Setelah melakukan rute evaluasi (proving flight) pada 20 Agustus, maka mulai hari ini, Jumat, 4 September 2020, Wings Air (Lion Air Group) resmi membuka penerbangan berjadwal dari dan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Maros (UPG) Bandara Toraja di Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (TRT).
Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang Untuk Rute Perintis
Untuk tahap awal, Wings Air menyediakan layanan dengan frekuensi terbang empat (4) kali dalam seminggu setiap Selasa, Rabu, Jumat dan Minggu. Penerbangan Wings Air menggunakan pesawat ATR-72 600 IW-1330 memiliki jadwal keberangkatan dari Bandara Sultan Hasanuddin pukul 09.35 WITA dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Toraja pada 10.35 WITA. Untuk penerbangan kembali, masih di hari yang sama Wings Air IW-1331 akan mengudara dari Bandara Tana Toraja pukul 10.55 WITA dan waktu kedatangan di Bandara Sultan Hasanuddin diperkirakan pada 11.55 WITA.
Dalam penerbangan Makassar – Tana Toraja – Makassar, Wings Air menawarkan nilai lebih kepada penumpang dengan total waktu tempuh sekali jalan (one way) berkisar 50 menit, relatif singkat, memperpendek jarak, terjangkau dan efektif.
“Rute terbaru Wings Air merupakan bagian kelanjutan dari proving flight pada 20 Agustus lalu dalam upaya melakukan pengkajian pasar dan potensi layanan penerbangan berjadwal atau rute evaluasi. Selain itu, Wings Air menguji kemampuan (kapabilitas) pengoperasian pesawat ATR 72 di Bandar Udara Toraja yang menjadi salah satu pintu masuk ke Kabupaten Tana Toraja.
Baca juga: ATR-72 600 Wings Air Sukses Lakukan Proving Flight di Bandara Taufik Kiemas
Wings Air mengoperasikan armada tipe ATR 72-600 atau ATR 72-500, berkapasitas 72 kursi kelas ekonomi, dinilai paling nyaman dan canggih di kelasnya yang mampu menerbangi rute jarak pendek. Wings Air optimis, pengoperasian pesawat tersebut dapat menggugah minat traveling, akan menambah pengalaman terbang setiap penumpang dengan sensasi tersendiri menggunakan pesawat turboprop atau baling-baling.
Sabtu, 4 September 1954, pesawat Santiago Airlines dengan nomor penerbangan (flight) 513 dikabarkan hilang di Samudera Atlatik Utara dalam perjalanan dari Aachen, Jerman menuju Porto Alegre, Brasil. Namun, 35 tahun kemudian, tepatnya pada 12 Oktober 1989, Santiago Airlines flight 513 secara tiba-tiba muncul kembali dan berhasil mendarat di Porto Alegre dengan memuat 92 penumpang dan awak yang sudah menjadi tengkorak. Tak butuh waktu lama, insiden tersebut pun membuat heboh dunia.
Baca juga: (Lagi) Hipotesa Baru Misteri MH370: Pesawat Diduga Kehilangan Tekanan Kabin
Dilansir mysteriesrunsolved.com, atas insiden tersebut, pihak berwenang tak sedikit pun berani membuka suara. Hal itu lantaran pemerintah khawatir malah membuat warga jadi takut. Namun, proses penyelidikan tetap dilakukan guna mencari fakta terkait kemunculan pesawat Santiago Airlines flight 513.
Selama proses penyelidikan dimulai, berbagai teka-teki terus bermunculan. Dr Celso Atello, seorang peneliti sekaligus paranormal percaya bahwa pesawat Santiago Airlines flight 513 telah memasuki time warp atau lorong waktu.
“Pesawat Santiago Airlines flight 513 pasti telah masuk ke dalam lubang waktu dalam penerbangannya tahun 1954, tak ada kemungkinan lain. Hanya Tuhan yang tahu,” katanya.
Black Hole (lubang hitam) dan Time Warps (lorong waktu) sendiri sudah lama dibicarakan karena kerap membuat pesawat dan kapal laut hilang misterius tanpa jejak dan tak pernah kembali. Alhasil, kemunculan pesawat tersebut dari lorong waktu benar-benar menjadi buah bibir di dunia.
Sementara itu, proses penyelidikan terus dilakukan. Sayangnya, para saksi yang melihat kejadian tak bisa menggambarkan dengan utuh proses kejadian.
Mereka hanya melihat, pesawat Lockheed Super Constellation muncul tiba-tiba dan mendarat di bagian Barat Bandara Porto Alegre dengan landing approach tak biasa, mulai dari kecepatan dan tahapan pendaratan itu sendiri. Terlebih, ketika dicek, penumpang dan awak sudah menjadi tengkorak; termasuk tengkorak Kapten Miguel Victor Cury yang masih memegang kemudi.
Begitu juga dengan para mantan karyawan. Sebagian dari mereka banyak yang sudah tiada, sebagian lagi sudah termakan usia dan hilang ingatan. Lagi pula, maskapai Santiago Airlines dikabarkan sudah lama bangkrut tak lama setelah armada mereka hilang bak ditelan bumi di Samudera Atlantik.
Proses penyelidikan yang tak kunjung menemui titik terang pada akhirnya menimbulkan berbagai teori konspirasi. Publik percaya, bahwa pemerintah telah menyembunyikan bukti-bukti terkait hal ini (fenomena time warp) dengan dalih melindungi masyarakat. Sejalan dengan itu, seorang profesor ilmu fisika di Porto Alegre, Roderigo de Manha, mendesak pemerintah agar membuka fakta-fakta ke publik agar tak terus-menerus menjadi polemik di masyarakat.
Baca juga: Smartphone Hilang di Kabin Pesawat, Kemudian Muncul Foto Pramugari Misterius di iCloud
Akan tetapi, sekalipun seorang jurnalis, Irwin Fisher membenarkan kejadian ini, publik percaya, minimnya data dan fakta telah menunjukkan bahwa kemunculan Santiago Airlines flight 513 setelah 35 tahun hilang tak lebih dari sekedar hoax. Terlebih, kabar terkait hal itu diketahui muncul pertama kali dari Weekly World News.
Lagi pula, bila pun memang benar masuk ke time warp atau empat dimensi, waktu di sana tidaklah sama dengan waktu di bumi. Satu hari di ruang empat dimensi bisa jadi bertahun tahun atau bahkan berpuluh tahun waktu dibumi. Sama seperti waktu di bumi yang berbeda satu sama lain dengan waktu di merkurius, mars atau planet lainnya.
Sepuluh kapal ferry baru milik Sydney, Australia tidak muat ketika melintasi di bawah beberapa jembatan yang ada di kota tersebut. Hal ini membuat penumpang yang duduk di dek atas harus mengosongkan daerah tersebut atau menunduk untuk berlindung. Kapal ferry ini sendiri dibuat di Singapura dan Indonesia serta akan melayani Sydney Harbour mulai akhir tahun ini.
Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!
Sepuluh kapal tersebut memiliki dek atas di mana penumpang yang menumpang bisa menikmati pemandangan kota terbesar di Australia. Namun ternyata kapal ferry ini hanya muat di bawah dua jembatan di Sungai Parramatta dan penumpang harus berlindung atau pindah dua kali dalam perjalanan mereka ketika berada di dek atas.
kapal ferry di Australia ketika melintasi bawah jembatan (smh.com.au)
“Sementara pelanggan dapat menikmati dek atas selama perjalanan mereka, mereka harus pindah ke dek bawah saat melewati Jembatan Kereta Api Camellia dan Jembatan Pabrik Gas,” kata juru bicara Transport for New South Wales (NSW) yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnn.com (24/8/2020).
Bahkan masalah ini membuat Menteri Transportasi New South Wales Andrew Constance dikritik karena membeli kapal buatan asing dan gagal menyesuaikan desain dengan lalu lintas yang lewatinya. Ferry River Class baru yang dioperasikan oleh perusahaan transportasi Transdev akan bergabung dengan armada kapal penumpang yang mengelilingi pelabuhan terkenal Sydney dan daerah sekitarnya setiap hari.
“Pemerintah mengakui bahwa penumpang harus melompat dari dek atas, atau menunduk, untuk menghindari jembatan yang akan datang. Mereka telah diberitahu, berkali-kali, membangun hal-hal ini di dalam negeri … mereka bersikeras membangunnya di luar negeri dan kami melihat bencana seperti yang telah kita lihat dengan ferry hari ini,” kata menteri transportasi bayangan Chris Minns.
Partai Buruh negara bagaian tersebut mengatakan, kegagaglan ini menunjukkan dengan tepat bahwa Australia harus membangun kapal ferry sendiri. Graeme Taylor, dari kelompok kampanye Action for Public Transport, mengataka, mereka telah memesan kapal yang salah dan kapal ini harus benar-benar digunakan di tempat lain di pelabuhan, hanya saja tidak cocok untuk Sungai Parramatta.
Departemen transportasi kota bersikeras bahwa mereka mengetahui masalah pemasangan ferry tinggi di bawah dua jembatan, tetapi tetap mengambil keputusan untuk memesan ferry baru. Juru bicara Transport for NSW mengatakan, persyaratan izin Camellia Railway Bridge dan Gasworks Bridge selalu dikenal dan dianggap sebagai bagian dari desain ferry.
Mereka menambahkan bahwa tidak ada rancangan kapal ferry dua tingkat yang bisa muat di bawah dua jembatan tersebut, dan bagian Sungai Parramatta merupakan medan yang sulit untuk kapal. Perkembangan itu terjadi bahwa beberapa ferry dalam armada yang sama ditemukan mengandung asbes.
Baca juga: Pernah Dengar dan Tahu Makna Ferry Flight? Simak Di Sini Jika Belum
Perjalanan perahu di sekitar Pelabuhan Sydney populer di kalangan wisatawan, meskipun arus pengunjung kota yang biasa terhambat oleh pandemi virus korona dalam beberapa bulan terakhir.
Bisnis pesawat purna tugas lama-kelamaan semakin diminati. Sebab, 6.000 pesawat dalam 20 tahun mendatang akan mencapai akhir jam terbangnya. Lantas pesawat tua dibuang ke mana? Sebagian mungkin bakal dibuang ke kuburan pesawat di Gurun Mojave, sebagian lagi didaur ulang dan dibuat jadi barang berharga.
Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A320 Lufthansa Dijual Rp429 Ribu!
Melihat hal itu, riset di Eropa coba mencari teknik pembuangan yang paling ekonomis dan ramah lingkungan. Hal itu dikarenakan pesawat dibuat dari 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Jadi, terlalu sayang untuk dibuang begitu saja, selain untuk menyelamatkan lingkungan.
Valliere Aviation, salah satu raksasa daur ulang pesawat tua di Eropa, mengerti betul betapa menggiurkannya pesawat tua. Biasanya pesawat tua dihancurkan, dibersihkan dari komponen radioaktif sesuai panduan hijau Eropa, diklasifikasikan, dan diteliti bagian mana saja yang masih bisa dipertahankan, seperti suku cadang berharga, roda pendaratan, mesin, dan peralatan avionik.
Boeing 747-400 B-HUJ Cathay Pacific saat sedang proses daur ulang. Foto: Aviationtag
Semua itu untuk dijual kembali di pasar suku cadang internasional. Namun, itu bukan bisnis satu-satunya. Di Eropa, tepatnya di Jerman, pesawat purna tugas dibongkar dan dijadikan souvenir atau gantungan kunci oleh Aviationtag. Salah satu produk souvenir atau gantungan kunci perusahaan tersebut datang dari pesawat legendaris Uniform Juliet Boeing 747-400 B-HUJ Cathay Pacific.
Melalui situs aviationtag.com, perusahaan yang berbasis di Cologne, Jerman, itu selain hendak menyelamatkan lingkungan dengan menghindari penumpukan pesawat-pesawat bekas yang jumlahnya jutaan di dunia, mereka juga melihat minat tinggi para pecinta penerbangan untuk mengabadikan pesawat favoritnya sekalipun dalam bentuk yang lebih kecil; tak terkecuali Queen of the Skies B-HUJ Cathay Pacific.
Gantungan kunci dari pesawat itu sendiri dijual dengan harga cukup terjangkau, sebesar Rp525 ribu (kurs 17.489).Cukup mahal memang bila dibanding dengan pesawat superjumbo dari Airbus, A380, yang dijual seharga Rp415.000 atau €27.95. Namun, harga segitu sebetulnya masih masuk akal bila dilihat dari rekam jejak pesawat.
Gantungan kunci Boeing 747-400 B-HUJ Cathay Pacific. Foto: Aviationtag
Boeing 747-400 B-HUJ Cathay Pacific diketahui melakukan penerbangan terakhir pada 1 Oktober 2016. Pesawat tersebut pensiun setelah terbang selama 21 tahun, mengangkut 4,3 juta penumpang dan merengkuh 53 juta miles.
Cathay Pacific B-HUJ diketahui amat berharga dalam barisan armada maskapai asal Hong Kong tersebut. Salah satu yang paling monumental adalah tatkala pada 1998 lalu, pesawat tersebut mencetak penerbangan transpolar terpanjang (the longest transpolar flight) rute New York-Hong Kong sejauh 13.824 km.
Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A380 Dijual Rp415 Ribu!
Tak cukup sampai di situ, di momen tersebut, Queen of the Skies B-HUJ Cathay Pacific juga menjadi pesawat pertama yang diberi keistimewaan mendarat di Bandara Internasional Hong Kong setelah melahap perjalanan panjang mencapai 15 jam 35 menit.
Dengan berbagai keistimewaan tersebut, wajar bila gantungan kunci dari badan pesawat legendaris Uniform Juliet Boeing 747-400 B-HUJ Cathay Pacific dibanderol seharga itu. Namun, bagi para pecinta pesawat tersebut, masih cukup worth it, bukan?
Taksi adalah salah satu moda transportasi yang banyak dipilih banyak orang. Selain lebih nyaman karena hanya berisi penumpang bersama keluarga atau sendiri, menggunakan taksi juga bisa memudahkan penumpang tiba lebih cepat di banding transportasi massal lainnya.
Baca juga: Taksi dengan Hiasan Lampu Natal di Raleigh Telah Kehilangan Pemiliknya
Untuk mengetahui taksi tersebut berpenumpang atau tidak, di bagian atas mobil biasanya ada lampu yang terpasang. Biasanya ketika taksi dalam keadaan berisi penumpang lampu di atas akan mati dan nyala ketika kosong. KabarPenumpang.com melansir dari laman koreabizwire.com, di Seoul lampu di atas atau lampu kubah taksi akan diganti menjadi lebih besar dari ukuran sebelumnya.
Bahkan lampu ini akan menawarkan fungsionalitas yang lebih besar juga. Pemerintah Metropolitas Seoul mengatakan, akan mendorong proyek percontohan untuk meningkatkan lampu taksi bagi 200 armada pada paruh pertama tahun ini. Di mana mereka akan memperbesar ukuran kubah lampu yang dipasang di atap taksi.
“Ini agar lebih mudah membedakan antara mobil kosong atau berisi, serta memberikan berbagai informasi lingkungan, seperti tingkat debu dan polusi yang bertebaran di udara,” ujar Pemerintah Metropolis Seoul.
Ukuran lampu taksi dome ini akan dikurangi dari lebar 40 cm menjadi 36 cm di bagian depan. Sedangkan panjangnya lampu akan lebih tiga kali lipat dari yang sebelumnya 14 cm menjadi 46 cm. Tak hanya itu, teknologi LED juga akan diintegrasikan ke dalam bagian yang diperbesar untuk menunjukkan apakah kendaraan kosong, dipesan atau tutup hari ini.
Lampu interior taksi yang sebelumnya menunjukkan kosong atau dipesan, akan diintegrasikan dengan lampu eksternal. Selain itu, panjang sisi luar indikator juga akan bertambah hampir lima kali lipat dari 25 cm menjadi 122 cm. Panel LCD dan berbagai sensor juga akan dipasang di sisi taksi baru.
Nantinya di panel tersebut juga akan tertera informasi cuaca dengan waktu real time dan informasi bencana darurat serta iklan layanan publik dan promosi kota serta iklan usaha kecil. Untuk meminimalkan polusi cahaya dan gangguan visual dengan kendaraan lain, hanya akan ada gambar stastis yang akan ditampilkan dan standar kecerahan akan diterapkan.
Baca juga: Dulu Taksi Kondang dengan Cat Warna Kuning, Inilah Asal Muasalnya
Selain itu, kota berencana untuk mencegah pengemudi taksi memanipulasi indikator dengan menghubungkannya dengan pengukur aplikasi untuk mencegah mereka menandai mobil kosong sebagai “dipesan”. Saat ini, pengemudi taksi kerap memanipulasi lampu untuk menjemput penumpang jarak jauh.
Penerbangan Delta Airline dari Bandara LaGuardia di New York City harus tertunda selama 40 menit. Hal ini terjadi karena dua orang wanita muda saling adu jotos ketika berada di garbarata yang menuju pintu pesawat.
Baca juga:Duel Garbarata dan Tangga Manual: Siapa Yang Akan Menang?
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (31/8/2020), insiden adu jotos antar dua penumpang wanita ini terjadi pada hari Minggu (30/8/2020). Dalam sebuah video yang di rekam oleh seorang penumpang bernama Destiny Davis, dua wanita ini mulai memukul satu sama lain di jembatan menuju ke pesawat.
Kemudian seorang awak kabin yang melihat kejadian tersebut memberitahukan kepada petugas keamanan terkait insiden itu. Dia mengatakan mereka berkelahi dan penumpang lain yang menonton diminta untuk masuk ke dalam pesawat.
Meski begitu kedua wanita tersebut masih terus adu jotos dan saling memukul di kepala dan satu lagi mendorong ke dinding sebelum keduanya terjatuh. Wanita muda dengan celana abu-abu berada di atas wanita dengan celana merah muda dan terus menerus memukulnya berulang kali.
Setelah itu terdengar seorang berkata, “Aliyah sedang bertempur,” yang kemudian muncul seorang wanita berbaju putih menerobos kerumunan penumpang untuk melihat adu jotos antar dua wanita muda tersebut. Wanita berbaju putih itu langsung berjalan menuju kedua wanita muda tersebut sambil berteriak ‘Aaliyah! Berhenti berhenti!
Selain itu, seorang pria dari belakang bergegas membantu memisahkan keduanya. Davis mengatakan, kedua wanita muda yang bertarung tersebut saling terkait yakni sepupu atau saudara perempuan.
“Begitu mereka mulai berkelahi, hanya ada sedikit intervensi dan polisi butuh beberapa saat untuk muncul di gerbang kami,” kata Davis.
Baca juga: Salah Paham, Penumpang IndiGo Airways Adu Jotos dengan Petugas di Apron
Dia mengatakan, polisi membawa mereka keluar dengan damai dan pesawat tertunda hampir 30 hingga 40 menit dan penumpang lain harus menunggu mereka menemukan bagasi kedua wanita muda tersebut sebelum berangkat. Diketahui, video rekaman tersebut berhenti sebelum ada solusi untuk keduanya.
“Keduanya tidak diizinkan untuk naik,” tambah Davis.
Update kasus virus corona di dunia semakin mengkhawatirkan. Per hari ini, sudah ada total 25,8 juta orang terjangkit Covid-19 di seluruh dunia, dengan 17,1 juta di antaranya sembuh dan sisanya, 859 ribu jiwa meninggal dunia.
Baca juga: Dorong Warga Pakai Masker, Jerman Larang Penggunaan Deodoran di Transportasi Umum
Setelah enam bulan, perkembangan pandemi virus yang diduga berasal dari Wuhan, Cina ini belum ada tanda-tanda melambat atau bahkan musnah dari muka bumi. Betapa tidak, belakangan, laporan mutasi virus corona yang disebut 10 kali lebih kuat terdengar dimana-mana. Belum lagi vaksin virus corona yang masih belum tersedia hingga temuan reinfeksi (terinfeksi dua kali) di beberapa negara, mau tak mau makin membuat dunia menjadi waspada.
Selagi belum tersedia vaksin, tak ada yang bisa dilakukan masyarakat dalam mencegah penyebaran virus corona kecuali menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker dengan benar, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah. Dari ketiga itu, para peneliti menyebut masker menjadi kunci dunia dalam menahan laju penyebaran corona.
Atas dasar tersebut, dunia pun berpacu dengan waktu untuk terus mengkampanyekan penggunaan masker dengan beragam cara, salah satunya lewat media pesawat.
Belum lama ini, sebuah pesawat Boeing 747-8 Cargolux Airlines terlihat mengenakan ‘masker’ dalam upaya melawan virus corona. Pesawat dengan nomor penerbangan CLX 7952 tersebut kedapatan mengenakan ‘masker’ yang menutupi hidung pesawat, saat mendarat di Bandara Changi, Singapura, pada Kamis, 27 Agustus lalu; atau empat bulan pasca penggunaan masker diwajibkan di seluruh dunia sejak 14 April.
Dilansir straitstimes.com, pesawat mengenakan ‘masker’ tersebut merupakan yang pertama mendarat di Bandara Changi. Sebelumnya, Boeing 747-8 Cargolux Airlines terlebih dahulu melaksanakan perawatan rutin di Taipei dan transit di Changi sebelum kembali ke basis mereka di Luksemburg via Baku, Azerbaijan.
Momen pesawat Boeing 747-8 Cargolux Airlines mengenakan masker ini benar-benar spesial sampai Perdana Menteri Luksemburg, Xavier Bettel dan Wakilnya, François Bausch, menyempatkan diri untuk melakukan prosesi penyambutan pesawat secara sederhana.
Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Cargolux mengatakan, pesawat bermasker tersebut untuk menujukkan partisipasi perusahaan dalam “mengkampanyekan penggunaan masker bersama pemerintah Luksemburg di tengah-tengah pandemi corona seperti sekarang ini,” jelasnya.
Baca juga: Duuh.. Penumpang Pesawat ini Gunakan Pakaian Dalam Sebagai Masker Wajah
Sebelum pesawat dengan livery dominan putih bertuliskan “Not Without My Mask” dan dilengkapi cat biru menyerupai masker di bagian hidung ini tampil, sudah lebih dahulu marak di media sosial pesawat menggunakan masker di bagian hidung, persis menyerupai ‘masker’ Boeing 747-8 Cargolux Airlines saat ini. Hanya saja, gambar (pesawat bermasker) yang beredar di media sosial merupakan hasil editan, bukan fakta di lapangan.
Penggunaan masker pada pesawat Boeing 747-8 Cargolux Airlines tentu bukan yang pertama di dunia. Sebelumnya, Pobeda Airlines (anak perusahaan Aeroflot, Rusia) dan United Airlines sudah lebih dahulu mengenakan masker di bagian hidung pesawat.
Pasca Perang Dunia II berakhir, dunia berlomba membuat pesawat sipil komuter, baik untuk kebutuhan dalam maupun luar negeri. Inggris bahkan sampai harus membentuk Komite Brabazon pada tahun 1942 untuk menganalisis kebutuhan masa depan pasar pesawat sipil Inggris setelah Perang Dunia II. Selama masa baktinya, komite tersebut turut mensukseskan kehadiran pesawat turboprop pertama di dunia, Vickers Viscount.
Baca juga: Vickers Viscount, Pesawat Turboprop Pertama di Dunia
Dilansir travelupdate.com, kehadiran pesawat besutan Vickers-Armstrongs ini dinilai mampu mengubah tren penerbangan global saat itu. Menurut sebuah buku terbitan Australia, Vickers Viscount mampu menghadirkan apa yang disebut “Viscount Jump”, yakni sebuah perubahan besar dimana penumpang merasakan kenyamanan lebih selama di pesawat. Turunan dari itu, rute-rute regional di seluruh dunia -ada lebih 40 negara di dunia yang mengoperasikan keluarga Vickers- menjadi semakin ramai penumpang.
Vickers Viscount sukses menggebrak pasar regional setelah pada 18 April 1953, Vickers Viscount BEA dengan nomor registrasi G-AMNY mulai masuk ke dalam layanan dengan menempuh rute London-Siprus. Momen itu pun mengukuhkanya sebagai layanan berjadwal turboprop pertama di dunia.
Dalam rentang 1948 -1963, sebanyak 445 Vickers Viscount diproduksi. Dengan jumlah tersebut, Vickers Viscount menjadi pesawat pertama yang sukses dan menguntungkan setelah Perang Dunia II. Pelanggan terbesar tentu datang dari maskapai domestik sebanyak 77 unit. Sisanya, tersebar di 40 negara melalui lebih dari 60 operator. Umumnya, Eropa dan Amerika Utara masih menjadi pasar terbesar Vickers Viscount. Di negara-negara pengguna, Vickers Viscount didapuk menjadi pesawat komuter domestik andalan, pengganti Douglas Dakota DC-3 yang dinilai telah usang.
Tak mau larut dalam hegemoni, Vickers-Armstrongs mengembangkan Vickers Viscount. Dikutip dari baesystems.com, Vickers Vanguard dan berhasil terbang perdana pada 20 Januari 1959. Berbeda dengan pendahulunya, Vickers Vanguard mampu mengangkut hingga 139 penumpang; jauh lebih banyak. Tak hanya itu, pesawat juga mampu melaju sampai 684 km per jam lewat mesin baru turboprop Rolls-Royce Tyne.
Hanya saja, dari segi ketinggian dan jangkauan terbang, Vickers Vanguard tak lebih mapan dari saudara kandungnya, dengan hanya mencapai ketinggian 4,600 m dan range 2,950 km. Hal itulah jawaban mengapa jenis kedua dari keluarga Vickers ini hanya diproduksi sebanyak 44 unit (selain memang era turboprop sudah usai dan digantikan oleh mesin jet), jauh dibanding Vickers Viscount yang mencapai 445 unit di 40 negara.
Namun demikian, kapasitas menjadi andalan Vickers Vanguard yang bisa dimanfaatkan oleh puluhan operator di sembilan negara dan menjadikan pesawat sebagai komuter andalan, salah satunya Indonesia.
Di Indonesia, ada tiga operator pengguna Vickers Vanguard, mulai dari Airfast Service, Angkasa Civil Air Transport, dan Merpati Nusantara Airlines (MNA). Ketiga maskapai tersebut seluruhnya menikmati masa-masa kejayaan bersama Vickers Vanguard, khususnya MNA.
Dilansir majalah Angkasa No. 1 Tahun 1972, sebagaimana dikutip dari aviahistoria.com, MNA bahkan mengoperasikan Vickers Vanguard sampai tiga kali dalam sepekan untuk penerbangan Jakarta-Medan. Cukup banyak untuk ukuran saat itu. Kemudian, MNA juga menjadikan Vickers Vanguard sebagai pesawat komuter domestik andalan.
Di samping cerita baik, sepak terjang Vickers Vanguard selama berkarir di Indonesia juga punya cerita buruk. Salah satu yang lekat dalam ingatan ialah insiden kecelakaan Vickers Vanguard di Samudera Hindia.
Baca juga: Minta Tebusan Rp20Juta dan Parasut, Inilah Kronologi Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia
Kala itu, 10 November 1971, Vickers Vanguard MNA, dengan nomor registrasi PK-MVS, jatuh di Samudera Hindia, tepatnya di lepas pantai Padang, Sumatera Barat. Pesawat diketahui jatuh akibat cuaca buruk, tak lama setelah melaporkan masalah ke ATC. Sebanyak 69 orang, terdiri dari penumpang dan kru, tewas.
Tak cukup sampai di situ, setahun berselang, pembajakan pesawat pertama di Indonesia terjadi dan melibatkan Vickers Vanguard. Pada 15 April 1972, MNA dengan nomor penerbangan MZ-171 rute Manado–Makassar–Surabaya–Jakarta ini dibajak dan dipaksa mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Pembajakan dilakukan oleh seorang desertir KKO (Korps Marinir) TNI AL yang bernama Hermawan Hardjanto.
Sebelum kemunculan Airbus Helicopters pada medio 90an, jagat helikopter dunia rata-rata dihiasi oleh pabrikan Bell Helicopter (Bell Textron). Penggunaannya cukup beragam, mulai dari bisnis hingga kepentingan penegakan hukum oleh pihak kepolisian.
Baca juga: Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Helikopter Pertama yang Berhasil Keliling Dunia Berangkat! Butuh Waktu Hampir Sebulan
Di Indonesia, helikopter Bell sudah begitu melekat. Selain kerap digunakan TNI, helikopter Bell juga sudah lama digunakan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Bell 206 JetRanger yang bertengger di Museum Polri mungkin bisa jadi salah satu buktinya.
Akan tetapi, di luar penggunaan sebagai penegakan hukum dan bisnis, helikopter Bell juga pernah menjadi helikopter pertama yang berhasil keliling dunia. Kala itu, dari 20 lebih varian, helikopter Bell 206L-1 LongRanger II yang menjadi aktornya.
Dilansir airliners.net, pengembangan jenis LongRanger dimulai pada September 1973 dan memulai penerbangan pada 11 September 1974 serta diproduksi setahun berikutnya. Helikopter hasil pengembangan dari JetRanger ini menawarkan utilitas yang lebih besar atau mengangkut dua penumpang lebih banyak dengan bobot yang lebih ringan.
Mulai dari versi awal 206L LongRanger I dan versi selanjutnya Bell 206L1 LongRanger II, 206L3 LongRanger III, dan 206L4 LongRanger IV, kesemua itu disebutkan menjadi primadona untuk transportasi perusahaan, pribadi, kepolisian, hingga pelayanan medis berkat keunggulan tersebut (utilitas lebih besar dan bobot lebih ringan).
Bell 206L1 LongRanger II sendiri mulai dipamerkan ke publik pada 1978 atau empat tahun sebelum helikopter tersebut dibawa berkeliling dunia oleh H. Ross Perot, Jr. dan Jay W. Coburn pada Rabu, 1 September 1982. Perlu dicatat, untuk kebutuhan keliling dunia, helikopter itu banyak melalui proses modifikasi, termasuk tangki bahan bakar yang jauh lebih besar.
Helikopter yang dibekali mesin 250-C28B dan 250-C30P ini memiliki panjang tujuh meter lebih, tinggi tiga meter, 2,3 meter, serta dimensi rotor mencapai 11.28m . Bell 206L1 LongRanger II mampu memuat lima penumpang dan dua kru dengan berat lepas landas maksimum mencapai 1.882 kg. Dalam konfigurasi medis, helikopter mampu memuat dua petugas medis dan dua tandu.
Baca juga: Indonesia Terima Helikopter Airbus Lewat Skema e-Delivery Pertama di Asia Pasifik
Umumnya, Bell 206L1 LongRanger II mampu menempuh jarak sejauh 563 km dengan dibekali oleh sekitar 98 galon bahan bakar. Bell 206L1 LongRanger II biasanya terbang dengan kecepatan 241km per jam pada ketinggian 1.615 m dan mencapai batasnya pada ketinggian 5.791. Namun, jarang sekali pilot penerbangkan sampai di ketinggian itu karena terlalu berisiko. Itupun tergantung kondisi. Bisa saja, sebelum mencapai ketinggian tersebut, bisa saja mesin kelelahan (engine fatigue) dan berakibat fatal.
Di seluruh dunia, Bell 206L LongRanger terjual lebih dari 1.600 unit, baik versi awal maupun versi terakhir, dengan sebagian kecil digunakan untuk keperluan militer.
Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah atau low-cost carrier (LCC) milik Singapore Airlines Group, berencana memulai penerbangan langsung ke Singapura dari dua destinasi baru di Indonesia – Yogyakarta (YIA) dan Semarang (SRG). Penerbangan ke dua destinasi tersebut dapat dipesan melalui situs web Scoot, aplikasi seluler, dan agen perjalanan terdaftar.
Baca juga: Scoot Ubah Airbus A320ceo dari Pesawat Penumpang Jadi Pengangkut Kargo
Yogyakarta akan menjadi destinasi baru dengan penerbangan perdana dijadwalkan pada 29 September 2020. Sedangkan penerbangan dari Semarang dijadwalkan tentatif untuk diluncurkan pada Oktober 2020. Jadwal dapat berubah tergantung kebijakan regulator dan perkembangan Covid-19. Rute baru, yang akan dioperasikan oleh kelompok pesawat berbadan sempit (narrow-body) Airbus A320 milik Scoot, diambil alih dari maskapai segrup, SilkAir yang diumumkan pada November 2018.
Penerbangan dari Pekanbaru dan Palembang ke Singapura yang dihentikan sementara sejak Maret 2020 karena Covid-19 juga akan kembali beroperasi mulai 17 dan 22 September 2020, menyusul kembali beroperasinya penerbangan dari Singapura ke Surabaya mulai Juli 2020.
Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (2/9/2020), Chief Commercial Officer Scoot, Calvin Chan, mengatakan, “Pembukaan rute-rute ini bertujuan untuk melayani penumpang yang harus melakukan perjalanan penting, seperti repatriasi, perjalanan dinas, dan perjalanan kerja. Penumpang dapat yakin bahwa keselamatan mereka selama perjalanan adalah yang terpenting bagi kami, dan kami akan terus memastikan bahwa penumpang dapat memesan tiket Scoot dengan pikiran yang tenang.”
Agar penumpang dapat mengantisipasi perubahan rencana perjalanan mereka karena Covid-19, Scoot telah memperpanjang kebijakan perubahan-tanggal-gratis satu kali untuk setiap pemesanan baru sampai akhir November 2020.
Baca juga: Mulai 17 Juli, Scoot Kembali Buka Rute Surabaya-Singapura
Bagi penumpang yang terkena pembatalan penerbangan, Scoot menawarkan pengembalian dana dalam bentuk uang tunai maupun voucer kepada penumpang: Pengembalian dana 100 persen melalui metode pembayaran yang digunakan oleh penumpang, atau pengembalian dana 120 persen dalam bentuk voucer Scoot dan berlaku selama 24 bulan