[Tips] Kehabisan Tiket Kereta Lebaran? Jangan Keburu Loyo

Betapa bingungnya Eko Santoso (50 tahun), warga Pondok Kopi, Jakarta Timur ini sampai tak habis pikir bahwa tiket H-90 Lebaran sudah terjual habis di jaringan penjualan online KAI. Padahal dirinya sudah berniat jauh-jauh hari untuk mudik Lebaran ke Gombong, Jawa Tengah dengan kereta api. Apa yang dialami Eko sudah menjadi isu yang kerap mencuat jelang penjualan tiket saat puncak hari raya. Baca juga: PT KAI Siap Kenakan Tarif Kelebihan Bagasi Pada Penumpang, Tapi Apakah Efektif? Tiket kereta api H-10 Lebaran yang mulai dijual pada 25 Februari 2019 kemarin kini sudah terjual habis di rute-rute favorit masyarakat. Hal ini diakui pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang mengakui rute keberangkatan rute favorit dari Stasiun Pasar Senen dan Gambir menuju Tegal, Semarang, Purwokerto, Solo, Surabaya dan Malang ludes tak tersisa. Agak ironis, sebagai penumpang setia kereta api tapi saat mudik harus kehabisan tiket bahkan terhitung dua bulan sebelum pembelian? Ternyata saat melakukan penelitian di lapangan KabarPenumpang.com mendapatkan, bahwa banyak pelanggan kereta api yang mengakui mereka kehabisan kereta dan mulai uring-uringan untuk mudik Lebaran nantinya. Banyak calon pengguna jasa KAI mengaku sudah kehabisan ide, karena bila menggunakan bus bisa lebih lama dibandingkan kereta api karena jadwal keberangkatan yang tidak terlalu jelas. Namun tenang saja, bagi pengguna kereta api dan masih ingin naik kereta saat mudik Lebaran, KabarPenumpang.com memiliki tips agar bisa tetap mudik menggunakan kereta api, perhatikan berikut ini: 1. Pilihan rute dan tanggal Memang tujuan terbanyak dan favorit sudah dijelaskan di atas, tapi tidak menutup kemungkinan untuk Anda yang akan menuju ke rute yang sama tapi tidak berhenti di pilihan favorit bisa mencari jalur relasi lain. Seperti bila dari Jakarta menuju ke Yogyakarta habis, penumpang bisa membeli dari Jakarta ke Bandung, Cirebon ataupun Purwokerto. Kemudian naik kereta dari rute baru tersebut menuju Yogyakarta yang biasanya masih cukup banyak. Metode di atas cukup populer ditawarkan oleh Traveloka yang mengemas tiket dengan sistem transit. Jangan lupa tentunya penumpang harus lihat jadwal kereta dari tempat persambungannya. Tak lupa pula untuk berangkat kalau bisa Anda hindari tanggal-taggal favorit sehingga tiket masih bisa di dapatkan. Baca juga: Mirip Sistem Transit Pesawat, Traveloka Kemas Tiket Kereta Dengan Model Lanjutan 2. Rajin cek tiket baik aplikasi KAI maupun agen penjualan lainnya Dengan mengecek secara berkala, penumpang bisa tahu apakah masih ada tiket di tanggal dan rute yang diinginkan. Sebab, terkadang ada saja penumpang yang melakukan pembatalan dan muncul kembali di sistem sehingga Anda bisa dengan segera membeli tiket tersebut. 3. Kereta tambahan Ini menjadi pilihan terakhir untuk mendapatkan tiket mudik Lebaran. Tiket ini akan dijual H-60 Lebaran (di pertengahan April 2019) dan akan ada 50 kereta api tambahan Lebaran 2019 yang terdiri dari 27 KA Eksekutif dan Bisnis, 11 KA Ekonomi Non PSO, empat KA Ekonomi PSO dan delapan KA yang memanfaatkan idle. Biasanya tarif tiket kereta tambahan pun berbeda yakni ditarif batas atas sehingga akan sedikit lebih mahal.

Perluas Jaringan di Jalur MRT, XL Axiata Lakukan Negosiasi dengan MRT Jakarta

Sejak 12 Maret lalu, layanan MRT Jakarta telah dapat dicoba secara terbatas oleh masyarakat umum. Selain menawarkan bentuk transportasi baru di Ibukota, yang menjadi perhatian penting pada layanan MRT Jakarta adalah perihal komunikasi. Sebagai moda yang akan digunakan secara massal, ketersediaan akses komunikasi harus terjamin di MRT Jakarta, khususnya saat berada di lintasan bawah tanah dan platform stasiun bawah tanah. Terkait hal tersebut, adalah mutlak bagi MRT Jakarta dan mitra operator seluler untuk menjamin kelancaran akses komunikasi di MRT Jakarta, baik komunikasi suara dan data. Baca juga: PT MRT Jakarta Gaet Tower Bersama Group Untuk Gelar Coverage Seluler dan WiFi Dari hasil pantauan KabarPenumpang.com di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia, akses sinyal dari beberapa operator seluler dapat diterima dengan baik sampai platform 1, yaitu tempat transaksi tiket dan gate masuk. Sementara di platform 2, memang hanya sedikit operator yang bisa menyebarkan coverage-nya. XL menjadi salah satu operator selular yang belum dapat memancarkan sinyal di area platform stasiun bawah tanah. Ketika MRT bertolak dari Stasiun Sisingamangaraja dan masuk ke terowongan bawah tanah, sinyal XL hilang, sementara sinyal Indosat disana sudah dapat diakses. Bagi operator seluler sendiri, ketersediaan coverage di MRT Jakarta juga mempunyai nilai strategis, yang mau tidak mau harus dipeuhi jangkauan dan kapasitasnya. Berangkat dari hal tersebut, pihak XL Axiata kini tengah menegosiasikan perbaikan kualitas sinyal jaringan seluler di sepanjang jalur MRT Jakarta Group Head Corporate Communication XL Axiata Tri Wahyuningsih mengatakan, kini pihaknya tengah melakukan upaya untuk memberikan kelancaran bagi masyarakat untuk mengakses jaringan seluler mereka di jalur yang dilalui MRT Jakarta. Tri mengatakan, XL Axiata juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait termasuk penyedia layanan dan fasilitas MRT serta masih dalam tahap diskusi dengan pihak penyelenggara fasilitas di layanan MRT. Sebab para pengguna MRT Jakarta ternyata mengeluhkan kesulitan dalam mengakses jaringan seluler mereka terutama saat melalui jalur bawah tanah. Diketahui, saat ini yang sudah melakukan penguatan sinyal di sepanjang jalur MRT adalah Telkomsel. Dimana mereka menyebutkan sudah memasang 48 BTS di 13 stasiun yang dilalui MRT Jakarta. Sehingga saat penumpang melalui jaringan bawah tanah, sinyal Telkomsel bisa terakses dengan mudah. “Total ada 74 sektor dengan 222 NE BTS mixed 2G, 3G, dan 4G. Untuk 4G kita pakai carrier aggregation LTE FDD 1800 dan LTE TDD 2300 dikombinasikan,” ujar Direktur Jaringan Telkomsel Bob Apriawan yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman CNNIndonesia.com, Selasa (19/3/2019). Terkait masalah jaringan, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara berharap, agar pihak MRT Jakarta tidak membatasi operator yang ingin menguatkan layanan mereka di sepanjang jalur layanan transportasinya. Namun dirinya mengatakan tidak akan ikut campur dengan ketersediaan jaringan seluler di MRT karena sudah berkaitaan pembicaraan business to business (B2B) antara pengelola MRT dan operator. “Karena saya diberitahu ada minimum revenue (pendapatan minimum) yang diminta. Itu boleh-boleh saja, pure bisnis,” ujar Rudiantara. Pengelolaan akses jaringan untuk penempatan pemancar di jaringan MRT Jakarta ditangani oleh Tower Bersama Group. Dirinya berharap agar negosiasi layanan jaringan seluler di jalur MRT Jakarta tidak mencegah operator dengan daya investasi kecil untuk menyediakan layanan. Sebab, dalam industri seluler terdapat operator dengan daya investasi yang sangat besar dan ada operator dengan daya investasi menengah. Baca juga: Jelang Beroperasi Penuh, Sebenarnya Berapa Tarif Tiket MRT Jakarta? Untuk diketahui, MRT Jakarta sendiri akan mulai operasional secara komersialnya mulai akhir Maret 2019 dan kini tengah melakukan uji coba kepada publik yang dimulai dari 12 hingga 24 Maret 2019 mendatang.

Intip Serba-Serbi Utrecht Sneltram, Si Ular Besi yang Jadi Saksi Bisu Penembakan di Utrecht

Kasus penembakan kembali terjadi, namun kali ini terjadi di Negeri Kincir Angin, dimana seorang pemuda yang diyakini sebagai warga negara Turki dengan membabi buta menembak penumpang trem yang ada di kota Utrecht, Senin (18/3/2019). Adalah Gokmen Tanis, pemuda berusia 37 tahun merupakan aktor di balik aksi penembakan yang menewaskan tiga orang penumpang trem ini. Selain menewaskan tiga orang, pelaku juga menyebabkan beberapa orang lainnya mengalami luka-luka. Dikabarkan, pelaku kini sudah berhasil diamankan pihak berwajib. Baca Juga: Sehari Pasca Penembakan Brutal, Bandara Christchurch Telah Dibuka Kembali Patut diketahui bahwa trem di Utrecht ini sudah mulai beroperasi sejak 17 Desember 1983. Bisa dibilang, Utrecht Sneltram merupakan salah satu tulang punggung transportasi di kota pelajar di Belanda ini. Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, trem dengan cat kuning-hitam ini mulai dirancang pada akhir tahun 1970-an hingga awal tahun 1980-an. Adapun rute pertama yang jadi kala itu menghubungkan kota Utrecht dengan daerah suburban, Nieuwegein. Tidak hanya menghubungkan Nieuwegein saja, rute yang dikenal dengan nama Lijn 60 (Line 60) ini juga mengkoneksikan sejumlah daerah lain, seperti residential areas of Lombok, dan Kanaleneiland. Trem di rute ini sendiri menjadikan Central Station of Utrecht sebagai titik awal keberangkatan – pun tujuan terakhir. Lijn 60 memiliki panjang lintasan sekira 13,3 km dengan 15 titik pemberhentian di dalamnya, salah satu titik pemberhentiannya adalah 24 Oktoberplein-Zuid, lokasi dimana penembakan sadis tersebut terjadi. Sementara untuk jalur lainnya, atau yang dikenal dengan Lijn 61 (Line 61), Qbuzz selaku operator dari trem ini mengkoneksikan Utrecht dengan Ijsselstein-Zuid via Nieuwegein. Untuk rute di Lijn 61 sendiri, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Lijn 60, hanya saja dua layanan ini terpisah di pemberhentian Stadscentrum. Lijn 60 akan lanjut menuju Merwestein, sedangkan Lijn 61 akan bertolak menuju Doorslag. Baca Juga: Spektakuler! Utrecht Bangun Fasilitas Parkir Sepeda Terbesar di Dunia Sebelum dioperasikan oleh Qbuzz, Utrecht Sneltram bergerak di bawah mandat dari Connexxion, sebuah jasa layanan transportasi terbesar di Belanda. Pergantian operator ini sendiri terjadi pada Desember 2011. Rencananya, di tahun 2019 ini Utrecht Sneltram akan melebarkan jangkauannya menuju daerah timur, Uithof.  

Romantis Berujung Pahit, Pramugari China Eastern Airlines Justru Dipecat Setelah Dilamar di Udara

Mungkin sebagian dari Anda masih ingat dengan prosesi pelamaran seorang awak kabin maskapai Emirates di atas ketinggian 33.000 kaki ketika dirinya tengah bertugas beberapa bulan yang lalu. Ya, berita ini sempat menjadi bahan perbincangan khalayak ramai dan dengan cepat menyebar beberapa saat setelah video pelamaran tersebut diunggah ke laman Youtube.com. Reaksi para penonton pun beragam, namun didominasi oleh mereka yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat romantis. Baca Juga: So Sweet! Pramugari Emirates Dilamar di Udara Nah, ternyata kejadian serupa juga berulang pada maskapai China Eastern Airlines, dimana seorang awak kabinnya dilamar oleh sang kekasih ketika tengah bertugas. Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, prosesi pelamaran ini juga sontak jadi bahan perbincangan netizen setelah diunggah oleh pemilik akun Pear Video ke laman Youtube.com. Dalam video yang diunggah tersebut, tampak seorang penumpang laki-laki yang ternyata adalah kekasih dari sang awak kabin, berlutut di hadapan sang awak kabin dan melamarnya. Diketahui, momen romantis ini tejadi di dalam penerbangan China Eastern Airlines di rute penerbangan Xi An ke Yinchuan, Cina pada Kamis, 13 September 2018 silam. “Saya sungguh tidak menyangka pacar saya akan melamar saya di penerbangan ini. Terima kasih kepada Anda semua yang telah menjadi saksi,” ujar sang awak kabin melalui microphone yang tersambung ke seluruh bagian pesawat.
Sontak, semua penumpang yang berada di dalam penerbangan tersebut merasa tersentuh dan terharu melihat “penggalan cerita dari drama cinta remaja” ini – bahkan di dalam video tersebut, tampak beberapa orang penumpang sampai-sampai mengelap air matanya saking terharu. Namun siapa sangka ujung dari kisah romantis ini berujung tidak terlalu manis. Siaran televisi lokal setempat, Liaoning TV menyebutkan bahwa sang awak kabin yang baru saja menyandang predikat sebagai tunangan penumpang yang ia angkut tersebut dipecat oleh pihak maskapai, sesampainya mereka di Yinchuan. Baca Juga: Punya Nama Valentine? Bisa Terbang Gratis ke Islandia Lho! Keputusan China Eastern Airlines ini terpaksa ditempuh karena mereka beranggapan bahwa sang pramugari telah mengabaikan keselamatan penumpang. Dalam sebuah keterangan tertulis, pihak China Eastern Airlines mengatakan bahwa tindakan lamaran di dalam pesawat itu telah menyebabkan gangguan dan sebuah tindakan tidak bertanggung jawab yang bisa membahayakan penumpang. Duh, kalau sudah seperti ini sih mungkin judul yang tepat untuk cerita ini adalah “Lamaran Berujung PHK” mungkin, ya?

Intip Sedikit Bocoran Acara Pameran Busworld South East Asia 2019

Pameran bus terbesar se-Asia Tenggara, Busworld South East Asia akan diselenggarakan pada tanggal 20 hingga 22 Maret 2019 mendatang di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pada pameran ini, PT Global Expo Management (GEM) yang bekerja sama dengan Busworld International, nantinya akan ada serangkaian acara yang menarik untuk dilihat dan patut untuk diapresiasi – salah satunya adalah penyerahan tahap pertama dari 1.000 unit bus yang diproyeksikan untuk ekspor ke kawasan Asia Selatan. Baca Juga: TransJakarta Umumkan Keikutsertaan di Busworld 2019 KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Baki Lee selaku Direktur dari PT GEM mengatakan bahwa perhelatan ini akan dihadiri oleh 100 perusahaan otobus, coach, karoseri, hingga komponen dari 15 negara, “dengan target 35 ribu pengunjung yang berasal dari 30 negara,” Adapun perhelatan ini memiliki tujuan untuk mendukung perusahaan karoseri dan produsen bus, baik dalam maupun luar negeri – khususnya untuk kawasan Asia Tenggara, akan juga dibahas soal berbagai isu yang dapat membuat industri bus semakin atraktif, efisien, dan terjangkau. Patut diketahui juga bahwa Busworld South East Asia ini merupakan pameran Business to Business (B2B) terbesar di bidang bus dan industri karoseri yang akan menampilkan berbagai macam bus, coach bus, minibus, termasuk spare part, komponen, dan juga pelayanan. Busworld South East Asia tidak hanya menampilkan inovasi dan teknologi terbaru dari industri bus, melainkan juga akan memberikan edukasi terkini mengenai pengembangan bus baik dari dalam maupun luar negeri, juga regulasi dan teknologi akan dibahas dalam Busworld Academy. Di sini, Busworld Academy mengusung tema Making Bus Transport Systems Attractive, Efficient and Affordable in South East Asia. Diharapkan masyarakat akan senang dan mulai tergerak untuk meninggalkan kendaraan pribadi mereka dan beralih menggunakan sarana transportasi berbasis massal. Guna memberikan pemaparan yang kompeten, Busworld Academy akan menghadirkan pakar dari industri transportasi. Sederhananya, Busworld South East Asia akan diselenggarakan bersamaan dengan Busworld Academy, dan diharapkan bisa membantu Indonesia dalam menghadapi era perkembangan industri 4.0. Baca Juga: Busworld South East Asia 2019 Siap Digelar di Jakarta, Inilah Pameran Bus Terbesar Berskala Internasional Patut diketahui bahwa pameran Busworld pertama kali diadakan 47 tahun lalu di kota Kortrijk, Belgia pada tahun 1971. Busworld South East Asia merupakan pameran ketujuh pada agenda Busworld terkini setelah Turki, India, Rusia, Cina, Central Asia, dan Amerika Latin. Jadi, bagi Anda yang ingin menambah wawasan di bidang bus, pastikan Anda tidak melewatkan pameran Busworld South East Asia ini, ya!  

Tingkatkan Kualitas Hidangan, Singapore Airlines Gandeng Como Shambhala Hadirkan ‘Makanan Sehat’

Berita ditemukannya gigi manusia pada hidangan makanan di penerbangan Singapore Airlines  26 Februari lalu, secara langsung telah mencoreng citra salah satu maskapai terbaik di dunia ini. Betapa tidak, selama ini kualitas layanan dan penyajian menu di Singapore Airlines terkenal ketat dan sangat terjaga tingkat kebersihannya. Baca juga: Kali Ini Gigi Manusia Ditemukan di Dalam Makanan Singapore Airlines Tak tinggal diam, Singapore Airlines pun melakukan penyelidikan dan analisa terhadap gigi yang ditemukan dalam makanan tersebut. Selain itu pihak maskapai juga meminta maaf pada penumpang bernama Bradley Button atas pengalamaan yang tidak enak tersebut. Entah ada kaitannya langsung atau tidak, belum lama ini Singapore Airlines menghadirkan makanan sehat yang kerja sama dengan Como Shambhala ke dalam menu makanannya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessinsider.sg (14/3/2019), Singapore Airlines mengatakan, penumpang tidak lagi perlu khawatir dilayani makanan tidak sehat dalam penerbangan. Sebab maskapai akan menyediakan makanan sehat dan menyediakan berbagai macam layanan holistik dari makanan ke pusat kesehatan. Christina Ong pengusaha yang juga pemilik Grup Como mengatakan, tanda tangan nota kesepahaman kerja sama tersebut terjadi pada Kamis, 14 Maret 2019. Menurutnya kerja sama ini memiliki tujuan meningkatkan pengalaman pelanggan bagi para pelancong. Pada fase pertama dari kerja sama ini akan masuk pada kuartal kedua tahun 2019 dengan menghadirkan masakan kesehatan yang memenangkan penghargaan Como Shambhala di penerbangan tertentu. “Menggunakan bahan musiman dan berkelanjutan, masing-masing dengan profil gizi mereka sendiri, gaya memasak ini bertujuan untuk menginspirasi selera Anda dengan rasa yang berkesan dan lezat, mengawinkan makan sehat dengan keahlian memasak yang menyenangkan,” kata SIA dan Como Shambhala dalam pernyataan bersama. Baca juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari Menurut pernyataan itu, menu kesehatan baru akan diperkenalkan di semua kelas. Hidangan kesehatan yang dikembangkan bersama oleh perusahaan tersebut juga akan semakin tersedia dalam layanan SIA’s Book the Cook, yang ditawarkan kepada para penumpang Suites, Kelas Satu dan Kelas Bisnis maskapai. Selain makanan, kolaborasi di masa depan juga dapat meluas ke fasilitas di atas kapal dan hiburan dalam penerbangan.

Sehari Pasca Penembakan Brutal, Bandara Christchurch Telah Dibuka Kembali

Insiden penembakan yang terjadi di kota Christchurch, Selandia Baru pada Jumat, 15 Maret 2019 kemarin ternyata berdapak juga pada sektor transportasi udara. Sebagaimana yang sudah ramai diperbincangkan sejak akhir minggu kemarin, Brenton Tarrant, ‘sang eksekutor’ secara membabi-buta memuntahkan puluhan selongsong peluru dan menewaskan puluhan warga Muslim tak lama berselang setelah Ibadah Sholat Jumat di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood. Baca Juga: Alami Turbulensi Parah, Air New Zealand Berikan Full Refund Kepada Penumpang Demi menjaga keamanan dan keselamatan para penumpang, sejumlah maskapai yang melayani penerbangan domestik dari Christchurch dilarang untuk beroperasi sementara waktu – terhitung sejak insiden penembakan tersebut berlangsung. Untuk setidaknya 48 jam kedepan, otoritas penerbangan setempat melarang setiap maskapai untuk mengudara, dan terhitung sejak Sabtu (16/3/2019) pagi, layanan regional dari Christchurch sudah mulai beroperasi kembali. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newsie.co.nz (16/3/2019), pengoperasian kembali layanan udara dari kota Christchurch ternyata lebih cepat satu hari ketimbang informasi yang sebelumnya disampaikan. Tentu saja, ada penyaringan keamanan tambahan yang diberlakukan terhadap semua maskapai yang hendak bertolak dari Christchurch – semua maskapai harus tunduk terhadap kebijakan temporer ini. Sebut saja maskapai Air New Zealand yang meminta kepada setiap penumpang yang hendak bertolak dari Christchurch untuk melakukan pengecekkan ulang terhadap status penerbangan mereka melalui situs resmi Air New Zealand. Selain itu, pihak maskapai juga meminta kepada para penumpangnya untuk datang ke bandara lebih awal guna melewati serangkaian proses pengecekan keamanan. Bisa jadi, serangkaian proses pengecekan di bandara ini ditujukan agar para pelaku tindak teror yang terkait dengan insiden Jumat lalu ini tidak melarikan diri via jalur udara. Selain memberikan himbauan, Air New Zealand juga memberikan fleksibilitas kepada setiap penumpangnya untuk melakukan reschedule atau memesan ulang tiket terkait pelarangan operasi maskapai di Christchurch. Baca Juga: Seorang Wanita Bawa Pisau dan Lolos dari Alat Pemindai, 3 Ribu Penumpang Tertahan di Bandara Auckland “Disarankan penumpang untuk melakukan konsultasi dengan pihak travel agent guna menindaklanjuti fleksibilitas yang kami tawarkan,” ujar salah seorang juru bicara Air New Zealand. Sebenarnya, Pemerintah telah memberi tahu bahwa tidak ada ancaman khusus terhadap penerbangan dan tingkat ancaman penerbangan untuk New Zealand tetap rendah. Langkah-langkah penambahan keamanan ekstra di Christchurch ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian dan ketenangan terhadap maskapai dan pelanggan serta semua orang yang terlibat di dalamnya sampai investigasi terkait penembakan tersebut menemukan titik terang.

Penasaran dengan Biaya Pembangunan LRT dan MRT Per Kilometernya? Simak Berikut Ini

Memiliki moda transportasi massal terbaru sudah ditunggu-tunggu kehadirannya oleh masyarakat. Bahkan moda sarana transportasi massal berbasis rel mulai mengular baik di ibukota Jakarta, daerah penyanggah seperti Depok dan Bekasi hingga luar kota di Sumatera Selatan tepatnya Palembang. Baca juga: Jelang Beroperasi Penuh, Sebenarnya Berapa Tarif Tiket MRT Jakarta? Moda tersebut yakni MRT Jakarta, LRT Palembang, LRT Jakarta dan LRT Jabodebek. Hampir keseluruhannya sudah berjalan seperti LRT palembang dan MRT Jakarta serta LRT Jakarta diperkirakan mulai beroperasi di tahun 2019 ini. Kereta-kereta ini sendiri sudah ditunggu oleh masyarakat, bahkan pada tahap uji coba pun terlihat antusias untuk menikmati moda baru itu.
(@ADHIKarya)
Karena tergolong megastruktur yang dibangun secara masif, urusan biaya untuk mewujudkan proyek LRT dan MRT pun pastinya tak murah. Nah, bakal menjadi moda transportasi bagi kaum urban, tentu ada baiknya bagi kita mengenal besaran biaya implementasi dari kedua wahana yang berjalan di rel tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari lalam akun Instagram PT Adhi Karya, biaya pembangunan tiap moda berbasis rel tersebut berbeda antara satu dengan lainnya. Hal ini dikarenkan LRT dan MRT yang ada di Jakarta memiliki tujuan yang berbeda dan panjang rutenya pun tak sama. Sehingga ini menjadi dasar pembiayaan setiap proyek berbeda, meski beberapa strukturnya memiliki persamaan. Seperti pada pembangunan LRT Jabodebek tahap 1, dengan struktur yang melayang dan memiliki panjang 44,43 km,  maka total biaya yang diperlukan untuk pembangunannya mencapai Rp22,8 triliun atau sebesar Rp513,8 miliar per km-nya. Kemudian LRT Jakarta dengan struktur layang sepanjang 5,8 km menghabiskan biaya Rp5,9 triliun atau RP1,02 triliun per km. Sementara, LRT di Palembang sepanjang 23,4 km dengan struktur melayang total biaya pembangunan mencapai Rp10,9 triliun atau sebesar Rp466,6 miliar per km. Berbeda dengan pembangunan LRT, MRT pada sebagian struktur jalur layangnya sepanjang sepuluh kilometer total biaya pembangunan mencapai Rp10,9 triliun atau sebesar Rp1,09 triliun per km. Baca juga: LRT Jakarta Fase I Diperkirakan Beroperasi Pada Januari 2019 Hal ini dikarenakan, MRT memiliki jalur bawah tanah sepanjang enam kilometer. Perbedaan ini sendiri ternyata tak hanya berdasarkan panjang rute, tetapi juga teknologi yang digunakan berdampak pada biaya pembangunan moda transportasi massal berbasis rel tersebut.

Serupa Kasus Lion Air JT-610, Kuat Dugaan Sensor Angle-of-Attack Ethiopian Airlines ET-302 Juga Bermasalah

Para peneliti di sektor aviasi hingga saat ini masih berjibaku untuk menemukan satu benang merah dari dua kecelakaan yang terjadi dalam kurun waktu lima bulan terakhir – Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines ET-302 pada 10 Maret 2019. Berbagai spekulasi dan asumsi terkait dua kecelakaan yang menyebabkan pembekuan sementara armada Boeing 737 MAX 8 di seluruh penjuru dunia ini pun mulai bermunculan ke permukaan, dan para peneliti memusatkan perhatian mereka terhadap sistem sensor angle-of-attack yang diduga sebagai ‘biang kerok’ dari dua kecelakaan mematikan ini. Baca juga: Laporan Investigasi Awal Lion Air JT-610: KNKT Indikasikan Sensor Angle of Attack Tidak Berlaku Normal KabarPenumpang.com mengutip dari berbagai laman sumber, para peneliti menemukan ada sejumlah kesamaan dari dua kecelakaan ini dan CEO Boeing, Dennis Muilenburg tidak bisa menampikkan dua fakta yang ditemukan oleh para peneliti ini. “Ada input sensor yang salah,” ujar Dennis. Pernyataan Dennis tersebut sebagai tanggapan dari Sekretaris Transportasi Ethiopia yang menyebutkan bahwa ada, “kesamaan yang sangat jelas (antara kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines),” Patut diketahui bersama, angle-of-attack merupakan sudut antara garis referensi pada body pesawat dan vektor yang mewakili gerakan relatif antara pesawat dan fluida yang bergerak di antaranya. Sebanyak enam ahli mengatakan bahwa risiko yang ditimbulkan oleh sensor angle-of-attack yang salah diperkuat oleh meningkatnya peran otomatisasi kokpit. Hingga saat ini, pernyataan tersebut masih dijadikan satu acuan yang patut diperhatikan oleh Boeing untuk merevisi sistem terkait.
Posisi sensor Angle of Attack.
Jika melihat lagi ke rentetan kecelakaan yang telah terjadi sebelumnya, ternyata ada sejumlah kecelakaan yang disebabkan oleh ketidak-akuratan data yang dikirimkan oleh sensor angle-of-attack dan data yang diperoleh oleh pilot dan kopilot di dalam kokpit. Baca Juga: Terlambat 2 Menit, Penumpang Ini Selamat dari Kecelakaan Maut Ethiopian Airlines ET302 Mengutip dari laman washingtonpost.com (17/3/2019), dalam kurun waktu lima tahun terakhir, orotitas penerbangan Amerika Serikat (FAA) mencatat ada lebih dari 50 masalah pada sensor angle-of-attack. Data tersebut tercatat oleh Federal Aviation Administration’s Service Difficulty Reporting, dan beruntung, tidak ada kecelakaan yang diakibatkan oleh kesalahan pada sensor ini. Kesalahan fatal semacam ini memang harus digarisbawahi dan mendapatkan perhatian serius oleh Boeing. Jangan sampai ini menjadi ‘masalah turunan’ yang pada akhirnya bisa membahayakan setiap penerbangan yang dilakoni oleh Boeing dan merugikan perusahaan.

PT KAI Luncurkan Kereta Penolong Tebaru, Sudah Dilengkapi Instalasi Gawat Darurat

Kereta Penolong yang baru saja diluncurkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki dua gerbong yang berfungsi sebagai evakuasi sarana dan pertolongan korban. Kereta yang baru di luncurkan di Stasiun Bandung tersebut berwarna kuning, putih dan merah muda serta difungsikan saat terjadi gangguan atau peristiwa luar biasa hebat (PLH) di perjalanan atau perlintasan. Baca juga: Rail Clinic, Klinik Berjalan Diatas Rel Milik PT KAI Gratis Pada versi lama, kereta penolong hanya berfungsi untuk melakukan evakuasi sarana kereta api seperti kereta, gerbong dan lokomotif ketika mengalami gangguan. Namun versi barunya kini dilengkapi dengan fasilitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk penanganan penumpang dan petugas yang mengalami luka-luka. “Dengan adanya Rangkaian Kereta Penolong terbaru ini memungkinkan proses evakuasi tidak hanya fokus pada penanganan gangguan perjalanan kereta api, akan tetapi perhatian juga diutamakan kepada korban kecelakaan KA atau PLH tersebut, meskipun itu tidak kita harapkan terjadi,” ujar Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro yang dikutip KabarPenumpang.com dari kai.id. Keunggulan kereta penolong ini adalah memiliki tenaga penggerak sendiri dimana pembuatannya menggunakan metode alih fungsi dari kereta rel diesel (KRD). Sebagai KRD yabg tak perlu ditarik lokomotif, maka kereta penolong dapat tiba lebih cepat di lokasi kejadian. “Hal ini dimungkinkan karena persiapan armada untuk diberangkatkan menjadi lebih singkat. KAI memproduksi rangkaian Kereta Penolong ini di Balai Yasa Yogyakarta sejak bulan Juli 2018 dan telah menjalani uji statis dan dinamis hingga dinyatakan laik untuk dioperasikan pada November 2018,” jelas Edi. Edi mengatakan, saat ini KAI sudah memiliki dua kereta penolong dan yang terbaru ini memiliki peralatan untuk mengevakuasi korban. Dia sendiri belum bisa memastikan adanya penambahan tetapi kereta penolong harus tersedia, minimal ada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kereta penolong ini memiliki nilai investasi Rp6 miliar dengan rincian di kereta penolong 1 berisi alat untuk evakuasi sarana kereta api jika terjadi PLH yakni tabung pemadam (APAR), tangga barang dan orang, alat pengelasan untuk memotong besi, fasilitas alat ungkit dan alat berat untuk kasus KA anjlok. Sedangkan fasilitas di ruang Kereta Penolong 2 yang berfungsi untuk mengevakuasi korban di antaranya ruang obat, ruang kru medis, ruang tindakan yang berfungsi sebagai tempat melakukan tindakan medis seperti operasi ringan dan sebagainya, ruang resusitasi (berfungsi sebagai tempat untuk memberikan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti nafas), ruang pasien, gudang alat kesehatan, dan toilet. Kereta Penolong ini dalam operasionalnya tidak dipisahkan, namun saat proses evakuasi antara Kereta Penolong 1 dan 2 bisa dipisahkan. Baca juga: PT KAI Siap Kenakan Tarif Kelebihan Bagasi Pada Penumpang, Tapi Apakah Efektif? “KAI mencoba untuk terus berinovasi terlebih di sisi keselamatan penumpang maupun kru KA. Hadirnya Kereta Penolong terbaru yang bisa difungsikan sebagai IGD ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi waktu selama proses evakuasi,” pungkas Edi.