PT Industri Kereta Api (INKA) merupakan perusahaan pembuatan kereta api di Indonesia dan Standler, perusahaan kereta api yang bermarkas di Swiss melakukan penandatanganan perjanjian pendirian perusahaan patungan pabrik kereta api di Banyuwangi, Jawa Timur. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Ketua Eksekutif Stadler Rail Peter Spuhler dan Presiden Direktur PT INKA Budi Noviantoro pada 20 September 2019 kemarin di kantor pusat Stadler Rail di Swiss.
Baca juga: Mengenal Sonar Bangla Express, Kereta di Bangladesh dengan Rangkaian Gerbong Produksi PT INKA
Dari keterangan pers yang diterima KabarPenumpang.com, Sabtu (21/9/2019), Joint Ventucer Company ini akan menjadi perusahaan investasi yang didirikan di Indonesia untuk mengoperasikan dan memproduksi rolling stock modern di Banyuwangi. Nantinya perusahaan patungan tersebut akan menggambungkan sumber daya baik dari Stadler maupun INKA dalam bidang teknologi, tenaga kerja, pengalaman dan sumber daya yang bermanfaat lainnya.
Tak hanya itu, diadakan pula Lettter of Intent (LoI) antara PT INKA, Stadler Rail AG dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). LoI ini sendiri untuk menghormati niat PT KAI untuk bergabung sebagai salah satu pemegang saham dan berkontribusi dalam aspek komersial di perusahaan patungan itu.
Menteri BUMN Indonesia Rini Soemarno yang hadir dalam penandatangan perjanjian tersebut mengatakan, investasi baru ini akan mendukung pengembangan fasilitas transportasi di Indonesia. Duta Besar RI untuk Swiss, Muliaman D Hadad juga memuji adanya langkah baru ini dengan adalasan invesatasi dan ahli teknologi Swiss akan memenuhi kebutuhan meningkatnya jumlah kereta api di Indonesia.
Selain itu, berbagai produk yang dihasilkan perusahaan patungan tersebut juga memiliki potensi untuk diekspor ke berbagai wilayah di Asia. Bahkan sekitar 125 gerbong diperkirakan akan digunakan setiap tahun setelah total investasi US$100 juta.
Jumlah ini juga akan meningkat segera menjadi seribu gerbong pertahun. PT KAI akan menjadi pembeli utama untuk gerbong-gerbong kereta. Pabrik perusahaan gabungan ini akan dibangun di lahan seluas 83 hektar yang berjarak tiga kilometer dari pelabuhan setempat di kota Banyuwangi.
Baca juga: Tak Jadi Beroperasi Tahun Ini, Pabrik PT INKA di Banyuwangi Dibuka Tahun 2020
Pabrik kereta ini akan mulai memproduksi kereta api tahun 2020 mendatang. Tak hanya membangun pabrik, Stadler Rail juga akan meluncurkan sekolah kejuruan kereta api di Indonesia.
PT Citilink Indonesia bersinergi dengan perusahaan perawatan pesawat PT GMF AeroAsia (GMF) membentuk anak usaha yang akan bergerak dalam bidang pendidikan di dunia aviasi dan non aviasi yakni PT Garuda Ilmu Terapan Cakrawala Indonesia (GITC Indonesia). Komposisi kepemilikan saham dari dua perusahaan Garuda Indonesia Group yakni Citilink 80 persen dan GMF 20 persen.
Baca juga: Citilink Rute Domestik Mulai Beroperasi Sementara di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta
Direktur Utama Citilink Juliandra mengatakan, GITC Indonesia resmi berdiri 30 Agustus 2019 kemarin. Dia mengatakan ini adalah bentuk ekspansi bisnis Citilink dalam bidang pendidikan dan pengembangan kualitas SDM serta dalam rangka mendukung operasional Penerbangan.
Juliandra menambahkan, di tahap awal, GITC Indonesia akan menyediakan pendidikan bagi SDM untuk menunjang kegiatan operasional di lingkungan Garuda Indonesia Group termasuk pendidikan untuk pilot, awak kabin, engineer dan pengawai darat.
“Dengan fasilitas, sarana dan prasarana yang mumpuni serta tenaga pengajar yang ahli di bidangnya diharapkan GITC Indonesia mampu menghadirkan pendidikan di bidang aviasi yang berkualitas baik dan terpercaya” kata Juliandra yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima, Senin (23/9/2029).
Ke depannya, GITC Indonesia akan membuka fasilitas pendidikan di bidang aviasi untuk umum, adapun pelatihan yang disediakan mulai dari pendidikan untuk operasional maskapai (airline operation) hingga pendidikan untuk pengembangan bisnis maskapai (airline business). Untuk memberikan kualitas pendidikan terbaik GITC yang saat ini bertempat di Duri Kosambi, Cengkareng, dilengkapi berbagai fasilitas penunjang yang lengkap mulai dari ruang kelas, lounge, asrama hingga simulator berbagai tipe pesawat seperti Airbus A320, Airbus A330, Boeing 737-800NG, ATR 72-600 dan CRJ1000.
Sementara itu Direktur Utama GMF Tazar Marta Kurniawan mengatakan bahwa pendirian anak usaha ini merupakan upaya GMF dalam rangka pemenuhan kualitas SDM yang dapat mendukung ekspansi bisnis. Melalui pembentukan anak usaha yang fokus terhadap pengembangan kualitas dan pelatihan tenaga kerja, kedepannya GITC diharapkan dapat melahirkan teknisi-teknisi andal untuk mendorong percepatan pertumbuhan bisnis GMF.
“Kedepannya kami berupaya memperluas jangkauan penyedia pelatihan teknisi pesawat dengan menyasar pelanggan lain di luar Garuda Indonesia Group melalui GITC Indonesia” ungkap Tazar.
Baca juga: “Dining Experiences” dari Citilink Bantu Penumpang Kreasikan Set Hidangan dalam Penerbangan
Adapun bentuk pelatihan yang disediakan bersifat mandatory training, sehingga usaha gabungan ini memiliki potensi pasar yang besar dengan menarik MRO lain baik domestik maupun internasional.
Masa depan sektor kedirgantaraan global agaknya mulai terbentuk sejak sekarang – sehingga kurang lebih gambaran beberapa tahun ke depan sudah bisa Anda prediksikan. Munculnya bahan bakar campuran yang kabarnya bisa meminimalisir polusi udara, pesawat bertenaga listrik (drone), bangku di dalam kabin yang bisa meningkatkan kapasitas penumpang dan memberikan kenyamanan lebih kepada para penggunanya, hingga hadirnya teknologi robotika di bandara merupakan segelintir inovasi yang coba dihadirkan oleh sejumlah perusahaan guna meningkatkan user experience.
Baca Juga: Airbus Bakal Tambah Sensor di Pesawat Guna Pantau Kebiasaan Penumpang
Sebagai salah satu pemain kawakan di industri aviasi, Airbus juga tak pelak mencanangkan beberapa perubahan dari struktur pesawat yang dirakitnya. Setelah pada pemberitaan terakhir menyebutkan bahwa Airbus kabarnya bakal menambahkan sejumlah sensor yang dapat memantau kebiasaan penumpang selama berada di dalam kabin, kini kabarnya perusahaan gabungan yang berdomisili di Eropa ini akan mencoba untuk mengembangkan connected cabin yang akan memberikan sensasi berbeda ketika mengudara.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman resmi milik pihak produsen pesawat, airbus.com (11/9), program Airspace Connected Experience milik Airbus akan mengantarkan pengalaman baru yang dipersonalisasi bagi penumpang dan memberikan peluang untuk meningkatkan pendapatan tambahan maskapai – dan tentu saja efisiensi operasional. Airbus juga kabarnya telah memulai uji coba di dalam pesawat terhadap teknologi connected cabin yang dikombinasikan dengan Internet of Things di atas pesawat A350-900 Flight Lab. Menurut pihak perusahaan, teknologi ini akan segera diumumkan kepada pelanggan.
Nantinya, pengaplikasikan connected cabin ini tidak hanya membawa manfaat tersendiri kepada apara penumpang, melainkan kepada pihak maskapai sebagai operator dan juga awak kabin. Adapun keuntungan yang mungkin dapat tersaji dengan hadirnya teknologi connected cabin antara lain:
1. Penumpang akan menerima pengalaman perjalanan yang lebih personal yang secara khusus ditargetkan untuk kebutuhan dan preferensi individu, berdasarkan data yang tersedia (diambil dari sensor yang merekam kebiasaan penumpang di dalam kabin). Secara khusus, data-data ini mencakup pemesanan makanan, pengaturan posisi bangku, serta penawaran In-Flight Entertainment (IFE) di dalam penerbangan.
2. Pihak maskapai akan dapat menghasilkan pendapatan tambahan melalui ritel dan iklan yang dipersonalisasi. Selain itu berbagai layanan baru juga mungkin dihadirkan melalui pendekatan Internet of Things. Pihak maskapai juga dapat meningkatkan efisiensi operasionalnya dengan menerapkan pemeliharaan prediktif, menghindari pemborosan, dan membuat layanan kru lebih efisien.
Baca Juga: Airbus Rayakan Ulang Tahun ‘Emas,’ Digdaya Hampir di Semua Lini
3. Awak kabin akan menemukan lingkungan kerja yang lebih baik dan peralatan yang lebih efisien, diaktifkan secara digital oleh data real-time yang diperoleh dari platform Internet of Things di seluruh kabin. Penggunaan smart device juga akan memungkinkan awak kabin memantau dan mengoperasikan semua komponen.
Akankah inovasi connected cabin yang coba diusung Airbus ini merupakan masa depan dari sektor aviasi global?
Siapa diantara Anda semua yang tidak tahu tentang duopoli di ranah manufaktur kedirgantaraan global? Ya, dua perusahaan pembangun pesawat yang berhasil duduk di ranking satu dan dua adalah Boeing dan Airbus. Sedikit nama perusahaan lain yang berhasil menyabotase pasar – contohnya seperti Bombardier hingga McDonnell Douglas. Namun dua nama tersebut masih belum bisa meruntuhkan kedigdayaan dari Boeing dan Airbus.
Baca Juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini
Nah, berbicara tentang dua merk dagang ini, ternyata terdapat perbedaan yang cukup signifikan di antara keduanya. KabarPenumpang.com mengutip dari laman skiesmag.com, seorang pilot bar empat yang bernama Steve Zago membeberkan perbedaan yang tampak ketika dirinya mengemudikan Boeing 737NG dan Airbus A330.
Sebelum membahasnya lebih jauh, adapun Boeing 737NG merupakan pesawat narrow-body yang merupakan kembangan dari varian utamanya, Boeing 737 dan pertama kali mengudara pada 9 Februari 1997 dengan status uji coba. Sedangkan Airbus A330 tergolong sebagai pesawat wide-body yang mampu merengkuh jarak 5.000 hingga 13.430 kilometer. Adapun A330 ini pertama kali mengudara pada 2 November 1993 dengan status uji coba.
Nah, berdasarkan penuturan Steve Zago, perbedaan mendasar dari kedua pesawat yang sama-sama memiliki ‘keluarga besar’ (turunan pesawat) ini tampak dari kemudinya. Jika Boeing 737NG masih setia menggunakan kemudi layaknya stir mobil, maka tidak dengan Airbus A330 yang menggunakan joystick yang terletak di sisi sebelah kiri bawah pilot untuk mengendalikan arah pesawat.
“Jika Anda ingin membelokkan pesawat 25 derajat ke arah kiri, maka anda harus membelokkan sedikit kemudi ke arah kiri sembari menariknya ke arah belakang – dengan tujuan untuk tetap menjaga ketinggian pesawat. Namun di Airbus, Anda tidak lagi harus menarik tuas kemudi ke arah belakang, cukup membelokkan joystick ke arah kiri dan pesawat akan berbelok,”
Selain dari kontrol pesawat, lanjut Steve, perbedaan yang cukup menohok datang dari keseluruhan sistem fly-by-wire yang tersemat di dalam kedua jenis pesawat ini.
“Di Boeing 737NG, tugas saya ketika sistem autopilot dimatikan adalah menjaga pengaturan yang ada di sayap agar pesawat tetap berada di ketinggian yang aman. Tidak ada komputer atau layar indikator fly-by-wire yang memberitahu sistem kontrol penerbangan untuk menjaga terus sayap sebelum approaching menuju bandara yang sebelumnya telah saya input,” terang Steve.
“Sementara layar tersebut ada di (pesawat rilisan) Airbus,” lanjutnya.
Pada Airbus, Steve mengatakan bahwa dirinya seolah kehilangan kendali langsung terhadap pesawat, “sebuah kemampuan untuk mengetahui persis apa yang dilakukan oleh autopilot (atau autopilot baru), sedangkan tangan saya yang satunya lagi bisa dengan santai memainkan tuas thrust sembari mengikuti input kontrol dari autopilot,”
Dengan kata lain, kontrol penerbangan dari Airbus bisa dibilang jauh lebih sederhana ketimbang Boeing. Selain itu, Steve juga mengatakan bahwa flightdeck yang ada di Airbus juga lebih lega daripada yang ada di Boeing.
“Dengan begitu, Anda bisa dengan leluasa dan efisien menggunakan Quick Reference Handbook (QRH),” lanjut Steve.
Baca Juga: Tarung Keluarga Boeing 737 vs Keluarga Airbus A320, Siapa yang Akan Menang?
Kendati penjelasan Steve tadi agaknya lebih berpihak pada Airbus dengan segala kemudahan kendalinya, sejatinya ini hanyalah soal keterbiasaan seseorang untuk mengendalikan sebuah kendaraan. Dibutuhkan penyesuaian beberapa waktu sebelum bisa ‘lancar’ mengemudikan suatu moda.
Ambil contoh, mungkin apa yang Anda rasakan ketika mengemudikan mobil berjenis pick-up seperti Suzuki Carry akan berbeda jauh jika Anda mengemudikan sebuah Toyota Vios – mulai dari ‘kedalaman’ persneling, beratnya stir atau kemudi, hingga posisi duduk. Hal yang sama sederhananya terjadi pada pilot yang mengemudikan Airbus dan Boeing.
Jadi, kedua pesawat di atas sama-sama baik dan bagus kok! Hanya saja ini merupakan soal pandangan dari pilot yang mengemudikannya.
Seiring berjalannya waktu, makin banyak unit pesawat yang sudah tidak dioperasikan oleh pihak maskapai. Lalu, bagaimana nasib pesawat-pesawat yang sudah tidak beroperasi lagi? Jawabannya tergantung! Ya, ada beberapa pesawat yang malah digunakan oleh maskapai lain guna menutupi kekurangan armada, bahkan ada beberapa dari mereka yang disulap dan memasuki ‘fase baru’ kehidupannya sebagai pesawat tua.
Baca Juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah
Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan sebuah pesawat Convair CV-440 yang dijadikan sebuah salon kecantikan oleh wanita yang berasal dari Carluke, Lanarkshire. Atau sebuah Boeing 747 milik Pakistan International Airlines (PIA) yang disulap menjadi sebuah restoran mewah nan unik di Karachi, Pakistan. Nah, ternyata ide untuk mengalih-fungsikan pesawat yang sudah tidak beroperasi sudah banyak dilakukan oleh orang kreatif di luar sana.
Tapi kini pemberitaan terbaru datang dari maskapai terbesar di Jerman, Lufthansa yang juga tak mau kalah dalam urusan sulap menyulap pesawat yang sudah pensiun. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman koamnewsnow.com, pihak maskapai menggunakan cara yang lebih elegan dalam mengemas pesawat yang sudah tidak beroperasi lagi.
Dikabarkan, Lufthansa ‘memutilasi’ salah satu pesawat Airbus A340-600 dengan nomor registrasi D-AIHO dan menjadikan masing-masing potongannya sebagai souvenir yang bisa Anda beli di laman worldshop.eu. Adapun bagian-bagian yang disulap dan dijual pihak maskapai meliputi panel sisi yang digabungkan dengan kerangka pesawat yang dijadikan sebagai meja kopi, jendela pesawat yang dijadikan jam dinding, dan beragam karya lainnya.
Airbus A340-600 ini sendiri sudah mengabdi kepada Lufthansa sekira 10 tahun lamanya.
“Kami membutuhkan waktu sekitar 10 minggu untuk membongkar pesawat sepanjang 75 meter ini menjadi bagian-bagian kecil,” ujar salah satu juru bicara dari Airbus.
Baca Juga: Wanita Pirang Ini Sulap Convair CV-440 Jadi Sebuah Salon Mewah!
Salah satu benda yang paling murah yang dapat Anda dapatkan dari program bertajuk Lufthansa Upcycling Collection ini adalah gantungan kunci berbentuk tag dari kulit pesawat asli yang dibanderol dengan harga US$27 atau yang berkisar Rp380.000.
Jika dipikir-pikir, mengolah pesawat menjadi souvenir seperti yang dilakukan Lufthansa ini merupakan ide yang cukup brilian dalam meraup keuntungan. Alih-alih menelantarkannya begitu saja kuburan pesawat, lebih baik didaur ulang, bukan?
Makanan pesawat baik kelas bisnis maupun kelas satu tidak selalu dijamin enak. Anda bisa mengingat bahwa semua makanan itu dipersiapkan jauh-jauh hari yang kemudian dipanaskan kembali sebelum lepas landas atau ketka dalam penerbangan.
Baca juga: Era 40 dan 50-an, Jadi Masa Keemasan Sajian Makanan di Kabin Pesawat
Tapi, sebagai penumpang, Anda tidak mungkin melewatkan makanan apalagi bila penerbangan yang dilalui dengan waktu tempuh lama dan jarak yang jauh. Nah, KabarPenumpang.com merangkum laman insider.com, ada sebelas kesalahan yang bisa saja Anda lakukan dengan makanan pesawat dan bisa merusak mood selama perjalanan. Berikut hal-hal yang bisa merusak makanan dalam penerbangan.
(insider.com)#Menambahkan garam dalam makanan
Tekanan dan ketinggian dalam kabin pesawat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi selera penumpang. Ini membuat rasa makanan tidak seperti di darat. Seorang pramugari Hawaiian Airlines Mapuana Faulkner mengatakan pelancong enderung kekurangan rasa dan sebagai gantinya banyak yang meminta lebih banyak garam. Tapi Rachelle Lucas dari TheTravelBite mengatakan, jangan gunakan garam dan minta irisan lemon dan peras airnya agar asam dari lemon menambah rasa pada makanan.
#Makan di meja
Meja yang ada di depan penumpang tidak pernah dibersihkan, bahkan orang tua yang membawa bayi menggantikan popoknya disitu. Mantan pramugari Booby Laurie mengatakan, meja adalah salah satu tempat yang kotor dalam penerbangan.
#Tidak memesan makanan sebelumnya
Sebagian besar penumpang tidak sadar bisa memesan makanan sebelum penerbangan berlangsung. Padahal dengan memesan makanan 24 jam sebelum keberangkatan, Anda bisa memilih sesuai selera seperti vegetarian, vegan, makanan anak, bebas gluten dan lainnya. Bonus yang didapat, Anda akan mendapat makanan lebih dulu daripada penumpang lainnya.
#Pesan teh atau kopi
Beberapa berita tidak enak bagi pecandu kafein karena kopinya mungkin tidak sebersih yang dikira. Apalagi air yang digunakan untuk menyeduh kopi berasal dari keran air di toilet dan jarang sekali tangkinya dibersihkan.
#Duduk di baris terakhir
Dibeberapa maskapai layanan penuh pemilihan kursi menentukan makanan yang disajikan awak kabin.
“Duduk di baris terakhir jangan berharap berbagai macam hidangan. Semua yang terbaik mungkin sudah diberikan kepada orang-orang di depan. Jadi jangan buat kesalahan jika ingin mendapat makanan lebih baik,” kata Lucas Paluch dari Lean TravelerGuide.
Mayoritas maskapai memulai pembagian makanan dari depan pesawat ke belakang. Bila ingin dapat camilan, minuman atau makanan yang lebih komplit duduklah didepan.
(insider.com)#Tidak cukup air
Air di pesawat kemungkinan besar sangat kotor, tetapi Anda harus minum untuk menghindari dehidrasi.
“Selama penerbangan, Anda kehilangan banyak air dari tubuh Anda karena kering, udara ber-AC di pesawat. Kelembaban berada pada interval 10-20 persen, seperti gurun. Para peneliti menunjukkan bahwa selama 10 jam penerbangan Anda kehilangan 1,6 hingga 2 liter air atau sekitar empat persen air dalam tubuh Anda. Jika Anda melewatkan minum air yang cukup, segera Anda akan merasa lelah dan kepala Anda akan mulai sakit,” kata Paluch.
Jangan lupa beli air botolan ketika melewati keamanan dan bawa masuk ke dalam kabin.
#Minum alkohol
Sebenarnya meminum alkohol sebelum penerbangan dan ketika penerbangan tidak bisa dinikmati sebanyak saat di darat. Ini karena alkohol adalh salah satu penyebab dehidrasi.
#Vegetarian
Jika berpikir untuk menjadi vegetarian, sekaranglah saatnya, sebab seorang awak kabin mengatakan, dirinya menemukan daging dan ikan yang lebih kering di dalam kabin karena kelembaban rendah dan udara kering.
“Kami mendapatkan makanan vegan kami terlebih dahulu karena penumpang dengan pembatasan diet dilayani sebelum orang lain. Dengan cara ini, tidak hanya makanan kami yang lebih enak (karena tidak membutuhkan waktu 30-60 menit untuk mencapai kami di ujung pesawat) tetapi juga lebih aman untuk dimakan,” kata Cory Varga pendiri You Could Travel.
(insider.com)#Pertimbangkan masalah hub
Terbang dari hub salah satu maskapai menjadi pilihan terbaik, karena makanan yang disajikan lebih segar dibandingkan dari tempat yang lain karena lebih sering dipanaskan.
“Sebagai contoh, kemungkinannya adalah bahwa makanan akan lebih baik pada penerbangan Alitalia dari Roma, daripada penerbangan ke Roma, karena mereka memiliki dapur katering besar di hub mereka,” kata Michael Holtz, pendiri dan CEO SmartFlyer.
Baca juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari#Makan sesuai jadwal
Bila memiliki masalah pada lambung, baiknya makan sebelum melakukan perjalanan. Sebab, makanan yang disajikan dalam penerbangan akan disajikan sesuai waktu yang sudah ditentukan pihak maskapai. Ini bisa membantu Anda menikmati perjalanan dengan baik selama di kabin pesawat.
#Mengambil makanan pesawat
Ternyata membawa makanan dari dalam kabin pesawat di negara asing yang tidak disegel pabrik bisa membawa penumpang dalam masalah besar dengan bea cukai. Jadi jika ragu, baiknya tinggalkan semua atau makan saat berada di pesawat.
GrabWheels atau eScooter (e-skuter) menjadi salah satu layanan di aplikasi Grab yang memudahkan pengguna mengakses ke moda mobilitas pribadi. Skuter ini bisa digunakan ke kantor, kampus atau sekedar jalan-jalan untuk menikmati udara segar.
Baca juga: Grab Targetkan 50 GrabKitchen Hingga Akhir 2019 di Seluruh Indonesia
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, GrabWheels sendiri bisa ditemukan di beberapa lokasi yakni Green Office Park (BSD City), Lippo Karawaci, Bintaro, Universitas Indonesia, Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 3 dan kini di daerah Gondangdia. Tak hanya itu, Grab sendiri secara bertahap akan meluncurkan eScooter di beberapa lokasi Indonesia.
Pesan GrabWheels dari aplikasi (KabarPenumpang.com)
Meski masih sedikit lokasi eScooter ini, pengguna yang ingin menggunakannya ketika dekat dengan beberapa lokasi tersebut bisa langsung membuka aplikasi Grab dan map atau peta akan memperlihatkan skuter terdekat dengan jumlah ketersediaannya. Setelah menemukan skuter, pengguna akan bertemu dengan station manajer di tempat parkir dan akan mendaftarkan salah satu eScooter yang akan digunakan.
Kemudian pengguna menscan kode QR dibagian tengah pegangan skuter. Pengguna juga harus memperhatikan baterai dan fitur keselamatan seperti helm tersedia. Untuk menggunakannya pun cukup mudah dimana pengguna hanya perlu menaiki skuter dan mendorong sekali menggunakan salah satu kaki.
Kemudian bisa menambahkan kecepatan hanya dengan menekan-nekan tombol berwarna hijau di stang kemudi sebelah kanan. Sedangkan untuk berhenti pelan-pelan, pengguna bisa menekan tombol merah di sebelah kanan atau menginjak rem kaki untuk berhenti dengan cepat.
Ketika berada di jalan tanjakan pengguna harus menuntun skuter. Bila pengguna mengendarai keluar dari area layanan, maka unit GrabWheels akan di nonaktifkan, sebab eScooter ini hanya bisa digunakan di satu area parkir GrabWheels menuju titik parkir alias point to point.
Dalam penggunaanya, eScooter ini hanya diberi waktu 30 menit dan setelah selesai jangan lupa untuk kembali menscan kode QR di lokasi parkir GrabWheels dan tekan End Trip pada aplikasi agar bisa mengonfirmasi bahwa pengguna sudah mengembalikan skuter ke tempat yang benar. Sebab bila tidak diletakkan di tempat parkir khusus GrabWheels, maka pengguna akan diinvestigasi oleh pihak kepolisian dan bisa dikenakan denda atas kasus kehilangan sebesar Rp300 ribu.
Baca juga: Tim MapsOps Grab Ternyata Ada Dibalik Kemudahan Penjemputan
Bahkan akun pengguna yang berulang kali melanggar aturan dapat diberhentikan dari GrabWheels. Tarif sewa GrabWheels sendiri saat ini dikenakan Rp5 ribu untuk 30 menit dan membayar dengan menggunakan saldo yang ada di OVO pada aplikasi Grab.
Sebuah taksi terbang pertama diuji coba di Sungai Seine di Paris pada minggu ini dan dihentikan oleh Polisi sungai. Penghentian tersebut dilakukan karena taksi yang disebut SeaBubbles itu terlalu cepat melaju dari yang diperbolehkan, yakni 16-20 km per jam nya.
Baca juga: Meluncur di 2023, Uber Masih Rahasiakan Kota Ketiga Untuk Taksi Terbangnya
Padahal sebenarnya, Andreas Brngdal pendiri SeaBubbles mengatakan, taksi tersebut bisa melaju pada kecepatan 30 km per jam saat batas kecepatan melaju di sungai 12 km per jamnya.
“Kami akan melanjutkan tes pada mingu ini. Polisi sungai yang memberhentikan bukan untuk memeriksa surat-surat kelengkapan tetapi untuk memastikan keamanan selama navigasi kami,” ujar juru bicara SeaBubbles yang dikutip dari connexionfrance.com (17/9/2019) oleh KabarPenumpang.com.
Nantinya jika tes yang tersisa sesuai dengan rencana, maka diharapkan taksi SeaBubbles tersebut akan mulai beroperasi secara komersial pertama kepada publik tahun 2020 mendatang. Prototipe pengujian SeaBubbles ini diketahui hanya bisa mengangkut empat orang.
Tetapi untuk komersial di tahun 2020, taksi tersebut akan mampu mengangkut 12-32 orang dengan melakukan perjalanan sepanjang sungai dengan kecepatan 12-18 km per jamnya. Meski memiliki kecepatan yang cukup tinggi, tetapi SeaBubbles cukup stabil dan pelancong penderita mabuk laut tidak akan terpengaruh hal tersebut.
SeaBubbles dilengkapi dengan baterai lithium yang bisa diisi ulang yang mampu bertahan 2,5 jam setelah pengisian daya 40 menit. Taksi ini tidak mengeluarkan polusi suara, tidak ada gelombang karena berjalan 30 cm di atas permukaan air.
Bermanuver dengan tiga sirip, SeaBubbles berharap bisa membantu mengurangi polusi udara. Taksi terbang ini, meski berjalan dengan kecepatan tinggi, tetapi tarifnya akan sama dengan taksi reguler.
Diketahui, satu taksi SeaBubbles seharga €200 ribu atau Rp3,1 miliar. Setelah beroperasi, penumpang dengan mudah memesnnya hanya menggunakan aplikasi yang mirip dengan Uber.
Baca juga: Taksi Air, Jadi Solusi Kemacetan di Malaka
Nantinya setelah memesan dan memasukkan tujuan, tarif bisa diakses. Bahkan SeaBubbles sudah berencana menghadirkan taksi ini di beberapa kota di Perancis selain Paris yakni di Lyon dan Saint-Tropez. Bringdal menambahkan, akan ada 20 sampai 40 armada disetiap kota yang bisa digunakan sebagai taksi ataupun kendaraan wisata.
Pembenahan kereta api baik stasiun maupun di dalam kereta sudah lama dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) maupuan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Sehingga tidak ada lagi penumpang yang naik tanpa tiket dan merokok didalam gerbong ataupun stasiun.
Baca juga: KRL Jabodetabek Dulu dan Sekarang
Ini kemudian di contoh oleh India, dimana pada Agustus 2019 kemarin, Indian Railway melakukan kampanye penegakkan peraturan baru. Hal tersebut dilakukan agar penumpang tidak lagi pergi tanpa tiket dan merokok di stasiun maupun gerbong kereta.
Dilansir KabarPenumpang.om dari laman zeebiz.com (24/8/2019), penumpang akan terkena masalah ketika mereka bepergian tanpa tiket dan membawa barang terlalu banyak baik di kelas tidur maupun kelas umum. Penumpang juga tidak diperbolehkan untuk membuang sampah sembarang di stasiun dan tidak boleh merokok ketika menunggu kereta. Seperti sudah menjadi rahasia umum, bahwa penumpang transportasi umum di Negeri Anak Benua ini terkenal dengan budaya kurang bersih dan jorok.
Kampanye ini dilakukan Northern Railway di lima divisinya yakni Lucknow, Moradabad, Delhi, Ferozepur dan Ambala. Dalam kampanye yang dilakukan pada 21-22 Agustus 2019, sebanyak 8651 orang ditangkap dan harus membayar denda.
Dengan adanya kampanye ini Northern Railway selain menangkap penumpang yang melakukan kecurangan, mereka juga menerima denda lebih dari Rs38 laks. Deepak Kumar, Kepala Hubungan Masyarakat Northern Railway mengatakan, kampanye ini berlangsung di lima divisi dimana mereka melakukan penangkapan pada penumpang yang tidak memiliki tiket.
Tak hanya itu, penumpang yang membuang sampah sembarangan di stasiun dan merokok baik di stasiun ataupun di dalam kereta juga ditangkap. Pihaknya juga melakukan penyelidikan pada penumpang yang menyalahgunakan kuota darurat secara ilegal.
Pada 22 Agustus 2019, Divisi Kereta Api Delhi melakukan pengecekan tiket secara besar-besaran pada penumpang di Stasiun Delhi dan Gurgaon serta bagian Delhi-Rewari, Faridabad dan Sonipat. Dari kampanye tersebut total 162 orang ditangkap karena tidak memiliki tiket, selain itu tiket juga tidak sesuai kelas kereta hingga bagasi yang tidak terdaftar.
Baca juga: India Resmikan Terowongan Kereta Listrik Tepanjang, 6.700 Meter!
Sebanyak Rs5,6 lakh didapatkan dari denda dan 49 orang didenda dengan jumlah Rs16.320 dengan Undang-Undang Kereta Api Pasal 145B karena membuang sampah di kereta maupun di stasiun.
Mulai 6 April 2020, Qatar Airways akan meluncurkan penerbangan non-stop dari Doha ke Osaka. Penerbangan ini akan menggunakan Airbus A350-900 dengan 36 kursi kelas bisnis dan 247 kursi di kelas ekonomi.
Baca juga: Geser Singapore Airlines, Qatar Airways Kini Jadi Maskapai Terbaik DuniaKabarPenumpang.com melansir laman businesstraveller.com (17/9/2019), Qatar Airways awalnya akan mulai layanannya dengan lima kali penerbangan mingguan dan akan ditingkatkan menjadi layanan harian mulai 23 Juni 2020 mendatang. Rute ini akan berangkat dari Doha tepatnya dari Bandara Internasional Hamad (HIA) pukul 02.10 waktu setempat dan tiba di Bandara Kansai (KIX) pukul 17.50 waktu setempat.
Sebelum terbang kembali ke Doha, pesawat akan menghabiskan waktunya lima jam 40 menit di Bandara Kansai di Osaka. Kemudian akan berangkat kembali dari Bandara Kansai pukul 23.30 waktu setempat dan tiba di Bandara Hamad pukul 04.50 waktu setempat keesokan harinya.
Semua jam penerbangan ini dijadwalkan untuk hari Senin, Rabu, Jumat, Sabtu dan Minggu. Qatar Airways mengatakan, penerbangan tambahan di bulan Juni mendatang akan terbang pada Selasa dan Kamis. Diketahui, Osaka akan menjadi gerbang ketiga Qatar Airways ke Jepang.
“Osaka adalah tujuan yang sangat penting, dan layanan kami ke kota kosmopolitan akan memungkinkan untuk memberikan perjalanan yang mulus bagi para penumpang kami yang terhubung dari jaringan yang luas di lebih dari 160 tujuan di seluruh dunia,” kata Kepala eksekutif Qatar Ariways Group, Akbar Al Baker.
Maskapai ini memulai layanan langsung ke Tokyo Narita pada 2010 lalu dan meluncurkan penerbangannya ke Tokyo Haneda 2014 kemarin dari Bandara Internasional Hamad di Doha. Tak hanya itu, awal tahun ini, Qatar Airways menghadirkan kursi kelas bisnis baru yakni Qsuite pada penerbangan ke Bangkok.
Sedangkan pada kelas bisnis untuk penerbangan ke Osaka kursinya akan memiliki jarak lima inci dengan lebar kursi 22 inci dan bisa dimundurkan hingga 180 derajat serta konfigurasi kursi 1-2-1.
Baca juga: Bantu Cathay Pacific Lewati “Turbulensi,” Qatar Siap Tingkatkan Kepemilikan Saham
Diketahui, Qatar Airways saat ini mengoperasikan armada sekitar 250 pesawat melalui hubnya di Bandara Internasional Hamad, ke sekitar 160 tujuan di seluruh dunia. Maskapai ini mengatakan akan menambah rute ke Langkawi, Malaysiaa, Gaborone dan Botswana pada Oktober 2019 serta Luanda, Angola pada Maret 2020.