Klaim Maskapai “Bintang Lima,” Ternyata Ada Kotoran di Kursi dan Meja Penumpang Hainan Airlines

Sebuah kabin pesawat yang penuh dengan kuman baik di kursi, meja hingga toilet sudah pasti dapat menimbulkan beragam masalah kesehatan. Tapi bagaimana bila itu ditambah lagi dengan sampah penumpang yang tidak dibersihkan oleh petugas kebersihan kabin? Baca juga: (Video) Kursi Pesawat Dekat Jendela Paling Kotor Diantara yang Lainnya Ini mungkin bisa menambah masalah baru dan memperlihatkan bahwa awak kabin maskapai tersebut tidak profesional dalam bekerja. Hal ini baru saja dirasakan seorang penumpang yang berangkat dari Dublin ke Edinburgh di Skotlandia. Dilansir KabarPenumpang.com dari edinburghlive.co.uk (23/9/2019), Paul Lucas yang naik Hainan Airlines pesawat Boeing 787 memviralkan apa yang dilihat dan direkamnya ke media sosial. Dalam penerbangan menuju ke Edinburgh tersebut, Paul menemukan noda kopi dan sisa makanan di sekitar kursinya. Video yang diunggah ke akun YouTube tersebut menunjukkan salah satu sudut mengerikan dari penerbangan. Paul merekam ketika mengangkat bantal dari kursinya dan terlihat noda yang menjijikan. Kemudian dia menunjukkan remah makanan dan noda kopi disekitar kursinya bersamaan dengan sendok garpu bekas serta tutup botol. Ketika dirinya membuka meja di depan kursi terlihat ada tumpahan makanan di atasnya. “Pesawat ini memiliki waktu lebih dari dua jam di Dublin. Tetapi tampaknya jelas bahwa pesawat ini tidak dibersihkan dengan benar dalam beberapa minggu dan tingkat sejumlah kotoroan di dinding samping,” katanya. Dia mengatakan, situasi ini memalukan padahal Skytrax memberikan penghargaan bintang lima untuk kebersihan Hainan Airlines. Apalagi sampah ini bukan sesuatu yang bisa ditoleransi oleh maskapai yang memasarkan dirinya sebagai bintang lima. Setelah kursi, dirinya kemudian pindah ke toilet dan mendapati semua baik. Meski kesal dengan kotornya kursi, Paul memberi pujian pada maskapai ini karena berangkat tepat waktu dan memberikan headphone gratis selama penerbangan. Video itu ditonton lebih dari 68 ribu kali dengan beberapa orang mengkritik maskapai karena tidak membersihkan dengan benar. Baca juga: Punya Budaya Kebersihan yang Kuat, ANA Sabet Predikat Maskapai dengan Kabin Terbersih “Kebersihannya memang mengerikan. Sangat menjijikkan! ”Komentar seorang pengguna.  

Dituduh Promosi Ilegal, Airbus Diperkarakan Eks Pilot AS

Seorang eks pilot dan pimpinan militer Amerika Serikat, Chuck Yeager angkat bicara setelah dirinya mengklaim Airbus telah menggunakan nama dan fotonya secara ilegal. Penggunaan nama dan foto Yeager ini disinyalir merupakan bagian dalam promosi helikopter terbaru milik Airbus. Jika pihak manufaktur pesawat menggelontorkan bayaran kepada Yeager, mungkin hal ini tidak akan menjadi pemberitaan – namun ini tidak dan malah menyulut emosi dari Yeager. Baca Juga: Ganja Legal di California, Tapi Tak Bisa Dibawa Melalui Bandara Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman avweb.com (23/9), Yeager menduga Airbus telah menggunakan identitasnya sebagai bagian dari upaya promosi helikopter terbarunya pada tahun 2017 silam. “Tujuh puluh tahun yang lalu, Chuck Yeager memecahkan sound barrier,” kata Guillaume Faury, CEO dari Airbus Helicopters. “Kini kami tengah berusaha untuk memecahkan cost barrier. Tidak boleh ada istilah ‘kecepatan dengan biaya berapa pun’,” sambungnya. Kurang lebih itulah yang dicantumkan pihak Airbus ketika mempromosikan helikopternya – dan tanpa sepengetahuan dari Yeager. Otomatis, ini tidak sejalan dengan kode etik promosi. Minggu lalu, Yeager yang didampingi oleh pengacaranya melayangkan gugatan ke pengadilan federal terkait promosi ilegal yang dilakukan oleh Airbus. “Dengan menggunakan nama dan identitas Yeager secara ilegal, maka Airbus dituduh telah menghalangi jalur masuknya penghasilan Yeager yang cukup potensial (royalti),” tulis kuasa hukum Yeager. Pada kesempatan sebelumnya, Yeager juga sudah menyambangi pihak Airbus pada tahun 2008 silam dan mengatakan bahwa royalti yang harus dibayarkan Airbus jika menggunakan identitas Yeager dalam sebuah promosi adalah senilai US$1 juta atau yang setara dengan Rp14,1 miliar. Namun kala itu, Airbus menolak tawaran tersebut. Baca Juga: Dianggap Ilegal, Pengemudi Uber di Hong Kong Harus Bayar Denda Rp5,3 Juta Gugatan Yeager ini menuduh Airbus telah menggunakan rekaman kunjungan Yeager sebagai salah satu materi dalam promosi tersebut – kendati gugatan itu tidak mencantumkan kapan dan bagaimana cara Airbus mengambil rekaman tersebut. Walaupun mencantumkan nama Yeager di dalam promosinya, namun pria berusia 96 tahun ini bersikukuh bahwa dirinya tidak menerima royalti sama sekali dan tidak mendukung program helikopter rakitan Airbus.

Gara-Gara Jetlag Jadi Susah BAB

Jetlag merupakan gangguan sementara yang menyebabkan kelelahan, insomnia dan gejala lainnya sebagai akibat dari perjalanan udara melintasi berbagi zona waktu. Lalu, apakah kesulitan buang air besar atau BAB juga bisa disebabkan karena jet lag ini? Baca juga: Atasi Jetlag, LumosTech Hadirkan Masker Tidur Pintar Nah, ternyata benar adanya bila jetlag bisa membuat pelancong sulit BAB ketika berada di tempat baru seperti luar negeri. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, sulitnya BAB karena adanya perubahan jam biologis tubuh. Sebab tubuh manusia memiliki semacam jam biologis yang mengikuti siklus 24 jam yang disebut ritme sirkadian. Di mana sebagian kecil otak yang disebut hipotalamus bertindak seperti jam alarm untuk mengaktifkan berbagai fungsi tubuh seperti rasa lapar, haus dan tidur. Ini juga mengatur suhu tubuh, tekanan darah dan tingkat hormon serta glukosa dalam aliran darah. Untuk membantu tubuh mengetahui waktu, serat-serat di saraf optik mata mentrasnsmisikan persepsi cahaya dan kegelapan ke pusat ketepatan waktu di dalam hipotalamus. Jadi, ketika mata seorang pelancong udara merasakan fajar atau senja berjam-jam lebih awal atau lebih lambat dari biasanya, hipotalamus dapat memicu aktivitas pada bagian tubuh lainnya yang belum siap maka terjadilah jet lag ini. Sehingga terjadilah masalah pada pelancong yang harusnya dalam waktu tidur tetapi terjaga sehingga proses BAB ikut menjadi terganggu. Sulitnya BAB karena jetlag juga bisa disebabkan adanya perubahan gerakan usus. Hal ini bisa mengakibatkan rasa tidak tuntas ketika BAB dan bila dibiarkan masalah sembelit dapat mengakibatkan pendarahan pada anus dan luka pada anus serta sumbatan usus. Baca juga: Sambut Rute Perth – London, Qantas Bantu Penumpang Atasi Jetlag dengan Coklat, Cabai dan Teh Herbal Meski berubahnya jam biologis tubuh dan waktu tidur, sebenarnya pelacong yang terkena jetlag juga masih bisa BAB dengan makan teratur, mencoba menguasai diri dengan perubahan waktu. Selain itu juga pelancong tidak boleh lupa untuk minum air putih yang cukup, sebab dengan konsumsi air yang cukup tubuh terhidrasi dengan baik dan saluran pencernaan pun bisa lebih lancar mencerna asupan yang dimakan.

Hadirkan Kelas Ekonomi Premium, Emirates Galau untuk Pesawat yang Digunakan

Memiliki pangsa pasar yang cukup besar, maskapai Emirates akan memperkenalkan kelas dengan kabin terbaru mereka. Kabin baru ini nantinya akan digunakan untuk kelas ekonomi premium. Namun kehadiran kelas baru ini belum jelas akan ada di armada yang mana. Baca juga: Resmi! Emirates Purna Tugaskan Boeing 777-300 Dari kabar yang beredar kelas ekonomi premium akan hadir di Airbus A380 pada Desember 2020 mendatang. Tetapi hal tersebut belum dikonfirmasi oleh pihak Emiraters. Dilansir dari samchui.com (23/9/2019) oleh KabarPenumpang.com, Presiden Dubai Emirates, Tim Clark mengungkapkan pemikirannya untuk kemungkinan menghadirkan kelas ekonomi premium di armada mereka karena keterlambatan kedatangan Boeing 777X. Dia mengatakan, Boeing 777X pertama mereka harusnya akan datang Juni 2020 dan sekaligus Emirates akan mengungkapkan adanya produk kabin baru. Tetapi hal ini menjadi tertunda dan pelancong harus menunggu. Pasalnya masalah yang terjadi pada 737 MAX sampai saat ini masih dalam proses penyelesaian dan ini membuat uji penerbangan 777X tertunda enam bulan. Baca juga: Boeing Apes (Lagi)! Pintu 777X ‘Meledak’ Saat Uji Final Load, Jadwal Terbang Perdana Ikut Molor Sehingga Tim mengatakan belum jelas nantinya kelas ekonomi premium ini ditetapkan untuk Airbus A380 atau Boeing 777X. Menurutnya kelas ekonomi premium dirasa akan sangat bermanfaat bagi maskapai ini terutama bagi armada Airbus A350, A330Neo dan Boeing 777X di masa depan. Seiring berjalannya waktu dan perubahan pasar, Emirates siap untuk bersaing ketika penumpang mencari produk premium lebih murah dibandingkan yang lainnya. Diketahui, Airbus telah memilih untuk menghentikan produksi A380 mereka tahun 2021 tetapi meski begitu Emirates tetap teguh bahwa armada A380 akan tetap menjadi bagian mereka hingga tahun 2035. Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran! Dengan A380 menjadi pesawat yang sedemikian besar, kemungkinan Emirates akan membutuhkan waktu untuk meluncurkan Ekonomi Premium pada pesawat yang diinginkan. Tak hanya itu, pada Expo Pesawat Aircraft awal tahun ini, HAECO mengungkapkan kabin eclips baru mereka. Namun mereka tidak mengatakan, kabin eclips tersebut akan digunakan untuk maskapai yang mana. Tak hanya itu HAECO hanya menyebutkan, kabin eclips akan hadir di 2020 mendatang.

Baling-Baling Mati Sebelah, Penerbangan QantasLink Dash 8 Terpaksa “Return to Base”

Apa yang akan Anda lakukan jika melihat baling-baling pesawat yang Anda tumpangi mendadak mati? Panik? Tentu saja! Dijamin otak Anda semua sudah mengarahkan kepada skema terburuk yang akan terjadi – kecelakaan pesawat. Dan percayakah Anda bahwa deskripsi di atas bukan hanya sekedar imajinasi liar belaka, namun pernah terjadi beberapa waktu ke belakang! Baca juga: Apa yang Dilakukan Pilot Ketika Salah Satu Mesin Pesawat Mati? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (23/9), seorang penumpang dari maskapai QantasLink Dash 8, Rodney Hyman mendapati mesin di burung besi yang ditumpanginya mendadak mati ketika menempuh perjalanan dari Cairns menuju Townsville beberapa waktu yang lalu. Menurut pengakuan Rodney, matinya salah satu baling-baling dari pesawat kecil ini terjadi tak berselang lama setelah pesawat tinggal landas. Rodney yang kala itu tengah duduk di samping jendela, otomatis langsung mengetahui bahwa baling-baling pesawat yang dikendarainya mati. Sontak ia langsung mengeluarkan ponselnya guna mengabadikan momen tersebut – siapa tahu bisa menjadi suatu alat bukti jika pesawat propeller tersebut jatuh atau mengalami kecelakaan. “Mungkin sekira 15 hingga 20 menit setelah pesawat tinggal landas,” ujar Rodney kepada media setempat. “Ya, baling-baling pesawat itu benar-benar mati,” sambungnya singkat. Pada awalnya, Rodney sempat tidak menyangka bahwa baling-baling pesawat itu mati, namun pada akhirnya, ia baru menyadari setelah kecepatan pesawat berangsur menurun. “Terlebih ketika awak penerbang mengumumkan terkait kejadian ini, di situlah saya baru benar-benar percaya,” lanjut Rodney. Kendati terdengar menyeramkan di telinga penumpang, namun pengumuman semacam ini merupakan sebuah standar pengoperasian yang kudu dilakukan oleh pihak maskapai guna memberitakan kejadian terbaru yang menimpa pesawat terkait. Ketika dikonfirmasi, pihak anak perusahaan dari The Flying Kangaroo ini tidak menyangkalpemberitaan tersebut. Baca Juga: Bikin Ulah Pasca Keluar Toilet, Penumpang ini Paksa The Flying Kangaroo Return to Base “Terkait insiden ini, penerbangan cari Cairns menuju Townsville terpaksa Return to Base. Namun pesawat tetap bisa mendarat di Cairns dengan selamat,” tutur pihak Qantas. “Kendati salah satu mesin mati, namun pesawat ini masih bisa mengudara untuk batas waktu tertentu. Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” sambung Qantas.

Keluarga Korban Kecelakaan 737 MAX Tolak Dana Santunan dari Boeing, Ada Apa?

Setelah pada pemberitaan terakhir disebutkan bahwa Boeing kini tengah menantikan kehadiran regulator dari Federal Aviation Administration (FAA) guna membawa varian 737 MAX kembali ke udara pasca dua kecelakaan maut yang melibatkan dua maskapai: Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302, kini kabar terbaru dari pabrikan pesawat asal Amerika ini menyebutkan bahwa mereka menyantuni keluarga korban kecelakaan Boeing 737 MAX senilai US$144.500 per keluarga. Apakah nilai tersebut setimpal dengan hilangnya nyawa dari korban kecelakaan yang hanya berselang sekitar lima bulan ini? Baca Juga: Ketua FAA: “Jika Ingin Sertifikasi Turun, Saya Harus Terbangkan 737 MAX” Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (24/9), uang santunan tersebut berasal dari dana bantuan keuangan yang dikumpulkan Boeing dan sudah terkumpul sekira US$50 juta. Pembagian dana santunan ini sebenarnya merupakan reaksi dari pihak manufaktur pasca ‘dikejar-kejar’ oleh keluarga korban kecelakaan melalui jalur pengadilan. Namun alih-alih bersedia menerima dana tersebut, banyak dari keluarga korban yang menolak menerima dana tersebut. “US$144.500 merupakan nilai yang sama sekali tidak mendekati kompensasi yang harus kami tukar dengan nyawa keluarga yang meninggal akibat kecelakaan ini,” ujar Nomaan Husain, pengacara yang mewakili sekitar 15 keluarga. “Ini (pembagian dana santunan) bukanlah sesuatu yang akan memuaskan pihak keluarga, dan mereka benar-benar menginginkan jawaban,” sambungnya. Kekesalan keluarga korban ini makin memuncak manakala mereka ingat akan janji yang dilontarkan oleh pihak perusahaan pada bulan Juli silam, dimana keluarga dan masyarakat yang terdampak akan menerima US$100 juta. Namun di tengah jalan, pihak Boeing mengatakan bahwa dana tersebut akan dipecah menjadi dua: setengah untuk dibayarkan langsung kepada pihak keluarga, sedangkan setengahnya lagi akan dicadangkan guna biaya pendidikan dan pengembangan wilayah yang terdampak. Baca Juga: Gelontorkan Rp1,4 Triliun, Boeing Siap ‘Cicil’ Dana Santunan Keluarga Korban 737 MAX 8 Di sisi lain, CEO dari Boeing, Dennis Muilenburg mengatakan bahwa pemberian santunan ini merupakan upaya perusahaan untuk membantu keluarga korban dari dua kecelakaan maut yang sama-sama menggunakan varian pesawat 737 MAX 8 ini. Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, sejak Maret 2019 kemarin, pesawat berjenis 737 MAX sudah di-grounded-kan secara massal guna mencegah kecelakaan serupa terulang kembali.

Tunggu Izin Mengudara Terbit, SilkAir Berencana ‘Istirahatkan’ Boeing 737 MAX di Australia

Grounded massal yang dilakukan oleh hampir semua maskapai di dunia terhadap varian pesawat Boeing 737 MAX memang berdampak panjang dan masif. Selain terganggunya sejumlah operasional penerbangan di beberapa maskapai, tapi dibutuhkan juga ruang penyimpanan dengan kapasitas yang amat sangat besar untuk menampun pesawat-pesawat yang tengah ‘mati suri’ ini. Walhasil, satu nama yang mencuat ke permukaan dan disinyalir bakal menjadi tempat bersemayamnya pesawat-pesawat ini adalah di Asia Pasific Aircraft Storage (APAS), Alice Springs, Australia. Tapi, tentu saja tidak semua pesawat bertipe 737 MAX disimpan di sini… Baca Juga: Ketua FAA: “Jika Ingin Sertifikasi Turun, Saya Harus Terbangkan 737 MAX” Tarik mundur ke tanggal 10 Maret 2019 kemarin, dimana pesawat Ethiopian Airlines ET302 jatuh di Addis Ababa dan menewaskan 157 orang – termasuk penumpang dan awak penerbangan. Kejadian ini menyusul jatuhnya maskapai Indonesia Lion Air JT610 di perairan Tanjung Karawang para 29 Oktober 2018 yang menewaskan keseluruhan isi pesawat – 189 orang. Kecelakaan yang hanya berselang sekira lima bulan ini sontak menjadi sorotan publik dunia dan terus menghiasi headline sejumlah media kenamaan. Sebenarnya, inisiasi penempatan varian 737 MAX di APAS Australia diawali oleh anak perusahaan dari Singapore Airlines, SilkAir. Namun tidak menutup kemungkinan jika maskapai lain juga mengikuti langkah yangbakal ditempuh oleh maskapai tersebut. Pertanyaannya adalah, “mengapa mesti di APAS?” Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (21/9), dikabarkan bahwa iklim di APAS ini relatif kering dan dianggap cocok untuk menyimpan dan merawat pesawat – tidak terkecuali Boeing 737 MAX. Ya, dibutuhkan suatu wilayah yang sangat kering untuk menyimpan suatu pesawat, dengan tujuan agar kondisi lembab tidak mempercepat proses korosi pada tubuh pesawat dan tidak merusak fungsi-fungsi di dalam pesawat. Baca Juga: Uji Sertifikasi 737 MAX Jatuh Pada September Ini, FAA dan Boeing Masih Rahasiakan Tanggal, Ada Apa? Sebenarnya ada banyak lokasi selain di APAS ini yang memiliki kriteria cuaca yang tepat untuk menyimpang Boeing 737 MAX, namun saja kebanyakan dari mereka tidak memiliki fasilitas landas pacu yang benar-benar ideal untuk mendaratkan pesawat semacam ini – dan Australia ini memiliki keduanya, baik kondisi cuaca yang kering dan landas pacu untuk mendaratkan pesawat.

Sepanjang Agustus 2019, Kinerja Singapore Airlines Naik Tipis, SilkAir dan Scoot Hadapi Tekanan

Seperti halnya Garuda Indonesia Group, Singapore Airliens sejatinya tak hanya nama maskapai, melainkan suatu kelompok usaha Singapore Airlines Group yang di dalamnya terdiri dari Singapore Airlines sebagai backbone layanan, kemudian ada SilkAir dan maskapai berbiaya murah, Scoot. Dan ditengah masa persaingan antar layanan yang ketat, ditambah meningkatnya tarif sebagai dampak harga minyak dunia, Singapore Airlines (SIA) Group masih mampu memperlihatkan kinerja operasional yang positif pada 3 layanannya. Dengan mengambil hub Bandara Changi, sontak menjadi pemikat pelancong untuk memakai jasa Singapore Airlines Group. Baca juga: Demi Efisiensi Grup, SilkAir Besar Kemungkinan Dilebur Ke Singapore Airlines Dalam sebuah laporan yang dirilis 23 September lalu, SIA Group memperlihatkan kinerja operasional yang telah berlangsung dalam periode Agustus 2019. Disebutkan jumlah penumpang yang diangkut oleh SIA Group (diukur dalam pendapatan penumpang per kilometer) meningkat sebesar 7,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, mengikuti pertumbuhan kapasitas (diukur dalam jumlah kursi yang tersedia per kilometer) sebesar 5,6 persen. Tingkat keterisian penumpang (PLF/Passenger Load Factor) mengalami peningkatan sebesar 1,2 poin persentase menjadi 86,4 persen. Lebih spesifik lagi, PLF Singapore Airlines mengalami peningkatan sebesar 1,5 poin persentase dibandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi 86,3 persen. Jumlah penumpang yang diangkut meningkat sebesar 8,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, berbanding dengan peningkatan kapasitas sebesar 6,2 persen. Terlepas dari penurunan marjinal di Asia Timur dan Amerika, PLF mengalami peningkatan di seluruh wilayah rute. Jumlah penumpang yang diangkut oleh SilkAir mengalami peningkatan sebesar 0,4 persen, sementara kapasitas mengalami penurunan sebesar 1,9 persen. Pengalihan beberapa rute penerbangan ke Scoot dan penarikan armada Boeing 737 MAX 8 dari layanan telah mempengaruhi kapasitas SilkAir. PLF meningkat sebesar 1,8 poin persentase menjadi 81,2 persen, dengan peningkatan pada seluruh wilayah rute. Kemudian PLF Scoot mengalami peningkatan sebesar 0,3 poin persentase menjadi 88,6 persen, seiring dengan peningkatan jumlah penumpang yang diangkut sebesar 6,1 persen berbanding dengan peningkatan kapasitas sebesar 5,7 persen. PLF mengalami peningkatan di kawasan Asia Barat serta di kawasan lainnya, sementara itu PLF Asia Timur mengalami penurunan karena lalu lintas tidak sejalan dengan perubahan kapasitas. Layanan menuju Quanzhou ditangguhkan mulai pada tanggal 24 Agustus 2019 dikarenakan jumlah permintaaan yang lemah dan berkurangnya jumlah armada pesawat. Baca juga: Scoot Hapus Biaya Pemrosesan Pembayaran Global dan Tawarkan Pilihan Pembayaran Baru Tingkat keterisian kargo (CLF) mengalami penurunan sebesar 6,0 poin persentase, yang disebabkan oleh penurunan lalu lintas kargo (diukur dalam ton beban kargo per kilometer) sebesar 10,2 persen, melebihi penyusutan kapasitas kargo sebesar 0,8 persen. CLF di seluruh wilayah rute mengalami penurunan.

Gegara Gerombolan Lebah di Jendela Kokpit Air India, Penerbangan Terpaksa Ditunda

Masih ingat dengan kabar seekor burung burung hantu yang tiba-tiba berada dalam kokpit pesawat Jet Airways? Burung hantu ini mungkin tidak mengganggu meski berada dalam kokpit, tetapi bagaimana jika segerombolan lebah menutupi kaca kokpit, apakah pesawat bisa terbang dalam kondisi tersebut? Baca juga: Ditemukan di Dalam Kokpit Jet Airways, Burung Hantu Dianggap Pertanda Baik Baru-baru ini penerbangan Air India tertunda selain karena masalah teknis juga kemunculan segerombolan lebah. Lebah-lebah ini tidak berada di dalam kokpit tetapi di jendela luar kokpit dan membuat pandang pilot terhalang. KabarPenumpang.com melansir laman washingtonpost.com (17/9/2019), Direktur Bandara Kolkata, Kaushik Bhattacharjee mengatakan, para pekerja sudah mencoba mengusir sekelompok lebah itu tetapi diserang. Bahkan wiper kaca depan kokpit pun tidak bisa digunakan dengan baik karena lebah menempel. Ini kemudian membuat petugas memanggil pemadam kebakaran bandara untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Juru bicara Air India mengatakan, jika lebah itu ada yang tebang ke mesin dan masuk ke dalamnya, ini bisa merusak dan membahayakan para penumpang. Setelah satu jam mencoba mengusir lebah-lebah itu, akhirnya pemadam kebakaran menyemprotkan air dan membuat mereka terusir. Ahli etimologi mengatakan, seekor lebah ratu dan koloni mungkin tengah berpindah menuju rumah baru mereka. Ternyata masalah lebah tak hanya terjadi di Air India, tahun lalu, segerombolan lebah masuk ke dalam pesawat South Africa. Tak hanya itu, penerbangan American Airlines yang akan berangkat dari Miami juga harus tertunda karena lebah dan penumpang mau tak mau meninggalkan pesawat sementara lebah itu dibereskan dari dalam kabin. Dikatakan George Botta seorang pembasmi lebah dari Las Vegas, sekumpulan lebah yang tersedot ke dalam mesin bisa menyebabkan kerusakan. “Ini tidak seburuk mengusir sekawanan burung, tetapi seperti menuangkan madu ke dalam mesin,” kata Botta. Seorang pemilik Bee Buster di California Selatan, David Marder mengatakan, pihaknya sepanjang waktu sering dipanggil ke Bandara. Dia mengatakan, untuk menangani lebah itu, hanya dengan menyedotnya dan ini akan direkomendasikan ke India. “Semua orang akan pergi dalam 20 menit,” katanya. Meski pemadam kebakaran mengusir dengan busa, Marder mengatakan, hal terpenting adalah pesawat tidak bermasalah dan penumpang bisa terbang dengan nyaman. Baca juga: Kaca di Kokpit Mendadak Pecah, Kopilot Sichuan Airlines Nyaris Terkena Dekompresi “Ketika Anda memiliki pesawat yang penuh dengan orang, yang paling penting adalah membuat orang itu selamat sehingga mereka bisa turun atau pergi dari pesawat,” kata Marder.

Kembali ke Tanah Air, Flynas Siap Terbangkan (Lagi) Jemaah Haji asal Indonesia

Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta kedatangan ‘tamu’ baru dari Arab Saudi tertanggal 22 September 2018 kemarin. Rencananya, maskapai berbiaya rendah ini akan menjalankan rute penerbangan reguler. Ya, adalah Flynas Airlines – maskapai asal Arab Saudi ini sudah mulai mengoperasikan rute Jakarta – Madinah – Jeddah pada hari Minggu kemarin dengan menggunakan pesawat Boeing 747-400 dan mengangkut 425 jemaah asal Indonesia. Baca Juga: Penerbangan Haji 2019 Rampung, Garuda Indonesia Catatkan OTP 89 Persen! Flynas Airlines akan melakukan penerbangan berjadwal dengan rute yang sama sebanyak 2 kali seminggu – Selasa dan Minggu ke Medinah, sedangkan Sabtu dan Senin dari Jeddah ke Jakarta. Presiden Direktur PT Jasa Angkasa Semesta (JAS airport service), Adji Gunawan menyampaikan bahwa pada tahun 2014 silam, JAS airport service pernah menangani Flynas Airlines yang terbang di langit Indonesia. “Ini berarti kali kedua bagi JAS dan kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik bagi Flynas,” ujar Adji. Flynas sendiri merupakan Low Cost Carrier (LCC) yang mulai beroperasi pada Februari 2007 silam. Maskapai yang para September 2019 kemarin tercatat mengoperasikan 32 unit pesawat – 3 unit Airbus A319-100, 26 unit Airbus A320-200, dan 3 unit Airbus A320neo ini bermarkas di Riyadh, Arab Saudi. Anak perusahaan dari National Air Service (dengan kepemilikan saham 63 persen per Oktober 2014) ini mengoperasikan penerbangan menuju 23 destinasi yang tersebar di seluruh dunia – termasuk Indonesia baru-baru ini. Kendati tergolong sebagai ‘pemain baru’ di jagad aviasi Arab Saudi, namun pencapaian yang sudah dilakukan oleh maskapai ini tidaklah bisa dilihat sebelah mata. Nama Flynas sendiri tercatat sebagai maskapai berbiaya rendah pertama yang melayani rute penerbangan Jeddah menuju London Gatwick pada April 2014. Baca Juga: Mulai 7 Juli, Garuda Indonesia Siapkan 14 Pesawat untuk Layani Penerbangan Haji Maksapai yang masih seumur jagung ini juga terbukti serius dalam mengembangkan sayap bisnisnya. Pada tahun 2012, maskapai yang sebelumnya bernama Nas Air ini menjalin perjanjian codeshare dengan Etihad. Tidak cukup dengan raksasa asal Timur Tengah, Flynas juga mengembangkan kerja sama codeshare dengan Pegasus Airlines pada Mei 2016.