Sambut IMF-World Bank 2018, Angkasa Pura I Hadirkan Fasilitas Baru di Bandara Ngurah Rai

Indonesia kembali menjadi tempat perhelatan acara besar dunia, kali ini IMF-World Bank 2018 yang akan diselenggarakan di Bali mulai tanggal 8 hingga 14 Oktober 2018. Dengan adanya perhelatan ini, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai akan kedatangan 17 ribu delegasi dari 189 negara sahabat. PT Angkasa Pura I (AP I) selaku operator bandara telah menyiapkan infrastruktur bandara dengan perluasan apron dan pembangunan gedung VVIP serta parkiran.

Baca juga: Angkasa Pura I Bangun Base Ops dan Safe House di Lanud I Gusti Ngurah Rai

Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengatakan, pihaknya tidak hanya membangun dan mengembangkan infrastruktur di sisi udara melainkan menambah beberapa fasilitas baru di dalam terminal Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali tersebut.

“Hal ini selain untuk menjamin kelancaran arus kedatangan dan kepulangan delegasi event akbar pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018, juga sebagai upaya memberikan pelayanan prima dan menciptakan passenger experience di bandara. Beberapa fasilitas tersebut antara lain x-ray smartlane, mesin autogate keimigrasian, orientation zone, dan airport operation control center (AOCC),” ujar Faik yang dikutip KabarPenumpang.com melalui siaran pers, Rabu (3/10/2018).

X-ray smartlane yang berada pada area screening check point akan mempercepat proses pemeriksaan barang calon penumpang. Sedangkan autogate keimigrasian, disediakan mesin autogate sebagai fasilitas mandiri untuk menscanning paspor calon penumpang. Saat ini tersedia enam unit mesin autogate di terminal kedatangan internasional dan sepuluh unit di terminal keberangkatan internasional.

“Adanya 16 unit mesin autogate keimigrasian ini akan mempercepat proses pemeriksaan imigrasi. Total waktu yang dibutuhkan penumpang saat menggunakan mesin autogate ini hanya 30 detik, sebuah waktu yang relatif singkat untuk melewati melalui proses imigrasi. Ini tentunya akan meningkatkan kenyamanan penumpang,” katanya.

Fasilitas baru lainnya adalah orientation zone dimana memiliki desain yang elegan dan inovatif, area ini dirancang sebagai area yang atraktif yang dapat berfungsi sebagai penghilang stres bagi penumpang. Orientation zone sendiri diperuntukkan bagi penumpang yang baru saja melewati proses pemeriksaan yang cukup intens pada area check in dan pemeriksaan imigrasi.

“Karena orientation zone ini dibangun untuk mengakomodir penumpang yang akan menuju pintu keberangkatan, di area ini dilengkapi juga dengan berbagai berbagai informasi berkaitan dengan jadwal penerbangan maupun arah menuju pintu keberangkatan. Seperti FIDS (Flight Information Display System), world clock, dan airport directory, serta walking distance yang bermanfaat untuk memperkirakan waktu dan jarak yang dibutuhkan calon penumpang mencapai pintu keberangkatan, area komersial, fasilitas di bandara, dan lokasi lainnya yang ada dalam terminal keberangkatan internasional,” jelas Faik.

Fasilitas baru lainnya lagi adalah airport operation control center (AOCC) dan ini bukan merupakan fasilitas yang terkait langsung dengan calon penumpang, melainkan fasilitas bagi stakeholder bandara. AOCC merupakan pusat kendali untuk mengawasi aktivitas operasional di sisi udara dan sisi darat serta seluruh aktivitas kedatangan dan keberangkatan di bandara.

Baca juga: Mulai 7 September 2018, Lion Air Tambah Frekuensi Penerbangan Denpasar-Lombok

“AOCC melibatkan seluruh pemangku kepentingan di bandara dengan mengintegrasikan sistem yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan agar dapat beroperasi secara efektif dan efisien. Integrasi dan kolaborasi menjadi kunci utama dalam implementasi AOCC ini sehingga pewujudan pelayanan yang mengutamakan keselamatan dan keamanan dapat lebih efektif dan efisien,” ujar Faik.

Fasilitas-fasilitas baru di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali tersebut sudah dioperasikan sejak akhir September 2018 lalu.

“Diharapkan dengan adanya fasilitas-fasilitas baru tersebut dapat memperlancar dan menambah kenyamanan proses kedatangan dan kepulangan para delegasi pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018,” ujar Faik.

Rasisme di Vancouver Ternyata Sudah Ada Sejak Lama

Masalah rasis kerap kali menjadi soal dan membuat resah bukan hanya di Indonesia, tetapi di negara bahkan benua lain pun terjadi. Rasisme yang terjadi baru-baru ini adalah pada 23 September 2018 kemarin, dimana seorang wanita berambut pirang melontarkan kata-kata kasar rasis di bus West Vancouver.

Baca juga: Terdesak Isu Rasisme, Wanita Ini ‘Terpaksa’ Tarik Tombol Darurat di Kereta Bawah Tanah

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straight.com (26/9/2018), sebuah argumen panas harus mencuat diantara penumpang dalam bus West Vancouver sektar pukul 08.00 malam waktu setempat. Diketahui, bus dengan nomor 250 tersebut berangkat dari Horseshoe Bay menuju ke Vancouver.

Dimana seorang wanita berabut pirang yang dikuncir kuda duduk di kursi dan meletakkan barang-barang di kursi kosong sebelahnya. Kemudian saat ini ada seorang penumpang lain yang bertanya apakah perempuan tersebut bisa memindahkan barangnya agar dia bisa duduk.

Namun, bukannya memindahkan barang miliknya, wanita itu malah berargumen yang akhirnya mengucapkan kata-kata penghinaan terkait rasis. Wanita itu juga kemudian mengancam akan membunuh penumpang lain saat sadar sedang difilmkan.

Dia bergerak ke arah orang lain sembari mengancam dan mengumpat serta menghina penumpang lain itu. Hal ini kemudian membuat penumpang lain meminta pengemudi untuk menghentikan bus tersebut. Pada tanggal 25 September, dilaporkan bahwa wanita itu menyatakan dalam wawancara sebuah televisi berita bahwa dirinya memiliki tas tersebut.

Baca juga: Pembunuh Rasis Beraksi Lagi di Kereta Komuter Portland

Dengan tenang dia mengatakan, teman pria wanita lain yang meminta duduk itu mengatakan sesuatu dalam bahasa lain. Dia mengklaim pria tersebut memiliki gangguan stress pasca trauma dan merasa terancam. Tak hanya itu, ternyata pada bulan Juni lalu, seorang wanita yang terlibat dalam kata-kata kasar rasis kepada penumpang lain juga tertangkap video di bus East Vancouver.

Agustus lalu, juga ditemukan grafiti rasis di sebuah poster bus stop atau halte bus di Vancouver untuk film Crazy Rich Asian sebelum dirilis. Ternyata kejadian tersebut juga terjadi pada 2017 lalu, saat grafiti diskriminatif ditemukan pada Metro Vancouver. Pada tahun 2016 dan 2017, polisi menyelidiki serangkaian pamflet supremasi rasis dan anti Asia yang didistribusikan di berbagai wilayah di Daratan Bawah, termasuk Richmond, Chilliwack dan Abbotsford.

Konstruksi LRT Ottawa Dilanda Banjir, Serikat Pekerja Khawatir Akan Keselamatan Pekerjanya

Siapa bilang banjir cuma ada di Jakarta saja, baru-baru ini dikabarkan bahwa salah satu bakal terowongan LRT di Ottawa, Kanada terendam air pasca diguyur hujan yang cukup deras. Alih-alih saling menyalahkan seperti tradisi di Indonesia, Presiden The Ottawa and District Labour Council, Sean McKenney langsung mengkonfirmasi bahwa kejadian tersebut benar adanya dan ia mengaku khawatir akan keselamatan para pekerja di sana.

Baca Juga: India Ciptakan Lokomotif yang Bisa Tembus Banjir

“Airnya keruh sehingga Anda tidak bisa melihat apa yang Anda pijak. Jadi area yang terendam banjir tersebut cukup berbahaya untuk dilalui, dan kami khawatir akan keselamatan para pekerja,” tutur Sean McKenney, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cbc.ca (2/10/2018).

Adapun banjir tersebut menggenangi bakal terowongan LRT di LeBreton Flats, yang bersebelahan dengan Sungai Ottawa. Sebelum mendapatkan bukti banjir di terowongan dalam bentuk foto, Sean McKenney mengutarakan bahwa para pekerja terowongan sebelumnya telah memproklamirkan kekhawatiran mereka akan pekerjaan bawah tanah tersebut.

“Sistem pembuangan rumah tangga yang buruk, bahaya tersandung, kualitas udara yang buruk, hingga potensi keruntuhan struktural,” paparnya. Menurut Direktur Implementasi Jaringan Kereta Ottawa, Steven Cripps, foto banjir di bakal terowongan LRT Ottawa tersebut diambil pada 25 Juli 2018 silam.

“Anda semua harus ingat bahwa ini baru sebatas konstruksi, dan ini hanyalah kondisi yang termporer atau sementara,” ujar Steven.

Kendati pernyataan Steven tersebut terkesan acuh tak acuh dengan keselamatan para pekerja konstruksi, namun ia menyebutkan bahwa Rideau Transit Group (RTG) selaku pihak kontraktor jaringan LRT di sana telah melakukan tindakan yang tepat untuk melindungi para pekerja konstruksi.

Untuk sementara, pompa masih belum bisa me-manage air dalam jumlah yang banyak, sehingga terjadilah banjir di dalam terowongan LRT tersebut. Namun ketika proyek ini sudah rampung, lanjut Steven, pompa dan sistem drainase permanen mampu untuk menangani air dalam jumlah yang berkali lipat. Hadirnya pompa dan drainase ini salah satunya diakibatkan oleh posisi terowongan yang dekat dengan sungai.

Baca Juga: Kenapa Kereta Tidak Bisa Menembus Rel Yang Tergenang Banjir? Ini Dia Jawabannya!

“Kebocoran lainnya tidak menutup kemungkinan akan terjadi karena terlalu banyak sistem LRT yang ada di bawah permukaan air. Kendati terowongan tersebut memiliki lapisan kedap air, namun air akan selalu menemukan jalan untuknya tetap mengalir,” tambah Steven.

Pada kesempatan terpisah, pihak RTG mengatakan telah menyuntikkan senyawa yang akan menjamin tidak adanya kebocoran lebih lanjut.

 

Unggul di Sejumlah Aspek, Ternyata Autonomous Rapid Transit Dinilai Lebih Efektif Ketimbang LRT

Bicara soal transportasi berbasis massal yang selama ini sudah hadir di berbagai penjuru dunia nampaknya tidak akan ada habisnya, ya. Beda negara, maka akan berbeda pula masalah yang dihadapinya. Ambil contoh Indonesia – khususnya Jakarta yang punya beragam moda transportasi semacam ini. Mulai dari Commuter Line Jabodetabek, jaringan Bus Rapid Transit (BRT) TransJakarta, Light Rapid Transit (LRT), hingga yang sebentar lagi akan beroperasi, Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta.

Baca Juga: PT KAI Tawarkan Autonomous Rapid Transit Untuk Atasi Kemacetan di Bandung

Hadirnya sejumlah moda berbasis massal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengatasi masalah kemacetan di Ibukota yang juga berdampak pada masalah polusi. Namun pada kenyataannya, kemacetan tetap saja tidak dapat terelakkan – terutama ketika peak hours. Ketika perkembangan teknologi sudah coba dikombinasikan dengan sektor transportasi, nyatanya belum mampu untuk mengentaskan ‘masalah klasik’ yang ada di setiap kota-kota besar di seluruh dunia ini.

Nah, berkenaan dengan masalah ini, Cina punya satu alternatif moda yang dinilai kompeten untuk menggantikan peran BRT yang dinilai kurang bisa bersaing dengan kendaraan pribadi dan LRT yang punya sejumlah kelemahan. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman theconversation.com (26/9/2018), adalah Autonomous Rapid Transit (ART) atau yang kerap disebut Trackless Trams ini merupakan moda yang dilandaskan pada teknologi yang dikembangkan di Eropa dan Cina mengkombinasikannya dengan inovasi dari jaringan kereta berkecepatan tinggi.

Secara umum, ART menggunakan listrik yang tersimpan di dalam sebuah baterai sebagai tenaga penggerak utamanya. Jika berkaca pada ART Cina, moda ini hanya membutuhkan waktu 30 detik untuk mengisi ulang dayanya di setiap stasiun/halte, atau sekitar 10 menit di stasiun pemberhentian terakhir. ART Tiongkok dapat melaju hingga kecepatan 70km/jam dan fitur otonom yang terdapat di moda ini dipandu secara optikal dengan bantuan teknologi GPS dan LIDAR.

Berbeda dengan jaringan kereta ringan lainnya, ART Cina tidak perlu berjalan di rel karena pada dasarnya moda ini menggunakan roda karet sama seperti mobil pada umumnya. Bicara soal kapasitas angkut, standar jaringan ART Cina mampu memboyong 300 orang sekaligus dalam sekali perjalanan dengan menggunakan tiga gerbong (1 gerbong = 100 orang).

Memang, perkembangan LRT di berbagai negara di dunia memiliki ‘catatan manis’ yang dapat mengimbangi pertumbuhan kendaraan pribadi di suatu negara dan menarik minat dari pengembang. Tapi seperti yang sudah disebutkan di atas, moda ini masih memiliki kekurangan yang jika ditelaah lebih dalam lagi, kekurangan tersebut dapat menghambat perkembangan dari moda itu sendiri.

Sumber: TheConversation

Sebagaimana yang dapat Anda lihat pada tabel di atas, terdapat perbandingan dari tiga moda yang sama-sama memiliki keunggulan di bidangnya masing-masing. Namun secara keseluruhan, jaringan ART Cina bisa dibilang hampir tidak ada kekurangan – mulai dari biaya pengadaan, kualitas berkendara, potensi pengembangan lahan, hingga waktu implementasi.

Waktu implementasi yang cukup lama akan berdampak pada kemacetan di lokasi pembangunan – ambil contoh saja Jakarta yang dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami penngkatan kemacetan di sejumlah titik karena adanya pembangunan infrastruktur transportasi baru.

Baca Juga: Gunakan Rel Virtual, Autonomous Rail Rapid Transit Siap Mengular di Zhuzhou

Selain itu, dari soal pembiayaan pun ART mampu mengungguli dua moda pesaingnya. Ambil contoh pengadaan LRT di Sydney yang per-kilometernya pengadaan jaringan tersebut dihargai US$120 juta atau yang setara dengan Rp1,8 triliun. Berbeda jauh dengan jaringan ART Cina yang dihargai US$8 juta atau sekira Rp120 miliar per-kilometernya. Sangat jauh bukan perbedaannya?

Kendati ART unggul di banyak aspek, namun semuanya kembali kepada masing-masing pribadi. Jika para pengguna kendaraan pribadi hanya bisa mengeluhkan soal kemacetan yang semakin meradang tanpa ada aksi nyata (contohnya beralih menggunakan moda transportasi berbasis massal), maka hingga kapan pun kemacetan akan selalu terpampang di setiap jalanan.

Galau Tentukan Tarif Tiket, PT MRT Jakarta Tunggu Persetujuan Pemprov DKI

Tak terasa tahun 2019 akan menyongsong sebentar lagi, dan Ibukota Jakarta akan memiliki moda transportasi baru yakni Mass Rapid Transit (MRT). Namun, meski akan mulai mengular pada Maret 2019 mendatang, hingga saat ini PT MRT Jakarta belum menemukan titik terang untuk masalah tarifnya.

Baca juga: MRT Jakarta Dilirik Tangerang Selatan Untuk Buka Jalur

Meski demikian, Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pihaknya mengusulkan tarif Rp8500 per 10 km. Namun, hal kepastiannya PT MRT Jakarta masih menunggu persetujuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

“Pemprov yang akan menentukan. Kalau dari kami sudah mengusulkan MRT Jakarta Rp8500 untuk 10 km atau rata-rata Rp8500 by distance, kalau lebih pendek lebih murah. Kalau lebih panjang ya lebih mahal,” ujar William yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman sumber tribunnews.com (2/10/2018).

William mengatakan, sampai sejauh ini Pemprov DKI Jakarta tengah melakukan pematangan harga tiket dengan pembicaraan yang intens. Namun William mengaku tidak mengetahui pembicaraan tersebut secara lebih teknis.

Saat ini, William mengatakan, belum memastikan dengan jelas berapa subsidi yang akan diberikan Pemprov DKI untuk tiket MRT tersebut. Ada kemungkinanan tarif yang berlaku Rp8500 hingga Rp10 ribu.

“Untuk harga diatas itu yakni Rp15 ribu kita tidak menyarankan karena itu terlalu tinggi,” ujarnya.

William menambahkan, dengan tarif Rp8500 merupakan kerelaan masyarakat dalam membayar. Tetapi semakin murah harga tiket, maka subsidi yang diberikan oleh Pemprov DKI Jakarta akan semakin besar jumlahnya. Sehingga William mengusulkan dalam jangka panjang setelah MRT Jakarta beroperasi, masyrakat diharapkan untuk siap membayar.

Baca juga: PT MRT Jakarta Minta Retail Punya Ciri Khas Saat Membuka Toko di Stasiun

” Kita harap masyarakan siap membayar. Karena layanan yang diberikan bagus,” kata William.

Saat ini diketahui, PT MRT Jakarta sudah melakukan serangkaian tes baik pada sistem komuniakasi, persinyalan hingga kereta yang melaju di rel dari Lebak Bulus menuju Bundaharan HI serta sebaliknya. Tak hanya itu, saat ini juga, Taman Dukuh Atas sudah selesai dan mulai digunakan oleh pejalan kaki yang menuju Stasiun Sudirman atau Stasiun BNI City serta perkantoran yang ada disekitarnya.

Tarif KA Pangrango Naik, Ternyata Selama Ini PT KAI Merugi

Kereta api Pangrango tujuan Bogor-Sukabumi mengalami kenaikan tarif dan kemudian banyak dikeluhkan oleh masyarakat. PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengatakan, adanya kenaikan tarif ini sendiri masih sesuai aturan yang berlaku.

Baca juga: Stasiun Sukabumi, Tak Jadi Dipindah dan Tetap Berada di Pusat Kota

Dari kenaikan tarif ini sendiri, Pelaksana Tugas Direktur Komersial dan Teknologi Informasi PT KAI Apriyono Wedi Chresnanto mengatakan, pihaknya memiliki skema atas dan batas bawah dalam penentuan tiket.

“Itu bukan naik, kami menyesuaikan,” ujar Apriyono yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman tempo.co, Selasa (2/10/2018).

Kenaikan tarif ini sendiri resmi diberlakukan sejak 4 September 2018 kemarin dari yang Rp25 ribu menjadi Rp35 ribu untuk kelas ekonomi dan Rp50 ribu menjadi Rp80 ribu untuk kelas eksekutif. Tiket kereta api Pangrango ini pada akhir pekan akan dikenakan Rp30 ribu untuk kelas ekonomi dan Rp60 ribu untuk kelas eksekutif.

Pengumuman terkait kenaikan tarif tiket kereta api Pangrango ini juga tertempel di loket pembelian tiket. Sayangnya kenaikan tarif tersebut justru membuat banyak pihak memprotesnya.

Ketua DPRD Kota Sukabumi, Yunus Hadi telah meminta penjelasan dari PT KAI Daop I Jakarta terkait kenaikan tarif tersebut. Dari penjelasan itu, diketahui PT KAI mengalami kerugian Rp2,5 sampai 3,5 juta untuk satu kali keberangkatan kereta api Pangrango.

Apriyono sendiri membenarkan keterangan yang disampaikan Yunus bahwa KAI merugi di jalur tersebut sehingga perlu adanya penyesuaian tarif. Dia juga mengetahui ada protes dari DPRD Sukabumi hingga mahasiswa, atas kebijakan ini.

“Ya setelah kami jelaskan ke DPRD, pada ngerti,” tuturnya.

Meski demikian, dia menjamin kenaikan harga tiket tidak akan pernah lebih tinggi dari batas atas ataupun lebih murah dari batas bawah. Jangkauan batas atas dan bawah itu ditentukan melalui keputusan bersama direksi.

Baca juga: HUT PT KAI Ke-73, Daop 5 Luncurkan Dua Kereta dengan Rangkaian Baru

“Gak mungkin lah lewat dari itu, bisa kena kami sama auditor,” ujar Apriyono.

Sebenarnya, saat ini untuk kereta api Pangrango sendiri baik kelas eksekutif maupun ekonominya telah memberlakukan harga tiket komersil atau sama sekali tanpa subsidi. Namun kondisi ini sendiri berbeda dengan jalur lanjutannya yakni dari Sukabumi yang menuju ke Cianjur. Dimana jalur Sukabumi-Cianjur sendiri saat ini masih menggunakan tarif perintis atau sepenuhnya ddisubsidi pemerintah.

Makanan yang Disantap Pilot dan Penumpang Ternyata Beda, Ini Penjelasannya!

Rasa lapar yang amat sangat dan waktu penerbangan yang masih cukup lama akhirnya memaksa Anda untuk memesan makanan ketika mengudara. Terlepas dari rasanya yang enak atau tidak, namun opsi ini harus ditempuh ketimbang hal buruk yang mungkin menimpa Anda ketika menahan lapar lebih lama lagi. Tapi tahukah Anda bahwa pilot memiliki menunya sendiri yang berbeda dengan penumpang? Duh, kok bisa begitu, ya?

Baca Juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang

Ya, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman traveller.com.au, seorang pilot yang ingin tetap anonim menyebutkan bahwa setidaknya pihak katering pesawat menyediakan tiga makanan yang berbeda – berbeda dengan penumpang, dan pilot yang lainnya (kopilot). Kendati dimasak oleh ‘dapur’ yang sama dengan apa yang bisa dipesan penumpang selama mengudara, namun hadirnya opsi lain bagi para pilot ini ditujukan untuk menghindari adanya kasus keracunan.

Jika ditelaah lebih dalam lagi, ternyata pernyataan di atas sangat masuk akal. Dapatkah Anda bayangkan jika pilot dan kopilot menyantap makanan yang sama dan ternyata kedua makanan tersebut beracun. Wah, bisa gawat kondisinya!

“Jika keduanya (pilot dan kopilot) ingin menyantap makanan yang sama, maka awak kabin akan menanyakan terlebih dahulu kepada kapten penerbangan apakah request tersebut diterima atau tidak,” ujar juru bicara dari Virgin Atlantic.

Di sisi lain, jika menu yang disantap oleh pilot dan kopilot berbeda, dan secara kebetulan salah satu dari hidangan yang mereka santap beracun, maka salah satu diantara mereka berdua bisa mengambil kemudi semisal keadaan berubah menjadi darurat.

Baca Juga: Mobile Game Ini “Ajarkan” Penumpang Hadapi Situasi Darurat Selama Mengudara

Ya, perkara jatuh sakit secara bersamaan ketika tengah mengemudikan sebuah pesawat memang menjadi momok yang sangat ditakuti oleh pihak operator dan juga penumpang. Tidak hanya merugikan perusahaan ketika suatu waktu, kedua orang paling penting di sebuah penerbangan ini jatuh sakit secara bersamaan dan berdampak pada sebuah kecelakaan, namun yang terpenting adalah aspek keselamatan penerbangan yang selalu dikedepankan oleh setiap pelakon bisnis perjalanan udara.

Video Viral, Petugas Bandara Internasional Hong Kong Lempar Barang Penumpang

Kerap kali penumpang sebuah maskapai harus menelan ludah ketika melihat barang bawaan mereka dari kargo harus rusak atau hilang. Namun meski sering kali pemberitaan terkait ini terekspose, ternyata masih saja dilakukan oleh para petugas nakal.

Baca juga: Video Kasus Bagasi di Kualanamu Beredar, Lion Air Siap Tempuh Jalur Hukum

Salah satunya yakni yang terjadi di Bandara internasional Hong Kong dan menjadi viral beberapa hari ini. Pasalnya, dua orang pria terlihat melemparkan barang penumpang dari konveyor satu-satu ke dalam kereta pengangkut barang.

Keduanya terekam dalam video berdurasi 37 detik yang diunggah ke Facebook pada 27 September 2018 kemarin. KabarPenumpang.com  melansir dari laman channelnewsasia.com (29/9/2018), dalam video tersebut koper, tas, serta barang-barang berstiker mudah pecah pun dilempar dan terkena barang lain yang sudah ada di dalam kereta pengangkut barang-barang itu.

“Ini adalah cara bagaimana koper tercinta kami diperlakukan!!” tulis Marcela Fernanda Solis Walker yang menulis caption tersebut pada video yang diunggahnya itu.

https://youtu.be/nL96yMlC9g4

Dia mengatakan, video itu saat barang-barang diturunkan dari penerbangan Cathay Pacific Airway yang berangkat dari Xianmen dan tiba di Hong Kong, Kamis (27/9/2018) kemarin. Petugas yang membongkar tas tersebut mengenakan seragam Hong Kong Airport Sevice (HAS), dimana ini adalah penyedia layanan yang sepenuhnya dimiliki oleh Cathay Pacific.

Walker mengatakan, dirinya terkejut terkait dengan dampak dari video yang diunggahnya ke Facebook. Padahal maksud dirinya mengunggah video itu ke media sosial adalah agar orang lain tahu bahwa tas mereka diperlakukan seperti itu.

“Saya tidak punya niat untuk membuat masalah bagi pekerja. Aku hanya ingin orang lain menyadari situasi itu,” ujarnya.

Baca juga: Tiga Jam Menanti, Bagasi Penumpang Ryanair Baru Keluar dari Baggage Carousel

Dia mengatakan hal tersebut pada HAS tetapi belum mendapat balasan. Kemudian juru bicara HAS mengatakan, pihaknya menyadari video tersebut dan telah mengambil masalah dengan pemasuk outsourcing yang terlibat.

“Kami dengan tulus meminta maaf kepada penumpang maskapai penerbangan pelanggan kami dalam insiden khusus ini,” kata juru bicara tersebut.

Wujudkan SmartCityBike, Slovakia Hadirkan Sepeda Elektrik di Kereta Bawah Tanah

Sepeda elektrik atau e-bike baru-baru ini dihadirkan pada kereta bawah tanah sebagai proyek percontohan untuk SmartCityBike di Slovakia. Kehadiran sepeda elektrik tersebut pada rute perjalanan dari Bratislava menuju ke Senec.

Baca juga: Hadirkan Layanan Sepeda Listrik di Negeri Paman Sam, Uber Akuisisi JUMP

KabarPenumpang.com melansir dari laman spectator.sme.sk (24/9/2018), SmartCityBike yang ada di Slovakia sendirii merupakan gabungan proyek dari perusahaan kereta penumpang Železničná spoločnosť Slovensko (ZSSK) dan perusahaan ICT Antik Telecom.

“Penting untuk terus-menerus membawa inovasi ke transportasi umum. Proyek berbagi sepeda adalah salah satunya,” ujar pejabat ZSSK Karol Martinček.

Layanan sepeda elektrik ini sudah mulai di uji sejak 24 September hingga 12 Oktober 2018 mendatang atau akan berlangsung selama 19 hari. Dalam satu kereta di jalur tersebut akan menghadirkan enam sepeda elektrik dengan sebenarnya ada sebanyak 12 yang termasuk dalam proyek SmarCityBike.

(The Slovak Spectator – Sme)

Penumpang yang tertarik dengan sepeda elektrik ini bisa menyewanya melalui aplikasi Antik Telecom’s Antik CityBike, tersedia di situs web ZSSK. Sepeda listrik ini bisa disewa selama 24 jam dan tarif yang dikenakan adalah €10 atau setara dengan Rp172 ribu.

Penyewaan sepeda ini memungkinkan penumpang untuk menyewa sepeda di kereta dan bisa menggunakannya untuk pergi bekerja dari stasiun kereta api dan setelah pulang kerja kembali ke stasiun. Kemudian dari stasiun kembali ke rumah serta keesokan harinya pengguna bisa menggunakannya lagi untuk sampai ke stasiun kereta dan mengembalikannya ke kereta. Nantinya setelah selesai uji coba, pihak ZSSK akan melakukan evaluasi.

Baca juga: Jurus Selamat Bersepeda di Kota-Kota Besar, Waspada Walau Tidak Ngebut!

“Kami pasti membutuhkan, bekerja sama dengan mitra kami, untuk mencari semua bug. Kami akan melihat kejutan apa yang tersedia bagi kami, tetapi saya percaya bahwa tidak akan ada banyak masalah dan kami akan dapat menyelesaikannya untuk mendapatkan ini dimulai sesegera mungkin,” ujar bagian departemen komunikasi pemasaran ZSSK Marek Lukotka.

Ini adalah proyek berbagi sepeda kedua yang akan diluncurkan di Bratislava dalam beberapa waktu terakhir. Pada awal September, dewan kota Bratislava meluncurkan sistem berbagi sepeda BAJK Slovnaft, bekerja sama dengan kilang Slovnaft.

Ada Kisah Antara Wiweko Soepono dan Airbus A300B4 Garuda Indonesia

Kilas balik ke 26 September 1997, sebuah pesawat Garuda Indonesia jatuh di Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara beberapa saat sebelum pesawat nahas tersebut mendarat di Bandara Polonia, Medan.

Baca Juga: Ada DC-9 Berlivery Klasik di Hanggar Garuda Maintenance Facility, Buat Apa Ya?

Salah satu catatan kelam maskapai plat merah ini menewaskan semua orang yang ada di dalam penerbangan GA152 ini – 222 penumpang, dan 12 awak kabin. Kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan pihak ATC Bandara Polonia dalam mengarahkan pesawat GA152 sampai-sampai dikategorikan sebagai yang paling parah dalam sejarah penerbangan di Republik ini.

Sekedar mengingatkan, adapun armada Garuda Indonesia yang digunakan ketika peristiwa nahas ini terjadi adalah Airbus A300B4 – yang merupakan penyempurnaan dari keluarga A300 sebelumnya. Nah, ternyata ada banyak cerita terselip dari armada yang pertama kali mengudara pada 28 Oktober 1972 ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber ini, Airbus A300 ini merupakan pesawat wide body pertama yang menggunakan mesin ganda di dunia.

Selain menyandang gelar di atas, Airbus A300 juga merupakan pelopor dari sistem two-men cockpit crew (pilot dan co-pilot) yang diterapkan hingga detik ini. Sebelumnya, ruang kokpit diisi oleh tiga orang, yaitu pilot, co-pilot, dan flight engineer. Airbus A300 sendiri memiliki lima varian dan beberapa diantaranya pernah digunakan oleh Garuda Indonesia sebagai armada andalannya – salah satunya adalah Airbus A300B4.

Bergabungnya Airbus A300B4 ke tubuh Garuda Indonesia ini sendiri terjadi manakala Flag Carrier Indonesia ini tengah berada di bawah pimpinan Wiweko Soepono. Tepatnya pada tahun 1982, Garuda Indonesia merupakan maskapai pertama yang menggunakan armada Airbus A300B4-600 FFCC (Forward Facing Crew Cockpit). Dan lebih kerennya lagi, penggunaan sistem FFCC ini merupakan salah satu ide yang dilontarkan langsung oleh Wiweko kepada pihak Airbus, lho!

Dua tahun berselang, Garuda Indonesia sudah ‘mengoleksi’ beragam jenis pesawat yang digunakan sebagai ujung tombaknya dalam menjalankan bisnis di dunia aviasi – Boeing 747-200, McDonnell Douglas DC-9, McDonnell Douglas DC-10, Airbus A300B4, dan Fokker F-28. Sebagai informasi tambahan, ke-22 unit Airbus A300B4 yang kala itu digunakan oleh Garuda Indonesia masih menggunakan livery strip orange kemerah-merahan khas Garuda Indonesia tempo doeloe.

Baca juga: Wiweko Soepono – Bapak ‘Two-Men Cockpit’ yang Sarat Pengalaman di Dunia Dirgantara

Setelah mengabdi selama kurang lebih 20 tahun lamanya, akhirnya Garuda Indonesia mulai mengganti armada Airbus A300B4 dengan armada lain yang lebih fresh guna menunjang pengoperasiannya – dan Airbus A300B4 menjadi salah satu armada yang paling lama digunakan oleh Garuda Indonesia dibanding mantan-mantan armada lainnya seperti Fokker, Lockheed, Convair, dan De Havilland Heron.