Suka Makanan Minang? Citilink Hadirkan Nasi Kapau Untuk Kuliner di Udara

Maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia kembali menghadirkan pilihan kuliner terbaru dengan cita rasa Indonesia dalam setiap penerbangannya. Menu terbaru ini telah hadir untuk penumpang sejak 1 September 2018 kemarin. Baca juga: Citilink dan Kalbe Farma Kampanyekan #terbangsehat Pada Penumpang Dari keterangan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com, salah satu menu terbaru yang bisa dinikmati penumpang Citilink adalah Nasi Kapau. “Peluncuran menu baru ini sejalan dengan upaya Citilink Indonesia untuk terus meningkatkan layanan dalam setiap penerbangannya, sehingga penumpang dapat menikmati penerbangan dengan pilihan makanan cita rasa yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia,” ujar Vice President Corporate Secretary and CSR Ranty Astari Rachman. Tak hanya itu, Vice President Cargo and Ancillary Revenue, Benny Rustanto mengatakan, pihaknya menghadirkan menu baru ini menjadi salah satu strategi agar penumpang yang sering terbang dengan Citilink tidak merasa bosan. Benny juga menambahkan, mengganti beberapa menu setelah mensurvei penumpang. Pilihan Nasi Kapau sendiri dikarenakan salah satu makanan yang paling banyak peminatnya baik itu dalam negeri maupun mancanegara. Selain Nasi Kapau, Citilink mengadirkan tiga makana khas nusantara lainnya yakni Nasi Ulam, Sate Ayam Indonesia dan Nasi Goreng Supergreen. Untuk melengkapi kuliner nusantara ini, ada pula signature drink atau minuman pilihan yakni jus kacang hijau untuk memberikan kesegaran pada penumpang. Meski begitu Citilink juga menghadirkan makanan bergaya barat atau internasional terbaru seperti omelette and chicken sausage, sandwich smoked chicken and cheese, dan garden salad. “Kami hadirkan menu-menu tersebut dengan proses seleksi yang ketat. Kriterianya survei pelanggan dan diskusi dengan Aerofood ACS,” ujar Benny. Dalam pengenalan menu baru, Citilink tetap mempertahankan tiga kuliner yang telah hadir sebelumnya yaitu Nasi kuning tuna, nasi goreng spesial, dan spageti bolognaise. Baca juga: Jelang Q4 2018, Citilink Canangkan Buka Rute Banyuwangi-Kuala Lumpur “Ada survei penumpang menginginkan adanya dessert. Kami juga luncurkan minuman yaitu jus kacang ijo. Kuliner ini hanya bisa dinikmati pelanggan Citilink,” tambah Benny Penumpang bisa memesan langsung di pesawat (on board) atau memesan sebelum terbang (pre book meal) di laman citilink.co.id. Harga setiap jenis kuliner bila memesan on board yaitu Rp55 ribu. Sementara, pre book meal Rp45 ribu. Sebelumnya, pada bulan Januari 2018, Citilink telah meluncurkan kuliner Indonesia, yakni Nasi Campur Bali, Nasi Kuning Cakalang Manado, Nasi Ayam Tangkap Aceh, serta Ikan Arsik Sibolga.

Selain Lokomotif Vectron Dual Mode, Inilah yang Akan Dipamerkan Siemens di InnoTrans 2018!

Siemens Mobility dan mitra pengembangan ViP Verkehrsbetrieb Potsdam diketahui akan mempresentasikan proyek penelitian mereka yang bertujuan untuk mengembangkan trem otonom pertama di dunia. Siemens Mobility yang berbasis di Berlin, Jerman ini rencananya akan mendemonstrasikan trem otonom di jalur sepanjang 6 km di Postdam, Jerman – dimana demonstrasi ini merupakan bagian dari perhelatan InnoTrans 2018 yang diadakan pada 18-21 September mendatang. Baca Juga: Trem Listrik, Mantan Primadona Transportasi Arek Suroboyo Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (4/9/2018), adapun armada yang akan digunakan pada saat demonstrasi ini adalah Combino Tram buatan Siemens yang didapat dari ViP Verkehrsbetrieb Potsdam. Keandalan moda akan diuji di sini, dimana salah satu yang menjadi permasalahan dalam menghadirkan moda otonom adalah soal bagaimana moda ini bisa mengidentifikasi rintangan yang ada di hadapannya. Selain itu, Combino Tram juga akan dihadapkan pada skema lalu lintas seperti biasa, tanpa ada skema uji coba. Di sini, beberapa fitur Light Detection And Ranging (LIDAR), radar, dan sensor kamera akan mendeteksi lingkungan di sekitar moda dan menjalankan fungsi algoritma yang kompleks untuk menginterpretasikan data yang diperoleh dan memberikan respons yang tepat. Trem otonom canggih ini mampu merespons sinyal trem, berhenti di perhentian tertentu, serta langsung merespons pergerakan kendaraan lain dan pejalan kaki yang menyeberang. “Kami yakin bahwa trem ini sudah menguasai fungsi operasi penting dalam berlalu lintas – dan ini akan kami buktikan ketika acara tersebut, tutur CEO Siemens Mobility, Sabrina Soussan. “Sebuah tonggak penting tercipta manakala sistem anti tabrakan ‘Siemens Tram Assistant’ telah membantu kami untuk mematangkan Combino Tram,” tandasnya. Sabrina yakin bahwa dengan mengkombinasikan teknologi canggih, ketelitian yang mendetail, dan moda yang mumpuni maka akan tercipta sebuah keamanan dan keselamatan dalam berkendara, “baik perjalanan lokal maupun jarak jauh,” Baca Juga: Siemens Mobility Siap Pamerkan Lokomotif yang Bisa Beroperasi dengan Dua Metode Sebelumnya, Siemens Mobility juga akan memamerkan salah satu mahakaryanya pada pagelaran InnoTrans 2018, yaitu Lokomotif Vectron Dual Mode. Sesuai dengan namanya, lokomotif ini sengaja diciptakan untuk mengular di dua medan yang berbeda – jalur yang dialiri listrik dan jalur biasa.  

Meski Penerbangan Langsung Jakarta-London Tutup, Garuda Indonesia Masih Layani via Codeshare

Penutupan penerbangan langsung rute Jakarta-London PP, memiliki dampak yang cukup besar bagi para pelanggan Garuda Indonesia. Namun meski begitu Garuda Indonesia tetap membuka rute tersebut hanya saja dengan menggunakan penerbangan tranfer baik dengan pesawat Garuda atau lainnya yang berbagi codeshare. Baca juga: Tutup Rute Penerbangan Langsung Jakarta-London, Ada Apa dengan Garuda Indonesia? “Pelanggan Garuda bisa menggunakan pesawat penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam dan bisa melanjutkan ke London dengan pesawat Garuda kita sendiri atau codeshare dengan KLM atau yang lainnya,” ujar Direktur Komersial dan Cargo Internasional, Sigit Muhartono kepada KabarPenumpang.com, Kamis (6/9/2018). Dia mengatakan, penghentian rute penerbangan langsung dari Jakarta menuju London PP tersebut tidak ada kaitannya dengan pemeberhentian rute lain sebelumnya. Sigit menjelaskan penutupan rute ini sendiri memilik rumus tertentu sebab setiap maskapai pastinya akan memiliki rute kemana pun dan menghasilkan profit. “Jadi gini, kalau saya bisa sampaikan penutupan rute London itu penyebabnya banyak faktor, ini adalah kombinasi beberapa hal. Pertama adalah faktor bahwa kita pengen mengoptimize karena kita punya rotasi dari pesawat kita. Yang namanya sewa pesawat, sudah pasti pesawat ini harus terbang terus dan jangan sampai berhenti karena dengan terbang terus mendapat revenue,” ujar Sigit. Dia menegaskan, yang seharusnya optimal menjadi tidak optimal dimana terlalu lama untuk menunggu saat di London dan bisa dikatakan satu rotasi tersebut terganggu. Hal ini membuat Garuda Indonesia berpikir untuk membuat pesawat tersebut terus terbang dan mengefektifkan jam terbangnya. Faktor kedua yang dikatakan Sigit adalah masalah limitasi dari infrastruktur. “Kita punya infrastuktur kebandaraan dari Indonesia itu masih belum bisa mendukung penerbangan kita yang Jakarta-London. Kemudian yang ketiga adalah faktor potensi market segala macam kita bisa melakukan banyak cara, misalnya Eropa, kita lihat sekarang karena limitasi daripada dukungan infrastuktur tadi dan lain sebagainya, London marketnya memang ada tapi gak kita serve Jakarta-London langsung, karena cost kita psti nambah dan mahal, karena penerbangan langsung ke London, hampir 14 jam, ya mungkin 12 atau 13 jam tapi hampir 14,” kata Sigit. Baca juga: Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London Dia menambahkan, masalah limitasi karena infrastruktur sehingga Garuda Indonesia tidak bisa optimal dalam pengangkutan penumpang. Dimana dengan bahan bakar penuh tetapi penumpang yang dibawa dibatasi hanya 75 persen dari kursi yang ada. “Karena ini kita tidak bisa mengangkut secara maksimum. Kalau ada kursi 100 yang bisa di angkut hanya 75 penumpang. Padahal pelanggannya sendiri sekitar 500 ribu orang dari Jakrata ke London pertahunnya,” tutur Sigit.

Kenali Beragam Jenis Perawatan Armada Kereta di PT KAI

Sebagai moda yang kini tengah naik daun, kereta api telah berhasil memastikan setiap penumpangnya bahwa layanan yang mereka berikan benar-benar prima. Tidak melulu soal pelayanan di dalam gerbong, melainkan kelaikan setiap modanya sebelum mengular pun menjadi satu bentuk ketulusan mereka terhadap melayani setiap penumpangnya. Baca Juga: Mengenal Lebih Dalam Mesin Perawatan Jalan Rel, Si Kuning Yang Gemar “Patroli” di Malam Hari Nah, berbicara soal pelayanan yang prima, nampaknya aspek perawatan armada tidak boleh dinomor duakan. Sudah barang tentu, PT KAI selalu melakukan perawatan secara menyeluruh – baik dari segi sarana maupun prasarananya. Berikut KabarPenumpang.com himpun jenis-jenis perawatan yang dilakukan oleh PT KAI terhadap serangkaian modanya, dikutip dari paparan Dr. Ir. Hermanto Dwiatmoko, Ketua Umum Masyarakat Perkeretaapian Indonesia dalam acara Safety Review Forum KNKT. Preventive Maintenance (Perawatan Pencegahan) Sesuai dengan namanya, perawatan ini dilakukan sebelum sebuah kerusakan terjadi. Adapun tujuan yang diarah ketika melakukan perawatan ini adalah mencegah kerusakan terjadi, mendeteksi kerusakan sarana dan prasarana, dan berusaha untuk menemukan kerusakan yang tersembunyi pada sarana dan prasarana. Periodic Maintenance (Perawatan Berkala) Atau bahasa lainnya adalah perawatan terjadwal. Biasanya, pihak PT KAI akan melakukan pembersihan, inspeksi mesin, dan penggantian suku cadang secara berjadwal. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mencegah terjadinya kerusakan mesin secara mendadak yanng dikhawatirkan dapat mengganggu kelancaran operasi. Biasanya perawatan berkala ini dilakukan dalam interval harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Predictive Maintenance (Perawatan Prediktif) Hampir mirip seperti perawatan pencegahan, namun perawatan prediktif ini lebih menitikberatkan pada komponen tertentu yang masa berlaku atau umurnya hampir habis. Biasanya, perawatan jenis ini lebih fokus pada kondisi mesin yang memegang peranan sangat vital dalam sebuah operasi kereta api. Corrective Maintenance Jika ditarik garis besarnya, perawatan jenis ini hampir mirip seperti perbaikan – namun lebih bertujuan bukan untuk membenarkan komponen yang rusak, melainkan untuk mengembalikan performa komponen ke kondisi semula. Adapun tindakan yang diambil dalam perawatan ini biasanya meliputi penggantian komponen, perbaikan kecil, dan perbaikan besar pada akhis periode tertentu. Baca Juga: PT KAI Kembali Buka Lowongan, Simak Syarat dan Ketentuannya Breakdown Maintenance Perawatan ini dilakukan pada jenis komponen yang sudah rusak. Sebagai akibatnya, komponen atau peralatan kerja yang sudah harus dilakukan breakdown maintenance biasanya sudah tidak bisa beroperasi secara normal atau bahkan tidak bisa beroperasi kembali.

Virgin Trains Kembangkan Fitur Komunikasi Canggih Untuk Penumpangnya

Ada saja memang terobosan yang dilakukan oleh operator layanan transportasi dalam mencuri perhatian publik – sebut saja Virgin Trains yang diketahui baru-baru ini bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi Vodafone dan Open Market, sebuah mobile messaging specialist dalam mengembangkan fitur Rich Communications Services (RCS) di dalam layanannya. Baca Juga: Ikuti Jejak MRT Jakarta dan GoJek, Virgin Trains Bermitra dengan Uber Ya, sesuai dengan namanya, ini merupakan fitur percakapan untuk penumpang Virgin Trains. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (31/8/2018), fitur percakapan ini berbeda dengan SMS yang berbasis teks, melainkan memungkinkan pihak Virgin Trains untuk mengirim foto, video, audio, dan pesan teks menggunakan tombol easy-to-select kepada para penumpang. Adapun cara kerja dari fitur ini adalah pihak Virgin akan mengirimkan pesan kepada penumpang pengguna smartphone sekitar 10 menit sebelum kereta tiba di stasiun. Isi pesan tersebut adalah informasi pembaruan layanan dari London Underground, dimana ada sebuah menu yang akan menampilkan informasi lebih detail semisal ditekan oleh penumpang. Sebagai ajang uji coba, pihak Virgin baru akan menerapkan fitur ini di kereta yang bertolak menuju London Euston. CEO OpenMarket, Jonathan Morgan memaparkan tiga alasan utama dibalik hadirnya fitur lanjutan dari layanan pesan berbasis teks biasa. “Pertama, ini akan memudahkan penumpang untuk memberikan feedback – hanya tinggal memencet tombol. Kedua, kami tidak memerlukan aplikasi percakapan pihak ketiga, karena fitur ini akan menambah fungsionalitas dari kotak masuk yang biasa diakses oleh penumpang. Ketiga adalah keabsahan dari pesan yang dikirim oleh operator – dimana hal ini akan meningkatkan rasa aman penumpang,” paparnya. Dengan hadirnya fitur ini, Jonathan beranggapan bahwa RCS merupakan cara baru untuk berkomunikasi dengan para pengguna jasa Virgin Trains. Pernyataan tersebutpun diamini oleh Kepala Petugas Informasi Virgin Train, John Sullivan. “Kami sangat bersemangat untuk berinvestasi dalam teknologi baru yang akan mengubah cara kami berkomunikasi dengan pelanggan kami,” ungkap John. Baca Juga: Sambut Pengoperasian, MRT Jakarta Rilis Mobile Application dan Maskot nan Lucu! “Mengingat ini merupakan tahap awal, maka ke depannya yang kami harapkan adalah pengembangan fitur RCS ini di keseluruhan jaringan Virgin Trains,” tambahnya. Mungkin, fitur RCS ini agak sedikit mirip dengan mobile application MRT-J milik PT MRT Jakarta – dimana fitur pembeberan informasi terkait perjalanan juga dapat Anda temui di dalam aplikasi MRT-J ini. Kendati tidak sama persis, namun tujuan kedua perusahaan beda negara ini tetap sama – memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggannya.  

Jumlah Perlintasan Sebidang Liar di Indonesia, Tembus Angka 4.000!

Selain kerap menjadi sumber kemacetan di Ibukota dan beberapa kota besar lainnya, ternyata perlintasan sebidang pun tak jarang menjadi saksi bisu dari ratusan bahkan ribuan kecelakaan – baik yang menelan korban luka atau jiwa. Kendati erat dengan dunia perkeretaapian yang dinaungi oleh PT KAI, namun pada kenyataannya perlintasan sebidang merupakan tanggung jawab dari Pemerintah Daerah (Pemda) terkait. Baca Juga: Jalur Perlintasan KA, Masih Jadi Momok Menakutkan Saling lempar tanggung jawab semisal ada kasus kecelakaan di perlintasan sebidang pun tak pelak mewarnai pemberitaan di media. Bagi warga yang belum mengetahui tentang ‘keberpihakan’ perlintasan sebidang, tentu mereka akan memberondong PT KAI untuk meminta pertanggungjawaban. Belum lagi perlintasan liar yang minim akan penanda dan penjaga palang pintu kereta yang kasarnya kurang terlatih. Di Indonesia sendiri, terdapat 4.635 perlintasan sebidang liar yang kebanyakan berada di daerah kabupaten dan pinggiran kota. Menurut Dirjen Keselamatan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Edi Nursalam, banyaknya perlintasan sebidang dewasa ini merupakan peninggalan jaman Belanda dulu. “Untuk kereta konvensional (kereta jarak jauh dan Commuter Line Jabodetabek) memang masih banyak ditemukan perlintasan sebidang. Sementara untuk kereta api modern seperti Light Rapid Transit (LRT) dan MRT itu sudah tidak ada lagi,” ujar Edi ketika ditemui KabarPenumpang.com pada acara KNKT Safety Review Forum di Jakarta, Kamis (6/9/2018).
Edi Nursalam (Kedua dari Kanan).
Sesuai dengan namanya, perlintasan sebidang liar memang dibangun sendiri oleh masyarakat untuk menghubungkan sati titik dengan titik lainnya yang terpisahkan oleh rel kereta api. “Ini tentu masalah buat kita karena perlintasan semacam itu dibangun tanpa izin (dari Kementerian Perhubungan). Jadi itu dibangun sendiri oleh masyarakat dan didukung oleh Pemda yang pada akhirnya, perlintasan sebidang liar tersebut semakin besar,” tandas Edi. Karena faktor di atas inilah yang akhirnya melatarbelakangi tingginya angka perlintasan sebidang liar yang ada di Indonesia. Tanpa bermaksud menyudutkan salah satu pihak, namun di sini Edi menegaskan bahwa diperlukannya pengelolaan yang tepat dan memenuhi standar dalam ‘merawat’ perlintasan sebidang. “Sebenarnya masalah utama dari perlintasan sebidang (liar) itu adalah pengamanannya, karena tidak memenuhi standar keselamatan. Sebenarnya kalau memenuhi standar keselamatan, ya itu tidak jadi masalah,” ungkap Edi. “Di negara-negara maju, di Eropa, Singapura, Malaysia, Amerika juga masih banyak perlintasan sebidang, tapi ini nggak jadi masalah karena mereka memenuhi standar keselamatan untuk perlintasan,” tandasnya. Permasalahan semacam ini semakin pelik, lanjut Edi, manakala Undang-Undang menyebutkan bahwa perlintasan sebidang tanpa izin harus ditutup. “Yang menutup adalah Pemda, tapi mereka nggak mau tutup itu karena akan menimbulkan konflik baru, nantinya mereka akan diprotes oleh warganya sendiri, belum lagi perlintasan tersebut sudah ramai digunakan masyarakat,” papar Edi. Baca Juga: Cegah Kecelakaan di Perlintasan Sebidang, Indian Railways Adopsi Teknologi Satelit Sebagai solusi, Edi telah membagi tugas dengan otoritas terkait guna melakukan penutupan terhadap perlintasan sebidang liar ini, namun karena tidak kunjung dijabani, “maka saya sendiri yang menutup, walaupun pada kenyataannya itu tidak mudah, namun semua ini kan demi kebaikan bersama.” Ketika disinggung soal kriteria apa saja yang harus dipenuhi oleh sebuah perlintasan sebidang, Edi mengatakan bahwa ada banyak standar yang harus dipenuhi, “di perlintasan sebidangitu harus dipasang rambu minimal 10. Coba sekarang kita lihat, bahkan ada perlintasan yang tidak memiliki rambu sama sekali.” Tutup Edi.

Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan Japan Airlines

Garuda Indonesia kembali melakukan kerja sama dengan maskapai lainnya, kali ini dengan Japan Airlines (JAL). Kerja sama yang resmi dilakukan pada hari ini (6/9/2018) dilakukan dalam rangka peningkatan konektivitas penerbangan di kawasan Asia Pasifik. Baca juga: Saudi Arabian Airlines dan Garuda Indonesia Perluas Perjanjian Codeshare Selain itu juga untuk memberikan pilihan lebih banyak bagi pengguna kedua maskapai tersebut khususnya layanan penerbangan dari Indonesia ke Jepang dan Amerika Serikat. “Perjanjian ini akan mulai berlaku 28 Oktober 2018 mendatang dimana ada tawaran codeshare untuk rute domestik dan internasional tertentu di Jepang dan Amerika Serikat serta Indonesia yang nantinya akan dioperasikan oleh Garuda Indonesia atau JAL,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala Mansyuri di kantor Garuda Indonesia yang ditemui KabarPenumpang.com, Kamis (6/9/2018). Pahala mengatakan Garuda akan menjadi marketing carrier dan menempatkan flight numbernya pada penerbangan JAL di rute Narita-Jakarta, Narita-New York dan Narita-Los Angeles di internasional. Sedangkan di rute dalam Jepang sendiri yakni Haneda-New Chitose, Haneda-Nagoya-Chubu dan Haneka-Fukuoka. Sebaliknya juga JAL akan menjadi marketing carrier dan menempatkan nomor penerbangannya pada penerbangan Garuda rute Jakarta-Haneda PP, Denpasar-Narita PP dan Jakarta-Yogyakarta PP serta Jakarta-Surabaya PP. Selain itu Executive Officer JAL, Tadashi Fujita mengatakan, dengan adanya codeshare ini kedua maskapai bisa menambah channel penjualan dan Indonesia sendiri merupakan industri wisata yang atraktif. Bahkan Pahala menambahkan, selain memperkuat dalam jaringan penerbangan internasional keduanya, terutama di kawasan Asia Pasifik. Adanya codeshare ini juga bisa mempermudah penumpang saat melakukan perjalanan dari Indonesia ke Jepang dan Amerika Serikat. Pemilihan JAL sendiri dikatana Pahala, karena Jepang merupakan salah satu pangsa pasar yang sanat penting bagi Garuda Indonesia. Baca juga: Ribut di Penerbangan Garuda Indonesia, Pasangan Mabuk ini Paksa Kapten Lakukan Pendaratan Tak Berjadwal “Melalui kerjasama ini, para pengguna diharapkan dapat menikmati dan memiliki pilihan penerbangan menuju Jepang dan Indonesia,” kata Pahala. Untuk diketahui, selain melakukan codeshare, Garuda Indonesia juga memiliki awak kabin yang berasal dari Jepang. Hadirnya awak kabin ini untuk memudahkan komunikasi penumpang Jepang dalam pelayanan selama penerbangan.

Saudi Arabian Airlines dan Garuda Indonesia Perluas Perjanjian Codeshare

Sejak tahun 2007, Saudi Arabian Airlines atau yang dikenal Saudia memulai codeshare pertamanya dengan Garuda Indonesia. Kemudian maskapai nasional Arab Saudi ini memperluas perjanjian codeshare bilateral yang ada tersebut. Baca juga: Singapore Airlines Jalin Kerjasama Codeshare dengan Lufthansa Group Dimana kode SV sendiri akan ditambahkan ke penerbangan Garuda Indonesia antara negara Indonesia, Arab Saudi dan lainnya. Keduanya yang merupakan mitra di SkyTeam Airline Alliance ini juga sepakat untuk memperluas penerbangan antara keduanya melalui penjualan langsung di kedua operator penerbangan tersebut. KabarPenumpang.com yang melansir dari laman aviationtribune.com (3/9/2018), ini sebenarnya juga untuk memudahkan pelanggan dari kedua maskapai untuk menikmati beberapa hak istimewa seperti reservasi dan pembelian tiket. Selain itu juga untuk transfer pesawat atau transit lebih fleksibel dengan hanya menggunakan satu tiket. Saudia sendiri akan meningkatkan kehadirannya di Indonesia dengan harga yang bersaing dan memungkinkan perjalanan dari Arab Saudi ke Indonesia serta ke kota-kota baru seperti Surabaya, Makassar dan Medan melalui satu tiket dari Garuda Indonesia. Perjanjian ini juga mencakup tujuan lainnya yakni Sydney dan Melbourne di Australia serta Bangkok di Thailand. Sedangkan penumpang Garuda Indonesia juga bisa menyambangi tujuan yang ditawarkan Saudia secara domestik, seperti ke Riyadh, Dammam, Al-Qasim dan Tabuk, serta penerbangan internasionalnya ke Casablanca, Kairo, Istanbul, Madrid, Bahrain dan kota-kota lainnya. Dengan rute tambahan sendiri, akan membuka opsi penerbangan tambahan dan mengurangi waktu perjalanan dengan terbang bersama dari dua maskapai tersebut. Baca juga: Sesama Anggota SkyTeam, Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia Sepakati Codeshare dan MRO Disamping itu, pelanggan kedua maskpai yang menggunakan kartu anggota dapat menambah dan menukarkan miles atau poin yang mereka punya untuk penerbangan-penerbangan yang akan datang. Tak hanya dengan Saudia, Garuda Indonesia juga melakukan codeshare dengan Vietnam Airlines untuk rute Hanoi-Ho Chi Minh City ke Singapura dan Singapura ke Jakarta serta Bali ke Jakarta. Perluasan kedua maskapai ini juga untuk memperkuat kerja sama dalam kontribusi pengembanan SkyTeam. Pada umumnya, maskapai yang melakukan codeshare akan memiliki nomor penerbangan empat digit yang diawali dengan tiga atau angka lebih tinggi untuk menunjukkan pengoperasian oleh mitranya.

Bandara Langkawi Mulai Beroperasi Kembali Setelah Renovasi Besar-Besaran

Bandara Internasional Langkawi di Malaysia kembali dikabarkan memulai operasionalnya setelah renovasi perluasan yang dilakukan hampir satu tahun. Renovasi besar-besaran tersebut dilakukan agar bandara di Pulau Langkawi ini mampu menampung lebih banyak penumpang dari yang sebelumnya. Baca juga: Pasar LCC Meningkat, Bandara Internasional Narita Siap ‘Upgrade’ Kapasitas Terminal 3 KabarPenumpang.com melansir dari laman airport-technology.com (4/9/2018), sebelumnya Bandara Langkawi hanya mampu menampung 1,5 juta pelancong pertahun. Namun setelah diperluas, mampu menampung hingga empat juta penumpang pertahunnya. Terletak di Pulau Langkawi tepatnya di Kedah, bandara ini memiliki ritel yang bebas bea, kafe dan restoran serta lounge untuk penumpang premium. Dengan kembali dibukanya, CEO Malaysia Airports acting group, Raja Azmi Raja Nazudding mengaku sangat senang karena proyek perluasan bandara tersebut sesuai dengan yang dijadwalkan. “Dengan ekspansi ini, Bandara Langkawi akan memiliki posisi yang lebih baik untuk mendukung pertumbuhan Langkawi sebagai tujuan wisata yang populer, serta bertindak sebagai katalisator yang lebih besar untuk pembangunan ekonominya,” ujar Raja. Dulunya sebelum di ekspansi, luas gedung terminal hanya 15 ribu meter persegi dan kini sudah menjadi 23 ribu meter persegi. Tak hanya itu, fasilitas di terminal Bandara Langkawi sendiri telah ditingkatkan guna mengurangi kemacetan dan meningkatkan efisiensi operasional. Selain terminal, kawasan parkir pun diperluas dan mampu menampung hingga 600 mobil dibanding sebelumnya hanya 400. Konter check in di bandara ini pun bertambah dari 24 menjadi 30 serta konter imigrasi yang sebelumnya 14 menjadi 18. Sistem In-Line Hold Baggage Handling (ILHBS) baru juga telah dipasang di bandara. Sistem otomatis tersebut memiliki tiga tingkat fasilitas pemeriksaan keamanan. Jumlah gate pun telah bertambah menjadi delapan dari lima sambil menambah dan memperbaiki fasilitas toilet yang ada. Baca juga: Bandara Baru Istanbul Diharapkan Menjadi Aerotropolis “Kami yakin bahwa perluasan ini akan lebih memfasilitasi pertumbuhan Langkawi. Kami sudah melihat lebih banyak minat dari maskapai asing untuk beroperasi dari sini. Saat ini, ada enam maskapai penerbangan yang beroperasi dari Langkawi ke empat tujuan domestik dan lima tujuan internasional dengan frekuensi mingguan gabungan sebesar 238,” jelas Raja. Diketahui, Bandara Langkawi sendiri dibangun pada tahun 1991 dan selesai Desember 1993. Bandara Internasional Langkawi sempat menjadi lapangan terbang tentara Jepang tahun 1945 silam dan kemudian digunakan oleh tentara Inggris.

Bandara Sentani dan Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Akan Beralih Pengelolaan

Dua bandara di Indonesia Bagian Timur, yakni Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu, kedepan akan dialihkan pengelolaannya. Dari yang selama ini ditangani oleh Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, kedepan akan dialihkan ke PT Angkasa Pura I (Persero). Baca juga: Angkasa Pura I Bangun Base Ops dan Safe House di Lanud I Gusti Ngurah Rai Terkait dengan rencana pengalihan pengelolaan tersebut, kajian tengah dilakukan bersama kedua institusi. Persisnya pada 6 September 2018, Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi dan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Pramintohadi Sukarno, melakukan penandatanganan Kesepakatan bersama. Adanya kesepahaman ini merupakan landasan awal atas rencana kerja sama dan bertujuan untuk menyusun kajian rencana pengalihan pengelolaan Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri Palu yang saling menguntungkan, efisien, berkelanjutan, dan sesuai dengan aturan yang berlaku. “Angkasa Pura I siap menerima penugasan untuk mengelola Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri Palu dan mengembangkannya secara komersial bersamaan dengan peningkatan pelayanan kepada para pengguna jasa bandara. Hal ini juga diharapkan dapat menstimulus pengembangan daerah yang pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian daerah,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi. Adapun ruang lingkup kesepakatan bersama ini adalah rencana kerja sama pengalihan pengelolaan Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri yang meliputi pemanfaatan barang milik negara dengan pola Kerja Sama Pemanfaatan (KSP). Baca juga: Potensial Ganggu Keselamatan dan Keamanan Penerbangan, Angkasa Pura I Imbau Warga Tidak Lepaskan Benda Terbang Pada kesepakatan bersama ini, PT Angkasa Pura I akan mengeksplorasi peluang kerja sama Bandar Udara Sentani Jayapura dan Bandara Sis Al-Jufri yang berkelanjutan dengan menyusun proposal kerjasama pemanfaatan barang milik negara pada Bandar Udara Sentani Jayapura, termasuk di dalamnya rencana investasi sesuai rencana induk bandar udara dan rencana investasi sesuai proposal kerjasama pemanfaatan barang milik negara pada Bandar Udara Sentani Jayapura yang diajukan. “Hasil kajian ini nantinya akan dievaluasi oleh Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan dijadikan dasar pertimbangan untuk pembuatan perjanjian kerja sama. Kami harap rencana pengalihan pengelolaan secara komersial kedua bandara di timur Indonesia ini akan membawa kontribusi positif terhadap pemerataan pengembangan perekonomian daerah,” ujar Faik Fahmi.