Bawa Penumpang Pengidap Kolera, ASL Airlines ‘Kurung’ Penumpang Lainnya Selama Satu Jam!

Mengudara bersama orang yang sedang sakit flu, mungkin itu hal yang biasa. Namun apa jadinya jika Anda terpaksa mengudara bersama seorang penumpang yang mengidap penyakit kolera? Duh, bisa-bisa penyakit yang menyerang saluran pencernaan ini menular ke Anda ya! Baca Juga: Sering Sakit Saat Turun Pesawat? Mungkin Ini Penyebabnya! Nah, kejadian seperti ini pernah dialami oleh penumpang dan awak kabin yang ada di ASL Airlines, dimana seorang bocah berusia delapan tahun yang disinyalir mengidap kolera langsung dilarikan ke pusat perawatan, setibanya mereka di Perpignan Airport, Perancis pada Rabu (5/9/2018). Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, pesawat Boeing 737 berisikan 147 penumpang ini sendiri bertolak dari Oran, sebuah kota pelabuhan di Aljazair dan dikabarkan mendarat di Perancis pada pukul 13.45 waktu setempat. Setibanya di bandara, si bocah yang disinyalir terjangkit kolera ini langsung mendapatkan ‘penanganan khusus’ oleh petugas medis dan ground crew yang langsung melarikannya ke rumah sakit terdekat guna tindakan lebih lanjut. Mulanya, para penumpang tidak mengetahui bahwa mereka tengah mengudara bersama seorang pengidap penyakit kolera, namun akhirnya rahasia ini tersebar setelah petugas bandara mengumumkannya tak lama berselang pesawat ini mendarat. “Karena kondisinya yang sedikit mengkhawatirkan, kami baru saja melarikan seorang anak menuju rumah sakit terdekat karena disinyalir mengidap penyakit kolera,” ujar seorang juru bicara Perpignan Airport, Denis Leluc, dikutip dari laman dailymail.co.uk (5/9/2018). Hal ini menjadi serius karena pada penerbangan terakhir yang mengikutsertakan seorang pengidap kolera, setidaknya tiga penumpang meninggal dan lebih dari 70 penumpang lainnya terjangkit penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini. “Kami khawatir akan kesehatan 147 penumpang dan awak kabin yang juga ada di penerbangan tersebut,” tandas sang juru bicara bandara. Guna memastikan kondisinya sudah kondusif, para penumpang layanan ini terpaksa menunggu sekitar satu jam di dalam kabin. Sebelum keluar pesawatpun, para penumpang ini harus terlebih dahulu menggunakan cairan pembersih kuman dan bakteri guna mencegah penyakit ini menular. Baca Juga: Muncul Bau Mirip Kaus Kaki Kotor di Kabin, Spirit Airlines Terpaksa Mendarat Darurat Hingga beberapa waktu ke depan setelah kejadian ini, otoritas terkait Perancis masih memantau kondisi penumpang dan awak kabin yang ada di penerbangan tersebut dengan cara menanyakan kondisi kesehatan mereka menggunakan data yang mereka gunakan saat membeli tiket.  

Bikin Ulah Pasca Keluar Toilet, Penumpang ini Paksa The Flying Kangaroo Return to Base

Memutuskan untuk bepergian dengan menggunakan sarana transportasi umum, berarti Anda harus sudah siap pula dengan setiap kejadian unik yang mungkin ditimbulkan oleh penumpang lain yang berada dalam layanan yang sama – karena sampai detik ini, sudah banyak sekali contoh kasus perilaku penumpang yang akhirnya merugikan penumpang lainnya, tidak terkecuali di moda udara. Baca Juga: Qantas Airways – The “Flying Kangaroo” Rajai Maskapai Teraman di Dunia Benar saja, baru-baru ini dunia aviasi global dikejutkan dengan maskapai Qantas yang dijadwalkan melakukan penerbangan langsung dari Perth menuju London pada Sabtu (8/9/2018), terpaksa Return to Base karena tingkah salah satu penumpangnya. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (9/9/2018), drama ini bermula ketika salah satu penumpang Qantas yang pergi menuju toilet ketika pesawat baru mengudara sekitar dua jam lamanya. Menurut penuturan salah satu penumpang, Clare Hudson, penumpang pria ini menggunakan toilet cukup lama. “Dia mengurung diri di toilet sekira satu jam,” ujar Clare. Tanpa menaruh curiga, Clare pun tidak terlalu memperdulikan durasi penggunaan toilet si pria ini. Ternyata, apa yang dihiraukan Clare tadi berbading terbalik dengan kenyataan yang terjadi. “Namun ketika ia keluar dari toilet, yang pertama kali saya dengar adalah beberapa teriakan. Saya berada tiga atau empat baris di depan toilet,” tandas Clare. Clare yang kala itu tengah mengudara bersama suami dan anaknya ini mengatakan bahwa tingkah laku si penumpang pria ini semakin menjadi-jadi. “ia mulai melontarkan sumpah serapah kepada sejumlah penumpang – beberapa di antaranya tepat di depan muka,” lanjut Clare. Tak pelak, kejadian ini pun menyulut emosi para penumpang yang diteriaki oleh si penumpang yang membuat onar ini. “Sempat hampir terjadi perkelahian, namun awak kabin dan beberapa penumpang dengan sigap segera melerai dan mengembalikan si penumpang ini ke tempat duduk semula,” lanjutnya. Para penumpang lainnya – termasuk Clare, mulai merasa ketakutan dengan gelagat si penumpang yang namanya dirahasiakan ini. Namun alih-alih tertular emosi si penumpang yang menggila ini, para awak kabin menunjukkan profesionalismenya. “Mereka (awak kabin) sangatlah mengesankan. Mereka mampu mengontrol situasi dan menenangkan sebagian penumpang yang ketakutan,” Pun dengan sang kapten penerbangan yang juga tampak sudah telaten menghadapi kondisi seperti ini. “Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Mengingat kondisi penumpang yang tampaknya tidak bisa menenangkan dirinya, kami memutuskan untuk berputar balik menuju Perth,” ujar sang kapten melalui pengeras suara. Sesampainya di Perth, pria berusia 32 tahun yang sudah mengacaukan jadwal penerbangan ini lantas digelandang menuju pos keamanan guna ditindaklanjuti. Karena sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan penerbangan, sebagai bentuk tanggung jawab, pihak Qantas lalu mengakomodasi para penumpang dengan layanan menginap cuma-cuma. Baca Juga: Tanggalkan Pakaian Sebelum Mengudara, Pria Ini Tunda Keberangkatan Pesawat “Kendati jadwal saya sudah berantakan, namun saya tetap memuji Qantas yang sudah mengedepankan kenyamanan dan keselamatan para penumpangnya. Saya tahu, untuk mengambil keputusan return to base tidaklah mudah, namun profesionalisme Qantaslah yang akhirnya menjadi jawaban.” ujar salah satu penumpang, Christine Kohli. Tidak hanya penumpang saja yang memuji Qantas, pun sebaliknya. “Penumpang dapat dengan bijak menerima keputusan yang diambil oleh kru kami. Kami sangat mengapresiasi itu,” ujar salah satu pihak Qantas dalam sebuah pernyataan.

Seberapa Perlu Layanan Ride-Sharing Merata di Berbagai Daerah?

Menjamurnya sarana transportasi berbasis aplikasi yang terjadi dewasa ini sedikit banyaknya tentu memberikan dampak positif maupun negatif terhadap keseluruhan jaringan transportasi yang ada di sebuah kota atau negara. Tidak bisa dipungkiri, penumpang layanan ride-sharing semacam ini memang terkesan lebih ‘dimanjakan’, namun penambahan volume kendaraan di jalanan menjadi salah satu bukti bahwa kehadirannya (ride-sharing) juga membawa dampak yang negatif. Baca Juga: Ride-Sharing, Upaya Uber Untuk Lebih Mengerti “Perasaan” Pengguna Jika berkaca pada situasi belakangan ini, bukan tidak mungkin bahwa inilah gambaran situasi transportasi di masa yang akan datang – dimana sarana transportasi berbasis massal terus berkembang, yang dibuntuti oleh pertumbuhan layanan ride-sharing. Pertanyaan pun mulai muncul, “Apakah layanan ride-sharing mampu ‘menjembatani celah’ antar layanan transportasi berbasis massal?” Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman brookings.edu (4/9/2018), ternyata tidak hanya di Indonesia saja yang mengalami kondisi serupa – dimana layanan ride-sharing juga semakin merajalela di New York. Sebuah studi menunjukkan bahwa menjamurnya layanan ini membawa dampak pada merosotnya 7,6 km per jam rataan kecepatan kendaraan di Manhattan pada rentang tahun 2015 dan 2017. Didukung dengan hasil studi ini, tentu saja pertanyaan di atas semakin santer dibicarakan oleh banyak pihak – sampai-sampai studi lain menyebutkan untuk mengganti public transport di Manhattan dengan layanan ride-sharing. Sederhananya, layanan ride-sharing semacam ini lebih tepat jika diratakan di daerah yang belum terjamah sarana transportasi berbasis massal. Disini, Pemerintah harus bisa memastikan bahwa layanan ride-sharing tidak malah bersaing dengan sarana transportasi publik yang terbukti lebih efisien dalam mengangkut penumpang. Pemerataan layanan trasportasi – baik massal maupun ride-sharing merupakan langkah awal yang bisa ditempuh Pemerintah dalam mengatasi persaingan terselubung ini. Semisal, Pemerintah harus mampu memperhitungkan daerah mana saja yang tepat untuk menggunakan layanan ride-sharing, pun sebaliknya. Selain itu, alternatif lain yang dapat ditempuh untuk menjawab pertanyaan di atas adalah penggunaan metode geofence yang terpusat untuk memantau pergerakan dari layanan ride-sharing di suatu wilayah tertentu. Geofence sendiri merupakan perimeter virtual yang berada pada area geografis yang nyata. Dengan menggabungkan posisi pengguna (layanan ride-sharing) dengan perimeter geofence yang terpusat tadi, Pemerintah dapat mengetahui keberadaan pengguna – apakah ia berada di dalam wilayah operasi atau tidak. Lebihnya, Pemerintah juga dapat mengontrol jumlah layanan ride-sharing yang berada di suatu daerah, salah satunya adalah dengan cara mencegahnya masuk semisal area tersebut sudah mulai terjadi kemacetan. Baca Juga: Ride Sharing Masa Depan Bakal Seperti Layanan dalam Penerbangan Memang, tidaklah mudah untuk memberantas kemacetan yang seolah sudah mendarah daging di kota-kota besar di dunia. Sebagai pemangku kepentingan tertinggi di suatu daerah, Pemerintah harus sedikit ‘menambah jam kerjanya’ untuk memikirkan solusi terbaik untuk permasalahan di jalanan seperti ini, mengingat tidak setiap daerah mampu diterapkan solusi yang sama dengan daerah lain. Toh pada akhirnya, semua untuk kelancaran bersama, bukan?  

Sering Gunakan Layanan Ride-Sharing? Baca Tips Ini Agar Tetap Aman!

Kendati terbukti ampuh dalam membantu mobilitas para penumpangnya, namun masih ada saja ulah sebagian oknum pengemudi layanan transportasi berbasis aplikasi (ride-sharing) yang membuat para penumpangnya kapok untuk menggunakan layanan tersebut kembali. Mulai dari oknum pengemudi yang melontarkan kata-kata kasar kepada penumpang hingga yang paling santer terjadi adalah pelecehan seksual. Baca Juga: Empat Aplikasi Maps di Android Ini Bisa Beroperasi Tanpa Koneksi Internet! Nah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, berikut KabarPenumpang.com punya beberapa tips yang bakal melindungi Anda semua dari tindakan tersebut, dikutip dari laman tennessean.com (18/8/2018). Pastikan Kendaraan Anda Sesuai Dengan Informasi di Aplikasi “Dengan Bapak/Ibu …” Biasanya sapaan ramah si pengemudi ini akan mengawali perjalanan Anda. Tapi sebelum itu, Anda harus memastikan terlebih dahulu apakah mobil yang Anda gunakan ini sesuai dengan informasi yang tertera di aplikasi atau tidak. Karena tidak jarang, dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, si pengemudi malah menggunakan mobil lain yang berbeda dengan informasi yang ada di aplikasi. Dikhawatirkan, ini akan menjadi permulaan dari niat jahat si oknum pengemudi nakal. Mungkin Anda bisa meminta si pengemudi untuk menepikan terlebih dahulu kendaraannya (semisal kondisinya tidak memungkinkan) dan menanyakan mengapa ia tidak menggunakan kendaraan yang tertera di aplikasi sebelum Anda berkendara bersamanya. Jika Anda merasa takut atau tidak percaya dengan jawaban yang dilontarkan si pengemudi, ada baiknya Anda membatalkan pesanan tersebut dan membuat pesanan baru. Batasi Konsumsi Alkohol Selain berguna saat tengah diburu waktu, layanan ride-sharing berbasis mobil juga sangat berguna ketika Anda terpaksa pulang larut dalam keadaan mabuk. Ada baiknya, Anda mencuci muka terlebih dahulu guna mengembalikan kesadaran Anda dan baru pulang dengan menggunakan layanan ride-sharing. “Anda tentu tetap ingin berhati-hati selama dalam perjalanan pulang, walaupun kondisinya Anda sedang tidak sepenuhnya sadar,” ungkap James Reed, kepala polisi dari Departemen Kepolisian East Ridge, Tennesse, Amerika Serikat. Share Location Guna memastikan lokasi Anda kepada orang-orang terdekat, bagikan lokasi Anda secara berkala kepada mereka. Atau Anda bisa menggunakan fitur Share Live Location yang sekarang terdapat di Whatsapp, dimana orang-orang yang Anda bagikan fitur ini bisa melihat secara akurat lokasi Anda selama jangka waktu tertentu. “Ini adalah cara yang baik untuk memberi tahu seseorang di mana Anda berada setiap saat,” tutur penulis The Rideshare Guide, Harry Campbell. Baca Juga: Anda Ingin Diberi Rating 5 oleh Pengemudi Uber? Ikuti Tips Ini! Duduk di Belakang Alih-alih duduk di samping si pengemudi (di depan), ada baiknya Anda duduk di bangku belakang. Ini ditujukan untuk meminimalisir serangan atau sentuhan fisik yang coba dilakukan oleh si oknum pengemudi nakal. Selain itu, duduk di belakang juga akan menghindarkan barang bawaan Anda berpindah tangan ke si oknum pengemudi. Contoh, ketika Anda tertidur di jalan karena kelelahan. Tetap Berhubungan Dengan Orang Terdekat Stay in touch dengan orang-orang terdekat juga bisa menjadi satu poin keselamatan yang bisa Anda coba ketika menggunakan layanan ride-sharing. Langsung beritakan kepada mereka semisal Anda melihat gelagat yang sedikit mencurigakan dari si oknum pengemudi. Semisal, mulai berani menyentuh bagian tubuh Anda (bagi wanita), dll.  

Ternyata Drone Dilarang di Negara-Negara Ini

Suka bermain dan menjadi seorang pilot drone? Ya, drone di masa kini seperti mainan dan menjadikan mudah dalam aktivitas fotografi apalagi di alam. Dengan bantuan drone, foto bisa lebih apik dibanding dengan kamera biasa atau ponsel. Di Indonesia sendiri, pengguna drone kini mulai bertaburan dan wacana untuk membatasi penggunaan drone mulai bergaung. Baca juga: Viral! Drone Rekam Detik-Detik Airbus A380 Take-Off dari Jarak Kurang dari 100 Meter! Pasalnya, drone bisa mengakibatkan masalah salah satunya penerbangan, dimana drone dilarang dimainkan di bandara karena bisa mengganggu lalu lintas pesawat. Meski di Indonesia baru menggaungkan pembatasan dan belum terlaksana, tetapi ternyata beberapa negara sudah melakukan pelarangan tersebut. Berikut ini dirangkum KabarPenumpang.com negara-negara yang melarang pengguna drone. 1. Afrika Selatan Negara di Benua Hitam ini melarang penggunaan drone di seluruh wilayahnya. Ancaman hukumannya pun tak tanggung-tanggung yakni 10 tahun penjara. 2. India Negara di Asia Selatan tersebut sejak April 2016 lalu mulai melarang penduduknya serta pelancong menggunakan drone. Bagi para pelanggar, sanksinya memang tidak seberat Afrika Selatan, tapi cukup untuk membuat jera dimana drone akan disita dan pemiliknya juga dikenakan sanksi. Tetapi meski dilarang, masih banyak penduduk India yang memperjualbelikan drone itu sendiri. Bahkan drone sendiri di India masih digunakan untuk film Bollywood demi menghasilkan gambar yang bagus. 3. Kamboja Penggunaan drone di negara ini dilarang, pasalnya untuk menghormati hak asasi manusia dan menjaga keamaan serta keselamatan publik. Pemerintah Kamboja sudah melakukan pelarangan penggunaan drone di negaranya sejak Februari 2015 lalu. Adanya larangan tersebut juga untuk menghindari penduduk Kamboja dari penyalahgunaan drone salah satunya seperti terorisme. 4. Singapura Negara Singa yang dekat dengan Indonesia ini sebenarnya tidak penuh melarang penggunaan drone alias masih diperbolehkan. Tetapi pengguna drone harus memiliki izin khusus dari pemerintah dan menggunakannya sejauh lima kilometer dari bandara dan terbangnya tidak lebih dari 61 meter dari permukaan laut. 5. Swedia Ternyata negara Swedia merupakan yang pertama melakukan pelarangan penggunaan drone secara bebas. Pasalnya penggunaan drone dengan kamera dianggap sebagai tindakan ilegal dan pengintaian oleh Pemerintah Swedia. Namun, bagi pengguna drone berkamera, masih bisa menggunakannya tetapi dengan mengajukan permohonan kepada pejabat berwenang dan bisa memakan biaya yang besar. 6. Nikaragua Negara di Amerika Tengah ini melarang penggunaan drone tetapi tidak dijelaskan secara terinci alasannya. Namun bagi pelanggar sanksi yang cukup berat menanti. Baca juga: Inggris Berdayakan Drone Untuk Pantau Para Pelanggar dan Inspeksi Jalur Kereta 7. Amerika Serikat Di negara Paman Sam penggunaan drone dibatasi dengan aturan yang ketat, setiap kepemilikan drone harus di daftarkan ke FAA (Federal Aviation Administration). Jika pengguna melanggar peraturan yang ada, maka akan dikenakan denda sekitar US$27 ribu atau Rp410 juta hingga US$250 ribu atau Rp3,7 miliar, atau kurungan penjara paling lama tiga tahun. 8. Uni Emirat Arab Sejak ada gangguan penerbangan di Bandara Dubai, Uni Emirat Arab akibat adanya penerbangan drone ilegal, pemerintah UAE melarang seluruh penjualan dan penggunaan drone sampai ada aturan lebih lanjut dari pemerintah.

Bawa Drone Saat Melancong? Jangan Lupakan Tips Ini

Melancong dan membawa drone selama perjalanan, sepertinya sudah menjadi tren masa kini. Biasanya drone digunakan untuk mengambil gambar yang tidak bisa tangkap kamera konvensional ataupun ponsel. Baca juga: Inggris Berdayakan Drone Untuk Pantau Para Pelanggar dan Inspeksi Jalur Kereta Apalagi jika Anda melancong ke alam bebas yang menyimpan keindahan untuk dinikmati. Drone sendiri bisa digunakan untuk mengambil foto atau video dan hasilnya cukup bagus dan unik. Sebagai pelancong baiknya pilih drone yang terpercaya dan memiliki bobot ringan seperti DJI Mavic pro atau Air. Sebab drone yang canggih seperti DJI Phantom memiliki bentuk yang lebih besar dan berat dengan perangkat lain yang harus dibawa. Nah, berikut ini KabarPenumpang.com merangkum beberapa tips yang bisa digunakan pelancong saat membawa drone dalam perjalanan wisata. 1. Jangan menyimpan dalam bagasi Aturan utama saat membawa drone adalah membawanya dalam tas jinjing dan bukan ke dalam bagasi pesawat. Selain untuk faktor keamanan, drone sama seperti barang eletronik lainnya yang menggunakan baterai Lithium. Baterai ini rawan terbakar sehingga lebih baik berada dalam pengawasan Anda. Selain untuk keselamatan diri sendiri, ini juga untuk keselamatan penumpang. 2. Kosongkan baterai drone Ada baiknya mengosongkan baterai drone karena biasanya kapasitasnya cukup besar. Bila masuk dalam alat pemindai di bandara, baterai akan telihat seperti cairan. Ini akan membuat petugas meminta Anda membuka tas dan meneliti barang bawaan. Bila masih terisi penuh, cara mudah adalah satu hari sebelum berangkat, nyalakan drone dan biarkan sampai baterai habis sendiri. 3. Gunakan pelindung baterai Banyak pelindung baterai yang bisa digunakan untuk mencegah dan meredam api merambat luas saat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada batterai Anda. 4. Hindari larangan menerbangkan drone Ada beberapa negara seperti Swedia, Nikaragua, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Kamboja, Uni Emirat Arab, Singapura dan Jepang yang melarang penggunaan drone karena memiliki regulasi yang cukup ketat. Baiknya saat berada di negara-negara tersebut, jangan coba untuk menerbangkan drone Anda kalau tidak mau bermasalah dengan hukum. Bila negara yang Anda kunjungi memperbolehkan penerbangan drone, jangan lupa untuk mempelajari aturannya. Baca juga: Viral! Drone Rekam Detik-Detik Airbus A380 Take-Off dari Jarak Kurang dari 100 Meter! 5. Kuasai drone Sebagai pemilik drone, paling penting adalah memahami cara menguasai drone Anda. Bermain dengan drone tentu mengasyikkan, tetapi jangan lupa bahwa perangkat elektronik yang satu ini juga bisa membahayakan jika pilot drone kurang menguasai cara pengoperasiannya.

Pemindai 3D Network Rail Tampilkan Hasil Impresif Untuk Pembangunan Jalur Kereta

Lagi dan lagi, perkembangan teknologi turut berperan serta dalam memudahkan kehidupan manusia di era milenial ini – kini ada teknologi 3 Dimensi (3D) yang membantu survei perkeretaapian penumpang di Skotlandia untuk generasi selanjutnya. Sebut saja mengukur lebar terowongan, lebar jembatan, hingga tinggi platform merupakan contoh pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan citraan 3D milik otoritas perkeretaapian Inggris, Network Rail. Baca Juga: Pemindai Generasi Baru Siap Deteksi Laptop di dalam Tas Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman scotsman.com (6/9/2018), ini merupakan kali pertama bagi Network Rail dalam menggunakan program citraan 3D untuk secara tepat memetakan infrastruktur kereta api di Skotlandia menjelang kedatangan kereta api terbarunya – LNER Azumas, kelas 365 dan kelas 385. Adalah sistem Trimble GEDOScan yang dioperasikan oleh tim Network Rail of Absolute Geometry (ATG) Engineer yang dikerahkan untuk mengumpulkan informasi terperinci soal track dan fitur pelengkap jalur kereta lainnya, seperti terowongan, jembatan, parapet, dan platform atau peron. Resolusiyang dihasilkan oleh sistem in pun tidaklah apa adanya – melainkan high definition. Adapun data yang berhasil dikumpulkan oleh sistem ini nantinyadigunakan untuk penilaian izin lintasan pada struktur dan terowongan. Sejak April 2018 kemarin, sistem pemindaian semacam ini sudah mulai diperkenalkan ke publik, dengan hasil uji coba pemindai memiliki tingkat akurasi kurang dari 5mm – relatif. Tidak heran juga jika data yang dikumpulkan oleh sistem pemindai 3D ini tergolong lebih cepat dan tepat ketimbang dilakukan secara manual. “Pemindaian 3D menyajikan lebih banyak informasi dan lebih rinci dalam rentang waktu yang relatif lebih singkat – dimana ini akan mengurangi kebutuhan SDM di lapangan. Tentu dengan hadirnya sistem pemindai ini membuat para pekerja di lapangan lebih aman dan efisien,” ungkap seorang insinyur geometri jalur mutlak dari Network Rail di Skotlandia, Graham Hutchison. Baca Juga: Akuarium Virtual Pemindai Wajah Sapa Calon Penumpang di Bandara Dubai “Sistem pemindai semacam ini sangat cocok untuk survei di dalam terowongan, di mana konstruksi yang tidak teratur dapat menyulitkan para insinyur untuk menemukan titik-titik penyangga utama. Proses pemindaian ini memakan waktu kerja satu per lima lebih cepat dari metode manual yang kami gunakan sebelumnya,” tandas Graham.

Di India, Para Pengantar Penumpang Masih Diperbolehkan Masuk ke Peron Lho!

Jika di Indonesia para pengantar calon penumpang kereta api konvensional dilarang masuk ke dalam peron untuk kepentingan apapun, maka hal yang sebaliknya masih terjadi di India – dimana hal ini memiliki dampak penumpukan orang di peron. Hal ini sampai-sampai menuai sorotan dari Pengadilan Tinggi Bombay yang mempertanyakan mengapa operator mengijinkan hal tersebut. Baca Juga: Dua Stasiun di India Siap Jadi ‘Kelinci Percobaan’ Sistem Keamanan Asal Israel Berdasarkan kutipan KabarPenumpang.com dari laman business-standard.com (6/9/2018), Ketua Mahkamah Agung Naresh Patil dan Rajesh Ketkar mengatakan bahwa jika ada 10 orang pengantar yang hanya mengantarkan satu penumpang saja, bagaimana jika hal serupa terjadi pada semua penumpang kereta? Tentu saja ini akan membuat peron menjadi penuh dan tidak menutup kemungkinan akan mengganggu petugas. “Belum lagi eksistensi dari pedagang asongan yang juga ikut masuk ke dalam peron, tentu saja ini semakin membuat suasana di peron semakin semerawut. Pihak operator memang sangat baik dengan mengijinkan semuanya masuk ke dalam peron, tapi apakah ini perlu?” ujar Ketua Mahkamah Agung tersebut tanpa merinci stasiun mana saja yang memiliki masalah ledakan populasi ini. Tidak sedikit petisi yang masuk ke Mahkamah Agung perkara masalah infrastuktur yang semakin membuat orang tidak nyaman ini – buntut dari kebijakan pihak perkeretaapian yang tidak membatasi pengantar untuk masuk ke dalam peron. Lebih lanjut, Mahkamah Agung meminta pihak perkeretaapian untuk kembali meninjau skala prioritas dari permasalahan ini dan sesegera mungkin menemukan jalan keluar yang terbaik. “Sebagian besar infrastuktur di stasiun sudah tua, dan sekarang mereka berhadapan dengan masalah ledakan populasi. Sementara itu, ada sangat banyak orang dari luar Maharashtra datang ke kota – dimana ini semakin memperkeruh keadaan. Bagaimana infrastruktur yang ada dapat menampung ledakan populasi ini?” lanjut Naresh dan Rajesh. Di sisi lain, seorang amicus curiae (pihak netral dalam suatu kasus), Zal Andhyarujina mengatakan bahwa pihak perkeretaapian sudah mencoba untuk menahan pengantar untuk tidak masuk ke dalam peron untuk mengantar calon penumpang, “namun mereka semua kewalahan untuk membendung para pengantar,” Baca Juga: Stasiun Kereta ‘Rasa Bandara Internasional’ Siap Hadir di India Pada akhirnya, Ketua Mahkamah Agung Naresh Patil dan Rajesh Ketkar mengatakan kepada pihak perkeretaapian di India yang masih mengijinkan para pengantar untuk masuk ke dalam peron untuk, “lebih memprioritaskan keselamatan penumpang. Jangan sampai ledakan populasi yang terjadi di peron akhirnya menghambat kerja dari petugas kereta api yang dikhawatirkan akan mengancam keselamatan para penumpangnya.”  

Toilet Mampet, 187 Penumpang American Airlines Terpaksa Buang Air di Kantong Plastik dan Botol!

Dapatkah Anda membayangkan bagaimana rasanya melakukan penerbangan selama kurang lebih enam jam tanpa diperbolehkan untuk menggunakan toilet oleh pihak maskapai? Sedikit banyaknya ini akan menimbulkan masalah bagi para penumpang yang berada di layanan tersebut. Baca Juga: Toilet di Pesawat, Fungsi Sama Aturan Sedikit Beda Seperti yang terjadi pada penerbangan American Airlines dari Phoenix menuju Kona, Hawaii pada Jumat (31/8/2018) kemarin, dimana sebanyak 187 penumpang American Airlines dilarang untuk menggunakan toilet. Ada apa ya kira-kira? Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ternyata pelarangan tersebut merupakan buntut dari sistem saluran toilet yang mengalami gangguan (mampet) pasca seorang penumpang membuang popok ke dalam toilet. Dari tiga toilet yang tersedia di dalam penerbangan 663 tersebut, hanya satu yang dibuka – sisanya ditutup rapat. Ketika seorang penumpang wanita yang ingin menggunakan toilet, ia diberhentikan oleh awak kabin dan menitahnya untuk buang air kecil di kantong plastik. Memang, sebelumnya wanita ini sudah mendengar pengumuman dari awak kabin melalui pengeras suara yang mengatakan bahwa ada masalah pada toilet di dalam penerbangan tersebut. Benar saja, ketika penumpang wanita yang identitasnya enggan dibongkar ini mencoba untuk membuka satu toilet yang tersisa – pada bagian depan, sebuah pemandangan menjijikan dan bau tidak sedap sontak menyeruak tak lama setelah pintu toilet tersebut dibuka. “Toiletnya mampet, dan yang ini (toilet depan) juga sudah mulai meluap,” ungkap awak kabin menyambung respon jijik si penumpang. “Untuk sementara, Anda bisa buang air di plastik, dan penumpang pria bisa buang air di botol. Saya tahu ini memang menjijikkan, kami meminta maaf,” ujar sang awak kabin di dalam video yang berhasil diabadikan oleh penumpang wanita tersebut – sayangnya, video ini sudah menyebar luas di dunia maya. Menanggapi masalah dalam penerbangan tersebut, pihak American Airlines pun meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. “Kami meminta maaf yang sedalam-dalamnya akibat kejadian yang membuat Anda tidak nyaman ini,” ungkap pihak American Airlines melalui pernyataan tertulis. Baca Juga: Cidera Otak, Penumpang Ini Gugat American Airlines Senilai US$10 Juta “Berdasarkan peraturan perusahaan, semisal toilet mengalami kendala, seharusnya pesawat melakukan pendaratan tidak berjadwal di bandara terdekat yang tersedia. Namun karena lokasinya sudah dekat, maka penerbangan pun dilanjutkan hingga Kona. Pesawat lalu diperbaiki sesampainya di Kona. Untuk penerbangan selanjutnya menuju Phoenix tetap sesuai jadwal yang sudah ada sebelumnya.” Tutup pihak American Airlines.  

Ketepatan Waktu Kereta India Mengalami Penurunan Akibat Faktor Keterlambatan

Keterlambatan kereta api kerap kali terjadi, bahkan India yang memiliki jaringan kereta terbesar kedua dunia pun mengalami hal tersebut. Dikatakan bahwa data yang disusun di Parlemen menunjukkan bahwa ketepatan waktu pemberhentian kereta di Chennai dan stasiun lain seperti Tamil Nadu dan Kerala memburuk selama tiga tahun terakhir. Baca juga: Persinyalan Terganggu, Perjalanan Penumpang Kereta di Inggris Dialihkan Dilansir KabarPenumpang.com dari laman timesofindia.indiatimes.com, bahwa tingkat ketepatan waktu turun dari 88,3 persen di tahun 2015-2016 turun menjadi 80 persen di 2017-2018. Ketepatan waktunya sendiri pun setiap kelas kereta berbeda-beda baik kereta premium seperti Rajdhani dan Shatabdi hingga kereta ekspres dan super cepat telah turun. Sayangnya hanya 76 persen kereta super cepat yang tepat waktu pada 2017-2018 sedangkan untuk Shatabdi 84,9 persen dan Rajdhani 72,76 persen. Dari penglihatan sepintas yang didapat dari keluhan kepada kereta api di media sosial menunjukkan sebagian besar keluhan bermasalah pada keterlambatan kereta. Hal ini menyebabkan penurunan penumpang yang signifikan pada kereta api di Kerala, dimana penumpang pekerja kantoran beralih ke moda transportasi lain karena gaji mereka dipotong akibat melapor keterlambatan bekerja. Ini pun menyebabkan penurunan jumlah penumpang yang signifikan. Tetapi beberapa pejabat kereta api mengatakan, sebagian besar tidak peduli dengan penundaan kecuali terlalu banyak laporan yang didapatkan. Sebuah survei yang dilakukan oleh divisi Chennai mendapatkan lebih dari 50 persen kasus kerusakan pada rel. Sehingga para pekerja pemelihara yang bertanggung jawab atas keterlambatan perjalanan kereta. Alasan lain adanya penundaan adalah kegagalan sinyal, gangguan pada lokomotif, kecelakaan dipersimpangan hingga agitasi penumpang. Beberapa aplikasi terkait jadwal kereta juga menginformasikan kepada penumpang tentang keterlambatan kereta secara real time, tetapi terkadang informasi tersebut salah. Baca juga: Terlambat Karena Gangguan KRL? Jangan Lupa Minta Surat Keterangan Terlambat dari Petugas! “Pada hari Minggu baru-baru ini, kereta api tertunda setidaknya tiga jam karena tergelincirnya kereta barang di dekat Katpadi. Namun, aplikasi Sistem Pengiriman Kereta Api Nasional kereta api menunjukkan bahwa kereta tepat waktu,” ujar K Baskar, anggota Komite Permusyawaratan Pengguna Kereta Api Divisi Chennai. Sumber lain yang ada mengatakan angka ketepatan waktu mungkin tidak final. Bahkan surat edaran kereta api telah mengakui bahwa data-data tersebut tidak jelas.