Menjadi Penumpang Tunggal Dalam Penerbangan? Wanita Filipina Baru Merasakannya
Tergelincir di Dalam Toilet, Seorang Penumpang Tuntut Rp2,2 Miliar ke Pihak Jetstar
Dua tahun lebih telah berlalu setelah Richard Pearson, seorang penumpang maskapai Jetstar tergelincir di toilet armada asal Negeri Kangguru ini. Kini dikabarkan ia tengah menuntut pihak maskapai dengan dalih cacat permanen yang diderita dirinya. Adapun cacat yang diderita oleh Richard ini menderu lutut sebelah kanannya dan bersifat permanen.
Baca Juga: Kasus Awak Kabin Jetstar: Tenaga Asing Dibayar Murah dengan Kerja Ekstra
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman stuff.co.nz (2/1/2019), pada 7 September 2016 kemarin, Richard bersama istri dan anaknya tengah berada di dalam penerbangan malam dari Bali menuju Melbourne. Di tengah perjalanan, Richard yang duduk di seat nomor 53 lalu bangkit dan bertolak menuju toilet yang ada di pesawat berjenis Boeing 787 Dreamliner ini.
Ketika pria berusia 58 tahun ini masuk ke dalam toilet, ia tidak sadar bahwa ada genangan air. Tak pelak, Richard jatuh tergelincir dengan posisi yang sangat menyakitkan.
“Kaki kanan Richard melebar ke arah kanan, sedangkan lutut kanannya ke arah yang berlawanan, sedangkan kaki kirinya ‘meluncur di sepanjang toilet,” ujar tuntutan yang diajukan Richard.
“Kakinya (Richard) lalu menabrak salah satu sudut toilet dan pergelangan kaki kanannya berputar 90 derajat, bahkan Richard sampai mendengar lutut kanannya berbunyi cukup keras dan ia mulai merasakan sakit yang luar biasa,” lanjut tuntutan tersebut.
Richard sampai-sampai harus berteriak memanggil awak kabin untuk membantunya kembali ke tempat duduk. Sesampainya di tempat duduk, Richard malah diinterogasi oleh awak kabin yang terkesan menuduhnya jatuh akibat ulahnya sendiri.
“Apakah Anda yakin telah membersihkan kamar mandi dan tidak meninggalkan genangan setelah Anda menggunakannya?” ujar salah satu awak kabin.
Alih-alih membantu Richard, awak kabin Jetstar malah menolak untuk membantunya dan meminta Richard untuk melakukan komplain secara online setibanya ia di tujuan.
Dengan bermodalkan dana sendiri, Richard lalu menjalani pengobatan, tanpa sedikitpun kontribusi dari pihak Jetstar.
Baca Juga: Alami Kendala Teknis, Maskapai JetStar “Panggang” Penumpangnya
Seorang juru bicara dari Jetstar bersikukuh bahwa kejadian yang dialami oleh Richard ini merupakan murni kesalahan dan keteledorannya sendiri, sehingga mereka membantah klaim senilai $220.000 dollar Australia atau yang setara dengan Rp2,2 miliar yang diajukan Richard untuk pengobatan kakinya tersebut.
Mengingat perseteruan antar dua belah pihak yang semakin memanas, akhirnya masalah ini akan di bawa ke hadapan Hakim Michael Wheelahan di Melbourne pada tanggal 25 Januari mendatang.
Bangun Fasilitas Bandara di 2019, Angkasa Pura I Investasikan Rp17,24 Triliun
Ternyata, Olimpiade 1964 Punya Pengaruh Penting Bagi Jaringan Kereta Shinkansen
Dalam waktu kurang lebih 20 bulan ke depan, seluruh perhatian dunia akan tertuju ke Negeri Sakura. Bukan tanpa alasan, sebab jika tidak ada aral melintang, perhelatan Olimpiade Musim Panas 2020 akan di adakan di Tokyo sejak tanggal 24 Juli hingga 9 Agustus 2020. Ini merupakan kali ketiga bagi Jepang menjadi tuan rumah dalam ajang olahraga empat tahunan ini, setelah sebelumnya Olimpiade ke-VII pada tahun 1940, dan Olimpiade ke-XVIII pada tahun 1964. Lalu, apa yang spesial dari ajang olahraga internasional ini?
Baca Juga: Armada Anyar Shinkansen Siap Mengular Pada 2020 Mendatang
Olimpiade Tokyo 1964 kerap kali dijadikan sebagai salah satu momen penting dalam perkembangan negeri para samurai ini. Selain kala itu Jepang mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah Olimpiade, tapi ajang ini juga menandakan kebangkitan negara Jepang yang modern.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman teamusa.org (1/1/2019), kebangkitan Jepang ini disebabkan oleh perkembangan infrastruktur negara yang pesat, terutama dalam hal pembangunan jaringan kereta berkecepatan tinggi atau yang biasa disebut Shinkansen. Kala itu, teknologi yang digunakan oleh kereta Shinkansen tergolong sebagai yang paling modern dan paling mutakhir.
Jaringan kereta Shinkansen ini pertama kali dibuka pada tanggal 1 Oktober 1964, atau hanya berselang sembilan hari sebelum opening ceremony ajang olahraga tersebut. Waktu pembangunan jaringan Shinkansen pertama ini juga tergolong cukup cepat, hanya memakan waktu lima tahun. Sedangkan rute pertama dari jaringan kereta Shinkansen ini adalah Tokaido Line, yang menghubungkan Tokyo dan Osaka. Kendati belum secepat sekarang, namun waktu tempuh antara Osaka dan Tokyo dapat dipersingkat menjadi empat jam saja, dengan kecepatan 130 mil per jam. Jika ditempuh dengan menggunakan moda darat lain, dibutuhkan waktu sekira tujuh jam.
Seiring dengan perkembangan jaman, kini antara Tokyo dan Osaka yang terpaut jarak sekitar 515 km ini hanya membutuhkan waktu kurang dari dua setengah jam saja. Kini jaringan Shinkansen di seluruh negeri sudah mencapai panjang lebih dari 1.700 mil, dengan jangkauan di hampir seluruh negeri, dari mulai Sapporo di sebelah utara, hingga Kagoshima di sebelah selatan Jepang.
Lebih hebatnya lagi, Shinkansen berhasil mencatatkan satu pencapaian yang prestisius, yaitu tidak pernah mengalami satupun kecelakaan fatal setelah beroperasi lebih dari 50 tahun lamanya. Lain daripada itu, On Time Performance (OTP) dari Shinkansen juga tidak boleh diremehkan, pasalnya waktu keterlambatan pemberangkatan Shinkansen hanya terhitung dalam hitungan detik saja. Menurut Central Japan Railway Company, rata-rata waktu keterlambatan kereta Shinkansen hanya 24 detik saja.
Baca Juga: Terus Kembangkan Shinkansen, JR East Uji Coba ALFA-X
Ketika kereta Shinkansen masih terus mengalami perkembangan hingga saat ini, Jepang juga tengah membagi atensinya dengan jaringan kereta bertenaga levitasi magnetik (maglev) yang menurut perkembangan terakhir tengah masuk ke dalam tahap pengujian. Jadi, masih mau membantah bahwa Jepang bukanlah negara dengan jaringan kereta nomor satu di dunia?
Terkendala Sistem Pengereman, Ratusan Ribu Penumpang Shinkansen Padati Stasiun
Sebagai salah satu momen berharga untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta, sudah seyogyanya jika ada banyak orang yang berbondong-bondong ‘plesiran’ di malam pergantian tahun, entah itu untuk pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga atau hanya untuk sekedar berjalan-jalan. Bagi mereka yang malas menggunakan kendaraan pribadi, moda transportasi berbasis massal muncul sebagai opsi yang dapat digunakan warga untuk bermobilitas. Namun apa jadinya jika moda berbasis massal tersebut malah mogok ketika permintaan sedang tinggi-tingginya?
Baca Juga: Mendapat Tentangan dari Oposan, Beginilah Sejarah Singkat Kereta Cepat Shinkansen
Ya, inilah yang terjadi pada jaringan kereta peluru Shinkansen di Negeri Sakura kemarin, dimana salah satu armada yang mogok berdampak pada banyak jaringan Shinkansen lainnya. Antrean panjang dan kekacauan sudah tidak bisa dielakkan lagi di sejumlah stasiun kereta super cepat ini.
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman soranews24.com (31/12/2018), kereta Shinkansen Tsubasa 177 yang mengular di jalur Tohoku – Yamagata via Yamabiko mengalami masalah pada sistem pengereman di Stasiun Tokyo pada Minggu (30/12/2018) sekira pukul 09.50 waktu setempat.
Menurut laporan yang beredar, armada Tsubasa 177 ini tidak dapat dialihkan menuju jalur lain dan terjebak di platform 23. Kereta ini sendiri terjebak selama hampir lebih dari satu setengah jam. Kendati begitu, ratusan jadwal perjalanan Shinkansen lainnya pun turut terdampak akibat insiden di kala peak season ini. Alhasil, penumpukan penumpang terjadi di sejumlah stasiun.
Menurut salah satu juru bicara dari JR East, semua kereta di jalur Tohoku, Joetsu, Hokuriku, Yamagata dan Akita Shinkansen tertunda selama lebih dari 90 menit pada pukul 15.00 waktu setempat.
Kondisi seperti ini dikabarkan semakin memburuk pada pukul 17.30 waktu setempat, dimana pihak JR East mengatakan penundaan jadwal keberangkatan ditambah menjadi dua jam.
Hingga pukul 21.30 waktu setempat, kondisi ini masih belum membaik dan luapan penumpang semakin menjadi-jadi. Tidak sedikit dari penumpang yang menanyakan soal kereta terakhir yang beroperasi.
Hingga pada akhirnya jadwal pemberangkatan kereta terakhir (22.45 waktu setempat), penundaan keberangkatan ini masih belum menemukan titik terang.
Baca Juga: Di Shinkansen, Toleransi Antar Penumpang Kereta Begitu Kuat
Tercatat, sekitar 228.700 penumpang terdampak insiden ini, dengan penundaan pemberangkatan pada sekitar 376 rute di jalur Shinkansen yang dioperasikan oleh JR East.
KA Pangandaran Beroperasi, Kini Jakarta-Banjar Jadi Lebih Mudah

