Penumpang kereta api South Western Railway (SWR) di Inggris tidak perlu lagi repot membawa kabel untuk mencharger ponsel pintarnya. Pasalnya SWR yang bermitra dengan Aircharger dan Baker Bellfield telah menghadirkan sistem pengisian nirkabel pertamanya untuk penumpang kelas satu.
Baca juga: Layani Kendaraan Listrik, Momentum Dynamics Rilis Halte Berdaya 200 Kilowatt Nirkabel
Ini adalah pengisian nirkabel ponsel pintar pertama untuk perjalanan SWR dengan rute London Waterloo menuju ke Bournemouth dan Weymouth. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businesswire.com (21/11/2018), kehadirannya ini di SWR menjadi teman perjalanan terbaik bagi para penumpang kelas satu untuk keperluan bisnis atau pribadi termasuk penggunaan aplikasi check in dan pemabayaran melalui ponsel.
Fitur baru ini nantinya akan memungkinkan penumpang mengisi baterai ponsel pintarnya yang sudah memiliki kemampuan pengisian daya nirkabel Qi. Pengisi daya nirkabel tersebut akan kompatibel dengan lebih dari 130 perangkat ponsel termasuk Samsung dan Apple terbaru.
(Business Wire)
Tak hanya itu Aircharge dan Baker Bellfield adalah nirkabel pengisian unit yang pertama diproduksi khusus untuk kereta api sesuai dengan semua aplikasi dan standar kereta api wajib. Mereka juga memberi IP55 yang menawarkan perlindungan air dan debu. Lebih dari 170 kereta api perusahaan akan menampilkan kemampuan pengisian daya induktif setelah menyelesaikan rencana perbaikannya.
“Pengisian daya nirkabel mewakili masa depan pengisian perangkat seluler dan kemitraan dengan Aircharge akan memungkinkan kami untuk membuat standar baru untuk sektor rolling stock kereta api dan seterusnya,” kata Robert Wilkin, Business Development Manager di Baker Bellfield.
Instalasi kereta api adalah bagian dari rencana pertumbuhan Aircharge untuk memperluas lebih lanjut ekosistem pengisian nirkabelnya menjadi transportasi umum, di samping kehadirannya yang sudah mapan di tempat-tempat umum.
“Hingga saat ini kami telah menerapkan solusi kami untuk bus dan di sejumlah bandara dan stasiun kereta api di seluruh jaringan kereta api Inggris, di Eropa, Amerika Serikat dan Timur Tengah, dan ekspansi ke kereta mengkonsolidasikan posisi kami sebagai penyedia terkemuka untuk sektor transportasi, meningkatkan proposisi ruang publik kami dan menawarkan solusi yang tepat kepada pengguna ketika mereka sangat membutuhkan penyimpanan ponsel mereka,” ujar CEO dan Founder of Aircharge, Steve Liquorish.
Baca juga: Entrupy, Solusi Canggih Identifikasi Barang Palsu via Smartphone
Aircharge sudah menyediakan ekosistem pengisian nirkabel paling luas yang ditempatkan di tempat-tempat umum secara global, termasuk hub transportasi, restoran dan jaringan makanan cepat saji, kafe, hotel, toko ritel dan instalasi kantor.
Bandara Perth mulai menguji pod tidur di Terminal 1 untuk penumpang internasional. Kehadiran pod ini menjadikan Bandara Perth yang pertama menggunakannya di Australia dan menawarkan layanan tersebut pada pelancong. Pod tidur tersebut ada delapan dan bermitra dengan Smarte Carte serta perusahaan Finlandia GoSleep.
Baca juga: Ada Peluang, Penyedia Layanan Kapsul Tidur Rajai Pasar Bandara Internasional
Dilansir KabarPenumpang.com dari perthairport.com.au (12/12/2018), CEO Perth Airport Kevin Brown mengatakan, kehadiran pod tidur akan cocok untuk penumpang yang datang lebih awal atau melakukan transit untuk melanjutkan penerbangan berikutnya.
“Sebagai Hub Barat Australia, penumpang menghubungkan penerbangan mereka dalam berbagai cara, banyak dari mereka yang memiliki persinggahan singkat. Pod tidur ini menyediakan mereka dan masyarakat umum yang lebih luas dengan tempat untuk bersantai dengan nyaman,” kata Brown.
Dia menambahkan, bahwa kehadiran pod tidur merupakan salah satu komitmen mereka untuk memberikan bandara yang efisien dan modern dengan menyediakan tingkat layanan dan fasilitas yang pantas diterima Western Australia.
GoSleep Pod adalah inovasi Finlandia dan merupakan kursi ramping yang dirancang khusus mirip dengan flatbed kelas bisnis. Tas tangan dapat disimpan dengan aman di bawah kursi saat digunakan, dan tempat bernafas yang dapat dipindahkan menawarkan tempat yang tenang dan pribadi untuk beristirahat.
Kursi memiliki colokan USB dan GPO untuk laptop atau pengisian daya ponsel di dalam pod. Pelancong bisa memesan pod ini secara online di www.perthairport.com.au/sleepingpods atau secara langsung saat berada di bandara tergantung ketersediaannya karena terbatas. Untuk menikmati pod tidur ini akan dikenakan tarif $12 per jam atau tarif khusus untuk menginap lebih lama.
Untuk kenyamanan Penumpang, bantal, selimut dan solusi penyimpanan koper juga akan tersedia dengan menginap pod. CEO GoSleep Jussi Piispanen mengatakan Bandara Perth memimpin bangsa dalam menyediakan solusi tidur bagi para pelancong.
“Pod Tidur kami berada di 15 bandara internasional di seluruh dunia dan sekarang akhirnya juga di bawah. The Go Sleep sleeping pod akan menjadi manfaat besar bagi penumpang yang lelah. Kami sangat senang berada di Australia dan kami berharap dapat menjadi bagian dari banyak perjalanan yang dimulai dan berakhir di Bandara Perth, “kata Piispanen.
Baca juga: Hadirkan The Sleep ‘n Fly Lounge, Bandara Dubai Penuhi Kebutuhan Tidur Pelancong
Manajer Umum Smarte Carte, Sam Khalil mengatakan, pod tidur akan menawarkan kenyamanan dan kemudahan bagi penumpang.
“Gosleep adalah penyedia terkemuka di polong tidur bandara dipesan lebih dahulu sehingga kami senang bermitra dengan mereka. Kami yakin produk ini akan semakin meningkatkan pengalaman penumpang di Bandara Perth dengan menyediakan fasilitas istirahat yang nyaman dengan biaya yang efektif,” kata Khalil.
Perjalanan masyarakat dari Palembang, Sumatera Selatan yang hendak ke Stasiun Gambir di Jakarta Pusat, akan dimudahkan dengan kehadiran bus Damri seri eksekutif. Kehadiran pelayanan ini karena PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggandeng Perum Damri untuk menintegrasikan kedua moda transportasi darat tersebut.
Baca juga: Tingkatkan Kenyamanan Penumpang, PT KAI Usulkan KRL Kelas Premium
Dikutip KabarPenumpang.com dari kai.id (14/12/2018), kerja sama kedua BUMN ini memungkinkan penumpang yang menggunakan kereta api dari Stasiun Kertapati, Palembang menuju Stasiun Tanjung Karang, Lampung. Kemudian dari Stasiun Tanjung Karang, penumpang kereta akan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Gambir dengan bus hanya dengan satu tiket atau single ticketing yang bisa dipesan melalui aplikasi KAI Access.
Tak hanya itu, selain melalui KAI Access pembelian tiket terusan bisa dilakukan di loket Damri Tanjung Karang, loket Stasiun Tanjung Karang maupun melalui aplikasi penjualan tiket kereta api lainnya.
(Instagram @kai121_)
“Kerja sama ini memungkinkan masyarakat menggunakan moda transportasi kereta api dari Stasiun Kertapati, Palembang menuju Stasiun Tanjungkarang, Bandar Lampung, dan dilanjurkan dengan moda transportasi bus hanya dengan satu tiket atau single ticketing,” kata VP Humas PT KAI Agus Komarudin yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (18/12/2018).
Adapun pola perjalanan moda transportasi terusan ini dimulai dari KA Sriwijaya yang berangkat dari Stasiun Kertapati pukul 21.00 WIB dan sampai di Stasiun Tanjungkarang pukul 06.10 WIB. Kemudian dilanjutkan dengan angkutan Bus Damri kelas eksekutif dengan keberangkatan pukul 08.00 WIB. Diperkirakan, armada bus sampai di Stasiun Gambir pada pukul 15.00 WIB.
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan oleh calon penumpang dengan tiket terusan ini adalah setelah penumpang KA Sriwijaya turun di stasiun Tanjung Karang, diharapkan datang di pool Damri Tanjung Karang 30 menit sebelum jadwal keberangkatan armada. Tiket angkutan terusan tersebut dapat diubah jadwal dan dibatalkan.
Dalam hal keterlambatan kedatangan KA Sriwijaya sehingga penumpang angkutan terusan tidak dapat melanjutkan perjalanan menggunakan Bus Damri keberangkatan pukul 08.00 WIB, maka penumpang dialihkan dengan keberangkatan angkutan terusan berikutnya pukul 10.00 WIB. Atau apabila penumpang tidak mau dialihkan, maka bea angkutan Bus Damri akan dikembalikan oleh pihak Damri kepada penumpang angkutan terusan sebesar 100 persen. Pengembalian bea secara tunai atas tarif Bus Damri tersebut dilakukan di counter Damri dengan menyerahkan boarding pass.
Baca juga: Perluas Jangkauan, LRT dan Trans Musi Terapkan Tiket Terusan
“Program Angkutan terusan KAI-Damri ini untuk meningkatkan layanan tambahan bagi para pelanggan KAI, dimana dengan adanya layanan angkutan interkonektivitas antara Kereta Api dan Bus Damri, diharapkan dapat memudahkan para pengguna jasa transportasi dalam melakukan perjalanan dengan aman, nyaman, dan dengan tarif terjangkau menuju kota-kota lain yang terintegrasi dalam satu tiket,” kata EVP Divre IV Tanjungkarang, Sulthon Hasanudin.
Jika tidak meleset, Bandara Kulon Progo (New Yogyakarta International Airport/NYIA) akan dapat mulai beroperasi pada awal 2019 mendatang. Tidak hanya sepak terjangnya saja yang dinantikan oleh banyak kalangan, melainkan juga kabar tentang bandara yang mampu menampung armada super besar sekelas Airbus A380 dan Boeing 777. Hal ini diutarakan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti dalam kunjungannya ke proyek pembangunan Bandara Kulon Progo beberapa waktu yang lalu.
Baca Juga: Ditargetkan Rampung 2019, Ground Breaking Bandara Kulon Progo Dimulai Akhir Bulan Ini
“Bandara baru ini akan mempunyai runway yang lebih panjang dan kapasitas terminal penumpang dan kargo yang jauh lebih besar dari bandara lama di Yogyakarta,” ujar Polana, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnbcindonesia.com (15/12/2018).
“Dengan demikian bisa melayani pesawat besar seperti Boeing B777, Airbus A380, A330 dan lainnya yang mampu terbang jarak jauh dan membawa banyak penumpang,” tandasnya.
Lebih lanjut, Polana menjelaskan bahwa Bandara Kulon Progo yang bersanding dengan Bandara Adi Sutjipto di Yogyakarta dan Bandara Adi Sumarmo di Solo ini dikembangkan dengan konsep sebagai bandara pengumpul untuk melayani penerbangan domestik jarak jauh dan internasional dengan jarak tempuh penerbangan lebih dari 1 jam.
Ke depannya, Bandara Adi Sutjipto akan tetap digunakan untuk penerbangan jarak dekat dan penerbangan general aviation, sedangkan Bandara Adi Soemarmo juga akan tetap dikembangkan untuk rute domestik dan internasional. Adapun beberapa rute internasional yang ditargetkan bisa dilayani dari Bandara Kulon Progo ini misalnya dari Jepang, Cina dan Korea serta Arab Saudi untuk penerbangan umroh.
Hingga saat ini, perkembangan pembangunan keseluruhan infrastruktur di Bandara Kulon Progo sudah mencapai angka 19 persen. Namun untuk pembangunan terminal penumpang sendiri sudah mencapai angka 40 persen dan diperkirakan, terminal internasional tahap 1 sudah dapat dioperasikan pada bulan April 2019 mendatang. Berbeda dengan sektor penunjang pengoperasian lainnya seperti landas pacu, taxiway, hingga apron yang ditargetkan rampung 100 persen pada April tahun depan.
Baca Juga: Meski Didera Isu Penolakan, Pembangunan Bandara Kulon Progo Terus Berlanjut
Bandara yang terletak di Kabupaten Kulon Progo ini kelak akan memiliki landas pacu beralaskan beton dengan panjang 3.250m dan terminal seluas 106.500 meter persegi dengan kapasitas 10 juta penumpang per tahun.
Bandara yang juga akan menjadi suksesor dari Bandara Adi Sutjipto yang dianggap sudah tidak mampu lagi untuk menampung penumpang dan pesawat ini diperkirakan bakal memiliki hanggar seluas 371.125 meter persegi yang mampu menampung hingga 28 unit pesawat.
International Air Transport Association atau yang kerap disingkat IATA baru-baru ini meluncurkan sebuah sumber data bernama Turbulence Aware yang dipercaya mampu membantu setiap maskapai untuk menghindari daerah dengan tingkat turbulensi yang cukup tinggi. Turbulence Aware ini dapat di-input oleh setiap pilot ketika tengah merencanakan rute penerbangan secara taktis. Sederhananya, Turbulence Aware akan menampilkan daerah dengan tingkat turbulensi yang cukup tinggi secara real-time berdasarkan laporan dari maskapai yang turut menggunakan fitur ini.
Baca Juga: Peneliti Buktikan Bahwa Guncangan Akibat Turbulensi Bisa Diredam!
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman internationalairportreview.com (13/12/2018), maskapai penerbangan saat ini mengandalkan laporan pilot dan penasehat cuaca untuk mengurangi dampak turbulensi pada operasi mereka. Kendati efektif, namun instrumen ini masih memiliki keterbatasan karena adanya fragmentasi sumber data, inkonsistensi dalam tingkat dan kualitas informasi yang tersedia, hingga ketidaktepatan lokasi dan subjektivitas pengamatan.
Contohnya, tidak ada skala standar untuk tingkat keparahan turbulensi yang dapat dilaporkan seorang pilot selain skala ringan, sedang atau berat, yang menjadi sangat subyektif karena adanya perbedaan ukuran pesawat dan pengalaman pilot. Dengan adanya Turbulence Aware ini, maka diharapkan dapat meningkatkan kemapuan industri penerbangan dengan mengumpulkan data dari berbagai maskapai penerbangan yang berkontribusi, diikuti oleh kontrol kualitas yang ketat.
Kemudian data dikonsolidasikan ke dalam database sumber tunggal, anonim, dan obyektif yang dapat diakses oleh peserta. Data dari Turbulence Aware nantinya akan dikonversi menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti saat di-input ke sistem pengiriman atau penyingkapan udara dari setiap maskapai penerbangan. Hasilnya adalah informasi global, real-time, rinci dan obyektif pertama bagi para pilot untuk mengelola turbulensi.
“Turbulence Aware merupakan salah satu contoh mutakhir dalam potensi transformasi digital di dunia penerbangan yang selalu mengedepankan aspek keselamatan,” ujar Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA.
“Dalam kasus Turbulence Aware, prediksi turbulensi yang lebih tepat akan memberikan peningkatan nyata bagi penumpang – dimana perjalanannya akan lebih aman dan lebih nyaman,” tandasnya.
Baca Juga: Turbulensi, Guncangan Saat Mengudara Yang Tak Perlu Ditakuti
Tidak bisa dipungkiri, tantangan utama dalam mengelola turbulensi ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan perubahan iklim yang akan berdampak pada pola cuaca. Ini memiliki implikasi untuk keselamatan dan efisiensi penerbangan.
Menurut Federal Aviation Administration (FAA), turbulensi merupakan penyebab utama cedera penumpang dan awak penerbang dalam kecelakaan non-fatal.
Ketika mendengar kata awak kabin, tentu yang langsung terlintas di benak Anda adalah seorang wanita berparas cantik, lengkap dengan postur tubuh yang ideal dan berbalutkan seragam dari masing-masing maskapai. Tren ini sudah berlangsung cukup lama, namun kini jaman sudah berubah dan saatnya pramugara yang mengambil alih job desk pendamping penerbangan tersebut. Sebut saja beberapa maskapai asal Negeri Sakura yang mulai ‘memamerkan’ pramugara sebagai awak kabin yang bertugas di dalam sebuah penerbangan.
Baca Juga: Adakah Yang Berbeda Antara Pramugari dan Awak Kabin?
Alasan pengadaan pramugara yang meningkat dalam beberapa waktu ke belakang bukanlah tanpa alasan. Semakin banyaknya jumlah penumpang yang kurang santun dan mabuk selama penerbangan menjadi alasan paling mendasar yang melatarbelakangi meningkatnya jumlah soradan (pramugara) ini. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (16/12/2018), ternyata kebutuhan tersebut sejalan dengan keinginan sebagian pemuda Jepang yang ingin menjadi pramugara.
Sebut saja Koichi Ito, seorang pramugara dari maskapai Star Flyer yang semasa kecilnya, ia pernah berangan-angan untuk menjadi seorang pramugara.
“Mereka (pramugara) keren,” ujar Koichi.
“Suatu saat, saya bertanya-tanya mengapa maskapai penerbangan Jepang hanya mempekerjakan awak kabin perempuan,” katanya.
Dalam beberapa aspek, mungkin pramugara akan unggul ketimbang pramugari – terutama dengan hal-hal yang berkaitan dengan otot seperti mengangkut hand-luggage penumpang ke kompartemen atas dan menangani penumpang yang tidak bersahabat tersebut.
“Di beberapa aspek, pramugara dan pramugari memiliki perbedaan dalam melayani penumpang. Namun ketika digabungkan, sudah jelas itu akan meningkatkan pelayanan terhadap penumpang,” lanjut Koichi.
Bahkan, seorang penulis asal Jepang, Issei Itokawa pernah melakukan penelitian terhadap pramugara yang jumlahnya hingga saat ini masih berada jauh di bawah pramugari. “Ketika saya melakukan penelitian, saya belajar bahwa seorang pramugara lebih memegang peranan untuk segala hal yang berkaitan dengan otot, semisal menangani penumpang yang mabuk dan suka berkelahi,” ujar Issei.
Baca Juga: 10 Seragam Pramugari Paling Ikonik di Dunia
Tercatat, Star Flyer mempekerjakan 160 awak kabin, dimana delapan di antaranya berjenis kelamin laki-laki. Menurut sumber dari Star Flyer, pihak maskapai berencana untuk menambah enam pramugara lagi pada musim panas mendatang.
“Dengan mempekerjakan pramugara, maka ini adalah salah satu cara yang efektif untuk menarik impresi penumpang bahwa kami menawarkan pelayanan yang berbeda dari maskapai-maskapai besar lainnya,” ujar sallah satu juru bicara dari Star Flyer.
Sementara itu untuk maskapai Jetstar Japan, mereka mempekerjakan sekira 15 persen pramugara dari keseluruhan awak kabin – berbanding terbalik dengan dua maskapai raksasa Jepang, Japan Airlines dan All Nippon Airlines yang hanya mempekerjakan sekitar 1 persen pramugara dari keseluruhan awak kabin.
Jepang memang terkenal sebagai negara yang memiliki kekuatan sangat besar di sektor perkeretaapiannya. Tidak bisa dipungkiri, negara berjuluk Negeri Sakura ini selalu berupaya untuk menelurkan satu inovasi baru bagi si ular besi – salah satunya yang baru-baru ini terjadi adalah East Japan Railway Co. (JR East) yang merilis test version dari kereta shinkansennya. Di mata dunia, shinkansen seolah sudah menjadi lambang supremasi di sektor perkeretaapian dunia, tapi Jepang tidak lantas puas dengan predikat tersebut.
Baca Juga: Mendapat Tentangan dari Oposan, Beginilah Sejarah Singkat Kereta Cepat Shinkansen
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (12/12/2018), JR East meluncurkan ALFA-X, sebuah kereta peluru yang digadang-gadang mampu meluncur hingga kecepatan 360km/jam pada hari Rabu (12/12/2018) kemarin di Kobe. Sebenarnya, ALFA-X ini merupakan singkatan dari Advanced Labs for Frontline Activity in rail eXperimentation.
Kereta 10 rangkaian yang didominasi oleh warna silver dan mamiliki garis hijau melintang ini merupakan mahakarya dari Kawasaki Heavy Industries Ltd. yang di rakit di Prefektur Hyogo. Menurut pihak Kawasaki sendiri, kereta ini akan rampung pada bulan Mei 2019 mendatang. Dijadwalkan, kereta ini akan melakukan uji coba berkecepatan tinggi di jalur Tohoku Shinkansen untuk mengumpulkan sejumlah data – salah satunya adalah data reduksi suara.
Kereta nomor 1 atau lokomotif yang diuji coba pada hari Rabu kemarin ini memiliki panjang hidung sekira 16m. Sedangkan lokomotif pada bagian belakangnya, menurut Kawasaki Heavy Industries Ltd., akan memiliki ukuran hidung yang lebih panjang, “kurang lebih 22m,” ujar salah satu sumber dari Kawasaki Heavy Industries Ltd.
Adapun fokus dari uji coba ini adalah JR East ingin mempelajari perbedaan tekanan dan suara di antara dua hidung kereta ketika memasuki terowongan. Jika dibandingkan dengan kereta yang ada sekarang ini, hidung dari ALFA-X lebih panjang sekira 1m – sebut saja shinkansen seri E-5 Hayabusa yang memiliki panjang hidung 15m.
Baca Juga: Hokkaido Shinkansen, Bisa Tetap Kebut Walau di Bawah Laut
Selain daripada itu, pihak operator juga akan menguji beberapa sistem pengopersian lainnya, seperti rem darurat, fungsi anti-anjlok jika terjadi gempa bumi, hingga beberapa fitur baru yang ditambahkan pihak Kawasaki Heavy Industries Ltd. untuk mereduksi getaran.
Para penumpang flag carrier Polandia, LOT Polish Airlines dibuat terkejut setelah setiap dari mereka ditagih bea tambahan untuk memperbaiki pesawat rusak yang mereka tumpangi. Nominal yang tujukan oleh pihak maskapai juga tidaklah sedikit – US$350 atau yang setara dengan Rp5,1 juta. Tentu hampir semua penumpang LOT Polish Airlines yang kala itu hendak mengudara dari Beijing menuju Warsawa dibuat tercengang dan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar pada awal November 2018 silam.
Baca Juga: Ternyata 9 Jenis Barang Ini Sering Tertinggal di Bandara Lho!
Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kejadian ini berawal dari delay yang melanda LOT Polish Airlines. Menurut pihak maskapai, delay tersebut dilatarbelakangi oleh masalah pada bagian hidrolik – dimana pesawat membutuhkan sebuah pompa baru agar pesawat tersebut bisa terbang.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya proses pemasangan pompa baru tersebut rampung dan pihak maskapai mulai meminta bantuan dari para penumpang untuk membayar bill dari pihak Boeing – selaku penyedia pompa anyar tersebut.
Menanggapi kejadian yang mencoreng nama baik perusahaan ini, juru bicara dari LOT Polish Airlines Adrian Kubicki mengatakan bahwa kala itu pihak Boeing enggan menerima pembayaran dalam bentuk transfer.
“Seorang karyawan di gudang pengadaan Boeing di Beijing menolak untuk menerima transfer bank dan bersikeras untuk melakukan pembayaran dengan uang tunai,” ujar Adrian.
“… Tidak ada keadaan yang membenarkan bahwa pihak maskapai meminta uang dari penumpang,” tandasnya membela diri.
Adrian melanjutkan bahwa jika ada petugas yang meminta uang kepada penumpang, “akan dikenakan sanksi atas tindakan indisipliner,”
Namun pernyataan yang dilontarkan oleh Adrian tersebut seolah berbanding terbalik dengan apa yang diutarakan oleh Daniel Golebiowski, seorang penumpang yang menjadi saksi dari kejadian kontroversial ini.
Baca Juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya
“Kami berada di bandara internasional. Saya tidak percaya bahwa transaksi dilakukan dengan uang tunai dengan mekanik yang berdiri di samping pesawat. Luar biasa,” ujar Daniel, dikutip dari laman khaleejtimes.com (22/11/2018).
Terlepas dari fakta yang terjadi di lapangan, para penumpang yang sudah menyisihkan sebagian uangnya untuk proses reparasi tersebut mendapatkan biaya ganti rugi yang setimpal dengan nominal yang sudah mereka keluarkan plus sejumlah voucher sebagai bentuk kompensasi terhadap delay sekira 10 jam yang sudah mereka lewati.
Baru-baru ini beredar foto logo Garuda Indonesia terpasang di badan pesawat milik maskapai Sriwijaya Air. Apakah ini menjadi pertanda Sriwijaya Air akan bergabung secara penuh dengan Garuda Indonesia atau hanya kerja sama operasi (KSO) seperti yang sebelumnya ramai dibicarakan?
Baca juga: Garuda Indonesia Pilih Mitsubishi Xpander untuk Kendaraan Awak Kabin
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, adanya lambang Garuda Indonesia ini kemudian ditegaskan oleh pihak Sriwijaya Air bahwa hal tersebut hanya sebatas KSO saja. Direktur Utama Sriwijaya Air Joseph Adrian Saul mengatakan, pada perjanjian KSO ini lebih terarah ke kerja sama dalam bidang marketing dan manajemen perusahaan.
Joseph mengatakan, tidak ada akuisisi terhadap Sriwijaya Air dan pihak Garuda Indonesia Group full membantu bukan mengambil alih. Dia menjelaskan, dimana manajemen akan diganti dengan orang-orang Garuda.
“Manajemennya kita ganti dulu dengan orang Garuda, tapi tidak ada yang namanya penggantian saham, pengambilan saham. Kita sama sekali tidak beli saham,” ujar Joseph.
Dia menambahkan, laporan keuangan maskapai tersebut akan terpisah dengan maskapai berplat merah itu. Joseph mengaku, dirinya datang ke Sriwijaya setelah diangkat oleh CEO Sriwijaya Air Chandra Lie.
“Saya datang ke situ untuk bantu managemen, diangkat pak Lie sebagai Dirut untuk membantu Sriwijaya. Tak ada perubahan signifikan. KSO seperti itu, kita manage marketing dan operasional Sriwijaya supaya lebih baik lagi,” kata Joseph.
KSO yang akan berlangsung diketahui akan berlaku selama tiga tahun mendatang, dimana Garuda Indonesia Group akan terdiri dari empat maskapai yakni Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air dan NAM Air. VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan menambahkan, perubahan sedikit pada tampilan pesawat Sriwijaya akan sama dengan Citilink yang akan menggunakan logo ‘Member of Garuda Indonesia’.
Baca juga: Sriwijaya “Travel Pass” Memang Memikat, Tapi Jangan Lupa Ada Syarat dan Ketentuan Berlaku
“Sama seperti Citilink kan ada logo Member of Garuda Indonesia. Nah pemasangan logo di Sriwijaya ini sebagai bagian dari sinergi operasi bersama,” kata Ikshan.
Dia mengatakan semua pesawat yang dioperasikan Sriwijaya akan menggunakan logo tersebut mulai 16 Desember 2018. Seragam yang akan dikenakan awak kabin maskapai asal Kota Pempek ini juga sama dengan Garuda Indonesia. Diketahui, Garuda Indonesia Group beberapa waktu lalu mengumumkan pengambilalihan operasional dan keuangan Sriwijaya Air Group. Operasional termasuk finansial akan ditangani oleh anak usaha Garuda Indonesia yakni Citilink yang merupakan maskapai berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC).
Sebelum komponen black box berupa Cockpit Voice Recorder (CVR) dapat ditemukan, maka investigasi tentang sebab musabab jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 Lion Air JT-610 pada 29 Okober 2018, belum dapat dituntaskan. Selama ini Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) baru menggunakan parameter data yang terbaca di dalam Flight Data Recorder (FDR) sebagai invesitigasi awal.
Baca juga:Pencarian CVR Lion Air JT-610 – Sedot Lumpur di Perairan Tanjung Karawang Akan Dilakukan dalam Waktu Dekat
KNKT dan pihak-pihak terkait masih berupaya keras untuk bisa menemukan VCR. Selain kapal dengan kemampuan sedot lumpur, dari pihak Lion Air dikabarkan telah mendatangkan kapal canggih dari perusaan asal Belanda, dan yang diturunkan untuk misi pencarian dan evakuasi di Tanjung Karawang adalah MPV Everest yang ber-homebase di Johor Bahru, Malaysia.
Dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (16/12), Upaya pencarian lanjutan tersebut merupakan bentuk komitmen Lion Air dan berdasarkan permintaan dari pihak keluarga.
Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait (keempat dari kiri) bersama tim melakukan kunjungan dan koordinasi dalam persiapan pengoperasian MPV Everest di Johor Bahru, Malaysia.
Untuk lebih komprehensif Lion Air mendatangkan kapal canggih dalam proses pencarian jenazah penumpang maupun kru penerbangan JT-610. Dalam hal ini apabila ditemukan maka akan diambil dan diserahkan kepada Badan SAR Nasional (BASARNAS) guna tindakan selanjutnya sesuai prosedur. Proses pencarian juga dilakukan terhadap kotak hitam, CVR.
Lion Air menganggarkan dana sendiri untuk pencarian kembali senilai Rp38 miliar. Proses pencarian akan difokuskan berdasarkan pemetaan terakhir area koordinat jatuhnya penerbangan waktu operasional 10 hari berturut-turut, pada Desember 2018.
Informasi terkini, bahwa kapal mengalami keterlambatan yang rencananya akan tiba di perairan Karawang pada (17/12). Kondisi terakhir malam hari (15/ 12) disebabkan cuaca buruk serta hujan deras di Johor Bahru yang mengganggu proses mobilisasi peralatan dan kru selama tiga hari terakhir.
Baca juga: Makin Dekat ke Pembatalan Pesanan, Mungkinkah SJ100 Masuk ke Dalam Daftar Belanja Lion Air?
Direncanakan kapal akan berlayar (17/12), dengan pagi hari dimulai proses imigrasi dan kepabeanan (customs). Hal ini dikarenakan kapal berkapasitas sebesar MPV Everest tidak diberikan izin untuk keluar dari pelabuhan pada malam hari. Perkiraan waktu tempuh perjalanan dari Johor Bahru menuju perairan Karawang adalah 2 hari dan 5 jam. Sehingga kapal akan tiba di Karawang sekitar (19/ 12).