Temukan Tabung Oksigen Bertekanan Rendah, Dua Awak Kabin Cathay Dragon Dipecat

Setelah membebas-tugaskan ribuan pegawainya yang terlibat dalam aksi pemberontakan terhadap RUU Ekstradisi yang belakangan lalu memanas di Hong Kong, kini kabar terbaru datang dari anak perusahaan flag carrier Cathay Pacific, Cathay Dragon menyebutkan bahwa pihak maskapai memecat dua orang awak kabinnya. Bukan karena mereka berdua terlibat juga di dalam aksi massa tersebut, melainkan karena dua awak kabin ini menemukan botol oksigen ‘rusak’ di dalam kabin. Namun, ini bukanlah semata soal kerusakan tabung oksigen yang ada di dalam kabin, melainkan adanya dugaan sabotase terhadap Cathay Pacific Group. Baca Juga: Situasi Tak Kunjung Kondusif, Cathay Pacific Tangguhkan Penjualan Tiket di Hong Kong Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman aerotime.aero (24/9), pihak maskapai memberhentikan kedua awak kabin ini secara tidak terhormat tertanggal 24 September kemarin. Pemberhentian hubungan kerja ini tentu saja tidak dilakukan begitu saja, melainkan sudah ada investigasi dulu sebelumnya. Cathay Dragon mengidentifikasi bahwa satu botol oksigen di dalam pesawat Airbus A330 berada dalam kondisi tekanan rendah. Penemuan ini sendiri terjadi manakala Airbus A330 Cathay Dragon dengan nomor penerbangan KA730 baru saja menyelesaikan penerbangan dari Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL) menuju Bandara Internasional Hong Kong (HKG) pada Sabtu, 21 September 2019 silam. “Kami tidak pernah menggadaikan keselamatan kru penerbang dan penumpang kami,” ujar pihak maskapai. Walhasil, tabung oksigen yang berada dalam keadaan tidak sempurna tersebut diganti sebelum pesawat terkait melanjutkan penerbangan selanjutnya. Sebenarnya ini bukanlah yang kali pertama terjadi, mengingat dalam kurun waktu sebulan terakhir, baik Cathay Pacific maupun Cathay Dragon telah menemukan enam kasus serupa – dimana pihak maskapai menemukan satu atau bahkan beberapa tabung oksigen berada dalam tekanan rendah. Baca Juga: Mayoritas Pilot dan Awak Kabin Dukung Aksi Protes, Cathay Pacific Tujuan Cina Daratan Terancam Lumpuh “Semua botol oksigen yang terdampak telah dicek ulang guna menimbang kelaikkannnya dan diisi ulang semisal masih layak,” tulis Cathay Pacific Group dalam siaran pers. “Kami telah menghubungi Hong Kong Civil Aviation Department (HKCAD) dan aparat kepolisian guna mengusut tuntas kasus semacam ini,” sambungnya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, tabung-tabung oksigen ini kerap digunakan oleh awak kabin semisal pesawat mengalami depressurisasi.

Wellness Pod, Bikin Kabin Taksi 99,9 Persen Bebas dari Kuman

Ada taksi dengan fitur anti bakteri? Mungkin ini akan menjadi pertanyaan bagi Anda bagaimana sebuah taksi bisa bebas dari bakteri dan mampu membunuh kuman yang ada di dalamnya? Maklum, sebagai transportasi umum, saban hari taksi ditumpangi oleh banyak penumpang dengan kondisi kesehatan yang beragam. Baca juga: Mampir ke Addis Ababa Jangan Lupa Berkeliling dengan Taksi Vintage Ternyata hal di atas bukan sesuatu yang mustahil, kabin taksi atau minicab kini dapat steril atau setidaknya membunuh kuman sampai 99,9 persen. Dilansir dari taxi-point.co.uk (21/9/2019) oleh KabarPenumpang.com, Yanfeng yang merupakan spesialis dalam konsep kendaraan pintar mengklaim telah mengembangkan solusi yang mampu membunuh bakteri tersembunyi di dalam taksi. Wellness Pod merupakan solusi yang dikembangkan Yanfeng adalah perangkat anti mikroba unik dan bisa membersihkan udara interior serta permukaan kendaraan dengan sinar UV dan mengeluarkan Aroma. Solusi tersebut menggabungkan sanitasi udara UV dan aroma non cair yang disalurkan ke konsol overhead. Wellness Pod Yanfeng diklaim dapat meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan penumpang di dalam taksi. Konsol pod sangat mudah dioperasikan dengan kontrol aplikasi ponsel cerdas yang digunakan. Konsol terlihat ramping dengan ventilasi udara tersembunyi dapat diintegrasikan ke interior kabin. “Kami telah mengembangkan Wellness Pod untuk memberi penumpang pengalaman perjalanan paling nyaman dengan mempertimbangkan semua hal,” jelas Han Hendriks, Kepala Staf Teknologi di Yanfeng Technology. Dia mengatakan, kebanyakan orang sangat peduli tentang kebersihan mobil mereka sendiri atau bersama, dan orang-orang peduli tentang interior kabin yang sehat dan menarik ketika memulai perjalanan mereka. “Wellness Pod memenuhi permintaan ini dengan fungsionalitas kebersihan yang tak tertandingi dan pilihan konsumen. Tetapi juga sama pentingnya bagi perusahaan layanan mobilitas bersama karena interior yang bersih dan segar mendorong kepuasan pelanggan dan kendaraan, keduanya sangat penting untuk model bisnis ini,” tambahnya. Cara kerja pembersih UV ini menggunakan sinar UV-C yang menghancurkan bakteri permukaan dan virus. Sirkulasi udara didasarkan pada aliran udara AC yang dialihkan. Perusahaan mengklaim permukaan yang terpapar secara langsung mengalami pengurangan bakteri hingga 99,9 persen melalui pembersih permukaan UV, sementara permukaan tidak langsung pun menunjukkan pengurangan sebesar 95 persen. Baca juga: Dubai Kian ‘Cerdas,’ Hadirkan Layanan WiFi Gratis di Taksi dengan Portal Khusus Penumpang Mode cepat-bersih antar wahana memastikan kebersihan berkesinambungan pada zona dengan sentuh tinggi untuk pengemudi taksi. Proses pembersihan udara di dalam kabin membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan diterapkan ketika taksi tidak ditumpangi. Saat saat ini belum ada informasi terkait harga Wellness Pod.

Saingan GoJek dan Grab, “Anterin” Bisa Pilih Pengemudi Suka-Suka

Pasar transportasi online di Indonesia semakin meluas dan ini terlihat kehadiran beberapa pendatang baru pesaing GoJek dan Grab. Pesaing baru ini sendiri besutan anak bangsa seperti GoJek yakni Anterin. Baca juga: Aplikasi Ride Hailing Kedatangan Pemain Baru, Anterin dan BitCar Perusahaan ini berdiri tahun 2016 di Jakarta oleh Imron Hamzzah dan Rachmat Efendi. Aplikasi Anterin merupakan aplikasi transportasi pertama di dunia yang menggunakan metode lelang harga. Dikutip KabarPenumpang.com dari cnbcindonesia.com (24/9/2019), Imron CEO Anterin mengatakan, pihaknya akan memperkuat basis di luar Jabodetabek dan memperkuat layanannya di pengantaran makanan serta logistik yang belum dirilis. “Dua aplikasi yang sudah hadir, kami tidak bisa mengikuti mereka. Kami ambil pasar yang beda dengan bisnis model yang berbeda pula. Selain itu, Anterin juga akan berkolaborasi dengan semua mitra di kota-kota besar, dengan mengangkat kearifan lokal. Kami hadir dalam konsep marketplace saat melihat driver ini tidak punya pilihan,” kata dia. Model bisnis yang berbeda pun menurut dia bisa membuat mitra pengemudi mandiri, dan bisa menentukan pilihan sendiri. Selain itu, pihak Anterin pun tidak mengambil komisi, karena model langganan Rp150 ribu per bulan. Biasanya, mitra pengemudi mengambil paket langganan satu bulan melalui e-token milik Anterin. “Jadi 100 persen punya mereka, dan bisa atur sendiri targetnya. Di sela pagi sore mereka bisa beraktivitas yang lain,” kata Imron. Selain itu, tidak seperti dua pendahulunya, Anterin tidak gencar dalam mengejar valuasi. Menurut dia untuk bertahan pihaknya akan lebih mengembangkan aplikasi, mempelajari pasar untuk penambahan Anterin menyediakan jasa angkutan ojek motor, menyediakan jasa angkutan ojek motor, transportasi mobil, on-demand kurir serta truk. Bahkan pengguna bisa bebas memilih driver berdasarkan kriteria dan selera pengguna baik itu dari harga, jenis kendaraan, penulaian pengguna atau jenis kelamin (pria/wanita). Sama dengan aplikasi transportasi online lainnya, Anterin menyediakan beberapa cara pembayaran seperti tunai atau kartu kredit. Tak hanya itu, Anterin pun selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan selalu meningkatkan standar keamanan serta kenyamanan kepada pelanggan dari waktu ke waktu. Cara menggunakan aplikasi Anterin pun mudah, setelah registrasi, untuk mencari pengemudi, pengguna memasukkan titik penjemputan dan pengantaran seperti biasa. Nanti aplikasi akan mengestimasi tarif layanan untuk pengguna. Kemudian, setelah itu mengklik tombol mencari pengemudi dan Anterin akan mencarikan disekitar pengguna. Setelah dapat pengemudi, pengguna bebas menentukan pengemudi yang terbaik. Baca juga: Pakai GrabWheels Jangan Lupa Scan Kode QR Setelah Selesai Kalau Tak Mau Didenda Rp300 Ribu Layanan Anterin saat ini baru tersedia di beberapa kota besar di Indonesia diantaranya seperti Jabodetabek, Bandung, dan Yogyakarta. Aplikasi Anterin dapat diunduh di Google Play untuk smartphone Android. Pengemudi Anterin menggunakan jaket berwarna biru dengan logo jalanan berbentuk segitiga dasar putih dengan garis putus-putus di bagian tengahnya yang menggantikan huruf A.

Mulai 27 September 2019, Garuda Indonesia Buka Rute Manada-Davao

Menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 berkapasitas 70 penumpang (all economy class), mulai Jumat, 27 September 2019, Garuda Indonesia akan melayani rute baru, Manado-Davao di Filipina Selatan. Rute baru ini akan dilayani 2 kali per minggu, yakni pada hari Senin dan Jumat. Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara mengungkapkan bahwa layanan penerbangan Manado – Davao tersebut merupakan bagian dari upaya Garuda Indonesia untuk menghadirkan konektivitas tanpa batas (seamless connectivity) kepada para pengguna jasa menuju Filipina melalui layanan penerbangan pertama (regular flight) yang menghubungkan Manado dengan Davao. Dalam keterangan resmi (25/9), Ari menjelaskan, “Pengoperasian rute ini juga kami harapkan dapat menunjang pengembangan kerja sama ekonomi, investasi, perdagangan maupun kegiatan pariwisata di wilayah regional antara Davao sebagai salah satu pusat bisnis di selatan Filipina dengan berbagai wilayah di provinsi Sulawesi Utara”. “Kami tentunya berharap bahwa penerbangan langsung ini juga akan menjadi momentum penting bagi kedua negara khususnya dalam memperkuat sektor perdagangan dan investasi, serta perluasan akses konektivitas udara antara Indonesia dan Filipina”, papar Ari. “Dengan jumlah kunjungan wisatawan ke Davao yang diperkirakan mencapai 2,3 juta orang sepanjang tahun 2018 dapat menjadi peluang tersendiri bagi pengembangan potensi kepariwisataan di Manado, khususnya dengan adanya akses penerbangan langsung dari Davao menuju Manado ini yang diharapkan dapat menarik wisatawan di Davao untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi wisata unggulan di Manado”, tutup Ari. Baca juga: Lion Air Group (Wings Air) Bersiap Terima ATR-72 600 Ke-80 Penerbangan Manado–Davao akan beroperasi dengan nomor penerbangan GA 7401 yang berangkat dari Bandara Internasional Sam Ratulangi pada pukul 10.30 WITA. Sedangkan penerbangan Davao–Manado akan beroperasi dengan nomor penerbangan GA 7402 yang berangkat dari Bandara Internasional Francisco Bangoy pada pukul 13.15 (local time).

Buntut Pencabutan Logo “Garuda Indonesia,” Sriwijaya Air Group Rombak Susunan Direksi dan Komisaris

Dunia dirgantara nasional kembali ramai, kali ini terkait ‘perselisihan’ antara Garuda Indonesia dengan Sriwijaya Air, persisnya Garuda Indonesia Group telah memutuskan pencabutan logo “Garuda Indonesia” pada armada Sriwijaya Air. Hal ini terjadi sebagai buntut dari kasus sengketa kerja sama manajemen (KSM) antara group maskapai plat merah merah itu dengan Sriwijaya Air Group. Baca juga: Ada Logo Garuda Indonesia di Sriwijaya Air, Gabung Seutuhnya Atau Tetap KSO? “Pencabutan logo Garuda Indonesia pada armada Sriwijaya Air merupakan upaya dalam menjaga brand Garuda Indonesia Group, khususnya mempertimbangkan konsistensi layanan Sriwijaya Air Group yang tidak sejalan dengan standardisasi layanan Garuda Indonesia Group sejak adanya dispute (sengketa) KSM tersebut,” ujar VP Corporate Secretary Garuda Indonesia M Ikhsan Rosan dalam keterangan resmi (25/9). Meski tak disebutkan terkait dengan kasus di atas, pihak Sriwjaya Air Group lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tertanggal 24 September 2019 telah memutuskan pergantian susunan direksi dan komisaris definif. Seperti dikutip dari Surat Pemberitahuan yang diberikan PT Sriwjaya Air Group, susunan tersebut adalah: Dewan Direkur Definif PT Sriwijaya Air: – Direktur Utama: Robert Daniel Waloni – Direktur Komersial: Rifai – Direktur Keuangan: Amrulloh Hakiem – Direktur Operasional: Fadjar Semiarto – Direktur Teknik: Romdhani – Direktur Kualitas, Keselamatan dan Keamanan: Toto Soebandoro – Direktur Legal dan SDM: Anthony Raimond Tampubolon Baca juga: Horee! Garuda Indonesia, Citilink dan Sriwijaya Air Turunkan Harga Tiket 20 Persen di Semua Rute Dewan Komisaris Definif PT Sriwijaya Air: – Komisaris Utama: Jusuf Manggabarani – Wakil Komisaris Utama: Lie Chandra – Komisaris: Hendiri Lie – Komisaris: Sonia Xevianne Bongoro – Komisaris: Jefferson Irwin Jauwena

Ditjen Perhubungan Udara: “Maskapai Asing Jangan Hanya Mengambil Rute Gemuk Saja”

Bicara tentang harga tiket pesawat yang kini tengah melambung, agaknya tidak akan pernah ada habisnya. Kepentingan pihak maskapai untuk melayani penumpang dan mendapatkan laba terbaik agaknya berbanding terbalik dengan harga tiket murah yang diharapkan oleh penumpang. Beberapa waktu ke belakang, Presiden Joko Widodo pernah meluncurkan pernyataan yang akan memasukkan maskapai asing guna men-stabilkan harga tiket yang sudah kadung ‘mengudara’. Namun, apakah ini merupakan jalan keluar terbaik? Baca Juga: ‘Impor’ Maskapai Asing untuk Turunkan Harga Tiket, Ini Kemungkinan Terburuknya! Menurut Direktur Angkutan Udara Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Maria Kristie Endah, masuknya maskapai asing ke layanan domestik Indonesia seyogyanya bukanlah hal baru lagi, mengingat ada nama AirAsia yang kini sudah hilir mudik di langit Tanah Air. Ya, AirAsia sendiri merupakan maskapai asal Malaysia yang juga turut bermain di sektor penerbangan domestik Indonesia. Namun, kekhawatiran masyarakat terkait ujaran Presiden tersebut kini sudah mulai terang. Maria Kristie yang ditemui pada acara Polemics and Prospects of the Aviation Industry: Airfares, Competition, and Efficiency mengatakan, “Jika maskapai asing ingin mengoperasikan penerbangan domestik, maka mereka tidak boleh mengambil rute gemuk saja,” Rute gemuk merupakan rute penerbangan dengan presentase okupansi atau daya angkut yang tinggi – seperti menuju Bali, Surabaya, dan Jakarta. Di Indonesia sendiri, lanjut Maria, ada sekitar 15 rute gemuk yang selalu ramai diterbangi penumpang. Tidak hanya soal rute gemuk, Maria juga menyinggung soal penurunan kapasitas penerbangan dari Manado menuju Miangas – pulau paling utara yang ada di perbatasan Indonesia dan Filipina. Menurut catatannya, penerbangan menuju Miangas yang selalu dibanggakan oleh Presiden Joko Widodo ini nasibnya juga malang. Dari awal dibuka, rute penerbangan menuju Miangas tercatat ada tujuh kali penerbangan dalam seminggu – namun kini hanya sekali dalam sepekan. “Penumpangnya juga ASN (Aparatur Sipil Negara) dan tentara saja,” tukas Maria. Kendati menghadapi tantangan yang tidak mudah, namun Pemerintah berjanji untuk terus menjembatani antara dua kepentingan yang bertolak belakang ini. Terakhir, Maria juga menyinggung soal poin paling penting yang menyebabkan industri kedirgantaraan domestik semakin terpuruk, yaitu soal nilai tukar rupiah. Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, hampir semua biaya yang berkaitan dengan penerbangan ini menggunakan mata uang dollar, sedangkan pendapatan yang diterima oleh maskapai menggunakan mata uang rupiah. Baca Juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya! Argumen Maria tadi diamini oleh Head of Research Indonesia National Air Carrier (INACA), Wismono Nitidihardjo. “Pengeluaran dalam bentuk dollar, pendapatan dalam bentuk rupiah. Ini sedikit banyaknya membuat revenue yang diterima oleh pihak maskapai menjadi kecil,” jelasnya. “Jadi, diharapkan dengan adanya forum diskusi seperti ini bisa mengedukasi masyarakat bahwa tingginya harga tiket pesawat tidak hanya didasari oleh maskapai yang ingin dapat untung besar – melainkan betapa kompleksnya penghitungan harga jual tiket pesawat.” tutup Wismono pada kesempatan yang sama. Bottomline-nya adalah, kompleksitas penentuan harga tiket pesawat merupakan suatu proses yang banyak tidak diketahui oleh masyarakat di luar sana. Banyak sekali pertimbangan yang harus dihitung pihak maskapai agar mereka tidak merugi – kendati mendapatkan laba yang minim.

Revolusioner! Tempat Makan di Pesawat Terbuat dari Bahan Alami dan Bisa Dimakan

Mengganti peralatan makan di dalam kabin pesawat dengan bahan yang bisa didaur ulang atau bahkan bisa dimakan ternyata bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan, apalagi dengan adanya barang-barang baru ini bisa mengurangi limbah plastik yang dihasilkan dari setiap penerbangan. Baca juga: Solusi Ramah Lingkungan, Mulai 1 Agutus Kargo Garuda Indonesia Gunakan Kemasaan dari Bahan Daur Ulan Pasalnya diperkirakan 5,7 juta ton limbah kabin termasuk plastik sekali pakai, earphone dan limbah makanan dihasilkan oleh penerbangan penumpang setiap tahun. Hal ini kemudian membuat studio desain PriestmanGoode mengembangkan produk yang ramah lingkungan yang bisa dimakan atau di daur ulang.
(telegraph.co.uk)
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (17/9/2019), PriestmanGoode mengembangkan nampan yang terbuat dari ampas kopi bekas, penutup lauk yang terbuat dari ganggang atau daun pisang dan sendok garpu dari kayu kelapa. Dalam pengembangannya, mereka mengatakan tengah berdiskusi dengan perusahaan penerbangan dan perusahaan kereta api. Hal ini agar “dream (mimpi)” untuk mengubah konsep mereka menjadi kenyataan di seluruh industri. Baki atau nampan tersebut merupakan bagian dari pameran baru di London Design Museum yang berjudul “Get Onboard: Reduce” yang mana untuk mengajarkan penggunaan kembali dan berpikir kembali. Pameran ini sendiri akan dibuka hingga Februari 2020. Dalam pameran tersebut juga memperlihatkan bagaimana desain dapat ditata kembali menggunakan bahan-bahan inovatif untuk mengatasi limbah dalam industri perjalanan dan mendorong pelancong untuk memikirkan kembali kebiasaan mereka. Tak hanya nampan, PriestmanGoode juga mengembangkan termos air yang terbuat dari gabus dan bioplastik kompos.
Botol daur ulang (telegraph.co.uk)
Botol ini dapat digunakan kembali dan cocok berada di saku depan kursi kabin. Ini dimaksudkan untuk penggunaan berulang tetapi dalam jangka pendek seperti liburan. Adanya botol ini pun untuk membantu menghilangkan jutaan botol plastik yang dijual di bandara setiap tahun. Seperti jika penumpang di Bandara Heathrow meninggalkan ruang tunggu, mereka bisa mengisi ulang botol dari air mancur dibandingkan membeli botol plastik. Dengan hal ini bandara mengatakan dapat mengurangi konsumsi botol plastik sebesar 35 juta per tahun. Baca juga: Stasiun di Melbourne Uji Penggunaan Duratrack, Bantalan Rel dari Bahan Plastik Daur Ulang “Ada banyak diskusi di ruang publik tentang industri lain, di jalan raya, pompa bensin, tetapi tidak ada yang benar-benar telah dibicarakan tentang membuat orang mempertanyakan cara mereka bepergian. Itu bukan sesuatu yang sering kita dengar,” kata Jo Rowan, associate director strategy di PriestmanGoode. Terkait nampan yang akan hadir dalam penerbangan, Rowan mengatakan ini akan luar biasa untuk menciptakan traksi dan diubah menjadi kenyataan.

Budi Karya: “Soal Tiket, Kemenhub Terus Jembatani Kepentingan Maskapai dan Penumpang”

Industri penerbangan dalam negeri belakangan ini memang kerap menuai komentar miring dari warga – terutama terkait tingginya harga tiket yang dijual. Mulai dari tingginya harga avtur hingga isu tentang duopoli yang dilakukan oleh dua penguasa pasar, Garuda Indonesia dan Lion Air tak pelak menjadi dalih dari melambungnya harga tiket tersebut. Seperti yang tertuang dalam rumus ekonomi, “harga akan turun apabila permintaan naik, pun sebaliknya”, sektor penerbangan penumpang domestik dewasa ini tengah lesu-lesunya, dimana permintaan perlahan menurun seiring meningkatnya harga tiket yang tawarkan. Baca Juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya! Ini merupakan polemik yang tengah hangat diperbincangkan oleh sejumlah lapisan masyarakat, mulai dari Pemerintah sebagai regulator hingga pihak maskapai sebagai pemain inti di dalamnya. Dalam acara yang bertajuk Polemics and Prospects or the Aviation Industry: Airfares, Competition, and Efficiency, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan bahwa pihaknya bersama stakeholders terkait bakal menghadirkan beberapa inisiatif yang berkenaan dengan kebijakan fiskal. “Karena dengan hadirnya inisiatif ini sedikit banyaknya akan berdampak pada harga jual tiket di pasar,” tutur Menhub Budi kepada KabarPenumpang.com, Rabu (25/9). Sembari menunggu hadirnya inisiatif tersebut, lanjut Menhub Budi, masyarakat juga seyogyanya harus teredukasi secara tepat agar tidak terjadi missleading dalam urusan tingginya bea naik pesawat ini. “Kami ingin sekali maskapai-maskapai ini sustain (berkelanjutan), maka dari itu kami dari Kementerian Perhubungan konsisten untuk mencarikan jalan keluar dari masalah yang terlihat bertolak belakang ini (tingginya harga tiket dan kepentingan agar maskapai bisa sustain),” sambungnya. Menhub Budi mengatakan bahwa penerbangan di Indonesia merupakan salah satu cara untuk menyatukan beragam titik yang ada di Nusantara – bahkan untuk yang terluar dan terjauh sekalipun. Wajar adanya jika semua pemangku kepentingan memutar otak agar dapat menjembatani antara permintaan pasar yang mewakili kepentingan rakyat dan keberlangsungan industri penerbangan domestik sendiri. Baca Juga: Nah Ini! Trik Unik Buat Cari Tiket Pesawat Murah “Salah satu caranya adalah kami sudah meminta kepada pihak maskapai untuk mengadakan diskon di hari-hari yang okupansinya sepi, semisal hari Selasa dan Kamis. Ini diharapkan bisa menjadi jembatan bagi kedua belah pihak,” lanjut Budi.

Dinaiki Dua Pria Muslim, American Airlines Batal Mengudara!

Pernahkah Anda membayangkan berada dalam posisi yang dikucilkan atau bahkan menjadi objek dari isu SARA? Tentu saja perasaan ini sangatlah mengiris hati dan akan terus terkenang walaupun sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Tapi kejadian seperti inilah yang menimpa dua penumpang American Airlines, dimana mereka dikabarkan telah mengalami tindak rasisme – bahkan sampai-sampai penerbangan yang ditumpangi oleh kedua penumpang ini dibatalkan. Duh! Baca Juga: Lontarkan Ujaran Berbau Rasisme, Penumpang British Airways Dipecat dari Pekerjaannya! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (20/9), adalah Abderraoof Alkhawaldeh dan Issam Abdallah, dua penumpang maskapai American Airlines yang mendapat tuduhan berbau SARA dari awak kabin lantaran keduanya memeluk agama Islam dan berkebangsaan Timur Tengah. Kejadian yang terjadi 14 September ini menimpa Abderraoof dan Issam ketika mereka berdua hendak bertolak dari Birmingham menuju Dallas, Texas. Sebenarnya kedua penumpang ini bepergian secara terpisah, namun tidak sengaja bertemu di dalam penerbangan tersebut. Kejadian ini berawal ketika Issam bertolak menuju kamar mandi setelah mendengar pengumuman terkait keterlambatan pemberangkatan karena masalah maintenance. Ketika keluar dari kamar mandi, Issam terkejut dengan kehadiran seorang awak kabin yang kedapatan tengah menguping di depan pintu toilet. Namun Issam tidak terlalu menanggapi kejadian tersebut dan kembali ke bangkunya. Sekembalinya Issam ke bangku, alangkah terkejutnya Ia ketika mendengar penerbangan dibatalkan dan penumpang dipersilakan meninggalkan pesawat. Seketika pengumuman itu tersiar di dalam kabin, tampak dua petugas keamanan bandara menghampiri Issam dan Abderraoof secara terpisah dan mulai ‘menginterogasi’ mereka berdua. Tidak ada yang mencurigakan dari interogasi tersebut, hingga pada saat mereka berdua menunggu di sebuah kedai kopi, keduanya merasa diawasi oleh orang yang tadi menginterogasinya di dalam kabin. “Bisa dibilang, mereka mengikuti kemanapun kami pergi,” jelas Issam. Sejurus sesaat, Issam dihampiri oleh seorang petugas keamanan yang mengaku sebagai agen FBI dan memintanya untuk memisahkan diri dari Abderraoof. Di situlah ia baru menyadari bahwa pembatalan penerbangan tersebut dikarenakan pihak maskapai merasa tidak nyaman jika terbang bersama mereka. Di situ Issam benar-benar merasa seperti penjahat dan terintimidasi. “Saya merasa mereka mendiskriminasi etnisitas saya, terhadap agama saya – saya tidak berharap ada manusia yang mengalami pengalaman buruk ini,” katanya. Setelah melewati beberapa sesi tanya jawab, akhirnya mereka berdua diijinkan untuk kembali melanjutkan penerbangan mereka. Baca Juga: Terdesak Isu Rasisme, Wanita Ini ‘Terpaksa’ Tarik Tombol Darurat di Kereta Bawah Tanah Menanggapi kasus ini, pihak American Airlines berdalih mengutamakan keselamatan penumpang dan lebih memilih untuk tidak melanjutkan penerbangan apabila ada sesuatu yang mencurigakan. “Keselamatan penerbangan merupakan prioritas kami, dan kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami pun sudah menghubungi Abderraoof Alkhawaldeh dan Issam Abdallah secara langsung guna menjelaskan apa yang terjadi,” tulis pihak maskapai dalam sebuah keterangan tertulis.

Gunakan CatIIIB, Bandara Perth dan Melbourne Jadi yang Paling Siap Hadapi Kabut Tebal

Di Indonesia, hampir setiap tahun mengalami kabut asap di beberapa daerahnya. Ini membuat banyak jadwal penerbangan harus ditunda ataupun tidak diberangkatkan. Sebab kabut asap bisa mengganggu jarak pandang pilot dan menyulitkan untuk pendaratan maupun lepas landas. Baca juga: Dalam Kondisi Berkabut, Penggunaan ILS Bukan Jaminan Penerbangan Bakal Lebih Efisien Sehingga untuk penerbangan bisa dilanjutkan mau tak mau menunggu langit cerah. Hal tersebut tak hanya membuat penerbangan ditunda tetapi memberikan dampak kerugian dan kekacauan di bandara lainnya. Tetapi di Australia dua bandara internasionalnya yakni Perth dan Melbourne mampu menerima pesawat yang akan lepas landas atau mendarat dalam kabut yang tebal.
Transmissometers (www.abc.net.au)
Sebab keduanya memiliki persiapan yang ekstra dan membuat pesawat bisa mendarat. KabarPenumpang.com melansir laman abc.net.au, kedua bandara internasional di Australia tersebut telah dilengkapi dengan sertifikat CatIIIB yang mana memiliki sistem teknologi tinggi untuk memungkinkan pilot mendarat bahkan ketika visibilitas turun hingga hanya 75 persen. Nah, apakah yang dimaksud dengan sistem CatIIIB itu? Ternyata ini sistem berbasis darat yang menggunakan sinyal radio, pencahayaan yang kuat dan detektor kabut untuk memandu pesawat melaju landasan pacu. Berikut ini ada beberapa alat yang digunakan untuk sistem CatIIIB. Antena Akan ada dua antena yang mana salah satunya ada di setiap ujung landasan. Antena ini akan mengirim sinyal ke pilot pesawat untuk memberitahukan berbaris ke landasan. Menara petugas jalur dan localiser bekerja sama untuk memberikan informasi vertikal dan horizontal yang dikenal sebagai sistem pendaratan instrumen.
(www.abc.net.au)
Penerangan Sekitar delapan ribu lampu dipasang di landasan pacu yang dinyalakan untuk memandu pilot ke posisi yang tepat. Di Bandara Melbourne, empat generator dinyalakan dalam jarak pandang rendah untuk memberi daya pada lampu dengan daya utama disediakan cadangan. Transmissometers Merupakan sensor yang tersebar di sekitar lapangan terbang untuk mengukur visibilitas atau runway visual range. Di Melbourne ada senam set sensor di landasan. Selain sistem CatIIIB, petugas darat yakni lima karyawan Airservice Australia yang berada di menara kontrol Bandara Melbourne menggunakan radar darat untuk memastikan landasan pacu bersih. Salah satu tugas terpenting adalah menjaga area pendaratan jauh dari kendaraan dan pesawat lainnya. Sebab pengemudi dan pilot yang terlalu dekat dengan antena bisa mengganggu instrument landing system. Shift Supervisor Peter McMillan mengatakan, pesawat bisa hilang dari radar udara ketika berada dalam kabut tebal. “Kami melihat mereka di radar darat dan mereka terlihat berada pada kecepatan pendaratan. Kita akan mendengar pendorong terbalik itu pertanda baik, dan sebelum kita memiliki radar darat di menara tua itu bagaimana kita akan tahu apakah mereka mendarat,” kata Peter. Meski sudah dilengkapi dengan CatIIIB, Melbourne dan Perth masih juga melakukan penundaan ketika kabut. Hal ini karena keduanya masing-masing hanya memiliki dua landasan pacu dan hanya satu yang bersertifikat CatIIIB. Bahkan Perth baru mendapatkan sertifikat itu pada Mei kemarin dan tidak semua pilot dilatih dan pesawat bersertifikat menggunakan sistem tersebut. Peter mengatakan, pesawat yang mendekat juga terpaksa melambat untuk memberi waktu pesawat lain untuk lepas landas. Tak hanya itu, pertanyaan kenapa bandara lain tak memiliki sertifikat CatIIIB pun sering ada. Salah satu jawabannya adalah biaya dan dua bandara ini rata-rata terkena kabut tebal 15 hari dalam setahun. Diketahui, penumpang yang akan melalui bandara diperkirakan akan meningkat menjadi 70 juta per tahun pada 2038 medatang. Manajemen berencana untuk membangun landasan pacu ketiga untuk memenuhi peningkatan lalu lintass. Manajer lapangan terbang Luc Ramalinga mengatakan manajemen ingin memasang peralatan yang diperlukan di ketiga landasan pacu untuk memungkinkan sertifikasi CatIIIB. Baca juga: Terkait Kabut Asap, Inilah Tiga Pedoman Bagi Pilot untuk Tetap atau Batal Terbang “Bandara Melbourne adalah bandara 24/7 yang paling sibuk di Australia. Itu berarti lebih sedikit penundaan dan kemampuan untuk keluar dari Melbourne lebih cepat,” katanya. Bandara masih membutuhkan persetujuan dari Pemerintah Federal untuk landasan pacu ketiga. Diharapkan konstruksi dapat dimulai antara 2019 dan 2021.