Wow.. Pramugari Lakukan Akrobatik Tutup Pintu Bagasi Kabin Gunakan Sepatu Hak Tinggi

Tak hanya penumpang yang kerap kali melakukan hal aneh di dalam kabin. Awak kabin pun terkadang melakukannya meski saat itu tidak ada penumpang di dalam pesawat. Seperti yang dilakukan oleh seorang pramugari salah satu maskapai ini yang videonya viral di jagad maya. Baca juga: Sempat Viral, Awak Kabin AirAsia X Ini Tirukan Gaya Britney Spears Pramugari yang satu ini menjadi viral karena menampilkan akrobatik di lorong kabin sebuah pesawat. Tapi tak hanya itu, dia juga menutup bagasi kabin dengan menggunakan sepasang kakinya. KabarPenumpang.com melansir dari laman indianexpress.com (1/9/2020), pramugari tersebut diidentifikasi sebagai Lindsey O’Brien. Dalam video tersebut, dia terlihat mencengkram lengan kursi sebelum terbalik dan menggunakan kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi untuk menutup empat pintu bagasi kabin. Kemudian setelahnya dia kembali ke posisi awal dan mengangkat tangan untuk merayakan keberhasilannya tersebut. Wanita berusia 35 tahun tersebut, saat melakukan hal itu masih menggunakan seragamnya. Meski begitu dirinya tidak ingin memberitahu maskapai penerbangan tempatnya bekerja sebagai pramugari. Lindsey melakukan hal itu dalam pesawat yang tengah parkir di Philadelphia, Pennsylvania pada Juni lalu. Dia mengaku, meski harus terlihat mudah dalam melakukannya ketika di rekam video, tetapi nyatanya tidak begitu ketika dirinya mencoba. “Setiap kali saya melakukannya, satu bagasi tidak akan menutup, jadi saya ingin menutup empat sekaligus,” katanya. Lindsey sendiri mengaku untuk bisa menutup empat bagasi kabin sekaligus dirinya memerlukan percobaan sebanyak 20 kali sebelum berhasil menutup semuanya secara bersamaan. “Saya dulu melakukan yoga dan saya adalah seorang pemandu sorak yang tumbuh. Jadi intinya saya cukup kuat dan saya harus melihat apakah saya bisa melakukannya,” ungkapnya. Baca juga: Pramugari Hibur Penumpang dengan Cara Unik Di Tengah Penerbangan yang Nyaris Kosong Terlihat tak menggunakan masker wajah ketika melakukan akrobatik itu, Lindsey menjelaskan bahwa dia dan rekan kerjanya selalu memakai masker saat berada di sekitar penumpang atau di bandara. “Ini hanya kesempatan langka ketika kami bisa bersantai dan bersenang-senang selama masa sulit bekerja selama pandemi,” kata dia.

AirAsia Mulai Kenakan Biaya Bagi Penumpang yang Check-in di Konter Bandara

Sebagian besar maskapai penerbangan dunia saat ini tengah mengalami kerugian meski beberapa diantaranya sudah mulai bangkit kembali. Bahkan mereka melakukan berbagai cara untuk menutupi kerugian yang terjadi akibat pandemi Covid-19. Baca juga: Kembali Beroperasi, AirAsia Indonesia Baru Buka Dua Rute Salah satu maskapai yang mengalami kerugian adalah AirAsia dan mereka mengatakan, Selasa (1/9/2020) kemarin akan mulai mengenakan biaya kepada pelanggan yang melakukan check-in di konter bandara. Selain untuk menutup kerugian, AirAsia juga ingin mengajak pelanggannya untuk meminimalkan kontak fisik dan tetap menjaga jarak selama pandemi ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thejakartapost.com (1/9/2020), pihak AirAsia menyebutkan, bagi calon penumpang yang tidak melakukan check-in melalui situs web maskapai, aplikasi seluler atau kios bandara akan dikenakan biaya 20 ringgit Malaysia atau sekitar Rp71 ribu untuk penerbangan domestik. Sedangkan untuk pelancong yang melakukan penerbangan internasional akan dikenakan 30 ringgit malaysia atau sekitar Rp106 ribu meskipun beberapa pengecualian akan berlaku. Chief Operations Officer atau COO AirAsia Grup Javed Malik mengatakan, biaya tersebut akan membantu memotivasi para calon penumpang untuk memanfaatkan investasi maskapai dalam teknologi digital. “Mengingat pandemi Covid-19, fasilitas check-in mandiri ini menjadi sangat penting dalam meminimalkan kontak fisik antara tamu dan staf kami,” katanya dalam sebuah pernyataan. Untuk diketahui, pada bulan Agustus lalu, maskapai berbiaya hemat ini melaporkan kerugian kuartal terbesar dalam sejarahnya yakni pendapatan turun hingga 96 persen. Hal ini karena dampak pandemi yang menghancurkan permintaan perjalanan. Meski begitu, maskapai yang berbasis di Malaysia ini mengatakan, telah mengajukan pinjaman bank di pasar operasinya. Mereka juga telah disajikan dengan proposal dari bankir investasi, pemberi pinjaman dan calon investor untuk meningkatkan modal. Baca juga: Antisipasi Covid-19, Awak Kabin AirAsia Punya Seragam Baru Mirip Kostum Hazmat Ternyata biaya check-in AirAsia di konter ini sendiri jauh dibawah biaya PLC dari maskapai penerbangan Eropa yakni Ryanair Holdings sebesar $66 atau sekitar Rp976 ribu untuk check in di bandara yang diberlakukan sebelum pandemi. Maskapai berbiaya hemat lainnya asal Amerika Serikat yakni Spirit Airlines mengenakan biaya $10 atau sekitar Rp147 ribu untuk boarding pass yang akan dicetak di bandara

Mobil Terbang SkyDrive SD-03, Uji First Flight dengan Pilot

Model baru SD-03 besutan SkyDrive Inc pada 25 Agustus 2020 melakukan uji publik berawak pertama di Jepang. Dengan uji coba ini menandai langkah signifikan menuju kehadiran mobil terbang di masa depan. Di mana sebelumnya pada bulan April lalu, sudah mengudara dan disebut sebagai uji terbang multirotor. Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina Uji coba ini sendiri dilakukan di lapangan uji Toyota seluas sepuluh ribu meter persegi dan menjadi salah satu yang terbesar di Jepang. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (28/8/2020), mobil terbang SD-03 mulai lepas landas dan mengitari lapangan selama empat menit sebelum mendarat di tempat yang sama. Pilot yang melakukan uji coba penerbangan berawak pertama SD-03 adalh Toshiro Ando dan berhasil. Mobil terbang SD-03 sendiri baru dirancang untk menjadi model Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) listrik terkecil di dunia. Sebab mobil terbang berawak ini memiliki tinggi dua meter, panjang empat meter dan lebar empat meter. Karena dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal, mobil terbang ini tidak membutuhkan landasan pacu. Mobil terbang ini memiliki fitur eksterior sporty dengan warna putih mutiara, dengan lampu putih berbentuk huruf H yang funky di bagian depan dan lampu merah berbentuk huruf T di bagian belakang. SkyDrive SD-03, ini didukung oleh delapan motor dan memiliki dua baling-baling di setiap sudut. Motor ini berfungsi untuk memastikan keselamatan dalam situasi darurat dan memenuhi potensi masalah regulasi karena mobil memiliki tujuh motor lain agar berfungsi terus jika salah satu motornya rusak. Pada saat uji coba diketahui, Toshiro sebagai pilot berada di ruang kontrol. Meski begitu sistem komputer tetap menjaga stabilitas dan keselamatan dalam penerbangan. Tidak ada detail lain yang tersedia pada tahap uji coba ini. Baca juga: Terlalu Sesumbar, Peluncuran Taksi Udara eVTOL Skai Bertenaga Hidrogen Akhirnya Molor Untuk diketahui, SkyDrive saat ini bermaksud untuk memperluas cakupan pengujian dalam membuktikan teknologi di berbagai kondisi. Ini dilakukan juga dengan maksud untuk mendapatkan pesetujuan penerbangan di luar uji lapangan tepatnya di luar lapangan uji Toyota pada akhir tahun ini.

Bukan Pramugari, “Hooters Girls” adalah Pelayan Restoran yang Diperbantukan di Kabin

Tak hanya VietJet yang memiliki pramugari dengan pakaian seksi, sebab salah satu maskapai di Amerika Serikat juga pernah memiliki hal yang sama. Maskapai ini bernama Hooters Air yang merupakan maskapai penerbangan yang berbasis di Pantai Myrtle, Carolina Selatan. Baca juga: Gara-Gara Bikini Pemilik VietJet Jadi Orang Kaya Nomor 2 di Vietnam Penerbangan dari Hooters ini dioperaskian oleh Pace Arilines yang berbasis di Carolina Utara. Penerbangan Hooters Air sendiri terjadwal dan juga charter pribadi. KabarPenumpang.com melansir avgeekery.com, maskapai ini mulai didirikan pada 2003 lalu dan beroperasi pada 6 Maret. Didirikan oleh seorang pemilik restoran Hooters of America Robert Brook yang mengakuisisi Pace Airlines pada Desember 2002 lalu. Awal didirikannya, Brooks membayangkan Hooters Air sebagai cara yang tidak biasa untuk menghasilkan kesadaran akan merek restoran Hooters. Bahkan operator ini terkadang disebut sebagai papan iklan terbang untuk jaringan restoran. Maskapai ini memiliki hal yang berbeda dalam penerbangan mereka yakni memasarkan penerbangan pada para pegolf dalam upaya untuk membawa pemain kasual dan turnamen ke lapangan golf kejuaraan 100+ Pantai Myrtle. Uniknya lagi, akan ada dua orang Hotters Girls yang mengenakan seragam restoran mereka di setiap penerbangan. “Hooters Girls” bukanlah pramugari melainkan pelayan restoran yang membantu awak kabin dengan tugas keramahan. Untuk diketahui, awak kabin Hooters Air sendiri menggunakan pakaian tradisional. Perusahaan ini mengiklankan penerbangan nonstop untuk sebagain besar rute mereka dan memiliki slogaln lucu seperti “Terbang satu mil bersama kami”. Hooters Air sendiri menyebut diri mereka sebagai maskapai berbiaya rendah. Padahal deretan kursi telah dihapus dari kabin untuk memberikan jarak duduk 34 inci (86 cm) untuk semua. Jarak ini sebanding dengan ruang kaki yang ditawarkan oleh kelas bisnis maskapai penerbangan lainnya. Ukuran jarak antar kursi yang cukup lebar ini karena Hooters Air ingin menjaga keramahan pada penumpang yang merupakan pegolf dan menyebutnya dengan tempat duduk “Kelas Klub”. Selain itu, semua kursi dilapisi dengan kulit biru tua atau hitam, dan semua pesawat dicat dengan warna oranye dan putih perusahaan Hooters yang menampilkan logo perusahaan, dan maskot (“Hootie the Owl”), pada penstabil vertikal. Tak hanya itu, pada saat banyak maskapai berbiaya rendah menghilangkan embel-embel penerbangan dalam upaya untuk mengurangi biaya, Hooters Air menyajikan makanan gratis kepada semua pelanggan dalam perjalanan yang berlangsung lebih dari satu jam. Pada 8 Desember 2005, Hooters mengumumkan bahwa mereka akan mengakhiri layanan ke Rockford dan ke Illinois pada tanggal 5 Januari 2006, sebagai akibat dari otoritas bandara yang membawa maskapai pesaing (United Airlines) pada rute Rockford-Denver, dan memberikan jaminan pendapatan untuk kompetitor. Semua layanan komersial dihentikan pada tanggal 9 Januari 2006. Baca juga: Beragam Kasus Seksis yang Sempat Warnai Dunia Pramugari Perusahaan induk Pace Airlines melanjutkan layanan sewa selama tiga tahun, berhenti beroperasi pada bulan September 2009. Pada 17 April 2006, Hooters Air menghentikan operasinya. Perusahaan mengaitkan penghentian layanan ini terutama karena peningkatan yang nyata dalam biaya bahan bakar setelah Badai Katrina dan Rita pada musim gugur tahun 2005. Maskapai ini diperkirakan menelan biaya Hooters of America $ 40 juta

Tangkal Penyebaran Covid-19, Seoul Hadirkan Halte Bus dengan Teknologi Sinar Ultraviolet

Ada beragam cara untuk menangkal penyebaran Covid-19, salah satunya dengan mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Dalam lingkup protokol kesehatan, otoritas kota Seoul telah membuat halte bus dengan fitur sinar ultraviolet (UV). Hadirnya sinar UV merupakan langkah taktis untuk mendesinfeksi sebuah ruangan. Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19 Bilik halte ini terbuat dari dinding kaca yang dilengkapi dengan sensor suhu dan lampu ultraviolet untuk memerangi virus corona atau Covid-19. Sehingga bagi para penumpang yang hendak naik bus harus lulus sensor sebelum masuk ke dalam halte.
penumpang
menunggu bus di halte yang dilengkapi dengan sinar ultraviolet (theguardian.com)
KabarPenumpang.com melansir dari laman theguardian.com (13/8/2020), sebelum masuk ke dalam bilik halte bus, penumpang harus berdiri di depan kamera termal otomatis. Ketika suhu tubuh penumpang dibawah 37,5 derajat Celcius, pintu akan terbuka. Untuk menguji suhu tubuh anak-anak, kamera terpasang di bagian bawah. Setiap halte dengan bilik kaca ini menghabiskan dana sekitar 100 juta won. Harga ini cukup fantastis, namun dengan fasilitas yang cukup nyaman dan aman dari Covid-19 seperti sistem pendingin udara atau AC yang memiliki tambahan lampu ultraviolet serta WiFi gratis dirasa sebanding dengan dana yang dihabiskan untuk membangun halte bus ini. Tak hanya itu, di dalam bilik halte pun disediakan dispenser pembersih tangan dan penumpang disarankan untuk memakai masker wajah setiap saat. Selain itu, menjaga jarak sakitar satu meter dari penumpang lainnya juga tetap disarankan. Saat ini sepuluh fasilitas canggih telah dipasang di distrik timur laut Seoul, menawarkan perlindungan dari hujan monsun dan panas musim panas serta Covid-19. “Kami telah memasang semua tindakan anti-virus korona yang tersedia yang dapat kami pikirkan di stan ini,” kata Kim Hwang-yun, pejabat distrik yang bertanggung jawab atas proyek Smart Shelter. Sejak dipasang minggu lalu, Kim mengatakan, setiap bilik halte bus telah digunakan oleh sekitar 300 hingga 400 orang setiap hari. Untuk memastikan penumpang tidak ketinggalan bus, panel menampilkan perkiraan waktu kedatangan sementara layar menyiarkan langsung lalu lintas di luar. “Saya merasa sangat aman di sini karena saya tahu orang lain di sekitar saya telah diperiksa suhu tubuhnya sebaik saya,” ujar seorang penumpang bernama Kim Ju-li. Baca juga: Gegara Pandemi, Teknologi dan Layanan Penerbangan ini Harus Diadopsi Lebih Cepat Untuk diketahui, Korea Selatan menjadi salah satu negara yang terdampak buruk pandemi virus corona ini. Tetapi mereka mengendalikannya secara luas dengan program “lacak, uji, dan obati” yang ekstensif sementara tidak pernah memberlakukan penguncian wajib.

Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Helikopter Pertama yang Berhasil Keliling Dunia Berangkat! Butuh Waktu Hampir Sebulan

Tepat pada hari ini, Rabu, 1 September 1982, pemuda berusia 23 tahun, H. Ross Perot, Jr. memulai penerbangan keliling dunia. Ditemani teknisi handal, Jay W. Coburn, keduanya mengarungi dunia sejauh 41.843 kilometer dalam 246,5 jam penerbangan selama 29 hari, 3 jam, dan 8 menit menggunakan helikopter Spirit of Texas, Bell 206L-1 LongRanger II bermesin tunggal. Baca juga: Usai Raih 63.900 Jam, Airbus A330-300 Pertama di Dunia Pensiun Rekor sebagai helikopter pertama yang berhasil keliling dunia pun resmi direngkuh usai Spirit of Texas dengan kode registrasi N3911Z ini mendarat dengan selamat di Bandara Dallas Love Field, Texas, pada 30 September 1982 yang juga jadi tempat mereka memulai perjalanan. Dikutip dari thisdayinaviation.com, perjalanan helikopter pertama yang berhasil keliling dunia bersama H. Ross Perot, Jr. dan Jay W. Coburn tentu tidak mudah. Selama perjalanan, nyaris tak ada kata mudah sekalipun helikopter Spirit of Texas dilaporkan hampir tak mengalami kendala teknis apapun. Di antara kendala terbesar ialah tatkala badai menerjang di Kanada. Saat itu, Spirit of Texas hampir kehabisan bahan bakar dan terpaksa mendarat di sebuah kapal kontainer atau kapal peti kemas untuk mengisi bahan bakar. Dalam proses landing itulah jadi salah satu insiden yang menegangkan mengingat pilot kesulitan dalam mendaratkan pesawat akibat terjangan angin kencang selain kapal tanker jadi tak begitu stabil dibuatnya. Selain itu, helikopter Spirit of Texas juga sempat ditolak mendarat di Kulusuk, Greenland saat hampir kehabisan bensin, diterjang hujan petir di Myanmar, dihantam Topan Ken di Filipina dan Jepang, sebelum akhirnya menempuh rute berbahaya dengan jarak 2.253 dari Kushiro, Jepang ke Dutch Harbour, Alaska. Secara normal, penerbangan sejauh 2.253 tidak mungkin dilakukan. Namun, berkat beberapa modifikasi, salah satunya kemampuan memuat bahan bakar 151 galon lebih banyak, Bell 206L-1 LongRanger II Spirit of Texas bisa terbang lebih lama hingga delapan jam.
Helikopter yang dipersiapkan secara khusus untuk kepeluan keliling dunia seharga US$750.000 ini juga dimodifikasi pada bagian rotor belakang dan utama, desain, mesin, daya angkut, bilah rotor, hingga pemasangan Pop-out floats sehingga memungkinkan Bell 206L-1 LongRanger II mendarat di perairan. Dilansir History Net, selama 29 hari berkelana, penerbangan pertama helikopter keliling dunia total melewati sekitar 26 negara, mulai dari Amerika, Kanada, Greenland (Denmark), Inggris, Perancis, Italia, Yunani, Mesir, Arab Saudi, Bahrain, Oman, Pakistan, India, Myanmar, Filipina, Taiwan, dan Jepang, menghabiskan 25.400 kilogram bahan bakar, dengan 56 pemberhentian. Selain merengkuh gelar sebagai helikopter pertama yang berhasil keliling dunia, Bell 206L-1 LongRanger II Spirit of Texas juga mencatat sejumlah rekor. Seperti rekor helikopter tercepat dengan rata-rata mencapai 56,97 kilometer per jam dalam perjalanan ke Timur oleh Fédération Aéronautique Internationale (FAI). Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia Tak hanya itu, dengan didukung mesin turboshaft Allison 250-C28B berkemampuan 435 tenaga kuda, Spirit of Texas juga berhasil mencatatkan rekor di FAI sebagai perjalanan helikopter point-to-point tercepat dengan rata-rata 179,39 kilometer per jam saat dalam perjalanan London-Marseilles. Setelah berhasil mencetak sejarah sebagai helikopter pertama yang berhasil keliling dunia, Bell 206L-1 LongRanger II Spirit of Texas pun disumbangkan ke Smithsonian Institution dan dipamerkan di Steven V. Udvar-Hazy Center of the National Air and Space Museum, Virginia, Amerika Serikat.

Insiden Penembakan Korean Air 007 Ingatkan Dunia pada ADIZ, Apa Itu?

Tepat pada hari ini, 1 September 37 tahun yang lalu, insiden penembakan Korean Air dengan nomor penerbangan KE007 terjadi. Insiden penembakan yang menewaskan 269 orang (termasuk awak dan penumpang) disebut terjadi akibat Boeing 747-200 Korean Air 007 tak patuh pada Air Defense Identification Zone (ADIZ) yang diadopsi Uni Soviet. Baca juga: Mengenang Korean Air 007, Korban Perang Dingin Soviet-AS yang Dirudal Gegara Insiden “Mata-mata” Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), ADIZ merupakan zona bagi keperluan identifikasi dalam sistem pertahanan udara suatu negara, dimana zona tersebut pada umumnya terbentang mulai dari wilayah teritorial negara yang bersangkutan hingga mencapai ruang udara di atas laut lepas yang berbatasan dengan negara tersebut. Penerapan ADIZ oleh suatu negara tidak dimaksudkan untuk memperluas kedaulatan negara pemilik ADIZ tersebut, namun lebih pada kepentingan pertahanan udara bagi negara pengadopsi. Dikutip dari Indomiliter.com, jangkauan zona ADIZ bervariasi, tergantung doktrin pertahanan dan supermasi sipil suatu negara; tepatnya antara puluhan hingga ratusan kilometer terhitung mulai dari batas terluar wilayah kedaulatan – sejauh ini tidak ada standar baku. Sebuah dokumen Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) keluaran 16 Juli 1993 tentang Laporan Investigasi dan Temuan Fakta, menyebut baik pesawat sipil (civilian aircraft) maupun militer (state aircraft), harus mendapat clearance atau membuat rencana penerbangan seperti waktu, posisi, dan ketinggian terlebih dahulu sebelum masuk ke zona ADIZ. Konsekuensi bagi pelanggar, disebutkan pesawat akan menjadi sasaran intersepsi Komando Pertahanan Udara sebuah negara. Namun, tak ada redaksi yang menyebut lebih dari itu, seperti yang dilakukan Uni Soviet dalam insiden penembakan Korean Air 007 di Pulau Sakhalin. Dalam sebuah paper berjudul Air Defence Identification Zone (ADIZ) in International Law Perspective, sebagaimana dimuat jurnal researchgate.net, disebutkan ADIZ pertama kali digunakan oleh Amerika Serikat (AS) pada tahun 1950, disusul oleh Kanada pada tahun 1951 (CADIZ). Kala itu, penerapan ADIZ oleh kedua negara tersebut dimaksudkan sebagai upaya pencegahan serangan nuklir oleh pesawat musuh, khususnya dari Uni Soviet sebagai poros utama pembentuk era perang dingin bersama AS. Akan tetapi, seiring perkembangan teknologi, dimana rudal bisa ditembakkan dari jarak jauh, ADIZ berubah menjadi tameng dari modus intelijen memata-matai aktivitas militer sebuah negara. Dalam prosesnya, ADIZ beberapa kali menjadi dasar terjadinya perseteruan antara negara pengadopsi ADIZ dengan pesawat lain, baik sipil maupun militer. Baca juga: Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007 Dalam sebuah kajian International Aviation Law oleh Jeffrey D. Laveson yang dimuat core.ac.uk, ADIZ tercatat pernah membuat Perancis dan Uni Soviet bersitegang lantaran pesawat yang ditumpangi Leonid Brezhnev, mantan Presiden Uni Soviet, dicegat jet tempur Perancis dalam perjalanan ke Maroko. Tak disebutkan dengan jelas kapan insiden ini terjadi. Yang pasti, hal itu membuat tensi politik Perancis-Soviet meningkat. Namun, disebutkan, Soviet bersikukuh kalau Brenzhev terbang di wilayah internasional. Lain halnya dengan insiden penembakan KAL 007. Menurut Jeffrey, KAL 007 cukup jelas terbukti telah memasuki zona teritorial yang tunduk pada yurisdiksi eksklusif negara. Sejatinya, hukum internasional tak berlaku dan berganti dengan penerapan hukum negara, dalam hal ini Soviet.

Mengenang Korean Air 007, Korban Perang Dingin Soviet-AS yang Dirudal Gegara Insiden “Mata-mata”

Tepat pada hari ini, Kamis, 1 September 1983, pesawat Boeing 747-200 Korean Airlines dengan nomor penerbangan 007 (flight 007), jatuh dirudal oleh jet tempur Uni Soviet akibat dikira pesawat mata-mata. Dugaan tersebut tentu sangat berdasar mengingat tensi geopolitik kala itu, antara Uni Soviet-Amerika Serikat (AS) tengah meruncing dalam balutan perang dingin. Baca juga: Insiden Penembakan Korean Air 007 Ingatkan Dunia pada ADIZ, Apa Itu? Insiden bermula pada Rabu, 31 Agustus 1983. Saat itu, penerbangan Korean Airlines (KAL) 007 rute New York-Seoul singgah di Bandara Anchorage, Alaska, untuk mengisi bahan bakar. Pukul 04.00, pesawat kembali melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, seharusnya rute yang ditempuh (intended path) KAL 007 melewati ruang udara internasional di atas samudera pasifik dan melintasi Jepang sebelum masuk ke Korea Selatan. Namun, entah apa yang merasuki pilot, rute rill (actual path) pesawat KAL 007 melenceng jauh 322 km ke arah Barat dan masuk ke Semenanjung Kamchatka, berlanjut ke Laut Okhotsk, sebelum tiba di atas langit Pulau Sakhalin, seperti pada gambar di bawah ini.
Rute KAL 007. Foto: CNN
Sejengkal setelah masuk ke langit Semenanjung Kamchatka, Uni Soviet, radar menangkap pergerakan pesawat dan otoritas langsung mengirim jet tempur Sukhoi Su-15 dari pangkalan angkatan laut Soviet di Petropavlovsk di Semenanjung Kamchatka. Ketika (jet tempur) hendak menyusul, anehnya, Korean Airlines flight 007 sempat balik ke ruang udara internasional. Belum sempat kembali ke pangkalan, KAL 007 terdeteksi kembali masuk ke wilayah Soviet dan seketika Sukhoi Su-15 mengambil posisi membuntuti pesawat. Saat itu, seperti dikutip dari britannica.com, pilot jet tempur mengaku berhasil mengidentifikasi objek sebagai pesawat sipil -bukan pesawat mata-mata- melalui lampu navigasi dan strobe yang berkedip. Di CNN, Kolonel Gennadi Osipovich, salah satu pilot jet tempur yang membuntuti, juga mengaku melihat jelas bahwa pesawat tersebut adalah pesawat sipil. Selanjutnya, KAL 007 melakukan kontak dengan ATC Jepang dan diizinkan untuk menambah ketinggian. Sebelum menambah ketinggian, pesawat sempat melambat. Di sinilah drama mulai terjadi. Dua -sumber lain mengatakan tiga- jet tempur Soviet menganggap pesawat mengelak dan melaporkan hal itu ke pangkalan militer. Kecurigaan Soviet semakin menjadi karena KAL KE007 masuk wilayah Soviet tak lama setelah pesawat pengintai RC-135 AS melakukan hal serupa. Terlebih, wilayah yang disusupi tersebut zona militer strategis terbatas Uni Soviet. Menurut Alexander Dallin, seorang sejarawan Amerika-Uni Soviet, di tempat ini (zona militer terbatas di sekitar Semenanjung Kamchatka) terdapat sembilan kapal selam bertenaga nuklir Soviet termasuk 29 rudal yang dibawa kapal selam. Terlebih, saat itu, kapal disebut berencana untuk melakukan uji coba rudal, tentu semakin menambah sensitivitas. Sebelum perintah menembak jatuh datang, pilot jet tempur Soviet sempat memberi sinyal dalam kode internasional kalau mereka sudah melanggar wilayah Soviet. Namun, pilot tidak menggubris. Jet tempur kemudian mengirim rudal sebagai peringatan. Tak kunjung mendapat respon, jet akhirnya melepas dua rudal seiring datangnya perintah. Sebelum ditembak, KAL KE007 sebetulnya sudah tidak berada dalam wilayah Soviet. Namun, karena dinilai sudah mendapat informasi sangat penting, insiden penembakan KAL 007 tak bisa dihindari. Pasca dirudal, pesawat diketahui masih bertahan 90 detik hingga 12 menit sebelum jatuh ke Laut Jepang sekitar 30 mil (48 km) dari Pulau Sakhalin. Baca juga: Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007 Insiden penembakan Boeing 747 Queen of the Skies Korean Airlines dengan nomor penerbangan 007 (flight 007) tersebut akhirnya mendapat respon tegas dari internasional, melalui komando AS. Sebab, insden yang menewaskan 269 orang (termasuk awak dan penumpang) tersebut merupakan kedua kalinya, setelah yang pertama terjadi pada tahun 1978 hingga menyebabkan dua orang tewas. Pada tahun 1992, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) melakukan penyelidikan setelah Soviet mau membuka akses ke kotak hitam (black box). Hasil penyelidikan yang dirilis setahun kemudian, menyebut mode “heading” pada fitur autopilot jadi penyebab mengapa pesawat bisa melenceng jauh ke Soviet. Entah karena pilot gagal mengubah pengaturan atau pesawat sudah kadung keluar jalur ketika Inertial Navigation System (INS) diaktifkan, ICAO tak dapat menyimpulkan dengan pasti.

Yuk Kenali “Ganasnya” Laut Dengan Level Sea State

Mungkin beberapa dari Anda ada yang pernah mendengar kata sea state. Sesuai dengan morfologinya, kata ini tentu akan berhubungan dengan sesuatu yang ada di lautan. Jika diartikan, sea state merupakan ukuran yang lazim digunakan untuk mengukur “keganasan” laut pada suatu waktu tertentu. Ukuran keganasan laut tersebut diperoleh berdasarkan pengalaman, utamanya oleh para pelaut yang telah terbiasa berlayar di lautan lepas. Maka tidak heran, jika sea state kerap kali dijadikan tolak ukur kemampuan operasi rancang bangun kapal permukaan secara global. Baca Juga: Mengenal Inflatable Liferaft, Sosok Tabung Berwarna Putih di Geladak Kapal Untuk menghasilkan ukuran tersebut, ada beberapa faktor yang mempengaruhi sea state level ini, diantaranya adalah kekuatan angin dan gelombang. Sea state sendiri memiliki beberapa tingkatan, dimana setiap tingkatan memiliki deskripsi dan ukurannya masing-masing. Ini artinya, setiap saat sea state level bisa terus berubah, tergantung dari faktor-faktor pendukungnya tadi. Begitu pula halnya dengan gelombang laut yang gerakannya tidak berpola akan sangat menentukan sea state level tersebut. Ada beberapa acuan yang digunakan untuk mengukur sea state level, salah satunya adalah Beaufort Wind Force Scale, yaitu ukuran empiris yang menghubungkan kecepatan angin dengan kondisi yang diamati di laut. Nama ini diambil dari salah seorang perwira Angkatan Laut Kerajaan Irlandia yang bernama Francis Beaufort pada abad ke-19. Diketahui, Francis jugalah yang merancang perhitungan ini. Perwira laut kala itu melakukan observasi cuaca tanpa skala standard an sangatlah subjektif. Hadirnya Skala Beaufort membantu standarisasi pengamatan ini.
Skala Beaufort. Sumber: metservice.com
Walaupun Beaufort Wind Force Scale ini telah mengalami beberapa kali penyesuaian, namun skala ini masih digunakan setelah 200 tahun sejak pertama kali disahkan. Walaupun di beberapa negara menganggap ada 17 tingkatan di dalam skala Beaufort, tapi World Meteorological Organization hanya mengakui 13 kelas saja. Sea state terkecil dalam skala Beaufort adalah kondisi dimana angin laut berkecepatan kurang dari 1 knot dengan ketinggian ombak 0 (nol) meter. Sedangkan sea state level tertinggi di skala Beaufort adalah skala 12, dimana kecepatan angin melebihi 64 knots (118 km per jam), dengan ketinggian gelombang di atas 14 meter.
Skala Douglas. Sumber: metservice.com
Jika dalam skala Beaufort memasukkan unsur kecepatan angin untuk mengukur sea state level, lain halnya dengan Douglas Sea Scale. Perhitungan yang dikembangkan pada tahun 1920-an oleh Captain H. P. Douglas ini bertujuan untuk mengukur keganasan laut. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari metservice.com, World Meteorological Organization dan MetService menggunakan skala Douglas untuk menentukan keadaan di laut. Baca Juga: Yang Harus Diingat dari Asuransi Penumpang Skala Douglas sendiri memiliki 10 tingkatan, dimana tingkatan pertama tidak memiliki ketinggian ombak sama sekali alias 0 meter dan dideskripsikan sebagai perairan yang tenang. Sedangkan tingkatan tertinggi di skala Douglas memiliki ketinggian ombak hingga lebih dari 14 meter. Perlu diketahui, setiap kapal memiliki resistensi tersendiri dalam mengarungi lautan. Itu berarti, ketika kapal tersebut berlayar melebihi batas sea state level yang sudah ditetapkan ketika diproduksi, maka kapal tersebut berada dalam kondisi bahaya.

Mengenal “Big Bunny,” Pesawat DC-9 Mewah Peninggalan Boss Playboy

Hugh Hefner (91 tahun), sang pendiri majalah Playboy yang fenomenal telah meninggal dunia pada Rabu (27/9) waktu setempat di kediamannya The Playboy Mansion, Los Angeles, Amerika Serikat. Ibrata pepatah, “Muda Berfoya-foya, Tua Kaya Raya..,” Hefner meninggal dengan sejumlah cerita tentang kemewahan, gaya hidup jetset dan tentunya wanita-wanita cantik. Namun diantara sisi kemewahan Sang Legenda dunia hiburan ini, Ia memiliki pesawat pribadi yang super mewah, bahkan boleh jadi lebih mewah ketimbang pesawat Kepresidenan RI. KabarPenumpang.com merangkum dari thedrive.com (28/9/2017), sebagai sosok kaya raya, di dekade 60-an Hefner telah memiliki jet narrow body Douglas DC-9 produksi McDonnell Douglas yang pada saat itu bisa dikatakan tipe pesawat jet komersial yang relatif baru. Bagi Hefner, DC-9 dipandang lebih ekonomis, handal dan yang terpenting memiliki desain seksi, seperti ada pintu di ekor pesawat, dimana ciri ini tidak terdapat pada Boeing 737. Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an Merujuk ke catatan sejarah, Hefner pada 27 Januari 1969 membeli DC-9-32 langsung dari pabriknya dengan harga US$5,5 miliar dan ini bukan harga yang murah pada tahun itu. Pesawat jet ini memiliki nomor registrasi N950PB dengan interior dalamnya yang dirombak semua sebelum digunakan. Saat itu, mungkin para pemilik jet pribadi memilih memasangkan sofa beludru dan konsol audio di dalamnya. Justru ini berbeda dengan jet Playboy memiliki desain Skandinavia yang futuristik dengan mempengaruhi interior dengan tampak seperti sesuatu di luar Space Oddyssey 2001 dengan sedikit Barbarella di dalamnya. Body pesawat jet DC-9 ini di cat berwarna hitam dan livery sticker lambang Playboy di bagian ekor pesawatnya berwarna putih dan terpampang jelas. Dalam pesawat jet ini sendiri, ada sebuah teater, beberapa lounge, kamar mandi lengkap dengan shower dan yang jelas ada tempat tidur besar berbentuk bulat untuk playboy kelas atas. Hefner, sepanjang hidupnya melakukan sebagian besar urusannya di atas tempat tidur dan tempat tidurnya ini bukan hanya untuk berpesta melainkan juga untuk menjadi kantor. Seprai tempat tidur terbuat dari sutera dengan berlapis manik-manik opium Tasmania. Baca juga: Sukses di C Series, Bombardier Hadirkan Fitur Connected Cabin di Armada Berikutnya Disamping tempat tidur semua tombol dan konektivitas yang mengatur pesawat tersebut berada dalam satu konsol melengkung di sepanjang sisi ranjang delapan kaki tersebut persis dibawah jendela. Jika dilihat seperti markas kapten kapal di Starship Enterprise. Tak ayal bila dilihat dari luar pesawat milik bos Playboy ini seperti pada umumnya, tetapi saat berada di dalam mungkin Anda yang hidup di tahun 1969 akan merasakan masa depan seperti di tahun milenial sekarang ini. Sebab bukan hanya tempat tidur, di pesawat ini terpasang sound sistem surround delapan jalur, beberapa televisi, dua proyektor film dan sistem video yang berteknologi canggih di tahun 1969. Lampu yang berada dalam pesawat juga di penuhi dengan tampilan seperti dalam club disko. Ada kehebatan lain yang terlihat pada jendela dimana bisa meredup dan menghitam dengan sebuah tombol. Kerennya lagi DC-9 bisa menerima sebuah komunikasi eksklusif yang memungkinkan tuan Playboy dan tamunya bertelepon ria sambil menembus angkasa melewati stratosfer. Big Bunny adalah sebutan untuk DC-9 ini dan memiliki awak kabin khusus yang dijuluki Jet Bunnies, dimana penampilan dan kemampuan mereka dibutuhkan dalaam pelayanan awak kabin di pesawat. Awak kabin wanita yang bertugas dalam Big Bunny di tarik dari klub milik Hefner yang berada di Los Angeles dan Chicago, kemudian dikirim untuk latihan bersama Continental Airlines. Continental Airlines menjadi salah satu sekolah untuk awak kabin yang terkenal. Pakaian awak kabin Big Bunny dirancang oleh perancang busana Walter Holmes dengan gaun mini kulit, sepatu boots hitam, syal aviator putih dengan tambahan bando telinga kelinci putih serta ekor untuk acara khusus. Pengecatan warna DC-9 dengan warna hitam sebelumnya sudah mendapat persetujuan khusus dari Federation Aviation Administration (FAA) sebelum menjadi seperti yang Anda lihat sekarang. Bisa dikatakan pesawat milik Hefner ini sangat menonjol dibanding milik yang lain dengan tambahan lampu sorot ekstra terang untuk menyalakan kelinci Playboy d bagian ekor. “Saya menyukai kenyamanan jet. Itu benar-benar sebuah apartemen apung dengan kamar tidur, ruang tamu, ruang makan dan area disko di belakang. Saya meminjamkannya ke Elvis Presley untuk terbang ke konser dan saya memberikannya kepada Yul Brynner. Ketika ada yang bertanya kepada saya apakah saya pernah ketinggalan pesawat, saya menjawab, ‘hanya saat saya terbang” ujar Hefner kala itu. Jet Playboy ini sering di kunjungi orang terkenal pada masanya dan sering di sewa untuk perjalanan tur internasional hingga persiapan pesta mewah untuk menyambut tamu luar negeri. Ternyata bukan hanya untuk bersenang-senang, pesawat jet ini juga pernah mengangkut Operation Babylift ke New York untuk diterima keluarga angkatnya dari Vietnam yang saat itu perang menuju . Big Bunny sendiri juga pernah mengangkut gorila bernama Baltimore Jack ke seluruh Amerika Serikat untuk bertemu pasangan potensial. Sayangnya tahun 1975, pesawat jet ini di jual ke Venezuela Airlines dan tahun 2004 akhirnya pensiun. Saat ini Big Bunny telah menjadi alaat pendidikan yang disumbangkan ke kota Cadereyta di Meksiko.