DPR Minta Aplikator Tak Potong Ongkos Kirim Ojol 20 Persen di Masa Pandemi
Para pengemudi ojek online atau ojol tak lagi bisa mengangkut penumpang sejak diterapkannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. Para ojol ini hanya bisa mengakut barang, makanan atau minuman pesanan pelanggan.
Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi
Hal ini pun kemudian membuat pendapatan para ojol berkurang dari biasanya. Sayang meski ojol hanya bisa mengangkut barang, namun pihak aplikator justru tidak menurunkan biaya potongan ongkos 20 persen di tengah pandemi virus corona saat ini.
Untuk diketahui 20 persen tersebut merupakan potongan dari biaya ongkos kirim para pengemudi ojol. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, masalah tersebut kemudian disorot dan direspon oleh Komisi VI DPR RI yang meminta pihak aplikator menurunkan potongan ongkos kirim untuk membantu para pengemudi ojol ini.
Andre Rosiade, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra mengatakan, demi menyelamatkan kebutuhan hidup para pengemudi ojol yang jumlahnya jutaan, meminta kepada perusahaan aplikasi transportasi online yakni GoJek dan Grab untuk memiliki niat baik membantu meringankan beban hidup para pengemudi ojol ini.
“DPR RI meminta perusahaan aplikasi menghilangkan atau minimal mengurangi pemotongan setiap transaksi kepada mitra dengan tidak lagi sebesar 20 persen,” kata Andre dalam rapat dengar pendapat dengan GoJek dan Grab, Rabu (6/5/2020).
Dia mengatakan, selama pembatasan sosial berskala besar atau PSBB ini, para pengemudi ojol cukup terksiksa dengan biaya potong kirim barang. Andre berharap kedua aplikator bisa menurunkan potongan ongkos kirim minimal limna persen.
“Karena mitra bapak ibu ini sangat sulit mendapat orderan jadi tolong kalau bisa yang 20 persen itu dijadikan nol persen atau minimal lima persen. GoJek dan Grab sudah banyak mengambil keuntungan di Republik ini yang kita tidak tahu bapak da ibu siapa pemiliknya,” tambah Andre.
Menanggapi permintaan tersebut, Deputy Head of Public Affairs at Grab Tirza Munusamy membantah, perusahaannya memotong 20 persen dari biaya ongkos kirim barang. Per April, Grab telah memangkas potongan ongkos kirim.
“Karena masih masa susah kami tidak potong sama sekali di April. Kami tanggung 100 persen kami yang bayar. Insentif minimum kilometer setiap hari sudah dikurangi, jadi bisa lebih mudah mendapatkan uangnya,” ujar Tirza.
Sementara, Chief of Public Policy and Government Relations Gojek Shinto Nugroho mengatakan, perusahaannya justru masih merugi selama kondisi pandemik virus corona.
Baca juga: Tanpa Aplikasi, Ojol ‘Terpaksa’ Angkut Penumpang di PSBB
“Kalau dari kami saat ini di industri ini gak ada yang untung, kami masih merugi. Kami sudah dipotong gaji untuk manajemen 25 persen, gak ada bonus dan gak ada THR dan gak ada kenaikan gaji,” ujar dia.
Andre menekankan agar penurunan potongan ongkos kirim ini bisa berlaku pada semua driver tidak hanya yang PDP atau positif Corona saja.
Kurangi Emisi Suara di Tengah Malam, Bandara Heathrow Patok Biaya Ekstra untuk Maskapai
Bandara Heathrow, London, Inggris telah mengumumkan rencana untuk mematok biaya lebih akibat kebisingan yang ditimbulkan untuk semua penerbangan yang tiba dan berangkat pada pukul 23.30-06.00 waktu setempat. Dengan kebijakan tersebut, diharapkan emisi atau polusi suara di jam-jam tersebut akan mengalami penurunan.
Baca juga: British Airways Siap Uji Coba Robot di Bandara Heathrow
Dilansir dari airport-technology.com, kebijakan mematok tarif lebih akibat kebisingan yang ditimbulkan maskapai bertujuan untuk membatasi jumlah penerbangan yang mengganggu komunitas atau warga di sekitar bandara. Bagi maskapai yang tetap nekat beroperasi di waktu ‘terlarang’, siap-siap saja merogoh kocek untuk membayar tagihan lima kali lipat dari tarif normal.
Juru bicara bandara tersibuk ketujuh di dunia dan paling sibuk di Eropa pada 2018 lalu dengan 80,1 juta penumpang ini mengatakan, langkah tersebut merupakan respon otoritas bandara terhadap keluhan sekaligus masukan masyarakat untuk mencari cara agar mereka bisa isitrahat dengan tenang di malam hari. Selain itu, langkah ini juga bagian dari rencana bandara dalam memperluas area bebas polusi udara di sekitar bandara.
Direktur keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan Bandara Heathrow, Rob Gray mengatakan bahwa pihaknya akan terus berkomunikasi dengan warga perihal kebisingan yang ditimbulkan akibat aktivitas penerbangan di bandara. Tak lupa, otoritas bandara juga masih terbuka terhadap kritik dan saran perihal tarif lima kali lebih besar dari tarif normal bagi penerbangan yang tiba dan berangkat pada pukul 23.30-06.00 waktu setempat.
“Sangat penting bahwa kami dapat bersinergi dengan komunitas (warga sekitar bandara) dan maskapai penerbangan lokal untuk secara ketat mengatur kebisingan pesawat di Heathrow. Kami terus mengambil langkah-langkah penting untuk memperbaiki masalah yang timbul di kemudian hari, termasuk tarif kebisingan baru kami pada semua penerbangan yang tiba atau meninggalkan bandara pada malam hari,” katanya.
“Kami percaya jumlah orang yang terkena dampak kebisingan pesawat akan terus berkurang saat kami bekerja menuju Heathrow yang lebih tenang dan masa depan yang lebih baik melalui penerapan kebijakan polusi suara dan Noise Action Plan kami,” tambahnya.
Baca juga: Bandara Heathrow Siap Adopsi Teknologi Biometrik Pada Musim Panas 2019
Bandara Heathrow memang sudah lama memperhatikan permasalahan kebisingan yang ditimbulkan pesawat. Guna memotivasi maskapai menekan tingkat kebisingan agar menggunakan pesawat dengan yang lebih tenang dan menerbangkannya dengan cara se-senyap mungkin, Heathrow juga telah meluncurkan Program Fly Quiet and Green.
Pada tabel terbaru program tersebut, Scandinavian Airlines (SAS), maskapai penerbangan nasional negara-negara Nordik atau negara-negara di Eropa Timur dan Atlantik Utara, bertengger di puncak klasmen sementara. SAS dinilai memiliki geliat tinggi untuk menurunkan tingkat kebisingan serta menggunakan pesawat yang lebih senyap dan ramah lingkungan, yakni Airbus A320neo.
Virgin Galactic Gandeng NASA Kembangkan Pesawat Komersial Berkecepatan Tinggi
Virgin Galactic saat ini tengah mengalami jalan terjal dalam perjalanan bisnisnya di tahun ke-16 sepanjang sejarah berdirinya perusahaan. Dalam dua kuartal terakhir, perusahaan yang fokus di wisata luar angkasa ini dilaporkan mengalami kerugian besar. Namun, rupanya hal itu tak menghalangi inovasi perusahaan yang bernaung di bawah Virgin Group ini terhenti.
Baca juga: Virgin Galactic Sukses Terbangkan (Kembali) Pesawat Bertenaga Roketnya ke Antariksa
Dikutip dari newatlas.com, belum lama ini, perusahaan asal Britania Raya yang berbasis di Mojave, California, Amerika Serikat (AS) tersebut dilaporkan tengah mengembangkan teknologi penerbangan komersial next generation atau berkecepatan tinggi. Guna mempercepat terealisasinya misi tersebut, Virgin Atlantic menggandeng badan antariksa AS, NASA. Kepastian tersebut didapat setelah keduanya meneken sebuah perjanjian The new Space Act Agreement, beberapa hari lalu.
Walaupun secara DNA Virgin Atlantic merupakan perusahaan Britania Raya, namun, secara binsis, mereka lebih fokus bermain di ceruk pasar AS. Tak terkecuali dengan teknologi penerbangan next generation atau berkecepatan tinggi.
Bila segalanya telah rampung dan siap, pesawat komersial berkecepatan tinggi itu lebih memfokuskan diri di pasar potensial AS, khususnya pada penerbangan point-to-point. Namun, tak menutup kemungkinan seiring berjalannya waktu, pesawat komersial berkecepatan tinggi Virgin Atlantic juga akan beroperasi di negara lainnya.
“The new Space Act Agreement ini akan memungkinkan NASA untuk berkolaborasi dengan Virgin Galactic dan The Spaceship Company untuk membuat organisasi kami mengambil keuntungan dari alat, teknik, dan teknologi baru yang dikembangkan selama 50 tahun terakhir dan untuk mengeksplorasi potensi solusi baru untuk industri penerbangan komersial,” kata Dr. James Kenyon, Direktur Program Kendaraan Udara Masa Depan NASA Aeronautics.
“Pengalaman unik Virgin Galactic dan berbagai inovasi teknologi di masa mendatang, ditambah kemitraan dengan NASA yang memiliki reputasi tinggi (di bidang Advanced Air Vehicles) dan lembaga pemerintah terkait lainnya, memungkinkan kemajuan pengembangan bisnis perusahaan untuk meningkatkan daya saing di pasar AS. Kami melihat ini sebagai ceruk pasar dengan potensi pertumbuhan luar biasa yang akan terus kami investasikan, di samping operasi spaceflight (wisawat luar angkasa) komersial kami,” kata George Whitesides, CEO Virgin Galactic Holdings.
Baca juga: Virgin Galatic Uji Coba Pesawat Luar Angkasa Komersial
Sebelumnya, pada bulan Februari lalu, Virgin Galactic terlebih dahulu meluncurkan program baru untuk mengamankan hajat besar penerbangan suborbital pertamanya dengan mematok uang muka sebesar US $1.000 atau sekitar Rp15 juta (kurs 15,432), dimana sebanyak 400 orang telah mendaftarkan diri.
Diharapkan, sektor bisnis ini (jasa wahana antariksa suborbital untuk kepentingan wisata luar angkasa) dapat menutup kerugian yang terjadi di kuartal terakhir 2019 dan kuratal awal 2020, masing-masing sebesar $73 juta atau Rp 1,1 triliun (kurs 15,432) dan $60 juta atau Rp904 miliar (kurs 15,432).
Update PSBB, ASDP Layani 688.836 Unit Truk Logistik di 7 Cabang Utama
Selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PT ASDP Indonesia Ferry fokus melayani angkutan logistik pasca penghentian sementara operasional penyeberangan penumpang dan kendaraan non barang di seluruh wilayah Indonesia. Dari 7 cabang utama yang dilayani ASDP yakni Merak, Bakauheni, Ketapang, Lembar, Batam, Bitung dan Kayangan, tercatat 688.836 unit kendaraan logistik mulai dari golongan V hingga IX telah dilayani selama periode Maret-April 2020.
Baca juga: Hentikan Sementara Penjualan Tiket Penumpang, ASDP Hanya Layani Logistik
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry Imelda Alini dalam siaran pers (7/5/2020) mengatakan, fokus ASDP saat ini menjaga agar penyeberangan logistik tetap berjalan lancar sehingga mobilisasi pasokan logistik ke seluruh Indonesia. Hal ini selain telah diatur dalam Permenhub 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 H dalam rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19, ASDP berkomitmen untuk tetap menjaga pasokan kebutuhan pokok di daerah sesuai arahan Presiden RI.
“Selama pandemi Covid-19 dimana ASDP hanya melayani angkutan logistik, trafik truk barang di sejumlah lintasan utama mengalami kenaikan. Di Merak dan Bakauheni rata-rata naik 2-3 persen. Tercatat masing-masing Cabang utama itu selama 2 bulan terakhir mengangkut 183.642 unit truk untuk Merak, dan Bakauheni sebanyak 178.920 unit, bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebanyak 181.629 unit (Merak), dan 175.677 unit (Bakauheni). Prediksi kami, mobilitas logistik terus meningkat jelang Idul Fitri,” ujar Imelda.
Selain Merak dan Bakauheni, cabang utama yang juga mengalami peningkatan Cabang Batam dan Bitung. Dari Cabang Batam, geliat logistik menunjukkan peningkatan sekitar 5 persen dibandingkan tahun lalu. Tercatat, jumlah truk barang selama Maret-April sebanyak 10.966 unit bila dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 10.438 unit.
Untuk Bitung, Sulawesi Utara tercatat kendaraan logistik yang dilayani mencapai 2.760 atau naik 4,5 persen dibandingkan tahun lalu sebanyak 2.641 dan jumlah barang curah yang diangkut sebanyak 2.080 karung atau naik 600 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya 343 karung.
Tidak hanya di wilayah barat dan tengah, layanan sektor logistik ASDP juga menjadi andalan di timur Indonesia, yakni di Papua. Di Cabang Merauke ASDP mengoperasikan 4 unit kapal yaitu KMP Bambit dan KMP Muyu dengan homebase di Merauke, lalu KMP Binar di Agats dan KMP Kokonao di Pomako.
Adapun pelayanan logistik di Merauke berjalan terjadwal sebanyak 2-3 kali trip ke wilayah pedalaman, dengan memuat barang curah berisi kebutuhan pokok. Selama bulan April, tercatat muatan curah yang dilayani mencapai 1.288 ton/meter kubik atau naik 201 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 641 ton/meter kubik.
Intel Akuisisi Moovit, Indonesia Pakai Moovit Sejak 2016
Intel, perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat, mengkonfirmasi bahwa mereka mengakuisisi perusahaan solusi mobilitas-sebagai-layanan (MaaS) Israel Moovit dengan harga sekitar US$900 juta. Kesepakatan itu pertama kali dilaporkan pada hari Minggu (3/5/2020) oleh harian bisnis Israel TheMarker yang melaporkan nilai akuisisi sebesar $1 miliar.
Baca juga: Mudahkan Transportasi Warga, Aplikasi Moovit Resmi Hadir di Semarang
Intel sebelumnya memiliki investasi US$50 juta di Moovit pada tahun 2018 dan mengumumkan kemitraan dengan Mobileye, pengembang sistem bantuan pengemudi yang berbasis di Yerusalem yang diakuisisi oleh Intel Corporation sebesar US$15,3 miliar pada tahun 2017 dalam apa yang merupakan kesepakatan terbesar dalam sejarah teknologi tinggi Israel.
Pada hari Senin (4/5/2020), Intel mengatakan bahwa akuisisi Moovit akan membawa Mobileye “lebih dekat untuk mencapai rencananya untuk menjadi penyedia mobilitas lengkap, termasuk layanan robotaxi, yang diperkirakan merupakan peluang $ 160 miliar pada tahun 2030.”
“Dengan akuisisi ini, Mobileye akan dapat menggunakan set data transportasi milik Moovit yang besar untuk mengoptimalkan teknologi prediksi berdasarkan permintaan pelanggan dan pola lalu lintas, serta memanfaatkan repositori data transit Moovit dari lebih dari 7.500 agen dan operator transit utama, dan meningkatkan pengalaman konsumen untuk lebih dari 800 juta pengguna di seluruh dunia,” kata Intel.
Dilansir KabarPenumpang.com dari nocamels.com (4/5/2020), berkantor pusat di Ness Ziona, Moovit didirikan pada 2012 oleh Nir Erez, Yaron Evron, dan Roy Bick dan mengembangkan aplikasi crowdsourced gratis pertama yang menyediakan jadwal bus, kereta api, kereta bawah tanah, dan kereta api waktu nyata serta menawarkan opsi rute untuk membantu pengguna menemukan cara tercepat, paling efisien ke tujuan mereka. Selain fitur data transportasi publiknya, opsi mobilitas Moovit cukup luas dan mencakup perusahaan yang menunggang kuda, perusahaan berbagi mobil, sistem berbagi sepeda berbasis stasiun, sepeda tanpa dok, skuter, dan Moped.
Saat ini, Moovit memiliki lebih dari 800 juta pengguna di aplikasi seluler dan web gratisnya, menyediakan opsi mobilitas di 3100 kota, 100 negara, dan dalam 45 bahasa. Perusahaan juga menjual analitik data transit ke kota dan operator angkutan umum melalui Smart Transit Suite, sebuah platform yang menyediakan informasi real-time tentang pergerakan orang, rute optimal, waktu tunggu, lokasi bus dan kereta api dan data lainnya untuk pengelolaan jaringan. Moovit mengumpulkan lebih dari enam miliar titik data setiap hari tentang arus lalu lintas dan permintaan pengguna.
Dalam pos terpisah, Erez mengatakan Moovit akan tetap menjadi perusahaan mandiri dan akan bermitra dengan Mobileye untuk visi bersama mereka. Dia menekankan bahwa Moovit akan terus “melayani pengguna, pelanggan, dan mitra kami dengan tingkat layanan, profesionalisme, dan dedikasi luar biasa yang mereka harapkan dari kami,” dan akan berinvestasi lebih banyak dalam menumbuhkan dan mendukung Komunitas Mooviter.
Aplikasi Moovit diluncurkan pada tahun 2012 dan di Indonesia sendiri, Moovit diperkenalkan oleh Teguh Trianung di bulan November 2016. Sebelum membawa Moovit ke Indonesia, enam tahun yang lalu, Teguh juga membawa aplikasi Waze yang kini sudah banyak digunakan masyarakat Indonesia.
Sebelum launching di November 2016, Teguh bersama tim Moovit telah melakukan plot pemetaan trayek transportasi umum selama dua tahun di dua belas kota di Pulau Jawa, yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Solo, Kediri, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya. Moovit memetakan trayek transportasi umum mulai dari bus TransJakarta, kereta api, bahkan transportasi umum seperti angkot KWK dan sejenisnya.
Untuk beberapa akses jalan yang tidak bisa ditempuh transportasi umum, Moovit pun turut memberikan instruksi pada penggunanya untuk berjalan kaki, naik ojek, ataupun taksi. Aplikasi Moovit mengusung sistem crowdsourcing yang melibatkan masyarakat sebagai stakeholder guna memberi feedback atas perjalanan mereka dengan transportasi umum.
Baca juga: Takut Kena Tilang Elektronik? Yuk Pantau Keberadaan Kamera ETLE via Waze
Kemudian Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bekerja sama dengan Moovit Indonesia mengintegrasikan angkutan di Ibu Kota dan sekitarnya. Aplikasi tersebut bisa diunduh secara gratis oleh pengguna ponsel berbasis iOS maupun Android. Moovit juga diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk membangun proyek-proyek transportasi baru dan mengevaluasi proyek-proyek transportasi yang telah ada
Sofitel Sydney Darling Harbour Gunakan Robot untuk Bantu Pekerjaan Hotel
Setelah lama tak berfungsi dengan seharusnya, akhirnya Sofitel Sydney Darling Harbour mengaktifkan robot untuk membantu pekerjaan di hotel mereka. Jerry Schwartz mengatakan, robot yang dimiliki tersebut tidak digunakan sejak hotel dibuka beberapa tahun yang lalu.
Baca juga: Enam Jenis Robot Beroperasi di Stasiun Gateway Takanawa
Kemudian ketika ada pandemi, Schwartz akhirnya menemukan peran yang cocok untuk para robot tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari traveller.com.au (15/4/2020), Schwartz mengatakan robot-robot itu awalnya untuk ditempatkan di bar hotel.
Kini dua robot yang dimiliki Sofitel Sydney Darling Harbour digunakan untuk memberikan pembersih tangan yang penting bagi tamu hotel. Selain robot-robot tersebut, Schwartz juga mengikuti sistem akses tanpa kunci baru dan check out sementara Sofitel tanpa tamu.
Teknologi ini sendiri dikembangkan di Selandia Baru oleh perusahaan teknologi perjalanan GuesTracrtion dan memungkinkan para robot tersebut membantu tamu dari kedatangan hingga mereka akan meninggalkan hotel. Bisa dikatakan sepenuhnya pelayanan resepsionis dilakukan oleh robot untuk memutuskan jarak sosial antara staf di resepsionis dengan tamu.
“Maskapai penerbangan dapat memperkenalkan pemesanan tanpa batas dan check in melalui ponsel pintar. Saya ingin meniru itu untuk para tamu yang menginap di hotel. Itu adalah sesuatu yang telah saya dorong untuk waktu yang cukup lama, jauh sebelum Covid-19. Tetapi dampak dari virus dan langkah menuju pelonggaran sosial telah menjadikan transisi ini lebih penting lagi,” kata Schwartz.
Schwartz mengatakan bahwa check in dan check out hotel adalah salah satu aspek yang paling membuat frustrasi bagi para pelancong, terutama untuk tamu reguler yang sangat berharga. Registrasi dan sistem pemesanan online yang baru memungkinkan tamu untuk melakukan reservasi dari jarak jauh menggunakan kartu kredit. Hotel kemudian memberi tamu kode yang berfungsi sebagai kunci digital.
“Masalahnya adalah bahwa tinggal di hotel memerlukan banyak fungsi berbeda untuk akses tanpa kunci. Misalnya, kunci digital harus terhubung dengan lift untuk membawa Anda ke kamar Anda, perlu membuka kunci pintu Anda, menyediakan akses ke kolam renang, pusat kebugaran, dan ruang tamu, dan kemudian juga menutupi pembayaran di spa, toko suvenir, restoran dan bar,” jelas Schwartz.
Setelah teknologi baru berhasil diterapkan, Schwartz percaya Sofitel Sydney Darling Harbour akan menjadi hotel besar pertama di Australia yang menawarkannya. Tetapi baik sistem tanpa kunci dan robot hanyalah awal untuk hotel di era Covid-19.
Baca juga: Tidak Puas, LG Kembali Luncurkan Tiga Robot Anyar di Las Vegas Pekan Depan
Diketahui, penggunaan robot di hotel bukanlah hal baru, dengan Jepang dan Cina, setelah menguasai seni beberapa waktu lalu, mereka bukan lagi tipu muslihat. Hotel-hotel Cina sudah menggunakan robot untuk membersihkan kamar-kamar hotel dengan satu properti yang menawarkan operasi televisi yang diaktifkan dengan suara, melegakan bagi mereka yang menyadari fakta bahwa unit remote control TV bisa menjadi objek hotel yang paling banyak ditunggangi kuman.
Maskapai Eropa Kurangi Pekerja, Amerika Serikat Bersiap Menyusul
Wuhan di Cina dan beberapa negara lainnya sudah mulai pulih dari pandemi virus corona atau Covid-19. Negara-negara yang melakukan penguncian pun sudah mulai membuka kembali untuk membangkitkan kota yang sempat sepi. Namun saat seperti ini perjalanan untuk mengunjungi suatu daerah ataupun negara sepertinya belum banyak dilakukan bila bukan hal bisnis.
Baca juga: Demi Raih Modal Lawan Corona, Bos Virgin Atlantic dan Virgin Australia Gadaikan Pulau Pribadi
Hal tersebut kemudian membuat banyak maskapai penerbangan di dunia yang sudah mulai mengurangi para pekerja mereka. Seperti maskapai penerbangan di Eropa yang memulai proses menyakitkan untuk mengurangi bisnis karena prospek pemulihan yang tidaklah cepat. Minggu ini, maskapai-maskapai top di Eropa harus mengurangi ribuan pekerja demi memangkas biaya karena prospek penerbangan jangka menengah yang memburuk dengan cepat.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari cnn.com (1/5/2020), Ryanair, Lufthansa, British Airways dan Air France bahkan bisa mengurangi 32 ribu pekerjaan di antara mereka karena mengecilkan bisnis untuk memperhitungkan industri yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih dari pandemi. Tak hanya itu mungkin lebih banyak lagi maskapai yang akan mengikuti jejak para maskapai top tersebut.
“Kami saat ini menghadapi tantangan terbesar dalam sejarah kami baru-baru ini. Kami berjuang untuk masa depan perusahaan ini dan masa depan sekitar 130.000 karyawan Grup Lufthansa,” kata CEO Lufthansa, Carsten Spohr.
Spohr mengatakan, Lufthansa Group telah menempatkan lebih dari 80 ribu stafnya pada pengurangan jam kerja dan jadwal penerbangannya “kembali ke masa” ke level yang tidak terlihat sejak 1955, dengan tiga ribu penerbangan hariannya dibatalkan dan 92 persen armadanya di darat.
“Itu sangat pahit, dahsyat dan menyakitkan,” tambahnya.
Brian Strutton, sekretaris jenderal Asosiasi Maskapai Penerbangan Inggris mengatakan, dengan praktis tidak ada perjalanan internasional, dan tidak ada kejelasan tentang kapan permintaan akan kembali, hampir tidak mungkin untuk melebih-lebihkan krisis keuangan yang dihadapi maskapai penerbangan. Pekerja penerbangan menghadapi “tsunami (gelombang) kehilangan pekerjaan.
“Tanpa bantuan dari pemerintah, industri “akan hancur,” tambahnya.
Peringatannya menyusul satu-dua pukulan dari British Airways, yang mengatakan Selasa mungkin harus memangkas lebih dari seperempat tenaga kerjanya, dan Ryanair, yang mengumumkan tiga ribu pekerjanya di PHK sebelumnya pada hari Jumat.
“Apa yang kami hadapi sebagai maskapai penerbangan … adalah bahwa tidak ada yang ‘normal’ lagi. Skala tantangan ini membutuhkan perubahan besar sehingga kami berada dalam posisi kompetitif dan tangguh … untuk menahan penurunan permintaan pelanggan dalam jangka panjang,” kata CEO British Airways Alex Cruz.
Pendapatan penumpang maskapai global diperkirakan turun sebanyak 55 persen tahun ini, atau sekitar $314 miliar, menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional. Beberapa maskapai besar di Eropa dan Amerika Serikat sudah mencari dana talangan pemerintah.
Lufthansa, yang memiliki operator di Jerman, Swiss, Austria dan Belgia, sedang dalam “pembicaraan intensif” dengan pemerintah Jerman tentang dukungan keuangan, kata Spohr. Perusahaan telah menerima bantuan dari pemerintah Swiss dan sedang dalam negosiasi dengan pemerintah di Austria dan Belgia.
“Masa depan Lufthansa saat ini sedang diputuskan. Pertanyaannya adalah apakah kita dapat menghindari kebangkrutan dengan dukungan pemerintah dari empat negara asal kita,” kata Spohr.
Ryanair pada hari Jumat mengatakan pihaknya memperkirakan bahwa permintaan dan harga penumpang tidak akan pulih sampai setidaknya musim panas 2022. Spohr mengatakan itu bisa memakan waktu lebih lama, sampai 2023, untuk permintaan global untuk menemukan “keseimbangan baru.” Ternyata peringatan dari maskapai Eropa tidak menjadi pertanda baik bagi saingan mereka di Amerika Serikat, yang sudah melaporkan kerugian miliaran dolar untuk kuartal pertama.
Meskipun maskapai AS tidak diizinkan menerapkan PHK apa pun sebagai syarat paket bailout $25 miliar mereka, larangan ini hanya berlaku hingga 30 September. Sehingga sektor penerbangan diatur untuk secara signifikan lebih kecil selama beberapa tahun, PHK besar-besaran di antara operator AS tampaknya tak terhindarkan.
Sudah, sekitar 100 ribu karyawan di empat maskapai besar saja American Airlines, United Airlines, Delta dan Southwest telah sepakat untuk melakukan pemotongan gaji atau cuti yang tidak dibayar, selama sembilan bulan.
Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan
“Kami memang akan, terlepas dari di mana permintaan, memasuki musim gugur dengan lebih banyak anggota tim daripada yang kami miliki untuk bekerja,” kata CEO American Airlines Doug Parker.
“Jika permintaan tetap berkurang secara signifikan pada tanggal 1 Oktober, kami tidak akan mampu menanggung krisis ini tanpa menerapkan beberapa tindakan yang lebih sulit dan menyakitkan,” tambah CEO United Airlines Scott Kirby dengan merujuk pada “cuti tak disengaja.”
Reservasi Tiket Dibuka, Garuda Indonesia Kembali Layani Penerbangan Mulai 7 Mei
Garuda Indonesia mulai Kamis, 7 Mei 2020 Pukul 00.01, kembali melayani operasional penerbangan sebagai tindak lanjut kebijakan pengendalian transportasi selama Ramadan dan Idul Fitri 1441 H yang mengacu pada ketentuan Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid -19 Nomor 4 Tahun 2020.
Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”
Layanan penerbangan tersebut akan dioperasikan mengacu pada ketentuan kriteria masyarakat yang dapat mengakses layanan transportasi pada masa pandemi Covid-19 seperti penumpang yang akan melaksanakan tugas kedinasan, kepentingan umum, kesehatan dan medis, masyarakat yang akan pulang ke daerah asal, kebutuhan repatriasi, layanan fungsi ekonomi penting serta mobilisasi pekerja migran Indonesia.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Reservasi layanan penerbangan tersebut dapat diakses mulai sore hari ini melalui seluruh kanal penjualan owned channel tiket Garuda Indonesia”.
“Kembali dioperasikannya layanan penerbangan domestik ini kami lakukan berdasarkan komunikasi intensif bersama Pemerintah dan otoritas terkait dalam memastikan kesiapan kebutuhan layanan penerbangan selaras dengan misi berkesinambungan upaya pencegahan penyebaran COVID-19 melalui implementasi protokol kesehatan yang jelas dan terukur, khususnya sebagaimana kebijakan yang diberlakukan otoritas terkait”, papar Irfan.
Garuda Indonesia menerapkan prosedur penerimaan dan screening penumpang yang sangat ketat untuk layanan penerbangan yang dioperasikan, antara lain melalui pemberlakuan ketentuan penyertaan surat keterangan sehat dan negatif covid-19 dari Rumah Sakit.
Baca juga: Tegas! Ini Tanggapan Dirut Garuda Indonesia Terkait Pengaruh Diskon Tiket Pada Demand Penumpang
Bagi penumpang dengan tujuan perjalanan dinas harus dibuktikan dengan menunjukkan Kartu Identitas Kantor dan surat tugas dari kantor, penyertaan surat pernyataan tidak mudik/surat keterangan tertulis alasan melakukan perjalanan. Selain itu, penumpang wajib memenuhi kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan sesuai ketentuan protokol kesehatan yang berlaku.
Air Canada Sebut Proses Recovery Akibat Corona Butuh Tiga Tahun
Maskapai Air Canada mengaku mengalami kerugian sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp15 triliun (kurs Rp15.342) di kuartal I 2020. Secara keseluruhan, pendapatan operasional di kuartal I turun menjadi $3,72 miliar atau Rp56 triliun dibanding US$4,43 miliar di tahun lalu. Dengan kondisi tersebut, maskapai yang berbasis di Montreal, Quebec, Kanada ini memperkirakan butuh setidaknya tiga tahun untuk mencapai posisi seperti sebelum wabah virus corona merebak.
Baca juga: Bukan Hanya PHK Karyawan, Ini Sejumlah Opsi Maskapai Agar Bisa Tetap ‘Hidup’
“Kami sekarang hidup dalam periode paling kelam dalam sejarah penerbangan komersial, jauh lebih buruk daripada 9/11, SARS, dan krisis keuangan 2008. Tidak ada keraguan bahwa kami saat ini belum keluar dari titik kesulitan terdalam,” kata CEO Calin Rovinescu, seperti dikutip dari cp24.com.
Sejak pertengahan Maret, maskapai terbesar di Kanada itu tercatat telah memangkas jadwal penerbangan lebih dari 90 persen, menggrounded lebih dari 200 pesawat, dan menutup layanan internasional untuk sementara menjadi hanya lima bandara dari semula lebih dari 150.
Tak hanya itu, revenue dari penumpang juga turun US$604 juta atau 16 persen pada kuartal pertama dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Parahnya lagi, Air Canada mengaku menghabiskan stok uang tunai sekitar US$22 juta atau Rp331 miliar per hari selama bulan Maret. Di saat yang bersamaan, pendapatan juga terus-menerus turun dan kondisi ini diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa lama ke depan. Tentu ini menjadi pukulan telak.
Kurtal II nampaknya belum banyak berubah. Sampai akhir April lalu, frekuensi penerbangan terkoreksi turun sebanyak 90 persen. Otomatis, Air Canada tak punya pilihan kecuali memaksimalkan angkutan kargo. Terlebih, pemerintah Kanada memang tengah gencar-gencarnya mencari suplai stok perlengkapan dan peralatan medis dari berbagai dunia untuk memerangi pandemi corona.
Diperkirakan, frekuensi penerbangan di kuartal III masih lesu, meskipun terdapat peningkatan, menjadi berkurang 75 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Namun, perkiraan tersebut bisa sangat tentatif, tergantung pada kebijakan lockdown negara-negara di seluruh dunia, permintaan penumpang, dan wabah virus Cina itu sendiri. Bila segalanya positif, maka, bukan tak mungkin penurunan penerbangan menjadi jauh lebih kecil dari 75 persen. Demikian juga sebaliknya.
Akan tetapi, andai corona sudah musnah dari bumi ini, Rovinescu mengaku lebih berharap banyak pada perjalanan liburan dari para pelancong dunia, bukan mengandalkan pada perjalanan bisnis. Ia berpendapat, bahwa ke depan mungkin perjalanan bisnis akan tak begitu bergairah mengingat pelaku bisnis saat ini hingga beberapa waktu ke depan lebih nyaman dengan the new era, meeting melalui Zoom atau Skype for Business (Microsoft).
Baca juga: Virus Corona Justru Bikin Bandara Terpencil Ini Jadi yang Tersibuk di Dunia
Saat ini, Air Canada mengaku telah melakukan sejumlah langkah efisiensi dengan menunda sejumlah rencana pengembangan bisnis, menggrounded pesawat, mempercepat pensiunnya 79 pesawat yang lebih tua, termasuk Boeing 767 yang kurang efisien, Airbus 319, dan Embraer 190. Selain itu, perusahaan juga telah meminta 20 ribu karyawan cuti tanpa dibayar.
Dari ke semua itu, Air Canada menyebut berhasil menghemat sekitar US$1,05 miliar atau sekitar Rp15 triliun lebih. Kemudian, untuk memperkuat likuiditas, flag carrier Kanada itu juga telah mendapatkan suntikan modal sebesar US$1,62 miliar atau sekitar Rp24 triliun lebih.
