10 Orang di Emirates Flight 203 Disinyalir Terjangkit MERS!

Setidaknya 10 orang yang mengudara menggunakan Airbus A380 Emirates Flight 203 dilarikan ke rumah sakit sesaat setelah pesawat tersebut mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York pada Rabu (5/9/2018) malam. Health Commissioner New York City, Dr Oxiris Barbot mengatakan kesepuluh orang tersebut mungkin terserang influenza – sedangkan kesepuluh orang yang terdiri dari tiga penumpang dan tujuh awak kabin ini mengeluhkan batuk, demam, hingga muntah. Baca Juga: Layanan First Class Emirates Undang Decak Kagum Youtuber! Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (6/9/2018), setibanya di bandara tersebut, sebanyak 106 dari 500 penumpang yang mengudara dari Dubai ini ‘disaring’ terlebih dahulu oleh pihak Centers for Disease Control and Prevention. Mereka yang disaring ini merupakan penumpang yang akan melanjutkan perjalanan berikutnya (transit). Seorang pejabat Centers for Disease Control and Prevention yang sudah akrab dengan kejadian seperti ini lalu berusaha mencari penyebab dari sakit yang diderita secara bersamaan oleh 10 orang tadi. “Yang kami khawatirkan, 10 orang tersebut terjangkit Middle East Respiratory Syndrome atau MERS,” ujarnya. Sedangkan, menurut pengakuan sejumlah penumpang, mereka mendapati beberapa orang dalam jumlah yang cukup banyak sudah terlihat sakit bahkan sejak mereka masih berada di bandara Dubai. “Saya meminta masker kepada pramugari, namun mereka tidak punya satu pun,” ujar salah seorang penumpang bernama Erin Sykes. “Sangat jelas bahwa mereka sudah sakit bahkan sebelum pesawat epas landas,” tandasnya. Erin yang khawatir akan terjangkit penyakit tersebut pun mengeluhkan kebijakan yang dilakukan oleh pihak Emirates. “Mereka batuk sepanjang perjalanan. Seharusnya mereka tidak diijinkan untuk mengudara,” paparnya. Sementara itu menurut penuturan penumpang lain bernama Rob Van Winkle, orang-orang yang sedang sakit ini berada di “kabin bawah, karena pesawat yang kami tumpangi merupakan pesawat double cabin,” papar Rob. Baca Juga: Airbus A380 Milik Emirates Mendarat di Beirut, Ada Apa? Setibanya di Bandara Internasional John F. Kennedy, ambulans dan sejumlah petugas medis sudah menunggu di tarmak dan langsung mengevakuasi kesepuluh orang tersebut. “Para penumpang (yang hendak transit dan mengakhiri perjalanan) disuruh untuk mengisi formulir kesehatan. Beberapa otoritas terkait bahkan akan memantau kondisi kesehatan kami selama tiga minggu ke depan. Senang rasanya melihat pihak Emirates dapat melayani penumpang seperti ini – mereka tidak ingin penyakit ini semakin menyebar,” ujar seorang penumpang bernama Srinivasa Rao.  

OMG! Salah Penulisan Livery Pesawat, Nama Cathay Pacific Menjadi ‘Cathay Paciic’

Dalam sebuah kalimat ada salah penulisan dan ini kerap kali dilakukan semua orang. Bahkan nama sebuah maskapai besar pun bisa salah penulisannya dan menjadi terlihat mencolok. Hal ini baru saja terjadi pada maskapai Cathay Pacific yang berbasis di Hong Kong. Baca juga: Cathay Pacific Hibahkan Boeing 777-200 Perdana Ke Museum Dirgantara di Arizona KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (19/9/2018), dimana karena kesalahan ejaan pesawat Boeing 777-367 milik Cathay Pacific harus kembali ke bengkel. Kesalahan penulisan ini terlihat jelas dan cukup mencolok di sisi pesawat yang seharusnya tertulis Cathay Pacific menjadi ‘Cathay Paciic’ dan terlihat kekurangan satu huruf ‘F’ diantara huruf i. Kabar ini sendiri diketahui setelah foto-foto yang bermunculan di Bandara Internasional Hong Kong. Namun, meski begitu pihak maskapai Cathay Pacific sendiri tidak menutupi masalah tersebut dan mengunggahnya pada akun Twitter mereka dengan caption “Ups livery khusus ini tidak akan bertahan lama! Dia akan kembali ke toko!” Bahkan foto-foto kesalahan penulisan nama maskapai ini sendiri sudah muncul di grup Facebook Forum Diskusi Penerbangan Hong Kong. Sayangnya kesalahan penulisan ini belum jelass terjadi karena apa dan membuat beberapa orang curiga. Seorang ahli dari Haeco mengaku terkejut dan mengatakan, jaraknya terlalu dekat untuk kesalahan. Dia mengatakan pihaknya punya stensil dan seharusnya ada celah kosong diantara huruf. “Kami tidak bermaksud untuk membuat keributan besar di tempat pertama, tetapi foto-foto menjadi viral dalam kelompok antusias penerbangan, jadi kami hanya berbagi momen lucu dengan semua orang,” ujar seorang juru bicara Cathay Pacific. Baca juga: Mulai dari Kado Hingga Rusa Santa Claus, Ini Dia Livery Pesawat Bertema Natal Karena kesalahaan ini Cathay Pacific harus mengeluarkan beberapa ribu dolar untuk memperbaiki hal tersebut. Selain kesalahan penulisan tersebut, ternyata hal tersebut bukan pertama kalinya tersendung masalah pekerjaan cat. Sebab beberapa tahun yang lalu, salah satu pesawat dicat dengan merek maskapai saat memiliki logo hijau ‘brushwing’ tepat dibelakang kokpit dibagian luar pesawat dan akhirnya dicat kembali. Diketahui, pesawat Boeing 777-367 yang salah penulisannya ini terbang dari Xiamen, Selasa (18/9/2018) malam dan tiba di Hong Kong dini hari Rabu (19/9/2018) pagi.

Redbus dan PO Sinar Jaya Berkolaborasi di Layanan Jakarta Airport Connexion

Redbus, platform tiket bus online terbesar di dunia asal India, diwartakan telah menjalin kolaborasi dengan perusahan otobus nasional, PO Sinar Jaya. Persisnya kemitraan ini mencakup layanan di JAC (Jakarta Airport Connexion). Nantinya pengguna dapat segera memesan tiket bus Sinar Jaya untuk beberapa rute utama bandara pada aplikasi Redbus. Baca juga: PO Sinar Jaya, Tawarkan Kenyamanan dengan Harga Bersahabat Dikutip dari siaran pers (21/9/2018) yang diterima kabarpenumpang.com, layanan ini akan aktif pada akhir September. Rute yang dimulai dari Bandara Soekarno Hatta ini akan menghubungkan ke Bogor, Bekasi, Jakarta Utara, dan Bandung. Kemitraan ini akan memungkinkan pengguna memilih sekitar 10.000 kursi pada aplikasi Redbus untuk beberapa rute bus yang populer di Indonesia. Pihak Redbus dan Sinar Jaya berharap tersedianya konektivitas tanpa batas ke terminal-terminal bandara akan memudahkan para calon pengguna untuk mengatur waktu perjalanan mereka. Dalam masa promosi, pelanggan bus di Indonesia kini dapat menikmati diskon 15% flat pada tiket bus Sinar Jaya dengan menggunakan kode SINAR15 pada aplikasi redBus atau website di www.redbus.id “Redbus turut serta membangun ekosistem transportasi bus di Indonesia melalui teknologinya. Bersama Sinar Jaya, sinergi untuk tumbuh bersama dengan mengadopsi teknologi adalah hal yang saling menguntungkan. Selama lebih dari 36 tahun menyediakan layanan transportasi. Kami juga berharap dapat menginspirasi operator lain untuk bergabung dan memberikan layanan bus terbaik bagi pelanggan di Indonesia hanya melalui jangkauan ujung jari mereka,” ujar Adithyan Asokan, Business Manager, Redbus Indonesia. Baca juga: Jalin Kemitraan dengan Google Maps, RedBus Siap Mudahkan Perjalanan Pelancong Sampai saat ini Redbus bermitra dengan lebih dari 80 operator bus di beberapa kota di Indonesia dan lebih dari 2500 mitra secara global. Redbus telah menjual lebih dari 100 juta tiket bus dan memberikan peluang lebih terhadap kemitraan dengan banyak operator bus di seluruh dunia. Bagi operator bus, manfaat yang diperoleh jika terdaftar di redBus adalah penggunaan teknologi untuk mengelola penjualan tempat duduk dengan lebih baik, memperkirakan permintaan dan perubahan hasil menuju pengelolaan yang lebih baik.

AIIB: Transportasi Publik Harus Pertimbangkan ‘Dampak’ Sosio-Ekonomi di Daerah Terkait

Selain harga minyak bumi, bisakah Anda sebutkan faktor eksternal yang membawa dampak pada laju pertumbuhan sarana transportasi berbasis massal? Ya, ledakan jumlah populasi ternyata memegang peranan penting terhadap kelangsungan pertumbuhan dari sarana transportasi berbasis massal tersebut. Dengan ragam caranya – termasuk urbanisasi, hadirnya angkutan berbasis massal akan memungkinkan operator terkait untuk memobilisasi penumpang dalam jumlah yang banyak dalam sekali perjalanan. Baca Juga: Menhub Targetkan Integrasi Transportasi Massal di Jakarta Pada 2023 – 2024 Sampai sini, masih tidak ada masalah yang cukup berarti. Namun ketika ditelisik lebih dalam di sektor pembayarannya, tidak sedikit orang yang enggan menggunakan angkutan tersebut dengan dilatarbelakangi oleh masalah ongkos yang terbilang cukup mahal di kocek mereka. Ketika angkutan berbasis massal tersebut sudah disiapkan pemerintah, namun ternyata harga perjalanan yang ditawarkan tidaklah ‘membumi’, maka tujuan utama pemerintah dalam menghadirkan moda tersebut bisa dibilang gagal. Berdasarkan lansiran KabarPenumpang.com dari laman govinsider.asia (21/8/2018), data World Bank pada tahun 2017 menyebutkan bahwa lebih dari separuh populasi global tinggal di kota-kota besar dan kecil. Dalam dua dekade terakhir, pertumbuhan ini terutama didorong oleh kota-kota di sekitaran Asia dan Afrika. Sudah barang tentu, ledakan populasi di kota-kota besar atau kecil ini telah menghadirkan tantangan tersendiri bagi para perencana kota. Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk mengakomodasi masalah biaya perjalanan yang tinggi, sedangkan para calon penumpangnya lebih memilih untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi karena dinilai lebih hemat? Menurut Manager Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), Ka Feng, pertimbangan kelayakan ekonomi di awal terhadap suatu moda transportasi merupakan kunci dasar dari keberhasilan operasinya kelak. Maksudnya seperti ini, sebelum membangun sarana transportasi berbasis massal di suatu daerah, ada baiknya pertimbangan matang soal, “Apakah moda ini kelak memiliki dampak sosio-ekonomi positif bagi daerah yang bersangkutan?” “Sistem transportasi yang baik memiliki beberapa indikator, seperti mampu mengurangi waktu perjalanan dan meningkatkan konektivitas, berperan serta dalam pertumbuhan ekonomi, meningkatkan harga tanah, dan menyediakan lapangan kerja,” ujar Ka Feng. Ka Feng mengambil contoh jaringan MTR Hong Kong – dimana harga tiket yang ditawarkan lebih rendah ketimbang moda perkotaan lain di seluruh dunia. Kendati begitu, MTR Corporation Hong Kong merupakan salah satu perusahaan yang membawa dampak positif bagi perekonomian di daerah yang dilayaninya. Bagaimana bisa? Dengan dukungan dari pemerintah, MTR Hong Kong diijinkan untuk menghasilkan uang dari peningkatan nilai properti yang biasanya mengikuti pembangunan jalur kereta api. Mungkin sederhananya seperti ini, “MTR Hong Kong tidak mendapat keuntungan signifikan dari segi penjualan tiket perjalanan, namun mereka bisa merengkuh keuntungan lebih besar dari peningkatan nilai properti.” Baca Juga: Tahun 2020, Singapura Hapuskan Transaksi Tunai Pada Transportasi Berbasis Massal Menanggapi pendekatan seperti ini, Direktur Jenderal Direktorat Kereta Api Norwegia, Kirsti Slotsvik mengatakan bahwa MTR Hong Kong dapat, “mengeluarkan biaya keseluruhan serendah mungkin, namun membawa dampak positif pada keseluruhan proyek (jaringan MTR Hong Kong),” Selain itu, pertimbangan penentuan biaya perjalanan pun harus lebih dikaji lebih dalam, mengingat para pengguna sarana transportasi berbasis massal ini sangatlah heterogen – tidak hanya pegawai kantoran saja, melainkan orang-orang kurang mampu pun layak dan berhak untuk menikmati fasilitas ini pula. Dari sini, peningkatan pengamanan pun mesti diperketat karena ragam penumpang tersebut. Pada akhirnya, semuanya saling berkaitan.

Pengemudi Uber Mabuk, Penumpang Terpaksa Kemudikan Mobil Sampai Tujuan

Baru-baru ini seorang penumpang India memesan Uber dari Bandara Internasional Bengaluru menuju rumahnya. Tapi sayangnya, bukannya duduk manis, pria tersebut harus mengemudikannya sendiri. Baca juga: Akibat Kelelahan, Pengemudi Taksi Tidur, Penumpang Mengemudi Sendiri! Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (19/9/2018), bahwa pada kenyataannya pengemudi Uber pesanannya dalam keadaan mabuk. Awalnya sebelum naik ke mobil tersebut, Surya Oruganti, menyadari sesuatu hal yang janggal saat pengemudi bukan orang yang ada di foto pada aplikasi. Tetapi kenyataan lainnya adalah mobil dan plat nomor yang akan dinaikinya sama dengan yang tertera pada aplikasi. Kemudian pria malang tersebut akhirnya memutuskan untuk tetap naik Uber itu. Dalam perjalanan beberapa menit awal, dia merasakan sesuatu yang aneh dimana pengemudi Uber mabuk. Bahkan Surya akhirnya meminta pengemudi untuk berhenti dan bertukar tempat dengannya. Hingga akhirnya Surya yang mengemudikan mobil itu sepanjang sisa perjalanannya menuju rumah. Karena kejadian ini, Surya mengunggah foto dirinya yang mengemudikan mobil dan pengemudi yang tidur disebelahnya melalui akun Twitter dan pesan tersebut tertuju pada Uber. “Perjalanan kembali dari Bandara Bangaluru tidak seperti yang saya harapkan. Pengemudi itu mabuk dan mengantuk. Saya harus bertukar tempat dan saya berkendara sepanjang jalan pulang,” tulisnya kepada Uber melalui Twitter. Bukan hanya foto pengemudi dan dirinya saja, tetapi Surya juga mengunggah video dan mengatakan “dia cukup mabuk untuk sadar ketika sedang direkam.” Adanya masalah ini, tim keamanan Uber bahkan tidak merespon selama 20 jam. Namun saat merespon, pihak Uber mengatakan, pengemudi tidak boleh berkendara saat mabuk karena masalah keamanan. Dalam pernyataan pun Uber mengatakan, hal tersebut adalah insiden yang disesalkan dan memprihatinkan. “Meskipun kami mengambil semua tindakan yang mungkin untuk memastikan bahwa pengemudi di belakang kemudi sesuai dengan orang yang ditampilkan di aplikasi, dalam kasus yang jarang terjadi, ketika ini tidak terjadi, kami mendorong pengendara untuk membatalkan perjalanan mereka segera dan melaporkan masalah tersebut pada aplikasi, jadi bahwa tindakan segera dapat diambil,” ujar pernyataan tersebut. Baca juga: Sering Gunakan Layanan Ride-Sharing? Baca Tips Ini Agar Tetap Aman! Adanya insiden ini kemudian profil pengemudi Uber tersebut dihapus dari aplikasi dan pihak Uber melakukan penyelidikan atas masalah tersebut. “Kami siap untuk membantu para pengendara dan penegak hukum lebih lanjut jika diperlukan,” ujar Uber.

Inilah Syarat Untuk Menjadi Awak Kabin Garuda Indonesia

Penumpang pesawat pastinya akan selalu mendapatkan pelayanan dari para awak kabin baik itu pramugari maupun pramugara. Apalagi mereka berpenampilan rapi dengan seragam maskpai penerbangan mereka masing-masing. Baca juga: Kasus Awak Kabin Jetstar: Tenaga Asing Dibayar Murah dengan Kerja Ekstra Tak hanya itu paras mereka yang rupawan dan sikap sopan mereka pun membuat penumpang nyaman. Ya, ternyata profesi menjadi pramugari/pramugara sangat diminati dalam industri penerbangan selain pilot. Bukan hanya karena gaji yang besar, tetapi menjadi seorang awak kabin juga kebanggann tersendiri. Diketahui, gaji pramugari/pramugara bisa mencapai Rp15 juta per bulannya dan yang senior bisa mencapai Rp20 juta, pendapatan ini sendiri tergantung jam terbang mereka. Tapi tahukah Anda bahwa untuk menjadi seorang awak kabin bukanlah hal yang mudah. Sebab, KabarPenumpang.com melansir dari laman intisari.grid.id (19/9/2018), berikut ini proses seleksi yang harus dilaksanakan apalagi jika ingin menjadi awak kabin dari Garuda Indonesia. Direktur SDM dan Umum Garuda Indonesia, Linggarsari Suharso mengatakan, saat pihaknya membuka lowongan untuk pramugari, tidak heran jika ada ribuan pendaftar. Padahal dia mengatakan, Garuda Indonesia hanya butuh 40-an hingga 70-an orang. Tes masuknya pun ada beberapa tahapan yakni yang pertama adalah syarat pemberkasan. Kemudian bahasa Inggris dengan nilai TOEIC 600. Selanjutnya jika berkas lolos, maka akan berlanjut tahap du yakni Boddy Mass Index (BMI) atau postur tubuh ideal. “Kan tinggi minimum 160, kalau dihitung BMI-nya sekitar 48-50-an kilo. Ya, di BMI itu banyak yang gugur, bisa 40 persenan. Tinggi kurang 1,5 centimeter aja kita tak bisa ditolerir,” ujar Senior Manager Flight Attendant Garuda Indonesia, Yonas. Tahapan ketiga yakni wawancara dengan user yakni kru-kru Garuda Indonesia yang juga dilanjutan dengan psikotes serta Bahasa Inggris di hari yang sama. “Bahasa Inggris itu harus aktif berkomunikasi, presentasi, greetings dan lain-lain. Gugup atau tidak, kebanyakan bengong atau engga pas ditanya. Hasilnya kita umumkan lewat email resmi Garuda, ga ada japri (jalur pribadi) atau apa,” tutur Yonas. Nantinya bila tiga tahapan-tahapan awal ini selesai, para calon awak kabin akan menerima email jika lolos dan melakukan verifikasi data yang dinamakan background check. Ini dimana pihak HRD akan melihat data keluarga, mengecek ulang formulir yang diisi diawal untuk melihat valid atau rekayasa. Bila semua hal tersebut lolos, makan calon awak kabin melakukan medical chek up yang diawasi oleh otoritas nasional. Bila lolos, Yonas mengatakan calon awak kabin masuk dalam tahap pemantauan akhir oleh direksi apakah sesuai kompentensi atau tidak. Baca juga: Ternyata! Pendapatan Petugas ATC Jauh Lebih Tinggi dari Seorang Pilot “Setelah seleksi awal, masuk tahap ground training di sini, selama empat bulan menginap. Ada pelatihan-pelatihan pelayanan, keselamatan, dan segala macam. Baru flight training. Dalam latihan terbang itu, kru kabin pemula harus melalui 10 sektor, contohnya Jakarta-Denpasar yang masuk dalam satu sektor. Kemudian kru kabin juga harus melakukan penerbangan dua sektor tambahan dari Departemen Perhubungan untuk mendapatkan surat izin. Setelah itu baru resmi, total (seleksi) 5-6 bulan,” jelas Yonas. Tips agar lolos seleksi awak kabin yakni paling utama adalah keahlian bahasa, sebab buku panduan manual semua menggunakan bahasa Inggris. Selain itu harus menyanggupi standar BMI dan mempersiapkan kesehatan.

Campur Biofuel dan Avtur, United Airlines Sukses Layani Penerbangan Trans-Atlantik Terlama!

Baru-baru ini, tersiar kabar tentang maskapai kontroversial United Airlines yang baru saja mencatatkan sejarah baru – melakukan penerbangan dari San Francisco International Airport (SFO) menuju Zurich di Swiss dengan menggunakan bahan bakar campuran. Pada penerbangan yang dilakukan Jumat (14/9/2018) kemarin ini, United sukses mencampur 70 persen bahan bakar jet konvensional dan 30 persen sisanya menggunakan biofuel. Tak ayal, ini menjadi penerbangan maskapai Negeri Paman Sam terlama yang didukung oleh volume biofuel sebesar ini. Baca Juga: Lima Mitos Yang Keliru Seputar Dunia Penerbangan Usut punya usut, penerbangan United tersebut merupakan salah satu bentuk kerja sama antara pihak SFO dengan produsen bahan bakar biofuel kenamaan, World Energy. Dalam nota kesepahaman yang sudah ditandatangani kedua belah pihak, tercantum pula delapan maskapai lain yang nantinya akan menggunakan bahan bakar terbarukan. Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, adapun moda yang digunakan oleh pihak United Airlines dalam penerbangan Trans-Atlantik ini adalah Boeing 787 Dreamliner. “Penerbangan ini adalah salah satu dari banyak langkah yang diperlukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca jangka panjang,” ujar Chief Commercial Officer World Energy, Bryan Sherbacow. Seperti yang kita ketahui bersama, World Energy merupakan perusahaan pelopor bahan bakar jet terbarukan – selain menyediakan solusi bahan bakar rendah karbon untuk industri transportasi darat. Suksesnya penerbangan United di atas merupakan pencapaian tersendiri bagi World Energy. “Kami senang dapat menyediakan solusi bahan bakar rendah karbon, dimana ini akan membantu setiap pelanggan kami untuk memenuhi misi ramah lingkungan,” tandas Bryan. Selain itu, penggunaan biofuel di United sendiri merupakan salah satu misi perusahaan yang menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 50 persen pada tahun 2050. Baca Juga: Kenali Dua Jenis Bahan Bakar Pesawat Yuk! Namun penggunaan biofuel dalam penerbangan United Airlines tersebut tidak serta merta diterima masyarakat begitu saja. Ada beberapa golongan yang masih kebingungan – dimana sempat beredar pemberitaan tentang bahan bakar biofuel yang tidak ramah terhadap sebagian komponen mesin, dimana lambat laun akan memperpendek umur dari komponen tersebut. Pada kenyataannya, pencampuran bahan bakar jet konvensional dengan biofuel ini sudah diatur secara global dan tertuang dalam American Society for Testing and Materials (ASTM) D7566-11: tentang Spesifikasi untuk Bahan Bakar Turbin Aviasi yang Mengandung Hidrokarbon ter-Sintesis. Dikutip dari laman den.go.id, standar baru ini memungkinkan pencampuran komponen sintetik (biofuel) hingga 50 persen kedalam bahan bakar jet konvensional.  

Cathay Pacific Hibahkan Boeing 777-200 Perdana Ke Museum Dirgantara di Arizona

Bagi maskapai Garuda Indonesia, sosok pesawat berbadan lebar Boeing 777 series masih tergolong baru, bahkan pesawat twinjet ini masih sangat diandalkan untuk melayani rute penerbangan jarak jauh, contohnya seperti rute penerbangan langsung Jakarta-London. Nah, baru bagi Garuda Indonesia, tapi ternyata beda dengan maskapai kebangggan asal Hong Kong, Cathay Pacific. Baca juga: The Boneyard, Inilah Tempat Bersemayam Para Pesawat Setelah Pensiun dari Masa Tugasnya Pesawat Boeing 777 pertama milik Cathay Pacific diwartakan akan disumbangkan ke Pima Air dan Space Museum di Arizona yang merupakan museum kedirgantaraan tersbesar di dunia. Hal ini disampaikan Cathay Pacific dan Boeing setelah pesawat 777-200 ini memasuki masa pensiunnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cathaypacific.com (17/9/2018), pesawat 777-200 yang ikonik dengan nomor penerbangan WA001 dan terdaftar sebagai B-HNL pada 18 September 2018 kemarin terbang dari rumah Cathay Pacific di Hong Kong ke Tucson di Arizona. Pesawat ini sendiri akan bergabung dengan lebih dari 350 pesawat bersejarah lainnya. Pesawat 777-200 milik Cathay Pacific ini pertama kali diterbangkan Boeing pada 12 Juni 1994 dan terus digunakan sebagai pesawat uji selama beberapa tahun. Hingga akhirnya bergabung dengan Cathay Pacific tahun 2000 lalu dan pensiun pada Mei 2018 kemarin setelah 18 tahun beroperasi.
Dengan kode B-HNL, Cathay Pacific hibahkan armadanya ke museum di Arizona (cathaypacific.com)
Selama beroperasi dalam kurun waktu 18 tahun bersama Cathay Pacific, Boeing 777-200 B-HNL melayani 20.519 penerbangan dan mencatat waktu terbang selama 49.687 jam. Chief Executive Officer Cathay Pacific, Rupert Hogg mengatakan, sebagai yang pertama di dunia 777, B-HNL memiliki tempat yang istimewa dalam sejarah baik maskapai Cathay maupun penerbangan komersial. “Kami sangat senang itu akan segera membawa kesenangan bagi para penggemar di rumah barunya di Arizona,” ujar Hogg. Cathay sendiri merupakan salah satu dari segelintir maskapai penerbangan yang memberikan masukan bagi 777 pada tahap desain. Dimana memberikan maskapai yang berbasis di Hong Kong ini kesempatan unik untuk memperbaiki fitur pesawat agar sesuai dengan kebutuhannya. Di antara permintaan itu ada penampang kabin yang serupa dengan Jet Jumbo 747, kokpit dengan kaca modern, sistem fly-by-wire dan yang terpenting biaya pengoperasian yang lebih rendah. Hari ini, Cathay Pacific mengoperasikan salah satu armada 777 terbesar di dunia. Baca juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah “Cathay Pacific telah berperan dalam keberhasilan luar biasa dari program 777. Maskapai ini berkontribusi besar terhadap desain asli pesawat dan telah menjadi salah satu duta terbesarnya sejak itu. Sekarang mereka adalah pelanggan peluncuran untuk pesawat 777X baru kami. Kami sangat senang dapat bermitra dengan Cathay dalam donasi ini ke museum sebagai cara untuk berbagi kisah luar biasa dari Boeing 777 untuk tahun-tahun mendatang,” ujar Presiden dan CEO Boeing Commercial Airplanes Kevin McAllister. Cathay adalah pelanggan peluncuran untuk pengganti 777, 777X yang akan terbang pada kuartal pertama 2019 dengan pengiriman yang diharapkan akan dimulai pada Desember 2019. Selain itu juga Cathay Pacific antusias dalam menantikan pesawat Boeing 777-9 yang canggih pada 2021 mendatang.

Stasiun Baengmagoji, Saksi Bisu Tingginya Asa Warga Kedua Korea Akan Reunifikasi

Perdamaian yang kini tengah terjalin antara Korea Selatan dan Korea Utara ternyata masih menimbulkan skeptimisme di benak sejumlah golongan. Rentetan pertanyaan pun siap menghiasi berbagai media global, salah satunya adalah tentang jaringan perkeretaapian yang rencananya akan mengular di antara kedua negara tersebut. Sudah barang tentu, warga kedua negara saudara mengharapkan yang terbaik dari upaya reunifikasi ini. Baca Juga: Berdamai, Korea Selatan Siap Bersinergi ‘Terangkan’ Sektor Transportasi di Korea Utara Adalah Stasiun Baengmagoji yang menjadi saksi bisu dari harapan warga kedua Korea untuk berdamai. Stasiun yang terletak sekitar 100 km sebelah timur laut kota Seoul ini merupakan stasiun buntu – yang semula direncanakan untuk menjadi penghubung antara Seoul di Korea Selatan dan sebuah kota pelabuhan di pantai timur Wonsan di Korea Utara. Namun karena perpecahan yang terjadi antara dua negara ini dan perjanjian de facto pada tahun 1953, akhirnya pembangunan jalur kereta sepanjang 223 km ini pun tidak pernah dilanjutkan. Sebuah ujung rel di Stasiun Baengmagoji yang dibatasi oleh barikade beton hitam-kuning seolah menjadi tanda bagi warga Korea Selatan untuk tidak pergi lebih jauh lagi ke arah utara – pun dengan warga Korea Utara. Tak pelak, lokasi ini pun menjadi sasaran warga yang hendak mengutarakan langsung harapan mereka mengenai reunifikasi antara Korea Selatan dan Korea Utara pasca perjanjian perdamaian yang ditandatangai pada akhir April 2018 kemarin. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (17/9/2018), beberapa pucuk surat dan puisi nampak menghiasi sejumlah sudut di Stasiun Baengmagoji. Isinya merupakan harapan yang mereka dambakan dari perjanjian damai tersebut. “Tuhan, kami berdoa untuk reunifikasi Korea Selatan dan Korea Utara … dan menembus barikade ini,” tulis salah seorang warga pada sebuah kertas berbentuk kupu-kupu yang dilekatkan di salah satu sudut Stasiun Baengmagoji. Serupa tapi tak sama, curahan hati para warga Korea juga ditempelkan di salah satu kotak surat yang berada di peron – namun kali ini berupa sebuah puisi. “Kereta sekali lagi akan teriak untuk kembali ke lintasannya. Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan selain meratapi kesedihan ini di ujung rel sembari menatap burung-burung yang bebas beterbangan di atas sana,” tulis seorang penyair bernama Oh Geun-seong. Baca Juga: Kim Jong Un Mulai Membuka Diri, Jalur Kereta Trans Siberia Diharapkan Bisa Berakhir di Seoul Eksistensi curahan hati warga Korea ini dengan cepat tersebar luas pasca diunggah ke dunia maya. Kendati di satu sisi ini merupakan salah satu bentuk desakan warga kepada otoritas terkait agar terus menjalin kerja sama di berbagai sektor dan mempererat tali silaturahmi yang sempat terputus puluhan tahun lamanya, namun di sisi lain juga menyiratkan tingginya asa warga Korea untuk bisa menikmati jalur kereta antara dua negara.

Dirikan Smart Urban Rail Corporate Laboratory, Otoritas Singapura Harapkan Kinerja MRT Meningkat

Lebih dari setengah jumlah keterlambatan di bawah lima menit yang selama ini terjadi di Singapore MRT (SMRT) disebabkan karena adanya kesalahan pada sistem pintu kereta, dimana itu akan memakan waktu sebelum akhirnya kereta bertolak menuju pemberhentian selanjutnya. Tentu saja, jika dibiarkan, ini akan menjadi masalah yang dapat mempengaruhi keseluruhan pengoperasian dari SMRT itu sendiri. Baca Juga: Sering ‘Ngaret,’ Minat Warga Singapura Gunakan MRT Terus Menurun Maka dari itu, diperlukan satu solusi ampuh yang dikhususkan untuk mengatasi masalah pada pintu armada SMRT ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (30/8/2018), sebuah prototipe sistem sensor pintu kereta yang dikembangkan oleh operator SMRT dan Nanyang Technological University (NTU) sebenarnya sudah mulai dipasang sejak bulan Juni lalu di rangkaian kereta yang mengular di jalur North-South dan East-West – namun statusnya masih dalam pengembangan. Sensor pintu kereta canggih ini akan mengumpulkan data tentang tekanan udara, kecepatan pintu saat buka tutup, hingga pasokan listrik dari pintu pneumatik tersebut. Diketahui, pengembangan sensor pintu kereta ini merupakan salah satu dari 13 proyek penelitian Smart Urban Rail Corporate Laboratory – proyek kerja sama antara SMRT dan NTU guna meningkatkan keandalan kereta. “Hadirnya Smart Urban Rail Corporate Laboratory ditujukan untuk mendorong efektivitas dari solusi hasil penelitian yang memiliki relevansi langsung tidak hanya untuk SMRT, tetapi juga untuk industri transportasi global dalam mengantisipasi kebutuhan di masa yang akan datang,” ungkap Menteri Keuangan Heng Swee Keat, yang juga menjabat sebagai Ketua National Research Foundation (NRF). Menteri Heng Swee Keat secara langsung telah meresmikan hadirnya Smart Urban Rail Corporate Laboratory pada akhir Agustus kemarin dan menambahkan bahwa hadirnya laboratorium ini, “sangat tepat waktu, mengingat target otoritas Singapura yang akan melipatgandakan panjang jalur perkeretaapian Singapura menjadi 360 km pada tahun 2030 mendatang,” Baca Juga: Penumpang Menurun, MRT Singapura Merugi Hampir Rp1 Miliar di Q1 2018 Di sini, Singapura harus berinvestasi dalam hal kemampuan rekayasa rel yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi perkeretaapian di sana. “Kami juga perlu mengembangkan teknologi baru untuk jaringan rel yang efisien dan tangguh agar dapat berjalan dengan biaya siklus pengoperasian yang berkelanjutan,” tandas Menteri Heng Swee Keat.