Tahun 2019, LRT Palembang Alami Perbaikan Waktu Tempuh dan Tunggu

Light Rail Transit (LRT) Palembang yang mulai beroperasi pada Asian Games 2018 kemarin ternyata masih memiliki banyak kekurangan. Seperti halnya dari pertama kali beroperasi, LRT ini kerap kali mengalami kendala seperti kereta yang mati di lintasan dan membuat penumpang harus berjalan kaki di pinggir lintasan dengan jarak yang cukup jauh. Baca juga: Tambah Trainset, Kemenhub: Dua Pekan Evaluasi LRT Palembang Karena hal tersebut, Kementerian Perhubungan akan memperbaiki operasional LRT Palembang supaya penumpang yang menggunakan lebih nyaman dan masalah-masalah sebelumnya tidak terjadi lagi. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri mengatakan perbaikan tersebut akan dilakukan oleh pihaknya di tahun 2019. Perbaikan yang akan dilakukan meliputi waktu tempuh dan waktu tunggu penumpang di stasiun. Zulfikri mengatakan, nantinya waktu tempuh LRT yang sebelumnya 60 menit akan dipangkas menjadi 45 menit. Sedangkan waktu tunggu kereta juga akan dipangkas dari 45 menit menjadi 25 menit. “Bulan Maret nanti akan kita selesaikan dengan headway lebih rapat lagi. Kalau sekarang 60 menit waktu tempuhnya dan waktu tunggu 40 menit. Pada Maret nanti akan kita operasikan dalam waktu 45 menit jarak tempuhnya dan waktu tunggunya 25 menit,” kata Zulfikri yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman okezone.com (13/12/2018). Bahkan, menurutnya, permasalah yang terjadi bukan pada waktu tempuh dan waktu tunggu saja. Sebab masalah yang terjadi juga beberapa kali terkait dengan konstruksi LRT Palembang yang sempat terganggu. Zulfikri mengatakan, beberapa kali kereta ringan Palembang ini sempat mogok. Selain itu, bangunan baja di stasiun juga sempat terbang dikarenakan adanya angin kencang yang menimpa Palembang beberapa waktu lalu. “Secara keseluruhan kosntruksi kita masih diperbaiki,” ucapnya. Baca juga: Plafon Stasiun Roboh Diterpa Angin Kencang, Kepala Proyek LRT Palembang: “Mampu Menahan Angin 91 km Per Jam” Menurut Zulfikri, pengoperasian kereta LRT memang diakuinya belum sepenuhnya sempurna. Karena sesuai tujuan awal, kereta LRT Palembang dioperasikan untuk mendukung Asian Games 2018. “Perlu saya sampaikan di sini LRT Sumatera Selatan dalam rangka mendukung Asian Games. Pada Agustus kemarin kita operasikan secara fungsional untuk mendukung Asian Games kita terus perbaiki,” jelasnya.

Antara Merpati Air, Kim Johanes Mulia dan Sukhoi SJ100

Tersiarnya kabar tentang maskapai milik Pemerintah, Merpati Air yang hendak kembali mengudara setelah sekira empat tahun ‘beristirahat’ menimbulkan banyak pertanyaan di publik – salah satunya adalah armada jenis apa yang sekiranya bakal digunakan oleh maskapai yang terkenal dengan livery berwarna biru-orange pada bagian ekornya ini. Usut punya usut, maskapai Merpati Airlines akan menggunakan pesawat asal Rusia, lho! Baca Juga: Makin Dekat ke Pembatalan Pesanan, Mungkinkah SJ100 Masuk ke Dalam Daftar Belanja Lion Air? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, isu tentang Merpati yang bakal menggunakan pesawat asal Rusia ini mulai berkembang ketika ditandatanganinya Perjanjian Transaksi Penyertaan Modal Bersyarat antara Merpati Air dengan PT Intra Asia Corpora pada 29 Agustus 2018 silam. Perjanjian ini menegaskan komitmen PT Intra Asia Corpora untuk menyetor modal senilai Rp6,4 triliun dalam 2 tahun agar Merpati Air dapat mengudara kembali. PT Intra Asia Corpora sendiri bukanlah pemain baru di sektor aviasi nasional. Perusahaan ini dinakhodai oleh Kim Johanes Mulia, yang notabene adalah empunya Kartika Airlines. Nah, pada 19 Juli 2010 yang lalu, kabar ekspansi Kartika Airlines santer terdengar setelah Kim Johanes Mulia menandatangani pembelian 30 unit pesawat Sukhoi Superjet 100 (SJ-100) dengan nilai sekira US$840 juta atau yang setara dengan Rp12,2 triliun dari Sukhoi Civil Aircraft. Namun sebagaimana yang diketahui bersama, nama Kartika Airlines kini tidak lagi berkutat di sektor aviasi nasional, dan dengan niatan PT Intra Asia Corpora untuk menyuntik Merpati Air, maka bukan tidak mungkin jika inilah titik balik seorang Kim Johanes Mulia untuk kembali berkarir di dunia kedirgantaraan Indonesia. Lalu, jika Merpati Air kembali mengudara, akankah armada yang dipilih untuk menunjang pengoperasiannya adalah Sukhoi SJ100 sesuai dengan selera Kim Johanes Mulia saat menangani Kartika Airlines? Semuanya masih jadi tanda tanya besar, namun menurut bocoran dari salah satu Tim Penyelaras Merpati, investor baru Merpati Air ini memang menginginkan agar pihak maskapai mengoperasikan pesawat asal Rusia. Tidak Asing di Indonesia Sebenarnya, nama Sukhoi SJ100 tidaklah asing di sektor kedirgantaraan lokal. Kembali ke 9 Mei 2012, dimana sebuah Sukhoi SJ100 dengan nomor penerbangan RA36801, melakukan demonstrasi penerbangan yang diseleggarakan oleh PT Trimarga Rekatama. Pesawat yang berisikan 37 penumpang dan delapan awak pesawat berkewarganegaraan Rusia ini bertolak dari Bandara Halim Perdanakusuma sekira pukul 14.12WIB. Tak berselang lama setelah mengudara, pesawat nahas ini menghilang dari radar di ketinggian 1.900 mdpl. Keesokan harinya, serpihan pesawat ini terlihat di tebing di Gunung Salak. Kuat dugaan, pesawat ini menabrak tebing batu sebelum akhirnya jatuh dan menewaskan keseluruhan penumpang. Baca juga: Meski Batal Pailit, Bukan Perkara Mudah Bagi Merpati Nusantara untuk Mengudara lagi Spesifikasi Singkat Secara keseluruhan, pesawat ini memiliki empat varian – SJ100-75, SJ100-75SLR, SJ100-95, dan SJ100-95SLR. Keempat varian ini menggunakan mesin yang sama, yaitu PowerJet SaM146. Adapun kecepatan maksimum yang bisa ditempuh oleh pesawat yang mampu mengangkut maksimal 103 orang ini adalah Mach 0,81 atau 870 km per jam. Keempat varian ini punya jarak tempuh maksimum yang berbeda-beda. Untuk SJ100-75 dapat menempuh jarak maksimum 2.900 km dengan kondisi payload penuh, SJ100-75SLR dapat mengudara hingga jarak 4.550 km, sedangkan SJ100-95 dapat menempuh jarak 3.048 km, dan yang terakhir SJ100-95SLR dapat menembus jarak maksimum hingga 4578 km.

Dua Bandara di Australia Hadirkan Anjing Terapi Bagi Penumpang yang Alami Stres

Bandara Sydney dan Gold Coast yang berada di Australia kini menghadirkan anjing terapi untuk membantu penumpang yang gelisah akan penerbangan mereka. Anjing yang berada di Bandara Gold Coast berjenis retriver dan bernama Gary yang bisa membantu menenangkan penumpang. Baca juga: Bebek Ini Bantu Atasi Stress Pasca Trauma KabarPenumpang.com melansir dari laman nine.com.au (11/12/2018), kehadiran Gary merupakan program yang lebih luas dengan melibatkan anjing terapi sukarela untuk membantu meringankan stres sebelum perjalanan. “Jangan ragu untuk berhenti untuk berpelukan bersama anggota Tim Duta GCA (Gold Coast Airport) kami!” kata tulisan yang ada di tempat Gary. Seorang penumpang bernama Marion Charlton mengatakan, beberapa orang hanya sedikit stres ketika mereka terbang. Mungkin mereka mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa orang yang dicintai. “Gary memiliki sifat yang begitu indah, dia ada di sini untuk menghilangkan stres dari semua itu,” kata Marion. Gary Ellen Thomas pemilik anjing terapi mengatakan, saat posisi untuk pekerjaan AmbassaPAW hadir, mereka menghubungi dirinya karena tahu jenis anjing milik Gary dan seberapa baik berperilaku kepada anak-anak. “Jadi dia menjalani pelatihan terapi, dan ini dia!” kata Thomas. Bahkan seorang ibu mengatakan, ini adalah ide bagus dan dengan kebutuhan khusus bisa membantu menenangkan orang ketika mereka cemas dan gelisah. “Saya pikir itu luar biasa.” Bandara Townsville memiliki program serupa di mana Tink, Alaska Malamute, menenangkan stres dan jika itu tidak membuat hormon bahagia mengalir, sebab tidak tahu apa yang akan terjadi. Awak pesawat dan kru maskapai telah memperhatikan Gary, yang saat ini bertugas tiga hari seminggu. Duta Besar Gold Coast Tom Meath mengakui Gary “alami”. “Ya, dia dilahirkan untuk ini. Semua orang suka Gary dan Gary mencintai semua orang, jadi ini pernikahan yang dibuat di surga,” ujar Tom. Baca juga: Lagi Enak Makan Cemilan, Tiba-Tiba Seekor Anjing ‘Nimbrung’ di Celah Kursi Pesawat Bukan hanya bandara di Australia yang merangkul tren relawan doggo bandara di seluruh dunia melihat manfaat dari program serupa dan beberapa tidak terbatas pada puppers. Bandar Udara Internasional Denver memiliki program terapi hewan terbesar di Amerika Serikat yang menampilkan Canine Airport Therapy Squad (CATS). Sementara Bandar Udara Internasional Los Angeles menjalankan program Pengambilan Unstressing Hewan Peliharaan (PUPS). Bandar Udara Internasional San Francisco, Wag Bridgade bahkan menampilkan seekor babi bernama LiLou, sementara Bandar Udara Internasional Cincinnati memiliki kuda miniatur sukarela, yang dipinjam dari seorang petani setempat.

Japan Display Inc. Siap Pasang Ribuan Smart Bus Stop di Tahun 2019

Jepang dan inovasi bisa diibaratkan satu tarikan nafas. Ketika dunia perkeretaapiannya tidak perlu diragukan lagi kapabilitasnya, kini Negeri Sakura melalui salah satu perusahaannya, Japan Display Inc. memamerkan smart bus stop, sebuah titik pemberhetian bus yang menggabungkan tenaga surya dan baterai internal sebagai pembangkit dayanya. Penggunaan energi berkelanjutan sebagai pembangkit daya inilah yang akhirnya menjadi penarik perhatian banyak kalangan. Baca Juga: Seorang Desainer Industri Rancang Halte Bus yang Dilengkapi Pengisian Daya EV Nirkabel! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (4/12/2018), smart bus stop yang dikembangkan bersama dengan Nishi-Nippon Railroad Co. ini juga dilengkapi dengan layar berukuran 32-inci yang bisa tetap nyala walaupun tengah ada pemadaman listrik yang diakibatkan oleh bencana alam. Ini dikarenakan penggunaan energi berkelanjutan – dimana halte bus ini tidak berpangku pada penggunaan listrik konvensional. Japan Display Inc. berencana untuk memasang smart bus stop ini di sekitar 2.000 titik yang tersebar di seluruh Jepang pada tahun 2019 mendatang. Adapun uji coba dari smart bus stop ini berlangsung di kota Kitakyushu. Nantinya, informasi terkait jadwal pemberangkatan dan kedatangan bus serta berbagai informasi lain akan terpampang di layar tersebut, dan terus di-update dengan menggunakan teknologi informasi yang ada. Terkait masalah layar, Japan Display Inc. menambahkan, akan ada juga iklan, penunjuk arah ke pusat evakuasi jika terjadi bencana, hingga informasi lokal akan turut pula terpampang di layar. Salah seorang eksekutif dari Japan Display Inc. mengatakan bahwa perusahaannya ingin sekali memperkuat pengembangan produk. Maka dari itu, ada sedikit bocoran dimana jika tidak meleset, layar-layar besar untuk di smart bus stop tersebut akan disokong oleh Apple Inc. “Kami perlu melakukan sesuatu yang baru di jaman yang sudah serba modern seperti saat ini. Pun dengan pergeseran jauh di pengabdian kami yang intensif di perangkat seluler,” ujar Managing Executive Officer di Japan Display Inc., Yoshiaki Ito. Baca Juga: Imbangi Pertumbuhan Smart City, Konsorsium ini Hadirkan Halte Bus Pintar Pertama di Jepang! Jika dibandingkan dengan Indonesia, nampaknya perbandingan apple-to-apple yang tepat untuk smart bus stop semacam ini dapat diberlakukan di halte-halte Bus Rapid Transit (BRT) seperti TransJakarta. Karena pada dasarnya, halte-halte bus konvensional di Indonesia, atau khususnya Jakarta lebih banyak digunakan sebagai tempat berteduh ketika hujan ketimbang tempat menaik-turunkan penumpang.

Bayi 5 Bulan Keliling 50 Negara Bagian Amerika Serikat

Apakah Anda berpikir telah melakukan banyak perjalanan ke berbagai tempat? Mungkin bisa jadi iya, tetapi perjalanan tersebut akan kalah dibandingkan dengan seorang bayi perempuan berusia lima bulan di Amerika Serikat. Pasti Anda mulai bertanya-tanya apakah bayi mampu berkeliling negara bagian Amerika Serikat? Baca juga: Seorang Ibu Melahirkan Bayi Kelima di Kursi Penumpang Mobil Jawabannya iya. Sebab, bayi lima bulan bernama Harper Yeats ini menjadi orang termuda yang pernah mengunjungi 50 negara bagian di Amerika Serikat. Pasalnya kedua orang tua Harper yakni Cindy Lim dan Tristan Yeast membawa bayi lima bulan tersebut dalam perjalanan mereka. Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman travelandleisure.com (12/12/2018), awal perjalanan Harper dan kedua orang tuanya bisa dilihat dalam Instagram @harper.yeats. Lim dan Yeast yang berasal dari Canberra di Australia dan tinggal di Kanada, memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. Mereka melakukan hal tersebut untuk menghabiskan cuti hamil Lim setelah Harper lahir. Awalnya, Lim dan Yeast tidak bermaksud kunjungan mereka menjadi sangat epik dan viral. Perjalanan ketiganya dimulai bulan Juni dan bergabung menjadi anggota All Fifty States Club yang memiliki aplikasi untuk menerima sertifiikat yang membuktikan secara resmi mengunjungi setiap negara bagian Amerika Serikat. Untuk menjadi anggota, pelancong sudah harus mengunjungi lebih dari 35 negara bagian. Jika Anda membuka situs web organisasi dan mengeklik setiap negara bagian yang pernah Anda kunjungi, Anda akan menyadari betapa sulitnya mengunjungi begitu banyak orang. Tetapi hak-hak membanggakan dan menyombongkan karena berkeliling negara nagian Amerika Serikat tidak ada dalam pikiran keluarga kecil ini. “Mengapa tidak pergi ke seluruh 50 negara bagian? Itu hanya rencana kami untuk melakukannya bersama dan bersenang-senang” kata Lim. Sekarang, mereka hampir berada di akhir perjalanan mereka. Mulai 18 Oktober, keluarga akan berada di Vermont, perhentian terakhir di perjalanan dan mereka bahkan pernah ke Alaska dan Hawaii juga. Baca juga: Bentak Bayi Menangis di Penerbangan, PNS Wanita Ini Terancam Kehilangan Pekerjaan! “Saya harap ketika dia melihat foto-foto itu dan saya menceritakan semua ceritanya, bahwa dia dapat memiliki keyakinan bahwa dia dapat melakukan apa saja. Saya suka berpikir itu berdampak pada siapa dia akan menjadi,” kata Lim. Satu hal yang pasti, Haper saat ini sudah menjadi penjelajah yang cerdas dengan usianya di bawah enam bulan.

Populasi Golongan Menengah Meningkat, Cina Akan Miliki 450 Bandara di Tahun 2035

Cina dengan jumlah penduduk 1,38 miliar jiwa memiliki 234 bandara sipil hingga Oktober 2018 kemarin dan jumlah ini akan mencapai 450 di tahun 2035 mendatang. Penambahan ini sendiri merupakan ambisi Cina untuk menjadi kekuatan penerbangan terbesar di dunia. Baca juga: Manufaktur Rudal dari Cina Buat Pemindai Tubuh di Bandara dengan Keakuratan 95 Persen Administrasi Penerbangan Sipil Cina atau The Civil Aviation Administration of China (CAAC) mengatakan hal tersebut pada Senin (10/12/2018) kemarin. Dari data yang ada, pada tahun 2035, permintaan transportasi udara penumpang Cina akan melampaui Amerika Serikat dan dalam dekade berikutnya sebagai kelas menengah yang semakin meluas . Ini akan mewakili hampir seperempat dari total penerbangan dunia. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (12/12/2018), pada tahun 2017 kemarin, bandara di Cina menampung 552 juta wisatawan dan diperkirakan tumbuh menjadi 720 juta pada tahun 2020. Dengan jumlah bandara saat ini, tidak akan mampu menampung kenaikan volume seperti sekarang. Hal ini yang menjadikan CAAC memiliki rencana membangun bandara baru yang menjadi tambahan untuk mengatasi jumlah penumpang yang terus meningkat. Penambahan bandara baru sendiri, rencananya akan dibangun di wilayah Beijing-Tianjin-Hebei, wilayah Delta Sungai Yangtze, Area Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Macau, serta di kota-kota Chongqing dan Chengdu. Selain karena peningkatan konektivitas antar daerah, bandara baru akan menjadi salah satu promosi pariwisata untuk pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut. Baru-baru ini, perencana negara Cina, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) memberikan izin untuk proyek perluasan Bandara Urumqi (URC) di Xinjiang dengan nilai RMB42.1bn ($6.06bn). Baca juga: Terbentur Masalah Bahasa dan Kultur, Mungkinkah Cina Cantumkan Bahasa Inggris di Sarana dan Pra-Sarana Transportasi? Pembangunan URC dijadwalkan akan berjalan hingga 2030 ketika bandara diperkirakan untuk mengelola 750 ribu ton kargo dan 63 juta penumpang per tahun. Pada tahun 2015, Bandara Urumqi diperkirakan memiliki 550 ribu kargo yang melewati setahun. Namun, para pembuat kebijakan Cina juga berharap bahwa rebound dalam investasi infrastruktur dapat memberikan dorongan bagi ekonomi yang meluas pada laju terlemah sejak krisis keuangan global dengan analis memperkirakan pelemahan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. Dewan negara mengatakan pada Oktober bahwa negara itu akan meningkatkan investasi di infrastruktur seperti kereta api, jalan raya dan bandara untuk memacu permintaan domestik. Dalam laporan terbarunya, penyedia solusi TI SITA mengatakan bahwa bandara dan maskapai penerbangan Cina telah meningkatkan pengeluaran TI mereka dengan fokus khusus pada keamanan dunia maya. Fokusnya adalah untuk melengkapi bandara dan terminal baru dengan teknologi terbaru dan mengelola jumlah penumpang yang terus bertambah.

Makin Dekat ke Pembatalan Pesanan, Mungkinkah SJ100 Masuk ke Dalam Daftar Belanja Lion Air?

Setelah kemarin sempat mempertimbangkan untuk melakukan pembatalan pemesanan sejumlah pesawat Boeing, kini PT Lion Air Mentari nampaknya semakin yakin dengan pilihannya tersebut. Sebelumnya, pembatalan pemesanan ini merupakan buntut dari kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 pada akhir Oktober silam di Perairan Karawang. Adapun nominal dari pemesanan Lion Air terhadap armada Boeing mencapai US$22 miliar atau yang setara dengan Rp319,3 triliun. Baca Juga: Buntut Insiden JT-610, Pihak Lion Air Bisa Batalkan Pesanan Pesawat ke Boeing! Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Rusdi Kirana selaku pemilik Lion Air mengaku kecewa atas tanggapan yang dilontarkan pihak Boeing menanggapi kecelakaan yang menewaskan 189 orang tersebut. Diketahui, Lion Air hingga saat ini memiliki 368 pesanan pesawat kepada Boeing dan Airbus – lebih banyak tiga kali lipat dari 117 armada yang beroperasi saat ini. Khusus untuk Boeing, pihak manufaktur pesawat ini masih memiliki 250 pesawat yang akan dikirim kepada Lion Air. Mengutip dari laman resmi Boeing, dijelaskan bahwasanya masih terdapat 190 pesanan dari pihak Lion Air yang belum dipenuhi. Dengan pemesanan ini, Lion Air merupakan pelanggan luar negeri terbesar bagi Boeing. Pemesanan dalam jumlah sangat masif ini merupakan salah satu ambisi perusahaan untuk melakukan ekspansi besar-besaran, yaitu menerbangkan 1.000 unit pesawat. Rusdi juga mengatakan, Lion Air pun bisa jadi akan mendaftarkan unit bisnis Indonesia di pasar saham pada tahun 2019. Masih belum jelas apakah Boeing akan turut memiliki andil dalam ekspansi besar-besaran Lion Air pasca perselisihan yang terjadi di antara kedua belah pihak. Jika benar pihak Lion Air membatalkan pemesanan terhadap Boeing, maka pilihan untuk menjadi suksesor Boeing dalam hal ini akan jatuh ke pihak Airbus dan bisa jadi akan muncul juga nama Sukhoi sebagai kuda hitam. Varian Airbus A320 dan SJ (Super Jet) 100 milik Sukhoi dinilai mampu untuk menandingi kualitas armada Boeing 737 family, karena secara keseluruhan, tiga armada beda perusahaan ini memiliki spesifikasi yang tidak terlalu jauh berbeda dan mumpuni di kelas narrow body. Baca Juga: Laporan Investigasi Awal Lion Air JT-610: KNKT Indikasikan Sensor Angle of Attack Tidak Berlaku Normal Khusus untuk SJ100 dan Boeing 737-800, seorang pengamat penerbangan, Alvin Lie mengatakan bahwa keduanya tidak jauh berbeda. Alvin menerangkan bahwa SJ100 yang notabene adalah pesawat rakitan Rusia ini mampu take-off dari landas pacu yang pendek – berbanding terbalik dengan Boeing 737-800 yang harus menggunakan landas pacu panjang untuk take-off. Untuk konfirgurasi bangku, Sukhoi SJ100 memiliki konfigurasi ruang 3-2, sedangkan Boeing 737-800 konfigurasinya adalah 3-3. Sementara untuk harga, SJ100 dibanderol dengan harga yang hampir setengah dari Boeing 737-800. Pada tahun 2012 silam, harga 1 unit SJ100 dibanderol US$32 juta, sedangkan untuk Boeing 737-800 dibanderol dengan harga US$60 juta per unit.    

Terlalu Mahal dan Okupansi Rendah, Mahathir Terpaksa Batalkan Pembangunan Fase 3 MRT Malaysia

Sebagai moda transportasi berbasis massal yang digadang-gadang mampu menjadi solusi kemacetan yang ada, Mass Rapid Transit atau yang biasa disingkat MRT ini tentu kehadirannya diidam-idamkan oleh banyak negara. Tidak perlu jauh-jauh, di Jakarta saja, proyek yang kini tengah ditangani oleh PT MRT Jakarta ini saja telah dinantikan kehadirannya. Namun apa jadinya jika ada satu negara yang membatalkan proyek pengadaan moda transportasi ini? Baca Juga: Di Malaysia, Jalur MRT Ini Justru Sepi Peminat Adalah Malaysia, melalui Perdana Menterinya, Dr. Mahathir Mohamad yang pada pertengahan tahun 2018 kemarin membatalkan pembangunan fase 3 MRT Malaysia. Tidak asal membatalkan, Mahathir punya beberapa analisa yang lantas menggiringnya untuk membatalkan mega proyek tersebut – salah satunya adalah kendala ekonomi. “Kami telah membuang banyak uang, dan beberapa proyek ini tidak diperlukan,” ujar Mahathir, dikutip KabarPenumpang.com dari laman freemalaysiatoday.com (30/11/2018). Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, biaya pengadaan moda transportasi berbasis massal ini tidaklah murah. Untuk biaya pembangunan MRT yang sekarang eksis di Malaysia saja, otoritas terkait sudah menggelontorkan dana senilai RM50 miliar atau yang setara dengan Rp175,5 triliun (kurs Rp3.500 per ringgit Malaysia). Mahathir berpendapat bahwa dengan dana sebesar itu, atau mungkin lebih untuk pembangunan MRT fase 3, ada baiknya disalurkan ke sektor lain yang lebih membutuhkan. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa moda-moda mahal nan fungsional semacam ini akan memegang peranan besar bagi sektor transportasi di masa yang akan datang, namun Mahathir mengatakan, “Anda bisa membangun jaringan kereta ringan yang notabene lebih ekonomis dan memiliki daya angkut yang tidak terlalu besar. MRT itu satu kereta utuh, itu besar dan mahal,” tukasnya. Maksud perkataan Mahathir barusan adalah dengan dana pengadaan yang sangat besar, namun okupansi atau daya angkut dari MRT Malaysia sendiri sangatlah kecil. Sederhananya, okupansi MRT Malaysia tidak sepadan dengan dana yang sudah dikeluarkan untuk pengadaan moda ini. “Orang-orang senang ketika mereka punya MRT sebagai moda transportasi baru,” ujar Mahathir. Baca Juga: MRT Malaysia Butuhkan 250.000 Penumpang per Hari Agar Bisa Tembus Break Even Point “Harganya RM50 miliar, tetapi jumlah penumpang yang menggunakan MRT sangatlah kecil, sekitar 130.000 saja. Itu tidak cukup untuk mengembalikan apa pun,” tandasnya. Berkaca pada Malaysia yang pernah gagal dalam pengadaan MRT, warga Indonesia seharusnya dapat lebih bijaksana dan lebih mempertimbangkan penggunaan sarana transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Selain dapat secara langsung mengatasi masalah kemacetan, dengan menggunakan sarana transportasi berbasis massal, Anda sudah berperan aktif dalam mengatasi masalah polusi.    

Tingkat Pelecehan Seksual di Udara Meningkat, Dua Maskapai India Perkenalkan “Pink Rows”

Pelecehan seksual mulai merambah dunia aviasi! Kini para pria hidung belang tidak hanya berani melakukan aksi-aksi cabulnya di moda transportasi berbasis massal yang penuh sesak saja, seperti bus atau kereta, tapi mereka sudah mulai merambah moda udara. Memang, aksinya tidaklah se-ekstrem di moda-moda darat, tapi tetap saja hal seperti ini patut diberikan perhatian lebih guna mempersempit ruang gerak mereka – salah satunya adalah dengan cara menghadirkan bangku khusus wanita. Baca Juga: Istilah ‘Chikan’ Masuk Kamus Internasional Berkat Tingginya Angka Pelecehan Seksual di Kereta Jepang Layaknya gerbong khusus wanita yang selama ini bisa kita lihat di Commuter Line Jabodetabek, atau bus khusus wanita di TransJakarta, bangku khusus kaum hawa ini juga sejatinya diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan yang dapat menimbulkan trauma mendalam ini. Salah seorang penulis South China Morning Post, Kate Whitehead pernah menjadi korban dari para lelaki hidung belang ini. Menurut seorang kolumnis ini, sandaran tangan di pesawat merupakan sebuah masalah politik gender, dimana tidak sedikit pria yang kebetulan duduk di samping seorang wanita, akan senantiasa ‘mensabotase’ sandaran tangan yang memisahkan bangku kedua orang ini. “Tidak hanya itu, tetapi sikunya akan sedikit menonjol ke ruang duduk wanita yang ada di sebelahnya,” tandas Kate. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (7/12/2018), ada dua maskapai asal India yang sudah mulai memperkenalkan ‘pink rows’ di dalam armadanya – Air India dan Vistara. ‘Pink rows’ di sini adalah baris khusus wanita di dalam suatu penerbangan. Air India memperkenalkan baris khusus wanita ini pada tahun 2017 silam, menyusul dua insiden dalam satu bulan dimana ada pria yang diduga meraba-raba awak kabin atau penumpang lainnya. Sementara itu, Vistara memperkenalkan layanannya yang bernama “Woman Flyer”, dimana pihak maskapai menjanjikan tempat duduk yang disukai bagi penumpang wanita yang bepergian sendiri. Bagi para penumpang wanita yang belum menentukan tempat duduknya, maka petugas Vistara akan menjamin tempat duduk khusus bagi mereka, yaitu di pinggir jendela atau di pinggir gangway – tidak di tengah-tengah. Baca Juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini Tahun ini, CNN melaporkan bahwa investigasi FBI terhadap serangan seksual di udara telah meningkat 66 persen dari 2014 hingga 2017. Ada 63 investigasi terhadap serangan seksual di pesawat pada tahun 2017, 57 kasus di tahun 2016, 40 kasus di tahun 2015, dan 38 kasus pada tahun 2014. Namun angka-angka ini tidaklah mutlak sama persis dengan jumlah kasus yang terjadi, karena para investigator percaya bahwa di luar sana masih banyak kasus yang tidak dilaporkan.  

Bergaya “Striptease,” Pramugara Berperut Buncit Lakukan Demo Keselamatan Penerbangan

Keunikan-keunikan kerap kali terjadi dalam sebuah penerbangan, biasanya datang dari awak kabin baik melontarkan candaan hingga aksi yang membuat penumpang tertawa. Seperti yang terjadi pada maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat, Southwest Airlines, dimana seorang awak kabin pria melakukan demo alat-alat keselamatan dengan cara yang unik. Baca juga: Bocah 8 tahun, Fasih Peragakan Alat Keselamatan di Dalam Kabin Awak kabin ini melakukannya seperti seorang penari bar striptease yang menggoyangkan dan menaik turunkan tubuhnya saat mendemokan alat keselamatan. KabarPenumpang.com melansir dari thesun.co.uk (3//12/2018), kejadian unik tersebut terjadi pada penerbangan dari Chicago menuju Omaha. Seorang awak kabin mengenakan baju pelampung melalui kepalanya dan menggesekkan tubuhnya ke dinding kabin. Dia juga berputar-putar erotis sembari memegang dinding kabin dan kemudian meniup corong untuk mengisi udara di baju pelampung dengan gayanya memonyongkan bibir dengan mimik ‘nakal.’
Tak hanya itu, awak kabin itu juga berjalan di lorong seperti seorang pragawati yang memamerkan busana dan penumpang yang melihat hal tersebut tertawa. Seorang penumpang bernama Bethany Joy Brenes menggambarkan situasi itu sebagai momen yang tak terlupakan. Dia mengatakan, mungkin ini pertama kalinya penumpang mendapatkan demonstrasi alat keselamatan yang unik. Namun ternyata hal tersebut bukanlah pertama kalinya terjadi, dalam penerbangan lain seorang pria yang berpakaian seperti awak kabin diizinkan untuk membantu menerangkan demo alat keselamatan. Para penumpang yang melihat itu pun tertawa. Penumpang yang menggunakan akun @Racingsnake mentweet video pria berpakaian seperti awak kabin perempuan tersebut memberikan sedikit hiburan selama demo. “Play fair untuk @Ryanair dan anggota awak kabin Ryan. Ini yang pertama bagi saya,” tulis akun itu lagi. Tak hanya itu, awal tahun 2018, ternyata seorang awak Ryanair menari dengan iringan lagu Toxic milik Britney Spears untuk menghibur penumpang. Seorang penumpang mengaku, perlakuan awak kabin tersebut setelah penumpang disajiikan minuman tidak lama sebelum mendarat. Baca juga: Sempat Viral, Awak Kabin AirAsia X Ini Tirukan Gaya Britney Spears “Kemudian mereka mengumumkan di atas speaker bahwa kami akan disuguhi hiburan di dalam pesawat.” Sebelumnya seorang pramugari yang bosan memperlakukan penumpang dengan rendisi Despacito di atas sistem PA pesawat, membawa kegembiraan bagi penumpang di atas pesawat. Di Indonesia pun tak kalah menarik, salah satu maskapai LCC yakni Citilink kerap kali melontarkan pantun-pantun unik sesaat sebelum pesawat mendarat di kota tujuan. Ini membuat penumpang terhibur dan menjadi satu bagian unik tersendiri yang dimiliki Citilink.