Sebuah kapal ferry di Jepang dikabarkan mengalami kecelakaan, dimana kapal tersebut diwartakan telah menabrak seekor ikan paus. Kejadian yang terjadi di Laut Jepang ini sendiri terjadi pada Sabtu (9/3/2019) kemarin. Akibat kejadian ini, sebanyak 87 penumpang mengalami cidera – lima di antaranya mengalami cidera serius. Tidak hanya melukai penumpang, insiden ini juga membuat kapal ferry tersebut mengalami kerusakan pada bagian lambungnya.
Baca Juga: Mati Mesin di Tengah Laut, Kapal Ferry India Diselamatkan Tugboats
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (9/3/2019), kapal ferry ini diduga menabrak ikan paus ketika tengah berlayar dari pelabuhan Niigata ke pulau Sado di laut Jepang. Dikabarkan, ikan paus jenis bungkuklah yang menyebabkan insiden ini – dan memang disinyalir di sekitar lokasi kejadian merupakan habitat dari salah satu mamalia laut terbesar ini. Wajar saja jika tabrakan tersebut meninggalkan celah sepanjang 15 cm di lambung kapal.
Praduga ini dibenarkan oleh seorang pakar kelautan yang mengatakan dampak tabrakan itu merupakan hasil tabrakan antara kapal dan ikan paus.
Adapun kapal ferry tersebut tengah mengangkut sebanyak 121 penumpang dan empat awak kabin. Kejadian ini sendiri diprediksi terjadi sekitar pukul 12.15 waktu setempat. Semua penumpang yang terluka langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat guna mendapat penanganan pertama. Sementara itu, pihak penjaga pantai mengatakan lima orang yang mengalami cidera serius masih berada tetap dalam kondisi sadar.
“Tenggorokan saya mengenai kursi di depan saya,” ujar seorang penumpang di dalam kapal ferry tersebut.
“Sementara orang-orang yang ada di sekeliling saya mengerang kesakitan,” tandasnya.
Baca Juga: Eks Kapal Ferry Penumpang di Inggris Bertransformasi Menjadi Party Boat
Tidak hanya meninggalkan celah sepanjang 15 cm saja di lambung kapal, namun tabrakan dengan paus bungkuk ini menyebabkan salah satu sayap hidrofoil di kapal yang mampu melakukan perjalanan hingga 80 km per jam ini rusak.
Perusahaan Kapal Sado, yang mengoperasikan ferry Ginga (yang menabrak ikan paus bungkuk), mengatakan pihaknya berhasil mencapai tujuan walaupun mengalami keterlambatan sekitar satu jam dari jadwal semula.
Seorang pilot yang sudah bekerja selama 20 tahun ditangkap karena lisensi palsu. Pilot ini diamankan saat berada di Afrika Selatan pada Senin (11/3/2019) dengan tuduhan menerbangkan pesawat penumpang besar tanpa lisensi terbang komersial yang asli.
Baca juga: Kopilot Kedapatan Konsumsi Alkohol, Japan Airlines Terkena Delay 69 MenitKabarPenumpang.com melansir dari laman inquirer.net (12/3/2019), pilot itu adalah William Chander yang baru-baru ini terpaksa mengundurkan diri setelah maskapai mengatakan dirinya terbang tanpa dokumen yang benar alias palsu.
“Pengacaranya menyerahkannya ke polisi pagi ini,” ujar juru bicara kepolisian nasional Vishnu Naidoo.
Dia mengatakan, Chandler didakwa melakukan pemalsuan dan harus datang ke pengadilan pada 15 Mei 2019 mendatang. South African Airways (SAA) mengatakan, Chandler mengklaim memiliki lisensi pilot transportasi maskapai penerbangan dan lisensi lanjutan yang memungkinkannya untuk menerbangkan pesawat penumpang besar.
Diketahui ternyata, Chandler hanya memiliki lisensi pesawat pilot komersial untuk pesawat kecil yang hanya membutuhkan lebih sedikit pengalaman dan pelatihan. Hingga kini, SAA sendiri belum mengungkapkan berapa lama Chandler terbang dengan lisensi palsu tersebut, jumlah penumpang yang diterbangkan dan jenis pesawat yang dia uji coba.
Menurut laporan, Chandler telah bekerja diperusahaan penerbangan nasional sejak 1994. SAA mengatakan kepalsuan itu terungkap November lalu ketika sebuah pesawat Airbus A340-600 yang sedang dia kopiloti ke Jerman mengalami turbulensi dan dia harus melakukan manuver pemulihan.
Chandler adalah pilot pengawas atau kopilot dalam perjalanan tersebut dan memiliki kontrol pada saat kejadian. Juru bicara SAA Tlali Tlali dilaporkan mengatakan penyelidikan atas insiden tersebut mengarah pada penemuan bahwa lisensi Chandler palsu.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat, Tlali mengkonfirmasi ini mengatakan Chandler telah membuat pernyataan palsu kepada maskapai dan mengklaim bahwa ia memenuhi syarat dan memiliki Lisensi Pilot Transportasi Penerbangan (ATPL), ketika ia hanya memiliki Lisensi Pilot Komersial.
“Ini adalah persyaratan SAA bahwa semua pilot memperoleh lisensi ATPL dalam waktu lima tahun dari pekerjaan mereka sebagai pilot di SAA. Ini terkait dengan status Petugas Pertama Senior dan membentuk bagian dari kondisi kerja mereka sebagaimana diatur dalam Perjanjian Pengaturan Pilot SAA. Setiap pilot yang gagal mendapatkan lisensi ini, akan dipecat pekerjaannya dengan maskapai,” kata Tlali.
Maskapai sekarang ingin Chandler membayar kembali uang yang ia hasilkan dengan curang, termasuk tunjangan. Pada hari Jumat Tlali mengatakan bahwa Chandler tidak menghadirkan risiko keselamatan untuk operasi SAA karena ia memiliki Lisensi Pilot Komersial yang valid dan merupakan komandan pesawat.
“Pilot telah berhasil menyelesaikan semua pelatihan keselamatan yang diperlukan. Namun, kami merasa bingung bahwa pernyataan yang keliru dibuat tentang jenis lisensi yang diklaim dimiliki pilot,” kata Tlali.
Baca juga: Palsukan Dokumen Perusahaan, 9 Pilot dan 1 Karyawan Lion Air Ditahan Kepolisian
Pada 2010, seorang pilot Swedia yang menerbangkan jet penumpang selama 13 tahun tanpa lisensi didenda R32 000 dan dilarang terbang selama 12 bulan, The Telegraph melaporkan. Meskipun telah menyelesaikan lisensi pilotnya yang sudah kadaluwarsa dan dilarang terbang selama satu tahun oleh pengadilan Belanda, pengadilan mencatat bahwa ia tidak pernah menyebabkan kecelakaan selama 13 tahun.
Pria asal Yunani selamat dari kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX 8 Ethiopian Airlines ET302. Hal ini dikarenakan Antonis Mavropoulos terlambat dua menit saat tiba digerbang dan pintu pesawat sudah ditutup.
Baca juga: Alvin Lie: Pemerintah Indonesia Sebaiknya Tidak Terbangkan Dulu Boeing 737 MAX 8
Antonis selamat karena mencari koper dan membuatnya melewatkan penerbangan tersebut. Pria 52 itu kemudian menulis di Facebook dengan caption “Hari Keberuntungan Saya”. Padahal dirinya saat itu berteriak kesal saat pintu keberangkatan ditutup dan tidak seorang petugas yang mau membuka pintu.
Dilansir KabarPenumpang.com dari nytimes.com (11/3/2019), karena perilakunya tersebut, Antonis diamankan oleh petugas untuk dimintai keterangan. Antonis merasa kecewa karena dirinya harus ke Nairobi untuk menghadiri acara tahunan program lingkungan hidup PBB.
Tiket milik Antonis Mavropoulos
Antonis diketahui adalah ketua dari organisasi nirlaba International Solid Waste Association dan mengaku hanya terlambat dua menit ketika gerbang ditutup. Dia bahkan sempat protes karena saat melihat ke jendela masih ada penumpang yang baru saja masuk ke pesawat sesaat ketika gerbang baru ditutup.
“Saya marah karena tak seorang pun yang menolong saya ke gerbang tepat waktu. Saya terus berteriak tapi mereka (petugas) tetap tidak mengizinkan,” ujarnya.
Polisi meminta keterangan dan Antonis mengatakan mereka tidak membiarkan pergi sebelum mengecek identitasnya dan alasan dirinya tidak naik ke pesawat. Saat pemeriksaan dia mengaku, seorang petugas menjelaskan dirinya harus berhenti protes dan berterimakasih kepada Tuhan karena tidak jadi naik ke dalam pesawat itu.
Dia terkejut dengan pernyataan petugas bila pesawat yang tadinya hendak dia tumpangi mengalami kecelakaan dan membuat dirinya nyarit tewas sehingga menyadari betapa beruntungnya Antonis. Dia kemudian mulai menghubungi keluarga, termasuk istri dan putrinya, dan teman-teman untuk memberi tahu mereka bahwa dia tidak ada di pesawat dan dia masih hidup.
Antonis mencoba berpikir logis ketika akhirnya dia naik pesawat ke Nairobi, beberapa jam setelah kecelakaan itu.
“Saya pikir mungkin saya tidak boleh pergi ke Nairobi, bahwa saya harus tinggal di Ethiopia, atau kembali ke Athena. Tetapi kemudian saya berpikir bahwa tidak mungkin penerbangan kedua dari maskapai yang sama, dan rute yang sama akan jatuh pada hari yang sama,” ujarnya.
Di Nairobi, ia bertemu dua rekan kerja di bandara. “Mereka bukan istri atau anak perempuan saya, tetapi saya memeluk mereka, dan mereka memeluk saya,” katanya.
Baca juga: Lakukan Inspeksi, Kemenhub Resmi Berlakukan Temporary Grounded Pada Boeing 737 MAX 8
Tetapi saat-saat sejak itu sulit. Dia tidak tidur sama sekali pada hari Minggu malam. Dia menghabiskan berjam-jam berpikir bahwa dia tidak boleh bepergian sebanyak yang dia lakukan, untuk menghindarkan keluarganya dari stres, dan memikirkan apa yang terasa seperti kesempatan kedua dalam hidup.
“Saya hancur untuk orang-orang yang sekarang pergi, tetapi saya juga merasa sangat beruntung belum ada di antara mereka,” katanya.
Pemerintah Malaysia akan mempertimbangkan kembali pembelian pesawat Boeing 737 Max 8 untuk flag carrier Malaysia Airlines. Hal ini terpaksa dilakukan pasca dua kecelakaan fatal dalam kurun waktu kurang dari lima bulan – pertama Lion Air JT610, dan yang baru-baru ini terjadi adalah Ethiopia Airlines di Addis Ababa beberapa waktu yang lalu. Tidak lain dan tidak bukan, salah satu pertimbangan yang menjadi latar belakang kemungkinan pembatalan pesanan ini adalah keselamatan penumpang.
Baca juga: Setelah Indonesia, Otoritas Penerbangan Singapura Resmi Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (11/3/2019), Menteri Urusan Ekonomi Malaysia, Azim Ali mengatakan bahwa Pemerintah harus meninjau kembali pembelian Boeing 737 MAX 8 pasca kecelakaan Ethiopia Airlines dengan nomor penerbangan ET302 pada Minggu (10/3/2019) kemarin. Sebagai informasi, dalam kecelakaan yang terjadi tidak lama setelah take-off tersebut, sebanyak total 157 penumpang yang ada di dalam penerbangan itu meninggal dunia.
“Manajemen Khazanah harus segera memeriksa masalah ini. Ini untuk memastikan keamanan maskapai, yang terpenting,” tutur Azmin Ali.
Sementara itu, Singapura pada hari Selasa (12/3/2019) menjadi negara terbaru yang mendaratkan pesawat 737 Max. Penangguhan tersebut akan mempengaruhi pengoperasian dari SilkAir, anak perusahaan Singapore Airlines, serta China Southern Airlines, Garuda Indonesia, Shandong Airlines dan Thai Lion Air yang menerbangkan pesawat ke Singapura. Langkah ini mengikuti perintah serupa dari regulator di Indonesia, Cina, Mongolia dan Ethiopia untuk menangguhkan penerbangan 737 Max 8.
Menanggapi serangkaian pembatalan pemesanan yang diterima oleh Boeing, Federal Aviation Administration (FAA) merilis informasi pada Senin (11/3/2019) kemarin bahwasanya Boeing 737 MAX 8 diyakini masih berada di level aman dan laik terbang. Kendati terkesan mendukung, namun FAA menuntut Boeing untuk sesegera mungkin mengubah desain – diimplementasikan pada bulan April mendatang.
Namun nasi sudah menjadi bubur, dua kecelakaan mematikan yang melibatkan Boeing 737 MAX 8 yang sempat dibangga-banggakan ini sudah kadung membuat para pelaku usaha di sektor aviasi memutar otak dan kembali meninjau kelanjutan dari pesanan pesawat jenis ini.
Baca Juga: Lakukan Inspeksi, Kemenhub Resmi Berlakukan Temporary Grounded Pada Boeing 737 MAX 8
“Mengingat bahwa dua kecelakaan sama-sama melibatkan pesawat Boeing 737 MAX 8 yang baru dikirim dan ini terjadi tak lama setelah lepas landas, dua kecelakaan ini memiliki beberapa tingkat kesamaan,” ujar Administrasi Penerbangan Sipil Cina dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Indonesia Polana Pramesti mengatakan langkah-langkah itu (peninjauan kelanjutan pemesanan) untuk “memastikan bahwa kondisi pesawat layak terbang,”
Tak berselang lama setelah keputusan yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terkait temporary grounded armada Boeing 737 MAX 8 di Indonesia, maka hari ini (12/3/2019), Otoritas Penerbangan Sipil Singapura – Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) juga mengeluarkan keputusan yang sama. Keputusan tersebut didasari dua kecelakaan yang melibatkan Boeing 737 MAX 8 dalam waktu berdekatan, yakni yang menimpa Ethiopian Airlines ET302 dan Lion Air JT610.
Baca juga:Lakukan Inspeksi, Kemenhub Resmi Berlakukan Temporary Grounded Pada Boeing 737 MAX 8
Dikutip KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com, disebutkan keputusan temporary grounded atau temporarily suspending operation pada Boeing 737 MAX 8 resmi diberlakukan mulai Selasa, 12 Maret 2019, terhitung sejak pukul 14.00 waktu setempat. Populasi Boeing 737 MAX 8 di Singapura memang tak sebanyak di Indonesia. Di Negara Kota tersebut hanya SilkAir yang mengoperasikan 6 unit Boeing 737 MAX.
Seperti halnya langkah yang dilakukan di Indonesia, CAAS juga akan melakukan serangkaian inspeksi dan me-review berbagai aspek keselamatan pada pesawat. Namun berbeda dengan Garuda Indonesia dan Lion Air yang menyatakan temporary grounded tidak berpengaruh pada layanan dan jadwal penerbangan, maka SilkAir menyatakan grounded akan berpengaruh langsung pada jadwal penerbangan.
Dalam keterangan resmi di akun Facebook, pihak SilkAir menjelaskan bahwa penarikan 737 MAX 8 dari layanan akan berdampak pada beberapa jadwal penerbangan. Untuk itu pelanggan yang terkena gangguan penerbangan akan dihubungi untuk kompensasi atau penjadwalan penerbangan ulang. Selain keenam Boeing 737 MAX 8, SilkAir saat ini mengopersikan 17 unit 737-800NG.
Baca juga:Pasca Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8, Lion Air dan Garuda Indonesia Nyatakan Jadwal Penerbangan Tidak Terganggu
Selain Lion Air, Garuda Indonesia dan SilkAir, maskapai pengguna Boeing 737 MAX 8 diantaranya adalah Air Canada, Air China, American Airlines, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, Ethiopian Airlines, Flydubai, Jet Airways, Southwest Airlines dan Turkish Airlines.
Terhitung sejak Senin (11/3/2019) kemarin dan Selasa (12/3/2019), PT KAI Daop 6 Yogyakarta membagikan 10 ribu gelas kopi gratis di Stasiun Tugu Yogyakarta dan Solo Balapan. Aksi itu merupakan bagian dari bagi-bagi 50 ribu gelas kopi secara cuma-cuma yang dilakukan PT KAI di seluruh Indonesia. Di Stasiun Tugu sendiri, ada sekitar 30 stand yang menyediakan kopi gratis selama Festival Ngopi Bareng KAI Jilid 3 dyang dihelat pada tanggal 11-12 Maret 2019.
Baca Juga: Apresiasi Petani Kopi, PT KAI Bagi-Bagi Kopi Gratis!
Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kepala PT KAI Daop 6 Yogyakarta, Eko Purwanto, mengatakan bahwa festival ini merupakan agenda tahunan yang digelar oleh PT KAI. Tahun ini, sebanyak 50 ribu gelas kopi dibagikan secara cuma-cuma di 17 stasiun di 15 kota. Adapun 10 ribu kopi gratis itu dibagi di Stasiun Tugu Yogyakarta dengan jatah 7.500 gelas dan Stasiun Solo 2.500 gelas.
Dijelaskannya, Festival Ngopi Bareng KAI Jilid 3 terselenggara berkat kerjasama PT KAI dengan Komunitas Kopi Nusantara. Setidaknya ada 200 barista lokal yang terlibat, dengan 30 barista meramu di Stasiun Tugu. Untuk bisa menikmati kopi-kopi berkualitas ini, para pengunjung hanya cukup menunjukkan aplikasi KAI Access yang sudah diunduh di gadget mereka.
“Tujuan festival ini ikut mendorong produk kopi lokal. Ini (disebut) ngopi kebangsaan bisa juga, ngopi bareng, (ngopi) dengan santai, rileks dan gembira. Sehingga meningkatkan rasa persaudaraan di antara kita,” tambah Eko.
Sumber: detik.com
Nah, di sisi para barista yang menyuguhkan kopi ini sendiri, mereka memiliki pandangan lain tentang dihelatnya festival semacam ini. Adalah Bagas Sunu, salah seorang barista kawakan di Yogyakarta dan juga salah satu anggota dari Komunitas Kopi Nusantara mengaku senang menyambut Festival Ngopi Bareng KAI Jilid 3 ini.
Menurutnya, ini merupakan kesempatan bagi para anggota komunitas untuk tidak hanya membagikan kopi kepada para pendatang, melainkan juga sebagai ajang untuk menyalurkan berbagai pengetahuan mereka di bidang kopi.
“Karena di acara ini kami bergandengan dengan BUMN, jadinya seperti simbiosis mutualisme. Para anggota Komunitas Kopi Nusantara dapat stimultant event, sementara untuk KAI sendiri dapat para barista yang siap menyajikan kopi,” ujar Bagas kepada KabarPenumpang.com.
“Bagi kami (Komunitas Kopi Nusantara), yang terpenting itu bukan hanya menyajikan kopi kepada para pengunjung, melainkan edukasi tentang segala hal yang berkaitan tentang kopi kepada para pengunjung. Edukasi kualitas kopi, cara nyeduh bahkan buat kopi di rumah, dan lain-lain,” tandasnya.
Baca Juga: Sepenggal Cerita dari Loko Coffee Shop Yogyakarta
Sebagai salah satu barista yang terjun langsung dalam acara ini, Bagas sendiri berharap agar acara semacam ini dapat lebih sering diadakan. Pasalnya, dengan diadakannya acara semacam ini, maka itu seolah menjadi gerbang untuk para anggota komunitas untuk menyadarkan masyarakat tentang menikmati kopi yang berkualitas dengan lebih mudah.
“Kalau dari komunitas pasti juga berharap yang terbaik untuk para anggotanya maupun masyarakat, apalagi acara semacam ini ada sangkut pautnya dengan keberlangsungan industri kopi nusantara.” Tutup Bagas.
Ethiopian Airlines yang mengoperasikan Boeing 737 MAX 8 baru saja mengalami kecelakaan kemarin serta menewaskan 157 orang didalamnya. Imbas dari musibah tersebut, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan surat penghentian sementara atau temporary grounded untuk semua maskapai yang mengoperasikan jenis pesawat Boeing 737 MAX 8.
Baca juga: Lakukan Inspeksi, Kemenhub Resmi Berlakukan Temporary Grounded Pada Boeing 737 MAX 8
Maskapai terbesar di Indonesia, Lion Air yang memiliki sepuluh pesawat Boeing 737 MAX 8 mau tak mau juga ikut terkena imbasnya dengan menghentikan pengoperasian sementara dari armada tersebut. Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pihaknya mengikuti surat edaran tersebut untuk upaya memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan.
“Kami punya sepuluh pesawat Boeing 737 MAX 8 dan kini harus menghentikan sementara sampai batas waktu yang ditentukan. Lion Air tidak mengalami gangguan, karena di sistem kami ada rotasi pengoperasian pesawat, sehingga sepuluh pesawat tadi digantikan dengan pesawat lainnya,” ujar Danang yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (12/3/2019).
Danang menambahkan, dengan rotasi ini tidak akan ada yang dirugikan baik penumpang maupun maskapai. Sebab Lion Air selalu melaksanakan budaya keselamatan dalam setiap operasional penerbangan dan akan meminimalisir dampak dari keputusan penghentian sementara Boeing 737 MAX 8 tersebut agar operasional penerbangan dapat berjalan dengan baik dan tidak terganggu.
Sama dengan Lion Air yang memiliki pesawat Boeing 737 MAX 8, Garuda Indonesia yang memiliki satu armada, melakukan inspeksi ekstra terhadap pesawat jenis itu.
“Sebagai provider jasa penerbangan yang turut mengoperasikan satu armada Boeing 737 Max 8, Garuda Indonesia secara berkelanjutan terus melaksanakan prosedur inspeksi ekstra serta pemeriksaan berkala lanjutan,” kata M Ikhsan Rosan, Vice President Corporate Secretary PT Garuda indonesia.
Ikhsan mengatakan, inspeksi ekstra tersebut adalah pemeriksaan fitur-fitur vital penunjang kelaikan armada seperti airspeed, altitude system, flight control system, hingga stall management system dengan catatan hasil inspeksi baik. Pihak Garuda juga melakukan training terhadap pilot secara rutin untuk melaksanakan proficiency check di simulator Boeing 737 MAX.
“Garuda Indonesia juga terus melaksanakan close review dan berkoordinasi intensif dan memberikan regular report sejak Oktober tahun lalu. Dengan regulator dalam hal ini Direktorat Jenderal Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), dan memberikan saran dalam menyikapi adanya insiden penerbangan yang melibatkan armada Boeing 737 Max 8,” ujar Ikhsan.
Baca juga: Alvin Lie: Pemerintah Indonesia Sebaiknya Tidak Terbangkan Dulu Boeing 737 MAX 8
Terkait dengan keputusan Dirjen Pehubungan Udara Kemenhub, Ikhsan mengatakan Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan nasional terus berupaya mengedepankan komitmen dan budaya safety dalam seluruh lini operasionalnya. Hal tersebut sejalan dengan value aspek “safety” sebagai “core” operasional perusahaan yang sudah tertanam dalam budaya kerja jajaran karyawan dan lini operasional Garuda Indonesia.
Bagi Anda yang kerap menyandarkan pilihan kepada pesawat ketika hendak menyambangi satu destinasi, pernahkah Anda berpapasan dengan seorang pilot? Bagi Anda yang belum pernah berpapasan dengan seorang pilot, ada baiknya Anda memperhatikan keseluruhan dari seragam yang dikenakan oleh juru kemudi pesawat tersebut dan menaruh fokus terhadap bar pangkat yang ada di pundak mereka. Tahukah Anda arti dari setiap garis pada pangkat yang disematkan di pundak para pilot tersebut?
Baca Juga: Inilah Penyebab Ketika Pilot Benar-Benar Kelelahan!
Alih-alih tanpa arti, ternyata setiap garis tersebut memiliki artinya masing-masing. Jika diperhatikan, ada empat jenis pangkat yang disematkan di pundak pilot, mulai dari yang bergaris satu hingga bergaris empat. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, untuk pilot yang memiliki satu garis di pangkat pundaknya itu disebut Cadet Pilot. Cadet Pilot sendiri biasanya adalah seorang co-pilot yang baru lulus dari sekolah penerbangan.
Nah, untuk pilot yang memiliki dua garis di pangkat pundaknya, ia berarti seorang Second Officer, dimana biasanya ia merupakan seorang kopilot yang sudah memiliki jam terbang lebih dari 150 jam terhitung sejak ia bergabung bersama suatu maskapai.
Lanjut ke pilot yang memiliki tiga garis di pangkat pundaknya. Mereka ada First Officer (FO), dimana untuk jenis ini, terbagi lagi ke dalam dua klasifikasi – Junior First Officer dan Senior First Officer. Tidak ada perbedaan yang terlalu menohok di antara dua pembagian ini, namun salah satu aspek yang membedakan keduanya adalah jam terbang, dimana yang senior memiliki jam terbang yang lebih tinggi ketimbang yang junior.
Lalu yang terakhir, ada Captain yang memiliki empat garis pada pangkat pundaknya. Dimana ia yang memegang tanggung jawab penuh terhadap suatu penerbangan.
Namun, patut Anda ingat, penjabaran di atas tidaklah mutlak digunakan oleh semua maskapai. Masing-masing maskapai memiliki ketentuannya sendiri dalam menggunakan garis-garis pangkat tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Capt. Vincent Raditya dari maskapai Batik Air.
“Tentunya maskapai memiliki beda-beda porsinya antara setiap bar. Ambil contoh di tempat saya bekerja (Batik Air), untuk bar satu akan digunakan oleh kopilot dengan jam terbang mulai dari 0-500 jam. Nah, di atas 500 jam, maka mereka akan menggunakan bar dua. Sementara di atas 2500 jam mereka akan menggunakan bar tiga. Baru setelah mereka upgrading mereka menggunakan bar empat,” tutur Capt. Vincent melalui video yang diunggahnya ke akun Youtube pribadinya.
Baca Juga: Ketika Penerbangan Jarak Jauh, Apa Saja Sih Yang Dilakukan Pilot?
“Kalau maskapai luar negeri, tentunya ada juga yang menggunakan bar satu sebagai pramugaranya, ada pula yang mengenakan bar dua sebagai second officer, tapi ada pula yang co-pilot menggunakan bar satu. Semua bar tergantung dengan apa yang diberikan perusahaan tentang apa arti tanda pangkat tersebut. ada juga pilot yang memiliki tanda bintang di pangkat mereka. Bintang ini mungkin mereka Company Check Pilot (CCP), ada pula yang terdapat bunganya. Lain negara dan lain perusahaan memiliki policy dan seragam yang berbeda,” tandas Capt. Vincent.
Jadi, kalau berpapasan dengan pilot di Bandara, Anda sedikitnya sudah paham ya dengan tanda pangkat yang ada di pundak mereka.
Mungkin sebagian dari Anda masih ingat dengan insiden yang menimpa buah hati dari pasangan Chris dan Hong Daley, Marcus dimana ia mengalami muntah-muntah, mata bengkak, hingga kesulitan berbicara ketika mereka bertiga tengah melakukan perjalanan pulang dari Thailand pada 12 Juli 2017 silam. Disinyalir, Marcus mengidap sebuah penyakit yang bernama anaphylaxis. Anaphylaxis merupakan reaksi alergi yang menyerang lebih dari satu fungsi organ tubuh yang bisa menyebabkan kematian.
Baca Juga: Tak Disangka! Snack Kacang Nyaris Mengundang Maut di Penerbangan Ini
Nah kali ini kejadian yang hampir serupa menyerang seorang penumpang maskapai Qantas Airways, dimana penumpang berjenis kelamin wanita ini terpaksa bersembunyi di dalam toilet maskapai setelah awak kabin flag carrier Australia tersebut menyajikan kacang almond kepada penumpang lain. Tidak hanya bersembunyi di dalam toilet saja, penumpang yang bernama Laura Merry tersebut sampai-sampai harus memakai masker karena dirinya berisiko mengalami syok anafilaksis – hampir mirip seperti yang dialami oleh Marcus.
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman uk.news.yahoo.com (9/3/2019), Laura yang berprofesi sebagai guru ini mengaku kecewa dengan pelayanan yang dilakukan oleh pihak Qantas Airways, pasalnya ketika ia memesan tiket penerbangan menuju Australia guna mengunjungi adiknya, Laura sudah menginformasikan kepada pihak maskapai bahwa dirinya memiliki alergi terhadap kacang. Sampai-sampai, Laura menuliskan dokumen khusus yang menyatakan agar pihak Qantas tidak menyajikan kacang selama penerbangan tersebut.
“Ketika saya mengudara pada tanggal 3 Maret 2019 kemarin, reaksi manajer awak kabin ketika melihat alergi saya terkesan acuh tak acuh, dengan mengatakan bahwa dirinya tidak memegang catatan permintaan khusus dari penumpang,” ujar Laura.
Ketika Laura menegur manajer awak kabin yang bersangkutan, ia malah menampik untuk tidak membagikan cemilan gratis tersebut karena kacang almond tersebut, “merupakan bagian dari kebijakan maskapai.”
Alih-alih menuruti permintaan dari Laura yang sudah diminta berbulan-bulan sebelumnya, manajer awak kabin tersebut malah memberikan Laura sebuah masker yang bisa ia gunakan untuk menyaring bau dari kacang almond tersebut.
Baca Juga: Mulai Alergi Kacang Hingga Abu Jenazah, Inilah Deretan Peraturan Unik di Maskapai
“Selama penerbangan tersebut, mereka memberi saya sebuah masker untuk dipakai sebagai solusi. Padahal mereka bisa saja untuk tidak menyajikan cemilan gratis tersebut atau menggantinya dengan menu lain yang tidak menggunakan kacang,” ujar Laura.
“Masker ini tidak akan mencegah reaksi dari alergi yang saya idap. Saya juga terpaksa duduk di toilet untuk menghindari bau dari makanan ringan di sekitar saya,” sambungnya.
Menanggapi hal ini, pihak Qantas belum memberikan konfirmasi resmi, namun salah satu perwakilan perusahaan mengatakan, “Qantas sadar akan tantangan yang dihadapi oleh penderita alergi dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko bagi banyak pelanggan kami, terutama dari paparan kacang. Tetapi karena ada berbagai jenis alergi, kami tidak mungkin memenuhi kebutuhan semuanya,”
Mungkin beberapa dari Anda sudah muak dengan konfigurasi bangku di penerbangan kelas ekonomi, dimana Anda harus duduk berjam-jam dengan posisi yang ‘tegak-lurus’ sebelum pesawat tiba di destinasi tujuan. Sadar bahwa masalah semacam ini harus dientaskan sesegera mungkin, salah satu maskapai asal Timur Tengah, Qatar Airways memperkenalkan desain bangku yang kelak akan menawarkan kenyamanan, kendati Anda harus mengudara di kelas ekonomi sekalipun.
Baca Juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (6/3/2019), bangku-bangku baru ini akan tersedia pertama kali di armada Airbus A321neo dan A321LR yang akan didatang oleh pihak maskapai. Kedua armada ini merupakan pesawat jet bermesin ganda, single-aisle yang biasanya digunakan untuk melakoni penerbangan jarak pendek dan menengah. Qatar Airways sendiri memiliki pesanan 50 jet dari Airbus, termasuk 10 diantaranya merupakan versi untuk penerbangan jarak jauh.
Para penumpang juga dapat berharap untuk melihat bangku-bangku baru ini pada 60 pesanan armada Boeing 777X milik maskapai, yang menurut rencana, akan mulai diluncurkan pada tahun 2020 mendatang. Untuk armada Airbus A321, adapun konfigurasi yang akan digunakan oleh pihak Qatar adalah 3-3, sebagaimana yang sering ditemukan di armada narrow-body rilisan Airbus.
Seperti yang bisa Anda lihat pada video di atas, kelak seat pitch antar bangku tidaklah sempit lagi seperti dulu – dimana kaki para penumpang bisa dibentangkan ke arah bangku di depannya. Belum lagi head rest penumpang yang bisa disetel sesuai kebutuhan para penumpangnya. Lalu untuk reclining seat, penumpang bisa menyandarkan tubuhnya ke belakang hingga kemiringan 19 derajat.
Lalu bagaimana dengan layar hiburan yang biasa Anda temui di belakang bangku penumpang? Tenang, karena bangku-bangku ini seolah sudah menjadi paket dengan sistem hiburannya – sebuah layar 13,3 inci dengan resolusi layar 4K. Lalu para penumpang juga bisa mengisi daya gadget mereka di sistem layar hiburan ini – berkat hadirnya outlet USB Type-C.
Baca Juga: 5 Fakta Unik Tentang Qatar Airways yang Mungkin Baru Anda Tahu!
Dan, saatnya Anda untuk mengucapkan selamat tinggal pada meja lipat model lama yang berada di belakang bangku penumpang, karena di bangku yang baru ini, Anda akan menemukan sebuah meja lipat yang memiliki desain elegan dan juga penampang gelas minuman persis di bawah layar hiburan tersebut.
Bagaimana, apakah ini cukup membuat Anda penasaran untuk segera menjajal penerbangan kelas ekonomi dari Qatar Airways?