Menjadi Penumpang Tunggal Dalam Penerbangan? Wanita Filipina Baru Merasakannya

Pernah merasakan menjadi satu-satunya penumpang dalam sebuah penerbangan? Mungkin hal itu tidak pernah terpikirkan oleh Anda, apalagi kursi pesawat biasanya penuh dengan penumpang atau bisa dikatakan hanya beberapa kursi yang kosong. Baca juga: Jadi Penumpang Tunggal di Penerbangan Garuda Indonesia, Sosok Pengusaha Asal Palu Menjadi Viral Namun, baru-baru ini terjadi pada seorang wanita asal Filipina yang menggunkan pesawat narrow body Phillipine Airlines dari Davao menuju Manila. KabarPenumpang.com melansir dari indiatoday.in (2/1/2019), wanita bernama Louisa Erispe mejadi satu-satunya penmupang dalam penerbangan tersebut. Dia juga menjadi penumpang tunggal yang mendengarkan instruksi keselamatan dari awak kabin dan terkejut akan hal tersebut. Meski menjadi penumpang tunggal, Erispe ditemani oleh tujuh awak kabin yang membuatnya nyaman. Mungkin ini adalah pertama kali baginya menjadi satu-satunya penumpang yang mendapatkan sajian makanan dan minuman dalam penerbangan. Barang yang ada di bagasi pun hanya miliknya seorang. Ternyata, hal ini juga dirasakan oleh Latsamy McAdoo, penumpang yang berangkat dari Miami menuju ke Koh Samui di Bangkok, Thailand. Dia mengaku sendirian dalam pesawat dan hal tersebut didapat dari sebuah video yang di unggah pada Januari 2018 terlihat Latsamy menari-nari di lorong. Penerbangan tersebut pagi hari, dimana dirinya menggunakan kelas bisnis dan naik terlebih dahulu. Dirinya mengaku terlalu sibuk dengan ponselnya sesaat sebelum keberangkatan. Hingga dirinya tersadar saat awak kabin menutup pintu pesawat. “Saya bertanya apakah dia menutup pintu karena hujan karena itu adalah penerbangan tanpa jet tetapi dia menyatakan tidak, mereka sudah selesai naik,” ujar Latsamy. Kejadian ini pun pernah terjadi pada seorag pengusaha bernama Habib Abdullah Idrus Alhabsy, yang merupakan seorang pengusaha asal kota Palu, Sulawesi Tengah. Dirinya menjadi salah satu penumpang Garuda Indonesia dari Jakarta Menuju ke Palu dengan transit di Makassar. Baca juga: Tak Mau Lewatkan Natal Bersama Keluarga, Seorang Ayah Terbang Saat Putrinya Bertugas di Udara Dirinya mendapat prioritas karena menjadi pemegang platinum Garuda Frequent Flyer. Dolah Palu, panggilan pengusaha ini juga mengaku dulu pernah menaiki DC-10 dalam kondisi sendirian. Ground crew Garuda Indonesia di Palu kemudian diikutkan penerbangan lanjutan dan pesawat tersebut lebih dahulu transit di Makassar dan penumpang dari Palu turun, tetapi Dolah Palu tak ingin turun dan memaksa tetap di dalam pesawat. Hal ini membuat pilot dan kopilot akhirnya mengiyakan Dolah Palu terbang bersama mereka meski sendirian tanpa penumpang lain dan hanya dengan pilot, kopilot serta enam orang awak kabin dalam pesawat berisi 156 penumpang tersebut. Dia mengatakan, video dirinya dalam penerbangan tersebut diunggah oleh seorang teman yang sudah meminta izin terlebih dahulu sebelum mempostingnya ke akun media sosial.

Tergelincir di Dalam Toilet, Seorang Penumpang Tuntut Rp2,2 Miliar ke Pihak Jetstar

Dua tahun lebih telah berlalu setelah Richard Pearson, seorang penumpang maskapai Jetstar tergelincir di toilet armada asal Negeri Kangguru ini. Kini dikabarkan ia tengah menuntut pihak maskapai dengan dalih cacat permanen yang diderita dirinya. Adapun cacat yang diderita oleh Richard ini menderu lutut sebelah kanannya dan bersifat permanen.

Baca Juga: Kasus Awak Kabin Jetstar: Tenaga Asing Dibayar Murah dengan Kerja Ekstra

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman stuff.co.nz (2/1/2019), pada 7 September 2016 kemarin, Richard bersama istri dan anaknya tengah berada di dalam penerbangan malam dari Bali menuju Melbourne. Di tengah perjalanan, Richard yang duduk di seat nomor 53 lalu bangkit dan bertolak menuju toilet yang ada di pesawat berjenis Boeing 787 Dreamliner ini.

Ketika pria berusia 58 tahun ini masuk ke dalam toilet, ia tidak sadar bahwa ada genangan air. Tak pelak, Richard jatuh tergelincir dengan posisi yang sangat menyakitkan.

“Kaki kanan Richard melebar ke arah kanan, sedangkan lutut kanannya ke arah yang berlawanan, sedangkan kaki kirinya ‘meluncur di sepanjang toilet,” ujar tuntutan yang diajukan Richard.

“Kakinya (Richard) lalu menabrak salah satu sudut toilet dan pergelangan kaki kanannya berputar 90 derajat, bahkan Richard sampai mendengar lutut kanannya berbunyi cukup keras dan ia mulai merasakan sakit yang luar biasa,” lanjut tuntutan tersebut.

Richard sampai-sampai harus berteriak memanggil awak kabin untuk membantunya kembali ke tempat duduk. Sesampainya di tempat duduk, Richard malah diinterogasi oleh awak kabin yang terkesan menuduhnya jatuh akibat ulahnya sendiri.

“Apakah Anda yakin telah membersihkan kamar mandi dan tidak meninggalkan genangan setelah Anda menggunakannya?” ujar salah satu awak kabin.

Alih-alih membantu Richard, awak kabin Jetstar malah menolak untuk membantunya dan meminta Richard untuk melakukan komplain secara online setibanya ia di tujuan.

Dengan bermodalkan dana sendiri, Richard lalu menjalani pengobatan, tanpa sedikitpun kontribusi dari pihak Jetstar.

Baca Juga: Alami Kendala Teknis, Maskapai JetStar “Panggang” Penumpangnya

Seorang juru bicara dari Jetstar bersikukuh bahwa kejadian yang dialami oleh Richard ini merupakan murni kesalahan dan keteledorannya sendiri, sehingga mereka membantah klaim senilai $220.000 dollar Australia atau yang setara dengan Rp2,2 miliar yang diajukan Richard untuk pengobatan kakinya tersebut.

Mengingat perseteruan antar dua belah pihak yang semakin memanas, akhirnya masalah ini akan di bawa ke hadapan Hakim Michael Wheelahan di Melbourne pada tanggal 25 Januari mendatang.

‘Melukis’ di Meja Lipat Pesawat, Penumpang ini Mendadak Viral!

Pada beberapa artikel sebelumnya, kami sudah membeberkan sejumlah fakta tentang maskapai terburuk yang ada di dunia. Memang, penilaian tentang maskapai terburuk ini terlalu subjektif, tapi mungkin Anda setuju dengan beberapa karakteristik penumpang terburuk di dalam suatu penerbangan.

Baca Juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele

Selain harus menjaga ketertiban dan kenyamanan sesama penumpang, Anda juga dituntut untuk menjaga fasilitas milik pihak maskapai yang ada di dalam ruang kabin.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari akun media sosial Instagram @passengershaming, terdapat sebuah video yang menunjukkan balita yang tengah dipangku oleh orang tuanya. Tidak hanya sekedar memangku anaknya, namun si orang tua ini juga sembari mengajarkan anaknya menggambar dengan menggunakan krayon warna-warni. Lalu, sebelah mananya yang melanggar aturan?

Ya, dalam video yang diunggah pada Jumat (28/12/2018) ini, orang tua dari balita ini mengajarkan anaknya menggambar di meja lipat yang terdapat di belakang bangku penumpang (tray table). Tidak perlu dipertanyakan lagi, tindakan yang dilakukan oleh orang tua balita ini sudah menyalahi aturan, dimana mereka tidak bisa menjaga fasilitas milik maskapai.

Sebagai seorang penumpang, sudah selayaknya kita menjaga fasilitas yang bukan milik kita, terlebih sebelum mengudara, awak kabin selalu mengingatkan para penumpang untuk menjaga fasilitas yang ada di dalam pesawat.

Jika ditelisik dengan menggunakan akal sehat saja, mencoret-coret media selain kertas dan lain sebagainya merupakan tindakan yang kurang terpuji.

Dalam video tersebut, tampak sejumlah coretan krayon di beberapa table tray yang tengah berada dalam kondisi tertutup. Krayon yang digunakan pun tidak hanya satu warna, melainkan beberapa. Di samping jendela, tampak orang tua yang tengah memangku anaknya yang tengah asyik ‘melukis’ tray table tersebut.

Tidak diketahui lebih lanjut mengenai dimana dan kapan kejadian ini persisnya terjadi, namun warganet yang melihat unggahan tersebut tidak dapat menahan emosi mereka.

“Seharusnya wajah dari si orang tua tidak disamarkan,” tutur salah satu warganet yang memprotes tentang  wajah dari si orang tua dan anaknya yang disamarkan.

“Mengapa orang tua itu sangat buruk dalam mengayomi anaknya, sungguh memalukan,” tandas warganet lain.

Baca Juga: Jadi Baiknya Sebagai Penumpang Pesawat Duduk di Kursi Mana?

Kebanyakan dari warganet mengeluhan tentang tindakan si orang tua yang seolah mengajarkan kepada anaknya berbuat vandalism dengan mencoret-coret salah satu fasilitas publik.

Tentu saja, ini bukanlah aksi yang patut untuk ditiru, ya!

Bangun Fasilitas Bandara di 2019, Angkasa Pura I Investasikan Rp17,24 Triliun

Sepanjang tahun 2018, PT Angkasa Pura I selaku pengelola 13 bandara melaporkan telah melayani 96,5 juta penumpang. Angka tersebut tumbuh 7,6 persen jika dibandingkan dengan tahun 2017 dengan 89,7 juta penumpang. Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali masih menjadi penyumbang penumpang terbanyak dengan 23,7 juta penumpang, atau tumbuh 12,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Baca juga: Garuda Indonesia Keluhkan Tingginya Frekuensi Ramp Check di Bandara Changi Sedangkan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang mencatatkan pertumbuhan penumpang tertinggi diantara bandara-bandara Angkasa Pura I lainnya dengan kenaikan sebesar 16,4 persen, dari 4,42 juta penumpang pada 2017 menjadi 5,12 juta penumpang di tahun 2018. Setelah berhasil mengoperasikan Bandara Jenderal Ahmad Yani di tahun 2018, di tahun 2019 ini Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin ditargetkan dapat mulai melayani penumpang. “Bandara Internasional Yogyakarta ditargetkan beroperasi pada April 2019, sedangkan Bandara Syamsudin Noor mulai Oktober 2019. Kedua bandara tersebut akan memiliki kapasitas yang jauh lebih memadai dengan fasilitas yang lebih lengkap dan modern, sehingga akan meningkatkan ‘level of service’ sekaligus menciptakan ‘passenger experience’ yang berkesan bagi para pengguna jasa bandara ,” kata Faik Fahmi, Direktur Utama Angkasa Pura I dalam siaran pers (2/1). Menyambut tahun 2019, Angkasa Pura I optimis akan melayani lebih dari 101 juta penumpang. “Kami menargetkan pendapatan di atas Rp10 triliun, meningkat 16,5 persen dibandingkan dengan pendapatan tahun 2018, dengan laba bersih di atas Rp2 triliun atau meningkat 18 persen,” tambah Faik. Baca juga: Dua Bandara di Australia Hadirkan Anjing Terapi Bagi Penumpang yang Alami Stre Angkasa Pura I juga menyiapkan dana investasi sebesar Rp17,24 triliun untuk digunakan sepanjang 2019. Sebanyak Rp7,9 triliun diantaranya digunakan untuk pembangunan empat proyek bandara, yaitu pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, dan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar. “Lalu Rp5,8 triliun untuk pengembangan bandara-bandara lainnya serta Rp3,5 triliun untuk investasi operasional, termasuk pengembangan bandara dari Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) Kementerian Perhubungan,” rinci Faik.

Ternyata, Olimpiade 1964 Punya Pengaruh Penting Bagi Jaringan Kereta Shinkansen

Dalam waktu kurang lebih 20 bulan ke depan, seluruh perhatian dunia akan tertuju ke Negeri Sakura. Bukan tanpa alasan, sebab jika tidak ada aral melintang, perhelatan Olimpiade Musim Panas 2020 akan di adakan di Tokyo sejak tanggal 24 Juli hingga 9 Agustus 2020. Ini merupakan kali ketiga bagi Jepang menjadi tuan rumah dalam ajang olahraga empat tahunan ini, setelah sebelumnya Olimpiade ke-VII pada tahun 1940, dan Olimpiade ke-XVIII pada tahun 1964. Lalu, apa yang spesial dari ajang olahraga internasional ini?

Baca Juga: Armada Anyar Shinkansen Siap Mengular Pada 2020 Mendatang

Olimpiade Tokyo 1964 kerap kali dijadikan sebagai salah satu momen penting dalam perkembangan negeri para samurai ini. Selain kala itu Jepang mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah Olimpiade, tapi ajang ini juga menandakan kebangkitan negara Jepang yang modern.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman teamusa.org (1/1/2019), kebangkitan Jepang ini disebabkan oleh perkembangan infrastruktur negara yang pesat, terutama dalam hal pembangunan jaringan kereta berkecepatan tinggi atau yang biasa disebut Shinkansen. Kala itu, teknologi yang digunakan oleh kereta Shinkansen tergolong sebagai yang paling modern dan paling mutakhir.

Jaringan kereta Shinkansen ini pertama kali dibuka pada tanggal 1 Oktober 1964, atau hanya berselang sembilan hari sebelum opening ceremony ajang olahraga tersebut. Waktu pembangunan jaringan Shinkansen pertama ini juga tergolong cukup cepat, hanya memakan waktu lima tahun. Sedangkan rute pertama dari jaringan kereta Shinkansen ini adalah Tokaido Line, yang menghubungkan Tokyo dan Osaka. Kendati belum secepat sekarang, namun waktu tempuh antara Osaka dan Tokyo dapat dipersingkat menjadi empat jam saja, dengan kecepatan 130 mil per jam. Jika ditempuh dengan menggunakan moda darat lain, dibutuhkan waktu sekira tujuh jam.

Seiring dengan perkembangan jaman, kini antara Tokyo dan Osaka yang terpaut jarak sekitar 515 km ini hanya membutuhkan waktu kurang dari dua setengah jam saja. Kini jaringan Shinkansen di seluruh negeri sudah mencapai panjang lebih dari 1.700 mil, dengan jangkauan di hampir seluruh negeri, dari mulai Sapporo di sebelah utara, hingga Kagoshima di sebelah selatan Jepang.

Lebih hebatnya lagi, Shinkansen berhasil mencatatkan satu pencapaian yang prestisius, yaitu tidak pernah mengalami satupun kecelakaan fatal setelah beroperasi lebih dari 50 tahun lamanya. Lain daripada itu, On Time Performance (OTP) dari Shinkansen juga tidak boleh diremehkan, pasalnya waktu keterlambatan pemberangkatan Shinkansen hanya terhitung dalam hitungan detik saja. Menurut Central Japan Railway Company, rata-rata waktu keterlambatan kereta Shinkansen hanya 24 detik saja.

Baca Juga: Terus Kembangkan Shinkansen, JR East Uji Coba ALFA-X

Ketika kereta Shinkansen masih terus mengalami perkembangan hingga saat ini, Jepang juga tengah membagi atensinya dengan jaringan kereta bertenaga levitasi magnetik (maglev) yang menurut perkembangan terakhir tengah masuk ke dalam tahap pengujian. Jadi, masih mau membantah bahwa Jepang bukanlah negara dengan jaringan kereta nomor satu di dunia?

Terkendala Sistem Pengereman, Ratusan Ribu Penumpang Shinkansen Padati Stasiun

Sebagai salah satu momen berharga untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta, sudah seyogyanya jika ada banyak orang yang berbondong-bondong ‘plesiran’ di malam pergantian tahun, entah itu untuk pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga atau hanya untuk sekedar berjalan-jalan. Bagi mereka yang malas menggunakan kendaraan pribadi, moda transportasi berbasis massal muncul sebagai opsi yang dapat digunakan warga untuk bermobilitas. Namun apa jadinya jika moda berbasis massal tersebut malah mogok ketika permintaan sedang tinggi-tingginya?

Baca Juga: Mendapat Tentangan dari Oposan, Beginilah Sejarah Singkat Kereta Cepat Shinkansen

Ya, inilah yang terjadi pada jaringan kereta peluru Shinkansen di Negeri Sakura kemarin, dimana salah satu armada yang mogok berdampak pada banyak jaringan Shinkansen lainnya. Antrean panjang dan kekacauan sudah tidak bisa dielakkan lagi di sejumlah stasiun kereta super cepat ini.

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman soranews24.com (31/12/2018), kereta Shinkansen Tsubasa 177 yang mengular di jalur Tohoku – Yamagata via Yamabiko mengalami masalah pada sistem pengereman di Stasiun Tokyo pada Minggu (30/12/2018) sekira pukul 09.50 waktu setempat.

Menurut laporan yang beredar, armada Tsubasa 177 ini tidak dapat dialihkan menuju jalur lain dan terjebak di platform 23. Kereta ini sendiri terjebak selama hampir lebih dari satu setengah jam. Kendati begitu, ratusan jadwal perjalanan Shinkansen lainnya pun turut terdampak akibat insiden di kala peak season ini. Alhasil, penumpukan penumpang terjadi di sejumlah stasiun.

Menurut salah satu juru bicara dari JR East, semua kereta di jalur Tohoku, Joetsu, Hokuriku, Yamagata dan Akita Shinkansen tertunda selama lebih dari 90 menit pada pukul 15.00 waktu setempat.

Kondisi seperti ini dikabarkan semakin memburuk pada pukul 17.30 waktu setempat, dimana pihak JR East mengatakan penundaan jadwal keberangkatan ditambah menjadi dua jam.

Hingga pukul 21.30 waktu setempat, kondisi ini masih belum membaik dan luapan penumpang semakin menjadi-jadi. Tidak sedikit dari penumpang yang menanyakan soal kereta terakhir yang beroperasi.

Hingga pada akhirnya jadwal pemberangkatan kereta terakhir (22.45 waktu setempat), penundaan keberangkatan ini masih belum menemukan titik terang.

Baca Juga: Di Shinkansen, Toleransi Antar Penumpang Kereta Begitu Kuat

Tercatat, sekitar 228.700 penumpang terdampak insiden ini, dengan penundaan pemberangkatan pada sekitar 376 rute di jalur Shinkansen yang dioperasikan oleh JR East.

KA Pangandaran Beroperasi, Kini Jakarta-Banjar Jadi Lebih Mudah

Kereta Api Pangandaran hari ini (2/1/2019) diluncurkan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) dengan relasi Jakarta menuju Banjar (PP). Kereta dengan relasi ini akan terdiri dari empat gerbong eksekutif dan empat gerobong kereta ekonomi premium dengan total kapasitas 520 kursi. Nama KA Pangandaran sendiri diambil dari nama daerah salah satu potensi wisata yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar yakni Pangandaran. Baca juga: PT KAI Gandeng Perum Damri, Mudahkan Perjalanan dari Palembang ke Stasiun Gambir Kabupaten Pangandaran sendiri memiliki beberapa objek wisata yakni Pantai Pangandaran, Pantai Batu Karas, Green Canyon dan lainnya. Hadirnya KA Pangandaran ini PT KAI memberikan tarif promo dari keberangkatan tanggal 2 Januari hingga 1 Februari 2019 untuk kelas eksekutif Rp160 ribu dan Rp110 ribu untuk kelas ekonomi premium. Sedangkan untuk Bandung-Banjar PP, baik kelas eksekutif Rp1000 dan ekonomi premium hanya dikenakan Rp500. Untuk mendapatkan tiket ini, bisa melalui loket, KAI Access dan web KAI, channel lainnya dan vending machine ticketing di stasiun. KA Pangandaran akan berangkat dari Gambir pukul 07.50 pagi dan tiba pukul 15.56, sedangkan dari Banjar berangkat pukul 13.55 dan tiba di Gambir 22.35. Namun sayangnya, pemebelian melalui KAI Access saat ini belum bisa dilakukan. Melalui akun Instagram @kai121_ juga banyak pengguna yang tidak bisa membelinya. Beberapa mengatakan, pada tangga 2 Januari 2019 di pagi hari masih bisa membuka di KAI Access dan membeli namun beberapa jam setelahnya tidak lagi bisa membeli melalui aplikasi KAI Access tersebut. Padahal, yang dikutip KabarPenumpang.com melalui siaran pers (2/1/2019), pemesanan tiket KA Pangandaran bisa dilakukan mulai H-30 keberangkatan di aplikasi KAI Access, web KAI, Loket Stasiun, dan seluruh channel penjualan resmi KAI lainnya. Tiket Promo KA Pangandaran ini tidak dapat dibatalkan atau diubah jadwal, digabungkan dengan reduksi/promo lainnya, dan hanya dilayani jika tempat duduk masih tersedia.
Tarif tiket Bandung-Banjar (www.kai.id)
Selama masa promo, KAI juga memberikan layanan Angkutan Lanjutan secara gratis bagi penumpang KA Pangandaran yang melakukan pemesanan dengan relasi Gambir-Garut PP. Keberadaan Angkutan Lanjutan ini bertujuan untuk mempermudah penumpang KA Pangandaran yang dari dan menuju Garut. Dengan layanan single ticketing, penumpang cukup memesan satu kali kemudian sudah langsung dapat menggunakan KA Pangandaran serta Angkutan Lanjutannya. Angkutan Lanjutan yang dikelola oleh anak usaha KAI, PT KA Pariwisata ini memiliki titik pemberangkatan atau pemberhentian di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 6, Garut. Untuk tanggal 2-4 Januari 2019, PT KA Pariwisata menyediakan satu armada berkapasitas masing-masing 12 tempat duduk, lalu mulai 5 Januari dan seterusnya akan ditambah menjadi 2 armada dengan total 24 tempat duduk. Perjalanan Angkutan Lanjutan Stasiun Cibatu-Garut (pp) menempuh waktu lebih kurang 60 menit. Baca juga: Lebih dari Rp7 Triliun, Ini Dia Rincian Dana Yang Dibutuhkan PT KAI Guna Reaktivasi Empat Jalur di Jabar “Dioperasikannya KA Pangandaran ini, merupakan salah satu dukungan KAI terhadap program pariwisata Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia (WI-PI) dalam meningkatkan aksesibilitas masyarakat dari Jakarta, Bandung ke wilayah Garut, Tasikmalaya, Banjar dan Pangandaran sehingga dapat mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, budaya dan perekonomian di Jawa Barat,” ujar Direktur Utama KAI, Edi Sukmoro.

Naik Citilink, Kini Bisa Nikmati WiFi Gratis di Ketinggian 35 Ribu Kaki

Citillink, maskapai berbiaya hemat (LCC) pada 28 Desember 2018 kemarin akhirnya resmi mengumumkan aktivasi inflight connectivity yakni fasilitas WiFi gratis dalam penerbangan. Kehadiran WiFi gratis ini untuk menambah kenyamanan penumpang dan tetap bisa eksis serta tidak ketinggalan momen di ketinggian 35 ribu kaki (sekitar 10.000 meter) di atas permukaan laut. Baca juga: Garuda Indonesia Group Hadirkan WiFi Gratis Dalam Penerbangan Domestik “Menjadi maskapai digital pertama di Indonesia merupakan salah satu misi penting bagi Citilink Indonesia untuk memberikan layanan LCC terbaik kelas dunia. Hal ini semata untuk memenuhi kebutuhan konsumen kami yang saat ini didominasi oleh kelompok Milennials Digital di Indonesia,” kata Direktur Utama Citilink Indonesia, Juliandra Nurtjahjo yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Kamis (28/12/2018). WiFi yang dihadirkan pada maskapai hijau ini menggunakan teknologi GX Aviation System dan bisa dinikmati penumpang secara gratis. WiFi gratis ini sendiri sudah ada di satu pesawat dan kehadirannya ini akan menjadikan Citilink sebagai maskapai digital. Juliandra mengatakan, fasilitas WiFi gratis tersebut sejalan dengan target Citilink untuk menjadi digital airline yang mempermudah konektivitas pelanggannya. “Masyarakat pada saat ini yang memiliki tingkat mobilitas yang semakin tinggi dan menawarkan pengalaman yang berbeda pada penumpang yang didominasi oleh kelompok milennials berumur antara 20 hingga 35 tahun yang sudah terbiasa beraktifitas secara digital dalam kehidupan sehari hari,” jelas Juliandra. Kedepannya pemanfaatan digitalisasi tidak hanya terbatas pada layanan konektifitas WiFi namun akan menyentuh ke seluruh lini operasional penerbangan sehingga tidak hanya penumpang yang dapat menikmati layanan hassle free Citilink namun dapat dnikmati oleh seluruh stakeholders Citilink baik internal maupun external. “Citilink Indonesia berharap program ini menjadi suatu terobosan dalam dunia penerbangan dan menjadi legacy dalam dunia digital Indonesia”, tambah Juliandra. Baca juga: 50MB Kuota WiFi Gratis di Rute Domestik Citilink dan Garuda Indonesia Untuk pelanggan maskapai Citilink, WiFi gratis ini bisa digunakan dengan kuota sebesar 50 megabyte (MB). Bahkan bila kuota kurang, penumpang bisa mendapatkannya lagi atau menambah kuota tersebut tanpa harus membayar. Tak hanya, itu, kehadiran WiFi gratis ini penumpang juga tidak akan dikenakan biaya tambahan saat pembelian tiket Citilink. Setelah kehadiran perdana, secara bertahap WiFi ini akan terus meningkat di 12-20 pesawat lainnya.

Sambut Low Season, Scoot Gelar Promo Tarif Awal Tahun

Pasca tahun baru bagi sejumlah moda transportasi adalah masa dengan tingkat okupansi rendah, hal ini wajar mengingat liburan Natal dan Akhir Tahun telah berakhir, bagi karyawan sudah mulai masuk kerja dan anak-anak mulai masuk sekolah. Nah, guna menggenjot permintaan di low season, Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah atau low-cost carrier (LCC) milik Singapore Airlines Group meluncurkan program “Take a break before you break” pada 2 – 6 Januari 2019. Baca juga: Tawarkan Paket Menarik, Scoot Layani Penerbangan Umrah dengan Boeing 787 Dreamliner Penawaran di atas berlaku untuk periode perjalanan sejak program diluncurkan hingga 31 Mei 2019. Dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (2/1), promo ini menawarkan rute ke lebih dari 30 destinasi dalam jaringan Scoot termasuk destinasi populer seperti Thailand, Jepang dan Eropa. Promo ini bersifat terbatas dan mencakup tiket kelas Economy FLY satu arah mulai dari Rp299.000 ke Singapura, Rp699.000 ke Thailand, Rp2.099.000 ke Jepang, dan Rp2.699.000 ke Eropa. Traveler dapat menghemat uang lebih banyak lagi jika traveling bersama teman – untuk 2 tiket ke destinasi yang sama, harga per tiket menjadi mulai dari Rp279.000 ke Singapura, Rp659.000 ke Thailand, Rp2.019.000 ke Jepang, dan Rp2.599.000 ke Eropa. Selain promo, Scoot terus mencari cara mendorong lebih banyak orang untuk traveling. Traveler dapat merencanakan liburan tanpa repot melalui situs FlyScoot, mulai dari memesan akomodasi, transportasi, asuransi perjalanan, bahkan mengajukan visa secara online! Traveler juga dapat memperoleh microchip roaming data saat memesan tiket, sehingga mereka dapat terhubung dengan internet kapanpun dan ke manapun mereka terbang bersama Scoot. Baca juga: Minta Segelas Air, Penumpang Scoot Diberikan Segelas Es Batu Berdasarkan studi tahun 2010 tentang kesejahteraan karyawan, liburan dapat membuat karyawan lebih sehat secara fisik dan psikis. Program Scoot ditawarkan saat karyawan kembali masuk kerja, mengajak traveler Indonesia untuk merencanakan liburan selanjutnya sebelum mereka mulai stres karena beban bekerjaan, dan tidak perlu khawatir karena harga tiket Scoot yang terjangkau tidak akan menguras dompet mereka.

Layakkah Full-Service Carrier Layani Penumpang dengan Standar LCC?

Jika Anda ditugaskan untuk mengklasifikasikan jenis penerbangan, ada berapa jenis penerbangan yang Anda ketahui? Dua? Tiga? Ya, jawaban yang tepat adalah ada tiga jenis penerbangan penumpang yang selama ini menghiasi angkasa. Tiga jenis penerbangan ini sendiri mengemban tugas dan fungsinya masing-masing. Kendati ketiga jenis penerbangan ini sering kali tersamarkan oleh masing-masing tugasnya, namun percayalah, dunia aviasi global tidak sesederhana itu. Baca Juga: Regulasi Perusahaan Jadi ‘Separator’ Layanan LCC di Seluruh Dunia Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman globes.co.il (27/12/2018), jenis penerbangan yang pertama adalah penerbangan terjadwal reguler, dimana jenis penerbangan ini mengoperasikan jadwal tetap dalam kurun waktu tertentu dan dilakukan oleh full-service carrier. Biasanya ada tingkatan kelas yang dapat dipilih oleh penumpang dalam jenis penerbangan ini. Sebut saja ada Garuda Indonesia, Lufthansa, British Airways, United Airlines, dan masih banyak lagi. Lalu jenis penerbangan kedua adalah penerbangan charter. Berbeda dengan penerbangan terjadwal reguler, penerbangan charter tidaklah memiliki jadwal tetap – cenderung tentatif. Biasanya, penerbangan charter ini merupakan bagian dari sebuah paket perjalanan wisata. Dari segi modanya pun, kebanyakan penerbangan charter menggunakan armada turboprop untuk menjangkau wilayah yang terpencil – tidak sedikit juga perusahaan yang menyediakan pesawat jet berbadan kecil sebagai armada penerbangan charter. Lalu yang terakhir ada penerbangan berbiaya rendah – layanan yang tengah naik daun berkat harga miring yang mereka tawarkan. Berbeda dengan kedua jenis penerbangan di atas, beberapa penerbangan berbiaya rendah tidak menyediakan layanan tambahan dan Anda harus merogoh kocek lebih dalam untuk menghadirkan layanan tersebut, seperti kapasitas bagasi yang besar, makanan, hingga pemesanan tempat duduk. Di dalam negeri sendiri, nama Lion Air, Citilink, dan AirAsia menjadi tiga maskapai yang merajai sektor Low Cost Carrier (LCC) ini. Jika dilihat dari tugasnya masing-masing, maka Anda dapat dengan mudah membedakan ketiga jenis penerbangan tersebut. Namun seiring berjalannya waktu dan kondisi ekonomi global yang tengah tidak stabil, mulai ada beberapa maskapai penyedia layanan penerbangan terjadwal reguler yang ‘bertingkah’ layaknya LCC – entah itu dengan cara mengurangi kapasitas bagasi, atau meniadakan jatah makanan/minuman bagi para penumpang. Dalam kasus ini, penerbangan charter tidak terdampak dari isu yang beredar. Mereka tetap pada jalur persaingan dengan penyedia layanan serupa untuk mengantarkan penumpang ke daerah terpencil. Baca Juga: Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet! Jika berspekulasi, mungkin ini adalah trik yang digunakan oleh pihak maskapai untuk mereduksi ongkos pengoperasian sehari-hari – semata-mata hanya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Janganlah dulu terlalu jauh untuk membicarakan sanksi apa yang sekiranya dikenakan terhadap maskapai reguler rasa LCC, namun yang perlu Anda lakukan hanyalah lebih cermat ketika membeli tiket dan memperhatikan layanan apa yang sekiranya akan Anda dapat – mulai dari lounge khusus hingga makanan/minuman selama perjalanan.