Bandara Internasional Soekarno-Hatta Menjadi Hub Kedua Terbesar di Asia Pasifik

Setelah Bandara Internasional Changi di Singapura menjadi hub terbesar yang memiliki koneksi penerbangan terbanyak, kini Bandara Soekarno-Hatta berada di urutan kedua di Asia Pasifik. Selain itu, Bandara Soetta juga terkoneksi ke-10 di dunia mengalahkan bandara besar seperti Incheon di Korea Selatan, KLIA Malaysia dan Hong Kong berdasarkan laporan Megahubs Internasional Index 2018.

Baca juga: Bandara Soekarno-Hatta Hadirkan “Hotel Kapsul” di Terminal 3 Domestik

Penobatan menjadi bandara tersibuk dan hub terbesar kedua tersebut oleh OAG yang merupakan perusahaan intelijen perjalanan udara dan berbasis di Inggris. KabarPenumpang.com melansir dari keterangan tertulis yang dikeluarkan PT Angkasa Pura II (AP II) melalui laman webnya, ternyata indeks konektivitas Bandara Soetta mencapai 249 dan terpaut hanya empat poin dari Bandara Changi dengan nilai indeks 253.

Proses penentuan nilai indeks tersebut dilakukan OAG dengan menghitung total kemungkinan konektivitas bandara untuk penerbangan datang dan keluar dalam masa waktu enam jam. Adapaun kriteria penentuan konektivitas itu sendiri diantaranya adalah penerbangan internasional menuju maupun dari bandara tersebut (single international connections) dan penerbangan internasional yang termassuk domestik ke internasional, internasional ke domestik ataupun internasional ke internasional.

“Bandara Internasional Soekarno-Hatta merupakan bandara tersibuk di Indonesia dengan jumlah pergerakan tahun 2017 mencapai lebih dari 63 juta penumpang per tahun. Untuk mengakomodir pertumbuhan jumlah penumpang yang terus merangkak naik, Bandara Internasional Soekarno-Hatta terus bersolek baik di sisi darat maupun sisi udara, untuk memaksimalkan potensinya,” ujar Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin.

Saat ini pihak AP II tengah melakukan pembangunan infrastruktur untuk melakukan peningkatan kapasitas penumpang seperti pembangunan east cross taxiway, runway 3, revitalisasi Terminal 1 dan 2 serta pembangunan Terminal 4. Sebab, Awaluddin sendiri mengstimasi penumpang yang melalui Bandara Soetta sendiri tahun 2018 ini diprediksi mencapai 68 juta.

Baca juga: Jewel Changi, Bakal Jadi Destinasi Wisata Gaya Baru via Bandara Changi

“Dengan pembangunan infrastruktur, Bandara Internasional Soekarno-Hatta akan mendukung pertumbuhan pariwisata dan ekonomi negara,” tambahnya.

Diketahui, tahun 2017 lalu, arus penumpang di Bandara Soetta sendiri mencapai 63 juta penumpang dan menjadi bandara ke-17 tersibuk di dunia.

Tiga Gedung ini Akan Terkoneksi Langsung Dengan Stasiun MRT Jakarta

Setelah sempat dihebohkan dengan kasus vandalisme yang menimpa salah satu armadanya beberapa waktu yang lalu, kini PT MRT Jakarta hadir dengan pernyataan yang akan semakin mempermudah mobilitas para pengguna jasanya kelak. Diketahui, perusahaan yang dinakhodai oleh William Sabandar cs. ini telah memastikan tiga gedung yang nantinya akan terkoneksi dengan jaringan metro pertama di Indonesia ini.

Baca Juga: Koneksikan Gedung dan Stasiun, Akankah Interkoneksi MRT Jakarta ‘Secanggih’ di Singapura?

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Direktur Operasional MRT Jakarta Agung Wicaksono membocorkan tiga gedung yang telah dipastikan terkoneksi dengan layanan tersebut. “Blok M Plaza, Gedung UOB, dan Gedung Indonesia One,” ujar Agung dikutip dari laman sindonews.com (30/9/2018). “Saat ini proses koneksi ketiga gedung dengan stasiun MRT masih berlangsung, sedang dalam proses pembangunan,” tandasnya.

Agung menambahkan, nantinya Stasiun MRT Blok M yang merupakan bagian dari elevated section akan terkoneksi langsung dengan Blok M Plaza, Stasiun MRT Dukuh Atas (underground section) akan terkoneksi dengan Gedung UOB, dan Stasiun MRT Bundaran HI (Underground section) akan terkoneksi dengan Gedung Indonesia One.

Jauh sebelumnya, pihak Blok M Plaza memang telah mengajukan permohonan kepada MRT Jakarta untuk mengkoneksikan layanan MRT secara langsung dengan pusat perbelanjaan tersebut. Sedangkan Gedung UOB dan Gedung Indonesia One pengkoneksian itu memang kewajiban MRT sebagai bagian dari pembangunan jalur utama MRT.

Selain tiga gedung tersebut, PT MRT Jakarta juga mengharapkan setidaknya 50 gedung terkoneksi dengan stasiun MRT. Demi melancarkan rencana tersebut, baik pihak MRT Jakarta maupun pihak pengelola gedung sudah menangatangani Memorandum of Understanding (MoU) guna mempercepat proses.

“Interkoneksi sudah banyak yang MoU. Mereka masih wait and see tapi kami push. Mereka mungkin akan lihat semua stasiun dulu. Sudah ada knock down pannel. Nanti kalau ada yang mau interkoneksi tinggal dibuka,” ucap Agung.

Baca Juga: Tidak Hanya dari Tiket, Inilah ‘Ladang-Ladang’ PT MRT Jakarta Raup Keuntungan

Memang, kesepakatan untuk mengkoneksikan gedung dengan Stasiun MRT tidaklah semudah yang kita kira. Diperlukan pertimbangan yang sangat matang di beberapa sektor, seperti pembangunan infrastruktur di awal, perawatan, hingga jaminan keamanan. “Memang kesiapan ini dari dua belah pihak. Arrangement-nya antara pemilik gedung dan MRT, baik soal keamanan, kebersihan dan perawatan,” ucap Agung.

Jika melihat dari segi keuntungan, tentu saja kehadiran interkoneksi seperti di Blok M Plaza, Gedung UOB, dan Gedung Indonesia One akan memudahkan para penumpang – terutama bagi mereka yang kebetulan bekerja di sana. Selain itu, pengurangan volume kendaraan merupakanasa lain yang coba diwujudkan oleh PT MRT Jakarta.

Nokia dan Altran Kembangkan Sistem Pemeliharaan Prediktif Untuk Kereta Api

Baru-baru ini, salah satu perusahaan telekomunikasi multinasional asal Finlandia, Nokia menjalin kerja sama dengan teknisi dan penyedia layanan R & D (ER & D) Altran guna mengembangkan solusi pemeliharaan rolling stock yang efisien untuk operator kereta api. Dalam hal ini, keandalan kedua belah pihak akan sangat ditonjolkan – Nokia dengan Internet of Things (IoT), dan Altran dengan kemampuan analisis dan integrasi sistem untuk operasi kereta apinya.

Baca Juga: Jangan Salah Kaprah, Ternyata ini yang Dimaksud Janitor di Kereta Api

Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (21/9/2018), kerja sama tersebut terjalin untuk menawarkan dukungan pemeliharaan prediktif untuk rolling stock dari sejumlah produsen kereta api. Tidak berhenti sampai di situ, kerja sama ini juga akan meminimalisir biaya pemeliharaan untuk para operator.

Selanjutnya, solusi baru ini akan menampilkan sensor pintar untuk memantau dan mengumpulkan data tentang kondisi dan kinerja rolling stock, serta koneksi jaringan nirkabel dan IoT untuk menggabungkan dan mengirim data. Setelah dikembangkan, platform IoT adaptif ini akan mampu untuk mengelola beberapa sensor dan perangkat lain sekaligus.

Solusi ini juga akan berperan sebagai mesin analisis lanjutan untuk menginterpretasikan data dan memberikan beberapa opsi tindakan pemeliharaan yang bersifat preventif. Penggunaan sistem ini diprediksi mampu untuk meningkatkan keandalan kereta hingga 30 persen, meminimalisir penundadaan dan pembatalan keberangkatan armada sebanyak 20 persen, dan menurunkan estimasi waktu pemeliharaan hingga 10 persen.

“Kerusakan tak terduga pada rolling stock memiliki dampak besar pada kinerja operasional operator kereta api secara keseluruhan,” tutur Pimpinan Nokia Global Transportation Segment, Jochen Apel. “Cara ‘tradisional’ untuk mengatasi terjadinya masalah seperti ini adalah dengan melakukan pemeliharaan untuk mencegah kerusakan ringan atau berat terjadi,” tandasnya.

Baca Juga: Depo KRL Terbesar di Asia Tenggara, Ternyata Ada di Depok

Dengan pendekatan revolusioner yang dilakukan oleh Nokia dan Altran, lanjut Jochen, para operator kereta akan mendapatkan beragam keuntungan – mulai dari segi efisiensi waktu hingga biaya yang dikeluarkan. “Akan sangat efisien dan menekan pengeluaran biaya untuk pemeliharaan secara signifikan,” ujar Jochen.

Direktur Altran Rail and Transport Global Industry, Mike Greenan mengatakan kerja sama yang dijalin oleh pihaknya dengan Nokia akan meningkatkan kinerja operasional kereta api. “Perawatan prediktif merupakan peluang baru di bisnis perkeretaapian modern,”

 

Tingkatkan Kenyamanan dalam Penerbangan, Panasonic Hadirkan Fitur Wellness

Kesehatan penumpang dalam sebuah penerbangan terkadang kerap kali tak terlalu menjadi soal bagi pihak maskapai. Namun, Panasonic Avionics Corporation (Panasonic) baru-baru ini meluncurkan Wellness yang dihadirkan dan telah dikembangkan untuk platform NEXT.

Baca juga: Atasi Jetlag, LumosTech Hadirkan Masker Tidur Pintar

Kehadiran Wellness sendiri untuk memberikan kenyamanan, kesehatan dan kesejahteraan penumpang dalam penerbangan. KabarPenumpang.com melansir dari laman aircraftinteriorsinternational.com (27/9/2018), Wellness ini dikembangkan bersama tim R&D dari Panasonic Corporation di Jepang.

Wellness sendiri bisa mengurangi kebisingan, pencahayaan kursi premium dan teknologi Nanoe Panasonic. Dengan kehadiran ini, Panasonic mengatakan, bisa membuat pelanggan penerbangan aman dengan setiap fitur yang ada dan semuanya tersedia pada penerbangan jarak jauh dan pendek.

“Mitra maskapai kami secara aktif meneliti cara-cara baru untuk meningkatkan kesejahteraan penumpang, terutama pada penerbangan jarak jauh. Sebagai mitra yang bertanggung jawab untuk maskapai penerbangan terkemuka di dunia, misi kami adalah memanfaatkan kemajuan terbaru dalam teknologi untuk meningkatkan pengalaman penumpang di semua pesawat yang dilengkapi Panasonic. Nanoe, pembatalan kebisingan aktif, dan pencahayaan kursi premium merupakan solusi pertama yang kami yakini akan meningkatkan pengalaman terbang secara dramatis,” ujar CTO dari Panasonic Avionics Corporation David Barlett.

Pembatalan kebisingan aktif memungkinkan maskapai untuk mengurangi kebisingan sekitar di setiap kursi hingga 15dB tanpa menggunakan headphone. Teknologi ini dapat disesuaikan untuk setiap konfigurasi kursi dan akan dikalibrasi secara otomatis ke inflight kursi penumpang, mengurangi kelelahan.

Dengan rentang frekuensi 80-400Hz dan kontrol di kursi, speaker dan mikrofon, solusi terintegrasi dengan sistem IFE masing-masing kursi. Pencahayaan kursi premium menyesuaikan pengalaman pencahayaan penumpang ke berbagai fase penerbangan, untuk mendapatkan manfaat kesehatan dan kebugaran.

Algoritme khusus untuk tidur dan bangun memastikan penumpang memiliki waktu istirahat terbaik dan bangun segar dan sesuai dengan kecepatan tubuh mereka. Pencahayaan yang dijadwalkan selama layanan makanan dioptimalkan untuk meningkatkan saturasi warna makanan, sementara lampu baca dirancang untuk mengurangi ketegangan mata bagi penumpang.

Untuk maskapai ini, berbagai pencahayaan aksen menyoroti tema dan branding di kabin, dengan diferensiasi tersedia untuk bagian kelas pertama dan bisnis. Sistem Nanoe dapat membersihkan udara di kabin dan di sekitar area tempat duduk penumpang, bila diperlukan dengan menerapkan tegangan rendah ke kelembaban, yang melebur menjadi partikel berukuran nano elektrostatik berukuran nano dengan laju partikel 480mnnm per detik.

Baca juga: Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000

Hasilnya adalah penghapusan virus, bakteri, jamur dan bau dari kabin. Panasonic juga mengembangkan aplikasi kesehatan bekerja sama dengan para ahli termasuk Detalytics, penyedia layanan AI (Artificial intelligence) terkait kesehatan, yang telah menciptakan aplikasi penasihat kesehatan terintegrasi yang terintegrasi ke dalam PAC seatback dan layar ponsel penumpang; dan Mimi Hearing Technologies, spesialis algoritma peningkatan audio tingkat lanjut, yang telah menciptakan kemampuan audio pribadi yang terintegrasi.

“Fitur-fitur ini hanyalah awal dari berbagai teknologi, layanan, dan konten yang akan diluncurkan Panasonic dalam waktu dekat. Fitur baru akan diambil dari berbagai mitra dari industri kesehatan, kesehatan dan biometrik, selain investasi dan penawaran signifikan Panasonic dalam solusi kesehatan konsumen,” ujar Barlett.

Selain TNI AU, Kemenhub Ternyata Punya ATC Mobile, Siap Digelar di Lokasi Bencana

Akibat gempa yang melanda Palu pada Jumat Sore, 28 September lalu, infrastruktur di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie mengalami kerusakan serius. Selain ada retakan sepanjang 500 meter di landas pacu, bagian atas menara (tower) ATC – Air Traffic Control pada hari yang nahas itu ikut ambruk, sontak peran dan fungsi ATC untuk memandu penerbangan dari dan ke Bandara Palu tak bisa dilakukan sebagaimana mestinya.

Baca juga: Wow! Bekas Menara ATC ini Disulap Jadi Penthouse

Namun, mengingat peran bandara yang vital untuk jalur evakuasi dan penyaluran logistik dan bantuan lainnya, maka kendali penerbangan harus sesegera mungkin dihidupkan kembali, mengingat bandara akan menjadi homebase bagi penyaluran bantuan dari luar kota Palu.

Dengan rusaknya fasilitas yang ada di ATC, sejatinya sudah ada mekanisme untuk menggelar ATC mobile. Penggunaan ATC mobile sendiri sebenarnya bukan cerita baru di Indonesia, pada musibah gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004, ATC mobile pernah digelar di Bandara Sultan Iskandar Muda. Tapi perlu dicatat, ATC mobile darurat tersebut bukan milik Indonesia, melainkan pinjaman dari Angkatan Udara Singapura.

Nah, belajar dari pengalaman di Aceh, kini ATC mobile sudah tersedia di Indonesia, di pihak militer, ATC mobile jenis MATC1800 telah dioperasikan oleh Komando Operasi Udara (Koopsau) I dan II TNI AU. Sementara di pihak sipil, Direktorat Udara Kementerian Perhubungan Udara (Kemenhub), sejak tahun 2012 diketahui telah menyiagakan ATC mobile jenis MX400. MATC1800 TNI AU adalah buatan BSS Defence and Security Solutuions, Belanda. Sedangkan MX400 Kemenhub adalah buatan Rohde & Schwarz, Jerman.

ATC mobile MX400 milik Kemenhub.

Dikutip dari rohde-schwarz.com, ATC tower ini memang dirancang untuk dapat digelar cepat di area bencana, mendukung penanganan darurat pasca musibah. Seperti halnya ATC konvensional, MX400 juga sarat perangkat dukungan komunikasi dan navigasi penerbangan, sebut saja ada radio VHF, UHF, V/UHF, HF transceiver, timing system GPS, dan sistem perekaman hingga 100 ribu jam menggunakan piringan cakram atau digital tape. MX400 juga dilengkapi perangkat meteorologi AWOS yang menampilkan data arah angin, kecepatan, tekanan, suhu, kelembaban, dan titik embun.

Baca juga: Mau Tahu 10 Menara ATC Tertinggi di Dunia, Ini Dia!

ATC moble ini dapat pulan diintegrasikan dengan radar ADS-B, Tactical VHF (30/88 Mhz), Satcom, dan emergency landing lighting beacon system. Yang terakhir disebut sangat berperan dalam membantu pendaratan pesawat dalam kondisi cuaca buruk dan minim visual.

Selain digerakan dengan truk trailer, kontainer ATC mobile ini dapat pula diangkut ke dalam ruang kargo pesawat sekelas C-130 Hercules. Dengan begitu, mobilitas ATC mobile ini dapat menjangkau kebutuhan darurat di pelosok Nusantara.

Pengungsi Serbu Bandara Palu, Pesawat Hercules TNI AU Tak Bisa Mendarat dan Lepas Landas Sampai Kondusif

Ditaksir lebih dari 3000 orang pengungsi menerobos pagar bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu siang ini dan menyerbu pesawat-pesawat yang baru tiba. Hal ini membuat semua penerbangan pesawat Hercules TNI AU dari Makassar ke Palu terpaksa ditunda terlebih dahulu.

Baca juga: Angkut Petugas dan Bantuan Kemanusiaan, Garuda Indonesia Terbangkan ATR-72 600 Ke Palu

KabarPenumpang.com mewartakan, rencananya pesawat Hercules TNI AU dengan nomer A-1336 baru akan take off nanti malam setelah situasi bandara lebih kondusif dari siang ini. Kejadian penyerbuan bandara sendiri awalnya dari gempa dengan magnitudo 7,4 SR yang menyebabkan banyak kerusakan termasuk Bandara Mutiara SIS Al-Jufri di Palu rusak.

3000 pengungsi yang menyerbu Bandara Palu (istimewa)

Sehingga banyak pesawat yang tidak bisa beroperasi melalui bandara ini. Hingga saat ini, selain helikopter hanya pesawat jenis C-130 Hercules dan ATR-72 saja yang bisa melakukan pendaratan maupun lepas landas dari bandara tersebut dikarenakan rusaknya sistem navigasi dan runway baik mengangkut logistik atau bantuan kemanusiaan.

Diketahui, bandara ini memiliki panjang runway 2.500 meter, tetapi saat ini ada 500 meter yang rusak karena retakan akibat gempa pada hari Jumat lalu. Akibat peistiwa gempa tersebut, seorang petugas ATC (Air Traffic Controller) juga harus kehilangan nyawanya setelah membantu pesawat Batik Air lepas landas beberapa menit lebih cepat dari waktu keberangkatan semestinya.

Antonius Gunawan Agung, Seorang ATC saat itu tengah bertugas di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie pada Jumat, (28/9/2019). Padahal saat membantu Batik Air tersebut lepas landas, dirinya sudah diteriaki kawan-kawan lainnya untuk meninggalkan gedung secepatnya.

Hingga akhirnya salah satu tower ATC ambruk dan Antonius sempat melompat untuk menyelamatkan diri. Sayang, luka yang cukup parah tersebut membuat Antonius kehilangan nyawa meski sempat dilarikan ke rumah sakit.

Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie sendiri saat ini masuk dalam lima daftar bandara yang akan dikelola oleh pihak Angkasa Pura I dan masih dalam proses peralihan di Kementerian Perhubungan. Sebelum berganti nama, bandara ini bernama Bandara Masovu yang artinya Tanah Berdebu.

Baca juga: Wendo Asrul Rose Jabat PLT Dirut Angkasa Pura I

Presiden Soekarno pernah berkunjung ke Palu pada 10 Oktober 1957 sebagai bentuk keprihatinan. Menurut Bapak Proklamator ini, Palu merupakan salah satu kota rangkaian mutiara khatulistiwa sehingga nama bandara tersebut diganti menjadi Bandara Mutiara di pagi hari.

Setelah dipugar, bandara ini akhirnya melayani penerbangan internasional yang sebelumnya hanya domestik. Selain itu nama Mutiara tidak diganti hanya ditambah menjadi Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie untuk menghormati pahlawan nasional asal Sulawesi Tengah, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufrie.

Apes! Tak Dapat Kursi yang Dibayarnya, Pria Ini Juga Harus Bayar Minuman di Penerbangan

Malang betul penumpang Ryanair, sudah tak dapat kaki kursi ekstra pesanannya, dia juga harus membayar minumannya. Ini adalah kasus yang sering kali terjadi pada seorang penumpang bahkan mungkin ini bukan yang pertama kalinya.

Baca juga: Tiga Jam Menanti, Bagasi Penumpang Ryanair Baru Keluar dari Baggage Carousel

KabarPenumpang.com melansir dari laman travelandleisure.com (24/9/2018), Bob Hamilton, 64 tahun, yang sudah membayar kursi ekstra dengan biaya £20 atau sekitar Rp428 ribu tidak mendapatkannya saat berada di penerbangan Ryanair. Sebab kursi pesanannya sudah digunakan oleh penumpang lain yang merupakan karyawan dari Ryanair.

Hamilton yang memiliki tinggi 6ft 2in atau hampir 1,9 meter ini harus masuk ke pesawat belakangan setelah penumpang lain. Saat dia di dalam kabin, dirinya mendapatkan kursi pesanannya (17F) digunakan oleh orang lain. Mendapati hal itu, dirinya diberitahu oleh awak kabin pria yang duduk di kursi pesanannya itu adalah karyawan Ryanair dan harus duduk di situ dengan alasan keamanan.

Bob Hamilton (Daily Mail)

“Pelanggan ini awalnya duduk di kursi 17F kemudian diminta pindah ke 16A dekat sayap yang lebih luas dengan nilai setara kursinya. Karena masalah teknis kursi tersebut digunakan karyawan Ryanair sesuai prosedur. Penumpang tersebut menolak dan memilih duduk di kursi berbeda yakni 22A,” ujar juru bicara Ryanair.

Hingga akhirnya pensiunan broker minyak ini duduk di kursi pilihannya dan mulai memesan dua kaleng bir dan dua botol anggur mini selama penerbangan dengan harga £17 atau Rp330 ribu. Dia mengatakan tidak akan membayar minuman, tapi awak kabin mengatakan, ia tetap harus membayar dan uang £20 tersebut bisa di klaim secara online. Karena menganggu, kemudian awak kabin menghubungi pihak kepolisian dan saat mendarat di Malaga dua orang polisi mengawal Hamilton.

Baca juga: Per 15 Januari 2018, Ryanair Berlakukan Kebijakan Baru Untuk Tas di Dalam Kabin

“Para petugas polisi sangat menyenangkan. Hingga akhirnya salah saorang kru keluar ke garbarata dengan mesin uang dan aku terpakas membayar,” ujarnya.

Dia pun mengaku biaya £20 miliknya didapatkan setelah tiga kali meminta pengembalian kepada pihak maskapai. Diketahui, pesawat yang ditumpangi oleh Hamilton merupakan penerbangan terakhir dari London Stansted ke Malaga, Spanyol.

Daop 3 Cirebon: Mulai Oktober 2018, Pembatalan Tiket Dapat Dilakukan via Aplikasi KAI Access

PT KAI yang baru saja memasuki usia ke-73 tahun, selain menghadirkan berbagai promo menarik juga menghadirkan inovasi terbaru dalam aplikasinya. Inovasi terbaru ini sendiri untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang juga pelanggan kereta api Indonesia.

Baca juga: HUT PT KAI Ke-73, Daop 5 Luncurkan Dua Kereta dengan Rangkaian Baru

Kehadiran inovasi terbaru ini sendiri adalah kemudahan khususnya masyarakat Kota Cirebon dan sekitarnya yang ingin membatalkan tiket maupun mengubah jadwal perjalanan kereta api mereka tanpa harus mengantre di loket pembatalan yakni melalu aplikasi KAI Access. KabarPenumpang.com mengutip darri radarcirebon.com, Manager Humas PT KAI Daop 3 Cirebon Krisbiyantoro megungkapkan, PT KAI sebagai perusahaan BUMN yang secara langsung bersentuhan dengan semua elemen masyarakat tentu sangat mempedulikan aspek pelayanan.

“Dengan adanya inovasi aplikasi KAI Access yang telah dikembangkan oleh PT KAI ini diharapkan dapat mempermudah proses pembelian maupun pembatalan tiket penumpang keret api, serta dapat mengakomodir keinginan masyarakat yang telah lama ditunggu-tunggu untuk dapat mengubah jadwal maupun melakukan pembatalan tiket secara online,” ujarnya.

Tak hanya itu, VP Public Relation PT KAI Agus Komarudin terkait inovasi terbaru pembatal tiket tersebut membenarkan hal tersebut dan mengatakan, dalam aplikasi KAI Access tersebut, akan ada fitur terbaru yakni ubah jadwal serta pembatalan tiket.

“Fitur ini sendiri dapat diakses mulai awal Oktober 2018,” ujar Agus kepada KabarPenumpang.com, Senin (1/10/2018).

Selain itu akan menyusul fitur lainnya yakni pemesanan tiket kereta api lokal yang pembayarannya bisa menggunakan e-wallet. Pada tahap pertama akan diberlakukan pada Kereta api lokal Bandung Raya. Kemudian secara bertahap akan dibuat sehingga tiket kereta api lokal lainnya dari berbagai daerah bisa dipesan melalui KAI Access sehingga tak lagi penumpang harus antre di loket stasiun.

Baca juga: Jelang HUT PT KAI Ke-73, Promo Tiket Bertebaran Untuk Anda

“Peluncuran dan upgrade beberapa produk dari PT KAI dan penandatanganan MoU dengan pemerintah/lembaga/perusahaan baik BUMN maupun swasta merupakan bukti nyata bahwa kami tidak berhenti untuk terus melakukan inovasi demi meningkatkan layanan kepada masyarakat pengguna jasa Kereta api dan juga demi kemajuan perkeretaapian Indonesia. Satu tahun kedapan kami juga canangkan sebagai tahun inovasi,” uar Direktur PT KAI Edi Sukmoro melalu keterangan tertulis.

Bikin Panik! Pemuda Ini Berusaha Buka Pintu Darurat Yang Ia Kira Sebagai Pintu Toilet

Rasa takjub ketika pertama kali naik pesawat itu memang kadang tidak bisa dipungkiri. Bagi Anda yang belum pernah mengudara, bayangkan Anda terbang ribuan kaki di atas permukaan tanah, dan berbaur dengan awan di langit bebas – namun Anda tetap terlindungi di balik tebalnya dinding kabin. Dikhususkan bagi Anda yang belum pernah naik pesawat, satu pesan yang coba kami sampaikan melalui artikel ini adalah, “malu bertanya, sesat di jalan,”

Baca Juga: Pintu Kabin Terbuka Saat Mengudara, Mengerikan Tapi Bukan Akhir Dari Segalanya

Budayakanlah bertanya semisal ada pengalaman baru yang ‘menghampiri’ Anda, jangan seperti pemuda asal India yang disinyalir baru pertama kali naik si burung besi. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thrillist.com (27/9/2018), seorang pria yang berusia sekitar 20 tahunan ini tengah dalam perjalanan dari New Delhi menuju Patna dengan menggunakan maskapai GoAir pada Sabtu (22/9/2018) kemarin.

Di tengah perjalanan, pemuda yang identitasnya dianonimkan ini kemudian mendapat ‘panggilan alam’ dan memaksanya untuk segera menggunakan toilet. Sebagai penumpang yang baru pertama kali naik pesawat, seharusnya ia menanyakan terlebih dahulu kepada penumpang yang ada di sekitarnya atau kepada awak kabin tentang lokasi dari toilet.

Mungkin karena sudah tidak kuat lagi, ia akhirnya berjalan menyusuri lorong kabin dan berbelok tepat di arah pintu darurat. Dilandaskan pada ketidaktahuannya, ia lalu berusaha untuk membuka pintu darurat yang disangkanya sebagai toilet tersebut. Sontak para penumpang yang melihat kejadian ini berteriak untuk mencegahnya membuka pintu darurat.

Saking panik dan takutnya, beberapa dari penumpang yang melihat kejadian ini langsung melakukan intervensi ketika si penumpang muda ini mencoba menjelaskan maksud dan tujuannya. Menurut keterangan resmi dari pihak GoAir, pemuda ini akhirnya menjelaskan tujuannya, “saya perlu pergi ke toilet sesegera mungkin,”

Namun penjelasan tersebut tidak membuat semua penumpang percaya begitu saja. Karena takut suatu hal yang buruk terjadi, seorang penumpang sampai memanggil awak kabin untuk turun tangan langsung menangani insiden konyol ini.

Baca Juga: Berakibat Fatal, Pintu Pesawat Terbuka (Lepas) Saat Mengudara

Selama sisa perjalanan, pemuda ini terus diawasi oleh awak kabin – dengan kondisi dirinya belum membuang hajat. Setibanya di Patna, pemuda ini langsung digelandang ke pos pengamanan untuk diinterogasi. Setelah melewati sejumlah pertanyaan dari pihak berwajib, akhirnya mereka menyimpulkan bahwa dia adalah penerbang baru yang sangat gugup dalam menghadapi penerbangan perdananya ini.

Selain dihimbau untuk selalu bertanya ketika dihadapkan pada situasi yang belum pernah kita jalani sebelumnya, poin penting lain yang bisa kita ambil dari kejadian ini adalah pentingnya memperhatikan peragaan awak kabin sebelum take-off – terutama bagi mereka yang belum pernah terbang sebelumnya.

Hajar Jembatan, Pengemudi Bus Tingkat Ini Disebut Belum Hafal Medan

Sebuah kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Runcorn, sebelah Tenggara Liverpool, Inggris mengundang perhatian dari masyarakat luas. Kecelakaan tunggal yang menimpa sebuah bus tingkat ini terjadi ketika bus Stagecoach ini menghantam sebuah jembatan yang mengakibatkan bagian atas dari bus tingkat ini ‘terpotong’. Beruntung, tidak ada korban jiwa yang jatuh akibat insiden mengerikan ini.

Baca Juga: Werkudara, Bus Tingkat di Solo Besutan Karoseri Indonesia

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman liverpoolecho.co.uk (25/9/2018), kejadian ini sendiri terjadi pada Selasa (25/9/2018) kemarin. Sebenarnya, bus itu tengah mengangkut dua penumpang wanita, namun keduanya duduk di dek bawah dan tiga orang yang berada di dalam bus ini – termasuk si pengemudi, dinyatakan selamat dan tidak mengalami luka.

Menurut penuturan salah satu pengemudi lain dari Stagecoach yang mendatangi lokasi kejadian, dirinya mengklaim bahwa si pengemudi yang mengendarai layanan Stagecoach X2 ini belum mengetahui medan – hanya berbekal peta dan print out arahan manual untuk mendampingi si pengemudi tersebut.

“Seharusnya dia (pengemudi) itu belok ke kanan, tapi malah belok ke kiri. Lalu terjadilah insiden ini,” ujar si pengemudi lain dari Stagecoach ini. “Ini benar-benar sebuah keberuntungan dengan tidak adanya orang di dek atas. Kalau bus itu tengah penuh, mungkin jalan ceritanya akan berbeda,” tandasnya.

Mengkonfirmasi insiden ini, salah satu juru bicara dari Stagecoach pun membenarkannya. “Kami ingin mengkonfirmasi bahwa benar adanya telah terjadi sebuah kecelakaan di Palacefields Busway, Runcorn, tepatnya di sebuah jembatan penyebrangan. Kejadian ini sendiri terjadi sekitar pukul 13.00 waktu setempat,” ujar si juru bicara dalam sebuah pernyataan resmi.

“Sebagai bentuk tanggung jawab, kami akan menurunkan tim untuk membantu penyelidikan pihak kepolisian, dan ada tim lainnya yang diturunkan untuk kepentingan penyelidikan internal perusahaan – karena keselamatan penumpang merupakan hal mutlak bagi kami,” tandasnya.

Baca Juga: Bus Tingkat di Indonesia, Transformasi dari Moda Angkutan dan Wisata

Kendati masih belum hafal dengan medan yang dilaluinya, pihak Stagecoach membela bahwa si pengemudi nahas ini merupakan salah satu pengemudi professional yang sudah bergabung dengan perusahaan tersebut sejak beberapa tahun yang lalu, “Dan tentunya mereka sudah lulu kualifikasi untuk mengemudikan layanan Stagecoach,”

Berkaca dari kasus ini, penguasaan medan merupakan satu hal penting yang tidak boleh dianak-tirikan oleh sebuah operator bus dalam membagi tugas kepada para pengemudinya. Selain akan lebih lihai dan telaten dalam mengoperasikannya, penguasaan medan juga sedikit banyaknya berperan terhadap keselamatan penumpang. Kembali lagi, bagaimana nasibnya jika dek atas bus Stagecoach X2 ini terisi?