Jari Terjepit di Sandaran Bangku, Penumpang ini Gugat American Airlines dan SkyWest Airlines

Seorang penumpang pria melayangkan gugatan kepada pihak maskapai asal Amerika, American Airlines Inc. dan SkyWest Airlines Inc. beberapa waktu yang lalu. Gugatan tersebut dilayangkan pasca pria ini mengaku jari kelingkingnya terjerat di dalam mekanisme sandaran tangan selama hampir satu jam lamanya. Adalah Stephen Keys, si penggugat yang mengajukan gugatannya ini di Pengadilan Tinggi Los Angeles. Baca Juga: Cidera Otak, Penumpang Ini Gugat American Airlines Senilai US$10 Juta Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman nbcbayarea.com (11/12/2018), entah bagaimana caranya kelingking Stephen bisa terjerat dan berujung pada luka memar yang dideritanya, namun ia mengaku tidak bisa menjalani rutinitasnya secara normal dengan kondisi jarinya yang terluka. Ketika dimintai keterangan, pihak SkyWest Airlines mengatakan, “kenyamanan dan keamanan penumpang adalah prioritas utama kami,”
Jari Stephen Setelah Terjepit. Sumber: istimewa
“Kami bekerja sama dengan mitra kami untuk menghubungi korban (Stephen Keys) dan menanyakan bagaimana kondisi terkini dari lukanya itu. Besar harapan kami dapat menyelesaikan masalah ini dengan cepat,” tulis pihak SkyWest Airlines dalam sebuah keterangan tertulis. “Dikarenakan proses litigasi yang masih berlangsung, kami tidak bisa berkomentar lebih jauh,” tandasnya. Menurut gugatan yang diajukan tertanggal 5 Desember kemarin, kejadian ini sendiri terjadi pada tanggal 9 September lalu, dimana Stephen berada di dalam penerbangan 3095 yang dijadwalkan bertolak dari Reno, Nevada menuju Los Angeles pada pukul 12.40 waktu setempat. Kala itu, Stephen tengah berupaya untuk menangkat sandaran tangan untuk mengambil sabuk pengaman, namun sial, jari kelingking tangan kanannya malah terjepit di dalam lubang kecil yang terletak di bawah sandaran tangan tersebut. “Mekanisme pegas yang tertanam di dalam lubang inilah yang akhirnya menjerat jari kelingking dari Stephen,” ujar pihak penggugat. Ketika sadar jarinya ‘terperangkap’, Stephen mencoba untuk tenang dan terus mencoba untuk melepaskan jarinya tersebut. “Pada saat itu, penumpang lain mulai sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Stephen dan tak pelak ia menjadi sorotan seisi kabin – ia menjadi tontonan,” lanjut si penggugat. Setelah lebih kurang satu jam berada di kondisi jari terjepit, pesawat akhirnya mendarat dan pihak maskapai lalu memanggil petugas pemadam kebakaran untuk membantu Stephen melepaskan jarinya ini. Baca Juga: Kisruh Pemesanan Kursi, Swiss Airlines Hadapi Gugatan dari Penumpang Namun sial (lagi), petugas pemadam tidak berhasil membuat Stephen bernapas lega. Segala cara coba dilakukan agar jari kelingking Stephen bisa bebas, sampai-sampai pihak maskapai mendatangkan mekanik untuk membongkar sandaran tangan tersebut. Pasca kejadian, Stephen mengalami rasa sakit yang amat sangat pada bagian jarinya dan ia mengaku menjadi pribadi yang sangat tempramen. Duh, ada-ada saja ya!  

Lupa Nyalakan Airplane Mode, Penumpang Aer Lingus Kena Denda Jutaan Rupiah!

Sebagai penumpang pesawat, satu hal yang tidak boleh dilupakan sebelum pesawat lepas landas adalah mematikan perangkat elektronik yang menancarkan sinyal, atau menghidupkan airplane mode pada ponsel. Namun karena alasan terburu-buru dan lupa, kadang beberapa penumpang kerap terlupa untuk menambahkan logo pesawat pada bagian notification bar di ponselnya. Memang, tidak ada hukuman yang berat jika Anda melupakan hal yang satu ini, namun apa jadinya jika Anda mendapatkan tagihan tambahan dari provider ponsel karena Anda lupa menghidupkan airplane mode? Baca Juga: Ini Lho Fungsi Lain dari Airplane Mode! Dikutip KabarPenumpang.com dari laman geek.com (4/12/2018), seorang penumpang maskapai Aer Lingus dikenakan bea sebesar US$300 atau yang setara dengan Rp4,3 juta dari provider ponselnya, AT&T setelah dirinya kedapatan lupa menghidupkan airplane mode di dalam penerbangannya menuju Amerika. Sebenarnya, ini merupakan sebuah kecelakaan dimana si penumpang lupa menghidupkan airplane mode karena ponselnya disimpan di kompartemen atas dan ia tidak menyadari hal tersebut. Menurut laman sumber, penumpang apes ini terpaksa menanggung biaya karena ponselnya terhubung ke jaringan roaming penerbangan. Lalu, bagaimana pihak AT&T bisa melacak jaringan si penumpang yang tengah berada di dalam sebuah penerbangan? “Melalui antena yang dipasang di pesawat yang beroperasi di luar unlimited international roaming plan,” ujar salah seorang juru bicara dari AT&T. “Antena ini dapat tersambung secara otomatis dengan ponsel yang tidak menghidupkan airplane mode dan denda akan mulai dikenakan sepanjang perjalanan walaupun ponsel tersebut tidak dipakai oleh si pengguna” tandasnya. Senada dengan juru bicara AT&T, seorang eksekutif di maskapai Aer Lingus juga mengutarakan hal yang hampir sama. “Jika airplane mode penumpang mati, maka ponsel penumpang akan terhubung ke in-flight roaming network dan penumpang tersebut akan mendapatkan tagihan tambahan dari provider ponsel masing-masing,” ujarnya. Baca Juga: Meski Tak Signifikan, Dengan Airplane Mode Waktu Pengisiaan Baterai Smartphone Jadi Lebih Cepat Agar penumpang yang terkena bea tambahan ini tidak kebingungan dengan apa yang baru saja ia terima, biasannya pihak provider akan mengirimkan sebuah pesan yang berisikan informasi mengenai rincian dari bea tersebut – namun tidak sedikit juga provider yang tidak menginformasikan ini. Jadi, pastikan Anda sudah mengaktifkan airplane mode sebelum mengudara ya!

Mei 2019, ANA Hadirkan Airbus A380 dengan Motif Unik Kura-Kura

Biasanya, mendekati Hari Raya Natal seperti sekarang ini, ada beberapa maskapai yang mendatangkan armada dengan livery khusus – yang tentu saja berhubungan dengan Santa Claus atau hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Tapi jalan lain malah ditempuh oleh maskapai asal Jepang, All Nippon Airways (ANA), dimana maskapai ini diketahui baru saja mendatangkan Airbus A380 dengan livery bermotif kura-kura. Baca Juga: EVA Air – Anak Perusahaan Evergreen Group, Pernah Memasang Livery Terlucu dalam Sejarah Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com (13/12/2018), pihak ANA membagikan foto dari armada berlivery unik ini langsung dari Hamburg setelah kurang lebih 21 hari berada di sana untuk dihias. Menurut pihak manufaktur, Airbus, adapun satu dari tiga armada A380 yang dipesan oleh ANA ini akan menjalani finishing pada bagian kabin dan menjalani beberapa uji coba di darat dan uji coba penerbangan.
Sumber: flightglobal.com
Rencananya, armada Airbus A380 ini akan beroperasi di rute penerbangan dari Narita menuju Honolulu mulai bulan Mei 2019 mendatang. Sebenarnya, livery unik ini merupakan pemenang dari kontes yang diadakan pada tahun 2016 silam.
Sumber: flightglobal.com
“Flying Honu, ini merujuk pada kura-kura asli Hawaii,” ujar pihak ANA sembari menceritakan secara singkat sejarah dari livery ini. Baca Juga: Sambut Pesanan Airbus A380 Ke-100, Emirates Pasang Livery Presiden Pertama Uni Emirat Arab Terlepas dari pesanan ANA ini, Airbus A380 sendiri memiliki beberapa livery yang berkaitan dengan Hawaii. Nantinya, akan ada emerald green yang merujuk pada pantai Hawaii, oranye yang merujuk pada sunset di Hawaii, hingga biru yang merujuk pada langit Hawaii.

Garuda Indonesia Pilih Mitsubishi Xpander untuk Kendaraan Awak Kabin

Selain kondang dengan armada pesawatnya, hal lain yang khas dari Garuda Indonesia adalah kendaraan awak kabin (air crew) yang kerap terrlihat wara wiri di jalan raya. Dengan tugas menjemput dan mengantar penerbang dan awak kabin dari dan ke bandara, mobil minibus dengan livery dan logo maskapai ini begitu lekat di mata warga. Dan setelah belakangan ini menggunakan Honda Mobilio untuk air crew, kini Garuda Indonesia merubah pilihannya kepada Mitsubishi. Hal ini dikatakan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara, karena sebagai maskapai plat merah yang memiliki standar tinggi, pemilihan terhadap kendaraan operasionalnya pun harus aman dan nyaman. Baca juga: Garuda Indonesia Buka Rute Kertajati–Tanjung Karang– Palembang dan Kertajati–Balikpapan-Tarakan Ari mengatakan, pemilihan Mitsubishi Xpander sendiri memberikan kenyamanan bagi awak kabin Garuda. Sebelumnya, awak kabin Garuda Indonesia sendiri menggunakan kendaraan operasional dari Toyota atau Honda yang baru saja ditinggalkan. “Jadi faktor pertama itu keamanan, tentunya kendaraan harus aman. Kedua harga, ketiga kenyamanan,” kata Air yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber. Ari mengatakan, pihaknya saat ini sudah memesan 401 unit Mitsubishi Xpander sebagai kendaraan operasional awak kabin. Tetapi angka tersebut baru mencapai setengah dari kebutuhan total Garuda Indonesia terkait operasionalnya di seluruh Indonesia. Dia mengatakan, untuk operasional Garuda Indonesia di seluruh Indonesia sendiri membutuhkan kurang lebih 800 unit. Menurutnya, jika pihak Mitsubishi mampu menghadirkan lebih, Garuda Indonesia akan memesannya lagi. Ari menambahkan, jika nantinya Citilink dan Sriwijaya Air digabung, maka potensi Mitsubishi menjual kendaraan penumpang akan semakin besar. “Kalau tahun depan Citilink dan Sriwijaya digabung pasti lebih dari 1.000 unit. Ini kesempatan buat Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) menawarkan keselamatan pada kami.” Penyerahan pertama Mitsubishi Xpander sebanyak 119 unit pada Oktober 2018 kemarin dan sudah beroperasi. Penyerahan kedua yakni pada Selasa (11/12/2018) sebanyak 282 unit. Xpander yang dipesan maskapai penerbangan Garuda Indonesia merupakan varian GLS transmisi manual lima percepatan warna Sterling Silver Metallic. Tidak ada tambahan fitur lain kecuali stiker Garuda Indonesia di eksterior. Harga Mitsubishi Xpander yang dijual di Indonesia mulai dari Rp201,1 juta sampai Rp225,9 juta. Xpander yang disewa pihak Garuda Indonesia adalah varian GLS M/T dengan warna Sterling Silver Metallic, yang telah dipasang stiker/decal branding sesuai dengan karakter Garuda Indonesia. Baca juga: Sebelum Buka Rute Ke AS, Garuda Indonesia Bersiap Buka Penerbangan Langsung Ke Istanbul Khusus GLS M/T yang dipakai Garuda Indonesia harganya Rp217,6 juta on the road Jabodetabek. Bicara spesifikasi Xpander, di balik kapnya terdapat mesin jenis 4A91 1.5 L MIVEC DOHC 16 katup. Mesin itu berkapasitas bulat 1.499 cc. Mesin mampu menyemburkan tenaga hingga 77 PS pada 6.000 rpm dengan torsi maksimal 141 Nm pada 4.000 rpm. Soal fitur safety, Mitsubishi Xpander sudah memiliki fitur ABS dan EBD. Semua tipe Xpander dilengkapi dengan SRS airbag, seatbelt tiga titik dengan force limiter dan seatbelt reminder buzzer, ISOFIX serta Child Proof Lock. Bahkan di Xpander tipe Ultimate A/T, dan tipe Sport sudah ada Hill Start Assist dan Active Stability Traction Control.

Diduga Menabrak Drone, Hidung Boeing 737-800 Aeromexico Penyok Parah!

Area di sekitar landas pacu haruslah steril dari apapun. Jika tidak, nasibnya akan berakhir seperti maskapai Aeromexico yang dikabarkan mengalami benturan dengan sebuah drone sesaat sebelum pesawat landing di Tijuana, Rabu (12/12/2018) kemarin. Adapun imbas dari kejadian ini adalah bagian hidung pesawat Boeing 737-800 penyok parah dan harus diperbaiki secepat mungkin agar armada Aeromexico ini bisa kembali mengudara. Baca Juga: Audi Pop.Up Next – Terhambat Regulasi, Baru Akan Dirilis 10 Tahun Lagi Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (14/12/2018), Perusahaan induk Meksiko terutama bergerak dalam penyediaan layanan transportasi kargo penumpang dan udara, Grupo Aeromexico SAB kini tengah melakukan investigasi mendalam terkait insiden ini. Sebelumnya, armada Aeromexico dengan nomor penerbangan 773 ini bertolak dari Guadalajara. Dalam rekaman kabin, terdengar seperti sebuah ledakan yang cukup keras sesaat sebelum pesawat touchdown di Tijuana. “Penyebab pastinya masih diselidiki,” tutur pihak Aeromexico dalam sebuah pernyataan tertulis. “Pesawat mendarat dengan normal dan keseluruhan penumpang dan awak kabin tidak mengalami cidera,” tandasnya. Setelah sebelumnya bird strike menjadi momok menakutkan bagi para pilot, kini dengan menjamurnya drone, maka hal ini menjadi kekhawatiran baru bagi para penerbang. Dapat Anda bayangkan bagaimana jadinya jika sebuah drone yang notabene dikendalikan oleh orang dari darat dapat mengakibatkan satu pesawat yang berisi penumpang penuh mengalami kecelakaan. Sangat mengerikan, bukan? Kekhawatiran sektor aviasi global akan teknologi drone ini berbuntut pada pelarangan penggunaan drone di jalur penerbangan di sejumlah negara. Hal ini nantinya akan didukung oleh regulasi yang mengatur tentang drone, sehingga jutaan drone yang sudah dibeli di seluruh dunia dapat dikontrol penggunaannya. Terlepas dari ini semua, masih banyak orang di luar sana yang tidak paham dan tidak mau mencari tahu tentang bahayanya menerbangkan drone sembarangan. Baca Juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan Kembali pada kasus Aeromexico ini, dapat di lihat pada foto di atas, dimana bagian hidung dari armada ini mengalami kerusakan yang cukup parah. Tidak diketahui berapa lama proses reparasi yang dibutuhkan untuk membetulkan kerusakan semacam ini, namun dengan mengedepankan alasan keselamatan, pihak Aeromexico tidak akan mengoperasikan pesawat ini terlebih dahulu sampai kondisinya sudah laik terbang.

MRT Jakarta Pertimbangkan Kehadiran ‘Gerbong’ Khusus Penumpang Wanita

Pelecehan seksual terhadap wanita kerap kali terjadi di angkutan umum seperti kereta, bus dan lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut PT TransJakarta dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sudah memberikan ruang khusus terhadap penumpang wanita supaya lebih merasa aman dan nyaman selama perjalanan mereka. Baca juga: Tingkat Pelecehan Seksual di Udara Meningkat, Dua Maskapai India Perkenalkan “Pink Rows” Untuk Commuter Line sendiri khusus untuk wanita ada di gerbong pertama dan terakhir. Sedangkan TransJakarta berada di bagian depan bus hingga sekat pertama untuk bus model biasa, sedangkan untuk bus gandeng, bagian bus pertama untuk penumpang wanita. Bagaimana dengan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang akan mengular di jalanan ibukota pada Maret 2019 mendatang? Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pihak PT MRT Jakarta saat ini masih melakukan pertimbangan untuk menghadirkan mobil (gerbong) penumpang khusus untuk wanita dalam layanannya. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pihaknya akan mengumpulkan masukan publik terkait kemungkinan penyediaan mobil penumpang khusus wanita. “Kami masih mendiskusikannya. Kami juga mencari masukan dari masyarakat, ”kata William. William mengatakan alternatif untuk MRT Jakarta dalam memberikan mobil penumpang khusus wanita akan ada pada jam-jam sibuk seperti pagi hari dan sore hari. Dia mengatakan akan ada kesempatan untuk mobil penumpang khusus wanita adalah 50-50. “Kami mungkin memberikan layanan selama jam sibuk. Skenarionya adalah kami menyediakan mobil khusus untuk wanita saja,” jelas William. Diketahui saat ini proyek pengerjaan MRT mencapai 97,5 persen. Untuk fase pertama ini, PT MRT Jakarta dari Lebak Bulus menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) atau sebaliknya akan dilayani 14 kereta dengan jarak sepanjang 16 km. Sedangkan untuk dua kereta lainnya akan menjadi kereta cadangan dan disimpan di Depo Lebak Bulus. Baca juga: Jadi Korban Pelecehan Seksual di LRT, Wanita ini Malah Kena Bully Warganet Tak hanya itu, fase kedua MRT Jakarta dari Bundaran HI menuju ke Stasiun Kampung Bandan di Jakarta Utara akan segera mulai ground breaking dan pembangunannya. Rencananya MRT Jakarta fase dua sendiri akan diteruskan hingga ke Ancol. Diketahui, tarif yang akan dikenakan sekali jalan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI sekitar Rp13 ribu untuk jarak terjauh dan Rp8500 untuk jarak 10 km.

Tandingi Airbus, Boeing Akan Resmikan Pabrik Finishing 737 di Cina

Dengan pernyataan pemilik Lion Air, Rusdi Kirana yang secara tersirat mengutarakan niatnya untuk membatalkan ratusan pesanan armada Boeing, tapi itu nampaknya tidak terlalu berdampak signifikan terhadap pihak Boeing sendiri. Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, pembatalan pemesanan ini merupakan buntut dari kecelakaan Lion Air JT-610 dimana pihak Lion Air menyalahkan pihak Boeing yang telah merubah desain dari pesawat anyar tersebut. Baca Juga: Buntut Insiden JT-610, Pihak Lion Air Bisa Batalkan Pesanan Pesawat ke Boeing! Alih-alih terlalu larut dengan kasus Lion Air tersebut, pihak Boeing malah membuka pabrik finishing 737 perdananya di Cina. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (14/12/2018), pihak Boeing akan meresmikan pabrik finishing 737-nya ini pada hari Sabtu (15/12/2018). Pabrik ini sendiri terletak di Zhoushan, sekitar 90 mil arah tenggara Shanghai. Menurut informasi, pabrik ini dibangun lebih dari satu tahun yang lalu. Dengan didirikannya pabrik ini, maka Boeing merupakan salah satu dari segerintil perusahaan Amerika yang bekerja sama dengan Cina – dimana dewasa ini perang dagang antar dua negara ini tengah memanas. Dalam pembangunannya, Boeing bekerja sama dengan manufaktur pesawat lokal, Aircraft Corp China Ltd. Bisa dibilang, pembangunan pabrik finishing ini sebagai simbol dari tindakan penyeimbangan yang dilakukan Boeing di Cina. “Sangat sulit untuk melebih-lebihkan pentingnya Cina saat ini sebagai pelanggan,” kata Ken Herbert, seorang analis dari Canaccord Genuity. Terlepas dari itu semua, sebenarnya Boeing tidak ingin kalah dengan rival utamanya, Airbus yang sudah terlebih dahulu membangun pabrik cabangnya di Cina sekitar satu dekade yang lalu. Bahkan, pihak Airbus kini tengah melebarkan pabriknya yang terletak di Tianjin – menambahkan fasilitas finishing dan pengiriman. Tentu saja, dengan diresmikannya pabrik Boeing di Cina maka akan mengancam pihak Airbus secara tidak langsung, karena faktanya adalah sejumlah maskapai asal Cina masih melakukan pembelian armada ke Benua Biru dan Negeri Paman Sam. Baca Juga: Pesawat Secanggih Boeing 737 Max 8, Mungkinkah Mengalami Stall? Menyinggung soal perang dagang antara Cina dan Amerika, CEO Boeing Dennis Muilenburg pun angkat bicara. “Kami sangat terlibat dengan pemerintah di kedua negara (Amerika dan Cina) dan kami akan melakukan apa yang kami bisa bantu untuk mencapai sebuah kesimpulan positif,” tutur Dennis. “Kedua negara termotivasi untuk memiliki ekosistem kedirgantaraan yang sehat,” tandasnya singkat.  

Sering Naik Lion Air? Per 20 Desember 2018 Free Baggage Allowances Akan Dikurangi

Penumpang yang akan pergi melancong memiliki barang biasanya akan membawa tas atau koper yang diletakkan dikabin ataupun bagasi kargo. Untuk berat barang bawaan, biasanya maskapai penerbangan memberikan gratis dengan ketentuan tersendiri baik untuk kabin atau bagasi kargo. Nantinya bila ada kelebihan berat barang bawaan, maka penumpang wajib membayar kelebihan tersebut pada maskapai. Baca juga: Makin Dekat ke Pembatalan Pesanan, Mungkinkah SJ100 Masuk ke Dalam Daftar Belanja Lion Air? Diberitakan oleh KabarPenumpang.com, Lion Air Group akan mengganti beberapa ketentuan Free Baggage Allowances (FBA) atau berat bagasi yang gratis. Sehingga untuk para pelanggan maskapai ini bersiap-siap untuk mengurangi bawaan kargonya bila tak ingin membayar kelebihan. Berikut ini ketentuannya, untuk maskapai Batik Air tidak mengalami perubahan yakni tetap 20 kg.
(Lion Air Group)
Sedangkan untuk maskapai Lion Air mengalami penurunan yang sebelum 20 kg sekarang menjadi sepuluh kilogram. Maskapai Wings Air juga mengalami penurunan berat bawaan gratis penumpang dimana sebelumnya sepuluh kilogram kini menjadi hanya lima kilogram saja. Bagi penumpang yang memiliki kelebihan berat bagasi, bisa membelinya di bandara atau melalui website Lion Air Group dengan waktu maksimal enam jam sebelum keberangkatan. Harga kelebihan bagasi tersebut akan berbeda yakni lebih murah bila membelinya enam jam sebelum keberangkatan dibandingkan saat check in di bandara. Bila dibandingkan dengan maskapai berbiaya hemat lainnya seperti Citilink dan AirAsia, FBA milik maskapai Lion Air dan Wings Air lebih rendah. Citilink saat ini memberikan FBA pada penumpangnya yakni 20 kg. AirAsia Sendiri 15 kg untuk domestik dan penerbangan internasional 20 kg. Sedangkan untuk barang bawaan di dalam kabin, setiap maskapai hanya memperbolehkan penumpang membawa barang dengan berat tujuh kilogram. Baca juga: Peluang Pendapatan Baru, LCC Mulai Kenakan Biaya Untuk Bagasi Kabin Bahkan maskapai Scoot pun memberikan FBA untuk penumpangnya 20 kg. Meski begitu pengurangan FBA dari Lion Air Group ini belum ada penjelasan yang pasti. Ketentuan Free Baggage Allowances (FBA) atau berat bagasi yang gratis akan dimulai per tanggal 20 Desember 2018 bila tidak ada perubahan dari Lion Air Group.

Damri Camper Site Resort, Hotel Unik dari Bus Tua

Kemana sih bus-bus Damri tua yang sudah tak lagi dipakai? Apakah menjadi bus rongsok atau potongan-potongan ditempat loak bersama besi bekas lainnya? Ternyata tidak semua seperti itu, Perum Damri akan menggunakan bus-bus tak terpakai menjadi sebuah hotel. Baca juga: Hotel Bergaya Klasik Modern dalam Wujud Bus Tingkat Vintage Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ada 70 unit bus lama yang akan menjadi hotel dan ditempatkan di Tanjung Kalayang, Belitung. Hotel-hotel dari bus tua ini akan bernama Damri Camper Site Resort. Direktur Utama Perum Damri, Setia N Milatia Moemin mengatakan, tahun 2019 sasaran utama Damri bukan hanya transportasi, melainkan optimalisasi aset. Dimana bus yang berubah menjadi hotel adalah perpanjangan life cycle. Tia menjelaskan, alasan Damri mengubah bus menjadi hotel dikarenakan biaya yang dibutuhkan untuk membangun kamar hotel dari sebuah bus lebih efisien. “Untuk membuat bus yang besar sekitar Rp300 juta. Lebih murah dibanding buat kamar hotel, biasanya untuk bintang empat sekitar Rp500 jutaan. Tetapi yang mahal ada di pertamanannya, landscape, dapurnya, ternyata mahal,” jelas Tia. Di pool Damri Kemayoran, Jakarta Pusat, sudah ada dua bus yang disulap menjadi ruangan sebuah kamar hotel. Bus ukuran sedang memiliki fasilitas kasur bertingkat dengan kursi dan meja, ruangan ber-AC yang dilengkapi juga stop kontak serta lemari pakaian. Bus ini hanya memiliki satu ruangan yang bisa diisi dua orang. Bus yang lebih besar memiliki satu kasur ukuran besar untuk dua orang dan terletak di bagian belakang. Ada rak kecil tempat penyimpanan, dibagian lainnya ada dua kasur single dengan jendela besar yang menghiasi sisi kiri dan kanannya. Bagian ketiga menjadi ruangan yang berisikan lemari pakaian dan rak, stop kontak, kulkas, televisi ukuran besar dan kursi yang empuk. Setiap bus dilengkapi dengan kanopi khusus agar tamu bus hotel bisa bersantai dengan nyaman dan tidak kepanasan atau kehujanan. Tak hanya di Belitung, rencananya bus-bus hotel ini juga akan tersebar di beberapa destinasi wisata di Indonesia seperti Silangit. Baca juga: Setelah Pesawat dan Kereta, Kini Giliran Bus Tingkat yang’ Disulap’ Jadi Hotel Meski bukan menggunakan bus baru, Damri menjamin keawetan setiap unit yang disediakan. Sebab bus yang digunakan dipilih berdasarkan rangka dan bodi yang kokoh sebelum akhirnya menjadi sebuah hotel unik. “Ini agar optimal semua. Jadi sampai titik darah terakhir semuanya dimanfaatkan. Tetapi hotel ini nantinya tidak akan ada dioperasikan oleh Perum Damri, melainkan oleh mitra perusahaan BUMN yang memang fokus melayani jasa perhotelan,” ungkap Tia.

Tahun 2019, LRT Palembang Alami Perbaikan Waktu Tempuh dan Tunggu

Light Rail Transit (LRT) Palembang yang mulai beroperasi pada Asian Games 2018 kemarin ternyata masih memiliki banyak kekurangan. Seperti halnya dari pertama kali beroperasi, LRT ini kerap kali mengalami kendala seperti kereta yang mati di lintasan dan membuat penumpang harus berjalan kaki di pinggir lintasan dengan jarak yang cukup jauh. Baca juga: Tambah Trainset, Kemenhub: Dua Pekan Evaluasi LRT Palembang Karena hal tersebut, Kementerian Perhubungan akan memperbaiki operasional LRT Palembang supaya penumpang yang menggunakan lebih nyaman dan masalah-masalah sebelumnya tidak terjadi lagi. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri mengatakan perbaikan tersebut akan dilakukan oleh pihaknya di tahun 2019. Perbaikan yang akan dilakukan meliputi waktu tempuh dan waktu tunggu penumpang di stasiun. Zulfikri mengatakan, nantinya waktu tempuh LRT yang sebelumnya 60 menit akan dipangkas menjadi 45 menit. Sedangkan waktu tunggu kereta juga akan dipangkas dari 45 menit menjadi 25 menit. “Bulan Maret nanti akan kita selesaikan dengan headway lebih rapat lagi. Kalau sekarang 60 menit waktu tempuhnya dan waktu tunggu 40 menit. Pada Maret nanti akan kita operasikan dalam waktu 45 menit jarak tempuhnya dan waktu tunggunya 25 menit,” kata Zulfikri yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman okezone.com (13/12/2018). Bahkan, menurutnya, permasalah yang terjadi bukan pada waktu tempuh dan waktu tunggu saja. Sebab masalah yang terjadi juga beberapa kali terkait dengan konstruksi LRT Palembang yang sempat terganggu. Zulfikri mengatakan, beberapa kali kereta ringan Palembang ini sempat mogok. Selain itu, bangunan baja di stasiun juga sempat terbang dikarenakan adanya angin kencang yang menimpa Palembang beberapa waktu lalu. “Secara keseluruhan kosntruksi kita masih diperbaiki,” ucapnya. Baca juga: Plafon Stasiun Roboh Diterpa Angin Kencang, Kepala Proyek LRT Palembang: “Mampu Menahan Angin 91 km Per Jam” Menurut Zulfikri, pengoperasian kereta LRT memang diakuinya belum sepenuhnya sempurna. Karena sesuai tujuan awal, kereta LRT Palembang dioperasikan untuk mendukung Asian Games 2018. “Perlu saya sampaikan di sini LRT Sumatera Selatan dalam rangka mendukung Asian Games. Pada Agustus kemarin kita operasikan secara fungsional untuk mendukung Asian Games kita terus perbaiki,” jelasnya.