dahulu – hingga waktu yang belum bisa ditentukan.
Baca Juga: (berita maskapai yang ‘mengandangi’ Boeing 737 MAX 8)
Tapi sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumnya, ada sejumlah maskapai yang lalu ‘mengandangkan’ armada Boeing 737 MAX 8 sesaat setelah himbauan dari para regulator tersebut sampai ke pihak perusahaan – bahkan ada beberapa maskapai yang malah memberhentikan sementara pengoperasian dari keluarga Boeing 737 MAX. Namun ada juga maskapai yang tetap mengoperasikan narrow-body twin-engine jet airlines ini – seperti American Airlines, Southwest Airlines, United Airlines, hingga Flydubai.
Selain nama-nama maskapai yang sudah disebutkan pada artikel sebelumnya, berikut adalah nama maskapai yang juga menghentikan sementara pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8:
Hainan Airlines;
Kunming Airlines;
Norwegian Airlines;
Okay Airways;
Shandong Airlines;
Shanghai Airlines;
Shenzhen Airlines;
SilkAir;
SpiceJet; dan
Xiamen Airlines.
Sementara untuk maskapai-maskapai yang masih mempertahankan pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8, mereka memiliki ‘pembelaannya’ masing-masing. Sebut saja Air Italy yang mengatakan bahwa pihaknya masih dalam tahap komunikasi intens dengan para regulator. Lain cerita dengan American Airlines, melalui salah satu juru bicaranya mengatakan, “Kami percaya penuh pada pesawat (Boeing 737 MAX 8) … akan memonitor investigasi,”.
Baca Juga: Setelah Indonesia, Otoritas Penerbangan Singapura Resmi Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bbc.com, berikut adalah sejumlah maskapai yang juga menggunakan armada Boeing 737 MAX 8 – yang mungkin akan juga mengandangi armada tersebut:
Air Canada;
Aviation Capital Group;
Corendon Airlines;
Enter Air;
Gecas Travel Services;
Jet Airways;
Malindo Air;
Mauritania Airlines
Oman Air; (juga menggunakan pesawat tetapi tanggal pengiriman mereka belum dikonfirmasi oleh Boeing)
Sunwing Airlines; dan
Turkish Airlines.
Terdampak Kecelakaan Ethiopia Airlines, Siapa Saja yang Melarang Pengoperasian Boeing 737 MAX 8?
Belakangan ini, pemberitaan di sektor aviasi global tengah menyoroti masalah ditangguhkannya sejumlah armada Boeing 737 MAX 8 pasca dua kecelakaan mematikan dalam rentang waktu kurang dari enam bulan – Lion Air JT610 di Tanjung Karawang (29/10/2018) dan yang baru-baru ini terjadi adalah jatuhnya Ethiopia Airlines ET302 pada Minggu (10/3/2019), di Addis Ababa, tidak lama setelah lepas landas.
Baca Juga: Setelah Indonesia, Otoritas Penerbangan Singapura Resmi Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8
Berlandaskan dua insiden mematikan ini, ternyata cukup membuat sejumlah regulator dari berbagai negara untuk menghimbau kepada para maskapai untuk menghentikan sementara pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8. Memang, tidak ada kesamaan rinci antara kecelakaan yang melibatkan Lion Air atau Ethiopia Airlines, kedua kecelakaan ini juga sama-sama tengah diinvestigasi lebih lanjut. Namun sehubungan dengan adanya kesamaan pada jenis moda yang digunakan, ini cukup untuk dijadikan alasan di balik himbauan penghentian operasi dari Boeing 737 MAX 8.
Menurut data yang dimiliki oleh Federal Aviation Administration (FAA), terdapat sekitar 350 armada Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan oleh 54 operator penerbangan di seluruh dunia – termasuk Lion Air dan Garuda Indonesia.
KabarPenumpang.com mengutip dari laman cnn.com (12/3/2019), adapun sejumlah negara atau maskapai yang menghentikan pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8 adalah Ethiopia Airlines, Cina (China Airlines, China Eastern, dan China Southern), Indonesia (Lion Air dan Garuda Indonesia), Aeromexico, Aerolineas Argentinas, Cayman Airways, Comair Airways, Eastar Jet, TUI Airways, GOL Linhas Aéreas (Brazil), Malaysia, Jerman, dan Icelandair.
Seolah enggan berspekulasi, para maskapai dan sejumlah negara tersebut menghimbau untuk tidak mengoperasikan terlebih dahulu setiap armada Boeing 737 MAX 8 yang mereka miliki – mayoritas mengedepankan alasan keselamatan penumpang.
Baca Juga: Alvin Lie: Pemerintah Indonesia Sebaiknya Tidak Terbangkan Dulu Boeing 737 MAX 8
Jika ditelisik lebih dalam lagi, ternyata ada juga negara dan maskapai yang malah melarang pengoperasian dari keluarga Boeing 737 MAX – Singapura, Australia, Otoritas Penerbangan Sipil Inggris, Oman, Norwegian Airlines, Perancis, Irlandia, dan Turkish Airlines.
Kendati sudah banyak negara dan maskapai yang menghentikan sementara pengoperasian dari Boeing 737 MAX 8 – bahkan keluarga Boeing 737 MAX, namun masih saja ada maskapai yang mengoperasikan armada yang tengah ramai diperbincangkan ini. Sebut saja American Airlines, Southwest Airlines, United Airlines, Fiji Airways, Flydubai, dan WestJet.
Citilink Beri Promo “Beli 2 Gratis 1 Tiket” di Semua Rute
Terbayangkah bagi Anda para pelancong bisa beli dua tiket dan ternyata dapat gratis satu tiket lagi? Mungkin ini jarang terjadi dan sekalinya terjadi pun tidak setiap tahun atau setiap membeli tiket pesawat.
Baca juga: Punya Kinerja yang Menggiurkan, AirAsia Indonesia Berniat Akuisisi Citilink
Ya, baru-baru ini maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink baru saja memberika promo tiket pesawat menarik. Promo ini untuk ke semua rute, dimana setiap pembelian dua tiket akan gratis satu tiket lagi.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman website citilink.co.id, Rabu (13/3/2019), untuk mendapatkan promo ini pelancong bisa melihat syarat dan ketentuan berikut yang diberikan maskapai hijau untuk promo tersebut.
1. Tanggal pembelian dari 21 Februari hingga 21 Maret 2019
2. Tanggal penerbangan dari 21 Februari hingga 26 Mei 2019
3. Beli 2 tiket dan dapatkan 1 gratis tiket. Member harus melakukan pemesanan untuk tiga orang dalam satu kode booking, sehingga biaya yang harus dibayarkan hanya untuk dua orang.
4. Diskon 21 persen GreenZone dan PBM
5. Berlaku untuk pembelian Citilink melalui website resmi Citilink (member.citilink.co.id)
6. Berlaku untuk semua rute
7. Bonus 1000 Garudamiles untuk pendaftar pertama
Tak hanya itu, sebagai seorang member maskapai hijau, Citilink juga menawarkan promo Flexy Flight yang dihadirkan agar pelancong mendapat keuntungan lebih dengan diskon yang spesial dan fleksibilitas tiket penerbangan. Apa saja sih sebenarnya keuntungan dari Flexy Flight?
Member akan mendapatkan diskon tiket di semua rute, bebas mengganti jadwal penerbangan dan perubahan tersebut bisa dilakukan 48 jam atau dua hari setelah pembelian tiket. Extramiles dangan bonus 1000 miles untuk member.
Tak hanya itu, belum lama ini Citilink mengoperasikan pesawat ATR 72-600 untuk dua rute barunya yakni dari Lampung-Jakarta dan Bandung-Jakarta, dimana keduanya berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma. Pesawat ini mampu menampung 70 orang dan penerbangan ini akan beroperasi setiap hari.
VP Corporate Secretary & CSR Citilink Indonesia Resty Kusandarina mengatakan, pembukaan dua rute baru tersebut merupakan bagian dari komitmen Citilink untuk terus memperluas jaringan penerbangan di Indonesia, khususnya untuk meningkatkan konektivitas antarkota di Sumatera dan Jawa. Menurut Resty, rute baru ini akan memberikan lebih banyak opsi moda transportasi bagi masyarakat yang ingin menuju ke Bandung dan Lampung dengan lebih cepat dan efisien.
Baca juga: Citilink Gunakan ATR 72-600 untuk Rute Bandung dan Lampung
“Pengoperasian pesawat ATR 72-600 pada rute-rute Citilink merupakan bentuk diversifikasi armada Citilink Indonesia sehingga dapat terus melebarkan sayap di kota-kota seluruh penjuru Indonesia,” kata Resty.
Jelang Beroperasi Penuh, Sebenarnya Berapa Tarif Tiket MRT Jakarta?
Pada24 Maret mendatang uji coba publik MRT Jakarta akan berakhir, dan sejak itu layanan MRT pertama di Indonesia ini akan masuk masa komersialisasi, yaitu dengan penetapan tarif bagi penumpang. Meski 24 Maret tinggal beberapa hari lagi, namun tarif MRT belum juga ada kabar kepastian dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Padahal sebelumnya PT MRT Jakarta sudah mengajukan usul tarif per 10 kilometer sebesar Rp8500. Namun bagaimanakah tanggapan menteri keuangan dengan kisaran Rp8500-Rp10 ribu per sepuluh kilometernya?
Baca juga: Tunjang Integrasi MRT Jakarta, TransJakarta Buka 3 Rute Baru dari Dukuh Atas
Dikutip KabarPenumpang.com dari cnn.com (7/3/2019), menurut Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Indonesia, usulan tarif perjalanan MRT tersebut sebenarnya tak langsung bisa mengembalikan investasi total senilai Rp16 triliun yang sudah digelontorkan. Dia mengatakan nilai sebesar itu tidak akan kembali dalam bentuk tiket tetapi bisa dari sumber-sumber lainnya seperti kegiatan ekonomi yang muncul dengan kehadiran MRT.
“Kerja sama bisnis antara PT MRT Jakarta dengan perusahaan-perusahaan swasta yang menyewa ruang penjualan dan jasa iklan di stasiun. Selain itu, kegiatan ekonomi di sekitar stasiun MRT juga akan berkontribusi bagi ekonomi masyarakat sekitar hingga perekonomian Tanah Air. Tentu ini akan memperkuat investasi di infrastruktur dan berdampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Meski tidak bisa mengembalikan dana investasi yang sudah digelontorkan, setidaknya besaran tarif tiket masih sesuai dengan kemampuan daya beli dan kehadirannya tidak membebani pengeluaran masyarakat.
“Apakah ini kemahalan? Tentu kami lihat dari berbagai aspek. Dari keseluruhan itu, tentu dari sisi biaya dan waktu akan hemat, juga kenyamanan serta daya beli masyarakat masih comparable,” jelas Sri Mulyani.
Kendati belum ada keputusan final dari Gubernur DKI Jakarta, bila dengan usulan Rp10 ribu per sepuluh kilometer, maka asumsi subsidi yang akan ditanggung Pemerintah Provinsi DKI sekitar Rp21.659 per penumpang. Bila ditotal pertahunnya maka subsidi yang ditanggung sebesar Rp338 miliar untuk Rp10 ribu per sepuluh kilometer, tetapi untuk Rp8500 per sepuluh kilometer maka akan mencapai Rp365 miliar per tahunnya.
Bisa dikatakan tarif tiket MRT Indonesia Rp8500-Rp10 ribu akan lebih murah dibandingkan dengan MRT Singapura. Sebab di Singapura sekali perjalanan bisa menghabiskan dua hingga tiga dolar Singapura.
Baca juga: Stiker Jadi Tanda Penumpang Peserta Uji Coba MRT Jakarta, Awas Jangan Kelewatan Waktu
Tarif tiket MRT Jakarta selain sangat terjangkau, fasilitas yang diberikan pun hampir serupa dengan yang ada di Singapura. Tak hanya itu, jalurnya pun nantinya akan terintegrasi dengan berbagai moda transportasi umum lainnya seperti TransJakarta, KRL dan LRT.
Pintu Kereta Tidak Tertutup Saat Melaju, Kepala Stasiun MRT Diganjar Sanksi
Pernahkah Anda membayangkan jika kereta komuter yang Anda tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi, namun dengan pintu yang tidak tertutup. Nah, hal mengerikan ini bukan hanya sekedar khayalan semata, karena baru-baru ini sebuah kereta MRT di Singapura (SMRT) melaju dengan kondisi pintu yang terbuka. Kejadian ini sontak menjadi bahan pembicaraan setelah sebuah rekaman singkat menampilkan kejadian yang mengancam keselamatan para penumpang ini.
Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Layanan, MRT Singapura Gandeng McLaren Gunakan Teknologi Formula 1
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (12/3/2019), kejadian ini terjadi pada Senin (11/3/2019) petang, di North-South Line MRT Singapura. Menurut informasi yang beredar, pintu kereta ini terbuka ketika kereta bergerak dari Stasiun Ang Mo Kio menuju Stasiun Yio Chu Kang.
Ketika dikonfirmasi ke pihak SMRT selaku operator, mereka membenarkan kejadian ini dan, “kejadian sendiri terjadi sekira pukul 19.30 (waktu setempat),”
Dikabarkan, kepala stasiun berada di dalam rangkaian kereta guna menangani kesalahan yang sudah dibuatnya, yaitu mengijinkan kereta berangkat dari Stasiun Ang Mo Kio dengan kondisi pintu yang tidak tertutup.
“Setelah ia melakukan kesalahan tersebut, ia langsung menghimbau kepada para penumpang untuk menjauhi daerah pintu yang terbuka dan berpegangan pada tiang yang ada di dalam rangkaian kereta,” ujar vice-president corporate communication SMRT, Margaret Teo.
“Kereta lalu berhenti setelah kurang lebih mengular sejauh 200 meter dari Stasiun Ang Mo Kio dan kembali menuju stasiun tersebut,” tandasnya.
Sebagai bentuk sanksi terhadap kepala stasiun yang sudah lalai dalam menjalankan tugasnya, ia langsung ditangguhkan dari SMRT guna memberikan efek jera.
Baca Juga: Antisipasi Serangan Teroris, Stasiun MRT Singapura Akan Dilengkapi Pemindai X-Ray
Ternyata insiden semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi – di tahun 2016 silam, salah satu pintu dari rangkaian SMRT terbuka ketika tengah melakukan perjalanan dari Bukit Panjang menuju Senja. Dampak dari insiden ini sendiri adalah gangguan layanan selama hampir ima jam lamanya.
Di India, Penumpang Pesawat Tak Kena Pinalti Jika Batalkan Tiket 24 Jam Setelah Pembelian
Membeli tiket pesawat dan tiba-tiba membatalkannya karena satu dan lainnya biasa terjadi pada setiap penumpang. Karena hal ini, penumpang yang melakukan pembatalan bisa mendapatkan uang mereka kembali tetapi dengan potongan sebnayak 25 persen dari harga tiket.
Baca juga: Beberapa Mitos Seputar Hak Calon Penumpang Pesawat
Baru-baru ini, KabarPenumpang.com melansir dari laman timesofindia.indiatimes.com (11/3/2019), ada aturan baru dimana ketika melakukan pembatalan, penumpang yang membeli tiket uangnya akan dikembalikan secara utuh alias tanpa potongan. Menurut pedoman dan norma yang direvisi oleh Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (DGCA), penumpang pesawat dapat membatalkan tiket mereka tanpa dikenakan biaya atau penalti pembatalan asalkan dalam waktu 24 jam sejak tiket tersebut di pesan.
Dari kebijakan baru tersebut tidak akan berlaku jika tiket dipesan kurang dari tujuh hari sebelum tanggal keberangkatan yang dijadwalkan. Jika pembatalan dilakukan diantara tanggal pemesanan dan keberangkatan kurang dari semiggu, maskapai berhak memungut biaya pembatalan secara sah.
Penumpang selalu mengeluhkan bila saat melakukan pembatalan dikenakan INR5 ribu yang setara dengan Rp1,1 juta atau lebih yang dibebankan maskapai jika tiket dibatalkan setelah atau beberapa jam setelah pemesanan. Kebijakan baru mengatakan, maskapai penerbangan bisa melakukan pinalti pada penumpang dari pembatalan penerbangan minimal dua minggu sebelum tanggal atau waktu keberangkatan yang di jadwalkan.
Bahkan bisa membuat persiapan untuk penerbangan alternatif atau menawarkan pengembalian uang kepada penumpang. Tetapi jika maskapai menginformasukan kepada penumpang kurang dari dua minggu sebelum dan hingga 24 jam sebelum tanggal keberangkatan yang dijadwalkan, maskapai menawarkan pengembalian uang atau mengatur penerbangan alternatif untuk kenyamanan penumpang.
Kebijakan tersebut yang sudah direvisi menyatakan jika penumpang tidak diberi tahu ada perubahan dan tertinggal penerbangan, maskapai bertanggung jawab untuk menawarkan penerbangan alternatif maupun pengembalian uang sesuai dengan aturan berlaku seperti berikut ini. INR5 ribu atau tarif dasar sekali jalan ditambah biaya bahan bakar maskapai, mana yang lebih rendah untuk maskapai yang memiliki waktu rata-rata maksimum satu jam.
Baca juga: Bagi Yang Kerap Ketinggalan Pesawat, Maskapai Ini Punya Solusi Untuk Anda
INR7500 atau tarif dasar sekali jalan dan biaya bahan bakar maskapai, mana yang lebih sedikit untuk maskapai yang memiliki waktu rata-rata lebih dari satu jam atau maksimum dua jam. INR10 ribu atau tarif dasar sekali jalan dan biaya bahan bakar maskapai, mana yang kurang dari maskapai memiliki waktu rata-rata lebih dari dua jam.
Stiker Jadi Tanda Penumpang Peserta Uji Coba MRT Jakarta, Awas Jangan Kelewatan Waktu
Untuk mengatur dan memonitor lalu lintas penumpang dalam periode uji coba publik, PT MRT Jakarta menyiapkan empat warna stiker yang diberikan kepada penumpang berdasarkan waktu kedatangan mereka ke stasiun yang dituju. Apa sih sebenaranya kegunaan stiker-stiker itu selain untuk memberitahukan waktu kedatangan mereka?
Baca juga: H-1 Uji Coba Gratis MRT Jakarta, Tinggal Tersisa Kuota untuk 104.391 Orang!
Ternyata stiker ini hanya bisa digunakan selama dua jam untuk satu penumpang. Sehingga penumpang yang menggunakan stiker dan melebihi waktu yang ditentukan, maka penumpang tak dapat kembali menggunakan kereta MRT Jakarta.
“Misalnya penumpang yang menggunakan stiker warna hijau punya waktu dua jam dari jam 12.00 sampai 14.00. Kalau penumpang keluar dari stasiun MRT, terus mau naik lagi tapi sudah jam 15.00 berarti sudah tak lagi bisa menggunakan stiker itu,” ujar salah seorang volunteer kepada KabarPenumpang.com, Selasa (12/3/2019).
Stiker ini sendiri digunakan sebagai pengganti tiket masuk MRT selama masa uji coba. Namun nantinya bila sudah dikenakan tarif, maka tidak lagi diberlakukan stiker dan penumpang MRT Jakarta akan memulai menggunakan kartu yang di tapping di gate masuk stasiun.
Diketahui, penumpang yang sudah mendaftar melalui website resmi MRT Jakarta, harus menunjukkan QR Code kepada petugas stasiun dan akan mendapatkan stiker yang disesuaikan waktu kedatangan. Warna merah untuk pukul 08.00 hingga 10.00 pagi, warna biru pukul 10.00 pagi hingga 12.00 siang.
Sedangkan untuk warna kuning pukul 12.00-14.00 siang dan hijau pukul 12.00 siang hingga 16.00 sore. Uji coba MRT untuk masyarakat umum sendiri sudah berlangsung dari tanggal 12 Maret 2019 kemarin hingga 24 Maret 2019 mendatang atau sebelum MRT Jakarta mulai beroperasi secara komersial pada akhir Maret.
Baca juga: Lebih dari Setengah Total Kuota Uji Coba Gratis MRT Jakarta Telah Terlampaui di Hari Ke-2 Pendaftaran
Nantinya jika MRT Jakarta sudah beroperasi secara komersial untuk warga ibukota, akan ada kartu bernama Kartu Jelajah yang merupakan kartu uang elektronik dan bisa digunakan di semua stasiun MRT. Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Muhamad Kamaludin mengatakan, untuk menemani kartu jelajah, kartu uang elektronik yang dikeluarkan oleh bank juga bisa digunakan penumpang nantinya.
“Kami masih menunggu persetujuan dari Bank Indonesia,” ujar Kamaludin.
