Center Console Airbus A350 Kini Tahan Cairan
Setelah membuat larangan cairan/minuman di dalam kokpit dan mengembangkan removable cover atau penutup yang bisa dilepas dan dipasang untuk melindungi panel-panel kontrol di kokpit dari tumpahan kopi, teh, atau cairan lainnya, kini Airbus tengah memasuki tahap akhir dalam upaya melindungi panel dari tumpahan dengan mengembangkan fitur liquid-resistant integrated flight panel.
Baca juga: Airbus Kembangkan Fitur Anti Tumpahan di Kokpit Lindungi Centre Pedestal
Dikutip dari avweb.com, desain ulang fitur liquid-resistant integrated flight panel atau panel terintegrasi anti tumpahan menjamin center pedestal atau center console tahan air dan tidak akan membuat mesin mati (jika terkena tumpahan), sebagaimana kasus tumpahan pada A350 Delta Airlines dan Asiana Airlines Januari dan November lalu.
Pada kedua kasus tersebut, tumpahan minuman ke panel kontrol centre pedestal di kedua kokpit, masing-masing telah membuat engine shutdown atau mesin mati dan tidak dapat direstart. Beruntung pesawat masih bisa didaratkan dengan selamat. Tak lama setelah dua insiden tersebut, Airbus pun merevisi aircraft flight manual, sejenis buku panduan pilot dan co-pilot, yang pada intinya memperketat aturan zona larangan adanya minuman di kokpit.
Dengan adanya inovasi berupa removable cover di kokpit serta adanya zona larangan adanya minuman di kokpit, diharapkan dua kejadian yang melibatkan Delta Air Lines dan Asian Airlines atau kejadian lainnya yang melibatkan A330 Condor Airlines tidak terulang lagi.
Namun demikian, karena removable cover tidak statis, artinya masih ada kemungkinan hilang, atau mungkin pula rusak. Bila salah satu dari dua keadaan tersebut terjadi, tidak ada cara lain kecuali memperketat aturan zona larangan cairan, selain tentu saja mendorong kesadaran pilot untuk patuh pada aturan tersebut.
Akan tetapi, bilapun pilot masih tidak patuh dan removable cover hilang atau rusak, kini pesawat akan tetap aman dengan sentuhan baru nerve center untuk membuat liquid-resistant integrated flight panel sesuai petunjuk terbaru EASA yang akan segera diumumkan. Bersamaan dengan mandat terbaru EASA soal liquid-resistant integrated flight panel, belum diketahui secara pasti apakah juga akan mendorong berbagai perubahan, termasuk desain cup holders yang lebih besar di sebelah kanan dan kiri pilot co-pilot atau tidak.
Pengembangan liquid-resistant integrated flight panel juga sekaligus menjawab keraguan berbagai pihak, tak terkecuali di Indonesia. Menurut seorang captain pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, dalam sebuah diskusi daring, sebetulnya, tanpa ada embel-embel alasan apapun, bisa saja dibuat instrument anti tumpahan. Namun, bila melihat beberapa pertimbangan, seperti bobot, biaya, dan komplikasi, hal itu masih sulit diterapkan.
Baca juga: Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350
Kemudian, ia juga menyoroti bahwa sebetulnya dengan aturan main yang ada seharusnya sudah bisa menghindari terjadinya insiden itu. Hanya saja, karena aturan dilanggar, seperti tidak boleh ada minuman di atas atau di dekat center pedestal, entah sengaja atau tidak, insiden pun terjadi.
Padahal, dalam catatannya, dari database ASRS dan safety reporting NASA, insiden seperti itu rupanya sudah lumrah terjadi dan tidak hanya menimpa Airbus A350 dan kedua maskapai di atas. Meski demikian, lagi-lagi, ketidakdisiplinan kru kokpit ataupun kru kabin membuat insiden tersebut terus berulang hingga kini.
Sering Goda Orang Tak Dikenal di Jalanan? Hati-hati Anda Bisa Terjerat “Catcalling”
Anda sering dipanggil atau dipuji oleh orang yang tidak di kenal ketika tengah berada di stasiun, di halte atau di jalan? Biasanya ini terjadi lebih banyak kepada wanita dan dilakukan oleh para pria sebagai bentuk candaan atau keisengan belaka.
Baca juga: Duh! Pesan Berbau Pelecehan Seksual Diterima Penumpang Lewat In-Flight Entertainment
Para pria melakukannya kerap kali dengan cara spontan sembari tertawa dan segera melupakannya setelah melakukan hal tersebut. Padahal yang dilakukan ini bukanlah tindakan yang lucu dan godaan verbal di jalanan ini bisa disebut dengan catcalling yang merupakan perbuatan sangat mengganggu serta membuat wanita yang mengalaminya merasa tidak nyaman.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, catcalling secara harafiah diartikan sebagai siulan dan kenyataannya bisa terjadi dalam berbagai bentuk verbal atau ucapan. Contohnya seperti menggoda wanita ketika baru turun dari kendaraan umum, memanggil atau melontarkan ucapan yang bernada seksual.
Catcalling sendiri ternyata terjadi pada wanita yang menggunakan pakaian tertutup seperti menggunakan celana atau rok panjang, memakai baju dengan lengan panjang, seragam sekolah, bahkan yang menggunakan hijab. Jadi bisa dikatakan pelecehan terjadi bukan karena wanita menggunakan pakaian terbuka atau karena keluyuran pada malam hari.
Namun semua tindakan ini bisa termasuk catcalling atau tidak tergantung yang menanggapinya. Jika seseorang itu terganggu dengan siulan atau bernada seksual maka termasuk dengan catcalling tetapi jika tidak ini tak masalah.
Ternyata catcalling ini merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual dan termasuk dalam 15 bentuk kekerasan seksual menurut Komnas Perempuan di Indonesia. Di beberapa negara dunia, tindakan catcalling sendiri termasuk perbuatan melanggar hukum dan pelakunya dapat dijatuhi hukuman mulai dari denda yang cukup tinggi hingga ancaman penjara.
Sampai saat ini ada enam negara yang sudah memiliki undang-undang yang mengatur pelecehan jalanan yakni Belgia, Portugal, Argentina, Kanada, New Zealand dan Amerika Serikat. Pada 1 Januari 2018, Belanda mulai memberlakukan undang-undang yang menyatakan bahwa pelaku catcalling adalah perbuatan kriminal dan akan dikenakan denda maksimum 8200 euro (Rp143 juta) atau tiga bulan penjara.
Setelah undang-undang ini diberlakukan, para pelaku dapat dilacak untuk kemudian diperiksa dan dijatuhi hukuman. Beberapa wilayah di Belanda, seperti Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag bahkan telah menambahkan pasal bahwa mengintimidasi perempuan dan kaum homoseksual merupakan tindak kejahatan.
Nah, apakah di Indonesia sudah ada jerat hukum untuk pelaku catcalling? Sayangnya sampai saat ini belum ada dasar hukum yang jelas untuk catcalling dan harus menggabungkan beberapa pasal untuk menyelesaikannya. Dalam Pasal 35 dalam UU No.4/2008 menjabarkan hukuman bagi mereka yang melanggar aturan yang tertulis dalam Pasal 9 UU No.4.
Baca juga: Penumpang Tandai Pelaku Pelecehan Seksual di Kereta dengan Stempel Anti-Groping
Mereka yang menjadikan orang lain sebagai objek pornografi dapat dikenakan pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 12 tahun dan/atau pidana denda sebesar Rp500 juta sampai Rp6 miliar.
Ini Loh Cara Pintar Tak Perlu Bayar Bagasi Tambahan
Banyak penumpang pesawat yang harus mengeluarkan biaya tambahan ketika bepergian menggunakan pesawat terbang berbiaya hemat. Biasanya ini dikarenakan penumpang membawa bagasi melebihi berat yang diperbolehkan. Sehingga kelebihan tersebut harus dibayarkan oleh penumpang.
Baca juga: Agar Penerbangan Nyaman, Inilah Tips Bawa Koper ke Dalam Bagasi Kabin
Untuk menghindari pembayaran biaya yang lebih dari harga tiket pesawat, penumpang bisa melakukan berbagai macam cara. Berikut ini ada beberapa cara cerdas yang bisa dilakukan penumpang agar tidak membayar kelebihan biaya bagasi dan sudah dirangkum oleh KabarPenumpang.com dari smarttravel.co.
#1 Kebijakan maskapai
Sebelum bepergian, baiknya Anda sebagai penumpang tidak lupa mengecek kebijakan bagasi yang dikeluarkan oleh maskapai. Karena setiap maskapai memiliki biaya yang berbeda dan sering berubah tergantung dari tujuan, tanggal penerbangan, jumlah tas, berat dan ukuran tas. Ini bisa membuat Anda lebih jeli ketika naik penerbangan berbiaya hemat yang mana tidak lagi lerlu mengeluarkan biaya tambahan karena kelebihan bagasi.
Beberapa maskapai seperti Southwest Airlines mengizinkan dua tas bagasi gratis untuk penumpang. JetBlue mengizinkan satu tas bagasi untuk semua kelas kecuali dengan tarif termurah. Biasanya biaya kelebihan bagasi bisa mencapai $28 hingga $65 tergantung kebijakan maskapai.
#2 Gabung sebagai member
Ini bisa menjadi salah satu solusi terbaik bagi seorang penumpang meski menggunakan maskapai berbiaya hemat. Sebab dengan menjadi seorang member maskapai, Anda bisa mendapatkan bagasi gratis dan mengikuti semua program untuk member. Bahkan bila mengumpulkan point setiap bepergian, ketika jumlahnya cukup bisa membuat Anda mendapatkan keuntungan lainnya ketika bepergian. Jangan lupa beberapa maskapai memberikan biaya tahunan pada para member sehingga baiknya dicek apakah sepadan dengan fasilitas yang diterima.
#3 Naik kereta
Ketika maskapai penerbangan menerapkan pembiayaan pada bagasi penumpang, kereta api memiliki hal berbeda. Kebijakan bagasi Amtrak menyatakan penumpang boleh membawa lebih dari dua koper tanpa terkena biaya. Tas tambahan yang dibawa pun akan dikenakan biaya lebih rendah yakni $20 per tas.
#4 Berat koper
Biaya kelebihan bagasi bisa lebih mahal dibandingkan dengan biaya dasar untuk bagasi terdaftar. Seperti American Airlines yang mengeluarkan biaya $100 untuk setiap bagasi terdaftar dengan berat 22,67 kg hingga 31 kg pada penerbangan domestik, atau sekitar $200 untuk barang lebih dari 31 kg. Untuk berjaga-jaga baiknya bawa timbangan portabel agar Anda bisa menimbang tas sebelum penerbangan pergi dan pulang.
#5 Kirim tas
Cara ini lebih tidak buruk karena biasanya lebih murah dibandingkan dengan biaya yang dikenakannmaskapai ketika Anda kelebihan bagasi. Gunakan layanan seperi FedEx, UPS dan USPS karena biaya yang dikenakan lebih standar dan terjangkau. Seperti FedEx mengenakan $62 untuk koper seberat 24,9 kg dari New York ke Chicago dengan pengiriman dalam dua hari kerja. Biaya ini lebih murah dibandingkan biaya kelebihan bagasi $100 pada beberapa maskapai besar. Dengan mengirimkan tas, Anda tak perlu repot mengantri di klaim bagasi.
#6 Tingkatkan bagasi
Penggunaan koper yang lebih ringan, bisa membuat bagasi yang akan Anda bawa tidak berlebihan. Biaya bagasi kelebihan berat, yang berlaku sekali jalan dan per tas, bisa mencapai ratusan dolar untuk beberapa perjalanan bagi penumpang yang tidak bepergian dengan ringan. Karena sebagian besar merek koper berkualitas tinggi dirancang agar ringan dan sangat tahan lama, merek ini dapat membantu pelancong yang sering bepergian menghindari biaya bagasi berlebih dari waktu ke waktu.
Baca juga: Ingin Hindari Pengeluaran Lebih Untuk Bagasi? Inilah Tips Ala Pramugari!
#7 Kemas Ringan dengan Produk Keren
Jika kesulitan memasukkan semuanya ke dalam tas jinjing, Anda mungkin memerlukan sedikit bantuan dari produk praktis seperti karung kompresi (kantong vakum), yang dapat memasukkan lebih banyak ke dalam ruang yang lebih sedikit. Atau simpan barang-barang penting di salah satu pakaian berkantong dari SCOTTeVEST, yang dirancang dengan cerdik dengan kompartemen tersembunyi yang menyimpan lebih dari yang Anda kira. Dan cari perlengkapan perjalanan yang licin dan dapat dilipat yang menghabiskan ruang koper minimal kapan pun Anda bisa; beberapa favorit saya termasuk Vapur Anti-Botol dan Bantal Travelrest tiup.
Mandala Airlines Akhirnya Bangkrut Walau Didukung Sandiaga Uno, Buntut Kecelakaan Flight 091?
Kecelakaan pesawat memang jadi malapetaka semua pihak. Bagi regulator, tentu kecelakaan (termasuk juga insiden penerbangan lainnya) mencoreng wajah penerbangan dalam negeri di mata internasional. Indonesia pernah berada pada posisi itu tatkala seluruh maskapai dalam negeri satupun tak diperbolehkan masuk ke Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) sejak 2007-2018 lalu.
Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Mandala Airlines Flight 091 Jatuh dan Menimpa Pemukiman Warga di Medan
Bagi maskapai penerbangan, kecelakaan pesawat tentu bakal menghilangkan rasa percaya segelintir atau sebagian penumpang untuk menggunakan jasa penerbangannya. Sudah begitu, mereka juga harus merogok kocek dalam-dalam untuk memberikan santunan (ganti-rugi) atas kecelakaan tersebut.
Belum lagi maskapai juga harus bertanggung jawab atas kerusakan pesawat ke pihak leasing. Tak jarang, besarnya uang yang dikeluarkan membuat finansial perusahaan menjadi tak stabil. Hal itulah yang diduga dialami oleh Mandala Airlines.
Dilansir dw.com, pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines flight RI 091 pada 5 September 2005 lalu dilaporkan jatuh dan menewaskan 149 orang, 100 berasal dari penumpang pesawat dan sisanya warga yang berada di darat, mengingat pesawat jatuh dan menghantam pemukiman warga, tak jauh dari Bandara Polonia, Medan.
Menurut Tempo, pihak Mandala Airlines memberikan santunan kepada korban kecelakaan pesawat flight 091 sebesar Rp300 juta perorang untuk korban meninggal. Sedangkan untuk korban luka-luka sebesar Rp 50 juta, dan Rp 300 juta bagi yang mengalami cacat tetap.
Sebetulnya angka tersebut masih jauh lebih kecil dibanding hasil Konvensi Montreal, dimana maskapai penerbangan harus memberikan kompensasi kepada penumpang atau keluarga penumpang sebesar 100.000 special drawing rights (SDR) untuk korban, baik cedera maupun meninggal. SDR sendiri adalah mata uang yang biasa digunakan IMF.
Konvensi Montreal juga mengatur mengenai ganti rugi atas barang yang diangkut pesawat yang mengalami kecelakaan. Jika barang yang diangkut hilang, rusak atau terlambat datang, maskapai wajib memberi kompensasi sebesar 17 SDR per kilogram.
Adapun menurut hukum di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan pada 8 Agustus 2011 mengeluarkan Permenhub No.PM 77/Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, yang diteken Menteri Freddy Numberi.
Aturan kompensasi angkutan udara tersebut juga telah disesuaikan dengan beleid lainnya seperti UU No.2/1992 tentang Perasuransian, UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan tentu saja UU No.1/2009 tentang Penerbangan. Berdasarkan Permenhub No.77 itu, korban jiwa karena kecelakaan pesawat mendapatkan santunan Rp1,25 miliar.
Bila sesuai Konvensi Montreal atau Permenhub, Mandala Airlines harusnya bisa mengeluarkan miliaran rupiah untuk satu korban tewas.
Baca juga: Saatnya Nostalgia, Ini Dia Lima Maskapai yang Sempat Mewarnai Langit Indonesia!
Namun, tetap saja, santunan sebesar Rp300 juta berarti memaksa Mandala Airlines mengeluarkan uang sebesar Rp44,5 miliar lebih. Belum lagi biaya kerusakan pesawat. Atas berbagai beban biaya itu pula-lah maskapai kemudian diduga terlilit hutang. Terbukti, enam tahun berselang, tepatnya pada Rabu, 11 Januari 2011, Mandala Airlines melakukan penerbangan terakhir sebelum menutup semua operasional.
Meskipun sempat kembali mengudara serta berganti nama jadi Tigerair Mandala setelah didukung Sandiaga Uno, melalui perusahaan investasi PT Saratoga Investment Group dan Tiger Airways Holding Limited dari Singapura, Mandala Airlines akhirnya harus benar-benar bangkrut pada 1 Juli 2014 dan bergabung dengan maskapai swasta nasional lainnya yang telah lebih dulu bangkrut, seperti Sempati Air, Bouraq Indonesia Airlines, Adam Air, dan Batavia Air.
34 Tahun Silam, Pan Am Flight 73 Dibajak dan Seorang Pramugari Dianugerahi Penghargaan Ashok Chakra
Sebuah pesawat Pan American World Airways Boeing 747-121 dengan penerbangan 73 dibajak 34 tahun yang lalu. Tepatnya 5 September 1986 ketika penerbangan Pan Am tersebut dari Bombay, India menuju ke New York, Amerika Serikat dibajak saat melakukan pemberhentiannya di Karachi, Pakistan. Pembajakan tersebut dilakukan oleh empat pria Palestina bersenjata di Organisasi Abu Nidal. Saat itu, pesawat baru saja tiba di Karachi pukul 04.30 waktu setempat. Pesawat membawa 394 penumpang, sembilan bayi, seorang awak pesawat Amerika dan 13 pramugari India.
Baca juga: Neerja Bhanot – Mengenang Tameng Hidup Tragedi Pan Am Penerbangan 73
Kemudian sebanyak 109 penumpang turun di Karachi dan bus pertama penumpang baru mencapai pesawat di landasan ketika pembajakan mulai terjadi. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, dua pembajak dari Pasukan Keamanan Bandara Pakistan menuju ke pesawat dengan van yang dilengkapi sirene dan lampu berkedip. Kemudian melepaskan tembakan ke udara dan naik tangga pesawat di mana dua pembajak lainnya bergabung dengan salah satunya menggunakan shalwar kameez Pakistan serta membawa koper penuh granat.
Para pembajak tersebut melepaskan tembakan ke kaki dari salah seorang pramugari yang memaksanya menutup pintu. Pramugari lainnya Neerja Bhanot yang tak terlihat oleh pembajak mengirimkan kode pembajakan ke pilot yang keluar dari pesawat melalui Perangkat Pelarian Reel Inersia. Keluarnya pilot, membuat pesawat yang sudah dalam kendali pembajak selama 40 menit tidak bisa bergerak.
Keempat pembajak itu kemudian diidentifikasi sebagai Zayd Hassan Abd al-Latif Safarini (Safarini, alias “Mustafa”), Jamal Saeed Abdul Rahim (alias “Fahad”), Muhammad Abdullah Khalil Hussain ar-Rahayyal (“Khalil”), dan Muhammad Ahmed Al-Munawar (alias “Mansoor”). Dalam waktu singkat setelah merebut kendali pesawat, pemimpin pembajak Safarini menyadari bahwa awak kokpit telah melarikan diri dan karena itu dia akan dipaksa untuk bernegosiasi dengan petugas.
Penumpang kelas satu dan bisnis diperintahkan menuju bagian belakang pesawat dan pada saat yang sama, penumpang di bagian belakang pesawat diperintahkan maju. Karena pesawat hampir penuh, penumpang duduk di lorong, dapur kecil dan pintu keluar. Sekitar pukul 10.00 pagi, Safarini naik pesawat dan tiba di kursi Rajesh Kumar, seorang warga Indian Amerika berusia 29 tahun.
Safarini memerintahkan Kumar untuk maju ke depan pesawat, berlutut di depan pintu pesawat dan menghadap ke depan pesawat dengan tangan di belakang kepala. Safarini bernegosiasi dengan pejabat, khususnya Viraf Daroga, kepala operasi Pan Am Pakistan, menyatakan bahwa jika awak pesawat tidak dikirim dalam waktu 30 menit, maka Kumar akan ditembak.
Karena tak sabar menunggu petugas, Safarini menembak bagian kepala Kumar di depan semua orang baik yang berada di dalam kabin pesawat maupun di luar. Safarini mendorong Kumar keluar dari pintu ke jalan di bawah. Personil Pakistan di jalan melaporkan bahwa Kumar masih bernafas ketika dia ditempatkan di ambulans, tetapi dia dinyatakan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit di Karachi.
Safarini bergabung dengan para pembajak dan memerintahkan pramugari, Sunshine Vesuwala dan Madhvi Bahuguna, untuk mulai mengumpulkan paspor. Mereka memenuhi permintaan ini dan selama pengumpulan paspor, penumpang yang memiliki paspor Amerika akan dipilih oleh para pembajak, pramugari melanjutkan untuk menyembunyikan beberapa paspor Amerika di bawah kursi, dan membuang sisanya ke saluran sampah.
Kebuntuan pembajakan berlanjut hingga malam dan selama itu Dick Melhart diposisikan di dekat pintu dan mampu membukanya saat penembakan dimulai. Sekitar pukul 21.00 unit daya tambahan dimatikan, semua lampu dimatikan dan lampu darurat menyala. Penumpang di depan diperintahkan ke belakang, sedangkan penumpang di belakang diperintahkan maju.
Berhubung gang sudah penuh, penumpang yang berdiri itu hanya duduk. Dengan pesawat padam dan duduk di dekat kegelapan, seorang pembajak di pintu L1 mengucapkan doa dan kemudian bertujuan untuk menembak sabuk bahan peledak yang dikenakan oleh pembajak lain di dekat pintu. Tujuannya adalah untuk menimbulkan ledakan yang cukup masif untuk membunuh semua penumpang dan awak di dalamnya, serta diri mereka sendiri.
Namun, karena kabin gelap, pembajak meleset, menyebabkan ledakan kecil. Segera para pembajak mulai menembakkan senjata mereka ke kabin ke arah penumpang dan berusaha melemparkan granat mereka. Sekali lagi kekurangan cahaya menyebabkan mereka tidak menarik pin sepenuhnya dan hanya membuat ledakan kecil.
Hingga akhirnya pembajak menembakkan peluru pistol mereka dan memantul dari permukaan kabin sehingga membuat pecahan yang melumpuhkan. Seorang pramugari di pintu L3 membuka pintu meskipun perosotan tidak menyebar, beberapa penumpang dan awak melompat dari ketinggian enam meter. Dick Melhart berhasil membuka kunci pintu di R3 yang merupakan pintu keluar di atas sayap, penumpang melompat keluar dari pintu keluar ini.
Kemudian Neerja membuka pintu darurat dan langsung membuka parasut peluncuran darurat, tetapi bukannya melarikan diri, gadis berusia 23 tahun ini membantu membawa penumpang keluar. Dia ditembak dan dibunuh ketika menjadi perisai tiga anak dari dari tembakan api peluru. Seorang staf lapangan yang terperangkap di kapal selama cobaan berat bertanggung jawab untuk membuka pintu R4, yang merupakan satu-satunya pintu yang dipersenjatai untuk memasang perosotan darurat. Pada akhirnya, perosotan ini memungkinkan lebih banyak penumpang untuk mengungsi dengan aman dan tanpa cedera.
Pakistan dengan cepat mengirim pasukan komando Kelompok Layanan Khusus (SSG) Angkatan Darat Pakistan dan Penjaga Pakistan disiagakan. Pembajakan selama 17 jam berakhir ketika para pembajak menembaki penumpang pada pukul 21.30 Waktu Pakistan, tetapi segera kehabisan amunisi, mengakibatkan beberapa penumpang melarikan diri dari pesawat melalui pintu keluar darurat pesawat.
Baca juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426
Diketahui, dalam pembajakan Empat puluh tiga penumpang tewas saat pembajakan yang berasal dari India, Amerika Serikat, Pakistan dan Meksiko. Seluruh pembajak ditangkap dan dihukum mati di Pakistan. Namun, hukuman kemudian diubah menjadi penjara seumur hidup. Neerja Bhanot, kepala pramugari di penerbangan tersebut, secara anumerta dianugerahi penghargaan perdamaian tertinggi di India untuk keberanian, Penghargaan Ashok Chakra atas jasanya untuk menyelamatkan nyawa para penumpang saat pembajakan tersebut.
Selain Mandala Airlines dan Hercules TNI AU, Inilah Daftar Kecelakaan yang Terkait Bandara Polonia Medan
Tepat pada hari ini, 15 tahun yang lalu, bertepatan dengan Senin, 5 September 2005, pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines flight RI 091 jatuh dan menimpa pemukiman warga di Jalan Jamin Ginting, tak lama setelah lepas landas dari Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara. Insiden tersebut pun menewaskan 100 orang, ditambah 49 orang lainnya yang berada di darat.
Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Mandala Airlines Flight 091 Jatuh dan Menimpa Pemukiman Warga di Medan
Bak deja vu, publik seperti melihat kejadian tersebut berulang beberapa tahun setelahnya. Pada Selasa, 30 Juni 2015, pesawat Lockheed C-130 Hercules C-130 milik TNI AU yang mengangkut logistik jatuh menimpa ruko-ruko juga di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara. Pesawat diketahui lepas landas dari Lapangan Udara Suwondo (dulu Bandara Polonia), Medan, pukul 11:48 WIB. Dua menit kemudian, atau pada pukul 11:50 WIB, langsung jatuh.
Akibat kecelakaan tersebut, sebanyak 110 penumpang dan 12 awak diyakini tewas. Sembilan masyarakat yang ada di darat juga dilaporkan menjadi korban. Di antara 110 penumpang itu, terdapat lima orang yang jasadnya tidak ditemukan dan menyisakan misteri, layaknya kecelakaan Mandala Airlines flight RI 091 yang menyisakan 17 penumpang selamat dimana seluruhnya berada di kursi bagian depan; di samping misteri keberadaan durian dan hubungannya dengan kecelakaan.
Di luar kedua itu, tak banyak yang tahu bahwasannya Bandara Polonia Medan pernah terlibat beberapa kecelakaan atau insiden, baik secara langsung maupun tidak.
Dihimpun dari berbagai laman, Sabtu, 4 April 1987, Garuda Indonesia flight 035 mengalami kecelakaan di Bandara Polonia, Medan. Pesawat Douglas DC-9 buatan 1976 dengan nomor registrasi PK-GNQ ini diketahui menabrak tonggak menara dan jatuh saat melakukan landing approach menggunakan Instrumen Landing System.
Akibat insiden itu, 23 orang dari 45 penumpang dan kru yang ada di dalam pesawat tersebut tewas. Semua korban tewas diyakini bukan akibat langsung dari benturan pesawat dengan daratan, melainkan tewas terbakar bersamaan dengan terbakarnya pesawat. Begitu juga dengan korban selamat, sebagian besar korban yang selamat melarikan diri lewat sela-sela puing pesawat dan 11 lainnya terlempar dari pesawat.
Sama halnya dengan kecelakaan Garuda Indonesia flight 035, Garuda Indonesia lainnya juga mengalami kecelakaan pada Rabu, 11 Juli 1979, saat hendak melakukan approach landing di Bandara Polonia, Medan dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Pesawat Fokker F28 Garuda Indonesia bernama Mamberamo itu menabrak lereng Gunung Pertektekan, anak Gunung Sibayak, beberapa puluh meter dari Bandara Polonia. Sebanyak 61 orang, terdiri dari penumpang dan awak, dilaporkan tewas; termasuk Kapten pilot A.E. Lontoh.
Tak berhenti sampai di situ, 18 tahun kemudian, bertepatan dengan Jumat, 26 September 1997, Garuda Indonesia flight GA152 juga jatuh jelang masuk Bandara Polonia, Medan. Pesawat Airbus A300-B4 Garuda Indonesia diketahui mengalami crash di Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, 45 km dari Kota Medan. 234 orang, termasuk awak dan penumpang, tewas seketika; termasuk dua orang Inggris, satu Perancis, enam Malaysia, empat Jerman, dua Amerika, dan dua dari Kanada.
Baca juga: Tragedi GA152: Sempat Terjadi ‘Kebingungan’ Identifikasi ATC dengan MA152
Meskipun sejak 25 Juli 2013 (85 tahun beroperasi) seluruh area bekas Bandara Polonia Medan itu sudah berganti nama menjadi Pangkalan Udara (Lanud) Soewondo (di bawah Pangkosek Hanudnas III), ditandai dengan keberangkatan terakhir pesawat komersial oleh AirAsia QZ 780, tetapi, hal itu tak lantas menghilangkan jejak bandara tersebut dari beberapa insiden kecelakaan pesawat di Indonesia. Bahkan, insiden yang terjadi sebelum era kemerdekaan Indonesia sekalipun; mengingat bandara tersebut sudah ada sejak sekitar tahun 1928.
Diketahui, sebuah pesawat Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), maskapai penerbangan Hindia Belanda, Douglas DC-3-194B “Nandoe” (PK-ALN), hancur digempur pesawat pembom Jepang saat tengah parkir di apron Bandara Polonia, Medan. Beruntung bandara dengan luas sekitar 144 hektare yang kini digantikan oleh Bandra Kuala Namu (KNO) ini tak ikut digempur habis Jepang.
Penggunaan Partisi dalam Taksi Rusia Masih Kontroversi
Semenjak pandemi virus corona melanda dunia, partisi atau penyekat pengemudi dengan penumpang di dalam taksi konvensional atau taksi online mulai terpasang. Hal ini untuk meminimalisir penularan Covid-19. Namun di Rusia, partisi ini akan dipasang karena untuk melindungi pengemudi dari penumpang yang melakukan kejahatan.
Baca juga: Sekat Partisi Digunakan Pengemudi Ojol, Efektifkah untuk New Normal?
Sebab bukan hanya pengemudi yang menyerang tetapi penumpang pun kerap kali menyerang pengemudi. Bahkan karena banyaknya penyerangan yang dilakukan penumpang, pengemudi sering merekam perilaku yang tidak pantas tersebut.
Terkadang masalah penyerangan pengemudi yang dilakukan penumpang ini pun sepele seperti pengemudi yang menolak membawa anak tanpa kursi mobil anak dan berbagai hal lainnya. Penambahan partisi untuk pengemudi ini sudah dibahas oleh Lembaga Pemerintahan Duma pada musim semi.
Tetapi dalam pembahasan tersebut perwakilan agregator taksi belum ikut dan menurut wakil ketua komite majelis rendah parlemen bidang transportasi dan konstruksi, Vladimir Afonsky mereka harus ikut ambil bagian karena masalah perilaku penumpang dan pengemudi. Dirangkum KabarPenumpang.com dari pledgetimes.com (2/9/2020), beberapa perusahaan mendukung inovasi pembuatan partisi tersebut.
Namun keberadaan partisi ini di dalam taksi tidak menjadi sebuah keharusan melainkan sebagai opsi tambahan. Perusahaan Vezet mengatakan kepada Izvestia bahwa struktur partisi mobil memang memberikan perlindungan dari manifestasi agresif penumpang atau pengemudi, tetapi menekankan, “Kewajiban apa pun yang terkait dengan investasi material akan menciptakan hambatan tambahan bagi pengangkut legal.”
Pavel Stennikov kepala departemen hubungan masyarakat layanan taksi Maxim menyebut masalah pemasangan partisi itu sulit. Sebab ada banyak bagian dari persewaan mobil taksi di Moskow, mereka secara khusus dibeli dan disewakan untuk kebutuhan ini. Dengan beberapa kemungkinan, Anda dapat bereksperimen dengan mereka.
Tapi di dalam negeri secara keseluruhan tidak mungkin, karena di daerah lebih dari 90 persen pengemudi bekerja di mobil pribadi yang digunakan untuk taksi dan perjalanan keluarga. Menurut koordinator gerakan “Blue Buckets” Pyotr Shkumatov, tidak ada titik di sekat yang hanya menutupi punggung pengemudi.
Tetapi jika Anda memasang partisi, maka hanya satu yang memisahkan seluruh ruang belakang dan hanya dalam kasus-kasus tersebut ketika sebuah kendaraan taksi milik perusahaan taksi dan hanya dioperasikan di dalam taksi. Selain itu, ahli mengenang adanya banyak penumpang yang duduk di jok depan di samping pengemudi, karena diguncang dangkal di jok belakang.
Pakar otomotif independen Dmitry Popov menyebutkan dua alasan untuk tidak memasang partisi pelindung di dalam mobil. Pertama, keberadaan objek apa pun di jalur pengemudi di kaca spion mengubah jarak, mengubah pandangan. Kedua, keberadaan benda asing yang rentan terhadap perubahan bentuk dan kerusakan saat kecelakaan juga tidak diterima di dalam kabin.
”Jadi bisa dibayangkan jika kaca plexiglass ini pecah saat terjadi kecelakaan dan pecahannya menyebabkan cedera serius pada pengemudi dan penumpang. Mobil menggunakan kaca depan tiga lapis – tripleks, yang direkatkan ke film khusus dan jika terjadi kecelakaan tidak pecah menjadi potongan besar, tapi hancur menjadi debu kecil,” ujarnya.
Bahkan jika Anda meletakkan partisi, Anda perlu memahami yang mana. Ada dua jenis desain, yang mana salah satunya adalah sekat ukuran penuh yang memisahkan jok depan.
“Orang sering bepergian dengan perusahaan, keluarga dengan anak-anak, dengan barang bawaan. Partisi solid melintang akan menyisakan penumpang hanya di baris belakang, dan untuk kursi anak yang terpasang, hanya satu kursi gratis untuk orang dewasa. Karenanya, pembatasan fisik seperti itu tidak sesuai untuk penumpang, tidak mungkin untuk menggunakan layanan sesuai kebutuhan, ”kata Stennikov.
Baca juga: Hilangkan Kursi Ganda di Bus, Torsus Buat Sekat Antar Kursi Penumpang Guna Cegah Penularan Covid-19
Opsi kedua adalah partisi parsial yang hanya menutupi jok pengemudi. Pakar otomotif Vladimir Bakharev yakin bahwa Anda perlu mulai memasang partisi dengan jenis struktur ini yang melindungi leher dan punggung pengemudi.
Dramatis! Kapal Ferry di Yunani Selamatkan Gadis Kecil dengan Pelampung Unicorn yang Terbawa Arus Hingga ke Tengah Laut
Gadis kecil berusia sekitar tiga tahun yang duduk di atas pelampung unicorn dan terombang-ambing di laut lepas. Gadis kecil tersebut bisa mengapung ke tengah laut karena tersapu arus dan luput dari perhatian orang tua.
Baca juga: Terombang-Ambing Selama Tujuh Jam, Penumpang Kapal Ferry ini Tidak Bisa Gunakan Toilet!
Untungnya saat itu ada kapal Ferry yang tengah berlayar melihat gadis kecil tersebut. Para awak kapal kemudian langsung melakukan penyelamatan dramatis pada anak ini dan videonya pun viral di media sosial.
Awal penyelamatan dilakukan karena kapten kapal Ferry Salaminomachos, Grigoris Karnesis melihat ada yang terombang-ambing dan mengapung di laut. Dia tak percaya apa yang dilihatnya karena anak itu dan pelampungnya bergerak begitu cepat sehingga tak ada waktu berpikir.
Dilansir KabarPenumpang.com dari greekcitytimes.com (25/8/2020), kapten kapal Ferry berusia 50 tahun tersebut langsung membawa kapalnya mendekat dengan pelampung dan menyelamatkan anak kecil tersebut. Setelah mendekat terdengar jeritan dari si gadis kecil tersebut.
Meski begitu, dirinya harus menjaga agar pelampung yang ditumpangi gadis itu tidak terjebak di backwash supaya bisa mengamankan tanpa terjatuh ke laut. Kemudian mekanik kapal, Vasilis Karnesis bergeser ke tepi kapal dan menarik pelampung serta mengangkat gadis tersebut ke kapal.
“Tidak ada yang bisa dilakukan anak ini,” kata Grigoris.
Aksi penyelamatan ini terekam kamera oleh seorang penumpang bernama Petros Kritsonis dan mengunggahnya ke media sosial pada Senin (25/8/2020) tak lama setelah insiden itu terjadi. Hal ini kemudian viral dan Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis memanggil kapten kapal untuk berterimakasih kepada sang kapten dan kru kapal.
Inisiden ini terjadi di Teluk Corith, Yunani di mana ketika gadis itu terbawa arus di atas pelampung, sang ayah mencoba mengejarnya. Namun ayah gadis kecil ini terjebak dalam arus yang cukup kuat dan pelampung anaknya semakin menjauh dari bibir pantai serta tak bisa terjangkau.
Orang tua anak ini kemudian memberitahukan kepada otoritas pelabuhan terkait insiden yang menimpa anaknya itu. Karena hal ini kemudian pihak otoritas mencoba memberitahu kapal kapten Karnesis yang paling dekat dengan tempat kejadian.
Sebelum diselamatkan, anak tersebut mengapung bersama unicornya selama 20 menit di tengah laut. Bahkan ketika diselamatkan, gadis kecil ini kewalahan karena kaget dan diam tidak berbicara. Setelah dipertemukan dengan orang tuanya, sang ibu pun tak bisa berkata-kata.
Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!
“Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan dan ini pertama kalinya dia berurusan dengan penyelamatan seorang anak,” ujar Vasilis.
Di Balik Penerbangan Bersejarah ke Uni Emirat Arab, Boeing 737 El Al 971 Israel Dibekali Sistem Anti Rudal
Ada yang menarik di balik penerbangan bersejarah Israel-Uni Emirat Arab (UEA) pada 31 Agustus lalu. Guna menjamin keamanan dan keselamatan tamu penting penerbangan El Al 971, pesawat Boeing 737 yang ditumpangi delegasi Israel dan Amerika Serikat (AS) itu dikabarkan sampai harus dilengkapi sistem anti-rudal C-Music yang menjadikannya sebagai maskapai komersial pertama dan satu-satunya di dunia yang dilengkapi sistem pertahanan udara (anti-rudal). Adopsi sistem anti rudal pada pesawat penumpang biasanya itu diterapkan pada pesawat kenegaraan atau pesawat kepresidenan.
Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar
Dilansir Simple Flying, untuk pertama kalinya Arab Saudi membuka ruang udaranya untuk penerbangan komersial Israel. Pesawat El Al terbang dari Tel Aviv ke Abu Dhabi membawa delegasi AS dan Israel.
Disebutkan, delegasi AS dan Israel yang ada dalam penerbangan bersejarah El Al 971 bukanlah sembarang orang, mulai dari agen rahasia Amerika Serikat (AS) dan Mossad Israel, pejabat tinggi Israel mewakili Perdana Menteri Netanyahu, sampai mantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, yang secara resmi menjabat sebagai penasehat khusus Timur Tengah bagi pemerintah AS.
Dengan memuat tamu penting, ditambah tensi geopolitik di Timur Tengah yang tengah meningkat, di samping memang Israel itu sendiri mempunyai banyak musuh di Timur Tengah, wajar bila Boeing 737 El Al dilengkapi dengan sistem anti-rudal. Terlebih, kasus pesawat komersial dirudal sudah terjadi sejak lama. Umumnya, pesawat tersebut tidak dilengkapi dengan sistem pertahanan anti-rudal layaknya pesawat kenegaraan.
Sebelum Boeing 737 El Al, sudah ada pesawat penumpang pertama dari Rusia yang dilengkapi dengan sistem anti rudal, yakni Ilyushin Il-96-300. Pesawat tersebut dilengkapi dengan sistem pertahanan udara untuk melawan rudal anti pesawat portabel atau man-portable air defence systems (MANPADS). Hanya saja, pesawat tersebut tak digunakan oleh maskapai penerbangan komersial, melainkan untuk kebutuhan pesawat kenegaraan dan kebutuhan lainnya di luar komersial penumpang.
Usai penerbangan bersejarah Israel-UEA ditandai dengan pendaratan pesawat Boeing 737 El Al dengan nomor penerbangan 971 di Abu Dhabi, penerbangan lainnya direncanakan bakal segera terwujud.
CEO Israir Airlines, belum lama ini mengungkap bahwa pihaknya ingin segera memulai layanan berjadwal (reguler) ke UEA. Proses mewujudkan impian tersebut, saat ini, tengah ditempuh. Bila tak ada aral melintang, impian itu mungkin bukan hanya pepesan kosong belaka. Apalagi, Arab Saudi juga sudah mau membuka ruang udara mereka untuk penerbangan Israel-UEA.
Selama ini, Arab Saudi turut memainkan peran penting dalam penerbangan Israel-UEA. Bila mereka tak mau membuka ruang udara, maka, penerbangan Israel-UEA harus memutar jauh ke Utara ataupun Selatan.
Lagi pula, selain penerbangan bersejarah El Al sebagai maskapai pertama yang berhasil mendarat di UEA, sebelumnya, maskapai asal negeri kaya minyak tersebut, Etihad Airways, sudah lebih dahulu membuka jalan interaksi yang lebih tinggi antar kedua negara.
Baca juga: Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752
Maskapai itu merupakan maskapai pertama yang mengoperasikan pesawat UEA ke Israel. Kala itu, penerbangan dilakukan dalam rangka menyalurkan bantuan ke Palestina. Bahkan, pada saat itu, tepatnya di awal tahun ini, UEA sama sekali belum menjalin kesepakatan damai dengan Israel.
Jika sudah begitu, menarik ditunggu, akankah penerbangan reguler UEA-Israel terwujud dalam waktu dekat, seiring penerbangan bersejarah yang dicetak kedua negara?
